NASEHAT IBU UNTUK ANAK GADISNYA

PADA UMUMNYA PARA ORANG TUA KHUSUSNYA SEORANG IBU Nasehat ibuJIKA ANAK GADISNYA AKAN ADA YANG AKAN MENIKAHINYA PASTI AKAN MEMBERI BANYAK NASEHAT, DISAMPING KEWAJIBAN SEBAGAI SEORANG ISTRI ATAU SEORANG IBU RUMAH TANGGA JUGA TENTANG HAL YANG TIDAK KALAH PENTINGNYA YAITU BAGAIMANA UNTUK MEMPERTAHANKAN KEHARMONISAN RUMAH TANGGANYA DENGAN MEMBUAT HATI SUAMI BISA MENERIMA DAN MENJADIKANNYA PUAS.

Setiap kali melewati stasiun Kereta Api Rancaekek, Wijayanto merasa dalam hatinya selalu muncul rasa sedih dan haru. Dahulu Stasiun Rancaekek merupakan sebuah stasiun yang kecil sebagai tempat pemberhentian kereta api jurusan Cicalengka – Bandung dan menaikkan penumpang dari Rancaekek menuju ke Bandung.

Karena kereta api adalah jenis angkutan umum yang murah dan tidak ada angkutan umum jenis lain yang langsung mengantarkan penumpang ke Bandung, maka walaupun saat ini jumlah penduduk dan perkembangan jenis angkutan umum lain semakin meningkat, karena memang dapat memenuhi apa dibutuhkan oleh masyarakat maka stasiun yang dahulu kecil itu hingga sekarang masih tetap berfungsi dengan baik dan bahkan semakin bertambah besar. Dan dengan perkembangan keberadaan stasiun itu mencatat pula cerita lama dalam kehidupan Wijayanto.

Dahulu kurang lebih lima puluh tahun yang telah lewat, untuk pergi ke sekolah setiap harinya Wijayanto selalu menggunakan stasiun itu. Pada setiap pagi hari setelah subuh sudah berangkat dengan berjalan kaki dari rumah menuju stasiun, kemudian naik Kereta Api menuju Bandung.  Pada siang harinya kira-kira pukul dua baru pulang sekolah dan turun di stasiun tersebut, lalu dilanjutkan dengan berjalan kaki pulang ke rumah dan sampai di rumah hampir kurang lebih pukul tiga. Hal seperti itu dijalaninya sampai dengan 8 tahun lamanya, semenjak Wijayanto kelas 1 SMA hingga lulus Sarjana.

Dalam perjalanan waktu selama menyelesaikan pendidikannya ada peristiwa yang sangat mendalam yang dirasakan oleh Wijayanto yaitu pada saat dia kuliah tingkat 3, ada seorang anak perempuan yang bernama Setiawati yang juga bersekolah di SPG di Bandung, berangkat dan pulangnya juga naik Kereta Api.

Setiap pagi mereka bertemu di stasiun sambil menunggu kedatangan Kereta Api mereka duduk mengobrol, dan setelah kereta api datang mereka naik dan duduk berdampingan lalu melanjutkan ngobrol. Pada siang harinya selesai sekolah mereka pulang berbarengan dengan menggunakan Kereta Api dan kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki, karena memang arah rumah mereka sama yaitu Setiawati di Babakan Jati sedangkan Wijayanto di Dangdeur .

Hal tersebut berlangsung selama tiga tahun. Tidak bisa dipungkiri lagi karena kebiasaan bertemu dan selalu berdekatan kemudian mengobrol maka hati mereka yang masih sama-sama muda lantas terikat oleh rasa cinta. Seperti halnya istilah dalam bahasa Jawa :  “Witing tresna jalaran saka kulina.”

Sampai pada akhirnya keduanya bersepakat akan hidup bersama untuk membangun sebuah rumah tangga. Hanya dikarenakan belum mempunyai pekerjaan, maka Wijayanto pun belum berani melamar Setiawati pada orang tuanya.

Sebuah keberuntungan terjadi pada tahun itu pula, karena secara hampir bersamaan mereka diangkat menjadi pegawai. Hanya sayangnya penempatan mereka yang berbeda dan jaraknya pun berjauhan, Wijayanto di Bogor, sedangkan Setiawati diangkat menjadi guru Sekolah Dasar di Tasikmalaya.

Masih  teringat  walaupun secara samar-samar dalam benak Wijayanto pertemuan terakhir kalinya dengan Setiawati sebelum perpisahan mereka. Ketika itu diantarkannya Setiawati untuk mengambil surat pengangkatan di sekolah dan pulangnya kurang lebih pukul 7.30 malam. Dan di depan stasiun kecil yang sudah sepi itu, Setiawati merangkulnya dengan rapat sambil berkata menghiba :

“Mas Wijaya, sebentar lagi kita akan berpisah dan berjauhan karena melaksanakan tugas masing-masing. Sebenarnya hatiku terasa sangat berat untuk bisa menerima perpisahan ini. Oleh karena itu aku meminta agar Mas Wijaya jangan sampai terputus berkirim surat padaku untuk setiap bulannya, sebagai obat penawar hati yang rindu.”

“Janganlah khawatir dik, aku akan selalu berkirim surat untukmu,” jawabnya sambil mengusap-usap rambut kepala Setiawati. “Semoga saja perpisahan ini tidak terlalu lama kita jalani dan secepatnya bisa hidup berkumpul serumah sebagai sebuah keluarga,” lanjut Wijayanto.

“Baiklah Mas, kalau demikian aku akan selalu menunggu datangnya lamaranmu,” sahut Setiawati lirih.

Kemudian digenggamnya tangan Wijayanto dengan kencang lalu diciumnya dan setelah itu mereka berpisah dengan hati yang dipenuhi dengan rasa cinta.

Walaupun sudah bertahun-tahun lewat, akan tetapi Wijayanto masih tetap berpikir dan berperasaan demikian :

“Duhai Setiawati kekasihku, setelah tempat kita sudah berjauhan, tidak pernah aku sangka sebelumnya bahwa engkau tidak se-setia seperti namamu, engkau malahan melupakanku. Karena setiap bulan aku selalu mengirimkan surat seperti permintaannya, tetapi tidak pernah aku  mendapatkan balasannya. Kulakukan hal ini sampai tiga tahun lamanya, sampai akhirnya aku dengan berita bahwa engkau sudah menikah. Sakit rasanya hati ini dan masih terasa sampai sekarang meskipun setelah setengah abad yang telah lewat, karena besarnya rasa cintaku tehadapmu.”

Oleh karena itu terkadang Wijayanto sengaja jalan-jalan sendiri dan jajan di warung yang berada di lingkungan stasiun itu, hanya karena ingin mengingat-ingat indahnya kenangan masa lalu ketika dahulu masih sekolah dan berlangganan Kereta Api bersama Setiawati.

Bahkan terkadang hatinya terdorong oleh perasaan yang sangat ingin sekali bertemu Setiawati serta ingin mengetahui dan mengerti tentang keadaannya sekarang ini. Akan tetapi sayangnya sampai dengan saat ini Wijayanto sama sekali tidak tahu dimana tempat tinggal Setiawati, dan juga tidak mengerti apakah Setiawati saat ini masih hidup atau sudah meninggal, karena tidak adanya informasi yang sampai kepadanya.

“Dik Setiawati jika engkau masih hidup aku tahu persis, saat ini umurmu pasti enampuluh tujuh atau lima tahun lebih muda dariku,” kata Wijayanto seorang diri dalam hatinya.

“Sekarang kita sudah sama-sama tua dik Setiawati, andaikata bertemupun kita hanya akan berhubungan persaudaraan saja. Tentang urusan cinta itu adalah kisah masa lalu dan sudah lewat, sekarang anak-anak kita yang akan mengganti dan menjalani dalam kehidupannya masing-masing.

Dan sebagai contoh adalah anakku sendiri yang baru saja meminta untuk dilamarkan seorang anak perempuan yang sudah menjadi pilihannya dan katanya bekerja di Puskesmas Rancaekek yang terletak di Kampung Babakan. Bahkan rumahnyapun tidak jauh dari tempatnya bekerja yaitu di kampung Babakan Jati, putri dari ibu Sudarmadi. Tetapi kalau aku tidak salah mengingat kampung Babakan Jati itu kan kampung tempat tinggalnya dik Setiawati dahulu.

Ah, tidak usah berpikir berlama-lama, mengingat akan kenangan lamaku yang tidak menyenangkan terulang kembali, aku tidak ingin mengulur-ulur waktu. Karena aku khawatir kalau rencana ini ditunda-tunda takut nantinya berantakan seperti pengalamaku dahulu. Sebaiknya aku secepatnya berangkat ke Rancaekek menemui ibu Sudarmadi, untuk melamar anak gadisnya yang bernama Yanti,” demikian lanjutan celotehnya dalam hati.

Kemudian tanpa mengulur waktu lagi bergegaslah Wijayanto pergi ke Rancaekek dengan tujuan kerumah ibu Sudarmadi hendak membicarakan kelanjutan hubungan anak-anaknya kejenjang pernikahan.

Setelah sampai di Kampung Babakan Jati, bertanyalah Wijayanto untuk mencari keterangan.

“Permisi numpang tanya, dimanakah letak rumah ibu Sudarmadi yang mempunyai seorang anak gadis yang bernama Yanti dan bekerja di Puskesmas Rancaekek,” tanyanya pada sebuah rumah dijalanan itu.

“Oh, ibu Yanti yang di Puskesmas Rancaekek. Itu pak rumahnya  terletak di ujung belokan yang bercat hijau dan bernomor 27,” jawab orang tersebut sambil mengarahkan telunjuknya pada sebuah rumah.

Begitu diberikan petunjuk, Wijayanto kelihatan begitu terkejut ; ”Ini kan dahulu rumah orang tua dik Setiawati karena segala sesuatunya masih terlihat tetap dan tidak ada yang berubah.”

“Ah, mungkin saja ibu Sudarmadi itu adalah saudara dik Setiawati dan sekarang menempati rumah peninggalan orang tuanya. Nah, kalau hal itu benar, aku kan bisa bertanya tentang keadaan dik Setiawati saat ini,” katanya menghibur hati sambil melangkah menuju rumah itu.

Dengan perlahan diketuknya pintu rumah itu sambil mengucapkan salam : “Asalamualaikum, permisi…..”

Lalu terdengar balasan dari dalam : “Wa alaikum salam, silakan tunggu sebentar.”

Tidak lama kemudian terdengar suara pintu yang dibuka dari dalam dan setelah terbuka seketika itu juga mereka menjadi terkejut dan Wijayanto tertegun memandang orang yang berdiri di belakang pintu. Begitu juga dengan orang yang berada dibelakang pintu kelihatan terkejut dan tertegun ketika menatap Wijayanto.

“Lho, ini kan kamu dik Setiawati ?” sapa Wijayanto.

“Iya Mas ini aku’” jawabnya. “Dan yang datang kemari kok ya Mas Wijayanto ? Apakah Setiahadi itu adalah putramu ?”

“Betul, dik,” jawab Wijayanto singkat

“Oh, tidak pernah aku sangka,” sahut Setiawati. “ Silahkan masuk.”

Setelah mereka sama-sama duduk dan bersilaturahmi, kemudian Setiawati mendahului  berkata :

“Mas kalau tidak salah perkiraanku,  kehadiranmu kemari pastinya akan membicarakan tentang perjodohan anak-anak kita, bukan ?”

“Betul,” lagi-lagi jawab Wijayanto singkat. Tiba-tiba saja Wijayanto menundukkan wajahnya, melamun dan kelihatan sangat berduka, dan bayangan kegagalan kisah cinta masa lalu nampak lagi di pelupuk matanya serta kepedihan hati yang telah lama hilang kini terasa terungkit lagi.

Bahkan timbul pemikiran dalam hatinya : “Jika aku nanti menjadi besannya kemungkinan untuk bertemu dengannya akan sering atau setidaknya mendengar kabar-beritanya, yang artinya rasa sakit dalam hati ini akan selalu terusik kembali. Mau atau tidak mau lama kelamaan anak-anakpun pasti mengetahui masalah tersebut, dan aku juga tidak ingin jika nanti perasaan hati mereka akan terkena imbasnya yang akibatnya bisa saja kerukunan rumah tangga mereka menjadi terganggu. Maka sebelum hal itu terjadi, apakah tidak sebaiknya kalau aku batalkan saja lamaran ini, karena aku tidak menginginkan jika anak-anak juga merasakan ketidak tenangan dalam berumah tangga bisa-bisa peristiwa sedih seperti kisah cintaku masa lalu terulang kembali kepada anak-anak dalam bentuk yang berbeda.”

Akan tetapi lamunan tersebut tiba-tiba saja menjadi buyar ketika terusik oleh kata-kata Setiawati yang mengajaknya berbicara : “Mas Wijayanto, sebelum kita membicarakan tentang keperluan anak-anak, alangkah lebih baiknya kalau terlebih dahulu aku ingin menjelaskan peristiwa yang telah terjadi untuk menetralkan salah sangka mengenai  permasalahan kita dahulu.”

“Dik Setiawati, perjalanan kisah cinta dan kehidupan kita dahulu memang gelap, dan masa itu sudah lama berlalu, dan aku pikir sebaiknya tidak perlu untuk dibicarakan lagi. Karena tidak akan ada gunanya, malahan akan kembali mengungkit luka lama yang menyakitkan,” jawab Wijayanto.

“Aku sangat mengerti Mas,” katanya dengan sabar. “Sampai sekarang ini Mas Wijaya tentunya masih beranggapan kalau aku dahulu telah mengingkari janji. Dan aku juga sangat mengerti jika perasaan Mas Wijaya sampai sekarang terasa sangat pedih bila mengingat peristiwa itu,” lanjutnya.

“Memang demikianlah yang sebenarnya kurasakan,” jawab Wijayanto dengan sejujurnya.

“Hal seperti itu sama dengan yang pernah kurasakan ketika itu, sebelum aku mengerti tentang duduk permasalahan yang sebenarnya telah terjadi, Mas. Sepuluh tahun lamanya aku merasakan kepedihan hati ini, sebab aku merasa telah dikhianati,” demikian penjelasan Setiawati.

“Lho, bagaimana bisa demikian ?” tanya Wijayanto dengan agak terkejut.

“Oleh karena itu Mas, menurut pendapatku aku sangat perlu untuk meluruskan permasalahan tersebut, agar nanti dalam membicarakan tentang perjodohan anak-anak kita menjadi enak dan lancar, karena pembicaraan tersebut tidak didasari dengan rasa sakit di hati,” penjelasan Setiawati lagi.

“Sebenarnya kejadian tersebut bagaimana, tolong ceritakan masalah itu padaku dik,” pinta  Wijayanto dengan penasaran.

Begini ceritanya Mas : “Dahulu, ketika lima puluh tahun yang telah lewat, setibaku di Tasikmalaya, aku berjumpa dengan Suharjana. Dia adalah  kakak kelasku sewaktu masih sekolah di SMP. Tiba-tiba saja dia menyatakan diri cinta kepadaku dan mengajakku untuk segera menikah, katanya sudah sekian lama dia menaksirku akan tetapi belum berani mengutarakannya dan sekaranglah kesempatan itu. Dan tentu saja tentang hal tersebut segera kujawab kalau aku sebenarnya sudah mempunyai seorang kekasih, Mas Wijayanto namanya yang sekarang sedang bekerja di Bogor.

Kemudian untuk waktu selanjutnya, dari hari berganti hari, minggu berganti minggu dan bulan pun berganti bulan aku selalu mengharap datangnya kiriman surat darimu Mas. Akan tetapi surat yang selalu kunantikan itu tidak pernah kunjung ada. Sudah kucoba beberapa kali aku berkirim surat, tetapi juga tidak pernah ada balasan. Bahkan sampai dengan 3 tahun hal tersebut terus kulakukan, hingga aku merasa yakin kalau Mas Wijayanto sudah melupakanku. Karena sakitnya hati ini karena merasa dikhianati, maka akhirnya aku terpaksa menerima keinginan Suharjana untuk menikah dan hidup sebagai suami istri. Akan tetapi karena pernikahan tersebut tidak dilandasi oleh rasa cinta sedangkan hatiku yang sebenarnya hanya untukmu, maka sampai dengan tujuh tahun pernikahan itu, aku tidak dikaruniai seorang anakpun.

Pada suatu hati ketika sedang liburan sekolah dan aku libur juga sebagai pengajar, maka kugunakan kesempatan tersebut untuk pulang kampung menengok bapak disini. Dan dari bapaklah aku mendapatkan penjelasan bahwa engkau belum menikah pada waktu itu, Mas. Setelah mengetahui berita tersebut, aku jadi berpikir kalau Mas Wijayanto sebenarnya tidak pernah melupakanku.

Bahkan aku menjadi sangat khawatir jika Mas Wijayanto mendengar berita bahwa aku sudah berumah tangga perasaan hatinya akan menjadi hancur. Tetapi yang menjadi pertanyaan adalah mengapa sampai tiga tahun lamanya tidak pernah berkirim surat ? Kemudian aku mulai mengurai pemikiranku, sampai pada akhirnya aku baru menyadari jika Suharjana suamiku itu adalah pegawai kantor pos. Jangan-jangan selama ini dia selalu menahan semua surat yang dikirim Mas Wijayanto untukku dan sebaliknya.

Setelah memperoleh kesimpulan tersebut, dengan tidak sabar aku segera pulang ke Tasikmalaya, lalu kutanyakan hal itu padanya dengan serius yang kusertai dengan ancaman bahwa akan aku menggugat dengan tuduhan sabotase surat pos. Dan pada akhirnya dia mengaku, telah melakukan hal tersebut  hingga kurang lebih 3 tahun lamanya.

Menurut pengakuannya bahwa tiap bulan surat Mas Wijayanto selalu datang, akan tetapi selalu di tahan dan tidak diberikan kepadaku dan malahan untuk menghilangkan jejak lantas segera dibakar. Mendengar pengakuan itu aku menjadi marah luar biasa dan hari itu juga aku langsung meminta untuk bercerai.

Oleh karena itu ketahuilah Mas Wijaya, bahwa selama sepuluh tahun hatiku selalu menyalahkanmu karena menganggap engkau sudah mengingkari janji dan menghianatiku. Untuk itu maafkan aku Mas…..”

Pada akhir menceritakan kisah sedihnya itu, karena tidak tahan rasa sakit dan duka yang pernah dirasakannya terungkit kembali, maka menangislah Setiawati dengan sesenggukan. Dia menunduk dan meletakan kepala pada lutut sambil menutupi muka dengan kedua belah telapak tangannya.

Melihat hal tersebut Wijayanto hanya berdiam diri dan tidak bisa berkata-kata sedikitpun. Hanya rasa sedih dan menyesal yang sangat menguasai hatinya karena telah menuduh Setiawati telah mengingkari janji. Kemudian timbul rasa menyesal mengapa dahulu tidak pernah terpikirkan untuk mencari penjelasan dengan bertanya kepada bapaknya Setiawati di rumah ini, tetapi hanya mengandalkan surat saja. Karena dalam keadaan biasa, surat yang dikirimkan pun bisa saja tidak sampai pada alamat yang dituju. Dan rasa sesal itulah yang menyebabkan Wijayanto bangkit berdiri dan pindah posisi duduk mendekati Setyawati.

“Sudahlah dik, jangan menangis dan tenangkan hatimu. Karena semua itu sudah lewat waktu jauh sekali dan tidak perlu untuk diungkap lagi,” hibur Wijayanto sambil mengusap kepala Setiawati.

“Bagiku hal itu sangatlah perlu Mas,” sahutnya yang kemudian berhenti sejenak. “Aku memerlukan pengertian dan pemberian maafmu,” lanjutnya lagi.

“Aku sudah memaafkanmu, dik. Sebenarnya dalam peristiwa yang telah terjadi ini engkau tidak bersalah. Tetapi andaikata engkau masih merasa bersalah, maka aku sendirikupun juga merasa bersalah dan perlu pula pemberian maafmu,” kata Wijayanto dengan lembut.

Setelah kesedihan keduanya kelihatan sudah mulai mereda, maka sambil mengusap air mata yang masih mengalir membasahi pipi yang sudah mengkeriput Setiawati kembali duduk dengan menegakkan badannya dan kemudian Wijayanto pun kembali ketempat duduknya semula.

“Agar permasalahan ini menjadi lebih jelas, tolong teruskan ceritamu dik, dan Yanti itu anak siapa ?” kembali Wijayanto berkata dengan pertanyaannya.

“Begini Mas, setelah bercerai, karena rasa kecewa dan penyesalanku serta sudah ingkar janji juga salah sangka terhadapmu, maka aku sudah tidak berniat untuk berumah tangga lagi. Akan tetapi kemudian terpikir olehku bahwa dengan bertambahnya umur dan menjadi semakin tua, siapa yang akan merawatku kelak atau aku akan ikut siapa dan bagaimana  kelanjutan keturunanku.

Oleh karena itu aku berumah tangga lagi dengan seorang duda yang bernama Sudarmadi dan dari hasil pernikahan itu aku dikaruniai seorang anak perempuan dan untuk mengingatkanku padamu maka anak tersebut kuberi nama mirip dengan namamu Mas, yaitu : Wijayanti dan pada waktu itu aku sudah berumur 41 tahun. Tetapi ketika anak itu masih duduk di kelas 2 SMP terpaksa menjadi anak yatim karena ayahnya meninggal dunia.

Kemudian kuliah di Sekolah Tinggi Kesehatan, dan setalah lulus diangkat pegawai pada Dinas Kesehatan dan di tempatkan di Puskesmas Rancaekek. Tanpa berpikir panjang lebar lagi biar dekat dengan anakku, kemudian aku ikut pulang ke Rancaekek karena tempat anakku bekerja lokasinya tidak jauh dari rumah tinggalku sekarang ini.”

Untuk sejenak Setiawati berhenti bercerita dan kemudian melihat kearah Wijayanto dengan pandangan mata yang tajam, dan hal itu yang mengingatkan Wijayanto akan gaya khas Setiawati pada waktu masih muda dahulu. Tetapi tidak lama kemudian terdengar Setiawati melanjutkan ucapannya lagi :

“Dan sekarang ganti ceritakan tentang bagaimana kisah perjalanan hidupmu, dan apa sebabnya sampai 10 tahun semenjak kita berpisah, Mas Wijaya belum juga menikah ? Meenurut penafsiranku tentunya Mas Wijaya masih terus memikirkanku, dan yang pasti marah kepadaku, betul  kan Mas ?”

Wijayanto hanya mengangguk, lalu katanya :

“Meskipun aku mengira jika engkau sudah ingkar janji, tetapi hatiku masih selalu teringat kepadamu. Andaikata saja, pada waktu setelah bercerai dahulu engkau menemuiku dan menjelaskan permasalahannya, mungkin kita masih bisa menjadi sebuah keluarga,” kata Wijayanto.

“Aku merasa malu dan tidak sampai hati, Mas,” demikian penjelasan Setiawati. Kembali air matanya  mengalir. Tetesan air mata yang bening itu jatuh membasahi pangkuannya dan menyebabkan perasaan serta  hati Wijayanto yang melihatnya pun menjadi sangat sedih .

“Dik Setiawati, dahulu begitu sampai di Bogor aku langsung menulis surat untukmu. Lalu kutunggu datangnya balasan surat itu selama seminggu, dua minggu, tiga minggu sampai sebulan tidak kunjung ada balasan. Kemudian aku menulis lagi, juga tidak ada balasan. Begitu seterusnya sampai tiga tahun lamanya, dan setiap bulan aku pasti berkirim surat.

Aku baru berhenti mengirim surat ketika mendengar berita bahwa engkau sudah menikah. Akan tetapi pada kenyataannya aku tidak bisa melupakan atau memalingkan hatiku darimu. Hingga 13 tahun kemudian aku baru menikah. Anakku hanya satu, Setiahadi itulah anakku yang sengaja kuberi nama mirip dengan namamu. Istriku sudah meninggal, oleh karena anakku tugas di Bandung maka akupun ikut pulang kemari,” demikian cerita Wijayanto.

“Astagafirullah, ya Allah, ya Tuhan ampunilah segala kesalahanku sampai hambamu mengalami perjalanan hidup seperti ini. Selama lima puluh tahun berpisah karena salah pengertian dan sekarang bertemu kembali sudah dalam keadaan sama-sama tua.

Tetapi aku sudah merasa puas dan tidak ada beban lagi dalam hati Mas, karena Mas Wijaya sendiri sudah bisa mengerti tentang kejadian yang sebenarnya, aku memang ingkar janji karena aku salah mengerti dan salah menyangka kalau saat itu Mas Wijaya sendirilah yang sudah melupakanku,” ucapan Setiawati.

Terlihat Wijayanto menarik napas panjang dan kemudian menyambung pembicaraan : “Garis perjalanan kehidupan kita memang harus demikian, mau diapakan lagi dan kita hanya sekedar menjalani. Manusia hanya mampu merencanakan dan Tuhanlah yang menentukan segalanya. Dan kisah itu sudah lama berlalu serta tidak bisa diulang kembali, tetapi aku juga merasa puas, sebab pada akhirnya aku mengerti bahwa dik Setiawati pun tetap mencintaiku seperti aku tetap mencintaimu.”

“Iya Mas, cintaku tetap akan kubawa dan kupertahankan sampai kapanpun, dan peristiwa ini menjadi landasan serta perantara kita menjadi besan. Cinta kita yang membara pada waktu masih muda dahulu, biar tersambung dan diteruskan oleh anak-anak kita, ya Mas ?” ucap Setiawati.

“Iya benar dik , semoga saja semua ini menjadi sebuah peninggalan bagi anak-anak kita yang nilainya melebihi harta benda,”kata Wijayantp.

Dengan suasana yang penuh dengan rasa haru tetapi juga rasa cinta dan sayang yang secara tiba-tiba muncul dan membara dalam hati, antara Wijayanto dan Setiawati yang sedang berbicara dan merencanakan untuk menjadi besan. Dan pembicaraan itu pun sampai dengan terjadi kesepakatan tentang hari dan tanggal pelaksanaan pernikahan anak-anaknya.

Setelah selesai membicaraan tentang perencanaan pernikahan itu tiba-tiba saja Wijayanto berkata :

“Dik Setiawati, seandainya saja dahulu kita terlaksana menjadi suami istri, mungkin sekarang sesudah sama-sama tua kita juga tidak akan mengapa-ngapa dan hanya tinggal saling mengasihi seperti saudara. Oleh karena itu kita harus bersyukur apa yang telah terjadi karena anak-anak kita bisa menjadi perantara kita kembali bertemu dan menjadi saudara. Gagal menjadi istri, tetapi engkau tidak gagal menjadi ibunya anakku dan aku akan menjadi bapaknya anakmu.

Dan anak-anak kita, semuanya menerima tugas untuk melanjutkan cinta dan kasih sayang dari orang tuanya yang tidak sampai, semoga kesemua itu dapat menjadi dasar perjalanan dalam menempuh hidup berumah tangga yang bahagia. Insya Allah.”

Untuk sejenak Wijayanto berhenti berbicara serta menarik nafas panjang dan dalam kemudian melanjutkan kata-katanya :

“Karena apa yang menjadi tujuan pertemuan ini sudah selesai, maka aku  mohon diri untuk pulang kerumah.”

Kemudian digenggamnya tangan Wijayanto dengan kencang lantas diciumnya dan setelah itu lalu mereka berpisah, dan Wijayanto pulang kerumahnya. Hal tersebut persis sama seperti ketika dahulu hendak berpisah lima puluh tahun yang lalu.

Beberapa hari setelah pertemuan itu kemudian Setiawati memanggil anaknya :

“Yanti anakku, kemarilah sebentar nak, ibu ingin berbicara.”

“Ya, bu,” jawab Wijayanti mendekat kearah ibunya.

“Begini anakku, para orang tua khususnya seorang ibu jika anak gadis atau putrinya akan ada yang menyunting atau akan menikah, pasti memberi banyak nasehat, disamping tentang kewajiban seorang istri atau ibu rumah tangga secara umum agar bisa membuat puas hati suami, juga diberikan nasehat yang tidak kalah pentingnya yaitu tentang hal-hal yang mengandung arti yang sangat dalam untuk seorang perempuan yang sudah disunting lelaki, yang mudah-mudahan saja dapat menjadi hikmah atau pesan moral bagi para pembaca sebagai bahan perenungan dalam kehidupannya masing-masing,” penjelasan Setiawati pada anaknya.

“Ya bu, Yanti siap untuk mendengarkannya,” jawab Wijayanti dengan pernuh perhatian sambil duduk dihadapan ibunya.

“Hal tersebut ibu lakukan dengan harapan agar supaya kelak jika engkau sudah menikah bisa benar-benar menjadi seorang istri dan menjadi tauladan serta dapat diandalkan dalam segala bidang.

1). Jangan menjadi seperti Padaringan yang bocor

“Anakku yang cantik, jagalah dengan benar-benar rumah tanggamu. Perempuan itu bisa diumpamakan sebagai pedaringan, dijaga jangan sampai padaringan tadi bocor atau rusak”

Padaringan adalah tempat untuk menyimpan beras, dan beras merupakan keperluan yang utama di dalam kehidupan rumah tangga untuk setiap harinya. Tetapi yang dimaksudkan sebagai padaringan disini adalah seorang anak perempuan yang sudah menikah atau sudah menjadi ibu rumah tangga.

Jadi dalam kehidupan berkeluarga padaringan dapat diartikan sebagai seorang istri atau sebagai tempat penyimpanan hasil usaha suami, jadi tegasnya nasehat tersebut menghendaki agar anak perempuan yang sudah menjadi ibu rumah tangga harus bisa mengatur keuangan atau ekonomi keluarga, atau bisa berhemat, teliti dan berhati-hati. Jangan sampai ekomomi keluarga tersebut menjadi rusak, jebol atau berantakan. Yang bisa menyebabkan kerukunan rumah tangga menjadi tidak utuh, karena yang satu berkeinginan ke utara dan satunya lagi ke selatan, yang pada akhirnya menimbulkan terjadinya pertengkaran yang biasanya sebagai pemicunya adalah  masalah yang sepele atau hal yang seberapa penting.

Jadi maksudnya adalah agar engkau menjadi seorang ibu rumah tangga yang bisa berhemat. Hemat bukan berarti pelit, akan tetapi lebih berhati-hati dalam mengatur ekonomi keluarga agar semua bisa terpenuhi akan tetapi jangan sampai uang yang keluar melebihi uang yang diterima atau penghasilan suami dan terlibat hutang kesana-kemari. Jangan sampai seperti sebuah pepatah yang mengatakan : “Lebih besar pasak dari pada tihang,” yang bisa mengakibatkan kehidupan ekonomi maupun kerukunan keluarga menjadi rusak

2). Jangan seperti barang hiasan.  

“Wijayanti anak gadisku yang cantik, perempuan itu bisa di ibaratkan sebagai Barang Hiasan, jika masih dalam keadaan baik pasti dipandang dan di gerayang atau diraba-raba serta di sayang akan tetapi jika sudah menjadi jelek, rusak dan membosankan pasti akan dibuang.”

Yang diharapkan dengan nasehat tersebut adalah agar menjadi perempuan harus pandai memelihara diri dan pandai melayani suami serta membuatnya puas. Jangan sampai suami lari kepada perempuan lain atau Wanita Idaman Lain serta membandingkan dirimu dengan perempuan lain.

Misalnya saja jika suami berkata demikian : “Mah, coba lihat dan perhatikan itu, Bu Erna kalau berpakaian kelihatannya pantas, cantik dan sopan, padahal pakaian yang dikenakan biasa-biasa saja hanya modelnya yang bermacam-macam.” Begitulah suami memuji perempuan lain di depanmu.

Nah, andaikata mendengar perkataan yang demikian itu, disini istri harus tanggap serta mau mengoreksi dirinya sendiri apa yang menjadi kekurangannya sehingga suami memuji orang lain. Disamping itu kepuasan seorang suami juga harus selalu dijaga karena soal ini sangatlah penting dalam kehidupan berumah tangga, jangan sampai suami mencari kepuasan terhadap perempuan lain.

Pada umumnya laki-laki tidak akan terbuka dan hanya diam-diam saja jika kurang puas dengan pelayanan istrinya. Akan tetapi lama-kelamaan akan mencari kepuasan dengan perempuan lain apakah itu yang berkaitan dengan hal melayanani sehingga merasa dihargai dan diperhatikan ataupun dalam hal lainnya.

Oleh karena itu untuk dapat menjaga kebahagiaan dan keutuhan rumah tangga perempuan harus bisa memelihara diri bukan hanya kecantikan lahir saja tetapi juga harus mampu memberikan pelayanan dan perhatian terhadap suami serta bisa memberikan kepuasan seksual.

Hal tersebut bisa di lakukan misalnya dengan minum jamu tradisonal atau jamu herbal atau bisa juga dengan perawatan salon kecantikan, alternative atau dokter yang biayanya relative lebih mahal. Dan ini tergantung pada selera dan kemampuannya mau memilih yang mana.

Biasanya perempuan yang sudah bertambah umur pada umumnya kurang sekali memperhatikan dirinya, dengan berkata : “Ah nggak usah begitu-begitulah, sudah tua saja kok mau macam-macam.” Padahal hal yang demikian itu adalah kurang tepat. Sebab memelihara diri itu hanya untuk suami dan bukan untuk orang lain yang hanya melihat penampilan luarnya saja.

3). Jadilah Istri Sejati.

“Anak gadisku sayang, jagalah dengan benar-benar rumah tanggamu nanti sebagai perempuan yang sudah menikah dan ibu rumah tangga,  jadilah kamu seorang istri yang sejati.”

Maksudnya perempuan yang sudah dipersunting lelaki agar bisa menjadi istri sejati adalah harus bisa mengimbangi keinginan suami lahir dan batin. Gembira dan sedih, enak dan tidak enak, kaya dan miskin, berat dan ringan harus dijalani bersama untuk selamanya.

Ketika menikah keduanya harus mau dan bisa menerima kekurangan dan kelebihan pasangannya masing-masing. Jika ada kekurangan bisa dibicarakan, diberikan nasehat agar tahu bagaimana yang sebaiknya. Andaikana suami akan bertindak kurang benar cepat diperingatkan, diberikan nasehat dengan halus agar tidak menyinggung perasaan.

Jika pada suatu saat kelak atau di kemudian hari mengalami suatu peristiwa dan merasakan yang kurang memuaskan dalam rumah tangga jangan lantas mengungkap lagi hal atau kekurangan yang telah menjadi masa lalu dan menjelek-jelekkannya tetapi agar dibicarakan bersama dan diterima dengan hati terbuka serta mencari jalan yang baik untuk keluar dari permasalahan tersebut. Jika perempuan bisa melaksanakan semua kewajibannya maka rumah tangga akan selalu aman tenteram dan bahagia.

4). Perempuan jangan sampai disebut ber Bibir Daun,

“Wijayanti anakku yang kusayang, jagalah dengan benar-benar rumah tanggamu sebagai perempuan yang sudah menikah dan ibu rumah tangga,  jangan sampai kamu di sebut berbibir daun.”

Daun pisang adalah suatu keadaan benda yang sisinya mudah sekali sobek. Jadi artinya yang diharapkan dengan nasehat tersebut adalah agar menjadi seorang perempuan dan ibu rumah tangga jangan sampai mudah mengobral pembicaraan yang tidak sepantasnya diceritakan pada orang lain.

Jika ada permasalahan yang terjadi hendaknya dibicarakan bersama dan tidak saling menyalahkan. Menjadi seorang istri jangan senang gossip atau senang menceriterakan kekurangan suaminya. Jangan sampai terjadi ada sedikit hal yang menyangkut tentang kekurangan suaminya  lantas diceriterakan kepada orang lain, umumnya kepada teman sesama perempuan, yang pada akhirnya bisa saja mempermalukan rumah tangganya sendiri . Sebab menjelekkan suami sama dengan membuka kejelekan atau aib dan mempermalukan dirinya sendiri, karena tidak bisa menjaga nama baik suami maupun rumah tangganya.

Merupakan suatu hal yang wajar apabila seseorang mengalami sesuatu permasalahan dan menganjal dihati, kemudian menceritakan atau curhat kepada orang lain dengan harapan agar beban dalam hatinya tersebut bisa menjadi ringan. Hal seperti itu boleh saja dilakukan asal kepada orang yang tepat dan dipercaya untuk itu.  Tetapi hal itu dilakukan hanya untuk mencari jalan keluar atau pemecahannya, dan bukan hanya sekadar mengeluarkan luapan emosi belaka.  Dan yang harus diperhatikan adalah bahwa dalam curhat tersebut dibatasi mana hal yang boleh diceritakan kepada orang lain dan mana hal yang orang lain tidak perlu tahu.

5). Jangan mudah terganggu oleh orang lain.

“Yantiku sayang, jagalah dengan benar-benar rumah tanggamu sebagai seorang istri dan ibu rumah tangga, jangan sampai kamu mudah terganggu oleh orang lain.”

Dalam bahasa jawa ada pepatah yang mengatakan : Aja Kendho tapihe.. yang artinya jangan kendor kain atau roknya.  Ceritanya adalah pada jaman dahulu perempuan Jawa selalu memakai kain, jarit, atau tapih, dan harus diikat dengan setagen atau ikat pinggang dari kain agar tidak mudah merosot atau diperosotkan. Yang dimaksudkan disini dengan  “aja kendo tapihe “ adalah jangan mudah berlaku selingkuh atau mudah memerosotkan kain atau membuka rok untuk orang yang bukan haknya. Dengan perkataan lain jangan menjadi seorang perempuan yang murahan atau tidak kuat iman.

6). Jangan mudah dihinggapi oleh rasa cemburu.

“Wijayanti anakku yang cantik, jagalah keutuhan rumah tanggamu dengan tidak mudah dihinggapi oleh rasa cemburu.”

Rasa cemburu itu sebenarnya baik karena menandakan adanya cinta, akan tetapi kalau rasa cemburu itu tumbuh secara berlebihan akan  mengakibatkan timbulnya percekcokkan dalam rumah tangga karena adanya perilaku yang selalu mengekang, yang pada akhirnya akan menyebabkan suami akan lari dan mencari kebebasan.

7). Menjadi seorang Ibu.

“Anak gadisku yang cantik, Yanti sebagai perempuan yang sudah menikah dan menjadi seorang istri, harus penuh kesabaran karena nanti pada saatnya kamu akan melahirkan anak dan menjadi seorang ibu.”

Maksudnya agar kamu tahu, walaupun seorang ayah juga tetap bingung kalau ada keruwetan tentang anak yang sakit, atau ada masalah yang harus diselesaikan, tetapi yang paling bingung adalah ibu di dalam suatu kehidupan berumah tangga.

Umpamanya ada seorang anak yang sedang sakit, yang pastinya adalah ibu yang harus mau melayani makan untuk si sakit, harus dimasakkan apa, agar sesuai dengan keadaan si sakit. Ibu juga akan pergi membawanya ke dokter kalau ayah sedang berada di kantor. Terkadang seorang ibu yang bekerja di luar rumah akan memaksakan diri harus mengambil cuti sebab si anak membutuhkan perhatian dan pelayanan ibu.

Apalagi kalau ayah yang sakit, harus memberikan perhatian yang istimewa, sebab kalau bapak yang sedang sakit manjanya melebihi anaknya. Apalagi kalau sering kurang mendapatkan perhatian yang khusus, sebab selalu ditinggal bekerja diluar, atau ada kesibukan lain, tidak bisa menekuni dengan sabar sebagaimana mestinya.

Jadi jikalau sedang sakit, bapak menyodorkan manjanya, si ibu merasa kurang dalam melayani suami, ya ketika bapak sakit itulah dalam memberikan perhatian serius.

*). Ibu sebagai ikatan Kalbu, bagi anaknya, jiwanya sudah terikat dengan anaknya, sebab memang darah dagingnya. Jika untuk suaminya jiwanya terikat sebagai istri sejati, yang namanya nyawa suaminya.

Jadi jiwanya yang separuh terikat olah anaknya dan separuh lagi terikat oleh suaminya. Itu tadi seorang perempuan yang berperan sebagai ibu di dalam kehidupan berumah tangga. Kesemuanya sudah menjadi tanggung jawabnya, dalam memenuhi kodratnya.

Sebuah contoh misalnya saja, jika suami atau anak  jauh dari rumah dan mengalami suatu halangan  apapun bentuknya, secara otomatis hati seorang  ibu pasti merasakan tidak enak, bayangan mereka  selalu berkelebat dalam pelupuk matanya dan pikirannya selalu teringat dan tertuju pada mereka ,  jantungnya berdebar-debar dengan keras, apapun yang dipegang selalu salah dan hampir terlepas yang  tidak jelas penyebabnya. Itu menandakan bahwa adanya sebuah ikatan bathin antara suami, istri dan anak.

*). Ibu, ibarat babu. Membantu, pembantu itu sama saja dinamakan babu juga. Pekerjaan seorang babu adalah serabutan, bebersih, memasak, mencuci, mengasuh anak, untuk perempuan sebagai ibu di dalam kehidupan berumah tangga yang kebetulan tidak punya pembantu, ya terpaksa dia sendiri yang berlaku sebagai babu. Oleh karena itu seorang ibu di ibaratkan sebagai babu.

Jika tidak suka disebut babu, tetapi jelas pekerjaan yang dilaksanakan tidak berbeda dengan pekerjaan babu. Malahan sejak pagi buta sudah mulai bekerja, sampai waktu tidur malam baru berhenti melakukan kegiatan yang harus dikerjakannya.

Walaupun disebut babu tetapi “BABU TERHORMAT” karena bukan sembarang babu. Sebab tidak diperintah oleh siapapun juga melainkan hanya diperintah oleh dirinya sendiri, yang juga sebagai ibu rumah tangga, belahan jiwa suaminya sebagai kepala keluarga. Maka bisa juga disebut sebagai “BABU  LENGKAP”, karena tugasnya merangkap sebab dia sebagai juragan perempuan tetapi sekaligus juga sebagai pembantu.

Beberapa contoh yang mudah, misalnya ada seorang anaknya yang kebetulan sedang melaksanakan ibadah haji atau pergi tugas ke luar daerah untuk beberapa hari. Jadi rumahnya tidak ada yang menunggu atau tidak ada yang mengurus. Biasanya si ibu yang diminta bantuan untuk menunggu rumah dan mengurus segala seuatu setiap harinya dirumah anaknya tersebut. Walaupun ada sudah ada pembantu sekalipun, si ibu yang yang dipercaya tanggung jawab seisi rumah tadi.

Atau jika anaknya sedang melahirkan, atau ada yang sakit membutuhkan perawat di rumah, yang pasti ibulah yang diminta bantuan untuk membantu kesulitan anaknya tersebut.

Sedang mempunyai acara, apakah sunatan atau mengawinkan dsb. Ibu yang pertama diminta diminta bantuan anak yang sedang repot tadi.  Walaupun bapak tidak ketinggalan tetapi yang pasti yang sangat dibutuhkan sekali adalah tenaga dan pikiran si ibu.

Lebih-lebih jika anaknya tidak ada yang mengurusi, sebab ibunya bekerja, tidak punya pembantu siapa lagi yang diminta bantuan untuk mengantar cucu kesekolah, malahan juga menunggu mengawasi si anak.

Dan betul sekali jika ibu disebut sebagai ikatan kalbu, tetapi juga ibarat babu yang tugasnya tidak pernah selesai walaupun usia sudah semakin lanjut.

8). Tidak menyimpang atau tidak meninggalkan kodrat.

“Yanti anak gadisku sayang, jagalah dengan benar-benar rumah tanggamu nanti sebagai perempuan yang sudah menikah dan ibu rumah tangga,  tidak meninggalkan kodratmu sebagai seorang ibu dan juga sebagai seorang istri.”

Maksudnya adalah bahwa walaupun perempuan sekarang sudah dapat mencapai hak emansipasinya, menandingi kaum pria, bisa menduduki jabatan apa saja, tetapi tetap dituntut sebagai ibu untuk putra-putrinya dan sebagai istri sejati untuk suaminya, sesuai dengan kodratnya.

Maka walaupun sudah bisa melangkah sejauh-jauhnya, terbang setinggi-tingginya, jangan sampai jauh menyimpang, sebab kamu sudah terikat oleh kodrat. Berpangkat setinggi apapun, di dalam kehidupan berumah tangga tetap saja sebagai makmum, sebab yang menjadi imam tidak lain adalah suami atau ayah asalkan yang dijalankan sesuai dengan prinsip  kebenaran.

Secara singkat Nasehat dan Perilaku untuk seorang perempuan adalah bahwa Perempuan atau dalam bahasa Jawa disebut Wanita, dalam menjalankan kehidupan berumah tangga dan kehidupan di lingkungan masyarakat  sehari-hari  dapat di kelompokkan dalam tiga bagian besar  antara lain sebagai berikut :

Wanita : Kudu Wani di Tata yang artinya bahwa perempuan sesuai dengan kodratnya harus berani dan bisa diatur terutama melalui suami sebagai seorang pemimpin dalam rumah tangga atau panutan untuk mematuhi peraturan-peraturan atau norma-norma yang baik dan berlaku dalam kehidupan sehari-hari bermasyarakat.

Wanita : Kudu Wani Mernata yang artinya bahwa perempuan harus berani dan bisa mengatur disamping memelihara diri agar rumah tangga menjadi lebih harmonis dan dihargai oleh orang lain juga mengatur keuangan atau ekonomi keluarga, atau bisa berhemat, teliti dan berhati-hati supaya jangan sampai ekomomi keluarga tersebut menjadi rusak.

Bisa pula mengatur tata bahasa dan sopan santun dalam bertingkah laku agar siapapun yang diajak berbicara baik itu suami, keluarga, orang tua  atau orang lain sekalipun yang mendengarnya tidak menjadi sakit hati, dengan perkataan lain mau melakukan apa yang seharusnya menjadi tugas serta tanggungjawab seorang wanita.

Wanita : Kudu Wani Subasita yang artinya bahwa perempuan harus berani dan bisa mengikuti serta mematuhi tatakrama atau sopan santun dengan perkataan lain bisa menempatkan diri dalam kehidupan bermasyarakat dan tidak terbawa oleh arus yang salah atau menerima begitu saja informasi yang belum tentu kebenarannya apalagi kalau sampai menceritakan kekurangan yang terjadi di dalam keluarganya kepada orang lain.

 

BANDUNG–INDONESIA, MEI – 2015

Cerita : Nyi Sumardi Brintik

(Gubahan Ki Ageng Bayu Sepi)

Sumber : www.terapimurni.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *