KEINDAHAN HATI DARI SIKAP RELA BERKURBAN (Kisah Nyata Dari Kehidupan Keluarga Tijab Nurman Sondjaja) Bagian ke 2

RELA BERKURBAN ADALAH SIKAP YANG MENCERMINKAN ADANYA KESEDIAAN DAN KEIKHLASAN DALAM MEMBERIKAN SESUATU YANG DIMILIKI UNTUK MENDAHULUKAN KEPENTINGAN ORANG LAIN,   WALAUPUN HAL ITU AKAN MENIMBULKAN KERUGIAN BAHKAN PENDERITAAN BAGI DIRINYA SENDIRI.

Beberapa waktu lamanya menjalani hidup sendiri menjadi duda, ternyata ada rasa yang hilang dalam hati Tijab Nurman. Bukan karena hati lelaki yang menjadi sebab inti permasalahan, tetapi karena memelihara dan membesarkan anak. Pada waktu malam hari yang ada hanya bantal dan guling, yang tidak bisa diajak berbincang perlahan-lahan mengenai masa depan anak kelak, sebelum tidur.

Sebetulnya setelah putus cinta karena Oon Karmanah meninggal dunia, Tijab Nurman sempat pernah berpikir untuk tidak akan kawin lagi. Tidak akan mencari perempuan lain sebagai pengganti Oon istrinya. Hatinya seperti terkunci rapat untuk perempuan.

Keinginannya hanya satu yaitu mendidik dan membimbing anaknya dengan baik agar tidak terbawa oleh pengaruh yang salah, karena dia adalah anak satu-satunya lelaki sebagai tumpuan harapan dimasa yang akan datang.

Dan ternyata seorang lelaki itu tidak sekuat seperti penampilannya tetapi dia juga merupakan manusia yang mempunyai kekurangan dan kelemahan. Tidak bisa memikul berat ringannya kehidupan di dunia ini seorang diri tetapi perlu teman untuk berbincang tentang segala sesuatu sehingga hidup bisa aman dan tenteram.

Menginjak beberapa waktu kemudian, hati Tijab Nurman sudah mulai terbuka untuk perempuan. Sebenarnya tidaklah susah untuk Norman untuk mencari istri. Selain dia mempunyai pekerjaan yang tetap, Nurman juga berpenampilan tegap, gagah dan berwajah tampan serta berkumis tebal. Di dalam hati dia selalu berdoa semoga bisa cepat mendapatkan seorang istri yang sesuai dengan keinginan hatinya.

Tidak sedikit yang sudah tahu tentang statusnya mereka seakan berlomba untuk mendekati. Ada seorang perempuan yang berstatus janda yang berumur kira-kira 30 tahun sebut saja namanya Mawar, berusaha untuk mendekati karena memang letak rumahnya berada tidak jauh dari tempat bekerjanya yang membuka kedai makanan.

Ada pula seorang gadis cantik yang masih muda pegawai sebuah toko swalayan yang juga berusaha mendekatinya dan bernama Melati yang bisa membuat hatinya terpikat.

Dan sementara waktu Nurman cepat bisa dekat dengan Mawar dan Melati. Tijab Nurman masih menimbang-nimbang dan meperbandingkan diantara keduanya, untuk memilih yang mana Mawar atau Melati.

Jika untuk memenuhi hati lelakinya, sebenarnya Tijab Nurman akan memilih Melati, karena Melati jauh lebih muda, cantik serta lebih aduhai apabila dibandingkan dengan Mawar. Tetapi bagaimana nanti tentang perhatian Melati terhadap keluarga atau anaknya.

Karena bingung untuk menentukan mana yang akan dipilih sebagai calon istri, maka hal tersebut didiskusikannya terlebih dahulu ke Antapani untuk meminta pertimbangan.

Ketika Mas Sis memberi nasehat,Tijab Nurman diam dan mendengarkan. “Tijab, mencari jodoh yang tepat untuk seorang yang berstatus duda itu tidaklah mudah,” kata Mas Sis yang dianggap sebagai pengganti orang tua dan gurunya.

“Kamu tidak hanya sekedar mencari istri saja, tetapi juga mencari ibu untuk anakmu juga. Apakah kamu rela jika anakmu nanti punya ibu tiri yang tidak bisa mencurahkan kasih sayang seperti ibu kandungnya. Dan kalau bisa jika mencari istri itu sebaiknya yang umurnya sepadan dengan umurmu atau tidak terpaut jauh. Sebab kalau umurnya terpaut terlalu jauh berarti gadis remaja dan artinya malahan kita yang mengasuhnya bukan lagi sebagai istri yang bisa diajak untuk berdiskusi dan dimintai pertimbangan,” katanya lagi.

Karena gurunya sekaligus sebagai pengganti orang tuanya memberikan pertimbangan, akhirnya rasa tertarik pada perempuan yang sudah mulai teruntai, ditangguhkan.

Tijab Nurman sibuk mencari calon istri yang kira-kira bisa mencintai anak dan dirinya, dan umurnyapun juga tidak telalu jauh berbeda dengan umurnya yang kini sudah menginjak 40 tahun.

“Mungkin lebih baik dan tidak akan membuat bingung kalau nanti pulang ke Antapani akan aku tanyakan saja kepada mas Sis,” pikirnya dalam hati.

Sedikit cerita mengapa Tijab Nurman kalau pergi ke Antapani menyebutnya dengan kata-kata pulang.

Awal kisah ini ketika Oon Karmanah masih hidup dan waktu itu kurang lebih pada tahun 1990 tatkala mereka pindah rumah dari Kiaracondong Bandung ke kampung Cijanggel Tanjungsari, sedangkan tempat bekerja Tijab Nurman masih di Bandung, maka pergilah mereka berdua ke Antapani.

Kemudian Oon Karmanah berkata kepada istri Mas Sis : “mBak Tik, saya titip Tijab Nurman supaya disini,” sambil tersenyum.

Memang hanya itu kalimat yang diucapkan, akan tetapi dengan senyum dan pandangan mata itu sendiri sebenarnya banyak sekali yang disampaikan walaupun penyampaian itu tidak dengan menggunakan bahasa atau kata-kata, yang pengertiannya antara lain sebagai berikut :

“ Tijab Nurman bekerja di Bandung sedangkan dia tidak pernah mau pakai motor sendiri tetapi selalu menggunakan kendaraan angkutan umum. Pulang kerja pagi hari kemudian sore harinya berangkat bekerja lagi, kalau pergi dan pulang bekerja dengan menggunakan kendaraan angkutan umum waktunya akan habis dijalan dan tidak cukup untuk berstirahat.

– Tijab Nurman kalau dekat dengan keluarga Mas Sis, hidupnya akan selalu terawasi dan terbimbing serta tidak mungkin akan berbuat hal yang macam-macam seperti yang sudah-sudah.

Beberapa kali pengalaman mengatakan, karena setiap kali terlepas atau jauh dari keluarga Mas Sis jalan hidupnya selalu ngawur, misalnya :

– Tijab Nurman mulai bertemu dengan keluarga Mas Sis sejak keluar SMP, karena kedekatan itu maka dia menjadi anak yang baik walaupun bekerja sebagai pembuat gulungan benang tenun atau kones.

– Kemudian setelah bujangan terpisah dengan keluarga Mas Sis, akibatnya dia menjadi orang yang senang berjudi, mabuk, berkelahi maupun tentang perempuan, singkatnya semua dilakukan.

– Setelah menikah, sampai pada saat istri akan melahirkan, masih suka berkelahi dan memukul orang hingga matanya bocos sampai akhirnya pernah ditahan dikantor Koramil. Dan setelah dekat dengan keluarga Mas Sis menjadi baik kembali.

– Selanjutnya bekerja sebagai security di IPTN otomatis jauh dari keluarga Mas Sis, sebagai akibatnya penyakit lamanya kambuh lagi dan kemudian setelah dekat jadi sembuh lagi.

– Ketika berkeluarga dan tinggal bersama mertua di Kiaracondong, karena jauh dari keluarga Mas Sis, masih tetap jadi pemabuk, judi, berkelahi dan lain-lain, setelah mau mendekat dan berhubungan lagi dengan keluarga Mas Sis, jadi sembuh.

– Lalu tinggal di jalan Sukabumi, di rumah orang tuanya sendiri, karena jauh dari keluarga Mas Sis, malahan jadi selingkuh. Begitu pula setelah mendekatkan diri dengan keluarga Mas Sis, jadi sembuh lagi.

Kejadian tersebut sudah mbak Tik dan keluarga ketahui dan oleh karena itu saya ingin menitipkan suami, Tijab Nurman agar tetap terawasi serta selalu dalam bimbingan supaya bisa hidup sesuai dengan keharusannya.”

“Ya, boleh saja,” demikian pula jawaban pendek dari mbak Tik istri Mas Sis sambil menganggukkan kepalanya. Namun secara tersirat dibalik jawaban pendek tersebut karena mengerti semua yang telah terjadi menerima apa yang diharapkan Oon istri Tijab Nurman.

Dan semenjak itu walaupun telah berkeluarga Tijab Nurman bila selesai bekerja pulangnya ke Antapani, kecuali bila lepas kerja dan libur baru pulang ke rumahnya di Tanjungsari, dan hal ini berlanjut sampai dengan cerita ini ditulis walaupun Oon Karmanah yang menitipkan suami sudah meninggal dunia dan Tijab Nurman sudah menikah lagi dengan Neni Hayati.

Kembali ke alur cerita semula.

Kebetulan pada suatu hari di Antapani sedang berkumpul beberapa orang anggota Bayu Sepi, diantaranya ada Kang Ari (Achmad), Eep, Ibu Engkar termasuk Tijab Nurman juga hadir.

Bahkan pada kesempatan itu Eep Abdul Rohman juga memberikan masukkan : “A (sama dengan Kang, Bang atau Mas adalah sebuah panggilan akrab dalam bahasa Sunda untuk seorang laki-laki yang dianggap lebih tua), tetangga saya adalah seorang pegawai negeri yang berstatus janda, wajahnya pun tidak mengecewakan dan hidupnya dapat dikatakan sudah cukup mapanlah, barangkali bisa dijadikan istri. Kalau sekiranya A Nurman mempunyai minat, biar nanti saya yang akan melakukan pendekatannya.”

“Terima kasih Ep, atas perhatiannya tetapi pikiran saya saat ini tidak kearah tentang mapan atau belum punya pekerjaan tetapi lebih ingin memperhatikan anak,” jawab Tijab Nurman.

Dan saat itu Mas Sis juga memberikan pertimbangannya : “Tijab, kalau boleh saya memberikan pandangan atau saran bagaimana kalau memang mau mencari istri mengapa tidak lebih baik kamu memilih Neni saja. Jangan diperbandingkan cantik atau kurang cantiknya, tetapi yang terpenting adalah kemuliaan hatinya dan coba perhatikan anakmu Yoga sudah sangat dekat sekali dengan Neni seperti kepada ibunya sendiri, kasihan kalau nanti harus dipisahkan. Jadi kalau bisa jangan hanya mengikuti hati lelakimu saja.”

“Ya Mas, saya mengerti dan memang dalam hati saya sudah berpikir kalau akan memilih Neni saja,” jawab Nurman .

“Nah kalau begitu saya sangat setuju,” kata Mas Sis sambil mengacungkan ibu jari tangannya tanda memberikan dukungannya apalagi rekan-rekan Bayu Sepi semuanya juga memberikan dukungan dan persetujuannya bahkan ketika mendengar hal tersebut Ibu Engkarpun sampai menitikan air matanya.

“Memang untuk mencari seorang istri tidak asal saja, misalnya ada seorang perempuan yang mau dinikahi langsung dinikahi begitu saja, tetapi tidak salah jika seseorang mau mencari istri itu memilih dan menentukan kriteria seperti yang diinginkan.

Ada sebuah pendapat yang mengatakan demikian :

Mempunyai istri Cantik itu penting, supaya betah tinggal di rumah, dan tidak memalukan serta menambah gengsi apabila dibawa bepergian,

Mempunyai istri Pinter juga penting, supaya bisa mendidik anak-anak,

Mempunyai Istri Solehah juga penting, biar nyaman dunia akherat,

Mempunyai istri Pinter Masak juga penting supaya selalu makan enak,

Tetapi yang paling penting adalah, ke empatnya jangan sampai ketemu,” kata Mas Sis yang menyempatkan untuk menyampaikan sebuah humor.

Tiba-tiba : “Ha…ha.. ha…ha…” semua orang yang sedang berkumpul tertawa mendengar gurauan tersebut.

“Ya sudah itu tadi hanyalah sebuah humor saja, kita kembali ke masalah semula dan sejak dari sekarang harus dicoba untuk mulai memikirkan mengatur sebuah rencana, misalnya mengajari Yoga agar berbicara kepada Neni supaya mau menjadi ibunya dan Tijab sendiri nanti harus bilang kepada orangtuanya menentukan waktu untuk melamar Neni, dan pada waktunya dalam acara resmi lamaran biar nanti saya dengan keluarga mewakili sebagai pengganti orang tua pihak lelaki.

Tetapi sebelumnya Neni juga harus diberi tahu tentang akan adanya acara lamaran tersebut dan untuk meyakinkan Neni biar saya sendiri nanti yang berbicara kepadanya kalau sedang ke Antapani.

Oleh karena itu kalau bisa Neni ajak ke Antapani misalnya dengan berkata : ‘Kapan mau terapi ke Bandung ayo kita bareng saja perginya sekalian ada keperluan.’

Atau biar nggak kagok kalau mau bertanya kepada yang bersangkutan, suka apa tidak dilamar sebagai istri, cium saja dulu,” kata Mas Sis sambil bergurau.

“Kalau yang itu sudah, mas,” jawab Nurman sambil tertawa.

“Nah, kalau demikian tunggu apa lagi, cepat Neni diajak kemari biar saya yang berbicara dan kamu minta kesiapan waktu kepada orang tuanya untuk acara lamaran, karena tidak baik seorang berlama-lama menjadi duda,” kata Mas Sis lagi.

Pada suatu hari :

“Asalamualaikum…..” sebuah salam dari luar rumah.

“Wa alaikum salam,” jawab salam dari dalam rumah. “Lho, kamu Neni. Dengan siapa kemari,” tanya Pak Leo (memang begitulah cara Neni memanggil Mas Sis dengan sebutan Pak Leo sampai sekarang).

“Dengan Kang Nurman dan keponakan-keponakan,” jawab Neni.

“Hayo, masuk ke dalam,” katanya lagi.

“Ya Pak, terima kasih,” jawab Neni.

Setelah sejenak berbincang kesana-kemari, lalu Pak Leo bertanya lagi : “Datang kemari sengaja untuk main saja atau ada keperluan yang memerlukan bantu saya ?”

“Ya pak, saya ingin diterapi,” jawab Neni

“Memangnya kenapa ?” tanya Pak Leo lagi.

“Bagian bawah perut terasa tidak enak lagi,” jawab Neni lagi.

“Mari kita ke ruang depan saja, biar tidak terganggu oleh anak-anak,” ajak Pak Leo sambil pergi ke ruang depan yang di ikuti oleh Neni.

Kemudian diterapilah Neni, namun dalam hati Pak Leo berkata : “Tijab sudah menjalankan rencananya dan setelah terapi ini adalah saat yang baik untuk menanya Neni.”

Setelah selesai terapi Pak Leo bertanya lagi : “Bagaimana, apakah sekarang rasa sakitnya sudah sembuh ?”

“Ya, Pak sudah tidak sakit lagi. Terima kasih,” jawab Neni.

“Ya sama-sama. Tapi tunggu sebentar Neni, ada yang hendak saya tanyakan,” kata Pak Leo lagi.

“Tentang apa, ya pak ?” Tanya Neni.

“Begini, mungkin kamu juga sudah tahu sendiri tentang hal ini. Ceu Oon, ibunya Yoga kan sudah meninggal dan anak itu dekatnya hanya dengan Neni karena memang sejak masih kecil Nenilah yang mengasuh dan merawat serta melayani semua kebutuhannya.

Demikian juga tentang Kang Nurman, setelah ditinggal mati oleh istrinya yang selalu sangat mengkhawatirkan keadaan anaknya, takut kalau ditinggal bekerja tidak ada yang memperhatikannya.

Kemudian begitu pula memperhatikan tentang keadaan dirimu yang sampai sekarang belum juga berumah tangga. Mengingat semua hal tersebut bagaimana kalau saat ini Pak Leo mewakili keinginan Kang Nurman memintamu untuk bersedia menjadi ibunya Yoga agar kasih sayangmu terhadapnya tidak terputus, karena selama ini walaupun dia menyebutmu dengan kata ‘bibi’ tapi dalam hatinya dia menganggap bahwa kamu juga adalah ibunya.

Agar tidak kepalang tanggung kamu harus benar-benar menjadi ibunya Yoga yang artinya sekaligus menjadi istri Kang Nurman, dan jangan sampai posisi ini digantikan oleh orang lain. Kasihan Yoga karena belum tentu dia akan mendapat kasih sayang dan perhatian yang baik seperti yang telah kamu berikan kepadanya ?” kata Pak Leo.

Mendengar apa yang telah dikatakan oleh pak Leo, yang juga sebagai gurunya, seketika itu pula Neni menundukkan kepala dan tidak bisa berkata-kata sepatah katapun, wajahnya memerah dan kelihatan kebingungan.

“Kalau masih bingung tidak usah harus dijawab sekarang, biar nanti Kang Nurman yang meneruskan sesampainya di rumah,” kata Pak Leo lagi.

Dan baru sekian lama kemudian setelah mereka menjadi pasangan suami istri barulah terungkap bahwa pada saat Pak Leo meminta Neni agar bersedia untuk menjadi istri Tijab Nurman, Neni merasa sangat terkejut seakan-akan mendengar halilintar disiang hari bolong, karena hal itu tidak pernah terpikirkan sebelumnya.

Dengan Yoga memang merasa sayang seperti pada anaknya sendiri walaupun belum pernah menikah, dapat dikatakan karena diasuh sejak masih kecil dan dengan Tijab Nurman sudah dianggap seperti kakaknya sendiri. Walaupun mencuci dan mensetrika pakaian maupun menyiapkan makan di dapur sudah biasa dilakukannya dengan waktu yang cukup lama.

Tapi itu semua adalah cerita yang sudah lama, sebaiknya kembali pada jalur cerita selanjutnya.

Semua rencana dan pembicaraan tentang lamaran dan pernikahan berjalan dengan lancar. Pada hari yang telah ditetapkan antara Nurman dan Neni melaksanakan pernikahan walaupun dilaksanakan secara sederhana saja yang dihadiri oleh banyak keluarga bayu sepi. Nurman dan Neni terlihat tersenyum gembira demikian pula dengan Yoga.

Hari-hari selanjutnya Neni terlihat sudah terbiasa dan membaur dalam pergaulan bermasyarakat, karena memang rata-rata masyarakat disitu masih terikat hubungan saudara. Memang benar perilaku dan sifat yang diperlihatkan Neni sangat menyenangkan hati Tijab Nurman karena segala sesuatu tentang tindak tanduk, bahasa atau apapun yang dilakukan Neni dapat dikatakan sama persis dengan apa yang dikerjakan oleh Oon sehari-harinya, yang berbeda hanya bungkusnya saja.

Hingga terkadang tanpa disadari Tijab Nurman pun sering keliru dalam hal memanggil nama. Misalnya hendak memanggil nama Neni tetapi yang keluar dari mulut adalah nama Oon, untungnya seringkali begitu keluar suara Oon tapi dengan segera Tijab Nurman menyadari dan mengendalikan ucapannya agar jangan sampai menyinggung perasaan Neni. Apalagi Neni bisa memberikan perhatian terhadap keluarga, khususnya sangat sayang terhadap anaknya.

“Terima kasih ya Mah (panggilan Tijab Nurman kepada Neni setelah menikah), engkau bisa memberikan cinta kasih terhadap anakku,” kata Nurman.

“Husss, jangan berkata demikian Pak (panggilan Neni kepada Tijab Nurman setelah menikah yang semula menyebut Kang sekarang menjadi Pak). Yoga memang bukan hanya anakmu tetapi juga anakku. Aku juga sudah nengganggap dia adalah anak kandungku dan aku punya janji setya akan memberikan cinta kasihku kepadanya, kata Neni tegas.

Mendengar ucapan itu hati Nurman terharu. Doa dan pujinya sudah dikabulkan. “Terima kasih Tuhan, Engkau tel;ah memberikan ibu sejati untuk anakku,” ucapnya dalam hati. Matanya berkaca-kaca. Neni dirangkulnya dengan rasa kasih sayang, “Terima kasih Mah.”

Adanya Neni di tengah keluarga menjadikan rumah itu menjadi cerah penuh dengan cinta kasih. Hidup Nurman terasa sempurna. Hari-hari berjalan seperti hidup dalam taman indah yang penuh dengan mekarnya bunga-bunga yang indah dan harum.

Dan karena cintanya terhadap Neni lantas menjadikan Nurman ingn mempunyai anak lagi dari rahim Neni. “Agar cintaku kepada Neni menjadi sempurna,” katanya hati.

“Aku mengerti Pak, engkau sangat mencintaiku. Tetapi cinta itu tidak harus diwujudkan dengan mempunyai anak.,” kata Neni sambil menarik napas panjang.

“Semua orang yang terikat sebagai suami istri tentunya menginginkan mempunyai anak. Dan sekarang engkautidak mau ?” kata Nurman pernuh pertanyaan. “Sebenarnya ini semua ada apa Mah ? Jujur saja, maksudmu apa ? Nurman menyelidik.

“Tidak ada keinginan (pamrih) apa-apa, Pak. Aku hanya tidak mau mempunyai anak.,” Neni menjawab perlahan. Setelah itu pasangan hidup baru itu hanya diam-diam saja. Sepi tanpa ada kalimat yang diucapkan.

Tetapi Nurman tetap bersikukuh tentang pendiriannya. Hari-hari selanjutnya hubungan antara Nurman dan Neni menjadi dingin. Kalaupun ada percakapan hanya satu dua kalimat itupun kalau ada keperluan.

“Ah masih juga belum seberapa lama berumah tangga sudah terjadi permasalahan. Apakah akau salah dalam memilih istri ?’ rasa penyesalan yang menyelinap dalam hari Nurman.

Istri baru yang diharapkan bisa menurunkan keturunan ternyata hatinya sangatlahk keras, susah untuk dilunakkan dengan cara halus. Belahan jiwa yang seharusnya mengtikuti kebijaksanaan suami, ternyata malah berani tidak mendukung apa yang menjadi keinginan suami.

Hingga suatu malam Neni mengajak berbincang dengan Nurman ketika anaknya sudah tidur. Di luar hujan gerimis pada musim penghujan masih belum terang. Angin bertiup perlahan. Udara semakin dingin seakan menusuk tulang, tetapi hati Nurman dan Neni terasa gerah.

“Mas , aku sekarang akan berterus terang. Aku mau menikah agar dapat menikmati kabahagiaan. Tetapi sekarang hatiku merasa sedih. Belum lama menjadi suami istri sudah terjadi perang dingin,” roman muka Neni kuyu.

“Jika aku ingin punya anak darimu itu kan wajar, kan Mah ? Dan engkau masih terhitung masih cukup muda, masih bia mengandung bibit dariku, olah karena itu kalau bisa jangan menghalangi keinginanku,” kata Nurman yang masih mempertahankan keinginannya.

“Pak, sebenarnya aku juga ingin mempunyai anak. Tetapi ada beberapa pertimbangan yang harus aku sampaikan :

Yang pertama dalam usia seperti ini kalau hamil pasti mengalami resiko yang tinggi.

Yang kedua, Bapak kan tahu sendiri bahwa sejak masih gadis kandunganku terganggu karena adanya kista. Alasan kesatu dan kedua mungkin masih bisa diusahakan dan dicari jalan keluarnya.

Tetapi yang ketiga yang paling pokok adalah aku tidak ingin memberi saudara tiri kepada Yoga Pratama. Aku sendiri tidak rela apabila cinta kasihku yang berkembang kepada Yoga nantinya akan terampas oleh adik tirinya. Coba Bapak perhatikan peristiwa diluar sana banyak para saudara tiri bertengkar dan saling mengancam. Ada juga keturunan nigrat selalu bertengkar dan ribut karena berebut kekuasaan,” wajah Neni nampak sedih.

“Aku mencintai anak itu seperti anak kandungku sendiri dan sisa hidupku hanya untuk anaknya. Hanya doa ku agar anak tersebut bisa berhasil dalam hidupnya. Cintaku kepadanya tidak akan luntur, walaupun Bapak memarahiku,” suara Neni gemetar. Matanya berlinang air mata yang lambat laun menetes membasahi pipinya.

Dhegg ! Ucapan Neni yang terakhir ini berhasil menggedor hati Nurman. Nurman baru menyadari bahwa selama ini dirinya egois dan hanya memikirkan keinginan dirinya sendiri. Sebaliknya Neni memiliki rasa cinta yang tidak terbatas kepada anaknya. Sangatlah luhur budi pekertinya. Dan Nurman merasa tidak salah dalam memilih istri. Kemudian Neni dipandang dengan rasa kasih dan sayang.

Malam semakin sunyi dan Nurman barkata : Maafkan aku ya Mah,” kata Nurman perlahan hampir tidak terdengar kepada Neni dalam pelukannya. Cahaya bulan diluar tertutup gelapnya malam, tetapi hati Nurman dan Neni menjadi semakin terang menyongsong hari-hari yang akan datang yang tentunya akan menjadi lebih indah.

 

-o0o-

 

Saudaraku pembaca semuanya, sebuah gubahan cerita yang diambil dari perjalanan sebuah Kisah Nyata Kehidupan Keluarga Tijab Nurman Sondjaja Bagian Ke 2 yang mengetengahkan atau membahas tentang “Keindahan Hati dari Sikap Rela Berkorban” agar dapat kita ambil hikmahnya sebagai bahan perenungan dalam kehidupan kita masing-masing.

 

Seputar pengertian :

Arti Rela Berkorban ;

  1. Rela artinya bersedia melakukan sesuatu dengan senang hati atas dasar kemauan sendiri dan tidak mengharapkan imbalan berupa apapun dengan apa yang telah dilakukannya.
  2. Berkorban, artinya memberikan sesuatu yang dimiliki kepada orang lain sekalipun akan menimbulkan kerugian atau penderitaan bagi dirinya sendiri.

Arti rela berkorban adalah : kegiatan seseorang yang mau mengorbankan kepentingan dirinya sendiri demi untuk membahagiakan atau memenuhi kebutuhan orang lain.

Dan semangat rela berkorban dalam kehidupan sehari-hari dapat dilakukan dengan berbagai cara misalnya : keteladanan, memberikan bimbingan dan pembinaan kesadaran dalam kerelaan berkorban.

Dan semangat rela berkorban dalam kehidupan sehari-hari dapat dilakukan dengan berbagai cara misalnya : keteladanan, memberikan bimbingan dan pembinaan kesadaran dalam kerelaan berkorban.

 -o0o-

Beberapa contoh ringan sikap rela berkorban dalam kehidupan sehari-hari ;

*). Rela berkorban dalam lingkungan keluarga :

Di lingkungan keluarganya manusia dapat menerapkan sikap RELA BERKURBAN dengan saling menolong dengan ikhlas . Pada umumnya di dalam sebuah rumah tangga telah ditetapkan aturan dan pembagian pekerjaan tugas rumah.

Misalnya ayah mencuci motor, ibu memasak, kakak mencuci piring dan adik mernyapu rumah. Jika pada suatu saat si adik tidak dapat melaksakan tugasnya karena sakit, maka kakak harus siap mengantikan tugas adiknya dengan rela serta tulus dan iklhas.

 

*). Rela berkorban dalam lingkungan kehidupan sekolah.

Rela Berkurban bukan hanya untuk dilakukan oleh orang dewasa saja tetapi anak-anakpun yang masih dalam usia sekolahpun dapat mewujudkan sikap RELA BERKURBAN di lingkungan sekolahnya.   Misalnya jika ada teman yang tertimpa musibah, maka seluruh siswa di kelas akan dengan suka rela mengumpulkan bantuan baik dalam bentuk barang ataupun uang.

 

*). Rela berkorban dalam lingkungan kehidupan bermasyarakat.

Lingkungan masyarakat merupakan lingkungan kehidupan yang lebih luas. Sikap RELA BERKURBAN dapat diwujudkan misalnya dengan menyempatkan diri untuk ikut serta bekerja bakti membersihkan lingkungan walaupun sebenarnya punya keperluan lain namun merelakan diri dengan menggeser waktunya atau dengan lainnya.

Contoh lain apabila memiliki suatu makanan tidak lupa memberikan kepada tetangga atau bila ada suatu daerah yang tertimpa musibah bisa membantu sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.

 

*). Rela berkorban dalam lingkungan kehidupnan berbangsa dan bernegara.

Sebagai warga Negara atau masyarakat yang baik selain membayar pajak sesuai dengan ketentuan yang berlaku, seperti pajak kendaraan bermotor, pajak bumi dan bangunan, sikap RELA BERKURBAN bisa ditunjukkan dengan tindakan apabila Pemerintah memerlukan sebagian tanah yang dimiliki untuk kepentingan pembuatan irigasi, jalan atau untuk kepentingan umum atau kepentingan masyarakat yang lebih banyak, maka sebagai warga yang baik harus bisa merelakannya sebagian tanah yang dimilikinya dengan memperoleh penggantian yang layak.

-o0o-

Keindahan Hati dari Sikap Rela Berkorban

Untuk dapat mengerti tentang Keindahan Hati dari Sikap Rela Berkurban bisa diceritakan dengan uraian sebagai berikut :

Dengan menurunkan hujan, Tuhan menghidupkan biji-bijian, menghijaukan yang gersang dan menggeliatkan yang layu. Apakah semua orang tahu bahwa sebelum hujan itu turun ke bumi, mereka yang mempunyai peranan menurunkan hujan dapat dikatakan mengalami penderitan .

Tuhan menghendaki matahari memancarkan panasnya, lalu dari panas tersebut menguaplah air laut, yang kemudian ditampung oleh awan. Dan, awan yang indah seperti kapas itulah yang nantinya dapat dikatakan seakan mengalami penderitaan.

Mengamati peristiwa yang dialami oleh awan sebagai sebuah proses, dan dari sinilah manusia bisa belajar tentang rela berkorban untuk memberikan manfaat bagi manusia lainnya.

Awan mengorbankan keindahan dirinya untuk menampung uap air laut yang menguap karena panasnya matahari. Semakin banyak uap air yang dikandungnya, semakin hitam dan pekat serta menyeramkan rupa dari awan tersebut. Oleh karena itu awanpun kehilangan keindahan dan pesonanya yang membuat orang tidak suka dan takut memandangnya.

Tetapi setelah uap air yang dikandungnya itu turun ke bumi, maka awan akan kembali ke wujudnya yang semula yaitu awan yang memancarkan kembali pesona dan juga keidahannya.

Dari peristiwa tersebut mengajarkan kepada manusia bahwa untuk memberikan manfaat kepada sesama membutuhkan pengorbanan. Dan pengorbanan tersebut tentunya tidak akan mengenakkan. Misalnya dengan memberikan sedekah, memberikan perhatian, memberikan nasehat dan sebagainya. Semuanya membutuhkan pengorbanan yang terkadang pengorbanan itu membuat merasa letih, pedih dan perih.

Dan memang itulah sebuah perjuangan dengan tujuan untuk mencapai keindahan. Bila diperhatikan bagaimana awan yang putih dan indah itu rela menjadi hitam serta menyeramkan. Tetapi pengurbanannya tersebut tidaklah sia-sia, karena seisi bumi merasakan kemanfaatannya. Dan setelah awan tadi menurunkan hujan, maka keelokannya pulih kembali. Terkadang bahkan bisa menjadi lebih indah daripada sebelum menjadi hitam dan gelap.

Dan apa yang dilakukan oleh manusia prosesnya pun seperti itu, ketika berbuat baik dapat di ibaratkan sebagai awan yang menampung uap air. Manusia akan merasa pedih, perih dan letih, tetapi keindahan akan kembali tatkala pengurbanan yang diberikan sudah dapat dirasakan manfaatnya oleh orang lain. Dan manusia akan menjadi lebih mempesona apabila mau berkurban dan memberikan manfaat untuk orang lain atau sesamanya.

Jadilah seorang yang rela berkurban dan bermanfaat untuk orang lain, karena dikatakan bahwa : “Sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat atau menjadi berkat bagi sesamanya.”

 

-o0o-

BANDUNG–INDONESIA, DESEMBER – 2015

(Gubahan Ki Ageng Bayu Sepi)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *