LANGKAH PERTAMA

temenBILA INGIN MENGUBAH SESUATU DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI ATAU DENGAN PERKATAAN LAIN AGAR ORANG LAIN MELAKUKANNYA PADA KITA, MAKA HARUS ADA LANGKAH PERTAMA YANG DILAKUKAN DAN DIMULAI DARI DIRI KITA SENDIRI.

DENGAN KALIMAT YANG LEBIH SEDERHANA ADALAH : PERLAKUKAN ORANG LAIN SEBAGAIMANA KAMU INGIN DIPERLAKUKAN.

ADA PEPATAH YANG MENGATAKAN : SEEKOR BURUNG HANYA BISA MAKAN KETIKA IA MENGEPAKKAN SAYAPNYA, MAKA MANUSIAPUN BISA MENGGAPAI MIMPI DAN KEINGINANNYA APABILA DIA MEMANG MAU MELANGKAH.

hurup Pada sebuah lingkungan hunian masyarakat biasa tinggallah sebuah keluarga yang hidup sederhana dan mempunyai seorang gadis kecil yang bernama Widyawati. Sebagai seorang pegawai rendahan, ayahnya bekerja selama enam hari dalam seminggu, yang sering kali sudah sangat lelah pada saat pulang bekerja dari kantor.

Ibu Widyawati adalah seorang Ibu RumahTangga yang sehari-harinya juga bekerja keras dalam mengerjakan banyak tugas rumah tangga untuk mengurus keluarganya seperti, mamasak, mencuci, menyeterika dan lain-lainnya. Mereka adalah keluarga baik-baik juga hidup mereka nyaman-nyaman saja dan bahagia. Namun sebenarnya masih ada satu hal lagi kekurangan dalam keluarganya, akan tetapi tentang masalah itu Widyawati sendiri belum menyadarinya.

Hingga pada suatu hari, ketika sudah kurang lebih berusia Sepuluh tahun atau sudah duduk di kelas 4 Sekolah Dasar, untuk pertama kalinya pada saat liburan sekolah Widyawati diperbolehkan menginap dirumah teman sekelasnya yang bernama Larashati yang berada di komplek perumahan cukup mewah yang letaknya tidak jauh dari tempat tinggalnya.

Ketika waktu tidur tiba, ibu Larashati mengantar kedua anak tersebut pergi ketempat tidur dan memberikan ciuman selamat malam kepada mereka berdua.

“Ibu sayang padamu,” kata ibu Larashati.

“Aku juga sayang ibu,” jawab Larashati lirih.

Widyawati sangat heran ketika menerima perlakukan yang baik itu dari ibu Larashati dan merupakan pengalaman pertama, sehingga dia tidak bisa tidur mengingat hal tersebut. Karena selama ini, bahkan oleh kedua orang tuanya pun tidak pernah ada yang memberikan ciuman dan mengatakan sayang kepadanya.

Sepanjang malam itu dia tidak bisa tidur dan hanya berbaring sambil terus berpikir : “ Seharusnya memang seperti itulah yang dikatakan keluarga.”

Ketika Widyawati pulang, orang tuanya tampak sangat senang melihat kedatangannya, dan ibunya pun bertanya : “Bagaimana, apakah kamu senang menginap di rumah temanmu, Larashati ?”

“Ketahuilah olehmu Widyawati bahwa tanpa adanya engkau di rumah, suasana di dalam rumah ini rasanya sangat sepi sekali,” kata ayahnya menambahkan.

Widyawati tidak menjawab pertanyaan kedua orangtuanya, bahkan dia lari ke kamarnya meninggalkan mereka dan di dalam hati nya berkata : “ Aku benci kepada kedua orangtuaku. Kenapa mereka tak pernah menciumku ? Kenapa mereka tak pernah memeluk atau mengatakan sayang kepadaku ? Apakah mereka memang tidak menyayangiku ? Ingin rasanya aku lari dan pergi jauh dari rumah, dan tinggal serumah bersama ibunya Larashati.

Atau mungkin disini ada kekeliruan, bahwa orangtua yang kuikuti sekarang  ini bukanlah kedua orang tua kandungku. Dan mungkin ibunya Larashati lah yang merupakan orangtua kandungku asli, karena dia sangat baik kepadaku.”

Akan tetapi anehnya pada malam itu, sebelum tidur tiba-tiba Widyawati menghampiri kedua orangtuanya serta mengucapkan salam. “Selamat malam ayah dan ibu,” katanya.

Ayahnya yang sedang membaca Surat Kabar tanpa meletakkan Koran tersebut hanya menoleh seraya menjawab : “Selamat malam.”

Sedangkan Ibu Widyawati kemudian meletakkan jahitannya dan tersenyum sambil menjawab : “Selamat malam, Widya.”

Tetapi diantara mereka berdua tidak ada yang bergerak dari tempat duduknya dan kembali kepada kesibukannya masing-masing. Dan Widyawati pun sudah tidak tahan lagi, kemudian bertanya : “Kenapa aku tidak pernah diberi ciuman saat akan pergi tidur ?” .

Ibunya pun tampak sangat bingung, dengan terbata-bata dia berkata : “Yah,”

“Kenapa ?” tanya Widyawati ingin tahu.

“Sebab…. Ya karena ketika ibu masih kecil tidak ada yang pernah mencium ibu. Hanya itu saja,” demikian penjelasan ibunya.

Kemudian Widyawati berlari masuk ke kamarnya dan menjatuhkan mukanya ke bantal sambil menangis sampai tertidur. Sampai berhari-hari dia masih merasa jengkel dan marah kepada kedua orangtuanya. Dalam hatinya dia memutuskan : “ Kalau begitu sebaiknya aku kabur saja dari rumah dan pergi kerumah Larashati untuk tinggal bersama mereka. Dan aku tidak akan pernah kembali lagi kepada ayah dan ibu yang tidak pernah menyayangiku.”

Kemudian Widyawati mengemasi tas ranselnya dan pergi dengan diam-diam meninggalkan rumah. Akan tetapi begitu sampai di depan rumah Larashati, dia hanya berdiri termangu di luar rumah dan tidak merani masuk. Dan dalam hati dia berpikir : “Kalau aku akan ikut tinggal di rumah Larashati dengan alasan apa dan sekarang kan bukan waktunya liburan sekolah. Dengan alasan apa pun pasti mereka tidak ada yang akan mempercayaiku dan aku tidak akan diijinkan untuk tinggal bersama mereka. Kalau begitu untuk apa aku masih disini, lebih baik aku pergi saja.”

Maka kemudian Widyawati membatalkan rencananya lalu pergi menuju ke tempat lain. Segalanya terasa hambar, kosong dan sangat tidak menyenangkan. Dalam hatinya dia berkata  : “ Mungkin aku tidak akan pernah mempunyai keluarga yang bahagia seperti keluarga Larashati.”

Dia merasa bahwa selama ini terjebak untuk hidup bersama dengan kedua orangtua yang paling buruk dan tidak punya rasa sayang di dunia ini.

Widyawati tidak langsung pulang ke rumah, tetapi kemudian pergi ke sebuah taman kota dan duduk di bangku seorang diri. Tanpa terasa sangat lama dia duduk disana, sambil berpikir, hingga hari menjadi gelap.

Sekonyong-konyong wajahnya  menjadi berbinar-binar karena gembira sebab mendapat gagasan baru.

“Rencanaku pasti berhasil, dan harus berhasil karena aku akan membuatnya menjadi berhasil,” katanya dalam hati.

Ketika Widyawati masuk ke dalam rumah terlihat ayahnya sedang menelepon, tetapi kemudian sang ayah langsung menutup telepon tersebut, dan ibunya sedang duduk di kursi dengan wajah yang kelihatan sangat cemas. Begitu Widyawati masuk ke dalam rumah, ibunya langsung berseru : “Dari mana saja kau Widya ? Kami semua cemas sekali memikirkanmu !”

Tetapi Widyawati tidak menjawab, melainkan menghampiri ibunya dan memberikan ciuman di pipi, sambil berkata. “Aku sayang padamu, Bu.” Ibunya sangat terperanjat, seakan mulutnya terkunci hingga tidak bisa berbicara barang sedikitpun.

Setelah itu kemudian Widyawati menghampiri pula ayahnya serta memeluknya sambil berkata : “Selamat malam Ayah, aku sayang padamu.”

Setelah itu tanpa menoleh lagi lalu dia pergi tidur dan meninggalkan kedua orang tuanya yang terperangah di tempat mereka semula melakukan kegiatan membaca dan menjahit.

Pada keesokan paginya ketika mereka bersiap untuk sarapan, Widyawati memberikan ucapan Selamat Pagi dan memberikan ciuman lagi pada ayah dan ibunya. Ketika hendak berangkat ke sekolah dia kemudian berjingkat dan mengecup pipi ibunya sambil berkata : “Ibu, aku sayang padamu.”

Itulah kebiasaan baru yang dilakukan Widyawati secara rutin pada setiap harinya. Pada awal mulanya kedua orangtua Widyawati terkadang menarik diri karena dia merasa kaku dan canggung dengan kebiasaan baru dari Widyawati. Dan kadang-kadang mereka hanya tertawa, tetapi mereka tidak pernah sekalipun membalas ciumannya. Akan tetapi Widyawati tidak pernah putus asa. Karena dia telah membuat rencana, dan dia akan menjalaninya dengan konsisten.

Hingga pada suatu malam Widyawati lupa untuk mencium ibunya sebelum berangkat tidur. Dan tidak lama kemudian pintu kamarnya tiba-tiba terbuka dan ibunya pun masuk.

“Mana ciuman untukku ?” tanya ibunya yang  berpura-pura marah.

“Oh iya, aku lupa bu,” sahutnya sambil bangun dan duduk tegak  lalu ia mencium ibunya.  “Aku sayang padamu, Bu.”

Setelah itu kemudian ia berbaring lagi dan berkata : “Selamat malam,” lalu memejamkan matanya. Tetapi ibunya tidak segera keluar dari dalam kamar Widyawati. Akhirnya ibunya berkata. “Ibu juga sayang padamu, Widya.” Lalu ibunya membungkuk dan mengecup pipinya Widyawati.

“Dan jangan pernah kamu lupa untuk mencium ibu lagi, Widya” kata ibunya dengan nada dibuat agak tegas.

“Baiklah Bu,” jawab Widyawati sambil tertawa.  Dan memang sejak itu Widyawati tidak pernah melupakan hal itu lagi.

Bertahun-tahun hal tersebut terus berjalan sampai kemudian Widyawati sudah berkeluarga dan mempunyai anak sendiri, dia selalu memberikan ciuman pada bayinya, bahkan sampai pipi bayinya yang mungil itu menjadi merah.

Dan setiap kali ketika Widyawati berkunjung kerumah orangtuanya, hal yang pertama kali dikatakan ibunya adalah : “Mana ciuman untuk ibu ?”

Dan kalau sudah tiba waktunya Widyawati pulang ke rumahnya sendiri, ibunya akan berkata : “ Aku sayang padamu Widya. Engkau pasti tahu tentang itu, bukan ?”

“Ya, Bu sudah sejak dulu Widya mengerti,” jawabnya sambil tersenyum.

Saudaraku pembaca semuanya, sebuah gubahan cerita dengan judul “Langkah Pertama” yang mengetengahkan atau membahas tentang sesuatu perubahan yang diinginkan harus dimulai dari diri sendiri, dan cerita tersebut agar dapat kita ambil hikmahnya sebagai bahan perenungan dalam kehidupan sehari-hari kita masing-masing.

Berangkat dari cerita diatas, apabila ingin mengubah sesuatu dalam kehidupan sehari-hari yang sesuai dengan apa yang diinginkan atau dengan perkataan lain dengan harapan agar orang lain mau melakukannya untuk kita. Maka lakukanlah hal tersebut yang dimulai dari diri kita sendiri sebagai contoh. Dan jangan berputus asa.

Sesuai pendapat Albert Schweitzer (1875-1965) seorang Filsuf asal Perancis yang mengatakan bahwa : “Memberi contoh adalah faktor terpenting dalam mempengaruhi orang lain.”

Karena banyak orang yang tahu mengajarkan atau mengatakan tetapi tidak tahu melaksanakannya, tahu menilai dan menghakimi orang lain namun tidak tahu menilai dan menghakimi diri sendiri. Hal yang seringkali terjadi adalah bahwa orang banyak berbicara, banyak melakukan kritik tetapi tidak melakukan apa-apa.

Dan yang perlu diingat bahwa keinginan atau harapan adalah merupakan sebuah titik awal. Akan tetapi apabila kaki hanya diam di tempat berpijak saja dan bukannya melangkah maju maka keinginanpun akan berhenti hanya sampai pada harapan saja dan tidak akan pernah ada hasil yang dapat dinikmati.

Menurut pendapat Aa Gym, untuk merubah sesuatu harus :

Mulai dari diri sendiri,

Mulai dari hal yang terkecil dan

Mulai dari sekarang.

Yang dimaksudkan dengan :

1). Mulai dari diri sendiri, adalah berbicara tentang instrospeksi diri. Apabila diperhatikan pada setiap peristiwa yang tidak menyenangkan terjadi terdapat kenyataan bahwa ada seseorang yang sibuk mencari-cari kesalahan orang lain akan tetapi lupa atau melupakan tentang kesalahan dirinya sendiri yang setidaknya dia sendiri turut ambil bagian dengan terjadinya peristiwa tersebut.

Padahal kalau mau jujur, penyebab utama dari keberhasilan atau kesulitan dan kejatuhan yang dialami oleh seseorang adalah lebih banyak disebabkan oleh perilaku dirinya sendiri.

Leo Tolstoy (1828 – 1910) seorang Sastrawan Rusia yang mengatakan bahwa : “Semua orang berpikir akan mengubah dunia, tapi tidak ada yang berpikir mengubah dirinya sendiri.”

Oleh karena itu, apabila menginginkan orang lain melakukan sesuatu yang baik untuk kita, sebuah pepatah mengatakan  “ Perlakukanlah orang lain sebagaimana kamu ingin diperlakukan.”

2). Mulailah dari hal yang terkecil, karena pada umumnya manusia suka menginginkan perubahan yang besar secara cepat dan drastis. Yang harus diingat bahwa tidak akan mungkin ada perubahan besar tanpa melewati terlebih dahulu perubahan yang kecil. Oleh karena itu rubahlah terlebih dahulu hal-hal kecil yang ada pada diri kita, yang ada di sekitar kita, dengan cara perlahan-lahan.

Maka kita akan menyadari bahwa perubahan kecil itu ternyata adalah awal dari sebuah perubahan yang besar, atau paling tidak akan membawa pengaruh bagi perubahan yang akan lebih besar lagi.

Andaikata tidak ada suatu perubahan sekecil apapun yang dilakukan maka yang akan terjadi adalah hanya angan-angan atau Cuma mimpi.

Berkaitan dengan hal tersebut diatas, dalam kehidupan berkeluarga hargailah apa yang anda miliki, terutama orang yang anda cintai. Hargai juga waktu yang anda miliki, berikanlah waktu untuk anak, keluarga atau orang yang anda cintai  walaupun hanya sesaat namun itu sangat berarti untuknya dan bisa membuatnya bahagia.

3). Mulailah dari sekarang. Hal ini mirip dengan pepatah cina yang mengatakan bahwa, langkah seribu mil selalu dimulai dari langkah pertama.

Jika ada seseorang yang ingin pergi ke suatu tujuan, akan tetapi dia tidak melakukan kegiatan apapun juga dan hanya berdiam diri sambil memejamkan mata, maka selamanya dia tidak akan mungkin pernah sampai ke tujuan yang diinginkan.

Oleh karena itu  “Mulailah dari sekarang”  menempati urutan yang tidak kalah pentingnya untuk merubah sesuatu yang diinginkan, untuk ukuran yang lebih kecil adalah merubah hidup dan kehidupan kita dan untuk  yang lebih luas adalah yang berada disekitar kita dan seterusnya.

Maka apabila manusia berharap, jangan berhenti hanya pada sekedar berharap saja, tetapi mulailah untuk melangkah. Agar supaya harapan tersebut tidak hanya sekedar menjadi harapan saja.

Kaitannya dengan cerita diatas apabila kelak menjadi orangtua, maka untuk menunjukkan rasa kasih sayang kepada anak-anak maka : “ Peluk, Cium dan Didiklah Dia.”

Karena anak-anak yang dididik dalam keluarga yang penuh kesantunan, etika tata karma dan sikap kesederhanaan akan tumbuh menjadi anak-anak yang tangguh, disenangi dan disegani banyak orang.

Mereka tahu aturan makan table manner di restoran yang mewah, tetapi juga tidak canggung apabila harus makan di warteg kaki lima.

Mereka sanggup membeli barang-barang mewah, tetapi mereka pun tahu mana yang menjadi keinginan dan mana yang menjadi kebutuhan.

Mereka biasa pulang pergi naik pesawat antar kota, tetapi santai saja pada saat harus naik Angkutan Umum kemana-mana.

Mereka bisa berbicara formal pada saat berhadapan dengan orang yang berpendidikan, tetapi mampu pula berbicara santai pada saat bertemu dengan orang jalanan.

Mereka berbicara visioner ketika bertemu rekan kerja akan tetapi mampu bercanda lepas pada saat bersama dengan teman sekolah.

Mereka nggak norak ketika bertemu dengan orang kaya tetapi juga tidak merendahkan orang yang lebih miskin dari dirinya.

Mereka mampu membeli barang-barang bergengsi, akan tetapi menyadari kalau yang membuat dirinya bergengsi itu adalah kualitas dan kapasitas dirinya, bukan dari barang yang dikenakannya.

Mereka punya….. tetapi tidak teriak atau pamer kemana-mana, dan dari kerendahan hati yang membuat orang lain respect dengan dirinya,

Jangan mendidik anak kecil dengan penuh kemanjaan, apalagi kalau sampai melupakan kesantunan dan etika tata karma.

Hal-hal yang sederhana tentang kesantunan antara lain seperti :

Pamit ketika akan pergi keluar rumah,

Permisi pada saat hendak masuk ke rumah orang lain,

(karena pada kenyataannya banyak orang yang masuk ke rumah orang lain tidak punya sopan santun, tidak menegur atau menyapa orang-orang yang berada di rumah itu),

Kembalikan jika meminjam, baik berupa uang atau barang walau sekecil apapun nilainya.

Kelihatannya sangat sederhana memang , akan tetapi untuk orang yang tidak mempunyai attitude atau sikap baik  maka dia tidak akan mampu melakukannya.

Bersyukurlah, bukan karena kita terlahir di keluarga yang kaya atau cukup tetapi juga bersyukurlah kalau kita terlahir di keluarga yang mengajarkan kita kesantunan, etika tata karma dan kesederhanaan.

Karena semuanya ini jauh lebih mahal daripada sekedar uang.

Dan untuk itu semua, mulailah dari sekarang dengan langkah pertama kita selaku orang tuanya sebagai contoh.

Namun ada satu yang perlu diperhatikan yaitu jangan melakukan sesuatu yang kita sendiri tidak mengerti atau tidak tahu apa maksud yang sebenarnya walaupun dengan niat yang baik. Masih dikatakan untung  jika melakukan hal tersebut membuahkan sesuatu yang baik, misalnya saja seperti sebuah cerita dibawah ini :

Ada seorang anak Papua berusia 10 tahun, namanya Jacobus. Suatu hari Jacobus berlari-lari menemui Pak Purwadi dan Jacobus meminta tolong kepada Pak Purwadi untuk mengobati anjingnya yang sekarat.

Pak Purwadi tersenyum dan mengiyakan, lalu mereka berdua menuju rumah Jacobus.

Melihat anjing yang sekarat tersebut, kemudian Pak Purwadi  yang asli orang Bantul Jogya itu lalu menempelkan telapak tangannya ke jidat anjng dan berkata dalam bahasa Jawa : “Su, asu, nek kowe arep mati ya matio, Nek arep urip, urip yo waras-o” adapun terjemahan bebasnya adalah : “Njing, anjing, kalau kamu mau mati ya cepat mati, tetapi kalau mau hidup ya cepat sembuh.”

Jacobus yang tidak mengerti bahasa Jawa itu berpikir bahwa Pak Purwadi menggunakan bahasa latin, diam-diam Jacobus menghafalkan kata-kata yang diucapkan Pak Purwadi tersebut yang dikira sebagai mantra.

Setelah itu Pak Purwadi langsung pulang kerumahnya……..

Beberapa hari kemudian Jacobus berlari-lari ke rumah Pak Purwadi dengan maksud akan melaporkan kalau anjingnya sudah sembuh. Namun ternyata Pak Purwadi sedang sakit, Jacobus terkejut kemudian  segera menuju kamar Pak Purwadi yang sedang tiduran dan langsung menempelkan telapak tangannya ke dahi Pak Purwadi, dan selanjutnya Jacobus membaca mantra…..

“Su, asu nek kowe arep mati ya mati-o, nek arep urip yo waras-o…”

Pak Purwadi kaget tapi kemudian tertawa terbahak-bahak dan langsung sembuh……………

Saudara pembaca yang hari ini sedang sakit atau sedang tidak enak badan setelah membaca cerita ini semoga tersenyum dan tawamu itu juga akan membuatmu sembuh.

Sebab hati yang gembira adalah obat yang manjur.

Aaammiinnnnn.

BANDUNG–INDONESIA, FEBRUARI – 2016 

(Gubahan Ki Ageng Bayu Sepi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *