PERILAKU DALAM BERDO’A

sedang berdoaKETIKA SESEORANG MANUSIA MERASA MENDAPATKAN BERKAT DAN RAKHMAT YANG TELAH DIBERIKAN TUHAN  KEPADANYA SELALU MENGUCAP SYUKUR SERTA KEMUDIAN SELALU BERDOA DAN BERHARAP AGAR TUHAN YANG MAHA MURAH DAN MAHA PENGASIH AKAN TERUS MENAMBAHKAN KELIMPAHAN ITU DALAM KEHIDUPANNYA.

Dalam gubahan dan reka cerita yang diperuntukkan bagi kalangan sendiri ini dikisahkan ada sepasang keluarga muda yang selalu hidup rukun serta rajin dan tekun dalam beribadah. Ibu muda ini sebut saja dengan nama Yanti adalah seorang pengajar di sebuah Perguruan sedangkan sang suami yang biasa dipanggil dengan nama Yanto adalah seorang pekerja wirasuasta.

Tingkat kehidupan mereka dapat dikatakan cukup dan tidak berkekurangan serta tata pergaulan bertetangga sangatlah baik. Sehingga mereka selalu dihargai dan dihormati di lingkungan dimana mereka tinggal.

Seperti pada umumnya para keluarga muda yang baru saja mendapatkan anugerah dari Tuhan Yang Maha Kuasa berupa kelahiran seorang putri dari hasil pernikahan mereka, maka akan merasa sangat bahagia.

Bukanlah merupakan suatu hal yang istimewa atau berlebihan melainkan  satu hal yang wajar dan biasa saja apabila seiring dengan rasa bahagia itu segala sesuatu barang yang diperlukan untuk menyongsong kehadiran anak pertama mereka adalah semua barang-barang yang kualitasnya baik serta mahal harganya. Apalagi kalau dinilai secara ekonomi kehidupan mereka dapat dikatakan mampu.

Misalnya saja persiapan untuk menanti kelahiran dimulai dari penyediaan talk, minyak kayu putih atau minyak telon, popok, baju anak, selimut, sepatu, kelambu, bantal, guling sampai dengan tempat untuk tidur dan lain-lainnya.

Walaupun mereka tidur dalam satu kamar akan tetapi sang anak dipisahkan dan di tidurkan dalam bok bayinya.

Hingga pada suatu malam hari, bangunlah Pak Yanto dan turun dari tempat tidurnya yang kemudian melangkah perlahan-lahan mendekati tempat dimana anak gadis kecilnya itu ditidurkan.

Pak Yanto betah berdiri berlama-lama memandang dihadapan boks bayi dimana anaknya sedang tidur. Jika diperhatikan tingkah laku Pak Yanto saat itu kadang-kadang tersenyum sendiri kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya atau bahkan mengusap dadanya tetapi tidak mengeluarkan kata-kata yang jelas bisa didengar sepatah pun juga. Hanya terdengar bergumam.

Dan semua yang telah dilakukan oleh Pak Yanto malam itu tidak terlepas dari pandangan mata Bu Yanti, istrinya yang selalu memperhatikan apa saja yang dikerjakan oleh suaminya itu. Dengan berpikiran positif Bu Yanti merasa bersyukur melihat apa yang dilakukan oleh Pak Yanto suaminya dan kemudian didalam hati berdo’a :

“Terima kasih ya Tuhan atas anugerah yang telah Kau limpahkan kepada kami sekeluarga dengan kelahiran seorang gadis kecil yang lucu dan menggemaskan sebagai pengikat dan kelengkapan kebahagiaan keluarga kami, ya Allah.

Ya Allah, Ya Tuhan terima kasih pula kami panjatkan ke hadiratmu ya Allah, karena hambaMu ini telah kau berikan jodoh suami yang baik hati dan pandai bersyukur serta menyayangi anaknya.”

Di dalam hati bu Yanti berpikir bahwa dia tidak salah telah memilih suami dan saat itu teringatlah dia bagaimana asal mula perkenalannya dengan suaminya itu.

Adapun ceriteranya adalah sebagai berikut :

Beberapa tahun yang lalu pada suatu siang tanpa diduga sebelumnya datang berkunjunglah seorang  pemuda yang tiba-tiba sudah berdiri di depan pintu rumah. Jika diperhatikan tamu tersebut berkulit agak kuning, bermuka oval, rambut pendek dan memakai jaket kulit serta dengan senyum yang menawan, seakan wajah tersebut tidak tidak asing dalam ingatannya. Setelah memperkenalkan dirinya barulah aku menyadarinya bahwa dia adalah Mas Yanto, pacarku beberapa tahun yang lalu yang kukenal lewat jejaring social facebook.

Memang dahulu saya sering bermain facebook, dan pertemananku sangatlah banyak mungkin tidak kurang dari 1000 orang, tetapi tidak banyak yang  berkomunikasi aktif lewat facebok ini termasuk Mas Yanto hingga akhirnya aku dan dia menjadi pacar di dunia maya.

Walaupun sebenarnya belum cukup lama aku berkenalan dengan Mas Yanto, tetapi di dalam hati sudah seperti telanjur jatuh cinta setengah mati padanya. Sehingga hati ini merasa terikat dan hanya dengan Mas Yanto saja aku bisa hidup bersama dalam ikatan rumah tangga untuk selamanya.

Namun kemudian aku segera menyadarinya, bahwa pacaran di dunia maya ini tidak akan kulanjutkan lagi, dan kuputuskan untuk memblokir akunku sendiri dan menghilang dari dunia maya serta tidak akan pernah untuk berharap lagi.

Namun pada kenyataannya sekarang ini aku hanya bisa tersenyum dan mempersilahkan tamuku itu untuk masuk dan duduk di ruang tamu. Dan  pemuda yang sedang duduk dihadapanku ini memang benar adalah Mas Yanto. Jadi saat ini aku bukan sedang bermimpi, karena wajah yang berada dihadapanku itu tidaklah berbeda dengan profil foto yang dahulu dipajang dalam facebook.

Bapak dan ibu juga ikut menemui tamu yang baru datang tersebut, tetapi di dalam hati ada rasa gelisah karena belum tahu apa maksud yang sebenarnya sampai  dia datang ke tempatku ini.

Dan setelah agak tenang dan bisa mengatur nafas, nampaknya Mas Yanto mulai hendak berbicara untuk menyampaikan sesuatu,  tetapi kelihatannya sulit seakan menyangkut di tenggorakan, sehingga suasana menjadi sepi dan Mas Yanto pun hanya bisa menundukkan kepalanya.

“Anak ini sebenarnya siapa dan dari mana serta ada keperluan apa sampai datang kemari. Dan apa yang bisa bapak bantu ?” akhirnya ayahpun bertanya untuk memecahkan suasana yang sepi sambil memperhatikan tamu yang belum dikenalnya itu.

“Bapak dan Ibu mohon maaf, perkenalkan nama saya Yanto dan saya berasal dari Garut. Kedatangan saya kemari dengan sengaja, yang pertama kali untuk bersilaturahmi dan selanjutnya kalau diijinkan, saya mempunyai suatu niatan yang sungguh-sungguh terhadap putri Bapak dan Ibu…” , penjelasan Yanto dengan tidak begitu lancar tetapi tetap halus dan sopan.

Ya ampun, sebetulnya kedatangannya itu hendak melamarku,“  demikian kataku dalam hati.

Setelah mendengar apa yang telah dikatakan Mas Yanto, lalu Bapak dan Ibu mendadak menjadi terdiam untuk sementara waktu. Dan tidak lama kemudian barulah mereka berkata lagi :

“Begini Nak Yanto saya juga memperkenalkan diri, bahwa kami ini adalah bapak dan ibunya Yanti, dan apakah Nak Yanto sudah lama mengenal Yanti sehingga mempunyai maksud baik terhadap Yanti anak kami ? Dan apakah sudah dipikirkan terlebih dahulu matang-matang agar tidak menjadi kecewa nanti di kemudian hari ?”

Yanto hanya tersenyum sebentar, dengan muka yang kelihatan agak memerah sambil menatap kearahku yang mungkin waktu itu akan terlihat pucat karena berbagai hal. Tetapi kelihatannya Mas Yanto pun nampak agak rikuh juga kalau mau menjelaskan bahwa perkanalannya denganku itu dahulu melalui jejaring social facebook.

Untuk mengurai suasana yang kurang menguntungkan itu, aku mencoba menengahi untuk memberikan menjelasan : Eh… anu Pak, Mas Yanto  ini adalah teman…….,” belum  selesai aku berbicara Mas Yanto segera memotong pembicaraan ku tersebut, sepertinya dia sudah menyusun rangkaian bahasa untuk memberi jawaban  yang akan disampaikannya.

“Bapak dan ibu, sebetulnya saya sudah cukup lama berpacaran dengan Yanti tetapi melalui facebook, kurang lebih hampir 3 tahun. Akan tetapi di dalam hati saya ini sudah merasa sangat mencintai Yanti, oleh karena itu saya ingin melanjutkan hubungan ini sampai kearah yang lebih pasti,“ demikianlah Mas Yanto menjelaskan semua hal-ihkwal perkenalanku dengannya .

Terkejut juga hatiku mendengar apa yang telah dikatakan Mas Yanto tentang hubunganku dengannya, yang tadinya memang dengan sengaja hubungan ini kuputuskan dan kulupakan, tetapi tidak tahunya bahwa dia benar-benar mencintaiku.

Kemudian bapak menanggapinya dengan bertanya kepada ibu sambil memperhatikanku yang hanya bisa menundukkan kepala sambil mempermainkan ujung baju tanpa bisa berbicara sepatah katapun :

“Bagaimana bu sebaiknya, menurut pendapatmu ?”

“Ya sebaiknya ditanyakan saja langsung  kepada yang bersangkutan, mau apa tidak? “ jawab ibu.

Seharusnya waktu itu aku berteriak dan melonjak gembira karena orang yang sangat kucintai datang melamarku dan menjawab dengan kata-kata :  “ya, aku mau” , tetapi kata-kata itu tidak bisa kuucapkan kerena tersendat menyangkut dan macet ditenggorokan serta aku tidak bisa melonjak gembira seakan badan ini terasa berat dan menempel lengket diatas kursi.

“Bagaimana Yanti, apakah kamu bersedia atau tidak, akan dipersunting Yanto untuk menjadi istrinya ?” tanya ibu yang mengagetkanku yang sementara itu pikiran dan perasaanku sedang mengembara entah kemana, sehingga tidak bisa mengucapkan sepatah katapun apa yang harus disampaikan.

Mas Yanto pun tidak berani lagi memandangku, mungkin juga hatinya juga tidak merasa tenang karena menunggu jawaban dariku.

Mengerti keadaan seperti itu kemudian bapak berkata-kata kembali menengahi dengan berkata : “Ya sudah, andaikata belum siap. Karena semuanya itu harus dipikirkan terlebih dahulu dan jangan terburu-buru, sebab ini masalah yang sangat penting !”

Kemudian Bapak berkata kepada Mas yanto : “Begini Nak Yanto, niat baik Nak Yanto kami terima, tetapi untuk sementara ini kami persilahkan datang kemari lagi pada bulan depan supaya pembicaraan ini bisa dilanjutkan dengan lebih  pasti.”

Akhirnya Bapak dan Mas Yanto bersalaman, dan akupun mengantarkannya sampai dihalaman rumah. Sambil menatap ke arahku, kemudian Mas Yanto meraih dan menggenggam tanganku sambil berkata : “Dik Yanti aku menepati janjiku dahulu untuk mencintaimu dan sekarang kubuktikan aku datang ke orang tuamu untuk memintamu menjadi istriku untuk selamanya, dan percayalah kepadaku…,”  tetapi tanganku pun kutarik agar terlepas dari genggaman tangannya.

Sebenarnya aku masih belum bisa percaya dengan kejadian ini dan kukatakan kepadanya : “Mohon maaf Mas Yanto, dahulu aku tidak serius, karena aku tidak percaya ketika kita sedang berpacaran lewat facebook.

Sudah banyak contoh yang telah tertipu karena pacaran melalui facebook, karena pada umumnya yang menjadi kurban adalah kaum perempuan sebab sudah terlanjur jatuh cinta dan akhirnya harus menderita karena disakiti hatinya.

Dan sayapun tidak pernah mengira bahwa kita juga bisa menjalani berpacaran melalui  facebook.”

“Dik Yanti, mengapa engkau ini tega sekali padaku !  Aku ini serius cinta padamu dan itu akan kubuktikan serta kutunggu jawabanmu,” jawab Mas Yanto dengan mimik muka yang menunjukkan bahwa dia serius.

“Mas perhatikanlah sekali lagi, aku ini orangnya gemuk, memiliki ukuran paha dan pinggul yang besar. Dan setelah melihat kenyataan diriku seperti ini, mungkin Mas Yanto akan berpikir seribu kali untuk meneruskan niat itu,” jawab ku perlahan.

Tiba-tiba Yanto melengak kaget dan kemudian tersenyum lalu tertawa perlahan sambil berkata : “ Ha….? Itu tidak masalah bagiku, di mataku kamu terlihat seksi. Soal engkau memiliki ukuran paha yang besar, nanti kan bisa berlatih fitness atau nanti kubawa ke pengasuhku agar diterapi.

“Seksi apa mas? Seksi Konsumsi ? Jangan suka mengumbar rayuan gombal seperti itulah mas, bisa-bisa nanti berbeda di akhirnya,” kembali kataku untuk memperoleh keyakinan atas pernyataannya.

“Jangan begitulah dik, yang terpenting adalah bahwa bagaimana kita nanti bisa menjalin hubungan sebagai suami istri selama hidup ini dengan melaksanakan rencana-rencana yang telah kita susun dan kita sepakati seperti ketika masih berpacaran.

Sudah ya dik Yanti sekarang aku pamit untuk pulang dahulu dan janganlah khawatir atau ragu, bulan depan aku akan datang kemari untuk menepati janjiku ini dengan membawa serta keluargaku untuk melamarmu dik, bersedia atau tidak ?”

Belum sempat aku memberikan jawaban mau atau tidak, sudah keburu Mas Yanto melaju dengan sepeda motornya yang memang sudah dihidupkan  sejak tadi …………..

Beberapa waktu semenjak peristiwa itu terjadi, kini sudah menjadi suatu kenyataan bahwa aku dengan Mas Yanto sudah menjadi sepasang suami istri dan sedang berbahagia karena di anugerahi dengan kelahiran seorang puteri yang mungil dan jelita.

–o0o-

Mengingat perjalanan dari kisah cinta yang di alaminya itu Bu Yanti kemudian tersenyum, dan kini Pak Yanto pun sudah menjadi suami dan ayah yang baik bagi puterinya, kemudian dia bersyukur dan berdoa : “ Ya Tuhan terima kasih atas segala karuniamu bahwa aku tidak salah memilih suami walaupun awalnya melalui facebook. Bimbing dan sertailah kami selalu dalam perjalanan hidup ini untuk selamanya. Amin.”

Tiba-tiba terdengar bunyi lonceng pada jam dinding yang berdentang dengan keras tanda menunjukkan bahwa waktu telah larut malam dan itu membuat kaget Bu Yanti sehingga membuyarkan semua lamunannya dan pandangannya kembali tertuju kepada apa yang dilakukan suaminya di depan boks bayi dimana anak perempuannya ditidurkan.

Seperti manusia pada umumnya Bu Yanti juga tidak langsung merasa puas dengan yang di tafsirkan melalui apa yang telah dilihatnya apabila belum mendapat kepastian benar atau tidaknya tentang apa yang telah diperkirakannya itu.

Kemudian dengan perlahan pula Bu Yanti juga bangun dan turun dari tempat tidurnya serta mendekati Pak Yanto yang sedang berdiri di depan Boks bayinya. Beberapa waktu setelah menemani Pak Yanto yang sedang berdiri itu kemudian bertanyalah Bu Yanti kepada suaminya :

“Ayah, sudah sejak tadi kalau mamah perhatikan ayah berdiri didepan anak kita yang sedang tidur terkadang suka senyum sendiri, geleng-geleng kepala serta mengusap-usap dada, kalau mamah boleh tahu apa sih sebenarnya yang ada dalam pikiran ayah?”

Kemudian dengan cepat Pak Yanto menjawabnya :

“Tidak apa-apa mah, ayah hanya heran. Mengapa Boks bayi model begini saja kok harganya  begitu mahal, sampai berjuta-juta.”

Saudaraku semua pembaca yang budiman dari ceritera yang agak konyol tersebut dapat kita ambil hikmahnya untuk pesan moral dan sebagai bahan perenungan untuk diri kita masing-masing dalam kehidupan sehari-hari.

Pada umumnya ketika mengucap syukur setelah menerima segala berkat dan rahmat Tuhan yang telah diberikan, maka manusia akan selalu berdo’a agar Allah, Tuhan Yang Maha Murah dan Maha Pengasih  akan terus menambahkan kelimpahan itu dalam kehidupan nya.

Akan tetapi pada kenyataannya apa yang menjadi kemauan manusia sesuai dengan do’a yang dipanjatkan tersebut tidaklah selalu dikabulkan seperti apa yang menjadi keinginannya.

Dan manusia pada umumnya manusia itu sendiri tidak pernah tahu dan bisa mengerti tentang hikmah atau hal yang sebenarnya berlangsung dibalik kejadian yang nampak dan dapat di lihat dengan mata.

Jika ada pertanyaan :

Adakah orang yang tidak pernah berdo’a ?

Mungkin saja ada, tetapi pada kehidupan sehari-hari dalam bermasyarakat tidaklah mudah menemukan seorang manusia yang tidak pernah berdo’a ? Bahkan ada pengakuan bahwa seorang penjahatpun sebelum melakukan aktifitasnya juga akan berdo’a terlebih dahulu.

Tetapi jika diperhatikan apa yang biasa dilakukan manusia dalam kehidupan sehari-hari dalam memanjatkan do’a itu, apakah sedang menyampaikan segala kelemahan dan kekurangannya serta mohon diberikan kekuatan dan peneguhan ataukah sedang memaksakan kehendaknya dengan Memerintah Tuhan walaupun kalimat yang diucapkan adalah Memohon.

Suatu pendapat dari hasil pengamatan seseorang dalam kehidupan sehari-hari bermasyarakat diketemukan suatu kenyataan bahwa banyak manusia yang dalam melaksanakan kegiatan do’a dapat dibedakan menjadi beberapa golongan pemahaman dan perilaku, antara lain sebagai berikut :

1. Melakukan kegiatan berdo’a seakan jual beli dengan Tuhan : Tuhan menawarkan atau menjual sesuatu kemudian manusia membeli sesuatu tersebut.

Misalnya yang dijual Tuhan adalah : Ampunan dan Surga, dan apa yang dipergunakan untuk membelinya yaitu Iman kepada Nya dan kepada Rasul-Nya serta kerja keras dengan menggunakan  Harta Benda dan Jiwa Raga di Jalan Allah.

Sebagai sebuah Ilustrasi, misalkan saja akan pergi berekreasi ketempat wisata maka yang terlebih dahulu harus dipersiapkan adalah rencana pengeluaran biaya untuk pembelian tiket, transportasi, akomodasi, konsumsi dan lain-lain.

Yang harus diketahui bahwa pola pemikiran seperti tersebut diatas bahwa manusia harus beriman dan melakukan perbuatan baik di jalan Allah atau mengumpulkan pahala agar dapat masuk surga adalah sebuah pola pemikiran yang jelas kurang tepat, karena untuk memperoleh surga tidak bisa disamakan dan direncanakan seperti sesuatu yang berlaku dalam kehidupan di dunia ini, kemudian manusia mendapatkannya.

Berbuat baik menurut jalan Allah dan bermanfaat bagi manusia lainnya serta beriman adalah merupakan suatu keharusan bagi setiap manusia namun tidak dengan menginginkan suatu imbalan atau pamrih untuk mendapatkan surga. Dengan perkataan lain lakukanlah kesemuanya itu dengan penuh keikhlasan, sebab masalah surga adalah semata-mata hanyalah anugerah dari Tuhan Yang Maha Kuasa.

2. Menyadari bahwa Allah adalah Tuhan : Maka dalam berdoa bukan lagi karena ingin berjual-beli dengan Allah, tetapi Manusia memang menyadari bahwa Allah itu adalah yang wajib disembah atau sesembahan manusia.

Oleh karena itu ketika berdo’a manusia tidak lagi mengungkit-ungkit atau mengkaitkan dengan amal kebaikan yang telah dilakukan, tetapi manusia memohon ampunan dan bersujud dihadapan-Nya.

3. Memohon agar diberikan yang terbaik : yaitu ketika berdo’a manusia meminta agar diberikan yang terbaik untuknya. Jadi manusia tidak lagi menonjolkan apa yang menjadi kamauan dan keinginannya, akan tetapi manusia hanya melakukan pasrah dan berserah kepada-Nya.

Jadi artinya manusia harus menerima apa pun yang akan diberikan Tuhan, walaupun hal yang akan diberikan tersebut mungkin saja tidak sesuai dengan apa yang menjadi keinginan hatinya.

4. Mensyukuri Nikmat : sebagai ilustrasi bahwa doa semacam ini selalu bersyukur atas segala anugerah-Nya. Apabila manusia  mensyukuri semua anugerah-Nya maka Allah akan menambahkan  kenikmatan tersebut.

Ada sesuatu hal yang dikatakan kurang tepat pada tempatnya apabila seorang manusia yang sudah diberikan harta benda yang berkelimpahan namun dalam doanya selalu meminta diberikan kekayaan dan seharusnya berdoa tidaklah seperti itu tetapi harus mensyukuri atas anugerah yang telah diterimanya  dengan mempergunakan kekayaan yang diperolehnya itu sesuai dengan yang dikehendaki oleh Allah.

Maka dengan sikap berdoa seperti diatas karena mensyukuri anugerah yang telah diberikan dan diterimanya itu, Allah akan menambahkan kenikmatan tersebut.

5. Mengikuti apa yang dilakukan Tuhan : ada yang menyebutkan bahwa do’a semacam ini adalah merupakan “kepanjangan tangan Tuhan.”

Dan ada yang mengatakan bahwa doa yang demikian itu adalah Do’a orang yang dekat dengan Allah, yaitu orang yang tidak pernah berpikir untuk meminta kepada Allah untuk kepentingan dirinya sendiri, karena dia menyadari bahwa justru Allah selalu memberi apa yang dibutuhkan sebelum manusia tersebut memintanya.

Dan yang ada dalam pemikirannya adalah bagaimana dia bisa “membantu” Allah untuk menyalurkan berkat dan rakhmat bagi semua makhluk Nya. Jadi semangat yang dilakukannya bukan lagi meminta-minta, melainkan beramal dan beribadah sebanyak mungkin di jalan yang dikehendaki Allah.

Sebuah contoh, misalnya saja dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan masyarakat bisa dengan membantu orang yang sedang berkesusahan atau mendamaikan yang bermusuhan.

Karena orang yang bermusuhan terkadang tidak pernah merasa bahwa dirinya sendiri bersalah dan tidak dipercaya oleh orang lain karena tidak pernah mengkoreksi dirinya sendiri bahwa selama ini apa yang telah dilakukannya tidak berkenan di depan orang lain dan sebagainya.

Berkaitan dengan uraian tersebut diatas ada seorang sufi yang berdoa, bila ditulis dengan bahasa yang bebas adalah demikian :

“ Ya Tuhan jika hamba-Mu ini beribadah karena rasa takut akan nerakamu, masukkan aku ke dalam nerakamu yang paling dasar dan jika hamba-Mu ini beribadah karena ingin masuk surgamu maka keluarkanlah aku dari surgamu.”

Kemudian, bagaimana dengan kita ?

BANDUNG–INDONESIA, OKTOBER – 2014

   Mutiara Hati

(Gubahan Ki Ageng Bayu Sepi

Sumber : www.terapimurni.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *