J A H I L

liwurJAHIL ADALAH SUATU PERBUATAN YANG DILAKUKAN DALAM KEADAAN SADAR DENGAN KEMAUAN SENDIRI ATAU TIDAK DENGAN TERPAKSA DAN BERSUNGGUH-SUNGGUH, BUKAN PULA PERBUATAN BERPURA-PURA, NAMUN KONOTASI MAKNA DARI PERKATAAN  ITU DAPAT DIKATAKAN SEBAGAI PERBUATAN YANG BURUK KARENA  MENGGANGGU ATAU MERUGIKAN ORANG LAIN.

YANG MENJADI PERTANYAAN ADALAH : APAKAH KITA JUGA BISA MENERIMA DENGAN SENANG HATI APABILA PERBUATAN TERSEBUT DIPERLAKUKAN KEPADA KITA.
31-X-et+GgLungkin saja bukan Udin namanya, kalau saja dia tidak pernah melakukan perbuatan yang mengganggu ketenangan orang lain yang bisa disebut dengan jahil atau usil walaupun umurnya sudah hampir mendekati setengah abad. Dapat dikatakan setiap saat ada saja mangsa yang dapat dijadikan korban kejahilannya. Sepertinya kalau tidak melakukan perbuatan jahil kepada orang lain badannya terasa panas dingin atau merasa dunia seolah-olah mau kiamat.

Dan lagi ada saja akalnya untuk melakukan perbuatan jahilnya, masih mending kalau dikatakan bahwa perbuatan tersebut tidak mencelakakan orang lain. Tetapi terkadang kejahilan Udin suka keterlaluan, jadi selalu ada saja orang yang celaka karena menjadi kurban dari ulah perbuatannya.ungkin saja bukan Udin namanya, kalau saja dia tidak pernah melakukan perbuatan yang mengganggu ketenangan orang lain yang bisa disebut dengan jahil atau usil walaupun umurnya sudah hampir mendekati setengah abad. Dapat dikatakan setiap saat ada saja mangsa yang dapat dijadikan korban kejahilannya. Sepertinya kalau tidak melakukan perbuatan jahil kepada orang lain badannya terasa panas dingin atau merasa dunia seolah-olah mau kiamat.

Kurang lebih dua bulan yang telah lalu, Mamah Iseu orang yang latah di rawat di Rumah Sakit gara-gara diganggu oleh Udin. Awalnya Mamah Iseu digertak lalu diajak tertawa-tawa sambil berputar-putar, lalu setelah itu berlocat-loncatan sambil berteriak-teriak dengan keras sampai suara Mamah Iseu terdengar serak.

Kemudian Udin  berguling-guling diatas tanah, dan semua gerakan Udin selalu diikuti dan ditirukan oleh Mamah Iseu. Tetapi karena sudah merasa pusing kemudian kepala Mamah Iseu terbentur tembok, dan langsung pingsan. Sehingga akhirnya Mamah Iseu harus segera dibawa ke Rumah Sakit.

Kejadian tersebut tentu saja membuat Udin menjadi kaget dan terkejut setengah mati serta timbul penyesalan juga ada rasa takut dalam hatinya. Terpikir olehnya bagaimana kalau Mamah Iseu sampai meninggal karena ulahnya. Oleh karena itu dengan cepat-cepat Udin mencari mobil sewaan atau mobil rental agar supaya Mamah Iseu bisa dengan segera sampai ke Rumah Sakit.

Tetapi rasa penyesalan itu tidak pernah berlanghsung lama, hanya beberapa waktu atau paling lama hanya beberapa minggu saja. Dan setelah itu biasa lagi saja dia mencari mangsa lain yang bisa untuk dijahilinya.

Kebetulan di kampung dimana Udin tinggal terdapat warga yang baru pindah namanya Abah Karya. Adapun Abah Karya mempunyai seorang anak perempuan yang bernama Nyi Kenoh, bola matanya bulat sedikit agak melotot dan selalu meneteskan air liur serta pemikirannya agak terlambat bila dibandingkan dengan pertumbuhan badannya atau kalau bahasa umumnya disebut dengan idiot.

Pada waktu itu Nyi Kenoh sedang berjalan-jalan sambil menuntun anjingnya yang bernama si Jambrong sebagai pengawalnya. Melihat hal tersebut, kemudian Udin mendekatinya dari arah belakang dengan membawa seekor kucing. Dan setelah dekat lalu kucing tersebut dilemparkan kearah Nyi Kenoh, yang langsung mengeong dengan keras karena takut kepada si Jambrong. Tentu saja hal itu menjadikan Nyi Kenoh sangat kaget dan terus berjingkrak-jingkrak sambil menjerit-jerit, sedangkan rantai anjing yang semula dipegangnya menjadi terlepas.

Bersamaan dengan itu, kucing yang tadi dilemparkan kearah Nyi Kenoh juga terus lari yang kemudian dikejar oleh si Jambrong dengan cepatnya. Akan tetapi kucing tersebut kemudian naik ke sebuah pohon lalu meloncat kearah genting rumah yang ada di dekat pohon tersebut.

Mengetahui buruannya sudah menghilang kemudian si Jambrong cepat kembali kepada Nyi Kenoh, tuan yang tadi ditinggalkannya.

Dari kejauhan si Jambrong memperhatikan Udin yang tertawa terpingkal-pingkal karena sedang mentertawakan Nyi Kenoh, tuannya. Melihat keadaan tersebut seakan tidak terima kemudian si Jambrong menyalak keras sambil berlari mendekati mereka berdua dan pandangan matanya menatap tajam kearah Udin.

Mengetahui apa yang dilakukan oleh si Jambrong yang menyalak dan mendekat kepadanya, tanpa berpikir panjang Udin berlari lintang pukang tanpa menoleh kekiri ataupun kekanan karena ketakutan. Ada dataran yang lebih tinggi diloncati, ada pagar kebun orang lain pun diloncati sehingga banyak tanaman yang rusak karena terinjak-injak olehnya.

Setelah lari agak jauh dan merasa sudah aman kemudian Udin berhenti dibawah sebatang pohon yang besar untuk beristirahat memulihkan kelelahan badannya. Si Jambrong nama anjing yang mengejarnya tadi sudah tidak kelihatan lagi bahkan suara gongongannyapun sudah tidak terdengar pula.

Sesudah betul-betul merasa aman kemudian Udin duduk bersandar pada batang pohon tersebut sambil mengatur napas yang masih tersengal-sengal kelelahan karena berlari-larian cepat. Seluruh anggota badannya terasa lemas, lunglai dan tidak bertenaga serta pandangan matanya  menjadi kabur dan kepalanya menjadi berat, yang kemudian tertunduk.

-o-

Dengan tidak diketahui, entah dari mana datangnya tiba-tiba saja muncul seorang perempuan gila yang dapat dikatakan tidak memakai selembar pakaianpun. Perempuan tersebut menyeringai sambil bergerak hendak menangkap kaki Udin. Hal itu menjadikan Udin sangat terkejut, dengan segera meloncat berdiri dan kemudian berlari menghindar tetapi malang bagi Udin bahwa perempuan tersebut ikut pula berlari mengejarnya.

Lari Udin semakin dipercepat sambil tanpa menoleh kekiri, kekanan ataupun kebelakang lagi, lalu naik ke tempat yang lebih tinggi karena dalam pemikirannya orang gila tersebut tidak akan bisa menyusulnya dengan menempuh jalan yang terjal seperti itu.

Akan tetapi begitu sampai di atas, Udin menjadi semakin kaget yang tak terkatakan karena ternyata bahwa orang gila tersebut sudah berada didepannya sambil tertawa menyeringai menghampirinya.

Dengan tidak ayal lagi langsung saja Udin meloncat turun ke bawah lalu memerosotkan diri sampai terguling-guling jatuh dan tiba di tempat dimana awal mula dia naik ketempat yang lebih tinggi. Kemudian langsung bangun berdiri dan meneruskan lari sekuat tenaga tanpa menghiraukan rasa sakit dikaki, tangan atau anggota badan lainnya.

Setelah merasa lelah dan sudah tidak ada yang mengejarnya lagi maka dengan cepat Udin segera menyelinap dan bersembunyi diantara bebatuan yang besar, sebab dalam pemikirannya bahwa orang gila tersebut tidak akan pernah bisa menyusulnya dan tidak masuk akal kalau dia sampai bisa menyusulnya ketempat itu.

Kemudian Udin terus menyandarkan diri pada sebuah batu besar yang berada dibelakangnya sambil mengatur napas, dengan badan yang basah kuyup karena penuh dengan cucuran keringat dan lututnyapun gemetaran karena kelelahan. Untuk sementara waktu Udin tidak bisa berbuat apa-apa bahkan berkata-kata sedikitpun juga tidak karena badan yang lelah, letih dan lunglai seperti seonggok daging tanpa tulang yang bersandar di batu.

Setelah agak tenang dan napasnya sudah tertata kembali serta kondisi badan sudah mulai pulih, Udin sengaja hendak berdiri dengan maksud mau keluar dari tempat persembunyiannya. Tetapi ternyata untuk bisa berdiri tegak masih sangat sulit karena badannya terasa berat, dan rasanya seperti ada yang sengaja menariknya kebawah.

Secara reflek Udin menengok kesamping dan… “…dheeeggg….” Jantung Udin berdenyut keras sekali dan terkejut yang tidak terkirakan. Sebab ternyata orang gila tersebut sedang memegang dan menarik bajunya yang sudah sobek disana-sini akibat terperosok pada waktu terjatuh tadi.

Tanpa dua kali berpikir kemudian dengan secepat kilat tangan orang gila tersebut ditepiskan kemudian Udin berlari lagi. Terasa tenaganya semakin bertambah setelah berisirahat, tidak seperti tadi.

Sambil berlari-larian menghindari kejaran orang gila tersebut, Udin sempat memikirkan bagaimana caranya agar orang gila tersebut tidak mengejarnya lagi. Tiba-tiba saja dia teringat pada suatu tempat yang baru beberapa hari kemarin dilewatinya. Segera dia saja dia berlari menuju kearah tempat tersebut.

Sesampainya di tempat itu lalu Udin menghampiri sebatang pohon yang besar yang di bagian atasnya terdapat sebuah sarang lebah atau sarang tawon dan kemudian Udin mengambil sebatang bambu sebagai penggalah yang tersandar di ranting bagian lain pohon itu. Kelihatannya dia bermaksud akan menjolok sarang tawon tersebut.

Tidak beberapa lama kemudian orang gila tersebut sudah berada ditempat itu, dia berhenti sebentar lalu menengok kekiri dan kekanan kelihatannya mencari sesuatu. Tanpa berpikir panjang lagi Udin dengan sekuat tenaga segera menjolok sarang tawon tadi hingga terjatuh dan tepat mengenai badan orang gila tersebut.

Tentu saja tawon-tawon itu segera bubar keluar dari sarangnya dan marah karena merasa terganggu lalu mengejar dan menyengat orang gila tersebut.

Dan sekarang giliran orang gila itu yang berlari-larian menghindari kejaran dan sengatan tawon yang sedang marah sambil berteriak-teriak minta tolong.

Melihat orang gila yang berlari-lari dari kejaran tawon sambil meminta pertolongan yang dianggapnya lucu, Udin tertawa tergelak-gelak. Dia merasa senang melihat penderitaan orang yang disengat tawon, terbayang di dalam benaknya bagaimana nanti wajah dan seluruh tubuh orang gila tersebut pasti bengkak-bengkak mengerikan.

Kemudian Udin tertawa bergelak-gelak sendirian menandakan sedang senang hatinya.

Tetapi ketika sedang enak-enak mentertawakan orang gila yang berlari-larian tersebut, dia merasa kaget sebab mendengar ada suara lain yang ikut tertawa dan asal suara tawa tersebut tidak jauh bahkan dapat dikatakan seperti berada di sebelahnya.

Begitu menengok kearah samping, Udin terkejut setengah mati ternyata orang gila yang mengejarnya tersebut dalam pandangan matanya juga sedang tertawa-tawa sama seperti dirinya.

Udin membuka mulutnya hendak berteriak sekeras mungkin, maksudnya mau minta pertolongan, tetapi hal itu diurungkannya dan tidak jadi dilakukan karena pada saat akan berteriak terasa ada yang menyiramkan air dan membasahi rata seluruh permukaan wajah dan sebagian masuk ke mulutnya.

Kemudian Udin membuka kedua belah kelopak matanya, didapatinya bahwa posisi tubuhnya masih tetap bersandar pada sebatang pohon besar ketika tadi menghindari kejaran si Jambrong anjing kepunyaan Nyi Kenoh.

“Ahhh……syukurlah hanya bermimpi,” demikian katanya dalam hati. Kemudian Udin menengok ke arah kiri dan kanan badannya, tiba-tiba tampak Kang Mulyadi yang tidak jauh dari tempatnya duduk yang nampak senyum mentertawakan dirinya dan ditemani oleh si Bewos anjing pemburu  kesayangannya.

Dengan agak malu Udin mendahului bertanya : “Oh.. Kang Mul…sedang ada keperluan apa Kang Mul sampai kemari ?” kata Udin agak gagap cara berbicaranya. Maklum baru bangun dari tidurnya, penglihatannyapun masih belum begitu jelas atau masih agak kabur, badan masih terasa capainya apalagi keringat membasahi muka dan sekujur badannya.

“Saya sedang membawa si Bewos berjalan-jalan, kasihan sudah agak lama belum pernah berburu lagi ke hutan, jangan sampai jadi malas nantinya. Dan kamu Udin, sedang apa tiduran disitu. Aku perhatikan kamu tidur dengan mulut kumat-kamit lalu tertawa, kaki dan juga tangan sambil bergerak-gerak tak menentu ?” jawab Kang Mulyadi yang kemudian balik bertanya.

Ditanya seperti itu oleh Kang Mulyadi, Udin tidak bisa mengelak lagi. Kemudian diceritakanlah apa yang telah dialaminya, sejak mulai mengganggu Nyi Kenoh yang lalu dikejar oleh anjingnya, sampai bermimpi dikejar-kejar oleh orang gila. Semuanya diceritakan tanpa ada yang terlewatkan, ya sebuah mimpi yang sangat melelahkan.

“Nah, begitulah ceritanya Kang Mul,” kata Udin kepada Mulyadi sambil menyusut air dan keringat yang membasahi wajahnya.

Begitu mendengar apa yang diceritakan Udin, karena tidak bisa menahan rasa lucunya langsung saja Kang Mulyadi tertawa terbahak-bahak. Melihat Kang Mulyadi yang tertawa terpingkal-pingkal dengan memejamkan mata sambil memegang perutnya, akhirnya Udin juga ikut tertawa.

Setelah reda tertawanya, kemudian Kang Mulyadi berkata : “Udin…Udin, mengapa kebiasan mengusili orang tidak pernah berhenti. Apakah tidak pernah terpikirkan sedikitpun oleh kamu, kalau orang diganggu dan kemudian terkejut bisa saja mendadak mati. Kalau hal itu terjadi kamu tidak akan terlepas dari urusan yang berwajib, atau kalau keluarganya tahu tentang hal itu dan tidak terima lalu marah kemudian melakukan penyerangan…..bisa-bisa kamu yang jadi korbannya…”

Mendengar apa yang disampaikan Kang Mulyadi, Udin tidak menjawab sedikitpun bahkan hanya menunduk dan berdiam diri.

“Dan baru-baru ini beberapa waktu yang lalu, kan Emak Epon sampai di bawa ke rumah sakit karena gara-gara perbuatan kamu. Kemudian Teh Imas berlari sampai kejebur kolam karena kamu lempar dia dengan kecoa, lalu Neng Euis menjerit-jerit karena kamu takut-takutin dengan ulat. Sampai orang-orang sekampung pada datang berkerumun….” kata Kang Mulyadi lagi.

“Dulu pernah hampir saja kamu dipukuli oleh keluarga Nenek Anis gara-gara kamu menaruh ular-ularan yang besar di depan pintu rumahnya.”

Udin hanya duduk dan diam ketika mendengarkan apa yang dikatakan Kang Mulyadi.

“Udin…Udin… banyak sekali perbuatan usil yang kamu lakukan yang bisa membuat celaka orang lain,” kata Kang Mulyadi lagi. “Kalau kamu ingin tahu, tidak ada warga di kampung ini yang tidak menceritakan tentang kejelekan perbuatan kamu, kemungkinan keluargamu sendiripun begitu juga…karena jengkel padamu…! Barangkali saja banyak orang yang mengharapkan kamu celaka karena tidak senang dengan perilakumu…,”

Selama dinasehati seperti itu, Udin tidak berkata sedikitpun dan diam saja mungkin dalam hatinya merasa kalau dia memang bersalah.

“Udin…Udin, sampai kapan kamu berhenti berperilaku seperti itu ? Kalau dipikir kamu sudah berumur atau dapat dikatakan sudah tua, karena anak-anak sudah pada besar, mungkin sebentar lagi kamu akan mempunyai menantu. Apakah tidak terbayangkan kalau keluargamu nanti dijahili oleh orang lain lebih daripada apa yang pernah kamu lakukan kepada orang lain ?” kata Kang Mulyadi panjang lebar dalam menasehati Udin.

“Tapi masih terbilang bagus kalau kamu berani mengusili orang-orang yang memang harus diberikan pelajaran agar tidak berkelakuhan seenaknya….,” kata Kang Mulyadi lagi.

“Maksudnya mengusili yang bagaimana ya Kang Mul ?” tanya Udin

“Ini ada sebuah cerita,” kata kang Mulyadi yang lalu berhenti sejenak,  dan tidak lama kemudian sambil menghela napas panjang melanjutkan lagi kata-katanya.

“Dalam keadaan lapar, Lamsijan masuk ke sebuah rumah makan. Ia memesan ayam goreng yang utuh. Tidak lama kemudian ayam goreng yang dipesan pun sudah disajikan. Ketika Lamsijan hendak memakan ayam tersebut dan baru saja memegangnya, tiba-tiba datang seorang pelayan dengan tergopoh-gopoh.

“Maaf Kang, kami salah menyajikan. Ayam goreng ini adalah pesanan Bapak pelanggan yang duduk di depan sana, yang telah memesan terlebih dahulu Kang,” kata pelayan sambil menunjuk seorang pria berbadan kekar dan berwajah preman.

Akan tetapi karena sudah terlanjur lapar, Lamsijan bersikukuh bahwa ayam goreng itu memang adalah untuknya.

Tiba-tiba pria bertampang preman itu segera berdiri lalu berjalan menghampiri meja Lamsijan dan menggertaknya.

“Awas kalau kamu berani menyentuh ayam itu…!! Apapun yang kamu lakukan pada ayam goreng itu, akan aku lakukan juga kepadamu. Kamu potong kaki ayam itu, aku potongkan juga kakimu. Kamu putus lehernya, aku putuskan pula batang lehermu…!”

Mendengar ancaman seperti itu, semula Lamsijan hanya tertunduk diam. Dan tidak lama kemudian dia tersenyum sinis sambil berkata : “Silahkan, siapa takut ?”

Tiba-tiba Lamsijan mengangkat ayam goreng itu dari piringnya lalu menjilat-jilat pantatnya……. “

“Ahhh…Kang Mulyadi, ada-ada saja,” kata Udin sambil tersenyum.

Setelah itu baru Udin berkata lagi : “Mohon maaf Kang Mul, mengenai apa yang telah saya lakukan selama ini, saya memang salah…saya merasa sangat menyesal….dan apa yang telah disampaikan Kang Mulyadi sangat saya mengerti dan sangat saya terima…dan akan saya ingat untuk selamanya..,” kata Udin. “Terima kasih sekali atas nasehatnya.”

“Ya sudah, yang penting bahwa kamu sekarang sudah menyadari tentang  kesalahanmu Din…..kita ini hanya sama-sama manusia…. Kalau tidak mau saling memaafkan diantara kita sesama manusia, lalu mau saling memaafkan dengan siapa ? Nah sekarang datangi dan temui orang-orang di kampung untuk meminta maaf…saya mau meneruskan jalan-jalan sama si Bewos,” kata Kang Mulyadi yang langsung berdiri dan terus pergi.

Belum begitu jauh Kang Mulyadi melangkah, Udin berteriak, katanya : “Kang Mul, maaf ada yang lupa. Saya mau bertanya, kalau yang tadi menyiram saya dengan air, siapa ya Kang ? Sampai seluruh muka dan badan jadi basah kuyup bahkan ada sebagian yang masuk ke mulut,” tanya Udin.

“Oh itu……., tadi si Bewos yang kencing. Mungkin kau disangka bagian dari pohon…karena tadi kamu sudah dijilat-jilat tetapi tidak kunjung bangun…ya salahmu sendiri karena tidur di situ, dibawah pohon…. Maafkan si Bewos ya Din,” jawab Kang Mulyadi dari kejauhan sambil tertawa kecil.

“Ah…pantesan badanku bahu pesing begini…! Tapi ah.. mending bahu pesing daripada dikejar-kejar oleh orang gila, dan lagi…karena saya telah melakukan hal-hal yang nggak bener, ya jadi beginilah akibatnya….,” celoteh Udin dalam hati yang kemudian berjalan pulang menuju kampungya.

 

-o0o-

 

Saudaraku pembaca semuanya, sebuah gubahan cerita dengan judul “Jahil” yang mengetengahkan atau menceritakan tentang sesuatu perbuatan yang mengganggu ketenangan orang lain, semoga cerita tersebut agar dapat kita ambil hikmahnya sebagai bahan perenungan dalam kehidupan sehari-hari kita masing-masing.

Kata jahil atau jail sangat sering digunakan dalam percakapan sehari-hari dan umumnya kedua kata tersebut digunakan dalam konotasi makna yang kurang baik atau negative. Yaitu berarti usil atau jahat.

Mengganggu orang lain seperti cerita diatas adalah sebuah contoh dari suatu perbuatan yang dilakukan oleh Udin yang dalam keadaan sadar dengan kemauan sendiri atau tidak terpaksa dan sungguh-sungguh dan bukan pula perbuatan berpura-pura. Lalu perbuatan tersebut bisa diberi nilai, apakah perbuatan itu tergolong baik atau buruk.

Kalau perbuatan itu merupakan perbuatan yang baik maka tidak ada yang di permasalahan akan tetapi jika perbuatan itu dikatakan sebagai perbuatan yang buruk, hal tersebut bila diamati terjadi dari beberapa penyebab yaitu :

  1. Perbuatan buruk yang timbul karena ketidaksanggupan seseorang mengendalikan nafsu atau keinginannya.
  2. Perbuatan yang sudah diketahui keburukannya, tetapi orang tersebut tidak bisa meninggalkannya karena nafsu atau keinginan yang sudah menguasai dirinya.
  3. Perbuatan buruk yang dilakukan oleh seseorang, karena pengertian baik baginya sudah kabur, sehingga perbuatan buruklah yang dianggapnya baik yang penting bisa menyenangkan.
  4. Perbuatan buruk yang sangat membahayakan terhadap keselamatan orang lain, sedangkan tidak terdapat tanda-tanda kesadaran bagi pelakunya.

Dari ke 4 penyebab perbuatan buruk tersebut,  pada urutan nomor ke 4 mungkin sulit atau sama sekali tidak bisa dipulihkan kembali, sedangkan urutan 1 s/d 3 masih bisa dididik dengan baik.

Kejadian dari cerita diatas adalah karena adanya seseorang yang dianggap lebih rendah, atau karena kelemahannya seseorang tersebut bisa diganggu atau bisa dimanfaatkan sebagai bahan untuk melampiaskan perbuatan jahil.

Yang menjadi pertanyaan, bagaimana seandainya saja yang diperlakukan seperti itu adalah diri kita sendiri. Apakah kita juga akan dengan senang hati dan ikhlas menerimanya ?

Yang harus juga dimengerti bahwa walaupun dengan status yang berbeda, harkat maupun derajat yang tidak sama, warna kulit, ras, budaya, keyakinan yang berlainan tetapi harga diri seseorang, keinginan untuk dihargai maupun dihormati adalah sama, apalagi dihadapan Tuhan Sang Pencipta bahwa semua manusia itu sama dan Tuhan sendiri tidak pernah membeda-bedakan.

Berkaitan dengan hal tersebut diatas bahwa setiap manusia harus  Memperlakukan sesama manusia dengan Rasa Hormat atau dengan perkataan yang lebih jelas adalah harus saling Menghormati sesama manusia dengan Melalui Perbuatan dalam Kehidupan sehari-hari, antara lain :

1.Menghargai setiap orang sama seperti kita menghargai diri kita sendiri.

Tanpa memandang siapa mereka, bagaimana status, pangkat, bangsa, derajat dan apapun yang menjadi keyakinannya, kita harus menghormati orang lain seperti halnya kita ingin dihormati oleh orang lain, dengan perkataan yang berbeda tetapi dengan maksud yang sama adalah jangan memperlakukan orang lain dengan hal-hal yang kita sendiri tidak ingin kalau ada orang lain melakukan hal tersebut kepada kita.

Jadi sangatlah penting jika kita ingin dihormati kita juga harus bersikap  baik kepada orang lain dengan tidak mengabaikan sisi kemanusiaan dan kehormatan mereka.

Kemudian yang harus di ingat juga adalah bahwa kita tidak bisa memaksa orang lain untuk mempercayai hal yang kita percayai.

Sebagai contoh, kita menyenangi Olah Raga Pernapasan Bayu Sepi, dan itu adalah hal baik yang banyak manfaatnya menurut pendapat kita, tetapi pemikiran yang demikian itu jangan kita sampaikan kepada orang lain bahwa kita lebih baik daripada mereka.

Hal yang lain adalah, jika kita adalah seorang penganut salah satu agama dan kemudian mengecam orang-orang yang tidak menganut pandangan agama yang sama dengan kita, maka orang-orang yang kita kecam itu tidak akan mau lagi menghormati kita.

Sehingga apapun keyakinan kita, sikap yang tidak toleran, menghakimi, mendiskriminasi adalah sikap-sikap yang tidak pantas untuk dihormati.

  1. Mendengarkan dengan sungguh-sungguh.

Banyak orang yang tidak mampu mendengarkan dengan baik ketika orang lain berbicara, karena mereka mudah terganggu, selalu memeriksa ponsel mereka atau sibuk memikirkan apa yang selanjutnya ingin mereka katakan. Oleh karena itu harus belajar untuk bisa sungguh-sungguh mendengarkan pada saat orang lain sedang berbicara.

Pandanglah wajah orang yang sedang mengajak berbicara. Jangan biarkan pandangan mata kita berkeliaran kemana-mana atau menyapu ke seluruh ruangan atau juga selalu membuka dan membaca ponsel, yang memungkinkan lawan bicara merasa bahwa kita tidak memperhatikan apa yang sedang dibicarakan.

Memberikan perhatian kepada mereka selama berbicara, dengan cara mematikan dulu ponsel yang sedang kita pegang atau matikan nada deringnya, apabila menyadari bahwa pikiran kita teralihkan dan pembicaraan tidak lagi nyambung maka mintalah mengulang apa yang baru saja mereka katakan agar kita bisa menyambungkan kembali percakapan.

  1. Memberi tanggapan tentang gagasan orang lain dengan penuh perhatian.

Mau mendengarkan gagasan, pendapat dan nasihat dari orang lain dengan pikiran yang terbuka. Artinya kita tidak harus setuju dengan apa yang mereka kemukakan, tetapi sebaiknya kita memberikan kesediaan untuk memikirkan apa yang mereka katakan.

Misalnya, jika ada seorang rekan menyampaikan sebuah gagasan yang menurut menurut pendapat kita sangat aneh atau tidak bisa diterapkan, sebaiknya kita memberikan kesediaan untuk mendengarkan gagasan tersebut sampai selesai dan kemudian baru mempertimbangkan baik dan buruknya.

Jika ada yang menyampaikan gagasan yang kurang baik atau yang bisa menyakiti perasaan orang lain (misalnya saja membahas tentang ras atau lainnya) kita tidak berkewajiban mendengarkan ucapan yang mereka sampaikan dan seandainya bisa, kita harus menjelaskan kepada mereka bahwa apa yang sedang mereka katakan itu adalah pandangan-pandangan yang tidak seharusnya dibahas.

  1. Usahakan jangan mengganggu waktu dan keleluasaan pribadi orang lain.

Di jaman yang penuh dengan kesibukan seperti sekarang ini, orang  tidak lagi banyak mempunyai waktu luang, jadi apabila sampai terpaksa mengusik keleluasaan pribadi orang lain, harus dapat dipastikan bahwa hal tersebut memang mendesak dan benar-benar harus dilakukan (misalnya karena ada rumah terbakar atau karena adanya kecelakaan).

Contoh lain, apabila kita tinggal serumah bersama orang lain, akan lebih baik kalau kita tanyakan terlebih dulu dan meminta persetujuannya sebelum terlanjur mengundang serombongan orang untuk berkumpul di rumah.

  1. Mempertimbangkan kata-kata yang akan diucapkan.

Kata-kata mempunyai kekuatan yang sangat besar dan setajam mata pedang yang bisa sangat menghina dan menusuk perasaan jika tidak digunakan dengan benar. Oleh karena itu harus dipikirkan baik-baik apa yang akan kita katakan dan kepada siapa, sebab jika tidak hal itu bisa menyakiti hati dan perasaan orang lain.

Misalnya tidak menggunakan kata-kata langsung seperti : “lumpuh, pincang, gila atau cacat,” tetapi dengan bahasa yang diperhalus misalnya  “seseorang dengan keterbatasan fisik.” Jadi dengan penggunakan bahasa seperti diatas tidak memandang seseorang dari sisi ketidakmampuan fisik, mental atau lainya.

  1. Dukunglah dalam menjaga harga diri orang lain.

Memperlakukan orang lain dengan cara yang bisa membuat mereka merasa berharga dan sejahtera dan jangan mengambil keuntungan dari orang lain atau berusaha menjatuhkan mereka dengan cara-cara yang kurang baik.

Sebagai contoh, jangan mudah mengatakan bahwa kaum miskin sebagai orang “pemalas” atau “bodoh.”  Karena kita tidak mempelajari faktor apa saja yang bisa menyebabkan terjadinya kemiskinan. Mungkin saja kemiskinan yang dialami oleh seseorang itu sebagai akibat dari kurangnya pemerataan dalam system pendidikan yang hanya memacu anak-anak dari kalangan menengah ke atas, tetapi membiarkan anak-anak dari kalangan miskin terlantar.

  1. Mengakui hak pribadi setiap orang.

Membiarkan seseorang untuk membuat pilihannya masing-masing dan percaya bahwa mereka memahami apa maksudnya. Boleh saja mau  memberikan nasihat atau menawarkan bantuan, tetapi yang harus diingat bahwa pada akhirnya, setiap orang harus mengambil keputusan untuk diri mereka masing-masing dan menjadi diri mereka sendiri.

Sebuah contoh, andaikata kita sedang jalan-jalan kemudian melihat seseorang yang sedang menggunakan kursi roda dan ingin membuka pintu. Akan sangat bijaksana andaikata kita menawarkan bantuan, apalagi jika orang tersebut memintanya.

Tata krama atau etikanya adalah jangan menolong dengan langsung membukakan pintu atau memegang kursi rodanya sebelum kita menawarkan tenaga untuk membantunya. Seandainya orang tersebut menolak tawaran kita dan tidak mau dibantu, ya katakan saja “tidak apa-apa” lalu kita pergi untuk melanjutkan perjalanan lagi.

  1. Membudayakan perilaku yang baik.

Dengan cara mengucapkan kata “tolong”  dan “terima kasih”  pada saat  memerlukan atau setelah menerima sesuatu dari orang lain. Bahasa tersebut menunjukkan bahwa kita menghargai waktu dan usaha yang diberikan orang tadi yang telah membantu kita dan kita membuat mereka merasa dihormati.

Contoh lain dari perilaku yang baik misalnya dengan tidak menyela sebuah pembicaraan. Jika ada yang harus di sampaikan, tunggulah sampai  bisa menemukan waktu yang tepat untuk mulai berbicara.

 

-o0o-

BANDUNG–INDONESIA, APRIL – 2016 

(Gubahan Ki Ageng Bayu Sepi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *