MENENTUKAN SIKAP UNTUK MENGAMBIL KEPUTUSAN

novemberTIDAK SETIAP ORANG MEMPUNYAI PENDIRIAN YANG TETAP, WALAUPUN DIBIBIR BERKATA IYA TETAPI PADA SAAT DIHADAPKAN PADA SUATU HAL YANG BERSEBERANGAN DENGAN KEINGINANNYA MUNGKIN SAJA ORANG ITU AKAN MENGINGKARI APA YANG PERNAH DIUCAPKANNYA.

LEBIH BAIK JANGAN MEMBUAT JANJI SEKIRANYA TIDAK BISA MEMENUHINYA ATAU PERKATAAN LAIN BAHWA SEBELUM BERJANJI DIPIKIRKAN TERLEBIH DAHULU KARENA JANJI ITU ADALAH HUTANG.

DALAM MENGHADAPI PERMASALAHAN TIDAK CUKUP DENGAN HANYA MENGELUH SAJA KARENA TIDAK AKAN MENYELESAIKAN PERSOALAN. TETAPI HARUS BERANI MENENTUKAN SIKAP DAN MENGAMBIL KEPUTUSAN SERTA MENGHADAPI RESIKONYA.

SEBAB ALLAH TIDAK AKAN MERUBAH KONDISI DAN NASIB SESEO RANG, JIKA ORANG TERSEBUT TIDAK BERUSAHA UNTUK MENGUBAH NASIBNYA SENDIRI.

u Wiletter-bdiyatni yang tinggal di sebelah timur rumah Wicaksana kurang lebih berjarak 50 meter, sebuah rumah yang sederhana tetapi sangat menawan. Bukan dikarenakan Wicaksana punya rasa suka kepadanya, namun sebagai seorang lelaki perasaannya berkata kalau Bu Widiyatni mempunyai kelebihan apabila dibandingkan dengan perempuan lain. Seakan ada magnet atau daya tarik tersendiri yang menyelimuti seluruh badannya sehingga mampu manarik perhatian setiap hati lelaki.
Sebenarnya Bu Widiyatni sudah termasuk orang yang berumur, karena memang umurnya memang sudah mencapai lebih dari setengah abad. Akan tetapi semakin lama auranya malah semakin nampak bersinar. Dia hanya memiliki seorang anak dan sudah hidup mandiri karena menjadi dokter dan tinggal di Kota Besar.u Widiyatni yang tinggal di sebelah timur rumah Wicaksana kurang lebih berjarak 50 meter, sebuah rumah yang sederhana tetapi sangat menawan. Bukan dikarenakan Wicaksana punya rasa suka kepadanya, namun sebagai seorang lelaki perasaannya berkata kalau Bu Widiyatni mempunyai kelebihan apabila dibandingkan dengan perempuan lain. Seakan ada magnet atau daya tarik tersendiri yang menyelimuti seluruh badannya sehingga mampu manarik perhatian setiap hati lelaki.

Endang Sutoyo teman olahraga atau kelompok ronda Wicaksana yang pendiam pernah pula berbisik-bisik dan katanya : ”Wicak, apakah Bu Widiyatni itu orang yang memakai susuk ? Karena sudah berumur sedemikian tetapi kok kelihatannya masih…….,” Endang Sutoyo tidak meneruskan perkataannnya, tetapi kelihatannya Wicaksana sendiri sudah bisa menangkap apa yang dimaksudkan.

“Wah, kalau mengenai hal itu saya tidak tahu Pak Endang. Tetapi mungkin akan lebih baik kalau tidak usah berprasangka yang bukan-bukan karena belum tentu hal tersebut benar. Atau setidaknya prasangka itu malah akan bisa menjadi bahan persengketaan. Karena sepengertianku yang biasa menggunakan susuk itu adalah orang yang berprofesi sebagai sinden atau ronggeng.  Tetapi Bu Widiyatni kan bukan seorang sinden atau ronggeng, dia adalah seorang karyawan Bank Perkreditan Rakyat. Tetapi mengenai apa yang saya sampaikan ini bukan berarti saya membela Bu Widiyatni lho, Pak Endang ?” jawab Wicaksana ringan. Namun kelihatannya Pak Endang merasa tidak sependapat dengan apa yang telah dikemukakan oleh Wicaksana.

Bu Widiyatni, adalah seorang perempuan yang sederhana akan tetapi mempunyai daya tarik yang luar biasa dan semula adalah istri dari Pak Sukmahaji almarhum, seorang Pejabat di Pemerintah Daerah. Mereka hanya mempunyai keturunan seorang anak lelaki, dan sayangnya bahwa rumah tangga yang penuh dengan kebahagiaan ini tidak berumur panjang. Karena pada umur 49 tahun Bu Widiyatni sudah harus menjadi seorang janda. Sebab Pak Sukmahaji dipanggil oleh Tuhan Yang Maha Kuasa dengan cara yang mendadak yaitu melalui perantaraan sakit jantung.

Ditinggalkan suami untuk selamanya, aura Bu Widiyatni bukannya meredup akan tetapi malahan semakin tambah bersinar. Belum juga genap seribu hari Pak Sukmahaji meninggal, janda setengah umur yang beranak satu itu sudah dilirik oleh sekian banyak mata lelaki, salah satu diantaranya adalah Bagaskara.

Bagaskara sendiri adalah seorang jejaka yang terlambat berumah tangga atau dapat dikatakan masih jomblo, tetapi dia adalah seorang wirasuastawan. Penghasilannya mungkin dapat dikatakan tidak kalah apabila dibandingkan dengan seorang Pegawai Pemerintah golongan III, namun orangnya pendiam, lugu, kalem, banyak sopan santun, tetapi rajin dan ulet dalam bekerja.

Setelah berhasil mengadakan “pendekatan” dengan Bu Widiyatni, ingin rasanya Bagaskaraa sesegera mungkin mengungkapkan unek-unek atau isi hatinya dengan niat yang tulus dan tidak dengan maksud yang kurang baik. Karena Bagaskara sendiri ingin cepat-cepat bisa menikahi Bu Widiyatni, sebab menurut pehitungannya kalau hal tersebut ditunda-tunda jangan-jangan malah akan kedahuluan oleh orang lain.

“Bagaimana Bu ?  Bu Widiyatni bersedia kan ?” kata Bagaskara, lelaki yang sangat lugu itu setelah berhadapan dengan Bu Widiyatni. Dan dia merasa agak rikuh atau kikuk, harus bagaimana menyusun bahasa untuk menyampaikan maksudnya ketika berhadapan dengan orang yang lebih tua dengan menggunakan bahasa sehari-hari.

“Begini dik Bagas, bukan berarti aku menolak keinginanmu, akan tetapi aku sendiri sebenarnya masih belum siap, salah satunya adalah karena Pak Sukmahaji meninggal dunia baru juga setahun lebih, dan menurut adat istiadat yang berlaku kok rasanya kurang tepat. Maka aku sarankan lebih baik kalau niat baikmu itu ditunda terlebih dahulu, dan waktu yang ada dipergunakan untuk menimbang dengan teliti serta berpikir ulang. Apalagi disini kan masih banyak gadis muda yang cantik, mengapa engkau memilih aku Widiyatni yang sudah berumur setengah abad,” jawab Bu Widiyatni banyak-banyak dengan mempergunakan bahasa sehari-hari layaknya seperti sedang menasehati seorang anak kecil.

Matanya pun memandang tajam kearah Bagaskara, dan yang dipandang atau ditatap itu hanya diam membisu serta hanya bisa menundukkan kepalanya. Jelas sekali terlihat jika kalau Bagaskara memang kalah mental. Dia hanya mampu menarik napas panjang.

“Wah… kalau harus menunggu sampai selesai 1000 harinya, nanti aku akan keburu tua,” hanya begitu desahnya dalam hati namun tidak terucapkan.

Semua makanan dan minuman yang sudah disajikan diatas di meja tidak disentuhnya sedikitpun juga, karena nafsu makannya mendadak hilang sama sekali. Meskipun makanan tersebut enak namun di lidahnya mungkin saat itu akan terasa sangat hambar, dan siang itu sepulang dari rumah Bu Widiyatni hati Bagaskara menjadi hampa. Niat yang tulus dan sudah dirancang dengan baik-baik tidak membuahkan hasil. Akhirnya Bagaskara memutuskan untuk mundur dan gagal meraih cita-cita untuk berumah tangga, atau hidup bersama yang merupakan pasangan keluarga dengan Bu Widiyatni.

-o0o-

Sama seperti halnya dengan Bagaskara, ada seorang lelaki muda yang bernama Bramantya yang juga merupakan teman Wicaksana, diam-diam hatinya pun jatuh cinta pada Bu Widiyatni. Hanya saja Bramantya yang umurnya lebih tua duatahun dibandingkan dengan Bagaskara ini, mempunyai perhitungan yang jauh lebih matang. Dia tidak terlalu terburu-buru namun memiliki strategi yang terarah. Biar lambat asal terlaksana begitulah niat dalam hatinya, meskipun keinginan di sudut lain dihatinya juga sudah tidak bisa sabar dan ingin cepat-cepat segera menyampaikan keinginannya kepada Bu Widiyatni.

Dan untungnya dia masih bisa bersabar untuk mempertahankan serta mengikuti tata aturan dan kebiasaan yang berlaku, yaitu tidak baik kalau janda belum lengkap 1000 hari ditinggalkan mati oleh suaminya diajak segera menikah.

“Ah tidak tahulah, Mas Wicak. Aku betul-betul merasa sudah jatuh hati kepada Bu Widiyatni. Padahal sebelumnya pernah pula aku dicarikan seorang calon istri, yang masih terhitung saudara dari teman sepekerjaanku dan kira-kira umurnya sepantaran atau sebaya denganku. Tetapi begitu dipertemukan, aku sedikitpun merasa tidak tertarik kepadanya,” kata Bramantya pada suatu malam ketika sedang main ke rumah Wicaksana.

Adapun maksud yang sebenarnya adalah bahwa Bramandya ingin meminta saran, nasehat serta pendapat dari Wicaksana.

“Begini lho Brama, modal dari orang yang akan berumah tangga itu kan perasaan hati. Kalau kedua perasaan hati tersebut sudah menyatu dan saling cocok antara satu dengan yang lainnya, mau apa lagi,” kata Wicaksana yang lalu dilanjutkannya lagi. “Akan tetapi meskipun demikian alangkah baiknya kalau kamu juga harus mempertimbangkannya dengan lebih mendalam, jangan hanya mengikuti kemauan hati. Apa lagi kalau itu hanya untuk memenuhi keinginan nafsu belaka. Dan satu lagi, mestinya kamu juga harus siap melupakan kalau Bu Widiyatni itu sudah….,” kata Wicaksana dengan tidak menyelasaikan ucapannya. Namun tentunya Bramantya sendiri juga sudah mengerti kearah mana yang dimaksudkan.

“Sudah berumur setengah abad, begitu kan yang kau maksudkan ? Mas Wicak, aku sudah tidak memikirkan akan hal itu lagi. Dan aku bukan lagi seorang anak yang masih muda. Jadi semuanya itu sudah kupikir dan kupertimbangkan dengan masak-masak,” jawab Bramantya sambil menghirup kopi buatan Pinastiti istri Wicaksana yang disuguhkan.

“Kalau memang sudah dipertimbangkan ya baguslah itu. Mudah-mudahan tidak akan menjadikan sebuah penyesalan nanti dikelak kemudian hari. Karena penyelasan yang datangnya di belakang sudah tidak ada artinya lagi,” sahut Wicaksana.

“Aku hanya meminta doa dan restumu, Mas,” kata Bramantya sambil melirik jam tangannya yang kemudian berpamitan pulang. Telapak tangan kanan Wicaksana digenggamnya erat-erat dan pundak Bramantya pun ditepuk-tepuk dengan tangan kiri Wicaksana sambil berkata perlahan : “Semoga Tuhan Yang Maka Maha Kuasa mengabulkan keingianmu.”

-o0o-

 

Pada tahun berikutnya di suatu sore, ada seorang tamu lelaki yang mengetuk pintu rumah Wicaksana sambil mengucapkan salam serta membawa Surat Undangan.

“Asalamualaikum…..,” ucap salamnya.

“Wa alaikum salam, silakan masuk,” terdengar jawaban dari dalam rumah.

“Terima kasih, sudah cukup disini saja. Permisi Pak, saya diminta Mas Bramantya menyampaikan Surat Undangan untuk Pak Wicaksana,” kata lelaki tersebut.

Kemudian Surat Undangan tersebut diterima Wicaksana, lalu dibuka dan terus bacanya. “Tidak salah perkiraanku, dari Bramantya yang akan melangsungkan pernikahan dengan Bu Widiyatni. Akad nikah dilaksanakan pada hari Sabtu dengan resepsi sederhana yang akan diselenggarakan pada hari Minggunya dan menggunakan tempat di Balai Pertemuan atau Aula Kelurahan,” kata Wicaksana perlahan.

Bramantya terlaksana cita-citanya, dan berhasil menyunting janda yang sudah setengah umur untuk menjadi istrinya. Untuk beberapa waktu jika diperhatikan dari kejauhan rumah tangga Bramantya terlihat penuh dengan kebahagiaan. Mereka sering bepergian bersama, baik dengan berjalan kaki ataupun mengendarai motor dan kelihatan sangat mesra. Tidak banyak orang yang menyangka kalau pasangan suami istri tersebut mempunyai perbedaan umur yang cukup jauh. Bramantya berumur 35 tahun, sedangkan istrinya Widiyatni berumur 52 tahun. Walaupun Bramantya berpenghasilan cukup, namun Bu Widiyatni juga tidak mau tinggal di rumah, duduk diam dan berpangku tangan. Tetapi tetap bekerja di BPR Permata, tempatnya bekerja selama ini.

Keadaan ekomoni rumah tangga keluarga Bramantya semakin bertambah mapan, selesai penikahan mereka terus pindah rumah, karena sudah membeli rumah baru di Komplek Perumahan Avenue di Rancakihiang Rancaekek. Sebuah rumah dengan type cooldesak yang tidak terlalu besar namun mempunyai terletak dilahan yang luas dan strategis yaitu berada di sudut jalan perumahan atau hook dan terlihat sangat asri, lengkap dengan hiasan taman dan perabotannya pun lengkap, belum lagi tentang baju maupun perhiasannya.

Tetapi memang sudah menjadi sifat umum manusia kalau tidak bisa mengendalikan diri… yang namanya keinginan itu tidak pernah ada batasnya. Sudah memiliki ini dan sudah mempunyai itu masih tetap merasa kurang. Tetapi hubungannya dengan keluarga ini yang menjadi kekurangan bukan kekurangan dalam hal barang-barang atau benda mati untuk melengkapi perabotan rumah, akan tetapi kekurangan dalam hal yang mengenai “ barang “ hidup, yaitu kehadiran seorang anak dari hasil pernikahan mereka.

“Mas, saya dahulu kan sudah berkata dengan berterus terang dan tidak ada yang saya tutup-tutupi, bahwa aku sudah tua dan umurku pun lebih dari 50 tahun. Bahkan juga sudah kukatakan sekalian bahwa saya sudah tidak menstruasi,” kata Bu Widiyatni dengan tegas ketika kedua orang tersebut bersitegang dalam hal membicarakan soal anak. “Tetapi apa jawabanmu ketika itu, Mas ? Engkau berkata : “Aku berjanji tidak akan pernah menuntut hal itu, kalau memang Tuhan memberi ya, saya syukuri, kalaupun tidak juga tetap akan saya syukuri.”  Disini aku tidak akan menyalahkan siapa-siapa tentang hal yang telah lalu hanya sekedar mengingatkan saja, kalau memang ingin memiliki anak, kita bisa memungut anak. Apakah ke Yayasan Yatim Piatu atau mengambil anak dari saudara sendiri. Ingatkan Mas…., apa yang telah kita bicarakan waktu itu ?” lanjut Bu Widiyatni.

“Sudah…sudah, aku tidak ingin hal yang sudah lama itu dibahas lagi, dan tidak usah diungkit-ungkit lagi. Dulu ya dulu, sekarang ya sekarang,” jawaban Bramantya singkat dan nadanya pun tidak enak untuk didengar sambil pergi meninggalkan Bu Widiyatni seorang diri.

Ada sebuah pepatah yang mengatakan : “Tiada gading yang tak retak.” Demikian pula dengan keadaan rumah tangga Bramantya yang berulang-ulang membicarakan tentang persoalan memiliki anak yang mampu membuat retak kebahagiaan rumah tangganya.

Seperti sebuah perumpamaan yang berbunyi : “Gelas itu jika pecah tidak bisa disambung lagi.” Begitu juga kelanjutan rumah tangga Bramantya seperti sebuah gelas yang sudah terlanjur pecah dan tidak bisa disambung lagi.

Bramantya yang semula adalah termasuk seorang lelaki perumahan, tidak suka keluyuran atau kelayapan, menjadi berbalik 180 derajat. Sekarang senang kelayapan pada malam hari dan berkumpul dengan teman-teman yang tidak jelas atau nggak puguh perilakunya. Pulang ke rumah waktu subuh, dari mulutnya tercium bahu alkohol.  Sudah terjadi perubahan pada pola hidupnya, dahulu tidak kenal dengan yang namanya air gila, tetapi sekarang sudah menjadi sangat akrab. Dapat dikatakan tiada hari tanpa minuman keras dalam kehidupannya.

Bu Widiyatni walaupun sebagai seorang perempuan, tetapi bukanlah seorang perempuan yang lemah, apalagi dikatakan cengeng, yang hanya bisa menangis dalam menghadapi kemelut rumahtangganya yang sudah seperti kapal pecah dan hanya tinggal menunggu tenggelamnya saja dan tidak mungkin untuk bisa diperbaiki lagi karena tuntutan yang tidak akan bisa dipenuhi.

Sebab dia merasa sebagai manusia biasa seperti yang lain dan bukan  seperti Sarah ibu dari Ishak yang istri Nabi Ibrahim atau pun Elisabet ibu dari Yohanes Baptis (Yahya) yang juga istri Zakharia yang mendapatkan karunia dari Allah bisa mengandung dan melahirkan anak pada usia lanjut bahkan sudah tidak lagi menstruasi. Oleh karena itu kemudian dengan berani mengambil sikap yang tegas lalu diputuskannya untuk meminta cerai sedangkan harta benda rumah tangga sebagai harta gono-gini dibagi dua.

Kini Bu Widiyatni menjadi janda lagi untuk yang kedua kalinya, tetapi walaupun demikian tidak pernah menjadikan dirinya berkecil hati. Dia merasa lebih senang dan tenteram hidup sendiri serta kembali menempati rumah lamanya di Rancaekek Kencana Jalan Bakung 21 yang terletak sebelah timur rumah Wicaksana.

-o0o-

 

Saudaraku pembaca yang saya hormati utamanya untuk di kalangan sendiri, gubahan cerita diatas hanya merupakan sebuah contoh kejadian saja dari sekian banyak masalah kehidupan yang terjadi, melalui reka ceritera tentang MENENTUKAN SIKAP untuk MENGAMBIL KEPUTUSAN  merupakan suatu peristiwa yang dapat kita ambil hikmahnya sebagai pesan moral dan bahan perenungan dalam menjalani kehidupan kita sehari-hari bermasyarakat.

Dilihat dari sisi Bramantya.

Tidak setiap orang mempunyai pendirian yang tetap seperti halnya Bramantya sendiri, walaupun di bibir mereka mengatakan punya pendirian tetapi pada kenyataannya apabila dihadapkan pada suatu hal yang membingungkan karena berseberangan dengan keinginannya, belum tentu orang tersebut tetap bertahan pada pendiriannya bahkan mungkin akan mengingkari apa yang pernah diucapkan atau dijanjikannya.

Oleh karena itu yang harus disadari betapa pentingnya arti sebuah pendirian, sebab seseorang bisa mengalami suatu akibat ketika dia tidak memilikinya. Bagaimanapun juga sebuah pendirian itu harus dimilki oleh seseorang, karena berdasarkan pengamatan, pengalaman hidup tiap orang yang berbeda-beda, maka akan lahir pendirian yang berbeda-beda pula.

Seringkali didengar ada sebuah pepatah yang mengatakan bahwa :  “Janji adalah hutang atau dengan perkataan yang berbeda bahwa ketika sedang membuat janji dengan seseorang maka sedapat mungkin harus bisa menepatinya.”

Jika seseorang sering mengingkari janji, dia telah membuat dirinya tidak dipercayai oleh orang lain.  Oleh karena itu jangan sampai membuat orang lain menyempatkan waktu hanya untuk menunggu, sementara yang ditunggu dengan mudah mengingkarinya begitu saja tanpa alasan maupun pemberitahuan.

Dalam kehidupan sehari-hari untuk membangun sebuah kepercayaan diperlukan usaha yang keras dan semangat yang tinggi, akan tetapi jika orang tersebut setiap kali melanggar janjinya maka berarti orang tersebut telah memberi retakan pada kepercayaan yang telah diperjuangkannya.

Seseorang dapat dikatakan mempunyai sifat yang terpuji atau mempunyai akhlak yang terpuji pada saat dia menepati janji yang telah dibuatnya, bukan pada saat dia mengucapkan sekian banyak janji. Namun ada orang yang juga dikatakan terpuji meskipun tidak bisa memenuhi janjinya, tetapi setelah mereka berusaha dengan semaksimal mungkin.

Hidup yang dikelilingi oleh orang-orang  yang tidak biasa menepati janji bukan merupakan satu alasan untuk ikut menjadi orang yang suka melanggar janji.

Akan lebih baik berusaha untuk tidak membuat janji daripada berusaha mencari-cari alasan atas janji yang tidak dipenuhi dengan perkataan lain sebaiknya sebelum berjanji harus di pikirkan terlebih dahulu, apakah sanggup untuk menepatinya atau tidak, sekali lagi karena janji itu itu adalah hutang.

Janji itu mudah diucapkan, namun terkadang sulit untuk dilakukan. Oleh karena itu barang siapa yang berjanji harus berusaha untuk menepatinya. Yang harus diketahui bahwa manusia tidak bisa memastikan bahwa sebuah janji itu akan bisa terwujud, karena dia hanya mampu berusaha untuk mewujudkan janji tersebut sebab hanya Allah yang menentukan semuanya.

 

Dilihat dari sisi Widiyatni

Widiyatni berani mengambil sikap yang tegas, dan sikap itu sendiri dapat juga diartikan sebagai pikiran dan perasaan yang mendorong seseorang bertingkah laku menyukai atau tidak menyukai, mendekati atau menjauhi  sesuatu peristiwa.

Kebetulan contoh cerita diatas adalah sebuah kemelut dalam Rumah Tangga, tetapi dalam kehidupan sehari-hari perjalanan dan pengalaman hidup biasanya akan bisa merubah pola pikir seseorang. Selain mendengarkan pengalaman dan motivasi dari orang lain, hal yang posistif tanpa di sadari akan terbentuk dalam diri sendiri.

Ketidak nyamanan yang dirasakan ketika hidup berumah tangga di saat merasa diperlakukan tidak baik, adalah merupakan suatu hal yang wajar apabila rasa hati ini menjadi berontak.

Mungkin saja ada orang lain yang bisa menerima, tetapi ada juga yang tidak bisa menerima sikap seperti itu setelah sejauh mana bisa bertahan dengan keadaan yang ada maka akhirnya mengambil keputusan untuk mengajukan perceraian karena kemungkinannya rumah tangga yang sedang dijalaninya sudah tidak bisa diperbaiki lagi.

Semua keputusan ada pada diri pribadinya masing-masing, apakah akan tetap bertahan dengan konsekuensi menerima semua keadan yang ada, termasuk hal-hal yang tidak menyenangkan, atau mungkin merugikan bahkan menyakitkan hati atau memilih untuk berani mengambil sikap. Jadi kuncinya adalah keberanian dalam hal menentukan dan mengambil sikap.

Banyak orang yang hanya sering mengeluh dengan  perlakuan yang tidak baik seperti itu.

Tetapi yang menjadi pertanyaan, apakah kondisi tersebut akan berubah jika hanya dengan mengeluh ? Tentu saja tidak ! Yang terjadi justru hanya akan membuat depresi dan merasa tertekan serta akan menyakiti diri sendiri.

Sebenarnya setiap orang tahu apa yang di inginkan dan apa yang di butuhkan dan tahu apa yang terbaik untuk dirinya sendiri. Meskipun sudah tidak merasa nyaman dengan kondisi yang ada tapi tidak ada keberanian atau tidak pernah berani untuk menentukan sikap dan mengambil keputusan serta menghadapi resikonya. Karena banyak keraguan, ketakutan dalam hal menghadapi resiko tersebut.

Oleh karena itu berusaha mencoba untuk yakin dengan diri dan kemampuan sendiri. Dan yang terutama yakinlah pada pertolongan Allah, karena Allah tidak akan merubah kondisi dan nasib hamba-Nya, jika dia tidak berusaha mengubah nasibnya sendiri.

Jadi inti sebenarnya yang dibutuhkan untuk keluar dari kondisi yang sudah tidak nyaman ini adalah merenungkan baik-baik kondisi yang ada, bertanya pada hati kecil lalu mempertimbangkan baik dan buruknya. Jika kita merasa sudah berusaha melakukan yang terbaik, namun apa yang yang kita dapatkan tidak sebanding dengan apa yang telah kita lakukan, mungkin inilah waktunya untuk menentukan sikap, kemudian mengambilah keputusan dan berani menghadapi resiko.

Satu hal yang harus di ingat disini, harga diri cukup berharga untuk diperjuangkan. Jangan pernah mau dan membiarkan orang lain meremehkan bahkan merendahkan harga diri yang dipunyai. Berpikir dengan tepat, memiliki keyakinan dan keberanian, maka apa yang tidak mungkin bisa menjadi mungkin.

-o0o-

Sebuah pendapat yang mengatakan : “Semua orang berpikir mengubah dunia, tapi tidak ada yang berpikir untuk mengubah dirinya sendiri,” Leo Tolstoy (1828-1910) Sastrawan Rusia.

-o-

 

Namun jangan seperti anekdot di bawah ini :

Mukidin yang asli orang Rancaekek, pergi berlibur ke Jakarta, dia berkeliling Jakarta dengan naik Bus Metromini.

Tetapi dengan diam-diam dia mengamati segala sesuatu yang terjadi di dalam bus Metromini tersebut, termasuk tingkah laku kernet atau kenek dan para penumpang bus tersebut.

 

Tidak lama kemudian si kernet bilang : “Dirman…. Dirman…Dirman….” (sebuah tanda bahwa bus telah sampai di Jalan Sidirman)

Lalu seorang penumpang laki-laki berteriak :  “Kiri….!”  Dan turunlah penumpang tersebut.

 

Selang berapa lama kernet berteriak lagi : “Kartini….Kartini…Kartini…”

Seorang perempuan muda nyeletuk : “Kiri…!” Lalu perempuan tersebut pun turun.

 

Beberapa lama kemudian kernet itu pun berteriak lagi : “Wahidin…Wahidin..Wahidin…”

Lalu ada seorang laki-laki yang bilang : “Kiri…!” dan turunlah laki-laki tersebut.

 

Tak lama berselang si kernet berteriak lagi : “Gatot Subroto…! Gatot Subrotoooo….!”

Seorang pemuda ganteng dan berkumis tebal menjawab : “Kiri….! Maka turunlah si kumis tebal itu.

 

Akhirnya…..

Tinggallah Mukidin seorang diri berada dalam bus itu. Dalam hati dia ngedumel tetapi lama-lama menjadi jengkel juga dia…. Lalu dicoleklah si kernet, dengan nada marah Mukidin bilang dalam bahasa Sunda yang medok : “Tong kitu anjeun ka saya nya… Salah naon ari saya… Titatadi kabeh nengaran panumpang ku anjeun diparanggil. Tapi nahaa..ari ngaran saya teu dipanggil…! Lamun kitu carana…iraha saya arek turunnya…??!”

 

(Terjemahan bebas : “Jangan begitu anda pada saya….Kesalahan saya apa… Sejak tadi nama para penumpang anda panggil satu-persatu. Tetapi mengapa … nama saya tidak anda panggil…! Kalau demikian caranya… kapan giliran saya akan turun dari bus ini…??”)

 

Untungnya si kernet mengerti dan tanggap. Kemudian kernet tersebut bertanya : “Siapa nama Bapak…?”

“Ngaran saya Mukidin… (Nama saya Mukidin),” jawabnya pendek.

 

Lalu si kernet langsung berteriak : “Mukidin….Mukidin…Mukidin….!!!”

Mukidin pun lega hatinya dan berkata : “Naaah…begitu…Dong….! Kiri….!”

 

Maka turunlah Mukidin di jalan tol….

 

Bagi yang menemukan Mukidin….harap menghubungi keluarganya di Rancaekek Kencana jalan Bakung 21 dekat rumah Asep Ucing dan Teh Erna.

 

Ha…ha…..ha…ha…

BANDUNG–INDONESIA, SEPTEMBER – 2016

Cerita :  FX. Subroto

(Gubahan Ki Ageng Bayu Sepi)

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *