Sebuah Kesetiaan

SETIAP ORANG PASTI PERNAH DIJATUHI DAN MENJATUHKAN suami istri---1PERASAAN CINTA YANG BERJUTA RASANYA DAN DIAWALI DENGAN ADANYA PERTEMUAN DAN PERKENALAN, BERSEMI KARENA PERHATIAN, BERTAHAN KARENA KESETIAAN AKAN TETAPI BISA HANCUR BERANTAKAN KARENA KEDUSTAAN.

DAN SETIAP MANUSIA MEMILIKI  POTENSI UNTUK TIDAK SETIA DENGAN PERKATAAN LAIN KESETIAAN TIDAK SELALU DIMILIKI OLEH SETIAP ORANG KARENA HAL ITU TIDAKLAH MUDAH,  MUNGKIN  KARENA TERLALU BANYAKNYA GODAAN UNTUK MENJAGA KESETIAAN DENGAN PASANGAN HIDUPNYA.

KESETIAAN ADALAH PILIHAN DAN KESETIAAN CINTA YANG BERTAHAN SAMPAI AKHIR HAYAT ADALAH MERUPAKAN KEBAHAGIAAN YANG TIADA TARA.

MUDAH-MUDAHAN SAJA CERITERA INI DAPAT MENJADIKAN SEBUAH INSPIRASI BAGI YANG MEMBACANYA.

 

Pada suatu peristiwa dikisahkan seseorang yang bersama Sashongko mengundurkan diri dari kedudukan yang telah dijabatnya selama ini yaitu sebagai seorang direktur di salah satu perusahaan besar dan terkenal dengan alasan akan merawat istrinya Widia yang sekarang ini sedang menderita sakit karena gangguan fungsi otak.

Keadaan Widia saat ini sudah menjadi seperti bayi, tidak bisa lagi berbuat apa-apa, bahkan untuk makan, minum, mandi dan buang airpun harus dibantu. Karena rasa kasih dan sayang terhadap istrinya ini, maka Sashongko memutuskan untuk merawat dengan tangannya sendiri dan tidak pernah terpikirkan sama sekali dalam benaknya akan menyewa perawat atau yang sejenisnya karena dalam hatinya dia merasa bahwa Widia, istrinya itu adalah merupakan perempuan yang sangat istimewa dalam hidup ini yang di anugerahkan Tuhan baginya.

Namun pernah sekali terjadi suatu peristiwa yakni ketika Sashongko sedang membersihkan lantai bekas ompol akan tetapi di luar kesadarannya, Widia malah menyerakkan air seninya sendiri kemana-mana, sehingga akhirnya hal ini membuat Sashongko merasa marah dan jengkel serta kehilangan kendali emosinya. Kemudian dia menepis tangan dan memukul betis kaki Widia, guna menghentikannya.

Dan setelah kejadian pemukulan tersebut Sashongko merasa sangat menyesal dan berkata dalam hatinya :

“Apa keuntungannya bagiku dengan memukul dia, karena apa yang telah dilakukannya itu di luar kesadaran pikirannya.  Walaupun pukulanku itu tidak keras, akan tetapi pukulan tersebut tetap mengejutkannya. Karena selama hampir 50 tahun ini aku menikah dengannya, belum pernah aku menyentuhnya karena kemarahan, namun kini di saat-saat ia sangat membutuhkan tenaga dan bantuanku, aku malahan memperlakukannya seperti itu. Maafkan aku Widia atas perbuatanku tadi dan Ampunilah kesalahan hamba-Mu ini ya Allah, ya Tuhan.”

Demikianlah Sashongko meminta maaf kepada Widia istrinya atas hal yang telah dilakukannya itu tanpa perduli apakah Widia mengerti atau tidak serta mohon ampunan kepada Tuhan atas kekhilafan yang telah diperbuatnya, sambil menangis dalam hati.

Suatu hari tepatnya pada tanggal 14 Pebruari dimana orang-orang  menyebutnya sebagai Hari Kasih Sayang atau Valentine Day, dan di   tanggal itu pulalah pada hampir 40 tahun yang lalu merupakan saat yang sangat membahagiakan bagi mereka berdua, karena pada tanggal itu, Sashongko menikahi Widia.

Dan pada hari ini di tanggal yang sama yang merupakan tanggal istimewa, setelah Sashongko memandikan Widia istrinya kemudian menyiapkan makan malam dengan menu kesukaan Widia pada waktu sedang sehatnya.

Ketika hari sudah menjelang malam dan waktunya untuk tidur Sashongko duduk dikursi dekat pembaringan lalu mencium pipi dan menggenggam tangan Widia, kemudian dengan memejamkan matanya dan mulailah  berdoa, suatu kegiatan rutin yang selalu ia lakukan pada setiap malamnya :

“Ya Allah, Tuhan Yang Maha Baik, Engkau mengasihi Widia istriku lebih dari aku mengasihinya, oleh karena itu jagalah kekasih hatiku ini ya Tuhan, sepanjang malam hari ini dan biarlah ia mendengar nyanyian malaikat-Mu. Amin.”

Di saat menggengam tangan istrinya dengan memejamkan mata sambil berdoa itulah dia teringat akan liku-liku perjalanan hidupnya hingga Widia menjadi istrinya.

Ceriteranya demikian, suatu ketika Sashongko yang tinggal di Bandung sedang mengunjungi saudaranya di Kota Malang, kemudian mendapat pemberitahuan bahwa dia harus mewakili perusahaan tempatnya bekerja untuk mengikuti Seminar di Jakarta.

Walau bagaimanapun juga dia harus pulang lebih dulu ke Bandung guna mempersiapkan semua bahan mulai dari materi sampai pakaian, untuk mengikuti seminar. Karena dipikirnya masih cukup waktu, kemudian pertimbangannya lebih baik pulang dengan naik ketera api saja maka dipilihnya Kereta Api Malabar Ekspres jurusan Malang-Bandung.

Sesampai di stasion Kutoarjo Kereta Api berhenti sebentar dan tidak lama kemudian terdengar sebuah pengumunan lewat pengeras suara bahwa Kereta Api akan segera diberangkatkan yang didahului dengan  alunan instrumental music keroncong dengan judul Sungai Serayu.

Kemudian : “Pritttt……….. prittt…………,” suara peluit yang ditiup Kepala Stasion, lalu Kereta Api pun mulai bergerak dan berjalan perlahan.

Tiba-tiba dengan agak terburu-buru masuklah seorang gadis dengan membawa sebuah koper dan mencocokkan nomor tempat duduk dengan nomor yang tertera pada tiketnya, kebetulan letak nomor itu berada disebelahnya.

“Maaf…mas,” katanya sopan. “Tadi di jalanan sedang macet, jadi saya datang  agak terlambat,” lanjutnya kemudian.

“Oh..ya… silakan,” kata Sashongko tanpa memperhatikan dengan jelas wajah gadis tersebut.

Karena kelihatannya agak kesulitan untuk menyimpan kopornya keatas bagasi, lalu Sashongko berdiri maksudnya akan membantunya. Akan tetapi pada saat dia melihat dan tahu siapa yang akan dibantunya tersebut tiba-tiba Sashongko menjadi terkejut, hatinya bergetar dan aliran darahnyapun seakan mendadak jadi berhenti.

Untuk sesaat gadis itupun juga terkejut setelah memandang Sashongko, akan tetapi kelihatannya dia bisa lebih cepat menguasai dirinya kemudian dengan tersenyum manis dan memikat langsung duduk di kursi disamping Sashongko.

Dan dengan senyuman yang sama seperti inilah yang dahulu membuat hati laki-laki Sashongko jatuh dan terpikat pada sepuluh tahun yang telah lalu.

Widiastuti, ya itulah nama gadis tadi.………. Pada sepuluh tahun yang telah lewat, pertemuan dan perkenalan mereka terjadi ketika mengikuti acara Malam Inaugurasi atau Malam Keakraban Mahasiswa baru di Kampus, waktu itu Sashongko adalah seorang mahasiswa senior.

Dan sejak malam itulah Sashongko menjadi sangat dekat dengan Widiastuti. Karena dia adalah seorang gadis yang cantik dan menawan dalam pandangan matanya, ramah dan familier serta serba sederhana segala tingkah lakunya.

Rasa cinta yang bersemi, semakin tumbuh dan berkembang, hingga akhirnya empat bulan setelah malam itu Widiastuti telah resmi menjadi pacar Sashongko. Kemanapun pergi mereka selalu berdua misalnya saja ke pusat perpustakaan di kampus, seakan seperti perangko dengan amplopnya yang tidak akan terpisahkan lagi.

Semakin hari hubungan tersebut menjadi semakin akrab, hingga pada suatu hari di sebuah tempat yang mempunyai kenangan, mereka berdua mengucapkan janji setia.

“Mas Sashongko, cintaku hanya untukmu seorang, oleh karena itu aku pun berharap Mas Sasangka juga setia kepadaku,” kata Widiastuti sambil menatap tajam kewajah Sashongko.

“Tidak ada yang bisa kubanggakan sebagai seorang laki-laki kecuali rasa cinta dan kesetianku padamu Widiastuti,” jawab Sashongko dengan penuh kasih sayang sambil menggengam erat tangan kekasihnya yang halus dan lembut itu.

“Aduhai Widia……kekasihku. Apabila kuperhatikan watak dan tingkah lakumu yang lemah lembut, gemulai, cantik serta sederhana yang selalu kokoh dalam kesetiaan dan berbakti kepada suami, juga punya tata krama yang baik. Untukku saat itu dunia terasa seakan terang benderang dan terbuka lebar karena rasa bahagia,” celoteh Sashongko dalam hatinya.

Akan tetapi Widiastuti adalah manusia biasa dengan segala kelemahan yang dimilikinya bisa mengingkari sebuah janji. Selama empat tahun   hubungan yang telah dipupuk agar tumbuh membesar dan suatu ketika menjadi hancur berantakan dan menjadi debu, pada saat hubungan tersebut tidak mendapat persetujuan bapak dan ibunya. Widiastutipun tidak dapat berbuat apa-apa untuk bisa melawan keinginan orang tuanya.

Sesuatu hal yang wajar ketika itu apabila ayah dan ibu Widiastuti menolak Sashongko, karena memang Sashongko bukanlah keturunan bangsawan atau orang yang berada. Suatu hal wajar juga jika ayah dan ibunya menginginkan anaknya hidup bahagia dan ingin mempunyai menantu yang hidupnya sudah mapan. Sedangkan Sashongko sendiri adalah anak seorang janda yang hidup selalu sederhana.

Pada saat itulah hati Sashongko menjadi tidak karuhan rasanya dan dunia seakan menjadi gelap gulita.

“Widia, mengapa engkau tidak setia kepadaku dan mengapa pula engkau tidak bisa menepati janjimu, padaku sayang ?” kata-kata di dalam hatinya.

“Ah, ternyata kisah cintaku jauh berbeda dengan kisah cinta dalam sinetron yang selalu setia dan berbakti kepada suaminya serta berani berjuang melawan apapun yang menjadi halangannya,” lanjutnya dalam hati.

Akhirnya hubungan antara Sashongko dengan Widiastuti yang pernah dijalani bersama pada saat hari-hari yang telah lalu lantas ditutup rapat-rapat. Sejak saat itu nama Widiastuti pun dihapus dari dari ingatan Sashongko dan tidak ada lagi sejarah Widiastuti yang pernah hinggap dalam hatinya dan kini hidupnya pun dicurahkan hanya pada pekerjaan dan hari-harinya untuk bekerja dan bekerja lagi sebagai pengalihan perasaan.

Sampai sepuluh tahun lamanya Sashongko tidak pernah bertemu lagi dengan Widiastuti hingga akhirnya suatu perjumpaan yang tidak disengaja terjadi di dalam Kereta Api Malabar Ekspres jurusan Malang-Bandung.

Tiba-tiba Sashongko tersadar dari lamunannya ketika Widiastuti mengajaknya berbicara.

“Bagaimana Mas, kabarnya ? Sehat kan?” katanya dengan nada familier dan dengan senyum yang manis dan memikat tidak pernah berubah persis seperti sepuluh tahun yang telah lalu.

“Berkat doamu dik, aku selalu dalam keadaan sehat dan engkau sendiri bagaimana,  baik-naik bukan,” jawab dan tanya Sashongko.

“Oh iya ini tadi baru mengunjungi ayah dan ibu kan ?” Tanya Sashongko lagi. Dan memang Widiastuti asli kelahiran Kota Kutoarjo.

“Ya betul Mas, akan tetapi ayah dan ibu sekarang sudah menghadap kehadirat-Nya. Tadi pagi menyempatkan diri untuk nyekar ke makam sekalian menghilangkan rasa rindu kepada kakakku sekeluarga dan sekarang hendak pulang kembali ke Jakarta tapi mampir dulu ke Bandung karena ada keperluan,” jawabnya dengan lemparan senyuman yang manis.

Pembicaraan di dalam Ketera Api terasa sangat akrab ditambah tangan Widiastuti sering mencubit lengan Sashongko. Kemudian mereka berceritera tentang perkerjaan masing-masing dan juga berceritera tentang teman-teman pada saat masih kuliah dahulu seakan-akan pertemuan itu kembali seperti ketika mereka masih berpacaran.

Namun jauh di dalam hatinya Sashongko bergulat antara keinginan dan kesadarannya serta selalu berkata untuk memperingatkan dirinya :  “Aku harus sadar, aku harus bertahan dan tidak akan melanggar susila.”

“Widiastuti, anakmu sekarang berapa ?” tanya Sashongko kemudian.

“Eehh….anu Mas., suami satu dan anak dua,” jawabnya perlahan sambil menunduk. “Dan Mas Sashangko Sendiri ?”

“Istri satu dan anak juga dua,” jawab Sashongko sekenanya. Padahal ceritera yang sebenarnya adalah sejak saat putus cinta waktu itu sampai sekarang Sashongko belum pernah berhubungan lagi dengan seorang yang namanya perempuan apalagi menikah.

Jawabannya tadi sekedar asal saja, dengan maksud agar Widiastuti juga mengerti bahwa dirinya juga bisa mencari gadis lain selain dia.

Pertemuan di Kereta Api diakhiri ketika Sashongko dan Widiastuti sama-sama turun di Stasion Bandung Kota. Setelah dua hari mengikuti seminar di Jakarta, hati lelaki Sashongko selalu bergejolak ingin sekali bisa bertemu dengan Widiastuti. Sebuah rasa rindu yang tidak bisa tertahankan lagi.

“Apakah aku akan menuruti hati buaya ini?” tanya Sashongko dalam hatinya. Lalu dipandanginya foto Widiastuti yang diambil secara diam-diam ketika dia sedang tertidur di kereta Api.

“Jika aku datang dan menemui di rumahnya, pastinya akan menjadi permasalahan. Karena bisa saja suaminya jadi cemburu dan kemudian marah. Apakah tidak lebih baik kalau kujumpai saja dia dikantornya agar tidak menimbulkan masalah,” pikirnya dalam hati.

Tetapi akhirnya keinginan untuk bertemu dengan Widiastuti segera dihapusnya dengan pertimbangan daripada hal itu nanti akan menjadi sebuah keruwetan kalau dilakukan. Dan yang terpenting adalah bahwa tugas dari perusahaan untuk mengikuti seminar sudah dilaksanakan dengan baik dan kemudian akan segera kembali ke Bandung.

Akan tetapi semuanya itu berbeda dengan yang dipikirkan karena bayangan Widiastuti semakin lama semakin menghantui perasaannya.

“Rasanya aku kembali jatuh cinta kepadanya. Widiastuti masih belum berubah, masih cantik dan senyumnya masih tetap menawan seperti sepuluh tahun yang lalu,” katanya hati.

“Akan tetapi aku harus menyadari bahwa dia sekarang sudah menjadi  istri orang lain dan sudah menjadi seorang ibu dari dua orang anak, serta bukan lagi seorang gadis yang masih lajang. Maka rasa cinta ini sebaiknya harus segera kutindas agar jangan sampai menjadi masalah nantinya,” demikianlah pikirnya.

Namun apa yang dipikirkan selalu berbeda dengan perasaan hati dan  sangatlah sulit untuk bisa menghapus rasa cintanya kepada Widiastuti. Karena dipicu oleh rasa cinta yang begitu menggebu maka selanjutnya   Sashongko ingin mengerti dengan lebih jelas tentang Widiastuti.

Kemudian dia meneliti nama Widiastuti di Internet dengan program Google dan ada sebagian berita tentang Widiastuti di media on-line itu. Lalu di lacaknya pula di face book tetapi foto yang dipasang adalah fota Widiastuti sendiri dan ini merupakan hal agak aneh pikirnya. Biasanya jika seorang perempuan yang sudah berumah tangga foto yang dipasang adalah foto keluarga atau foto anak-anaknya.

Beberapa berita di situs dilacak, tetapi hanya ada satu yang membuatnya terkejut yaitu di daftar nama karyawan di salah satu perusahaan bahwa status Widiastuti masih lajang atau belum berkeluarga.

“Bagaimana sih ini yang sebenarnya ?  Kemarin dia mengaku katanya sudah bersuami dan mempunyai dua orang anak. Mana yang benar ?” demikian pertanyaan dengan hati yang semakin bertambah curiga dan penasaran.

Dengan tidak menunggu waktu lebih lama, besok pagi harinya Shasongko mengambil cuti untuk kemudian kembali pergi ke Jakarta. Kira-kira jam duabelas siang sudah sampai ke perusahaan tempat Widiastuti bekerja dan segera menemuinya. Widiastuti kelihatan sangat kaget ketika tahu-tahu melihat Shasongko sudah berdiri dihadapannya.

“Ada apa Mas, kok sepertinya ada yang penting,” tanyanya dengan agak gugup.

“Memang sangat penting, dan jawablah dengan jujur apakah dirimu benar-benar sudah berkeluarga atau belum ?” Tanya Sashongko.

“Aku malu untuk menjawabnya Mas,” jawab Widiastuti sambil menundukkan kepalanya dengan mata yang mulai menitikkan air mata.

Kemudian Widiastuti terdiam lalu memandang Sashongko sambil memegang lengannya erat-erat dan kemudian berkata :

“Aku sebenarnya malu denganmu Mas,” katanya sambil becucuran air mata. “Sebetulnya aku sama sekali belum pernah menikah, dan jawaban kemarin aku sengaja berbohong kepadamu Mas,” lanjutnya sambil menangis terisak-isak.

Kemudian Widiastuti bercerita sejak putus cinta dengan nya dahulu, sebetulnya dia akan dijodohkan dengan seorang pegusaha sukses di Surabaya. Bahkan sudah sempat mereka bertunangan. Akan tetapi akhirnya Widiastuti menolak menikah dengan Pengusaha tersebut karena ternyata calon suaminya itu sudah mempunyai banyak istri. Pada saat itu sebenarnya Widiastuti ingin kembali kepada Sashongko, tetapi diurungkannya niat itu ketika dia mendengar berita bahwa Sashongko sudah menikah dengan gadis lain.

“Maka untuk menutupi rasa malu tersebut, saya selalu mengaku kalau  sudah berumah tangga dan sudah mempunyai dua orang anak,” jelasnya.

Sashongko hanya mengusap dada dan merasa amat bersedih ketika mendengar ceritera itu, akan tetapi pada detik-detik selanjutnya hatinya menjadi merasa gembira dan bergairah.

“Widia, jika memang seperti itu jalan ceritera pengalaman hidupmu bagaimana kalau sekiranya engkau kulamar untuk menjadi istri dan pendamping hidupku untuk selamanya ?” tanya Sashongko.

Widiastuti  pun terperanjat ketika mendengar apa yang telah diucapkan oleh Sashongko.

“Tidak Mas, aku tidak mau. Karena aku tidak mau melukai perasaan hati istrimu, Mas. Aku dapat merasakannya karena aku juga seorang perempuan !” jawabnya singkat dan cepat.

Mendengar jawaban seperti itu sekarang Sashongko menjadi yang terkejut, karena lupa dan belum sempat menjelaskan keadaan dirinya yang sebenarnya.

“Begini Widia, sebelumnya aku minta maaf, sebenarnya aku juga masih sendiri dan belum berumah tangga. Kemarin itu aku juga berbohong kepadamu,” jawabnya perlahan.

“Benarkah itu Mas?” tanya Widiastuti serrius untuk mendapatkan penegasan.

“Aku hanya mengatakan apa adanya,” katanya perlahan. “Maka yang kuminta padamu, maukah kita mengulang kembali ikatan rasa cinta seperti yang pernah kita rajut pada sepuluh tahun yang telah lalu. Karena hatiku tidak bisa berpindah kepada gadis lain kecuali dirimu. Maukah engkau menjadi istriku ?” demikian tanya Sashongko selanjutnya sambil memegang tangan Widiastuti.

Widiastuti tidak bisa menjawab tetapi hanya mengangguk perlahan sambil tersenyum dan itu menandakan ada rasa bahagia yang tak terperikan yang terpancarakan simar matanya.

Digenggamnya tangan yang halus dan lembut itu dengan rasa kasih sayang dan kemudian dipandanginya langit di luar yang terlihat seakan terbuka dan terang seperti hati mereka berdua Sashongko dan Widiastuti yang juga terang tanpa ada halangan sedikitpun juga. “Terima kasih Tuhan,” kata mereka masing-masing dalam hati sambil memejamkan matanya.

-o0o-

Dan…………… lessss……….. tanpa disadari Shasongko tertidur dengan lelapnya.

-o0o-

Ketika esok pagi harinya pada saat ayam telah berkokok, Sashongko terbangun dari tidurnya masih dalam posisi duduk disisi pembaringan istrinya. Kemudian dilihatnya Widia masih belum terbangun dari tidurnya lalu dengan perlahan bangkitlah dia dan berdiri untuk berolahraga dengan menggunakan sepeda stastisnya, yang diletakkan di luar kamar tidur dekat pintu masuk. Sehingga dalam berolahraga pun masih bisa mengawasi keadaan istrinya dari tempatnya berolah raga.

Tidak lama kemudian terlihat Widia menggeliat dan terbangun dari tidurnya. Ia berusaha bergerak untuk mengambil posisi yang nyaman, kemudian melempar senyum manis kepada Sashongko. Dan untuk pertama kalinya setelah selama berbulan-bulan Widia tidak pernah berbicara, dan kini memanggil Sashongko dengan suara yang lembut, bening, dan jelas :

“Mas Sashongko………. suami dan sayangku………..”

Begitu mendengar suara istrinya, Sashongko pun langsung melompat turun dari sepeda statisnya dan segera mendapatkan dan memeluk Widia, perempuan yang sangat dikasihinya itu.

“Mas Sashongko suamiku, Mas Sashongko benar-benar mencitai dan menyayangiku kan ?” tanya Widia dengan suara lirih.

Kemudian setelah melihat anggukan dan senyuman diwajah Sashongko suaminya, lalu Widia kembali berbisik : “Aku bahagia. Terima kasih Tuhan !”

Itulah kata-kata terakhir yang diucapkan Widia kepada Sashongko yang kemudian langsung terkulai lemas dan napasnya pun berhenti tetapi di bibir dan wajahnya tersungging senyuman manis yang menunjukkan rasa bahagia.

-o0o-

 

Saudaraku pembaca semuanya dari gubahan dan reka ceritera mengenai kesetiaan dapat kita ambil hikmahnya untuk pesan moral sebagai bahan perenungan dalam kehidupan kita masing-masing.

Dari muda menjadi tua, dari debu kembali menjadi tanah dan roh kembali kepada Allah, semua itu proses alami yang otomatis dan kesia-siaan belaka jika tidak dimaknai.

Demikian pula dengan kesetiaan diantara suami istri harus meliputi kesetiaan yang dimulai dari hal-hal kecil yang ada pada kehidupan mereka. Agar keduanya dapat hidup dengan penuh cinta, kasih sayang, penghormatan dan ketulusan dalam hati serta tidak saling menyakiti satu sama lain baik secara phisik ataupun perasaan.

Kesetiaan sepasang suami istri, harus tetap berpegang pada komitmen, dan bertahan pada “ujian dan cobaan” dalam bentuk apapun, untuk mewujudkan harapan dan impian kebahagiaan keluarga dengan segala kekurangan dan kelebihan yang dimiliki serta tidak saling menjatuhkan, menjaga nama baik, rela berkorban untuk kebaikan masing-masing pasangan keluarga.

Kesetiaan adalah selama seseorang masih menyimpan rasa sayang dihati akan sesuatu hal apakah itu kepada sesama manusia atau kepada sesuatu yang lain, dan apakah seseorang tersebut masih bersamanya ataupun tidak lagi bersama mereka. Hilangnya sebuah kesetiaan adalah pada saat seseorang tersebut sudah tidak lagi bisa menjaga komitmen, tidak bisa lagi menjaga nama baik serta rasa bahagia dan sedihpun sudah tidak lagi berpengaruh.

Cinta bisa membuat seseorang menjadi sempurna akan tetapi cinta itu sendiri tidak membutuhkan seseorang yang sempurna. Karena kesempurnaan itu bisa didapatkan ketika mereka bisa saling mengisi dan melengkapi.

Kesetiaan itu merupakan sebuah perjuangan, anugerah, pengorbanan dan kesabaran yang bisa ditunjukkan dengan cara, antara lain saling :

– memberinya perhatian,

– menjaga perasaannya, menghagai perjuangannya,

– menjaganya dan tidak meninggalkannya sendirian,

– mengingat kebaikan dan melupakan kesalahannya,

– mengucapkan terima kasih atas apa yang telah di kerjakannya,

– berusaha untuk membahagiakan dan saling memuji kelebihannya,

– mengkhawatirkannya dari segala hal yang mungkin bisa menyakitinya,

– tidak membuka dan mengumbar kekurangan serta menjaga rahasianya,

– dan lain-lain.

 

*). Jangan berperilaku seperti seorang anak kecil yang segala sesuatu harus diberikan dan untuk dirinya sendiri misalnya jika ada suatu barang, perhatian atau lain-lainnya jika ditanya barang ini kepunyaan siapa dan pasti anak tersebut akan menjawab, bahwa itu adalah kepunyaan dan untukku. Hendaknya seiring dengan berjalannya waktu dan anak menanjak dewasa lalu tumbuh rasa untuk saling memberi kemudian setelah menjadi tua akan lebih menjadi bijaksana lagi.

*) Kemungkinan juga bisa dari salah pengertian atau kebiasaan sebagai  pendidikan yang diberikan.  Misalnya bila seorang anak kecil kalau sudah mendapat sebuah mainan yang baru maka mainan yang lama akan ditinggalkan begitu saja atau karena suatu kebiasaan apabila orang tua memberikan mainan yang baru akan menanyakan kepada anaknya  : kamu kan sudah punya mainan yang baru, mainan yang sudah lama diberikan kepada si  Anu saja ya ? Dan si anakpun mengangguk.

Dan kebiasaan ini bisa berpengaruh sampai anak tersebut dewasa dan tidak tahan terhadap ujian ataupun cobaan, mulai dari pertemanan karena mendapat teman baru teman yang lama ditinggalkan, hingga kemudian sudah berkeluarga, begitu mendapatkan kenalan seorang lain yang baru lalu mulai acuh pada pasangannya bahkan ada keinginan untuk menggantikannya. Dalam pandangan matanya, rumput tetangga tampak lebih hijau.

Sebenarnya Tuhan sendiri telah memberikan contoh tentang kesetiaan itu, dimana Dia tidak akan pernah mengingkari apa yang telah disabdakan-Nya dan senantiasa menyayangi, mengasihi serta mangampuni manusia dari berbagai kesalahan yang dilakukannya bahkan mengirimkan para utusan-Nya agar manusia bisa selamat kembali kepada-Nya.

Mulai sekarang adalah saat yang baik untuk menyadari semua kekeliruan yang telah dilakukan dalam hidup ini. Akan tetapi terkadang manusia  sulit untuk berubah menjadi baik dan terlalu rumit dalam menjalankan perbuatan yang nyata,  semua itu karena manusia terlalu merasa  “gengsi dan harga diri.”

Perlu juga diingat adalah bahwa dalam kehidupan sehari-hari kebahagiaan manusia dibangun oleh pribadi-pribadi yang selalu hadir memberikan kepedulian, perhatian dan juga sikap-sikap kesetiaannya.

Dan yang harus diketahui adalah bahwa Tuhan selalu ada dan hadir di dalam diri saudara-saudari kita yang selama ini peduli untuk menyadarkan kita.

*) Seharusnya manusia bersyukur atas segala anugerah yang telah diberikan, yang dapat melunakkan hati yang seringkali keras, sehingga bisa dan mau mencintai pasangan hidup atau sesama manusia dan lebih-lebih mencintai yang telah diutus-Nya untuk menyelamatkan manusia.

Biasanya pada saat keadaan menyenangkan sangatlah mudah bagi seseorang untuk menjadi setia, akan tetapi pada saat keadaan tidak menguntungkan, justru disinilah ujian kesetiaan itu yang sesungguhnya. Dan setia itu hendaknya sampai akhir, jika tidak sampai akhir maka bukanlah setia namanya.

 

BANDUNG–INDONESIA, DESEMBER – 2014

Ceritera – Erdy Priharsono

(Gubahan Ki Ageng Bayu Sepi)

Sumber : www.terapimurni.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *