” PENYESALAN AYUNDA” VIII

Tuhan Selalu Melihat

ayundaSEBUAH ILUSTRASI CERITERA BAHWA TANPA DISADARI TUHAN SELALU MENGAWASI SETIAP GERIK-GERIK PERILAKU MANUSIA,  NAMUN DENGAN MUDAHNYA MANUSIA MELAKUKAN KEBIASAAN-KEBIASAAN BURUK TETAPI SANGATLAH SULIT UNTUK MENGHILANGKANNYA, APALAGI KALAU MENYANGKUT KEPENTINGAN DIRINYA SENDIRI.

 Pada suatu hari ketika liburan sekolah tiba, Adimas mengunjungi Ayunda kakaknya  dirumah kakek dan nenek,. Ketika sedang asyik mereka bermain tanpa disengaja Ayunda yang mempunyai kekurangan pada anggota badannya yaitu cacat pada tangan memecahkan sebuah guci kesayangan nenek yang disimpan disalah satu sudut ruangan sebagai hiasan dan tempat menyimpan payung.

Ayunda sangat kaget dan kebingungan mengalami kejadian ini, untungnya guci hanya pecah sebagian saja. Maka dengan segera dia mencoba untuk membersihkan bekas  pecahan guci tersebut yang berserakan di lantai dan kemudian memutar posisinya agar tidak kelihatan rusaknya dan masih bisa dipakai menyimpan payung. Akan tetapi Ayunda tidak berani untuk melaporkan peristiwa itu kepada nenek.

“Adimas, tolong kakak ya, jangan ceriterakan hal ini kepada nenek karena kakak takut dimarahin, dan tolong dibantu membersihkan bekas-bekasnya mumpung nenek sedang tidur,” pinta Ayunda kepada adiknya.

“Ya, kak,” jawab Adimas  singkat yang melihat kejadian ini,  karena merasa kasihan kepada Ayunda kakaknya maka dengan segera ikut  membantu membereskannya. Tetapi rasa  kasihan  ini yang semula betul-betul karena kasihan, lama kelamaan dalam situasi tertentu menjadi salah dalam penerapannya, malahan memanfaatkannya.

Pada keesokan harinyasetelah makan siang, sang nenek berkata kepada Adimas :

“Adimas, tolong bantu kakakmu untuk mencuci piring di dapur atau membersihkan meja dan menyapu lantai bekas makan siang biar cepat bersih dan rapih.”

 Tetapi kemudian Adimas yang sedang malas dan mengantuk karena kenyang menjawab :

“Nek, kakak Ayunda bilang, Dimas tidak usah membantu ini kan pekerjaan perempuan katanya.”

 Setelah itu selanjutnya Adimas mendekati kakaknya sambil berbisik perlahan :

 “ Kak, ingat guci yang pecah itu !”

Lalu Ayundalah yang menyelesaikan semua pekerjaan tersebut.

Hari-hari berikutnya sang kakek bertanya kepada cucu-cucunya :

 “Anak-anak apakah kalian mau ikut memetik sayur-mayur di kebun dan mengambil ikan yang masuk perangkap yang kakek pasang kemarin.”

Secara serempak mereka berbarengan menjawab dengan gembira : “ Ya kek, saya ikut !  Biar tidak bosan selalu tinggal di rumah saja.”

 Tetapi  nenek berkata : “Kek, nenek perlu bantuan seorang untuk menyiapkan makan nanti siang sambil mengangkut dan menyusun kayu bakar ke dapur.”

 Mendengar apa yang dikatakan nenek sebenarnya Adimas memang tidak ingin membantu pekerjaan dirumah maka terlintas dalam pikirannya :

“Ah, aku mau pakai akal yang seperti kemarin mudah-mudahan berhasil.”

 Kemudian tiba-tiba Adimas mendekati nenek sambil berkata :

“Nek, kata kakak biar kakak Ayunda saja yang membantu menyiapkan untuk makan nanti siang karena itu kan memang pekerjaan untuk perempuan, sedangkan untuk mengambil ikan biar oleh Adimas saja lagi pula itu kan memang pekerjaan bagi laki-laki, dan sekalian nanti pulangnya lewat kebun sambil memetik sayur-mayur.”

Kembali Adimas mendekati kakaknya sambil berebisik perlahan : “Kak, ingat guci yang pecah!”

Kemudian Adimas bersama sang kakek pergi ke sungai untuk mengambil ikan dan memetik sayur-mayur di kebun sedangkan Ayunda kembali tinggal di rumah untuk membantu nenek.

Setelah beberapa hari merasa dikerjain oleh Adimas adiknya maka dengan perasaan sangat bersalah kepada sang nenek, kemudian Ayunda memberanikan diri  menemui neneknya dan berkata :

“Nek, Ayunda mau bilang sama nenek, tapi nenek jangan marah, ya nek?”

“Ya sayang, ada apa cepat ceritakan,” sahut nenek dengan lemah lembutnya.

“Nek, Ayunda dengan tidak sengaja telah memecahkan guci kesayang nenek yang terletak di sudut ruangan, untuk  itu Ayunda mohon maaf dan sangat menyesal serta merasa bersalah atas kejadian tersebut sebab tidak segera meleporkan hal itu kepada nenek karena takut dimarahi. Tapi jangan marahin Ayunda, ya nek,” sahut Ayunda perlahan sambil menundukkan muka dengan mamainkan jari-jari tangannya.

Kemudian sang nenek berlutut dan memeluk Ayunda sambil berkata dengan lembut dan sabar : “Ayunda cucu yang nenek sayangi, nenek sudah tahu tentang semua kejadian itu, anak cantik. Mengertikah kamu, bahwa pada saat peristiwa itu terjadi, nenek sedang berdiri diambang pintu kamar di seberang ruangan sehingga dapat menyaksikan dengan jelas semua kejadian tersebut.  Tetapi karena nenek sangat mengasihimu lebih daripada guci tersebut,  maka nenek sudah memaafkan semua itu, namun sejak itu nenek hanya menunggu sampai berapa lama kamu membiarkan dirimu dikerjain dan diperbudak oleh Adimas, adikmu.”

 Saudaraku semua ada hikmah yang dapat kita petik dari ceritera diatas.

1.

Ketika manusia mulai merencanakan sesuatu yang baik maka setan atau iblis juga mulai berusaha menggagalkannya. Sehingga perbuatan salah apapun yang pernah dilakukan oleh manusia, setan atau iblis akan terus mengingatkan kembali melalui bisikan dalam hati agar manusia tersebut mengulanginya lagi apakah itu tentang kebohongan, ancaman, tipu muslihat, ketakutan, kebiasaan buruk, kebencian, amarah, kepahitan dan lain sebagainya. Yang harus di ketahui dan  di ingat bahwa Tuhan selalu memperhatikan dan melihat seluruh hidup manusia. Tetapi Dia selalu mengampuni dan mengasihi umat-Nya bahkan memberinya keleluasaan sambil memperhatikan dan menunggu sampai berapa lama manusia akan membiarkan dirinya diperbudak oleh si iblis. Oleh karena itu hiduplah dalam Pengampunan dan Kasih Sayang-Nya.

2.

Manusia adalah ciptaan Allah yang paling sempurna, akan tetapi harga dirinya direndahkan oleh perbuatan dosa.

Daripada mendapat masukan dari orang lain yang belum tentu kita bisa menerimanya, mungkin lebih baik apabila kita bertanya pada diri kita sendiri : “Seberapa mahal  hargadirimu  ketika kamu menolak tunduk kepada Allah melalui perbuatan yang dikehendaki-Nya danseberapa murah  harga dirimu  ketika kamu menyerah kepada perbuatan-perbuatan dosa ? Tidakkah kamu tahu berapa harga dirimu dihadapan Tuhan? Kamu sangat berharga dan tidak ternilai, sehingga Allah selalu mengirimkan utusan-utusan-Nya dan bahkan mengorbankan utusan tersebut hanya untuk kepentinganmu, agar kamu bisa kembali kepadaNya.

3.

 Bisa di ibaratkan bahwa  seringkali  manusia  hanya  mementingkan jenis  dan bentuk cangkirnya, tapi  gagal meningkatkan  mutu kopinya. 

Dapat diartikan bahwa Cangkir adalah Alat untuk memegang dan mengisi kehidupan, tapi Kopi adalah  Anugerah Hidup  dari  Tuhan yang  harus dinikmati dan  disempurnakan.  Oleh karena itu janganlah meratapi cangkir yang tidak  bagus atau ketidak sempurnaan yang kita miliki, tapi  olah dan tingkatkan mutu kopi  agar menjadi semakin nikmat  atau dalam pengertian olah  anugerah kehidupan ini agar  menjadi semakin bermakna.

4.

” Bukan orang sehat yang memerlukan dokter, tetapi orang yang sakit.” 

Oleh karenanya hanya orang yang merasa dan mengakui dirinya sakit, maka dia akan mencari dokter. Manusia seringkali menyangkal bahwa dirinya sakit sehingga suara hatinya menjadi tumpul akibatnya kehilangan kepekaan tentang perbuatan dosa atau  kurang bisa memahami dan membedakan mana perbuatan yang keliru dilakukan  dan pengetahuan tentang dosapun jadi terbatas atau selalu mencari pembenaran atas semua perbuatan salahnya.

Maka dari itu manusia dituntut agar bisa lebih peka terhadap bisikan dalam kalbu dari Allah atau  Sang Dokter dan menyadari bahwa manusia selalu membutuhkannya.

 BANDUNG – INDONESIA,  JUNI  2013

(Gubahan Ki Ageng Bayu Sepi)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *