I B U

ibuSEPANJANG KEHIDUPAN MANUSIA, SOSOK SEORANG IBU  TIDAK AKAN PERNAH BISA TERGANTIKAN, SEBAGAI SEORANG YANG PENUH KASIH SAYANG YANG MEMBERIKAN SEGALANYA TANPA BALAS JASA.

DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARINYA, IA MENJADI GURU YANG TAK PERNAH DIGAJI, MENJADI PEMBANTU YANG TAK PERNAH DIBAYAR, MENJADI PELAYAN YANG SERING LUPA UNTUK DIHARGAI JUGA SEBAGAI PENJAGA BAYI YANG PALING SETIA. TERKADANG MENJADI SEORANG BIDADARI YANG HARUS BERNYANYI MERDU MENGHIBUR DAN MENIDURKAN ANAKNYA.

white-letter-k-hi

etika masa mudanya dahulu Bu Sukmayani adalah seorang guru pada Sekolah Dasar Negeri, dengan mengenakan baju warna hitam yang bermotifkan bunga kini sedang duduk di sebuah kursi dan dia masuk Panti untuk Orang yang Usia Lanjut sudah selama kurang lebih tujuh tahun, semenjak suaminya dipanggil menghadap Yang Maha Kuasa. Sedangkan anak-anaknya sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.

Dalam usia yang sudah mencapai lebih dari tujuh puluh tahunan dan rambutnyapun sudah memutih serta sudah menjadi jarang karena rontok, namun semangat hidupnya masih tetap tinggi apalagi jika sedang menceritakan tentang anak-anaknya.

Anak pertamanya, lelaki bernama Hendra menjadi pengusaha property sedangkan anak yang kedua adalah perempuan bernama Ratna, dia seorang sekretaris di sebuah perusahaan yang besar. Dan mengenai ini adalah hal yang  paling sering dia ceritakan.

“Mohon maaf bu, sekarang saya akan menyisir rambut ibu,” kata Erna seorang pegawai Panti yang dengan lembut berkata kepadanya sambil memegang sebuah sisir yang berwarna hijau.

“Sudah terima kabar dari Hendra, nak  Erna ?” tanya Bu Sukmayani. Dan itu merupakan pertanyaan yang harus selalu dijawab pada setiap pagi ketika Erna memasuki kamar Bu Sukmayani.

“Belum ada, Bu Sukma,” jawabnya.

“Kalau dari Ratna, apakah sudah ada telepon dari dia ?” tanyanya lagi.

“Juga belum ada, Bu,” jawab Erna pula.

“Nak Erna, anakku Hendra sekarang sudah menjadi orang yang berhasil, jika berangkat bekerja dia mengenakan jas hitam dan berdasi serta bersepatu mengkilat,” katanya serius sambil memegang kepala dengan kedua tangannya.

“Dan tadi pagi mengapa tidak mau makan ?” tanya Erna sambil memperhatikan tangan Bu Sukma yang sedang memijit-mijit kepalanya.

“Saya sangat ingin sekali bertemu dengan Hendra dan Ratna, Nak Erna,” jawabnya.

“Bu Sukma, kenapa kepalanya dipijit-pijit ?  Apakah kepalanya sedang terasa sakit, Bu ? Kalau begitu tunggu sebentar akan saya ambilkan obat dulu,” kata Erna.

“Tidak usah nak Erna, aku tidak apa-apa, hanya hati ini sangat ingin sekali bertemu Hendra, Nak.” Mendengar jawaban seperti itu Erna kembali duduk di samping Bu Sukma untuk menemaninya.

“Waktu kecil dahulu hingga berumur tiga tahun dia selalu kugendong kesana-kemari. Apalagi kalau suhu badannya sedang panas atau sedang sakit dia sama sekali tidak mau diturunkan. Meminta apapun selalu kupenuhi keinginannya dan kucarikan walaupun keadaanku saat itu tidak memungkinkan. Aku sudah sangat rindu padanya, Nak…”

Erna hanya bisa menjawab pertanyaan tersebut dengan cara menggemgam erat tangan Bu Sukmayani.

“Sabar saja ya Bu, sekarang ini Mas Hendra dan mBak Ratna kan sedang bekerja, mungkin banyak sekali pekerjaan yang harus diselesaikan hingga belum sempat berkunjung kemari,” demikian penjelasan Erna untuk menenangkan perasaan hati Bu Sukmayani.

“Nanti sore, akan saya coba untuk menilpon Mas Hendra dan mBak Ratna. Tetapi ibu harus sabar ya …..” lanjutnya kemudian.

Memang sudah beberapa tahun ini Hendra tidak pernah mengunjungi Panti ini begitu juga dengan Ratna, yang sejak pertama menitipkan ibunya ke Panti pada tujuh tahun yang lalu dan untuk seterusnya tidak pernah datang untuk menengoknya.

Berkali-kali Erna menghubungi lewat telepon Panti dan tidak pernah diangkat. Kalaupun  kebetulan diangkat, telepon tersebut segera ditutup kembali dengan alasan sedang sibuk untuk menyelesaikan pekerjaan kantor.

Pada setiap bulannya, selalu ada orang sebagai suruhan keluarga Bu Sukmayani yang datang ke Panti. Yang kurang bisa dimengerti adalah, apabila  suruhan tersebut setiap kali ditanya selalu menjawab bahwa Mas Hendra dan mBak Ratna sangat sibuk, sehingga belum bisa berkunjung.

“Nak Erna, badanku rasanya sangat lelah sekali,” keluh Bu Sukmayani sambil merintih. “Aku ingin tidur saja sekarang, ya ,” lanjutnya kemudian.

“Apakah Bu Sukma tidak akan ikut kegiatan pada hari ini ?” tanya Erna sambil tersenyum, karena Bu Sukmayani adalah orang yang paling semangat dalam mengukuti setiap kegiatan yang diadakan di Panti. Kegiatan tersebut sudah disusun dan terjadwal sesuai dengan urutan waktu untuk setiap harinya..

“Tidak nak, seluruh badanku rasanya sangat lelah, aku ingin istirahat dan sekarang sudah waktunya untuk istirahat,” jawabnya sambil memandang keluar jendela. Tangannya yang digenggam Erna terasa hangat, dan dalam pikiran Erna mengatakan bahwa Bu Sukmayani tidak apa-apa dan dia sehat-sehat saja, hal tersebut terjadi mungkin juga karena kelelahan.

Di bagian bawah tempat tidur dekat kaki Bu Sukmayani terdapat sebuah selimut yang sudah dilipat, kemudian oleh Erna diambil dan dibuka serta dikenakannya pada Bu Sukmayani. Pada musim kemarau seperti saat ini udara memang terasa sangat dingin, apalagi tadi pagi ketika selesai mandi walaupun menggunakan air hangat tetapi masih juga terasa dinginnya.

Setelah itu Erna menyusun bantal tipis dengan menumpuknya agar lebih tinggi untuk menyangga badan tua Bu Sukmayani yang sudah rapuh tersebut.

Dalam keadaan tiduran dengan pandangan mata keatas menerawang jauh mengingat masa yang telah sekian puluh tahun terlewati Bu Sukmayani mendendangkan sebuah tembang jawa seakan anak-anak yang disayanginya masih dalam gendongannya.

“Tak lelo-lelo lelo ledung, Cup menenga aja pijer nangis

Anakku sing ayu (bagus) rupane, Yen nangis ndak ilang ayune (baguse).

 

Tak gadang bisa urip mulyo, Dadiyo wanito (satriyo) utomo

Ngluhurke asmane wong tuwa, Dadiyo pendekaring bangsa

 

Wis, cup menenga anakku, Kae mbulane ndadari

Kaya ndas butho nggegilani, Lagi nggoleki cah nangis

 

Tak lelo lelo lelo ledung, Enggal menenga ya cah ayu (bagus)

Tak gendong slendang bathik kawung, Yen nangis mundak ibu bingung.”

Bila diterjemahkan dalam bahasa Indonesia adalah sebagai berikut  :

“Tak lelo lelo lelo ledung, Diamlah jangan menangis terus

Anakku yang cantik, Kalau menangis nanti hilang cantiknya.

 

Kudoakan agar hidupmu mulia, Jadilah wanita utama

Mengharumkan nama orang tua, Jadilah pahlawan bangsa

 

Sudah diamlah anakku, Lihatlah bulannya sedang purnama

Seperti raksasa yang menakutkan, Mencari anak yang sedang menangis

 Tak lelo lelo lelo ledung, Cepat diamlah anakku yang cantik

Kugendong dengan kain batik kawung, Kalau menangis membuat ibu bingung….”

Semakin perlahan suara tembang atau nyanyian Bu Sukma terasa dingin yang membuat hati merasa sedih dan pilu. Suara itu masih terdengar merdu yang berkumandang menunggu kadatangan anak-anak yang disayanginya. Begitu juga dengan pandangan matanya yang terlihat kosong mencoba untuk mengingat-ingat kejadian yang sudah lampau.

Kemudian Erna melangkah keluar meninggalkan ruangan kamar tersebut, dan suara tembang tersebut semakin lama semakin kurang jelas kalimatnya.

Tidak beberapa lama kemudian, HP yang berada di saku Erna berdering. Di layarnya tidak tertera nama, namun hanya memuat nomor telepon. Kemudian oleh Erna tooth yang berlambang telepon dan berwarna hijau itu ditekan dan kemudian HP tersebut di dekatkan ke telinganya.

“Hallo….. ?” demikian katanya.

“Bu, ini saya Mega, Ibu sekarang berada di Rumah Sakit Kabupaten,” terdengar suara telepon dari seberang.

Suara tersebut seperti suara Mega, gadis muda tetangga sebelah rumah yang dikenalnya..

“Ibu ?” Erna mencoba memastikan tentang kata “ibu” tadi.

“Ya, benar Ibu Kurniasih, ibunya Bu Erna.”

Mendengar hal itu Erna terkejut bukan kepalang karena tidak pernah menyangka, memang selama ini ibunya selalu ditinggal dan berada dirumah sendirian pada setiap harinya.

“Apakah ini dengan mbak Mega, putri Bu Lina  ?”

“Betul Bu, dan sekarang ibu sedang diperiksa dokter,” jawabnya dengan jelas.

“Ya mbak, sekarang saya kesana.”

“Ya Bu, tapi jangan terburu-buru dan harus berhati-hati di jalan,” bunyi pesan dari seberang untuk Erna, yang malahan menjadikan Erna sangat bingung sekali, dengan berbagai macam penafsiran berada di kepalanya ketika menerima pesan tersebut.

Seketika itu juga badannya menjadi tidak keruan rasanya, jatungnya berdegub keras, pikirannya pun bingung.

Ibu…, ibu…, ibu…. hanya itu yang ada dalam pikrannya, lalu dengan cepat segera menuju ruang kantor untuk mengambil tas dan konci kontak motor serta  menghadap Bu Tanti.

“Selamat siang Bu Tanti, saya mohon ijin akan kerumah sakit.”

“Siapa yang sakit ?”

“Ibu….”

“Bagaimana keadaannya sekarang.?”

“Masih belum jelas , Bu.”

“Sabar dan hati-hati di jalan ya Bu,” pesan Bu Tanti.

Motor matic merah yang sedang distandar miringkan dihadapannya segera diberdirikan  dan  distarter.

“Rhenngg….teng…teng….teng…teng…teng….!”

Kemudian segera berangkat dengan kecepatan 60 Km/jam agar segera sampai ditemapat yang dituju, suaranya menderu dengan nyaringya.

“Bagaimana mbak, keadaan ibu ?” tanya Erna kepada tetangga sebelah rumah yang berada di hadapannya.

“Alhamdulillah, keadaannya sekarang sudah berangsur membaik. Ibu yang semula berada di ruang ICU sekarang sudah dipindahkan ke kamar 108-A,” dan jawaban tetangga tersebut membuat hati Erna yang semula gugup dan bingung kini sudah mulai agak tenang kembali.

“Mohon maaf ya mbak, saya sudah sangat merepotkan,” kata Erna.

“Nggak apa-apa Bu,” jawabnya dan tangannya menunjuk kearah kamar 108-A. “Kata dokter, ibu menderita sakit typus,” lanjutnya kemudian.

“Bagaimana lagi ya mbak, akhir-akhir ini memang ibu makannya kan agak susah. Pekerjaannya selalu bersih-bersih dihalaman belakang. Dilarang pun juga sulit, dan itu merupakan kebiasaan orang yang sudah sepuh pada umumnya untuk mengisi waktu dengan kegiatan,”

“Sama Bu, ibu saya pun juga demikian.”

“Tadi kejadiannya bagaimana, mbak ?” tanya Erna.

“Awal kejadianya saya tidak mengerti Bu, tetapi yang saya tahu ketika ibu sudah tergeletak di halaman belakang rumah.”

“Aduh, Mohon maaf ya mbak, saya sungguh sangat merepotkan…”

Erna masih belum bisa sepenuhnya hatinya tenang, apalagi ketika memasuki ruang pojok lantai 1 tersebut di kiri kanan lorong dia melihat ada pasien-pasien yang sedang tergeletak dan di dorong dengan mempergunakan tempat tidur yang beroda. Sedangkan tangannya tersisipi selang infuse.

“Aduh, ibu…” jeritnya dalam hati.

Sampai ruang 108-A, di depan pintu yang bercat putih itu Erna membuka dengan mendorong sedikit demi sedikit. Terlihat ibu tergeletak dikasur dengan seprei warna putih, tangan kirinya di infuse dengan cairan yang berwarna pink.

“Bu, saya mohon maaf yang sebasar-besarnya.”

“Enggak nak, aku tidak apa-apa.”

“Bagaimana keadaan ibu sekarang ?”

“Sudah agak mendingan, badan sudah terasa enak karena baru saja diberi suntikan oleh dokter.”

Mendengar jawaban tersebut tanpa terasa air mata Erna mengalir membasahi pipinya.

Beberapa hari ini ibunya memang agak susah makan. Padahal tadi pagi sebelum berangkat bekerja ke Panti, Erna sudah memasak apa yang menjadi kesukaan ibunya, yaitu goreng tahu, sambal goang atau sambal korek dan sayur asem.

Bahkan sudah diingatkan untuk tidak melakukan pekerjaan membersihkan di halaman belakang,  atau mencuci piring sekali pun.

“Bu, saya minta maaf, saya tidak ingin menambah repot ibu. Bu, saya benar-benar minta maaf….” kata Erna sambil menitikkan air mata.

“Sudahlah nak, ibu tidak apa-apa, sekarang cepat kamu kembali ketempat kerjamu, jangan sampai nanti dicari dan ditegur oleh Bu Tanti,” permintaan Bu Kurniasih kepeada Erna.

Ibu Kurniasih memang pernah diajak Erna berkunjung ke Panti, kemudian berkenalan dengan kepala dan teman-teman kerjanya, demikian juga dengan para pasien.

“Tidak bu, tadi saya sudah meminta ijin,” jawab Erna sambil menangis  sesenggukkan.

Ketika waktu menunjukkan tepat jam sebelas siang, Erna mendapat berita melalui telepon dari Bu Tanti sebagai Kepala Panti yang isinya memberitakan bahwa Bu Sukmayani telah meninggal dunia. Sebenarnya tadi siang sudah sempat dibawa ke rumah sakit tetapi ketika diperjalanan jiwanya sudah tidak tertolong lagi, akibat dari komplikasi penyakit yang dideritanya.

Erna kembali menangis disamping ibunya dan merasa menyesal mengapa  tidak segera berusaha untuk menghubungi Hendra dan Ratna, ketika Bu Sukmayani masih bersemangat dan selalu menanyakan berita tentang anak-anaknya begitu juga ketika menceritakan tentang anak-anaknya.

“Ada apa, nak ?” tanya Bu Kurniasih yang berada disebelahnya ketika melihat wajah Erna yang sedih dan mengalirkan air mata.

“Ah, nggak apa-apa  Bu. Bu Sukmayani sudah dipanggil menghadap Tuhan Yang Maha Kuasa.”

“Inalillahi wa inailaihi rojiun….”

Kemudian Erna keluar kamar untuk menghubungi Hendra dan Ratna melalui telepon serta mengucapkan ikut berbela sungkawa. Dan  disampaikannya pula rasa rindu Bu Sukmayani kepada kedua anaknya serta merasa bangga ketika tahu bahwa mereka telah menjadi orang yang sukses.

Keduanya mencoba untuk menjelaskan keadaannya yang sedang repot, hingga belum bisa berkunjung ke panti serta meminta maaf kalau selama ini sudah merepotkan.

-o0o-

Saudaraku para pembaca terutama di lingkungan sendiri, cerita diatas hanya merupakan sebuah contoh kejadian saja dari sekian banyak masalah yang terjadi melalui gubahan dan reka ceritera singkat tentang IBU sebagai suatu peristiwa yang dapat kita ambil hikmahnya untuk pesan moral dan bahan perenungan dalam kehidupan kita masing-masing.

 

Sebutan Ibu.

Ibu adalah sebuah sebutan atau panggilan untuk “orang tua perempuan“ dari anak, baik itu melalui hubungan biologis maupun social. Umumnya ibu memiliki peranan yang sangat penting dalam membesarkan anak, dan panggilan ibu dapat diberikan pula untuk perempuan yang bukan orang tua kandung (biologis) dan seseorang yang mengisi peranan itu. contohnya adalah pada orang tua angkat (karena Adopsi) atau ibu tiri (istri dari ayah biologis anak).

Panggilan  “ ibu ”  dapat juga ditujukan kepada perempuan lain yang relatif lebih tua umurnya daripada si pemanggil atau panggilan hormat kepada seorang perempuan tanpa memedulikan perbedaan usia.

 

Pribadi seorang Ibu

Ibu adalah pribadi yang penuh cinta dan kasih sayang, setiap manusia pasti merasa berhutang yang sangat besar terhadap ibu yang tidak bisa dibayar dengan apapun. Hampir setiap manusia pasti setuju dengan pendapat itu dan sampai kapanpun ibu akan menjadi sosok yang di hormati dan di banggakan serta wajib di sayangi, karena dari ibu-lah kehidupan itu berawal.

Hal yang paling dinanti dari seorang perempuan yang baru saja melangsungkan pernikahan adalah kehamilan. Seberapa panjang jalan yang harus dilalui, seberat apapun langkah yang mesti ditempuh, seberapa lama pun waktu yang harus dijalani, dia tak pernah kenal menyerah demi untuk mendapatkan satu kepastian dari seorang dokter atau bidan, yaitu kata : positif.

Pada saat mengandung, tak ada yang membuatnya mampu bertahan hidup kecuali benih dalam kandungannya tersebut dan ia berusaha untuk menjaga janin hingga menjadi calon bayi, bahkan dalam keadaan sakitpun terkadang si ibu tidak pernah mau makan obat. Hal tersebut dilakukan hanya demi untuk menjaga kesehatan anaknya agar tidak terkena efek samping dari obat yang dimakannya. Menangis, tertawa, sedih dan bahagia tak berbeda baginya, semua tidak dirasakan karena ia lebih mementingkan si kecil yang berada di dalam perutnya.

Sejak ibu mengandung bayinya selama kurang lebih sembilan bulan, dan kemudian tenaganya terkuras habis hanya demi terlahirnya bayi, rasa sakit bahkan matipun dipertaruhkannya asalkan generasi penerusnya itu bisa terlahir ke dunia dengan selamat dan sehat. Rasa sakit pun akan sirna, dan berganti dengan rasa bahagia ketika mendengar tangisan pertama si buah hati, tak peduli darah dan keringat yang terus becucuran.

Cinta dan kasih sayangnya tidak berhenti hanya sampai melahirkan saja, namun terus berlanjut.

Dia harus kembali mempertaruhkan nyawanya lagi ketika membesarkan dan mengutamakan kebaikan untuk kehidupan anaknya. Ia adalah satu-satunya sosok wanita yang mungkin karena cinta dan kasih sayangnya rela memberikan apa saja untuk memberikan kehidupan bagi bayinya tanpa balas jasa.

Air Susu Ibu adalah sebagai bukti tentang cinta kasih yang berlanjut dari seorang ibu setelah bayi dilahirkan. Tidak ada kata malas dan bosan untuk memberikannya. Dan ibu terus berusaha menjaga kesehatannya hanya demi menjaga kesehatan bayinya, misalnya dengan memakan makanan yang baik dan bergizi, agar dia juga dapat memberikan Air Susu Ibu yang baik kepada bayinya itu.

Semenjak kelahiran tersebut tidak ada yang lebih membanggakan untuk diperbincangkan selain anak. Tak satu pun tema yang paling menarik untuk didiskusikan bersama rekan sekerja, teman sejawat, kerabat maupun keluarga, kecuali anak.

Bahkan ketika si kecil baru saja mengucapkan kata “Ma” maka ibu segera bangkit mengangkat telepon untuk mengabarkan ke semua yang dikenal baik melalui telepon maupun secara langsung. Apalagi pada saat baru pertama bisa berdiri, ibu pun berteriak histeris, antara haru, bangga dan sedikit takut si kecil jatuh dan terluka.

Saat ibu berada di tempat syukuran keluarga, di tempat arisan atau semacamnya pasti akan membungkus beberapa potong makanan, karena dalam setiap suapan nasinya, setiap gigitan kuenya, atau bahkan setiap kali hendak berbelanja baju ia selalu teringat pada anaknya. Maka tidak jarang, ibu urung membeli baju untuk keperluan dirinya sendiri dan malahan berganti membeli baju untuk anak. Padahal, baru kemarin ibu membeli baju untuk si kecil.

Di saat pikirannya sedang pusing karena harus mengatur keuangan yang serba terbatas, kembali dengan alasan demi anak, jika dilihat pada catatan kertas kecil itu tertulis :

  1. Beli susu anak.
  2. Bayaran uang sekolah anak.

Baru kemudian nomor urut selanjutnya adalah kebutuhan yang lain. Tetapi jelas disitu, kebutuhan anak senantiasa menjadi prioritas utamanya. Bahkan, andaikata saja di rumah pun tidak ada beras mungkin tidak menjadi permasalahan, yang penting asalkan susu si kecil tetap terbeli, walaupun harus dengan cara menghutang.

“Demi anak” atau “Untuk anak” yang menjadi alasan utama ketika seorang ibu sedang berada di pasar dan berbelanja untuk keperluan si kecil. Takkan dibiarkan anaknya menangis, apapun akan dilakukan agar senyum dan tawa riangnya tetap terdengar. Dengan berbagai macam cara ibu akan selalu memberikan yang terbaik untuk bayinya.

 

Kasih sayang ibu dalam kegiatan sehari-harinya.

Ibu bisa menjadi guru yang tidak pernah digaji, menjadi pembantu yang tidak pernah dibayar, menjadi pelayan yang sering lupa untuk dihargai juga sebagai penjaga bayi yang paling setia. Terkadang harus menjadi seorang bidadari yang harus bernyanyi merdu untuk menghibur dan menidurkan anaknya.

Lelah dan kantuk pun tidak lagi dihiraukan, walaupun terkadang harus menyamarkan suara menguapnya dengan auman seekor harimau. Atau berpura-pura seperti nenek sihir yang terjatuh dan mati hanya sekedar untuk bisa memejamkan mata barang sesaat. Namun, apabila si kecil belum juga tertidur dan memintanya menceritakan dongeng yang ke sekian kalinya, maka dalam kantuknya ibupun melanjutkan mendongeng.

Hari pertama setelah sekolah adalah saat pertama kali matanya menyaksikan langkah awal kesuksesan anaknya. Meskipun disaat yang sama, pikirannya terus menerawang dan bibirnya tidak pernah berhenti dalam berdoa, berharap sang suami tidak terhenti rezekinya. Agar langkah kaki kecil itu pun tidak terhenti di tengah jalan.

Tidak ada kegiatan lain yang dilakukannya setiap pagi sebelum menyiapkan sarapan untuk anak-anaknya yang akan berangkat ke sekolah dan tidak satupun yang paling ditunggu kepulangannya selain suami dan anak-anaknya yang tercinta.

Dengan serta merta kalimat, “sudah makan atau belum ?” tidak pernah terlupakan terlontar saat baru saja mereka memasuki rumah. Tidak peduli meskipun si kecil yang dulu kerap di timang dalam dekapannya itu, sekarang sudah menjadi besar dan bisa saja membeli sendiri makan siangnya di kantin sekolah.

 

Pengorbanan Ibu.

Pada saat si kecil sudah besar dan menjadi seorang anak remaja, peranan ibu dengan kasih sayang dan kesabarannya juga menjadi terdepan dalam kehidupan ini. Ibu selalu membimbing anak-anaknya walaupun seringkali dimarahi oleh anak-anaknya atau menjadi teman bertengkar bagi anak-anaknya, tetapi ibu tidak pernah berhenti membimbingnya. Ibu tidak pernah mempunyai rasa dendam terhadap perlakukan anak kepadanya dan ibu selalu memaafkan semua perlakukan anak yang salah terhadapnya. Ibu tetap tabah menghadapi keegoisan dari anaknya. Sungguh sangat mulia andaikata semua ibu seperti itu.

Pada saat anak sudah beranjak dewasa, ibu juga tidak pernah lepas tangan terhadap perkembangan anaknya dan ibu tetap merangkul kembali anak-anak dan terus membimbingnya. Ibu juga tidak pernah bosan untuk selalu mendengarkan semua keluhan anaknya dan setelah itu memberikan jalan keluar bagaimana seharusnya untuk dapat melewati semua permasalahan tersebut.

Cinta menguatkan ibu dan Keindahan Hidup yang diimpikan oleh seorang ibu adalah bersama anak-anak serta suaminya dan hal itu menjadi alasan mengapa seorang ibu memberikan jasanya yang tidak terhingga dan tidak terhitung.

 

Peranan seorang Ibu dalam kehidupan sehari-hari.

Mungkin tidak pernah terbayangkan sebelumnya, apabila menjadi seorang ibu rumah tangga dalam kegiatan sehari-harinya itu banyak sekali yang harus dimengerti dan dilakukan. Oleh karena itu seorang ibu rumah tangga setiap harinya harus belajar dan selalu belajar.

Hal inilah yang terkadang tidak pernah terpikirkan itu, antara lain :

  1. Seorang ibu rumah tangga harus mengerti mengenai Akutansi, agar bisa mengurus pendapatan keluarga dan mengelolanya sedemikian rupa untuk kebutuhan, tabungan serta manata aspek pemasukan dan pengeluaran yang seimbang.
  2. Seorang ibu rumah tangga harus mengerti tentang Tata Boga, Juru Masak atau Perhotelan. Sebuah jurusan diperkuliahan dimana seorang ibu rumah tangga harus belajar memasak untuk keluarga dengan kreatif supaya tidak membosankan.
  3. Seorang ibu rumah tangga juga harus mengerti Ilmu Keguruan. Karena ibu harus menguasai ilmu yang diajarkan di Sekolah Dasar agar bisa mengajari anaknya bila menemui kesulitan dengan Pekerjaan Rumahnya atau membimbingnya ketika akan menghadapi ulangan.
  4. Seorang ibu rumah tangga dituntut untuk mengerti Agama, karena ibu lah yang pertama kali mengenalkan sang anak pada penciptanya dan membangun akhlak yang luhur.
  5. Seorang ibu rumah tangga juga harus mengerti tentang Ilmu Gizi, agar bisa mengatur dan menyiapkan makanan bagi keluarga untuk setiap harinya dengan gizi baik walaupun bukan terbuat dari bahan makanan yang mahal.
  6. Seorang ibu rumah tangga harus memahami Farmasi, agar dapat memberi pertolongan pertama pada keluarga yang sakit dan ibu harus menyediakan obat-obatan yang biasanya manjur digunakan ketika keadaan darurat.
  7. Seorang ibu rumah tangga harus mengusai Keperawatan, karena ibulah satu-satunya yang akan pertama kali merawat buah hatinya ketika terbaring sakit. Ibu yang akan menyeka tubuhnya ketika tidak diperbolehkan mandi, mengganti kompres atau mengukur suhu badan sang anak ketika sakit. Seorang ibu rumah tangga adalah perawat yang handal.
  8. Seorang ibu rumah tangga harus mengerti tentang Ilmu Kesehatan, agar bisa menjaga kesehatan keluarganya, baik mengenai asupan makanan, kebersihan sampai melindungi anggota keluarga dari gigitan nyamuk atau serangga.
  9. Seorang ibu rumah tangga harus mengerti Psikologi, agar bisa berkomunikasi dengan baik menghadapi anak-anak di setiap jenjang usia, juga untuk suami menjadi teman sharing atau teman curhat terbaik.

Sungguh luar biasa bagi seorang ibu untuk sekian banyak kegiatan yang harus dilakukan dengan kesabarannya merawat, mendidik serta menemani suami dan anak-anaknya. Tidak pernah terpikirkan apabila untuk menjadi seorang ibu rumah tangga, berapa lama harus sekolah terlebih dahulu untuk mempersiapkan dirinya untuk itu semua.

 

Untuk perenungan :

Sudahkah kita memberikan yang terbaik untuk Ibu …

Karena Ibu bisa menggantikan siapapun, tetapi tidak bisa digantikan oleh siapapun……..

Atau dapat dikatakan bahwa seorang diri Ibu bisa merawat 10 orang anak, namun 10 orang anak belum tentu bisa merawat Ibu-nya.

Terima kasih untuk Ibunda tercinta…

 

Ibu selalu memberi Nasehat

Suatu hari, ada seorang anak gadis yang bertanya kepada ibunya :
  “Ibu…., ibu selalu terlihat cantik. Aku ingin seperti ibu, tolong beritahu aku bagaimana caranya.”
Dengan tatapan lembut dan senyum haru, sang ibu menjawab :
  “Untuk bibir yang menarik, ucapkanlah perkataan yang baik”

“Untuk pipi yang lesung, sebarkanlah senyum ikhlas kepada

siapapun…”

“Untuk mata yang indah menawan, lihatlah selalu kebaikan orang

lain….”

“Untuk tubuh yang langsing, sisihkanlah makanan untuk fakir

miskin….”

“Untuk jemari tangan yang lentik menawan, hitunglah kebajikan yang

telah diperbuat orang kepadamu…”

“Untuk wajah putih bercahaya bersihkanlah kekotoran batin…”  Anakku…   Janganlah sombong akan kecantikan fisik karena hal itu akan pudar oleh waktu.

 

Kecantikan perilaku tidak akan pudar walau oleh kematian sekalipun …

– Biasakan  mengucapkan  4  kata  kepada  siapapun  dengan  santun

yaitu :  Tolong, Terima kasih, Maaf, dan Permisi.   – Jika kamu BENAR, maka kamu tidak perlu marah.

– Jika kamu SALAH, maka kamu wajib minta maaf.

– Kesabaran dengan keluarga adalah KASIH

– Kesabaran dengan orang lain adalah HORMAT

– Kesabaran dengan diri sendiri adalah KEYAKINAN

– Kesabaran dengan TUHAN adalah IMAN   – Janganlah terlalu mengingat masa lalu, karena hal itu kan membawa

AIR MATA.

– Jangan terlalu memikirkan masa depan, karena hal itu akan

membawa KETAKUTAN.

– Jalankan saat ini dengan senyuman, karena hal itu akan membawa

KECERIAAN.   – Setiap ujian dalam hidup ini bisa membuat kamu pedih atau lebih

baik.

– Setiap masalah yang timbul bisa menguatkan atau menghancurkan.

– Pilihan ada padamu, apakah kamu akan memilih menjadi korban atau

pemenang.

– Carilah hati yang indah dan bukan wajah yang cantik.

– Hal-hal yang indah tidak selalu baik, tapi hal-hal yang baik akan

selalu indah.

 

Jawaban seorang Ibu :

Seorang anak bertanya pada ibunya : “Apakah kita bisa hidup tanpa berbuat salah selama hidup kita ?”

Ibunya menjawab : “Tidak mungkin, nak.”

Sang anak bertanya lagi : “Apa kita bisa hidup tanpa berbuat salah dalam setahun ?”

Sambil tersenyum, ibunya menggelengkan kepala seraya berkata : “Tidak bisa juga, Nak .”

Sang anak bertanya kembali : “Apa kita bisa hidup dalam 1 bulan tanpa melakukan kesalahan ?”

Ibunya tertawa sambil menjawab : “Tidak bisa, Nak .”

Sang anakpun bertanya lagi : “Ini yang terakhir, ibu. Apa kita bisa  hidup tanpa berbuat salah dalam 1 jam ?”

Akhirnya ibunya mengangguk dan berkata : “Kemungkinan bisa, Nak.”

Sang anak langsung berkata : “Jika begitu, aku akan belajar hidup dengan benar dari jam ke jam.”

 

Sebagai bahan Perenungan :

*). Dari latihan yang kecil dan sederhana, akan menjadi kebiasaan. Apa yang sudah terbiasa, akan menjadi sifat dan sifat akan menjadi karakter.
*). Hiduplah 1 jam tanpa :

– Marah

– Hati Jahat

– Pikiran negative

– Menjelekkan orang

– Serakah

– Benci

– Sombong

– Egois  *).Hiduplah 1 jam dengan :

– Kasih dan sayang

– Damai dan bersahabat

– Sabar dan bersyukur

– Lemah lembut dan murah hati

– Ikhlas dan rendah hati

– Mengendalikan diri.  *).Kemudian ulangilah langkah awal ini untuk  1  jam berikutnya dan jam-jam selanjutnya…………………….

 

Sebagai manusia ibu juga bisa berbohong.

Kebohongan seorang ibu dalam hidupnya pada hakekatnya adalah curahan rasa sayang dan pengorbanan.

*). Pada saat makan, jika makanan tersebut kurang maka ibu akan memberikan jatah makanannya kepada anaknya sambil berkata : “Cepatlah makan, ibu tidak lapar.”
*). Waktu makan, Ibu selalu menyisihkan ikan dan daging untuk anaknya dengan berkata : “ibu tidak suka daging, makanlah nak,”
*). Tengah malam saat dia sedang menjaga anaknya yang sedang sakit, ibu akan berkata : “Istirahat dan tidurlah nak, ibu masih belum ngantuk….”
*). Pada saat anak sudah tamat sekolah, bekerja kemudian mengirimkan uang untuk ibu dan ibu akan berkata : “Simpanlah untuk keperluanmu nak, ibu masih punya uang.”
*). Saat anak sudah sukses, menjemput ibunya untuk tinggal di rumah besar, ibu lantas berkata, : “Rumah tua kita walaupun kecil sangat nyaman dan ibu tidak terbiasa tinggal di rumah yang besar.”
*). Saat menjelang usia tua, ibu sakit keras, anaknya akan menangis, tetapi ibu itu masih bisa tersenyum sambil berkata : “Jangan menangis, ibu tidak apa-apa.”
Ini adalah kebohongan terakhir yang dibuat ibu. Tidak peduli seberapa dewasa anaknya, seberapa sukses anaknya, ibu masih menganggap sebagai anak kecilnya, yang selalu mengkhawatirkan diri anaknya akan tetapi tidak pernah menghiraukan keadaan dirinya sendiri.

 

Sebagai bahan Perenungan :

“Semoga semua anak di dunia ini bisa menghargai setiap kebohongan seorang ibu, karena beliaulah  ‘malaikat’  nyata yang dikirim ALLAH untuk menjaga kita sebagai anaknya.

Pesan Ibu tentang Cinta Ayah

Anakku……………..
Memang ayah tidak mengandungmu…

Tetapi

Darahnya mengalir dalam darahmu

Darinya kau diwarisi namanya……………..

Kedermawanan dan Kerendah hatian.     Memang ayah tidak melahirkanmu…

Tetapi

Suaranya yang pertama

Mengantarkanmu kepada Allah

Ketika kau lahir.   Memang ayah tidak menyusuimu……

Tetapi

Dari keringatnyalah

Setiap suapan

Yang menjadi air susumu.  Memang ayah tidak menjagamu setiap saat…..

Tetapi

Tahukah engkau

Dalam doanya

Tak pernah terlupa namamu disebutnya.    Tangisan ayah mungkin tak pernah kau dengar

Karena

Dia ingin terlihat kuat

Agar kau tidak ragu untuk berlindung di lengannya,

Dan di dadanya ketika merasa tidak aman.   Pelukan ayahmu

Mungkin tidak sehangat dan seerat pelukan ibu

Karena cintanya

Dia takut

Tak sanggup melepaskanmu.  Ayahmu ingin

Kau kuatkan semangat

Agar ketika kami telah tiada

Kau sanggup menghadapi semuanya sendiri.   Ibu hanya ingin kau tahu…

Bahwa cinta ayah kepadamu…..

Sama besarnya

Seperti cinta ibu kepadamu.   Anakku…

Dari dirinya juga terdapat surga bagimu

Hormati dan sayangi ayahmu

Karena

Ibu adalah tulang rusuknya  Sebagai Bahan Perenungan :

Berbahagialah yang masih mempunyai Ibu dan Ayah.

Ketika Anak sudah dewasa.

Suatu hari ketika si anak yang dewasa itu sudah mampu mengambil keputusan terpenting dalam hidupnya, untuk menentukan jalan hidup bersama pasangannya……..

Siapa yang paling dulu menangis ?

Siapa yang lebih dulu menitikkan air mata ?

Lihatlah sudut matanya, telah menjadi samudera air mata dalam sekejap. Langkah beratnya dengan ikhlas mengantar buah hatinya ke kursi pelaminan. Ia menangis melihat anaknya tersenyum bahagia dibalut gaun pengantin, di saat itu pula ibu pun sadar bahwa buah hati yang selama bertahun-tahun menjadi tempat curahan cinta dan kasihnya itu, kini sudah tidak lagi hanya sebagai miliknya sendiri.

Karena ada satu hati lagi yang tertambat, yang dalam harapnya si ibu berkata lirih dalam hati, “Masihkah kau anakku ?”

Ketika usia senja tiba dan saat keriput di tangan dan wajah mulai berbicara tentang usianya,  Ibu pun sadar bahwa sebentar lagi masanya akan berakhir.

Hanya satu keinginan yang sering terucap dari bibirnya : “Bila ibu meninggal, ibu ingin anak-anak ibu yang memandikan, ibu ingin dimandikan sambil kalian pangku.”

Tidak hanya itu, imam shalat jenazah pun ibu meminta dari salah satu anaknya. “Agar tidak percuma ibu mendidik kalian menjadi anak yang shalih dan shalihat sejak kecil,” ujarnya.

Duh IBU, semoga saya bisa menjawab pintamu itu kelak. Bagaimana mungkin saya tidak ingin memenuhi permintaan itu ? Sejak saya masih kecil ibu telah mengajarkan arti cinta yang sebenarnya. Ibulah pendidikan cinta saya, ibulah sekolah yang hanya punya satu mata pelajaran, yaitu “cinta “. Sekolah yang hanya punya satu guru yaitu “sang pecinta”, sekolah yang semua murid-muridnya diberi satu nama “anak tercinta.”

Sebagai bahan Perenungan :

Satu Pelukan, hari ini untuk ibu akan sangat membahagiakannya dibanding dengan seribu pelukan di batu nisannya.

Olah karena itu cintai ibumu Selagi masih Ada.

 

 

-o0o-

 BANDUNG–INDONESIA, JULI – 2016

Ceritera : Anike Prarista Putri

(Gubahan Ki Ageng Bayu Sepi)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *