APA YANG PANTAS UNTUK DI SOMBONGKAN

sombong-1GUBAHAN DAN REKA CERITA INI SEPERTI BIASANYA SECARA KHUSUS DITUJUKAN KEPADA ANGGOTA DI LINGKUNGAN SENDIRI DAN SECARA UMUM KEPADA PARA PEMBACA SEBAGAI BAHAN PERENUNGAN YANG DIAMBIL DARI SEBUAH KEJADIAN ATAU KISAH NYATA YANG TERJADI DIANTARA MEREKA DAN MERUPAKAN  GAMBARAN TENTANG KEHIDUPAN BAHWA KETIKA MANUSIA SEDANG DIHINGGAPI PENYAKIT PERASAAN SOMBONG DI DALAM HATI  AKAN  SANGAT SULIT UNTUK BISA DENGAN MUDAH MENGENALINYA.

 

ALAHAMDULILLAH, PUJI TUHAN BAHWA ARTIKEL RENUNGAN YANG SUDAH-SUDAH SELALU PUNYA BANYAK MANFAAT DAN DAPAT MEROBAH PERILAKU PEMBACA TERUTAMA KALANGAN SENDIRI SEHINGGA MENJADI LEBIH BAIK.

 

DAN MOHON MAAF APABILA RENUNGAN YANG DITULIS TERDAPAT BEBERAPA KEKURANGAN ATAU KESALAHAN YANG TIDAK SENGAJA DIBUAT DEMIKIAN, NAMUN HARAPANNYA ADALAH SAMA AGAR BISA MENJADI MANFAAT BAGI YANG MEMBACANYA.

 

Pada suatu ketika datanglah salah seorang murid bertamu kerumah pengasuh atau guru spiritualnya.

“Sampurasun,” uluk salamnya.

“Rampes…..,” sahut sang guru membalas salam tersebut. “Oh kamu Priyangga, silakan masuk dan tunggu  sebentar aku sedang menyelesaikan pekerjaan,” kembali kata guru tersebut sambil melanjutkan pekerjaannya.

Tetapi murid yang disebut dengan nama Priyangga itu tidak segera masuk ke dalam rumah, hanya berdiri saja di luar dan tertegun keheranan ketika melihat guru spiritualnya itu sedang sibuk bekerja membersihkan rumah, menyikat lantai, menguras dan membersihkan kolam ikan hias serta mengangkut air untuk mengisinya sehingga keringatnya kelihatan bercucuran.

Namun dalam hatinya dia berpikir : “Mengapa guru itu berkenan melakukannya sendiri, padahal aku tahu persis kalau dia mau, tinggal minta tolong saja kepada orang lain atau kepada para muridnya pasti banyak yang akan mau membantunya.”

Ketika semua kegiatan benar-benar sudah selesai maka baru masuklah Priyangga ke dalam rumah, tetapi karena ada sesuatu yang tidak biasanya terjadi dan dianggap agak aneh serta mengganjal dalam hatinya, maka murid tersebut  memberanikan diri dan bertanya kepada gurunya :

“Mohon maaf guru, apa yang sedang guru lakukan dan mengapa guru melakukannya sendiri ? Kalau guru meminta tolong, kami semua tidak akan berkeberatan untuk membantunya,” kata Priyangga sambil ingin minta penjelasan.

Kemudian dengan tersenyum guru ini pun menjawab perlahan : “Begini lho Priyangga, aku mengerti akan niat baikmu. Untuk itu aku ucapkan terima kasih. Tetapi sebenarnya apa yang kulakukan mempunyai maksud dan tujuan yang tersendiri, antara lain yaitu :

1. Hitung-hitung berolah raga. Dengan mengerjakan semuanya secara sendiri, sehingga seluruh anggauta badan digerakkan akibatnya kotoran-kotoran dari dalam tubuh akan keluar melalui cucuran keringat. Dan hal ini akan menyehatkan badan serta memperlancar metabolisme tubuh.

2. Karena asyik dengan kesibukan tersebut merupakan salah satu cara agar lebih bisa belajar berkonsentrasi dalam melakukan segala sesuatu hal serta belajar menerima dan menikmati apa yang sedang terjadi, apakah itu hal yang menyenangkan ataupun hal yang tidak menyenangkan.

3. Dengan menerima dan menikmati keadaan apapun yang sedang terjadi berarti mengalihkan pikiran, perhatian dan perasaan serta berupaya untuk menekan, menghilangkan dan tidak memberi kesempatan pada perasaan sombong yang mungkin muncul dalam hati.

Misalnya saja, jika seseorang merasa dirinya dapat membantu melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain dalam berbagai bentuk dan cara, terkadang tanpa disadari muncul perasaan bahwa dirinya menjadi orang yang hebat,  menjadi orang yang diperlukan oleh orang lainnya serta harus selalu diikuti pendapatnya, dan ini adalah merupakan sebuah kesombongan.

Berkaitan dengan hal tersebut, aku dengan sengaja melakukan semua kegiatan tadi adalah merupakan sebuah usaha untuk mencegah dan menekan agar perasan sombong tersebut tidak mudah muncul.”

“Saya belum mengerti sepenuhnya guru, kalau bisa diberikan beberapa contoh agar bisa menjadi lebih jelas,” pinta Priyangga kepada guru spiritualnya.

“Baiklah kalau demikian, hal pertama yang harus dimengerti adalah bahwa dalam semua agama di dunia, amal dan perbuatan baik menolong sesama manusia yang membutuhkan merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan.

Oleh karena itu akan saya berikan beberapa contoh peristiwa sejenis yaitu tentang proses kelahiran yang benar-benar terjadi dan yang dialami oleh rekan-rekan anggota perkumpulan pada beberapa waktu yang lalu  sebagai penjelasan tentang hal tersebut diatas, hitung-hitung sebagai pesan moral :

1. Kalau melakukan kegiatan fisik sebagai salah satu bentuk menggerakan dan mengolah raga kan badan agar menjadi lebih sehat, karena mengeluarkan bahan kotor dari dalam tubuh juga karena lelah dan lapar sehingga menjadi enak makan dan enak tidur itu mudah dimengerti serta mungkin tidak memerlukan penjelasan lebih lanjut.

2. Kejadian yang bisa memunculkan rasa sombong dalam hati.

A. Contoh kejadian yang menyenangkan hati karena pihak yang diberikan petunjuk atau nasihat mengikuti semua yang disarankan sehingga apa yang diharapkan  berhasil dan ini bisa menyebabkan seseorang tersebut merasa dirinya menjadi orang yang hebat.

*) Pada suatu hari aku menerima sebuah SMS yang bunyinya demikian :

“Selamat pagi pak, ini sama Andri. Bapak, Safitri istri Andri mau melahirkan sekarang sedang berada di Bidan di Jatinangor ….. kerasanya sudah kemarin tgl. 1 Januari 2014 malam sejak sekitar pukul 21.00 tetapi sampai dengan sekarang tgl. 2 Januari 2014 kurang lebih hampir jam 09.00 pagi belum juga melahirkan. Mohon bantuan serta doanya agar dilancarkan, Andri tidak tahan dan merasa kasihan karena Safitri selalu mengerang kesakitan.”

“Yang sabar ya Andri, biasanya untuk kelahiran anak pertama memang agak lama, suruh Safitri tenang dan mengatur pernafasan, kemudian kedua belah telapak tanganmu gosok-gosokan satu dengan yang lain sampai hangat, lalu tempelkan pada bagian perut Safitri tepatnya dibawah puser dan jangan lupa berdoa, nanti saya bantu dari jauh,” jawabanku melalui SMS juga.

Tiga hari kemudian, tepatnya pada tgl. 5 Januari 2014 Andri datang ke rumah untuk mengucapkan terima kasih dan menceriterakan bahwa pada saat dia mengirimkan sms itu mereka semua sedang berada di rumah Bidan di Jatinangor Sumedang dan setelah mengikuti semua petunjuk yang diberikan serta menempelkan telapak tangan pada perut di bawah pusar, maka tidak lama kemudian atau dapat dikatakan langsung terjadi suatu reaksi dan Safitri melahirkan seorang bayi laki-laki dengan lancar.

 

*) Beberapa waktu berselang setelah peristiwa kelahiran bayi diatas, pada suatu siang tepatnya tgl. 18 Januari 2014 sekitar jam 10.00 tiba-tiba terdengar bunyi telepon rumah berdering.

“ Assalamualaikum………

Selamat siang Bapak, ini dengan saya Bu Engkar mau minta tolong,” suara telepon dari seberang.

 

“Walaikum sallam, warohmatullahi wa barokatuh, ya selamat siang, betul ini dengan saya sendiri, apa yang bisa saya bantu ?”

 

“Begini pak saya sekarang sedang berada di Bidan di Rancaekek, anak saya Teh Lia kakaknya Andri akan melahirkan anak yang kedua tetapi mengalami kesulitan dan kondisinya kritis serta sangat menghawatirkan, untuk itu mohon bantuan bapak apa yang harus saya lakukan, sedangkan Roni suaminya sedang berada di luar kota.”

 

“Apakah sudah disiapkan air mineralnya ?”

 

“Ya pak, sudah siap,” jawab Bu Engkar dari seberang.

 

“Kalau begitu peganglah botol air mineral itu dengan tangan kiri dan batang telepon di tangan kanan dan setelah saya berikan aba-aba mulailah berdoa dengan membaca Alfatikhah sekali saja, karena itu sesuai dengan keyakinanmu dan sayapun akan membantu mendoakannya.

Dan setelah selesai membaca doa nanti, air mineral tersebut boleh diminumkan pada Lia, untuk selanjutnya kedua tangan Bu Engkar basahi lebih dulu dengan air tadi lalu gosok-gosokan telapak tangannya kemudian tempelkan pada perut tepat di bawah pusar Lia.”

“Ya Pak, terimakasih atas petunjuknya,” jawaban Bu Engkar.

Selang beberapa saat kemudian ada sebuah SMS masuk yang demikian bunyinya : “Assalamualaikum bapak, Alhamdulillah sudah selamat dan di karuniai anak perempuan. Terima kasih atas bantuannya.”

Kira-kira dua minggu setelah kelahiran bayi, tepatnya tgl. 3 Pebruari 2014, berkunjunglah Roni suami Lia dan Bu Engkar ke rumah dan menceriterakan urutan proses kelahiran yang dialami Lia, demikian ceriteranya :

“Begini bapak, urutan kejadiannya adalah sebagai berikut, bahwa pada waktu itu tgl. 17 Januari 2014 pada pukul 18.00 sebenarnya Lia sudah terasa mau melahirkan dan segera dibawa ke bidan, namun pada keesokan harinya tgl. 18 Januari 2014 sampai pada pukul 10.00 belum juga melahirkan. Sedangkan kondisi badannya sudah lemah, tubuhnya sudah sangat lemas dan tidak bertenaga karena sudah sejak kemarin tidak ada air atau makanan yang bisa masuk atau dikonsumsi dan air ketubanpun sudah pecah mengalir keluar.

Bahkan bidan pun sudah menyatakan tidak sanggup untuk menanganinya dan memberikan saran agar segera dibawa ke Rumah Sakit Bersalin untuk dilakukan Operasi Sesar. Kami menjadi sangat kebingungan kalau sampai harus dibawa ke rumah sakit.

Hal pertama yang menyebabkan bingung adalah karena akan dihadapkan pada pembiayaan yang besar kalau harus sampai menjalani Operasi Sesar dan hal yang kedua adalah tidak adanya tenaga yang membantu untuk mengurus kesana kemarinya dan pikiranpun menjadi panik dan kacau, oleh karena itu kami meminta bantuan bapak.

Dan Alhamdulillah semua berjalan lancar sesuai dengan apa yang manjadi harapan.”

B. Contoh kejadian yang kurang menyenangkan karena pihak yang diberikan petunjuk tidak melaksanakan saran yang diberikan, sehingga peristiwa yang terjadi tidak sesuai dengan yang diharapkan.

*) Sepenggal kecil dari keseluruhan jalan ceritera, masih tentang kelahiran bayi.

Untuk mengurangi dan menghilangkan rasa stress yang dialami ketika sedang menghadapi suatu kenyataan yang tidak diinginkan bahwa kelahiran anak pertama yang harus melalui operasi sesar karena kandungan istrinya secara medis dinyatakan ada kelainan karena air ketuban yang keluar sudah hampir kering tetapi tidak merasakan mulas di perut, maka Gumilar yang masih ada hubungan saudara dengan Bu Engkar dan tinggal di Kota Cimahi selalu berhubungan serta berkomunikasi melalui SMS dengan sahabatnya yang bernama Asep Nugraha yang berada di Rancaekek.

Namun suatu ketika pada tgl. 6 Januari 2014 Gumilar juga mengirimkan sebuah SMS kepada pengasuh atau guru spiritualnya : “Selamat siang Pak, ini dengan Gumilar sedang dalam perjalanan dari Cimahi menuju Rumah Sakit di Bandung, karena Bidan di Cimahi sudah menyatakan tidak sanggup menanganinya maka Remawati harus melahirkan secara di sesar, mohon bantuan doanya.”

“Gumilar kau jangan bingung atau gugup, jaga dan kendalikanlah ketenangan dirimu, serta usahakan selama dalam perjalanan dari Cimahi menuju Bandung, gosokkan kedua belah telapak tanganmu sampai hangat dan dengan berkonsentrasi tempelkan pada bagian bawah perut istrimu dan suruh Remawati mengatur pernapasannya,” balasan melalui SMS juga.

Tetapi karena memang sedang dalam keadaan stress akibatnya Gumilar tidak teliti dalam membaca, dari siapa SMS tersebut berasal. Dalam bayangan pikirannya bahwa pengirim SMS tersebut adalah sahabatnya Asep Nugraha, sehingga tidak begitu  dihiraukannya pesan tadi dan bahkan dalam hati dia berkata : “Ah,… tahu apa kamu tentang hal ini.”

Singkat ceritera, bahwa operasi kelahiran sudah selesai dan berjalan lancar. Dalam waktu senggang secara iseng-iseng dibaca kembali semua SMS yang telah diterimanya. Ketika mambaca sampai pada SMS tentang apa yang harus dilakukan pada saat berada dalam perjalanan menuju Rumah Sakit untuk operasi, menangislah Gumilar karena penyesalannya. Dia baru menyadari bahwa SMS itu adalah sebuah petunjuk dari guru dan pengasuhnya, bukan SMS dari sahabat seperti yang ia perkirakan sebelumnya. Namun semua itu sudah berlalu, penyesalanpun sudah tidak ada artinya, tinggal menerima dan mensyukuri apapun yang telah terjadi.

Dan disinilah Priyangga kamu serta semua rekan-rekan yang kebetulan membaca tulisan ini harus bisa mengerti dan memahami, dari peristiwa semacam itupun bisa juga menumbuhkan sebuah rasa kesombongan dalam hati.”

Contohnya bagaimana, guru ?” tanya Priyangga untuk meminta kejelasan.

“Contoh yang mudah, misalnya bisa saja dengan rasa kesal aku mengatakan begini : ‘Ya itu kan salahnya sendiri karena tidak mau mendengarkan nasihat, sudah dikasih tahu apa yang harus dilakukan tetapi malah tidak dikerjakan, coba kalau dilakukan mungkin kelahiran bayinya tidak akan melalui operasi sesar’

Sebenarnya tidak seharusnya mengeluarkan bahasa atau ucapan yang seperti itu, karena ucapan itu kan lebih merupakan sebuah ungkapan kesombongan, bahkan mungkin juga bisa disebut sebagai takabur hanya karena dirinya merasa sebagai orang yang mempunyai kemampuan untuk membantu tetapi tidak mendapat perhatian atau tidak diikuti petunjuknya.

Perlu disadari kalau kita mau berpikir secara jernih andaikata saja nasihat yang diberikan itu di laksanakan, belum tentu peristiwa yang terjadi itu berhasil seperti yang dipikirkan. Karena kemampuan manusia itu serba sangat terbatas, oleh sebab itu jangan sombong dan takabur atau memaksakan kehendak.

Sikap yang seharusnya diambil adalah menerima dan menikmati saja peristiwa tersebut terjadi apa adanya dengan kata lain diikuti atau tidak diikuti nasihat yang diberikan jangan menjadikan sebagai suatu beban permasalahan dan harus dianggap sebagai suatu hal yang biasa saja, serta harus berpikiran positif bahwa itu mungkin sudah harus demikian garis hidupnya.”

“Tetapi saran yang diberikan dan tidak diikuti kan tidak hanya sekali itu saja, guru?” tanya Priyangga kembali

“Ya biarkan saja nggak apa-apa, orang itu bebas untuk mencari masukan dari manapun juga, soal masukan tersebut dilakukan atau tidak itu kan terserah kepada yang bersangkutan, karena yang jelas semua itu sudah melalui pertimbangan akal dan pemikirannya sendiri. Untung dan ruginya sudah diperhitungkan, maka kalau cocok ya dilakukan dan kalau tidak cocok ya diabaikan.

Kemudian jangan menjadi jengkel atau kecewa kalau perhitungan nalarnya hasilnya tidak sama dan sesuai dengan apa yang menjadi keinginan kita. Mudah kan ?”

Ya, guru,” jawab Priyangga perlahan sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi dilihat dari cara mengangguk-anggukkan kepalanya dengan pandangan mata yang kosong itu yang menjadi pertanyaan adalah : apakah dia betul-betul memahami apa yang dibicarakan atau hanya sekedar basa-basi dan meng-iya-kan saja tetapi sebenarnya masih bingung, ya mudah-mudahan saja dia betul-betul bisa memahami walaupun agak terlambat.

“Nah kalau mudah, ya jangan dibikin susah.

Dan yang harus menjadi pengertian adalah bahwa manusia bisa melakukan hal-hal yang aneh dan ajaib itu sebenarnya yang terjadi adalah karena manusia hanya diberi sedikit kepercayaan oleh Yang Maha Kuasa untuk bisa melakukan hal seperti itu.

Dengan perkataan lain bahwa manusia itu sebetulnya tidak mempunyai kemampuan apa-apa dan hanya bisa merencanakan apakah itu hal yang baik atau hal yang buruk serta berusaha untuk melaksanakannya namun hanya Tuhanlah yang menentukan berhasil atau tidaknya.

Dalam menjalani kehidupannya sehari-hari manusia itu tidak akan pernah terlepas dari apa yang namanya derita, gagal, sakit, kecewa, sepi, lumpuh dan tak berdaya. Manusia itu sebenarnya rapuh dan mudah jatuh. Akan tetapi perilakunya sering angkuh, merasa dirinya kuat dan mampu. Sehingga bisa mengakibatkan orang lain atau manusia yang lain menderita karena keangkuhan dan kesombongannya.

 

Dan manusia harus menjaga kehidupannya jangan seperti pada ceritera dalam pewayangan. Coba kalau diperhatikan Tokoh Cepot dalam Wayang Golek atau Tokoh Bagong dalam Wayang Kulit yang kalau berperang selalu menang melawan siapapun serta merasa dan menganggap bahwa dirinya memang benar-benar hebat,  hal itu disebabkan karena dia tidak pernah mengerti dan menyadari bahwa andaikata saja  dia terlepas hanya setebal rambut dari tangan dalang atau yang menggerakkannya, dia tidak akan mampu melakukan apa-apa lagi walau sedikitpun juga. Demikian  pula dengan kehidupan manusia.

Berkaitan dengan hal tersebut janganlah sekali-kali pernah berpikir bahwa keberhasilan atau kesuksesan yang di peroleh manusia itu karena hasil usahanya sendiri melainkan karena karunia dari Tuhan. Oleh karena itu harus selalu bersyukur, mohon bimbingan dan penyertaan-Nya agar tidak salah dalam mempergunakan karunia tersebut.  Karena kesemuanya itu akan dipertanyakan dan dipertanggung jawabkan nanti di hari kemudian.

Kalau diperhatikan pada umumnya bahwakesalahan atau kejahatan yang dilakukan oleh manusia adalah melalui keterampilan atau keakhliannya, apapun itu bentuk keakhliannya. Perlu diketahui bahwa keahlian yang dimiliki oleh tiap manusia tidaklah sama dan itu adalah suatu karunia dari Tuhan kepada umat-Nya.

Harus disadari bahwa apapun bentuk karunia yang dilimpahkan kepada manusia adalah merupakan suatu ujian dalam kehidupan ini. Ujian dengan bentuk penderitaan, manusia mudah mengenalinya dan akan selalu menghadapkan diri kepada Allah untuk memohon pertolonganNya akan tetapi sebaliknya apabila ujian itu berupa suatu kesuksesan, kenikmatan, kebahagiaan dan lain-lain tidaklah mudah manusia menyadari serta mensyukuri akan hal itu. 

Satu lagi yang harus diingat bahwa dalam mengerjakan perbuatan baik itu harus dilakukan dengan ikhlas atau karena Allah. Ada satu kalimat bijaksana yang berbunyi demikian : Kalau tangan kananmu memberi jangan sampai tangan kirimu mengetahuinya.

Di dalam kehidupan ini manusia itu saling membutuhkan dan saling membantu untuk meringankan beban satu orang dengan yang lain. Misalnya saja sebagai manusia kita kadang-kadang ditolong oleh orang yang sudah kita kenal atau bahkan oleh orang yang tidak kita kenal, namun ada kalanya kita juga membantu orang lain baik itu yang sudah kita kenal atau orang lain yang tidak kita kenal sama sekali. Tetapi yang jelas bahwa sekecil apapun pertolongan yang diberikan akan sangat berguna bagi orang yang menerima bantuan tersebut.

Dan jangan pula dipikirkan apabila perbuatan baik yang kita lakukan pada hari ini dan besok akan dilupakan orang, karena perhatian Allah, Tuhan kita tidak akan pernah keliru serta tetap tertuju kepada apa yang telah kita lakukan atau kerjakan.

Sombong itu sendiri adalah merupakan sebuah penyakit yang sering menghinggapi manusia termasuk kita semua di dalamnya, yang benih-benihnya terlalu kerap muncul tanpa kita cepat bisa menyadarinya.

 

Kalau benar-benar ditelaah, bisa diketahui bahwa munculnya rasa sombong itu bisa dipengaruhi oleh berbagai macam factor dan kondisi sehingga menjadi bertingkat-tingkat, misalnya :

 

Di tingkat paling rendah dan sederhana, rasa sombong yang disebabkan oleh karena factor materi. Seseorang manusia akan merasa dirinya lebih kaya, lebih mampu, lebih rupawan, memiliki pangkat dan kedudukan yang lebih tinggi serta lebih terhormat apabila dibandingkan dengan orang lain.

Di tingkat kedua, rasa sombong yang disebabkan oleh karena factor kecerdasan. Seseorang manusia akan merasa dirinya lebih pintar, lebih cerdas, lebih pandai, lebih kompeten dan merasa lebih berwawasan apabila dibandingkan dengan orang lain.

Di tingkat yang ketiga, rasa sombong yang disebabkan oleh karena factor kebaikan. Seseorang manusia akan sering merasa dan menganggap dirinya lebih bermoral, lebih pemurah, lebih baik hati dan lebih tulus apabila dibandingkan dengan orang lain.

Namun apabila kita mencoba untuk lebih memperhatikan, yang menarik adalah bahwa semakin tinggi tingkat kesombongan akan semakin sulit pula untuk mendeteksinya. Sebagai sebuah contoh, misalnya rasa sombong karena materi atau jabatan sangat mudah terlihat, namun apabila rasa sombong muncul karena pengetahuan, apalagi kalau rasa sombong itu disebabkan karena kebaikan, sulit sekali terdeteksi karena seringkali hanya berbentuk benih-benih halus dan lembut di dalam batin manusia.

Contoh sebuah bentuk kesombongan yang tidak mudah untuk dirasakan yaitu jika seseorang yang terbiasa memberikan bantuan kebaikan, dia akan merasa sangat segan atau sungkan apabila harus menerima pemberian kebaikan dari orang lain untuk dirinya dan dengan berbagai macam alasan akan berusaha untuk menolaknya.

Sebab seringkali manusia hanya mau memandang dan dipandang oleh orang besar dan terpandang atau terhormat, manusia sering melupakan dan kurang menghargai kebaikan-kebaikan  dari mereka yang di anggap kecil dan tak berarti.

Oleh karena itu agar bisa menghambat dan menghalangi munculnya keinginan seperti tersebut diatas, maka dituntut harus bisa berterima kasih atas kebaikan sekecil apa pun dan dari siapapun asalnya.

Akar dari sebuah rasa kesombongan ini adalah ego yang berlebihan. Pada tataran yang lumrah, ego menampilkan dirinya dalam bentuk harga diri (self-esteem) dan kepercayaan diri (self-confidence). Akan tetapi, begitu kedua hal ini berubah menjadi kebanggaan (pride), maka manusia tersebut sudah berada sangat dekat dengan kesombongan. Karena batas antara bangga dan sombong tidaklah terlalu jelas atau sangat tipis sekali.

Dan pada dasarnya manusia itu terdiri dari dua kutub yang berseberangan, yaitu ego di salah satu kutubnya dan kesadaran sejati pada kutub yang lain. Pada saat dilahirkan ke dunia manusia dalam keadaan telanjang dan tidak punya apa-apa, seperti apa yang dikatakan Nabi Ayub :

“Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali  ke dalamnya. Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan !”

Akan tetapi seiring dengan berjalannya sang waktu maka manusia semakin terbiasa merasakan Rangsangan-rangsangan yang Kuat yang diterima melalui Indra-indra nya misalnya Gemerlapnya Keindahan, Harumnya wangi-wangian, Nikmatnya sebuah Sentuhan, Merdunya Suara Music atau Lagu serta Nikmat dan Sedapnya Rasa., sehingga mengakibatkan Mata Hati menjadi Tumpul dan dari sinilah manusia  memupuk berbagai keinginan, lebih dari yang dibutuhkan dalam hidupnya.

Dan sebagai kelanjutannya keseluruhan indra manusia akan selalu mengatakan bahwa dia memerlukan dan memerlukan lebih banyak lagi. Dengan kata lain yang lebih sederhana dan lebih mudah dimengerti dapat dikatakan bahwa manusia menjadi tamak atau serakah.

Dalam perjalanan hidupnya cenderung menggiring manusia menuju ke arah kutub ego. Dan gambaran dari ego inilah yang memperkenalkan manusia kepada dualisme ketamakan (ekstrem suka) dan kebencian (ekstrem tidak suka). Dan inilah akar dari segala permasalahan yang ada.

Perjuangan melawan kesombongan merupakan perjuangan menuju kesadaran sejati. Untuk bisa melawan kesombongan yang muncul dengan segala macam bentuknya, ada dua pandangan atau pola pikir dan sikap yang perlu dilakukan.

Pertama, perlu dimengerti dan disadari bahwa pada hakikatnya manusia bukanlah hanya sekedar makhluk fisik atau makhluk jasmaniah saja, tetapi makhluk spiritual atau makhluk rohaniah. Kesejatian manusia adalah spiritualitas, sementara tubuh fisik atau jasmani hanyalah sarana untuk hidup di dunia. Karena manusia dilahirkan dengan tidak memiliki apa-apa atau tangan kosong, dan yang harus diingat bahwa manusia pun akan mati atau kembali dengan tangan kosong pula.

Dengan sudut pandang seperti ini akan membuat manusia melihat semua makhluk dalam kesetaraan atau sederajat yang berlaku umum dihadapan Allah. Dan manusia tidak akan mudah lagi terkelabuhi oleh segala macam bentuk penampilan, lebel atau yang “tampak luar” nya. Tetapi yang harus bisa dilihat adalah apa yang “tampak dalam”. 

Dan dengan pandangan seperti tersebut akan membantu manusia menjauhkan diri dari berbagai macam bentuk kesombongan, atau dengan perkataan lain bahwa mata hati manusia menjadi terbuka dan peka.

Kedua, kita perlu menyadari bahwa apa pun perbuatan baik yang kita lakukan, semuanya itu semata-mata adalah juga demi diri kita sendiri.

Dalam hidup ini berlaku hukum kekekalan energy. Energy yang diberikan kepada dunia tidak akan pernah musnah. Energy itu akan kembali kepadanya dalam bentuk yang lain. Bahasa yang sederhana mengatakan perbuatan baik yang dilakukan oleh seseorang pasti akan kembali lagi kepadanya dalam bentuk kebaikan pula, umpamanya saja bisa berupa persahabatan, cinta kasih, makna hidup, maupun kepuasan batin yang mendalam dan lain sebagainya.

Jadi pada hakekatnya, setiap perbuatan baik yang dilakukan kepada pihak lain, sebenarnya dia sedang melakukan perbuatan baik untuk dirinya sendiri.

Dengan perkataan yang berbeda melakukan perbuatan baik kepada orang lain sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya atau bermanfaat bagi manusia lainnya berarti mensyukuri apa yang telah di anugerahkan oleh Allah, dan Allah akan memberikan kelimpahan anugerah padanya. Dengan kalimat yang sederhana adalah siapa yang menabur dia yang akan menuai.

J. Meyer mengatakan, “Prinsip alami dari manabur dan menuai selalu terjadi. Apapun yang Anda tanam, baik secara fisik, spiritual, mental, financial, hubungan dengan sesama atau emosional, akan terus bertumbuh dan suatu hari Anda akan menerimanya kembali dalam ukuran yang berlipat ganda. Konsekuensi itu bisa sangat baik atau sangat buruk, tergantung pada benih yang Anda tabur.”

Sebagai pilihan tentang apa yang akan ditabur, akan menentukan apa yang akan di  tuai kelak.

Kemudian sebagai kesimpulan dari keseluruhan ceriteranya adalah kalau sudah tahu dan bisa menyadari bahwa segala sesuatu yang kita miliki, yang kita punyai atau kita mampu itu hanyalah merupakan pemberian yang sifatnya sementara apalagi kalau kita tidak bisa untuk memelihara dan menjaganya, lalu apa yang pantas untuk disombongkan ?


BANDUNG – INDONESIA, MEI – 2014

Ide Cerita Illuminata  

(Gubahan Ki Ageng Bayu Sepi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *