NASEHAT GURU UNTUK TATANAN HIDUP BERKELUARGA

meditasi-1SEBUAH GUBAHAN DAN REKA CERITA YANG DICUPLIK DARI SEKELUMIT KISAH NYATA TENTANG KEHIDUPAN BERUMAH TANGGA YANG DAPAT DIKATAKAN  KURANG  HARMONIS  KARENA MEREKA TERKUNGKUNG OLEH KEPENTINGAN DAN POLA PIKIRNYA SENDIRI.

Pada suatu ketika di tengah malam sunyi seorang ibu muda sedang duduk bersila dengan tenang dan bermeditasi hendak membuka kontak bathin dengan guru spritualnya. Dengan posisi seakan sedang duduk berhadapan guru spiritualnya itu kemudian dengan mengatur pernapasan, ibu tersebut sharing menceritakan kesedihan tentang keadaan rumah tangga yang dialaminya dan memohon untuk diberikan nasehat.

“Asalamualaikum,” ucap salamnya perlahan dalam hati.

 

“Walaikum sallam, warohmatullahi wa barokatuh, oh kamu Saraswati, ada apa malam-malam begini menghubungi bapak dan apa yang bisa bapak bantu untukmu ?” jawab dan tanya si bapak.

 

“Begini bapak, Wati mau sharing dan mohon pendapat serta nasehat dari bapak,” demikian penjelasan Saraswati.

 

“Ya silakan serta ungkapkan apa yang menjadi unek-unekmu dan bapak akan mendengarkannya agar beban dalam hatimu menjadi lebih ringan,” jawab si bapak pula.

 

“Bapak, ini mengenai keadaan rumah tangga yang Wati rasakan sejak nikah sampai dengan dikaruniai seorang anak terkadang keadaannya terasa tidak tenteram. Bahkan sampai hati suamiku berkata demikian :

“Saya sudah tidak cinta lagi dengan kamu, saya merasa menyesal telah menikah dengan kamu dan merasa tertipu serta sakit hati dengan janji-janji yang telah kau ucapkan dahulu.”

Beginilah bapak pada awalnya, dimulai dari waktu sebelum kami menikah, karena seiring pekerjaan saya sebagai seorang pengajar atas permintaan Mas Hendra sebagai persyaratan membentuk sebuah keluarga, antara lain saya harus banyak membaca buku, sehingga bisa menulis sebuah buku, melakukan penelitian, mau dan rajin berolah raga agar bentuk tubuh menjadi lebih bagus, bisa merawat muka sehingga memiliki wajah putih dan mulus, pandai mengatur manajemen keuangan, bisa investasi, paham tentang undang-undang dan lain-lain.

Dan saya memang berjanji dan tidak menolak serta menyanggupi pada waktu itu, karena saya pikir itu semua memang baik bagiku dan semua itu telah ku lakukan sebatas kemampuan yang saya miliki. Namun rupanya Mas Hendra tidak pernah puas dengan apa yang sudah saya lakukan dan selalu mengatakan kata-kata yang sangat menyakitkan hati antara lain : “Sudah 4 tahun berumah tangga tidak ada hasilnya.”

Bahkan katanya : “Kalau pernikahan ini dilanjutkan dengan sikapmu yang masih seperti itu lebih baik aku mundur sebagai suamimu dan kusadari bahwa aku tidak ada baik-baiknya buat kamu mengasih nafkah pun saya tidak mampu apalagi yang lainnya bahkan aku selalu menyusahkanmu.”

Menurut penilaiannya, sikap yang telah saya lakukan tidak sesuai dengan Standar Operasional yang diinginkannya, karena dalam hidup berumah tangga harus membuat jadual, perencanaan, pelaksanaan, evaluasi dan membuat Laporan Pertanggung Jawaban, yah pokoknya seperti orang yang sedang melaksanakan pekerjaan saja dan semuanya harus terstruktur.

Dia tidak pernah memikirkan hal-hal lain yang lebih penting yaitu hal-hal yang sedang kami hadapi dan kami butuhkan sekarang ini, setiap hari kegiatannya selama belum memperoleh pekerjaan selalu bermalas-malasan terkadang semalam suntuk bermain game online, bahkan bersolisalisasi dengan tetanggapun tidak pernah dilakukan, akan tetapi pikirannya selalu dipenuhi dan tertuju pada progress yang telah saya janjikan dahulu.

Jika saya jelaskan kenapa saya belum bisa fokus dengan semua yang telah saya rencanakan, karena saya juga harus mempersiapkan diri dengan membaca buku untuk memberikan kuliah, menyusun soal ujian dan memeriksanya, kemudian memikirkan untuk membayar Kontrakan Rumah, memikirkan biaya makan untuk sehari-hari, resiko bulanan lainnya dan belum lagi biaya keperluan anak walaupun masih bayi. 

Tetapi malahan dia sampai hati untuk berkata : “Aku menyesal punya anak yang terlahir dari rahim kamu, biar Asmaranti tidak usah tahu siapa bapaknya agar tidak malu punya bapak seperti ini dan aku sendiri merasa malu sampai saat ini tidak bisa memberi nafkah kepada istri, suatu masa depan yang suram. Daripada menunggu digugat cerai oleh keluargamu lebih baik sekarang saja kita berpisah.”

Padahal selama ini, apa yang saya rasakan tidak pernah bercerita kepada siapapun bahkan keluarga besarkupun tidak pernah tahu. Malahan aku selalu menutupi hal ini, sehingga Mas Hendra tetap baik dan terpuji didalam pandangan keluarga besarku.

Dan katanya lagi : “Jika kita bercerai, anak silahkan bawa dan anggap saja bahwa kita punya anak itu bagai mimpi di siang hari bolong atau kalau tidak cerai kamu harus memperbolehkan aku beristri lagi.”

Kalau sudah demikian kasihan pada Asmaranti nama anak dan buah hati hasil dari pernikahan kami, tidurnya tidak tenang dan selalu gelisah serta kalau menangis kedengarannya seperti yang memilukan seakan sedang sakit hatinya sehingga selalu ingin digendong.

Sebenarnya saya memang sangat menyayangi dan mencintainya pak, karena pada dasarnya dia adalah orang yang baik. Hal seperti itu dilakukan kalau pikirannya sedang kacau bila teringat dan merasa kecewa karena harapan pengangkatannya sebagai pegawai pemerintah seakan sedang dipermainkan sehingga sampai saat ini belum bisa memenuhi kewajiban sebagai seorang suami yang harus memberikan nafkah untuk keluarganya. 

Mungkin bagi rumah tangga orang lain hal ini sangatlah aneh kedengarannya tetapi memang demikianlah kenyataaannya pak, dan saya mencoba mengikuti saja skenario Tuhan. Mudah-mudahan ini semua adalah merupakan sebuah ujian, jika sudah teratasi dan terlewati agar menjadi lebih baik kedepannya.”

Demikian sambil menghela nafas panjang Saraswati mengakhiri keluhan yang disampaikan kepada pengasuh melalui meditasinya. Kemudian masih dalam posisi duduk bersila, Saraswati memejamkan mata sambil menunduk dengan konsentrasi yang tinggi mendengarkan pesan-pesan yang diberikan pengasuh tersebut untuknya yang seakan-akan sedang duduk berhadapan.

Untuk sejenak terasa sangat hening suasana pada malam tersebut, tetapi tidak lama kemudian terdengar jawaban si bapak seperti suara yang sayup-sayup melengking kecil dan lembut seperti terbawa angin masuk kedalam telinga dan langsung menuju relung hati, namun terdengar dengan sangat jelas dan katanya :

Begini Wati, sebaiknya engkau harus lebih bisa bersabar anakku, memang pada umumnya orang yang sedang emosi dan kacau pemikirannya apapun yang dikatakan ataupun dilakukannya yang menurut penilaian orang lain itu tidak benar tetapi akan selalu benar menurut pendapatnya sendiri.

Secara singkat misalnya saja :

* Hendra begitu mengingat tentang masalah pengangkatan kepegawaiannya dia menjadi jengkel serasa dipermainkan, tetapi kejengkelan dan rasa tidak puas ini tidak bisa dia sampaikan kepada pengelola kepegawaiannya maka dia mencari  sasaran untuk menumpahkan rasa jengkel dan marahnya itu kepada orang yang bisa dia jadikan kambing hitam sebagai sasaran karena tidak akan melawan, biasanya suami kepada istri, ibu kepada anak dan biasanya kalau pimpinan kepada anak buahnya. Dan ini adalah merupakan salah satu tindakan yang tidak tepat namun sudah biasa dilakukan oleh kebanyakan manusia pada umumnya.

* Seperti ingin mempunyai istri lagi, hal itu boleh saja dan memang menurut kepercayaan yang kau yakini asal dengan alasan yang tepat dan memenuhi syarat. Tetapi perempuan mana yang mau diperistri jika mengetahui bahwa calon suaminya itu untuk memberi nafkah seorang istri saja belum bisa malahhan akan ditambah dengan istri yang lain.

Apalagi kalau harus memenuhi sekian banyak persyaratan yang diberikan sesuai dengan Standar Operasional serta diharuskan membuat laporan Pertanggung Jawabannya. Mungkin baru engkau saja yang pernah bapak temui seorang istri yang mau memenuhi ketentuan seperti itu, walaupun dengan susah payah meski belum semua bisa dilakukan karena keterbatasan manusia.

* Yang harus disadari bahwa setelah kalian mengikatkan diri dalam hubungan suami-istri, maka kalian masing-masing saling menyerahkan hidup dan saling melengkapi serta mengisi dengan kekurangan dan kelebihan yang kalian miliki.

Contoh yang mudah : Suami yang mudah marah dan gampang tersinggung, Tuhan memberikan pasangan hidupnya dengan perempuan yang penyabar untuk bisa hidup dan bertumbuh bersama.

Contoh yang lain : Selama ini suamimu belum memperoleh pekerjaan atau belum bisa memberikan nafkah, Tuhan memberikan jalan bahwa istrinyalah yang bisa memenuhi kebutuhan hidup untuk sehari-harinya.

Pada saat ini dia sedang tidak menyadari bahwa kalian sudah mampu mengatur manajemen keuangan dan investasi sehingga sudah memiliki motor, mobil, tanah dan lain-lainnya.

* Dengan mudah mengucapkan kalimat cerai adalah tidak benar, walaupun dalam kepercayaan yang kau yakini perceraian itu boleh dilakukan asalkan dengan alasan yang tepat akan tetapi bukanlah merupakan sesuatu hal yang disukai oleh Tuhan, sebab ada kepercayaan lain yang tidak boleh melakukan perceraian, karena apa yang telah dipersatukan oleh Tuhan tidak bisa dipisahkan oleh manusia.

* Jangan pernah ada kata menyesal karena sudah memiliki keturunan dari siapapun dan dalam keadaan bagaimanapun, karena itu adalah suatu anugerah dan kepercayaan yang diberikan Tuhan. Jika  kita tidak mau mengakui dan menolaknya berarti kita tidak bisa bersyukur atau tidak mensyukuri nikmat Allah sebab disisi lain banyak orang yang menginginkan anak namun mereka tidak bisa mempunyai keruturunan.

* Menginginkan istri memiliki wajah putih, cantik dan mulus tidaklah salah, hal yang demikian adalah wajar dan manusiawi karena itu adalah memang keinginan dunia atau daging, tetapi ada yang jauh lebih berarti yaitu seharusnya yang putih, cantik dan mulus adalah hati dan perilakunya karena semua itu adalah yang dikehendaki oleh Tuhan. Pada saat emosi orang tidak pernah bisa melihat kebaikan istrinya tetapi yang nampak hanya kekurangannya saja.

* Mendapatkan perlakuan yang seperti demikian itu kemudian kamu merasa sakit hati hal itu adalah wajar dan manusiawi, dan sakit hati ini tidak akan dapat segera sembuh kecuali dengan rasa keikhlasan. Oleh karena itu sekali lagi aku mengharap sebaiknya engkau harus lebih bersabar dan ikhlas agar rumah tanggamu menjadi lebih tenteram dan supaya tidak jenuh karena selalu tinggal di dalam rumah beri dia semangat dan sarankan suamimu itu untuk mencari kegiatan atau pekerjaan yang lain untuk mengisi kekosongan waktu sambil menunggu pengangkatan pegawai tersebut yang belum ada kejelasannya. Jangan cepat putus asa karena manusia diwajibkan berusaha dan Tuhan lah yang menentukan, dan mudah-mudahan semua itu sesuai seperti apa yang menjadi keinginanmu.

* Sebenarnya engkau sudah berusaha dan berjuang untuk menjadi seorang istri yang baik dengan keterbatasan manusia yang kau miliki, namun apa yang telah kau lakukan itu belum memenuhi kriteria yang diharapkan oleh suamimu. Oleh karena itu apa yang kau rasakan berpasrahlah dan serahkanlah kepada Tuhan melalui doa-doamu semoga ke depannya menjadi lebih baik.

* Kebahagiaan dan kesedihan adalah merupakan suatu anugerah dari Tuhan, oleh karena itu belajarlah untuk bisa mensyukuri segala yang telah diberikan Tuhan kepada kita apapun bentuknya.

Kiranya cukup sekian dulu anakku, coba lakukanlah apa yang bapak sarankan kepadamu dan bapak selalu mendoakanmu agar perjalan hidup kalian menjadi lebih baik kedepannya. Asalamualaikum warohmatullahi wa barokatuh.

“Walaikum sallam, warohmatullahi wa barokatuh,” jawab Saraswati dalam hati sambil beringsut mengakhiri meditasinya walaupun komunikasi itu berlangsung hanya sesaat namun sudah mencakup kesemuanya,

Para pembaca yang budiman, melalui cuplikan reka ceritera dari percakapan singkat  diatas dapat kita ambil hikmahnya sebagai pesan-pesan dan bahan introspeksi dalam menjalankan kehidupan berumah tangga :

*) Ceritera tersebut diatas tidak hanya dialami oleh seorang perempuan saja  sebagai istri, tetapi bisa juga dialami oleh laki-laki sebagai seorang suami. Banyak terucap oleh pasangan suami-istri “Saya sudah tidak cinta lagi, dia semakin menyebalkan dan saya sudah muak, tidak ada untungnya lagi hidup dengan dia, saya sudah tidak tahan lagi dengan dia.”

Mungkin disini yang dimaksudkan dengan tidak tahan lagi adalah tidak tahan dengan “sisi negative atau kekurangan” dari pasangan hidupnya. Sedangkan sisi negative itu sendiri bisa bermacam-macam bentuknya antara lain kemalasan, kebohongan, kecuekan, kekerasan, ketajaman kata-kata, kemarahan dan lain-lain. Dan memang tidak mudah untuk bisa menghadapi sisi yang dianggap negative, walaupun itu dari pasangan hidup sendiri.

*) Sebuah contoh, ada seorang istri atau suami yang mengadu, bahwa istri saya cerewet dan tidak bisa memenuhi janji-janjinya atau suami saya pemalas, pemarah demikian dan seterusnya, serta saya sudah berusaha berkali-kali untuk memberitahu dan mengingatkan, akan tetapi dia tetap tidak mau berubah walau sedikit pun, bahkan kadang-kadang semakin bertambah parah.

Bagaimana cara untuk mengubahnya ?

Yang harus diketahui ialah pada dasarnya manusia sering lupa atau tidak menyadari bahwa dia tidak bisa mengubah orang lain. Bahkan Tuhan sendiri pun tidak akan mengubah seseorang kalau orang tersebut tidak mau untuk berubah, karena Tuhan menghargai kebebasan seseorang.

Dengan ungkapan kalimat lain yang sering kita dengar ialah : “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum atau bangsa, apabila kaum atau bangsa itu tidak mau berusaha mengubah nasibnya sendiri”.

Dan perlu diketahui pula bahwa Tuhan tidak pernah membutuhkan persetujuan manusia saat Dia menciptakan manusia, tetapi Dia juga tidak akan menyelamatkan manusia tanpa persetujuan manusia. Misalnya Tuhan bersabda dan mengajak manusia : “Hai manusia, mari ikutlah Aku !” tetapi jika manusia itu menolak dan mengatakan “Tidak ya Allah, aku mau memilih Setan. Dan aku mau mengikuti dia!”

Tuhan pun tidak akan pernah memaksa dan menyeret manusia harus ikut dengan-Nya, meskipun hati-Nya sedih dan tersayat serta dengan segala macam cara yang lembut Dia memberikan jalan dan berusaha mengajak manusia yang sangat dicintai itu agar kembali kepada-Nya.

Jadi yang pertama kali yang harus dilakukan adalah bukanlah mengubah pasangan hidup kita, melainkan menerima dia apa adanya. Dan untuk bisa menerima pasangan itu perlu bisa mengampuni.

Misalnya pasangan suami istri yang berada diambang perceraian, dan banyak menderita luka bathin karena merasa tidak tahan dengan sisi negative pasangannya, maka berdoalah untuk menyembuhkan luka bathin tersebut dengan mengingat hal-hal yang menyakitkan itu dan sampaikan kepada Tuhan serta mohon bantuan Tuhan untuk bisa mengampuni pasangannya tersebut.

Bisa juga dengan mengingat dan membayangkan wajah pasangan hidupnya yang malas atau yang tidak bisa memenuhi janji tersebut sambil mengatakan, “ Aku mengampunimu untuk kemalasanmu atau aku mengampunimu karena ketidak mampuanmu untuk memenuhi janji dan aku menerima serta mencintai engkau apa adanya,” dan seterusnya.

Penyembuhan bathin dapat diumpamakan seperti membuang sampah-sampah dalam ingatan, budi, kehendak kita atau dapat dikatakan seperti membersihkan kotoran yang menggelapkan kacamata kita, agar berguna untuk dapat memandang dan menghadapi segala situasi dengan lebih jernih serta dapat melihat dan melaksakanan apa yang menjadi kehendak Tuhan dengan lebih baik.

*) Contoh lain, ada seorang ibu atau seorang bapak yang mengeluh kepada pengasuh atau guru spiritual dan mengadukan tentang pasangan hidupnya, “Bapak guru, seharusnya dia itu …..begini, seharusnya dia itu……tidak demikian dan seterusnya dan seterusnya.

Dan guru itupun diam sejenak lalu dengan tenang dan perlahan dia berkata : “Ibu atau Bapak berhentilah berkhayal, suami atau istrimu tidak seperti itu. Selama engkau masih hidup dengan ‘istri atau suami khayalan’-mu engkau tidak akan menemukan kedamaian.” Karena pasangan khayalan kita adalah “pasangan ideal dan sempurna”, tetapi tetaplah itu bukan suatu kenyataan.

Dengan kata lain, sampai kapanpun manusia tidak akan pernah menemukan cinta sejati dan kedamaian, jika yang dicari adalah kesempurnaan.

Kemudian guru tersebut melanjutkan nasehatnya kepada pasangan suami istri yang kurang harmonis tadi : “ Bapak, saya percaya penuh bahwa bapak sangat mengerti tentang diri bapak, tetapi saya sangat meragukan apakah bapak juga  mengerti tentang diri ibu. Begitu juga ibu, saya percaya bahwa ibu mengerti tentang diri ibu sendiri, tetapi apakah ibu juga mengerti tentang diri  bapak ?

Padahal disitulah kunci keharmonisan sebuah rumah tangga yaitu : “Seberapa jauh bapak mengerti tentang ibu dan sebaliknya seberapa jauh ibu mengerti tentang  bapak.” Dengan kalimat yang lain seberapa jauh kita mengenal, memahami dan menerima pasangan hidup kita? Atau mungkin kita telah dikungkung oleh diri kita sendiri baik itu yang berupa pikiran, perasaan, pandangan, prinsip, keinginan dan lain-lain.

Karena salah satu sifat manusia yang paling dominan adalah kurang puas terhadap apa yang sudah dimilikinya, dan selalu menyesali atau mengeluh dengan apa yang belum dicapainya.

*) Tidak jarang terjadi bahwa suatu kenyataan menunjukkan bahwa kesalahan justru berada pada pihak yang bersikap kukuh dan mengotot, “Dia harus berubah!”, bahkan bersikap, “Mereka semua harus berubah!” atau dengan pengertian yang lain dapat dikatakan  “menyalahkan semua orang, kecuali dirinya sendiri.” 

Satu contoh, ada sebuah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan tiga orang anaknya, dengan secara terpisah mereka dan bergatian mengeluhkan kepada pegasuhnya itu, yaitu si bapak menyalahkan ibu dan anak-anaknya sementara itu si ibu dan semua anaknya mengeluh tentang perilaku si ayah sehingga mereka menjadi terbeban karenanya.

Lalu yang menjadi pertanyaan, siapa sebenarnya yang menjadi masalah ?

Harus diakui, bahwa suara terbanyak tidak selalu menjadi suara yang benar dan obyektif dalam setiap permasalahan yang ada, tetapi hal ini banyak dan sangat bisa terjadi. Bahwa orang yang paling menjadi beban bagi banyak orang justru dia yang paling menyalahkan semua orang. Oleh karena itu, sebelum menunjuk pada kesalahan orang lain lebih baik kita bercermin terlebih dahulu atau mawas diri terlebih dahulu.

Karena ada pasangan suami-istri yang selalu bersitegang dan saling menyalahkan dan tuduhan yang mereka lontarkan seperti lingkaran setan yang saling mengkait dan semakin memicu satu dengan yang lain. Masing-masing begitu terpusat pada kesalahan pasangannya, sampai-sampai mereka sama sekali tidak bisa lagi melihat segi positif dari pasangannya.

Barangkali akan sangat baik jika mau melakukan refleksi bathin dan bertafakur setiap malam agar tidak selalu terpusat pada kesalahan orang lain, akan tetapi menyadari akan kesalahan diri sendiri dan mohon ampun kepada Tuhan, minta maaf kepada sesama dan bertobat, serta mensyukuri dan menghargai sisi-sisi positif dari pasangannya.

*) Dalam arti tertentu, bisa dikatakan bahwa seorang manusia itu terdiri dari manusia jasmaniah dan rohaniah. Manusia lahiriah atau jasmaniah adalah manusia yang tampak oleh mata, sedangkan manusia rohaniah adalah yang mengacu manusia pada batinnya atau rohaninya.

Pada seseorang bisa saja manusia lahiriahnya sangat dewasa, terpelajar, kaya, sehat, kuat akan tetapi manusia rohaninya masih bayi, penuh borok, mungkin hampir mati karena terjerat oleh dosa-dosa besar, penuh sifat buruk dan sebagainya. Bahkan bisa juga terjadi sebaliknya seseorang yang manusia lahiriahnya masih berusia sangat muda, tetapi manusia rohaninya sudah sangat dewasa dan perkasa.

Seringkali manusia hanya tertuju dan memperhatikan manusia lahiriah saja yang nampak oleh mata. Misalnya saja, bisa dibayangkan apabila kita mempunyai seorang bayi yang sedang sakit demam, terdapat luka atau bisulan sehingga selalu rewel dan  menangis terus-menerus.

Apakah yang akan kita lakukan ?

Mungkin kita akan merasa kasihan kepada bayi tersebut, dan akan segera memeluk serta berusaha mengobatinya. Dan kita tidak akan pernah menampar atau mengusir apalagi membuang dia bukan ?

Begitu juga ketika berhadapan dengan sisi-sisi negative pasangan hidup kita, ada baiknya jika kita menyadari atau memandang manusia rohaninya yang dalam hal ini belum dewasa, masih bayi, mungkin sakit bahkan hampir mati. Jadi, disini kita diajak untuk berperan menjadi ibu atau ayah bagi sisi-sisi bayi pasangan hidup kita.

Oleh karena itu ubahlah perasaan-perasaan negative kita menjadi perasaan belas kasihan dan berbelas kasihlah terhadap jiwanya !

Namun yang perlu diingat juga bahwa dalam pentingnya mengampuni, menerima dan berbelas kasihan bukan berarti membiarkan pasangan hidup kita tetap berada di dalam kungkungan kenegatifannya.

Sebagai suatu gambaran apabila kita sedang mengajar seorang anak kecil yang belum bisa berjalan dan ketika anak kecil tersebut terjatuh, apakah kemudian kita akan menjadi marah karena itu ?

Tidak akan demikian, bukan ? 

Mengapa bisa begitu ?

 

Karena dalam hati, kita sudah menerima bahwa dia belum bisa berjalan dan kita sudah menerima ke-tidak bisaannya untuk berjalan, dan kita juga tidak akan mengambil sikap yang galak serta berkata , “ Jika kamu tidak bisa jalan, ya sudah tidak usah belajar berjalan saja,” tetapi malahan yang akan terjadi adalah sebaliknya dan pasti kita akan membangunkannya serta mendekapnya kedalam pelukan lalu membersihkan lukanya kemudian memberikan dorongan serta menyemangati dia untuk kembali belajar berjalan.

 

Satu kalimat bijaksana mengatakan bahwa : “Menjadi tua adalah sudah pasti, namun untuk menjadi dewasa merupakan suatu pilihan.”

 

*) Sering dijumpai ketika seseorang hendak mencari akar permasalahan dari sebuah persoalan yang sedang terjadi, akan tetapi yang dikemukakan adalah hanya sisi-sisi negative pasangan hidupnya, situasi pekerjaanlah, karena tidak bisa menepati janji  atau karena mertualah …. dan lain sebagainya.

Karena pada dasarnya manusia cenderung lebih mudah untuk membicarakan hal yang tidak baik tentang orang lain daripada hal yang baik-baiknya.

 

Ada satu masalah besar yang sering tidak disadari dan diabaikan bahkan dianggap bukan sebagai masalah yaitu tidak menjalin relasi atau hubungan baik dengan Tuhan dan dengan kata yang sederhana dalam keadaan apapun tetaplah dalam hidup ini bersandarkan kepada Tuhan.

Tuhan adalah Kasih. Jika kita tidak menjaga relasi dengan Tuhan, kita tidak akan bisa menimba kasih-Nya, maka kita pun tidak akan bisa memberikan kasih kepada sesama, termasuk kepada pasangan hidup kita. Tetapi sebaliknya apabila kita menjalin relasi yang mendalam dengan-Nya, kita pasti bisa menghadapi situasi yang bagaimana pun juga.

Misalkan saja, pada saat kita menerima perlakukan atau perkataan yang tidak menyenangkan dari pasangan hidup kita, kita bisa mempersembahkannya kepada Tuhan sebagai kurban untuk pengganti kesalahan yang telah kita perbuat atau pertobatan jiwa-jiwa atau untuk keharmonisan keluarga dan lain-lain.

Andaikata jika pada suatu saat peristiwa itu terjadi, maka dalam hati kita bisa mempersembahkannya kepada Tuhan. Umpamanya : “ Ya Allah, saya sedih melihat dia seperti ini, tetapi saya mau merimanya. Ya Allah, demi cinta dan ketaatanku kepada-Mu maka kupersembahkan hal ini kepada-Mu sebagai kurban untuk pengampunan dosa kami.”

Dan yakinlah apa yang kita lakukan ini tidak akan pernah sia-sia. Apa yang tidak menyenangkan akan mendatangkan rahmat. Kemudian kalau perlu kita bisa mencari waktu lain atau waktu yang khusus misalnya pada malam hari atau besok harinya untuk berdoa sebagai penyembuhan luka dibatin karena mengalami peristiwa yang tidak menyenangkan tersebut.

*) Ada suatu ucapan sebagai luapan emosi yang berbunyi, “Untuk apa melanjutkan rumah tangga dengan masa depan yang suram! Apa untungnya menikah dengan orang seperti ini? Menafkahi istri saja tidak mampu, janji pun tidak bisa menepati, kasih dan perhatian tidak ada, perlindungan juga tidak, bahkan kasih kepada anakpun tidak!”

Mungkin saja ada siatusi di mana secara penilaian dunia tidak ada satu alasan pun untuk tetap bisa mempertahankan dan melanjutkan suatu keutuhan dari sebuah pernikahan. Belum lagi adanya pengaruh dan daya tarik-daya tarik yang begitu memikat, misalnya saja  dari “si dia yang lain.”

Maka berikut ini ada beberapa saran sebagai suatu kiat atau usaha yang semestinya kita kenakan untuk bisa menghadapi hal-hal tersebut diatas :

1. Demi Cinta dan Ketaatan kepada Tuhan :                                                

Cinta kepada sesama termasuk kepada pasangan haruslah didasari dengan cinta kepada Tuhan. Hukum Pertama adalah mengasihi Tuhan, barulah Hukum Kedua, yaitu mengasihi sesama seperti kita mengasihi diri kita sendiri. Demi cinta dan ketaatan kepada Tuhan, kita wajib memperjuangkan dan melanjutkan suatu ikatan keluarga yang lahir dari sebuah Pernikahan dihadapan Tuhan.

 

Atau dengan bahasa yang lebih mudah bahwa kita mempertahankan dan melanjutkan ikatan pernikahan tersebut karena semata-mata hanya ibadah kepada Allah.

 

2. Mata Iman : 

Mata iman dibutuhkan untuk tetap percaya bahwa “Allah turut bekerja dalam segala hal sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia. Mata Iman memapukan kita untuk melihat bahwa ini bukanlah suatu perjalanan yang sia-sia.

 

Jika Tuhan sudah mempersatukan seorang laki-laki dan seorang perempuan dalam suatu Ikatan Pernikahan, pastilah Dia mempunyai rencana yang indah ! Namun, rencana itu tidak langsung segera terjadi, akan tetapi perlu kerjasama dan perjuangan untuk mewujudkannya dan keindahan rencana Tuhan baru bisa kita lihat seutuhnya saat kita, berkat rahmat-Nya, sudah berada si surga.

3. Beralih ke Cinta Sejati.                                                                           

Andaikata kita mempunyai seorang teman yang pandai dan rajin, lalu kita berusaha dekat dengannya, berbuat baik kepadanya, dengan maksud supaya kita diperbolehkan meminjam catatannya atau supaya dia mau mengajari kita.

 

Apakah itu dapat diartikan bahwa kita mencintai si teman tersebut ? Tidak demikian halnya, bukan ? Karena pada kenyataan yang sebenarnya bahwa kita hanya sekedar “memperalat” dia, menjadikan dia sarana untuk kita, untuk kepentingan kita, untuk menyenangkan hati kita. Jadi, sebenarnya yang kita cintai adalah diri kita sendiri.

 

Hal yang sama bisa juga terjadi dalam hidup pernikahan. Misalnya saja , “Saya mau menikah dengan dia karena dia baik, cakep, pintar dan kaya……, supaya saya hidup enak, bahagia dan aman…”  nah, sebenarnya si dia itu hanyalah sarana untuk kebahagian saya. Dan sebagai akibatnya adalah tidak jarang setelah pernikahan itu berlangsung dan dengan berjalannya sang waktu maka kekecewaan demi kekecewaan akan terjadi.

Sesuatu hal yang wajar saja, sebab tidak ada orang yang sempurna yang dapat membahagiakan atau menyenangkan kita dalam segala hal. Karena hanya Tuhan lah sumber kebahagiaan sejati dan sepenuhnya.

Sebaliknya, cinta sejati itu keluar dari diri sendiri, mengabaikan diri sendiri, menuju yang dicintai. Motto dari cinta sejati adalah : Yang penting dia bahagia!” atau bahkan “ Yang penting dia bahagia, entah dia atas kebahagiaanku ataupun pengorbananku.” 

Itu semua adalah contoh dan teladan dari para utusan-Nya yang rela menderita dan bahkan sampai mati : “Yang penting kehendak Allah terlaksana dan agar manusia selamat.”

*) Dan sebagai akhir dari pesan, cinta bukanlah perasaan, walaupun melibatkan perasaan. Jika cinta adalah perasaan maka tidak akan ada cinta yang abadi dan sejati. Coba jika diperhatikan, betapa cepat dan mudahnya perasaan kita itu selalu berubah-ubah.

Dengan demikian, apa artinya cinta itu?

Cinta adalah niat dan kesungguhan hati kita untuk membahagiakan dia yang kita cintai. Jadi, cinta menyangkut kehendak atau kemauan kita. Maka, ketika “Saya tidak cinta lagi,” yang menyebabkan segalanya hampa, menyakitkan, tidak ada lagi “rasa cinta,” tidak ada lagi alasan untuk mempertahankannya, maka ambillah keputusan, “Saya mau tetap mencintai dia. Saya mau tetap membahagiakan dia.”

Maka, saat-saat itu justru menjadi saat-saat berahmat untuk beralih ke cinta yang lebih mendalam dan luhur, yaitu cinta sejati, cinta ilahi !.

BANDUNG – INDONESIA, MARET – 2014

Ide tulisan : Sr. Maria Andrea, P.Karm.  

(Gubahan Ki Ageng Bayu Sepi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *