MAWAS DIRI

panonSEBUAH KESADARAN YANG DIPEROLEH ITU TIDAK SERTA  MERTA DATANG BEGITU SAJA DENGAN SENDIRINYA AKAN TETAPI MELALUI SUATU PROSES MAWAS DIRI YANG ARTINYA MEMERLUKAN WAKTU UNTUK PERENUNGAN DENGAN MENDENGARKAN BISIKAN KALBU DARI HATI NURANINYA DAN LEBIH UTAMA APABILA DIWUJUDKAN DALAM BENTUK SIKAP HIDUP DAN PERBUATAN, CARA BERTUTUR KATA DAN BERPERILAKU.

KESADARAN ITU BISA DATANG MELALUI PERISTIWA YANG DIALAMI SENDIRI DAN BISA JUGA MELALUI NASEHAT ATAU  MEMPERHATIKAN SERTA MENGAMBIL HIKMAH DARI KEJADIAN YANG DIALAMI OLEH  PIHAK LAIN.

 

Pada suatu hari dari sebuah rumah terdengar suara seseorang perempuan berbicara dengan keras dan nada yang tinggi atau marah sebagai sebuah tanda adanya sebuah percekcokan atau pertengkaran antara seorang perempuan kepada pacar atau tunangannya.

“Sekarang terserah pada Kang Sani saja dan aku sudah tidak mau memikirkannya lagi. Jika Kang Sani sudah tidak mau menegurku lagi, silahkan saja akupun tidak apa-apa. Atau  pergi menyendiri ke gunung seperti biasanya kalau sedang marah ya terserah saja. Dan apabila memang dipandang perlu silahkan mencari perempuan lain yang mengerti tentang kehendakmu.?  Menjadi seorang lelaki  pecemburu amat  !”

Seharusnya Kang Sani mengerti dan menyadari, kalau seorang laki-laki yang akan mendapatkan seorang istri seperti aku harus tahan banting. Siapakah orang yang tidak mengenalku ? Aku bukan hanya kembang desa, akan tetapi dapat dikatakan bahwa orang sekecamatanpun tahu denganku. Bisa di ibaratkan mulai dari ujung  utara, selatan, timur dan barat rumahku semua lelaki baik yang tua apalagi yang muda, semuanya mengenalku.

Banyak yang mengatakan bahwa kecantikanku yang alami walaupun tidak menggunakan obat pemutih kulit, tidak makan suplemen atau obat lainnya, bisa disejejarkan dengan kecantikan para bintang film Indonesia yang terkenal, apalagi bibirku, katanya bagaikan delima merekah. Rata-rata semua orang memujiku dan banyak sekali kaum  muda yang menginginkan bahkan yang mengaku menjadi pacarku. Namun semua itu tidak pernah masuk ke dalam hati. Karena mereka semua dahulunya adalah temanku, sebelum aku terikat oleh tali pertunangan dengan Kang Sumirat Sani.”

Adapun awal ceriteranya adalah sebagai berikut :

Pada suatu sore Sumiirat Sani menyampaikan rasa keberatan atau protesnya kepada Rismawati yang kini sudah menjadi tunangannya apabila dalam mengobrol dengan para teman laki-lakinya jangan saling berpegangan tangan atau bahkan terkadang sampai melupakan waktu kalau saat itu sedang bersama dan Sumirat Sani.

Namun daripada menerima apa yang telah dikeluhkan dan introspeksi diri dengan apa yang telah dilakukan itu, tetapi malahan Rismawati marah-marah dan menganggap dirinya dalam bergaul selalu dibatasi serta dikekang.

Tetapi siapakah Sumirat Sani yang telah mendapatkan Rismawati itu ? Sebenarnya tidak lain dia adalah teman sekolah Rismawati sejak dari Sekolah Dasar. Teman yang akrab tetapi  berbeda kelas 2 tahun, yaitu ketika Rismawati kelas 4 sedangkan Sumirat Sani kelas 6.

Kemanapun pergi mereka selalu berdua, lengket seperti perangko dengan amplopnya atau bahkan dapat dikatakan bahwa Sumirat Sani  seperti body guardnya saja.  Hal itu terus berlangsung sejak mereka masih kecil hingga dewasa. Dan banyak orang tahu tentang hal tersebut.

Tetapi mengapa Rismawati mau menerima Sumirat Sani sebagai tunangan atau sebagai calon suaminya ?

Memang pada umumnya yang diinginkan oleh seorang perempuan dalam mencari suami bukan hanya penampilan yang tampan atau gagah saja, bukan hanya cinta saja, akan tetapi juga mengenai rasa tanggung jawabnya terhadap keluarga. Apalagi menurut penilaian Rismawati bahwa Sumirat Sani juga sudah mempunyai pekerjaan yang cukup mapan. Sedangkan orang tua dari kedua belah pihak sudah sama-sama menyetujui hubungan tersebut.

Yang menjadi permasalahan adalah Rismawati menilai bahwa Sumirat Sani sangat pencemburu sekali, mungkin menurut pendapatnya bahwa rasa cemburu itu sangat berlebihan. Hal tersebut diperbandingkan ketika mereka sebelum dan sesudah terikat sebagai tunangan.

Dahulu ketika masih sebagai teman, Rismawati bebas bersahabat dengan siapapun juga, berpegang tangan atau mengandeng tangan orang lain dan Sumirat Sani masih toleran dengan semua tingkah laku Rismawati. Akan tetapi sekarang setelah mereka terikat oleh tali pertunangan Sumirat Sani meminta hal seperti itu harus dirubah dan dibatasi, akan tetapi daripada menerima saran tersaebut malahan Rismawati marah karena merasa dirinya sangat dikekang dan dibatasi.

Misalnya saja, ketika pada suatu saat Sumirat Sani mengantarkan Rismawati berbelanja ke toko swalayan, kemudian bertemu dengan Priyangga, teman lama mereka. Memang Priyangga sangat familier, meski pertemuan itu tidak berlangsung lama namun jika sedang berbicara walaupun tidak mempunyai maksud apa-apa tangannya suka menyentuh, memegang atau menggandeng tangan dan Rismawati pun menanggapinya tanpa memperdulikan keberadaan dan perasaan Sumirat Sani dihadapannya.

Dan sesampainya dirumah kemudian Sumirat Sani langsung komplain dan menyampaikan agar Rismarini mau merobah tingkah laku yang seperti  itu karena sekarang statusnya sudah berbeda.

Contoh lain lagi, ketika menghadiri undangan penikahan teman sekolah yang bernama Paramitha dan ditempat itu pula mereka berjumpa dengan Bagaskara, yang dahulu juga merupakan teman karib namun kini dia juga sudah berkeluarga, sudah punya anak dan istri. Akan tetapi dalam mengobrol Rismawati sampai lupa waktu seakan-akan tidak lagi memperdulikan keberadaan Sumirat Sani. Dan sesampainya di rumah kembali Sumirat Sani menegurnya !

Setelah ditegur Rismawati bukannya menerima dan memperbaiki tingkah lakunya akan tetapi malahan balik memarahi Sumirat Sani. Dan hal seperti itu tidak hanya terjadi sekali atau dua kali saja, yang selanjutnya kemudian mengirim sms dan setelah itu hape dimatikan untuk memutuskan komunikasi.

Pada keseokan harinya Rismawati berangkat bekerja lebih pagi, sehingga ibunya pun merasa heran ketika melihat Rismawati mengeluarkan motor sendiri lalu bertanya : “Lho Risma, kenapa berangkatnya pagi-pagi sekali apa nggak menunggu Kang Sani ?”

“Ah, enggak bu. Saya harus berangkat lebih pagi karena ada tugas ke luar kota,” jawabya singkat.

“Ohh….,” kata Ibunya dan tidak bertanya lebih jauh.

Kejadian tersebut sudah berlangsung sekian hari namun komunikasi juga belum tersambung , sehingga Rismawati berkata dalam hati :

“Biasanya jika aku sudah marah lalu memutuskan komunikasi dan tidak mau berbicara lagi, kemudian Kang Sani lantas datang untuk meminta maaf karena telah menegurku. Tetapi sampai sekarang kurang lebih  sudah seminggu mengapa dia tidak pernah datang lagi ke rumah.

Ingin rasanya aku menghubunginya lebih dahulu, tetapi ada rasa gengsi dan harga diri yang menghalangiku. Andaikata saja kalau aku lebih dulu mendatangi ke tempatnya, ada rasa takut tentang bagaimana nanti pandangan dan penilaiannya terhadapku sebagai seorang perempuan. Atau apakah mungkin kalau Kang Sani sedang sakit ?”

Dari kesimpulan yang terakhir ini membuat hati Rismawati menjadi bingung dan gelisah kemudian memutuskan untuk mencari tahu tentang kabar beritanya dengan cara mencoba mengontak teman sekantor Sumirat Sani untuk mendapatkan informasi :

“Hallo, selamat sore mBak Wulandari,” sapa Rismawati

“Hallo selamat sore juga apa kabar, ada yang bisa saya bantu ?” jawaban dari Wulandari.

“Semuanya baik-baik mbak terima kasih. Ada yang akan saya tanyakan mBak,” katanya lagi.

“Oh, iya. Tentang apa itu ?” Wulandari balik bertanya.

“mBak Wulandari, apakah Kang Sani tadi masuk kantor ?” tanyanya lagi.

“Lho, kamu ini bagaimana sih. Apakah kamu tidak tahu kalau Kang Sani sudah seminggu ini dimutasikan ke kantor Pusat” jawab Wulandari dengan nada agak keheranan.

Mendengar penjelasan bahwa Sumirat Sani dimutasikan ke Kantor Pusat, yang artinya bahwa sekarang sudah tidak bekerja lagi di Kantor Cabang dan letak kantor baru tempatnya bekerja sudah berada di luar lingkungan wilayah Kecamatan tempat tinggalnya maka Rismawati berpikir untuk mengetahui secara langsung dengan cara mengunjungi atau bertamu.

Hingga pada suatu siang, dengan alasan ada kepentingan keluarga maka  Rismawati meminta ijin dari tempat bekerjanya untuk pulang lebih awal. “Aku mencoba untuk mencari tahu, tetapi tidak hanya itu, aku juga ingin mengerti bagaimana keadaan Kang Sani sebenarnya di tempat kerja atau kantornya yang  baru,” pikirnya dalam hati.

Setelah menanyakan kepada Bagian Informasi diperoleh penjelasan bahwa letak Kantor Sumirat Sani berada di lantai 18. Kemudian dengan segera Rismawati menuju ruang lif, kebetulan berbarengan dengan 2 orang perempuan jika dilihat dari pakaian atau seragam yang dikenakannya, mereka adalah karyawati.

Di dalam lif tersebut secara tidak sengaja Rismawati mendengar pembiraan ke 2 orang karyawati tadi :

“He Handayani kau sudah tahu apa belum, kalau pimpinan baru kita itu bernama Pak Sani, lengkapnya Sumirat Sani dan orangnya ah….sudahlah pokoknya….sangat baik dan familier,” kata perempuan yang kecil dan berkulit hitam manis.

“Iya jelas dong, itu kan informasi yang masih baru dan masih dibungkus plastik lagi dan katanya juga masih belum ada yang memiliki..”, jawab perempuan muda yang bekulit putih dan berpotongan tinggi sambil tersenyum-senyum.

“Jadi,  masih ada kesempatan dan peluang….” lanjutnya.

Mendengar pembicaraan kedua perempuan tersebut, dalam hati Rismawati terasa sangat sakit, ada juga rasa khawatir dan jengkel … serta katanya dalam hati : “Awas kamu nanti ya, kamu belum tahu siapa  sebenarnya aku ini …”

Begitu lif berhenti pada lantai yang di inginkan lalu pintunya terbuka dan mereka semua segera keluar,  kebetulan Rismawati berpapasan dengan seorang laki-laki yang berperawakan seperti Sumirat Sani yang ditemani oleh seorang karyawati. Kemudian kedua orang lelaki dan perempuan tersebut berjalan berendeng membelakanginya dan kelihatannya ada masalah yang penting.

Melihat hal tersebut hati Rosmawati bergetar dan pedih, apalagi ketika melihat apa yang dikenakan perempuan tersebut,  misalnya hak sepatu dari perempuan itu mungkin setinggi 15 Cm seperti yang dikenakan oleh peragawati, baju seragam yang dikenakannya sangat serasi dan bentuk badannya pun dapat dikatakan berbentuk seperti gitar, apalagi jika dilihatnya dari depan, mungkin akan terlihat lebih bagaimana gitu.. dan sangat susah untuk dikatakan dengan bahasa..…

Menyaksikan kejadian tersebut kemudian Rismawati hanya diam berdiri di depan pintu lif dan kemudian memutar badan lalu masuk lagi ke lif dan langsung pulang, dalam hatinya berkata : “Aku sudah tidak bisa lagi melanjutkan penyelidikanku dan memenuhi keingintahuanku seperti ini. Memang benar kalimat bijaksana yang saya dengar, yaitu bahwa diatas langit masih ada langit. Aku yang tadinya sudah merasa cantik sekecamatan, tetapi ketika keluar dari lingkungan itu kenyataan yang kudapatkan bahwa  sangat banyak yang melampaui kecantikanku. Apalagi kemampuan lainnya misalnya kemampuan, keterampilan dan lain-lain…, mungkin aku akan kalah jauh apabila dibandingkan dengan mereka.”

Sore harinya setelah selesai shalat Maghrib dan membaca wirid, Rimawati duduk sendiri berlama-lama sambil mengingat-ingat segala sesuatu yang pernah dilakukan selama ini . Kemudian pikirannya berbicara sendiri : “Siapakah aku ini  ? Jika kupikir secara mendalam sepertinya menurut pendapatku bahwa tingkah lakuku selama ini lebih banyak menyebalkan siapa saja yang kenal denganku apabila dibandingkan dengan menyenangkan.

Aku sering berperilaku sesukaku sendiri dan tidak pernah memperhatikan perasaan orang lain. Jika aku sedang berbincang dengan orang lain yang aku kenal sampai lupa waktu. Sehingga Kang Sani sampai ketiduran menunggu selesainya aku mengobrol. Hal tersebut sama halnya dengan ketika mengantarkan aku berbelanja.  Tetapi baru  saja Kang Sani ada yang membicarakan dan menaksir yang belum tentu demikian kejadiannya aku sudah merasakan sakit, marah, jengkel dan rasa cemburu di hati. Dan hal itu tidak ada seberapanya apabila dibandingkan dengan apa yang sudah kulakukan.

Karena untukku selama ini Kang Sani hanya kuperlakukan seperti pengawal atau pembantu, jika aku perlu baru aku panggil dia dan apabila tidak kuperlukan kubiarkan begitu saja. Bila menasehatiku selalu kujawab atau segera kupotong sebelum bicaranya selesai. Ya Allah, Ya Tuhan apa yang telah kujalani selama ini.? Aku merasa malu bila teringat semua perilakuku selama ini.”

Tiba-tiba saja pikiran sehatnyapun merespon dengan langsung tegak berdiri dan membulatkan tekad seraya berkata : “Kalau demikian halnya artinya aku harus meminta maaf dan merubah perilakuku tersebut.”

Lalu kemudian dengan bulat hati Rismawati siap pergi ke rumah Sumirat Sani, tiba-tiba saja Sarifudin adiknya bertanya :  “Teh (mbak) , mau pergi kemana ?”.

“Mau ke rumah Kang Sani, oh iya Sarif tolong antar Teteh kesana ya,” pinta Rismawati kepada adiknya.

“Ah, enggak mau lah Teh, karena hari sudah malam,” jawab Sarifudin yang menolak untuk mengantarkan kakaknya ke rumah Sumirat Sani.  Tetapi pada  akhirnya mau juga mengantarkannya.

Sesampainya di tempat yang dituju kelihatan rumah Sumirat Sani sepi-sepi saja seakan-akan sedang kosong, tiba-tiba dari dalam rumah muncul seorang anak perempuan  adik dari Sumirat Sani yang bernama Maheswari membukakan pintu.

“Mahes, apakah Kang Sani atau Ibu ada di rumah ?” tanya Rismawati kepada anak perempuan tersebut.

“Kalau Kang Sani belum datang, Teh. Tetapi kalau ibu mungkin sebentar lagi juga pulang dari Pengajian,” jawab Maheswari.

“Oh. Iya, sampai Teteh lupa kalau hari ini adalah malam Jumat. Kalau begitu Tetah permisi pulang saja dulu, mungkin besok kemari lagi. Kan nggak enak kalau bertamu pada hari Kamis malam seperti ini,” kata Rismawati yang kemudian cepat-cepat berpamitan pulang.

Bersamaan dengan waktu ketika Sarifudin sedang menstrarter sepeda motornya, tiba-tiba mobil Sumirat Sani memasuki halaman rumah. Kemudian mobil tersebut berhenti dan Sumirat Sani keluar dari dalam mobil.

Diam-diam Rismawati berkata dalam hati : “Seminggu tidak bertemu rasanya seakan sudah selama setahun…atau mungkin sewindu.. atau ah.. pokoknya rindu.”

“Sarif, sebaiknya kakakmu ditinggal saja karena ada yang akan kami bicarakan , nanti biar Kang Sani sendirilah yang akan mengantarnya pulang,” kata Sumirat Sani sambil mengeluarkan isi dompetnya dan diberikan kepada Sarifudin.

“Oh, iya Kang, terima kasih “ jawab Sarifudin sambil menerima uang kertas berwarna biru itu selembar.

Aku cepat-cepat Rismawati berbiara : “Tidak usahlah Kang, kan Kang Sani baru saja datang dan mungkin masih lelah. Sebaiknya aku pulang saja dulu, pembicaraan bisa nanti lagi.”

“Sarif,” hanya demikian kata Sumirat Sani kepada Sarifudin dengan menggerakkan kepalanya tanpa memperhatikan pembicaraan Rismawati. Dan Sarifdinpun langsung melesat pergi sambil berkata : “Aku pulang dulu Teh.”

Kemudian kunci kontak mobil itu diserahkan kepada adiknya dan  Sumirat Sani langsung duduk di teras rumah, dan katanya kepada Rismawati : “Risma apakah kamu tidak ingin bersalaman dengan ku,” kata Sumirat Sani membuka pembicaraan sambil melepaskan sepatunya.

Disini Rismawati menjadi kebingungan harus bagaimana, karena biasanya dia lah yang bertindak sebagai manajer perempuan dan Sumirat Sani lah yang mendahului mengajak bersalaman.

“Ya nanti saja kalau Kang Sani sudah selesai mandi, kalau sekarang bahunya masam…” jawab Rismawati sekenanya untuk menutupi kekakuan suasana.

“Ya, kalau demikian tunggu sebentar, saya mau mandi dulu,” jawab Sumirat Sani sambil membawa tas kerjanya kedalam.

Rismawati menunggu seorang diri dengan duduk di ruang keluarga, pandangan matanya melihat sekeliling sambil berpikir : “ Rumah sebesar ini hanya ditinggali dia, ibu dan adik perempuannya. Sedangkan ayahnya sudah 5 tahun yang lalu meningal dunia.”

Kemudian Rismawatipun teringat bahwa pada bulan kemarin Sumirat Sani  menanyakan tentang sebuah kepastian : “Risma kapan engkau siap untuk menikah denganku.”

Hanya saja Rismawati belum memberikan njawabannya. Dan Sumirat Sani berjanji akan sabar menunggu kesiapan Rismawati dengan berkata : “Aku akan selalu menunggu kesiapanmu, biarpun sampai rambutku beruban kalau sekiranya engkau belum siap.”

Pekerjaan menunggu memang membosankankan dan untuk membuang kesunyian hati maka kemudian Rismawati menghidupan pesawat televisi, entah karena pada siang hari tadi dia bepergian berkeliling dan kelelahan sehingga tanpa terasa Rismawati tertidur di kursi dan ditonton oleh pesawat televisi.

Dan ketika terbangun.. ya Tuhan…jam dinding telah menunjukkan angka sebelas dan kakinya pun telah diluruskan serta diselimuti. Ketika pandangan matanya melihat sekeliling terlihat Sumirat Sani pun juga tertidur di kursi yang lain hanya ibu…. yang masih duduk dengan tenang sambil menonton televisi dengan suara yang dilkecilkan. Segera Rismawati berdiri untuk menyalaminya.

“Neng, tidur disini saja ya. Tadi Kang Sani sudah kerumahmu untuk memberi tahu. Nanti kamu bisa tidur se kamar dengan Maheswari,” kata ibu perlahan.

Ketika mendengar suara ibunya, Sumirat Sani kemudian terbangun.

“ Kalau begitu biar Ibu pergi ke dalam dulu sebentar ya,” kata ibu sambil melangkah ke dalam.

Setelah ruangan menjadi sepi, lalu mulailah Sumirat Sani membuka pembicaraan : “Risma sekarang berbicaralah, aku mau mendengarkannya. Karena rasa kantukku sekarang sudah hilang.”

Mendengar hal itu, mendadak saja Rismawati menjadi lupa dengan semua yang telah disusun dan dirancangnya  di rumah untuk disampaikan.

“Aku…,” hanya itu pembicaraan yang bisa disampaikan dan lainnya menjadi tersendat dan tidak bila lanjut.

“Rismawati, kekasih hatiku, dan calon ibu dari anak-anakku….” Kata Kang Sani dan kelihatan sekali agak menjaga jarak seperti halnya pimpinan kantor kepada karyawannya, kemudian lanjutnya :

“Pertama, aku minta maaf jika selama ini aku merepotkan kehidupanmu dengan tingkahku yang tidak sesuai dengan kemauanmu.”

“Kedua….”

Belum selesai pembicaraan yang akan disampaikan olah Sumirat Sani tiba-tiba Rismawati sudah menjawab : “Ah, enggak Kang Sani, aku yang salah. Banyak sekali kesalahan yang telah kulakukan.  Selama ini aku tidak pernah benar-benar menghormatimu, untuk itu aku minta maaf !”

Mendengar hal tersebut Sumirat Sani menarik napas panjang lalu berkata : “ Tetapi Risma… setelah 2 tahun kujalani hubungan ini, aku sering tidak bisa mengontrol emosiku, apalagi kamu belum siap untuk menikah denganku, oleh karena itu aku juga harus berpikir panjang Risma …

Tadi aku juga bilang pada bapak dan ibu di rumah ketika memintakan ijin untukmu supaya tidur di rumahku dan kukatakan bahwa aku memerlukan waktu selama 3 bulan untuk tidak bertemu denganmu. Aku ingin bisa menata pola pikirku lagi.”

Rismawati tidak bisa menjawab dan juga tidak menangis, akan tetapi hanya air matanya yang mengalir membasahi kedua pipinya. Kemudian setelah itu  untuk memenangkan diri sambil perpikir panjang masuklah dia ke kamar Maheswari.

Ketika azan subuh berkumandang, Rismawati cepat-cepat bangun dan ibu menyuruhnya mandi kemudian sarapan. Akan tetapi Sumirat Sani tidak sedikitpun mengajaknya berbicara.

Siapapun tidak ada yang bisa makan kalau hati sedang galau dan hancur berantakan. Nasi yang sudah didinginkan di piring tidak sedikitpun disentuhnya.

“Sudah Risma, segera dimakan, sayang… apakah kamu sudah tidak ingin merasakan masakan ibu, nanti setelah itu baru kuantar pulang,” akhirnya Sumirat Sani mengajaknya berbicara.

Sesampainya di rumah kembali Rismawati berpikir secara mendalam selama beberapa dua hari : “ Bukan tugas siapa-siapa yang harus berusaha merubah sikap dan perilaku itu, tetapi yang seharusnya merubah itu semua bukanlah orang lain melainkan adalah aku sendiri. Aku tidak lagi memikirkan apa yang akan menjadi keputusan Kang Sani, dan aku akan mengikuti. Aku harus belajar menjaga sikap untuk menghargai orang lain, harus menjaga pembicaraan agar tidak menyinggung perasaan orang lain, menjaga dan mengatur waktu jika berhubungan dengan siapapun juga. Tidak mudah memotong pembicaraan ataupun mencela jika sedang dinasehati walaupun mungkin nasehat tersebut tidak cocok dalam hati.”

Perubahan tingkah-laku Rismawati mungkin dirasakan juga oleh Sarifudin dan katanya : “Wah, sekarang Teh Risma sudah menjadi lebih dewasa. Dua jempollah pokoknya.” Sarifudin memuji sambil mengantarkan kakaknya berangkat bekerja.

Pada suatu sore ketika Rismawati sedang asyik menghitung tanda pada kalender diatas meja yang ditandai dengan bulatan, kurang lebih sudah sebulan atau bahkan mungkin lebih Rismawati tidak berjumpa dengan Sumirat Sani.

Tanpa sengaja tiba-tiba matanya melihat ke luar jendela dan  kelihatan dari jauh Sumirat Sani datang menghampiri. Dengan tanpa rasa malu karena gengsi yang sudah hilang dalam hatinya, Rismawati berlari kencang keluar rumah untuk menyongsong dan kemudian menyambutnya. “Kang, aku rindu !”

Kemudian Sumirat Sani pun merangkul dan mengusap rambut kepala Rismawati, seraya katanya : “Sama…, aku sendiripun juga sudah tidak tahan untuk menunggu waktu selama 3 bulan.. “

“Oh iya Risma, ikut aku ya sekarang ya ? Untuk memilih dan membeli barang bawaan untuk sebuah pernikahan,” lanjut Sumirat Sani tiba-tiba.

“Pernikahan siapa Kang Sani ? tanyanya perlahan, tetapi terlihat di wajahnya agak tegang dan mungkin hatinya juga berdebar cepat.

“Ya pernikahanku dengan dia…. Bidadariku yang sekarang ini sangat mencintaiku,” jawab Sumirat Sani dengan mantap.

-o0o-

Saudaraku pembaca semuanya, peristiwa dari gubahan dan reka ceritera mengenai Mawas Diri Bagian Ke 1 dapat kita ambil hikmahnya untuk pesan moral sebagai bahan perenungan dalam kehidupan kita masing-masing.

Telah kita ketahui bersama bahwa manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa melepaskan dirinya dari lingkungan masyarakat. Dan dalam kenyataan hidup sehari-hari di masyarakat banyak dijumpai kebiasaan-kebiasaan atau sifat manusia antara satu dengan yang lain sangat berbeda. Bahkan tidak jarang terjadi pertentangan atau antagonis jika diperhatikan hanya disebabkan oleh permasalahan-permasalahan yang kecil atau sepele.

Hal tersebut terjadi karena didorong oleh emosi, maka seringkali persoalan yang kecil itu menjadi ketegangan yang bekepanjangan. Pada umumnya mereka yang terlibat dalam persoalan tersebut, setiap     orang akan saling mempertahankan kebenaran mereka sendiri tanpa menyadari kelemahan dan kekurangan masing-masing, sehingga akan menjadi lebih sulit suatu masalah untuk diselesaikan.

Dalam ajaran agama atau dalam budi pekerti manusia diajarkan terlebih dahulu melihat diri kita sendiri atau mawas diri yang dalam bahasa Jawa dikatakan dengan mulat sarira, sebelum melihat dan menilai orang lain. Hal tersebut kelihatannya sangat mudah untuk diucapkan akan tetapi dalam pelaksanaannya sangat sulit untuk dilakukan. Karena yang menjadi kebiasaan banyak orang pada umumnya adalah lebih suka untuk menutupi kelemahan diri sendiri dan lebih sering menceritakan kesalahan orang lain dari pada mengoreksi kesalahan yang telah dilakukannya.

Sekalipun di dalam hati seseorang merasa bahwa dirinya bersalah akan tetapi untuk menyadari dan menerima kenyataan tersebut terkadang tidaklah mudah, bahkan sering terjadi bahwa seseorang tadi akan melemparkan kesalahan itu kepada orang lain. Dan hal ini adalah merupakan suatu kebiasaan buruk yang seringkali dilakukan secara sadar ataupun tidak sadar.

Hal tersebut bisa saja terjadi dikarenakan bahwa di dalam diri manusia terdapat kecenderungan-kecenderungan dan dorongan hawa nafsu yang dapat menimbulkan akibat buruk apabila manusia tidak mau mawas diri.

Mawas diri adalah sebuah ungkapan yang seringkali dengan mudahnya diucapkan dan enak didengar, akan tetapi secara jujur dapat dikatakan pula bahwa hal tersebut sulit dan sukar untuk kita lakukan, karena mawas diri mengandung pengertian yang sangat dalam.

Mawas diri bukan hanya yang terlihat secara lahiriah dan diwujudkan dalam bentuk tingkah laku, yaitu berpikir, berkata dan berbuat, tetapi lebih dari itu.

Dan untuk bisa melaksanakan mawas diri yang lebih dari hanya sekedar lahiriah diperlukan kondisi tenang, hening dan sepi. Dalam keadaan yang tenang, hening dan sepi itulah dapat dilaksanakan suatu perenungan diri serta mendengarkan bisikan kalbu atau hati nuraninya sendiri.

Karena secara lebih luas dengan mawas diri manusia merenungkan apa yang menjadi tujuan hidup yang sebenarnya.

Sebagai kesimpulan :

Bahwa Mawas Diri adalah sebuah ungkapan yang  mudah diucapkan dan enak didengar tetapi sulit untuk dilaksanakan. Kata lain dari mawas diri adalah mulat sarira atau introspeksi diri.

Mawas diri mampunyai pengertian yang sangat dalam, bukan hanya sekedar yang tampak atau dalam bentuk fisik saja dan diwujudkan dengan tingkah laku serta perbuatan tetapi lebih dari itu adalah merenungkan apa yang menjadi tujuan hidup manusia.

-o0o-

BANDUNG–INDONESIA, SEPTEMBER – 2015

(Gubahan Ki Ageng Bayu Sepi)

Sumber : www.terapimurni.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *