Kisah Kehidupan Seorang Ayah ( Bagian ke-2 )

anak menangisDALAM KEHIDUPAN INI BANYAK SEKALI KARUNIA ATAU ANUGERAH YANG DIBERIKAN TUHAN KEPADA UMATNYA YAITU MANUSIA, ANTARA LAIN KESEHATAN, PANJANG UMUR, PEKERJAAN, KEBERHASILAN, KEKAYAAN, KELUARGA, ANAK, WAKTU DAN LAIN-LAINNYA.

HARUS DISADARI TIDAK ADA KESUKSESAN TANPA ADANYA PERJUANGAN, AKAN TETAPI HARUS BISA MEMILIH DAN MENETAPKAN PRIORITAS MANA YANG LEBIH BAIK DENGAN PERKATAAN LAIN MENDAHULUKAN HAL-HAL YANG LEBIH UTAMA DAN MENUNDA HAL-HAL YANG BISA DI KERJAKAN NANTI.

WALAUPUN SESIBUK APAPUN JUGA HARUS DIUSAHAKAN UNTUK BISA MEMBAGI WAKTU DAN PERHATIAN TERHADAP KARUNIA LAIN YANG DITERIMANYA.

Hampir setiap hari dari sebuah rumah gedung yang terbilang megah seringkali terdengar suara seseorang bapak yang membacakan buku ceritera anak-anak tentang Putih Salju dengan keras-keras yang kedengarannya dalam nada kesedihan yang sangat mendalam, dan sekali-sekali terdengar dia berkata :

“Widyawati anakku sayang, dengarkanlah ini ayah sedang membacakan buku dengan keras, cerita tentang Putih Salju untukmu sayang. Widyawati anakku yang cantik, di mana engkau? Dengar ya, sayang, ya., ayah sudah membaca dengan keras. Maafkan ayah ya, nak.” Bagaskara pun terduduk lesu penuh penyesalan sambil menangis dan memeluk buku kesayangan anak perempuannya yang sudah kumal.

Adapun awal ceriteranya adalah sebagai berikut :

Karena Bapak Wicaksana sudah merasa lelah, ingin beristirahat dan  tidak bekerja lagi untuk menikmati hari-hari tuanya maka semua tugas dan tanggung jawab tentang menjalankan perusahaan yang dipimpinnya itu diserahkannya kepada anak menantunya, Bagaskara.

Setelah menerima limpahan tugas dan tanggung jawab dari Bapak Wicaksana untuk melanjutkan mengelola perusahaan, maka jadilah Bagaskara seorang pimpinan sebuah perusahaan. Dan selanjutnya dibawah kepemimpinannya perusahaan tersebut nampak berkembang.

Sebagai seorang pimpinan, dia harus selalu mengelola dan mengendalikan operasional perusahaan, mulai dari produksi hingga pemasaran bahkan sampai dengan keuangan. Dengan pekerjaan dan jabatan itu telah menyita hampir sebagain besar waktunya, bahkan waktu untuk keluarga di rumahpun dapat dikatakan habis untuk itu.

Dari hasil penikahannya dengan Widiyatni sebagai seorang ibu rumah tangga yang baik, Bagaskara memiliki seorang anak perempuan yang kini  berumur tiga tahun, Widyawati namanya,.

Pada suatu malam, katika Bagaskara sedang sibuk menyusun rancangan program kerja yang harus dipersiapkan untuk bahan rapat besok hari, tiba-tiba datanglah Widyawati ke ruang kerjanya dengan membawa sebuah buku cerita yang baru saja dibeli bersama Widiyatni ibunya di sebuah toko buku. Buku tersebut berceritera tentang Putih Salju kesukaan Widyawati.

“Ayah, tadi Widya dibelikan ibu sebuah buku yang bagus. Ayah coba lihat ini, Yah,” kata anak perempuan kecil tersebut bersemangat yang menginginkan ayahnya melihat buku yang dibawanya.

Melihat anak perempuannya datang dengan membawa buku, Bagas hanya menoleh dan melihat sebentar sambil jari-jemarinya tetap mengetik di atas tombol komputernya.

“Ohhh…. iya, bagus sekali bukunya ya, sayang. Dimana tadi membeli bukunya ?” tanyanya dengan singkat untuk sekedar memberikan perhatian.

Karena merasa mendapat perhatian dari ayahnya, maka Widyawati pun  gembira dan bersemangat menjawabnya.

“Ayah tadi belinya di kota, ibu yang membelikannya, dan sekarang tolong ayah yang membacakan ceriteranya, ya ayah!” permintaan anak perempuannya dengan manja.

“Widya karena ayah sedang sibuk,  sana biar bukunya dibacakan oleh ibu saja ya ?” kata Bagas meminta anak perempuannya menghampiri ibunya untuk membacakan buku  ceritera itu.

“Tapi, Widya ingin ayah saja yang membaca ceritera itu untuk Widya !” rengek putrinya sambil memeluk tangan ayahnya untuk meminta dibacakan buku ceritera tentang peri tersebut..

Karena merasa mulai agak terganggu maka Bagas dengan suara agak meninggi, ia berkata kepada anak perempuannya itu. “Widyawati, tadi ayahkan sudah bilang, kalau pekerjaan ayah sudah selesai ayah baru bisa membacakan buku itu. Dan kamu sekarang menonton TV saja dulu bersama ibu sambil menunggu pekerjaan ayah selesai.”

Tetapi kelihatannya Widyawati bersikukuh dengan keinginannya dan terus memohon kepada ayahnya agar mau membacakan buku ceritera tersebut untuknya walau hanya sebentar sambil terus memegang kedua tangan ayahnya dan menggoyang-goyangkannya supaya sang ayah  bersedia berhenti sejenak dari kesibukan pekerjaannya.

Karena merasa sangat terganggu, Bagas pun dengan membentak menyuruh anaknya agar segera keluar dari ruang kerjanya dan menemui ibunya.

“Ibu, tolong coba ajak Widya ke ruang tengah dan bacakan buku cerita ini untuknya. Ibu, kan tahu sendiri bahwa besok ayah ada rapat kerja di kantor! Dan kamu Widya pergi ke sana, ke ibu dan jangan mengganggu ayah dulu !” mendengar suara ayahnya yang keras dengan disertai ekespresi wajah yang kesal, Widyawati pun pergi keluar dari ruang kerja ayahnya dan berlari kearah ibunya sambil menangis tersedu-sedu, mungkin terasa amat sakit hatinya.

Sebelum keluar dari ruangan dengan menangis, Widyawati meletakkan buku ceriteranya terlebih dahulu di pinggir meja kerja ayahnya sambil berkata :

“Ayaaaahhhh……….., nanti kalau ayah sudah selesai bekerja tolong dibacakan bukunya, tapi yang keras, ya, Ayah, supaya Widya bisa mendengar dari kamar sebelah.” demikian Widyawati pun kemudian berlalu meninggalkan ayahnya yang masih sibuk dengan pekerjaannya.

Waktu pun terus berlalu, dari hari berganti hari dan dari minggu berganti minggu,  buku ceritera yang diletakkan Widyawati di pinggir meja kerja belum pernah tersentuh oleh tangan ayahnya, apalagi untuk membacanya. Karena begitu sibuk dengan pekerjaan yang dihadapinya sehingga lupa dengan keinginan anak perempuannya untuk membacakan buku ceritera tentang peri tersebut.

Hingga pada suatu ketika pada saat Bagaskara baru saja pulang kerja dan hendak berganti pakaian, tiba-tiba terdengar suara benturan keras yang berasal dari halaman depan rumahnya seperti sebuah suara tabrakan.

Mendengar suara benturan itu secara mendadak hatinya merasa tidak enak, entah seperti apa rasanya yang jelas tidak bisa dikatakan dengan kata-kata maka secara spontan Bagaskara pun berlari keluar dan didapatinya para tetangga sedang berkerumun dan berteriak-teriak histeris mengelilingi seorang anak gadis kecil yang tergeletak dengan kepala bersimbah darah, yang tidak lain adalah Widyawati, anak perempuannya sendiri. Hal itu disebabkan karena ada seorang pengendara sepeda motor yang ugal-ugalan dengan kecepatan tinggi, dan melakukan tabrak lari terhadap Widyawati.

Seakan seperti disambar petir, maka Bagaskara pun dengan hati yang panik  segera mengeluarkan mobilnya dan meminta bantuan tetangga untuk secepat mungkin membawa anak perempuannya ke rumah sakit.

Di tengah perjalanan, Widyawati masih sadar, dan di atas pangkuan ayah dan ibunya, dia masih sempat berkata-kata :

 “Ayah, ibu,….. Widya merasa kedinginan dan takut….., Widya sayang ayah dan juga sayang ibu ……!” kata gadis kecil itu dengan suara yang sangat perlahan dan terputus putus yang kemudian berhenti sejenak untuk mengatur napasnya..

“Maafkan Widya kalau selama ini Widya sudah banyak mengganggu ayah dan ibu,” lanjutnya.

Setelah berkata demikian lalu Widyawati pun tidak sadarkan diri dan sesampainya di Rumah Sakit, nyawa Widyawati sudah tidak tertolong lagi akibat dari benturan keras di kepala dan terjadi pendarahan yang terus menerus.

Kini tinggallah penyesalan diri dari seorang sang ayah karena tidak bisa memenuhi permintaan yang sederhana dari anaknya hanya untuk membacakan buku ceritera  kesayangannya.

Buku yang sejak beberapa minggu lalu diminta untuk dibacakan oleh Widyawati, masih tergeletak di atas meja kerjanya. Buku tersebut terlihat sudah kumal dan penuh debu dengan gambar-gambar serta coretan-coretan dari anak perempuannya yang menunjukkan betapa cintanya dia dengan buku ceritera  kesayangannya tersebut.

Kelihatannya setiap hari ketika ayahnya pergi bekerja, Widyawati selalu mengambil bukunya tersebut dari meja ayahnya untuk dibuka-buka dan dicoret-coret. Kemudian dia pun meletakkan kembali buku tersebut ke tempatnya semula ketika ayahnya akan pulang ke rumah. Dan dia berharap nanti pada suatu saat ayahnya akan membacakan buku tersebut dengan keras untuknya.

Kini semuanya sudah terlambat ibaratnya nasi sudah menjadi bubur. Bagas kemudian mengambil buku ceritera  tersebut dan dengan belinang air mata, dia membacakan dengan keras halaman demi halaman lembar buku tersebut. Semakin lama semakin keras, namun sekarang sudah tidak ada yang mendengarkannya.

Akhir dari sebuah kesedihan yang sangat mandalam, Bagaskara terus membacakan buku ceritera Widyawati tersebut dengan keras sambil sesekali berkata :

“Widyawati anakku sayang, dengarkanlah ini ayah sedang membacakan buku dengan keras, cerita tentang Putih Salju untukmu sayang. Widyawati anakku yang cantik, di mana engkau? Dengar ya, sayang, ya., ayah sudah membaca dengan keras. Maafkan ayah ya, nak.” Bagaskara pun terduduk lesu penuh penyesalan sambil menangis dan memeluk buku kesayangan anak perempuannya yang sudah kumal.

-o0o-

Saudaraku semua pembaca yang budiman dari ceritera tentang Kisah Kehidupan Seorang Ayah Bagian Ke 2 yang sedikit agak mengharukan tersebut dapat kita ambil hikmahnya sebagai pesan moral dan bahan perenungan untuk diri kita masing-masing dalam kehidupan sehari-hari.

Manusia harus menyadari bahwa begitu banyak Karunia  yang sudah di  terima dalam hidup ini, baik itu berupa kesehatan, umur panjang,  keluarga, pekerjaan, harta kekayaan dan lain-lain yang kesemuanya itu merupakan titipan semata atau amanah dari Allah yang harus di jaga. Maka sepantasnyalah kalau harus mensyukurinya, tetapi tidaklah  cukup kalau hanya bersyukur dengan ucapan dalam hati atau secara lisan tanpa bersyukur melalui perbuatan, karena semua itu  harus di  pertanggung jawabkan kelak dikemudian hari di hadapan-Nya.

Dari semua Karunia dan Anugerah yang dilimpahkan kepada manusia, maka dia dituntut untuk lebih mengetahui dan lebih mengerti bahwa ada perbedaan antara karunia yang  satu dengan karunia yang lain sehingga berbeda pula dalam perlakuannya.

Pada dasarnya anak adalah sebuah anugerah terindah bagi setiap orang tua. Dan kehadirannya dalam keluarga selalu dinanti karena merupakan pelengkap kebahagiaan rumah tangga, tidak hanya menambah gelar bagi kedua orang tuanya, dari yang semula hanya dikatakan sebagai suami dan istri bagi pasangannya dan sekarang disebut menjadi ayah dan ibu bagi anak-anaknya. Anak adalah harta yang berharga sebagai tumpuan harapan di dunia dan akhir masa.

Anakpun merupakan amanah atau titipan dari Tuhan Yang Maha Kuasa yang harus dijaga dengan sebaik-baiknya untuk dibesarkan dan dididik agar kelak menjadi orang yang berguna. Pendidikan dan mengasuhan yang benar membutuhkan pengorbanan waktu dan tenaga dari kedua orang tuanya yang dibesarkan dalam kasih sayang dan perhatian juga disiplin melalui perimbangan antara peran seorang ayah dan peran ibu untuk menanamkan nilai-nilai kehidupan yang baik. Karena anak-anak bisa di ibaratkan sebagai anak panah yang melesat menuju sasaran yang tepat jika mereka diarahkan dengan tepat pula.

Kalau dahulu sebagai sebuah keluarga seorang ayah bisa pulang bekerja sore hari dan kelebihan waktu yang dimiliki bisa dipakai untuk bermain dengan anak-anak serta istrinya dirumah. Akan tetapi untuk saat sekarang dimana tuntutan kerja dan persaingan yang semakin tinggi tanpa disadari telah menyita banyak waktu sehingga sulit untuk membaginya dengan keluarga.

Semakin tinggi kedudukan seseorang dalam pekerjaannya akan semakin sibuk dengan tugas serta tanggung jawabnya dan semakin sedikit pula waktu yang dimiliki oleh yang bersangkutan untuk bisa berkumpul dan berbagi dengan keluarganya.

Akan tetapi disinilah seseorang diharuskan untuk menentukan pilihan sebagai prioritas, apakah harus mengutamakan pekerjaan sehingga menterlantarkan keluarganya ataukah sebaliknya mengutamakan urusan keluarga secara tidak seimbang sehingga pekerjaan yang menjadi sumber nafkahnya menjadi berantakan.

Pada kenyataannya dalam kehidupan sehari-hari banyak keluarga terjebak dalam kegiatan pekerjaan yang rutin dan akhirnya menyerahkan sepenuhnya urusan membesarkan anak hanya diserahkan kepada dan menjadi tanggung jawab istri atau kepada pembantunya kalau ternyata istrinya pun juga sibuk bekerja.

Yang harus diingat adalah bahwa sebuah kesibukan waktu adalah merupakan sebuah karunia atau anugerah, tetapi jangan juga melupakan dengan mengabaikan karunia yang lainnya, seperti apa yang dikatakan oleh Mary Kay Ash (1918-2001) Pengusaha asal AS adalah sebagai berikut : “Tak peduli seberapa sibuknya Anda, Anda harus meluangkan waktu untuk membuat orang lain merasa penting.”

Padahal jika diperhatikan yang terjadi adalah bahwa rasa bahagia sebuah keluarga pada saat memiliki anak-anak akan sangat terasa ketika mereka masih kecil, kemanapun orang tua pergi dia selalu ada dan dekat bersamanya serta menjadikan suatu kebanggaan dan kesayangan. Dan ketika anak sudah menjadi besar, mulai agak susah untuk diajak bersama dan berani memberikan penolakan karena mereka sudah memiliki rencana dan acaranya sendiri dan setelah dewasa mereka akan meninggalkan kita seakan bukan hanya sebagai seorang anak saja tetapi juga sebagai teman yang juga bisa protes andaikata saja yang dilakukan oleh orang tuanya tidak sesuai dengan penilaiannya.

Pada umumnya kegiatan manusia dimulai ketika masih muda akan sibuk mengejar karier dan mengumpulkan harta sehingga terkadang sampai ada yang kurang atau tidak memperhatikan keadaan keluarga dan anak-anaknya. Ketika dia akan “tinggal” lagi di rumah karena sudah pensiun, maka disamping kehilangan pekerjaan, jabatan, berkurangnya penghasilan tetapi juga kehilangan anak-anaknya, karena mereka pergi dengan kesibukannya masing-masing.

Jadi lebih jelasnya pada waktu anak-anak masih kecil, mereka selalu meminta untuk diperhatikan dan diajak bermain oleh orang tuanya, akan tetapi ayah selalu mempunyai alasan dan sibuk dengan pekerjaannya. Begitu ayah pensiun atau sudah tidak bekerja lagi dan tinggal sendirian di rumah kemudian meminta untuk ditemani bercakap-cakap, ada kemungkinan anak akan mengatakan sedang sibuk kuliah atau sibuk dengan kegiatan-kegiatan lain.

Atau dengan kalimat yang berbeda ialah :

Ketika anak-anak masih kecil, sebagai orangtua (ayah) jarang mau mendengarkan dan menemani mereka dan setelah mereka besar maka mereka pun akan jarang mau mendengarkan dan mau menemani orangtuanya.

Mungkin dari sinilah awal mulanya dikenal ada istilah kenakalan remaja yang dimulai karena kurangnya perhatian dan kedekatan dari orang tuanya yang kemudian mereka mencari dan mengisi sendiri kekurangan tersebut dengan suatu kegiatan untuk menarik perhatian. Masih untung kalau kegiatan tersebut dinilai positif akan tetapi sangat disayangkan kalau kegiatan tersebut bersifat merugikan baik dirinya sendiri maupun orang lain, karena hal itu secara tidak disengaja atau tidak disadari telah dipicu terlebih dahulu oleh perilaku orang tuanya.

Dan sebagai orang tuapun perlu introspeksi atau mengkoreksi diri bahwa mungkin saja sifat nakal tersebut diturunkan atau dengan kata lain anak tersebut mewarisi sifat dan perilaku dari kedua orang tuanya.

Oleh karena itu kehadiran dan perhatian orangtua terhadap anak-anaknya, jauh lebih besar nilainya apabila dibandingkan dengan sekian banyak hadiah yang diberikan.

Sesuai dengan hal tersebut diatas, apa yang dikatakan Patrick M. Morley adalah sebagai berikut : “Saya lebih memilih untuk tidak menjadi siapa-siapa, asalkan bisa menjadi seseorang yang berarti bagi anak-anak saya.”

“Apakah anda memperhatikan anak-anak Anda? Mereka adalah keturunan Anda, kebahagiaan Anda hari ini dan harapan Anda di masa depan. Lindungi mereka. Beri mereka makan. Rawat mereka. Dorong mereka untuk tumbuh. Perhatikan mereka. Karena suatu saat nanti, mungkin mereka yang akan merawat Anda.” (John C. Maxwell).

 

“Ingin menjadi apa anak-anak saya, kalau perilaku saya sebagai bapaknya saja sudah begini ? Ingin menjadi apa orang-orang di sekeliling saya, ketika mengamati perilaku saya sehari-hari menghalalkan segala “perasaan” untuk menutupi kebutuhan sehari-hari?” (Brian Tracy)

Tidak ada keberhasilan atau kesuksesan tanpa adanya perjuangan, akan tetapi manusia harus pandai memilih dan menetapkan prioritas mana yang menentukan makna hidup ini dengan labih baik.

Disini John C. Maxwell mengatakan pendapatnya tentang suatu pilihan : “Dahulukan hal-hal yang utama dari ini dan abaikan hal-hal yang tidak benar-benar berarti.”

Dan untuk selanjutnya terserah para pembaca untuk menentukan sendiri pilihan hidupnya tentang : Apa yang paling berarti dalam hidup masing-masing.

BANDUNG–INDONESIA, APRIL – 2015

Cerita : Parlin

(Gubahan Ki Ageng Bayu Sepi)

Sumber : www.terapimurni.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *