Perjalanan Hidup Anak Manusia

docYANG TERJADI SEBENARNYA TIDAKLAH  SEMUDAH SEPERTI MENGATAKANNYA BAHWA JIKA MANUSIA BISA DENGAN SEGERA  MENYADARI  TENTANG KASIH, RAHMAT  MAUPUN ANUGERAH  YANG DIBERIKAN OLEH ALLAH, KARENA SEMUA ITU TIDAK DITENTUKAN OLEH PENDIDIKAN  YANG  TINGGI, KEPANDAIAN ATAUPUN KECERDASAN,  KARENA SEMUA ITU HANYA DITENTUKAN OLEH KETERBUKAAN  HATI  NURANILAH  YANG BISA UNTUK MENYADARINYA.

BANYAK YANG MEMAHAMI BAHWA SESUATU YANG DIBERIKAN TUHAN KEPADA MANUSIA YANG SIFAT MENYENANGKAN BARULAH MANUSIA MENGATAKAN BAHWA ITU ADALAH ANUGERAH DAN APABILA YANG DIBERIKAN ITU TIDAK MENYENANGKAN MAKA MEREKA AKAN MENGATAKAN BAHWA ITU ADALAH MUSIBAH, COBAAN ATAU LAIN-LAINNYA.

Andaikata benar-benar diperhatikan perjalanan hidup seseorang dapat dikatakan aneh karena apa yang diinginkan tidak pernah sesuai dengan apa yang menjadi kenyataan. Misalnya saja sebagai sebuah contoh ceritera adalah perjalanan hidup dokter Mulyadi yang dapat disebut dengan aneh, karena dia adalah seorang dokter dan pada umumnya seorang dokter tidak akan pernah kesulitan untuk mencari dan memilih pasangan hidup atau seorang istri yang cantik.

Akan tetapi pada kenyataannya sampai dengan mencapai umur lebih dari 40 tahunan Mulyadi masih belum mempunyai pasangan hidup atau berkeluarga dan lebih tepatnya adalah sulit untuk mendapatkan jodoh. Oleh karena itu dia bisa dikatakan sebagai seorang Perjaka Tua., bukankah ini merupakan sesuatu hal yang aneh ?

Tetapi walaupun disebut sebagai seorang perjaka atau bujangan namun Mulyadi sudah mempunyai seorang anak lelaki yang berumur kurang lebih 10 tahunan.

Mengapa disebut sebagai seorang bujangan akan tetapi sudah mempunyai seorang anak, jalan ceriteranya adalah sebagai berikut :

Kira-kira sepuluh tahun yang silam ketika Dokter Mulyadi masih relative muda, pada suatu ketika setelah selesai melakukan praktek yang sudah dibuka dan dijalankannya kurang lebih selama setahun, dan pada malam itu ketika hendak pulang dia melihat satu hal yang sangat menarik perhatiannya yaitu sebuah koper besar ditaruh di atas dimeja ruang tunggu yang telah diletakkan oleh seseorang entah siapa dia dan tidak dikatahuinya sama sekali.

Kemudian dihampirinya koper tersebut dan setelah dibuka serta dilihat ternyata berisi seorang bayi, dan didalam koper tersebut  disertakan pula surat kelahiran namun belum ada namanya, foto copy surat nikah hanya saja pada bagian nama kedua mempelai tersebut ditutup dan dicoret dengan spidol hitam. Juga terdapat sejumlah uang serta sepucuk surat yang bunyinya adalah sebagai kerikut :

 Pak dokter yang terhormat,

“Bersama surat ini kami mohon maaf sebesar-besarnya bahwa dengan cara yang kurang sepantasnya kami memohon pertolongan untuk menitipkan bayi dari hasil buah pernikahan kami kepada pak dokter Mulyadi. Besar harapan kami bahwa pak dokter berkenan menolong kami dengan memelihara bayi ini agar bisa dirawat dan di besarkan sebagaimana mestinya.

Terlampir bersama ini pula kami sertakan sedikit uang sesuai dengan kemampuan yang kami miliki yang mungkin saja pak dokter tidak memerlukannya, juga surat kelahiran dan foto copy surat nikah, barangkali saja suatu saat nanti akan diperlukan untuk mengurus sesuatu yang berkaitan dengan kepentingan anak tersebut.

Adapun alasan kami menitipkan bayi ini dikarenakan keberuntungan dan kondisi perekonomian yang sedang kami alami tidak memungkinkan untuk bisa hidup dan memelihara serta  memberikan pendidikan pada bayi tersebut.

Sebagai akhir kata sekali lagi kami ucapkan mohon maaf dan terima kasih yang sebesar-besarnya atas segala kebaikan pak dokter, dan kami hanya bisa berdoa semoga Tuhan Yang Maha Kuasa yang akan membalasnya.”

 Hormat saya :

Kedua orang tua bayi.

Menurut logika setelah membaca surat dan memperhatikan semua kelengkapan persuratan yang disertakan itu maka dapat disimpulkan bahwa bayi tersebut bukanlah seorang bayi dari hasil perbuatan yang tidak benar, maka dengan rasa kasihan dokter itupun mengabulkan permintaan melalui surat orang tersebut. Kemudian bayi itu diambil untuk dipelihara dan dibesarkan serta dianggap sebagai anaknya sendiri dan diberikan nama Bagas.

Namun sebagai resiko yang harus dijalaninya ialah bahwa hal tersebut membawa akibat yang sangat tidak menguntungkan bagi dokter Mulyadi, antara lain tunangannya langsung memutuskan hubungan karena lebih berprasangka bahwa dokter Mulyadi telah bertindak selingkuh dan terlanjur mempunyai anak.

Dan yang membuatnya lebih celaka lagi adalah setelah kejadian tersebut hingga sampai beberapa kali mencoba untuk berhubungan dengan gadis lain tetapi setelah mengerti bahwa dokter Mulyadi mempunyai seorang anak maka mereka tanpa basa-basi langsung pergi meninggalkannya.

Akhirnya semua itu dipasrahkan saja kepada Tuhan Yang Kuasa, dan kehidupannya dijalani secara normal seperti air yang mengalir terserah bagaimana nanti saja pada akhirnya.

Kegiatan hari-harinya berjalan seperti biasa hingga pada suatu saat dengan tidak disadari karena terlampau sibuk dengan pekerjaannya dalam mengurusi para pasien yang semakin bertambah banyak sehingga pulangnya menjadi agak malam lebih dari waktu biasanya.

Dan dimulai sejak pada hari itulah bahwa perjalanan kehidupannya yang dapat dikatakan aneh diawali. Karena pada malam itu ketika para pasien telah habis dilayani dan dokter Mulyadi sedang bersiap-siap hendak pulang, tiba-tiba datanglah seorang perempuan muda dan sangat cantik menurut ukurannya dengan membawa sebuah tas koper memasuki kamar periksanya.

“Selamat malam, pak dokter,” sapanya perlahan.

“Oh iya, selamat malam silahkan duduk, apa yang bisa saya bantu ? Kenapa datangnya malam sekali sedangkan praktek sudah ditutup, tetapi tidak mengapa, apa yang bisa saya lakukan untuk itu ?” jawab dokter Mulyadi yang sebenarnya agak kaget.

“Mohon maaf pak dokter, kedatangan saya kemari bukan untuk berobat tetapi saya ingin mendapatkan bantuan pekerjaan,” katanya menjelaskan maksud kedatangannya.

“Lalu, pekerjaan yang bagaimana yang kamu inginkan ?” tanya dokter ingin tahu.

“Terserah pak dokter saja, walau sebagai seorang pembantu sekalipun saya juga berkeberatan,” jelasnya untuk memberikan gambaran kesediaannya.

Dokter Mulyadi termenung sejenak namun dalam hatinya berkata : “Jika diberikan pekerjaan membantu pelayanan ditempat praktek saat ini sudah terisi sesuai kebutuhan, kalau diberi pekerjaan sebagai pembantu dirumah, sebenarnya aku juga sudah mempunyai seorang pembantu dirumah.”

Tetapi kemudian dokter Mulyadi melanjutkan pertanyaannya untuk lebih mengetahui keadaan yang sebenarnya : ”Mengapa engkau sampai mau bekerja padaku meskipun menjadi seorang pembantu ?”

“Pak dokter mungkin saya tidak bisa menjelaskan secara panjang lebar tentang keadaan yang saya alami saat ini, tetapi yang jelas keadaan saya sangat terpepet dan membutuhkan pekerjaan dengan segera, dan saya tahu pak dokter adalah orang yang baik, pasti akan bersedia membantu saya,” jawabnya dan kelihatan wajahnya yang sangat berharap.

Karena rasa kasihan lalu dokter Mulyadi pun menawarkan pekerjaan dan berkata : “Jadi begini……..…, oh iya siapa namamu ?”

“Saya Widiastuti, pak dokter.” jawabnya singkat

“Begini Widiastuti, kalau pekerjaan membantu pelayanan ditempat praktek saat ini sudah terisi sesuai kebutuhan. Tetapi kalau mau, kamu bisa bekerja sebagai pembantu di rumahku walaupun sebenarnya aku sudah mempunyai seorang pembantu yang mengerjakan urusan rumah. Tetapi kalau kamu memang bersedia, kamu bisa membantu pekerjaan mbak Santi di rumah dan khusus untuk memperhatikan keperluan Bagas, anakku.”

“Ya pak dokter saya mau, mulai kapan saya boleh bekerja ?” jawab Widiastuti cepat.

“Kalau kamu memang benar-benar sudah siap, sekarang juga boleh pulang bersamaku,” lanjut dokter Mulyadi

“Terima kasih pak dokter,” sahut Widiastuti dengan wajah yang nampak gembira.

Namun jauh di dalam hatinya tumbuh beberapa pertanyaan yang belum memperoleh jawaban tentang perempuan yang cantik dan berpenampilan bersih ini serta kelihatannya cukup berpendidikan, akan tetapi mengapa mau bekerja menjadi seorang pembantu.

Andaikata saja kalau dia mau melamar menjadi pekerja di salon kecantikan atau sebagai pelayan toko atau sedikitnya pelayan restaurant, pasti dengan mudah dan banyak yang mau menerimanya. Dan lagi perempuan cantik itu mempunyai nama yang cukup bagus yaitu Widiastuti.

Suatu hal lagi yang menambah lebih aneh keadaan yaitu bahwa Bagas langsung menjadi akrab dengannya, ya mungkin saja hal tersebut dikarenakan pembantu yang lama sekarang sudah tidak tidur lagi dirumah karena sudah bersuami sehingga Bagas lebih sering sendirian dan sekarang ada yang menemani.

Selain dari itu memang Widiastuti mempunyai sifat yang ke ibuan, kalem dan sayang kepada anak. Mungkin juga karena itulah sebabnya walaupun baru dua hari bekerja dirumah dokter namun sudah berhasil mengambil hati Bagas. Malahan pada pagi hari ketiga Bagas untuk pergi ke sekolah sudah tidak lagi diantar oleh pembantu yang lama, melainkan minta diantar oleh Widiastuti..

Memperhatikan tingkah laku Widiastuti yang baik dan lembut tersebut maka diam-diam dokter itu mempunyai rencana dalam hati demikian : “Aku ingin melatih dan mengajari dia agar bisa membantuku dalam melayani pasien yang jumlahnya semakin hari semakin bertambah banyak. “

Tetapi sebelum rencana tersebut sempat disampaikan, tiba-tiba telihat oleh dokter itu bahwa tingkah laku Widiastuti menjadi aneh, karena pada tengah malam pembantu itu duduk di lantai dan menyandarkan kepalanya di kusen pintu kamar Bagas sambil terisak-isak menangis.

Kemudian dengan perlahan-lahan dokter Mulyadi mendekati pembantunya itu lalu dipegang pundaknya sambil bertanya : “Lho Widia, ada masalah apa kok malam-malam begini kamu duduk dilantai dan menangis ? Kalau memang ada permasalahan coba sampaikan.”

Sedikit agak terperanjat karena tidak pernah menyangka bahwa apa yang dilakukannya akan ketahuan, maka dengan sedikit gugup dan dengan nada suara perlahan Widiastuti menjawab : “Tidak apa-apa Pak dokter, saya hanya merasa kasihan pada pak dokter.”

“ Lho kok merasa Kasihan padaku ? Dan memangnya dan apa ?” kata dokter Mulyadi kembali bertanya keheranan.

“Ya, bapak adalah seorang  dokter yang baik, bertampang dan berpenampilan keren juga kaya tetapi sampai dengan usia 40 tahunan masih juga jomblo belum mempunyai seorang istri dan setiap gadis selalu menjauhi, semua itu kan gara-gara memelihara seorang anak yang tidak jelas siapa orang tuanya,” jawab Widiastuti.

“Hus, jangan berkata demikian. Kalau mau berbicara mengenai  Bagas, mari kita duduk di ruang sebelah sana di ruang kerjaku, jangan sampai anak tersebut mendengar,” kata dokter Mulyadi berbisik-bisik.

Dan Widiastuti pun segera berdiri dan beranjak pergi mengikuti dokter Mulyadi yang  menuju dan  masuk kekamar kerjanya.

“Widia, yang sebenarnya Bagas memang bukanlah anak kandungku, tetapi sampai saat ini dia tidak mengerti hal itu. Dan yang dia tahu bahwa aku ini adalah ayah kandungnya,” penjelasan dokter Mulyadi perlahan.

“Tetapi maaf pak dokter kalau boleh bertanya, apakah Bagas juga tidak pernah bertanya mengenai ibunya ?” tanya Widiastuti selanjutnya.

“Ya sering, tetapi kan bisa diberi alasan bahwa ibunya sedang bertugas di luar negeri, dan belum bisa pindah kemari. Dan kamu mengerti tentang hal ini informasi dari siapa ?” kata dokter Mulyadi  balik bertanya.

“Dari mbak Santi, pembantu bapak. Bahkan menurut ceriteranya malahan pak dokter juga berkali-kali ditolak oleh para gadis karena mempunyai anak tersebut,” penjelasan Widiastuti.

“Hal itu memang benar, tetapi aku sendiri tidak merasa apa-apa, oleh karena itu kamu juga jangan ikut bersedih tentang hal tersebut. Atau barangkali kamu akan membantu mencarikan seorang istri untukku ?” demikian kata dokter Mulyadi yang diakhiri dengan kata-kata gurauan.

“Ya boleh saja pak dokter, kalau sekiranya nanti bisa cocok,” jawabnya lagi.

“Ya sudah, kalau begitu sekarang kamu boleh kembali ke kamarmu dan tidak usah menangis lagi, sedangkan aku yang menjalaninya tenang-tenang saja,” demikian kata dokter Mulyadi sambil beranjak berdiri dari tempat duduknya.

“Tetapi pak dokter, seandainya saja kalau orang tuanya nanti datang kemari dan meminta kembali anak tersebut apakah pak dokter juga akan memberikannya ?” tanyanya lagi sambil melengak dan berhenti sebentar.

“Ya pasti akan saya berikan kalau itu menjadikan yang berbaik. Tetapi yang masih menjadi permasalahan dalam pikiranku adalah tentang kejiwaan anak tersebut nantinya, karena dia sudah terlanjur menganggap bahwa aku ini adalah ayah kandungnya sedangkan ibunya bertugas di luar negeri.” demikian penjelasan dokter Mulyadi sambil memegang keningnya seakan sedang menghadapi hal yang sulit.

Kemudian sambil mengangguk-anggukkan kepalanya sebagai suatu tanda kalau sudah mengerti tentang permasalahan yang sebenarnya, lalu Widiastuti pun kembali kekamarnya.

Tetapi pada keesokan pagi harinya, yang biasanya Widiastuti selalu ikut makmum sholat subuh tetapi saat ini tidak kelihatan batang hidungnya sehingga dokter Mulyadi merasakan ada sesuatu yang kurang atau hilang.

Kemudian setelah selesai melaksanakan sholat pergilah dokter Mulyadi ke kamar Widiastuti untuk menjenguknya khawatir barangkali sedang sakit, tetapi tidak ada, dan ternyata kamarnya telah kosong juga tas koper sebagai tempat menyimpan pakaiannyapun sudah tidak lagi ditempatnya.

Sepintas di atas meja dilihatnya tergeletak sebuah amplop surat, kemudian dengan perlahan segera diambil dan dibacanya surat itu. Ternyata bunyi surat tersebut adalah sebagai berikut :

Pak dokter Mulyadi yang sangat saya hormati,

“Mohon maaf sebesar-besarnya bahwa yang sebenarnya aku adalah ibu kandung Bagas. Adapun niat pertama kedatanganku kemari yang sesungguhnya adalah akan meminta dan menjemput kembali anak kandungku tersebut. Akan tetapi setelah aku tahu dan melihat kenyataan kalau Bagas hanya mengerti bahwa dirinya adalah anak kandung pak dokter, maka aku merasa tidak sampai hati kalau harus memisahkannya……………..

Dan saat ini ayah kandung Bagas, atau suamiku sudah dipanggil menghadap Yang Maha Kuasa karena penyakit yang dideritanya dan untuk sementara ini aku sendiri sudah bekerja menjadi seorang pengajar di sebuah SMK.

Pak dokter yang saya hormati untuk yang kedua kalinya, kembali aku menitipkan lagi anak tersebut dan tolong agar dirawat, dan anggaplah dia sebagai anakmu sendiri. Aku sudah cukup merasa puas dengan melihatnya dari kejauhan, walaupun hati ini merasa sangat pedih dan rindu.

Dan sekali lagi mohon maaf, disebabkan karena telah merawat anakku sehingga pak dokter selalu ditolak oleh banyak gadis. Aku hanya bisa mendoakan dari kejauhan semoga pak dokter segera mendapatkan seorang istri.”

 Hormat saya :

Widiastuti, SPd.

 Sesudah membaca isi surat tersebut dokter Mulyadi hanya bisa diam dan berdiri mematung, mungkin semenjak terjadinya peristiwa semalam dia sudah merasakan adanya sesuatu firasat dan pikirannya pun mulai mengkait-kaitkan hubungan antara Bagas dengan Widiastuti.

Oleh karena itu timbul niatnya untuk segera mencarinya sendiri, karena walau bagaimanapun juga hal yang paling baik bagi anak tersebut adalah kalau kembali ke pangkuan ibu kandungnya. Tetapi harus pergi kemana untuk mencarinya ?

Setelah lama duduk terpekur sambil berpikir dalam-dalam, akhirnya menemukan juga jalan keluarnya. Kemudian segera diambilnya  Foto copy  surat nikah yang dahulu ditinggal dan disertakan dengan bayi tersebut mungkin bisa sebagai sebuah kunci untuk dapat mencari dan menemukan Widiastuti.

Foto Copy Surat Nikah yang diambil itu kemudian diamati dan dibacanya dengan teliti, walaupun pada kolom nama pengantin laki-laki dan perempuan itu ditutup dengan coretan spidol warna hitam tetapi yang jelas bahwa Surat Nikah itu sendiri dikeluarkan oleh Kantor Urusan Agama Kecamatan sesuai dengan yang tertulis pada Surat Nikah tersebut..

Pada keesokan pagi harinya setelah selesai praktek melayani para pasien, kemudian dokter Mulyadi meminta bantuan salah seorang dokter kerabatnya untuk menunggu tempat dan menggantikan prakteknya pada sore hari nanti dan besok paginya. Dan setelah berpamitan pada mbak Santi pembantunya serta Bagas anaknya, kemudian dengan mengendarai mobil dokter Mulyadi langsung pergi untuk memulai perjalanan pencariannya.

Sesampainya tiba pada tempat yang dituju kurang lebih pukul 11.00 siang, kemudian segera menghadap kepada Bapak Achmadi Kepala Kantor Urusan Agama setempat untuk meminta keterangan dengan menunjukkan foto copy surat nikah yang pada kolom nama untuk mempelai baik laki-laki maupun perempuannya ditutup dengan spidol warna hitam kemudian diceriterakannya pula dengan lengkap urutan kejadian mengenai bagaimana bayi yang ditinggal di ruang tunggu tempat prakteknya pada 10 tahun lalu.

Setelah sibuk beberapa saat untuk membuka dan memeriksa buku induk serta  dokumen lainnya, dengan muka yang kelihatan cerah Pak Ahmadi menghampiri sambil berkata :

“Alhamdulillah Pak dokter, keterangan yang dicari sudah dapat diketemukan. Adapun pasangan suami istri yang pernah meninggalkan bayi di tempat praktek pak dokter pada 10 tahun yang lalu adalah Budiman dengan Widiastuti. Akan tetapi Budiman sendiri sekarang sudah meninggal dunia kurang lebih tiga tahun yang lalu karena penyakit berat yang dideritanya.”.

“Kalau boleh tahu, sekarang Widiastuti tinggal dimana ?” tanya dokter Mulyadi yang merasa tidak sabar hatinya.

“Oh iya, sekarang Widiastuti adalah seorang ibu guru yang mengajar disebuah SMK dan saat ini tinggal di rumah orang tuanya yang bernama pak Himawan. Sehubungan dengan hal tersebut andaikata sekarang kalau pak dokter hendak mencarinya kami persilahkan,  apakah akan mencari ke sekolah atau mau mencari ke rumahnya terserah saja, dan ini sudah saya tuliskan kedua alamat yang mungkin diperlukan tersebut.” demikian penjelasan bapak Achmadi dengan sabar.

“Terima kasih Pak Ahmadi atas penjelasannya dan sekarang saya mohon pamit untuk melanjutkan perjalanan,” kata dokter Mulyadi seraya menjabat tangan Kepala Kantor Urusan Agama tersebut.

“Silahkan Pak Dokter selamat jalan, semoga Tuhan melindungi dan semua urusannya menjadi lancar,” demikian jawab pak Achmadi mendoakannya.

Setelah meninggalkan Kantor Urusan Agama langsung saja dokter Mulyadi pergi menuju alamat rumah Pak Himawan, orang tua Widiastuti seperti yang tertulis pada alamat pemberian pak Achmadi, dan setibanya didepan sebuah rumah berwarna hijau muda maka berhentilah dokter Mulyadi.

“Asalaamu alaikum , permisi,” terdengar uluk salam nya.

“Wa alaikum salam, mari silahkan masuk,” terdengar suara balasan salam dari dalam rumah dan kemudian diikuti dengan keluarnya seorang laki-laki yang sudah tua, dan langsung dokter Mulyadi pun bertanya kepadanya :

“Permisi bapak, saya mau bertanya, apakah benar disini rumah tinggal Bu Guru Widiastuti ?’ tanya dokter Mulyadi perlahan walaupun sebenarnya perasaan hatinya sudah tidak menentu.

“Oh, iya betul,” jawab bapak-bapak tersebut.

“Dan kalau tidak salah, bapak adalah Pak Himawan?” kata dokter Mulyadi kembali untuk memperoleh kepastian dan keyakinan dirinya.

“Oh iya betul sekali dan Anak siapa ?” jawab bapak tersebut sambil bailk bertanya.

“Perkenalkan pak, nama saya Mulyadi dari Bandung, teman Bu Widiastuti karena ada sesuatu hal yang penting untuk dibicarakan maka saya ingin bertemu dengannya.” kata dokter Mulyadi sambil menjabat tangan pak Himawan.

“Ya kalau begitu silakah duduk dulu di dalam, dan tunggu sebentar nanti saya panggilkan Widiastuti,” jawab pak Himawan sambil pergi meninggalkan dokter Mulyadi sendirian di ruang tamu.

Walaupun hanya untuk menunggu beberapa saat sepeninggal Pak Himawan yang masuk ke ruang belakang terasa sangat lama sekali seakan-akan menunggu waktu setahun.  Untung keadaan yang tidak menyenangkan ini segera terselamatkan karena tidak antara lama kemudian keluarlah Widiastuti untuk menemui tamunya.

Ketika memasuki ruang tamu terkejutlah Widiastuti begitu melihat siapa yang datang bertamu, sehingga langkahnya terhenti sejenak dan jantungnya berdegup dengan keras kemudian setelah hatinya kembali tertata barulah dengan perlahan dia menyapa :

“Lho, pak dokter ? Kok tahu dan bisa sampai datang kemari ? “ tanya Widiastuti keheranan.

“Ya bisa tho, kalau mau tanya sana dan tanya sini,” kata dokter Mulyadi memberikan jawabannya.

Kemudian Widiastuti tertunduk diam dan tersipu malu dan terlihat agak kesulitan untuk memulai pembicaraan. Menyadari keadaan yang berubah menjadi agak kaku tersebut langsung saja dokter Mulyadi mendahului bertanya untuk mencairkan suasana.

“Widiastuti, apakah kamu selama ini tidak pernah menceriterakan perihal perjalanan hidup yang kau alami bersama keluarga dan anakmu, kepada orang tuamu sehingga mereka mengerti semua tentang penderitaanmu ?” tanya dokter Mulyadi secara langsung pada tujuannya.

“Ya pak, dahulu memang mereka tidak mengerti, tetapi setelah Mas Budiman suamiku meninggal dunia akhirnya kuputuskan dan kuceriterakan semua kepada Bapakku, malahan akupun juga telah mengatakan kalau kemarin saya sudah sempat bertemu dengan anak kandungku,” jawab Widiastuti menjelaskan dengan perlahan.

“Jadi sekarang bagaimana kemauanmu, kemarin sudah bersusah payah untuk mencari dan menemukan anakmu tetapi sekarang setelah ketemu lalu kamu tinggalkan pergi begitu saja tanpa memberi alamat yang jelas,” kata dokter Mulyadi seakan menuntut.

“Pak dokter, Bagas hanya mengerti bahwa Pak dokter adalah ayah kandungnya maka aku pun tidak akan sampai hati kalau harus memisahkannya,” kata Widiastuti perlahan sambil berlinangkan air mata dan kemudian menetes.

“Widia, pendapatmu memang benar, akan tetapi ada yang harus difahami bahwa kamu adalah ibu kandungnya. Walau bagaimanapun juga hal yang terbaik bagi anak tersebut adalah kalau dia kembali kepangkuan ibundanya,” jawab dokter Mulyadi menegaskan.

“Jadi kalau begitu, anak itu boleh saya ambil dan boleh pula kalau saya bawa pulang kemari ?” tanya Widiastuti untuk mendapatkan kapastian.

“Tidak. Aku tidak berbicara demikian,” jawab dokter Mulyadi pendek.

“Jadi, saya harus bagaimana ?” tanya Widiastuti agak terkejut dan keheranan.

“Akan tetapi yang pasti justru kamu yang harus pergi kesana, ikut bersama denganku,”  jawab dokter Mulyadi memberikan penegasan.

“Lalu apakah saya harus kembali kerumah untuk menjadi seorang pembantu, seperti saat kemarin itu ?” kembali tanya Widiastuti.

“Ya semua itu terserah pada penafsiran dan kemauanmu sendiri akan memilih yang mana, apakah kamu akan memilih menjadi pembantuku atau mau memilih menjadi istriku,” jawab dokter Mulyadi.

“Pak dokter, masalah ini bukanlah main-main atau hanya untuk sekedar gurauan. Karena ini adalah masalah yang serius !” jawabnya sambil mengangkat kepalanya karena terkejut sebab tidak percaya dengan apa yang telah didengarnya.

“Iya siapa yang main-main, saya juga serius. Karena ini adalah merupakan satu-satunya jalan keluar yang paling baik. Apakah itu untuk kebaikan anakmu, untuk dirimu sendiri dan juga untuk kebaikanku,” kembali dokter Mulyadi memberikan uraiannya.

“Pak dokter, apakah sudah benar-benar dipikirkan dengan baik, karena aku adalah seorang janda yang sudah mempunyai anak ?” kembali kata Widiastuti.

“Sudahlah, Widiastuti,” jawab dokter Mulyadi perlahan tetapi serius sambil menatap kearah wajah Widiastuti yang terlihat masih berlinangkan air mata.

“Kamu jangan memanggilku dengan kata-kata pak dokter lagi, tetapi panggil saja aku dengan sebutan “Mas” mungkin akan lebih terasa enak untuk didengar dan sepenuhnya aku bisa menerima dirimu apa adanya, kasihan Bagas. Sebab sudah sepuluh tahun selalu mengharap bisa berjumpa dengan ibunya dan sudah sepuluh tahun selalu bertanya-tanya tentang ibunya ; Ayah mengapa ibu belum juga pulang ?

Nah, apakah kamu sudah sedemikian sampai hati untuk membiarkan anakmu selalu berharap begitu tetapi untuk selamanya tidak akan pernah kesampaian ?”

Widiastuti tertunduk diam, kemudian perlahan-lahan mengangkat kepalanya dan menatap dokter Mulyadi dan dari sudut matanya terlihat semakin deras air matanya mengalir, dan akhirnya dengan perlahan juga dia beringsut mendekat dan menggenggam kencang tangan dokter Mulyadi serta meletakkannya di keningnya sambil berkata :

“Mohon maaf yang sebesar-besarnya Mas, karena aku benar-benar terkejut mendengar apa yang telah kau ucapkan tadi. Sebab aku merasa tidak pantas untuk menjadi istrimu. Akan tetapi jika Mas memang mau menerima diriku apa adanya, dengan jujur aku merasa tersanjung dan mulia dalam hidupku. Oleh karena itu aku akan mengikuti saja apa yang menjadi keputusanmu, Mas.”

“Kamu serius ? Tetapi aku kan harus tahu dengan pasti apa yang menjadi keputusanmu mau memilih yang mana, apakah menjadi pembantuku atau mau menjadi istriku ?” kembali tanya dokter Mulyadi sambil berkelakar.

“Mas aku serius. Aku memilih menjadi pembantumu dan sekaligus menjadi istrimu juga sebagai ibu dari anakmu,” jawabnya perlahan dengan penuh kepastian sambil menatap kearah dokter Mulyadi.

“Lha, kalau itu yang menjadi keputusanmu berarti penghasilanmu akan menjadi berlipat ganda, bisa empat kali lipat lebih besar. Yang pertama adalah gaji sebagai pembantu, yang kedua uang belanja sebagai seorang istri, yang ketiga pendapatan yang diterima sebagai ibu dari anakku dan yang ke empat adalah gaji sebagai Ibu Guru.

Nah kalau pendapatanmu begitu banyak, kamu nanti pasti akan bertambah montok, padat dan berisi, bertambah segar dan tentu saja akan bertambah cantik. Dan betapa bahagianya aku nanti jika bersanding dengan istri yang cantik, secantik engkau bidadariku.” kata dokter Mulyadi sambil merayu.

Widiastuti hanya tertunduk sambil menggigit bibir dan terlihat wajahnya yang putih mulus itu menjadi merah merona. Melihat hal itu maka dokter Mulyadi menjadi sangat yakin apabila kesanggupan Widiastuti untuk menjadi istrinya adalah perasaan yang tulus yang keluar dari dalam hatinya.

“Dan untuk selanjutnya, kalau demikian sekarang tolong undang bapak Himawan kemari, aku akan langsung berbicara hendak meminang dan memintamu untuk menjadi istriku,” kata dokter Mulyadi kepada Widiastuti.

Dan dimulai sejak hari itu juga setelah selesai berembuk langsung dengan Pak Himawan, lalu berkatalah dokter Mulyadi dalam hatinya :

“Hari ini aku merasa yakin bahwa perjalanan hidup yang harus kutempuh memanglah harus demikian. Lebih dari itu semua aku sangat yakin bahwa apa yang terjadi sekarang ini dengan diriku, adalah sebuah anugerah dari Tuhan yang terbaik untuk kehidupanku kedepan.”

Saudaraku pembaca yang budiman dari gubahan ceritera diatas   dapat kita ambil hikmahnya untuk pesan moral dan sebagai bahan perenungan untuk diri kita masing-masing dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

 1. Pada umumnya tidak semua manusia bisa dengan segera menyadari bahwa apapun yang terjadi dan di alami dalam kehidupan sehari-hari itu adalah merupakan bentuk kasih, rakhmat ataupun anugerah yang diberikan oleh Tuhan kepada makhluk-Nya baik itu yang terasa  menyenangkan maupun yang kurang disukai, karena yang diinginkan manusia seringkali tidak sama dengan yang diberikan Tuhan, tetapi manusia harus tetap menerima dan mensyukurinya.

Sebagai sebuah contoh dalam ceritera diatas, bahwa dokter Mulyadi ingin mencari seorang gadis sebagai calon istrinya, namun dalam perjalanan hidup yang ditempuhnya bahwa dia diberikan jodoh seorang yang sudah mempunyai anak, namun dia menyadari dan menerima calon istrinya tersebut apa adanya.

Karena apabila yang dicari adalah kesempurnaan maka sampai kapanpun tidak akan pernah menemukan cinta yang sejati, sehingga apa yang telah dilakukan dokter Mulyadi tersebut diatas adalah sudah sesuai dengan sebuah nasehat yang bijaksana yang bunyinya sebagai berikut :

TERIMALAH  ISTRIMU BUKAN SEBAGAI WANITA YANG SEMPURNA MELAINKAN SEBAGAI WANITA DENGAN KEKURANGAN DAN KELEBIHANNYA, DIA MERUPAKAN ANUGERAH TERBAIK DARI ALLAH UNTUKMU, MAKA TERIMALAH DIA APA ADANYA.

2. Yang perlu mendapat perhatian dari sebuah Pernikahan adalah : bahwa meskipun telah menikah dengan orang yang dianggap tepat atau benar sesuai dengan pilihannya, akan tetapi andaikata dalam  memperlakukan istri tersebut dengan cara yang tidak tepat, maka pada akhir sebagai akibatnya akan mendapatkan istri sebagai pasangan hidup yang tidak tepat juga. Karena kebahagiaan dalam sebuah  pernikahan itu tidak terjadi begitu saja dengan sendirinya, melainkan harus diusahakan dan diperjuangkan.

3. Kebahagiaan dalam rumah tangga melalui sebuah pernikahan tidak bisa diibaratkan seperti mekarnya sekuntum bunga,  yang langsung tampak indah, harum dan semerbak,  tetapi kebahagiaan dalam pernikahan itu lebih merupakan sebuah lahan yang masih kosong dan belum ada apa-apanya serta harus dikerjakan dan di garap secara bersama-sama.

4. Dalam perjalanannya sebuah pernikahan tidak cukup hanya dengan memilih dan menikah dengan orang yang dianggap tepat, akan tetapi  mereka masing-masing harus berusaha untuk menjadikan dirinya sendiri sebagai pasangan yang tepat bagi satu dengan yang lainnya,  dan harus juga bisa memperlakukan pasangannya itu  dengan tepat pula.  Selain daripada itu merekapun harus mempunyai keyakinan  bahwa mereka tidak salah dalam  memilih pasangan hidup.

5. Perlu dipahami ketika Allah  sudah mengijinkan bahwa sebuah pernikahan itu terjadi, maka artinya bahwa Allah juga telah mempercayakan kelangsungan dan tanggung jawab rumah tangga tersebut kepada  mereka yang merupakan pasangan hidup. Oleh karena itu merekapun harus berbuat sesuai seperti apa yang telah mereka janjikan dan mereka ikrarkan  dihadapan Tuhan dan dihadapan  manusia yang menyaksikannya, untuk tetap setia dan saling mengasihi satu dengan yang lain dalam segala keadaan.

6. Karena menikah dengan orang yang di anggap benar atau dengan orang yang di anggap salah, kesemuanya itu tergantung dari cara mereka dalam memperlakukan pasangannya masing-masing. Sebab pada umumnya manusia cenderung lebih teliti dalam menilai orang lain apabila dibandingkan dengan mengkoreksi  dirinya sendiri.

 

BANDUNG–INDONESIA, NOPEMBER – 2014

Ceritera Suryadi WS

(Gubahan Ki Ageng Bayu Sepi)  

Sumber : www.terapimurni.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *