” PENYESALAN ” V

IBU MERUPAKAN SOSOK ORANG TUA YANG HUBUNGANNYA SANGAT DEKAT DENGAN PARA ANAK-ANAKNYA, AKAN TETAPI KEDEKATAN INI TERKADANG KURANG MENDAPAT PENGHORMATAN YANG SEMESTINYA DARI SANG ANAK, TERKADANG DALAM KENYATAAN SEORANG IBU MERUPAKAN TEMAN UNTUK BERTENGKAR. TAPI TIDAK DEMIKIAN DENGAN IBU ITU SENDIRI YANG SELALU MENGASIHI ANAK-ANAKNYA.


KASIH IBU TAK TERHINGGA  SEPANJANG MASA

TANPA MENGHARAP IMBALAN JASA

BAGAIKAN  SURYA  MENYINARI  DUNIA.

 

Sambil menangis dalam kesedihannya sewaktu menunggu Ayunda, Lestari  duduk di tepi ranjang sambil kepalanya tertunduk, dalam hatinya Lestari berkata mengapa dia tidak bisa menyayangi anaknya seperti ibunya dahulu menyayangi dirinya padawaktu masih kanak-kanak dan ingatan Lestari kembali pada saat masih remaja dulu, bagaimana ibunya sangat sayang  padanya.

Dalam lamunannya, Lestari  membuka kilas balik pengalaman dirinya sendiri,

Ibu merupakan orang yang paling dekat denganku yang selalu bertemu setiap harinya, sehingga aku mempunyai kesan tersendiri untuk ibu, bahkan sewaktu masih anak-anak aku bersama dengan teman-teman sering membicarakan ibu masing-masing.

 

Ada teman yang mengatakan :

Ibuku cantik dan gemuk seperti Kanjeng Mami dan sangat cerewet. Aku sering dimarahi karena  tidak sesuai dengan keinginannya.

 

Ada juga yang mengatakan :

Ibuku penyabar, tetapi jika sudah marah jangan tanya, sangat mengerikan….…. Aku tidak berani mendekat apabila ibu sedang marah.

 

 Sedangkan aku sendiri kalau diingat-ingat pernah mengatakan bahwa;

 Ibuku berpenampilan dan berparas menarik, berbadan tinggi langsing dan galak, tetapi pinter  

 masak dan  masakannya sangatlah enak. Aku sangat senang dan menyukai masakan ibu………..

 

Tetapi jika aku malas ketika disuruh atau diminta untuk membantunya apalagi kalau tidak benar dalam melakukan pekerjaan tersebut pastilah ditegur atau dimarahi. Aku suka jengkel jika dimarahi  sampai mogok makan atau pergi tanpa pamit. Kalau sudah begitu ibu pasti mencari dan merayuku agar aku segera makan dan tidak hanya itu saja bahkan ibu memasak masakan kesukaanku agar aku mau makan.

 

Kemudian sepeninggal almarhum bapak  karena kecelakaan tertabrak sepeda motor yang melaju dengan kencang sewaktu menyapu dijalanan, mengharuskan  ibu untuk mencari nafkah seorang diri untuk bisa membesarkan dan menyekolahkan anak-anaknya.

 

Tentulah ini merupakan suatu hal yang sangat berat, tetapi ibu tidak pernah mengeluh atau menceriterakan hal tersebut kepadaku.

Ibu pandai sekali menyembunyikan perasaan dalam penderitaan ini. Hal ini kusadari setelah bertambahnya umur dan berkembangnya pola pikir, dan aku baru merasa menyesal sebab selama ini jika disuruh ibu selalu menggerutu dengan berbagai macam alasan dan jika dikasih tahu atau dinasehati aku suka membantah bahkan menentangnya.

-o0o-

Suatu hari, aku ditegur ibu karena sepulang sekolah aku tidak melakukan yang seharusnya kulakukan yaitu menanak nasi, mencuci piring dan perabotan lain yang kotor dengan alasan yang kubuat-buat. Masalah sebenarnya adalah aku sedang malas, sebagai dalih aku beralasan bahwa ibu  pilih kasih mengapa aku saja yang harus mengerjakannya, bukan adikku yang  laki-laki, Lesmana, aku terus membantah dan akhirnya aku bertengkar dengan ibu.

“Ibu kalau terus dimarahi, aku akan pergi……!” kataku sambil menjerit dengan suara yang  keras.

“Silahkan kalau mau pergi, pergi sajalah. Kalau perlu tidak usah pulang sekalian,” kata ibu sekenanya.

Karena jengkel dan marah, merasa seakan disepelekan serta diusir dari rumah seketika itu juga aku membalikkan badan dan berlari pergi  meninggalkan rumah entah tanpa tujuan yang jelas.  Celakanya karena emosi yang meluap aku pergi begitu saja dan lupa tidak  membawa barang apapun, kecuali baju yang menempel di badan.

Setelah jauh berjalan tanpa tujuan dengan langkah gontai karena lelah, haus dan lapar, aku melewati tukang dagang nasi goreng yang mangkal dipinggir jalan. Hhmm….terasa harum aroma nasi goreng itu menusuk hidung, sehingga membuat perut yang memang sudah lapar makin berkeroncongan.

Saat itu barulah kusadari bahwa aku sama sekali tidak membawa uang. Ingin sekali rasanya hati ini memesan sepiring nasi goreng, namun apa daya aku tidak memiliki uang serupiahpun. Aku hanya mampu melihat tukang dagang itu melayani pembelinya dari seberang jalan sambil menahan air liur. 

Aku hanya berharap agar Tuhan mau membantuku,  bahwa hanya dengan melihat orang makan dari jauh sambil menelan ludah saja mudah-mudahan rasa lelah dan laparku bisa terobati.

Akan tetapi diluar dugaan, Tuhan membantuku lebih dari apa yang bisa aku pikirkan. Tanpa kusadari rupanya pedagang nasi goreng  itu sejak tadi memperhatikan kehadiranku yang  berdiri sudah cukup lama di seberang jalan di depan gerobak dorong tempat mangkalnya, yang kemudian mendekatiku dengan ramahnya seraya berkata :

 “Neng, apakah engkau ingin memesan sepiring nasi goreng?”

 

” Ya pak, tetapi aku sama sekali tidak membawa uang, jawabku perlahan sambil menunduk dengan rasa malu.

Oh, tidak mengapa, aku akan memasakkan sepiring nasi goreng untukmu. Hayo sini silahkan duduk, jawab sipedagang nasi tersebut sambil menuntunku untuk duduk disebuah kursi dan menghadap sebuah meja.

Tidaklama kemudian setelah selesai memasak, pedagang  itu menyajikan sepiring nasi goreng kehadapanku. Karena memang sudah lapar aku segera memakannya. Tetapi baru saja beberapa suap, secara tak terbendung mengalirlah air mataku dan aku manangis sesenggukan.

“Adaapa neng?” Tanya si pedagang nasi goreng itu dengan suara lembut.

Tidak apa-apa pak,  aku hanya terharu,” jawabku sambil menghapus air mata. Lanjutku kemudian :

Bapak adalah seorang yang baru ketemu denganku sekali ini tetapi mau berbaik hati memberiku sepiring nasi goreng pada saat saya lapar, sedangkan…ibu kandungku sendiri, setelah bertengkar tadi sore malah mengusirku dari rumah bahkan mengatakan kalau perlu tidak usah pulang.

Dan bapak juga bukan siapa-siapaku, seorang yang baru kukenal, tetapi begitu peduli denganku dibandingkan dengan ibu kandungku sendiri, kataku kepada pedagang nasi goreng tersebut sambil menangis terisak-isak.

Mendengar curahan hatiku itu pedagang nasi goreng tersebut kemudian menarik nafas panjang dan dengan lembut dia berkata :

“Neng,  mengapa engkau punya pikiran seperti itu? Coba kita renungkan hal ini, bapak ini kan hanya memberimu sepiring nasi goreng dan engkau sudah begitu sangat terharu. Apalagi kalau  dibandingkan dengan ibumu yang telah memasak nasiuntukmu, menjagamu, melindungimu sejak engkau masih kecil sehingga sampai dengan saat ini, mengapa engkau tidak berterima kasih kepadanya? Dan malahan bertengkar dengannya.

Terhenyak dan terperanjat bagaikan tersambar petir saat aku mendengar nasehat yang bijaksana dari bapak pedagang nasi goreng tersebut .

Alangkah bodohnya aku ini, mengapa tidak pernah terpikirkan tentang hal seperti itu. Hanya untuk sepiring nasi goreng dari orang yang baru kukenal, aku sudah begitu berterima kasih, tetapi kepada ibuku yang memasak untukku, membesarkanku, menyekolahkanku selama bertahun-tahun, aku bahkan tidak pernah memperlihatkan kepedulianku kepadanya. Hanya karena persoalan sepele, menanak nasi serta mencuci piring yang kesemua itu nantinya untuk kebaikanku juga dan inilah kesalahanku sampai aku bertengkar dengannya.

Segera kuhabiskan nasi goreng tersebut, setelah mengucapkan terima kasih  atas nasi goreng dan nasehatnya,  kemudian aku menguatkan diri dan bertekad untuk segera pulang ke rumah.

Ditengah perjalanan pulang ke rumah, aku merasa bingung memikirkan tentang bagaimana menyusun dan merakit  kata-kata apa yang pantas untuk kuucapkan kepada ibu nanti, agar ibu tidak marah berkelanjutan serta mau memaafkanku.

Ketika sampai di rumah, aku melihat ibu sudah berdiri menunggu di ambang pintu dengan wajah yang terlihat letih dan penuh kecemasan.

Begitu melihatku, ibu segera bergegas menyongsongku sambil mengembangkan kedua belah tangannya, dan kalimat pertama yang keluar dari mulutnya adalah :

Lestari kau sudah pulang nak, cepatlah masuk, ibu telah menyiapkan makan malam kesukaanmu dan makanlah dahulu sebelum engkau tidur, makanan akan segera menjadi dingin jika engkau tidak memakannya sekarang.

 

Pada saat itu pula akupun berlari menghampirinya untuk memeluk ibu sambil berseru : “Ibbbuuuu……….,” hanya itu kalimat yang bisa keluar dari mulutku dan tidak ada kata-kata  lain yang bisa terucapkan. Kalimat indah yang semula telah kususun untuk kuucapkan kepada ibu,  itupun hilang berantakan. Tangiskupun pecah tidak tertahankan lagi serta deraian air mata yang deraspun mengalir tak terbendung, dan aku hanya mampu duduk bersimpuh serta sujud memeluk kaki ibu dengan beribu macam perasaan.

 

Lamunan Lestari tersadar ketika terdengar suara bel besuk rumah sakit berbunyi berkeliling ketiap ruangan:

Teng, teng, teng, teng…….. Perhatian untuk para tamu, bahwa waktu berkunjung hanya tinggal 5 menit lagi, agar berpersiap untuk segera meninggalkan ruangan.

-o0o-

Saudaraku para pembaca yang budiman jikalau kita perhatikan dan kita renungkan peran seorang IBU dalam kehidupan rumah tangga :

 1. Ikatan kalbu :

Istri atau Garwa adalah singkatan dari Sigarane Nyawa dalam bahasa Jawa yang artinya adalah      Belahan Jiwa, dan sebutan ini  tidak bisa dipisahkan dengan yang namanya  Ibu Rumah Tangga. dan  peranan seorang ibu dalam  rumah tangga  tidak pula bisa terlepas dari ikatan bathin dengan suami dan    anak-anaknya. Seorang suami tanpa garwa (istri atau ibu rumah tangga)  disampingnya dapat dikatakan    tidak bisa hidup sempurna sebab segala sesuatu kebutuhan tidak terlepas dari jasa seorang ibu (istri/garwa), begitupun anak-anak tanpa ada ibu yang mendampinginya pasti terasa pincang .

 Sebuah contoh misalnya saja, jika suami atau anak  jauh dari rumah dan mengalami suatu halangan      apapun bentuknya, secara otomatis hati seorang  ibu pasti merasakan tidak enak, bayangan mereka    selalu berkelebat dalam pelupuk matanya dan pikirannya selalu teringat dan tertuju pada mereka ,     jantungnya berdebar-debar dengan keras, apapun yang dipegang selalu salah dan hampir terlepas yang   tidak jelas penyebabnya. Itu menandakan bahwa adanya suatu ikatan bathin antara suami, ibu dan anak.  

 2. Ibarat Babu (Bagaikan Pembantu) :

Sejak pagi buta sampai dengan malam hari dapat dikatakan kegiatan seorang ibu tidak pernah berhenti, segala dikerjakan untuk melayani suami dan anaknya, karena seorang ibu akan bangun lebih  pagi  bila dibandingkan  dengan  suami  atau anaknya, untuk mepersiapkan semua keperluan suami sebelum berangkat bekerja dan anak anaknya sebelum berangkat ke sekolah. Demikian juga pada siang dan sore harinya.

 Ketika seorang  ibu masih mempunyai anak yang balita, dia akan mengasuh dan merawat dengan menyusuinya,  menyuapinya, memandikannya, menuntunnya  sampai bisa berjalan sendiri  dan apabila nakannya sakit  yang pasti semalaman tidak dapat tidur atau istirahat.

Walaupun  anak sudah dewasa dan sudah berumah tangga  serta berpisah dari orang tuanya seorang anak tetap akan membutuhkan sosok  ibu, dalam bentuk nasehat karena dianggap lebih berpengalaman.

Sebagai contoh apabila pasangan suami istri keduanya  bekerja, pasti yang pertama kali dimintai bantuan adalah ibu untuk  mengasuh cucu,  bila sang cucu sakit, seorang nenek  akan ikut sibuk merawat sang cucu.  Disini  jelas  tugas dan kewajiban seorang  ibu dapat dikatakan  tidak pernah selesai walaupun usia sudah semakin lanjut.

Memperhatikan pernanan seorang ibu didalam kehidupan rumah tangga yang demikian sibuk dan sangat pentingnya, maka sepantasnya serta seharusnyalah kalau kita selalu hormat dan berbakti kepadanya.

 (“……Dan supaya kamu berbakti terhadap ibu bapa. ….jangan pula membentak mereka, namun ucapkanlah terhadap mereka perkataan yang sopan santun………..…” QS 17:23).

 

Adapun hikmah yang dapat kita petik dari gubahan ceritera diatas antara lain sebagai berikut :

 

1. Dalam kapasitas sebagai seorang anak.

Sekali waktu, mungkin akan merasa sangat berterima kasih kepada orang lain yang berada  disekitar kita yang telah  memberikan pertolongan atau bantuan yang sangat kita butuhkan.

Akan tetapi kepada orang yang hubungannya sangat dekat dengan kita misalnya keluarga atau  khususnya ayah dan ibu, seharusnyalah kita untuk selalu berterima kasih, karena apa yang telah mereka perbuat untuk kita tanpa memikirkan balas jasa atau imbalan atas segala yang telah dikalukannya baik yang berupa doa maupun tenaga dalam membesarkan dan membimbing  kita dari semenjak kita belum tahu dan belum bisa  apa-apa sampai dengan batas waktu dan kemampuan yang dimilikinya.

 

2. Dalam kapasitas sebagai anggota sebuah keluarga.

Jangan sampai menjadi seperti seorang suami atau istri yang merasa kurang dalam mendapatkan  perhatian dari pasangan hidupnya karena kesibukan mereka masing-masing, agar selalu  mengkoreksi diri serta jangan terlalu cepat mengambil sebuah kesimpulan supaya tidak salah dalam langkah selanjutnya.

 

Janganlah sampai seorang suami atau istri  mendapatkan perhatian lebih yang diberikan oleh orang lain pada saat mengalami kesepian/kekosongan di hati  sehingga  menjadikan pertimbangan untuk  pindah kepada Wanita atau Pria idaman lain, tanpa mengingat manis dan pahitnya perjuangan  hidup yang telah dilaluinya bersama selama ini.

 

Janganlah sampai menjadi seperti seorang suami atau istri yang mudah tergiur oleh karena      sebuah rayuan atau pemberian berupa materi, lalu tanpa pikir panjang mengenai nasib anak-    anaknya dengan mudah mengalihkan cintanya kepada Wanita atau Pria Idaman Lain, dan  tidak mengingat lagi tentang kebahagiaan keluarga yang  telah mereka bina dan perjuangan bersama.

 

Oleh karena itu haruslah selalu bersyukur atas anugerah Allah yang telah menjadikan  sebuah keluarga yang bahagia serta berusaha untuk selalu mempertahankan kebahagiaan tersebut dari segala yang bisa mengganggu keutuhannya, seorang suami dan istri adalah pasangan yang selalu hidup berdampingan setiap hari baik siang dan malam atau dalam suka dan duka.

 

3. Dalam kapasitas sebagai sesama manusia.

Kita kadang-kadang ditolong oleh orang lain yang tidak kita kenal dan kadang-kadang kita juga membantu orang lain yang juga tidak kita kenal. Berbagai macam rekasi yang kita rasakan ketika dibantu dan membantu orang yang tidak kita kenal sebelumnya. Akan tetapi pertolongan sekecil apapun akan sangat berguna bagi orang yang dibantu. Kita memang sesama manusia sebagai makhluk sosial akan saling membutuhkan dalam meringankan beban seorang dengan yang lain.

Ini sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Allah bahwa kita sebagai manusia harus saling tolong menolong dalam meringankan beban dan penderitaan diantara kita sesama manusia.

   

4. Sebuah kalimat bijaksana yang berbunyi :

Untuk segala sesuatu ada waktunya,…Allah membuat segala sesuatu Indah pada Waktunya.

Pada umumnya manusia seringkali menginginkan hal yang selalu serba cepat,  instan, tergesa- gesa dan sesuai dengan  kehendaknya  sendiri. Tetapi Allah adalah Maha Bijaksana, tidak pernah terlalu cepat dan tidak pula pernah terlambat. Selalu Tepat Pada Waktunya.

 

Bandung – Indonesia  April – 2013

(Gubahan Ki Ageng bayu sepi)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *