Apabila Kehidupan itu Merupakan Sebuah Pilihan, maka Manusia Harus Tahu Bagaimana Menempatkan Dirinya

SEBUAH GUBAHAN DAN REKA CERITERA HANYA SEBAGAI SEBUAH sapiGAMBARAN SAJA BAHWA TUHAN ALLAH KITA ITU MAHA BAIK, DAN PASTI AKAN MENGABULKAN SEMUA YANG DIINGINKAN OLEH UMATNYA, AKAN TETAPI MANUSIA SEBAGAI SALAH SATU UMATNYA JANGAN SAMPAI LUPA BAHWA APA YANG TELAH DIBERIKAN, HARUS TAHU BAGAIMANA CARA MENGISI DAN MEMPERGUNAKANNYA KARENA SEMUANYA ITU HARUS DIPERTANGGUNG JAWABKAN DIHADAPAN-NYA.

Diceriterakan dahulu kala ketika Tuhan Yang Maha Kuasa menciptakan alam semesta dan dunia ini dengan segala isinya dengan duduk di atas singgasana-Nya, Dia memanggil beberapa makhluk ciptaan-Nya.

Pertama sekali dipanggilnya seekor sapi :

Hai, sapi kemarilah engkau,” panggil Sang Pencipta.

“Ya Tuhan,” sahut sapi tersebut sambil mendekat.

“Saat Aku menciptakan engkau, Kuputuskan bahwa tugasmu sepenuhnya adalah membantu manusia antara lain membajak di sawah dan padang rumput serta bekerja di bawah terik sinar matahari sepanjang hari. Untuk itu sesuai dengan ukuran tubuhmu yang besar engkau Aku beri umur yang panjang yaitu 50 tahun,” kata Tuhan.

Setelah berpikir sejenak kemudian berkatalah sapi tersebut :

“Mohon maaf ya Tuhan, sebelumnya hambaMu mengucapkan terima kasih atas karunia yang Engkau berikan, namun kalau boleh hambaMu memohon ya Tuhan, dengan umur 50 tahun itu terlalu lama untukku, sebab hidup yang akan hamba jalani itu terasa sangat berat karena harus mengabdi dengan bekerja keras setiap hari baik siang maupun malam,” kata sapi.

“Baiklah kalau engkau merasa keberatan dengan umur 50 tahun, jadi berapa banyak umur yang engkau inginkan ?” kembali tanya Tuhan Yang Maha Bijaksana tadi.

“Begini ya Tuhan, karena kehidupan yang berat, cukuplah bagi hambaMu ini untuk menanggung beban dan bekerja keras selama 20 tahun saja, biarlah  selebihnya yang 30 tahun lagi diperuntukkan bagi mereka yang memerlukan,” jawab sapi menyampaikan permohonannya.

“Kalau itu memang sudah menjadi keinginannmu baiklah Aku setuju,” kata Tuhan  tersebut dan kemudian sapi itupun mohon undur diri.

Pada giliran berikutnya, dipanggillah binatang ciptaan-Nya yang lain yaitu seekor monyet.

“Hai monyet kemarilah kamu….,” panggil Tuhan.

“Ya Tuhan, hambaMu menghadap,” jawab monyet tersebut sambil mendekat yang kemudian duduk dihadapan Tuhan dengan ketua tangannya menggaruk-garuk kepala dan badannya.

“Sebagaimana ciptaanku yang lain, kamu pun Aku beri umur untuk hidup sebanyak 20 tahun dan tugasmu adalah untuk membantu dan menghibur manusia,” jelas Tuhan.

“Terima kasih ya Tuhan atas pemberian karuniaMu, namun hambaMu akan mengajukan permohonan,“ jawab kera dengan tangan yang masih tetap menggaruk-garuk kesana-kemari.

“Ya apa itu, coba katakanlah….,” kata Tuhan kembali.

“Begini ya Tuhan, untuk menghibur manusia dengan menjadi tontonan dan keluar masuk kampung, menjadi sirkus topeng monyet kemudian membantu manusia misalnya dengan memanjat pohon kepala dan memetik buahnya, tetapi mungkin hambamu tidak akan pernah diberikan kesempatan untuk menikmati buah tersebut. Jadi terlalu lama rasanya untuk hambaMu ini kalau harus hidup seperti itu, oleh karena itu ya Tuhan, jika Engkau berkenan hambaMu akan mengembalikan sebagian umur yang telah Engkau karuniakan,” kata monyet tersebut dalam menyampaikan permohonannnya.

“Jadi kalau begitu berapa umur yang kau inginkan..?” tanya Tuhan kembali.

Dengan menjalani hidup seperti itu cukuplah untuk hambaMu ini diberikan umur  selama 10 tahun saja, jadi selebihnya umur yang 10 tahun lagi, hambaMu kembalikan,” jawab kera.

“Ya boleh, aku setuju,” kata Tuhan menyetujui permohonan kera.

Pada kesempatan lain, dipanggilallah ciptaan-Nya yang lain yaitu seekor Anjing.

“Wahai anjing kemarilah engkau….,” panggil Tuhan.

“Ya Tuhan, hambaMu datang,” jawab anjing tersebut sambil terus duduk yang kemudian meletakkkan seluruh badannya rata diatas tanah.

“Seperti hal ciptaanKu lainnya, Aku mau memberikan  umur untukmu selama 20 tahun, dan tugas yang harus kau lakukan adalah menjaga harta benda dan pintu rumah majikanmu,” demikian penjelasan Tuhan Yang Maha Adil tersebut kepada ciptaan-Nya.

Untuk sejenak Anjingpun terhenyak karena kaget mendengar apa yang telah disampaikan Tuhan kepada dirinya, tetapi tidak lama kemudian anjingpun menyampaikan isi hatinya.

“Terima kasih dan mohon ampun ya Tuhan, apakah tidak terlalu lama hambaMu ini hidup selama 20 tahun dengan siang dan malam tidak mengenal waktu harus menjaga harta benda dan menjaga pintu rumah serta jika ada orang yang  mendekat hambaMu harus menyalak atau menggonggong untuk memberi tahu. Bahkan kalau kebetulan tidak mendapatkan tuan yang baik hati kadang-kadang untuk mengisi perutpun yang diberikan hanyalah makanan-makanan sisa.

 Hidup seperti itu terlalu berat untuk hambaMu, ya Tuhan.  Oleh karena itu jika Engkau tidak berkeberatan, hambaMu mau mengembalikan sebagian umur itu. Jadi cukuplah untuk hambaMu ini hidup dengan 10 tahun saja dan yang 10 tahun lagi biarlah untuk mereka yang membutuhkan,” demikin kata anjing tersebut menyampaian keinginannya sambil menitikkan air matanya.

“Kalau itu yang memang menjadi permintaamu, baik aku mengabulkan-Nya,” jawab Tuhan mengabulkan apa yang menjadi keinginan ciptaan-Nya itu.

Dan untuk terakhir kalinya Tuhan memanggil ciptaannya yang paling sempurna, yaitu manusia.

“Hai manusia datanglah kemari, Aku memanggilmu,”  demikian panggil Tuhan kepada manusia ciptaan-Nya.

“Ya Tuhan hambaMu datang menghadap,” jawab manusia sambil duduk penuh hikmat dihadapan Tuhan untuk mendengarkan apa yang hendak katakan kepadanya.

“Wahai manusia engkau adalah ciptaanKu yang tertinggi bila dibandingkan dengan semua ciptaanKu dan engkau akan kuberikan umur selama 25 tahun untuk menikmati kehidupanmu. Tugasmu adalah menikmati keindahan hidup di dunia ini, mungkin saja waktu yang kau miliki itu akan lebih banyak dipergunakan untuk santai, bersenang-senang, makan dan tidur,” begitulah penjelasan Tuhan kepada manusia ciptaan-Nya tersebut.

Mendengar apa yang telah dikatakan Tuhan kepadanya itu, untuk sejenak manusia tersebut diam dan menundukkan kepalanya, mungkin sedang berpikir. Tidak lama kemudian dengan mengangkat wajahnya seraya merangkapkan kedua telapak tangannya berkatalah dia :

“Mohon maaf hambamu yang lancang ini ya Tuhan, dengan karunia umur yang hanya sepanjang 25 tahun itu rasanya adalah sangat singkat sekali, karena pada umur sekian hambaMu baru membangun keluarga dan meningkatkan karier untuk mengejar cita-cita, dan belum puas untuk menikmatinya.

 Oleh karena itu ya Tuhan sekiranya Engkau mengabulkan, hambaMu memohon agar umur hambaMu ini bisa ditambah untuk bisa hidup lebih lama lagi,” demikian manunia tersebut menyampaikan permohonan kepada Tuhannya.

“Jadi kamu mau umurmu ditambah berapa ?” tanya Tuhan.

“Semua terserah pada Tuhan saja, berapapun yang akan Tuhan berikan akan saya terima, yang penting adalah bahwa umur hambaMu ini bertambah,” demikian permohonan manusia.

“Baiklah kalau itu yang menjadi permintaanmu, tadi Sapi mengembalikan umurnya sebanyak 30 tahun dan Anjing mengembalikan umur sebanyak 10 tahun demikian pula Monyetpun mengembalikan umur sebanyak 10 tahun. Jadi kalau dijumlahkan umur yang dikembalikan pada-Ku semuanya ada 50 tahun. Dari sekian banyak jumlah umur yang dikembalikan, berapa yang hendak kau minta ?”  kembali tanya Tuhan kepada manusia.

“Kalau sekiranya boleh dan Engkau berkenan, berikanlah ke 50 tahun umur itu kepadaku ya Tuhan, sehingga semua itu akan menambah masa hidup hambaMu ini menjadi 75 tahun ?” pinta manusia.

“Boleh Aku kabulkan permintaanmu,” demikian jawab Tuhan mengabulkan permintaan manusia ciptaan-Nya itu.

Pembaca yang budiman membaca ceritera diatas dapat kita ambil makna sebagai pesan moral adalah jika diperhatikan bahwa manusia lebih banyak maunya atau lebih serakah apabila dibandingkan dengan ciptaan lainnya.

Sebagai salah satu contoh dalam kehidupan sehari-hari yaitu apabila ada yang memasuki ladang pihak lain dan mau mengambil atau mencuri tanaman ketela pohon milik pihak lain tersebut, andaikata yang memasuki ladang tersebut adalah binatang, kambing misalnya maka yang akan dicuri hanya daunnya saja untuk dimakan akan tetapi kalau yang memasuki ladang itu adalah seorang manusia maka, ya pagarnya mungkin dirusak dan diambil untuk dipergunakan sebagai kayu bakar dan bukan hanya daunnya saja yang dipetik tetapi juga umbinya digali dan diambil.

Banyak manusia yang lupa atau tidak pernah menyadari bahwa apa yang telah diberikan oleh Tuhan kepada umat-Nya maka semua itu ada konsekuensi yang harus dijalani atau harus dipertanggung jawabkan.

Sebagai contoh Konsekuensi yang harus dijalani adalah sebagai berikut :
*). Pada umur 25 tahun pertama, kehidupan sebagai manusia kebanyakan waktu dipergunakan untuk bersenang-senang, makan, tidur dan lain sebagainya. Itu adalah merupakan sebuah gambaran tentang manusia yang tidak memiliki tujuan hidup sebenarnya dengan analogi usia awal manusia pemberian Tuhan yang hanya 25 tahun.

Selebihnya dari umur tersebut dengan secara tidak disadari bahwa manusia dalam menjalankan kehidupan sehari-harinya berlaku seperti layaknya tingkah laku ketiga binatang tersebut.

*). Dimulai dari manusia yang tidak memiliki tujuan hidup sampai dengan umur 25 tahun dan setelah itu pada 30 tahun berikutnya sampai dengan umur 55 tahun manusia berperilaku bagaikan seekor sapi.

Dalam bentuk yang positif bahwa manusia menjalankan kehidupan layaknya seekor sapi, dimana dia  harus bekerja keras sepanjang hari tanpa mengenal waktu untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarganya.

Dalam bentuk yang negative bahwa dalam pikirannya seolah-olah hidup ini hanya untuk bekerja dan bekerja saja, oleh karena itu terkadang manusia lupa untuk makan, lupa istirahat dan lupa untuk mengurus dirinya sendiri serta kurang memperhatikan kesehatannya karena hari-harinya dipenuhi dengan kegiatan ataupun aktivitas sehingga tidak jarang pula terjadi, hal tersebut malahan membuat keluarganya menjadi terbengkalai karena tidak atau kurang  terperhatikan.

Bahkan ada juga yang dalam mencari dan mengumpulkan hartanya menempuh jalan yang tidak seharusnya misalnya dengan melakukan korupsi, manipulasi dan lain-lainnya.

*). 10 tahun kemudian sehingga mencapai umur 65 tahun, manusia  berperilaku bagaikan seekor monyet yang menghibur untuk membuat cucu maupun orang lain tertawa.

Dalam arti yang negative pada usia ini manusia menjadi bahan tertawaan orang-orang disekitarnya karena perilakunya yang sudah tidak lagi pada tempatnya yang terkadang hanya mencari-cari perhatian atau ingin mendapat perhatian yang sifatnya mencari kepuasan duniawi, dapat dianalogikan seperti monyet yang sedang makan, walaupun setelah kenyang dia tetap makan dan akan disimpan di pipi kiri dan kanan sampai penuh.

Dalam arti yang positif walaupun manusia tersebut sudah tidak lagi melakukan produktiftas namun kerjanya menghibur orang dan membuat cucu tertawa tetapi pengertiannya adalah melalui pengalaman hidupnya akan memberikan jalan keluar, pencerahan dan menghibur bagi mereka yang hatinya sedang mengalami duka dan permasalahan sehingga bisa terlepas dari kesedihan serta bisa tertawa lagi.

*). Dan 10 tahun berikutnya sampai dengan umur 75 tahun, manusia berperilaku bagaikan seekor anjing yang tinggal di rumah, berdiam diri dan duduk di depan pintu, serta menggonggong atau  menyalak kepada setiap orang yang lewat, Uhuk,,,, uhuk,,,,(terbatuk-batuk).

Dalam pengertian yang negative bahwa sebagai manusia yang tidak memiliki tujuan hidup akan berdiam diri dan tidak melakukan aktivitas apapun serta hanya duduk-duduk saja didepan pintu sambil berjemur dan terbatuk-batuk.

Tidak pula mendekatkan diri kepada Sang Pencipta sehingga dalam kehidupan spiritualnya akan melihat bahwa kehidupan ini hanya sebagai hal yang sementara dan selanjutnya hilang tanpa berbekas.

Dalam pengertian yang positif manusia hanya duduk di tempat dan tidak pergi kemana-mana untuk mengolah spiritualnya dan menjaga serta memelihara kekayaan Tuhan yang telah dikaruniakan kepadanya sehingga dapat dimanfaatkan untuk bisa membantu sesama manusia yang membutuhkan.

 -o0o-

Spritualitas berasal dari bahasa latin, “spiritus,” yang berarti napas, dorongan jiwa hidup; yang juga berasal dari kata “spirare” yang berarti menghembus dan bernapas.

Jadi, kehidupan spiritual memberikan pengertian bahwa napas dan dorongan untuk hidup dan berkarya hanya didasarkan pada Sumber Pemilik Kehidupan itu sendiri. Ketika manusia menyadari akan hal ini, maka hidup pun akan terasa semakin bermakna, dan tentu sangat berarti untuk dijalani baik dalam keadaan suka maupun dalam keadaan duka.

Dari rangkuman ceritera di atas akan memberikan pengertian bahwa apabila kehidupan itu adalah merupakan sebuah pilihan maka bagaimana manusia harus menempatkan dirinya dalam mengisi dan mempergunakan kehidupan ini :

a). Apakah dalam mengisi kehidupan ini dalam bentuk yang tidak menguntungkan yaitu dengan bekerja keras tanpa menghiraukan waktu kalau perlu korupsi untuk mengumpulkan harta duniawi terkadang sampai lupa untuk memperhatikan keluarga, atau bahkan menjadi bahan tertawaan orang karena perilaku yang sudah tidak pada tempatnya atau mungkin membuat kehidupan yang sementara ini tanpa arti yang kemudian hilang tanpa berbekas.

Kalau yang LAPAR adalah PERUT manusia dengan cepat bisa mengetahui, tetapi apakah manusia juga segera dapat mengerti andaikata yang LAPAR itu adalah ROHANI ?

Lapar Rohani adalah suatu keadaan manusia yang ditandai dengan gampang membenci, mudah marah, merasa hidup tidak berarti, cepat berputus asa, sensitif, serba salah, selalu bingung, cemas, malas dalam hidup rohani sehingga gampang sekali jatuh ke dalam perbuatan-perbuatan dosa.

Sebuah perumpamaan mengatakan bahwa untuk Masuk ke dalam Surga adalah seumpama jala besar yang ditebarkan dilaut dan terkumpullah berbagai jenis ikan, kemudian setelah penuh jala tersebut diangkat ke pantai. Lalu para nelayan duduk dan memilih ikan-ikan itu, ikan yang baik dikumpulkan ke dalam tempayan dan yang buruk dibuang dan dicampakkan.

Demikian pula kehidupan manusia pada akhir zaman, para malaikat akan datang dan memisahkan orang jahat dari mereka yang benar. Orang yang jahat akan dicampakkan ke dalam tungku berapi dan disana terdapat ratapan dan kertak gigi.

Atau manusia melakukan hal yang sebaliknya, yaitu :

 b). Dalam mengisi kehidupan ini dalam arti yang positif yaitu bekerja keras sebatas kemampuan yang dimiliki dalam rangka mencukupi kebutuhan hidup keluarga dan setelah tidak melakukan aktivitas maupun produktifitas lagi maka berdasarkan pengalaman hidupnya mampu memberikan nesehat serta jalan keluar bagi yang memerlukan sehingga mereka bisa gembira dan tertawa lagi serta  selebihnya mengolah spiritualnya dengan mendekatkan diri pada Penciptanya sehingga hidupnya menjadi lebih berarti dan berguna bagi sesamanya.

Sebuah pilihan bisa di ibaratkan sebagai seseorang yang telah menabur atau menanam dan dia pasti yang akan menuai apa yang telah ditabur atau yang ditanamnya itu.

Dan apa pun yang telah ditabur akan menentukan apa yang akan di tuai kelak dikemudian hari, baik atau buruknya tergantung pada benih yang telah ditaburnya, apakah itu secara fisik, spiritual, mental atau hubungan dengan sesama dan lain-lainnya akan terus tumbuh yang akan diterimanya kembali dalam jumlah yang berlipat ganda.

Oleh karena itu :

 Marilah mencoba Untuk Berhenti dengan Selalu Memikirkan Kepentingan Diri Sendiri saja, serta introspeksi diri, untuk mengubah cara pandang tentang hidup dan bergerak aktif untuk memaknai hidup sendiri dengan cara memberikan makna bagi kehidupan orang lain.
Dan selanjutnya  marilah kita jadikan bahwa Kehadiran Di Dunia Ini sebagai Berkat bagi Orang Banyak dan bagi Orang-orang yang kita Cintai seperti Ayah, Ibu, Saudara-saudari, Suami-Istri dan Anak-anak. Jadi bukan hanya sekedar “Hidup” tetapi menjadi “Hidup yang lebih Bermakna.”

BANDUNG–INDONESIA, SEPTEMBER – 2014

Illuminata

(Gubahan Ki Ageng Bayu Sepi)

One Response to Apabila Kehidupan itu Merupakan Sebuah Pilihan, maka Manusia Harus Tahu Bagaimana Menempatkan Dirinya

  1. Very informative post, i am regular reader of your site.
    I noticed that your website is outranked by many other blogs in google’s search results.

    You deserve to be in top ten. I know what can help you, search
    in google for:
    Omond’s tips outsource the work

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *