KALAU SUDAH TIDAK ADA TERASA SANGAT KEHILANGAN

kehilanganJIKA SESUATU ITU SELALU ADA PADA KITA TERASA NILAINYA TIDAK SEBERAPA ATAU DAPAT DIKATAKAN KURANG BERHARGA, AKAN TETAPI JIKA SESUATU TERSEBUT HILANG DARI KITA MAKA AKAN SANGAT TERASA BAHWA KITA SANGAT MEMBUTUHKANNYA.

TUGAS MANUSIA MEMANG BERUSAHA NAMUN TIDAK SEMUA KEINGINAN ATAU CITA-CITA MANUSIA ITU SELALU TERLAKSANA ATAU DENGAN PERKATAAN LAIN DIKABULKAN OLEH TUHAN.

OLEH KARENA ITU JANGANLAH MEMBANDINGKAN DENGAN APA YANG TELAH DIPEROLEH ORANG LAIN, TETAPI SEKECIL APAPUN YANG KITA DAPAT WAJIB DISYUKURI.

BANYAK ORANG YANG TIDAK MENGHARGAI ARTI SEBUAH  PENGURBANAN DAN BARU MENYESAL SETELAH KEHILANGAN ORANG YANG DICINTAINYA.

imageshh…sangat sial, sekali lagi sangat sial, memang beginilah jika nasib sedang dilanda sial…. Dengan pergi meminta bantuan paranormal juga malah membikin semakin tidak keruan. Andaikata saja aku tidak mengikuti apa yang telah disarankan oleh Ade Onye, sebagai teman akrab dalam olah raga, mungkin tidak aku tidak mengalami kebingungan yang seperti ini.

Ah, ya nggak tahulah ! Aku sendiri seperti orang yang kurang waras karena tidak mempunyai pendirian yang tetap dan selalu berubah-ubah. Maka dari itu seperti inilah jadinya.hh…sangat sial, sekali lagi sangat sial, memang beginilah jika nasib sedang dilanda sial…. Dengan pergi meminta bantuan paranormal juga malah membikin semakin tidak keruan. Andaikata saja aku tidak mengikuti apa yang telah disarankan oleh Ade Onye, sebagai teman akrab dalam olah raga, mungkin tidak aku tidak mengalami kebingungan yang seperti ini.

Oleh karena itu para pembaca tolong dan beritahu aku jika sekiranya ada yang mengetahui, dimana tempat yang terdapat 4 orang janda yang tinggal dalam satu rumah.

Kebingungan itu terjadi ketika aku datang dan meminta pertolongan Abah Mulyadi seorang paranormal yang tinggal di Antapani, untuk meminta petunjuk dan jalan keluar agar aku dapat kembali menjalani kehidupan rumah tangga secara normal seperti sediakala.

Dan dari Abah Mulyadi itulah aku diberikan penjelasan demikian : “Kamu bisa bertemu istrimu kembali dan bisa hidup harmonis seperti sebelumnya asalkan kamu bisa mendapatkan syarat yang sangat ampuh untuk itu yaitu berupa beberapa helai rambut dari ke 4 orang janda yang tinggal dalam satu rumah.”

Abah Mulyadi itu adalah Guru Spiritualnya Ade Onye. Hal itu aku mengerti ketika Ade Onye mengalami berbagai permasalahan kehidupan bahkan sampai dengan mempelajari ilmu tenaga dalam sebagai perlindungan untuk menghindari perbuatan jahat atau gangguan dari makhluk ghaib atau energy negative yang semua itu berasal dari petunjuk, bantuan dan apa yang diajarkan oleh Abah Mulyadi.

Berdasarkan fakta dan kenyataan yang sudah terjadi itulah maka aku dengan antusias mengikuti ajakan Ade Onye menghadap Abah Mulyadi dengan harapan bahwa semua permasalahan yang kuhadapi bisa mendapatkan jalan pemecahannya.

Masalah kehidupan yang kualami miri-mirip dengan kisah kehidupan seorang temanku yang bernama Mukidin, tetapi kisah kehidupanku jauh lebih parah. Kuakui memang pada mula kejadiannya adalah karena aku telah melakukan sebuah kesalahan besar yang tidak pernah kupikirkan samasekali sebelumnya.

Secara singkat awal cerita dimulai dari ketika aku masih bujangan dan menjalin banyak pertemanan melalui facebook. Seperti pada umumnya seorang pemuda selalu menggunakan jurus rayuan maut atau rayuan gombal kepada lawan jenisnya untuk memperoleh rasa simpati yang kemudian agar berhasil menggaetnya dan kebetulan aku sangat mahir dalam menggunakan jurus tersebut.

Dari situ kemudian pertemanan kami melalui media social ini semakin lama menjadi semakin akrab, hingga tiba saatnya kami mengadakan kesepakatan untuk bertemu atau kopi darat.

Dari pertemuan ini sebenarnya aku merasa kecewa karena kenyataan yang kuhadapi tidak sesuai dengan yang aku bayangkan semula. Wajahnya memang benar-benar cantik mungkin sulit untuk mencari bandingannya, tetapi potongan badannya pendek dan pahanya besar.

Mungkin foto yang dimuat dalam facebook dari hasil selfi yang mengambil bagian atas sehingga bagian bawah tidak terlihat dan hal ini yang membuat aku kecewa karena yang ada dalam bayangan khayalku bahwa dia selain berkulit putih dan memiliki wajah yang cantik juga memiliki postur badan yang tinggi semampai.

Karena rasa kecewa tersebut sebenarnya ingin aku langsung menolaknya dan memilih kekasihku yang lainnya lagi tetapi karena jalinan hubungan kami yang sudah sangat dekat dan mesra walaupun melalui media sosial maka tak sampai hati kalau aku harus berlaku demikian.

Kemudian aku berkonsultasi kepada seseorang yang saat itu kupercaya dapat memberikan solusi yang baik untukku tentang hal ini, namun apa yang disarankan sangat tidak sesuai dengan keinginanku, yaitu bahwa sebaiknya aku menikah dengannya.

Oleh karena itu dengan cara yang halus untuk menolaknya adalah dengan jalan aku memberikan sekian banyak persyaratan berumah tangga. Bayangkan saja kalau dipikirkan hal itu rasanya sangat lucu seperti orang yang akan melamar pekerjaan saja.

Persyaratan yang kuberikan tersebut secara logika memang sebagian adalah untuk kebaikan dalam hidup berumah tangga dan sebagian lagi untuk mempersiapkan hidup untuk masa depan, meskipun hal itu tidak umum seperti kehidupan rumah tangga pada umumnya atau bahkan orang tuaku sendiripun tidak seperti itu. Karena semua akan berjalan dengan sendirinya sesuai dengan perjalanan waktu.

Misalnya saja waktu itu saya katakan demikian : “Boleh saja, kita melanjutkan hubungan ini kearah yang lebih jauh sampai ke jenjang pernikahan, asal kamu sanggup untuk memenuhi persyaratan yang kutentukan, antara lain ;

  1. Harus bersifat ke-ibu-an dalam bahasa Sunda Piindungeun dalam arti kasih sayangnya tidak terbatas.
  1. Penuh Pengertian,
  2. Kalau berkomunikasi harus nyambung,
  3. Mempunyai kebebasan finansial
  4. Harus cantik dihadapan suami,
  5. Berbadan langsing dengan berat badan yang ideal,
  6. Berwajah putih cerah,
  7. Bisa membuat bangga dimana pun berada,
  8. Mempunyai karya yang dapat dibanggakan misalnya menulis buku,
  9. Cerdas dalam mencari informasi,
  10. Olahraga teratur,
  11. Harus terbuka dan Jujur,
  12. Penurut,
  13. Saling menutupi kekurangan masing-masing,
  14. Harus cantik luar dalam,
  15. Ketika menghadapi permasalahan, persepsi harus sama,
  16. Cerdas dalam mengelola keuangan,
  17. Bisa bervariasi pada saat hubungan suami istri,
  18. Tugas sebagai seorang pendidik, selain melaksanakan pengajaran, penelitian dan pengabdian ke masyarakat harus dilakukan dengan benar.
  19. Hafal dan paham bacaan sholat.

 

Dan sebagai penutupnya adalah bahwa semua kegiatan tersebut harus terdokumentasikan dengan pengertian agar lebih mudah untuk mengevaluasi kerja yang sudah dilakukan. Jika ditanya tentang kualitas (hasil yang dicapai) tidak boleh dijawab dengan kuantitas (banyaknya kegiatan yang dilakukan).

Besar harapanku bahwa dengan banyak persyaratan yang kuajukan secara sepihak tersebut agar dia menolaknya. Jadi kalau dengan persyaratan itu dia tidak meterimanya maka sudah selesailah permasalahannya dan bukan aku yang memutuskan hubungan tersebut. Dengan demikian aku juga tidak melanggar saran yang diberikan padaku.

Tapi apa mau dikata karena yang terjadi adalah berbeda dengan yang saya inginkan, karena semua yang kusodorkan sebenarnya adalah hanya untuk memberikan penolakan secara halus dengan harapan bahwa dia menolaknya, akan tetapi dia malahan siap menerima dan mau melaksanakannya.

Saya tidak pernah berpikir kalau dalam hatinya dia juga berpikir : “Baiklah persyaratan tersebut sekarang saya terima, mudah-mudahan setelah berumah tangga dan mempunyai anak sebagai tali pengikat kasih sayang dia akan berubah pemikirannya dengan cara mengurangi sebagian persyaratan yang memberatkan.”

Pada saat menyatakan sanggup menerima persyaratan tersebut dia masih berstatus lajang, dan setelah menikah dia tetap tinggal di Tasikmalaya dan aku sendiri kost di Bandung.

Pada mulanya banyak hal yang dianggap ringan bisa dilakukan, misalnya merawat diri dengan kecantikan dan berolah raga juga dijalankan dengan baik walaupun aku tidak memberikan biayanya tetapi untuk hal yang berat seperti menulis sebuah buku belum bisa diwujudkan karena waktu dan kondisi yang belum memungkinkan.

Harus bisa membuat bangga suami dimana pun berada, tetapi aku sendiri tidak pernah memberikan dorongan maupun dukungan misalnya mengajak dan memperkenalkan dirinya di lingkungan tempatku bekerja pada pertemuan dan kegiatan para istri pegawai atau pada acara-acara resmi.

Apalagi setelah memiliki seorang anak beban tersebut semakin mejadi  bertambah berat, karena disamping harus membesarkan dan memperhatikan pendidikan anak juga dia harus memikirkan mengontrak rumah, kebutuhan bulanan, keperluan sehari-hari, mempersiapkan diri untuk memberikan materi mata kuliah, menyusun materi ujian dan memeriksa hasilnya dan masih banyak lagi.

Semuanya dijalani dengan kesabaran. Dia tinggal di Tasikmalaya dan bekerja di Kota Garut, sebuah jarak yang tidak bisa dikatakan dekat apalagi pergi dan pulang dengan menggunakan kendaraan umum dan belum lagi kalau terjebak kecamacetan lalu lintas juga setiap minggu harus mengunjungiku ke Bandung. Dalam melaksanakan semua itu kondisi badan juga tidak selalu dalam keadaan baik terkadang juga sakit atau kelelahan baik secara fisik ataupun pemikiran yang memerlukan waktu untuk istirahat.

Selain itu juga dia juga harus memikirkan biaya kostku di Kota Bandung, karena pada waktu itu aku sendiri belum mempunyai pekerjaan tetap yang bisa diandalkan untuk mencukupi kebutuhan hidup.

Maka secara otomatis waktunya tersita habis untuk semua kegiatan tersebut, apalagi kalau harus menyempatkan diri memikirkan untuk menulis buku yang nota bene harus dalam keadaan baik dan tenang baik lahir maupun batin.

Hal tersebut baru terpikirkan olehku sekarang setelah dia sudah tidak lagi berada disampingku. Beban yang ditanggungnya ternyata memang sangat berat.

Mungkin secara pribadi belum tentu aku sendiripun sanggup untuk melaksanakan semuanya itu, sesuai dengan sebuah peribahasa yang berbunyi : “Seberat-berat mata memandang masih berat bahu yang memikul.”

Dan kenyataan yang berjalan, yang seharusnya sesuai dengan aturan agama aku bertindak membimbing dan memberikan contoh sebagai imam dalam keluarga, tetapi aku malahan melakukan hal-hal yang tidak seharusnya aku lakukan.

Apalagi bila aku mengingat bahwa alasan yang kutuntutkan kepadanya secara sepintas terlihat benar tetapi kalau dilihat dengan jeli ada sesuatu alasan yang tersembunyi dibalik semua itu yaitu akhlak.

Bahkan untuk melancarkan hobi pacaran aku memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mencari pembenaran dengan alasan bahwa dia selalu berbuat bohong karena tidak memenuhi janjinya.

Kalau dia tidak bisa memenuhi janjinya maka kuberikan pilihan yang sebenarnya tidak menguntungkan dirinya sama sekali, yang antara lain yaitu :

  1. Walaupun sebagai suami istri tapi hidup masing-masing;
  2. Membiarkan aku melakukan selingkuh;
  3. Kita akhiri hidup berumah tangga ini dengan kata lain bercerai.

Hal tersebut kuajukan, karena aku sangat yakin bahwa dia sangat mencintaiku dan tidak akan pernah berani menerima tawaran untuk bercerai.

Tetapi untuk kali ini ternyata perkiraanku meleset, yaitu kita dengan yakin aku menawarkan untuk bercerai langsung diterimanya, bagaikan gayung bersambut.

Mendapati kenyataan yang seperti itu aku sangat terkejut bagaikan ada sebuah petir yang menyambar di siang hari bolong dan aku hanya diam terbengong-bengong serta tidak bisa berkata apa-apa sedikitpun. Karena kejadian itu berjalan begitu cepat dan tidak bisa ditarik kembali.

Dan setelah aku benar-benar sudah bercerai dan istrikupun berhenti pula dari pekerjaan yang ditekuni ditempat sekarang ini dan beritanya pindah ke Luar Jawa, ternyata aku tidak bisa siap untuk hidup sendiri, aku merasa kehilangan, ada sesuatu dalam hidup ini yang kurang. Meskipun aku punya beberapa orang selingkuhan, ada yang berstatus gadis, ada yang janda dan ada pula yang masih menjadi istri orang lain namun hati ini tetap sepi dan kosong.

Sejak awal seharusnya aku mengerti bahwa keinginan mempunyai seorang istri sesuai idaman, itu boleh-boleh saja tetapi belum tentu keinginan seperti itu terlaksana atau dikabulkan oleh Tuhan.

Dengan bentuk seperti apa pun seorang istri yang diberikan Tuhan sebagai pendamping hidup itu adalah yang terbaik menurutNya untukku, oleh karena itu seharusnya aku mensukurinya.

Seperti halnya sebuah kalimat bijaksana yang mengatakan demikian :

“Ya Allah aku yakin bahwa takdir-Mu lebih baik dari semua yang ku inginkan, berikan kekuatan untuk memahami ini sebagai Anugerah dari-Mu.”

Karena kusadari bahwa istriku selama ini menerimaku dengan segala kekurangan yang kumiliki dan kesalahan yang kulakukan, sedangkan semua selingkuhanku menerimaku karena aku sudah terlihat mapan dan sudah mempunyai pekerjaan yang tetap, akan tetapi belum tentu mereka menerimaku dengan segenap hatinya. Apalagi kalau mau jujur, orang yang melakukan selingkuh dengankupun rata-rata berperawakan gemuk, tentang wajah juga tidak ada yang melebihi kecantikan wajah istriku.

Oleh karena itu dalam usaha mencari informasi sesuai dengan persyaratan yang diminta oleh Abah Mulyadi yaitu mencari 4 orang janda yang tinggal dalam satu rumah, untuk bisa menemukan istriku kembali kulakukan dengan tekad yang sungguh-sungguh dan tidak mengenal waktu bagaikan jungkir balik yang dapat diibaratkan kepala dipergunakan sebagai kaki dan kaki sebagai kepala.

Bahkan berlaku seperti “orang gila yang digendangi” atau dalam bahasa Sunda “anu gelo ditabeuhan” dengan mengesampingkan rasa gengsi dan malu kujalani waktu-waktu yang kumilki dengan cara keluar masuk kesetiap RT dan RW yang memiliki data-data Kependudukan mengenai Nikah, Talak, Cerai dan Rujuk maupun mengenai Kelahiran dan Kematian.

Andaikata ada yang bertanya : “Bagaimana hasilnya ?”

Semua yang kulakukan tidak ada hasilnya sama sekali dengan perkataan lain Nol Besar. Ampun ya Allah, sekali lagi ampun ya Tuhan ! Semoga semua keturunanku jangan pernah ada yang mengalami perjalanan hidup seperti yang kualami sekarang ini.

Dalam keadaan seperti ini, aku malahan menjadi bahan tertawaan  banyak orang. Dan sungguh sangat sial dan menyebalkan, tetapi apa mau dikata sebab semua itu adalah karena kesalahan yang kubuat sendiri dan aku hanya bisa menyesali diri serta menangis dalam hati.

Pada suatu hari yang tidak pernah kusangka sama sekali Ade Onye dengan terburu-buru datang menjumpaiku dan memberi informasi bahwa usahanya dalam membantuku untuk mencari persyaratan yang sedang kuperlukan dengan sudah payah sudah berhasil diketemukan.

Entah dari siapa Ade Onye mendapatkan informasi tersebut, bahwa di Rancaekek Kencana Jalan Bakung 21 tepat diseberang depan rumah kerabatnya yang juga kenalanku yang bernama Asep Ucing dan istrinya Erna Kurniasih, ada 4 orang janda yang tinggal serumah seperti persyaratan yang sedang kucari.

Oleh karena itu, hal yang pertama kulakukan adalah bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa karena usahaku berikhtiar yang dibantu oleh temanku terkabul, maka dengan segera aku pergi ke Rancaekek untuk menemuinya.

Kuperhatikan rumah tersebut adalah sebuah rumah yang terletak di dalam kompleks perumahan Rancaekek Kencana, yang saat itu terlihat sangat sepi. Cat temboknya sudah terlihat luntur atau kusam dan halaman  depan terdapat pagar yang sudah tidak terawat sama sekali.

Melihat kenyataan keadaan seperti itu rumah tersebut jelas sekali tidak tersentuh tangan lelaki. Ya maklum mereka semua adalah janda. Andaikata saja aku diminta untuk mengecat tembok atau memelihara halaman tersebut, dengan senang hati akan kujalani dengan tulus asalkan jerih payahku tersebut diganti dengan beberapa helai rambut dari 3 orang janda yang menempati rumah tersebut.

“Asalammualaikum………………….,

Sampurasun…”, salamku sambil mengatur napas untuk menenangkan hati. Sudah beberapa kali aku memberikan salam tetapi tetap saja belum ada juga yang memberi jawaban dari dalam rumah.

Tetapi kemudian tanpa kutahui entah darimana arah datangnya, tiba-tiba saja di belakangku ada seorang perempuan yang sudah setengah umur menegurku.

“Oh, silakan nak. Mohon maaf karena saya baru saja belanja ke warung, jadi saya tidak mengetahui kalau ada tamu berkunjung. Kalau begitu silakan duduk di dalam.”

Seperti kerbau yang dicocok hidungnya aku hanya menurut semua ajakan perempuan tersebut. Sambil berjalan mengikutinya masuk ke dalam rumah dengan bicara agak gagap aku bertanya : “Kok, sendirian bu, kemana bapak ?”

“Oh, Nak.. suami ibu bernama Bapak Sukarni adalah seorang pensiunan pegawai PJKA dan sekarang sudah meninggal dunia,” demikian penjelasan ibu pemilik rumah tersebut setelah duduk.

“Di rumah ini saya tinggal berempat, yaitu saya sendiri Lina, dengan merawat ibu saya yang bernama Ibu Eutik seorang janda berusia 80 tahun yang sedang titirah disini karena kondisi badannya sudah sering sakit-sakitan, kemudian seorang anak saya bernama Mega yang juga sudah tidak bersuami, karena sesuatu hal. Dan beberapa waktu yang lalu di rumah ini mendapat lagi tambahan penghuni baru yang juga seorang perempuan yaitu keponakanku sendiri. Kasihan dia nak, dia juga seorang janda dan belum lama perceraiannya itu terjadi,” lanjutnya.

“Wah, kalau demikian rumah ini dihuni oleh 4 orang yang semuanya janda ya bu ?” tanyaku memancing untuk mendapatkan informasi.

“Benar sekali, nak. Tetapi kelihatannya keponakan saya itu masih mencintai mantan suaminya. Dia sering duduk menyendiri dan melamun, pandangan matanya sering kosong dan menatap jauh kedepan, oleh karena itu saya sarankan anak tersebut mencari kesibukan dengan mengajar di daerah Jatinangor-Tanjungsari, agar bisa menghibur kesedihan hatinya.”

“Nah ini dia yang sedang kucari, yaitu 4 orang janda yang tinggal dalam satu rumah seperti persyaratan yang diminta oleh Abah Mulyadi. Tetapi bagaimana caranya saya harus memulai berbicara untuk meminta beberapa helai rambut untuk syarat yang kuperlukan  itu ?

Ah, akan saya coba dengan cara begini saja, saya akan menggunakan alasan mencarikan persyaratan untuk mengobati orang gila, dan sebenarnya yang seperti orang gila itu adalah aku sendiri.”

Baru saja aku memikir untuk mencari dan menyusun kata-kata untuk mengajukan permintaan syarat yang kuperlukan, tiba-tiba : “Lha ini dia nak, keponakan yang saya bicarakan sudah datang !” kata ibu pemilik rumah tersebut sambil menunjukkan jarinya kepada seeorang yang baru saja datang.

Begitu melihat penampilan sosok orang tersebut, secara mendadak aku menjadi sangat gugup. Dia adalah Rini istriku, eh…aku lupa… mantan istriku.  Lalu timbul pertanyaan dalam hatiku : “Apakah ini rumah dari lelaki yang beritanya mengajak Rini pergi dan bekerja ke Luar Jawa ? Aduh, sialan benar, mengapa aku sampai terjerumus ke tempat ini ! “

“Mengapa engkau mendadak kemari Mas Panji ?” tanya Rini dengan halus. Tetapi pandangan matanya yang tajam menusuk ulu hatiku.

Karena aku tidak siap dengan jawabanku, maka wajar saja kalau aku gelagapan dan sulit untuk memberi jawaban dengan pertanyaan tersebut. Untuk bisa berbicara akhirnya aku ganti yang bertanya kepadanya, sebagai jalan pintas karena aku takut kedahuluan oleh pertanyaan susulan yang lain. Kalau hal itu terjadi aku semakin bertambah gelagapan.

“Katanya pindah dan mengajar di Luar Jawa, tetapi kenapa masih berada disini ?”

“Mas Panji aku memang sengaja menyembunyikan diri dirumah Tante Lina, disini. Karena suamiku tidak mengerti bahwa cinta itu bukan saja hanya saling mencintai, tetapi juga untuk saling menjaga perasaan dan kesetiaan masing-masing.

Sangat sering perasaanku terluka, namun aku selalu memendam rasa sakit itu di hati dan diam saja, serta menjalani kehidupan ini dengan penuh kesabaran.

Dari semua rasa sakit yang pernah ada di hati ini, terlalu kecil bila dibandingkan rasa cintaku kepadanya, itulah salah satu alasan kenapa aku selalu memaafkan setiap kesalahan yang selalu diperbuatnya.

Untuk selanjutnya, kemudian aku berpikir bahwa mencintai orang yang sering membuat aku menangis dalam hati sehingga sudah tidak bisa mengeluarkan air mata lagi, dan begitu terlihat bodoh dalam pandangan mata serta penilaian orang lain, tetapi aku selalu saja terlukai oleh kata-kata dan serangkaian perbuatan salahnya. Apakah layak kalau keutuhan rumah tangga ini masih harus kupertahankan,” ucapan Rini kepadaku sambil berlinangkan air mata dan sementara itu aku hanya bisa diam saja.

Mendengar apa yang diucapkan Rini, aku lantas teringat pada tahun-tahun yang telah lalu sejak pernikahanku dengan Rini kemudian melakukan perselingkuhan dengan ibu kostku ketika suaminya sedang pergi, dari situ aku mendapat banyak pengalaman dalam berhubungan suami istri yang lalu diikuti oleh kesalahan-kesalahan lain yang telah kulakukan.

 “Aku memang bersalah dan tidak tahu diri serta buta hati terhadap kesetianmu dan pengorbananmu selama ini dik Rini dan aku merasa tidak bisa hidup tanpa adanya dirimu yang berada disisiku. Aku berniat untuk memperbaiki semua kesalahan yang telah ku lakukan dan berusaha untuk tidak akan melakukannya lagi. Kita benahi semua ketentuan yang memberatkan dalam menjalankan kehidupan berumah tangga.

Tetapi untuk semua itu, masih ada pintu maaf untukku kan, dik ?” kataku merintih dengan hati yang tersayat-sayat sambil meneteskan air mata sehingga membuat Rini juga menjadi semakin menangis.

“Eh…..nanti tunggu sebentar, sebenarnya apa yang terjadi dan bagaimana ceritanya serta mengapa semuanya menjadi menangis ?” tanya tante Lina memotong pembicaraan ketika mengetahui bahwa Rini tidak mampu menahan tangisnya lagi.

“Ya, tante ini adalah mantan suami saya, Mas Panji,” kata Rini kepada Tante Lina sambil menghapus air matanya.

“Oh ya pantas kalau begitu ! Menurut pendapatku jika demikian lebih baik kalian rujuk kembali saja, yang sudah lalu biarlah berlalu, untuk masa yang akan datang harus dijalani dengan lebih baik. Anggap saja hal yang telah lalu itu sebagai mimpi buruk, begitu bangun lantas semuanya hilang,” pendapat Tante Lina.

“Mulai sekarang dan kedepan, nak Panji saja yang harus bisa merubah sikap, pola pikir dan perilaku. Baiknya suatu rumah tangga itu tidak perlu dengan harus menggunakan berbagai macam persyaratan, tetapi dengan kedewasaan karena semua akan berjalan dengan sendirinya sesuai dengan perjalanan waktu.

Dalam hidup berumah tangga atau orang yang merupakan pasangan suami istri akan lebih baik kalau bisa mengambil contoh sepasang sepatu.

Walaupun bentuk mereka tidak persis sama, namun sebagai pasangan yang serasi,

Saat berjalan tidak pernah kompak persis berdampingan, akan tetapi tujuannya sama,

Walaupun tidak pernah bisa berganti posisi, namun mereka saling melengkapi,

Selalu sederajat, namun tidak ada yang lebih rendah ataupun lebih tinggi,

Apabila yang satu hilang, yang lain tidak memiliki arti…

Oleh karena itu semua permasalahan yang terjadi harus ditimbang-timbang dengan cermat dan dimusyawarahkan untuk mendapat penyelesaiannya. Jika memang diperlukan harus ada seseorang yang menjadi penengah dan jangan sampai malahan melakukan berbagai macam kesalahan, dan seorang istri bukan untuk dikalah-kalahan atau dijadikan korban perasaan, Nak Panji.”

Nasehat yang diberikan Tante Lina rasanya dapat dikatakan seperti  menelanjangiku dengan semua yang kulakukan. Bahkan katanya menurut pendapat almarhum suaminya, bahwa sebenarnya banyak lelaki yang sudah memperbudak perempuan. Tetapi dengan “atas nama” kewajiban dan darma bakti seorang istri yang harus dilakukan untuk keluarga.

Misalnya memelihara anak, memasak, mencuci dan lain sebagainya yang bisa di ibaratkan dengan mencuci piring, untuk keperluan memasak, makan dan belum sempat kering sudah keburu dipakai lagi. Sehingga waktunya untuk tidurpun, perempuan juga masih harus melayani suaminya. Perempuan sebagai korban perbudakan “atas nama” kewajiban dan darma bakti.

“Dik Rini, apakah Tante Lina itu adalah Tantemu ? Jika dia itu Tantemu mengapa  engkau  tidak  pernah  mengatakan  hal  ini kepadaku  sebelumnya ?” tanyaku untuk mencari tahu. Karena aku sepertinya merasakan ada hal-hal yang sengaja disembunyikan.

“Sebenarnya Tante Lina ini bukan saudara ataupun ada hubungan family denganku, Mas. Tante Lina ini sebenarnya adalah Tantenya Kang Asep Ucing. Aku dititipkan disini oleh Abah Mulyadi dengan perencanaan Kang Asep Ucing dan Ade Onye, agar aku bisa menenteramkan hati dan tidak terganggu oleh siapapun !”

“Kalau demikian berarti dik Rini pernah menghadap Abah Mulyadi ?” pertanyaanku mengejar karena penasaran ingin tahu.

“Iya Mas, Kang Asep Ucing dan Ade Onye yang mengajakku !”

“ Apa, Kang Asep Ucing dan Ade Onye ?! ck ck cck !  Wah benar, benar semua bisa diatur oleh akal bulus paranormal,” pikirku.

Tetapi aku sudah tidak perduli lagi dengan hal tersebut, karena yang jelas bahwa permata hatiku yang hilang sudah kuketemukan kembali !

-o0o-

Untuk saudaraku para pembaca terutama di lingkungan sendiri, gubahan cerita diatas hanya merupakan sekedar contoh kejadian saja dari sekian banyak masalah kehidupan yang terjadi, melalui reka ceritera tentang KALAU SUDAH TIDAK ADA TERASA SANGAT KEHILANGAN… merupakan suatu peristiwa yang dapat kita ambil hikmahnya sebagai pesan moral dan bahan perenungan dalam menjalani kehidupan kita sehari-hari bermasyarakat.

Jangan menganggap rendah orang lain.

Jangan mengandalkan kecantikan/kemolekan atau kegagahan fisik, harta kekayaan, pangkat, jabatan untuk menekan dan merendahkan orang lain karena semua itu tidak bisa bertahan untuk selamanya dan akan berakhir pada waktunya.

* Yang indah hanya sementara,

* Yang abadi adalah kenangan,

* Yang ikhlas hanya dari hati,

* Yang tulus hanya dari sanubari,

* Tidak mudah mencari yang hilang,

* Tidak mudah mengejar impian,

* Namun yang lebih susah mempertahankan yang sudah ada. Karena

   walaupun sudah tergenggam bisa terlepas juga.

* Ingatlah pada pepatah : “Jika kamu tidak memiliki apa yang kamu

   sukai, maka sukailah apa yang kamu miliki saat ini.”

* Belajar menerima apa adanya dan berpikir positif.

Rumah mewah bagai istana, harta benda yang tak terhitung, kedudukan dan jabatan yang luar biasa, namun…jika hatinya sempit maka semua tidak terasa indah… malahan bisa jadi menyedihkan, tetapi walaupun rumah kecil jika penghuninya berhati besar dan lapang, semua bisa menjadi nyaman dan indah….

Ketika nafas terakhir tiba,

Sebatang jarum pun tak bisa dibawa pergi.

Sehelai benang pun tak bisa dimiliki.

Apalagi yang mau diperebutkan !!!

Apalagi yang mau disombongkan !!!

* Maka jalanilah hidup ini dengan keinsafan nurani,

* Jangan terlalu perhitungan,

* Jangan hanya mau menang sendiri,

* Jangan suka menyakiti sesama,

* Belajarlah, tiada hari tanpa kasih sayang,

* Belajarlah, selalu berlapang dada dan mengalah,

* Belajarlah melepaskan beban, hidup dengan ceria,

* Tidak ada yang tak bisa diikhlaskan………

* Tidak ada sakit hati yang tak bisa dimaafkan……….

* Tidak ada dendam yang tak bisa terhapus…………

Oleh karena itu jalanilah hidup ini dengan segala sifat positif yang kita miliki.  Dan harus menyadari apapun yang akan kita lakukan apakah itu perbuatan baik ataupun perbuatan buruk, dan cepat atau lambat, baik secara langsung ataupun tidak langsung bahwa karma itu pasti akan datang.

Menerima tantangan,

Dari cerita diatas Rini berani menerima tantangan untuk bercerai yang semula sangat ditakutinya, hal tersebut karena adanya kekuatan atau sebuah dorongan dari dalam hatinya bukan karena anjuran dari luar.

Seperti sebuah peribahasa yang berbunyi : “Seekor semut yang kecilpun kalau terinjak pasti akan menggigit.”

Jika sebuah telur dipecahkan oleh kekuatan dari luar, maka kehidupan di dalam telur berakhir.

Tetapi…

Jika sebuah telur dipecahkan oleh kekuatan dari dalam, maka kehidupan baru telah lahir.

Karena Hal-hal Besar selalu dimulai dari Dalam.

Tuhan tidak pernah menjanjikan bahwa langit itu selalu biru, bunga selalu mekar dan matahari selalu bersinar….

Tetapi ketahuilah bahwa Dia selalu memberi pelangi di setiap badai, senyum di setiap air mata, berkah di setiap cobaan dan jawaban di setiap doa.

Tuhan tidak pernah menanggalkan beban, tetapi MEMAMPUKAN kita untuk MEMIKUL sehingga beban tersebut menjadi RINGAN dan ENAK untuk dipikul. Dan beban tadi sangat berguna untuk MELATIH, MENDEWASAKAN dan MENGUATKAN kita.

Oleh karena itu jangan pernah menyerah dan terus berjuanglah.

Hidup bukanlah suatu tujuan, melainkan perjalanan, maka nikmatilah,

Hidup adalah tantangan, hadapilah,

Hidup adalah anugerah, terimalah,

Hidup adalah pertandingan, menangkanlah,

Hidup adalah tugas, selesaikanlah,

Hidup adalah cita-cita, capailah,

Hidup adalah misteri, singkapkanlah,

Hidup adalah kesempatan, ambillah,

Hidup adalah lagu, nyanyikanlah,

Hidup adalah janji, penuhilah,

Hidup adalah keindahan, bersyukurlah,

Hidup adalah teka-teki, pecahkanlah.

Berbohong,

Dalam membantu untuk mempertemukan Panji dengan Santi yang keduanya masih saling mencintai serta dengan harapan agar Panji tidak lagi mengulang kesalahan seperti cerita tersebut diatas ternyata Ade Onye yang bekerjasama dengan Abah Mulyadi dan Kang Asep Ucing menggunakan teknik berbohong, dusta atau tipu muslihat.

Jika disimak dari jalan cerita diatas bahwa berbohong itu tidak selamanya salah karena ada penjelasan dalam salah satu agama yang mengatakan bahwa ada 3 kebohongan yang diperbolehkan dan tidak berdosa jika melakukannya.

Pertama, berbohong kepada musuh, yakni ketika dalam kondisi peperangan. Sebab tidak akan mungkin memberitahukan strategi berperang kepada musuh karena hal tersebut bisa berdampak yang sangat merugikan pada saat peperangan berlangsung lantaran strategi telah diketahui.

Kedua, berbohong kepada istri, yang maksudnya memberikan pujian untuk memberikan kebahagiaan kepada sang istri. Sebagai contoh, misalnya mengenai masakan istri yang enak atau pakaian istri yang bagus walaupun sebenarnya tidaklah demikian, yang nanti secara perlahan diberikan saran agar lambat-laun bisa berubah.

Dan berbohong dalam hal ini diperbolehkan karena untuk menjaga keharmohisan dalam hubungan suami istri.

Ketiga, berbohong untuk mendamaikan kedua kolompok yang tengah berselisih, maksudnya berbohong demi kebaikan kedua belah pihak agar berdamai, misalnya ada pihak ketiga yang hendak mendamaikan dua kelompok dengan mengatakan kepada keduanya bahwa masing-masing ingin berdamai, meskipun kata-kata damai itu tidak pernah keluar dari mulut kedua kelompok, kebohongan pun dilakukan agar keduanya bisa berdamai.

Namun walaupun demikian sifat bohong atau dusta merupakan sifat yang dilarang dalam ajaran setiap agama. Karena berbohong itu merupakan sifat yang dimiliki oleh orang yang munafik dan sifat ini harus dihindari oleh setiap manusia yang beriman. Dan kejujuran sangat dianjurkan karena kejujuran mengarahkan kepada kebaikan.

Harus selalu Bersyukur

Jangan membandingkan dengan apa yang telah diperoleh orang lain, tetapi sekecil apapun yang kita dapatkan, hal tersebut merupakan sesuatu yang wajib untuk disyukuri.

Sebuah nasehat bijaksasna yang mengatakan demikian :

“Bila air yang sedikit dapat menyelamatkanmu (dari rasa haus). Tidak perlu meminta air lebih banyak yang barangkali dapat membuatmu tenggelam. Maka, selalulah belajar cukup dengan apa yang kamu miliki.”

Karena banyak orang yang tidak pernah merasa puas atas apa yang mereka miliki dan selalu merasa kurang.

Sebenarnya inilah kesempatan yang ditunggu oleh setan atau iblis, dia datang menggoda dengan cara mengiming-imingi harta, kekuasaan, popularitas dan lain-lain, yang dapat membuat manusia jatuh ke dalam cengkeramannya dan rela mengurbankan apa saja demi tercapainya tujuan.

Oleh karena itu marilah kita belajar untuk mengendalikan diri. Senantiasa mengucapkan syukur dan terima kasih kepada Tuhan atas segala berkat yang telah dilimpahkan-Nya dalam hidup kita dan mohon bimbingan-Nya agar kita tetap setia kepada-Nya.

Menjadi Manusia yang Bahagia (Homili Sri Paus Franciskus)

“Engkau mungkin memiliki kekurangan, merasa gelisah dan kadangkala hidup tidak tenteram, namun jangan lupa hidupmu adalah sebuah proyek teresar di dunia ini. Hanya engkau yang sanggup menjaga agar tidak merosot. Ada banyak orang membutuhkanmu, mengagumimu dan mencintaimu.

Aku ingin mengingatkanmu bahwa menjadi bahagia bukan berarti memiliki langit tanpa badai, atau jalan tanpa musibah, atau bekerja tanpa merasa letih ataupun hubungan tanpa kekecewaan.

Menjadi bahagia adalah mencari kekuatan untuk memaafkan, mencari harapan dalam perjuangan, mencari rasa aman di saat ketakutan, mencari kasih di saat perselisihan.

Menjadi bahagia bukan hanya menyimpan senyum, tetapi juga mengolah kesedihan. Bukan hanya mengenang kejayaan, melainkan juga belajar dari kegagalan. Bukan  hanya bergembira karena menerima tepuk tangan meriah, tetapi juga bergembira meskipun tak ternama.

Menjadi bahagia adalah mengakui bahwa hidup ini berharga, meskipun banyak tantangan, salah paham dan saat-saat krisis.

Menjadi bahagia bukanlah sebuah takdir yang tak kerelakkan, melainkan sebuah kemenangan bagi mereka yang mampu menyongsongnya dengan menjadi diri sendiri.

Menjadi bahagia berarti berhenti memandang diri sebagai korban dari berbagai masalah, melainkan menjadi pelaku dalam sejarah itu sendiri. Bukan hanya menyeberangi padang gurun yang berada diluar diri kita, tapi lebih dari pada itu, mampu mencari mata air dalam kekeringan batin kita.

Menjadi bahagia adalah mengucap syukur setiap pagi atas mukjijat kehidupan.

Menjadi bahagia bukan merasa takut atas perasaan kita. Melainkan bagaimana membawa diri kita. Untuk menanggungnya dengan berani ketika diri kita ditolak.

Untuk memiliki rasa mantab ketika dikritik, meskipun kritik itu tidak adil. Dengan mencium anak-anak, merawat orang tua, menciptakan saat-saat indah bersama sahabat-sahabat, meskipun mereka pernah menyakiti kita.

Menjadi bahagia berarti membiarkan hidup anak yang bebas, bahagia dan sederhana yang ada dalam diri kita, memikili kedewasaan untuk mengaku “Saya Salah”  dan memiliki keberanian untuk berkata “Maafkan Saya”…

Memiliki kepekaan untuk mengutarakan “Aku membutuhkan kamu”; memiliki kemampuan untuk berkata “Aku….

Dengan demikian hidupmu menjadi sebuah taman yang penuh dengan kesempatan untuk menjadi bahagia.

Di musin semi-mu, jadilah pecinta keriangan. Di musim dingin-mu jadilah seorang sahabat kebijaksanaan.

Dan ketika engkau melakukan kesalahan, mulailah lagi dari awal. Dengan demikian engkau akan lebih bersemangat dalam menjalankan kehidupan.

Dan engkau akan mengerti bahwa kebahagiaan bukan berarti memiliki kehidupan yang sempurna, melainkan menggunakan airmata untuk menyirami toleransi, menggunakan kehilangan untuk lebih memantabkan kesabaran, kegagalan untuk mengukir ketenangan hati, penderitaan untuk dijadikan landasan kenikmatan, kesulitan untuk membuka jendela kecerdasan.

Jangan menyerah…. Jangan berhenti mengasihi orang-orang yang engkau cintai… Jangan menyerah untuk menjadi bahagia karena kehidupan adalah sebuah pertunjukan yang menakjubkan.

Dan engkau adalah seorang manusi yang luarbiasa !”

Sebuah Anekdot :

Suatu peristiwa yang terjadi pada saat Mukidin masih kecil dan bersekolah di sebuah Sekolah Dasar di Bandung ………………….….

Pak Guru  : “Anak-anak… ayo siapa yang mau masuk surga ?” .

“Saya pak, saya pak……,” semua murid berteriak-teriak memberi jawaban sambil mengacungkan jari tangannya keatas, kecuali Mukidin yang hanya duduk diam dan tidak berbicara sedikitpun.

Pak Guru   : “Yang ingin masuk surga, coba  berdiri……” .

Semua murid-murid berdiri….kecuali Mukidin yang masih saja duduk dengan tenang di bangkunya.

Pak Guru  : “Mukidin,  kamu tidak mau masuk surga ?”

Mukidin   :  “Ya mau dong pak !” .

Pak Guru  : “Kenapa kamu tidak berdiri ?”

Mukidin  :  “Lhooo… memangnya mau berangkat sekarang,  Pak ???”

Pak Guru  :  “ Muuuuukkkiiiidiiiiinnnn………………”

 

-o0o-

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *