PENYESALAN SELALU DATANG TERLAMBAT

penyesalan-5DI DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI BERMASYARAKAT DIPERLUKAN BERPIKIR DENGAN MATANG SEBELUM MELAKUKAN TINDAKAN YANG ARTINYA BERPIKIR DENGAN TENANG, PENUH PERTIMBANGAN BAIK MENGENAI UNTUNG ATAU RUGINYA DARI SEBUAH AKIBAT YANG AKAN DITIMBULKAN, ADALAH MERUPAKAN LANGKAH YANG TEPAT SEBELUM MENGAMBIL SEBUAH KEPUTUSAN.

Suatu keadaan atau perasaan yang namanya ditolak oleh seorang gadis, Iswahyudi sudah merasa sangat hapal. Karena sudah beberapa kali bahkan sering dia mengalami dan merasakan penolakan oleh gadis cantik yang menjadi pujaan hati. Tetapi hanya sekali penolakan yang dirasakan itu sangat menyakitkan hati sampai sekarang masih membekas. Hingga sudah menjadi tua seperti sekarang ini, sakit hati itu masih suka terasa.
Namanya adalah Maheswari, ketika masih remaja dahulu dia memang sangat cantik, secantik namanya yang berarti bidadari. Potongan badan yang serba selaras, tinggi semampai, berkulit kuning langsat seolah bersinar, bola mata yang belok, bibir yang merah merekah alami dan jika tersenyum kelihatan deretan giginya yang kecil-kecil putih dan rata bagaikan biji mentimun yang disusun dengan rapih. Pujian itu sangat sulit kalau untuk diucapkan dengan bahasa, mungkin tidak ada kata yang tepat.
Dia merupakan anak tunggal dan sekaligus anak seorang pejabat daerah, yang tentunya segala sesuatunya sangat terpenuhi, baik itu mengenai sandang, pangan ataupun papan. Tetapi ada sesuatu hal yang membuat Iswahyudi merasa heran karena sebagai anak orang yang serba berkecukupan kalau pergi dan pulang sekolah Maheswari selalu naik kereta api, tidak ada keinginan untuk kost agar lebih dekat kesekolah. Tidak tahulah apa alasan sebenarnya.
Pada mulanya hal itu tidak menjadi pemikiran bagi Iswahyudi, akan tetapi Maheswari selalu mendekati dan mengakrabi Iswahyudi serta pada setiap kesempatan baik itu pergi ataupun pulang sekolah selalu berpesan : “Kang Wahyudi upami sumping langkung ti payeun, punten pangmilariankeun tempat supados urang tiasa calik ngarendeng,” katanya dalam bahasa Sunda yang halus yang artinya (Mas Wahyudi kalau datang lebih dulu, tolong carikan tempat agar kita bisa duduk berendeng/berdampingan).
Dengan demikian mereka seringkali duduk berendeng setiap berangkat dan pulang sekolah, apalagi dengan tingkah-lakunya yang tidak ragu-ragu terkadang menyandarkan kepalanya ke pundak Iswahyudi.
Hal inilah yang membuat hati Iswahyudi menjadi GR. maka ketika sudah menyelasaikan ujian pada kelas 3 SMA, kemudian Iswahyudi mencoba untuk berkirim surat untuk menyatakan bahwa dia jatuh cinta dan apakah Maheswari bersedia untuk menjadi pacarnya. Dan ternyata surat itupun mendapat balasan, akan tetapi isinya tidak seperti yang diharapkan, bahkan sangat keterlaluan dan menyakitkan sekali.
Adapun isi surat balasan tersebut adalah sebagai berikut :

Kepada Mas Wahyudi,
di Tempat.
“Mas Wahyudi, bersama surat ini saya ingin mengajukan pertanyaan padamu, apakah engkau pernah bercermin sebelumnya untuk melihat wajahmu sendiri dikaca ataukah tidak ?
Sudah memiliki wajah yang jauh untuk dikatakan pantas alias jelek, mana anak orang miskin lagi, tapi kesenangannya selalu mendekati dan mengajak berpacaran orang-orang yang dapat dikatakan cantik.
Sepengetahuanku sudah ada tujuh orang gadis yang kau dekati dan kau ajak berpacaran, tetapi kesemuanya itu menolak. Dengan keadaan seperti itu apakah engkau tidak pernah merasa bosan untuk menahan rasa malu karena selalu ditolak perempuan, apalagi sekarang kamu memintaku untuk menjadi pacarmu yang dapat dikatakan bahwa aku ini adalah gadis paling cantik diantara mereka yang pergi dan pulang sekolah selalu berlangganan naik kereta api.
Yang sebenarnya bahwa kedekatanku denganmu itu adalah hanya kuanggap sebagai pengawalku saja, agar aku selalu aman dan tidak diganggu oleh orang lain di dalam perjalanan dengan kereta api, tetapi sekarang malah berani-beraninya engkau memintaku untuk menjadi kekasihmu.
Dan ketahulilah olehmu mas, dengan keadaan serta derajat sepertimu ini sepantasnya kalau engkau hanya menjadi tukang kebun di rumahku atau paling tinggi juga hanya menjadi sopirku. Yang selalu mengantar kemanapun kalau aku sekeluarga hendak bepergian atau berekreasi.
Sekali lagi kuingatkan mas, ngaca dirilah kalau hendak memilih calon istri itu seharusnya dari mereka yang mempunyai tingkatan atau golongan yang sederajat, jadi jangan sampai seperti apa yang dikatakan oleh sebuah peribahasa yang berbunyi “ bagaikan pungguk yang hendak meraih bintang dilangit.”

Cukup sekian.
Maheswari.

Setelah membaca isi surat balasan tersebut, terlihat merah padam wajah Iswahyudi dan terlihat urat-urat dimukanyapun menegang, jantungnya terasa seakan mau pecah serta dadanya seakan mau meledak. Akan tetapi kelihatannya dia bisa mengendalikan dan menenangkan diri sehingga isi kepalanya tetap bisa jernih. Kemudian setelah itu Iswahyudi bangkit dan berdiri di depan cermin serta berkaca.
Lalu katanya dalam hati : “ Setelah aku berkaca, kupikir apa yang dikatakan Maheswari semuanya itu adalah benar. Aku memang memiliki wajah yang tidak menguntungkan, apalagi orang tuaku pun miskin, akan tetapi aku punya kelebihan yaitu : Aku adalah anak pandai. Karena sejak SD sampai lulus SMA aku selalu menjadi juara kelas terus-menerus.”
Akan tetapi kelebihan yang dimilikinya itu tidak tampak pada kaca cermin yang berada dihadapannya.
Surat balasan yang diterimanya ketika itu memang menjadikannya sakit hati, akan tetapi juga menjadikan sebuah cambuk yang bisa memacu semangat Iswahyudi, sehingga tumbuh tekad untuk bangkit dan maju.
“Aku harus bersemangat untuk bangkit dan maju, dan untuk bisa maju aku harus melanjutkan pendidikan. Soal pembiayaan kuliah akan kupikirkan nanti walau dengan cara bagaimanapun akan kujalani asalkan tidak menyalahi peratuan atau halal,” demikian tekadnya dalam hati.
Dan dari balasan surat cinta itu juga sehingga akhirnya Iswahyudi mendapatkan ilham bagaimana mencari uang untuk memenuhi kebutuhan kuliahnya, yaitu dengan mengambil kursus menyetir dan setelah mendapatkan SIM (Surat Ijin Mengemudi) kemudian mendaftarkan diri menjadi sopir taksi.
Sambil bekerja menjadi sopir taksi karena hati yang merasa tersakiti malahan diapun bercita-cita, dan kadang-kadang berbicara seorang diri : “Mudah-mudahan kelak aku bisa mengantar dan menyetiri perempuan cantik yang tidak lain adalah istriku sendiri kalau sedang pergi berekreasi denganku sendiri. Andaikata ditengah perjalanan aku bertemu dengan Maheswari aku akan berhenti sebentar dan istri akan aku ajak turun agar dia juga tahu bahwa istriku lebih cantik daripadanya. Andaikata dia berpura-pura tidak melihatku, aku akan berdehem : ehm, ehm,” demikian celoteh dalam hatinya.
Dan mulai sejak itu keinginan untuk berdehem dihadapan Maheswari sudah menjadi cita-citanya. Jika diperhatikan orang akan berdehem saja syaratnya sangat susah, tetapi jelas bagi orang yang mempunyai permasalahan seperti Iswahyudi jika tidak terlaksana mempunyai istri yang cantik, rumah yang indah dan bisa memiliki mobil yang bagus mungkin juga tidak akan berani berdehem didepan orang yang pernah menolak rasa cintanya.
Uraian cerita diatas adalah peristiwa yang pernah terjadi pada kurun waktu kurang lebih setengah abad yang telah lalu. Dan kenyataannya sampai sekarang Iswahyudi juga belum terlaksana untuk bisa berdehem di depan Maheswari, walaupun dia sudah berhasil memilki rumah yang mewah, mobil yang bagus serta seorang istri yang lebih cantik apabila dibandingkan dengan Maheswari.
Hingga suatu hari pada pagi-pagi sekali, Iswahyudi sangat terkejut ketika menerima sepucuk surat duka dari Mas Indra yang dahulu adalah teman sekelasnya yang memberitahukan tentang kematian istrinya.
Jadi artinya adalah bahwa salah seorang dari beberapa gadis cantik yang dahulu pernah menolak cintanya telah mendahului menghadap Tuhan Yang Maha Kuasa, yaitu bernama Larashati dan dia adalah istri Mas Indrajati yang dahulu juga merupakan teman sekelasnya.
Meskipun jarak rumahnya terbilang jauh, karena mengingat bahwa dia dahulu adalah teman dan telah memberikan kabar duka, tentu saja Iswahyudi menyempatkan diri untuk datang melayat.
Ketika sampai di rumah duka, Iswahyudi langsung menemui Mas Indra.
“Saya ikut berbela sungkawa Mas,” ucapnya sambil menyodorkan tangan untuk bersalaman. “Harap Mas Indra bisa tegar dan bersabar dalam menghadapi cobaan dari Yang Maha Kuasa,” lanjutnya kemudian.
“Benar sekali dik Wahyudi,” jawabnya. “Semua ini memang sudah menjadi kehendak-Nya, apalagi pada usia yang sudah tua, ya mau kemana lagi perginya. Kita ini kan rata-rata kurang lebih sudah berumur tujuh puluh tahunan.”
“Iya, mas. Tidak terasa, tahu-tahu kita semua sudah menjadi tua,” kata Iswahyudi perlahan sambil tersenyum.
“Tetapi dik Wahyudi kelihatannya masih kuat. Masih berani mengemudi kendaraan sendiri sampai kemari, walaupun tempat tinggalmu jauh. Dik Wahyudi kukabari, karena akhir-akhir ini almarhumah sering menanyakan berita tentang dirimu. Pada setiap aku mengambil uang pensiun dia sering bertanya demikian : “Pak waktu mengambil uang pensiun tadi apakah bertemu dengan Mas Iswahyudi apa tidak, dan bagaimana keadaannya sekarang ?” demikian kata Indrajati.
Kemudian Iswahyudi teringat, ketika Larashati dahulu pernah menolaknya cintanya tetapi dengan menggunakan bahasa sangat lembut dan halus, bahkan diapun mengemukakan masih tetap ingin menjalin hubungan pertemanan untuk selamanya.
Pada saat Iswahyudi sedang duduk seorang sendiri karena Indrajati harus menerima dan melayani tamu lainnya, tiba-tiba terlihatlah olehnya bahwa Indrajati melambaikan tangan ke arahnya, dan ketika Iswahyudi sudah mendekat kemudian Indrajati bertanya sambil mengarahkan tangannya untuk menunjuk ke suatu arah.
“Dik Wahyudi apakah engkau masih ingat dengan perempuan yang duduk sendiri di sudut sana itu, atau tidak. Itu yang memakai baju warna hitam, dan mengenakan kerudung berwarna hitam pula ?” tanyanya.
Kemudian orang yang ditunjuk tadi diperhatikannya dengan baik-baik, akan tetapi rupa-rupanya Iswahyudi sudah tidak ingat lagi, lalu katanya :
“Aku tidak tahu Mas, siapakah dia ?” jawab Iswahyudi sekaligus bertanya sambil menggelengkan kepalanya.
“Wajar saja kalau engkau sekarang sudah tidak ingat lagi, seharusnya engkau akan tidak lupa, karena sekarang dia menjadi kurus kering seperti orang yang terlantar dan tidak terawat. Dahulu ketika masih bersekolah kita semua menyebut dia sebagai gadis kembang kereta api.”
“Astagafirullah. Maheswari ? Sekarang kok..….” Tidak diteruskannya pembicaraan itu, akan tetapi kemudian Indrajati berkata :
“Temuilah dia segera. Karena sudah lama sekali dia ingin sekali bertemu denganmu,” kata Indrajati yang meminta kepada Iswahyudi
Iswahyudi memenuhi permintaan Indrajati, yang kemudian berjalan perlahan dan mendekat kearah perempuan tersebut, akan tetapi kelihatannya perempuan itu tidak lupa kepada Iswahyudi.
“Mas Wahyudi, bahagia sekali aku hari ini bisa berjumpa kembali denganmu,” katanya sambil mengulurkan tangan menyalami Iswahyudi. “Sebenarnya banyak sekali yang ingin kubicarakan, dan mungkin kurang pantas jika dibicarakan disini. Sekiranya tidak berkeberatan, saya mengundang Mas Wahyudi untuk berkunjung kerumahku di kampung Rancakihiang desa Bojongloa Kecamatan Rancaekek Kabupaten Bandung.”
“Insya Allah, “ jawab Iswahyudi singkat.
Sebuah janji haruslah ditepati, maka pada hari-hari berikutnya Iswahyudi datang berkunjung kerumah Maheswari. Iswahyudi menjadi heran, karena rumah yang dipergunakan sebagai tempat tinggal Maheswari sangatlah sederhana tidak seperti apa yang pernah dibayangkannya.
Setelah mempersilahkan Iswahyudi duduk dan menghidangkan secangkir kopi, kemudian Maheswari membuka pembicaraannya.
“Mas Wahyudi, sebenarnya sudah sangat lama aku ingin sekali bertemu denganmu,” katanya perlahan.
“Sejak kapan itu ?” tanya Iswahyudi singkat.
“Semenjak aku masih gadis,” kembali Maheswari menjawab dengan mantap.
Terkejut juga Iswahyudi setelah mendengar apa yang di ucapkan oleh Maheswari, maka dengan agak setengah menyindir Iswahyudi berkata karena ingin mendengar penjelasannya :
“Semenjak engkau masih gadis ? Apa aku nggak salah dengar, bukankah engkau dahulu …..”
“Iya Mas, aku tetap ingat,” ucapnya dengan cepat memotong perkataan Iswahyudi. “Dahulu aku pernah menolakmu, tetapi dengan menggunakan kata-kata dan bahasa yang sangat menyakitkan hati.
Sebab ketika itu aku masih gadis ABG atau Anak Baru Gede dan baru kelas 1 SMA, apalagi setiap orang mengatakan bahwa aku adalah gadis paling cantik dan kembang kereta api, dan akupun merasa bangga dengan sebutan sebagai gadis cantik tersebut. Oleh karena itu setelah akan kau dekati aku menolaknya, akan tetapi bahasa yang kupergunakan waktu itu adalah bahasa yang tidak pada tempatnya.
Ketika kuceritakan pada ibu tentang apa yang sudah kulakukan, ibu sangat mendukungku. Akan tetapi kemudian setelah ibu menceritakan kembali hal tersebut kepada bapak, sekaligus kami berdua dimarahi habis-habisan. Aku dan ibu dikatakan sebagai perempuan yang angkuh, membanggakan dengan apa yang sudah dimiliki, senang menghina kepada sesama manusia dan sebagainya. Akan tetapi ada satu perkataan ayah yang selalu melekat dalam hatiku hingga sekarang.”
Maheswari kemudian berhenti bercerita sebentar sambil menghela napas panjang dan kemudian mempersilahkan Iswahyudi untuk mencicipi hidangan yang telah disajikan , lalu melanjutkan pembicaraannya.
“Setelah reda kemarahannya, kemudian ayah berkata dengan sabar dan lembut : “Anakku, ingatlah bahwa kehidupan ini hanya karena diijinkan oleh-Nya. Jika Tuhan menghendaki, apapun bisa saja terjadi. Engkau menolak karena kurang senang karena kurang tampan, kurang kaya ataupun dengan sebab lainnya, itu boleh saja, karena memang itu adalah hakmu. Namun tidak perlu mempermalukan dan menghina, yang bisa membuat orang menjadi sakit hati. Sekarang engkau menganggap bahwa dia hanya pantas kalau menjadi sopirmu, akan tetapi andaikata anak tersebut pandai, rajin dan berusaha keras serta diperkenankan oleh Yang Maha Kuasa, bisa saja keadaan menjadi berbalik. Mungkin dia bisa menjadi seorang pejabat dan malahan suamimu yang akan menjadi sopirnya. Oleh karena itu kuminta engkau mau menemuinya dan meminta maaf walaupun engkau menolak untuk menjadi pacarnya, tetapi tetaplah menjadi sahabat yang baik.”
Setelah itu aku segera mencarimu Mas, untuk meminta maaf. Tetapi sudah tidak bisa bertemu karena kemudian engkau pergi setelah lulus sekolah. Dan ketika aku telah lulus SMA, saat itu bersamaan dengan pensiunnya bapak. Karena uang pensiun yang diterima ketika itu masih sangat sedikit, jadi aku tidak bisa meneruskan kuliah dan bahkan aku harus pulang kembali ke kampung ini. Pada waktu itulah aku baru mengerti dan menyadari bahwa rumah mewah yang kutempati saat itu bukanlah milik kami melainkan rumah dinas milik pemerintah.
Sejak itu pula aku berbalik pikiran untuk menerima cintamu, walaupun sudah terlewat 2 tahun. Aku kembali berusaha untuk mencarimu sampai datang kerumahmu yang dahulu dan bertemu dengan ayahmu. Kemudian aku berpesan apabila Mas Wahyudi pulang agar mau mengunjungiku di rumah sini. Dan sudah kutunggu selama setahun namun belum juga Mas Wahyudi datang berkunjung kerumahku ini.
Sehingga pada akhirnya aku jadi berumah tangga dengan seseorang yang menurut informasi dia lulusan SMA dan menjadi Pegawai Negeri di Kantor Gubernuran. Dan setelah menikah kemudian aku diajak pindah rumah untuk hidup di kota mendekati tempat pekerjaan walaupun hanya mengontrak. Suatu keanehan yang terjadi dalam peristiwa kehidupan, bahwa suamiku sebenarnya hanyalah seorang supir di kantor itu.
Apalagi mendengar cerita Mas Indra, bahwa engkau sudah bisa memiliki rumah dan mobil sendiri. Jadi apa yang pernah dikatakan bapak kepadaku tidak meleset, bahwa derajat suamiku adalah sama halnya dengan sopirmu.”
Maheswari berhenti sebentar dan matanya terlihat berkaca-kaca, mungkin sedang merenungi nasibnya dahulu. Iswahyudi hanya bisa menarik napas panjang dan untuk mengalihkan suasana dan kemudian Iswahyudi bertanya :
“Sekarang suamimu, ada dimana ?”
“Suamiku sudah mendahuliku untuk menghadap kehadirat-Nya lima tahun yang silam. Karena hidup di kota hanya menempati rumah kontrakan kemudian aku pulang kembali kemari menempati rumah peninggalan ayah. Anakku 2 orang, yang seorang menjadi guru di sini dan yang seorang lagi menjadi sopir mengganti pekerjaan ayahnya.”
Matanya kemudian memandang tajam ke arah Iswahyudi lalu meneruskan pembicaraannya : “ Aku mengerti bahwa Mas Wahyudi dahulu pasti merasa sangat sakit hati ketika setelah membaca isi suratku, sehingga sudah tidak mau lagi bertemu denganku, buktinya tidak pernah berkunjung kerumahku ini.”
“Aku tidak mengerti kalau engkau berada disini. Ayahku mungkin lupa dan tidak mengatakan kalau kau pernah datang kerumah. Seandainya saja ayah menyampaikan hal itu, bisa kupastikan bahwa aku pasti akan datang kemari,” jawab Iswahyudi.
“Katanya ketika itu Mas Wahyudi sedang kuliah dan jarang sekali pulang ke kampung,” tanya Maheswari
“Kuakui memang aku jarang sekali pulang ke kampung, dik,” sahut Iswahyudi. “Maklumlah ketika itu aku sedang kuliah sambil mencari uang untuk biaya dengan menjadi sopir taksi. Jika hari Minggu mau pulang ke kampung aku merasa rugi karena pada hari itu banyak sekali penumpang yang menggunakan jasa taksi untuk bepergian atau berekreasi.”
“Perjuanganmu hebat mas. Kuliah dengan biaya sendiri dan akhirnya berhasil menjadi seorang sarjana pendidikan serta bisa menduduki jabatan sebagai Kepala SMA sampai masa pensiun. Dan sangatlah bodoh waktu itu aku menolakmu, apalagi dengan bahasa yang sangat kasar.”
“Semua itu adalah sebuah kisah yang sudah berlalu dik, dan tidak bisa untuk diulang kembali. Kita harus percaya, bahwa semua yang telah terjadi karena sudah menjadi Kehendak Yang Maha Kuasa dan tidak bisa untuk disesali. Walau bagaimanapun juga, tetaplah bersyukur karena di masa usia tua seperti ini engkau masih mempunyai pensiun dari suamimu dan anak-anakmu juga sudah bekerja yang mapan,” kata Iswahyudi memberikan nasehat.
“Semua itu sangat aku syukuri Mas,” ucapnya mantap. “Hidup sengsara di kota besar yang kualami puluhan tahun, menyebabkan aku bisa bersyukur dengan keadaanku sekarang ini. Ketika engkau kuminta untuk datang mengunjuiku kemari, bukan untuk menyesali perjalanan hidupku, tetapi malahan untuk menggenapi rasa syukurku tersebut,” lanjutnya.
“Logikanya bagaimana dik ?” tanya Iswahyudi kembali.
“Mas, hal yang penting ketika aku memintamu untuk berkunjung kemari adalah :
Pertama aku memerlukan maaf darimu karena dahulu ketika aku menolakmu dengan menggunakan bahasa yang sangat menyakitkan.
Kedua aku ingin agar engkau mengerti sendiri bahwa ucapanku waktu menolakmu dahulu sudah kutarik kembali, dan setelah lulus SMA aku sudah mau dan bersedia untuk menerima cintamu, walaupun tidak terlaksana karena tidak bisa bertemu,” demikian penjelasan Maheswari
“Kesalahanmu itu sudah lama kumaafkan dik, dan akupun merasa senang karena pada akhirnya engkau mau juga menerima cintaku walau pun sudah sangat terlambat. Hal ini yang menyebabkan hatiku menjadi tenteram dan pasrah pada hari-hari tua sekarang ini,” jawab Iswahyudi.
“Amin,” ucap Maheswari. “Hatiku pun sudah merasa sangat lega Mas, setelah menyandang beban yang sangat berat di dalam dadaku sampai setengah abad lamanya,” lanjutnya kemudian.
Ketika Iswahyudi berpamitan hendak pulang, kemudian dipeluknya Maheswari dan kelihatan sangat lega di hatinya yang terpancar dari wajahnya. Dan kemudian terdengar ucapannya perlahan :
“Terima kasih Mas, aku merasa bahagia sekali saat ini, karena engkau mau menjengukku. Kebahagiaan yang sama seperti ketika kita sama-sama naik kereta api pergi dan pulang sekolah dahulu, kembali kurasakan. Semoga masih diberikan tambahan umur agar masih berkesempatan untuk bisa bertemu serta bercakap-cakap lagi. Kalau ada waktu kapan-kapan singgah kemari lagi ya Mas,” pinta Maheswari.
“Insya Allah, dik,” janji Iswahyudi.
Iswahyudi melangkah pulang disertai dengan rasa haru dan sedih, di dalam hatinya teringat akan suatu pepatah yang berbunyi sebagai berikut :
“Ketika seseorang datang dalam hidupmu, sebenarnya Allah mengirimnya dengan sebuah alasan. Entah itu untuk tetap bersamanya hingga akhir atau untuk belajar dan mengambil hikmah dari Nya.”
Kemudian angan-angannya pun melayang kembali ke jaman sekolah dahulu, ketika setiap hari pergi dan pulang naik kereta api duduk berdampingan dengan Maheswari. Rasanya peristiwa itu belum begitu lama terjadi seakan baru kemarin dijalani, tetapi sebenarnya sudah lama sekali terlewat.
-o0o-
Para pembaca yang budiman, sebuah kisah dari gubahan dan reka cerita mengenai “ Penyesalan datangnya selalu terlambat ” dapat kita ambil hikmahnya untuk pesan moral sebagai bahan perenungan dalam kehidupan kita masing-masing.

MENGAPA PENYESALAN SELALU DATANG TERLAMBAT ?
Karena Penyesalan memang akan tetap selalu terjadi jika selama dalam kehidupan itu di hadapkan dengan pilihan atau yang semacamnya.
Pilihan memang merupakan hukum sebab dan akibat, maka datangnya akan selalu belakangan. Oleh karena itu jika manusia mau secara jujur untuk menyadarinya, bahwa setiap kali manusia melakukan sesuatu kegiatan, dan setiap kali pula ada kemungkinan terjadi penyesalan.
Tetapi yang menjadi bahan pemikiran adalah seberapa besar manusia menganggap dan mengatakan bahwa apa yang telah di lakukannya itu sebenarnya adalah sebuah kesalahan sehingga menumbuhkan penyesalan atau manusia menganggapnya sebagai sebuah pilihan bahwa kesalahan yang dilakukan itu akan dianggap sebagai penyesalan atau akan diabaikan.
Secara umum, penyesalan itu terjadi ketika manusia merasa pilihan yang telah diambil, hasilnya tidak seperti apa yang diharapkan, apalagi setelah mengetahui bahwa salah satu dari dua pilihan yang tidak diambilnya itu ternyata lebih baik.
Sebagai sebuah gambaran atau ilustrasi melalui sebuah cerita tentang hal tersebut agar lebih bisa memudahkan pengertian kalimat diatas :
Ada sebuah cerita tentang 3 orang yang konon terjebak di dalam sebuah goa yang sangat gelap, karena gelapnya mereka tidak bisa melihat ke arah mana yang hendak dituju agar bisa keluar dan yang bisa dilakukan hanya berjalan dengan melangkah perlahan dan tertatih-tatih sambil meraba-raba kekiri dan kekanan untuk menentukan arah keluar dari kegelapan goa tersebut.
Tanpa diketahui dari mana asalnya tiba-tiba terdengar suara yang bergema di dalam goa tersebut dan memberitahu mereka : “Hai kalian bertiga, cepatlah keluar walaupun tidak terlihat tempuhlah jalan lurus kedepan karena sebentar lagi goa ini akan runtuh dan jangan lupa sebelumnya ambilah batu-batu dari dalam goa ini sebanyak yang bisa kamu bawa dengan cara apapun, mudah-mudahan kalian dapat keluar dari dalam goa ini dengan selamat. Namun ada satu hal yang harus diingat, yaitu bahwa setiap orang akan menentukan pilihan untuk melakukan tindakan apa yang akan diambil, dan setiap pilihan yang diambil akan ada penyesalan.”
Orang pertama, sebut saja dengan nama A dan setelah mendengar suara tersebut kemudian dalam hatinya berpikiran demikian : “Karena perintahnya agar mengambil batu dari dalam goa ini sebanyak-banyaknya, ya akan kuambil saja.“ Kemudian dia dia melepaskan bajunya untuk mengumpulkan dan membungkus batu tersebut agar mudah untuk membawanya.
Orang kedua, sebut saja dengan nama B dan setelah mendengar suara tersebut malah menjadi bingung dan ragu-ragu. Lalu katanya di dalam hati : “ Yang kuinginkan adalah jalan keluar dari dalam goa yang gelap ini, tapi perintahnya adalah agar aku mengambil batu-batu dari dalam goa ini sebanyak mungkin. Dari pada tidak mengambil batu sama sekali lebih baik aku mengambil sekedarnya saja untuk memenuhi perintahnya.” Maka kemudian diambilnya sebuah batu yang dipegangnya sambil mencari jalan keluar.
Orang ketiga, sebut saja dengan nama C yang setelah mendengar suara tersebut malahan berlaku masa bodoh dan cuek saja. Lalu pikiranya dalam hati : “ Yang menjadi tujuanku adalah keluar dari dalam goa yang gelap ini, tapi perintah yang diberikan adalah keluar sambil membawa batu sebanyak-banyaknya. Ah, untuk apa kalau harus berberat-berat mengikuti perintah untuk mengambil batu yang malah akan menjadikan beban saja.” Lalu keluarlah dia dengan tangan hampa tanpa sebutir batupun ditangannya.
Kemudian setelah menentukan pilihannya masing-masing, dengan terus berjalan lurus ke depan sampailah akhirnya merekapun mendapati jalan keluar dari dalam goa yang gelap itu. Begitu mereka sampai diluar goa , tiba-tiba saja terjadi goncangan dan gempa bumi yang hebat sehingga akhirnya goa tersebut langsung runtuh rata dengan tanah dan tidak bisa dikenali lagi sebelah mana jalan keluar yang mereka tempuh tadi.
Kemudian secara spontan mereka lantas melihat kearah batu-batu yang telah dibawa keluar dari dalam goa tersebut. Dan ternyata apa yang telah mereka bawa adalah bukanlah batu biasa melainkan bongkahan emas murni.
Dan disinilah terjadi penyesalan itu.
Untuk A yang ngambil banyak, dia menyesal. Dalam hatinya berkata : “Padahal waktu itu saya masih bisa mengambil lebih banyak lagi dan tidak hanya beberapa saja.”
Untuk B yang hanya mengambil sebuah batu kecil saja, juga menyesal. Dalam hatinya berkata : “Sayang aku hanya mengambil sebongkah kecil batu saja, padahal aku bisa mengambil beberapa.”
Untuk C yang tidak mengambil apa-apa pun juga menyesal. Dalam pikirannya berkata demikan : “ Seharusnya yang kulakukan adalah mengambil batu itu walaupun hanya sedikit.”

Jika diperhatikan yang mereka lakukan adalah menyesal dan hanya menyesal, adapun tindakan yang seharusnya dilakukan adalah bersyukur kepada Tuhan karena :

Untuk C yang tidak mengambil apa-apa, setidaknya dia masih bisa keluar hidup-hidup dengan selamat dari dalam goa yang gelap itu.
Untuk B yang mengambil sedikit, setidaknya masih beruntung karena ada yang dibawa walaupun hanya sedikit, bukannya berkata : “ah sayang hanya sedikit.”
Untuk A yang mengambil banyak, seharusnya lebih bersyukur karena bisa keluar dari dalam goa dalam keadaan selamat dan membawa bongkahan emas lebih banyak daripada yang lain, bukannya menyesal karena masih bisa mengambil lebih banyak lagi.

Para pembaca yang baik, rasa bersyukur adalah suatu cara yang baik untuk mengatasi dan menghilangkan rasa menyesal dengan perkataan yang berbeda adalah manusia wajib mensyukuri segala sesuatu apapun yang telah terjadi, karena disitu pula Tuhan berperan.

Oleh karena itu dalam kehidupan bermasyarakat sehari-hari ada yang harus diperhatikan, antara lain yaitu :

JANGAN MENGHINA ORANG LAIN
Dalam agama apapun menghina orang lain itu tidak diajarkan bahkan dilarang karena boleh jadi orang yang dicela itu justru lebih baik daripada pihak yang mencela. Bahkan inilah realita yang sering terjadi.
Saudaraku, kita tidak mengetahui hekekat seseorang. Boleh jadi bahwa orang yang dicela itu lebih mulia di sisi Allah dan boleh jadi dia lebih banyak melakukan amal kebaikan, atau boleh jadi dia lebih bertakwa apabnila dibandingkan dengan kita. Karena tidak ada yang menjamin bahwa seseorang akan selalu lebih baik kondisinya bila dibandingkan dengan dari orang lain.
Misalnya orang yang tadinya kaya bisa jadi secara mendadak kehilangan harta-benda miliknya. Orang yang punya jabatan tinggi, bisa saja lengser seketika atau orang yang tadinya mulia kedudukannya, bisa jadi nanti masyarakat merendahkannya. Sehingga, tidaklah pantas apabila seseorang merasa sombong atau jumawa, dan merasa dirinya lebih tinggi dari orang lain sehingga mencela serta merendahkannya.

JANGAN MERENDAHKAN ORANG LAIN
Merendahkan orang lain atau memandang rendah orang lain berarti menganggap bahwa martabat atau derajat orang lain itu rendah, buruk, penuh dengan kekurangan serta merasa bahwa dirinyalah yang hebat dan hal itu adalah merupakan sebuah kesombongan.
Lebih-lebih lagi apabila sedang bercerita yang paling disenangi adalah mengungkapkan dan menonjolkan kehebatan dirinya pada orang lain. Menyombongkan diri kepada orang lain dengan menceritakan harta-kekayaan yang dimiliki, kecantikan yang dipunyai, kepandaian yang dikuasai tanpa pernah mau mendengarkan pendapat orang lain dan setiap ucapannya cenderung menyakiti perasaan orang lain. Padahal kalau disadari tidak satupun dari dalam diri kita, yang patut dibanggakan dan disombongkan karena semua yang kita miliki itu hanya merupakan titipan dari Allah semata.
Oleh karena itu jangan pernah memandang rendah orang lain karena kita tidak akan pernah mengetahui apa yang akan terjadi pada esok hari sebab bisa saja terjadi kita menjadi orang yang lebih buruk dari sebelumnya. Dan jangan pernah pula menyombongkan diri kita dengan segala apa yang telah kita miliki karena apapun dari semua yang kita punyai adalah hanya merupakan titipan-Nya yang sifatnya hanya sementara dan suatu waktu kita bisa kehilangan semua itu.
Dengan demikian syukurilah hidup ini dan yakini bahwa Allah selalu memberi yang terbaik buat kita umatNya. Ketika cobaan itu datang, yakinlah bahwa Allah akan selalu membantu kita. Maka tetaplah berjuang dan berusaha memberi yang terbaik untuk kebahagiaan hidup kita di dunia dan akhirat serta tetap rendah hati.
JANGAN MEREMEHKAN ORANG LAIN
Banyak cerita terjadi dalam kehidupan bermasyarakat bahwa orang yang diremehkan dan dihina menjadi terdorong untuk bangkit serta berhasil dan banyak orang yang hancur karena lupa diri sebab bangga dengan apa yang telah dimiliki, yang sebenarnya hal itu tidaklah seberapa. Namun, pada kenyataannya banyak ditemui orang yang suka meremehkan orang lain.
Meremehkan orang lain adalah perbuatan yang tidak menguntungkan, hanya menguras tenaga dan merugikan. Dan logikanya adalah :
Tidak Menguntungkan : karena dengan mengangap remeh atau meremehkan orang lain maka tidak ada keuntungan apapun yang bisa diperoleh dari melakukan kegiatan tersebut.
Menguras Tenaga : karena tindakan meremehkan orang lain berarti tidak pernah berhenti memikirkan kelemahan dan kejelekan orang lain dan itu pasti akan membuang-buang tenaga atau energy dengan sia-sia karena orang yang sedang di pikirkan kejelekannya itu tidak tahu dan merasakan apa-apa, diam serta tenang-tenang saja.
Merugikan : karena siapapun orangnya tidak ada yang senang kalau dirinya diremehkan oleh orang lain, maka untuk orang yang suka meremehkan orang lain tersebut bisa saja dimusuhi, dijauhi dan tidak disukai oleh banyak orang.
Bila orang yang diremehkan itu adalah orang bijak, pastilah dia akan termotivasi untuk menjadi berhasil. Dalam dunia kehidupan memang banyak yang tidak bisa dimengerti dan penuh keajaiban, bisa saja karena kehendak-Nya mereka yang diremehkan menjadi lebih hebat dari orang yang meremehkannya.
Coba di bedakan antara menghina/merendahkan/meremehkan dengan mengkritik.
Jika menghina/merendahkan/meremehkan itu ada kegiatan untuk membandingkan-bandingkan diri sendiri dengan orang lain.
Akan tetapi kalau mengkritik tidak disertai dengan kegiatan yang tidak terpuji itu.
Menghina/merendahkan/menganggap remeh, di dalam ajaran agama apapun itu dikatakan sebagai suatu perbuatan yang tidak baik, akan tetapi pada kenyataan dalam hidup sehari-hari banyak ditemui orang yang suka menghina/merendahkan/meremehkan orang lain ?
Hal itu karena mereka terlalu melihat kebawah atau membandingkan keadaan orang lain yang tidak lebih baik dan tidak lebih mampu dari keadaan dirinya. Dan inilah yang membuat mereka menjadi sombong dan berlanjut menjadi suka menghina orang lain, karena tidak bisa menyadari dan mensyukuri bahwa semua itu adalah anugerah yang kapan saja bisa diambil oleh yang punya.
Ada sebuah pepatah yang mengatakan bahwa : Jauh lebih hina orang yang menghina dari pada yang di hina. Orang tertindas akan di naikkan derajatnya sedangkan sikap suka menghina adalah sumber penghacuran diri.
Oleh karena itu berpikir matang-matang sebelum bertindak merupakan langkah yang tepat sebelum mengambil keputusan di dalam kehidupan ini.
-o0o-
BANDUNG–INDONESIA, JUNI – 2015
Ceritera Suryadi WS
(Gubahan Ki Ageng Bayu Sepi)
Sumber : www.terapimurni.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *