Topeng Wajah Cantik

topengAPABILA DIPERHATIKAN TINGKAHLAKU SESEORANG DALAM MENJALANI KEHIDUPAN TIDAK SELALU MENUNJUKKAN DIRI YANG SEBENARNYA. SERINGKALI BERSIKAP, BERTINDAK DAN BERBICARA TIDAK SEPERTI DIRINYA SENDIRI DENGAN PERKATAAN LAIN MENGENAKAN TOPENG ATAU LEBIH DIKENAL DENGAN ISTILAH TOPENG KEHIDUPAN UNTUK MENYEMBUNYIKAN PERASAAN YANG SEBENARNYA.

DAN TOPENG SEAKAN SUDAH DIANGGAP SEBAGAI SUATU BENDA YANG WAJIB DIKENAKAN JIKA INGIN MENDAPATKAN PERSETUJUAN DARI LINGKUNGAN.

BANYAK YANG TERJEBAK DALAM BUDAYA KEPURA-PURAAN DENGAN MEMAKAI TOPENG KEHIDUPAN UNTUK MENCAPAI APA YANG DIINGINKAN, MUNGKIN SALAH SATU DIANTARANYA ADALAH KITA SENDIRI.

letter malam telah larut, suara kendaraan yang berseliweran di jalanan sudah sepi dan sudah tidak terdengar lagi orang yang biasa ngobrol ataupun yang lalu lalang di depan rumahku. Hanya sayangnya hatiku sangat gelisah dan sungguh sulit untuk bisa memejamkan mata. Yuwinda baru saja berhenti menangis dan di matanya masih terlihat sisa tetesan air mata yang mengalir membasahi pelipisnya. Dan malam pun semakin senyap.

Ratri ibunya Wulanjuni yaitu istriku yang seharusnya tinggal menerima hasil jerih payahku dengan memeras keringat yang aku rasa sudah mencukupi, tetapi sekarang malahan pergi karena ingin mencari tambahan penghasilan. Yang sangat disayangkan bahwa kepergiannyapun tidak bilang apalagi berpamitan, hanya meninggalkan pesan lewat sms. Setelah itu Hand Phone nya dimatikan dan sudah tidak dapat dihubungi lagi.alam telah larut, suara kendaraan yang berseliweran di jalanan sudah sepi dan sudah tidak terdengar lagi orang yang biasa ngobrol ataupun yang lalu lalang di depan rumahku. Hanya sayangnya hatiku sangat gelisah dan sungguh sulit untuk bisa memejamkan mata. Yuwinda baru saja berhenti menangis dan di matanya masih terlihat sisa tetesan air mata yang mengalir membasahi pelipisnya. Dan malam pun semakin senyap.

Lalu kemana aku harus pergi untuk mencarinya, sedangkan Wulanjuni selalu meronta dan menangis karena ingin bertemu dengan ibunya. Ratri adalah istri yang cantik yang membuat bingung hati dan pikiranku.

Aku seakan merasa menjadi seorang lelaki yang sangat bodoh. Mempunyai pekerjaan dengan penghasilan yang cukup baik, tetapi malah ditinggal begitu saja oleh istri dan masih harus merawat seorang anak yang masih kecil.

Aku mencoba untuk memeriksa diri sendiri, apakah aku memang belum pantas untuk dihargai oleh seorang istri. Atau mungkin tidak pantas kalau mempunyai istri yang cantik seperti Ratri, yang juga merupakan anak seorang yang kaya raya.

Jujur saja, sampai sekarang aku belum pernah mendapat bantuan dari mertua walaupun hanya sedikit. Dan aku sendiri memang tidak ingin dibantu oleh mertua, tetapi yang terpenting dalam hidup ini adalah bahwa aku bisa mencukup kebutuhan keluargaku dengan menggunakan hasil keringatku sendiri.

“Pak, ayo kita mencari ibu !” tiba-tiba Wulanjuni terbangun dari tidurnya, suaranya merengek setengah menangis.

“Tidur dulu, ya sayang, besok pagi-pagi sekali ibu pasti sudah pulang,” kataku untuk membujuknya agar tidak menangis.

“Nggak mau, Wulan mau cari ibu sekarang saja !” katanya sambil menjerit.

Mendengar jeritan itu mendadak saja muncul rasa jengkel dan dadakupun menyesak serasa terhimpit, kepala terasa berat dan darah panas mengalir seakan membakar muka, mataku menjadi gelap. Ingin rasanya aku memukul anak ini, tetapi dengan kesadaran kemudian kutahan rasa marah itu dengan menarik napas panjang untuk menurunkan emosiku. Walau bagaimanapun juga bahwa dia itu adalah anakku yang wajar saja kalau menangis karena ditinggalkan ibunya dan aku beruntung masih bisa mengendalikan amarahku.

Tidak lama kemudian aku menemukan kalimat dengan harapan bisa  menenangkan anakku. Seorang anak kecil yang belum mengerti tentang keadaan yang sedang terjadi.

“Di luar gelap ya sayang, kalau mencari ibu sekarang pasti tidak akan terlihat. Nah kalau besok, jika hari sudah siang dan terang untuk mencari ibu akan lebih gampang,” kataku untuk menenangkan anakku. Dan di dalam hati aku mencoba untuk berdoa agar anakku mau tidur.

“Ibu,….ibu….,” Wulanjuni masih merengek tetapi semakin perlahan dan tidak lama kemudian langsung tertidur.

Udara pagi yang seharusnya terasa segar, tetapi tidak untukku. Matahari pagi yang nampak cerah dan indah memancar dari balik mega tipis, sepertinya juga bukan untukku. Yang kurasakan badan terasa lemas dan lemah serta pikiran yang melayang. Konsentrasipun tidak bisa tenang.

Keadaan yang seperti ini lah yang kujalani setiap harinya sambil berangkat bekerja. Kebetulan hari ini hari Sabtu dan untungnya aku libur tidak bekerja dan sedang menghadapi anakku yang rewel.

Ketika bangun tidur, pagi-pagi sekali Wulanjuni sudah menagih janji mengajak untuk mencari ibunya. Kemudian Wulanjuni kuhibur dan kubujuk  supaya mau mandi dulu sebelum pergi mencari ibunya. Lalu saya minta bantuan kepada Bibi Susanti, seorang pembantu rumah tangga untuk memandikan, memberinya sarapan dan setelah selesai kemudian kuajak pergi untuk mencari ibunya dengan menaiki motor bebek. Walaupun sebenarnya aku sendiri saat itu tidak mengerti akan kemana arah dan tujuanku pergi, yang terpenting adalah keluar dari rumah.

“Bapak, itu ibu…!” tiba-tiba Wulanjuni berteriak dengan keras.

“Mana , Wulan ?” tanyaku dengan cepat memotong teriakannya.

“Itu, yang berada di depan toko,” kata Wulanjuni lagi sambil menunjuk kearah sebuah toko yang berada di seberang jalan.

Diantara sela-sela lalu lalangnya kendaraan bermotor di kota, sehingga untuk menyeberang jalanpun harus bersabar. Begitu pula dengan menggunakan motor harus menunggu waktu beberapa lama untuk bisa menyeberangi jalan. Kemudian baru aku berusaha untuk mengejar seorang perempuan yang mengenakan rok panjang sampai dibawah lutut, berkaos ketat tetapi tertutup oleh jas yang berwarna biru tua.

“Ibu…..!” kembali Wulanjuni berteriak.

Tetapi perempuan tersebut tidak memberi respon sedikitpun atas panggilan Wulan. Kalau diperhatikan memang wajahnya mirip dengan wajah ibunya Wulanjuni. Tata letak rambutnya yang berbeda, potongan tubuhnya juga sedikit lebih besar dan lebih tinggi, jadi jelas dia bukanlah istriku. Ketika Wulan tahu kalau orang tersebut bukanlah ibunya, terlihat di wajahnya sangat kecewa.

Hatiku pun merasa sedih, mengasuh anak yang sebentar-sebentar minta jajan. Ketika jajanannya habis dia kembali rewel dan teringat pada ibunya lalu minta jajan lagi kemudian rewel lagi dan seterusnya.

Kemudian aku mendapat akal Wulanjuni kubawa masuk ke mall dan kuajak dia naik turun lewat escalator agar terhibur dan lelah supaya tidak lagi mengingat ibunya.

“Asep, ini anakmu ?” tanya seseorang yang tiba-tiba sudah berada di dekatku. Dia adalah seorang teman ketika masih kuliah dahulu dan tanpa sengaja bertemu pada saat aku sedang menuntun Wulanjuni. Kelihatannya dia sendiri juga sedang berbelanja bersama suaminya.

“Ya,” jawabku singkat. Dari pertanyaan tersebut kudengar sebuah nada suara yang membuat hatiku merasa sangat tidak enak.

“Kok sedikitpun nggak ada mirip-miripnya dengan ibu atau ayahnya, lalu yang ditiru itu siapa ya ?” kembali perkataan teman perempuan tersebut dilontarkan dengan nada suaranya yang sangat menusuk hati.

Sebenarnya dia memang tahu sewaktu aku mulai pertama kali kenal dengan istriku. Istriku dahulu adalah seorang anak gadis yang cantik, seorang anak yang serba tercukupi oleh harta benda.

Aku menyimpan berjuta hati yang sabar. Sudah tidak terhitung banyaknya kata-kata maupun kalimat yang mengganggu pikiranku. Kata-kata tentang anak yang tidak mirip sama sekali dengan ayah-ibunya. Kalau saya perhatikan memang dari ujung rambut sampai dengan pangkal kaki tidak ada sedikitpun yang mirip denganku maupun dengan ibunya. Apalagi dengan ibuku, ayahku, atau bahkan kakek nenekku. Akupun bingung harus bagaimana menghibur hati dan pikiranku sendiri dengan pertanyaan seperti itu.

Seandainya saja anakku itu cantik dan menggemaskan serta dekat denganku, wah betapa senangnya hatiku. Tetapi menurut perasaanku Wulanjuni selalu menjengkelkanku. Sekarang mau dekat denganku itu karena ditinggal oleh ibunya.

Apakah aku yang egois, tidak begitu memperhatikan dia, atau apakah aku yang terlalu sibuk dengan pekerjaanku sehingga tidak sempat memikirkan Wulanjuni. Barangkali saja dengan kejadian ini, aku dan anakku bisa menjadi lebih dekat lagi.

“Ayah…belikan mainan,” pinta Wulanjuni ketika sampai di kios tempat penjualan mainan-mainan yang bagus.

“Mainan itu harganya mahal, nanti saja ya, kalau sudah bertemu dengan ibu baru kita membeli mainan,” demikian alasanku tetapi yang sebenarnya uangku sudah sangat menipis.

Segala usaha sudah kulakukan untuk mencari istri namun belum juga ketemu. Bahkan sudah kucari sampai ke rumah mertua, tetapi juga tidak ada beritanya. Pak Bawono, mertuaku pun mengatakan kalau istriku tidak pernah datang atau pun berpamitan.

“Beli mainan, ayah….. Eh, itu Ibu….,” kata Wulanjuni dan seketika itu juga dia langsung berlari menyonsongnya, yang membuatku terkejut. Anak itu menubruk dan merangkul erat kaki seorang perempuan yang berpakaian serba warna coklat yang dikombinasikan dengan warna yang lebih muda. Aku terpaksa mengikuti Wulanjuni.

“Oh, aku bukan ibumu, Nak,” perempuan tersebut memandang Wulanjuni dengan muka yang terkejut.

Wulanjuni yang melihat orang tersebut dengan muka tengadah, dan pandangan tajam dengan mulut ternganga.

Aku merasa kasihan kepada anak kecil yang tak berdosa itu. Kemudian kupegang dan kubimbing tagannya agar melepaskan rangkulannya pada perempuan tersebut. Yang jelasnya pasti Wulanjuni sudah sangat rindu kepada ibunya.

“Maaf ya mbak, anakku telah salah melihat,” kataku sambil memandang perempuan tersebut yang ternyata wajahnya mirip ibunya Wulanjuni, baik mengenai hidungnya yang mancung, lesung pipi juga sama hanya potongan rambutnya saja yang berbeda.

“Nggak apa-apa mas, biasa anak kecil,” yang ternyata suaranyapun lebih kalem bila dibanding dengan istriku.

Wulanjuni lupa dengan permintaan untuk membeli mainan karena kubelikan makanan kesukaannya yang kemudian kuajak pulang. Sesampainya  dirumah kemudian Wulanjuni kuserahkan pada Bi Susanti pembantu rumah tangga, karena aku sendiri sangat lelah dan ingin istirahat.

Aku menelusuri angan-angan dan mengingat-ingat kembali kepergian istriku yang tanpa berpamitan. Setelah kuuraikan dan kuteliti satu persatu menurut perasaanaku tidak pernah terjadi permasalahan yang bertentangan denganku dan selama ini akupun tidak pernah berkata-kata apalagi bertindak kasar padanya. Lalu timbul pertanyaan dalam benakku, jangan-jangan dia punya PIL atau Pria Idaman Lain yang memiliki lebih tentang segalanya dari padaku ?

Mertua yang kuminta bantuannya ternyata tenang-tenang saja. Dari perilaku tersebut lalu aku berkesimpulan kalau mertuaku itu bersekongkol untuk membodohiku atau malahan mertuaku sengaja melindungi kepergian isriku karena memang kurang senang denganku.

“Lho, Pak Bawono kan sangat senang kalau mbak Ratri keluar dari rumah itu,” demikian keterangan dari pedagang kaki lima dekat rumah mertua yang saya kunjungi. Kelihatannya pedagang tersebut belum kenal siapa diriku.

“Kenapa kok Pak Bawono tidak senang kalau mbak Ratri berada di rumah, Bu ?” tanyaku untuk menyidik.

“Lha itu, mbak Ratri suka ingin menang sendiri terhadap semua saudaranya. Padahal dia itu sebenarnya bisa dikatakan sebagai orang melarat yang naik derajat,” katanya ringan tanpa curiga sama sekali kepadaku.

Aku menarik napas panjang, mengapa aku dulu tidak pernah bertanya kepada padagang ini terlebih dahulu. Aku memang terpesona oleh kecantikan Ratri, yang sikapnya agak judes tetapi juga sedikit manja. Ternyata punya….

“Kenapa apa anda diam ? Apakah sudah kenal dengannya ?” sebuah pertanyaan dari pedagang tersebut yang mengagetkanku sehingga lamunanku terputus.

“Saya hanya merasa heran bu, mbak Ratri yang mempunyai kecantikan yang seperti itu kok ibu katakan sebagai orang melarat naik derajat ?”

“Apakah anda tidak bisa menerima keterangan tersebut ? Tetapi kenyataannya memanglah demikian. Anak Pak Bawono semuanya laki-laki, kemudian memungut anak perempuan. Oleh karena itu wajah mbak Ratri tidak sama dengan semua saudaranya.”

“O, jadi…..” aku terkejut mendengar berita ini dan seketika kepalaku menjadi pusing. Ekspresiku yang kecewa tidak bisa kusembunyikan lagi. Aku menutup muka sambil menekan pelipis yang terasa nyut-nyutan. Oh ternyata istriku itu anak angkat.

“Mungkin anda pernah mengajaknya kencan ya ? Kelihatannya kok sangat kecewa,” kembali kata pedangang tersebut berseloroh kepadaku.

Kepalaku semakin terasa berat, lalu makanan dan kopi segera kubayar. Makanya mertuaku yang tenang-tenang saja ketika kulapori tentang kepergian Ratri anaknya itu dan sekarang aku sudah mendapat jawabannya.

Ratri selama menjadi istriku tidak pernah bercerita tentang asal-usulnya. Hanya pernah berkata kalau perlakukan terhadap dirinya sangat dibeda-bedakan dengan para saudaranya. Ah, ternyata dunia ini masih banyak rahasia yang tersembunyi dibalik isi hati.

Seminggu sudah peristiwa itu terjadi dan ketika aku masih duduk termangu-mangu di teras rumah, namun dihatiku masih terselip harapan untuk kembalinya Ratri. Pada saat Wulanjuni sedang ditangani oleh Bibi Susanti, kembali angan-anganku bebas membubung ke langit yang tanpa batas.

Pada suatu sore.

“Permisi ikut tanya, apakah benar disini rumah Pak Shasongko ?” tanya lelaki muda itu dan terus naik keteras rumah dan langsung mendekatiku.

“Betul, silakah duduk,” aku menyambutnya dengan penuh pengharapan mengenai kembalinya Ratri, isitriku.
Saya dari Rumah Sakit Sehat Kembali, untuk mengantarkan tagihan kepada Pak Shasongko,” demikian perkataannya yang membuatku terkejut.

“Tagihan tentang apa ?”

“Ibu Ratri istri bapak Shasongko, rawat inap di rumah sakit Sehat Kembali….”

“Rawat Inap ?” aku heran seperti orang bodoh. “Dia tidak berpamitan denganku, lalu sakit apa yang dideritanya ?”

“Tidak tahu secara persis pak, karena saya hanya utusan dari bagian keuangan. Berita yang saya ketahui bahwa wajah Ibu Ratri yang di operasi plastic dan tidak cocok lalu menjadi rusak….”

“Lalu, bu Ratri sekarang berada dimana ?” aku berdiri.

“Oleh karena Ibu Ratri keluar rumah sakit tanpa permisi maka tagihan ini saya bawa kemari,” demikian jawaban lelaki muda tersebut.

“Ha ?!” kepalaku yang sudah beberapa hari terasa pusing, kini sudah tidak bisa diajak berdiri tegak lagi.

 

-o0o-

Untuk saudaraku para pembaca terutama di lingkungan sendiri, gubahan cerita diatas hanya merupakan sekedar contoh kejadian saja dari sekian banyak masalah yang terjadi, melalui reka ceritera tentang TOPENG WAJAH CANTIK merupakan suatu peristiwa yang dapat kita ambil hikmahnya sebagai pesan moral dan bahan perenungan dalam kehidupan kita sehari-hari bermasyarakat.

Topeng

Pengertian tentang Topeng atau yang dimaksudkan dengan Topeng adalah sebuah benda yang biasa dikenakan dan terletak hampir sempurna menutupi wajah aslinya dengan menampilkan bagian dari karakter tertentu manusia. dan menutupi karakter aslinya.

Topeng Wajah Cantik

Yang dimaksudkan dengan Topeng Wajah Cantik adalah sebuah ilustrasi yang merupakan salah satu bentuk dari Topeng Kehidupan dan bukanlah mengenai benda yang sebenarnya. Adapun dalam mengenakan topeng kehidupan adalah sama seperti halnya mengenakan topeng pada umumnya yang juga menutupi bagian wajah yang mencerminkan karakter asli dari si pemilik topeng. Dengan perkataan lain bahwa topeng kehidupan adalah sebuah karakter baru yang sengaja dibuat untuk menampilkan kesan yang baru dan yang lebih menarik atau sebaliknya.

Karena sebuah Topeng bisa saja tampil dengan wajah cantik, menawan, tersenyum atau intinya menyenangkan yang artinya bahwa sipemakai topeng tersebut dalam mencapai tujuannya bisa menyesuaikan diri, membaur dengan lingkungan dan disukai.

Ada pula Topeng yang bertampang keras, tegas, galak dan sebagainya yang mungkin saja bahwa si pemakai dalam mengenakan topeng ini dalam tekanan atau keharusan.

Misalnya saja, seorang petugas ketertiban yang harus menertibkan pedagang kaki lima dengan tegas karena menjalankan tugas atau perintah walaupun dalam hatinya tidaklah nampak seperti apa yang dilakukan.

Sebuah pelajaran yang bisa diambil dari gambaran sebuah patung yang ditatahkan dengan muka tersenyum, walau apapun yang terjadi dengan patung tersebut, dia akan tetap dengan ekspresi yang sama, tetap tenang, terlihat bahagia dan selalu tersenyum.

Dari Patung tersebut mengajarkan suatu hal yaitu tentang bagaimana manusia bisa membohongi orang lain dengan topeng ekspresi yang mereka miliki dan pastinya manusia memiliki lebih banyak topeng yang bisa menutupi perasaan yang sebenarnya.

“Jadi intinya, orang lain tidak akan pernah tahu apa yang di rasakan oleh seseorang apabila sedang menggunakan topeng untuk menutupinya.”

Contoh, misalnya :

Orang bisa saja terlihat bahagia walaupun sebenarnya sedang bersedih, hanya karena menggunakan topeng senyuman.

Atau bahkan iblis supaya tidak terlihat menakutkan dan tujuannya terlaksana bisa saja menggunakan topeng malaikat agar terlihat ramah dan bisa dipercaya.

Apalagi jika membaca buku cerita bergambar/komik atau melihat film tentang “pahlawan super atau super hero”, dimana pahlawan tersebut selalu digambarkan dengan mengenakan topeng pada saat beraksi. Dan hal itu bisa dibaca pada komik atau disaksikan di film-film, seperti Gundala, Zorro, Spiderman, Batman, The Flash, Dare Devil, Captain America dll.

Bahkan Godam, Maza, Hulk walaupun tidak bertopeng tetapi dia berubah penampilan dan Superman meski juga tidak mengenakan topeng, tetapi dia tetap melakukan “penyamaran” atas jati dirinya yang sebenarnya; sehingga dengan demikian tidak ada seorangpun mengetahui siapa sebenarnya mereka.

Keadaan seperti itupun terjadi di dalam kehidupan sehari-hari manusia dalam bermasyarakat, dan kebanyakan dari mereka memakai “topeng” atau “menyamar.” Dan topeng atau samaran tersebut berfungsi sebagai sarana untuk mencapai tujuan yang terpendam atau untuk menyembunyikan diri hal yang sebenarnya terjadi, bisa dari celaan atau mungkin karena tidak bisa diterima oleh keadaan yang penuh dengan pergolakan, ancaman dan dimana harta dan rupa yang menjadi pujaan.

Mungkin sering mendengar ucapan seperti ini :

Nanti jangan begitu ya, kita kan nggak enak dengannya, karena dia  yang dituakan di kampung ini.”

Atau begini :

Nanti pada saat kita bertemu dia, kita harus bergaya sesuai dengan apa yang diinginkan. Karena dia kan orang dari golongan kelas atas, kalau kita tidak bisa menyesuaikan diri, maka kita tidak akan diterima di  lingkungannya.”

Atau seperti yang ini :

“Nanti kalau bertemu dia, kita harus bersikap merendah saja. Karena dia orang yang gila hormat, jika tidak maka kita tidak akan dianggap olehnya.”

Dan masih banyak lagi pendapat atau komentar orang lain, sehingga manusia seringkali terjebak dalam budaya kepura-puraan dengan memakai topeng kehidupan untuk selalu menyembunyikan wajah aslinya. Disamping membohongi orang lain dia bahkan berani membohongi nurani diri sendiri, asalkan mendapatkan rupa dan harga yang lebih di hadapan  manusia di sekitarnya.

Tujuan mengenakan Topeng Kehidupan

Banyak hal yang bisa menjadi dasar atau alasan bagi si pemilik topeng ini untuk mengenakan topeng kehidupannya sendiri.

Seharusnya menjadi sebuah bahan pemikiran ketika melihat semakin  banyak orang yang mengenakan topeng kehidupan yang artinya semakin banyak pula orang yang belum mau memahami tentang dirinya sendiri.

* Ada yang tampak sangat baik di luar, namun sangat ‘hancur’ di mata orang terdekatnya
* Ada yang tampak sangat kejam di luar, namun sangat penyayang di mata orang-orang terdekatnya
Namun, ada pula yang selalu baik di manapun mereka berada.
Orang yang mempunyai salah satu sisi kehidupan yang buruk, cenderung mamakai topeng dalam kehidupannya.
* Ada yang memakai topeng saat bersama orang-orang terdekatnya.
* Ada yang memakai topeng saat berada dalam pergaulan.
Semua kembali kepada prioritas kehidupannya
Bila termasuk orang yang sangat peduli apa kata orang lain. Manusia cenderung berakting seolah-olah baik dan sempurna di depan orang lain…
* Memakai topeng saat berada di lingkungan dan dalam pergaulan dengan teman-temannya.
Bila termasuk sebagai orang yang sangat peduli dengan orang-orang terdekatnya, maka orang tersebut cenderung menutupi semua masalah dan kekurangan yang di milikinya pada saat bersama orang-orang terdekatnya.
* Memakai topeng saat bersama orang-orang terdekatnya…
Mungkin ini ironis, tapi memang begitulah kenyataannya..
Yang terbaik tentu saja menjadi orang yang tidak mengenakan topeng namun selalu baik setiap saat…

 

Hal tersebut bisa terjadi antara lain karena :

Ada yang ingin membuat kesan menjadi lebih baik ataupun lebih menarik, tanpa mau mengusahakan untuk memperbaiki sikap agar menjadi yang lebih baik.

Ada yang ingin terlihat hebat, tetapi tidak mau berusaha menempuh proses dengan menempa diri serta memeras keringat agar menjadi diri yang hebat tanpa ada unsur mengorbankan orang lain.

Ada yang ingin mendapatkan pujian ataupun sanjungan, tanpa mau berusaha untuk menjadikan dirinya sendiri agar layak dan patut untuk mendapatkan pujian tersebut tanpa adanya unsur kesombongan.

Ada yang berbicara untuk memberikan nasehat dan itu memang lebih mudah daripada melakukannya sendiri, tetapi tidak mau berusaha untuk belajar melakukan apa yang telah di nasehatkan untuk orang lain.

Semua itu memang sulit untuk dilakukan, dan itu sudah pasti. Akan tetapi bahwa sulit itu bukan berarti tidak bisa dilakukan, hanya perlu waktu dan proses. Oleh karena itu sebaiknya jangan ingin menjadi seperti itu, yang hanya bersembunyi di balik topeng kehidupan yang penuh dengan ilusi hasil ciptaan sendiri.

Memakai topeng tiap hari

Jika diperhatikan dalam kehidupan sehari-hari banyak sekali orang yang cenderung mengenakan topeng kehidupan. Ada topeng yang berkarakter tertawa, menangis, marah, empati, prihatin dan ada pula topeng dengan sekian banyak ekspresi yang berbeda.

Dan ada pula manusia yang pada setiap harinya bisa berganti-ganti dengan tiada henti mengenakan topeng dengan berbagai karakter, guna memenuhi tuntutan kehidupan di sekelilingnya. Setiap kali situasi berubah, setiap kali pula topengnya dilepas dan diganti dengan karakter yang lain.

Sehingga akhirnya, dia sendiri pun menjadi ragu dan bingung menemukan jati diri yang sesungguhnya. Bahkan ada pula yang sampai membutuhkan pertolongan psikiatri atau psikolog untuk menolong penemuan jati diri sebenarnya.

Pendapat atau penilaian terhadap Topeng Kehidupan.

Dengan memperhatikan dari sebuah percakapan, maka barulah dapat memberikan pendapat atau penilaian terhadap Topeng Kehidupan.

“Sudah lega rasa hatiku, setelah menghadap pimpinan proyek tersebut,” kata seorang kepada rekannya.

“Mengapa harus merasa begitu ?” temannya balik bertanya.

“Aku kan harus bisa mengambil hati dan berpura-pura setuju dan mendukung semua kebijakannya, agar tender ku bisa menang,” jawabnya.

Bentuk pernyataan seperti diatas atau yang mirip-mirip seperti itu, mungkin sering kita dengar dan sudah menjadi hal yang biasa. Berpura-pura atau memakai topeng untuk menghadapi pimpinan atau orang-orang tertentu agar apa yang diinginkan tercapai.

Sehubungan dengan hal tersebut banyak pendapat atau penilaian yang berbeda muncul tergantung dari sudut pandangnya masing-masing, antara lain sebagai berikut :

* Ada yang mengatakan bahwa hal seperti itu adalah merupakan bagian dari cara berunding  atau diplomasi.
* Ada yang berpendapat bahwa itu adalah suatu cara untuk mencapai kesepakatan yang wajar atau bernegoisasi.
* Ada pula yang mengakatakan bahwa hal tersebut adalah membujuk dengan halus agar orang menjadi yakin (persuasive).
 
* Bahkan ada pula yang mengatakan bahwa cara seperti hal itu adalah sebuah kemunafikan.
Lalu bagaimana dengan pendapat kita sendiri, mengenai hal tersebut diatas  ?

 Memakai Topeng dengan bijak atau dalam hal tertentu.

Berpura-pura atau dengan istilah memakai topeng sebenarnya tidaklah sepenuhnya salah dan boleh-boleh saja, tetapi itu hanya bersifat sementara dan tidak menetap pada diri seseorang.

Sifat kepura-puraan yang hanya sementara itu tidak menjadi satu bagian kepribadian, sebab sikap yang ditunjukkan pada waktu di hadapan orang lain itu hanya untuk merespon suatu keadaan agar suasana menjadi aman. Karena didalam kondisi seperti saat itu memang mengharuskan seseorang untuk bersikap pura-pura.

Namun apakah yang menjadi dasar bahwa seseorang mengenakan topeng tersebut  : – Apakah ingin berbohong dan mau menutupi sesuatu ?

– Apakah untuk maksud yang baik atau sebaliknya ?

– Ataupun dengan alasan yang lainnya.

Contoh peristiwa dengan berbohong untuk menutupi sesuatu :

Kebohongan seorang ibu yang pada hakekatnya adalah rasa sayang dan untuk menutupi hal yang sebenarnya.

*). Pada saat makan, ketika makanan kurang, Ibu akan memberikan jatah makanannya kepada anaknya sambil berkata : “Cepatlah makan, ibu tidak lapar.”

*). Waktu makan, Ibu selalu menyisihkan ikan dan daging untuk anaknya dengan berkata, “ibu tidak suka daging, makanlah nak,”

*), Tengah malam saat dia sedang menjaga anaknya yang sakit, ibu pasti berkata : “Istirahat dan tidurlah nak, ibu masih belum ngantuk….”

*). Saat menjelang usia tua, ibu sakit keras, anaknya akan menangis, tetapi ibu itu masih bisa tersenyum sambil berkata : “Jangan menangis, ibu tidak apa-apa.”

Contoh peristiwa dengan maksud baik agar aman untuk semuanya :

Sebuah panggilan melalui telepon untuk seseorang yang telah dinyatakan lulus ujian tertulis agar menghadap untuk tes wawancara.

Dengan mendengar nada suara jawaban di telepon pada saat berbicara, timbul suatu penilaian dalam pikirannya bahwa orang tersebut pasti berpenampilan elegant dan berwajah cantik, anggun dan sudah tepat untuk ditempatkan sebagai penerima tamu di perusahaan.

Singkat cerita, datanglah orang tersebut dan pada saat ketemu ternyata terdapat ketidak sesuaian persepsi tentang diri orang itu atau dengan perkataan lain bahwa sosok orang itu tidak seperti yang di bayangkan semula atau berbeda sama sekali, pada saat menerima telepon darinya.

Kemudian kira-kira apa yang akan di lakukan ?

Apakah dengan terus terang berkata seperti ini :

Saya pikir anda orangnya cantik, anggun dan tinggi semampai. Ternyata wajah anda tidak menarik, pendek dan gemuk, jadi tidak sesuai untuk menjadi penerima tamu di perusahaan kami.”

Atau harus bersikap bagaimana  ?

Jika berkata dengan jujur atau sebuah kejujuran yang disampaikan seperti itu suasana bukan menjadi lebih baik, tetapi justru membuat orang tersebut akan menjadi sangat marah karena tersinggung hatinya.

Sebenarnya pada saat seperti inilah seseorang diperkenankan memakai “topeng”, untuk menutupi hal sesungguhnya yang seharusnya di ucapkan. Dengan mengenakan “topeng”,  bisa saja berkata kepada orang pelamar pekerjaan tersebut demikian :

“Senang sekali bisa bertemu dengan Anda, sesuai dengan perkiraan saya bahwa anda orangnya ramah dan memenuhi kriteria untuk bisa menjadi penerima tamu di perusahaan ini. Akan tetapi karena jumlah yang diperlukan sangat terbatas sedang jumlah peserta yang lolos banyak, maka akan dilakukan seleksi lebih lanjut oleh tim.

Sehubungan dengan hal tersebut, tunggu saja di rumah karena akan dikirim surat pemberitahuan bagi para perserta, bahwa yang bersangkutan lolos atau gagal.”

Dalam keadaan seperti inilah mengenakan “topeng” memang dibutuhkan untuk suatu tujuan yang baik bagi orang lain maupun bagi diri sendiri dalam menjalani kehidupan ini.

Tetapi yang terpenting dalam hal ini adalah jangan “keterusan mengenakan topeng”, sampai menjadi bagian kepribadian, bila hal itu yang di lakukan, maka tidak bisa menjadi diri sendiri.

Bagaimana dengan adanya Topeng.

Topeng sudah dianggap sebagai sesuatu benda yang wajib di kenakan, jika ingin mendapatkan persetujuan dari lingkungan masyarakat dimana dia berada. Banyak orang hidup dengan memakai “topeng” untuk menyembunyikan perasaan yang sebenarnya.

Setiap manusia boleh saja dan sah-sah saja mengikuti saran-saran orang lain, tetapi saran orang lain itu harus disesuaikan dengan keadaan dirinya sendiri. Artinya dalam mengikuti saran dan pendapat orang lain, janganlah langsung diterima dan ditelan mentah-mentah saja.

Yang menjadi persoalan sekarang ini adalah di dalam menjalani kehidupan ini, seringkali manusia bertindak dan bersikap yang tidak seperti dirinya sendiri, berbicara tidak sebagai diri yang sebenarnya.

Dengan perkataan berbeda sering bertindak atas dasar keinginan orang lain, atas dasar senyuman atau cibiran orang lain; dan ini sudah menjadi suatu kebiasaan umum yang berlaku di masyarakat, bahwa jika akan melakukan segala sesuatu tindakan hendaknya melihat lebih dulu ke “persetujuan” orang lain atau lingkungan.

Dan seakan-akan sudah menjadi hal yang wajar, kalau seseorang bersikap di dalam pergaulan masyarakat harus memakai “topeng” agar bisa diterima oleh lingkungannya. Jika memaksakan diri hendak menjadi diri sendiri, seringkali membuat sulit membaur ke dalam lingkungan tempat dimana dia berada.

Jadi sebaiknya manusia harus bagaimana dengan topeng tersebut ?

Sebaiknya melepaskan topeng dan menjadi diri sendiri.

Sekarang mari kita melihat tentang keadaan diri kita sendiri, apakah kita juga mengenakan topeng ?

Jikalau selama ini kita memang mengenakan topeng, apakah topeng tersebut sudah kita kenakan pada saat yang tepat ketika bersama orang-orang terdekat kita ?

Yang harus diingat adalah bahwa dalam hal mengenakan topeng itu hanya kadang-kadang saja atau sementara dan bukan untuk selamanya.

Hal yang penting untuk menjadi diri sendiri adalah belajar melihat dan menilai keadaan diri sendiri dengan baik dan sebenarnya. Karena dalam hal menilai diri sendiri banyak orang yang cenderung menilai diri sendiri jauh lebih rendah atau jauh di bawah kemampuan diri yang sebenarnya atau cenderung menganggap remeh potensi diri.

Dengan jalan belajar melihat diri sendiri dengan benar, maka jalan  sudah terbuka lebar untuk bisa menjadi diri sendiri, dan untuk selanjutnya  tidak perlu lagi memakai “topeng” kehidupan.

Seseorang harus bisa mengenal dan mengetahui potensi diri sendiri, baik mengenai kelebihan dan kekurangannya atau kekuatan dan kelemahannya serta bisa menerima kegagalannya, maka hal itu akan memudahkan untuk mengembangkan semua kekuatan atau kelebihan, perbaikan dan peningkatan kualitas yang dipunyai; sehingga hal itu akan menutupi kelemahan atau kekurangan diri.

Sebab Masing-masing manusia diciptakan oleh Tuhan sebagai sosok  pribadi yang memiliki keunikan tersendiri, dengan segala kekurangan dan kelebihannya dan di dunia ini tidak ada yang sama segalanya. Dan ini merupakan sebuah anugerah dari Yang Maha Pencipta yang harus di syukuri.

Kalau bisa menjadi diri sendiri dengan segala keunikan, dengan segala kekurangan dan kelebihan yang ada, maka  akan jauh lebih baik daripada seseorang yang terpaksa memakai “topeng” untuk bertahan terhadap tekanan kehidupan modern sekarang ini.

Ada yang mengatakan :

 “Aku lebih baik di benci sebagai diriku yang sebenarnya, ketimbang jadi munafik untuk di sukai banyak orang. Aku adalah aku.”

Menjadi diri sendiri bukan berarti membenarkan segala tindakan yang di lakukan, dan tidak mengindahkan dampaknya bagi orang lain. Jadi menjadi diri sendiri mengandung arti, harus tetap ada keseimbangan dan keharmonisan serta bersikap adil antara diri sendiri dengan alam atau lingkungan sekitarnya dimana berada.

Orang harus adil, dalam arti harus bisa dan mau mempertimbangkan segala kemungkinan yang akan terjadi dengan kehadiran jati diri ini di lingkungan di tempat dimana dia berada. Dan bukan menjadi diri sendiri secara membabi buta tanpa mempertimbangkan kepentingan orang lain.

Melepas “topeng” dan menjadi diri sendiri dengan cara bijaksana; ini perlu di lakukan dengan kesungguhan hati.

Mari berubah menjadi pribadi yang terbaik bagi semua orang, mulai dari orang-orang terdekat kita… sebelum semuanya terlambat…serta  hancur dan tak lagi berarti.

Ada ungkapan yang mengatakan bahwa :

“Sebuah buku yang dikatakan baik bukanlah ditentukan oleh baik buruk sampul pembungkus-nya tetapi ditentukan oleh kualitas dari isi buku yang disampaikan-nya.”

 

-o0o-

 

Jadilah diri sendiri dan jangan ingin menjadi seperti orang lain, seperti sebuah anekdot dibawah ini :

Mario Teguh berkata dalam sebuah Seminarnya :

“Tahun-tahun terbaik dalam hidupku….

Kuhabiskan bersama seorang wanita, yang bukanlah istriku.”

Dengan tarikan nafas mendalam…..

Semua hadirin terkejut….dan terpaku…dan merasa tidak percaya….

Kemudian Mario Teguh menambahkan :

“Ia adalah Ibuku,” dengan wajah tersenyum bangga….

Tawa hadirin segera pecah dalam gemuruh yang disertai tepuk tangan….

Mukidin yang baru pertama kali ikut dalam seminar tersebut, kemudian mencoba hal itu di rumah untuk bercanda dengan istrinya.

Sebelum makan malam…, Mukidin berkata kepada istrinya yang sedang memasak di dapur :

“Sayang…, tahu enggak kamu….

Bahwa aku habiskan tahun-tahun terbaik dalam hidupku….

Bersama seorang wanita yang bukan istriku…,” katanya sambil menunduk….

Mukidin berhenti sejenak……..lalu memejamkan matanya….….dan dia berusaha untuk mengingat-ingat kalimat terakhir yang diucapkan Mario Teguh….?

Ketika akhirnya bisa membuka mata….Mukidin mendapati dirinya berbaring di UGD sebuah rumah sakit….

Dan baru mendapatkan Perawatan intensif akibat di hajar ULEKAN oleh istrinya….

Mukidin…. Mukidin, Super Sekali…Benjolnya…!!!

 

-o0o-

BANDUNG–INDONESIA, AUGUST – 2016

Cerita : Harwimuka

(Gubahan Ki Ageng Bayu Sepi)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *