KETIKA SUAMI ISTRI BERTUKAR PERAN

wanita bekerja-1GUBAHAN DAN REKA CERITA INI DIMAKSUDKAN UNTUK MEMBERIKAN GAMBARAN DAN PENJELASAN BAHWA KEBANYAKAN MANUSIA MERASA BAHWA HANYA DIRINYALAH YANG PALING …… TANPA PERNAH MAU TAHU BAHWA ORANG LAINPUN JUGA MEMPUNYAI PERANANNYA MASING-MASING……

Diceriterakan ketika pada suatu sore hari menjelang senja, seorang pria yang posisinya sebagai kepala rumah tangga atau seorang suami, sebut saja namanya Denys, yang baru saja pulang dari tempat bekerjanya serta kelihatan kuyu dan lelah. Akan tetapi setibanya di rumah didapati istrinya ternyata tidak berada di tempat, entah sedang pergi kemana karena tidak ada pemberitahuan.

Tanpa ada pemikiran yang lebih panjang lagi, tiba–tiba timbul rasa kejengkelan dalam hatinya, apalagi sesuatu yang biasanya selalu sudah siap sekarang belum tersediakan. Misalnya air hangat untuk mandi, kopi panas ataupun makan malam dan lain sebagainya.

Tidak berapa lama kemudian terlihatlah istrinya pulang, dengan tidak sabar ditanyalah istrinya tersebut dengan nada agak ketus : “Dari mana saja Mah, sudah sore begini baru pulang ke rumah ?”

“Oh, ini Yah, tadi Mamah bersama-sama dengan ibu-ibu yang lain menengok tetangga yang sedang terkena musibah. Maafkan Mamah ya Yah, karena Ayah harus menununggu sebab Mamah belum sempat menyiapkan keperluan Ayah,” penjelasan istrinya sambil meminta maaf.

Tetapi karena rasa kesal yang sudah memuncak memenuhi dan menguasai hati dan pikirannya penjelasan apapun yang diberikan oleh istrinya tidak bisa diterimanya, bahkan dengan kata-kata ketus menjawab : “Ah itu kan hanya alasan kamu saja……!” 

Pada umumnya ego seorang laki-laki itu jauh lebih tinggi, maka demikian pula halnya dengan Denys, sehingga merasa seakan-akan hanya dirinya saja yang bersusah payah bekerja jungkir balik, banting tulang mencari uang untuk memberi nafkah, sedangkan istrinya tersebut dianggap hanya enak-enakan dan bisa pergi kemana saja yang disuka atau hanya duduk-duduk santai saja kalau berada di rumah.

Oleh karena itu agar hatinya yang sedang jengkel karena marah dan iri hati terhadap istrinya bisa terobati maka dia kemudian memanjatkan doanya kepada Tuhan Allahnya :

“Ya Tuhanku, ya Allahku, hambamu ini setiap harinya bekerja sehari penuh, berangkat pagi-pagi sekali dan pulang menjelang senja, sementara istriku hanya duduk diam dan enak-enakan saja di rumah. Hambamu mohon ya Allah, supaya Engkau sudi menukar tubuh kami sehari saja agar kami bisa bertukar peran dalam rumah tangga ini, biar dia juga mengetahui bagaimana rasanya badan yang lelah dalam mencari nafkah.”

“Denys hambaku yang baik, aku tidak berkeberatan mengabulkan permintaanmu, tetapi apakah permintaanmu itu sudah kau pikirkan matang-matang terlebih dahulu tentang apa untung dan ruginya dan bukan hanya karena dilandasi emosi dan rasa sakit hati belaka ?” jawab Tuhan sambil menanya kembali kepada Denys.

“Hambamu sudah mempertimbangkannya masak-masak ya Allah, mungkin lebih cepat akan lebih baik agar dia segera dapat belajar pada kondisi yang baru,” demikian kata Denys yang bersikukuh dengan keinginannya.

“Baiklah kalau demikian, jika permintaanmu memang sudah tidak dapat dirobah lagi,” dan Tuhan Yang Maha Bijaksana pun mengabulkan permintaan Denys tersebut.

Pada keesokan pagi harinya, ketika Denys terbangun dari tidurnya dia telah mendapati dirinya sudah sebagai seorang istri, dan kemudian memulai harinya dengan membuat sarapan pagi untuk seluruh anggota keluarga, membangunkan anak-anaknya, mempersiapkan baju sekolah mereka, menyuapi mereka, mempersiapkan bekal sekolah mereka.

Sekembali dari mengantar anak-anak ke sekolah, mampir dahulu ke bank untuk melakukan transaksi keuangan keluarga, yang dilanjutkan dengan pergi belanja, lalu pulang kerumah menyimpan barang belanjaan, selanjutnya pergi membayar rekening-rekening pengeluaran rumah tangga seperti, telepon, listrik dan air,  lalu menuliskan pembukuan keluarga.

Kira-kira hari telah menunjukkan waktu pukul 1 siang, dia kemudian segera membereskan tempat tidur, mencuci pakaian-pakaian yang sudah kotor, membersihkan kotoran-kotoran atau debu yang menempel, menyapu dan mengepel. Setelah itu kembali bergegas pergi lagi ke sekolah untuk menjemput anak-anaknya, dan masih menyempatkan waktu untuk berbincang dengan anak-anak tentang kegiatan di sekolah, kemudian barulah pulang kerumah.

Setelah sampai di rumah, mempersiapkan makan siang bagi anak-anaknya, mempersiapkan meja untuk membantu mengerjakan Pekerjaan Rumah mereka, menyuruh anak-anak untuk tidur siang, sementara dalam selang waktu tersebut, dia mulai menyeterika sambil mendengarkan Radio.

Pada pukul 4.30 sore, dia mulai menyiapkan makan malam, mencuci dan memotong sayur untuk dimasak dan kemudian dilanjutkan dengan mencuci piring yang kotor bekas makan siang tadi. Sementara sambil memasak dan menunggu suami pulang kerja, dia memandikan anak-anak.

Makan malam dimulai dengan sedikit keributan di meja makan karena anak-anak bertengkar, setelah selesai makan malam lalu mencuci piring dan dilanjutkan dengan melipat baju-baju yang sudah kering untuk diseterika pada besok harinya. Kemudian setelah itu, mengantar anak-anak untuk pergi tidur.

Ketika waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam, dia tergeletak kelelahan karena seharian penuh telah melakukan kegiatan rutin rumah tangga, dan kegiatan pada hari itu ditutup ketika pada malam harinya saat anak-anak semuanya sudah tertidur dia harus melayani kebutuhan biologis suaminya dengan baik.

Pada keesokan pagi berikutnya, ketika sudah bangun dari tidurnya maka segeralah dia berdoa : “Ya Tuhanku, Ya Allahku,  betapa bodohnya hambamu selama ini, tidak pernah mau menyadari betapa susah dan mulianya seorang istri, dan begitu pula betapa bodohnya hambamu ini Ya Allah yang merasa iri hati dengan istrinya. Setelah hambamu mengerti semuanya Ya Allah  karena telah mengalaminya sendiri, maka hambamu mohon ampun dan bertobat serta mohon agar bisa dikembalikan seperti pada keadaan semula.”

Dan Tuhanpun menjawabya  : “Anak dan Hamba Ku yang baik Denys,  engkau sudah belajar dan menemukan sesuatu rupanya pada sehari kemarin. Maka Aku dengan senang hati akan mengembalikan semua seperti semula, akan tetapi ada sesuatu hal yang harus kau ketahui yaitu engkau harus lebih bersabar menunggu waktu kurang lebih sampai 9 bulan kedepan.”

“Tetapi mengapa ya Allah,” kembali tanya Denys karena tidak mengerti.

“Ketahulilah bahwa semalam ketika engkau berhubungan badan telah terjadi pembuahan atau singkatnya engkau telah hamil………………………….. 

Dengan menantikan sebuah proses kelahiran bayi serta memelihara dan menyusuinya, maka dengan begitu akan lebih lengkaplah pengalaman dan pengetahuan yang akan kau peroleh,” demikianlah penjelasan dari Tuhan.

 

Saudara pembaca yang budiman, tentu saja kalau cerita “bertukar peran” diatas adalah hanya sebatas sebuah reka cerita dengan sedikit humor dan bermaksud untuk menggambarkan bahwa jika manusia apakah itu kaum laki-laki ataupun perempuan yang sangat egois dan merasa bahwa dirinya paling……maka akal sehat dan nuraninya akan tertutup dan apabila seseorang dalam mengambil suatu keputusan pada saat sedang marah, jengkel atau sakit hati hasilnya tidak akan pernah benar. Untuk mudahnya saja sebagai contoh ceritera diatas diambil dan ditulis bahwa dalam sebuah rumah tangga ada seorang laki-laki yang sangat egois. Adapun hikmah atau pesan moral yang sebenarnya dimaksudkan adalah “bertukar peran” dalam pelaksanaan kehidupan berumah tangga sehari-hari.

1.) Di dalam sebuah kehidupan berumah tangga pada umumnya suamilah yang harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga, namun tidak jarang pula kita jumpai peran seperti itu diambil alih sepenuhnya oleh perempuan atau istri, dan laki-laki atau suami sibuk mengurusi urusan yang ada di rumah atau dengan kata lain menjadi pengasuh anak di rumah.

Bagi seorang ibu dalam mengasuh anak seharian itu adalah merupakan suatu  pekerjaan yang sudah biasa karena seorang perempuan memang ditakdirkan  lebih mempunyai rasa kasih sayang. Dan pekerjaan yang demikian akan dilakukannya dengan perasaan yang bahagia sebab hal ini adalah merupakan suatu kewajiban bagi seorang ibu.

Namun di zaman modern seperti sekarang ini peran ibu/istri/perempuan bukan lagi hanya terbatas sebagai pengasuh anak di rumah, tetapi para perempuanpun banyak memilih untuk membantu menambah penghasilan keluarga, karena kaum perempuanpun memiliki kemampuan untuk melakukannya. Dia mampu bersaing di dunia kerja bersama dengan para lelaki, dan ini memang merupakan hal yang sudah biasa bagi kaum perempuan saat sekarang ini.

Sementara itu untuk seorang Ayah/Suami/Kepala Keluarga adalah merupakan orang yang harus bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan keluarga dalam mencari nafkah, dan kegiatan berganti peran semacam itu tentu saja bukanlah merupakan suatu pekerjaan yang mudah bagi seorang laki-laki atau suami untuk melakukannya dengan baik. Karena hal itu dibutuhkan kekuatan mental dan keikhlasan yang luar biasa untuk mampu menjalankan peran sebagai seorang ayah rumah tangga yang mengasuh buah hati sambil menunggu istri pulang dari kantor.

2.) Jika ada seorang suami yang berperan sepenuhnya sebagai kepala keluarga dan menjadi tulang punggung keluarga, apabila menyaksikan seorang laki-laki atau suami lain menjadi bapak rumah tangga atau mengasuh buah hatinya sepanjang hari, barangkali saja akan memberikan komentar atau mungkin ada yang bertanya dalam hati : “Lho kok dia mau seperti itu Ya ?” atau ada yang merasa kasihan : “Kasihan sekali dia…!” atau bahkan mungkin ada yang mencemooh : “Mau-maunya sebagai seorang suami seperti itu, mengasuh anak si rumah !”

Tetapi bagi mereka yang merupakan pasangan suami istri dan terpaksa harus menjalankan kondisi seperti itu, tentu saja hal tersebut adalah merupakan sebuah pilihan yang terbaik. Karena apapun akan dilakukannya demi untuk memenuhi kebutuhan keluarga terutama anak-anaknya.

3.) Sebenarnya banyak factor yang bisa mengharuskan sebuah keluarga dihadapkan pada pilihan ini. Mungkin saja pada awalnya ini adalah karena sebuah keterpaksaan, sebab karier atau kedudukan istri lebih bagus dan menjanjikan bila dibandingkan dengan kedudukan atau  karier suami, dan sementara anak-anak di rumah membutuhkan perhatian sebab tidak ada yang mengasuhnya.

Dan untuk memperkerjakan seorang pengasuh anak-anak atau baby sister kemampuan keuangan yang dimilikinya tidak memadai atau bisa saja ayah dan ibunya tidak percaya apabila anak-anak mereka diasuh dan dibesarkan oleh orang lain atau pembantu rumah tangga.

Banyak kondisi seperti ini banyak dialami oleh pasangan keluarga, dimana  kondisi suami belum mendapatkan pekerjaan yang tetap atau dapat juga terjadi karena suami baru saja di PHK dan mau atau tidak mau seorang istri harus bersedia menerima serta menjadi pengganti sebagai tulang punggung keluarga.

Bila sebuah pasangan keluarga mengalami kejadian seperti itu tidak pernah ada seorangpun yang menginginkan bahwa hal tersebut terjadi untuk selamanya, seorang istri apalagi suami itu sendiri pasti selalu berusaha dan berharap bahwa nantinya suami tersebut akan mendapatkan pekerjaan yang bisa diandalkan sebagai sumber untuk menafkahi kebutuhan keluarga.

4.) Jika terjadi keadaan berganti peran seperti di atas memang akan dirasakan sangat berat dan tidak mudah untuk dijalani oleh sebuah pasangan keluarga, baik itu yang dirasakan oleh istri ataupun yang dirasakan oleh suami.

Bagi seorang istri, sedikit ataupun banyak akan mendatangkan rasa rendah diri  karena mempunyai seorang suami yang tidak bekerja. Meskipun secara pribadi dia bisa menerima kenyataan yang ada, namun terkadang akan merasa takut kalau ada penilaian miring dari teman-temannya atau ada pertanyaan dari orang-orang yang berada di sekitarnya tentang hal tersebut dan lambat laun tentunya akan mengganggu pikiran dan perasaannya.

5.) Disamping sebagai pengganti tulang punggung keluarga, seorang perempuan juga harus dihadapkan pada persoalan tanggung jawabnya sebagai seorang perempuan dan istri yang harus memenuhi dan melayani kebutuhan biologios suaminya dengan baik.

Akan tetapi ada suatu kondisi yang tidak memungkinkan bagi seorang istri untuk melayani hal tersebut dengan baik, yaitu ketika merasakan kelelahan yang amat sangat sehabis pulang bekerja dan dengan sangat terpaksa mengabaikan permintaan suami untuk melayaninya.

Walaupun merasa sangat bersalah karena menolak keinginan untuk melayani kebutuhan biologis suami mungkin juga ini sering terjadi tetapi hal itu memang disebabkan oleh karena kondisi badannya yang benar-benar tidak bisa diajak kompromi lagi.

Dan yang menjadi pertanyaan disini adalah, apakah seorang suami bisa lebih  bijaksana dengan memaklumi dan bisa mengerti melihat kondisi istrinya seperti itu sehingga dengan sukarela menahan untuk sementara serta mengesampingkan dahulu keinginannya sampai kondisi istrinya benar-benar memungkinkan.

6.) Apalagi jika diperhatikan seorang istri yang pulang dari bekerjanya yang bisa dikatakan berangkat pagi hari dan pulang menjelang malam sesampainya tiba di rumah biasanya tidak akan bisa langsung beristirahat karena ada pekerjaan rumah yang sudah menunggu yaitu antara lain seperti memasak, mencuci, seterika, bersih-bersih dan lain-lain.

Ada juga laki-laki yang bisa mengerjakan namun  biasanya seorang laki-laki atau suami akan merasa kesulitan dalam melakukan banyak hal atau keseluruhan pekerjaan rumah tangga secara bersamaan karena kurangnya rasa kesabaran dan ketelatenan seperti yang dimiliki oleh seorang perempuan pada umumnya.

Dan ini akan menjadi beban psikologis tersendiri yang pada akhirnya menganggu kemesraan diantara mereka. Jika hal ini terjadi secara terus-menerus maka tentunya pada akhirnya akan mengakibatkan hubungan mereka menjadi tidak baik ke depannya.

7.) Dapat dikatakan sama halnya dengan istri apabila suami atau laki-laki yang terpaksa harus menjadi ayah rumah tangga yang mengasuh dan menjaga anak-anak di rumah pasti akan memiliki beban mental yang cukup berat, meskipun seorang pria atau laki-laki tersebut mau menjalankan perannya sebagai ayah rumah tangga.

Akan tetapi bisa saja mereka akan mengalami krisis percaya diri atau bahkan mungkin bisa stress. Hal yang demikian ini bisa terpicu karena pada umumnya kaum lelaki yang memiliki ego lebih tinggi maka keberadaannya di rumah yang menurut penilaiannya tidak sebanding dengan posisi yang dimiliki istrinya, oleh karena itu :

*) Ketidakmampuannya dalam memberikan nafkah lahir pada keluarga akan membuat dirinya merasa terpukul dan merasa dirinya menjadi seakan tidak berharga.

*) Belum lagi harus menahan rasa malu pada saat menghadapi penilian orang di sekitarnya sehingga tidak ada kemauan untuk bersosialisasi dan lebih baik mengurung diri di dalam rumah mencari kesibukannya sendiri. Masih beruntung apabila kesibukan tersebut tidak bersifat negative dan tidak merugikan dirinya sendiri.

*) Dan tidak hanya terhadap orang luar saja bahkan mungkin juga mereka harus menahan rasa malu bila dilecehkan oleh keluarga istrinya. Tetapi belum tentu hal tersebut terjadi seperti demikian bahkan mungkin saja hanya sebuah reka-reka pikirannya sendiri oleh karena itu ada sementara orang yang mengambil jalan pintas yaitu lebih baik bercerai saja dari pada menanggung malu menjadi beban istri dan lain-lain.

8.) Ini memang merupakan sebuah hal yang dilematis, karena adanya penanaman budaya dan pengertian yang sudah mengakar di dalam masyarakat bahwa yang bertugas untuk memenuhi kebutuhan keluarga itu adalah suami atau laki-laki. Dan ketika terjadi kasus yang sebaliknya maka masyarakat akan sulit menerimanya, dan tidak jarang pula terjadi mereka malahan mencibirkan bibir, mencemooh atau bahkan mentertawakannya.

Satu hal lagi yang perlu diketahui bahwa orang tua dituntut untuk mampu memberikan pengertian dengan bijak mengenai kondisi yang dialami seperti ini kepada anak-anak mereka. Hal tersebut dikhawatirkan karena adanya tekanan yang datang dari luar maka hal tersebut bisa saja membuat mereka menjadi bingung, dengan peranan kedua orang tua mereka yang saling bertukar.

9.) Tetapi walau bagaimanapun juga orang harus tetap menghargai dan salut terhadap mereka baik kepada istri maupun kepada suami, karena mereka adalah merupakan orang-orang yang hebat yang mampu menjalankan peran yang tidak biasa. Dan tidak banyak orang sanggup melakukan hal seperti itu.

Yang harus tetap dijaga dan dipelihara di dalam rumah tangga tersebut adalah jangan sampai pernah terjadi seperti sebuah ungkapan yang mengatakan bahwa : seorang perempuan digoda dalam rumah tangganya ketika suaminya sedang tidak mempunyai apa-apa, sedang seorang laki-laki digoda dalam rumah tangganya ketika dia sedang mempunyai segalanya.

Kita semua hanya bisa membantu dengan memberikan dorongan atau motivasi, berdoa dan berharap bahwa kepada mereka yang menjadi teman kita, saudara kita maupun kerabat kita yang merupakan pasangan suami-istri dan sedang mengalami masalah bertukar peran supaya bisa menjalankannya dengan baik.

Jangan lupa serahkan semua kepada-Nya agar dapat melakukan dengan ikhlas serta sambil tetap berdoa dan berusaha supaya mendapatkan jalan keluar terbaik dikemudian harinya.

BANDUNG–INDONESIA, JULI – 2014

Mutiara Hati

(Gubahan Ki Ageng Bayu Sepi)               

One Response to KETIKA SUAMI ISTRI BERTUKAR PERAN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *