Sebuah Amanat

SERINGKALI TERJADI APABILA SEBUAH AMANAT YANG TIDAK baktiBERKAITAN DENGAN KEPENTINGAN PRIBADINYA PADA UMUMNYA KURANG MENDAPAT PERHATIAN YANG SERIUS BAHKAN TERKADANG SAMPAI TERABAIKAN ATAU TERLUPAKAN.

Kurang lebih sudah dua puluh tahunan yang lalu ayahku meninggal dunia. Akan tetapi tiba-tiba saja secara bayang-bayang teringat kembali apa yang telah dipesankan almarhum kepadaku ketika tiga hari menjelang meninggalnya. Dan terus terang saja sejak pesan tersebut disampaikan dan bahkan sampai sekarang ini tidak pernah kupikirkan lagi, sebab menurut pertimbanganku waktu itu tidaklah terlalu penting, hingga munculnya kembali secara tiba-tiba ingatan tentang pesan tersebut.

Ketika itu ayahku yang sudah lama hidup sendiri, pada saat mulai merasakan badannya kurang sehat sambil tiduran dan menyandarkan kepalanya dibalai-balai bambu berkatalah ayah kepadaku dan akupun mendengarkannya dengan duduk disampingnya.

“Bagas mendekatlah kemari, dengarkan ceritera bapak,” kata ayah

“Baik pak,” sahutku sambil mendekat.

“Di sebuah desa kecil tempat Bapak dilahirkan, dibesarkan dan dewasa disana, ada seorang perempuan yang sudah tua namanya Widia, walaupun antara dia dengan Bapak tidak punya ikatan keluarga atau dapat dikatakan bukan sanak ataupun famili, namun Bapak meminta  kepadamu anggaplah dia itu sebagai orang tuamu sendiri,” katanya perlahan sambil matanya menatap keatas memandang jauh seakan mengingat sesuatu.

“Ya Pak, sebenarnya ada apa ?” tanyaku untuk memperolah keterangan agar menjadi lebih jelas duduk permasalahannya.

“Ah, sebenarnya nggak ada apa-apa sih, Bapak hanya merasa kasihan saja padanya. Karena hidupnya selalu prihatin dan serba kekurangan serta tidak memiliki anak.”

“Ya Pak,” jawabku singkat.

Sejak saat pesan itu disampaikan dan untuk seterusnya hingga sampai dengan saat ini tak pernah kupikirkan lagi, akan tetapi secara tiba-tiba saja sekarang terbayang-bayang ingatan tentang pesan tersebut walaupun setelah lewat waktu dua puluh tahun.

Mengingat hal tersebut aku menjadi merasa bersalah terhadap ayah  karena amanatnya kuabaikan, dan lebih merasa bersalah lagi jika orang yang dipesankan tersebut sudah tidak ada. Kemudian kuputuskan  pergi ke sebuah desa kecil tempat kelahiran ayah untuk mencari seorang perempuan tua yang bernama Widia.

Pada awal mulanya aku merasa kebingungan bagaimana harus mencarinya karena setiap orang yang kutemui dan kutanya tentang seorang perempuan tua yang bernama Widia tidak ada yang tahu.

Kemudian kucoba meminta pertolongan kepada Kepala Desa untuk menemui orang yang paling tua di desa tersebut. Kebetulan orang seperti yang kumaksud ada dan dia bernama Bapak Sastro yang usianya sudah sangat lanjut.

Setelah berbasa-basi sebentar kemudian dengan singkat saya bertanya kepadanya :

“Mohon maaf pak, kalau boleh saya bertanya dan mohon bantuan apakah Bapak mengetahui tentang seorang perempuan yang bernama Widia, mungkin saat ini usianya juga sudah sangat tua ?”

“Oh, iya bapak tahu, dahulu ketika Bapak masih muda nama Widia itu adalah nama yang sangat di kenal di desa ini dan kemudian orang memanggilnya dengan nama ibu Winata. Hayo, mari saya antar kesana,” kata Bapak Sastro.

“Terima kasih, pak,” jawabku singkat.

Alhamdulillah, Puji Tuhan, Bapak Sastro ternyata mengetahui tentang orang yang kucari, dan ketika sampai di rumah yang dituju, aku merasa heran. Walaupun ibu ini usianya sudah sangat tua akan tetapi matanya masih sangat awas dan pendengarannya juga masih tajam serta penampilan yang masih tegar.

Kemudian Pak Sastro mendahului berkata-kata untuk membuka pembicaraan :

“Bu Winata, apakah ibu masih ingat dengan Bapak Wicaksana ?”

“Ya, masih tetap ingat, memangnya ada apa ?  Pak Wicak kan sudah lama sekali meninggal dunia ,” sahut perempuan tua itu dengan suara yang masih sangat jelas.

Kemudian Bapak Sastro berbicara dengan ibu itu sambil menunjukkan jarinya kearahku : “ Bu Winata, dia bernama Bagas dan dia ini adalah anak Pak Wicaksana, mungkin ada keperluan yang hendak disampaikan kepada ibu.”

Lalu ibu tua yang masih sangat awas itu memandang tajam kearahku dan selanjutnya bertanya : “Ada keperluan apa nak?  Ayahmu kan sudah lama sekali meninggalnya.”

“Ya Bu,  kurang lebih sudah dua puluh tahun yang lalu,” jawabku sambil duduk mendekat kepadanya. “Dahulu, ketika tiga hari menjelang meninggal, bapak pernah berpesan kepada saya begini : ‘Bagas, di sebuah desa kecil tempat kelahiran Bapak ada seorang perempuan tua yang bernama Widia. Walaupun dia bukanlah kerabat atau keluarga, bapak minta agar kamu mau menganggap dia itu sebagai orang tuamu sendiri.’

Tetapi ketika saya bertanya untuk lebih mengerti tentang hal itu, Bapak hanya bilang : “Kasihan, hidupnya selalu perihatin dan menderita apalgi tidak mempunyai seorang anakpun.”

Setelah mendengar apa yang telah kusampaikan tadi, perempuan tua tersebut kemudian berlinangkan air mata. Sorot matanya yang tajam memandang jauh, seperti sedang mengingat dan membuka satu-persatu kenangan masa lalunya. Kemudian dengan menghela napas panjang perempuan tua itu berkata perlahan dengan nada yang sedih :

“Oh Mas Wicak, tidak pernah kusangka hingga saat hendak meninggalpun engkau masih ingat kepadaku dan masih memperhatikan hidupku. Memang harus demikian jalan cerita kehidupan yang harus kita tempuh karena memang kita hanya sekedar bisa menjalani dan tidak mampu untuk menentukan.”

Sedih juga hatiku melihat apa yang dilakukan nenek tua tersebut dan untuk sementara kubiarkan dia demikian, dan akhirnya diapun  berkata :

“Bagas, ayahmu pernah bercerita apa saja tentangku kepadamu, nak ?”

“Bapak, tidak pernah menceriterakan apa-apa, bu,” jawabku singkat. “Oleh karena itu saya juga kurang mengerti, apa sebab ayah berpesan demikian kepada saya. Apakah antara ayah dan ibu masih ada ikatan keluarga atau family, atau ayah pernah berhutang budi dan belum bisa membalasnya atau… ah…., tidak tahulah bu, entah bagaimana ceritera yang sebenarnya ?” kataku.

“Bukan demikian ceriteranya nak,” jawabnya. “Andaikata aku hendak menceriterakan tentang kisah yang sebenarnya,  apakah kamu juga mau mendengarkannya ?” katanya pula.

“Hal itulah yang sebenarnya saya inginkan bu, agar saya juga mengerti tentang riwayat dan duduk perkaranya.”

Setelah sejenak menghela napas panjang, kemudian barulah ibu tua tersebut memulai ceriteranya :

“Dahulu, ketika ibu masih remaja purti kira-kira berumur antara tujuh belas tahunan dan ayahmu pun waktu itu berumur kurang lebih dua puluh lima tahunan, dan kami saling jatuh cinta, dan sudah bersepakat ingin hidup bersama sebagai sepasang suami istri.

Untuk istilah anak sekarang, mungkin pada waktu itu kami disebut sedang berpacaran. Akan tetapi keadaannya jauh berbeda tidak seperti anak-anak jaman sekarang. Walaupun hati kami masing-masing seakan sudah tidak bisa dipisahkan walau seujung rambutpun tetapi kami tidak pernah pergi bersama-sama atau mengobrol bareng. Karena kondisi pada waktu itu hal yang demikian masih dianggap tabu, tidak sopan atau melanggar susila dan menjadi larangan hidup kemasyarakatan.

Mas Wicaksana, ayahmu adalah seorang anak Yatim Piatu dan miskin serta tidak mempunyai tempat tinggal tetap. Kemudian meminta pertolongan pamannya untuk melamarku, akan tetapi lamaran tersebut ditolak oleh ayahku.

Memang merupakan suatu hal yang wajar seperti halnya orang tua lain yang sayang kepada anaknya, mungkin ayahku terlalu memperhitungkan apabila aku diperistri oleh Pak Wicak dapat dipastikan bahwa hidupku kelak pasti akan menjadi sengsara dan menderita.

Oleh karena nya aku diharapkan bisa menjadi menantu orang kaya, agar hidupku bisa senang dan tidak akan berkekurangan, itulah sebabnya kemudian aku di jodohkan dengan Pak Winata anak orang yang sangat kaya raya dan terkenal di desa ini.

Hati kami hancur karena hal tersebut dan aku merasa sangat kasihan terhadap ayahmu waktu itu, akan tetapi tidak mampu berbuat apa-apa. Dan untungnya ayahmu kemudian diambil sebagai menantu oleh orang yang lebih kaya dari pada mertuaku untuk dijodohkan dengan ibumu.

Akan tetapi nak, setelah kami masing-masing berkeluarga, ceriteranya menjadi lain dan hasilnya sangat berbeda bahkan bertolak belakang dengan semua perhitungan manusia seperti orang tuaku pada waktu itu.

Ayahmu yang berangkat dari orang miskin menjadi sangat tekun dan pandai dalam bekerja serta rajin menabung sehingga hidupnya menjadi terangkat, kemudian mampu membeli tanah, mendirikan rumah, membeli sawah dan bisa menyekolahkan anak-anaknya sehingga menjadi orang yang hidupnya mapan.

Hal tersebut berbanding terbalik dengan keadaanku, hidupku menjadi sengsara dan melarat karena suamiku yang tadinya berasal dari anak orang kaya dan serba ada, tidak mau bekerja, hidup berfoya-foya juga  senang berjudi serta tidak bisa mempunyai keturunan.

Hal itu bukan aku yang mandul akan tetapi disebabkan karena kondisi suamiku yang sudah rusak akibat dari suatu penyakit karena senang bermain perempuan yang nggak bener. Oleh karena itulah nak, manusia hidup tidak boleh Melupakan dan tidak boleh Mendahului Kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa.”

Ibu tua tersebut berhenti sejenak dengan ceriteranya, dari sudut-sudut matanya terlihat mengalir air mata yang menandakan kalau hatinya sedang bersedih. Tidak lama kemudian dia melanjutkan kata-katanya :

“Aku tidak pernah menyangka sama sekali bahwa Mas Wicak sampai saat  menjelang ajalnya pun masih tetap memperhatikanku. Oh, Mas Wicak semoga engkau mendapatkan ketenteraman dialam sana dan bergembira bisa melihat semua anak-anakmu menjadi orang yang baik serta hidup senang.”

Aku hanya mengaminkan apa yang dikatakannya dan merasa ikut bersedih dan kasihan kepada ibu yang sudah tua tersebut. Kurasakan sekali pada akhir perkataannya tersembunyi rasa yang sangat sedih dan kecewa karena dia tidak bisa memiliki anak.

Aku pun seperti hanyut ikut merasakan kesengsaan hidup di hari-hari tua seperti itu, badan yang mudah sakit, hidup sendiri dalam gubug yang sudah reyot dimakan umur dan apa yang bisa dimakan untuk sehari-harinya, atau jika kepala sedang sakit atau sedang sakit perut pada malam hari  siapa yang akan membantu. Tidak aneh kalau bapak dahulu berpesan demikian kepadaku.

Teringat akan amanat almarhum ayah dan baktiku terhadapnya dengan suara yang tulus kemudian aku berkata :

“Ibu, engkau adalah ibuku, jika ibu bersedia mari kita hidup bersama dirumah saya dan ibu akan saya anggap sebagai ibuku sendiri dan akan saya rawat sampai akhir nanti.”

Mendengar apa yang telah kukatakan, seketika itu juga dia merangkulku dan menangis keras-keras seperti seorang anak kecil yang kehilangan mainannya. Disela-sela suara tangisnya terdengar kata-katanya  yang terbata-bata tidak lancar :

“Aduh nak Bagas, anakku sayang. Tidak pernah kuperkirakan sama sekali sedemikian besar pengakuanmu padaku…. Oh, Mas Wicak yang kucintai… aku tak pernah mengira ternyata engkau memberikan anak yang sangat berbakti dan menghormati orang tua, kepadaku.

Mas Wicak kekasihku…….. Walaupun aku tidak jadi menjadi istrimu…….. Tetapi di akhir hidupku ini…… engkau telah memberikan rasa bahagia kepadaku. Terima kasih Mas…… dan aku akan selalu mendoakanmu agar engkau mendapatkan kebahagiaan di alam sana….”

Untuk sementara waktu, aku sendiri hanya bisa diam mematung dan tidak bisa berkata sepatah katapun. Tenggorokanku seakan tersumbat oleh rasa sedih dan kasihan kepada ibu tua tersebut. Bahkan tanpa kusadari dan tak tertahankan lagi dari pelupuk matakupun sampai meneteskan mata. Begitu pula hal nya dengan Bapak Sastro yang mengantarku terlihat menitikkan pula air matanya karena luapan rasa sedih dan haru.

Setelah keadaan menjadi reda dan kemudian kami kembali duduk ditempat masing-masing, lalu ibu tua tersebut pun berkata :

“Bagas, anakku sayang. Hari ini aku merasakan sebagai hari yang paling membahagiakan dalam hidupku, karena sejak hari ini aku merasa mempunyai seorang anak yang berbakti. dan  kamulah orangnya. Anak peninggalan Mas Wicaksana yang kucintai, walaupun aku tidak mengandung dan melahirkan serta menyusuinya sendiri. Tetapi ………..…”

Ibu tua itu berhenti sebantar sambil menghapus air mata yang masih terus mengalir dari sudut matanya dan membasahi pipi yang sudah keriput, sejenak kemudian melanjutkan kata-katanya :

“Tetapi engkau tidak usah membawaku untuk pergi kerumahmu, Nak. Semua ucapanmu yang tulus itu sudah cukup membuat ku berbahagia dan mulia rasa hatiku. Hanya saja, aku mempunyai sedikit permintaan padamu.”

“Ya, apakah itu bu?” tanyaku.

“Aku ini sudah sangat tua, saat ini umurku sudah Sembilan puluh tiga tahun, mau kemana lagi. Paling-paling juga akan kembali kepangkuan Tuhan Yang Memberikan Hidup. Bilamana nanti kalau sudah tiba waktunya aku harus menghadap kepada-Nya, aku minta agar engkau mau memakamkan jasadku disamping makam ayahmu.

Agar tidak menumbuhkan rasa salah paham terhadap semua saudaraku, saya meminta kesediaan Pak Sastro untuk menjadi saksi tentang permintaanku ini.”

“Iya bu, akan saya laksanakan pesan ibu,” jawabku dan Pak Sastro pun manyatakan kesanggupannya, kemudian akupun berpamitan untuk pulang kerumah masing-masing.

Sesampainya tiba di rumah, aku ceriterakan semua kejadian itu pada istriku, dan diapun ikut merasa sedih dan terharu.

Tiga hari kemudian setelah pertemuan itu, pada pagi-pagi hari sekali istriku sudah menyiapkan beras dan oleh-oleh lainnya serta mengajak menjenguk bu Winata. Akan tetapi sebelum kami sempat berangkat, tiba-tiba datanglah utusan Pak sastro yang membawa berita bahwa bu Widia Winata meninggal dunia, tadi pagi sebelum fajar. Seolah-olah  diberikan aba-aba kami berdua bersama-sama menyebut :

“Inna lillahi wa, inna ilaihi raaji’uun.”

Kami berdua jadi berangkat, tetapi bukan lagi untuk mengunjungi dan menjenguk bu Widia akan tetapi akan merawat jenazahnya.

Pada siang hari itu, selesai pemakaman, aku duduk di samping makam ayah dan berbicara seakan-akan bapak bisa mendengar apa yang kukatakan :

“Pak, saya sudah melaksanakan pesan bapak dan juga memenuhi permintaan bu Widia. Semoga ini semua bisa membuat rasa aman dan tenteram di alam sana.”

Saudaraku pembaca semuanya dari gubahan dan reka ceritera tersebut yang berhubungan dengan amanat dapat kita ambil hikmahnya untuk pesan moral sebagai bahan perenungan dalam kehidupan kita masing-masing.

Sebuah amanat bisa juga dikatakan sebagai sebuah perintah yang diterima dan harus dilaksanakan tanpa membedakan apakah amanat itu dari orang lain yang lebih tua apalagi kalau amanat tersebut berasal dari ayah, ibu, kakek atau nenek, dengan catatan bahwa amanat tersebut tidak bertentangan dengan kehendak dan ajaran-Nya.

Sebuah Nasehat mengatakan bahwa Perintah Orang Tua itu wajib dan harus laksanakan setelah Perintah Allah dan Utusan-Nya. Dan selanjutnya ada pendapat yang mengatakan bahwa setelah taat kepada Perintah Allah dan Utusan-Nya barulah taat kepada perintah guru lalu kepada orang tua tetapi ada pula pendapat lain yang mengatakan bahwa taat pada  keduanya yaitu antara guru dan orang tua adalah dalam posisi atau tingkatan yang sama atau sederajat.

Namun jika diperhatikan pada umumnya apabila seorang guru atau orang tua memberikan amanat pasti mempunyai maksud untuk kebaikan para anak atau muridnya agar supaya senantiasa selalu sehat dan selamat. Dan tidak bisa dipungkiri bahwa amanat orang tua atau guru itu adalah merupakan sebuah harapan juga sebuah doa.

Misalnya saja dalam sebuah contoh ringan pada kehidupan nyata sehari-hari, yaitu ketika anak hendak bepergian keluar rumah sebelumnya pasti akan diberikan amanat oleh orang tuanya, yaitu sebuah saran agar berhati-hati dalam berkendaraan di jalan. Akan tetapi pada pelaksanaannya yang terjadi adalah setelah berada di jalan raya secara spontan anak tersebut tancap gas dan selap-selip ngebut, dan dia mungkin menikmati hal ini.

Hal itu dilakukan mungkin karena tidak pernah dipikirkan oleh dia  sebelumnya apabila nasib baik tidak sedang menyertainya, kerugian ringan yang akan dialami apabila dia ditilang polisi yang menyebabkan lembaran uang melayang dan yang agak parah apabila akibat dari hal tersebut terjadinya sebuah kecelakaan.

Padahal maksud dari orang tua dalam memberikan amanat tersebut adalah bahwa agar anak tersebut sampai pada tujuan serta pulang kembali dalam keadaan selamat dan mereka akan sangat berbahagia karena bisa berkumpul kembali di rumah.

Akan tetapi seringkali terjadi bahwa amanat tersebut menjadi salah karena penafsiran atau pengertian yang keliru atau dianggap amanat tersebut tidak begitu penting atau mungkin tidak menyentuh kepentingan pribadinya secara langsung bagi yang diberikan amanat sehingga bahkan mungkin amanat tersebut  diabaikan.

Sebuah contoh ringan dari sebuah amanat yang salah dalam menafsirkannya.

Ada dua orang yang masing-masing diberikan kepercayaan oleh tuannya untuk mengelola sebuah toko agar bisa mengembangkan usaha tersebut dengan pesan bahwa kalau menghutangkan janganlah ditagih dan kalau mau berangkat atau pulang kerja membuka toko jangan terkena terik panas matahari agar tidak sakit.

Dalam perjalanannya toko yang dikelola oleh orang pertama ternyata jauh lebih maju dan modalnyapun menjadi semakin berlipat ganda apabila dibandingkan dengan toko yang dikelola oleh orang kedua dan akhirnya menjadi bangkrut. Hal tersebut terjadi karena salah penafsiran dan salah pengertian mengenai amanat tersebut.

Pengertian dari orang yang pertama adalah bahwa jangan menagih kalau menghutangkan, maka dia tidak pernah menghutangkan sehingga tidak ada yang harus ditagih sedangkan berangkat dan pulang kerja jangan terkena sinar matahari diartikannya dengan berangkat membuka toko lebih pagi dan menutup toko lebih malam dibandingkan dengan toko yang lainnya agar tidak kena panas matahari, sehingga tokonya pun semakin dikenal dan semakin banyak pembeli yang berbelanja di tokonya.

Sedangkan pengertian dari orang yang kedua, bahwa jangan menagih bila menghutangkan diartikan bahwa betul-betul tidak menagih waktu menghutangkan dan jangan kena terik panas matahari ditasirkannya bahwa pergi dan pulang harus dengan naik becak atau kendaraan lainnya bahkan kalau perlu membeli sendiri kendaraan tersebut agar tidak terkena panas sinar matahari atau malahan mungkin demi gengsi dan harga diri, sehingga sebagai akibatnya modalnyapun semakin menipis dan akhirnya bangkrut.

Ada hal lain yang masih dapat diingat bahwa bagaimana orang tua membesarkan anak, menyayangi serta memenuhi semua kebutuhan yang diperlukan dengan memberikan segalanya yang terbaik. Bila anak tersebut ingin membalas budi baik yang telah diterimanya mungkin tidak akan pernah sanggup untuk membalas kebaikan tersebut.

Dan harus yakini tidak ada orang tua di dunia ini yang menginginkan keburukan terjadi pada anak-anaknya, oleh karena itu sudah sepantasnya apabila anak selalu mengedepankan rasa bakti kepada kedua orang tua nya, dengan cara yang baik dan terpuji.

Ketika dahulu masih sebagai anak dan sekarang dengan berjalannya waktu sudah menjadi orang tua tentunya akan sangat mengerti dan menyadari betapa pentingnya rasa bakti tersebut.

Menunjukkan rasa bakti dengan menyenangkan dan membahagiakan hati orang tua bisa dilakukan dari hal yang paling ringan yaitu  berhubungan melalui telepon walaupun itu hanya ucapan sayang dan menanyakan tentang kesehatannya dan untuk selanjutnya bisa dengan melakukan kunjungan secara langsung bahkan kalau perlu membantunya dengan hal terbaik yang sanggup dilakukannya.

Rasa bakti bisa juga ditunjukkan dengan merawat orang tua yang sudah lanjut usia dan bukan menerimanya sebagai beban, dan harus merasa bahagia karena hal tersebut adalah sebuah anugerah karena telah diberikan kesempatan untuk melakukan hal yang baik di hadapan Allah.

Oleh karena itu dalam menunjukkan rasa bakti dan membahagiakan orang tua sebaiknya dilakukan pada saat orang tua masih hidup dan masih sehat, apabila orang tua sudah meninggal dunia yang tinggal hanya rasa menyesal serta tidak ada yang bisa dilakukan lagi kecuali mendo’akannya.

Sedangkan do’a yang dipanjatkan tidak selalu dikabulkan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa, walaupun do’a tersebut dibacakan oleh seseorang yang dapat dikatakan sebagai orang yang tekun dalam beribadah sekalipun, dan logika manusia biasa atau manusia yang awam akan berpendapat bahwa apalagi kalau do’a tadi dibacakan oleh orang yang masih jauh jika dikatakan dengan ukuran sebagai orang yang beriman.

Andaikata dengan mengundang dan meminta bantuan banyak orang untuk mendo’akan dengan maksud agar mendapat pengampunan dan membahagiakan orang yang dido’akan dengan perkataan lain bahwa do’a tersebut dikabulkan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa, yang menjadi pertanyaan adalah sejauh mana niat mereka membacakan do’a tersebut.

Karena do’a yang dibutuhkan bukan hanya sekedar mengucapkan hafalan dan rangkaian bahasa yang indah, bukan enaknya suara bila didengar akan tetapi apakah do’a tersebut dibacakan dari ketulusan dan keiklasan si pendo’a atau ada faktor lain yang mempengaruhinya.

Misalnya hanya karena ikiut-ikutan, atau merasa tidak enak kalau tidak datang ikut berdo’a karena kenal baik, atau kalau berdo’a di bapak itu konsumsinya serba enak, atau lagi kalau berdo’a disana diberikan amplop yang isinya lumayan dan lain sebagainya.

Karena pada intinya bahwa berdo’a itu sendiri adalah bercakap-cakap dengan Tuhan. Bukan lidah yang hanya bertingkah tetapi biarlah hati yang menyanyi dan memuji.

 

Tuhan Yang Maha Mendengar pasti telah mendengarkan do’a yang telah dipanjatkan akan tetapi keberhasilan dari sebuah do’a yang dipanjatkan tersebut bukanlah merupakan sesuatu yang bisa direncanakan, karena keberhasilan atau dikabulkannya sebuah do’a itu semata-mata karena pemberian, karunia atau berkah dari Tuhan itu sendiri.

 

Mungkin sebenarnya Tuhan tidaklah seperti anggapan manusia pada umumnya atau dapat ditafsirkan dengan mudah seperti di atas, karena baik kepada mereka yang disebut beriman atau tidak beriman, Tuhan tetap menyayangi dan selalu menginginkan keselamatan mereka agar semuanya bisa kembali kepada-Nya.

Dan semua uraian tersebut diatas itu hanyalah sebuah perkiraan dan pola pikir manusia yang penuh dengan kekurangan dan tidak pernah mengetahui dan mengerti apa yang sebenarnya terjadi atau hikmah dibalik suatu peristiwa atau yang nampak oleh pandangan mata.

Sekali lagi dalam usaha menunjukkan rasa bakti dan membahagiakan orang tua sebaiknya dilakukan ketika orang tua tersebut masih hidup dan sehat serta masih bisa menikmatinya sedangkan sebagai anak masih diberikan kesempatan untuk dapat menyaksikannya

Wallhu A’lam Bisshawab.

BANDUNG–INDONESIA, JANUARI – 2015

Ceritera Suryadi WS

(Gubahan Ki Ageng Bayu Sepi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *