T e r s e n y u m

senyum-3SUATU KENYATAAN BAHWA DALAM MENJALANI KEHIDUPAN SEHARI-HARI BAHWA MANUSIA SELALU DIHADAPKAN PADA  PERMASALAHAN KEMUDIAN MENGANALISANYA DAN BERUSAHA  MENYIMPULKAN LALU MENGAMBIL KEPUTUSAN.

BAIK ATAU BURUKNYA DARI SEBUAH KEPUTUSAN YANG TELAH DIAMBIL AKAN MENENTUKAN LANGKAH KEDEPANNYA KELAK DI KEMUDIAN HARI.

DISADARI ATAUPUN TIDAK DISADARI APABILA BENAR-BENAR DIPERHATIKAN BAHWA HIDUP DAN TINGKAH LAKU MANUSIA LEBIH BANYAK DIPENGARUHI OLEH SEBERAPA BESAR PREDIKAT ATAU SEBUTAN YANG DIBERIKAN ORANG LAIN KEPADANYA.

Reka ceritera ini diawali ketika pada suatu hari Bapak Lukarsani menerima sepucuk surat dan kemudian surat tersebut dibuka serta dibacanya yang isinya antara lain adalah sebagai berikut :

Nomor     :  037/BS/12/2014

Perihal     :  Permohonan Bantuan  untuk pengisian ceramah

Lampiran  :  Jadwal dan Susunan Acara Pertemuan.           

 

K e p a d a :

Yth. Bapak Lukarsani

di  

Tempat                                                                                                    

 Dengan hormat,

 Dalam rangka penyelenggaraan pertemuan per tiga tahunan yang akan kami laksanakan di Hotel A di Kota B, dan rencananya dihadiri oleh semua anggota perkumpulan yang tersebar di berbagai tempat.

 Sehubungan dengan hal diatas kami Panitia Penyelenggara memohon  kesediaan Bapak untuk dapat membantu terlaksanannya kegiatan yang kami maksud dengan mengisi acara ceramah sebagai bahan pembekalan dalam hidup bermasyarakat bagi para peserta.

 Besar harapan kami Bapak berkenan mensukseskan acara tersebut pada waktunya, adapun mengenai transportasi, akomodasi dan lain-lainnya disediakan oleh panitia sesuai dengan yang tercantum pada lembaran jadwal dan susunan acara tersebut sebagaimana terlampir.

 Demikian surat ini kami sampaikan, atas perkenan dan bantuan serta kerja sama yang baik kami ucapkan terima kasih

Hormat kami,

Ketua Panitia

 

Setelah membaca isi surat tersebut maka timbul beberapa analisa dan   pertimbangan  dalam dirinya :

 

1. Bila dilihat dari lampiran surat yang dikirim, yaitu Jadwal dan Susunan Acara Pertemuan menunjukkan bahwa mereka ini adalah sebuah kelompok orang-orang yang dalam melaksanakan kegiatan pertemuan  selalu bertelanjang atau tidak mengenakan pakaian sama sekali, baik itu  lelaki ataupun perempuan.

2. Sekarang mereka akan mengadakan pertemuan per tiga tahunan, berarti kelompok tersebut sudah sangat sering melakukan pertemuan semacam ini dan tentunya banyak pula pihak yang sudah mengetahui.

3. Dengan beberapa hari mengadakan pertemuan di sebuah Hotel Mewah di pesisir pantai sebuah pulau dimana biasa mereka berkumpul, tentunya peserta atau anggota dari kelompok ini bukanlah orang-orang biasa atau dengan perkataan lain orang yang mampu di bidang materi.

4. Aku tidak mau tahu apa urusan mereka dalam pertemuan tersebut, akan tetapi membaca surat permintaan yang disampaikan kepadaku  adalah permohonan pengisian ceramah tentang pembekalan dalam hidup bermasyarakat, berarti mereka menyadari bahwa selain berkumpul dengan kelompoknya sendiri mereka juga berkumpul dengan masyarakat lain pada umumnya. Dan ini merupakan suatu gagasan dan pemikiran yang sangat baik, kalau untuk kepentingan itu aku sangat bersedia untuk membantunya.

5. Apalagi sebagai tamu pembicara dalam menyampaikan materi pada  pertemuan tersebut tidak memakan waktu yang terlalu lama.

Akhirnya diambilnya keputusan tetap dalam hatinya :

“Baiklah kalau demikian hal nya aku akan mengirim surat balasan untuk menerima permintaan ceramah tersebut, hitung-hitung sebagai sebuah pengalaman yang baru.”

Pada hari yang telah ditentukan, Bapak Lukarsani dijemput oleh Panitia Penyelenggara di Bandara dan agar tidak menyulitkan penjemputan atau memakan waktu lagi nantinya untuk menghubungi pada saat akan menyampaikan materi ceramah maka Bapak Lukarsani ditempatkan pada Hotel yang sama.

Setelah mengurus segala keperluan dan persyaratan untuk menginap atau check in, kemudian Bapak Lukarsani diantarkan pergi kekamarnya tempat menginap di hotel yang sama dan hanya berbeda satu lantai dengan tempat pertemuan berlangsung yang berada di lantai paling atas.

Setelah beristirahat sejenak dan tidak lama kemudian datanglah seseorang yang mengetuk pintu kamarnya.

“Tok, tok, tokkkk………Permisiiiiiiiiiiii………” suara ketukan dari luar pintu.

“Oh ya, tunggu sebentar,” sahut Bapak Lukarsani dari dalam kamarnya, lalu dibukanya pintu kamar tersebut : “ Dengan siapa dan mau bertemu siapa ya?”

“Pak saya adalah Panitia Penyelenggara Pertemuan. Kami bermaksud mengantar Bapak untuk meninjau lokasi dan melihat suasana rapat dan para pesertanya agar pada besok hari Bapak akan lebih mudah untuk menyesuaikan dalam penyampaian materi,” demikian kata orang yang berpakaian rapih dan mengenakan sebuah tanda yang menunjukkan bahwa dia adalah salah seorang dari panitia penyelenggara pada pertemuan tersebut, dan  menjelaskan maksudnya.

“Baiklah kalau demikian, tunggu sebentar saya mau ganti baju dulu,” jawab Bapak Lukarsani.

Tidak lama kemudian tampaklah Bapak Lukarsani yang mengenakan setelan celana dan berjas hitam dengan kemeja tangan panjang serta berdasi berjalan dengan gagahnya diantar oleh salah seorang Panitia Penyelenggara menuju ruangan tempat pertemuan dengan maksud untuk memperkenalkan Bapak Lukarsani sebagai penceramah kepada para peserta yang sedang asyik mengikuti jalannya pertemuan.

Setelah pintu diketuk dan dibukakan, alangkah terkejutnya Bapak Lukarsani ketika melihat sebuah kenyataan bahwa para peserta pertemuan tersebut tidak mengenakan pakaian sama sekali dan hanya dia sendiri yang berpakaian rapih.

Memang pernah terpikirkan sebelumnya bahwa yang akan dihadapi adalah sebuah kelompok orang yang tidak mengenakan pakaian pada saat melakukan kegiatan di lingkungannya, tetapi sangatlah berbeda hal nya ketika hanya sekedar membayangkan sebuah keadaan apabila dibandingkan dengan melihat kenyataan yang sebenarnya dan berada di depan matanya.

Ada sebuah peribahasa yang mengatakan : “Seberat-beratnya mata memandang, masih jauh lebih berat bahu yang memikul.”

Walaupun dari mereka kebanyakan adalah kaum muda-mudi, begitu Bapak Lukarsari memasuki ruangan, mereka secara serentak berdiri dan menganggukkan kepala sebagai tanda memberikan penghormatannya, namun tetap saja hal tersebut membuatnya jadi terkejut.

Sekembalinya dari ruangan pertemuan dan memasuki kamarnya sendiri, Bapak Lukarsani duduk termenung karena bingung mengingat peristiwa yang baru saja dilihatnya maka kembali berkecamuk beberapa pemikiran dari dalam benaknya :

“Besok andaikata saya jadi memberikan ceramah sebagai bahan pembekalan hidup bermasyarakat, apakah saya juga harus menyesuaikan diri dengan mereka yang artinya sama-sama tidak memakai pakaian atau apakah saya harus membedakan diri dengan mereka.

Ada satu pendapat yang mengatakan bahwa, agar materi yang disampaikan dapat dengan mudah diserap dan pembicaraan juga mudah diterima maka seorang penceramah harus memposisikan dirinya sama dengan para peserta.

Jadi disini artinya akupun harus telanjang sama seperti mereka agar tidak ada perbedaan sehingga tidak akan terjadi kesenjangan dan pembicaraanpun akan mengalir serta dapat diterima dengan lancar.

Tetapi di sisi lain hati nuraniku mengatakan tidak harus sama dengan mereka, justru aku sebagai penceramah harus memberikan contoh atau teladan dihadapan para peserta bahwa seseorang itu harus mempunyai sebuah sikap.”

Karena kebingungannya hingga sampai tengah malam Pak Lukarsari tidak dapat tidur karena belum bisa memutuskan tindakan apa yang akan diambil, yaitu apakah besok pada waktu memberikan materi ceramah mengenakan setelan jas yang sudah dipersiapkan dari rumah atau tidak memakai apapun sama sekali.

Dan akhirnya ketika subuh menjelang pagi hari barulah pak Lukarsani dapat memejamkan matanya dan sejenak tidur karena hatinya menjadi tenang setelah menentukan kesimpulan dan menetapkan akan mengambil  keputusan yang akan dilakukan besok hari dengan melalui berbagai pertimbangan dan menurutnya masuk akal, yaitu antara lain :

1. Saya harus bisa menyenangkan hati para peserta dan tidak membuat garis pemisah yang artinya akan menyamakan diri dengan mereka dan bertelanjang.

2. Ini adalah merupakan pengalaman yang pertama artinya baru pertama kali ini aku dalam memberikan ceramah tanpa mengenakan pakaian sama sekali selama hidup.

3. Kegiatan semacam ini tentunya sudah sering dilakukan artinya pihak hotel pun tidak asing lagi dan sudah sangat mengerti.

4. Honorarium yang saya terima disini jumlahnya berkali-lipat dari besar apabila dibandingkan dengan honorarium yang saya terima ketika memberikan ceramah ditempat lain dengan kondisi yang berbeda.

5. Waktu yang diperlukan untuk menyampaikan materi ceramah tidak terlalu lama, hanya beberapa jam saja.

Pada keesokan harinya setelah bangun dari tidurnya dan mandi pagi serta badan sudah terasa segar, sambil duduk menunggu waktu dan menanti giliran untuk menyampaikan materi ceramah, pak Lukarsani mempersiapkan dan menyusun semua bahan yang akan disampaikan.

Dengan tidak menunggu waktu terlalu lama kemudian seorang anggota panitya menghampiri pintu kamar dan mengetuknya.

“Tok…tookkk….tookkkkk… permisi,” suara ketukan dari luar pintu.

“Ya silakan masuk,” jawab Pak Lukarsani dari dalam.

“Permisi pak,” kata penitya tersebut.

“Ya, ada keperluan apa ?” tanya Pak Lukarsani.

“Saya datang untuk menjemput dan mengantar Bapak karena sekarang saatnya bapak menyampaikan materi ceramah,” jawab panitya tersebut dengan hormat dan sopan.

“Terima kasih, kebetulan saya juga sudah siap, mari kita pergi ke ruang pertemuan,” kata Pak Lukarsani

Dengan langkah yang gagah dan rasa yakin diri yang tinggi, sambil membawa sebuah buku pak Lukarsani berjalan menuju ruangan tempat pertemuan itu berlangsung, dengan tanpa mengenakan pakaian walau selembar benangpun.

Begitu memasuki ruangan alangkah terkejutnya Pak Lukarsani demikian juga para peserta yang hadir pada saat itu. Hal tersebut disebabkan karena semua peserta sangat menghargai dan menghormatinya maka mereka hadir dengan mengenakan pakaian resmi yaitu setelan jas yang rapih serta siap mendengarkan apa yang akan disampaikan oleh Pak Lukarsani sebagai penceramah sedangkan Pak Lukarsani sendiri adalah merupakan satu-satunya orang yang tidak mengenakan pakaian di dalam ruangan itu.

-o0o-

Saudara pembaca yang baik hati, bahwa cerita diatas dengan judul  “Tersenyum” adalah hanya sebatas sebuah reka cerita dengan maksud untuk menggambarkan bahwa jika seorang manusia apakah itu kaum laki-laki ataupun perempuan alangkah baiknya jika mau menjadi dirinya sendiri. Ada sebuah pendapat yang mengatakan :  “Bahwa siapa saja jika mencoba untuk meniru orang lain pasti akan mengalami kegagalan.” 

Dalam kehidupan sehari-hari bermasyarakat manusia terkadang menentukan ukuran atau nilai tersendiri tetang kesuksesan hidup dan biasanya bersifat materi dan segala sesuatu yang nampak atau yang terlihat. Sementara itu Tuhan melihat dengan ukuran yang berbeda.

Disamping hikmah atau pesan moral yang bisa diambil dari ceritera diatas dengan judul “Tersenyum” dengan sedikit humor adalah untuk mengajak para pembaca juga ikut tersenyum.

Untuk agama tertentu senyuman adalah merupakan sebuah ibadah, dan untuk agama lain senyuman adalah merupakan bentuk dari ungkapan rasa syukur, hati yang gembira, rasa rendah hati atau menunjukkan bahwa seseorang tersebut memiliki jiwa kepemimpinan.

Dalam kaitannya dengan hal diatas pernahkah kita melihat wajah orang yang tidak nampak pernah tersenyum? Bagaimana perasaan kita saat melihat hal itu ? Tetapi yang jelas, apa pun perasaan yang kita miliki, pada dasarnya memandang wajah orang yang tidak mau tersenyum adalah amat tidak menyenangkan dan menyebalkan.

Namun dalam masalah ini bukanlah berarti kita juga harus tersenyum-senyum sendiri tanpa sebab dan dimana-mana agar enak dipandang serta tidak menyebalkan bagi orang lain yang memandang.

Jika memang menginginkan tersenyum maka akan lebih baik dan lebih mudah apabila melakukannya dengan melalui sarana, misalnya teman, benda, makhluk hidup dan sebagainya. Maka dengan demikian akan ada sebab untuk bisa tersenyum dan ada alasan untuk melakukannya.

Adapun cara untuk dapat tersenyum itu bisa meliputi beberapa hal antara lain seperti memikirkan sesuatu yang lucu, mengenang teman, memikirkan hal yang aneh-aneh yang terjadi, berkumpul bersama teman-teman kemudian  bercerita yang menggelikan dan sebagainya.

Karena hal tersebut sangatlah berbeda apabila sudut bibir manusia itu  tertarik keatas dan bukannya turun ke bawah. Bila sudut bibir tersebut tertarik ke atas, maka wajah akan lebih nampak cerah dan membuat orang-orang di sekeliling nya merasa aman. Namun sebaliknya, apabila sudut bibir tersebut turun kebawah, maka seluruh rona muka manusia akan tampak kusut dan membuat orang-orang di sekeliling nya akan merasa  enggan untuk mendekat.

Hal itu bisa saja membuat orang lain berkomentar atau beranggapan bahwa : “Orang itu judes, orang itu jahat, orang itu galak, orang itu menyeramkan dan lain sebagainya”

Sebab senyum itu menunjukkan keramahan yang terpancar dari dalam. Selain hal diatas, senyum juga bisa melegakan hati diri sendiri. Dengan tersenyum, orang akan merasa lebih santai dan jauh dari perasaan tegang. Manusia sangat memerlukan senyuman, bukan hanya untuk membahagiakan orang lain, melainkan juga untuk membahagiakan dan menenangkan hati nya sendiri.

Karena dengan tersenyum itu memberikan sensasi untuk otak dan mengalirkan darah ke seluruh tubuh dengan lancar.

Senyum selalu memiliki arti keindahan, ketenangan, kedamaian dan kasih sayang. Oleh karena itu apa pun yang sedang kita alami saat ini, baik itu sedang sudah atau senang, santai atau tegang, maka berusahalah untuk tetap tersenyum.

Tersenyumlah untuk memandang semua hari-hari yang kita jalani dan  kita akan merasakan bahwa keramahan itu tidak hanya kita dapatkan dari luar pribadi kita, melainkan juga dari dalam diri kita sendiri.

Dalam kehidupan sehari-hari cukup banyak yang dapat kita temukan antara lain adanya kejahatan, tindak kekerasan, ketidak adilan dan keangkara murkaan yang terjadi di sekeliling kita. Hal tersebut bisa   disebabkan karena banyaknya orang yang tidak mau untuk mengakui kekurangan dan kelemahan dirinya sendiri.

Selanjutnya orang merasa tidak mau pula untuk bersikap ramah terhadap dirinya sendiri atau dengan perkataan lain “merasa selalu benar” apapun yang dilakukan, dan sebagai akibatnya manusia tidak mau  lagi bersikap ramah pada sesamanya. Berkaitan dengan hal diatas maka  tidak ada lagi senyum yang nampak dan tersungging di bibir.

Sebagai sebuah pilihan apakah kita juga ingin ikut serta menyemarakkan suasana penuh dengan kekerasan dan ketidak keramahan ini ataukah sebaliknya ?

Dalam situasi yang dirasakan semakin memburuk, nampaknya senyuman susah untuk didapatkan serta telah menjadi harta yang berharga dan mahal harganya. Karena senyuman semakin langka dan semakin sulit untuk dicari.

Keagamaan selalu mengajarkan kasih dan sayang kepada sesamanya. Karena dalam kasih akan selalu ada senyum keramahan, dan di dalam senyum keramahan, tidak akan ada kekerasan dan keangkara murkaan serta ketidak adilan.

Dari sebuah pilihan, apakah kita juga mau tersenyum dan berperan serta untuk mengembalikan kedamaian dari keadaan yang tidak menyenangkan, pada ruang lingkup yang kecil yaitu yang berada di sekitar kita masing-masing melalui kasih Allah dalam kehidupan kita sehari-hari ?

Tetapi bukan seperti sebuah anekdot di bawah ini :

Sekali senyuman curiga hilang.

Dua kali senyuman terjadi persahabatan.

Tiga kali senyuman hati penuh damai.

Empat kali senyuman bebanpun menjadi ringan.

Lima kali senyuman rejeki datang.

Enam kali senyuman gigi kering.

BANDUNG–INDONESIA, DESEMBER – 2014

Mutiara hati

(Gubahan Ki Ageng Bayu Sepi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *