“PENYESALAN” VII

JIKA SESUATU YANG KITA MILIKI DAN SELALU BERADA DEKAT keluarga bahagiaKITA, MAKA AKAN TERASA BAHWA NILAI SESUATU TERSEBUT KECIL, AKAN TETAPI APABILA SESUATU ITU HILANG DARI SISI KITA MAKA AKAN TERASA BAHWA SUATU TERSEBUT NILAINYA SANGATLAH BERHARGA KARENA KITA SANGAT MEMBUTUHKANNYA.

 

KEDUDUKAN  KELUARGA  DISAMPING  KITA  POSISINYA  TIDAK  BISA  DIGANTIKAN  OLEH  APAPUN  JUGA.

Tanpa terasa dan tanpa kusadari 4 tahun sudah waktu telah berlalu sejak Lestari, istri yang sangat ku sayangi berpulang ke Rahmatullah menghadap kehadiratNya…….

Namun belum pernah terpikirkan dalam benakku untuk mencari lagi seorang istri sebagai penggantinya.

 Dalam hati aku sering bertanya seorang diri, bagaimanakah keadaan istriku sekarang di alam sana ? Baik-baik sajakah dia ? Aku hanya berharap dan berdoa semoga segala kesalahan yang telah dilakukan diampuni serta diterima imannya dan diberikan tempat yang layak disisiNya.

Mungkin saja dari alam sana dia menyaksikan betapa suami yang telah ditinggalkannya tidak mampu mengurus rumah dan mengurus anak-anak yang masih kecil……………………. kurasakan sekali bahwa hidup seorang diri tanpa didampingi oleh seorang istri sangatlah tidak sempurna karena tidak ada teman untuk berbagi rasa, baik itu suka maupun duka, jadi semua rasanya pincang. Maka agar tidak terlampau repot maka Ayunda ku titipkan kepada neneknya sedangkan Adimas besar bersamaku.                                            

Yang kurasakan selama ini bahwa aku telah gagal, sebab tidak bisa memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani untuk anak-anakku, emosiku menjadi tidak stabil dan  mudah sekali marah. Aku merasa gagal untuk menjadi ayah dan sekaligus ibu untuk anak-anakku.

 Pada suatu hari  ketika ada permasalahan penting yang harus kuselesaikan di tempat kerja dan aku harus sesegera mungkin berangkat ke kantor. Tetapi anakku masih belum bangun dari tidurnya………. 

Oleh sebab itu aku harus menyiapkan makan pagi untuknya nanti saat bangun tidur. Karena yang tersedia adalah nasi sisa yang kemarin maka kubuat nasi goreng ditambah ceplok telor mata sapi. Kemudian anakku yang kelihatannya masih mengantuk ku beritahu sarapan pagi yang telah disiapkan, kemudian aku segera bergegas berangkat ke kantor.

 Peran ganda yang kujalani sebagai seorang ayah dan sekaligus sebagai ibu, benar-benar sangat merepotkan membuat tenaga, pikiran serta waktuku terkuras habis.

 Pada hari yang lain suatu peristiwa terjadi, ketika aku pulang kerumah sudah agak malam dengan badan yang terasa sangat amat lelah karena telah bekerja seharian penuh.

Untuk melepas rasa kangen pada anakku Adimas, sepintasan kupeluk dia dan kucium keningnya kemudian dengan langkah lunglai aku masuk ke kamar tidur dan melewatkan makan malam.

 Akan tetapi ketika aku merebahkan badan ke tempat tidur dengan maksud hendak  istirahat sejenak untuk menghilangkan kelelahan………, tiba-tiba kurasakan ada sesuatu yang tersentuh kemudian  tumpah dan seperti ada cairan yang rasanya hangat mengalir.  Segera aku membuka selimut untuk mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi, dan inilah dia yang menjadi sumber masalahnya…………

Sebuah mangkuk tumpah berantakan dengan mie instan yang berserakan rata diatas seprei dan selimut.

 Ya….Allah, ya…. Tuhan.!

Aku menjadi sangat marah, kemudian tanpa bicara sepatah katapun secara spontan  kuambil sebuah gantungan pakaian dan langsung kupakai untuk memukul Adimas berulang-ulang yang saat itu sedang asyik bermain dengan mobil mainannya.

Anakku hanya menangis mungkin karena kesakitan, tetapi sedikitpun dia tidak meminta ampun ataupun belas kasihan dan hanya memberikan penjelasan singkat……………..

 “Ayah, tadi Dimas merasa sangat lapar tetapi sudah tidak tersedia nasi lagi walaupun nasi sisa. Karena ayah kan belum pulang, jadi Dimas ingin makan mie instan saja yang mudah dimasaknya, …

Dan Dimas ingat, bahwa ayah pernah berpesan untuk tidak menyentuh atau menggunakan kompor gas tanpa ada orang yang sudah dewasa di dekatnya……

Oleh karena itu Dimas hanya menggunakan air panas dari Dispenser untuk memasak mie instan tersebut……

Satu mangkok untuk ayah dan yang satu lagi untuk Dimas……

Karena khawatir mie nya akan cepat menjadi dingin, maka Dimas menyimpannya di bawah selimut agar tetap hangat sampai nanti ayah pulang……

Namun Dimas terlupa untuk memberitahukan pada saat ayah pulang….. Ayah maafkan  Dimas…

Seketika itu juga suatu rasa penyesalan amat besar yang merambah masuk kedalam relung hatiku dan tak tertahankan lagi air matakupun mulai mengalir membasahi pipi, begitu aku mengerti bahwa anakku Adimas walaupun masih sangat kecil sudah berbakti dan penuh perhatian terhadap ayahnya.

Akan tetapi aku tidak ingin anakku mengerti dan melihat bahwa ayahnya menangis. Maka dengan segera aku berlari ke kamar mandi dan menyalakan shower untuk menutupi suara tangisku.

 Selang beberapa waktu kemudian setelah perasaan sedih karena penyesalan akibat dari pengambilan keputusan yang tergesa-gesa dan salah telah tertumpahkan dengan tangis dan kini  sudah mereda, kuhampiri Adimas dan kupeluk dengan erat anakku kemudian ku obati luka bekas pukulan pada dipantatnya, lalu kubujuk agar segera tidur karena hari sudah malam. Dan kotoran bekas tumpahan mie di tempat tidur dan selimut kubersihan pula.

 Malampun menjadi semakin larut, tetapi aku tidak bisa tidur entah kenapa sedikitpun belum ada rasa mengantuk dimataku, walaupun siangnya aku telah bekerja seharian penuh dan kurang istirahat.

Aku hanya bisa berjalan hilir mudik di dalam rumah tanpa tujuan, lalu dengan sengaja kuhampiri kamar Adimas untuk melihat apakah dia sudah tidur. Ternyata anakku juga belum tidur, dia menangis sambil memegang dan memandangi foto Lestari,  ibu yang dikasihinya. Entah apa yang dirasakannya aku tidak mengerti, apakah dia menangis karena rasa sakit dipantatnya karena bekas pukulan, ataukah rasa rindu kepada ibunya atau mengadukan nasibnya, andaikan ibunya masih hidup hal seperti itu tidak akan pernah dialaminya. Kubiarkan dia sendirian, aku tidak  mengganggunya, namun kembali perasaan sedih menerpa hatiku.

Tanpa terasa setahun sudah peristiwa tersebut telah lewat. Dalam masa ini aku berusaha memusatkan seluruh perhatian dengan memberikan kasih sayang sepenuhnya kepada Adimas sebagai seorang ayah dan sekaligus kasih sayang sebagai seorang ibu serta memperhatikan dan mememuhi semua kerbutuhan yang diperlukannya.

Waktu seakan berjalan dengan sangat cepat,  dengan tidak terasa kini Adimas sudah berumur tujuh tahun dan sebentar lagi akan selesai Sekolah TK kemudian akan melanjutkan Sekolah di tingkat SD. Aku hanya mampu berdoa semoga kejadian yang telah dialaminya tersebut tidak meninggalkan trauma dan kenangan buruk di masa kecilnya agar dia bisa tumbuh menjadi dewasa dan berbahagia.

Tetapi di dalam masa ini aku sudah memukul Adimas lagi………….

Kembali kejadian itu membuatku benar-benar menyesal…………

Awal peristiwa ketika Guru TK nya memanggilku ke sekolah dan memberitahukan bahwa Adimas membolos tidak masuk sekolah.  Dari kantor aku sengaja pulang lebih awal dan berharap dirumah nanti anakku bisa memberikan penjelasan tentang alasan mengapa hal itu dilakukannya. Ternyata Adimas tidak berada ditempat, kucari disekitar rumah sambil berteriak memanggil-manggil namanya pada akhirnya kutemukan dia pada sebuah tempat Rental Komputer yang letaknya tidak jauh dari rumah dan sedang bergembira bermain game di komputer.

Aku sangat marah sekali, kuanggap anakku tidak bertanggung jawab. Dan kembali beberapa pukulan hinggap di pantatnya, tapi dia tidak menangis bahkan diam saja dan hanya mengatakan :

“Ayah,  maafkan Dimas….”

Untuk menghilangkan rasa penasaran, kudatangi lagi sekolahnya agar bisa memperoleh keterangan yang  lebih jelas tentang  mengapa Adimas sampai bolos sekolah. Ternyata sekolah mengadakan “pertunjukan bakat anak” dan yang diundang hadir adalah siswa yang bersangkutan dan ibunya. Dan inilah alasan Adimas tidak masuk sekolah karena dia tidak punya ibu.

Rasa kepenyesalanku timbul karena merasa mengapa aku tidak bisa menahan sabar dan selalu terburu-buru membuat kesimpulan sehingga selalu salah.

Beberapa waktu semenjak peristiwa pemukulan terhadap Adimas berlalu, hari-hari berikutnya berjalan normal seperti biasa. Hingga pada suatu hari sepulang sekolah Adimas memberitahuku bahwa sekarang disekolahnya mulai diajarkan cara membaca dan menulis.

Dan sejak saat itulah anakku terlihat lebih banyak mengurung diri didalam kamarnya untuk berlatih membaca dan menulis. Akupun merasa yakin apabila Lestari, ibunya masih ada dan melihat ketekunan anaknya pasti dia akan merasa bangga demikian pula halnya dengan ku.

Kembali waktu berjalan dengan sangat cepat, tanpa kusadari sekarang sudah memasuki akhir bulan Desember dan menjelang Tahun Baru. Pada bulan itu adalah saatnya musim penghujan dan dapat dikatakan hujan akan selalu turun pada setiap harinya. Namun walaupun demikian banyak orang yang nampaknya melakukan kegiatan persiapan untuk menyambut datangnya Tahun Baru, ada yang bersyukur dengan berdoa ke Rumah Ibadah dan ada pula menyiapkan makanan dan kembang api atau petasan untuk memeriahkan malam pada pergantian tahun dan lain sebagainya.

Ditengah suasana yang penuh kesibukan dan kegembiraan dalam rangka menyambut perayaan tersebut, Ya Allah  ya Tuhanku…., kembali Adimas membuat masalah lagi. Hal itu terjadi dihari-hari terakhir kerja ketika aku sedang menyelesaikan pekerjaan untuk memeriksa laporan akhir tahun.

Tiba-tiba terdengar  pesawat telepon di mejaku bordering dan segera kuangkat.

“Selamat siang dengan Pak Budi,” suara melalui pesawat telepon  dari seberang.

“Oh ya selamat siang, dengan saya sendiri,” jawabku.

“Mohon maaf, begini Pak  kami dari Kantor Pos Pusat dan mau menjelaskan bahwa pengiriman melalui jasa pos baik itu berupa surat ataupun lainnya pada akhir bulan dan akhir tahun seperti saat ini adalah merupakan puncaknya kegiatan, sehingga kami semua pegawai pos menjadi sangat sibuk,” penjelasan melalui pesawat telepon dari seberang.

Disini kami menemukan banyak surat yang dikirim dari alamat rumah Pak Budi dengan alamat tujuan pengiriman yang tidak jelas, dan ini akan menambah repotnya petugas kami. Untuk itu mohon agar surat-surat tersebut dapat segera diambil di Kantor dan diperbaiki bila diperlukan selanjutnya bisa diposkan kembali,” lanjut suara dari seberang dengan nada yang terdengar  agak kurang ramah. 

“Ya, terima kasih atas informasinya,” jawabku singkat namun dalam hati aku berpikir bahwa wajar kalau petugas pos tadi berbicara dengan nada yang kurang ramah karena kesibukan dan kelelahan serta kejenuhan akan membuat suasana hati merekapun kurang bagus apalagi ditambah beban dengan surat-surat tanpa alamat yang jelas.

 Perbuatan siapa lagi kalau bukan Adimas…………..,” pikirku dalam hati

Meskipun dalam hati aku sudah berjanji untuk berusaha tidak akan pernah memukul Adimas lagi, tetapi kali ini aku tidak bisa menahan diri untuk tidak  memukulnya kembali. Kurasa anak ini benar-benar keterlaluan selalu membuat masalah yang baru lagi.

 Seperti yang sudah-sudah, dia diam saja dan tidak menangis hanya meminta maaf : 

“Ayah, maafkan Dimas, yah…..,” dan tidak ada tambahan sepatah katapun yang diucapkan untuk bisa menjelaskan alasan mengapa dia melakukan hal itu.

Kemudian kuambil surat-surat yang diinformasikan oleh Kantor Pos Pusat untuk kubawa pulang, ternyata semua surat-surat tersebut tanpa diberi alamat yang dituju.

Sesampai di rumah dengan agak marah aku mendorong Adimas untuk duduk di kursi sambil menanyakan mengapa perbuatan tersebut dilakukan.

“Adimas, mengapa kau lakukan semua perbuatan ini, sehingga membuat repot orang lain? Dan apa yang ada dalam pikiranmu sebenarnya?”

Di tengah isak tangisnya dia menjawab : “ Ayah, semua surat-surat itu untuk ibu, Dimas merasa sangat rindu……”
Mendengar ucapannya yang singkat itu, secara spontan mataku menjadi berkaca-kaca, tetapi aku berusaha untuk mengendalikan perasaanku agar tidak menangis dan terus bertanya kepadanya :  Adimas, tetapi mengapa engkau mengeposkan semua surat-surat yang begitu banyak itu pada waktu yang sama?”

 Kemudian Adimas menjawab untuk memberi penjelasan :

“Maaf Ayah, Dimas menulis surat untuk ibu dalam waktu yang lama dan tidak tahu harus ditujukan kemana surat tersebut dan setiap minggu Dimas selalu menulis surat buat ibu akan  tetapi setiap kali pula Dimas akan mengeposkannya dan untuk menjangkau kotak pos yang berada diseberang jalan depan rumah belum bisa karena terasa masih terlalu tinggi, sehingga Dimas tidak dapat mengeposkan surat-surat tersebut dan hanya mengumpulkannya di rumah…. Akan tetapi baru sekarang-sekarang ini Dimas mencoba kembali ke kotak pos tersebut dan bisa mencapainya, oleh karena itu Dimas mengirimkan semua surat-surat yang sudah Dimas tulis sekaligus….”

Mendengar apa yang sudah dikatakan oleh Adimas, aku menjadi bingung tidak tahu apa yang harus kulakukan dan apa yang harus kukatakan. Aku kehilangan kata-kata.

Tetapi akhirnya kukatakan kepada Adimas untuk menghibur hatinya :

“Begini sayang, ibu  kini kan sudah  berada di surga, jadi untuk  selanjutnya apabila kamu hendak  menuliskan surat  untuk  disampaikan kepada ibu cukup dengan membakar surat tersebut maka isi surat akan sampai  kepada ibu…. Dan  surat-surat yang telah  kamu tulis agar sampai kepada ibu biar ayah saja  nanti yang akan membakarnya untukmu.”

Setelah mendengar penjelasanku tersebut Adimas menjadi lebih tenang yang kemudian tertidur dengan nyenyaknya. Kemudian kubawa semua surat-surat yang telah ditulisnya keluar rumah untuk dibakar.  Tetapi jadi timbul rasa penasaran dalam hati apa yang telah ditulis Adimas dalam suratnya, kemudian kubuka surat-surat itu satu-persatu sebelum kubakar habis dan berubah menjadi abu.

Dan inilah bunyi dari  salah satu surat yang telah ditulis Adimas,  yang membuat hatiku menjadi sangat sedih …………

Ibundaku sayang…
Adimas sangat merindukanmu,  ibu!
Hari ini, ada sebuah acara “Pertunjukan Bakat Anak” di sekolah, dan mengundang semua ibu untuk hadir pada pertunjukan tersebut…
Akan tetapi sayang ibu tidak ada, jadi akupun tidak ingin menghadirinya pula…
Hanya saja Dimas tidak pernah memberitahukan tentang hal ini yang sebenarnya kepada ayah, karena Dimas khawatir kalau ayah akan mulai menangis dan merindukan ibu lagi…

Pada saat untuk menyembunyikan dan mengobati kesedihan hati ini, Dimas duduk di depan komputer dan mulai bermain game di salah satu tempat rental komputer…
Ayah berkeliling mencariku, tetapi setelah menemukan, ayah marah kemudian memukulku,  dan Dimas hanya bisa diam, tetapi tidak menceritakan alasan yang sebenarnya pada ayah..…
Ibundaku sayang, setiap hari Dimas melihat ayah merindukanmu…
Dan setiap kali pula ketika dia teringat padamu…
Ayah begitu sangat sedih dan sering bersembunyi untuk menangis di kamarnya…
Dimas pikir kami berdua amat sangat merindukanmu,  ibu…
Dan Dimas rasakan terlalu berat untuk kami berdua tanpa ibu mendampingi….
Tetapi bu, Dimas sudah mulai melupakan wajahmu…
Ibu, bisakah ibu muncul dalam mimpiku sehingga Dimas dapat melihat wajah ibu dan bisa mengingatmu kembali?
Ada teman yang mengatakan bahwa jika kamu tidur dengan membawa photo orang yang kamu rindukan, maka kamu akan berjumpa dengan orang tersebut,  karena dia akan  hadir dalam mimpimu…
Tetapi mengapa bu, wajahmu tidak pernah hadir dan muncul dalam mimpiku ?

Setelah membaca isi surat tersebut, aku tidak bisa menahan rasa sedih dan tangisku. Dan kusadari bahwa akupun tidak dapat mengisi kesenjangan dalam hidup ini serta yang tidak pernah bisa digantikan oleh siapapun semenjak di tinggalkan oleh Lestari, istriku……

-o0o-

Saudaraku para pembaca yang budiman, dari gubahan ceritera diatas dapat kita ambil suatu kesimpulan sebagai pesan moral atau hikmahnya antara lain sebagai berikut :

 

1.

Betapa Pambudi berkali-kali salah menafsirkan peristiwa yang terjadi sebagai akibatnya salah dalam menyimpulkan dan mengambil keputusan sehingga harus berkali-kali pula dia  memukul Adimas yang diakhiri dengan perasaan kemenyesalan. Hal itu adalah sebagai sebuah contoh tentang  keterbatasan manusia untuk dapat mengerti makna dibalik suatu peristiwa yang nampak atau kelihatan oleh mata.

Oleh karena itu berusahalah untuk bisa berlaku lebih sabar dan jangan cepat menyimpulkan dan  mengambil suatu keputusan secara terburu-buru apabila kondisi pikiran sedang kacau, dalam keadaan kelelahan, stres, bersedih ataupun sedang marah, karena keputusan yang dihasilkan adalah kurang tepat dan kemudian bisa membuahkan tindakan yang dapat disesalkan.  Tenangkan pikiran dan tunggu sampai emosi sudah stabil, telaah permasalahannya baru kemudian membuat suatu keputusan maupun tindakan.

 

 

2.

Berkali-kali pula Pambudi melakukan kesalahan yang sama yaitu pemukulan terhadap Adimas, meskipun dalam hatinya berjanji tidak akan pernah berbuat hal seperti itu lagi.

Kasus diatas  merupakan sebuah contoh bahwa betapa keinginan manusia itu kuat namun daging atau pribadinya sangat lemah.

Karena pada umumnya manusia sangatlah mudah untuk memperoleh kebiasaan-kebiasaan buruk tetapi sulit untuk menghilangkannya. Dapat dikatakan bahwa mengalahkan kebiasaan buruk bisa berarti melawan dan mengalahkan dirinya sendiri.

 Seperti sebuah kalimat mengatakan :

Orang yang dikatakan hebat bukanlah orang yang dapat dengan mudah mengalahkan musuh-musuhnya tetapi orang yang hebat adalah orang yang mampu mengalahkan dan mengendalikan hawa nafsunya sendiri.

 

 

3a.

Pertanyaan Pambudi dalam hati :

 “Bagaimanakah keadaan istriku sekarang di alam sana ? Baik-baik sajakah dia ? Aku hanya berharap dan berdoa semoga segala kesalahan yang telah dilakukan diampuni serta diterima imannya dan diberikan tempat yang layak disisiNya.”

 

 

3b.

Penjelasan Pambudi kepada Adimas :

 “Begini sayang, ibu  kini kan sudah  berada di surga, jadi untuk selanjutnya …………….”

 

 

 

Kutipan diatas bermaksud untuk menjelaskan dan mempertegas pengertian bahwa, orang yang sudah mati atau meninggal dunia itu tidak hilang atau lenyap begitu saja tetapi dia hidup di alam yang berbeda dan dengan cara yang berbeda pula.

 Oleh karena itu kesempatan hidup di dunia pada saat sekarang  ini harus mempersiapkan dan diarahkan pada hidup di alam yang akan datang dengan melakukan semua yang dikehendaki oleh Allah, Tuhan kita.

 

 

4.

Nasehat  untuk para suami ataupun istri, yang telah dianugerahi seorang istri ataupun suami  yang baik, yang penuh kasih terhadap keluarga dan anak-anaknya selalu berterima kasihlah setiap hari padanya.

Dia telah rela menghabiskan sisa waktu dan umurnya untuk menemani hidupmu, membantumu, mendukungmu, memanjakanmu dan selalu setia menunggumu, menjaga dan menyayangi dirimu serta anak-anakmu.

 Hargailah keberadaannya, kasihilah dan cintailah dia sepanjang hidupmu dengan segala kekurangan dan kelebihan yang dimilikinya.

Karena apabila engkau telah kehilangan dia, maka tidak akan pernah ada emas permata, intan berlian ataupun lainnya yang bisa menggantikan posisinya.

 

 

5.

Dalam menghadapi segala macam bentuk permasalahan yang kita temui dalam hidup ini  berserahlah hanya kepada Tuhan, Allah kita serta lebih bijaksana dalam menyikapinya.

Sehingga ada kalimat bijaksana dan indah yang mengatakan :

                Berusaha untuk tetap sejuk di tempat yang panas,

               Berusaha untuk tetap terasa manis di tempat yang pahit,

               Berusaha untuk tetap tenang ditengah badai yang menggelora,

               Tetap merasa kecil walaupun di tempat yang besar.

 Mendoakan kalau ada yang memarahi;

Selalu sabar kalaupun hati ini di sakiti;

Tetap mejawab dengan ramah walaupun di fitnah.

 Bandung – Indonesia, Mei – 2013

(Gubahan Ki Ageng Bayu Sepi).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *