MAWAS DIRI Bagian ke 2

burungJANGAN MUDAH MENYALAHKAN LINGKUNGAN DIMANA KITA BERADA, ATAUPUN MENGKRITIK ORANG LAIN KARENA TIDAK COCOK DENGAN KITA ATAU MUNGKIN SAJA BISA SEBALIKNYA KITALAH YANG TIDAK COCOK DENGAN MEREKA.

OLEH KARENA ITU SEKALI WAKTU SANGAT PERLU UNTUK MELIHAT KE DALAM DIRI SENDIRI KARENA KESADARAN DIRI ITU SANGAT BESAR NILAINYA.

ANDAIKATA SESEORANG TIDAK BISA INTROSPEKSI DIRI, MAKA KEMANAPUN ORANG TERSEBUT BERADA DIA AKAN MENEMUKAN MASALAH YANG SAMA YANG AKHIRNYA AKAN KELELAHAN DAN TIDAK TAHU HARUS PERGI KEMANA LAGI.

hurup Pada suatu pagi hari yang cerah di atas salah satu pohon rindang yang tumbuh di halaman rumah Bapak Sumirat Sani sekeluarga, terlihat banyak burung-burung yang bernyanyi riang dan sedang bersiap mencari makan, tetapi nampak juga pada tangkai dahan lainnya seekor burung kecil yang gelisah dan bermuka murung sedang sibuk untuk persiapan pindah sarangnya. Kemudian disapalah  burung tersebut oleh tetangganya.

“Hallo, selamat pagi teman. Kelihatannya sibuk sekali pada pagi-pagi yang cerah seperti ini memangnya kamu hendak pergi kemana?” tanya seekor burung tetangganya.

“Saya mau pindah sarang ke sebuah pohon besar di pinggir hutan yang letaknya jauh dari sini dan arahnya berada di sebelah selatan sana,” demikian burung kecil tersebut ,menjawab pertanyaan tetangganya.

“Hey apakah saya tidak salah dengar, bukankah disini hidupmu lumayan baik, mengapa pula kamu mau pindah ?” burung tetangga itu dengan keheranan bertanya lagi.

“Kawan, tidakkah kamu mengetahuinya, bahwa semua orang di sekitar sini tidak suka dengan suaraku, Mereka semua mengatakan kalau suaraku  itu sangat jelek dan tidak enak untuk didengarkan, jadi saya tidak tahan dan sakit hati terhadap perkataan tersebut. Oleh karena itu saya memilih lebih baik kalau saya harus menjauh dari sini dan pindah sarang,” jawab burung kecil itu menjelaskan.

“Menurut pendapatku sebenarnya kamu tidak perlu harus pindah sarang, tetapi yang diperlukan hanyalah kamu harus mau mengubah suara nyanyianmu. Jika kamu tidak bisa mengubah atau memperbaiki suara saat bernyanyi, maka walaupun kamu pindah ke hutan yang berada di sebelah selatan atau sebelah manapun, mereka yang di sana juga tetap tidak akan suka padamu,” demikian tetangga burung tersebut berkata.

Setelah mendengar apa yang disampaikan oleh tetangganya tersebut dan merenungkannya, maka kemudian Burung kecil itupun menangis karena akhirnya dia menyadari akan kesalahannya bahwa selama ini dia selalu seenaknya sendiri yang menurut pemikirannya benar dan tanpa pernah memperhatikan keadaan sekelilingnya atau pihak lain.

-o0o-

Saudaraku pembaca semuanya, sekelumit cerita diatas hanya merupakan sebuah contoh kejadian saja dari sekian banyak masalah yang terjadi melalui gubahan dan reka ceritera singkat mengenai Mawas Diri Bagian Ke 2 sebagai peristiwa yang dapat mengingatkan kita bahwa dalam kehidupan sehari-hari perlu adanya instrospeksi diri.

Banyak istilah untuk menyebutkan mawas diri adalah instrospeksi diri, mengkoreksi diri sendiri atau dalam bahasa jawa disebut mulat sarira yang artinya adalah kesadaran.

Bila di ibaratkan bagaikan sebuah kapal yang akan berlayar di lautan lepas pasti memerlukan petunjuk arah. Namun yang tidak kalah pentingnya adalah selalu mengetahui posisi yang benar ketika itu. Karena sedikit kekeliruan akan membuat kapal tersesat dan kehilangan arah. Demikian pula halnya kehidupan kita.

Secara berkala manusia perlu untuk mengevaluasi diri karena banyak peristiwa di mana mereka harus belajar dan membiasakan introspeksi diri. Bercermin untuk mengetahui kekurangan dan kelemahan pribadi, agar dapat mengembangkan diri menjadi lebih baik lagi.

Mawas Diri atau Instrospeksi diri sangat diperlukan karena : Proses tidak selalu berjalan konstan dan pengalaman yang serupa tidak selalu memberi hasil yang sama. Karena selalu ada keterbatasan dan perbedaan sudut pandang dan tiap masalah memiliki titik kritis nya sendiri.

Melalui Mawas Diri atau Instropeksi Diri manusia akan mampu menemukan makna dari setiap tujuan yang milikinya dan akan semakin memastikan, apakah tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya sudah terarah atau belum. Karena mereka sering melihat kesalahan orang lain bahkan mengkritik kesalahan yang dibuat orang lain, dan tidak manyadari bahwa dirinya sendiri  pun sering berbuat salah.

Pada umumnya memang lebih enak dan lebih mudah mengomentari apa yang dilakukan orang lain, memvonis apa yang dikerjakan orang lain, menghakimi apa yang telah diperbuat orang lain atau banyak pemerhati yang menganggapi tentang orang lain tanpa dirinya mampu melakukan sesuatu, karena dia tidak menyadari bahwa dirinya sendiri belum tentu dalam keadaan lebih baik daripada orang yang dikomentari.

Maka melalui cara mawas diri, instrospeksi diri atau mengoreksi diri sendiri diharapkan akan dapat memahami kekurangan dan kelebihan yang dimiliki.

Mawas Diri bukan berarti bersikap menghakimi atau menyalahkan diri sendiri, tetapi merupakan bentuk kebesaran hati untuk memperbaiki dan mengembangkan diri sendiri

Dengan  Mawas Diri manusia akan melihat jauh ke dalam lubuk hati, dan menanyakan langsung kepada diri sendiri apakah sudah berhasil mencapai apa yang di inginkan, apakah cita-cita sudah terlaksana dan apakah diri ini sudah dalam jalur yang benar,

Dengan Mawas Diri diharapkan bisa untuk mengetahui apakah sudah melakukan perubahan kearah yang lebih baik, menyadari apakah tindakannya sudah tepat. Karena terkadang manusia terlena dengan apa yang telah dikerjakannya dan tanpa pernah mau memikirkan akibat dari apa yang telah dilakukannya itu.

Oleh karena itu dengan Mawas Diri dapat mengevaluasi setiap kata-kata, sikap maupun perbuatan. Apakah yang telah dikatakan, dipikirkan dan dilakukan itu sudah kearah yang lebih baik.

Jangan pernah ragu untuk melakukan Mawas Diri, dan setiap orang memang membutuhkan hal itu, karena dengan Mawas Diri seseorang bagaikan berdiri dihadapan sebuah cermin serta melihat keadaan diri sendiri untuk mendapat gambaran yang jujur dan sesungguhnya tentang diri sendiri dengan memperhatikan pengalaman yang telah lalu..

Untuk melakukan Mawas Diri, orang harus tahu terlebih dahulu apa  yang benar dan baru mengenali apa yang salah.

Adapun tentang teknik atau tata cara yang bisa dilakukan adalah sebagai  berikut :

1). Mawas Diri diawali dengan sikap rendah hati dan menyadari tentang kelemahan diri bahwa manusia tidak akan luput dari kekeliruan atau kesalahan.

Orang yang sombong tidak akan pernah mau dan sulit melakukan evaluasi diri karena selalu merasa apa yang dilakukannya sudah benar dan ini adalah sikap yang kekanak-kanakan. Sebagai akibatnya tidak akan ada perubahan pribadi, karena dia hanya bersikap selalu menyalahkan situasi, kondisi maupun orang lain. Karena kedewasaan dan kematangan pribadi lahir dari keterbukaan untuk mengevaluasi dan mengembangkan diri sendiri.

2). Memahami titik kritis suatu permasalahan berarti memiliki sikap mewaspadai keadaan dan menjaga diri atau antisipasi sebelum terjadi hal-hal yang tidak diharapkan.

3). Hal-hal yang perlu dievaluasi :

Pertama : Sebelum melakukan sesuatu kegiatan.

Sebelum melakukan sesuatu harus dipertimbangkan dahulu kebaikan dan keburukannya, apabila diibaratkan dengan mendirikan sebuah bangunan harus diperhitungkan anggaran biayanya, sumbernya dari mana dan langkah pertama yang harus dilakukan apa ?

Kedua : Ketika sedang melakukan sesuatu kegiatan.

Mawas Diri sangat diperlukan untuk mencegah jika ternyata telah terjadi kesalahan agar tidak terlanjur lebih jauh atau lebih parah. Kemudian hal-hal yang perlu dievaluasi adalah apakah pengetahuan tentang hal itu, tata cara digunakannya lalu mengenali titik kritis untuk antisipasi dan langkah-langkah perbaikan jika diperlukan.

Ketiga : Setelah melakukan sesuatu kegiatan.

Pengalaman selalu merupakan guru yang terbaik dan Mawas diri disini berguna untuk tindakan perbaikan selanjutnya jika terjadi kekeliruan atau sebagai pembelajaran agar kelak tidak akan mengulang kesalahan yang sama.

Kata-kata bijaksana :

“Oleh karena itu jujurlah pada diri sendiri. Jika salah katakan salah, dan jika benar katakanlah benar, lakukan instropeksi diri untuk kebaikan diri anda dan bukan untuk orang lain.”

“Dia yang mengendalikan orang lain mungkin kuat, tapi dia yang telah menguasai dirinya masih lebih kuat” Lao Tzu (600-531 sebelum masehi- Filsuf China).

 

BANDUNG–INDONESIA, OKTOBER – 2015

(Gubahan Ki Ageng Bayu Sepi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *