“TOLONG…. MALING…. MALING… !”

SETIAP GUNUNG MEMILIKI KETINGGIANNYA MASING-MASING, DEMIKIAN PULA DENGAN AIR PASTI MEMPUNYAI KEDALAMANNYA MASING-MASING,

OLEH KARENA ITU DALAM KEHIDUPAN INI TIDAK PERLU SALING MEMBANDING-BANDINGKAN, SEBAB SETIAP ORANG PASTI MEMILIKI KELEBIHAN DAN KEKURANGANNYA SENDIRI-SENDIRI.

TIDAK ADA ORANG BAIK YANG TIDAK PUNYA MASA LALU, DAN TIDAK ADA PULA ORANG JAHAT YANG TIDAK PUNYA MASA DEPAN.

SETIAP ORANG MEMILIKI KESEMPATAN YANG SAMA UNTUK BERUBAH MENJADI LEBIH BAIK. BAGAIMANA PUN MASA LALUNYA DAHULU, SEKELAM APA PUN LINGKUNGANNYA DAHULU, DAN SEBURUK APA PUN PERANGAINYA DI MASA LAMPAU, BERILAH KESEMPATAN SESEORANG UNTUK BERUBAH.

TIDAK ADA KATA TERLAMBAT UNTUK BERUBAH ATAU BERTOBAT, TERLEBIH JIKA HAL TERSEBUT DILANDASI OLEH KESADARAN DIRI SENDIRI YANG YAKIN AKAN KEMURAHAN TUHAN SERTA BERGUNA BAIK UNTUK DIRI SENDIRI MAUPUN UNTUK ORANG LAIN.

DENGAN SIKAP HIDUP YANG DIPERBUAT, MAKA AKAN DAPAT MENUNJUKKAN SIAPA DIRI INI SEBANARNYA.

OLEH KARENA ITU JANGAN PERNAH TAKUT PADA KEGAGALAN. TETAPI HARUS WASPADA DAN JANGANLAH PERNAH MENGIJINKAN RASA PUTUS ASA MUNCUL DALAM HATI, KARENA RASA PUTUS ASA AKAN MEMBUAT SESEORANG MENGAKHIRI USAHANYA UNTUK BANGKIT KEMBALI.

APABILA HAL TERSEBUT TERJADI MAKA AKAN MENJADI KEGAGALAN DAN AKHIR YANG SESUNGGUHNYA.

Kisah dari reka cerita ini terjadi di sebuah Desa di kaki sebuah perbukitan yang bernama Tanggul Ngain, yang dipimpin oleh seorang yang disebut dengan Kepala Desa atau Kades. Di Desa lain ada yang menyebut Kepala Desa dengan sebutan Kuwu dan ada juga yang menyebut Petinggi namun kalau di kota disebut dengan Lurah.

Desa ini terdiri dari empat Pedusunan yang masing-masing dipimpin oleh seorang Kepala Dusun atau Kadus. Di tempat yang berbeda ada yang menyebut dengan nama Kamituwa.

Meskipun penerangan listrik telah memasuki desa tersebut, namun pada umumnya masyarakat memasang lampu penerangan hanya untuk di dalam rumah sedangkan pada halaman rumah dan jalan rata-rata masih gelap karena belum dipasang lampu penerangan.

Seperti pada umumnya keadaan disebuah pedesaan, jarak antara rumah satu dengan rumah yang lain agak berjauhan tidak berdiri rapat berhimpitan seperti perumahan di kota, namun hubungan antar warga begitu akrab dan saling menghargai serta setiap warga desanya sangat menghormati pimpinan desa atau para pengurusnya.

Pada suatu malam meskipun pada saat itu dapat dikatakan begitu cerah karena hanya ada bintang-bintang yang menghiasi langit namun gelapnya malam, itu yang menambah sepinya suasana. Dan dinginnya udara terasa menggingit kulit serta menusuk tulang pada bagian badan yang tidak terlindungi oleh pakaian.

Kentongan di Balai Desa baru saja dipukul oleh petugas jaga sebanyak sebelas kali. Akan tetapi Riskandar seorang anak muda yang masih bujangan masih belum juga menyingkir dari tempatnya duduk, yaitu di sebuah bangku yang terletak di bawah pohon Mangga Manalagi yang tumbuh pada sudut sebelah kanan halaman depan rumahnya.

Riskandar masih duduk menyendiri, melamun dengan tenang sambil memeluk lutut dan berkerudung kain sarung untuk menahan dinginnya udara malam dan melindungi diri dari serangan gigitan nyamuk.

Tiba-tiba saja Riskandar terkejut dari lamunannya ketika telinganya mendengar bunyi tulat-tulit yang keras, bunyi suara HP karena tidak dipelankan nada deringnya yang terdengar dari arah rumah Ega Lastri, tetangga yang bersebelahan rumahnya.

“Oh… itu pasti suara dari HP nya Ega Lastri. Akan kubangunkan dia, barangkali ada berita penting dan dia sedang tertidur,” katanya dalam hati seraya bangkit berdiri yang maksudnya hendak memberi tahu hal itu kepada Ega Lastri seorang perempuan muda yang cantik dan Riskandar pun menaruh hati padanya.

Namun niatnya itu diurungkannya karena ketika HP tadi berdering tidak lama kemudian tiba-tiba lampu listrik yang tadinya menyala dengan terangnya secara mendadak menjadi mati atau mungkin lebih tepatnya dimatikan. Hal tersebut menandakan bahwa si penghuni rumah masih terjaga atau belum tidur.

“Oh… Ega Lastri ternyata masih belum tidur,” katanya dalam hati.

Kemudian Riskandar sendiri tidak langsung masuk ke dalam rumahnya walaupun sudah sangat malam, akan tetapi dia kembali duduk ke tempatnya semula sambil masih memeluk lutut dan berkedurung kain sarung.

Tiba-tiba tanpa sengaja pada keremangan malam yang bisa dikatakan gelap gulita pandangan matanya menangkap sesosok bayangan seseorang yang berjalan mengendap-endap menuju pintu rumah Ega Lastri.

Medlihat hal tersebut dalam hatinya muncul berbagai macam pertanyaan :

“Bayangan orangkah yang aku lihat tadi ?

Kalau itu bayangan orang, siapakah orang tersebut ?

Apakah dia itu seorang pencuri ?

 

Atau barangkali dia itu sebangsa makhluk halus yang berubah wujud menyerupai seorang  manusia ?

Kalau yang saya lihat itu tadi adalah makhluk halus atau jin, maka ya wajar sajalah. Karena malam ini adalah memang malam jumat.

Tapi apa maksudnya dia datang ke rumah Ega lastri ?”

Dan bermacam-macam pikiran yang berkecamuk dalam dirinya.

Namun Riskandar masih tetap diam ditempatnya dan tak bergerak sambil memperhatikan gerak-gerik bayangan yang terlihat terus melangkah mendekati arah pintu rumah Ega Lastri yang gelap sekali.

Kemudian bayangan itu terlihat mendorong pintu rumah dan dengan sangat mudahnya pintu rumah itu terbuka.

“Wah barangkali yang punya rumah lupa tidak mengunci pintunya,” kata Riskandar dalam hati sambil bangkit berdiri dan berjalan berjingkat-jingkat mendekati pintu rumah yang maksudnya hendak meyakinkan apa yang sedang terjadi.

Riskandar sendiri memang dapat dikatakan sebagai seorang yang pemberani, tidak pernah merasa takut terhadap pencuri apalagi makhluk halus. Akan tetapi apa yang dilakukannya menjadi terhenti ketika sampai di depan pintu rumah dan mencoba mendorongnya agar terbuka, ternyata sulit karena terkunci dari dalam.

Riskandar perlahan-lahan kembali ketempatnya semula sambil merasa kecewa. Namun kali ini tidak kembali untuk duduk di bangku dibawah pohon Mangga Manalagi, tetapi menuju arah sudut rumah yang sangat gelap karena terdapat pohon Pisang Ambon Lumut. Kemudian dia berjongkok disitu.

“Ah… jadi penasaran aku,” katanya dalam hati yang masih merasa penasaran dan ingin tahu apa dan siapa sebenarnya bayangan mencurigakan yang telah memasuki rumah Ega Lastri tadi.

Walaupun badannya menjadi sasaran gigitan nyamuk-nyamuk kebun yang terkenal besar-besar tidak diabaikan saja dan tidak digubris.

Ketika kentongan Balai Desa sudah berbunyi 12 kali, kembali Riskandar terperanjat, karena matanya yang menatap tajam dan memperhatikan pintu rumah Ega Lastri, tiba-tiba melihat bayangan orang yang keluar meninggalkan rumah Ega Lastri dengan langkah yang terburu-buru.

Riskandar sebenarnya hendak mengejar tetapi terlambat karena melongo dan baru berdiri ketika bayangan orang yang diperhatikan itu telah menghilang ditelan gelapnya malam. Setelah berdiri kemudian dia melangkah masuk ke dalam rumah dengan membawa berbagai macam pemikiran yang berkecamuk.

Karena masih penasaran maka pada malam-malam berikutnya Riskandar masih terus mengawasi dan mengintai rumah Ega Lastri, menunggu barangkali bayangan orang yang mencurigakan itu muncul kembali. Akhirnya dia mengetahui bahwa ternyata tidak setiap malam sosok bayangan orang tersebut datang mengunjungi rumah Ega Lastri, tetapi hanya pada setiap malam Jumat. Namun waktu kedatangannya selalu tetap yaitu pada pukul sebelas malam dan pulang pada pukul dua belas malam.

Namun hingga saat itu Riskandar sendiri belum berhasil memastikan siapa gerangan sebenarnya orang itu. Akan tetapi bisa dipastikan bahwa tujuan bayangan itu datang ke rumah Ega Lastri adalah untuk melakukan hubungan badan.

Ega Lastri adalah anak bungsu dan tinggal serumah atau hidup berdua dengan nenek Suratijah atau yang biasa dipanggil dengan sebutan Nenek Ijah dan dia adalah seorang janda. Sedangkan Ega Lastri sendiri juga seorang janda kembang, seorang janda muda yang belum punya anak, berkulit kuning langsat dengan bentuk wajah oval serta berperawakan ramping semampai dan aduhai yang seakan-akan ngiming-imingi setiap lelaki yang lemah imannya.

Ega Lastri menjadi janda kurang lebih antara setahunan setelah perceraian dengan suaminya. Dan sekarang dia berumur 27 tahun. Apabila diibaratkan sebagai sebuah lampu, masih terlihat bersinar sangat terang sehingga bisa mampu membuat silaunya hati Riskandar, seorang jejaka yang masih hijau yang umur nya kurang lebih tiga tahun lebih muda apabila dibandingkan dengan Ega Lastri.

Hatinya bergejolak dan menahan keinginannya sehingga dadanya terasa sesak, akan tetapi tidak pernah berani untuk bertindak, hanya duduk diam dan tidak bergerak serta mengambil jarak untuk mengawasi dan memperhatikan saja.

Namun dari hasil pengamatan dan pengintaian yang dilakukan selama beberapa waktu berjalan, maka dalam hati Riskandar muncul sebuah tekad untuk berani bersaing dengan bayangan orang yang mencurigakan itu.

“Aku panggil namaku Riskandar, kalau aku tidak bisa merampas Ega Lastri dari kamu, hai bayangan orang yang tidak jelas….” kata Riskandar dalam hatinya.

Pada malam Jumat yang ke sekian kalinya, ketika Riskandar mengintai seperti yang sudah-sudah setiap ketongan Balai Desa berbunyi sebelas kali, pasti hp Ega Lastri nada deringnya berbunyi, yang kemudian disusul dengan padamnya lampu-lampu listrik di seluruh rumahnya.

Dengan sigap Riskandar segera berdiri dengan setengah berlari menghampiri pintu rumah Ega Lastri yang maksudnya akan membuka/mendorong pintu tersebut agar bisa masuk rumah walaupun tanpa permisi untuk mendahului bayangan orang yang mencurigakan tersebut.

Ketika di dalam rumah yang keadaannya gelap gulita tersebut, dengan hati yang membara, jantung yang berdebar cepat, nafas yang memburu, mata Riskandar memandang tajam sambil melirik kekiri dan kekanan mencari sasaran seperti seekor singa yang hendak menerkam mangsanya.

Tidak lama kemudian pandangan matanya tertumbuk pada sebuah  bayangan seorang perempuan yang perlahan-lahan bergerak keluar dari dalam kamarnya. Dengan tidak sabar bayangan perempuan tersebut diterkam dan didekap dengan rapat serta dicium bibir dan pipinya.

Sedangkan bayangan perempuan yang didekap itupun meronta atau bergerak-gerak sekuat tenaganya berusaha untuk melepaskan diri dari dekapan tersebut sambil berbunyi “ah, uh, ah, uh”. Suara teriakkan yang tertahan atau tidak lepas.

Ketika usahanya sudah berhasil membuat kendor dekapan dari orang yang tidak diketahui tersebut, maka bayangan perempuan itupun berteriak dengan keras :

“Tolong….maling……maling… !!

Bersamaan dengan bunyi teriakkan itu, tiba-tiba …..bray….., semua lampu menyala dan menerangi seluruh ruangan. Riskandar sangat terkejut seperti tersambar petir sehingga pandangan matanya menjadi kabur dan berkunang-kunang setelah mengetahui bahwa yang didekap dan diciuminya itu adalah Nenek Ijah ibunya Ega Lastri.

Dengan rasa malu yang tak terkira, dan maksud hatinya hendak berlari keluar dari ruangan itu untuk menghindari malu yang berkepanjangan, namun kakinya tidak bisa digerakkan seakan-akan tertancap dalam tanah.

“Huh…., dasar anak kurang ajar….,” kata Nenek Ijah marah sambil mengusap-usap bibirnya.

Dan yang tidak kalah terkejutnya adalah Ega Lastri sendiri yaitu ketika menyalakan lampu, bagaimana dia menyaksikan Nenek Ijah ibunya yang sedang didekap dan diciumi oleh Riskandar serta melihat Hendarwan pacarnya sudah berdiri didepan kamarnya.

Ketika kesadaran Riskandar sudah pulih kembali dan sudah bisa menata hatinya maka dengan cepat-cepat dia pergi meninggalkan tempat tersebut tanpa permisi. Akan tetapi sampai di halaman rumah usahanya terhenti karena ada dua orang Petugas Keamanan yang sedang berjaga menghentikan langkahnya.

“Hey Mas, kamu berhenti dulu, ayo sekarang masuk lagi ke dalam rumah….!” perintah salah seorang Petugas Keamanan yang bernama Asep Nugraha yang sudah berhasil memegang pergelangan tangan Riskandar dan tidak bisa berkutik itu sambil mendorong bahunya untuk masuk kembali ke rumah Ega Lastri.

“Saya tidak melakukan pencurian apa-apa Pak…” kata Riskandar memberikan penjelasannya.

“Iya saya mengerti, tetapi hanya sebagai saksi saja !” kata Asep Nugraha

Asep Nugraha kemudian masuk ke dalam rumah dimana terlihat Ega Lastri sedang berdiri bersama seorang lelaki yang selalu berkunjung pada setiap malam Jumat.

“Lha, ini kan Mas Hendarwan, koq sudah berada disini. Lalu siapa tadi yang berteriak maling, Mbak Lastri ?” tanya Asep Nugraha ingin tahu.

Ega Lastri tidak bisa berkata sedikitpun, mulutnya tertutup rapat seakan-akan terkunci, hanya jari tangannya saja yang menunjuk ke arah Nenek Ijah, ibunya.

“Nenek Ijah ? Tadi Nenek Ijah yang berteriak ada maling, mana malingnya Nek ?” kembali Asep Nugraha bertanya untuk mengetahui permasalahan apa yang sebenarnya terjadi.

Itu Nak Asep, kedua orang itulah maling atau pencurinya, “ kata Nenek Ijah memberikan penjelasannya sambil mengarahkan jari telunjuknya kepada kedua orang yang berdiri dihadapannya.

“Lah Pak, saya kan tidak mencuri. Saya hanya ingin mengikuti apa yang telah dilakukan Pak Hendarwan dengan Ega Lastri dan caranya saya ingin mendahuluinya akan tetapi saya malah salah sasaran, nggak tahunya yang telah saya jadikan sasaran itu adalah Nenek Ijah,” kata Riskandar membantah.

“Saya juga bukan pencuri Kang Asep. Saya hanya…….,” kata Hendarwan menyambung penjelasan yang telah dikatakan oleh Riskandar.

“Ya sudah, sudah. Saya sudah mengerti, kalau kalian berdua memang bukan pencuri. Akan tetapi yang menjadi persoalan adalah karena  pada tengah malam saat orang-orang sedang lelap-lelapnya tidur, kalian berdua malah memasuki rumah orang lain tanpa permisi, itu yang patut untuk dipertanyakan dan dicurigai.

Berkaitan dengan hal tersebut maka sebaiknya sekarang, kalian semua harus menemani kami untuk berjaga atau piket di Balai Desa, dan besok pagi sesudah Kantor Desa buka permasalahan ini biar diputuskan oleh Pak Kades Ahmad Hidayat !”

“Wah, Kang Asep mohon saya jangan ditahan seperti itu. Besok pagi saja saya akan datang di Balai Desa,” kata Hendarwan memohon.

“Saya juga, Kang !” Riskandar menyambung.

“Apakah janji kalian itu bisa kami pegang ? Boleh saja, kalau kemauan kalian memang demikian, tetapi sebagai jaminannya tolong sekarang berikan KTP kalian masing-masing kepada kami. Apabila nanti permasalahannya sudah selesai maka KTP itu akan kami kembalikan. Begitu juga dengan Mbak Lastri dan Nenek Ijah saya harap besok pagi juga bisa hadir di Balai Desa.

-o-

Pada keesokan pagi harinya, sebelum pukul delapan Asep Nugraha dan seorang Petugas Keamanan lainnya yaitu Eep Abdulrohman sudah berada di Balai Desa. Tidak lama kemudian ke empat orang yang diminta kehadirannya, seorang demi seorang berdatangan ke tempat yang telah ditentukan untuk menepati janjinya masing-masing.

Bapak Kepala Desa Achmad Hidayat yang tadi subuh sudah mendapat pelaporan dari Petugas Keamanan yang piket yaitu Asep Nugraha tentang permasalahan yang terjadi semalam, juga sudah berada di Balai Desa.

“Assalaamualaikum wa rohmatullahi wa barokatuh, selamat pagi semuanya….” Bapak Kepala Desa membuka acaranya.

“Waalaikumsalam warrahmatulahi wa barokatuh, selamat pagi….” jawan hadirin serempak.

“Langsung saja pada pokok permasalahan, menurut laporan Pak Asep, kalian semua yang sekarang berada dihadapanku ini, terlibat dalam sebuah permasalahan,” kata Pak Kades sambil memperhatikan yang hadir seorang demi seorang.

“Hanya Nenek Ijah seorang yang bisa terlepas atau terbebas dari permasalahan yang semalam terjadi. Saya ingin mendapat jawaban dari kalian semua yang hadir disini, apakah permasalahan ini bisa kita selesaikan sekarang dengan baik-baik disini ataukah akan kita lanjutkan ke tingkat yang lebih tinggi ?” tanya Pak Kades selanjutnya.

“Diselesaikan disini, oleh Pak Kades saja !” jawab ketiga orang itu hampir berbarengan.

“Kalau keinginan kalian memang begitu, saya minta kalian semua juga harus jujur, jangan sampai memberikan keterangan atau penjelasan yang berbelit-belit yang malah akan membikin permasalahan menjadi semakin bertambah rumit.

Kalian semua adalah merupakan Warga Desa Tanggul Angin yang baik yang  harus mau diatur dan di arahkan agar desa sini menjadi aman, tertib dan tenteram. Bagaimana ? Kalian setuju ?”

“Baik Pak saya setuju dan mengikuti apa yang akan arahkan oleh Pak Kades.” jawab mereka bertiga.

“Kang Asep, bagaimana sih yang sebenarnya jalan cerita kejadian semalam itu ?” tanya Pak Kades Akhmad Hidayat.

“Begini Pak Kades, semalam saya bersama Eep Abdulrohman sedang mendapat giliran tugas piket di Balai Desa. Antara kurang lebih jam sebelas malam kami mendengar suara seorang perempuan berteriak ‘tolong…maling…, maling’.

Kemudian kami berdua, saya dan Eep Abdulrohman segera mencari asal usul dari mana datangnya suara tersebut. Dan ternyata suara itu berasal dari belakang Balai Desa. Kemudian kami berdua memotong jalan lewat belakang, hingga sampai di halaman rumah Mbak Lastri dan bertemu dengan kedua orang ini yaitu Mas Hendarwan dan Mas Riskandar,” kata Asep sambil mengarahkan telunjuk jari tangannya kepada Hendarwan dan Riskandar.

“Lalu yang berteriak maling itu siapa Lastri ?” tanya Pak Lurah kepada Ega Lastri

“Saya Pak Lurah !” sahut Nenek Ijah.

“Setelah Nenek Ijah terikan maling, apakah kemudian pencuri atau malingnya langsung melarikan diri ? Begitu ?” kembali tanya Pak Kades Akhmad Hidayat.

“Tidak Pak Lurah. Dia itu Riskandar anak yang kurang ajar,” kata Nenek Ijah sambil menunjuk kepada Riskandar.

“Bagaimana Kandar, dan apa yang kamu curi ? Masak dengan tetangga sebelah rumah dan satu halaman rumah saja, sampai hati benar kamu melakukan pencurian,“ kata Pak Kades sambil memandang kearah Riskandar.

“Saya tidak mencuri Pak Kades. Adapun cerita yang sebenarnya adalah demikian. Pada setiap malam Jum’at malam kira-kira pukul sebelas malam HP milik Ega Lastri selalu berbunyi yang kemudian diikuti dengan padamnya lampu listrik di rumahnya.

Dan tidak antara lama kemudian terlihat ada sosok bayangan orang yang mengendap-endap masuk ke dalam rumah. Saya sendiri tidak mengetahui siapa orang yang masuk ke dalam rumah tersebut, karena keadaannya memang sangat gelap.

Tetapi saya punya keyakinan bahwa kedua orang tersebut sedang melakukan hubungan yang seharusnya tidak boleh dilakukan. Kemudian pada malam Jum’at semalam saya juga ingin ikut-ikutan, karena saya juga menyenangi Ega Lastri.

Tetapi begitu berada di dalam rumah Ega Lastri yang dalam keadaan gelap gulita, tiba-tiba saya melihat ada sosok bayangan seorang perempuan yang bergerak perlahan-lahan keluar dari kamarnya, lalu langsung saja saya dekap dengan rapat dan saya ciumi, eh… dia lalu berteriak, ‘toloonnggg…maling….. maling….’.

Setelah itu tiba-tiba saja semua lampu penerangan dalam rumah  menyala, saya terkejut dan malu sekali Pak Kades. Sebab saya salah sasaran karena yang saya ciumi itu adalah Nenek Ijah, ibunya Ega Lastri,” demikian penjelasan Riskandar secara panjang lebar dengan tidak mengurangi sedikitpun jalan cerita peristiwa yang terjadi.

“Ya sudah, sudah sampai disini saja penjelasan itu karena saya sendiri sebenarnya sudah mengerti tentang semua yang telah terjadi, hanya ingin mengetahui kejujuran kalian.

Mas Hendarwan, mulai saat ini berhentilah tingkah laku untuk berbuat zinah, karena hal itu dalam agama apapun adalah merupakan larangan Tuhan atau Allah yang juga menjadi larangan pemerintah. Kasihan anak dan istrimu,” kata Pak Kades sambil mengarahkan pandangannya kepada Hendarwan.

“Iya Pak Kades…,” jawab Hendarwan perlahan sambil menganggukan kepalanya dan terus menunduk karena rasa malu, dalam hatinya sudah bertekad bulat dan berniat untuk merubah tingkah lakunya yang selama ini salah.

Sekilas dalam pikirannya dia teringat kembali bagaimana awal mula sampai terjadi hal-hal yang memalukan tersebut.

Adapun jalan ceritanya adalah sebagai berikut :

Pada suatu ketika kira-kira kurang lebih pukul setengah tujuh malam Hendarwan menginjak rem mobil yang dikendarainya dan menyisi ke pinggir jalan. Karena kendaraan yang membawa rombongan yang disetirinya itu terjebak kemacetan yang parah karena traffic light atau lampu lalu lintasnya tidak hidup.

Kebetulan mobil itu berhenti tepat disamping keranjang yang berisi durian yang diperdagangkan di atas trotoar. Tempat tersebut terlihat suram karena lampu penerangan sepanjang jalan itu juga mati, yang nampak hanya warna hitam atau gelap yang menutupi langit.

Oleh karena jalanan macet, maka Hendarwan menjadi tahu kalau saat itu ada pedagang durian yang masih menjual dagangannya. Pedagangnya seorang perempuan yang masih muda dan berwajah cantik, berperawakan ramping semampai, dengan wajah yang banyak senyum sehingga membuat hati Hendarwan menjadi bergejolak.

Andaikata saja waktu itu dia tidak ikut rombongan pasti sudah turun  untuk menghampiri pedagang durian tersebut. Hendarwan memang mempunyai sifat mata keranjang atau hidung belang. Jika tahu ada perempuan cantik tidak hanya matanya saja yang jelalatan atau melirik kesana-kemari tetapi hatinya juga tidak bisa tenang.

Sudah tiga hari yang lalu sejak terjebak oleh kemacetan, pedagang durian tersebut menjadi target incaran Hendarwan walaupun saat itu dia juga sedang melakukan perselingkuhan dengan teman sekantornya sendiri yang bernama Maemunah.

Hendarwan memang sangat pintar dalam berakting, sehingga di rumah perilaku hidung belangnya tidak pernah diketahui sama sekali oleh Anggraeni istrinya. Bahkan dia sangat memuji bahwa Hendarwan merupakan seorang suami yang bertanggung jawab dan perhatian terhadap keluarga terutama anak dan istrinya.

Malahan kalau Hendarwan bepergian selain ke kantor, istrinya selalu berpikiran positif kalau suaminya itu pergi untuk mencari tambahan penghasilan. Oleh karena itu jika Hendarwan pulang terlambat bahkan hingga tengah malam, Anggraeni tidak pernah merasa curiga sedikitpun.

Dan Hendarwan sendiri merasa yakin kalau perselingkuhannya itu tidak akan pernah dimengerti sama sekali oleh Anggraeni istrinya. Karena dia berhasil membodohi istrinya dengan kalimat-kalimat yang isinya membuang jejak agar supaya Anggraeni tidak merasa curiga.

Misalnya : “Jadi perempuan atau seorang istri itu jangan gampang sekali percaya dengan omongan orang lain. Sekarang banyak orang yang senang menyebar berita yang isinya hanya memfitnah.

Sebagai contoh banyak terjadi, sebuah keluarga yang tadinya hidup rukun dan harmonis menjadi berantakan sebagai akibat hanya karena percaya atau termakan oleh berita fitnah,” demikianlah kata-kata Hendarwan yang selalu disampaikan kepada Anggraeni.

Selain itu Hendarwan juga sering sekali memberikan uang kepada istrinya. Bukan hanya uang gaji saja yang diberikan, tetapi juga setiap mendapatkan tambahan rejeki, atau bahkan sering pula istrinya dibelikan baju maupun perhiasan. Oleh karena itu Anggraeni selalu menganggap Hendarwan adalah seorang suami yang besar rasa tanggung jawabnya.

Sebagai seorang suami Hendarwan memang sangat lihay tentang persoalan berbohong. Bahasanya yang enak didengar serta masuk akal, dan itulah yang menyebabkan istrinya langsung percaya begitu saja. Maka Hendarwan tidak pernah merasa khawatir kalau WIL atau Wanita Idaman Lainnya yang berada diluar rumah tercium oleh Anggraeni istrinya, karena cara menyembunyikannya yang sangat rapih. Selain Maemunah mungkin juga si penjual durian, perempuan  cantik yang sedang didekati untuk dipikatnya itu.

Tetapi sore itu Hendarwan merasa kecewa karena si pedagang durian tidak terlihat sedang menunggu barang dagangannya. Yang ada hanya keranjang berisi durian yang masih tinggal beberapa lagi dan terletak di trotoar.

“Kemana si pedagang durian ini, ya ? Capai-capai didatangi malah nggak ada di tempat,” demikian katanya dalam hati sambil menengok kesana-kemari untuk mencari-cari si pedagang durian yang cantik itu.

“Nah, kebetulan pedagangnya sedang nggak ada, lebih baik aku ganggu dia dengan cara menyembunyikan barang dagangannya ini,” demikian katanya dalam hati sambil menyeret keranjang durian tersebut ke belakang sebuah pohon mahoni yang tumbuh di pinggir trotoar itu.

Tetapi baru saja Hendarwan hendak menyeret keranjang tersebut, tiba-tiba saja terdengar suara teguran seorang perempuan yang nada bicaranya halus dan menggemaskan.

“Lah, kenapa dagangan saya mau disingkirkan ?” 

Karena perhatiannya hanya terfokus pada barang dagangan yang hendak disembunyikan, maka Hidrawan tidak mengetahui kedatangan sipedagang dan terkejut karena tiba-tiba saja sipedagang tersebut menegur dan  menghalangi apa yang akan dilakukan oleh Hendarwan.

“Bukan disingkirkan, tapi saya pinggirkan agar tidak menganggu atau menghalangi orang-orang yang sedang berjalan di trotoar,” jawab Hendarwan mencari alasan.

“Trotoar sini jarang dilewati orang, ,” jawab si pedagang durian.

“Lah, kalau jarang dilewati orang, kenapa kamu berdagang disini ? Apalagi kamu berdagang sendirian dan tidak ada yang menemani,” kata Herdarwan selanjutnya.

“Ini kan sisi jalan raya, jadi kebanyakan dari orang-orang yang lewat itu mengendarai mobilnya dan jarang yang berjalan kaki, tetapi harus bagaimana lagi karena sepertinya rejeki saya memang disini.” jawabnya.

“Tetapi saya merasa heran, sudah tinggal beberapa biji saja kamu tidak segera berhenti dagangnya. Apakah suami atau keluargamu tidak mengkhawatirkan keadaanmu ?” tanya Hendarwan

“Saya tinggal bersama ibu yang sudah tua, karena saya sudah bercerai dengan suami kurang lebih setahun yang lalu dan kalau masih sore berada di rumah terkadang rasanya nggak enak karena hanya duduk sendirian tidak ada teman untuk berbincang-bincang,” jawab Ega Lastri.

Mendengar jawaban pedagang durian, hati Hendarwan merasa gembira sekali. “Tidak rugi aku berlelah-lelah mencari kembali tempat ini. Sepertinya janda ini yang telihat sangat lugu, pasti mudah untuk diajak selingkuh,” kata Hendarwan dalam hatinya.

Menurut perkiraan Hendarwan pedagang durian ini masih sangat muda paling tinggi umurnya juga tiga puluh tahunan, berwajah cantik dan menggemaskan. Sementara belum mendapat bahan pembicaraan untuk merayu, Hendarwan berpura-pura memegang dan mengamat-amati durian yang hanya tinggal empat buah lagi itu.

“”Ini berapa harganya?” tanyanya kemudian.

“Akan saya kasih murah tapi harus diborong semuanya, Pak.”

“Boleh, tapi berapa harganya ?”

“Dua ratus ribu rupiah saja, Pak,” jawab Ega Lastri.

“Sekarang begini saja, ini semua aku borong dengan harga satu juta rupiah tetapi untuk memakannya kamu juga harus menemani aku. Bagaimana?” Hendarwan mulai mengumpankan rayuan mautnya.

“Ah…yang bener ? Mau dimakan disini atau di tempat lain, Pak  ?”

“Dari pada makan durian dipinggir jalan begini, aku sih maunya mencari tempat yang agak tenang, biar bisa benar-benar menikmati sedapnya rasa durian daganganmu itu.”

“Daripada kesulitan mencari tempat, bagaimana kalau makan duriannya dirumah saya saja. Tapi Bapak mau enggak, kalau sekarang  mengantarkan saya pulang, biar nanti tahu tempatnya ?”

Sebenarnya memang itu adalah kalimat yang sangat diharapkan oleh Hendarwan. Maka dengan tanpa banyak pertimbangan Hendarwan menyanggupinya. Keranjang durian cepat-cepat diangkat dan ditaruh di bagasi, kemudian si pedagang durian yang mengaku bernama Ega Lastri menyusul duduk di jok depan.

Kendaraan kemudian berangkat menuju kearah rumah Ega Lastri. Ternyata tidak jauh.

“Ini rumahmu ?” tanya Hendarwan, dan Ega Lastri hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum

“Ternyata kita tinggal satu Desa hanya berbeda dusun saja.”

Setelah berada di rumah dan sementara itu mereka duduk-duduk di ruang tamu, lalu Ega Lastri masuk ke ruang tengah. Tidak antara lama kemudian sudah berganti pakaian, yang terlihat bertambah cantik, hingga Hendarwan melihat dengan melongo sambil bolak-balik menelan ludah.

“Pak, saya berharap Bapak bersedia kalau pulang sekarang saja dulu. Hal yang pertama adalah bahwa hari sudah menjelang malam mungkin tidak baik penilaian orang lain terhadap diri saya yang berstatus seperti ini.

Hal yang kedua, saya tidak mengira kalau ibu sudah berada di rumah. Jadi soal makan durian sebaiknya ditunda saja, nanti lain kali.

Biasanya kalau hari Kamis dari pagi sampai sore ibu banyak kegiatan, sehingga kalau sudah sampai di rumah langsung tidur dan baru bangun besok paginya. Oleh karena itu lebih baik nanti makan duriannya kalau Hari Kamis saja, bisa siang atau sore hari.” jawab Ega Lastri.

“Baiklah kalau begitu, tapi kita harus tukar nomor HP lebih dulu. Jadi kapan-kapan kalau aku mau datang untuk beli durian dan makan dengan nyaman di tempat maka aku akan kontak kamu lebih dulu,” kata Hendarwan.

Setelah bertukar nomor HP lalu Ega Lastri berkata : “Ya Pak, kalau Bapak sudah kontak, baru kemudian akan saya persiapkan segala sesuatunya.”

Pada mulanya Hendarwan datang ke rumah Ega Lastri untuk makan durian pada siang atau sore hari, tetapi entah bagaimana kejadian selanjutnya tidak ada orang lain yang tahu kecuali Herdarwan sendiri sehingga dia bisa datang ke rumah Ega Lastri pada tengah malam.

 

-o-

 

“Dan kamu Lastri, kecantikan dirimu janganlah kau jual murah atau kau jual secara eceran begitu, kan sayang. Tingkah lakumu yang demikian itu sama halnya dengan merendahkan derajat kaum perempuan, kalau kamu tahu.

Dan jika setuju, nanti kamu akan saya carikan suami,” kata Pak Kepala Desa Akhmad Hidayat sambil melambaikan tangannya kepada Asep Nugraha.

Setelah Asep mendekat, kemudian Pak Kades berbicara kepada Asep Nugraha dengan berbisik-bisik. Setelah itu lalu nampak Asep Nugraha pergi ke arah Kantor Desa dan tak lama kemudian kembali lagi dengan diiringi oleh Kusmayadi seorang Kepala Dusun.

“Ya Pak Kades, ada sesuatu yang harus saya kerjakan ? tanya Kusmayadi dengan sopan.

“Pak Kepala Dusun Kusmayadi, istrimu atau ibunya anak-anakmu dipanggil menghadap kehadirat Allah, Tuhan yang Maha Kuasa kurang lebih sudah ada setahun ini, ya ?” tanya Pak Kepala Desa Akhmad Hidayat.

“Betul, Pak Kades,” jawab Kepala Dusun Kusmayadi singkat.

“Lalu selama ini anak-anak yang merawat siapa ?”

“Saya sendiri, Pak Kades. Ada apa ya Pak ?” tanya Kepala Dusun Kusmayadi ingin tahu.

“Nggak ada apa-apa, tapi begini. Pak Kusmayadi menjabat sebagai Kepala Dusun itu masih muda dibawah umur empat puluh tahun, jadi masih gagah dan ganteng. Saya berharap jangan terlalu lama hidup menyendiri atau menduda, karena kalau tidak kuat imannya salah-salah akan mudah terkena godaan atau bujukan setan.

Oleh karena itu untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan itu bisa terjadi maka saya mencarikan seorang calon istri. Adapun calon istrimu itu sudah kudatangkan kemari dan dia adalah Ega Lastri.”

“Loh Pak……?”

“Tidak usah pakai Loh Pak. Tetapi besok saja kamu datang berkunjung sendiri ke rumah Ega Lastri dan kalian berdua berbicara dengan baik-baik mengenai rencana pernikahan itu dan surat-surat kelengkapan untuk persyaratan penikahan harus segera diurus. Adapun  mengenai pembiayaan yang diperlukan untuk pelaksanaan pernikahan itu aku bersedia membantunya.”

Mendengar hal tersebut baik Kusmayadi maupun Ega Lastri tidak bisa menolak atapun mengelak. Gara-gara Riskandar yang salah sasaran, Pak Lurah Achmad Hidayat terlaksana menata warganya agar bisa hidup bermasyarakat dengan baik, aman dan tenteram.

-o-

 

Untuk saudaraku para pembaca yang saya hormati dan lebih diutamakan untuk kalangan sendiri, gubahan dan reka cerita diatas hanya merupakan sekedar gambaran atau contoh kejadian saja yang mungkin pernah dijumpai atau didengar dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat.

Melalui reka cerita dengan judul “TOLONG…MALING…MALING” yang berasal dari teriakan Nenek Ijah merupakan suatu cerita yang bernada humor, sebagai pesan moral dan bahan perenungan dalam menjalani kehidupan kita masing-masing didalam bermasyarakat.

 

Maling atau Pencuri :

Adalah orang yang mengambil barang milik orang lain secara tidak sah atau tanpa seijin pemilik dengan cara sembunyi-sembunyi, terutama dilakukan pada malam hari dan bisa masuk ke dalam rumah melalui pintu ataupun dengan cara mencongkel jendela.

Dengan terjadinya sebuah pencurian maka secara otomatis telah terjadi kehilangan.

Berbicara tentang kehilangan, semua orang pasti pernah merasakan kehilangan. Namun ada jenis kehilangan yang menjadi pemiliknya merasa dengan adanya kehilangan tersebut, tetapi ada pula jenis kehilangan namun yang menjadi pemiliknya tidak merasa atau mengerti atau bahkan tidak tahu kalau dia itu sedang kehilangan. Dan biasanya yang mengetahui adalah orang lain.

Dari sebuah peribahasa atau ungkapan yang sudah umum atau sudah biasa didengarkan oleh masyarakat adalah yang berbunyi sebagai berikut : “Kehilangan harta benda tidak apa-apa. Kehilangan jiwa hilang sebagian atau separuh. Kehilangan jari diri itu kehilangan keseluruhan.”

Berdasarkan dari ungkapan tersebut diatas, maka dapat dikatakan bahwa ada tiga jenis kehilangan, yaitu :

Yang Pertama :

Kehilangan yang dianggap umum yaitu kehilangan harta benda. Misalnya kehilangan motor, mobil, HP, laptop, ATM, uang, rumah, sawah-ladang, itu semua termasuk kejadian yang umum. Dan setiap orang yang pernah mengalami kehilangan, dalam hatinya pasti akan ada rasa kecewa dengan hilangnya barang yang dimiliki tersebut.

Sebagai contoh :

*) Kehilangan uang seratus ribu hingga satu juta rupiah akan menimbulkan rasa kecewa yang tidak mudah hilang, bagi yang kehilangan.

*) Kehilangan HP orang akan kebingungan dan merasa dirinya sial, karena tidak bisa lagi ngobrol kesana kemari melalui WA. Anak dan istri di rumah seperti disiksa karena diperintah untuk mencari HP yang tadi lupa, entah diletakkan dimana.

*) Kehilangan kacamata, dan orang yang kehilangan kacamata akan sangat merasa perlunya benda tersebut. Dan dia akan merasa kebingungan setelah dicari kesana kemari tidak juga ketemu, tetapi ternyata masih dipakai.

*) Dan lain-lain.

Rasa bingung, kecewa seperti tersebut diatas memang tidak bisa dipersalahkan karena orang yang hidup bermasyarakat itu memang memerlukan segala macam harta-benda atau alat-alat tersebut sebagai kelengkapan untuk menunjang kehidupannya.

Akan tetapi ada hal yang perlu di ingat bahwa :

Tuhan atau Allah memberikan sesuatu kepada kita dengan caranya dan mengambil kembali dari kita dengan caranya pula.

Jalan Tuhan tidak pernah terselami oleh setiap hati kita, namun ada Satu Hal yang harus di Percaya yaitu ada rencana yang Indah di dalam Hidup Kita.

 

Yang Kedua :

Jenis Kehilangan yang lebih membakas dalam hati adalah kehilangan jiwa atau kehilangan anggota keluarga karena meninggal dunia.

Kehilangan anggota keluarga bisa diartikan ditinggal mati oleh : Ayah, ibu, anak, istri, suami, kerabat atau bahkan oleh teman maupun tetangga sekalipun bisa menimbulkan rasa sedih di hati.

Sebagai contoh :

Seorang Suami yang ditinggal mati oleh Istri nya. Istri yang dalam bahasa Jawa disebut dengan Garwa.

Kata “garwa” itu adalah singkatan dari kalimat “sigarane nyawa” atau pengertian dalam bahasa Indonesia adalah  “belahan jiwa.”

Maka ketika seorang suami ditinggal mati oleh istrinya, hidupnya seperti melayang dan nggak punya kepastian. Badan rasanya seperti kehilangan tenaga, seperti dibelah dan terpisahkan lalu hilang. Hal tersebut karena hilangnya sebagian dari jiwa dan terasa hanya tinggal sebagian atau tinggal separuh.

Karena kalau semula ada yang diajak mengobrol, diskusi dalam menganyam kebutuhan kehidupan untuk membahas segala macam persoalan, dan setelah hidup sendirian tanpa teman maka akan terasa sangat berat karena semua harus diputuskan sendiri dan dijalani sendiri tanpa ada yang membantu atau yang menyemangati.

Akan tetapi semua itu harus disadari bahwa hal itu pasti akan terjadi, karena semua yang hidup tidak akan terbebas dari kematian. Dan semua yang berasal dari Allah maka akan kembali kepadaNya.

Yang ketiga atau yang terakhir :

Jenis kehilangan yang berbeda dengan kehilangan lainnya yaitu sebuah kehilangan tetapi yang bersangkutan tidak merasakan kehilangan dengan perkataan lain bahwa yang bersangkutan tidak merasa atau bahkan tidak tahu kalau miliknya sudah hilang.

Jenis kehilangan yang tidak terasa itu wujudnya adalah orang yang kehilangan jati dirinya.

Sebagai sebuah contoh orang yang kehilangan tetapi tidak merasa kehilangan :

Sebuah Bangsa atau suku bangsa yang merasa malu dengan ciri khasnya sendiri lantas merasa heran, takjub dan mengagungkan serta mengikuti budaya bangsa lain akan tetapi meninggalkan warisan budaya leluhurnya sendiri.

Dan apa pun yang datangnya dari luar selalu dianggap lebih baik dan apa pun yang menggunakan label bahasa lain dianggap lebih afdol dan lebih hebat.

Tetapi sebaliknya, akan merasa malu kalau harus menggunakan identitas lokal. Oleh karena itu jika kehilangan Jati Diri itu sama halnya dengan kehilangan kesemuanya.

Sebagai contoh saja :

Sangat disayangkan kalau jati diri yang berwujud Bahasa Daerah dan Tata Krama oleh sebagian orang sudah mulai terkesampingkan. Bahasa Daerah dianggap bahasa yang sulit untuk dipelajari dan dipergunakan untuk komunikasi sehari-hari karena dianggap tidak praktis dan harus memikirkan tata krama.

Padahal tata krama itu adalah bagian kecil dari Bahasa Daerah yang dipergunakan untuk menunjukkan kesopanan dan penghormatan kepada orang lain.

Sebenarnya dalam bahasa lain, Bahasa Inggris misalnya, juga ada ungkapan untuk menunjukkan kesopanan dan penghormatan kepada orang lain tetapi bentuk atau wujudnya bukanlah tata krama.

Jadi dengan demikian seharusnya tata krama itu tidak perlu dianggap sebagai sesuatu yang berat. Asalkan dibiasakan pasti bisa dipergunakan dengan baik.

Jati diri kedaerahan adalah merupakan warisan yang tidak bisa diukur dengan hitungan harta. Jika sampai jati diri itu hilang maka hilanglah seluruhnya. Hilangnya jati diri itu menandakan bahwa orang yang seharusnya memiliki itu sudah musnah dari hamparan bumi maupun kolong langit.

Meskipun wujud atau fisiknya masih ada tetapi jiwanya sudah sirna. Sangat disayangkan jika ada orang yang kehilangan tetapi tidak terasa dan tidak merasa, apalagi menyesal.

Maka tidak ada salahnya apabila mulai sekarang masing-masing dari kita mawas diri sebelum menyesal dan kecewa untuk selamanya.

 

-o-

 

Sebuah anekdot :

 

“SERAHKAN SAJA PADA YANG DIATAS”

Pada suatu hari Mukidin disuruh emaknya memanjat pohon mangga di kebun. Sedang asik-asiknya Mukidin mengambil mangga, tiba-tiba di bawah dia melihat sepasang remaja sedang “making love.” Berdirilah bulu roma Mukidin….

Pada suatu hari Mukidin disuruh emaknya memanjat dan memetik buah mangga yang berada di kebun. Ketika sedang asik-asiknya Mukidin mengambil mangga, tiba-tiba di bawah dia melihat sepasang remaja sedang “making love.” Berdirilah bulu roma Mukidin….

Entah dengan alasan apa dia masih tetap bertahan di atas pohon sambil menahan lututnya yang mulai gemetar.

Selang 10 menit kemudian didengarnya suara isak tangis remaja perempuan itu, sambil tersendat-sendat dia bicara : “Mas bagaimana kalau saya hamil nanti…? Mas harus mau bertanggung jawab ya…?”

“Sudahlah dik…, kita serahkan saja semua ini pada yang diatas…” jawab si lelaki.

Mendengar apa yang dikatakan oleh lelaki itu kemudian Mukidin terperanjat lalu dia berteriak : “Oooiii…., enak aja menyerahkan semuanya padaku…., itu tanggung jawab Eloe…!”

-o0o-

BANDUNG–INDONESIA, APRIL – 2019

Cerita : Djaid Belor

(Gubahan Ki Ageng Bayu Sepi)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *