Kisah Kehidupan Seorang Ayah (Bagian Ke 1)

YANG HARUS DISADARI DAN DIMENGERTI ADALAH BAHWA SUATU ayahKEBERHASILAN, KEBAHAGIAAN, KETENANGAN, ATAUPUN KETENTERAMAN HATI DAN LAIN-LAIN ITU SELALU TERJADI KARENA ADA KETERLIBATAN ORANG LAIN.

DAN SUATU PERBUATAN BAIK YANG DI TERIMA DARI ORANG LAIN BERUSAHALAH UNTUK MENGINGAT DAN MEMBALASNYA SESUAI KEMAMPUAN YANG DIMILIKI, KALAU BISA USAHAKAN DENGAN YANG LEBIH BAIK.

ANDAIKATA MEMANG TIDAK BISA MEMBALASNYA BERDOALAH DENGAN TULUS UNTUKNYA.

Beberapa puluh tahun yang telah lalu, ketika itu hiduplah seorang anak yang bernama Bagaskara dalam sebuah keluarga yang mungkin dapat dikatakan serba kekurangan.

Ketika Bagaskara masih kecil dan baru berumur kurang lebih 2 tahun ayahnya meninggal dunia karena sakit jantung yang dideritanya. Kemudian Bagaskara hidup dengan ibunya, akan tetapi ketika Bagaskara baru duduk di Sekolah Dasar kelas 5 ibunya pun meninggal dunia karena penyakit gagal ginjal. Maka jadilah Bagaskara seorang anak Yatim Piatu.

Akan tetapi nasib baik masih menyertainya, karena ada yang berbelas kasih kepadanya. Dan Bagaskara di angkat anak oleh seseorang di kampung itu yang bernama Pak Wicaksana atau biasa dipanggil dengan nama Pak Wicak. Walapun sebagai orang yang dikatakan mampu dalam materi karena mempunyai sebuah perusahaan di kota namun orangnya sangatlah sederhana, baik hati dan bijaksana seperti namanya.

Pada suatu hari dipanggilnya Bagaskara oleh Pak Wicaksana :

“Bagas, kemarilah sebentar nak !”

“Ya, pak,” jawabnya singkat sambil mendekat.

“Semua keperluan sekolahmu, bapak yang akan menyelesaikannya  dan tugasmu harus belajar dengan rajin dan mempergunakan kesempatan yang ada sekarang ini sebaik mungkin. Selain itu bapak mau bertanya, kamu mau tinggal dimana ? Apakah kamu mau kalau tinggal di rumah bapak ?” tanya pak Wicaksana.

“Terima kasih pak, saya mau tinggal di rumah sendiri, yaitu rumah peninggalan ayah dan ibu sekalian untuk mengurusnya agar tidak cepat rusak,” jawab Bagaskara.

“Ya terserah saja, kalau memang maumu demikian,” sahut Pak Wicaksana sabar.

Sementara itu semua pembiayaan tentang kehidupan maupun sekolah ditanggung oleh Pak Wicaksana, namun sebagai seorang anak yang tahu dan bisa menitipkan diri maka untuk membalas budi kebaikan yang diterimanya itu maka pada setiap pagi harinya sebelum berangkat ke sekolah Bagaskara selalu membantu segala sesuatu kegiatan dirumah Pak Wicaksana, misalnya menyapu, mengepel atau merawat kebun dan lain-lain.

Demikian juga ketika sekolah di SMP, Bagaskara mengambil waktu sekolah pada siang hari karena paginya bisa mengantar Widiyatni, anak Pak Wicaksana ke sekolah yang kini baru duduk di kelas 2 dan menjemputnya sebagai pekerjaan tetapnya.

Begitu lulus SMP, pada suatu hari Pak Wicaksana memanggil Bagaskara : “Bagas, kemarilah kamu nak !”

“Ya. Pak Wicak,” jawab Bagaskara dengan rasa hormat.

“Sekarang kamu kan sudah lulus SMP, lalu mau melanjutkan sekolah kemana ?” tanya pak Wicaksana.

“Bagas, tidak tahu dan tidak mengerti Pak,” jawabnya singkat, karena dalam hatinya dia bingung, mau menyebutkan sekolah yang diinginkan karena banyak temannya yang melanjutkan kesana, tetapi rasanya tidak enak sebab dia merasa tidak mampu untuk membiayai sendiri, karena semuanya tergantung kepada Pak Wicaksana.

“Begini, kalau bapak boleh sarankan sebaiknya kamu masuk sekolah ke kejuruan saja. Agar segera bisa dipakai untuk bekerja,” jelas Pak Wicaksana.

“Baiklah pak, saya menurut apa yang bapak sarankan karena saya sendiri tidak mengerti. Tetapi yang bapak sarankan tentunya demi untuk kebaikan saya,” jawab Bagaskara.

Oleh karena itu Bagaskara meneruskan sekolah di sebuah SMK dan secara otomatis pekerjaan mengantar Widiyatni ke sekolah menjadi tidak tetap lagi pula Widiyatni sendiri sekarang juga sudah mulai besar.

Tetapi masih dipilihnya SMK yang masuk siang agar pagi-pagi Bagaskara bisa membatu apa saja di rumah Pak Wicaksana, karena memang hanya tenaga itulah yang dimiliknya untuk bisa membalas budi atas kebaikan Pak Wicaksana.

Setelah lulus SMK, kemudian Pak Wicaksana bertanya : “Bagas setelah lulus SMK ini apakah kamu masih ingin meneruskan kuliah atau mau bekerja.”

“Pak sepertinya saat ini saya ingin bekerja saja,” jawab Bagaskara.

“Kalau memang ingin bekerja, kamu boleh bekerja di perusahaanku. Apalagi kalau ada waktu kamu masih bisa menyempatkan diri melanjutkan kuliah,” kata pak Wicaksana.

“Terima kasih atas kebaikan bapak, tetapi saya ingin bekerja sendiri dan saya ingin belajar mandiri,” demikian penjelasan Bagaskara.

“Ya kalau memang demikian kemauanmu, ya terserah kamu sajalah, karena kamu yang akan menjalaninya. Tetapi jika suatu saat nanti kamu berubah pikiran aku tetap akan menerimanya,” jawab pak Wicaksana.

“Terima kasih, pak,” jawab Bagaskara. Namun disisi hatinya lain, ketika memandang Widiyatni yang memakai seragam putih biru, karena memang pada saat itu Widiyatni sudah masuk SMP, timbul perasaan yang lain pada dirinya.

Dalam hati mengatakan : “Semakin besar kamu semakin terlihat cantik Widiyatni apalagi andaikata saja kamu sudah pandai berdandan pastinya akan terlihat lebih cantik, tetapi sayang aku tidak bisa menyaksikan semua itu karena harus pergi merantau untuk mencari pekerjaan dan mulai belajar hidup mandiri.”

-o0o-

Tanpa terasa sudah sekian lama Bagaskara pergi merantau, hingga pada suatu hari timbul keinginannya untuk pulang menengok kampung halamannya. Namun sebelum pulang Bagaskara mencari sesuatu pantas untuk oleh-oleh Bapak dan Ibu Wicaksana sebagai tanda hormat dan ingat akan budi kebaikannya.

Ketika sedang hilir mudik mencari oleh-oleh seringkali berpapasan dengan para gadis remaja di sepanjang jalan yang dilaluinya, tiba-tiba saja ingatannya melayang kearah bayangan sosok Widiyatni, mungkin saja karena keinginannya untuk pulang sudah menggebu jadi perasaannyapun seakan-akan sudah berada di kampung halamannya.

Dalam hatinya berkata : “Tanpa terasa kepergianku meninggalkan kampung halaman sudah sekian lama dan ketika kutinggal pergi Widiyatni yang kuasuh itu sedang mulai mekar kecantikannya. Seperti apa jika aku besok bertemu dengannya. Jangan-jangan aku malahan menjadi pangling, karena sekarang sudah besar dan dewasa.”

Bus yang ditumpangi untuk pulang ke kampung halaman seakan berjalan dengan sangat lambat apalagi bepergian seorang diri tanpa teman yang menyebabkan  pikirannya melamun. Tetapi anehnya pada lamunan itu yang nampak hanya bayangan Widiyatni .

 “Mengapa selama ini aku tidak pernah memikirkan Widiyatni, tetapi sekarang ketika aku hendak pulang malahan sosok Widiyatni selalu mengganggu pikiranku.”

Bayangan dalam pikirannya itu yang terlihat sosok Widiyatni ketika masih di SMP dan memakai seragam biru putih dengan rambut yang panjang serta diikat dua model ekor kuda kiri dan kanan. Semakin Bagaskara berusaha untuk menyingkirkan bayangan Widiyatni dari ingatannya, tetapi bayangan itu malahan semakin nampak jelas.

Hatinya bergumam sendiri : “Tentunya Widiyatni sekarang sudah jauh berbeda, bahkan mungkin akan terlihat bertambah cantik, dahulu saja ketika kutinggal sudah mulai kelihatan kecantikannya.”

Tetapi di sisi lain hatinya berkata : “Andaikata saja kalau dia sekarang  terlihat menjadi lebih cantik apabila dibandingkan dengan ketika masih di SMP dahulu, tetapi apakah mungkin kalau aku mempunyai keinginan untuk mempersunting putri tunggal pak Wicaksana, sedangkan keadaanku sendiri adalah seorang yang yatim piatu dengan pekerjaan yang belum mapan.”

Akhirnya ditepisnya juga lamunannya itu : “Oh, Bagas, Bagas, mengapa kamu terus melamunkan hal-hal yang jauh untuk bisa dilaksanakan, segeralah kamu itu sadar dengan keadaan dirimu sendiri. Perilakumu yang demikian itu seperti orang yang tidak bisa introspeksi diri saja.”

Sesampainya di terminal, yang pertama dituju adalah pulang ke rumah terlebih dahulu, dan karena letak rumah peninggalan orang tuanya tidak jauh dari situ maka dengan menggunakan ojek dan mengambil jalan memutar agar segera sampai ketempat dan tidak melewati rumah Pak Wicaksana.

Jika melewati depan rumah Pak Wicaksana khawatir kalau kemudian keperegok kalau tidak segera berkunjung rasanya tidak enak, padahal badannya ingin segera diistirahatkan dan perlu membersihkan rumah yang sudah sekian lama ditinggalkan.

Setelah kurang lebih beristirahat selama tiga hari, barulah kemudian Bagaskara pergi untuk berkunjung ke rumah Pak Wicaksana, akan tetapi ketika ditengah perjalanan berjumpa dengan Kang Wahyu, kakak kelas ketika sekolah di SMP dahulu.

Setelah bersilaturahmi dan berbagi kabar gembira tiba-tiba Kang Wahyu bertanya demikian : “Bagas, kelihatannya pulangmu ke kampung halaman ini sudah ada janji, ya ?”

“Janji dengan siapa, ya Kang ?”  balik tanya Bagaskara sambil keheranan.

“Ya, dengan Widiyatni tentunya, dengan siapa lagi. Kan pulangnya juga tiga hari yang lalu, dan pastinya kamu juga yang menjemputnya kan?” tanya Kang Wahyu seakan penuh selidik.

“Lho, memangnya Widiyatni pulang dari mana ?”  Bagaskara balik bertanya.

“Apakah kamu memang benar-benar tidak pernah berjumpa dengannya selama ini ?” kembali tanya Kang Wahyu seakan mengalihkan pertanyaan Bagaskara.

“Benar Kang, semenjak pergi dahulu sampai dengan sekarang ini, aku belum pernah berkomunikasi apalagi bertemu dengannya,” kata Bagaskara.

“Oh begitu tho ? Baru tahu saya, kalau kalian selama ini memang tidak pernah saling berhubungan.

Nah kalau begitu sekarang kamu akan menjenguk Widiyatni, iya kan ?” tanya Kang Wahyu lagi.

“Ya, iya lah,” jawab Bagaskara.   “Tetapi yang sebenarnya yang ingin saya kunjungi adalah bapak dan ibu Wicaksana,”  lanjutnya kemudian.

“Alah jangan bohong, kamu. Mau melamar Widiyatni saja tidak mau terus terang padaku,” gurauan Kang Wahyu sambil menebak-nebak.

“Kang, itu kan hal mustahil kalau dilakukan, jangan berhayal seperti  pungguk merindukan bulan,” jawab Bagaskara perlahan, tetapi jauh dalam lubuk hatinya berkata lain dan sebenarnya dia ingin apa yang terjadi adalah hal yang  sebaliknya.

“Jangan salah lho, sekarang anaknya bertambah cantik. Penampilannya tinggi semampai, berkulit kuning langsat. Ah sudahlah sulit untuk dikatakan, cepat lamar sana dan segera nikahi saja !” gurauan Kang Wahyu sambil mengacungkan ibu jari tangannya yang membuat hati Bagaskara juga menjadi tidak tenang.

Kemudian Bagaskara melanjutkan perjalanan ke rumah bapak Wicaksaana akan tetapi ceritera Kang Wahyu tentang kecantikan Widiyatni selalu terngiang di telinga, dan gurauannya untuk segera menikahi Widiyatni semakin mendorong keinginan hatinya untuk segera bertemu dan melihat Widiyatni dengan mata-kepalanya sendiri.

Akan tetapi kembali muncul pertanyaan dalam hatinya : “Apakah mungkin keinginanku untuk mendapatkan Widiyatni akan bisa terlaksana? Karena aku adalah seorang anak yatim piatu apalagi belum mempunyai pekerjaan yang mapan.”

–o0o-

Singkat ceritera berkunjunglah Bagaskara ke rumah Pak Wicaksana, dan benarlah apa dikatakan Kang Wahyu memang terbukti, kenyataannya ketika Bagaskara berkunjung ke rumah Pak Wicaksana, Widiyatni juga ikut menemuinya apalagi dengan dandanan anak gaul masa kini yang membuat setiap hati laki-laki yang melihatnya menjadi gemes dan geregetan.

Selain dari itu sikapnya pun terhadap Bagaskara juga masih baik seperti dahulu bahkan mungkin sekarang lebih dan inilah yang membuat Bagaskara menjadi terpesona dan jatuh hati.

Walaupun pertemuan dan pertemanan Bagaskara dengan Widiyatni yang sekarang sudah dewasa baru seminggu, karena keakrabannya itulah yang menjadikan Bagaskara semakin berani mendekatinya. Itupun juga karena bapak dan ibu Wicaksana tidak menaruh rasa curiga serta melarang, bahkan jika Bagaskara datang berkunjung yang menerima adalah Widiyatni sedangkan bapak dan ibu Wicaksana sendiri selalu pergi dengan berbagai alasan.

Ketika pada suatu malam, Bagaskara sengaja datang untuk berkunjung dengan maksud  berpamitan kepada bapak dan ibu Wicaksana, juga kepada Widiyatni bahwa besok pagi Bagaskara akan kembali pulang ke tempat  perantauannya.

Namun pada malam hari itu Bapak dan Ibu Wicaksana sedang tidak berada dirumah karena berkunjung kerumah saudaranya. Dalam hati Bagaskara berkata : “Kalau begitu sebaiknya saya duduk dan mengobrol sebentar, kemudian besok pagi saja sekalian berangkat pergi aku mampir lebih dahulu untuk berpamitan.”

Tetapi karena asyik mengobrol tanpa terasa sampai lupa waktu hingga larut malam. Satu hal yang biasa, apalagi bagi anak muda yang hatinya  sedang kasmaran atau jatuh cinta, dan setiap orang pun akan merasa betah dan enggan serta sayang rasanya untuk segera pulang meninggalkan kesempatan berdekatan dengan yang diam-diam dicintainya.

Tiba-tiba datang tamu  : “Selamat malam, Permisi….”

“Selamat malam. O, iya silakan masuk,” sahut Widiyatni.

Kemudian masuklah beberapa orang pemuda bertamu ke dalam rumah, dan setelah mengobrol kesana kemari barulah pemuda-pemuda tersebut  memulai memberitahukan hal yang sebenarnya : ”Begini, Mas karena sudah menjadi aturan kampung disini, kami mohon maaf sebelumnya dan saya berharap bahwa Mas Bagas menurut dan mengikuti saja. Karena  bertamu ke rumah perempuan sampai larut malam apalagi hanya berdua adalah melanggar aturan lingkungan yang telah ditetapkan. Jadi jelasnya Mas Bagas ditangkap atau digerebek dan harus menikahi Widiyatni,” kata salah seorang pemuda yang mungkin adalah pimpinannya.

Mendengar hal itu keringat dingin mulai mengalir membasahi badan Bagaskara dan memang setelah dilihat jam dinding di ruang tamu telah menunjukkan waktu lewat tengah malam.

Jika dipikir secara sepintas menikah dengan Widiyatni menjadikan bangga dan bahagia hati seorang laki-laki, tetapi di sisi lain ketika mendengar cerita bahwa Widiyatni semenjak ditinggalkannya dahulu, melanjutkan kuliah di kota besar yang mengakibatkan salah dalam memilih bebasnya pergaulan, Bagaskara menjadi menangis dalam hati.

Namun apa dikata semua sudah terjadi dan inilah salah satu yang harus dijalani dengan ikhlas untuk membalas kebaikan bapak dan ibu Wicaksana, semoga saja rumah tangga yang dijalani kedepannya bisa menjadi sebuah rumah tangga yang sakinah, mawadah dan warohmah.

 -o0o-

Saudaraku pembaca semuanya, peristiwa dari gubahan dan reka cerita mengenai Kisah Kehidupan Seorang Ayah Bagian Ke 1 dapat kita ambil hikmahnya untuk pesan moral sebagai bahan perenungan dalam kehidupan kita masing-masing.

Perlu juga diingat adalah bahwa dalam kehidupan sehari-hari manusia selalu berhubungan dengan pribadi-pribadi manusia lainnya yang mungkin memberikan kepedulian, perhatian atau sikap-sikap lainnya.

Dengan tidak disadari bahwa manusia pernah menerima suatu kebaikan dari orang yang sudah dikenal ataupun tidak dikenal demikian pula sebaliknya pernah memberikan kebaikan kepada orang lain yang sudah dikenal maupun belum pernah dikenalnya apapun bentuknya.

Oleh karena itu harus disadari pula bahwa adanya suatu keberhasilan, kebahagiaan, ketenangan ataupun ketenteraman hati dan lain-lain itu selalu terjadi karena adanya keterlibatan atau peran serta orang lain.

Dan suatu perbuatan baik yang di terima dari orang lain harus selalu di ingat dan kemudian diusahakan untuk membalasnya sesuai dengan kemampuan yang di miliki, kalau memang mampu balaslah dengan yang lebih baik.

Andaikata memang benar-benar tidak mampu membalasnya doakanlah dia dengan tulus dan dengan hati yang sungguh-sungguh, bukan hanya sekedar ucapan di bibir saja.

Sekecil apapun suatu kebaikan yang di terima dari orang lain, misalnya dari istri, suami, teman, tetangga atau orang lain yang tidak dikenal sekalipun maka sepantasnyalah kalau berterima kasih.

Ucapan dan rasa terima kasih yang disampaikan kepada manusia atas kebaikan yang telah dilakukan itu adalah bagian dari makna bersyukur kepada Tuhan, jadi hakekatnya adalah bersyukur kepada Tuhan atas berkat-Nya melalui sesama manusia. Dengan perkataan lain yang singkat adalah “Berkat sekecil apapun syukurilah.”

Ada beberapa perilaku orang yang menerima kebaikan dari orang lain dan membalasnya dengan cara :

*). Mengucapkan “terima kasih” atas kebaikan orang lain yang telah diterimanya.

Jika ada seseorang dengan mudah melupakan budi baik orang lain yang telah di terimanya adalah merupakan seseorang yang tidak pandai berterima kasih. Seperti telah disebutkan diatas bahwa berterima kasih hakekatnya bersyukur kepada Tuhan.

*). Senantiasa mengingat akan kebaikan orang yang pernah diberikan kepadanya dan tidak melupakannya.

Kemudian berusaha untuk membalasnya sesuai kemampuan yang dimiliki akan tetapi jika memang tidak bisa membalasnya maka mendoakan dengan bersungguh-sungguh.

*). Sebagai rasa syukur dan terima kasih, kemudian dia menyebut-nyebut kebaikan orang yang pernah berbuat baik padanya.

Akan tetapi diharapkan jika menyebutkan kebaikan orang lain tersebut tidak sedang berada dihadapan orang yang bersangkutan, karena hal itu untuk menyelamatkan orang tadi dari rasa sombong, dan juga menyelamatkan dirinya sendiri dari sifat “cari muka.”

Dan perilaku seperti diatas perlu untuk dilakukan agar jangan sampai dikatakan menjadi orang yang tidak tahu membalas budi dan menjadi manusia yang tidak memiliki harga diri.

Dari sebuah pengalaman dan pengamatan, bahwa ringan tangan atau tidak segan menolong sesama manusia dalam menanggulangi kesulitannya bisa diibaratkan bahwa seseorang tersebut sedang menanam dan pada suatu waktu  yang sangat dibutuhkan tanpa diduga dia akan memetik hasilnya, bukan saja dari orang yang pernah ditolongnya tetapi mungkin juga dari orang yang tidak pernah dikenal sebelumnya.

Hal yang demikian bisa saja dinikmati secara langsung baik oleh yang bersangkutan atau oleh si penanam bahkan mungkin juga dirasakan oleh keturunannya. Adapun baik atau buruk jenis benih yang ditaman, akan menentukan baik atau buruknya hasil yang akan dipanen.

Sebuah pepatah mengatakan :

“Apa yang ditanam itulah yang akan dituai” atau ”Sesuai dengan benih yang yang ditanam demikian pulalah hasil yang akan dituai. Dan  barangsiapa menanam kebajikan akan memetik kebahagiaan dan barangsiapa nenanam keburukkan akan memetik ketidaksenangan.”

Sebagai sebuah gambaran dari cerita tentang Kisah Kehidupan seorang Ayah diatas, Bapak Wicaksana adalah seorang Ayah yang dalam hidupnya selalu berbuat kebaikan dengan perkataan lain selalu menanamkan kebaikan dengan cara menolong orang lain tanpa memilih atau membedakan siapa orang yang akan dibantunya tersebut dan tidak pernah menginginkan balasan apapun. Dan salah satu kebaikan itu diberikan kepada Bagaskara, seorang anak yatim piatu.

Pada suatu saat, ketika sebuah musibah menimpa kehidupan keluarga pak Wicaksana, Tuhan memberikan pertolongan-Nya melalui kesadaran Bagaskara yang mau menerima Widiyatni menjadi istri dengan keadaan apa adanya sebagai cara membalas budi.

Dalam kehidupan sehari-hari bermasyarakat mungkin secara umum orang berpandangan atau berpendapat bahwa hal tersebut terjadi sebagai akibat dari perbuatan baik yang telah dilakukannya selama ini sehingga membuahkan hal yang baik juga untuk kehidupan keluarganya dan akhirnya terselamatkanlah martabat keluarga tersebut. Bisa jadi hal ini dapat juga disebut sebagai sebuah anugerah dari perbuatan baik atau karma baik yang telah dilakukannya.

Yang harus dimengerti dan dipahami adalah bahwa segala sesuatu yang terjadi, apakah itu keberhasilan, kebahagiaan dan lain-lain bukanlah semata-mata karena usaha manusia atau perbuatan baik yang telah di lakukan akan tetapi karena adanya sebuah anugerah atau campur tangan Tuhan. Dengan perkataan lain tidak keluar dari kehendak Allah.

Akhir jaman pasti akan datang meskipun tidak ada seorangpun yang tahu tentang waktunya dan segala sesuatu yang di kagumi dan senangi di dunia ini akan berakhir. Secara lebih sempit adalah akhir hidup seseorang pasti akan tiba dan sejak saat itu semua amal ibadah tidak lagi bisa dilakukan dan tinggal menunggu hari pengadilan. Oleh karena itu sebelum waktu tersebut datang, maka semasa masih hidup harus diperbanyak berbuat kebaikan, karena apa yang di lakukan saat sekarang pada suatu waktu nanti pasti akan memetik hasilnya baik di dunia ini maupun sebagai bekal dan persiapan pada kehidupan yang akan datang. Tangan diatas akan lebih baik dari pada tangan di bawah.

Akan tetapi yang harus di ingat adalah bahwa setiap perbuatan baik yang di lakukan untuk orang lain sebaiknya jangan sekali-kali pernah berpikir untuk mengharapkan  balasannya. Karena perbuatan baik yang di lakukan tidak akan selalu membuahkan hasil baik seperti yang diharapkan.

Banyak jalan untuk berbuat kebaikan akan tetapi banyak juga alasan untuk membatalkannya.

Contoh-contoh ringan ;

*). Ketika seseorang dalam hati berniat baik dengan menitipkan bantuan, pasti ada saja alasan yang membatalkannya.

Pikiran orang tersebut bisa beralasan sebagai berikut : “Kalau bantuan ini saya titipkan kepada panitia jangan-jangan nanti digelapkan dan tidak disampaikan. Kalau demikian halnya lebih baik saya tidak jadi menitipkan bantuan itu kepada panitia, daripada memberikan kesempatan orang untuk menjadi jahat dengan menggelapkan uang titipan, malahan nanti saya jadi berdosa.”

*). Ketika seseorang berniat baik hendak memberikan makanan kepada anak-anak yatim piatu, pasti ada alasan yang dapat membatalkannya.

Dalam hati orang tersebut bisa saja beralasan demikian : “Kalau saya pesankan makanan di catering jangan-jangan cara memasaknya nggak bersih, takut nanti anak-anak bisa keracunan. Kalau demikian halnya yang terjadi lebih baik saya tidak jadi memesan makanan catering itu, daripada nanti menjadi urusan yang berkepanjangan.”

*). Dan sebagainya.

Untuk selanjutnya terserah para pembaca untuk menentukan sendiri pilihan hidupnya masing-masing tentang benih yang bagaimana yang akan ditanam.

 

BANDUNG–INDONESIA, MARET – 2015

Mutiara hati

(Gubahan Ki Ageng Bayu Sepi)

Sumber : www.terapimurni.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *