A Y A H

 

BERLATIH TIDAK MEMBENCI ATAU KESAL, DALAM KONDISI YANG TIDAK MENYENANGKAN, BERARTI MENINGGALKAN SIFAT RENDAH MANUSIA DAN MENUJU KELUHURAN HIDUP.

JIKA LATIHAN KELUHURAN HIDUP, BERUSAHA TIDAK MEMBENCI ITU BERHASIL; MANFAAT UTAMANYA PADA ORANG YANG MELATIH, BERIKUTNYA MANFAAT ITU KEPADA SIAPA SAJA YANG BERINTERAKSI DENGANNYA.

MENINGGALKAN SIFAT BURUK TIDAKLAH MUDAH, BAGI ORANG YANG BELUM TERLATIH, AKAN TETAPI KARENA SIFAT RENDAH ITU SENDIRI YANG MEMBUAT MANUSIA MENJADI RENDAH.

MAKA DARI PEMAHAMAN TERSEBUT ORANG TERMOTIVASI UNTUK BERLATIH MENGEMBANGKAN SIFAT LUHUR TIDAK MEMBENCI.

nak-anakku semuanya, Memang tidak bisa dipungkiri bahwa Ayah tidak pernah mengandung kalian akan tetapi darahnya mengalir dalam darah kalian, dan darinya kalian diwarisi nama, kedermawanan dan kerendah hatian……

Demikian pula, bahwa Ayah pun tidak melahirkan kalian, namun suaranyalah yang pertama kali mengantarkan kalian kepada Allah ketika kalian baru lahir…….

Dan Ayah memang tidak menyusui kalian akan tetapi ketahuilah bahwa dari keringatnyalah setiap suapan yang menjadi air susu kalian……

Ayah pun tidak bisa menjaga kalian setiap saat, akan tetapi apakah kalian tahu bahwa dalam setiap doanya, Ayah tak pernah lupa menyebutkan namamu.…..

Tangisan Ayah mungkin tidak akan pernah kalian dengar karena dia ingin terlihat kuat, agar kalian tidak ragu pada saat berlindung dilengan dan didadanya ketika merasa tidak aman…..

Pelukan Ayah mungkin tidak sehangat dan seerat pelukan ibu karena cintanya dia takut tidak akan sanggup melepaskan kalian…..

Ayah ingin kalian kuat dan bersemangat, agar ketika kami ayah dan ibu sudah tiada, kalian sanggup mengahadapi semuanya sendiri…..

Yang ibu inginkan agar kalian tahu, bahwa cinta ayah sama besarnya dengan cinta ibu kepada kalian semua.

Anak-anakku semuanya……

Dari dirinya juga terdapat surga bagi kalian. Oleh karena itu hormati dan sayangi Ayah kalian karena Ibu adalah tulang rusuknya….

Seperti yang kalian ketahui, pada saat ini bahwa Ayah sedang menderita sakit yang tidak bisa dikatakan ringan, maka pada kesempatan ini Ibu meminta kalian semua sebagai anak-anaknya bisa berkumpul dan berbincang bersama untuk membahas tentang kesehatan Ayah, harus bagaimana yang sebaiknya,” demikian kata Ibu Sitoresmi kepada anak-anaknya.

Maka ke empat orang kakak-beradik yang sedang berkumpul, yaitu Ambarsari, Budiyanti, Citrawati dan Dimas Tejo yang kemudian bermusyawarah. Sitoresmi, Ibunyapun ikut pula hadir dalam pertemuan itu. Keberadaan seorang ibu dalam pertemuan tersebut diharapkan agar para putra-putrinya bisa dengan rukun, hidup berdampingan dan saling membantu untuk bisa mendapatkan cara untuk melepaskan ikatan permasalahan yang ada dalam keluarganya.

Adapun yang menjadi pokok bahasan dalam musyawarah tersebut adalah mencari jalan keluar bagaimana sebaiknya meringankan penderitaan Bapak Priambada, ayah dari ke empat orang kakak-beradik tersebut karena sakit ginjal yang semakin hari semakin bertambah parah. Bahkan sudah berkali-kali keluar masuk rumah sakit namun selama ini belum juga memperlihatkan tanda-tanda kesembuhannya.

“Adik-adikku semuanya, aku harapkan kalian semua mempunyai pendapat dan memperoleh cara bagaimana untuk bisa memperingan penderitaan Ayah. Dan ini yang menjadi tujuan utama diadakannya musyawarah.” demikian kata Ambarsari sebagai anak tertua yang membuka pembicaraan dalam pertemuan tersebut.

Citrawati hanya mengangguk-anggukan kepalanya tanpa ekspresi, sedangkan Budiyanti dan Dimas Tejo memperhatikan dengan sangat serius dengan wajah yang tegang. Memang ke dua orang bersaudara ini sering sekali bertengkar karena perbedaan pendapat dan masing-masing mempertahankan pendapatnya.

Seperti sebuah pepatah yang mengatakan : “Bertahan pada pendapat masing-masing, tidak saja melukai keharmonisan, terlebih lagi akan menciptakan jurang yang sulit diseberangi.”

“Memperhatikan kesehatan Ayah yang semakin hari semakin bertambah parah, mungkin akan lebih baik kalau kita mempertimbangkan saran dokter yang merawatnya agar menggunakan cara lain, dengan perkataan yang berbeda tidak lagi mengkonsumsi obat-obatan untuk memulihkan kesehatannya,” kata Dimas Tejo mengingatkan Mbakyu-Mbakyunya.

“Aku sendiri secara pribadi sangat setuju dengan saran dokter tersebut, karena Ayah memang memerlukan transplantasi atau cangkok ginjal. Menurut diagnose secara medis bahwa sakit Ayah sudah masuk dalam kategori Gagal Ginjal Tahap Akhir atau GGTA.

Dengan perkataan lain penyakit yang diderita Ayah sudah sulit untuk ditanggulangi dengan obat-obatan kecuali dengan cara cuci darah selamanya. Dan untuk itu pada setiap bulannya membutuhkan biaya kurang lebih enam puluh dua juta rupiah, sedangkan kalau untuk transplantasi atau cangkok ginjal memerlukan biaya yang lebih besar daripada itu, namun hanya sekali.

Selain dari itu yang harus menjadi bahan pertimbangan kita adalah, bahwa Ayah selalu mengeluh kesakitan ketika tiap-tiap kali berlangsungnya pelaksanaan cuci darah, hingga aku sendiri pun merasa tidak sampai hati jika mendengar dan melihat hal tersebut………,” lanjut Dimas Tejo.

“Apa….?  Transplantasi ginjal ?  Waduuuhhhh……berapa banyak pembiayaan untuk itu semua ?” tukas Budiyanti sambil memandang sinis kearah Dimas Tejo, yang belum sempat menyelesaikan perkataannya.

“Terus terang saja aku akui, dari ke empat orang anak Ayah, memang akulah yang paling sedikit dalam hal memberikan sumbangan, mungkin dapat dikatakan tidak ada artinya sama sekali, apabila dibandingkan dengan sumbangan yang diberikan oleh Mbakyu-mbakyuku semuanya.

Tetapi memang hanya sedemikian itulah yang bisa kuberikan menurut kemampuanku, namun aku sanggup mendonorkan ginjalku untuk Ayah. Kebetulan golongan darah Ayah dengan golongan darahku sama,” kembali penjelasan Dimas Tejo.

“Walaupun kamu sudah mendonorkan sebelah ginjalmu, tetapi juga masih harus memikirkan pembiayaan operasi dan keperluan lain-lainya yang menurut perkiraan memerlukan pembiayaan yang tidak sedikit. Aku juga bisa mendonorkan ginjalku untuk Ayah, tetapi aku tidak mau ikut pula menanggung pembiayaan lainnya,” tukas Budiyanti.

“Apakah sudah pasti kemauan Mbak Budiyanti demikian ? Kalau memang begitu baiklah.  Andaikata Mbak Budiyanti sudah bersedia mendonorkan sebelah ginjalnya untuk Ayah, biarlah kami tiga orang anak Ayah yang akan menanggung semua pembiayaan pengobatannya.

Dan kalau kemauan itu memang sudah bulat, maka sebaiknya mari kita berempat membuat perjanjian secara tertulis.

Tetapi perlu juga untuk dimengerti oleh Mbak Budiyanti, bahwa sebagai calon pendonor ginjal itu harus menjalani sebuah proses yang sangat panjang, yaitu kedewasaan, mental serta riwayat kesehatan diperiksa semuanya. Belum lagi diwawancarai oleh tim psikiatri untuk mengetahui tingkat emosional, intelektual dan kognitif. Apakah Mbak Budiyanti bersedia untuk menjalaninya ?” tanya Dimas Tejo.

“Untuk pembiayaan ini semua, kamu sudah mempunyai uang berapa banyak, Dimas ? Seharusnya kamu sadar diri menjadi orang, bisa mawas diri serta bisa mengukur berapa isi kantong atau berapa kemampuan keuanganmu. Jadi jangan mencoba untuk bermimpi yang bukan-bukan !” kembali tukas Budiyanti yang sangat menusuk hati dan perasaannya.

Hal tersebut dilakukan Budiyanti karena dia merasa bahwa apa yang dilakukan adik laki-lakinya itu hanya ingin memancing nafsu amarahnya serta mau menyudutkan posisinya saja. Memang apabila dibandingkan dengan yang lainnya, kehidupan Budiyanti dapat dikatakan paling berkecukupan atau paling mapan.

“Sekali lagi aku mengakui, diantara ke empat anak Ayah apabila dibandingkan hanya aku sendiri yang paling berkekurangan atau yang paling miskin. Entah sudah berapa kali, Mbak Budiyanti menuduhku tidak mau mengeluarkan pembiayaan untuk membantu pengobatan penyakit Ayah. Namun walaupun aku miskin, namun aku belum pernah sama sekali merepotkan Mbakyu-Mbakyu semua.”

“Sudah, sudah, dalam musyawarah jangan malah saling bertengkar,” kata Ambarsari untuk memberhentikan saudaranya yang sedang bertengkar sebelum Budiyanti sempat menjawab lagi.

“Baiklah kalau memang demikian, jika sudah tidak ada yang mau memperhatikan dan menerima pendapat serta keadaanku ini, mungkin lebih baik aku tidak ikut bermusyawarah,” kata Dimas Tejo sambil langsung berdiri.

“Dimaasss…..!!” teriak Ibu Sitoresmi, yang tujuannya akan menghalangi maksud Dimas Tejo anaknya, agar tidak meninggalkan tempat musyawarah tersebut. Akan tetapi Dimas Tejo tetap saja melangkah keluar tanpa menoleh lagi, walaupun mendengar teriakan ibunya. Kelihatannya Dimas Tejo sangat terluka hati dan perasannya.

Ibu Sitoresmi sangat sedih setiap kali anaknya saling bertengkar. Sebenarnya mereka masing-masing sudah berkeluarga dan diantara ke empat orang anaknya, memang kondisi kehidupan Dimas Tejo masih memerlukan bantuan. Untuk mengontrak rumah saja masih perlu dibantu. Sedangkan kehidupan tiga orang anak perempuannya  memang lebih mapan dan masing-masing sudah memiliki rumah tinggal sendiri serta kendaraan roda empat yang cukup bagus.

“Nah, itu lihat apa yang dilakukan Dimas Tejo, semua ini kan karena Dimas selalu diberikan perhatian yang lebih. Semenjak masih kecil apa yang menjadi keinginannya selalu dipenuhi. Makanya dia menjadi anak yang manja, oleh karena itu kuliahnyapun tidak selesai,” kata Budiyanti sambil menggerutu.

“Itu nggak benar, Budiyanti anakku. Ayah dan Ibu tidak pernah memanjakan dan tidak pernah membeda-bedakan atau berat sebelah dalam memberikan perhatian kepada anak-anaknya. Kalian semua dirawat dan dibesarkan dengan perlakuan dan kasih sayang yang sama. Jika kalian semua sudah menjadi orang dewasa dan dikemudian hari mengalami kehidupan yang berbeda-beda itu adalah nasib manusia, karena keberuntungan, kemalangan, perjodohan maupun umur setiap manusia membawa kepastiannya sendiri-sendiri. Tetapi mengapa Budiyanti, kamu selalu saja memusuhi Dimas Tejo ?” tanya Ibu Sitoresmi.

“Ini kan karena Dimas Tejo pernah membuat marah dan kecewa dihatiku, Bu. Waktu itu hampir saja pernikahanku dengan Mas Wijayanto batal, karena ulah yang dilakukan oleh Dimas Tejo. Dan hal inilah yang menyebabkan rasa dendamku, karena sakit hati yang kurasakan saat itu masih terasa hingga sekarang.

Aku mendengar dengan telingaku sendiri ketika Dimas Tejo mengatakan kepada Ayah dan Ibu agar mempertimbangkan pernikahanku dengan Mas Wijayanto, karena adanya sebuah informasi bahwa Mas Wijayanto sudah mempunyai istri dan beberapa orang anak,” jawab Budiyanti.

“Tidak demikian Nak, itu tidak benar. Dimas Tejo tidak pernah mempunyai perilaku jahat seperti apa yang kamu perkirakan itu. Kamu hanya terbawa oleh prasangka jelek kepadanya,” demikian penjelasan Ibu Sitaresmi.

“Aku merasakan kalau apa yang dilakukan Ibu itu telah membeda-bedakan, pilih kasih. Ibu selalu membela Dimas Tejo, dan apa yang kulakukan tidak pernah ada yang benar dimata ibu. Sedangkan apa yang dilakukan oleh Dimas Tejo selalu paling baik, memang Dimas Tejo adalah anak mama.” gerutu Budiyanti.

“Sama sekali tidak demikian,Budiyanti ! Seperti apa yang telah kita bicarakan dan dengarkan bersama dalam musyawarah tadi, menurut pendapat Ibu apa yang disampaikan oleh Dimas Tejo memang logis dan masuk akal. Dan andaikata Ibu sanggup, mengenai pembiayaan pengobatan Ayahmu akan Ibu tanggulangi sendiri seluruhnya, maka Ibu tidak akan perlu lagi merepotkan kalian semua.

Mengenai transplatasi atau cangkok ginjal memang membutuhkan pembiayaan yang sangat besar. Kalau memang hal itu merupakan satu-satunya solusi atau jalan keluar dalam rangka meringankan penderitaan Ayah, tentunya cara tersebut yang harus ditempuh. Ya harus bagaimana lagi,” demikian penjelasan Ibu.

“Pendapat yang disampaikan ibu itu kan disebabkan oleh karena Ibu sudah terlanjur percaya dengan apa yang telah dikemukakan oleh Dimas Tejo. Entah sudah berapa banyak Ibu telah menerima uang suap dari Dimas Tejo,” sahut Budiyanti dengan nada yang tidak enak.

“Budiyanti…..! Perkataanmu telah membuat rasa sakit di hati dan perasaan Ibu, Nak. Kalau saja Ayahmu mendengar pertengkaran anak-anaknya mengenai hal pengobatan ini, maka dapat dipastikan bahwa Ayah kalian tidak ingin lagi sembuh dari penyakit yang dideritanya,” sahut Ibu Sitoresmi.

“Sudah….. cukup ! Cukup sampai disini saja, kita tidak perlu lagi untuk melanjutkan pembicaraan atau musyawarah ini. Dan kamu Budiyanti, sekali-kali kamu tidak boleh berkata-kata yang bisa melukai perasaan Ibu seperti yang baru saja kamu lakukan,” tukas Ambarsari sambil memandang tajam kepada Budiyanti adiknya.

-o-

Pagi hari itu seperti hari-hari sebelumnya Dimas Tejo pergi bekerja dan berangkat dari rumah kontrakannya. Sebagaimana kebiasaan yang dilakukan, dia berangkat dan pulang dari bekerja selalu menaiki sebuah sepeda motor keluaran tahun yang sudah lama, dan itu merupakan satu-satunya kendaraan yang dimilikinya.

Memang sudah berkali-kali Bapak Priambada menyarankan agar Dimas Tejo mengendarai mobilnya. Sebenarnya Bapak Priambada membeli mobil itu, tujuannya memang untuk membelikan Dimas Tejo. Agar Dimas Tejo juga memiliki kendaraan beroda empat seperti semua saudaranya.

Akan tetapi Dimas Tejo hanya menyanggupi kalau mau menggunakan kendaraan itu, namun sampai dengan sekarang dia belum pernah mengendarai mobil pemberian Ayahnya tersebut.

Kembali pada alur cerita sebelumya. Baru saja Dimas Tejo dengan motor tuanya sampai dan berbelok memasuki pada Jalan Raya dan, tiba-tiba terdengar jeritan orang-orang yang berada disitu. Sepeda motor tua Dimas Tejo tertabrak dan terseret sejauh beberapa puluh meter oleh sebuah Mobil Tronton yang melaju dengan kecepatan tinggi mungkin sedang mengalami rem blong sehingga tidak terkendali.

Badan Dimas Tejo sendiri terpelanting jauh dan jatuh terhempas dengan kerasnya, terlihat pada kepala dan badannya berlumuran darah.

Ketika dalam keadaan kritis Dimas Tejo masih sempat berpesan dan minta tolong kepada petugas kepolisian yang menangani kecelakaan lalu-lintas untuk menyampaikan sebuah map berwarna hijau muda yang berisi surat-surat penting kepada dokter Mulyadi.

Mendengar berita bahwa Dimas Tejo meninggal dunia karena kecelakaan Ibu Sitoresmi menjerit histeris dan Bapak Priambada langsung pingsan. Ketika hari sudah agak siang datanglah seorang Petugas Rumah Sakit yang menuju ke Rumah Duka dan disambut oleh Ambarsari, Budiyanti dan Citrawati.

Kemudian Petugas Rumah Sakit menunjukkan bundel surat-surat resmi dan mereka bertiga sangat terkejut. Ternyata rancangan tentang operasi transplantasi ginjal Bapak Priambada sudah diatur oleh Dimas Tejo dengan teliti, rinci dan secara diam-diam.

Dimas Tejo sendiri sudah menjalani semua prosedure yang seharusnya ditempuh sebagai calon pendonor ginjal dan dokter juga telah memutuskan bahwa Dimas Tejo pantas dan tepat sebagai pendonor ginjal untuk Bapak Priambada.

Dokter juga menyarankan bahwa operasi atau transplantasi ginjal untuk Bapak Priambada agar segera dilaksanakan sebab Dimas Tejo sudah dalam keadaan meninggal dunia.

Sambil menyampaikan surat-surat, Petugas Rumah Sakit itu juga menjelaskan kalau almarhum juga sudah menitipkan uang yang jumlahnya cukup guna pembiayaan berjalannya operasi hingga selesai.

Adapun surat-surat yang disampaikan oleh Petugas Rumah Sakit itu diterima oleh Ambarsari dengan tangan bergemetaran, dan mengenai isi surat tersebut adalah sebagai berikut :

Ibu ku sayang, walau apapun yang akan terjadi saya harap operasi Ayah harus tetap dilaksanakan untuk trasnplantasi ginjalku. Menurut keterangan dokter, ginjalku sehat dan cocok kalau didonorkan untuk Ayah.

Aku bersyukur kepada Allah, bahwa aku telah diberikan sepasang ginjal yang sehat, apapun yang sudah menjadi kepunyaanku kemudian dibutuhkan oleh orang lain akan kuberikan, apalagi ini untuk Ayah yang sangat kuhormati. Aku sangat rela menyerahkannya agar bisa memulihkan kembali kesehatan Ayah.

Ibu, biaya untuk transplantasi atau cangkok ginjal yang telah berhasil saya tabung ini, saya peroleh dengan cara yang baik dan halal. Dan itu merupakan sebuah anugerah yang diberikan untuk keluarga kita.

Kalau Allah memang sudah berkehendak, maka tidak sesuatu hal yang mustahil bagiNya. Sehubungan dengan hal diatas dan uang yang sudah saya kumpulkan tersebut adalah agar tidak menjadikan beban bagi orang lain serta jangan sampai menumbuhkan permasalahan nanti dikemudian hari.

Salam bakti untuk Ayah dan Ibu.

Dengan air mata yang terus mengalir dan membahasahi pipinya, kemudian Ambarsari memberikan surat tersebut kepada Budiyanti, yang sejak tadi hanya berdiri mematung seperti orang yang linglung. Setelah membaca dan mengerti apa isi surat tersebut lalu Budiyanti berteriak keras : “Dimas Tejo…..,adikku. Maafkan aku Budiyanti Mbakyumu ……. yang telah salah menilaimu…..!” Lalu Budiyanti jatuh berdebum dilantai dan pingsan.

Mendengar suara ribut-ribut di ruang depan, Ibu Sitoresmi segera keluar namun tersandung badan Budiyanti yang tergeletak dilantai masih dalam keadaan pingsan, dan surat yang berada dalam genggaman tangan Budiyanti diambil, lalu dibaca. Ibu Sitoresmi pun menyusul ikut pingsan.

Bapak Priambada dengan terhuyung-huyung dan melangkah setapak demi setapak sambil berpegangan apa yang ada, menyusul keluar ke ruang tamu. Terkejut sekali Bapak Priambada ketika mendapatkan Sitoresmi istrinya dan Budiyanti anaknya tergeletak dalam keadaan tidak sadarkan diri.

Oleh Petugas Rumah Sakit, Bapak Priambada dibantu didudukkan di sebuah kursi yang ada. Dan setelah terlihat agak enak dan nyaman posisi duduknya, kemudian surat yang ditulis oleh Dimas Tejo diberikan kepada Bapak Priambada.

Selesai membaca isi surat tersebut Bapak Priambada diam dan  tertunduk lemas tanpa tenaga, dari wajahnya yang kuyu dan lesu terlihat hatinya sangat terpukul dan berduka yang sangat dalam, kemudian dengan perlahan dia berkata :

“Kasihan engkau Dimas Tejo, anakku lelaki,” gumamnya perlahan.

”Anak-anakku semua,  umur Ayah kini sudah 80 tahun…………..,

Ayah tidak lagi membutuhkan cangkok ginjal…………………….,

Ayah tidak memerlukan operasi……………,” katanya yang lalu berhenti sebentar, kemudian dengan perlahan-lahan mengatur pernapasannya yang tersengal-sengal seperti orang yang kelelahan.

Lalu lanjutnya kemudian : “Akan tetapi uang yang berhasil dikumpulkan dan ditabung Dimas Tejo akan jauh lebih baik jika uang tersebut dipergunakan sebagai biaya untuk membesarkan dan  menyekolahkan Maheswari, karena dia adalah keturunan almarhum.

Ayah sudah tua, mungkin akan lebih baik kalau Ayah juga menyusul Dimas Tejo….

Sitoresmi……,

Istriku yang kucinta, aku pamit untuk lebih dulu menghadap ke hadirat Nya. Semuanya kupercayakan kepadamu, dan terserah bagaimana caramu untuk mendampingi dan membimbing anak-anak……

Dimas Tejo……. Tunggu Ayah, Nak….!”

Setelah berseru agak keras, Bapak Priambada tertunduk dan langsung diam yang disertai hembusan nafasnya yang terakhir.

Orang tua tersebut sudah pergi dipanggil dan menghadap hadiratNya, bukan disebabkan karena penyakit gagal ginjalnya yang sudah kelewat parah, akan tetapi memang demikianlah yang sudah menjadi kepastian untuknya.

Saudaraku pembaca semuanya yang saya hormati terutama di kalangan sendiri, reka cerita diatas hanya sekedar merupakan sebuah gambaran dari contoh kejadian yang mungkin bisa dijumpai dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat.

Melalui reka ceritera itu yang intinya adalah untuk mengenal sosok dan kasih sayang seorang ayah serta menunjukkan bahwa pada setiap manusia baik itu laki-laki atau perempuan terdapat sisi baik maupun sisi buruk yang ingin menang sendiri dengan berbicara seenaknya untuk memuaskan hatinya tetapi malah melukai perasaan orang lain.

Mengenai isi dari reka cerita tersebut bisa kita ambil hikmahnya sebagai pesan moral dan bahan perenungan dalam menjalani kehidupan kita masing-masing didalam bermasyarakat.

 

MENGENAL SOSOK DAN KASIH SAYANG SEORANG AYAH

*) Kalau berbicara mengenai kasih sayang orang tua, pada umumnya orang akan lebih banyak membahas tentang kasih sayang ibu daripada kasih sayang Ayah. Kasih sayang seorang ibu memang besar, tetapi bagaimana dengan kasih sayang seorang Ayah ?

Seperti apa yang dikatakan oleh Ibu Sitoresmi pada cerita diatas, Ayah adalah sesosok laki-laki yang patut untuk dikagumi sifat, sikap dan perbuatannya. Ayah memiliki tanggungjawab besar terhadap keluarga dan kasih sayangnya juga tidak perlu diragukan lagi karena sama besar dengan kasih sayang seorang ibu namun dicurahkan dalam bentuk yang berlainan.

Mungkin dulu waktu masih sebagai anak kecil, Ibu-lah yang lebih sering mengajak bermain atau mendongeng. Akan tetapi apakah engkau tahu, bahwa setiap Ayah pulang kerja meskipun dengan wajah yang lelah, Ayah selalu menanyakan pada Ibu tentang keadaanmu dan apa saja yang telah kamu lakukan seharian itu ?

*) Ayah berharap anak-anaknya menjadi seorang manusia yang tidak rapuh, tidak nakal, menyalahi aturan, kuat, bertanggungjawab, dan menjadi manusia yang mandiri dalam menjalani proses kehidupan yang panjang serta berliku.

Proses tersebut membutuhkan banyak bekal diataranya sifat-sifat yang diajarkan Ayah sewaktu masih kecil dengan cara memarahi, memukul atau bahkan dengan memberi kasih sayang.

Untuk menjalani kehidupan yang tidak semudah seperti dalam bayangan atau dongeng, cerita, atau pula dengan bim salabim-abra kadabra semuanya langsung selesai. Karena semua jenis pekerjaan dan pilihan hidup membutuhkan keyakinan dan usaha. Dan hal tersebutlah yang selalu diajarkan Ayah pada anak-anaknya.

Sebagai sebuah contoh : Pada saat engkau masih sebagai seorang anak kecil, Ayah yang selalu mengajarimu naik sepeda. Setelah Ayah menganggapmu bisa, maka Ayah akan melepaskan roda bantu di sepedamu.

Kemudian Ibu akan berkata : “Jangan dulu Ayah, jangan dilepas dulu roda bantunya.”

Hal itu karena Ibu merasa takut kalau anak kecilnya yang manis akan jatuh dan terluka. Akan tetapi apakah engkau sadar, bahwa Ayah dengan yakin akan membiarkanmu, menatapmu, mengawasimu dan selalu menjagamu dalam mengayuh sepeda dengan seksama karena dia tahu bahwa anak kecilnya pasti bisa.

*) Ayah memilki tanggung jawab besar dalam mendidik anak. Namun, selain itu Ayah juga memiliki tanggung jawab untuk memberi nafkah pada keluarga.

Karena fitrah Ayah yang tidak dapat melahirkan seperti halnya seorang ibu, maka kasih sayang seorang ayah akan diberikan dalam bentuk yang berbeda, yang semaksimal mungkin ingin memenuhi permintaan dan kebutuhan keluarga terutama untuk anak-anaknya.

Seberapa pun rasa lelah yang dirasakan dan keringat bercucuran Ayah akan tetap bekerja. Walaupun tulang sudah mulai merapuh, kulit mengeriput, nafas sudah tidak lagi lancar dan kuat seperti dahulu namun Ayah akan tetap berjalan tegak mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Pada saat anak kecilnya menangis dan merengek meminta boneka atau mainan yang baru, Ibu menatap dengan iba. Akan tetapi Ayah akan mengatakan dengan tegas, “Ya sayang nanti kita beli, tetapi tidak sekarang.”

Apakah engkau tahu, bahwa Ayah melakukan hal itu karena Ayah tidak ingin kamu menjadi anak yang manja dengan semua tuntutan yang harus selalu dapat dipenuhi ?

Namun ketika permintaanmu bukan lagi hanya sekedar meminta boneka baru, dan Ayah merasa bahwa ia tidak bisa membelikan apa yang kamu inginkan.

Apakah engkau juga tahu, bahwa pada saat itu Ayah merasa gagal membuat anaknya tersenyum.

 

*) Sifat Ayah pada dasarnya adalah mengayomi, bertanggungjawab dan berusaha membuat anggota keluarga senang dan bahagia.

Mungkin Ayah pernah marah atau memukul anak-anaknya, tapi percayalah bahwa hal tersebut merupakan bentuk kasih sayangnya. Misalnya pada saat anak kecilnya sakit influenza, seorang Ayah yang terlalu khawatir dengan keadaan tersebut, akan menegur bahkan terkadang sampai sedikit membentak dan berkata : “Sudah dibilang ! Kamu jangan minum air dingin.”

Akan tetapi berbeda halnya dengan seorang ibu yang memperhatikan dan menasehati anaknya dengan lembut.

Namun harus diketahuil, pada saat itu seorang Ayah benar-benar menghawatirkan keadaan anaknya.

Pendidikan, pengetahuan dan pendapatan yang rendah tidak akan menghalangi munculnya sifat alami tersebut pada sosok seorang Ayah.

Kebahagiaan anggota keluarga adalah kebahagiaan dirinya. Itulah gambaran singkat sosok seorang Ayah.

-o-

JANGAN MERENDAHKAN ATAU MENJELEKKAN ORANG LAIN.

 

1.) Dalam hidup ini tidak perlu merendahkan atau menjelek-jelekkan orang lain, sebab orang yang baik tidak akan pernah merendahkan atau menjelek-jelekkan orang lain. Karena pada saat merendahkan orang lain maka hal tersebut menunjukkan bahwa nilai dari diri seseorang itu rendah. Oleh karena itu tidak perlu merendahkan orang lain.

 

2) Mungkin banyak pihak yang berusaha untuk menjatuhkan seseorang, akan tetapi kemungkinan yang paling besar membuat seseorang tersebut jatuh adalah dirinya sendiri. Dengan perkataan lain yang bisa membuat seseorang itu menjadi rendah adalah hanya dari perbuatannya sendiri.

Oleh karena itu jangan pernah membuat nilai diri menjadi rendah hanya dengan sikap dan perbuatan sendiri. Maka dalam menjalani hidup harus menjaga sikap dan menjaga perbuatan, karena hal itu lah yang memungkinkan bisa merendahkan dan menjatuhkan diri sendiri.

 

3) Sebenarnya tidak perlu merendahkan orang lain dan jangan pula pernah menjelek-jelekan orang lain, meskipun menurut penilaian maupun kenyataannya bahwa perilaku orang tersebut memang buruk, rendah  dan tidak baik sekalipun.

Sebab yang bisa menilai baik buruknya seseorang hanyalah Tuhan. Dan sebagai sesama manusia  seseorang sama sekali tidak memiliki hak untuk menilai baik atau buruknya orang lain.

Sebaiknya kalau mengetahui bahwa hal tersebut tidak baik dan bertentangan dengan aturan yang ada maka tidak usah diikuti, akan tetapi kalau hal tersebut memang baik menurut penilaian manusia maupun aturan yang belaku, maka boleh untuk mengikutinya.

 

4) Sebagai manusia biasa tidak akan pernah lepas dari yang namanya kesalahan. Maka sebelum seseorang melakukan tindakan menjelek-jelekkan atau merendahkan orang lain, seharusnya ingat dan menyadari bahwa dirinya sendiri tidak selalu baik.

Kalau diri sendiri tidak selalu baik lalu untuk apa harus menjelek-jelekkan dan merendahkan orang lain.

Seseorang itu tidak perlu mengurus apa yang dilakukan oleh orang lain. Uruslah diri sendiri jangan pernah menilai apa yang dilakukan oleh orang lain. Lebih baik kesempatan yang ada dipergunakan untuk ngaca atau introspeksi diri, agar tahu kekurangan diri sendiri dan biar nggak sombong serta merasa dirinya yang paling benar.

 

5) Seseorang tidak akan pernah terlihat menjadi hebat atau namanya terangkat menjadi mulia dengan hanya merendahkan atau menjelek-jelekan orang lain.

Sekali lagi, karena pada saat merendahkan orang lain maka hal itu menunjukkan bahwa nilai dari diri seseorang itu rendah. Oleh karena itu tidak perlu merendahkan orang lain, karena kegiatan tersebut adalah merupakan sebuah kegiatan yang tidak ada artinya atau kegiatan yang tidak menguntungkan.

 

-o0o-

 

BERHATI-HATI DALAM BERBICARA

Mengambil gambaran seperti pada cerita diatas, bagaimana Budiyanti yang berbicara seenaknya sehingga menyinggung dan menyakiti perasaan hati Dimas Tejo adiknya maupun Sitoresmi ibunya.

Dalam kehidupan sehari-hari bermasyarakat yang sangat majemuk dan kondisinya satu dengan yang lain tidak sama maka harus berhati-hati dalam berbicara agar tidak melukai hati siapapun.

Mungkin saja hal-hal yang menurut kita biasa saja misalnya dalam bentuk gurauan, lelucon ataupun candaan yang ceplas-ceplos malah melukai hati seseorang. Hal itu karena kita tidak pernah tahu bagaimana perasaan orang lain pada saat itu.

Sekali salah dalam berbicara, maka ucapan itu tidak bisa ditarik kembali, maka sebaiknya akan lebih bagus kalau berpikir terlebih dahulu sebelum mengatakannya kepada orang lain agar apa yang akan kita katakan itu tidak melukai perasaan siapapun.

Sekali bersalah mungkin orang masih bisa memaafkan namun hal tersebut tidak bisa dilupakan. Tetapi ada kalanya untuk memaafkan saja itu tidak mudah apalagi untuk melupakannya.

Oleh karena itu setiap orang harus menjaga lisan dan berhati-hati dalam berbicara agar tidak menyinggung ataupun melukai hati dan perasaan siapapun.

-o-

Berkaitan dengan hal diatas dalam Etika Jawa utamanya yang berhubungan dengan tata-krama orang berbicara, harus mengikuti 4 peraturan yang dikenal dengan “4 R” yaitu : ririh, ruruh, rereh dan respati.

Ririh : Kalau berbicara tidak keras, perlahan atau sedang saja, yang penting bahwa orang yang diajak berbicara bisa mendengarakan, itu sudah cukup. Jadi bukan berbicara dengan berteriak.

Ruruh : Dalam berbicara harus selalu menghormati siapa saja lawan kita bicara. Dalam hal berbicara itu harus menggunakan bahasa yang diatur, tidak asal berbicara.

Rereh : Artinya apa yang akan dibicarakan adalah hanya terbatas pada masalah yang perlu saja. Tidak usah muluk-muluk apalagi sampai dengan memberikan janji-janji.

Respati : Dalam hal berbicara dapat melegakan hati, menyenangkan hati atau bahkan dapat membuat gembiranya orang yang diajak bicara atau lawan bicara.

-o-

 

APA YANG AKAN DI LAKUKAN JIKA MELIHAT ADA ORANG  YANG MELAKUKAN KESALAHAN

Pada umumnya kalau tidak kenal dengan orang yang melakukan kesalahan, mungkin akan dengan mudah dan dengan lantang mengritik atau menjatuhkannya.

Namun apabila kenal dengan orang yang melakukan kesalahan tersebut , maka seringkali merasa enggan / takut / atau malah tidak berani menegur.

Adapun alasannya bisa bermacam-macam, misalnya takut menyinggung perasaan, menganggap bahwa hal tersebut bukan urusan dan tanggung jawabnya, atau karena tidak peduli.

Cukup sering terjadi, bukannya berbicara DENGAN orang yang melakukan kesalahan itu untuk mengingatkan, namun malahan bicara TENTANG orang tersebut dengan orang-orang yang lainnya.

Sebagai akibatnya, gossip terjadi dan keburukan tersebar, bahkan dengan disertai “bumbu-bumbu penyedap” sehingga menjadi semakin menghebohkan dan lain-lainnya.

Seharusnya sebagai sesama manusia kita juga turut bertanggung jawab untuk menjaga sesama kita supaya mereka bisa hidup baik sesuai dengan yang dikehendaki oleh Allah.

-o-

 

Sebuah Humor :

IBU-IBU YANG KECOPETAN

Pada suatu hari di Terminal Angkutan Perkotaan ada seorang ibu-ibu yang sedang menangis sesenggukan, kemudian ditanya oleh seorang polisi yang sedang bertugas..…

Polisi : “Kenapa menangis, Bu……………..?
Ibu-ibu : “Uang saya, dua ratus ribu kecopetan.”
Polisi : “Uangnya disimpan dimana, Bu…………..?”
Ibu-ibu : “Ibu selipin di dalem kutang……”
Polisi : “Memang Ibu nggak kerasa waktu dirogoh…..?”
Ibu-ibu : “Kerasa sih kerasa, soalnya agak lama juga ngerogohnya…”
Polisi : “Lho, Ibu kok nggak berteriak sih……?”
Ibu-ibu : “Saya kirain nggak sambil nyopet, si kesebelan teh….!!!”
Polisi : “Ibu hapal nggak dengan tampang orang yang ngerogoh tadi…?
Ibu-ibu : “Hapal sekali……”
Polisi : “Ciri-cirinya bagaimana, Bu……..?
Ibu-ibu : “Cirinya persis seperti yang lagi baca…….!”
Polisi : &&&-@@@-###-$$$

 

-o0o-

 

BANDUNG – INDONESIA, OKTOBER – 2017

Cerita : Adinda AS

(Gubahan  Ki Ageng Bayu Sepi)

WAJAH MENGGUNAKAN PENUTUP

PERNAHKAH TERPIKIRKAN :

PADA SAAT SESEORANG SEDANG DUDUK SANTAI KEMUDIAN TIBA-TIBA TERPIKIRKAN INGIN BERBUAT SESUATU KEBAIKAN ?

SEBENARNYA ITU ADALAH TUHAN YANG SEDANG BERBICARA DAN MENGETUK HATI ORANG TERSEBUT.

PERNAHKAH TERPIKIRKAN :

PADA SAAT SESEORANG SEDANG BERSEDIH, KECEWA TETAPI TIDAK ADA ORANG LAIN DISEKITARNYA UNTUK MENUMPAHKAN KEGUNDAHANNYA ?

SEBENARNYA SAAT ITU TUHAN INGIN AGAR ORANG TERSEBUT BERBICARA KEPADANYA.

PERNAHKAH TERPIKIRKAN :

KETIKA SESEORANG DALAM SITUASI YANG BUNTU, SEMUA TERASA BEGITU SULIT DAN TIDAK MENYENANGKAN SERTA TERASA HAMBAR, KOSONG BAHKAN MENAKUTKAN ?

SEBENARNYA ADALAH PADA SAAT ITU TUHAN MENGIJINKAN  ORANG TERSEBUT DIUJI, AGAR SUPAYA MENYADARI KEBERADAAN-NYA. KARENA TUHAN TAHU BAHWA ORANG ITU SUDAH MULAI MELUPAKANNYA.

JADI UNTUK SEMUA PERISTIWA YANG TERJADI, ITU TIDAK ADA YANG TERJADI SECARA KEBETULAN, KARENA SETIAP LANGKAH MANUSIA DIATUR OLEH TUHAN.

 

angat jauh berbeda, apabila dibandingkan dengan waktu-waktu yang sudah lewat, sebab pada malam ini Sumanding merasa dirinya sedang mengalami nasib yang nahas atau sial. Karena dengan mengendap-endap di sudut-sudut desa seperti yang sudah biasa dilakukan, saat ini tidak bisa membuahkan hasil seperti yang diharapkannya.

lewat, sebab pada malam ini Sumanding merasa dirinya sedang mengalami nasib yang nahas atau sial. Karena dengan mengendap-endap di sudut-sudut desa seperti yang sudah biasa dilakukan, saat ini tidak bisa membuahkan hasil seperti yang diharapkannya.

Entah apa yang dapat dikatakan sebagai penyebabnya, tetapi yang jelas adalah pada setiap kali mengintai rumah yang akan dijadikan kurban atau mangsa, keberadaannya selalu saja diikuti oleh hadirnya suara burung uncuing atau bence yang tidak pernah berhenti berbunyi. Suara bercuat-cuit yang keras dan terkadang terbang berputar-putar yang mengitari keberadaannya sehingga membangunkan tidur si pemilik rumah.

Merasakan tentang keadaan malam itu, pemikiran Sumanding merasa tidak tenteram. Perasaan hatinya mengatakan ada yang salah atau ada yang kurang, padahal melakukan puasa sudah dijalankan, membaca mantera-mentera juga sudah dilakukan, persyaratan juga sudah dipenuhi bahkan menghitung keberuntungan berdasarkan perimbon kejahatan yang ada juga sudah tepat.

Namun malam itu tetap saja Sumanding merasa ada yang salah atau kurang lengkap. Entah, tidak tahu itu pada bagian yang mana atau apa penyebabnya, tetapi singkatnya perasaannya mengatakan ada yang kurang !

“Kang Sarma mengapa engkau memukul kentongan rumah dengan nada gencar atau titir, apakah ada tanda-tanda yang kurang bagus dan mencurigakan ?” begitulah kira-kira pertanyaan tetangga yang satu kepada tetangga yang lain dari dalam rumahnya masing-masing setiap ada suara kentongan yang dibunyikan berasal dari tetangga dekatnya.

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu yang didengarkan dan diperhatikan Sumanding dari tempat persembunyiannya di kegelapan malam, gerumbulan pohon perdu dipekarangan atau di pojokan rumah yang agak gelap karena tidak ada lampu penerangannya.

“Iya betul, Mas Triman. Semenjak sore tadi suara burung Uncuing atau Bence tidak kunjung berhenti dan tidak juga mau pergi dari kebun belakang rumah. Mari kita selidiki bareng-bareng,” jawab tetangga sebelah rumah.

“Baiklah kalau begitu, tapi sebentar saya mau ambil senter dulu sambil bawa padang untuk berjaga-jaga.”

“Ya, akupun mau membawa pentungan pemukul.”

“Busyeet…,” begitu bisik hati Sumanding, yang segera pergi meninggalkan kebun yang baru saja dipakai sebagai tempat bersembunyi. Dia bergeser perlahan lalu pergi mengikuti jalan setapak yang gelap di kebun tersebut dan meninggalkan tempat yang tadinya akan dijadikan kurban.

Setelah pergi agak jauh dari tempat yang akan dijadikan kurban Sumanding duduk dengan memeluk kedua lututnya dan berada ditengah-tengah gerumbul pohon bambu yang tumbuh di atas tebing pinggiran sungai. Keadaan sekitar itu sangat sepi serta gelap sekali dan Sumanding pun merasa aman dirinya bersembunyi di tempat itu.

Meskipun dalam keadaan yang sangat gelap karena memang sudah terbiasa beraktivitas pada malam hari dan selalu memperhatikan keadaan serta mengamatinya maka Sumanding pun hapal dengan cara-cara atau strategi petugas di setiap pos ronda bahkan sampai kebiasaan binatang yang biasa keluar pada malam hari pun tidak lepas dari pengamatannya.

Sumanding juga menguasai semua perhitungan tentang hari keberuntungan menurut rumusan perimbon penjahat. Hapal dengan semua mantra yang digunakan untuk melakukan pencurian serta menyiapkan persyaratan yang harus dipenuhi.

Walaupun pada malam itu sebelum berangkat bekerja menjadi seorang pencuri, Sumanding memang sudah menghapal semua rumusan atau perhitungan sial atau mujur seperti yang telah tercatat dalam perimbon penjahat. Tetapi apa yang diperhitungkan dan dihafalkan oleh Sumanding belum juga memperoleh hasilnya.

Bahkan sudah dua rumah yang akan dijadikan mangsa, dan apa yang sudah dilakukan tidak berfungsi sama sekali, sebab penghuni rumah terbangun dan bersiaga serta membangunkan para tetangga sebelahnya. Sedangkan menurut perhitungan perimbon, seharusnya malam itu dia berhasil. Akan tetapi pada kenyataan yang dihadapinya sangat berbeda dengan hasil perhitungan yang ada dalam buku perimbon tersebut.

Andaikata bisa melihat seperti pada keadaan siang hari, pastinya akan dapat melihat dengan jelas bahwa saat itu Sumanding sedang duduk terpekur dan termenung sebab sudah sampai lewat tengah malam dan hampir menjelang pagi dia belum memperoleh hasil apa pun juga. Sedangkan anak dan istrinya di rumah pasti sudah mengharap sekali akan hasil yang diperoleh dari pekerjaan mencuri pada malam hari itu.

“Apakah pada malam ini aku akan pulang dengan tangan kosong ?” tanya Sumanding dalam hatinya.

Andaikata malam ini pulang dengan tangan kosong, hidupnya dan semua keluarga akan sangat kerepotan karena hari itu sudah tidak mempunyai persediaan beras sama sekali. Bahkan semua bumbu untuk memasak juga sudah tidak ada yang tersisa sama sekali. Yang tinggal hanya gula pasir dan jumlahnya pun tidak banyak hanya cukup untuk membuat dua atau tiga gelas minuman. Dan gula itu sendiri sudah tidak ada yang menemaninya lagi seperti halnya ada teh atau kopi.

Jadi pada sore tadi pun sebelum berangkat dari rumah Sumanding hanya bisa nimum air putih hangat yang diberi gula pasir. Walaupun rasanya sangat aneh dan menyebalkan yang bisa membikin perut merasa mual karena memang bukan peruntukkannya, namun tidak pernah dianggap dan dipaksakan saja karena memang perutnya sudah terlanjur merasa lapar dan tidak ada sedikitpun cadangan bahan makanan yang tersedia.

Kemudian dia teringat dengan apa yang telah dikatakan oleh istrinya : “Pak, kalau Bapak malam ini tidak berangkat bekerja, besok pagi kita sekeluarga akan kelaparan. Hidup kok serba susah seperti ini, ya pak,” demikian kata-kata istrinya malam itu sambil berlinang air mata karena menahan rasa sedihnya. Sumanding tidak  memberikan jawaban sama sekali sebab hatinya pun juga merasa pedih seperti teriris-iris serta menangis dalam hati.

Malam itu dengan kesedihannya sambil duduk termenung ditengah gerumbul pohon bambu keinginannya untuk melakukan pencurianpun  juga mengendor. Dalam hati berkata : “Saya ingin menyudahi saja dan berhenti dari pekerjaan seperti ini dan ingin hidup layak dan mempunyai pekerjaan yang bisa menghidupi seperti orang lain pada umumnya.

Tetapi kapan waktunya saya harus berhenti dari pekerjaan ini dan bagaimana awal mula cara yang harus aku lakukan. Karena selama ini aku memang tidak mempunyai keakhlian apapun juga sebagai modal untuk hidup bermasyarakat.

Apalagi dengan kejadian tadi sudah dua tempat yang akan kujadikan kurban, secara mendadak kesemua sipemilik rumah terbangun seperti sudah merasa dan curiga yang kemudian berwaspada. Mungkin Tuhan tidak mengabulkan kalau aku melakukan pekerjaan seperti ini lagi, tetapi harus bagaimana aku mulai merubahnya. Semoga Tuhan memberikan jalan dan petunjuknya kepadaku.”

Di tengah keadaan yang gelap gulita seperti itu mata Sumanding yang sudah terbiasa dan terlatih, mampu menelusuri gelapnya malam tanpa bantuan  penerangan apapun seperti layaknya mata seekor burung hantu atau mata seekor kucing yang bisa membedakan keadaan dan memperhatikan sesuatu yang dilihat.

Meskipun dalam keadaan sedang bingung, sedih dan termenung seperti itu, namun penglihatan Sumanding masih sempat menangkap dan melihat ada gerakan yang merunduk-runduk yang dilakukan oleh empat orang yang menyeberangi sungai dan mengarah lurus tepat pada tebing dibawah gerumbulan rumpun bambu tempat persembunyiannya.

Jika diperhatikan perilaku ketika menyeberangi sungai sangat berhati-hati dan tidak ada seorangpun diantara mereka yang membawa penerangan, baik itu berupa obor, senter atau yang sejenisnya, dan kesan yang bisa dibaca adalah bahwa apa yang dilakukan oleh keempat orang tersebut sangat mencurigakan.

Hati Sumanding menjadi berdebar keras sekali lebih-lebih ketika memperhatikan dari kegelapan bahwa ke empat orang tersebut mengenakan penutup muka dari batas hidung dibawah mata kebawah. Rombongan dari ke empat orang tersebut berhenti sebentar tepat dibawah rumpun bambu beberapa meter dari tempat Sumanding bersembunyi. Ketika diperhatikan ke empat orang tersebut masing-masing mengeluarkan sesuatu dari dalam saku jaketnya.

“Pistol !” kata hati Warong  yang terkejut dan juga takut. Walaupun demikian naluri dan pengalamannya mengatakan bahwa ke empat orang tersebut bukanlah orang yang baik-baik. Kalau orang tersebut adalah orang yang berniat baik mestinya pada waktu bepergian malam-malam demikian itu seharusnya membawa peralatan yang bisa dipergunakan untuk menerangi jalan, tetapi kalau niatnya memang tidak baik pastinya tidak akan membawa alat penerangan seperti yang dilakukannya saat ini.

Selain dari pada itu kalau mereka orang baik-baik pastinya tidak perlu harus menutupi mukanya, apalagi mereka masing-masing membawa menyembunyikan sepucuk pistol.

Kalau dia sendiri hanya mencuri bahan makanan untuk memenuhi kebutuhan hidup, untuk makan esok hari akan tetapi apa yang mereka lakukan mungkin juga disertai dengan kekerasan atau bahkan apabila diperlukan bisa juga terjadi hilangnya nyawa seseorang.

Walaupun selama ini dia juga melakukan hal yang salah tetapi ketika memperhatikan hal tersebut hati nuraninya masih bisa berpikir dengan bening, hati kecilnya tidak bisa membiarkan dan tidak bisa menerima kalau hal tersebut sampai betul-betul terjadi. Kemudian diputuskan untuk mengambil sebuah langkah : “Saya harus segera memberi tahukan keadaan ini kepada mereka yang berkewajiban tugas ronda agar berwaspada dan berjaga-jaga, dan mudah-mudahan saja hal ini adalah awal dari sebuah jalan bagi saya untuk bisa memulai hidup baru di jalan yang benar.”

Dengan mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya, perlahan-lahan Sumanding menggeser posisinya dan keluar dari dalam rumpun bambu, mumpung sebelum orang-orang tersebut menaiki tebing pinggiran sungai.

Ketika dirasakan sudah agak jauh jaraknya dari ke empat orang tersebut, dengan setengah berlari Sumanding menuju pos ronda yang berada di pinggir desa.

“Pak, Mass….. mohon maaf…..,” begitu kata Sumanding sambil mengatur napasnya yang terengah-engah kepada para orang-orang atau petugas ronda yang sedang berjaga di pos keamanan tersebut.

“He…., kamu siapa ! Mengapa sampai lebih dari tengah malam begini kamu datang kemari ? Kamu pasti sedang mengawasi situasi ya ? Karena sejak sore tadi burung bence berbunyi terus-menerus. Jangan-jangan kamu yang sejak sore tadi kamu berkeliling di desa sini, ya apa tidak ? Awas kalau kamu membuat ulah dengan menggunakan berbagai macam alasan, nanti malah akan dipukuli !” kata salah seeorang penjaga pos ronda tersebut.

“Nanti dulu. Sabar dulu sebentar ….saya hanya akan memberi tahu ketika saya sedang duduk menyepi ditengah rumpun bambu yang tumbuh pada tebing dipinggir sungai dalam rangka mencari petunjuk atau wangsit agar bisa hidup menjadi lebih baik, tiba-tiba di bawah tebing sebelah sana saya melihat ada empat orang yang tingkah lakunya mencurigakan menyeberang kemari. Ini saya sampaikan dengan benar-benar. Dan masing-masing orang tersebut menutupi sebagian mukanya serta membekal pistol,” kata Sumanding menceritakan apa yang tadi dilihatnya sambil bergemetaran badannya tetapi bukan karena kedinginan.

“Hush…., jangan kamu mengarang cerita untuk menakut-nakuti kami. Memperhatikan apa yang kamu sampaikan begitu jelas dan terinci seperti ini, jangan-jangan kamu sendiri adalah teman atau bagian dari orang-orang yang mencurigakan tersebut.”

“Tidak pak, saya tidak mengada-ada. Silakan bapak-bapak semuanya bersiaga dan berwaspada, karena menurut perkiraan saya orang-orang yang mencurigakan tersebut akan berbuat yang tidak baik di desa sini,” demikian yang disampaikan Sumanding untuk memberikan pejelasan.

“Ya sudah kalau begitu. Teman tolong dibantu, pukul saja kentongan ini dengan nada gencar daripada nanti terjadi peristiwa yang tidak diinginkan. Kalau orang ini dengan sengaja berbohong, lebih baik kita tangkap lalu kita serahkan kepada polisi,” kata petugas ronda yang lain.

Bunyi kentongan dengan nada titir atau gencar yang berasal dari pos ronda tersebut yang kemudian diikuti oleh bunyi kentongan dengan nada yang sama dari arah lain dan saling bersahut-sahutan dari segala penjuru tempat perondaan di desa tersebut.

Penduduk desa atau warga masyarakat di desa setempat berbondong-bondong keluar dari rumahnya masing-masing sambil membawa peralatan atau senjata yang dimilikinya.

“Ada apa yang sedang terjadi ?” begitu kira-kira pertanyaan dari beberapa warga masyarakat desa itu sambil tampak kebingungan.

“Ada yang memberikan informasi bahwa ada beberapa orang yang kelihatan mencurigakan yang berasal dari seberang sungai sebelah barat desa menuju ke desa sini.”

Hampir semua warga masyakarakat segera pergi secara berbondong-bondong menuju arah sungai yang tadi ditunjukkan oleh Sumanding.

Begitu sampai ditempat yang dituju, yaitu di pinggir sungai, mereka yang datang secara berbondong-bondong berteriak : “Kok, nggak ada apa-apa disini ?”

“Mungkin mereka sudah pergi menyelamatkan diri dan mengurungkan niatnya karena mendengar suara kentongan yang kita pukul dengan nada gencar,” demikian pendapat salah seorang diantara masyarakat tadi.

“Atau kalau tidak,  pastinya orang yang memberikan laporan di pos ronda tadi hanya membohongi kita. Kalau begitu lebih baik orang tersebut kita tangkap kalau perlu dipukuli saja biar mengaku,” teriak yang lain lagi.

Ketika warga masyarakat yang berbondong-bondong pergi ke pinggir sungai tadi sudah kembali ke tempat pos ronda dengan roman muka yang jengkel, hati Sumanding menjadi semakin kecil karena diliputi olah rasa khawatir yang berlebihan.

“Tangkap saja ! Orang ini telah membohongi kita dan hanya membuat keributan saja !” teriak beberapa orang penduduk desa itu yang merangsek maju kedepan untuk menyengkeram leher baju Sumanding pada bagian dadanya.

“Sa….saya tidak bohong….pak… Tadi saya betul-betul melihat dengan mata kepala sendiri !” kata Sumanding memberikan penjelasan dengan badan bergemetaran karena ketakutan.

“Ahhh alasan saja, seandainya kamu memang melihatnya, dapat dipastikan kalau kamu juga bukan orang baik-baik, mungkin sebangsanya pencuri atau barangkali mata-mata dari penjahat yang akan mengganggu ketenteraman desa sini. Bagaimana mungkin tidak, karena kamu bukan penduduk desa sini dan pada saat tengah malam seperti ini masih berkeliaran di desa sini. Iya apa tidak ? Hayo mengaku saja !”

“Mmmm, bukan. Saya, saya adalah orang baik-baik…….hanya ingin menyepi atau bertirakat ditempat itu,” demikian penjelasan Sumanding dengan ketakutan, walaupun di hati kecilnya mengiyakan bahwa dia juga bukan orang baik, tetapi ingin sekali merubah perilaku yang salah, namun pengakuan pada saat seperti ini atau pada saat orang-orang sedang dihinggapi oleh emosi yang tinggi bukanlah waktu yang tepat untuk itu.

“Orang baik-baik….baik apanya ? Malam-malam begini masih berkeliaran di desa orang lain ! Sudah…., tangkap saja dan laporkan ke polisi.”

“Maaf bapak-bapak semuanya…..,” kata Sumanding yang hampir menangis karena ketakutan yang amat sangat dan juga hati yang bersedih karena teringat akan nasib keluarganya.

“Kalau tidak mau menurut, pukul saja !” teriak yang lain.

Ketika malam yang sudah menjelang pagi itu Sumanding diikat pada kedua tangannya dan dibawa ke kantor polisi dengan jalan dibonceng motor. Ada empat orang semuanya yang mengantarkan Sumanding ke kantor polisi. Di sepanjang perjalanan Sumanding hanya bisa menangis. Menangis karena menyesali nasibnya yang tidak bagus. Menangis karena malam ini sampai besok harinya anak dan istrinya tidak akan bisa makan dan tidak akan segera tahu tentang dimana keberadaannya.

Ketika waktu subuh, pada saat orang-orang yang mengantar Sumanding belum kembali dari kantor kepolisian, di desa tersebut telah terjadi keributan yaitu di rumah Kepala Desa yang terkenal kaya dirampok orang. Adapun perampok tersebut berjumlah empat orang dan masing-masing membawa sepucuk pistol.

Kepala Desa yang ikut mengantarkan Sumanding ke Kantor Kepolisian pun tidak mengerti kalau dirumahnya telah terjadi perampokan. Anak dan istrinya hanya bisa menangis sebab semua tangannya diikat oleh para perampok. Semua harta dikuras habis dan benda berharga yang ada diangkut dengan menggunakan mobil pribadi milik Kepala Desa itu sendiri.

Sebagian masyarakat desa itu yang mengetahui kejadian tersebut hanya mendiamkannya saja dan tidak ada yang berani mendekat karena takut menjadi sasaran empuk proyektil peluru yang nyasar, sebab perampok tadi berkali-kali meletuskan pistolnya.

Ketika Kepala Desa kembali dari kantor kepolisian, hanya bisa diam melenggong dan terkesima karena menemukan keadaan bahwa ketenteraman desanya terganggu dan di rumahnya yang sudah dirampok habis-habisan, tanpa ada seorangpun warga setempat yang berani menghalangi terjadinya peristiwa perampokan tersebut.

Ada seberkas rasa penyesalan yang datangnya terlambat karena tidak menghiraukan informasi yang diberikan oleh seseorang, karena dalam pandangan matanya bahwa seseorang tersebut adalah orang yang salah karena penampilan dan pada posisi yang dianggap tidak benar.

Semuanya karena terburu nafsu dengan mudah menjatuhkan vonis, dan merasa bahwa permasalah yang dihadapi sudah terselesaikan serta membiarkan pengamanan perondaan maupun masyarakat desa tersebut menjadi tidak berwaspada lagi.

-o0o-

 

Saudaraku pembaca semuanya yang saya hormati terutama di kalangan sendiri, gubahan cerita diatas hanya merupakan sebuah contoh kejadian yang bisa diketemukan dalam kehidupan sehari-hari, dan melalui gubahan ceritera tersebut yang intinya adalah bahwa Tuhan memanggil hidup setiap orang berbeda satu dengan yang lainnya dan suatu niatan yang baik atau suatu Perbuatan baik yang di lakukan tidak akan selalu diterima dengan baik oleh orang lain.

Dan sebagai bahan perenungan dalam menjalani kehidupan kita masing-masing dalam hidup bermasyarakat, diperlukan suatu kemampuan untuk bisa membaca atau mengerti tentang berbagai nuansa baik itu tanda-tanda dari alam maupun dari manusia.

 

Tidak ada orang baik yang tidak punya masa lalu, dan tidak ada orang jahat yang tidak punya masa depan.

Panggilan Tuhan dalam hidup setiap orang berbeda satu dengan yang lainnya. Ada yang dipanggil ketika ditengah-tengah badai kesulitan, kesukaran dan tantangan hidup dan ada yang dipanggil lewat pengalaman sukacita ataupun kebahagiaan.

Pada dasarnya Tuhan memanggil hidup seseorang agar menjadi lebih dekat pada-Nya bisa dilakukan dengan cara :

  1. Dipanggil Secara Langsung artinya tidak peduli sedang dalam keadaan apapun tiba-tiba saja hati dan pikirannya tertuju kepada Sang Pencipta dan ingin berbuat suatu kebaikan, untuk mendekatkan diri padaNya, atau pada jaman dahulu Tuhan menugaskan malaikat sebagai utusanNya.
  2. Seseorang dipanggil untuk dekat dengan Tuhan bisa melalui cara Pendidikan/Sekolah/Pesantren, Membaca Kitab Suci, Mendengar Lagu Rohani, Mendengar Tausiah, Khotbah atau Ceramah, Membaca Artikel atau media–media lainnya, baru kemudian hatinya tergugah untuk hidup lebih dekat dengan-Nya.
  3. Seseorang dipanggil Tuhan untuk hidup lebih dekat dengan-Nya bisa karena seseorang tersebut selalu melihat dan memperhatikan kehidupan orang-orang beriman yang taat beribadah.

 

Reaksi seseorang ketika mendapat panggilan.

Panggilan juga bisa saja ditanggapi dengan sikap yang berbeda oleh tiap orang. Membaca kisah-kisah dari Kitab Suci, bahwa ada orang yang merasa panggilan sebagai hal yang mendatangkan kesenangan, keuntungan akan cepat menanggapinya. Misalnya tanpa berpikir panjang dia langsung mengikuti kehendak Tuhan dengan meninggalkan segala-galanya, misalnya pangkat, pekerjaan, kekayaan dan sebagainya.

Tetapi apabila panggilan itu akan membebani, membuat dirinya susah atau untuk melakukan pekerjaan yang berat maka umumnya orang akan berpikir-pikir dulu atau menolak. Misalnya dengan alasan merasa perlu menyelesaikan dan mengurus hidupnya terlebih dahulu. Ada juga yang menolak, kerena merasa tidak mampu memenuhi persyaratan yang diharuskan.

 

Setiap keputusan yang di ambil ketika mendekatkan kepada-Nya pasti ada resiko yang akan dihadapi oleh orang tersebut, akan tetapi kalau tetap setia dan bertahan, Tuhan pasti memberikan kekuatan jalan keluar dan damai sejahtera sehingga orang tersebut dapat menanggung semua itu.

Tuhan memanggil seseorang karena Dia mempunyai rencana yang besar, karena lewat hidup orang tersebut Tuhan ingin menjadikannya sebagai saksi, contoh, teladan hidup, sehingga  keluarga, teman, saudara maupun orang lain sekalipun bisa menjadi lebih dekat dengan Nya.

Tantangan dalam kehidupan bisa saja datang silih berganti menghampiri akan tetapi rencana Tuhan bagi umat-Nya tidak akan pernah gagal karena Tuhan senantiasa memberikan hikmah, kekuatan dan selalu menyertai umat-Nya.

Jadi intinya bagaimanapun cara Tuhan memanggil, sebaiknya hal tersebut dilihat dengan sudut pandang positif, bahwa Dia sedang melakukan yang terbaik bagi umat-Nya.

 

-o0o-

Sebagai bahan introspeksi :

WAJAH DIBALIK PENUTUP

“Seseorang yang selalu memusuhi saya, dan wajahnya sangat ingin saya ketahui.

Sebab dia secara terus menerus selalu mengikuti saya tanpa terlihat, walau kemana pun saya pergi.

Rencana saya selalu dibatalkannya, bidikkan saya pun selalu digagalkannya, dia juga menghambat jalan saya untuk maju ke depan.

Ketika saya berjuang untuk mengejar tujuan yang luhur, dia berkata dengan geram kepada saya : “Tidak !”

Pada suatu kesempatan, saya berhasil menangkapnya serta memegangnya dengan erat, kemudian saya tarik lepas penutup wajah itu……..

Akhirnya, saya dapat melihat wajahnya itu dan ……… ternyata diri sayalah yang saya lihat!”

 

 

Jangan menilai orang hanya dari penampilan luarnya :

Banyak orang dan mungkin salah satunya adalah kita sendiri yang sering  menyampaikan pepatah agar “tidak menilai orang dari luarnya atau penampilannya saja.”

Karena “menilai orang dari luar” mempunyai makna atau konotasi yang buruk, bahkan mungkin merendahkan. Sebab di dalamnya tersirat penilian yang tidak adil, penilaian yang sepihak dan terlalu cepat menarik kesimpulan.

Dalam situasi carut marut dunia saat ini begitu sulit orang mengenal jati dirinya dan orang lain yang sesungguhnya, kadang-kadang polesan asesoris menutupi kesejatian identitas diri yang sebenarnya, maka tidak heran kalau kitapun memiliki mentalitas yang ingin melihat segala sesuatu dengan dangkal karena tidak mau mengenal yang lebih dalam, orang hanya sekedar melihat yang lahiriah yang nampak saja.

Padahal sejak dulu sudah diketahui, bahwa menilai hanya dari penampilan, sebenarnya adalah merampas kesempatan untuk mengenal pribadi seseorang yang sebenarnya. Mungkin sebagai manusia kita lupa, bahwa setiap manusia punya sisi berbeda.

Meskipun Tuhan memberikan kita kedua belah mata yang sehat dan berfungsi sebagaimana mastinya, tapi mata tetaplah mata yang hanya bisa melihat sisi permukaan atau lahiriah saja. Jangan hanya dengan menggantungkan kemampuan indera penglihatan, kita bisa dengan gampangnya memberi tanggapan atau penilaian pada orang lain.

Karena indra penglihatan yang kita memiliki mempunyai keterbatasannya sendiri. Isi hati dan kepribadian seseorang adalah sisi yang tidak bisa di telusuri dengan mata lahiriah.

Harus diakui sulit memang kita melepaskan sepenuhnya kebiasaan melihat dari orang lain dan penampilan. Selalu ada masa di mana kita menumpukan pendapat dari suatu yang bisa terlihat. Akan tetapi, ada baiknya sebelum kita memberi penilaian, luangkan waktu terlebih dahulu mengenali orang dan bukan lainnya. Mulailah melatih diri untuk mau menyelami sisi terdalam dari seseorang.

Ketika kita membiasakan diri untuk tidak terpaku menilai orang lain dari sisi luarnya saja, sesungguhnya akan ada banyak keuntungan yang kita dapatkan. Keuntungan tersebut adalah kesempatan untuk mengenal orang secara lebih dalam. Mungkin akan menemukan kejutan ketika mengenal orang lain secara lebih mendalam, sebab seseorang yang pada awalnya kita nilai biasa-biasa saja, bisa jadi justru memiliki sisi yang begitu istimewa. Selalu ada sisi baik dari setiap insan meski penampilan luarnya tidaklah menyenangkan.

Mengubah cara pandang jelas bukan sesuatu yang gampang. Tapi, bukan berarti tidak bisa kita lakukan, dengan kemauan yang kuat, secara perlahan-lahan kita dapat merubah arah pemikiran. Dari yang tadinya sibuk menilai orang dari kemasan luar menjadi lebih detail dengan sisi terdalam.

Sehubungan dengan hal tersebut diatas jangan menilai dari tampilan lahiriahnya saja karena :

  1. Tidak ada seorangpun manusia yang sempurna, oleh karena itu belum tentu kita lebih baik dari mereka.

Maka sebelum menilai orang lain, bercerminlah pada diri sendiri. Karena semua orang memiliki kekurangan yang bahkan mungkin kekurangan kita lebih buruk daripada kekurangan mereka.

  1. Setiap orang diciptakan Tuhan karena sebuah alasan. Begitu pula dengan dia. Maka meremehkan mereka sama saja dengan meremehkan Sang Pencipta.

Tidak ada manusia yang diciptakan-Nya dengan sederhana dan tidak ada ciptaan di dunia ini yang tidak berguna. Sebagai contoh nyamuk yang kecil diciptakan bukan untuk menggigit manusia tapi untuk menciptakan lapangan pekerjaan. Demikian juga dengan mereka yang diciptakan Tuhan untuk satu alasan. Maka, sebelum kamu menilai orang lain buruk, perhatikan dia baik-naik, dan ingat tentang yang Menciptakannya.

  1. Kita semua diciptakan berbeda.

Manusia diciptakan berbeda-beda. Dari bentuk fisik saja sudah banyak perbedaan, apalagi dari segi nonfisik. Jika manusia punya isi hati dan isi kepala yang sama, maka kita bukan lagi disebut manusia, tetapi robot. Oleh karena itu harus saling menghargai dan menikmati perbedaan tersebut.

  1. Setiap orang memiliki sisik baik dan memiliki sisi yang buruk. Jadi dapat dikatakan bahwa tidak ada orang yang 100 % jahat dan 100 % baik.
  2. Menilai orang lain dengan penilaian yang buruk tidak membuat kita menjadi manusia yang lebih baik. Karena yang dikatakan baik itu baik itu relative dan begitu luas. Dan tolok ukur kebaikan itu sendiri sangat banyak. Jika kita sudah menilai buruk seseorang, maka kita tidak akan bisa melihat sisi kebaikannya.
  3. Jika kita tidak suka bukan berarti mereka salah.

Jangan sampai kita mempunyai sikap tidak suka pada seorang laki-laki yang menyenangi warna pink hanya karena kita senang dengan warna hijau ? Menyenangi warna hijau boleh boleh saja, tetapi jangan sampai kita merasa benar sendiri atas sikap tersebut. Karena warna hijau  belum tentu lebih bagus daripada warna pink, tetapi keduanya sama-sama dibutuhkan agar pelangi dapat tercipta. Jadi intinya tidak harus memaksa orang lain mempunyai penilaian yang sama dengan penilaian kita.

  1. Penampilan bisa saja menipu.

Penampilan luar sangat mungkin tidak mencerminkan apa yang ada di dalamnya. Kita berpikir bahwa kita tahu apa yang terjadi, namun bisa saja kita tidak tahu apa-apa sama sekali.

Kita sering tertipu oleh penampilan luar seseorang. Kita percaya dan beranggapan bahwa seseorang itu baik karena penampilannya yang memikat, atau sebaliknya seseorang tersebut benar-benar baik walaupun penampilan luarnya tidaklah menyenangkan.

Siapa bisa mengetahui isi hati orang ?

Hikmah saja bersembunyi dibalik musibah, apalagi penampilan seseorang. Jelas sekali bisa ditutupi. Penampilan bisa mengelabuhi, tapi buahnya tidak pernah bisa bohong.

 

Ada ungkapan yang berbunyi : “Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka.”

 

Untuk diingat :

Hal yang penting dan harus diketahui bahwa Tuhan tidak menilai penampilan lahiriah kita. Dia melihat ke dalam hati yang memancarkan kondisi sebenarnya. Demikian juga dengan pekerjaan Allah tidak cukup hanya dilihat dan dirasakan secara lahiriah atau yang nampak saja.

-o0o-

Sebuah Humor :

 

“MUKIDIN MENCURI MOTOR MIO MERAH MILIK MIMIN MINTARSIH”

Mukidin diajukan ke Pengadilan karena terbukti membawa lari Sepeda Motor Mio Merah Milik Mimin Mintarsih selingkuhnya.

Inilah kutipan Pembelaan Mukidin di Pengadilan :

“Saya tidak Mencuri Motor Mio Merah Milik Mimin Mintarsih Pak Hakim… Tetapi Gadis itu sendiri yang sudah memberikannya dengan ikhlas kepada saya….,” kata Mukidin dengan suara memelas.

Kemudian Mukidin melanjutkan bicaranya sambil sesekali mengusap air-matanya : “Kami berkenalan, menjadi akrab lalu berjalan-jalan pakai Sepeda Motor Mio Miliknya ke taman yang sepi….kemudian setelah kami parkir, gadis itu berbisik ditelinga saya : “Masss….ambillah milik-ku yang paling berharga sambil dia membuka semua pakaiannya….terus pergi masuk semak-semak,” tambah Mukidin bersemangat.

“Lalu saya kipir-pikir, dari pada ambil Baju, BH, CD dan Celana Jeans….mendingan Sepeda Motor Mionya….lebih berharga kan Pak Hakim..??!!”

Hakim spontan Tertawa terbahak-bahak sambil berkata : “Dasar Siah… Belegug Mukidin….. (Dasar kamu … Bodoh Mukidin….) ….!!!”  Lalu Hakim pun melempar Palunya ke Mukidin : “KAMU BEBAS…..!!!”

 

-o0o-

BANDUNG – INDONESIA, SEPTEMBER – 2017

Cerita : Sartono Kusumaningrat

(Gubahan Ki Ageng Bayu Sepi)

SEBILAH KERIS PUSAKA

APAKAH DALAM MENJALANI HIDUP DARI HARI KE HARI PENUH DENGAN RASA SYUKUR ATAU SELALU MENGERUTU ?

KETIKA MENDAPAT BEBAN DALAM KEHIDUPAN, APAKAH DAPAT MENANGGUNGNYA DENGAN RELA TANPA MENGELUH ?

KETIKA MENGHADAPI JALAN BUNTU, APAKAH MENYERAH ATAU MENGHADAPINYA DENGAN TEGAR ?

SEBUAH KESALAHAN APABILA MENGEJAR SESUATU YANG NGGAK DIMILIKI, NAMUN MENGABAIKAN DAN MELUPAKAN KEBAHAGIAAN YANG SUDAH DIPUNYAI. SEHARUSNYA MERASA PUAS DAN BESYUKUR DENGAN APA YANG SUDAH DIMILIKI, WALAUPUN ITU HANYA HAL KECIL.

 APA YANG KELIHATAN BAIK UNTUK HARI INI BELUM TENTU BAIK UNTUK HARI ESOK.

DEMIKIAN PULA, APA YANG KURANG BAIK UNTUK HARI INI BELUM TENTU KURANG BAIK JUGA UNTUK HARI ESOK.

YANG PASTI…… TUHAN PALING TAHU YANG TERBAIK UNTUK UMATNYA.

enazah Tante Suhartini sudah dimakamkan di tempat Pemakaman Umum Sirnaraga, seperti yang telah pesannya dahulu ketika Tante Suhartini masih hidup yaitu menginginkan jika suatu saat sudah dipanggil menghadap kehadiratNya beliau ingin dimakamkan di samping makam Neneknya Maheswari.  Dan tidak mau dimakamkan disamping makam Oom Wijayanto suaminya walaupun sudah 2 tahun lebih dahulu menghadap Yang Maha Kuasa.

Pada umumnya yang terjadi di lingkungan masyarakat apabila yang namanya suami-istri jika sudah harus menghadap hadiratNya biasanya dimakamkan berdampingan. Tetapi hal yang terjadi agak berbeda karena keinginan Tante Suhartini yang dinilai agak aneh.

“Tidak, mau ah. Kalau aku nanti sudah dipanggil menghadap oleh Yang Maha Kuasa aku pesan, jangan dimakamkan disamping makam Oom mu Wijayanto,” begitu pesan Tante Suhartini ketika masih hidup dan dalam keadaan sakit dan waktu itu sedang disuapi oleh Larashati.

“Mengapa demikian Tante ?” tanya Larashati, keponakan yang paling disayangi Tante Suhartini dan sering tidur menemani Tantenya yang  kesepian daripada tidur dirumahnya sendiri. Kalau siang hari ada Mbak Sulasmini, yaitu seorang tetangga yang mendapat tugas untuk melayani, karena Mas Wicaksana yang juga anak Tante Suhartini tinggal di rumahnya sendiri.

“Iya, sebab Oom kamu itu tidak mencintai Tante,” jawab Tante Suhartini. Larashati hanya tertawa perlahan yang ditahan karena dalam pikirnya tantenya sudah tua begini tapi masih mudah sekali sewot. Padahal Oom Wijayanto suaminya sudah lama meninggal, tetapi Tante Suhartini masih saja menyimpan rasa sakit hati kepada Oom Wijayanto.

“Kamu jangan mentertawakan Laras, ini beneran. Hanya karena Tante tidak bisa memberikan keturunan, maka Oom Wijayantomu itu sama sekali tidak mencintaiku,” kata Tante sambil bersungut-sungut.

Memang sebenarnya Tante Suhartini sendiri tidak memiliki anak. Oleh karena itu Tante Suhartini mengangkat anak dari keponakan, biar adil ya diambil dari kedua belah pihak keluarga. Jadi Wicaksana itu juga anak angkat, keponakan seperti halnya Larashati sendiri. Kalau Larashati adalah anak dari adiknya yang bernama Suhartati sedangkan kalau Wicakcana dari pihak Oom Wijayanto, yaitu anak adiknya yang bernama Wijanarko. Jadi merka memiliki anak sepasang yaitu seorang laki-laki dan seorang perempuan.

“Oom Yanto kan sudah lama meninggal dunia, Tante, kok masih mempermasalahkan hal yang demikian itu,” kata Larashati sambil mengelap mulut Tante Suhartini dengan menggunakan tisu basah,  karena kurang lebih sudah setengah tahun tantenya sakit-sakitan, sebab umurnya kini lebih dari 70 tahun.

Pagi itu Larashati sudah bersiap hendak berangkat mengajar. Sebab menjadi Guru dengan status Tidak Tetap dituntut disiplin yang tinggi, apalagi mengajar di sekolah suasta, kalau tidak rajin bisa-bisa posisinya nanti digantikan oleh GTT  (Guru Tidak Tetap) yang lain.

“Laras….,” suara Suhartati, ibunya dari luar rumah terdengar keras.

“Ya, ada apa Bu….,” jawab Larashati.

“Itu Tante Tini sedang memangil-manggil kamu….”

“Tapi kan sudah ditunggu oleh Mbak Sulasmini, Bu. Sekarang saya akan berangkat mengajar Bu…,” jawab Larashati sembari keluar kamar sambil menjinjng tas, dan matanya melirik kearah jam tangannya, sudah pukul setengah tujuh pagi.

“Ya ditengok dulu sebentarlah, sambil berpamitan,” kata ibunya.

Larashati cepat-cepat pergi ke rumah Tantenya yang berada didepan rumah hanya berseberangan jalan gang.

“Ya Tante Tini. Saya akan berangkat mengajar,” kata Larashati sambil menyodorkan tangan untuk salim.

“Nanti dulu, tunggu sebentar Larashati. Aku hendak menitipkan ini,” kata Tante Suhartini sambil memegang bungkusan kain putih, dan ketika bungkusan itu dibuka isinya adalah sebilah keris yang lengkap dengan serangka atau  sarungnya.

Ketika Larashati melihat kearah benda tersebut tiba-tiba saja bulu kuduknya berdiri. Larashati tahu kalau barang simpanan milik almarhum Oom Wijayanto nya itu banyak sekali, tetapi dia tidak pernah tahu bagaimana saja bentuknya. Dan sekarang ini baru tahu salah satu wujudnya.

“Ini maksudnya bagaimana, Tante ?” tanya Larashati karena memang tidak mengerti apa maksudnya.

“Larashati, aku titip pusaka ini tolong dipelihara. Karena setelah saya amati dan perhatikan hanya kamu yang bisa dan mampu untuk merawatnya. Tolong disimpan ya. Keris ini adalah Pusaka peninggalan Nenek buyut Maheswari yang dahulu diberikan kepada Tante. Dan Keris ini bukan barang peninggalan Oom kamu. Pesanku, pada setiap malam Jumat legi keris ini agar kamu beri tiga macam bunga yaitu bunga cempaka, bunga kenanga dan bunga mawar masing-masing dua kuntum dan simpan saja dalam kain putih bungkusnya.”

Ketika itu yang menjadi perhatian Larashati hanya ingin segera berangkat mengajar, karena khawatir kalau terlambat keadaannya bisa menjadi lebih runyam nantinya. Maka pada pikirnya, “Gampang, nanti setelah pulang mengajar akan saya tanyakan lagi agar lebih jelas.” Karena dia memang tidak mengerti sama sekali tentang bagaimana cara memelihara barang pusaka, dan karena memang dia juga kurang menyenangi terhadap hal-hal yang demikian itu.

Tetapi untuk menyenangkan hati Tante Suhartini ibu angkatnya, maka benda tersebut diterima begitu saja dan kemudian berpamitan untuk berangkat bekerja.

Kira-kira pukul 12 tengah hari, tiba-tiba ada telepon dari rumah yang isinya memberitahukan bahwa Tante Suhartini telah meninggal dunia.

Terkejut hati Larashati mendengar berita itu kemudian segera langsung pulang, dan apa yang menjadi pesan serta keinginan Tante Suhartini ketika masih hidup untuk dimakamkan di Sirnaraga disampaikan kepada anak angkat Tante nya yang datang bersama anak dan istrinya. Oleh karena itu, kemudian Tante Suhartini dimakamkan disamping Nenek Maheswari seperti yang menjadi keinginannya.

Tiba-tiba Larashati teringat dengan keris yang dititipkan Tante Suhartini kepadanya. Kemudian siang itu dengan hati-hati keris tersebut dibuka dan dikeluarkan dari sarungnya. Tiba-tiba hatinya berdesir ketika melihat benda tersebut, tetapi ini adalah sebuah amanat, dan Larashati harus merawat benda itu dengan baik.

Harus disimpan ditempat yang baik, walaupun dia sendiri tidak mengerti apa manfaat untuk kehidupannya. Kemudian Keris tersebut dimasukkan lagi kedalam sarungnya dan dibungkus kembali dengan kain putihnya lalu dimasukkan kedalam lemari dan diletakkan dibawah tumpukan baju.

Baru saja menutup pintu lemari, tiba-tiba pintu kamarnya diketuk dari luar.

“Dik…dik Laras…,” terdengar suara Wicaksana anak angkat Tante Suhartini.

“Oh iya, Mas,” jawab Larashati sambil membuka pintu kamar.

“Aku mau bicara…..,” kata Wicaksana duduk di kursi dekat pintu. Kemudian Larashati menemani duduk di depannya dengan hati dipenuhi tanda tanya karena merasa heran, tumben Wicaksana mencari dirinya.

“Apa ada yang harus saya kerjakan, Mas Wicak ?” tanya Larashati sambil memandang dengan tajam. Karena selama ini Wicaksana tidak begitu mengurus Tante Suhartini ibu angkatnya, malah lebih memilih membayar Mbak Sulasmini untuk merawat ibunya. Tetapi semua keluarga menyadari kalau Wicaksana dan istrinya yang sama-sama pejabat adalah orang sibuk, jadi alasan repot dan sudah lelah karena pekerjaan bisa diterima oleh semuanya. Jadi yang katempuhan adalah Larashati yang harus sibuk merawat Tantenya yang juga ibu angkatnya pada malam harinya.

“Laras, jangan menjadi nggak enak dihati ya, aku ingin tahu, apakah ibu menitipkan sesuatu kepadamu ?” tanya Wicaksana yang mengejutkan hati Larashati.

“Ah. Ini pasti laporan dari Mbak Sulasmini, orang yang menjadi kepercayaan Mas Wicaksana,” pikirnya dalam hati.

“Nggak menitipkan apa-apa, kok Mas,” jawab Larashati.

“Ah yang bener ? Kata Mbak Sulasmini, ibu menitipkan sebilah keris kepadamu ?” tanya Wicaksana sambil memandang tajam dengan mata  melotot. Larashati terkejut, karena mengingat akan amanat Tantenya.

“Masyaallah….betul, Mas. Mohon maaf saya lupa sebab tidak kepikiran tentang hal itu,” jawab Larasahati serta bangkit dari duduknya dan masuk kedalam kamarnya.

Larashati kemudian teringat akan amanat tentang benda tersebut, hatinya menjadi khawatir, karena itu adalah amanat dari Tante Suhartini hanya untuk dirinya. Lalu bagaimana caranya untuk bisa  mempertahankannya kalau benda tersebut diminta oleh Wicaksana ? Oleh karena itu terjadi perang batin didalam hatinya yang menyebabkan Larashati menjadi ragu-ragu ketika hendak keluar dari kamarnya.

“Keris, bagaimana ini ?” katanya dalam hati. “Mas Wicaksana memang mempunyai hak untuk semua barang-barang yang merupakan peninggalan Tante, sebab dia juga adalah anaknya Tante,” celoteh hatinya tentang hal yang tidak bisa dipungkiri.

“Dik…., dik Laras,” tiba-tiba terdengar suara Wicaksana yang agak keras mengejutkan lamunan Larashati.

“Ya, Mas , sebentar…….,” kemudian Larashati keluar kamar dengan membawa keris yang terbungkus kain putih dan lalu diletakkan diatas meja.

“Ini Mas kerisnya, Tante Tini berpesan kepada saya agar saya mau merawatnya, dan pada malam Jumat Legi agar diberikan bunga tiga macam yaitu bunga cempaka, bunga kenanga dan bunga mawar masing-masing dua kuntum yang disimpan dalam bungkusan kain putih. Apakah tidak sebaiknya kalau benda ini disimpan terlebih dahulu disini sambil menunggu nanti sesudah 40 hari meninggalnya Tante Tini baru dibicarakan kembali,” Larashati berupaya agar keris tersebut disimpan dirumahnya dulu.

“Tidak, dik. Sekarang juga akan saya bawa, karena ini merupakan peninggalan ibu, “ jawab Wicaksana sambil mengambil keris tersebut dan berpamitan pulang.

Sepeninggal Wicaksana, Larashati hanya bisa menangis. “Maafkan Laras Tante, Laras tidak bisa mempertahankan amanah…..,” kata Larashati dalam hatinya sambil menangis sesenggukan.

“Sudahlah Laras, Wicaksana adalah anak tertua dan anak laki-laki yang lebih mempunyai hak peninggalan orang tuanya,” kata Ibunya menghibur sambil mendekap kepala Larashati.

Sudah menjadi kebiasaan yang berlaku di masyarakat pada umumnya jika ada rumah yang mengalami dukacita atau ada yang meninggal dunia, biasanya rumah tersebut dipasang lampu supaya terlihat lebih terang kemudian ditempat itu diakan tahlilan atau pengajian, tetapi disini Wicaksana mengikuti kemauannya sendiri.

Keadaan di rumah Tante Suhartini tertutup rapat dan lampu yang dinyalakan hanya lampu yang berada diluar atau diteras saja. Dan semua keluarga tidak yang bisa merobah kemauan tersebut. Kemudian soal pengajian akan dilaksanakan dirumah Wicaksana sendiri. Ya mau dibagaimanakan lagi, karena semua itu memang haknya Wicaksana.

Oleh karena itu Ibu Suhartati mengadakan pengajian sendiri seperti pada umumnya yang dilakukan oleh tetangga kanan dan kiri kalau sedang ada yang meninggal dunia.

Pada malam harinya Larashati sangat gelisah dan tidak bisa segera tidur walaupun pada siang harinya sudah lelah. Ada rasa bersalah yang dirasakan terhadap Tante Tini sebab tidak bisa memenuhi permintaan atau amanatnya untuk merawat kerisnya.

Esoknya, pagi-pagi buta Oom Suharsono, adik ibunya tergopoh-gopoh dan terburu-buru mencari kunci motornya.

“Ada apa Oom Har ?” tanya Larashati.

“Mau ke rumah Wicaksana…..anaknya Wicaksana, keponakanmu seperti anak yang sedang kesurupan…,” jawab Oom Suharsono sambil mengeluarkan sepeda motornya.
“Siapa, Oom ?” tanya Larashati

“Faizal,” sahut Oom Suharsono sambil pergi.

Larashati hanya diam melongo, dalam hatinya berkata : “ Andirizal itu anak bungsu dari Mas Wicaksana, dan kurang lebih baru berumur antara 6 tahunan. Kenapa bisa kesurupan ? Apakah karena Keris itu ?”

Kemudian Larashati cepat-cepat mandi dan segera menyusul ke rumah Wicaksana.

Di rumah Wicaksana nampak penuh berkerumun dengan orang-orang dan Larashati langsung saja masuk ke dalam. Di halaman rumah terlihat Andirizal berguling-guling sambil menangis dan matanya terpejam dengan rapat.

“Ical….!” Larashati memanggil anak kecil tersebut yang tidak mau dipegang oleh siapapun juga.

“Ical, ayo dengan Tante Laras ya…,” suara Larashati halus dan lembut.

Tiba-tiba saja Andirizal berhenti dari menangisnya dan matanya yang tadinya terpejam rapat kini terbuka serta memandang kearah Larashati, lalu berdiri kemudian langsung berlari dan merangkul Larashati.

“Pulang……pulang..….pulang……,” teriak anak kecil itu sambil memejamkan matanya kembali.

“Mas Wicak. Saya minta keris itu untuk dipulangkan kembali, jangan disimpan di rumah sini,” kata Larashati sambil memandang Kakaknya.

“Keris ? Keris apa itu Laras ?” tanya Oom Suharsono sambil memandang  kearah Larashati dan Wicaksana bergantian. Kemudian Larashati menceritakan tentang Keris yang telah diberikan Tante Suhartini itu kepadanya untuk dirawat.

“Wicaksana, apa yang dikatakan Larashati adalah benar. Keris itu harus disimpan kembali oleh Larashati dirumahnya sesuai dengan amanat ibunya, namun sejak terjadinya peristiwa ini akan saya bawa dulu untuk disimpan di rumah asalnya sambil menunggu selesai 40 hari meninggalnya Tante Tini,” begitu penjelasan Oom Suharsono.

Kemudian Suharsono pergi membawa pulang keris tersebut kerumah kakaknya dan menyimpannya kembali didalam lemari dibawah tumpukan pakaian Tante Suhartini.

Pada suatu hari Oom Suharsono mengantarkan Larashati untuk mengambil Keris itu kembali yang selanjutnya agar dirawat. Namun ketika Larashati membuka lemari, tiba-tiba saja kakinya menggigil dan lemas, karena menurut penglihatannya di lemari tersebut terdapat seekor ular dengan dua kepala sebesar lengan lelaki dewasa yang bersisik ke-emas-an sedang melingkar serta menegakkan kepala dan menjulurkan lidahnya seperti seekor naga kecil serta matanya yang merah menyala itu  memandang tajam kearahnya.

Seketika itu juga pandangan mata Larashati menjadi gelap gulita dan untuk selanjutnya tidak ingat apa-apa lagi.

“Laras, Larashati …sadar sayang….,” suara ibunya perlahan. Larashati dengan perlahan-lahan membuka matanya dan ketika memandang berkeliling terlihat olehnya ada ibu Suhartati, Oom Suharsono, Ayah Priambada, hadir pula dari Perkumpulan Bayu Sepi yaitu Mbah Mulyadi dan Teteh Erna Pinastiti yang duduk disampingnya sambil memegang tangannya serta berkata :

“Alhamdulillah….sekarang sudah sadar. Apa yang telah terjadi, dik  Laras ?”

Menurut perasaan Larashati, Keris pemberian Tantenya itu ternyata wujud aslinya adalah seekor ular berkepala dua yang bersisik kuning ke-emas-an sebesar lengan lelaki dewasa yang kekar, pantas saja Tentenya berpesan bunga yang diberikan masing-masing harus dua kuntum. Tetapi hal ini tidak akan diceritakan kepada siapapun, karena khawatir andaikata diceritakan akan membuat orang lain menjadi takut dan tidak bisa membayangklan bagaimana nasib keris tersebut nantinya. Pastinya tidak boleh disimpan lagi dan harus diberikan atau diserahkan kepada orang lain. Dan kalau hal itu terjadi berarti dia tidak bisa menjalankan amanah yang diberikan dan melestarikan benda hasil budaya yang berwujud sebilah keris dan yang lebih parahnya jika dianggap musrik.

Sebenarnya maksudnya hanya sekedar melaksanakan amanah Tante Tini untuk merawat Keris pusaka peninggalan leluhurnya. Andaikata cerita tentang keris tersebut masih mempunyai tuah dan diketahui oleh banyak orang, Larashati merasa khawatir jangan-jangan keris tersebut malahan menjadi bahan perebutan.

“Ini keris peninggalan Mbah Buyut Maheswari, Teh Erna,” jawab Larashati perlahan.

“Nggak apa-apa, boleh saja keris itu disimpan, tetapi yang harus ingat bahwa jangan sampai hal tersebut malah menjadikan musrik. Karena semua kekuatan itu hanya berasal dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Menurut ceritanya pada jaman dahulu orang pembuat pusaka yang berbentuk keris disebut dengan nama empu. Pada saat akan membuat keris sakti dia harus melaksanakan sesuatu yang dinamakan tirakat, yaitu berpuasa dan berdoa,” demikian kata Teh Erna memberikan penjelasannya sambil tersenyum, seakan mengatakan bahwa ia tahu apa yang sebenarnya telah terjadi. Dan sepertinya semua orang yang berada disitupun ikut mendengarkan.

“Iya, teh,” jawab Larashati perlahan.

Namun dalam hati Larashati berjanji hanya akan merawat Keris tersebut untuk melestarikan hasil karya budaya yang tinggi nilainya tetapi menjaga jangan sampai terjerumus menjadi musrik, seperti yang telah dipesankan oleh Teh Erna.

Benda tersebut akan dirawat yang akan disamakan saja seperti hal nya memelihara seekor ayam kate serama yang menjadi kesayangan, atau merawat seekor kucing anggora yang menggemaskan.

Larashati kembali memejamkan matanya.

-o0o-

 

Saudaraku pembaca semuanya yang saya hormati terutama di kalangan sendiri, cerita diatas adalah sebuah reka cerita yang ditulis secara singkat atau pada garis besarnya saja. Hanya semata-mata sebagai bacaan yang mungkin saja bahwa cerita tersebut ada manfaatnya untuk bahan introspeksi diri, yang bisa diambil hal yang positifnya serta ditinggalkan hal yang kurang baiknya dalam menjalani kehidupannya sehari-hari.

Melalui reka ceritera diatas intinya adalah untuk memberikan sebuah gambaran bahwa pada diri setiap manusia, baik itu laki-laki maupun perempuan, baik sudah tua maupun masih muda pada dasarnya pernah melakukan kesalahan. Dan mungkin saja kesalahan tersebut dilakukan karena tidak dimengerti ataupun tidak disadari.

Oleh karena itu cerita tersebut mengingatkan agar para pembaca jangan sampai terjebak dengan melakukan kesalahan yang sama sekali tidak dimengerti atau tidak disadari. 

Sebagai bahan perenungan mari kita lihat perilaku Wicaksana yang serakah karena menginginkan dan mengambil barang titipan hak orang lain dalam kaitannya dengan amanat bagi Larashati untuk merawat Keris Pusaka serta jangan sampai jatuh ke dalam perbuatan yang dapat dikatagorikan sebagai musyrik.

 

PENGERTIAN MENGINGINI MILIK ORANG LAIN.

*) Seperti yang digambarkan pada cerita diatas dengan berpikiran positif bahwa apa yang disampaikan oleh Pembantu yang bernama Mbak Sulasmini sebagai orang yang dipercaya untuk memberikan laporan apa yang terjadi, pastinya sudah disampaikan semua informasi yang diketahui tersebut ke Wicaksana secara lengkap, termasuk barang yang dititipkan secara pribadi dan menjadi hak serta tanggung jawab Larashati untuk merawatnya dengan pertimbangan tertentu dari Tante Suhartini dalam keadaan yang mepet.

Namun Wicaksana tetap akan mengambil barang tersebut, karena merasa menjadi anak yang tertua maka semua peninggalan ibunya dalam penguasaannya. Disini perilaku Wicaksana dengan mengambil keris titipan tersebut dapat dikatakan sebagai menginginkan milik orang lain.

Ketika ada perilaku yang menginginkan milik orang lain, mungkin saja hal tersebut didasari oleh timbulnya rasa iri hati. Kalau rasa iri hati itu timbul, maka cercaan maupun hujatan, atau bahkan mungkin kutukan bisa saja terucapkan.

Harta, rumah, status, pekerjaan, gaji yang tinggi, maupun keluarga, banyak orang yang menganggap hal-hal tersebut sebagai ukuran kesuksesan atau jaminan masa depan. Dinegeri yang kaya atau yang miskin, tampak dengan jelas bahwa banyak orang hanya berminat untuk mengejar keuntungan dan kesuksesan materi.

Dalam keadaan seperti itu biasanya hal-hal yang menyangkut kehidupan rohani tidak akan nampak, mungkin saja dapat dikatakan sedang merosot.

Oleh karena itu dalam kehidupan sehari-hari perilaku yang menginginkan yang bukan miliknya, bisa saja misalnya dilakukan dalam bentuk korupsi, mencuri atau bahkan kalau mungkin membunuh ketika mereka tidak lagi bisa mengendalikan keinginan dirinya untuk menguasai milik orang lain.

Andaikata pernah menonton Film tentang Kisah Nabi Musa baik melalui Televisi maupun di Film Layar Lebar dengan judul “The Ten Commandments” atau “10 Perintah Allah” yaitu Firman Allah yang ditulis dalam dua Loh Batu, dan dalam salah satu Loh nya tertulis Firman Allah yang ke 10 yang berbunyi demikian : “Jangan mengingini rumah sesamamu, jangan mengingini istrinya, atau hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya atau keledainya, atau apapun yang dipunyai sesamamu.”

Maka hal tersebut sudah jelas bahwa sejak awal Allah sudah memberikan peringatan agar jangan berperilaku menginginkan milik orang lain, apapun bentuknya yang bukan menjadi haknya.

Berkaitan dengan hal tersebut diatas jika mengingini milik orang lain yang bukan menjadi haknya adalah merupakan sebuah dosa, walaupun nampaknya “samar” karena tidak begitu kelihatan. Berbeda sekali dengan sebuah dosa seperti hal nya membunuh yang nampak dengan jelas. Namun harus selalu tetap waspada, karena hal tersebut bisa menjadi awal dari sebuah kejatuhan. Sebab jika tidak bisa mengendalikan diri dengan hati-hati, maka orang akan bisa terjerumus dalam berbagai kesalahan atau dosa.

Perilaku menginginkan milik orang lain tidak berbeda jauh dengan serakah.

-o0o-

 

PENGERTIAN SERAKAH

*) Seperti yang telah diceritakan diatas, walaupun semua peninggalan berada dalam pengawasannya sebagai saudara tertua, namun soal barang yang dititipkan secara pribadi dengan pertimbangan tertentu kepada Larashati adiknya, masih juga ingin dikuasai. Dengan demikian perilaku Wicaksana yang ingin menguasai semuanya dapat dikatakan sebagai perilaku orang yang serakah, loba atau tamak.

Serakah

*) Dalam bahasa Arab, serakah disebut tamak yang artinya sikap tak pernah merasa puas dengan yang sudah dicapai. Karena ketidak puasannya itu, segala cara pun bisa ditempuh. Dan serakah itu sendiri adalah merupakan salah satu dari penyakit hati.

Orang yang dihinggapi penyakit hati seperti ini akan selalu menginginkan yang lebih banyak, dengan tidak mempedulikan apakah cara yang ditempuh itu benarkan atau salah. Mungkin juga dia tidak berpikir apakah yang dilakukan itu mengorbankan kepentingan, kehormatan, harga diri orang lain atau tidak. Singkatnya melakukan dengan segala macam cara yang terpenting adalah, apa yang menjadi keinginannya terpenuhi.

*). Hal tersebut bisa saja terjadi yang disebabkan antara lain karena :

– Kurang atau tidak mensyukuri apa yang telah dimiliki.

– Selalu merasa kurang dengan apa yang sudah diperolah. Tanpa mau menyadari bahwa dia telah banyak mendapat nikmat

– Ingin memiliki sesuatu yang dimiliki orang lain.

–  Kurang menghargai pemberian orang lain jika hal itu tidak sesuai dengan apa yang menjadi keinginannya.

– Perbuatan seperti itu bisa saja karena bertendensi pada materi, pujian ataupun penghargaan.

Yang harus diketahui adalah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini seakan-akan hanyalah merupakan sebuah panggung sandiwara, sebuah permainan, untuk bermegah-megah karena banyaknya harta, karena banyaknya penghormatan yang diterima dan sebagainya sehingga dapat membuat lalai.

Hal tersebut bisa membuat lupa bahwa kehidupan itu tidak lama dan dapat diibaratkan bagaikan orang yang singgah untuk minum karena kehausan dan pada waktunya, apa pun yang telah dimiliki itu harus ditinggalkan.

Oleh karena itu sehubungan dengan hal tersebut diatas, orang harus bisa menyadari dan mampu mengendalikan kesadaran diri agar jangan terjebak situasi seperti diatas.

Hal yang paling sederhana untuk dilakukan adalah mensyukuri apa pun yang telah diterima, walau dalam bentuk yang sekecil apapun sebagai modal untuk memuliakan-Nya.

Jangan lupa menjaga kesehatan, karena kesehatan merupakan harta yang paling berharga. Karena dengan kesehatan orang akan mampu untuk mengisi kehidupan nya dengan melakukan sesuatu yang bermanfaat, baik bagi diri sendiri, keluarga maupun untuk orang lain.

Karena Harta adalah BERKAH yang dipercayakan sedangkan Hidup adalah WAKTU yang dipinjamkan………

Dan untuk semua itu, kelak akan dimintai pertanggungjawabannya.

-o0o-o0o-

 

PENGERTIAN BENDA PUSAKA DAN PELESTARIANNYA.

*). Pusaka adalah sebuah istilah yang digunakan untuk menyebutkan suatu benda yang dianggap sakti, keramat, bertuah atau mistis. Biasanya benda-benda yang dianggap keramat disini umumnya adalah benda warisan yang dimiliki secara turun-temurun dan diwariskan oleh nenek moyangnya, baik dilingkungan masyarakat biasa apalagi dalam lingkungan keraton yang lebih banyak jenis dan ragamnya.

*). Meskipun tekonolgi sudah maju dan berkembang, namun kepercayaan akan hal-hal yang mistis atau benda bertuah masih tetap melekat di kehidupan masyarakat tertentu.  Hal tersebut dikarenakan khasiat atau efek dari benda pusaka itu sendiri yang membuatnya masih dipercaya oleh sejumlah orang tertentu. Oleh karena manfaatnya yang luar biasa maka banyak orang sangat bernafsu untuk mencari dan ingin memiliki benda-benda pusaka.

*). Sebuah benda apapun bentuknya, sebenarnya pasti memiliki sebuah “energy spiritual” tertentu. Dan benda tertentu tersebut akan memiliki keterlibatan dengan sejarah hidup seseorang.

Sebagai sebuah contoh, misalnya : Pada saat melihat sebuah cincin kawin, ingatan seseorang bisa langsung melayang pada saat pertama kali melamar istrinya.

Begitu pula pada saat melihat sebilah keris, ingatan seseorang bisa langsung melayang pada bagaimana kehebatan nenek moyang yang seorang empu berjuang mati-matian dengan cipta, rasa, karsa dan karya untuk membuat benda cagar budaya tersebut. Demikian dan seterusnya…

Energy spiritual yang melekat pada benda-benda itu bisa dideteksi dengan mempelajari latar belakang “ada”-nya benda tersebut. Itu lah sebabnya mengapa Tombak Kyai Pleret yang tersimpan di Kraton Yogyakarta dipercaya “sangat bertuah” karena memiliki sejarah yang panjang.

Atau misalnya lagi Keris Kyai Sengkelat, Keris Naga Sasra dan Sabuk Inten, Keris Empu Gandring, Keris Setan Kober, Keris Kolomunyeng , atau yang lain dan seterusnya…

*). Akan tetapi sifatnya jelas subyektif tergantung pada keyakinan dan pengalaman seseorang yang bersinggungan dengan nilai-nilai tersebut.

Sebagai tolok ukur yang eksak misalnya yaitu sudut tinjau ilmu fisika. Bahwa setiap benda memiliki kerapatan atom, energy dan massa tertentu yang berbeda-beda sehingga materi benda bisa diukur dengan alat ukur tertentu. Yang jelas, bila benda sudah diberi muatan nilai akan memiliki nilai subyektivitas tententu.

*). Namun, tidak bisa menutup mata dengan adanya ilmu batiniah atau dengan jalan mengoptimalkan peran batin untuk menerawang benda-benda bertuah ini. Ilmu batiniah adalah sebuah fakta yang ada di masyarakat dan hingga kini masih lestari. Ini adalah Budaya Spiritual Bangsa Indonesia yang tinggi nilainya.

Oleh karena itu seseorang tidak boleh menganggap bahwa budaya asing itu lebih bernilai. Menghargai budaya asing itu memang disarankan, namun akan lebih luhur lagi apabila menghargai juga hasil budaya nenek moyang sendiri.

*). Ada yang berpendapat bahwa yang dikatakan sebagai benda bertuah adalah apabila benda tersebut memiliki energi tertentu. Benda bertuah adalah benda yang sudah diberi energy atau diberi muatan nilai tertentu oleh seseorang. Nilai itu bisa berupa “kesaktian”, “kemanfaatan”, “keberkahan” dan sebagainya.

Benda yang dipercaya “bertuah” banyak wujudnya. Misalnya cincin bermata batu merah delima atau bermata batu akik yang dipakai sebagai jimat, keris dan senjata tradisonal lain yang dipakai sebagai sipat kandel atau piandel (pegangan), juga berbagai jenis bebatuan alami.

Terkait dengan soal bahan alamiah atau bebatuan alami, biasanya mengundung unsur bio elektrik tertentu yang memang bisa dimanfaatkan sebagai alat kesehatan.

Sebuah contoh dalam mendeteksi dengan cara mengoptimalkan peran batin sehingga mampu mengenali hal-hal sebagai berikut, misalnya : tentang hal-hal yang gaib atau mengenai nilai-nilai dari benda tersebut yang hanya dimengerti oleh orang-orang tertentu saja.

Antara lain sebagai berikut :

*). Mengetahui apa yang ada di dalam benda tersebut , bisa cincin, bisa keris dan lain sebagainya.….

*). Bisa merasakan apakah benda tersebut memancarkan energy yang sifatnya terasa…dingin, panas, damai, kisruh, celaka, harapan, kasih sayang…dan sebagainya….

*). Mengetahui bahwa benda tersebut memencarkan sejarah tertentu, karena ia merekam dan menyerap fakta dan riwayat sejarah yang panjang.

*). Untuk mengetahui apakah benda tersebut bisa mendatangkan efek yang bersifat negative yang tidak di sadari.

*). Bisa merasakan apakah di dalam benda tersebut terdapat “sesuatu” dan “sesuatu” yang dimaksud adalah makluk halus atau jin.

Karena makhluk seperti ini bisa mendatangkan perasaan gelisah, anak atau istri tiba-tiba nakal, penghuni keluarga menjadi sakit-sakitan.

Namun disamping itu ada pula yang mendatangkan efek lain, misalnya mudah cari uang, enteng jodoh dan sebagainya.

 

Catatan :

Yang harus di ingat adalah bahwa semua kekuatan yang ada pada benda-benda tersebut karena seijin dan berasal dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Jangan sampai salah, sehingga dalam menghargai benda-benda tersebut malahan melebihi menghargaan kepada Allah itu sendiri, dan hal ini menjadikan manusia Musyrik.

-o-

Harus diakui bahwa pelestarian pusaka rakyat Indonesia termasuk pemahaman penghargaan terhadap kekayaan pusaka seringkali diabaikan oleh banyak orang. Hanya sedikit masyarakat Indonesia yang memiliki kesadaran untuk mengenal, memahami, menghargai serta melestarikan pusaka rakyat Indonesia yang mempunyai nilai tinggi, ini.

Karena Bangsa Indonesia sering diresahkan oleh berita klaim Bangsa Asing terhadap Budaya Bangsa Indonesia yaitu Pusaka Budaya hasil cipta, rasa, karsa dan karya mencakup pusaka berwujud dan pusaka tidak berwujud. Oleh karena itu berbagai upaya pendataan dilakukan baik oleh pemerintah maupun organisasi pelestarian lainnya.

Dan masyarakat pun diharapkan bisa melibatkan diri secara aktif untuk melakukan pelestarian pusaka rakyat Indonesia yang di mulai dengan pemahaman tentang pusaka yang berada di lingkungan masyarakat.

-o-

 

PENGERTIAN SYRIK DAN MUSYRIK

Banyak orang menganggap bahwa pengertian Syrik dan Musyrik adalah sama, namun yang sebenarnya adalah berbeda.

Diperoleh penjelasan bahwa pengertian Syrik adalah suatu perbuatan yang menyekutukan Allah atau bisa juga diartikan dengan mempercayai/menyembah/meminta selain kepada Allah swt.

Sedangkan Musyrik adalah orang yang melakukan Syrik. Dalam ajaran Islam sesuai Al-Qur’an dan Hadits dikatakan bahwa Syrik adalah merupakan dosa yang paling besar.

 

MUSYRIK

Dijelaskan pula bahwa Musyrik adalah orang yang mempersekutukan Allah dengan apa pun. Jadi pengertian secara umum dalam kehidupan sehari-hari dikatakan bahwa orang musyrik, yaitu mereka yang disamping menyembah kepada Allah swt, juga menghambakan dirinya kepada yang lain-lain selain Allah baik dilakukan secara sadar maupun  dengan tidak disadari yang artinya bahwa apa yang dilakukan itu dikatakan sebagai mempersekutukan Allah.

Sedangkan yang dikatakan dengan mempersekutukan Allah itu bisa saja dilakukan dalam bentuk Kepercayaan, Ucapan maupun dalam bentuk Perbuatan.

Dalam bentuk Kepercayaan : misalnya ada yang meyakini bahwa dengan memakai cincin merah delima maka pemakainya dapat terhindar dari bahaya.

Dalam bentuk Ucapan : misalnya saja ketika membacakan suatu surat atau ayat tertentu seseorang itu bisa menyembuhkan orang sakit, maka untuk selanjutnya seseorang tadi sangat meyakini bahwa untuk menyembuhkan orang sakit dengan membacakan ayat atau surat tersebut. Jadi seseorang itu sangat mengandalkan ayatnya bukan kepada Pemilik Ayat tersebut atau Allah swt.

Dalam bentuk Perbuatan : misalnya sebagai seseorang yang beriman selalu menjalankan sariat agamanya dengan baik, tetapi dalam pelaksanaan kehidupannya sering juga meminta-minta dan mendatangi ke tempat-tempat yang dianggap keramat atau dikeramatkan.

 

SYRIK

Syrik sendiri berasal dari  kata syarikah atau persekutuan. Syrik adalah akhlak atau perilaku yang menyembah atau menyekutukan atau tunduk , taat secara sadar maupun tidak sadar dengan sukarela kepada sesuatu selain Allah dan ini merupakan dosa yang paling besar.

Contoh-contoh Syrik antara lain :

  1. Menyembah sesuatu selain Allah.

Menyembah benda-benda, patung, batu, pohon, kubur atau bahkan memuja kepada  binatang dan lain-lainnya. Mereka percaya bahwa benda atau maklhuk tersebut adalah sesuatu yang dapat mendatangkan kebaikan dan keburukan.

  1. Mempertuhankan Manusia

Mempertuhankan manusia atau mengagungkan dan meninggikan derajat manusia, baik dia sebagai pemuka agama, ulama, pendeta, para auliya, para solehin dan sebagainya serta menempatkan pada kedudukan yang bukan sepatutnya, kecuali Allah swt.

Namun pada prakteknya dalam kehidupan sehari-hari terkadang sulit untuk menentukan dengan apa yang telah dilakukan, apakah si A itu tergolong musryik, karena apa yang tampak dan kelihatan dalam pandangan mata lahir manusia belum tentu kebenarannya.

Kalau jaman dahulu untuk membedakan antara orang beriman dan orang musyrik sangat mudah dan jelas karena dapat dilihat dari perilakukanya atau apa yang dilakukannya, tetapi untuk masa sekarang sulit, karena yang dilakukan tidak nampak dengan jelas atau sangat tipis dan serba samar.

Contoh-contoh yang tidak mudah untuk dibedakan :

*) Misalnya saja ada seseorang yang sedang duduk diam dan termenung, mungkin ada orang lain yang melihat dan mengatakan bahwa dia itu sedang melamun karena memang itu yang tampak oleh mata lahir manusia. Tetapi hal itu belum tentu benar karena mungkin saja bahwa dia sedang berdoa dalam hati, instropeksi diri atau sedang berdialog atau menyampaikan sesuatu kepada penciptanya dalam hati.

*) Ada yang mengenakan cincin dengan batu alam sebagai hiasannya, sementara ada orang yang senang atau menyukai karena segi artistiknya atau keindahannya namun ada pula yang memang mengandalkan tuah dari batu tersebut. Sepintas tidak terlihat niatan seperti itu dan hanya bisa dibedakan bila melihat perilakunya.

*) Dalam melakukan ziarah, ada yang niatnya mendoakan dan mengenang perbuatan baik pada masa hidupnya serta ingin mengikuti teladan yang baik itu sementara ada juga yang ziarah untuk meminta berkah. Padahal hanya Allah Swt. yang bisa memberi berkah, bukan dari orang yang sudah mati, siapapun dia. Niatan seperti ini pun tidak terlihat karena di lakukan dalam hatinya.

*) Dalam melakukan dzikir, ada yang melakukan dengan pikiran serta hatinya hanya ingin dan mau mendekatkan diri serta mengharap pengampunan dari pencipta-Nya, sementara itu ada pula yang melakukan dzikir hanya untuk memperoleh kekuatan. Niatan seperti ini sulit dibedakan karena tidak terlihat oleh pandangan mata lahir.

Begitu pula sebaliknya, bila ada seseorang seperti dalam cerita diatas dimana Larashati yang merawat sebilahg keris, mungkin saja orang akan dengan mudah akan mengatakan musyrik atau menyembah berhala dan sebagainya, karena demikian itu yang memang nampak dalam pandangan mata lahir manusia.

Padahal bisa juga yang terjadi bahwa Larashati mempunyai niat hanya ingin melaksanakan amanat untuk merawat keris tersebut atau hanya mau melestarikan hasil budaya saja.

Jadi jelasnya andaikata bisa menyadari, maka akan sangat sulit untuk menjatuhkan tuduhan seperti yang dilakukan oleh Larashati itu sebagai menyembah berhala atau bukan, karena pandangan mata seringkali salah.

Oleh karena itu jangan mudah memuji, karena hanya Allah yang patut dipuji atau jangan mudah menuduh karena tidak tahu persis hal yang sebenarnya. Kalau apa yang dilakukan itu dipandang memang baik bisa kita tiru atau ikuti tetapi kalau tidak baik tidak usah diperhatikan dan tinggalkan.

Kalau ada orang yang dengan gampang menjatuhkan sebuah tuduhan itu karena sudah berpikiran negative atau sebelumnya sudah didasari oleh rasa yang kurang senang dan pemikiran yang kurang baik kepada yang bersangkutan sehingga hasilnya pun seringkali akan salah.

-o-

Sebuah anekdot sebagai sebuah contoh, bahwa terkadang pemikiran manusia itu sudah memutuskan terlebih dahulu atau mengkira-kira walau pun belum jelas permasalahannya dan lebih sering menjurus kearah yang bernada negatif, tetapi ternyata bahwa hal itu adalah salah :

Begitu keluar dari sebuah Apotik, Kardun langsung menemui Mukidin.

Mukidin : “Kardun kamu beli obat apaan sih ? Kok lama-lama amat.”
Kardun : “Bukan karena obatnya yang susah dicari, Mukidin.”
Mukidin : “Lalu karena apanya ?”
Kardun : “Karena pelayannya.”
Mukidin : “Hah, memang kenapa dengan pelayannya ?”
Kardun : “Pelayannya, nggak pakai BH, Din.”
Mukidin : “Wushh..Gilee, kenapa kamu nggak kasih tahu saya. Kan saya bisa ikutan masuk kedalam. Ngomong-ngomong kamu kenal dengan dia dan siapa nama pelayan yang nggak pakai BH itu, Dun  ?
Kardun : “Namanya, Asep Nugraha….., Din.”
Mukidin : “Busyeeeeet….. aku kira..!!”

 

-o-

Demikian pula perilaku seseorang yang mengagungkan tokoh idolanya tanpa terasa taat yang berlebihan tanpa menggunakan pemikiran lagi, seperti pengertian diatas orang seperti itu pun bisa dikatakan musyirik, tetapi apabila diperingatkan dia akan membantah dan melawan dengan menggunakan berbagai macam alasan.

Begitu pula hal nya dengan diri kita sendiri karena perilaku yang seperti itu terkadang sangat tidak terasa dan sulit disadari, sekan-akan semuanya sudah menggunakan pertimbangan akal dan pemikiran yang benar.

Oleh karena itu berdasarkan uraian atau keterangan diatas, yang terpenting adalah bagaimana kita bisa menjaga diri kita masing-masing agar jangan sampai terjebak dalam situasi atau perilaku yang dapat dikatagorikan sebagai musryik serta jangan pula memperhatikan atau mengurusi orang lain.

Sebuah Nasehat yang bijaksana :

“Jangan Mengawasi Orang Lain, Jangan Mengintai Geraknya, Jangan Membuka Aib nya, Jangan Menyelidikinya.

Sibuklah dengan Diri Kalian sendiri, Perbaiki Aib dan Salah mu,

Karena Kelak Kau Akan di Tanya (Allah) tentang Dirimu Sendiri, Bukan tentang Orang Lain.

(Sayyidina Ali bin Abu Tholib R.A.)

BANDUNG – INDONESIA, AGUSTUS – 2017

Cerita :  Ary Nurdiana

(Gubahan Ki Ageng Bayu Sepi)

SEBUAH PILIHAN

KEBAHAGIAAN ITU ADALAH PILIHAN DAN BUKAN MERUPAKAN SEBUAH PEMBERIAN, JIKA INGIN BAHAGIA TANYALAH HATI SENDIRI. TIDAK ADA SEORANGPUN YANG DAPAT MEMBUAT SESEORANG MENJADI BAHAGIA, SELAIN DIRINYA SENDIRI. OLEH KARENA ITU SALAHKAN DIRI SENDIRI JIKA TIDAK BAHAGIA, KARENA BUKAN ORANG LAIN YANG MEMBUATNYA MENDERITA. Read more »

KESEMPURNAAN

YANG TERBAIK, DAN BERBUAT BAIK SAAT INI, ESOK HARI DAN SETERUSNYA. DAN TIDAK USAH BERANGAN-ANGAN UNTUK MENJADI SEORANG YANG SEMPURNA. CUKUP MENSYUKURI ANUGERAH ALLAH YANG TELAH DIBERIKAN KEPADA KITA SERTA MEMPERGUNAKAN SEBAIK-BAIKNYA TANPA MELANGGAR ATURAN-ATURAN YANG TELAH DITETAPKAN.

JIKA SUATU SAAT TERNYATA BERBUAT SALAH MAKA SEGERALAH BERTAUBAT DAN BERJANJI TIDAK AKAN MENGULANGI KESALAHAN TERSEBUT. Read more »

GARA-GARA TJING-TJING

DIKATAKAN BAHWA SEBAIK-BAIKNYA MANUSIA JIKA MANUSIA ITU MEMPUNYAI MANFAAT BAGI MANUSIA YANG LAIN ATAU MENJADI BERKAT BAGI MANUSIA YANG LAIN. MISALNYA SAJA DENGAN MEMBANTU ORANG LAIN, NAMUN ANDAI KATA TIDAK BISA MEMBANTU SETIDAKNYA JANGAN MENYAKITINYA.

TIDAK ADA YANG SALAH JIKA KITA SEBAGAI MANUSIA MERASA PEDULI PADA MANUSIA YANG LAIN, TETAPI YANG SALAH ANDAI KATA MENGHARAPKAN ORANG LAIN JUGA MELAKUKAN HAL YANG SAMA KEPADA KITA.

KITA BISA BELAJAR DARI JAM DINDING, DILIHAT ORANG ATAU PUN TIDAK, IA TETAP BERDENTING. DIHARGAI ORANG ATAU PUN TIDAK IA TETAP BERPUTAR. WALAU TAK SEORANG PUN MENGUCAPKAN TERIMA KASIH IA TETAP BEKERJA, SETIAP JAM, SETIAP MENIT, BAHKAN SETIAP DETIK

OLEH KARENA ITU TERUSLAH BERBUAT BAIK KEPADA SESAMA, MESKIPUN PERBUATAN BAIK KITA ITU TIDAK DINILAI.

Read more »

HARIMAU PUTIH

DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI DI MASYARAKAT BISA DIJUMPAI ADA ORANG BODOH YANG INGIN DIANGGAP PINTAR, KEMUDIAN DIA BERKOAR-KOAR SEAKAN SUDAH TAHU SECARA KESELURUHAN TENTANG ISI SESUATU PERMASALAHAN PADAHAL DIA BARU TAHU KULITNYA SAJA.

ATAU BISA JUGA DIJUMPAI ADA SEORANG YANG LUPA PADA KEADAAN DIRINYA SENDIRI YANG SELALU MENCARI KELEMAHAN ATAU KEKURANGAN ORANG LAIN TETAPI TIDAK PERNAH MELIHAT KELEMAHAN ATAU KEKURANGAN PADA DIRINYA SENDIRI DAN KEMUDIAN MERASA DIRINYA PALING SEMPURNA.

HARUS JUGA DIKETAHUI BAHWA YANG HIDUP DI BUMI INI DISAMPING MANUSIA, HEWAN DAN LAIN-LAIN  YANG KASAT MATA TERDAPAT JUGA MAKHLUK LAIN YANG HIDUP BERDAMPINGAN DI BUMI YANG SAMA NAMUN KEBERADAANNYA TIDAK BISA DIJANGKAU OLEH PANCA INDERA MANUSIA.

Read more »

FIRASAT

firasatFIRASAT ADALAH SUATU KEMAMPUAN DARI DALAM DIRI SESEORANG UNTUK MERASAKAN ATAU MEMBACA TANDA-TANDA TENTANG APA YANG AKAN TERJADI.

BOLEH PERCAYA BOALEH JUGA TIDAK, BAHWA SEBENARNYA SETIAP ORANG MEMILIKI KEPEKAAN TERHADAP SESUATU HAL YANG SEDANG ATAU AKAN TERJADI, NAMUN DALAM KADAR KEMAMPUAN YANG TIDAK SAMA BESAR.

PERLU JUGA DIKETAHUI, SEBUAH FIRASAT BIASANYA DAPAT DIRASAKAN OLEH DIRINYA SENDIRI, BAHKAN JUGA TERHADAP KELUARGA, TEMAN ATAU SIAPAPUN YANG MEMILIKI KEDEKATAN ATAU HUBUNGAN BATIN.

Read more »

TAKTIK

februari 2017DALAM MENJALANI HIDUP SEHARI-HARI BERMASYARAKAT ADA TIGA HAL YANG HARUS DI KENDALIKAN  YAITU KESELARASAN ANTARA PIKIRAN, PERKATAAN DAN PERBUATAN.

MATA TERINDAH ADALAH MATA YANG SELALU MELIHAT KEBAIKAN ORANG LAIN, MULUT TERINDAH ADALAH MULUT YANG SELALU BELAJAR BERKATA-KATA DENGAN BAIK DAN HATI TERINDAH ADALAH HATI YANG SELALU BERPRASANGKA BAIK TERHADAP ORANG LAIN.

KITA TIDAK BISA MENGUBAH HATI ORANG LAIN UNTUK BERBAIK SANGKA KEPADA KITA

NAMUN ……………………………

KITA BISA MELATIH DIRI UNTUK BERBAIK SANGKA KEPADA ORANG LAIN.

Read more »

BANGKIT DARI KESALAHAN

bangkitKESEMPATAN UNTUK MEMPERBAIKI DIRI AKAN SELALU DATANG DENGAN CARA-CARA YANG TIDAK PERNAH KITA DUGA SEBELUMNYA, KARENA BISA SAJA DENGAN MELALUI SEBUAH PRESTASI, KEMENANGAN, KEBERHASILAN, ATAU BAHKAN BISA JUGA DENGAN MELALUI SEBUAH PERMASALAHAN, KEMARAHAN, KEKALAHAN, KEGAGALAN MAUPUN KESEDIHAN.

KESADARAN DIRI MELAHIRKAN KEMAUAN UNTUK BERUBAH, DAN SANGAT MEMPENGARUHI KEMAMPUAN UNTUK BELAJAR DAN KEMANTAPAN DALAM BERGERAK MELAKUKAN PERUBAHAN.

Read more »