SULITNYA MENENTUKAN PILIHAN (bagian 1)

gambarMANUSIA DICIPTAKAN DENGAN DILENGKAPI SEPERANGKAT AKAL BUDI ATAU RASIO, TENTU SAJA HAL INI YANG SEHARUSNYA DIBERDAYAKAN UNTUK BISA MENGIMBANGI DORONGAN EMOSINYA. KARENA KEMATANGAN SESEORANG BUKAN DILIHAT DARI SEBERAPA KUAT DIA MENGGEBRAK MEJA, BUKAN PULA DILIHAT DARI SEBERAPA KERAS DIA MEMBENTAK SESEORANG, ATAU SEBERAPA LICIK DIA MENGHAMBAT ORANG LAIN, MELAINKAN DILIHAT DARI SEBERAPA BESAR DIA MAMPU UNTUK MENGENDALIKAN EMOSI DIRINYA DALAM KEADAAN APAPUN JUGA.

OLEH KARENA ITU LEBIH BAIK BERPIKIR TERLEBIH DAHULU DENGAN MATANG ADALAH MERUPAKAN SEBUAH TINDAKAN YANG TEPAT SEBELUM MENENTUKAN DAN MELAKSANAKAN SEBUAH KEPUTUSAN.


huruf_S iang itu di langit terlihat mendung tebal yang menghitam dan sangat gelap. Walaupun saat itu sudah menunjukkan waktu pukul 12 siang akan tetapi keadaannya seperti ketika masih pagi hari. Menyentuh kulitpun udara terasa dingin. Walaupun seharusnya sudah mulai memasuki musim kemarau, namun  pancaroba seperti sekarang ini kelihatannya akan turun hujan yang sangat besar dan memperhatikan keadaan ini membuat hati terasa tidak tenang.

Asep Nugraha sengaja mengendarai sepeda motornya perlahan-lahan, serta memperhatikan banyaknya kendaraan yang seakan saling berebut sepertinya ketakutan kalau terdahului oleh turunnya air hujan.iang itu di langit terlihat mendung tebal yang menghitam dan sangat gelap. Walaupun saat itu sudah menunjukkan waktu pukul 12 siang akan tetapi keadaannya seperti ketika masih pagi hari. Menyentuh kulitpun udara terasa dingin. Walaupun seharusnya sudah mulai memasuki musim kemarau, namun  pancaroba seperti sekarang ini kelihatannya akan turun hujan yang sangat besar dan memperhatikan keadaan ini membuat hati terasa tidak tenang.iang itu di langit terlihat mendung tebal yang menghitam dan sangat gelap. Walaupun saat itu sudah menunjukkan waktu pukul 12 siang akan tetapi keadaannya seperti ketika masih pagi hari. Menyentuh kulitpun udara terasa dingin. Walaupun seharusnya sudah mulai memasuki musim kemarau, namun  pancaroba seperti sekarang ini kelihatannya akan turun hujan yang sangat besar dan memperhatikan keadaan ini membuat hati terasa tidak tenang.iang itu di langit terlihat mendung tebal yang menghitam dan sangat gelap. Walaupun saat itu sudah menunjukkan waktu pukul 12 siang akan tetapi keadaannya seperti ketika masih pagi hari. Menyentuh kulitpun udara terasa dingin. Walaupun seharusnya sudah mulai memasuki musim kemarau, namun  pancaroba seperti sekarang ini kelihatannya akan turun hujan yang sangat besar dan memperhatikan keadaan ini membuat hati terasa tidak tenang.

Kemudian dia belok dan masuk serta menyusuri jalan yang oleh orang banyak disebut sebagai pasar Dangdeur. Pada belokan pertama Kampung Rancakihiang terlampaui dan kemudian berhenti pada belokan yang kedua yaitu Jalan Walini, untuk melihat dan membaca peta atau denah letak rumah Erna Kurniasih.

Dan ternyata letak rumah tersebut walaupun masih cukup jauh namun tidak sulit untuk dicari, tinggal belok kekiri menyusuri Jalan Walini dan masuk pada sebuah Gerbang Kampung pada gang pertama lalu belok ke kiri sedikit masuk ke Jl. Bakung 21 Perumahan Kencana dan beberapa rumah dari situ ada rumah bernomor 43 dan disanalah letak rumah dimana Erna Kurniasih tinggal.

Karena didorong oleh perasaan ingin segera bertemu sepertinya tanpa ingin membuang waktu lagi kemudian Asep Nugraha segera memasuki ke halaman rumah tersebut. Akan tetapi kelihatannya keadaan di rumah tadi sangatlah sepi, layaknya seperti tidak ada seorangpun yang sedang menghuninya.

Dengan perlahan Asep Nugraha menstandartkan motornya, kemudian mendekati rumah itu : “Asalamualaikum,” salamnya sambil mengetukkan jari tangannya pada pintu rumah tersebut. Namun sampai beberapa kali dilakukan belum juga ada jawaban.

Kemudian sambil menundukkan kepalanya menunggu barangkali ada orang yang datang untuk membukakan pintu, tanpa disadari pikirannya jauh melayang dan dipelupuk matanya hanya terlihat wajah Erna Kurniasih yang tidak pernah mau hilang serta teringat ketika pertama kali saat pertemuan dengannya.

Ketika itu kebetulan Asep Nugraha sedang duduk sendiri di tempat tunggu di Terminal Cicaheum menanti datangnya bus malam, dan tidak antara lama kemudian datang seorang anak gadis yang lalu duduk tepat disebelahnya. Kelihatannya dia agak kurang tenang, maklum hari memang sudah agak malam dan sangat sepi. Apalagi di sebuah sudut agak jauh terlihat ada anak-anak pengamen yang lagi main kartu gapleh dan sepertinya sedang meneguk minuman keras.

“Hendak pergi kemana, teh ?” sapa Asep Nugraha sambil melihat kearah gadis tersebut.

“Mau pergi ke Yogyakarta Kang,” jawabnya perlahan. Dan terlihat pada wajahnya agak sedikit cerah ketika ditanya Asep Nugraha tadi karena merasa mendapatkan teman.

“Perkenalkan, saya Asep Nugraha,” katanya sambil mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.

“Saya Erna Kurniasih, jawabnya. “Mau ke Yogyakarta ke rumah tante , mumpung sedang liburan semesteran kuliah,” lanjutnya lagi.

“Kebetulan sekali tujuan kita pergi ke kota yang sama,” kata Asep Nugraha pula.

“Liburan atau urusan keluarga ?” tanya Erna lagi.

“Oh, saya memang bekerja di sana dan sekarang sedang ada urusan tentang pekerjaan di Bandung,” jawabnya. Kelihatannya Erna begitu senang mendengar jawaban Asep Nugraha mungkin karena dia belum pernah tahu dan pergi sendirian ke Yogyakarta dan sekarang ada teman.

Sesampainya di Yogyakarta diantarkannya Erna sampai ke tempat yang menjadi tujuannya, Pada awalnya Asep Nugraha dan Erna mengobrol biasa saja, akan tetapi semakin lama sepertinya ada sesuatu yang aneh yang telah mengikat rasa hati mereka.

Pada besok harinya Erna dijemput untuk pergi jalan-jalan keliling kota sambil mengobrol kesana-kemari dan tidak tahunya dia sebenarnya masih ada ikatan saudara dengan Rini Sukmayani dari keluarga tantenya yang ditempatkan pada bagian keuangan di kantor tempat Asep Nugraha bekerja. Dan bayangan wajah Erna Kurniasih pun semakin lama semakin susah untuk dilupakan.

“Asep, kamu memang pantas kalau mendapatkan Erna Kurniasih,” kata Rini pada suatu hari.

“Ah, masak iya ?” kata Asep Nugraha mencoba berkilah memberi alasan.

“Ih, benar sekali. Sayang kalau nanti kedahuluan dandiambil oleh orang lain,” katanya lagi.

Sebenarnya mulai sejak saat itu Asep Nugraha selalu teringat kepada Erna, akan tetapi antara Asep dengan Erna sendiri belum pernah membicarakan tentang masalah cinta. Akan tetapi rasa itu tidak bisa ditutup-tutupi. Hingga pada suatu saat Asep Nugraha mendapat tugas lagi dari perusahaan untuk pergi ke Bandung, oleh karena itu pada kesempatan tersebut kupergunakan untuk mencari rumah tinggal Erna Kurniasih.

“Mau mencari siapa ?” tiba-tiba terdengar suara jawaban yang halus dan lembut yang langsung membuyarkan lamunannya.

Ketika menengadahkan kepalanya Asep Nugraha melihat seorang perempuan yang sudah agak berumur berdiri dan berbicara di depan pintu, tinggi semampai, berkulit kuning langsat memiliki rambut yang dibiarkan terurai sampai sebatas sepinggang, secara spontan matanya digosok-gosok oleh ke dua belah punggung tangannya seperti orang yang matanya sedang kemasukan debu serta tidak percaya kepada apa yang telah dilihatnya.

Melihat hal itu perempuan tersebut malah tersenyum dan nampak yang lesung pipinya dan di dalam hatinya Asep Nugraha mengakui baru sekali ini dia menemukan perempuan yang menurutnya mempunyai kecantikan yang sempurna. Walaupun sudah agak berumur tetapi memiliki pesona dan daya tarik yang luar biasa serta tidak kalah dengan gadis yang berusia tujuh belas tahunan.

“Mau mencari siapa, Kang ?” perempuan itu kembali bertanya.

“Oh, anu Bu…………, saya Asep Nugraha mau mencari Erna. Apakah betul Erna Kurniasih tinggal di sini ?” jawabnya yang tidak lancar karena gelagapan terlebih dahulu.

“Betul, silahkan masuk,” sahutnya.

Kemudian Asep mengikuti masuk dan duduk di sebuah ruang tamu yang luas dan tertata rapih serta bersih. Dan pada tembok terpajang foto perempuan tersebut bersama Erna Kurniasih.

“Kang Asep, Erna nya masih kuliah, pulangnya nanti agak sore,” kata perempuan tersebut sambil menghidang minuman.

“Apakah ibu ini, adalah ibunya Erna ?” Asep mencoba untuk bertanya.

“Betul, saya Bu Puspa, ibunya Erna,” jawabnya.

Senang sekali rasa hati Asep Nugraha ketika bisa berbincang dengan Bu Puspa pada siang itu dan banyak cerita yang disampaikan kepadanya. Antara lain sejak Erna masih berumur 9 tahun Bu Puspa sudah menjanda sebab suaminya meninggal dunia karena sebuah kecelakaan dan sampai dengan sekarang sudah tidak ada keinginan untuk berumah tangga lagi dan tujuan hidupnya hanya ingin membesarkan Erna.

Kurang lebih sekitar pukul dua siang kemudian Asep Nugraha berpamitan untuk pulang walaupun belum bertemu dengan Erna, hal itu karena harus segera memberikan laporan melalui email ke kantor tempatnya bekerja. Di sepanjang jalan pikiran Asep bukan lagi kepada Erna tetapi melainkan kepada Bu Puspa. Dan pada keesokan harinya disempatkan lagi untuk berkunjung ke rumah Bu Puspa di Kampung Rancakihiang Rancaekek sebelum pulang kembali ke kota Yogyakarta.

“Kalau siang hari seperti ini Erna tidak ada dirumah, karena dia masih kuliah,” Bu Puspa menjelaskan.

“Saya tidak sedang mencari Erna, Bu. Tetapi saya datang kemari sengaja untuk menemui Bu Puspa,” kata Asep Nugraha mantap.

Terkejut juga Bu Puspa begitu mendengar apa yang telah dikatakan Asep, apalagi kemudian Pemuda tersebut berusaha untuk menjelaskan bahwa sejak bertemu pertama kali dengannya, dia tidak bisa melupakannya. Dan menurut pendapatnya bahwa Bu Puspa merupakan kreteria wanita yang menjadi idaman hatinya, memelihara rambut panjang, berkulit kuning langsat dan cara berbicaranya kalem dan dalam pandangannya Bu Puspa adalah wanita yang sempurna.

“Ah, kamu pandai sekali merayu,” kata Bu Puspa terlihat tersipu malu.

“Aku tidak memuji ataupun merayu Bu, tetapi aku mengatakan hal yang sebenarnya,” jawabnya.

Dalam hatinya merasa tenteram ketika bisa berbicara secara khusus pada siang itu dengan Bu Puspa dan Bu Puspa pun terlihat bertambah kaget ketika Asep Nugraha menyatakan cinta kepadanya dan ingin hidup sebagai suami istri.

“Kamu jangan mengigau di siang hari bolong, itu kan pikiran gila. Kamu masih muda dan masih lajang sedangkan aku sudah mempunyai seorang anak yang sudah dikatakan dewasa,” kata bu Puspa.

“Bu, kalau aku mau mencari gadis, aku bisa dengan mudah untuk mendapatkannya. Akan tetapi kalau perempuan yang cocok di hatiku itu walaupun memang bukan lagi seorang gadis dan sudah hidup menjanda tidak saya permasalahkan. Karena aku bisa menerima apa adanya.”

“Tetapi kamu ini kan pacar anakku ?” tanya bu Puspa.

“Tidak Bu, saya tidak berpacaran dengan Erna, akan tetapi kami baru bertemu dan berkenalan ketika sedang dalam perjalanan dari Bandung menuju Yogyakarta,” demikian penjelasan Asep Nugraha.

“Tetapi ingat dan pertimbangkan bahwa umur kita jauh berbeda,” kata Bu Puspa lagi.

“Tidak demikian Bu, cinta sejati itu tidak bisa dihalangi oleh apapun juga, begitu pula soal umur bukanlah sesuatu penghalang untuk sebuah rasa cinta,” kembali Asep memberikan penjelasannya.

Pada mulanya Bu Puspa menolak, akan tetapi Asep tetap terus berusaha agar Bu Puspa bisa percaya dengan apa yang dikatakannya, yaitu bahwa dia memang mencintainya secara lahir dan bathin. Pada akhirnya Bu Puspa pun diam dan terlihat pasrah sehingga terjadilah suatu peristiwa yang tidak seharusnya terjadi.

Sore itu langit terang dan cerah, secerah hati Asep karena semua laporan tentang pekerjaan yang menjadi tugasnya sudah selesai semua. Dan baru saja Asep Nugraha sedang duduk sendiri tiba-tiba datanglah Rini datang mendekati sambil bertanya :

“Asep, bagaimana kabarnya sudah jadian ?” tanyanya untuk mendapatkan kepastian.

“Sudah semua beres dan lancar,” sahut Asep perlahan tetapi jelas.

“Kalau demikian aku akan memberikan ucapan “selamat” kepada Erna,” sahut Rini.

“Hus nanti dulu, aku tidak jadian dengan Erna,” kata Asep Nugraha menjelaskan.

“Lalu dengan siapa ?” tanya Rini ingin tahu.

“Dengan Bu Puspa, ibunya Erna,” jawab Asep ringan.

“Asep, kamu tidak sedang mabuk makan sabun kan ?” kembali Rini merasa penasaran.

“Aku mengerti semuanya ini Rini, tenang sajalah. Setelah aku bertemu dengan Bu Puspa baru aku menyadari bahwa dia adalah tipe seorang perempuan yang kudambakan dan kucari selama ini. Semua yang ada pada Bu Puspa ingin rasanya aku segera untuk memilikinya. Dan mungkin sebentar lagi aku sudah siap akan menikahinya,” kata Asep lagi.

Rini Sukmayani hanya terrdiam ketika mendegar apa yang sudah dijelaskan Asep Nugraha kepadanya.

Dalam hati Asep Nugraha berkata : “Mungkin aku oleh Rini dianggap seperti orang yang sedang kena pellet, gendam atau pengasihan lainnya tetapi aku tidak perduli. Karena hal yang sebenarnya terjadi bagiku tidaklah demikian. Sebab semua yang kulakukan tetap dengan kesadaran bahwa cintaku terhadap Bu Puspa adalah sebuah cinta yang suci. Bukan cinta karena harta, rupa, kedudukan ataupun yang lainnya.”

Pada keesokan harinya kembali Rini menemui Asep Nugraha lagi dan mengatakan : “Asep, bahwa sebenarnya Erna sangat mencintaimu, dan semalam melalui telepon dia memintaku untuk mengutarakan hal ini yang menjadi isi hatinya kepadamu.”

“Rini, tetapi semua itu aku sudah tidak bisa menerimanya karena seluruh halaman hatiku telah terpenuhi oleh gambaran Bu Puspa, perempuan yang kuanggap sempurna dimataku,” kata Asep menjelaskan.

Hingga pada suatu hari ketika Asep Nugraha kembali ditugaskan lagi ke Bandung dan pada kesempatan itu pula, waktu yang dimiliki dipergunakan untuk mengunjungi Bu Puspa di Rancakihiang Rancaekek dengan maksud hendak membicarakan tentang kelanjutan hubungan ini dan untuk mematangkan tentang rencana pernikahan.

“Kang Asep, apakah Kang Asep sungguh-sungguh cinta lahir dan batin kepadaku ?” tanya Bu Puspa dengan sabar dan kalem.

“Bu Puspa, aku sangat mencintaimu secara lahir dan bathin, dan aku sanggup melakukan apapun juga untukmu,” kata Asep menjelaskan.
“Apakah benar demikian ?” tanya Bu Puspa lagi.

“Aku tidak akan pernah membohongi orang yang kucintai,” jawab Asep menegaskan.

“Kang Asep aku hanya mempunyai satu permintaan, apakah kiranya Kang Asep sanggup untuk memenuhinya ?” kembali Bu Puspa bertanya.

“Silahkan sampaikan saja, asal masuk akal dan bisa dilaksanakan aku  pasti akan memenuhinya,” kata Asep Nugraha kembali.

”Kang Asep aku ingin melihat dan menyaksikan Erna, anakku satu-satunya hidup bahagia,” kata Bu Puspa.

“Sebagai orang tua memang seharusnya demikian, lalu apa hubungannya hal itu denganku saat ini, karena itu nanti merupakan sebuah tugas dan tanggung jawab kita sebagai orang tua untuk mengarahkan Erna pada sebuah kebahagiaan.”

“Tetapi masalahnya, Erna akan merasa hidupnya bahagia jika dia bisa menikah dan menjadi istrimu. Oleh karena itu jika Kang Asep memang mencintaiku, tolong nikahi saja Erna anakku.”

Betapa kagetnya Asep Nugraha ketika mendengar apa yang telah dikatakan dan menjadi permintaan Bu Puspa kepadanya, segala sesuatu yang menjadi angan-angan atau gambaran kehidupan dalam hati yang dirancang selama ini menjadi hancur berantakan. Seketika itu juga teringat akan segala kesalahan dan dosa yang sudah pernah dilakukannya.

Terlihat diluar, langit mendung yang menggantung dan sangat gelap seperti sedang menunjukkan betapa gelapnya hati dan pikiran Asep Nugraha waktu itu serta tidak tahu apa yang harus dilakukannya.

Dengan menikahi Bu Puspa merupakan orang yang sangat dicintai karena telah melakukan perbuatan yang salah, adalah hal yang wajar dan merupakan sebuah rasa tanggung jawab, akan tetapi untuk menikahi Erna setelah aku melakukan perbuatan salah dengan ibunya adalah sesuatu yang keji seperti bukan lagi manusia. Tetapi untuk mengabaikan dan meninggalkan begitu saja masalah tersebut Asep Nugraha merasa tidak bisa.

“Ya Tuhan apa yang harus aku lakukan,” jeritnya dalam hati.

Saudaraku pembaca semuanya, peristiwa dari gubahan dan reka ceritera mengenai Sulitnya menentukan Pilihan Bagian Ke 1 dapat kita ambil hikmahnya untuk pesan moral sebagai bahan perenungan dalam kehidupan kita masing-masing.

Cerita diatas hanya merupakan sebuah contoh peristiwa saja karena kesalahan yang dilakukan, sehingga menempatkan seseorang menjadi sangat sulit untuk menentukan pilihan.

Dalam kehidupan sehari-hari mungkin masih banyak ditemukan peristiwa lain yang dapat mengakibatkan hal serupa sehingga dikenal dengan istilah maju kena mundur kena atau makan buah simalakama, dimakan ibu mati tidak dimakan ayah mati.

Untuk orang yang sudah terbiasa melakukan kesalahan hal tersebut tidak menjadikan permasalahan akan tetapi bagi seseorang yang biasa dalam tindak kebenaran sebuah kesalahan yang dilakukan merupakan  hal berat yang dirasakan.

Masih terbilang bagus andaikata masalah tersebut bisa selesai dengan sedikit orang yang mengetahui, maka apa yang dirasakan adalah sebuah konsekuensi yang harus dijalani sendiri akan tetapi kalau masalah tersebut mencuat keluar dan diketahui oleh umum akan menuntut tanggung jawab moral. Bukan hanya pada dirinya sendiri tetapi juga akan menyangkut orang lain terutama keluarganya, rasa bersalah dan rasa malu akan berkepanjangan bisa mengakibatkan keterpurukan.

Penyesalan memang harus ada namun jangan sampai berlarut-larut karena manusia juga harus bangkit dari kesalahan yang telah dilakukan dan berusaha untuk tidak mengulanginya lagi.

Harus berpikiran bahwa semua orang pasti tahu tentang kesalahan dan pasti juga pernah mengalaminya. Hanya saja sebagian orang dengan tidak sengaja melakukan kesalahannya, akan tetapi ada sebagian lagi yang justru dengan sadar melakukannya dengan sengaja. Sebagaimana manusia lainnya, kita juga pasti pernah jatuh dalam kesalahan yang dilakukan dan terjerumus kedalam lubang kecemasan yang parah.

Dan yang lebih parah adalah apabila seseorang yang masuk kedalam perasaan bersalah seperti itu susah sekali untuk bangkit. Namun sebagai makhluk yang diberikan akal dan pikiran, maka tentunya manusia harus bisa berpikir bagaimana caranya agar bisa bangkit dari setiap permasalahan yang dialaminya.

Walaupun tidak semudah seperti membalikkan telapak tangan untuk bangkit dari rasa bersalah tersebut namun harus diusahakan, karena semua itu memerlukan pengorbanan baik berupa rasa malu, harga diri, gengsi dan lain-lain, yang sedikit demi sedikit akan hilang bersamaan dengan berjalannya sang waktu.

Ada beberapa saran untuk bisa bangkit dari kesalahan tersebut :

  1. Menyadari Bahwa semua Orang Pernah Melakukan Kesalahan

Tidak ada seorang manusia pun yang pernah luput dari kesalahan, karena  kesalahan memang merupakan bagian dari hidup seseorang. Bahkan seorang Nabi pun pernah melakukan kesalahan, akan tetapi Nabi segera memperbaiki kesalahannya. Kita sebagai manusia tidaklah seperti malaikat yang selalu patuh dan taat pada peraturan tetapi manusia juga tidak selalu melakukan tindakan yang benar.

  1. Jangan Terlalu Lama Bersedih

Jika kita melakukan kesalahan, terkadang kita terjerumus ke lembah penyesalan yang terlalu dalam. Jangan terlalu lama bersedih dengan suatu kesalahan yang terjadi ! Segeralah melakukan perbaikan atas kesalahan yang terjadi tersebut.

  1. Selalu Berani Mengaku Salah

Jangan takut untuk mengakui kesalahan yang telah kalian lakukan, karena dengan menutupi kesalahan yang kita lakukan, justru hal itulah yang membuat hidup kita semakin tidak tenang. Akuilah semua kesalahan yang kita lakukan dengan jujur ! Karena  dengan mengakui kesalahan, belum tentu resikonya lebih buruk jika kita menutupinya.

  1. Jadikan Pelajaran Setiap Kesalahan Sendiri & Orang Lain

Setiap hal yang terjadi pasti ada hikmahnya, jadikanlah setiap hal yang terjadi terutama kesalahan menjadi pelajaran yang selalu kita kenang. Bukan hanya sekedar dari kesalahan yang kita alami, namun juga dari setiap kesalahan yang kita dengar.

Yang harus selalu di ingat : Berpikir lebih dahulu sebelum melakukan sesuatu bukan karena emosi atau nafsu. Karena apa yang akan dilakukan pada hari ini pasti ada konsekuensinya nanti dimasa yang akan datang.

-o0o-

BANDUNG–INDONESIA, JULI – 2015

Ceritera Sumono S.A.

(Gubahan Ki Ageng Bayu Sepi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *