PESAN (Kisah Nyata Dari Kehidupan Keluarga Tijab Nurman Sondjaja) Bagian ke 1

oonHIDUP INI SEBENARNYA TIDAK LAIN ADALAH MERUPAKAN SEBUAH PERJALANAN PANJANG DALAM MELAKSANAKAN PERINTAH ALLAH.

ORANG YANG BIJAK ADALAH ORANG YANG SENANTIASA MENGUKUR KETERBATASAN KEMAMPUAN DIRINYA UNTUK MEMENUHI KEINGINANNYA DALAM RANGKA MENCAPAI KEBAHAGIAAN.

ORANG YANG BERIMAN ADALAH ORANG YANG SENANTIASA MENYADARI BAHWA DALAM DETIK-DETIK HIDUPNYA YANG TERBATAS TIDAK PERNAH MENYIA-NYIAKAN KESEMPATAN YANG ADA UNTUK MELAKUKAN PERBUATAN BAIK WALAUPUN HANYA KECIL DAN MENJAUHI HAL-HAL YANG DILARANG ALLAH.

huruf_S (1)udah beberapa waktu Tijab Nurman Sondjaja atau Bayu Pananjung menyandang status duda beranak 1 karena istri yang dicintainya Oon Karmanah meninggal dunia setelah kurang lebih selama 3 tahun mengalami sakit yang tidak sembuh dengan berbagai macam obat. Tetapi Tijab bukan tipe seorang lelaki yang senang mengikuti hawa nafsu dan karena rasa setianya selama itu pula dia menahan diri untuk tidak pernah berhubungan dengan perempuan lain. Maka seluruh hidupnya hanya diperuntukkan mengasuh dan membesarkan anak lelaki satu-satunya, Yoga Pratama agar jangan sampai tersesat dalam pergaulan hidupnya karena kurangnya mendapat perhatian orang tua

Memang secara selentingan menurut pembicaraan dan pendapat orang banyak, bahwa kalau sebuah keluarga atau rumah tangga itu jika tanpa adanya suami kurang dihargai dan apabila tanpa adanya seorang istri maka rumah tangga tersebut tidak terpelihara. Oleh karena itu dia selalu berupaya supaya Yoga mendapatkan kasih sayangnya walaupun tanpa didampingi oleh seorang ibu.udah beberapa waktu Tijab Nurman Sondjaja atau Bayu Pananjung menyandang status duda beranak 1 karena istri yang dicintainya Oon Karmanah meninggal dunia setelah kurang lebih selama 3 tahun mengalami sakit yang tidak sembuh dengan berbagai macam obat. Tetapi Tijab bukan tipe seorang lelaki yang senang mengikuti hawa nafsu dan karena rasa setianya selama itu pula dia menahan diri untuk tidak pernah berhubungan dengan perempuan lain. Maka seluruh hidupnya hanya diperuntukkan mengasuh dan membesarkan anak lelaki satu-satunya, Yoga Pratama agar jangan sampai tersesat dalam pergaulan hidupnya karena kurangnya mendapat perhatian orang tua.

Beberapa orang teman maupun kerabat yang menyarankan agar Tijab segera menikah lagi, bahkan ada juga yang berupaya untuk mencarikan calon istri. Akan tetapi Tijab Nurman belum mempunyai niat untuk itu.

“Apakah Kang Tijab mau jika seandainya saya perkenalkan dengan seseorang yang masih ada hubungan saudara denganku, anaknya cantik, perawakannya tinggi langsing, berkulit putih dan masih gadis. Bagaimana setuju ? Atau mau berkenalan lebih dahulu ? Nanti kalau sekiranya Kang Tijab berjodoh dengan anak itu, berarti akan menjadi saudara denganku,” kata Kurniawan teman sepekerjaan.

“Ya, terima kasih saya ucapkan atas semua perhatiannya,” jawab Tijab singkat.

Tetapi untuk mencari seorang istri bagi seorang duda seperti dia kenyataannya tidaklah semudah seperti membalikan telapak tangan. Seperti halnya kaum lelaki pada umumnya, Tijab juga masih normal dan masih mempunyai gairah terhadap seorang perempuan. Tetapi yang dipikirkan bukan hanya sekedar untuk menuruti hawa nafsunya sebagai seorang lelaki, tetapi lebih dari itu yakni untuk membicarakan hal-hal yang terjadi dan berbagi beban penderitaan di dalam kehidupan berumah tangga apalagi dalam memberikan bimbingan terhadap anaknya.

Pada suatu hari ketika Tijab Nurman sedang duduk beristirahat di teras rumah tiba-tiba datang seorang perempuan yang sudah sangat dikenalnya masuk kehalaman rumah.

“Permisi,  Yoga ada Kang Nurman,” tanya orang tersebut.

“O ya Neni,ada apa ?” jawab Tijab balik menanya.

“Saya, mau meminta tolong Yoga untuk membantu mengganti genting rumah yang pecah. Kalau tidak cepat diganti, khawatir kalau nanti malam turun hujan besar,” kata orang yang dipanggil dengan nama Neni tersebut.

“Yoga, kemari,” kata Tijab Nurman memanggil Yoga anaknya.

“Ya, Pak ada apa ?,” jawab Yoga sambil mendekat ke bapaknya.

“Yoga, itu tolong bantu bi Neni di rumahnya dan Neni ini Yoga, silakan ajak saja,” kata Tijab Nurman.

“Terima kasih kang Nurman. Ayo Ga, Bi Neni minta tolong mau betulin genting,” katanya sambil menggandeng tangan Yoga yang kemudian pergi dan Tijab Nurman pun kembali duduk beristirahat di tempatnya serta pikirannya melayang entah kemana.

Siapakah Neni itu sebenarnya ?

Nama lengkapnya adalah Neni Hayati, merupakan tetangga Tijab Nurman sekeluarga, dan letak rumahnya kurang lebih hanya duapuluh meter serta masih mempunyai hubungan keluarga dengan Oon Karmanah istri Tijab yang menurut urutannya masih terhitung adik juga statusnya pun masih lajang atau belum pernah bersuami.

Cerita singkatnya adalah sebagai berikut :

Kurang lebih 15 tahun yang telah lalu, Tijab Nurman Sondjaja dan istrinya Oon Karmanah beserta seorang anak lelakinya yaitu Yoga Pratama yang saat itu berumur 3 tahun karena sesuatu hal berpindah rumah dari Kiaracondong ke Kampung Cijanggel Tanjungsari. Dapat di katakan bahwa hampir semua penduduk kampung tersebut satu dengan yang lainnya masih mempunyai pertalian hubungan keluarga atau dalam Bahasa Sunda “Padudulur.”

Pada suatu ketika setelah tinggal di Tanjungsari, tiba-tiba Oon Karmanah berkata kepada Tijab Nurman, suaminya : “Pak, tolong ajari saya jurus-jurus Olah Raga Pernapasan Bayu Sepi, saya ingin bisa dan mau belajar.”

Untuk sejenak Tijab diam dan agak tercengang, tetapi dalam hatinya melamun : “Tumben dia punya keinginan mau belajar, padahal waktu saya belajar dulu dia nampaknya kurang setuju. Sehingga kalau akan latihan aku harus pergi secara diam-diam atau menggunakan alasan lain.”

Tetepi kemudian diputuskannya lamunan tersebut dengan berkata : “Boleh, tapi tidak bisa begitu saja. Kita harus minta ijin dulu ke Mas Sis (cara mereka memanggil Pak Leo ketika masih muda) di Antapani.”

Oon Karmanah diperbolehkan untuk ikut latihan Olah Raga Pernapasan Bayu Sepi, bahkan kemudian dipesankan : “Boleh kamu ikut belajar tetapi harus sungguh-sungguh biar ada manfaat yang didapatkan, hal utama yang harus dilawan adalah rasa malas. Latihan dirumah saja, biar Tijab yang membimbingnya dan sekali-kali nanti di tes kemajuannya di Antapani.”

Didasari oleh keinginan yang kuat yang ditunjang oleh bakat yang bagus, maka kemajuan yang luar biasa dapat dicapai dengan waktu yang tidak terlampau lama, dan dapat juga dikatakan bahwa kemampuan Tijab Nurman suaminya terlampaui. Bahkan dalam bermeditasi pun, Oon Karmanah (yang kemudian mendapat nama panggilan Windusara Bayu) sudah bisa memasuki dimensi lain atau oleh umum disebut dengan alam ghaib.

Diantara para tetangga yang juga saudara yang paling dekat hubungannya maupun letak rumah tinggalnya dengan keluarga Tijab adalah Neni, sehingga sangat sering berkunjung. Hitung-hitung menemani Oon Karmanah ketika Tijab sedang bekerja sebagai Sequrity yang sering tidak berada di rumah, paling juga dalam seminggu 3 hari berada di rumah.

Mungkin juga karena seringnya ketemu dan berbincang dengan Oon Karmanah maka pada suatu saat Neni berbicara kepada Tijab : “Kang Nurman, kalau diperbolehkan saya juga ingin belajar Olah Raga pernapasan Bayu Sepi.”

“Boleh saja, tetapi kita harus minta ijin dahulu ke Bapak Antapani. Saya hanya bisa mengantarkan saja, soal nanti diijinkan atau tidak nya, ya terserah disana saja,” penjelasan Tijab Nurman yang membahasakan dengan panggilan Bapak Antapani kepada Neni Hayati sampai dengan sekarang.

Mereka bertiga pergi ke Antapani dan ternyata Neni diperbolehkan untuk belajar Olah Raga Pernapasan Bayu Sepi, bahkan di beri pesan sebagai berikut : “Begini Neni, karena jarak Tanjungsari dengan Antapani itu kan jauh maka latihan resminya di rumah Tijab saja, hitung-hitung biar Oon punya teman untuk berlatih, biar nggak bosan. Tetapi kamu dibawah bimbingan Tijab dan untuk berlatih kamu dalam pengawasan Oon Karmanah, mengingat Tijab sendiri jarang ada di rumah.

“Kalau kebetulan ada waktu yang senggang, biar saya cepat bisa apakah diperbolehkan kalau saya berlatih sendiri di rumah, pak ?” tanya Neni Hayati.

“Boleh saja, karena semakin sering berlatih akan semakin cepat bisanya. Dan Tijab tolong kamu didik Neni karena dia merupakan tanggung jawabmu, dan Oon tolong kamu awasi kalau sedang berlatih, betulkan gerakannya jika kurang tepat.”

“Ya, siap pak,” jawab mereka serempak.

Karena semangat berlatih yang tinggi sehingga Neni (yang dikemudian hari mempunyai nama panggilan Larasmaya Bayu) pun sering  berlatih di rumahnya sendiri dan dikabarkan bahwa orang tua Neni memiliki perangkat kuda lumping/kuda kepang yang mengandung kekuatan magis atau mengandung kekuatan ghaib, maka sebagai akibatnya energy atau kekuatan dari makhluk ghaib tersebut menjadi hilang karena kabur dan berantakan atau awut-awutan.

Suatu ketika Oon Karmanah merasa perlu untuk ikut membantu memperbaiki kondisi perekonomian keluarga sebab pada saat itu rumah yang ditinggali pun masih menumpang maka dia bekerja walaupun kesempatan yang ada sebagai seorang Cady Golf adapun pengasuhan Yoga dipercayakan kepada Neni, dan Neni pun bersedia serta tidak berkeberatan karena dia sendiri juga tidak bekerja. Hal tersebut berlangsung sampai bertahun-tahun lamanya, sampai pada suatu ketika keluarga Tijab Nurman sudah bisa membangun rumah tinggalnya sendiri.

Pada suatu hari Neni menemui Tijab Nurman sekeluarga untuk menyampaikan maksudnya :

“Asalamualaikum,” salamnya.

“Wa alaikum salam,” jawab Tijab. “Ada apa Neni, silakan masuk dulu, apa yang bisa saya bantu ?” lanjutnya.

“Kemarin saya sudah ngobrol-ngobrol sama Ceu Oon, dan katanya saya disuruh bicara sendiri sama Kang Nurman. Adapun maksudnya secara singkat adalah bahwa saya ingin meminta bantuan agar mendapatkan jodoh. Maklumlah kalau hidup di kampung terlambat mendapatkan jodoh pun menjadi bahan pembicaraan banyak orang.”

“Ya saya mengerti, tetapi kalau soal itu saya sendiri masih belum bisa kearah sana, tetapi kalau memang mau nanti saya antarkan ke rumah Bapak Antapani agar mendapatkan petunjuk,” jawabnya.

Singkat cerita pada suatu hari pergilah mereka ke Antapani, lalu diutarakannya tentang keinginan Neni untuk mendapatkan jodoh, yang kemudian diberikan tugas yang harus dikerjakan agar segera mendapatkan jodoh.

“Nah Neni, tugas tersebut memang dapat dikatakan ringan, tetapi jangan sampai dianggap enteng dan harus dilakukan dengan sungguh-sungguh tetapi tidak dengan cara bernafsu agar segera berhasil. Lakukan dengan tenang dan serahkan semua kepada-Nya biar ada yang cepat mendekati atau dengan kata lain biar jodohnya dekat,” kata Bapak Antapani memberikan penjelasannya.

“Iya siap  pak, terima kasih,” jawab Neni.

Dan untuk selanjutnya kegiatan sehari-harinya disamping menjaga dan mengasuh Yoga ketika kedua orang tuanya sedang bekerja, Neni masih tekun belajar Olah Raga Pernapasan Bayu Sepi dibawah bimbingan Tijab dan Oon Karmanah, juga melakukan tugas dari Bapak Antapani.

Oleh karena itu hubungan Neni dengan Tijab sekeluarga menjadi sangat dekat dan dianggap seperti adiknya sendiri dan umurnya terpaut 7 tahun lebih muda dari Tijab Nurman. Yang jelas bahwa Neni kelihatannya sangat meyayangi Yoga demikian pula dengan Yoga yang sangat akrab dengan Neni dan memanggilnya dengan sebutan “Bibi.”

Kalau ada peristiwa apapun yang terjadi atau yang dialami Neni selalu melaporkan hal tersebut atau meminta pertimbangan, pendapat kepada Tijab Nurman sekeluarga. Seperti halnya ketika menjalankan tugas dari Antapani sudah banyak orang yang mendekati Neni, tetapi dengan berbagai macam alasan, misalnya pertimbangan mengenai latar belakang kehidupan dan pergaulan, pekerjaan, perkiraan masa depan dan lain-lain sehingga wajar jika Neni sebagai seorang perempuan belum bisa menerimanya.

-o0o-

Karena pekerjaan yang berat yang sebelumnya dilakukan, dan kini berjalan jauh dengan memanggul beban berat serta naik turun bukit ketika sedang melayani pemain golf, maka seringkali pula Oon merasa sakit pada perut bagian bawah atau turun peranakan. Mungkin juga hal tersebut dipicu oleh berbagai macam penyebab dan untuk mudahnya cara pengobatan yang dilakukan hanya dengan diurut atau membetulkan letak rahim yang dalam bahwa sunda “disangsurkeun”, yang kebetulan tukang urutnyapun masih ada ikatan family.

Karena memang bukan tukang urut yang akhli dalam bidang itu hanya sekedar bisa memijat orang sakit badan sehingga akibatnya setiap kali diurut minimal 3 hari sampai seminggu atau mungkin bahkan lebih, bekasnya masih tampak memar atau lebam yang membiru dan ada rasa ngilu meskipun akhirnya rasa sakit tersebut secara berangsur-angsur berkurang dan sembuh.

Hal seperti tersebut diatas berjalan terus sampai sekian tahun lamanya dan Oon Karmanahpun masih tetap bekerja walaupun terkadang muncul rasa sakit pada bagian bawah perut tetapi profesi sebagai Cady Golf tetap dijalani.

Tetapi semakin lama rasa sakit yang dirasakan itu semakin sering terjadi, hingga kemudian Oon Karmanah sudah benar-benar tidak tahan dengan rasa sakit tersebut yang sudah tidak bisa lagi disembuhkan melalui cara diurut bahkan dapat dikatakan semakin bertambah parah yang ditandai dengan menstruasi tidak lancar yang disertai sakit luar biasa atau terkadang tidak menstruasi sama sekali meskipun tidak ikut KB ataupun hamil.

Kemudian untuk meyakinkan diri tentang penyakit yang dirasakannya itu maka pergilah dia ke Bandung dengan maksud untuk memeriksakan penyakit tersebut secara medis. Dari hasil pemeriksaan tersebut diketahui telah terjadi pembengkakan pada rahim dan setelah dicek menggunakan alat dari logam malahan terjadi pendarahan yang semakin parah. Mungkin saja rahim yang bengkak itu tergores atau tertusuk sehingga menjadi luka dan berdarah.

Berdasarkan hasil dari pemeriksaan medis yang malah memperburuk kondisi Oon Karmanah maka diputuskanlah untuk minta diterapi di Antapani dengan pertimbangan pemikiran “masak iya tidak akan ditolong.” Karena Tijab pernah tahu bahwa ada orang Ciamis yang mengalami sakit yang sama dan mengalami pendarahan bisa disembuhkan apalagi ini dapat dikatakan sebagai orang dalam atau murid Bayu Sepi sendiri.

Dan pengobatan kepada Oon Karmanah adalah yang pertama kalinya menggunakan metode yang baru dipelajari yaitu dengan menggunakan alat berupa palu kecil dan terbuat dari kayu.

“Bagian mana yang terasa sakit, On,” tanya Mas Leo sambil memegang palu kecilnya.

“Perut bagian bawah terasa sakit, tepat dibawah pusar ,” jawabnya.

“Kalau begitu silakan berbaring dulu dan tenangkan pikiran biar penyaluran energinya mudah dan lancar,” katanya.

Lalu Pak Leo mempersiapkan diri dengan berdoa kepada Tuhan terlebih dahulu kemudian mohon ijin Mama Kartawidjaja untuk menerapi dengan metode menggunakan alat dari palu kayu yang baru saja diajarkan dan dipukul-pukulkan secara perlahan pada tempat yang sakit untuk membantu menyembuhkan Oon Karmanah.

Setelah beberapa saat dirasa cukup barulah Pak Leo berhenti menerapinya, dan kelihatan Oon Karmanah sudah kelihatan sehat  seperti bukan orang yang sedang menderita sakit.

“Bagaimana On, apakah masih terasa sakitnta ?” tanya Mas Leo.

“Sekarang sudah tidak sakit lagi Mas,” jawabnya sambil tersenyum. “Tadinya merasa takut dan khawatir ketika melihat Mas Sis memegang palu,” lanjutnya.

“Memangnya takut kenapa ?” tanya Mas Leo.

“Takut pengalaman seperti di klinik tempat praktek dokter saat itu akan terulang lagi, ketika bagian yang sakitnya dicolok dengan alat logam sehingga terjadi pendarahan, dan sekarang khawatir kalau bagian yang sakitnya akan dicolok dengan tangkai palu yang barangnya lebih besar dan lebih panjang bisa-bisa menjadi semakin bertambah parah,” katanya lagi. “Tapi ternyata dugaan saya salah dan malahan sekarang rasa sakitnya sudah hilang,” lanjutnya lagi.

“Ya syukurlah kalau demikian. Biar kesembuhan bisa dicapai dengan cepat saya sarankan kalau terapi jangan hanya sekali ini saja tetapi harus sering dan soal makan juga harus  dijaga,” kata Mas Leo lagi.

“Ya, Mas,” jawab Oon singkat sambil menganggukkan kepalanya.

Setelah diterapi dan diberitahukan makanan apa saja yang boleh dimakan dan makan apa saja yang jangan dimakan, lalu pulanglah Oon kerumahnya.

Kemudian secara rutin Oon Karmanah terapi ke Antapani bahkan oleh kasepuhan Mama Kartawidjaja diberikan resep, yang pertama agar dibalur dengan papaya muda sebesar kepalan tangan yang diparut dengan kulitnya atau yang kedua bisa juga dengan panglay muda atau bengle muda yang dicampur dengan air energy untuk dibalurkan pada perut bagian bawah.

Tidak jarang pula ketika terapi ke Antapani disertai oleh Neni Hayati yang ikut terapi juga karena walaupun masih gadis tetapi punya gejala penyakit yang sama yang ditandai dengan menstruasi yang sangat tidak teratur dan disertai oleh rasa sakit yang belebihan.

Selama terapi ke Antapani disarankan kalau bisa untuk tidak lagi diurut dan jangan bekerja terlalu berat serta makan pun harus diatur dan dijaga artinya mana yang boleh dan mana yang dilarang terutama makanan yang banyak mengandung pecin atau bahan pengawet, sehingga kemudian Oon Karmanah memutuskan untuk berhenti bekerja sebagai cady golf.

Secara singkat karena terapi yang rutin dan makanan yang diatur akhirnya Oon Karmanah dapat dikatakan sembuh dari penyakitnya, dan sudah bisa melakukan aktifitasnya kembali secara normal seperti biasanya orang berumah tangga, bahkan jika ada orang sakit yang perlu diterapi, diapun sudah mampu melakukannya.

Karena sudah dianggap sembuh secara normal, maka Tijab Nurmanpun kembali aktif bekerja seperti biasanya yang jarang ada di rumah. Hal tersebut berlangsung kurang lebih selama 6 bulan tiba-tiba Oon Karmanah kembali jatuh sakit dan tidak bisa menahan ketika ingin kencing. Atau dengan perkataan lain selalu ngompol.

Setelah ditelusuri bahwa semenjak ditinggal aktif bekerja, makanan yang dikonsumsinya tidak terawasi lagi, karena setiap makan selalu dengan bakso cuanki yang banyak mempergunakan pecin dan rasanya memang enak dan gurih serta sering mengkonsumsi minuman kemasan yang mengandung bahan pengawet.

Sebuah inisiatif agar istrinya segera sembuh, minimal memberikan pertolongan pertama dilakukan oleh Tijab Nurman yaitu dengan memberikan terapi kepada istrinya dengan cara menyalurkan energy, akan tetapi mungkin belum diijinkan untuk sembuh oleh Yang Maha Kuasa dan energy yang disalurkan sangat keras dan tidak sesuai dengan kemampuan organ tubuh yang akan menerimanya maka sebagai akibatnya keadaan Oon Karmanah menjadi lebih parah.

Semula penyakit yang diderita adalah karena tidak bisa menahan keinginan untuk buang air kecil atau selalu ngompol tetapi sekarang malahan tidak bisa kencing sama sekali, bahkan hingga tubuhnya pun jadi membengkak.

Atas keinginan yang bersangkutan ingin titirah ke Antapani sambil memeriksakan penyakit tesebut ke Bidan. Pada waktu di Bidan dipasang kateter tetapi tidak ada air kencingpun keluar kemudian dibawa ke dokter, begitu pula tidak ada setitikpun air seni yang bisa dikeluarkan.

Setelah kurang lebih seminggu Oon Karmanah titirah, bertepatan dengan kejadian Asep Nugraha yang kemudian mendapat nama Bayu Wicaksana mendapat musibah bertabrakan motor dengan seorang pemabok ketika mau pulang dari Antapani. Sebagai salah seorang Tokoh dan Pelatih Bayu Sepi, Tijab Nurman terpanggil untuk turut serta membantu menyelesaikan masalah tersebut bersama Pak Leo, Chrisna dengan mengantarkan ke dua korban ke rumah sakit sampai menjelang pagi kira-kira pukul 1 dini hari, walaupun pada saat itu istrinya sendiri dapat dikatakan sedang kritis mungkin bisa dikatakan hampir sekarat yang sudah mengeluh tidak kuat menahan rasa sakit sejak sore harinya. Dan inilah kejadian yang dirasakan dengan kepedihan yang sangat luar biasa.

Pada esok harinya agar tidak menjadikan tuduhan yang bukan-bukan dari pihak lain maka kemudian dibawanyalah ke Rumah Sakit Umum Pemerintah di Kota Bandung yang salah satu pengantarnya adalah Mulyadi, Anggota Bayu Sepi seorang Sarjana Keperawatan, untuk menjalani serangkaian pemeriksaan, pengobatan maupun perawatan. Walaupun sebenarnya Oon Karmanah sendiri tidak mau kalau harus dibawa ke Rumah Sakit.

Setelah dimasukkan di ruang ICU dan melakukan pendaftaran maka dimulailah pengambilan sample darah untuk pemeriksaan di laboratorium, dan barulah Pak Leo pulang lebih dahulu karena akan mengantarkan Asep Nugraha yang luka-luka karena semalam mengalami kecelakaan untuk pulang ke rumahnya di Rancaekek.

Dengan alasan terjadi kesalahan maka pengambilan sampel darah telah dilakukan sampai beberapa kali, akan tetapi sejak dari pagi hingga sore hari belum juga diketahui hasilnya, sedangkan sudah puluhan orang lain selesai hanya memakan beberapa waktu sudah bisa diketahui hasilnya.

Kemudian Tijab dengan perasaan cemas, khawatir dan bingung mendatangi loket pemeriksaan Laboratorium untuk bertanya : “Permisi, apakah hasil tes laborarorium atas nama Oon Karmanah sudah ada hasilnya ?”

Petugas tersebut berkata : “ Tunggu sebentar pak saya cari dulu.”

Beberapa saat kemudian : “Mohon maaf pak belum ada, tunggu saja dengan sabar.”

“Sabar-sabar bagaimana, apakah saya kurang sabar. Saya sudah menunggu sejak dari jam 10 pagi hingga sore hari menjelang malam belum juga ada hasilnya. Sedangkan sudah puluhan orang lain selesai dan bisa mengetahui hasilnya hanya memakan waktu paling lama 2 jam, apakah saya harus masih terus bersabar ? Sampai kapan ?” Tijab Nurman berkata dengan keras dan berteriak untuk menumpahkan kemarahannya sambil menggebrak meja, karena merasa seolah olah dirinya dipermainkan.

Mendengar suara orang yang sedang marah dan menggebrak meja, maka keluarlah dari dalam ruangan yang mungkin adalah kepala laboratorium lalu berkata : Tunggu sebentar ya pak, saya akan panggil dokternya,” sambil bergegas pergi.

Tidak lama kemudian datang orang tersebut disertai oleh seorang dokter perempuan yang membawa beberapa berkas hasil pemeriksaan laboratorium ketempat Oon dan Tijab Nurman berada. Bertepatan dengan sampainya dokter perempuan tadi datang juga dua orang dokter lain yang sedianya akan mengaplusnya pada sore hari itu.

Setelah membaca tentang hasil dari beberapa penelitian darah di laboratorium serta berbicara dengan kedua rekannya tersebut, lalu dokter perempuan itu berkata : “Aneh……..”

Tidak hanya itu malahan mereka menyarankan kepada Tijab : “ Pak, untuk melengkapi hasil penelitian laboratorium sebaiknya kalau dilakukan scanner pada kepalanya.”

“Sebentar dok, saya belum bisa memutuskan sekarang karena saya perlu ketenangan dan mau berkonsultasi terlebih dahulu,” jawab Tijab Nurman.

Namun dalam hatinya berpikir : “Yang sakit pada bagian dalam perut, tetapi mengapa yang harus diperiksa pada bagian kepala, ini kan aneh. Berarti ini akan memakan biaya besar, waktu yang lama dan lain-lain serta belum tentu hasilnya akan benar apalagi bisa keterima dengan cepat seperti yang sudah-sudah.”

Setelah ikut mendengar saran dari dokter tersebut Oon Karmanah pun berkata Tijkab Nurman suaminya :“Pak tolong saya,” keluhnya lemah.

“Bagaimana caranya saya harus menolong ?” Tanya Tijab.

“Kalau mau menolong, bawa saya pulang kerumah saja,” jawab Oon Karmanah berkali-kali.

“Ya sebentar kalau demikian saya harus konsultasi lebih dulu,” yang kemudian melangkah pergi untuk mencari telepon umum untuk berkonsultasi. Karena pada waktu itu masih jarang yang memiliki Hand Phone.

“Hallo selamat Sore, dengan Pak Leo ? Ini dengan Tijab, Pak,” kata Tijab terbata-bata.

“Ya betul dengan saya, bagaimana beritanya ?” jawab dari telepon seberang.

“Begini pak, setelah beberapa kali diperiksa hasil darah melalui laboratorium tidak ada hasilnya bahkan mereka kebingungan dan menyarankan harus di scanner kepala. Menurut pendapat saya antara sakit yang diderita dengan saran scanner di kepala sepertinya tidak nyambung. Saya harus bagaimana, apakah harus saya ikuti atau tidak usah saja, mohon petunjuknya.” Kata Tijab Nurman sambil terisak menangis.

“Menurut pendapat saya juga tidak nyambung, yang sakit itu bagian badan kenapa yang harus di scan di kepalanya, kalau memang sudah tidak yakin dengan hasil pemeriksaan medis, ya sudah bawa pulang saja. Tapi usahakan bisa pulang dengan menggunakan ambulance mengingat jalanan ke Tanjungsari tepat di Kiara Payung karena hari ini ada Jambore Pramuka, jadi dipenuhi oleh orang-orang sampai menutup jalan raya. Kalau ada bunyi sirine agar diberi jalan untuk bisa lewat,” kata Pak Leo.

“Baik Mas terimakasih, akan saya urus untuk pulang saja,” jawab Tijab mantap.

“Nanti kalau sudah berangkat tolong kasih berita,” pinta Pak Leo.

“Ya, siap Mas,” jawabnya singkat.

Kemudian diuruslah penyelesaian administrasinya, sambil membawa berkas-berkas hasil pemeriksaan laboratorium dan lain-lain, kira-kira pukul 19.00 WIB barulah Oon Karmanah bisa dibawa pulang ke rumah Cijanggel.

“Selamat malam Mas Sis, saya siap berangkat. Mohon doanya,” pemberitahuan dari Tijab Nurman.

“Ya, hati-hati di jalan. Kalau bisa HP jangan dimatikan, biar nanti kalau ada berita apa-apa biar tidak sulit menghubunginya,” kata Pak Leo lagi.

“Ya, siap Mas,” jawab Tijab singkat.

Diperkirakan kurang lebih hampir satu jam setelah keberangkatan ambulance dari rumah sakit, Pak Leo kemudian menerima pemberitahuan dari Kasepuhan untuk disampaikan kepada Tijab Nurman.

“Hallo,” suara pak Leo.

“Ya, hallo,” terdengar jawaban dari seberang.

“Dengan siapa ini ?” tanya Pak Leo.

“Dengan saya, Anna pak,” jawab Anna adik perempuan Tijab Nurman.

“Oh iya, Tijab ada ?” tanya Pak leo lagi.

“Ada pak,” jawab Anna.

“Anna, tolong kasihkan HP nya ke Tijab. Terima kasih.”

“Iya Pak,” jawabnya lagi………………………………

“ Hallo, ini dengan Tijab, Mas,”

“Tijab, kalau di rumah Cijanggel ada siapa saja yang menunggu kedatangan kalian ?” tanya Pak Leo.

“Disamping ada saudara-saudara Oon, juga ada anak-anak Bayu Sepi yaitu Kang Ari (Achmad),  Eep, Ugung dan  Ade,” jawab Tijab.

“Ini pesan dari Mama Kasepuhan, nanti setibanya dirumah Oon harus dibalur dengan Buah Alpuket Muda atau Mangga Muda yang diparut dan dicampur dengan air rebusan kayu manis. Coba hubungi mereka agar bisa membantu untuk mencarikan bahan tersebut, biar begitu tiba dirumah Oon bisa segera dibalur seluruh badannya,” berita dari Pak Leo.

“Ya, siap Mas,” jawab Tijab singkat.

Masih untung pulangnya menggunakan ambulance walaupun sulit menembus jalan Tanjungsari, terbayang andaikata pakai mobil pribadi mungkin akan jauh lebih sulit melewati jalan tersebut yang penuh dengan kerumunan orang.

Begitu sampai di Cijanggel kira-kira jam 10 malam, Oon diturunkan dari Ambulance dengan menggunakan blankar. Tetapi pada saat itu kondisi badan Oon saat itu sudah kaku, seperti posisi seakan sedang duduk di kursi tetapi dalam keadaan tidur terlentang, jadi kaki dan tangannya terangkat keatas seperti kondisi ayam yang dibekakak atau dibakar untuk sesaji, tidak bisa berbicara dan matanyapun juga tidak bisa melihat, hanya napas yang menunjukkan dia masih dalam keadaan hidup. Semua orang yang menyaksikan pemandangan tersebut merasa terkejut karena tidak sesuai dengan perkiraan keadaan dalam pikiran mereka.

Anak-anak Bayu Sepi bukan tidak mau membantu mencarikan bahan, tetapi karena disana dia sebagai orang asing apalagi malam hari sehingga geraknya terbatas, yang akhirnya meminta batuan penduduk setempat yang leluasa bergerak untuk mencarikan bahan yang diperlukan. Kebetulan orang yang mendapatkan bahan tersebut adalah Wawan yang masih terhitung keponakan Oon sendiri. Karena pada waktu itu memang sedang tidak musim buah Alpukat, jadi yang bisa diperoleh adalah mangga muda.

Setibanya di rumah Oon Karmanah langsung dibalur seluruh tubuhnya dengan Parutan Mangga Muda yang dicampur dengan air rebusan kayu manis yang sudah disediakan. Tijab Nurman ditemani oleh beberapa anak-anak Bayu Sepi yang masih bujangan untuk menungguinya sambil mengobrol sedangkan Kang Ari pulang duluan.

Kira-kira jam 03.00 dini hari tanpa ketahuan dan tanpa disadari oleh yang sedang menunggu, Oon sudah bangun dan duduk lalu menegur orang yang berjalan menuju kamar mandi : “ Ep, Eep !” katanya.

Semua yang mendengar hal itu menjadi terkejut dan heran karena tidak pernah menyangka bahwa Oon dengan kondisi yang dapat dikatakan sangat parah bisa kembali sehat secepat itu. Dimulai dengan dari rasa heran dan untuk meyakinkan apa yang telah mereka lihat tidak salah, maka Tijab Nurman, suaminya pun bertanya :

“Mah, apakah kamu memang sudah bisa melihat ?”

“Bisa,” jawabnya.

“Kalau ini siapa ?” tanya Tijab

“Ugung,” jawab Oon cepat

“Kalau yang itu siapa ?” kembali Tijab bertanya untuk meyakinkan.

“Kalau itu Ade Onye,” jawab Oon lagi.

“Alhamdulillah, ya Tuhan istri saya sudah bisa sehat lagi,” ucap syukur Tijab Nurman setelah melihat istrinya kembali sehat.

Pada siang harinya anak-anak Bayu Sepi yang mendapat giliran untuk menunggu orang sakit pulang kerumahnya masing-masing, dan mereka merasa gembira setelah melihat kesehatan Oon sudah kembali dan tinggal pemulihan kondisinya agar betul-betul normal.

Dalam masa pemulihan kondisi tersebut Oon belum dapat dikatakan sehat karena masih terlihat belum bebas bergerak, dikatakan sakit tapi masih bisa beraktifitas walaupun terbatas.

Seminggu setelah sembuh dari sakitnya ada sesuatu yang aneh terjadi, yaitu Oon Karmanah seperti orang yang sedang linglung atau kesurupan sambil berbicara sendiri dengan suara keras dan berulang-ulang : “Astapiroh….., astapiroh…”

“Mah, bukan astapiroh, tetapi Astagafirullah,” kata Tijab Nurman suaminya mencoba untuk membimbing agar tidak salah.

“Astapiroh…, astapiroh…! ” kata Oon dengan suara menyentak sambil memelototkan matanya dan tidak mau untuk dibetulkan.

Melihat keadaan seperti itu, Eep Abdul Rohman salah seorang murid Bayu Sepi mengambil inisiatif, setelah berkonsentrasi sejenak lalu meniup kearah Oon Karmanah yang sedang duduk dan berbicara sendiri. Maksudnya adalah untuk membantu andaikata Oon Karmanah memang kesurupan mudah-mudahan apa yang dilakukan itu ada manfaatnya.

Namun yang terjadi adalah sebaliknya, Oon Karmanah malahan meniup balik kearah Eep Abdul Rohman sambil berkata : “Kecil,” seraya menunjukkan jari kelingking yang dijentikkan dengan ibu jari tangannya.

Melihat kenyataan yang tidak bisa segera diatasi, maka Tijab Nurman keluar rumah menuju ke telepon umum maksudnya akan memberitahukan ke Bandung tentang keadaan Oon Karmanah istrinya menjadi seperti orang yang kesurupan. Selesai menelepon, mungkin perasaan hatinya sudah merasa ringan, walaupun tidak diberikan janji akan dikunjungi ataupun diberikan saran harus bagaimana untuk menanganinya.

Pada malam harinya kira-kira pukul 20.30 WIB tiba-tiba : “Asalaamu alaikum…..”

“Wa alaikum salam…..” jawab orang yang berada di dalam rumah sambil membukaka pintu. “Saya tidak menyangka kalau akan datang berkunjung kemari,” lanjut Tijab Nurman.

Setelah tamu tersebut masuk ke dalam rumah lalau Tijab Nurman bertanya kepada Oon Karmanah istrinya : “Mamah tahu siapa yang datang ?”

“Tahu, Mas Sis dan mbak Tik,” jawabnya jelas sekali.

Kemudian setelah berbincang dan bergurau bersama dengan orang-orang yang sedang berada di dalam rumah mengenai masalah yang umum, tanpa dilakukan pengobatan apapun juga Oon Karmanah menjadi sembuh dan normal kembali. Ketika waktu sudah menunjukkan sudah malam lalu kedua tamu tersebut berpamitan untuk pulang ke Bandung.

Walaupun sudah kembali sehat dan normal tetapi masih perlu perawatan untuk memulihkan kondisi badannya, dan dalam perawatan tersebut yang sering menunggu adalah Tijab Nurman suaminya, Yoga anaknya dan Neni Hayati yang mengasuh anaknya.

Hal tersebut berlangsung selama kurang lebih 1 minggu setelah sembuh dari linglung, hingga pada suatu saat terlihat Oon Karmanah yang tergolek lemah diranjangnya, ditunggui dengan duduk disisi pembaringannya, dan pandangan matanya selalu menatap berganti-ganti kepada Tijab Nurman, Yoga dan Neni selain menatap kearah jam dinding sekan melihat waktu.

Dalam keadaan terbaring lemah dan tidak berkata barang sepatah katapun juga namun ada semacam pesan yang disampaikan lewat pandangan mata serta gerak tubuh dan hal itu terbaca oleh Tijab Nurman suaminya.

“Pak, setelah nanti aku dipanggil untuk menghadap hadirat-Nya, kalau engkau akan mencari istri lagi, carilah seorang istri yang bisa memberikan kasih sayang terhadap suami maupun kasih sayang terhadap Yoga anak kita.”

Tetapi hal itu disangkal dan ditepisnya jauh-jauh dari dalam pikirannya, jangan sampai hal itu karena pengaruh setan atau nafsu manusiawi belaka yang ingin mencari perempuan baru sebagai pengganti istrinya yang sudah meninggal dunia.

Kira-kira pukul 11 malam tiba-tiba Neni berkata : “Ceu Oon, saya permisi mau pulang sebentar nanti kesini lagi,” yang kemudian langsung pergi.

Walaupun tidak terlihat memberikan jawaban namun terlihat dari pandangan matanya ada rasa kecewa pada waktu Neni pergi meninggalkannya disamping selalu memperhatikan jam dinding.

Pada kira-kira pukul 01.45 dini hari tanggal 8 Agustus 2006, Oon Karmanah berkata kepada suaminya : “Pak, tolong bantu aku sebentar, aku ingin duduk di kursi,” katanya lemah setengah berbisik.

Dengan serta merta disanggah punggungnya untuk membantunya berdiri, tetapi ya ampun badannya terasa sangat berat sekali bahkan Tijab suaminya tidak kuat untuk menopangnya.

Lalu dibisikkan ketelinganya : “ Mah, cobalah berdoa memohon kepada-Nya agar diberi ampunan.”

Oon Karmanahpun tertunduk diam, entah apa yang sedang dilakukannya, tetapi setelah itu belum sempat Tijab membantunya untuk berdiri bahkan tidak mengetahuinya, Oon sudah berdiri dengan sangat ringan dan langsung berpindah duduk di kursi.

Setelah suasananya agak tenang sejenak kemudian Oon Karmanah berkata-kata perlahan kepada suaminya :

“Pak,  maafkan segala kesalahan yang telah kuberbuat selama ini.”

 “Sama-sama Mah, maafkan juga aku karena selama ini banyak sekali melakukan hal-hal yang salah, baik itu berupa ucapan maupun perbuatan,” jawab Tijab suaminya.

“Dan sepeninggalku nanti tolong rawat dan didik anak kita, kuatkan dan tegarkan hati serta doakan aku agar jalan terbuka dan lancar untuk menuju pulang kehadirat-Nya,”  Oon Karmanah melanjutkan perkataannya.

Mendengar ucapannya ini Tijab Nurman hanya menundukkan kepala, diam dan tidak berkata sepatah katapun namun dalam hati dia memohon kepada-Nya :

“Ya Allah, Ya Tuhanku kalau ini memang  sudah saatnya dan sudah menjadi kehendak-Mu, hambaMu ikhlas untuk menyerahkannya.”

“Nah, begitulah seharusnya. Terima kasih pak,” sahut Oon Karmanah tiba-tiba, dan Tijab pun merasa heran kenapa perkataan istrinya itu nyambung dengan apa yang telah dia doakan kepada-Nya, seakan-akan dia bisa mendengarkan semua apa yang telah diucapkan didalam hati.

“Pak, tolong bantu aku ingin tidur lagi ke ranjang,” lanjutnya kemudian.

Lalu dibantulah dia untuk pindah ke ranjangnya kembali, kemudian Oon Karmanah membereskan letak bantal serta mengatur seprei dengan duduk, selanjutnya berkata :

“Pak, aku mau istirahat tolong jangan di ganggu.”

Tepat pukul 02.00 dini hari tanggal 8 Agustus 2006 terlihat dia membaringkan badannya perlahan-lahan serta berguman lirih tetapi jelas sekali terdengar perkataannya yang diulang-ulang :

“La Ilaha Ilallah, Allahhu Akbar. Ya Allah, Ya Tuhanku yang Maha Besar ampunilah segala dosaku dan terimalah aku disisi-Mu.”

Tijab Nurman memperhatikan Oon Karmanah yang berbaring, tetapi tidak beberapa lama kemudian terlihat nafasnya yang tadinya tenang dan teratur itu agar tersendat beberapa detik yang selanjutnya lemas terkulai. Dipandangi istrinya yang terbaring lunglai dengan mata terpejam, tenang, damai dan wajahnya pun bukan pula disebut pucat tapi nampak ayu serta mulut tersungging senyuman lalu… siiirrr….  berhembus  bau wangi semerbak yang melintas memenuhi kamar, yang Tijab Nurman sendiri tidak mengerti dari mana bau harum tersebut berasal dan harumnya bukan seperti harum bunga atau parfum ataupun bau harum yang pernah diketahui sebelumnya.

Segera dirabanya denyut nadi dan diperiksa tarikan nafasnya, ternyata sudah berhenti sama sekali.

“Innalillahi wa inna illahi rojiun,” ucapnya. Secara fisik Tijab kelihatan tegar karena tidak setitikpun air mata yang nampak mengalir keluar, namun jauh di dalam hatinya sangatlah sedih sekali yang sulit untuk disebutkan dengan kata-kata.

Terbayang di pelupuk matanya semua kesalahan yang telah diperbuatnya selama menjalin rumah tangga ini sampai pada akhirnya kenapa Oon Karmanah yang meminta maaf lebih dahulu kepadanya, mengapa bukan dia yang sudah jelas telah berbuat banyak kesalahan, ya selingkuh, berkata kasar dan menyakitkan hati, mau menangnya sendiri dan lain-lain. Tijab hanya bisa tunduk menyandarkan kepala disisi pembaringan dengan perasaan hati yang hancur berkeping keping dan sebuah penyesalan yang tidak berujung.

-o0o-

Pada saat selesai pemakaman.

*).Terlihat Mulyadi yang Sarjana Keperawatan dan seorang Perawat di sebuah Rumah Sakit Besar itu sedang membalik-balik dan membaca surat keterangan dari hasil pemeriksaan laboratorium dan kemudian berkata : “Kang Tijab, ada yang aneh pada diri Teh Oon yang bisa melihat normal kembali hanya memakan waktu beberapa waktu saja, karena pada umumnya orang yang sakit dengan semua badan menjadi kaku lalu mengalami kebutaan seperti yang dialami oleh Teh Oon biasanya tidak pernah bisa melihat kembali, kalaupun ada mungkin 1 dibanding sekian banyak…… dan itu memerlukan waktu paling sedikit 3 bulan dengan perawatan yang intensif.

*). Lalu dari hasil uji Lab ini mengatakan bahwa contoh darah yang diambil adalah darah orang yang sudah meninggal dan pada kenyataannya Teh Oon masih dalam keadaan hidup. Dan dinisi dokter menjadi kebingungan melihat hasil itu dan lalu mengambil sampel ulang darah sampai berkali-kali namun hasilnya selalu salah dan tetap tidak bisa dimengerti.”

Setelah mendengar apa yang diucapkan Mulyadi barulah Tijab Nurman mengerti duduk permasalahannya sehingga mengapa hasil Lab selalu salah dan tidak segera ada hasilnya, bahkan sempat dia marah kepada petugas loket laboratorium seakan dipermainkan.

*).Tersebar berita diluaran atau terutama di lingkungan kampong bahwa Pak Ajat,  Ketua DKM setempat pada waktu itu, juga sebagai seorang Ustadz ataupun seorang yang bertugas untuk menguburkan jenazah orang yang telah meninggal dunia, berkata demikian : “Baru kali ini saya melihat ada orang yang meninggal dunia terlihat menjadi lebih cantik, tidak menakutkan dan nampak kuning bukannya pucat.”

-o0o-

Tiba-tiba Tijab Nurman tersadar dari lamunannya ketika melihat Neni dan Yoga lenyap dari pandangan matanya ketika dibelokan jalan.

Namun dalam hatinya berkata : “Ah alangkah bahagianya jika aku nanti mendapat seorang istri yang tepat untukku dan tepat pula menjadi ibunya Yoga seperti yang dilakukan Neni sekarang,” pandangannya menerawang jauh.

Namun disadari bahwa semua itu hanyalah sebuah angan-angan, keinginan dan khayalan karena mencari orang seperti itu sangatlah sulit.

 -o0o-

Saudaraku pembaca semuanya, sebuah gubahan cerita yang diambil dari perjalanan sebuah Kisah Nyata Kehidupan Keluarga Tijab Nurman Sondjaja atau Bayu Pananjung Bagian Ke 1 yang mengetengahkan atau membahas tentang “Pesan” agar dapat kita ambil hikmahnya sebagai bahan perenungan dalam kehidupan kita masing-masing.

Sebuah pesan adalah sesuatu yang disampaikan dari pihak yang satu, bisa perorangan, bisa juga sekumpulan orang kepada pihak yang lain.

Isi dari Pesan bisa saja merupakan sebuah perintah, nasehat, permintaan, amanat, pemberitahuan, baik berupa kata/lisan atau tulisan ataupun gerak tubuh

Adapun bentuk pesan bisa saja berupa kata/lisan, tulisan atau tersurat ataupun yang tersirat dengan menggunakan gerak tubuh atau bahasa tubuh.

Mengenai cara penyampaiannya bisa disampaikan saja secara langsung dan bisa juga disampaikan secara tidak secara langsung.

Pesan yang disampaikan secara langsung artinya disampaikan dengan menggunakan kalimat yang jelas dan tegas karena mengandung pengertian perintah agar dapat dilaksanakan, sebagai sebuah contoh dapat kita baca pada pesan yang tertulis pada Buku Nikah untuk yang beragama Muslim, misalnya seperti :

KEWAJIBAN  UMUM  SUAMI  ISTRI

  1. Kedua pihak hendaklah hormat menghormati, sopan santun dan penuh pengertian.
  2. Memelihara kepercayaan dan tidak membuka rahasia masing-masing walaupun diwaktu ada percekcokan.
  3. Masing-masing harus sabar atas kekurangan-kekurangan dan kelemahan-kelamahan yang ada pada tiap-tiap manusia sehingga tidak cepat-cepat marah, akan tetapi menunggu dengan tenang untuk menunjukkan kesalahan-kesalahan itu hingga dapat diakhiri dengan kebijaksanaan dan pertimbangan.
  4. Jangan cemburu tanpa alasan, juga tidak mendengar hasutan orang. Segala sesuatu, usut periksa lebih dahulu.
  5. Menjauhi bibit-bibit percekcokan sehingga tidak terjadi perselisihan-perselisihan yang tak diingini. Dan jika terjadi juga perselisihan, hadapilah dengan kepala dingin.
  6. Rela berkorban untuk kepentingan suami istri dan menghormati family masing-masing.
  7. Akhirnya kedua pihak harus berusaha menjadikan rumah tangganya sebagai muara yang aman dan pelabuhan yang damai tempat peristirahatan yang teduh untuk seluruh keluarga baik diwaktu suka dan duka, bersendikan tawakkal dan iman kepada Allah s.w.t. dan syukur atas nikmat-Nya.

Pesan yang disampaikan secara tidak langsung atau tersirat artinya bahwa pesan tersebut tidak disampaikan dengan menggunakan kalimat yang ditujukan dengan jelas tetapi banyak mengandung pengertian, sebagaimana sebuah uraian seperti dibawah ini.

PESAN-PESAN YANG TERDAPAT DI BALIK KEMARAHAN ORANG TUA

Setiap kali ayah atau ibu marah dan bahkan menghukum anaknya, mungkin rasanya sangat menyebalkan. Membuat perasaan menjadi  gundah serta jengkel kepada mereka, karena membuat hari-hari merasa tidak senang. Bahkan terkadang, anak malahan balik marah dan membenci orang tuanya. Padahal kalau direnungkan bahwa di balik kemarahan orang tua tersimpan beberapa pesan penting yang seringkali di abaikan begitu saja, yaitu bahwa kemarahan adalah :

Mencerminkan Kekhawatiran:

Semua orang tua pasti punya naluri untuk melindungi anaknya. Oleh karena itu, mereka kemudian membuat peraturan yang harus di ikuti demi keselamatan dan kebaikan anaknya. Jadi begitu anak melanggar aturan yang mereka buat, secara otomatis timbul rasa khawatir di hati orang tua karena tidak menghendaki terjadi sesuatu yang tidak diinginkan terhadap diri anaknya.

Merupakan Nasehat

Karena merasa kesal atau takut melihat kemarahan orang tuanya, maka anak tidak pernah melihat bahwa orang tua sebenarnya sedang memberikan nasihat di balik kata-kata marahnya. Jadi meskipun  tidak suka dengan kemarahan orang tua, namun sedapat mungkin harus bisa menangkap kata-kata atau nasehat yang mereka sampaikan.

Sebagai Pembelajaran

Pada saat orang tua sedang menghukum anaknya, sebenarnya yang terjadi adalah bahwa mereka menginginkan anaknya belajar sesuatu dari kesalahan yang telah dibuatnya. Mereka ingin memberi tahu bahwa akan selalu ada dampak dari setiap perbuatan yang dilakukan. Maka, anak harus siap menerima langsung tanggung jawab dari segala tingkah lakunya.

Sebuah Harapan

Pada saat memberikan hukuman karena kemarahan, orang tua berharap anaknya tidak akan pernah mengulangi kesalahan yang sama. Orang tua juga berharap agar anaknya akan bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Bentuk Perhatian

Seharusnya anak merasa bersyukur ketika orang tua memarahinya  karena itu berarti bahwa mereka masih memperhatikannya. Bayangkan andaikata orang tua sudah tidak memberikan perhatiannya terhadap apapun yang dilakukan anaknya, artinya mereka sudah tidak peduli. Sehingga, anak pun tidak pernah tahu apakah tindakan yang dilakukan itu salah atau benar?

Ungkapan Kasih Sayang

Harus diyakini dan percaya bahwa selalu ada kasih sayang di balik kemarahan orang tua. Hal ini bisa dibuktikan ketika mendatangi orang tua pada saat kemarahan mereka sudah reda dan tenang,  lalu meminta maaf serta berjanji tidak akan mengulangi berbuat kesalahan lagi. Yang jelas pasti anak akan mendapatkan pelukan dan kata-kata sayang dari orang tuanya.

Bagian yang terpenting adalah bagaimana sikap kita dalam menerima dan mendengarkan pesan tersebut baik secara lisan, tulisan ataupun yang tersirat untuk memaknainya agar bisa dilaksanakan. Oleh karena itu :

*). Untuk melaksanakan sebuah pesan jangan menerima atau mendengarkan hanya sebagian saja, karena hal tersebut tidak akan pernah mencapai hasil atau tujuan yang sebenarnya diinginkan, sebagaimana sebuah contoh anekdot di bawah ini;

Tentang Perbedaan Waktu

Wakhyudin yang sedang mengikuti bepergian saudaranya ke Amerika dan kebetulan ketika itu adalah bulan puasa. Karena ragu dan agar tidak terjadi kesalahan jadwal pada saat berbuka puasa maka dia berniat untuk menanyakan perbedaan waktu tersebut antara New York dengan Kampung Kara Rancaekek.

Dengan bermodalkan berbahasa Inggris alakadarnya dan nekad, lalu Wakhyudin bertanya : “Hello operator. Time difference New York and Kampung Kara Rancaekek, West Jawa, please.”

Kemudian terdengar Operator menjawab : “One minute, please……” (maksudnya tunggu sebentar).

Begitu mendengar kata-kata “One menite” maka Wakhyudin langung menutup telepon teleponnya sambil berkata : “Anjirrrr.. teu pira ngeun beda samenit euy jeung kampung urang di Rancaekek !!!. (Anjirrr…tidak seberapa hanya berbeda satu menit saja dengan kampungku di Rancaekek)

*). Dalam menerima sebuah pesan jangan asal hanya sekedar mendengar atau membaca selintas saja yang kemudian menafsirkannya disesuaikan dengan kepentingan atau kebutuhannya sendiri yang mungkin saja hasilnya akan keliru bahkan mungkin saja bisa merugikan diri sendiri, sebagaimana sebuah contoh anekdot di bawah ini :

Pesan orang tua.

Sebuah cerita ketika seorang gadis dari Kampung Kara Rancaekek yang hendak pergi merantau ke kota Jakarta. Namun sebelum berangkat ibunya memberikan Nasehat dan menyampaikan Pesan : “ Neng anak emak,  nanti kalau kamu sudah mendapatkan pekerjaan di Jakarta dan kebetulan mendapatkan jodohmu pula disana, emak berpesan agar tidak ada penyesalan nantinya maka dalam mencari dan menentukan calon suami haruslah yang baik, setidaknya harus memenuhi persyaratan seperti berikut :

  1. Calon suami harus sayang dan setia;
  2. Calon suami harus hemat dan bisa mengelola keuangan;
  3. Kalau bisa Calon suami itu harus perjaka tulen. (Mungkin maksudnya adalah bahwa calon suami itu masih bujangan atau belum menjadi suami orang lain).”

“Ya, mak,” jawab gadis tersebut dengan cepat, tetapi entah mengerti atau tidak dengan apa yang telah dipesankan oleh emaknya tadi.

Kemudian berangkatlah gadis tersebut mencari pekerjaan ke Jakarta dan beberapa bulan kemudian dia kembali ke kampungnya untuk meminta doa restu karena akan menikah.

“Mak…,saya sudah menetemukan jodoh dengan ketentuan seperti yang emak sampaikan kepada saya.”

“Kalau begitu, coba ceritakan hal itu kepada emak mu !” kata ibu gadis tersebut sebagai permintaan kepada anaknya.

Kemudian mulailah anak gadis tadi menceritakan tentang pacar atau calon suami kepada ibunya :

“Begini mak, pada waktu kami berjalan-jalan dan berkeliling kota Jakarta yang belum pernah Eneng ketahui, selama itu pula dia selalu menggandeng dan membelai Eneng dengan sikap yang mesra. Bukankah itu merupakan tanda kalau calon suami Eneng adalah orang yang sayang dan setia ?”

Si Emak, ibu si gadis tersebut mengangguk tanda setuju dengan pendapat Eneng anak gadisnya.

“Kemudian, oleh karena turun hujan lebat dan kamipun kehujanan serta kemalaman diperjalanan lalu kami memutuskan mencari tempat untuk berteduh juga menginap.

Pacar Eneng bilang begini, mak : “Dik, karena kita kemalaman diperjalanan dan juga sedang turun hujan lebat, sebaiknya kita menginap saja di hotel dan untuk menjaga agar dalam perjalanan kita tetap hemat,  bagaimana  kalau di hotel kita hanya menyewa 1 kamar saja ?”

Nah mak, bukankah itu merupakan tanda bahwa pacar Eneng adalah orang yang hemat dan bisa mengatur keuangan mak ?”

Untuk kedua kalinya si emak, ibu si gadis tersebut menganggukkan kepalanya tetapi kali ini sangat perlahan sambil mengerutkan keningnya dan diwajahnya pun tampak penuh keraguan.

“Dan akhirnya Eneng tahu mak…, kalau pacar Eneng itu memang betul-betul masih perjaka tulen,” lanjut gadis tersebut memberi penjelasan.

Langsung saja si emak, ibu si gadis tersebut mendelikkan matanya serta membentak  : “Dari mana kamu tahu kalau dia betul-betul masih perjaka tulen ?”

Si Eneng,  anak gadis tadi langsung saja menjawab :  “Mmm…..anunya masih baru dan masih dibungkus plastik, mak !”

-o0o-

BANDUNG–INDONESIA, NOPEMBER – 2015 

(Gubahan Ki Ageng Bayu Sepi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *