SALAH PENGERTIAN

patung-kakek-nenek-uk-sedang-unguADA HAL YANG PALING SERING DIKELUHKAN OLEH SEORANG PEREMPUAN TERHADAP PASANGANNYA, APAKAH ITU MASIH DALAM TARAF PACARAN ATAUPUN SUDAH BERUMAH

TANGGA ADALAH BAHWA PASANGANNYA TIDAK PERNAH BISA MENGERTI TENTANG KEINGINANNYA.

MUNGKIN SAJA BAHWA PIHAK LELAKI ITUPUN SUDAH BERUSAHA UNTUK BISA MENGERTI DAN MEMBAHAGIAKAN PEREMPUANNYA DENGAN SEGALA PERMASALAHAN YANG ADA MENURUT KEMAMPUAN DAN CARANYA SENDIRI.

TETAPI ADA HAL LAIN YANG JARANG DI INGAT OLEH PEREMPUAN, KARENA SEBENARNYA BAHWA LELAKIPUN SAMA BAHWA DIAPUN INGIN DIPERHATIKAN DAN DIMENGERTI OLEH PASANGANNYA.

NAMUN KARENA KETERBATASAN DAN KETIDAKMAMPUAN MANUSIA DALAM BANYAK HAL SERTA MENGANGGAP BAHWA APA YANG TELAH DILAKUKAN ADALAH SUDAH BENAR, MAKA SEBAGAI AKIBATNYA TIDAK JARANG AKAN TIMBUL SALAH PENAFSIRAN DAN SALAH PENGERTIAN.

Di dalam kemeriahan pesta tersebut ketika makanan mulai dihidangkan, terlihat Bapak Bagas atau Sang Suami melayani dengan mesra dan cepat-cepat mengambilkan kepala ikan yang disajikan diatas sebuah piring untuk diberikan kepada istrinya, Ibu Ida Ayu dengan pandangan dan senyuman sayang. diceritakan pada suatu hari di sebuah hotel berbintang yang sangat terkenal dan yang pada saat itu sedang ramai berdatangan para tamu untuk menghadiri pesta dalam rangka merayakan ulang tahun perkawinan Bapak Bagas dan Ibu Ida Ayu yang ke 50.

Para tamupun ikut tersenyum bahagia  menyaksikan kemesaran pasangan tua tersebut.

Dan pada saat sedang berada dihadapan  istrinya sambil membawa piring yang berisi kepala ikan tersebut maka tiba-tiba melayanglah ingatan Bapak Bagas pada kenangan masa yang lalu ketika dahulu masih muda dan bagaimana dia bertemu, berkenalan dan kemudian menikah dengan Ibu Ida Ayu, istrinya.

-o0o-

Banyak yang mengatakan, kalau benar-benar diperhatikan mulai dari ujung rambut kepala sampai ke kaki, anak perempuan itu memang tidak ada kurangnya sama sekali atau dapat dikatakan sempurna. Muka yang oval seperti daun sirih, mata yang belok yang dihiasi oleh halis tebal dan indah serta bulu mata yang lentik, hidung yang kecil dan mancung, bibir yang menawan bagaikan delima  merekah, gigi kecil-kecil rata dan yang berjajar rapih bagaikan biji mentimun yang berbaris. Berkulit kuning langsat, berambut hitam sepanjang pundak. Berperawakan padat berisi, tinggi badan yang sedang dapat dikatakan semampai, disebut tinggi tidak pendekpun juga tidak.

Tidak berbeda dengan pendapat orang lain, yang jelas menurut pandangan mata Bagaskara pun, anak perempuan tersebut memang cantik, menawan dan tidak banyak tingkah. Anak gadis tersebut tidak lain adalah putri dari bapak dan ibu tempat Bagaskara tinggal atau kos. Umurnya tidak lebih dari 18 tahun akan tetapi setelah lulus SMA dia tidak lagi melanjutkan sekolah dan hanya tinggal di rumah untuk membantu orang tuanya dalam mengurus keperluan rumah tangga.

Ketika itu Bagaskara yang asli orang Jawa sedang magang bekerja di sebuah Sekolah Menengah Atas di suatu daerah, tinggal di rumah Bapak Nyoman yang berasal dari Bali yang taraf kehidupannya pun biasa-biasa dan kerjanya juga sebagai salah seorang guru yang mengajar dibidang Pendidikan Agama dan Budi Pekerti di sekolah tersebut.

Sebagai siswa yang mendapatkan bea siswa dan setelah lulus sekolah  sebelum diangkat sebagai pengajar tetap dan ditempatkan pada suatu daerah tertentu, oleh peraturan diharuskan menjalani kerja magang terlebih dahulu.

Adapun mengenai dimana tempat Bagaskara magang, sepenuhnya ditentukan olah institusi yang berkaitan untuk jangka waktu selama 2 tahun. Oleh karena itu selama dua tahun pula dia tinggal di rumah Bapak Nyoman yang baik hati dan memiliki seorang anak gadis yang sangat cantik. Adapun panggilan gadis cantik itu adalah Dayu atau Idayu dan nama yang sebenarnya adalah Ida Ayu Putu Maheswari.

Walaupun tinggal pada keluarga lain akan tetapi karena sudah dianggap seperti keluarga sendiri, maka setiap kali waktu makan mesti diajak bareng-bareng dengan keluarga Bapak Nyoman, utamanya pada saat makan malam. Dan Idayu si gadis cantik itulah yang setiap harinya baik pada waktu pagi, siang maupun malam hari yang membantu menyajikan makan dan minuman di atas meja.

Jika pagi hari pasti disediakan sarapan atau setidaknya serangkap roti tawar. Karena kepulangan setelah mengajar dari sekolah selalu tidak  bersamaan dengan Bapak Nyoman, maka kalau waktu makan siang dapat dikatakan tidak pernah berbarengan kecuali pada hari libur.

Lebih dari setahun tinggal, Bagaskara merasa sangat betah. Sebabnya adalah bukan hanya karena penerimaan Bapak Nyoman sekeluarga terhadapnya yang menganggap sudah tidak berbeda seperti keluarganya sendiri, akan tetapi sebenarnya ada alasan lain yang menyebabkan Bagaskara menjadi betah tinggal ditempat tersebut yaitu karena adanya Ida Ayu yang sangat menawan dan menggemaskan hatinya.

Jika sore hari sepulang mengajar di sekolah dan sampai rumah tidak segera bertemu dengan Ida Ayu, rasanya selalu ada yang kurang. Hal tersebut sangatlah berbeda jika dibandingkan ketika masih baru kos pada setahun yang lalu, ketika duduk berhadapan pada satu meja dan makan bersama, perasaannya biasa-biasa saja. Bahkan dudukpun dibuat sesopan mungkin agar jangan sampai disebut sebagai orang yang tidak mempunyai tata kesopanan.

Tetapi setelah lebih dari setahun tinggal, timbul rasa yang berbeda kalau akan makan bersama dan sebelum keluar dari kamar selalu berkaca dan bersisir terlebih dahulu serapih mungkin. Tidak lupa mengenakan baju yang pantas yang diharapkan bisa manarik perhatian Ida Ayu.

Ternyata memang benar apa yang dikatakan oleh sebuah pepatah berbahasa Jawa yang berbunyi : “Witing tresno jalaran saka kulina,” jika diterjemahkan secara bebas adalah “Awalnya tumbuh rasa cinta itu karena kebiasaan.”

Dan apa yang sedang dilakukan Bagaskara tersebut sudah jelas bisa  dinamakan sebagai jual tampang karena sedang menderita sakit karena terserang asmara atau tumbuhnya rasa cinta karena seringnya bertemu, berbincang dan sebagainya. Disamping itu di dalam hatinya tidak pernah berhenti untuk selalu berharap : “Mudah-mudahan Idayu punya perasaan dan tertarik kepadaku.”

Akan tetapi sikapnya menjadi tidak tenang, gelisah dan serba salah seperti cacing kepanasan ketika dirasakan sepertinya tidak ada tanggapan apa-apa dan dingin-dingin saja dari Ida Ayu. Malahan jika dipikirkannya kembali seperti ada hal yang aneh yang dilakukan Ida Ayu terhadap Bagaskara.

Peristiwa itu terjadi ketika suatu hari sedang makan malam bersama, Bagaskara diambilkan nasi sepiring penuh oleh Ida Ayu. Dan nasi yang disajikan dalam piring beserta lauknya berupa seekor goreng  ikan yang   telah diambil kepalanya, dimakannya habis bahkan perutnyapun sampai terasa tidak enak karena terlalu kenyang.

Pada keesokan harinya, ketika makan bersama lagi jumlah nasi yang disiapkan untuk Bagaskara sepertinya dikurangi dan tidak sebanyak hari kemarin. Dengan adanya kejadian seperti itu dalam hatinya Bagaskara berkata : “Idayu sepertinya mengerti kalau kemarin aku makan terlalu kenyang, maka sekarang jumlah nasinya dikurangi. Jika demikian berarti Idayu menaruh perhatian denganku,” dan hatinya pun mulai berbunga-bunga.

Besoknya lagi ketika makan bersama, kembali diperhatikan bahwa nasi di piringnya ternyata lebih sedikit bila dibandingkan dengan nasi yang kemarin. Namun Bagaskara kembali berpikir positif : “Idayu masih memperhatikanku, mungkin menurut perkiraannya bahwa nasi yang kemarin disiapkan untukku masih terlalu banyak, oleh karena itu jumlahnya dikurangi lagi. Ya tidak mengapalah, memang kemarin terlalu kenyang, jadi kalau sekarang dikurangi jumlahnya tentunya akan tepat untuk ukuran perutku. Idayu memang hebat, bisa memperkirakan jatah isi perutku.”

Oleh karena itu kemudian Bagaskara makan dengan lahap dan sangat menikmati.

Pada keesokan malamnya lagi, dan herannya… ternyata nasi yang berada di piring Bagaskara semakin berkurang saja dan dalam makanpun kelihatannya belum merasa kenyang. Tetapi dia tidak menambah lagi, walaupun sudah ditawarin oleh Ida Ayu maupun Bapak Nyoman sekeluarga. Karena hal itu memang sudah menjadi kebiasaannya sejak masih kecil, jika makan hanya sekali mengambil dan tidak bernah menambah lagi.

Dan yang lebih aneh adalah bahwa pada  malam-malam berikutnya setiap kali makan bersama jatah nasi yang berada dalam piring Bagaskara menjadi semakin berkurang dan semakin berkurang atau menjadi sedikit. Hal tersebut berjalan kurang lebih selama sebulan dan Bagaskara tetap tidak menambah nasi lagi walaupun perut masih merasa lapar.

Memperhatikan keadaan seperti itu tentu saja membuat Bapak dan Ibu Nyoman juga Ida Ayu menjadi heran. Maka pada suatu hari ketika makan malam bersama,  Ibu Nyoman mengerti kalau Ida Ayu akan mengambilkan nasi di piring Bagaskara hanya sedikit, oleh karena itu dia memerintahkan anaknya agar menambah jatah nasi yang berada dalam piring Bagaskara. Menerima perintah tersebut Ida Ayu hanya tersenyum dan kemudian memandang Bagaskara sambil menambah isi piringnya sambil berkata : “Cukup sekian Blih (Mas, Kang, Abang atau Kanda) ?”

“Ya cukup Geg (dik) Dayu, suksma (terima kasih),” jawabnya mantap.

Setelah itu untuk malam-malam selanjutnya jatah nasi dalam piring Bagaskara kembali normal. Tetapi di dalam hatinya menjadi penasaran dan muncul pertanyaan : “Apa sih yang menjadi kemauan Idayu itu  sebenarnya ?”

Oleh karena didorong oleh rasa ingin tahu dan panasaran yang amat sangat dengan apa yang telah dilakukan Ida Ayu, maka pada suatu hari dengan seijin Bapak dan Ibu Nyoman, diajaknyalah Ida Ayu untuk jalan-jalan bermalam minggu ke Kota.

Setelah dirasa cukup berkeliling kesana-kemari kemudian diajaklah   Ida Ayu masuk ke sebuah Rumah Makan dan sengaja memilih meja yang berada di pinggir yang menghadap kolam agar bisa mellihat hiburan yang sedang pentas di panggung ditengah kolam.

Angin malam terasa dingin karena disertai hembusan uap air dan terangnya sinar bulan yang sedang bulat penuh yang membuat suasana menjadi lebih indah serta romantis.

Ditengah istirahat dalam keindahan suasana yang tenang dan romantis sambil menikmati makan dan minum kemudian Bagaskara bertanya :

“Geg Dayu, aku mau bertanya tapi jangan menjadikan kamu marah atau tersinggung ya ?”

“Mau bertanya tentang apa Blih ? Ya enggaklah, masak aku akan menjadi tersinggung atau marah,” jawab Ida Ayu ringan.

“Begini Geg Dayu, pada bulan kemarin, setiap kali Geg Dayu mengambilkan nasi untukku, mengapa jumlah setiap harinya selalu dikurangi dan dikurangi lagi, ada apakah yang sebenarnya ?” tanya Bagaskara ingin tahu.

“Maaf ya Blih tentang yang kemarin itu,  sebenarnya aku hanya merasa penasaran saja dengan Blih Bagas  ?” jawab Ida Ayu sambil tertawa perlahan.

“Penasaran denganku ? Penasaran tentang apa? Geg Dayu ini aneh sekali,” kata Bagaskara pula.

“Aku ini aneh ? Aku tidak aneh Blih, justru yang aneh itu kan Blih Bagas sendiri ?” jawab Ida Ayu menjelaskan.

“Lho mengapa yang menjadi aneh malahan saya, coba bagaimana penjelasan atau logikanya ?” tanya Bagaskara ingin mengerti.

“Begini  Blih, selama setahun aku makan bersama dengan Blih Bagas. Dan yang menurutku aneh dan membuatku heran adalah setiap aku sajikan nasi sepiring tidak pernah nambah. Oleh karena itu pada sebulan kemarin aku mencoba menguji Blih Bagas dengan cara jatah nasi selalu ku kurangi karena aku ingin melihat agar supaya Blih Bagas menambah. Tetapi malahan Blih Bagas tidak pernah mebambah barang sedikitpun, apakah itu bukan merupakan hal yang aneh ?” jawab Ida Ayu mencoba untuk menjelaskan.

“Oohh…jadi ceritanya ini mau menggangu atau mau jahil ? Sebenarnya hal tersebut bukanlah sesuatu yang mengherankan karena sudah menjadi kebiasaanku mulai sejak saya masih kecil, kalau makan hanya sekali mengambil tidak pernah menambah lagi. Tetapi jika hal seperti itu masih terus berlanjut aku benar-benar kelaparan dan bisa menjadi kurus kemudian akan jatuh sakit. Dan kalau jatuh sakit tidak ada orang yang akan merawatku, karena aku jauh dari keluarga ? jawab Bagaskara menjelaskan.

“O…kalau demikian halnya maafkan saya Blih, karena saya memang tidak mengerti,” kata Ida Ayu sambil meminta maaf.

“Ya sudahlah… dan hal itu sudah lama tidak saya pikirkan lagi, tetapi yang penting jangan sampai diulangi lagi. Nanti saya bisa menjadi jatuh sakit betulan,” permintaan Bagaskara berseloroh.

“Apa, sakit ? Kenyataannya sampai sekarang kelihatannya selalu segar bugar begitu ,” kata Ida Ayu sedikit protes.

“Apakah menurut pendapatmu aku ini tidak sakit, dik ? Caba perhatikan dengan benar, aku sebenarnya sedang menderita sakit yang agak parah. Oleh karena itu tolonglah saya agar bisa cepat sembuh,” pinta Bagaskara.

“Ah… masak iya sakit. Jika kalau sakitnya beneran dimana letak rasa sakitnya dan dengan cara apa saya harus menolongnya ?” tanya Ida Ayu lagi.

“Disini yang sakit, coba mana tanganmu,” sambil berkata demikian lalu Bagaskara memegang tangan Ida Ayu dan diletakkan didadanya. Katahuilah Geg Dayu, bahwa sebenarnya aku sedang sakit asmara dan jatuh cinta kepadamu…… Geg Dayu apakah engkau mau menerima cintaku ?” kata Bagaskara merayu.

Secara reflek Ida Ayu menarik tangannya sambil menjawab : “Blih Bagas, tuh lihat banyak orang dikiri kanan kita, malu kalau sampai didengar oleh mereka,” kata Ida Ayu memberi alasan.

“Tenang saja, orang-orang tersebut sedang asyik dengan urusannya masing-masing, jadi tidak akan ada yang memperhatikan kita. Kembali lagi ke masalah kita, maukah Geg Dayu menerima cintaku ?” tanya Bagaskara.

Dengan agak malu-malu Ida Ayu tunduk dan menjawab : “Begini Blih, sebenarnya tentang rasa cinta yang kau sampaikan kepadaku, terus terang saja saya terpaksa tidak bisa………………..,”

Baru sampai pada perkataan itu ketika mendengar apa yang diucapkan Ida Ayu, secara mendadak badan Bagaskara terasa lemas dan hatinya terasa hancur.

Tetapi ternyata kalimat itu sendiri belum selesai :

“……..untuk menolaknya Blih. Karena saya sendiri juga mencintaimu,” demikian lanjutan kata-kata Ida Ayu yang sengaja diucapkan secara perlahan dan lambat.

Tiba-tiba saja perasaan yang semula hancur di hati Bagaskara kembali menjadi sangat lega seakan terbebas dari himpitan sebuah batu yang sangat besar begitu mendengar lanjutan jawaban Ida Ayu. Entah seperti apa kegembiraan hati yang dirasakannya saat itu dan tidak bisa digambarkan atau ditulis dengan kata-kata, yang jelas Bagaskara merasa sangat bahagia.

Tanpa sengaja Bagaskara melihat kearah jam di tangannya dan waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Kemudian Bagaskara segera mengajak Ida Ayu untuk pulang agar tiba di rumah tidak terlalu malam. Sesampainya di rumah,  mereka memang sudah ditunggu Bapak Nyoman di teras rumah. Setelah memberi salam kemudian Bagaskara masuk ke dalam rumah, begitu juga Bapak Nyoman dan Ida Ayu yang maksudnya juga ingin segera beristirahat.

Tetapi karena rasa gembira yang sangat luar biasa dalam hatinya ternyata malahan membuat Bagaskara tidak bisa tidur.  Dengan masuk ke dalam kamar maksudnya adalah ingin cepat tidur, tetapi begitu merebahkan diri di kasur sampai tengah malam tidak segera bisa memejamkan matanya. Yang nampak berseliweran dan mengganggu di dalam benak serta pikirannya adalah bayangan Ida Ayu ketika sedang memberikan jatah makannya, dengan maksud ingin menggodanya.

Bagaskara tidak bisa memungkiri kalau di dalam hatinya telah tumbuh benih cinta terhadap Ida Ayu, dan Bagaskara juga tidak bisa mengingkari apa yang dilihatnya, bahwa Ida Ayu memang cantik sekali, secantik namanya yaitu Ayu dan tidak hanya cantik lahirnya saja tetapi juga hatinya.

Namun di dalam hatinya selalu memuji :  “Syukur Alhamdulillah ya Tuhan, melalui kejahilannya itu kini aku dan Idayu Kau pertemukan untuk saling mencinta.”

Singkat cerita, masa magang Bagaskara selama dua tahun sudah selesai dilaksanakan dan kemudian diangkat menjadi seorang pengajar tetap dan ditempatkan di luar daerah. Tetapi hubungan dengan Ida Ayu masih terus berjalan dengan baik. Berkat doa dan restu Bapak Nyoman sekeluarga serta kedua orang tuanya,  Bagaskara jadi menikah dengan Ida Ayu dan menempati sebuah rumah sederhana dan menjalani hidup secara sederhana pula.

Tetapi ada satu hal yang tidak pernah hilang dari kebiasaan Ida Ayu yaitu setiap kali makan bersama dan ketika menyiapkan lauk berupa  ikan apakah itu digoreng biasa atau dimasak sebagai sayur selalu kepalanya dimakan dan badannya disajikan untuk Bagaskara suaminya.

Memang masalah jodoh adalah sebuah misteri dan kekuasaan Tuhan yang menciptakan alam beserta seluruh isinya. Sebagai manusia  hanya sekedar menjalani dengan percaya kalau hidup itu selalu dalam tuntunan-Nya dan merupakan sebuah kebahagiaan ketika Bagaskara bisa menikah dengan Ida Ayu yang menjadi pujaan hatinya.

Hingga sampai dengan saat Bagaskara dan Ida Ayu dalam peringatan lima puluh tahun pernikahanannya atau Pesta Kawin Emas, dikaruniai dua orang anak, yang seorang lelaki yang kini sudah menjadi pengusaha yang sukses dan seorang lagi adalah perempuan sebagai dokter, Kepala sebuah Rumah Sakit serta empat orang cucu yang cantik dan manis serta lucu-lucu.

-o0o-

Kembali pada alur cerita semula, ketika Bapak Bagaskara sedang berhadapan dengan Ibu Ida Ayu, istrinya sambil membawa sebuah piring yang berisi kepala ikan dan disertai dengan senyuman serta pandangan sayang, tetapi tidak pernah disangka dan di luar perkiraannya bahwa Sang Istri cantik itu yang kini sudah menjadi seorang nenek-nenek  tiba-tiba menangis tersedu-sedu. Semua hadirin yang semula ikut tersenyum bahagia menyaksikan kemesraan pasangan tua tersebut kini menjadi terdiam dan menunggu apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Setelah reda menangis Ibu Ida Ayu atau Sang Istri pun menjelaskan :   “Blih, telah 50 tahun kita menikah. Sesulit dan separah apapun kondisi pernikahan kita saat itu aku tidak pernah mengeluh sedikitpun, hingga perhikahan itu bertahan sampai dengan saat ini. Tetapi sungguh tidak disangka di hari yang istimewa ini, alangkah teganya engkau tetap masih memberiku makanan kepala ikan yang sebenarnya paling tidak aku sukai yang telah kumakan selama ini.”

Bapak tua tersebut terpana sesaat kemudian berkata : “Istriku, bukankah selama ini bahkan sebelum kita menikahpun pada saat makan jika lauknya itu ikan engkau selalu memakan kepalanya. Salahkah aku jika pada hari yang istimewa ini aku menghidangkan makanan yang menjadi kesukaanmu itu ?”

“Ketahuilah Blih, pada saat Blih makan badan ikan kuberikan untukmu Blih sementara itu aku sendiri memakan kepalanya. Padahal yang sebenarnya bahwa aku sangat tidak suka makan kepala ikan, tetapi demi rasa cinta, pengabdian dan pengobananku, hal itu kulakukan agar dapat memberikan yang terbaik untukmu Blih,” jawab Ibu Ida Ayu menjelaskan.

Kembali Bapak tua tersebut tertegun untuk beberapa saat dan dengan mata berkaca-kaca, dia berkata : Istriku 50 tahun yang lalu ketika kita masih hidup dengan sangat sederhana dan dapat dikatakan belum mempunyai apa-apa, engkau bersedia menjadi istriku aku sungguh merasa bahagia yang luar biasa dan sangat mencintaimu. Dan saat itu pula aku berjanji kepada diriku sendiri bahwa seumur hidup aku akan berupaya membahagiakanmu untuk membalas cinta kasih dan pengorbananmu selama ini.”

Sambil megusap air mata pada mata tuanya itu kemudian dia melanjutkan : “Secara jujur dan Demi Tuhan dengan memberikan untukmu hidangan seekor kepala ikan aku hanya memenuhi janji dalam diriku sendiri  untuk memberikan yang terbaik yang paling kau sukai Dayu.

Ah..Ternyata kita berdua walaupun telah hidup bersama selama 50 tahun dan selalu saling menicntai tetapi tidak cukup untuk saling memahami. Sekali lagi maafkan aku Dayu, istriku bila aku tidak tahu bagaimana caranya untuk membuatmu bahagia.”

Kemudian mereka pun berpelukan dalam keharuan. Tamu-tamu yang hadirpun tersentuh begitu melihat dan mendengar percakapan kedua  pasangan tua tersebut, mereka saling mencintai berusaha berkorban untuk saling membahagiakan, tetapi tidak tahu bagaimana caranya. Hal ini bisa terjadi mungkin karena kurangnya komunikasi diantara mereka atau karena keterbatasannya sebagai manusia.

Saudaraku pembaca semuanya, cerita diatas hanya merupakan sebuah contoh kejadian saja dari sekian banyak masalah yang terjadi dan banyak orang salah untuk memahaminya, melalui gubahan dan reka ceritera mengenai Salah Pengertian sebagai peristiwa yang dapat mengingatkan kita bahwa dalam kehidupan berumah tangga maupun kehidupan bermasyarakat sehari-hari yang perlu adanya instrospeksi diri.

Berangkat dari cerita diatas yang harus dilakukan sebagai pasangan suami istri adalah :

A). Bahwa seorang suami atau istri harus mengetahui latar belakang pribadi pasangannya masing-masing. Karena pengetahuan terhadap latar belakang pribadi masing-masing adalah sebagai dasar untuk dapat menjalin berkomunikasi dengan baik. Dan dari sinilah seorang suami  atau istri tidak akan memaksakan egonya. Banyak keluarga hancur, disebabkan oleh sifat egoismenya masing-masing. Yang artinya bahwa seorang suami tetap bertahan dengan keinginannya dan begitu pula istri.

Oleh karena itu sebagai seorang suami atau seorang istri untuk bisa saling mengerti dan memahami setidaknya diharapkan bisa mengetahui beberapa hal sebagai berikut ;

  1. Mengetahui adat istiadat asal daerah masing-masing;
  2. Mengerti kebiasaan masing-masing;
  3. Mengetahui selera, kesukaan atau hobi masing-masing;
  4. Mengetahui latar belakang pendidikan masing-masing;
  5. Mengetahui karakter/sikap pribadi masing-masing..

B). Ada hal yang sering dikeluhkan oleh seorang perempuan terhadap Pasangannya yaitu “Bahwa Pasangan saya tidak perhatian, Dia sama sekali tidak bisa memahami keinginan saya padahal saya selalu memahami keinginannya.”

Sehingga banyak perempuan merasa kesal saat pasangannya tidak mengerti apa yang menjadi keinginannya padahal ia merasa selalu bisa memahami keinginan suamiya. Tentu saja untuk semua orang, baik itu laki-laki terlebih lagi kalau perempuan, sangat senang jika orang lain atau pasangannya bisa mengerti keinginannya tanpa harus diminta.

Tetapi jika seseorang selalu bermimpi mendapatkan laki-laki atau perempuan yang selalu bisa mengerti tentang keinginannya tanpa perlu diminta, maka bersiaplah untuk kecewa.

Yang harus dilakukan apabila ada seseorang baik itu laki-laki maupun perempuan mempunyai suami/istri atau pacar yang tidak atau kurang memahami keinginan dirinya.

1. Harus Bisa Mengendalikan Emosi

Misalnya ketika seorang suami tidak juga mengerti keinginan istri, atau sebaliknya biasanya ini akan membuat kesal dan emosi. Untuk itu cobalah menenangkan diri selama beberapa saat sampai emosi lebih tenang. Karena jika dipaksakan harus berbicara pada pasangan saat emosi sedang memuncak,  yang sering keluar adalah kemarahan.

Pada saat perempuan marah-marah, laki-laki umumnya jadi stress dan justru malahan balik memarahi istrinya. Jadi yang harus diingat adalah langkah awal yaitu Relaksasi dengan mengatur pernafasan untuk mengendalikan emosi.

2. Harus di Ungkapkan

Jika emosi sudah menjadi lebih baik atau sudah menjadi reda, kemudian barulah ungkapkan kepadanya apa yang menjadi keinginan.

Dan pada umumnya banyak perempuan yang merasa gengsi untuk mengutarakan keinginannya, apalagi kalau harus secara terus-menerus untuk mengungkapkan hal yang sama.

Tetapi meskipun tidak diucapkan, yang sebenarnya laki-laki atau suami akan sangat berterimakasih jika pasangannya mau memberitahukan apa yang menjadi keinginannya. Itu artinya suami atau laki-laki tidak perlu menebak-nebak apa yang menjadi keinginan istrinya.

3. Jangan bosan untuk mengingatkan

Misalnya saja, andaikata untuk yang kesekian kalinya suami lupa dengan paman atau bibi dari istri, hal itu bukan berarti dia tidak perhatian dengan keluarga istri. Oleh karena itu sangatlah penting kiranya membiasakan diri untuk sering mengatakan kepada suaminya “Apakah engkau ingat Paman ? –itu loh yang memiliki rumah kos.”

Lemahnya kemampuan laki-laki dalam hal mengingat wajah ini berkaitan dengan kelebihannya pada masalah yang lain. Jadi meskipun kurang baik dalam memahami isyarat emosi dan mengingat wajah, tetapi pada umumnya kemampuan laki-laki dalam membaca peta jauh labih baik daripada perempuan.

Dalam sebuah hubungan apakah itu suami istri atau sedang berpacaran, memang untuk bisa saling memahami butuh waktu dan usaha. Tetapi bagaimanapun juga pemahaman yang baik terhadap perbedaan Karakter Bawaan sebagai laki-laki maupun perempuan, dapat membantu pasangan untuk saling mengerti dan menjaga keutuhan hubungan tersebut.

C). Suami perlu pengakuan, istri perlu pengertian

Suami dan istri adalah dua makhluk yang tidak sama, yang satu dengan lainnya harus saling melengkapi. Kedua belah pihak harus saling mengerti dan memahami, bahwa mereka adalah makhluk unik yang berbeda dalam banyak sifat serta karakter. Tidak bisa menuntut pasangan agar semua sifatnya sama seperti dirinya.  Ini adalah sebuah tuntutan yang tidak masuk akal atau tidak realistis dan tidak mungkin bisa dipenuhi.

Sejak dari pencipataanya, laki-laki dan perempuan memang sudah memiliki konstruksi otak yang tidak sama, konstruksi perasaan dan jalan pikiran yang berbeda. Potensi yang paling banyak digunakan juga menunjukkan kecenderungan yang berbeda. Untuk itu, yang bisa dilakukan adalah berusaha saling mengerti dan memahami, agar tidak menuntut keseragaman atau kesamaan dalam sifat dan karakter.

Misalnya saja sebagai sebuah contoh adalah dalam hal Cara  menghadapi Masalah.

Menurut salah satu pendapat mengenai perbedaan antara laki-laki dengan perempuan adalah dalam hal cara menghadapi masalah. Jadi hendaknya suami istri harus mengetahui perbedaan ini agar mereka bisa saling mengerti dan menyesuaikan diri dengan karakter pasangan saat menghadapi masalah. Bisa saja suami merasa tersinggung terhadap sikap istri yang dianggap melecehkan kemampuannya untuk menyelesaikan masalah. Padahal istri tidak memiliki maksud untuk melecehkan atau merendahkan suami, namun ungkapan istri ternyata dipahami secara berbeda oleh suami.

Dan sebaliknya pula, terkadang istri merasa tersinggung atas sikap suami yang dianggap tidak perduli dan tidak mengerti tentang beban masalah yang dirasakan sangat berat. Padahal suami tidak memiliki maksud untuk menyinggung perasaan istri, namun ungkapan suami ternyata dipahami secara berbeda oleh istri. Hal seperti itu terjadi karena saling tidak mengerti perbedaan umum antara laki-laki dan perempuan pada saat menghadapi masalah.

Sedikit uraian tentang perbedaan umum antara laki-laki (suami) dan perempuan (istri), ketika mereka menghadapi masalah berat dalam kehidupannya.

1. Laki-laki Memerlukan Pengakuan Kemampuan.

Laki-laki lebih menganggap penting dalam hal kemampuan, maka ketika  menghadapi masalah dalam kehidupannya, laki-laki cenderung tidak memerlukan pernyataan   ikut berbela sungkawa   atau   turut berduka cita  dari istrinya.

Karena hal itu justru bisa dianggap sebagai sikap yang menganggap lemah dirinya. Misalnya saja dengan ungkapan sebagai berikut : “Aku ikut bersedih atas masalah yang engkau hadapi. Itu memang masalah yang sangat berat. Aku tidak tahu bagaimana engkau harus menghadapinya.”

Dan pernyataan seperti tersebut diatas cenderung dianggap sebagai     hal yang terlalu cengeng bagi seorang laki-laki atau suami.

Yang diperlukan oleh suami saat dirinya menghadapi masalah yang berat bukanlah sebuah penghiburan, namun pengakuan istri bahwa masalah yang berat itu pasti akan bisa dihadapi oleh suami dengan baik. Tidak penting bagi istri untuk mengungkapkan  ‘ kesedihan ’  atas masalah yang dihadapi suami. Tetapi yang lebih penting adalah istri harus meneguhkan dengan pernyataan bahwa dia yakin bahwa masalah itu akan menjadi ringan dan kecil untuk dihadapi oleh suami, dan “membiarkan” suaminya berusaha menyelesaikan masalah dengan cara yang ia inginkan.

Misalnya saja dengan mengatakan sebagai berikut :

“Dinda yakin kalau masalah ini akan bisa Kanda lalui dengan baik. Karena Kanda sudah terbiasa menghadapi hal-hal seperti itu. Walaupun  tampaknya masalah itu berat, tetapi pasti terasa ringan bagi Kanda. Dan Dinda yakin Kanda bisa.”

Kalimat seperti itulah yang menunjukkan sebuah pengakuan dan kepercayaan dari seorang istri atas kemampuan suami dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah. Dengan diberikan kepercayaan dan pengakuan itu, maka suami akan merasa lebih nyaman untuk menyelesaikan dengan cara yang dikehendakinya.

Itulah sebabnya, suami cenderung bersikap diam dan menutup diri  ketika menghadapi masalah. Dia tidak ingin tampak lemah di hadapan istri, maka ia mencoba menyelesaikan masalah yang dihadapi tanpa melibatkan istri.

Cara penyelesaian seperti diatas memang baik karena tidak melibatkan orang lain dalam kesulitan namun semua itu tergantung dari siapa orangnya atau siapa laki-lakinya dalam menyelesaikan masalah tersebut. Dalam beberapa kasus yang dijumpai serta diamati ada kenyataan yang ditemukan bahwa sebuah masalah yang terjadi tidak bisa hanya diselesaikan oleh seorang laki-laki sendirian dan peranan seorang istri masih tetap diperlukan.

Hal itu mungkin saja disebabkan karena laki-laki tersebut tidak bisa menyadari bahwa dia dalam posisi yang tidak menguntungkan, akan tetapi mengedepankan  sifat atau bertemperamen keras, cara berbicara yang tidak enak untuk didengar, kurang bijaksana dalam memutuskan, kurang bisa sabar untuk menahan diri serta mudah tersinggung  sehingga masalah yang dihadapi daripada selesai malahan menjadi bertambah parah.

2. Perempuan Memerlukan Dukungan dan Pengertian

Berbeda dengan laki-laki, ketika perempuan menghadapi masalah berat dalam hidupnya, ia cenderung memerlukan dukungan dan pengertian dari suami atas beratnya masalah tersebut.

 Istri memerlukan semacam rasa turut “bela sungkawa”, karena apabila suami tidak memberikan dukungan dan pengakuan atas beratnya masalah yang dihadapi maka  istri merasa bahwa suaminya tidak peduli terhadap masalah yang sedang dihadapinya.

Misalnya saja ungkapan sebagai berikut adalah sebuah ungkapan yang sangat tidak disenangi oleh istri, dan menganggap bahwa suaminya tidak peduli dan tidak memahaminya :

“Begitu saja kok repot, itu kan masalah kecil, jangan ribut hanya karena masalah sepele seperti itu”  atau “jangan cengeng masalah kamu itu kan sederhana sekali, mudah untuk diselesaikan.”

Karena yang diperlukan oleh istri adalah mengakuan dan pengertian   dari suami atas beratnya beban masalah yang tengah dihadapi, bukan pengakuan atas kemampuan istri dalam menghadapi masalah itu. Sebaiknya suami menghibur istri  dengan ungkapan yang memberikan empati dan pengakuan, misalnya sebagai berikut :

“Aku mengerti tentang beratnya masalahmu. Memang sangat sedih jika menghadapi masalah seperti yang engkau alami saat ini.”  atau  “Aku bisa memahami apa yang engkau rasakan saat ini. sungguh berat masalah yang engkau hadapi. Aku jadi merasa sangat sedih bahwa engkau harus berhadapan dengan masalah pelik seperti ini.”

 Terutama bagi seorang perempuan, salah satu cara untuk meringankan beban masalah adalah dengan cara menceritakan masalah tersebut kepada orang lain. Oleh karena itu hendaknya sebagai suami harus bersedia untuk menyediakan waktu dan perhatian untuk mendengarkan serta menampung berbagai keluh kesah istri.

Dengan mendengarkan dan merespon secara empati semua keluh kesah istri, maka hal itu telah membuat perasaan istri menjadi lebih ringan karena bebannya telah terkurangi. Respon empati suami adalah dengan menyatakan betapa ia mengerti beratnya masalah tersebut.

Selanjutnya, yang diperlukan oleh istri adalah upaya mencari solusi dan penyelesaian atas masalah yang dihadapi bersama suami. Ia ingin mendapat penguatan dari suami dalam menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi, yang artinya suami tidak melarikan diriatau meninggalkan dia sendirian pada saat dia berusaha mencari penyelesaian masalah.

Istri menghendaki kebersamaan, bukan pengakuan kemampuan seperti pada umumnya yang di inginkan oleh para suami. Maka istri akan merasa nyaman apabila ada empati dan kebersamaan suami dalam menghadapi masalahnya.

D). Sebaiknya sebagai pasangan suami-istri yang dilakukan adalah :

Setelah mengerti dan memahami tentang perbedaan umum antara laki-laki dan perempuan, maka bukan berarti bahwa suami dan istri harus “menyerah dan mengikuti” sesuai dengan karakter umum tersebut. Karena kedua belah pihak perlu merumuskan sikap yang bisa membuat mereka merasa nyaman.

Misalnya saja, ketika suami sedang menghadapi suatu masalah, walaupun ada kecenderungan untuk menarik diri dan bersikap diam, namun jangan terlalu dalam diamnya atau acuh yang justru hal tersebut malahan bisa membuat suami tidak mampu menyelesaikan masalah itu.

Dari pihak istri, jangan pula memaksakan untuk melakukan intervensi kepada suami dalam upaya membantu menyelesaikan masalah suami, jika memang hal itu tidak dikehendaki suami. Cukuplah suami mendapatkan dukungan kepercayaan dari istri agar suami merasa nyaman dalam menyelesaikan masalah yang sedang dihadapinya. Jika istri terlalu masuk untuk mencampuri urusan suami, justru malahan membuatnya tidak nyaman.

Demikian pula ketika istri tengah menghadapi masalah, hendaknya bersikap tenang dan proporsional. Walaupun istri sangat ingin menceritakan semua hal kepada suami, namun jangan memaksakan diri kepada suami ketika suasana dan waktunya tidak tepat. Pandai-pandailah melihat situasi dan kondisinya, agar suami bisa memahami dengan baik persoalan yang disampaikan. Ketepatan dalam pemilihan waktu serta suasana saat menyampaikan cerita kepada suami akan sangat menentukan bagaimana respon dan sikap terhadap masalah yang diungkapkan oleh istri.

Pada dasarnya, hendaknya suami dan istri harus saling mengerti, memahami dan menyesuaikan diri dalam interaksi. Agar keduanya bisa saling mengisi, saling memberi, saling menguatkan dalam kebaikan.

Perbedaan karakter dalam menghadapi dan menyelesaikan permasalahan tersebut bisa disikapi dengan tepat oleh kedua belah pihak sehingga bisa saling mengerti dan memahami, hingga akhirnya bisa saling membantu dalam meringankan beban dan menyelesaikan permasalahan.

E). Salah pengertian dalam kehidupan berumah tangga ataupun dalam kehidupan bermasyarakat bisa juga terjadi karena keterbatasan dan ketidak mampuan manusia untuk memiliki pengetahuan yang sempurna  dalam memahami isyarat emosi dan menganggap apa yang dilakukan sudah benar.

Akan tetapi salah pengertian atau penafsiran tersebut bukan seperti pada cerita humor seperti dibawah ini :

Pada suatu ketika ini istri haji Syafii meninggal dunia dan kesedihan pun melanda keluarga yang ditinggalkannya.

Namun ditengah kehadiran para pelayat, dengan tidak pernah disangka sama sekali Pak haji malahan melangkahi jenazah istrinya yang dilakukan dengan berulang-ulang.

Kontan saja hal tersebut membuat para pelayat yang ada menjadi heran dan sangat kaget lalu ada yang berkata :

“Astaghfirullah…. !! Pak Haji, kenapa melakukan hal ini semua ?” teriak salah seorang pelayat dan kemudian disambung oleh yang lain lagi : “Pak Haji sadar..…istighfar Pak Haji… yang tabah dan sabar Pak Haji.”

“Itu sudah menjadi ketentuan Allah swt… mohon direlakan saja yaa Pak Haji,” teriak pelayat yang berbeda.

Dengan tenang Pak Haji menjawab : “Saya sedang memenuhi permintaan almarhumah istri saya sewaktu masih hidup yang selalu mengatakan :      ‘ Kalau mau kawin lagi, langkahi dulu mayat saya !!! ‘ “

-oO0-

 Dan yang harus benar-benar disadari adalah bahwa sepandai-pandainya manusia, sekaya-kayanya manusia selalu memiliki kekurangan di sana sini, dan tidak ada manusia yang sempurna, karena kesempurnaan adalah milik Tuhan semata.

Ada ungkapan yang mengatakan demikian :

Sepandai-pandainya diri kita, tetap ada Kebodohannya…………………….           Sekurang-kurangnya Diri Orang lain, tetap ada kelebihannya………………….

Oleh sebab itu Hargailah Orang lain…..….. siapapun orang itu………… Apapun latar Belakangnya…….. Belum tentu kita lebih baik darinya………..

Mari kita belajar untuk saling menghargai.

Orang kaya, tidak bisa dibilang kaya… kalau tidak ada orang yang miskin,

Coba kita bayangkan………………….

Apabila semua orang di dunia ini kaya, mungkin tidak ada Gotong Royong atau saling membantu… Karena walaupun kaya, orang tidak bisa bekerja seorang sendiri.

Oleh karena itu marilah kita saling menghargai, menghormati dan membantu sesama……. Karena kita saling membutuhkan…….

Hargailah pendapat orang lain, siapapun orang itu. Belum tentu kita lebih benar dari padanya.

Jagalah Arti kebersamaan,

Saat kita Benar, janganlah Sombong,

Saat kita Salah, jangan menutup diri,

Saat kita benar, jadilah sahabat bagi yang salah. Jangan menghakimi..

Saat kita salah, bukalah pintu hati bagi Sahabat untuk menuntunmu.

-o0o-

BANDUNG–INDONESIA, DESEMBER – 2015 

(Gubahan Ki Ageng Bayu Sepi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *