MASIH TETAP SAMA SEPERTI DAHULU

       CINTA BISseperti-dahuluA HADIR KARENA ADANYA PERKENALAN, DAPAT BERSEMI KARENA ADANYA  PERHATIAN DAN BERTAHAN KARENA ADANYA KESETIAAN DAN PENGURBANAN.

JIKA SESUATU ITU SUDAH DITAKDIRKAN UNTUK SESEORANG, MAKA SAMPAI KAPANPUN  DIA TIDAK AKAN PERNAH MENJADI MILIK ORANG LAIN.”

DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI BANYAK ORANG YANG TIDAK MENGHARGAI ARTI PENGURBANAN DAN BARU MENYESAL SETELAH KEHILANGAN ORANG YANG DICINTAINYA.

letter-taman yang penuh dengan kenangan dalam hidup itu terletak ditengah kota. Sebenarnya taman tersebut tidaklah terlalu luas, namun pada setiap harinya selalu ramai karena menjadi salah satu tempat tujuan masyarakat untuk berekreasi. Seperti halnya seperti pada sore hari itu, sebagaimana biasanya taman tersebut ramai dikunjungi oleh warga masyarakat.

Untuk yang sudah berumur duduk-dudk di bangku taman, yang remaja berjalan-jalan di berkeliling taman sambil bergandengan tangan dengan pasangannya sedangkan anak-anak berlari-larian atau berkejar-kejaran.aman yang penuh dengan kenangan dalam hidup itu terletak ditengah kota. Sebenarnya taman tersebut tidaklah terlalu luas, namun pada setiap harinya selalu ramai karena menjadi salah satu tempat tujuan masyarakat untuk berekreasi. Seperti halnya seperti pada sore hari itu, sebagaimana biasanya taman tersebut ramai dikunjungi oleh warga masyarakat.

Tidak jauh di seberang taman terdapat sebuah penginapan, dan dari sana nampak seorang lelaki tua berjalan perlahan-lahan menuju kearah tengah rimbunan tumbuhan hias yang sangat indah dan menawan untuk dipandang mata. Dan bunyi benturan ujung tongkat yang mengenai trotoir memecahkan keheningan suasana sore itu. Kemudian dia memilih duduk disebuah bangku di pojok utara dan matanya memandang kearah bunga-bunga flamboyant yang sedang mekar.

“Masih tetap sama, seperti dahulu,” gumannya perlahan.

Angin sore bertiup dan menerpa dedaunan yang membawa semerbak harumnya bahu bunga-bungaan. Kemudian lelaki tua tersebut membetulkan sweater yang dipakainya dan punggungnya disandarkan pada palang bangku, sedangkan pandangan matanya tidak terlepas dari pucuk-pucuk flamboyant sedangkan angan-angannya melayang jauh.

“Permisi, apakah boleh dan tidak berkeberatan kiranya jika saya ikut duduk di sebelah anda ?”

Lelaki tua itu kemudian mengengok kearah dari mana datangnya suara tersebut dan nampak olehnya bahwa ada seorang perempuan yang kira-kira berumur sebaya dengannya dan mengenakan kain berlatar hitam serta berkebaya berwarna hijau tua telah berdiri disebelahnya.

“Oh..ya, mari silakan,” jawab lelaki tua tersebut sambil menggeser duduknya.

“Terima kasih,” jawabnya singkat tetapi sopan, yang kemudian duduk pula di bangku yang sama disebelah lelaki tua tersebut.

Sampai beberapa saat keadaan menjadi hening, kedua-duanya hanya berdiam diri seperti terbawa oleh angan-angannya masing-masing.

“Sebuah sore yang sangat indah,” kata lelaki tersebut mencoba untuk membuka percakapan.

“Betul sekali. Tumben sore ini udaranya tidak begitu panas. Biasanya jika masuki bulan-bulan seperti saat ini udara terasa sangat panas sekali. Walaupun ada angin yang bertiup, tetapi tidak bisa meredamnya dan masih tetap terasa panas,” sahut perempuan tadi memberikan penjelasan.

“Apakah disini sudah pernah turun hujan ?” kembali lelaki tua itu bertanya.

“Seharusnya saat ini sudah memasuki musim penghujan namun hingga pertengahan bulan belum juga ada setetespun air hujan yang jatuh langit. Apakah anda bukan warga masyarakat kota ini ?”

“Sebenarnya aku sendiri asli berasal dari daerah sini, akan tetapi sudah kurang lebih antara lima puluh tahun yang lalu aku pindah dan meninggalkan kota ini,” demikian lelaki tua itu memberi penjelasan.

“Oh, waktu yang sangat lama sekali,” perempuan itu berkata dengan lirih.

“Semenjak aku meninggalkan kota ini, akan tetapi keadaan taman ini masih tetap seperti dahulu. Baik mengenai tata letak, susunan bangku-bangkunya, maupun ayunan serta step stone yang membelah rerumputan tidak banyak yang berubah. Pepohonan pun juga masih seperti dulu, utamanya pohon flamboyant yang berada dipinggir taman itu. Hanya saja sekarang sudah semakin besar,” lelaki tua itu bercerita.

“Anda dahulu juga sering kemari ?” tanya perempuan itu sekan ingin tahu.

“Benar sekali. Bahkan setiap bunga flamboyant itu mekar, hampir setiap sore aku datang kemari dan duduk di bangku ini. Waktu itu umurku kira-kira kurang lebih baru duapuluh satu tahun.”

Mendengar apa yang dikatakan oleh lelaki tua itu, lalu perempuan tua itu  menunduk, diam dan tidak berkata sepatah katapun sedangkan tangannya sibuk memelintir-melintir ujung baju kebaya dengan jari-jari tangannya, yang kemudian dilepas lalu dipelintir lagi, begitu dan seterusnya. Keadaan kembali menjadi hening dan sepi.

“Apakah dahulu engkau juga sering kemari ?” kembali lelaki itu membuka percakapan untuk memecah kesunyian.

Mendapat pertanyaan yang seakan mendadak dari lelaki tersebut maka perempuan itu terkejut dan gelagapan namun segera menjawab : “Sering. Hampir setiap sore aku kesini.”

“Dengan pacarmu ?” tanya lelaki tua itu lagi.

“Aku tidak punya pacar. Hanya saja setiap aku kemari ada seorang pemuda yang selalu setia menemaniku hingga senja hari.”

“Hmm…., kejadiannya sama persis denganku kalau demikian. Aku dahulu juga sering bertemu dengan seorang gadis di taman ini.”

“Anaknya pasti cantik ya, buktinya hingga sekarang anda betah duduk berlama-lama di sini,” kata perempuan itu untuk memancing agar lebih banyak lagi perkataan yang keluar dari lelaki tua tersebut.

“Ah biasa saja, bahkan dapat dikatakan bahwa anaknya sederhana. Tetapi aku merasa senang jika ditemani olehnya, karena setiap obrolan tentang segala macam masalah selalu nyambung, apalagi kalau diajak humor, itu yang menyebabkan aku selalu teringat dan merasa senang dihati, misalnya :

TENTANG MENYANYI

Mukidin, anak Sekolah Dasar yang sedang ulangan menyanyi di depan kelas, dan berdiri di dekat meja bu guru…

Karena merasa nggak pandai menyanyi, maka dengan malu-malu Mukidin terpaksa menyanyi dengan suara yang sangat kecil dan perlahan…..…

Mukidin : “Cicak cicak di dinding…..”

Ibu Guru : “Gedein dikit !”

Mukidin : “Tokek tokek di dinding…”

Ibu Guru : Gedein dikit lagi !”

Mukidin : “Buaya buaya di dinding…”

Ibu Guru :”… Mukiiiiidddiiiiinnnn…..!!!!  Yang digedein itu suaranya, bukan hewannya…!!!” Memangnya ada,  buaya kelayapan di dinding.

Sambil tertawa lirih karena merasa lucu anak perempuan itu dengan perlahan memukulkan telapak tangannya kepundakku.

DISEBUAH KELAS

Pak Guru di kelas : “Erna, kamu maju ke depan. Sekarang coba tuliskan teks yang ada di pita dalam genggaman burung Garuda !”

Erna : “Ya siap Pak…”

Kemudian Erna maju dan menuliskan  “BINEKA TUNGGAL IKA” dipapan tulis. Pak guru menggeleng-gelengkan kepalanya dan merasa prihatin melihat apa yang dituliskan Erna itu salah. Karena yang di tulis adalah kata “BINEKA” yang seharusnya adalah  “BHINEKA”

Spontan Pak Guru Tanya : “Kenapa nggak pakai BH, Erna ?”

Sambil malu-malu Erna menjawab : “Masih di jemur, pak….!”

-o-

Kembali, sambil tertawa perlahan dan berkata : “Ih…..” anak perempuan itu mencubit kecil lengan tanganku, walaupun terasa sakit tetapi hatiku amat senang.

Oleh karena itu pada setiap sore hari aku sengaja untuk selalu datang kesini hanya agar bisa bertemu dengannya,” lanjut lelaki tua tersebut.

“Kalau begitu Anda pasti naksir ya, dengan anak perempuan tadi ?”

“Aku akui sebenarnya memang menaksir dan cinta padanya, akan tetapi sayangnya hal itu tidak pernah sampai terucapkan,” demikian pengakuan lelaki tua itu.

“Apakah dia juga jatuh cinta kepada anda ?” tanya perempuan itu ingin tahu.

“Itu lah yang sampai sekarang aku sendiri juga tidak mengerti.”

“Mengapa waktu itu tidak langsung saja menyatakan rasa cinta itu kepadanya ?” tanya perempuan tersebut mengejar.

“Aku takut menghadapi kenyataan. Aku takut jika pernyataan cintaku ditolak yang bisa menyebabkan luka dalam hati.”

Sambil tersenyum perempuan itu lalu berkata : “Kemudian bagaimana kelanjutan hubungan anda dengan anak peremuan tadi ?”

“Pada suatu saat dia tidak datang ke taman ini hingga beberapa hari, rasa hati ini sangat merindukan kehadirannya. Oleh karena sudah tidak tahan menahan rasa rindu ini, aku mencoba mencari rumahnya. Karena dia pernah memberikan alamatnya.”

“Lantas bagaimana kelanjutannya, apakah anda juga berhasil menemukan rumah anak perempuan tersebut ?”

“Benar sekali, aku berhasil menemukan rumahnya. Akan tetapi hal itu membuat aku menjadi sangat terkejut.”

“Mengapa terkejut, apakah rumah anak perempuan itu hanya berupa sebuah gubuk yang kecil atau rumahnya merupakan sebuah tempat tinggal yang sangat mewah ?”

“Bukan masalah itu yang menyebabkan aku menjadi terkejut. Akan tetapi pada saat itu di rumah anak perempuan tadi bertepatan dengan didirikannya sebuah tenda dengan hiasan janur kuning yang melengkung.”

“Lalu siapa yang menjadi pengantin ?”

“Secara jujur aku sendiri juga tidak tahu, tetapi aku memperkirakan bahwa yang akan menjadi pengantin adalah anak perempuan tersebut.”

“Mengapa anda mempunyai prasangka yang seperti itu ?” tanya perempuan tua itu ingin tahu.

“Sebab pada hari-hari berikutnya dia juga sudah tidak datang lagi ke taman ini,” lelaki tua itu memberi alasan.

“Mungkin saja bahwa dia sedang menghadapi sebuah permasalahan yang lain ?”

“Mungkin saja yang terjadi adalah demikian. Akan tetapi saat itu aku merasa yakin bahwa dialah yang sudah menikah dan kemudian diajak suaminya pindah ke kota lain, sehingga tidak pernah lagi pergi ke taman ini,” lelaki tua itu memberikan pendapatnya.

“Kemudian setelah anda merasa ditinggal oleh anak perempuan itu, apakah anda juga masih sering datang dan duduk-duduk di taman ini ?”

“Sudah tidak pernah lagi. Karena kebetulan aku diterima bekerja dan di tempatkan kota lain, jadi  kemudian aku pindah tempat tinggal.”

“Jadi anda sudah tidak mengharap untuk bisa berjumpa lagi dengan anak perempuan itu ?”

“Sejak saat itu, habis sudah pengharapanku.”

“Lalu mengapa pada sore hari ini anda kemari lagi ?”

“Sebetulnya kepergianku ke kota ini hanya perlu untuk berziarah ke makam bapak dan ibu. Akan tetapi begitu pulang dari makam dan melewati taman ini, aku melihat pohon flamboyan itu sedang berbunga. Kemudian aku teringat akan masa-masa yang telah lalu dan ingin memandang bunga-bunga itu seperti dahulu. Barangkali saja kesempatan kali ini hanya untuk yang terakhir kalinya,” katanya perlahan.

“Apakah anda sudah tidak ingin bertemu lagi dengan anak perempuan yang dahulu selalu menemani anda ?”

“Keinginan itu sudah aku kuburkan dalam-dalam, karena hal itu sudah tidak ada gunanya sama sekali baik untuk aku sendiri maupun untuknya.”

“Apakah rasa cinta anda kepada anak peremuan itu sudah hilang sama sekali ?”

Lelaki tua tersebut berdiam diri sejenak dan tidak segera menjawab. Pandangan matanya melihat kearah yang sangat jauh seakan tidak bertepi, tetapi tidak lama kemudian dia pun berkata : “Sebenarnya rasa cintaku kepadanya tidak pernah punah, walaupun aku mengerti bahwa hal itu adalah mustahil untuk bisa hidup bersama, bahkan aku sudah pernah mencoba mencintai perempuan lain, akan tetapi tetap saja tidak bisa melupakan anak perempuan yang dengan setia menemaniku di taman ini.”

“Apakah sampai sekarang anda belum menikah.”

“Belum,” suaranya.

Lalu perempuan itu bangkit berdiri dan kemudian tangannya di sodorkan mengajak berjabat tangan dan berkata : “Aku Sitoresmi. Ya akulah gadis yang setiap sore menemani anda duduk-duduk di taman ini lima puluh tahun yang telah lalu.”

Lelaki tua tersebut terkejut dan berkata : “Jadi anda Sitoresmi yang dahulu itu ? Ya Allah…ya Tuhan….” Hanya itu yang bisa dia ucapkan.

“Benar Mas Bagas. Aku adalah Sitoresmimu yang dahulu. Ketahuilah Mas, hingga saat ini aku juga belum menikah. Ketika dahulu anda tahu ada tenda di rumahku itu, sebanarnya yang menjadi pengantin bukanlah aku melainkan kakak perempuanku.”

“Ohh…, kalau begitu perkiraanku salah ?”

“Sangat salah, dan masih pakai sekali Mas. Menjadi orang kok tidak mempunyai perasaan, ditunggu sekian lama tidak ada kabar beritanya sama sekali.”

“Maafkanlah aku dik, tetapi aku ingin bertanya. Apakah ketika itu engkau juga mencintaiku ? Aku berani bertanya tentang hal ini sekarang karena aku sudah tua seperti ini, sebab andaikata ditolakpun , hatiku sudah tidak akan terluka lagi.”

“Ya, sekarang coba Mas Bagaskara pikir sendiri saja. Menunggumu selama lima puluh tahun ini tanpa mengisi hati dengan orang lain apakah itu masih tidak jelas atau penantian ini dianggap masih kurang lama ? Oleh karena itu Mas Bagas, menjadi lelaki itu ya harus berani sedikit jangan terlalu pemalu dan rendah diri.”

Tiba-tiba tumbuh keberanianku untuk membuat sebuah humor tentang :

ERNA KURNIASIH dan NENEK AHYAR

Erna Kurniasih baru pindah ke rumah barunya diJl. Bakung 21 Rancaekek Kencana, kemudian ia datang berkunjung ke rumah tetangga sebelahnya yang dihuni oleh seorang nenek yang bernama Neneh Ahyar.

Erna ; “Nenek Ahyar, kenalkan saya adalah tetangga baru nenek, nama saya Erna Kurniasih.”

Nenek Ahyar : “Oh, silahkan duduk…silahkan duduk.”

Saat sedang merngobrol, di meja tersedia 1 tiples kacang mede.

Erna : “Wah nek, boleh saya cicipi kacang mede nya ?”

Nenek Ahyar : “Oh…iya…iya…boleh….boleh…boleh…silakan nak…”

Saking asyik mengobrol dan enak-nya memakan kacang mede tersebut, tanpa terasa sampai habis satu toples.

Erna : “Wah….maaf kan saya nek, kacang medenya sampai habis nih….”

Nenek Ahyar : “Oh, nggap apa-apa nak, nenek juga nggak bisa makan, gigi nenek sudah tidak kuat gigit lagi….syukur deh sekarang habis soalnya sudah lama nenek kumpulin.”

Erna : “Oooohhhh…bikin sendiri ya nek…..?”

Nenek Ahyar : “Ya enggak lah….itu kan dari coklat Silver Queen…yang nenek emut-emut sampai bersih.”

Erna : “Hoooooeeekk…………….”

Masih sama seperti dahulu sambil tersenyum karena merasa lucu anak perempuan yang kini sudah menjadi nenek Sitoresmi itu dengan perlahan memukulkan telapak tangannya kepundakku.

HADIAH  ULANG  TAHUN

Nenek Ahyar pergi ke toko kue, dan memesan kue Ulang Tahun 2 (dua) susun untuk hadiah ulang tahun suaminya.

Teh Erna Penjual Kue : “Nek, tulisan pada kuenya apa ?”

Nenek Ahyar : “Oh..begini, dihafal saja ya mbak  ‘SELAMAT ULANG TAHUN SAYANG, KAMU MEMANG BERTAMBAH TUA’  itu untuk kue dibagian   atas ya mbak.

Dan  ‘SEMOGA SELALU SEHAT, KUAT DAN PANJANG UMUR’  di bagian bawahnya. Ngerti kan, mbak ?”

The Erna Penjual Kue : “Iya, baik Nek….”

Sore harinya, kue pesanan tersebut diantar ke rumah tepat pada acara ulang tahun dan dibuka oleh Kakek, lalu tulisan yang tercantum di kue itu dibaca keras-keras di hadapan anak-anak dan cucunya :

“SELAMAT ULANG  TAHUN SAYANG, KAMU MEMANG BERTAMBAH TUA DI BAGIAN ATAS, SEMOGA SELALU SEHAT, KUAT DAN PANJANG UMUR DI BAGIAN BAWAHNYA.”

Nenek Ahyar  : “Teh Erna keterlaluaaaannnnn  !!!

Masih tetap sama seperti dahulu, Sitoresmi tertawa perlahan sambil berkata : “Ih……,”  kembali mencubit kecil lengan tanganku, walaupun terasa sakit tetapi hatiku amat senang seperti lima puluh tahun yang telah lalu.

-o-

Sinar lembayung yang memancarkan cahaya di langit ufuk barat dan nampak mulai tenggelam yang menyebabkan bunga-bunga flamboyant semakin terlihat sangat menarik.

 “Aku pulang dulu ya, Mas Bagas, takut nanti tidak kebagian angkutan kendaraan umum,” kata Sitoresmi berpamitan.

“Besok sore apakah dik Sitoresmi mau ke taman ini lagi ?” tanya Bagaskara si lelaki tua itu dengan sangat berharap.

“Oke, asal Mas Bagas mau menemani saja,” jawab Sitoresmi dengan tersenyum yang kemudian pergi berlalu.

-o0o-

 

Untuk saudaraku para pembaca diutamakan untuk lingkungan sendiri, gubahan cerita diatas hanya merupakan sekedar contoh kejadian saja dari sekian banyak masalah kehidupan yang terjadi, melalui reka cerita dengan judul MASIH TETAP SAMA SEPERTI DAHULU merupakan suatu peristiwa yang didalamnya memuat hikmah tentang Cinta, Kesetiaan dan Pengurbanan sebagai pesan moral dan bahan perenungan dalam menjalani kehidupan kita sehari-hari bermasyarakat.

  Cinta

Menyimak cerita diatas bahwa cinta bisa hadir karena adanya perkenalan, dapat bersemi karena adanya perhatian dan bertahan karena adanya kesetiaan dan pengurbanan.

Membicarakan tentang cinta memang tidak akan pernah ada habisnya, apalagi kalau hal tersebut sudah dibumbui dengan indahnya kata kesetiaan, mungkin ini akan lebih sulit untuk menjelaskannya.

Cinta adalah kata yang amat singkat dan sangat sederhana, namun memiliki berjuta makna.  Cinta memang penuh misteri dan susah untuk diuraikan, bisa dirasakan tetapi tidak bisa dimengerti,  akan tetapi cinta itu amat agung dan perlu diagungkan.

Pada dasarnya cinta adalah sebuah perasaan yang diberikan oleh Tuhan pada sepasang manusia untuk saling mencintai, memiliki, memenuhi, pengertian dan lain-lain. Cinta itu sendiri sama sekali tidak dapat dipaksakan, karena cinta hanya dapat berjalan apabila ke 2 belah pihak melakukan “saling” seperti tersebut diatas dan tidak dapat berjalan apabila diantara mereka saling mementingkan diri sendiri.

Cinta adalah perasaaan seseorang terhadap lewan jenisnya karena ketertarikan terhadap sesuatu yang dimiliki oleh lawan jenisnya misalnya sifat, wajah dan lain sebagainya. Namun diperlukan pengertian dan saling memahami untuk dapat melanjutkan hubungan, haruslah saling menutupi kekurangan dan mau menerima pasangannya apa adanya, tanpa pemaksaan oleh salah satu pihak. Berbagi suka bersama dan berbagi kesedihan bersama.

Cinta itu indah namun kepedihan yang ditinggalkannya terkadang berlangsung lebih lama daripada perjalanan cinta itu sendiri. Karena cinta itu bisa membuat bahagia, duka ataupun buta akan segalanya hanya demi rasa sayang terhadap sang kekasih atau yang dicintainya.

Cinta adalah sebuah perasaan yang tidak ada seorangpun bisa mengetahui kapan datangnya, bahkan pemilik perasaan itu sendiri sekalipun. Jika seseorang sudah mengenal cinta, maka orang tersebut akan menjadi orang yang paling berbahagia di dunia ini. Akan tetapi, bila cinta itu tidak terbalas, maka orang tersebut akan merasa bahwa dia adalah yang orang paling malang dan akan kehilangan gairah hidup.

Cinta itu sendiri tidak hanya dilakukan manusia terhadap sasama manusia akan tetapi juga dilakukan manusia terhadap makhluk hidup lainnya atau bukan kepada sesama manusia, misalnya pada hewan peliharaannya.

Oleh karena itu bisa dikatakan bahwa semua makhluk akan mengalami yang dinamakan dengan cinta dan cinta yang positif adalah cinta yang mau memahami, mempercayai, berjanji setia, jujur kepada yang dicintainya.

Namun perlu diketahui rasa cinta yang besar diantara sesama manusia apabila dibandingkan masih jauh lebih besar rasa cinta Tuhan kepada para umat-Nya.

-o0o-

Kesetiaan.

Memperhatikan jalan cerita diatas bahwa kesetiaan itu memang tidak berada jauh dari yang namanya cinta dengan perkataan lain bahwa cinta sangat memerlukan kesetiaan.

Kesetiaan merupakan kunci untuk menjaga hubungan agar tetap baik dengan kekasih. Dengan perkataan yang berbeda bahwa apabila seseorang setia dengan kekasihnya, maka hubungan akan berjalan dengan baik.

Memiliki ataupun mempunyai seorang kekasih itu merupakan hal yang menyenangkan. Akan tetapi apakah hal tersebut bisa menyenangkan atau tidak tergantung bagaimana cara menjalankannya.

Setiap manusia, baik itu seorang laki-laki maupun perempuan memiliki sifat yang sama, dan didalam sifat baik yang dimiliki seseorang pasti terdapat juga sifat yang kurang baik atau kekurangannya. Sehingga terkadang terjadi seseorang yang tidak suka dengan sifat yang dimiliki oleh kekasihnya.

Disinilah kesetiaan dari seorang laki-laki maupun perempuan itu diuji, seberapa besar kesabaran seseorang itu dalam melengkapi kekurangan tersebut. Karena pada dasarnya memilih seseorang untuk menjadi kekasih, bukan untuk menjadi seperti papan tulis yang habis dicoret-coret lalu dihapus dan demikian seterusnya, oleh karena itu seseorang harus menerima atau siap menerima kekurangan dan kelebihan dari orang yang menjadi kekasih.

Mungkin akan lebih baik bagi seseorang tidak perlu memiliki seorang kekasih apabila orang tersebut tidak bisa saling memahami, saling melengkapi, dan terlalu memaksakan kehendaknya sendiri.  Karena hal tersebut akan mengakibatkan buruknya hubungan yang ada.

Cinta memang butuh kesetiaan, kasih sayang dan pengertian. Dan tidak ada yang salah dengan kesetiaan itu sendiri. Yang salah adalah ketika kesetiaan itu tidak mendapatkan penghargaan sebagaimana mestinya

Kesetiaan itu datangnya dari hati dan niat bukan dari sebuah kata-kata dengan perkataan lain adalah bahwa kesetiaan itu bukanlah hal yang bisa dijanjikan, karena kesetiaan hanya bisa dibuktikan, jadi tidak perlu berjanji akan setia.

Kesetiaan adalah kata yang tidak hanya cukup untuk diucapkan, namun harus juga dilakukan, karena kesetiaan adalah juga kesabaran jiwa untuk saling memaafkan.

Kesetiaan yang sejati adalah jika tidak saling menyakiti, rela berkorban, peduli, perhatian, kasih sayang dan lain sebagainya. Dan sebagai kesimpulan kesetiaan bukanlah suatu pilihan, akan tetapi merupakan sebuah keputusan.

Namun dari uraian diatas, dalam kehidupan ini tidak ada kesetiaan diantara manusia yang lebih besar daripada kesetiaan Tuhan kepada umatNya yang tidak akan pernah mengingkari apa yang telah dijanjikanNya.

-o0o-

Pengorbanan

Menyimak jalan cerita diatas bahwa kedua orang tersebut mengurbankan waktu hanya untuk menunggu dan mengorbankan kesempatan untuk tidak mengganti posisi orang yang dicintainya dengan orang lain.

Tetapi di dalam kehidupan sehari-hari banyak orang yang tidak menghargai arti pengorbanan, baru menyesal setelah kehilangan orang yang dicintainya.

Pengurbanan adalah sesuatu yang memang harus dilakukan untuk keperluan apa pun saja agar tercapainya suatu tujuan, cita-cita atau sesuatu yang diinginkannya.

Pengurbanan itu sendiri bisa berbentuk material (yang bisa dilihat, dipegang) dan berbentuk immaterial (hanya bisa dirasakan). Dan pengurbanan itu banyak macamnya, antara lain seperti pengurbanan harta benda, pengurbanan pikiran, pengurbanan perasaan, pengurbanan cinta, pengurbanan waktu, pengurbanan tenaga, pengurbanan kesempatan, pengurbanan martabat dan lain sebagainya.

Orang-orang yang berkurban biasanya adalah orang-orang yang melakukannya dengan tulus dan ikhlas yang didasarkan kesadaran moral semata-mata. dan orang-orang tersebut berpikir, berharap bahwa pengorbanannya yang sedikit ataupun banyak itu akan berguna dan berarti bagi orang yang menerima pengorbanan tersebut.

Sebagai contoh misalnya :

Seorang ibu akan mengesampingkan kepentingannya untuk membeli sesuatu bagi dirinya sendiri, demi untuk membeli susu bagi anaknya.

Meskipun hanya untuk sebuah keinginan yang kecil, seorang ibu mengorbankan waktu istirahatnya demi untuk menjaga anaknya.

Sebenarnya pengurbanan adalah perbuatan yang sangat mulia karena dari pengorbanan itu bisa membantu seseorang bisa mengubah hidupnya menjadi lebih baik.

Yang sangat perlu dimengerti adalah bahwa pengurbanan yang terbesar adalah pengurbanan yang dilakukan untuk keselamatan banyak jiwa dan pengurbanan ini belum pernah dilakukan oleh siapapun juga kecuali oleh Tuhan sendiri yaitu pengurbanan yang tak memandang kesalahan dan perbuatan baik dari ciptaan-Nya, dengan berkali-kali mengirimkan utusannya.

BANDUNG–INDONESIA, SEPTEMBER – 2016

Cerita :  Bambang Tri Djaja

(Gubahan Ki Ageng Bayu Sepi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *