IBU GURU DYAH AYU KUSUMASTUTI

HIDUP TIDAK SELALU SEMPURNA, YANG TERJADI TIDAK SELALU YANG DI SUKA. AKAN TETAPI BISA SELALU BAHAGIA, DENGAN CARA MENSYUKURI YANG ADA.

TIDAK PERLU SEDIH JIKA PUNYA TEMAN HANYA SEDIKIT, TETAPI BERSEDIHLAH KETIKA MEMPUNYAI BANYAK TEMAN NAMUN TIDAK SATU PUN YANG MENGINGATKAN KEPADA TUHAN. HIDUP INI ADALAH ANUGERAH, SYUKURI APA ADANYA BERBUATLAH KEBAIKAN SELAMA MASIH BERNAPAS.

BILA TIDAK DAPAT MELAKUKAN HAL YANG BESAR, LAKUKAN LAH HAL-HAL KECIL DENGAN CINTA YANG BESAR.

JADIKANLAH HIDUP INI AGAR BERMANFAAT UNTUK ORANG LAIN, WALAUPUN HANYA SEKEDAR MEMBERIKAN SEMANGAT KEPADA SESEORANG.

 

OLEH KARENA ITU, PERHATIKAN PIKIRAN, KARENA PEMIKIRAN AKAN BERKEMBANG MENJADI KATA-KATA.

PERHATIKAN KATA-KATA, KARENA KATA-KATA ITU AKAN BERKEMBANG MENJADI PERILAKU.

PERHATIKAN PERILAKU, KARENA PERILAKU ITU AKAN BERKEMBANG MENJADI KEBIASAAN.

PERHATIKAN KEBIASAAN ITU, KARENA KEBIASAAN AKAN BERKEMBANG MENJADI KARAKTER.

PERHATIKAN KARAKTER ITU, KARENA KARAKTER DAPAT MENENTUKAN NASIB.

eorang Guru Tidak Tetap atau yang disingkat dengan GTT yang baru enam bulan lamanya bertugas mengajar di sekolah itu bernama Ibu Dyah Ayu Kusumastuti kelahiran Kuta, Den Pasar, Bali. Memang seimbang dan selaras dengan nama yang disandangnya, Ibu Dyah Ayu Kusumastuti berkulit putih bersih serta memiliki suara halus lembut dan merdu yang enak didengar, bentuk wajah oval serta paras yang sangat ayu atau cantik dan manis sekali, menyengsamkan, menyenangkan, memikat dan menawan bagi siapapun juga yang memandangnya. Baik itu sesama perempuan apalagi bagi kaum lelaki, baik tua maupun muda bahkan anak-anak sekalipun. Apalagi orangnya familier dan murah senyum.

Di sekolah itu Ibu Dyah mengajar mata pelajaran Matematika. Matematika adalah sebuah mata pelajaran yang pada umumnya kurang disukai oleh sebagian besar murid sekolah, karena dianggap sebagai mata pelajaran yang sulit.

Tetapi mata pelajaran tersebut dalam penanganan Ibu Guru Dyah Ayu Kusumastuti malahan menjadi sebaliknya, yaitu para murid-muridnya menjadi menyukai mata pelajaran matematika, hal itu dikarenakan mungkin mereka tertarik dan senang dengan cara mengajarnya.

Murid perempuan merasa senang dengan cara mengajar Ibu Guru Dyah Kusumastuti karena selain sabar juga telaten dalam membimbing sedangkan para murid laki-laki disamping senang dengan kesabaran dan ketelatenan Ibu Guru Dyah Ayu Kusumastuti, juga karena senyuman manisnya yang menawan…………

-o-

“Anakku, Ade Rohman yang cakep, kamu kan belum sehat benar sayang. Karena badanmu masih terasa panas, kok malah memaksakan diri untuk sekolah apa nggak sebaiknya harus beristirahat dulu biar benar-benar sembuh baru nanti masuk sekolah……” kata Bu Engkar kepada anaknya.

“Enggak bu, saya mau masuk sekolah saja,” jawabnya.

“Menurut ibu kalau bisa jangan sekolah dulu sayang, besok saja kalau sudah benar-benar sembuh,” kata ibu Engkar yang maksudnya mencegah agar Ade Rohman jangan dulu pergi ke sekolah karena belum sembuh benar dari sakit typus yang di deritanya.

“Bu masalahnya sekarang itu ada pelajaran matematika, kalau Ade tidak mengikuti pasti nanti akan ketinggalan,” jawab Ade Rohman memaksa.

Ibu Engkar, ibunya Ade Rohman hanya mengangguk-anggukan kepala, dan di dalam hatinya berkata : “Ternyata setelah meminta petunjuk dan nasihat serta persyaratan yang harus dilakukan dari Ibu Erna Kurniasih di Perumahanan Rancaekek Kencana, Alhamdulillah, anakku sekarang menjadi rajin sekolahnya.”

Demikian kata hati Bu Engkar yang tidak mempunyai pemikiran lain-lain mengapa Ade Rohman anaknya yang biasanya sangat malas dan sering bolos sekolah, sekarang berubah 180 derajat menjadi anak yang rajin sekolah.

Pukul tujuh pagi, tepat ketika mata pelajaran akan dimulai, semua anak-anak baik laki-laki ataupun perempuan berdiri mengantri untuk bersalaman dengan Ibu Guru yang cantik, Dyah Ayu Kusumastuti.

“Lohh Ade Rohman…., tadi kamu kan sudah bersalaman ?” tanya Ibu Dyah.

“Belum, Bu Ayu,” jawab Ade Rohman sambil meraih tangan gurunya untuk bersalaman dan menciumnya.

“Sebentar Ade. nanti dulu. Dari tanganmu yang terasa panas sepertinya badanmu kurang sehat, ya ?” tanya Ibu Dyah lagi.

“Iya, Bu,” jawab Ade Rohman singkat,

“Kamu sedang sakit apa ?” tanya Ibu Dyah.

“Gejala Typus, Bu,” jawabnya lagi.

“Kok kamu tidak ijin saja. Kalau sakit typus kan tidak boleh banyak bergerak dan betul-betul harus beristirahat,” kata Bu Dyah

“Ya Bu, nanti saja pada jam pelajaran yang ke-tiga saya akan ijin.”

“Mengapa kamu harus menunggu sampai jam pelajaran yang ke-tiga ? Kalau memang sakit, ijin tidak masuk sekolah pun nggak masalah, Ade.”

“Tidak apa-apa, Bu.”

Mendengar jawaban yang diberikan oleh Ade Rohman, Ibu Guru Dyah Ayu Kusumastuti merasakan ada sesuatu hal yang aneh.  Dalam hatinya pun bertanya : “Mengapa mau ijin tidak masuk sekolah karena sakit saja harus menunggu sampai jam pelajaran ke-tiga, ini ada masalah apa ya  ?

Setelah mengabsen nama-nama para muridnya, kemudian Ibu Guru Dyah Ayu Kusumastuti menanda tangani jurnal jadwal mengajar. Ketika membuka jadwal tersebut, tanpa sengaja melihat bahwa pada jam pelajaran ke tiga adalah mata pelajaran kesenian, yang diajarkan oleh Pak Guru Priyangga.

Tiba-tiba saja jantungnya berdebar dengan keras, ada getaran yang jauh di dalam lubuk hatinya. Kemudian kembali terbayang kejadian pada sebulan yang telah lalu ketika berada di Pantai Pangandaran.

“Pak Priyangga, mengapa sampai saat ini Bapak belum mempunyai niat untuk membina rumah tangga. Sedangkan kalau memperhatikan usia, Pak Priyangga sendiri sekarang ini bukan lagi anak yang masih remaja ?”

“Bu Kusumastuti, bila melihat umur aku memang sudah matang dan pantas kalau harus membina sebuah rumah tangga. Akan tetapi bagaimana ya……?” kata lelaki itu sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal namun tidak melanjutkan perkataannya,

“Bagaimana, yang bagaimana maksudnya Pak Priyangga ?”

“Bu Kusumastuti, adikku banyak semuanya ada delapan orang. Aku sudah ditakdirkan lahir sebagai anak sulung. Ayahku seorang pensiunan pegawai negeri sebagai pesuruh golongan II-A. Nanti kalau saya tinggalkan berumah tangga, lalu siapa yang akan meneruskan membantu membiayai sekolah mereka. Dengan mengandalkan GTT yang penghasilannya tidak seberapa, itu juga tidak mungkin.”

“Lha, honor menulis Artikel Cerita Pendek dalam Bahasa Daerah kan lumayan, Pak Priyangga ?”

“He..he…he…”

“Lho, kok malah tertawa. Mengapa  ?”

“Apa lagi mengandalkan Honor dari menulis, Bu. Sekarang media cetak itu kalah apabila dibandingkan dengan media online. Kelihatannya masyarakat, utamanya gerenasi muda, daripada  membaca surat kabar atau majalah, mereka lebih senang mencari informasi dari media social seperti Face Book, WA, Twitter, Instagram dan lain-lainnya lagi. Walaupun pemerintah melalui pendidikan menggencarkan literasi atau budaya membaca dan menulis, akan tetapi semua itu seakan-akan seperti sebuah teori. Namun pada kenyataan praktek pelaksanaannya belum maksimal.

Sedangkan mengirimkan naskah ke Media Cetak juga belum tentu langsung dimuat. Akan tetapi kalau posting di dunia maya, dalam hitungan detik sudah langsung termuat kemudian beredar dan menyebar. Meskipun tidak dibayar, namun ada rasa bangga dalam hati.”

“Andaikata sekarang Bapak berpindah saja, menulis dari media Bahasa Daerah ke dalam Bahasa Indonesia saja bagaimana, Pak Priyangga ?” 

“Aku pikir nasib media cetak, apakah itu dalam Bahasa Daerah atau Bahasa Indonesia, tidak jauh berbeda. Hal tersebut karena memang pembacanya sudah semakin berkurang. Iklan untuk membiayai kelangsungan hidup media cetak, karena yang membaca sudah semakin langka, akhirnya mereka yang memasang iklan juga banyak yang pergi.

Mereka pindah kepada iklan sosial media yang dapat membuat dagangan bisa meroket. Apalagi kalau hal yang di iklankan itu sifatnya unik maka akan bisa terkenal kemana-mana. Dan lagi biayanya murah. Sehingga banyak pengusaha yang senang dengan menggunakan jasa ini.”

“Apakah memang demikian kejadiannya, Pak Priyangga ?”

“Dan memang demikianlah kejadiannya. Perkembangan jaman memang susah untuk ditentang, Bu Kusumastuti. Akan tetapi aku masih berusaha untuk tetap memegang teguh tatanan yang sudah ditentukan.”

“Tatanan tentang apa itu ?”

“Isi dari saripati Serat Kalatidha.”

“Bagaimana isi saripatinya itu, Pak Priyangga ?”

“Dalam menghadapi jaman yang sudah seperti ini, kita harus tetap ingat dan selalu waspada , Bu Kusumastuti.”

Di pesisir Pantai Pengandaran, awan hitam sudah mulai terlihat menggantung berat. Dan tidak lama kemudian turun rintik-rintik air hujan atau gerimis. Selang beberapa saat dan …”bresss..” hujan deras turun seperti ditumpahkan dari langit. Untungnya di dekat situ terdapat sebuah warung yang kosong. Pak Priyangga segera menarik tangan Bu Kusumastuti untuk berteduh.

“Braaakkk…… ! ! !”

Tiba-tiba saja sebatang dahan pohon tumbang, patah oleh hembusan angin kencang yang membuat Bu Kusumastuti terkejut. Dengan secara reflek perempuan yang cantik manis tersebut merangkul laki-laki yang berada disampingnya. Begitu sadar Bu Guru yang cantik manis ini menjadi malu, dan mukanya jadi memerah.

“Mohon maaf, Pak Priyangga.”

“Oh, tidak mengapa, Bu Kusumastuti.”

Perlahan-lahan angin berhembus membawa mega hitam itu berarak menjauh.

-o-

Tiba-tiba bel ganti jam pelajaran berbunyi dan suara keras Wicaksana sebagai Ketua Kelas itu berkata : “Bel ganti pelajaran telah berbunyi, Bu Ayu.” Sehingga membuyarkan lamunan Bu Guru Dyah Ayu Kusumastuti

“Sudah ganti jam pelajaran, ya ?” tanya Bu Dyah Ayu Kusmastuti

“Iya bu, sekarang mata pelajaran kesenian,” jawab para siswa serempak.

Kemudian para-murid berdiri berdesakan mengantri dan berebut posisi paling depan untuk bisa cepat bersalaman dan mencium tangan Bu Guru Dyah Ayu Kusumastuti.

Lukarsani sampai hampir saja jatuh terpelanting karena khawatir tidak dapat kesempatan lebih dulu. Sahroni keningnya kebentur meja karena terjatuh oleh karena desakan teman-teman yang berebut. Ketika Bu Dyah akan meninggalkan ruang kelas mengajarnya, tiba-tiba Ade Rohman datang mengejar.

“Ada apa, Ade ?” tanya Bu Guru

“Bu Ayu, saya mau minta tolong. Nanti mintakan ijin ke Pak Priyangga, bahwa pada jam pelajaran ke tiga saya pulang karena sakit, ya Bu ?” jawab Ade Rohman.

“Apakah badanmu masih terasa meriang ?” lagi tanya Bu Guru

“Betul Bu. Coba saja Bu Ayu raba pada kening saya.”

“Lho, kok sudah tidak terasa panas lagi, Ade,” kata Bu Guru.

“Betul Bu. Kalau Ibu yang mengajar, panas badan saya jadi menurun. Benar itu Bu.”

Ibu Dyah hanya tersenyum, yang semakin menambah terlihat cantik.

Ketika berjalan keluar dari kelas dan belum sampai ke Kantor Guru, Ibu Dyah Ayu Kusumastuti berpapasan dengan Pak Priyangga yang hendak mengajar dengan mata pelajaran kesenian di kelas yang sama untuk menggantikan Ibu Dyah Ayu Kusumastuti.

Dan setiap kali bertemu dengan lelaki yang menjadi teman mengajar di sekolah itu, di dalam diri Ibu Guru Dyah Ayu Kusumastuti seperti ada getaran-getaran yang menghiasi kalbunya. Namun sepertinya Ibu Guru yang cantik manis itu ingin sekali membuang jauh-jauh rasa tersebut, akan tetapi rasa hati itu tidak bisa dibohongi dan rasa itu jadi semakin menebal.

Sementara orang lain maupun para murid memanggil dirinya dengan panggilan Ibu Ayu, namun hanya Pak Priyangga yang tetap tegar memanggilnya dengan nama Bu Kusumastuti.

“Selamat siang, Pak Priyangga.”

“Selamat siang Bu Kusumastuti. Oh…. iya tadi saya diminta untuk menyampaikan pesan oleh Bang Tagor, Bapak Kepala Sekolah.”

“Pesan apa itu, Pak Priyangga ?”

“Disuruh menyampaikan pesan untuk Ibu Kusumastuti, bahwa nanti pada waktu jam istirahat Ibu Kusumastuti agar menghadap Bang Tagor di Kantor Kepala Sekolah.”

“Terima kasih, Pak Priyangga untuk informasinya.”

Ketika waktu istirahat tiba, Ibu Guru Dyah Ayu Kusumastuti segera pergi menghadap Bang Tagor di Kantor Kepala Sekolah.

“Selamat siang Bang Tagor…..”

“Selamat siang, oh….. silakan…. silakan….masuk dan silakah duduk Ibu Ayu,” sambut Bang Tagor sang Kepala Sekolah yang kelahiran Pematang Siantar dan lebih suka dipanggil Bang Tagor daripada dipanggil Bapak Tagor, tersebut dengan senyum ramah sekali..

“Terima kasih Pak, kiranya ada tugas apa yang harus saya kerjakan…?” tanya Ibu Dyah Ayu Kusumastuti sambil mengambil tempat duduk.

“Ini begini, Ibu Ayu…..”

“Iya, begini bagaimana maksudnya Pak….?”

“Saat ini saya tidak membahas tentang masalah dinas, Bu Ayu.”

“Lantas, membahas tentang permasalahan apa, ya Pak ?”

Sambil dada berdegub kencang Ibu Dyah Ayu Kusumastuti menunggu permasalahan apa yang hendak disampaikan Pak Poltak kepadanya. Namun pikiran dalam kepalanya terus berputar untuk menyiapkan berbagai macam alasan sebagai jawaban, kalau-kalau permasalahan yang  disampaikan itu perlu untuk dijawab.

Hal tersebut dilakukan karena sudah cukup lama Bu Guru ini merasa curiga terhadap Kepala Sekolah yang tidak pernah mau bersalaman atau berjabat tangan dengan perempuan, akan tetapi kalau dengan dirinya malah dengan sengaja menyodorkan tangan mengajak bersalaman.

Lebih-lebih lagi kalau tidak terlihat oleh para teman guru seperti saat ini, cara bersalamannya pun berbeda, disamping menjabat dengan sangat erat dan lama, bahkan sampai mencium tangan segala. Hal tersebut tidak akan dilepaskan kalau tidak ditarik dengan keras.

Tetapi setelah beberapa saat ditunggu, Bang Tagor juga nggak mengatakan apa-apa, maka Ibu Dyah Ayu Kusmastuti pun bertanya lagi :

“Ya Bang, apa yang akan Bang Tagor sampaikan kepada saya…?”

“Oh iya…Bu Ayu…. singkatnya begini. Sebenarnya ingin sekali aku ini menyerahkan urusan sekolah ini kepada Bu Ayu yang juga sebagai Kepala Sekolah ini nantinya. Akan tetapi….…?” kata Bang Tagor dengan dialek khasnya yang kemudian diam dan tidak melanjutkan kata-katanya lagi.

“Akan tetapi bagaimana, ya Bang ?” tanya Ibu Dyah Ayu Kusumastuti ingin tahu.

“Apakah Ibu Ayu mau, kalau Ibu Ayu aku nikah siri ?”

“Aduhh… mohon maaf ya Bang,” jawab Ibu Dyah Ayu Kusumastuti secara spontan.

“Aduhh… bagaimana, Ibu Ayu ?” tanya Bang Tagor penasaran.

“Sebenarnya semua bisa diatur, tetapi apakah nanti Bang Tagor tidak akan merasa kecewa ?”

“Merasa kecewa…? Ah mana mungkin aku akan merasa kecewa, ya tidak akan kecewalah aku, Ibu Ayu..….”

“Begini Bang, karena……..” kata Ibu Dyah Ayu Kusumastuti singkat, lalu berhenti.

“Karena apa, Ibu Ayu ?” tanya Bang Tagor yang semakin penasaran.

“Karena sebenarnya saya ditakdirkan terlahir menjadi orang yang  disebut sebagai laki-laki bukan dan disebut perempuan juga bukan.”

“Allaaammaaa…… Waria…. Buusseeeetttt?” teriak Bang Tagor secara spontan karena terkejut seraya berdiri untuk pergi menghindar.

-o0o-

Untuk saudaraku para pembaca yang saya hormati dan lebih diutamakan untuk kalangan sendiri, gubahan dan reka cerita diatas hanya merupakan sekedar gambaran atau contoh kejadian saja yang mungkin pernah dijumpai atau didengar dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat.

Melalui reka cerita dengan judul IBU GURU DYAH AYU KUSUMASTUTI merupakan suatu peristiwa yang didalamnya memuat sebuah hikmah tentang bagaimana Ibu Guru Dyah Ayu Kusumastuti tersebut BERBOHONG mengenai statusnya untuk menghindarkan diri dari kemauan Bang Tagor selaku atasannya sebagai pesan moral dan bahan perenungan dalam menjalani kehidupan kita masing-masing didalam bermasyarakat

 

BOHONG

Bohong atau dusta adalah sebuah pernyataan yang tidak benar dan arti berbohong itu sendiri adalah mengatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan kenyataan yang ada atau tidak sesuai dengan fakta yang sebenarnya yang dilakukan oleh seseorang dengan tujuan agar lawan bicaranya percaya.

Dapat dikatakan bahwa kebanyakan orang pernah berbohong dan bahkan ada sebagian orang yang sering berbohong baik itu dilakukan secara sengaja ataupun tidak disengaja. Dan pada umumnya orang menganggap bahwa berbohong itu adalah sebagai sebuah hal yang buruk atau tindakan yang tidak bagus.

 

LATAR BELAKANG MENGAPA ORANG BERBOHONG

Latar belakang yang membuat manusia berbohong dalam konteks hubungan sosialnya bisa memiliki tujuan antara lain untuk :

  1. Berbuat Kebaikan

Jika disimak dari jalan cerita diatas bahwa Ibu Guru Dyah Ayu Kusumastuti berbohong sebagai alasan untuk menolak dengan halus serta menyelamatkan diri dari kemauan Bang Tagor yang ingin menjadikan dirinya sebagai istri kedua dengan nikah siri. Karena tidak menemukan ada alasan lain yang masuk akal untuk menolaknya.

Melihat hal tersebut maka tidak selamanya berbohong itu dapat dikatakan salah. Berkaitan dengan hal berbohong, ada penjelasan dalam salah satu agama yang mengatakan bahwa ada 3 kebohongan yang diperbolehkan dan tidak berdosa jika melakukannya.

 

Pertama, berbohong kepada musuh, yakni ketika dalam kondisi peperangan. Sebab tidak akan mungkin memberitahukan strategi berperang kepada musuh karena hal tersebut bisa berdampak yang sangat merugikan pada saat peperangan berlangsung lantaran strategi telah diketahui.

Kedua, berbohong kepada istri, yang maksudnya memberikan pujian untuk memberikan kebahagiaan kepada sang istri. Sebagai contoh, misalnya mengenai masakan istri yang enak atau pakaian istri yang bagus walaupun sebenarnya tidaklah demikian, yang nanti secara perlahan diberikan saran agar lambat-laun bisa berubah.

Dan berbohong dalam hal ini diperbolehkan karena untuk menjaga keharmohisan dalam hubungan suami istri.

Ketiga, berbohong untuk mendamaikan kedua kolompok yang tengah berselisih, maksudnya berbohong demi kebaikan kedua belah pihak agar berdamai, misalnya ada pihak ketiga yang hendak mendamaikan dua kelompok dengan mengatakan kepada keduanya bahwa masing-masing ingin berdamai, meskipun kata-kata damai itu tidak pernah keluar dari mulut kedua kelompok, kebohongan pun dilakukan agar keduanya bisa berdamai.

  1. Berbuat Keburukan

Kebohongan yang tidak diperbolehkan antara lain untuk :

* Melakukan penipuan,

* Memecah belah Persatuan, Persahabatan, Kerukunan dan lain-lain.

 

  1. Terkadang berbohong juga dipergunakan sebagai sarana untuk dapat menyelamatkan muka, agar seseorang yang berbohong tidak berada pada posisi yang merugikan atau memalukan dirinya sendiri.

-o-

Namun walaupun demikian sifat bohong atau dusta merupakan sifat yang dilarang dalam ajaran setiap agama. Karena berbohong itu merupakan sifat yang dimiliki oleh orang yang munafik dan sifat ini harus dihindari oleh setiap manusia yang beriman. Dan kejujuran sangat dianjurkan karena kejujuran mengarahkan kepada kebaikan.

 

 

PERBEDAAN

Dalam Bahasa Indonesia ada beberapa kata atau istilah yang berbeda namun memilki arti yang mirip dengan bohong, yaitu misalnya dusta, gombal, bual dan tipu.

Meskipun semua kata-kata tersebut mengandung pengertian adanya sesuatu yang tidak sesuai dengan kenyataan yang terjadi atau yang diharapkan, namun jelas ada perbedaan, dan orang sering untuk mengemukakan hal yang sama dengan menggunakan kata-kata tersebut secara bergantian.

 

Bohong

Kata “Bohong” yang kata kerjanya adalah Berbohong, cenderung digunakan untuk kasus-kasus yang berpengertian biasa.

 

Sebagai contoh misalnya :

Mukidin berjanji kepada Mimin Mintarsih gadis pujaannya bahwa ia berjanji akan menjemputnya dengan mengendarai Motor Mio dan membawakan setangkai Mawar Merah. Namun pada kenyataannya dia hanya datang dengan mengendarai motor yang lain dan tidak membawa bunga seperti yang pernah dijanjikannya.

Disini apa yang dilakukan oleh Mukidin bisa dikatakan sebagai “bohong” bisa juga disebuti “Bual” atau “Gombal” tetapi tidak dikatakan sebagai “tipu”.

 

Tipu

Kata “tipu” yang kata kerjanya Menipu juga cenderung menyatakan kasus dimana ada seseorang yang mengingkari kesepakatan atau perjanjian,

 

Karena dalam kehidupan kesehari-hari, kata tipu, biasa digunakan oleh seseorang untuk mengatakan sesuatu yang tidak benar guna memperoleh keuntungan secara pribadi dengan perkataan lain bahwa kata Tipu digunakan pada kasus-kasus yang cenderung menimbulkan kerugian pihak lain yang dibohongi atau ditipu.

Jadi nuansanya cenderung lebih suram atau berbau kriminalitas apabila dibandingkan dengan kata “bohong”.

 

Sebagai contoh misalnya :

Mukidin Mengatakan Mau Membeli dan Mambayar secara tunai Motor Mio Merah Milik Mimin Mirantasih dengan harga Rp. 7.000,- (tujuh juta rupiah) dalam waktu kurang lebih 3 jam. Namun setelah 3 jam berlalu Mukidin tidak Muncul dan Malah Melarikan Motor Mio Merah Milik Mimin Mintarsih  tersebut.

Pada kasus ini kata “tipu” lebih tepat dipergunakan daripada kata-kata yang lainnya.

 

Dusta

Kata “dusta” yang kata kerjanya adalah berdusta, memiliki arti sedikit lebih rumit. Kata ini sepertinya digunakan untuk bohong yang sangat berat jika ditimbang secara moral.

 

Kata “dusta” cenderung digunakan pada saat bohong dilakukan, sekaligus adanya pengingkaran kebenaran agama yang dianggap mutlak. Seseorang yang dikatakan berdusta seolah-olah telah melakukan tingkat penyimpangan lebih besar dari sekedar bohong biasa.

 

Bual

Kata “bual” yang adalah merupakan bohong juga, adalah versi lain dari kata “bohong” untuk peristiwa yang dianggap sama sekali kurang penting atau tidak dianggap penting dan tidak pula dianggap serius.

 

Sebagai contoh. misalnya :

Mukidin mengaku-ngaku pernah ngebut di dalam kota dengan Motor Mio Merah Milik Mimin Mintarsih dengan kecepatan diatas 100 Km/jam, padahal naik motor saja dia tidak bisa.

Perkataan seperti ini mungkin jarang dikatakan sebagai bohong dan lebih mungkin jika dikatakan sebagai “bual”. Sebab kebohongan itu tidak mempengaruhi apa-apa dan malahan terdengar bodoh.

 

Gombal

Kata “gombal” yang kata kerjanya adalah menggombal, memiliki makna yang agak menyimpang bila dibandingkan dengan kata-kata yang lain. Kata ini cenderung digunakan untuk mengatakan sesuatu melebihi dari porsi sewajarnya dan juga adanya pengingkaran janji.

Sebagai contoh misalnya :

Mukidin berjanji kepada Mimin Mintarsih gadis pujaannya bahwa ia akan apel setiap Malam Minggu dan selalu Membawakan setangkai Mawar Merah serta keliling kota  dengan mengendarai Motor Mio.

Namun pada kenyataannya tidaklah demikian, Mukidin selalu malas untuk apel serta mengajak keliling kota apalagi membawa Bunga Mawar Merah. Dalam kasus ini Mukidin dikatakan gombal.

 

Penggunaan kata-kata tersebut di atas, baik itu bohong, dusta, tipu, gombal maupun bual, sebenarnya terserah pada selera si pemakai. Namun demikian sepertinya tampak ada kesepakatan khusus yaitu dimana kata tertentu lebih cocok untuk diterapkan,

Kalau betul-betul diperhatikan pengertian dari masing-masing kata tersebut sepertinya juga berlainan. Dan jika diurutkan dari kata yang berkonotasi kurang negative sampai yang paling negative secara berturut-turut adalah mulai dari : bual, bohong, dusta, tipu, sementara gombal bisa diletakkan sebelum atau sesudah bual.

-o-

JENIS BERBOHONG

Secara psikologi berbohong terbagi menjadi dua jenis yaitu :

  1. Kebohongan Sempurna : Merupakan suatu kebohongan yang sudah direncanakan sebelumnya atau disebut penipuan dengan kemampuan bisa meyakinkan seseorang.
  2. Kebohongan tidak sempurna. Merupakan suatu kebohongan yang tidak direncanakan atau dilakukan secara spontan.

Sebagai contoh misalnya :

Mukidin berjanji dengan temannya akan bertemu pada pukul 7 pagi, namun ketika waktu yang dijanjikan tiba, Mukidin belum juga nampak batang hidungnya.

Kemudian teman itu bertanya melalui HP nya : “Sudah berangkat ?”

Dan Mudikin menjawab : “Sudah dalam perjalanan, sebentar lagi sampai. Mudah-mudahan nggak terjebak kemacetan.”

Padahal yang sebenarnya Mukidin masih dirumah, belum berangkat dan baru bersiap hendak berangkat dan kemudian secara spontan berbohong memberikan jawaban dengan maksud agar temannya yang sedang menunggu tidak menjadi kecewa dan dia sendiri tidak mendapat penilaian yang kurang bagus karena janji yang tidak ditepati dari temannya.

 

-o-

 

TANDA ATAU CIRI-CIRI KETIKA SESEORANG SEDANG BERBOHONG

Secara garis besar salah satu tanda jika seseorang yang mengatakan atau menyatakan sesuatu dengan tidak jujur biasanya dalam memberikan jawaban akan membutuhkan waktu yang lebih lama.

Karena membuat sebuah kebohongan itu merupakan hal yang rumit dan harus berkaitan juga dengan hal-hal yang lain. Jadi seseorang tersebut membutuhkan jeda waktu atau menunda jawaban karena harus memikir lebih dulu.

Biasanya dalam hal memberikan jawaban itu selalu diiringi dengan raut muka atau ekspresi dan intonasi kalimat yang menujukkan ketidak yakinan atau perasaan yang ragu-ragu.

Yang bisa dilakukan untuk mengetahui bahwa orang tersebut berbohong atau tidak adalah dengan memperhatikan kekonsistenan atau apakah saling berkesinambungan dari cerita yang disampaikan.

-o-

Dibawah ini ada beberapa pendapat tentang tanda atau ciri-ciri tentang orang yang berbohong yang telah dikumpulkan, disusun dan diuraikan secara rinci untuk memudahkan mengingat dan mengetahui apakah lawan bicara tersebut sedang berbohong atau tidak, dengan melalui cara memperhatikan bagian-bagian tubuh orang yang diajak berkomunikasi. Namun uraian tersebut bukan merupakan hal yang mutlak.

Adapun uraian tersebut adalah sebagai berikut :

1. Pandangan mata
  a. Selalu menghindari kontak mata.

Orang yang berbohong tidak akan jelas arah pandangannya dan biasanya tidak akan berani melakukan kontak mata secara langsung kepada lawan bicaranya, dan ragu-ragu saat melakukan kontak mata.

     
  b. Mata tak berhenti bergerak.

Bola mata yang sibuk mondar-mandir melihat sekitar, berkedip lebih sering dari biasanya, karena pada keadaan normal, seseorang biasanya berkedip 5-6 kali permenit.

     
    Dan perilaku seperti itu adalah sebuah reaksi stress fisiologis bahwa dia merasa tidak nyaman, atau tidak ingin menjawab pertanyaan yang diberikan. Tetapi jarang berkedip juga bisa diartikan menjadi pertanda bahwa ia sengaja berusaha untuk mengontrol gerakan matanya.
     
    Namun ada juga hal yang perlu diperhatikan yaitu orang dengan penyakit Parkinson akan memiliki tingkat berkedip yang lebih lambat dari orang sehat, sedangkan mereka yang memiliki skizofrenia cenderung berkedip lebih cepat.
     
  c. Arah pandangan mata selalu ke kanan.

Ketika lawan bicara diajak berkomunikasi tentang suatu yang pernah ia saksikan, dengar, atau dia berusaha untuk menggali

kembali ingatannya, maka jika orang tersebut memusatkan pandangannya kearah kiri, berarti kemungkinannya ia berkata jujur. Karena ia benar-benar sedang mengakses memorinya, menggali kembali ingatannya tentang kejadian tersebut.

   
  Namun pada saat berbohong, seseorang akan cenderung melirik kearah kanan. Artinya, ia sedang mengakses imajinasinya untuk menciptakan sebuah jawaban.
   
  Tetapi ada juga harus diketahui, bahwa orang kidal biasanya akan menunjukkan reaksi berlawanan disbanding dengan orang pada umumnya sebagai respon spontan.
   
  Selain itu, ada juga beberapa orang akan menatap lurus ke depan ketika mencoba untuk mengingat memori visual.
     
2. Cara berbicara
  a. Cara berbicaranya tidak natural,

Seseorang berbicara tidak selancar seperti biasanya, atau dengan perkataan yang berbeda bahwa dia berbicara dengan tersendat-sendat, terbata-bata, tergagap-gagap seakan memaksakan setiap pembicaraan.

     
  b. Gugup,

Seseorang menjadi gugup ketika berbicara karena pada saat berbicara ada suatu hal yang sembunyikannya. Orang yang gugup dapat ditandai dengan mengeluarkan keringat dingin, tangan dan kaki yang bergerak-gerak tanda tidak tenang, dan lain sebagainya.

     
  c. Selalu mengalihkan topik pembicaraan,

Seseorang ketika dalam berkomunikasi selalu mengalihkan topic pembicaraan pada masalah yang lain, mungkin saja bahwa dalam berkomunikasi itu menyangkut atau menyinggung suatu masalah yang dirahasiakan atau disembunyikannya dan hal tersebut dilakukan untuk menjaga agar apa yang dirahasiakannya itu tidak terbongkar.

     
  d. Orang yang berbohong cenderung merendahkan atau memelankan nada suaranya saat berbicara.

 

  e. Saat berbicara dia cenderung selalu berusaha meyakinkan kita dengan penjelasannya secara berlebihan.
     
  f. Pada saat berbicara seseorang yang berbohong selalu memberikan alasan yang terlalu panjang, mengarang-ngarang cerita dan kadang tidak masuk akal atau tidak nyambung
     
   
3. Cara tersenyum
  a. Senyum yang dipaksakan,

Artinya ketika berbicara dia memberikan senyum yang tidak alami/natural.

     
  b. Senyumnya diabuat-buat,

Seseorang itu mungkin berpikir bahwa senyum dapat dengan mudah menyamarkan perasaan yang sebenarnya. Akan tetapi ekspresi sepintas di wajah seseorang yang berbohong secara disadari ataupun tidak akan membuka tabir atau membocorkan apa yang dia benar-benar dipikirkan. Karena ketika seseorang tersenyum dengan tulus, maka kulit di sekitar mata mereka akan menggerombol dan bekerut.

     
  c. Senyum palsu hanya dimulut.

Senyuman palsu dan hanya dimulut saja dengan satu sudut bibir yang melengkung ke atas, terlihat sebagai senyuman sinis yang terkesan merendahkan.

   
  Seorang pembohong dengan senyum miring seperti itu bisa jadi menandakan kesombongan bahwa mereka berhasil menyembunyikan sesuatu tanpa di ketahui : sarkasme dan sinisme.
   
  Tetapi, senyum miring seperti itu juga mungkin berarti bahwa orang tersebut sedang marasa benar-benar bahagia atau optimis
     
3. Ekspresi/Raut Wajah
  a. Ekspresi wajah tidak natural,

Dari sebuah penelitian seseorang yang berbohong ekspresi wajahnya tidak nampak alami, cenderung akan muncul dengan wajah yang nyaris seperti orang pada saat mengalami kesedihan. Dan ada sudut aneh di ujung bibir ketika dia berusaha tersenyum.

   
  Sedangkan apabila seseorang tersebut berkata jujur pasti akan memiliki ekspresi wajah cerah dan senang,  dan tidak terlihat seperti orang yang sedang sedih.
     
  b. Banyak menyentuh bagian tubuh

Seseorang yang berbohong pada saat berbicara akan merasa tidak nyaman oleh karena itu akan banyak menyentuh bagian tubuh seperti bibir dan leher bagian samping untuk menutupi rasa tidak nyamannya.

   
  Dan rasa ketidak nyamannan tersebut akan membuat seseorang yang berbohong menjadi salah tingkah terhadap lawan bicaranya.
     
  c. Wajah memerah, berkeringat, menggigit bibir, menarik napas dalam-dalam.

Seseorang yang sedang berbohong, mungkin dapat dilihat lewat semburat warna merah yang tiba-tiba muncul diwajah atau dipipinya. Karena berbohong bisa menimbulkan kecemasan yang dapat menyebabkan orang menjadi tersipu, dan tetesan keringat yang mungkin muncul di dahi, pipi atau belakang lehernya..

   
  Sehingga orang tersebut mungkin akan berusaha untuk menyeka keringatnya berulang kali.

Wajah yang memerah dan menghela napas panjang serta berkeringat adalah reflex paksa yang disebabkan oleh system saraf simpatis (ini mengaktifkan respon fight-or-flight anda) dan merupakan respon terhadap pelepasan adrenalin.

     
4. Cara Bernapas
    Seseorang yang berbohong biasanya selalu ingin cepat-cepat menyelesaikan pembicaraannya. Jika diperhatikan pada saat dia berbicara dia akan tergesa-gesa yang membuat napasnya menjadi terengah-engah.
     
    Namun ada juga tanda seseorang berbohong yang itu sering menarik napas yang panjang. Hal tersebut dilakukan guna mengontrol diri ketika sedang melakukan suatu kebohongan.
     
5. Bagian Tubuh
  a. Sering melakukan gerakan tubuh.

Seseorang yang berbohong baik secara sadar atau tidak, biasanya sering melakukan gerakan tubuh,

 
  Misalnya :

Seperti sering menggerakkan salah satu tangannya pada leher,

Menggerakkan salah satu kakinya ketika berdiri,

Menggerakkan badannya seperti reflek memasukkan siku ke tubuh bagian dalam,

Cara duduk yang tidak pernah diam pada suatu tumpu, menghentak-hentakkan dan mengayun kaki.

     
  b. Gerak-gerik tubuh yang gelisah.

Gerak tubuh yang gelisah itu adalah Reaksi kimia tertentu yang dipercaya bisa menyebabkan wajah orang menjadi gatal ketika mereka bebohong. Oleh karena itu, pada umumnya orang yang sedang berbohong akan cenderung lebih sering menyentuh wajahnya.

   
  Tetapi akan lebih penting untuk meneliti keseluruhan sikap seseorang, bukan hanya dari satu tanda saja, karena tidak ada satu ciri yang tepat yang dapat secara mutlak menunjukkan bahwa seseorang itu sedang berbohong.
   
  Misalnya :

Menyilangkan lengan di depan dada dapat menunjukkan sikap defensive, melindungi diri.

Menyilangkan kaki menjauh dari lawan bicara mungkin menujukkan ketidak sukaan atau ketidak nyamanannya dengan kehadiran lawan bicara tersebut  – atau menampilkan diri sekecil mungkin di depan lawan bicara.

   
  Pembohong juga sering meyembunyikan tangan mereka di belakang punggung untuk menutupi menggemeretakkan jari yang bisa menunjukkan rasa gelisah.
     
    Ciri-cira tersebut di atas bukan merupakan hal yang  mutlak.
     
    Gerakan-gerakan yang sudah disebut di atas juga dapat menujukkan kegugupan, frustrasi atau orang yang tertutup yang hanya ingin menyendiri di zona pribadi mereka.
     
    Jika ada orang yang hanya sibuk mengamati gerak-gerik tubuh dan eksprasi wajahnya, maka orang itu malah tidak akan memperhatikan apa yang di katakan oleh lawan bicaranya, dan bahkan juga lupa memperhitungkan faktor kredilbilitas.
     
    Yang harus diingat bahwa beberapa orang dapat bertindak gugup – terutama ketika diinterogasi oleh polisi – bahkan meskipun jika mereka mengatakan hal yang sebenarnya atau tidak berbohong.

 

KENAPA ORANG BERBOHONG

Penjelasan seorang Psikolog

 

Contoh Kebohongan :

Petinggi partai Nazi yang juga tangan kanan Adolf Hitler, Paul Yoseph Goebbels, pernah membuat pernyataan controversial : “Kebohongan yang diucapkan terus-menerus, niscaya akan dipercaya sebagai sebuah kebenaran.”

Bagi Goebbels yang merupakan seorang Menteri Propaganda Nazi, tentu saja kebohongan yang dibuat itu adalah untuk tujuan politik. Kebohongan sengaja diciptakan untuk memanipulasi publik, agar kepentingan politik Nazi dapat dicapai dengan mudah.

Akan tetapi, apa yang sebenarnya yang melatar belakangi seseorang melakukan sebuah kebohongan ?

Psikolog dari Universitas Sebelas maret, Laelatus Syifa, memberikan gambaran tentang berbagai motif yang membuat orang berkata tidak sebanarnya.

“Manusia berbohong dalam konteks hubungan sosialnya bisa memiliki tujuan untuk kebaikan atau keburukan, misalnya penipuan,” kata Laelatus saat dihubungi Kompas.com, Jumat (5/10-2018)

“Berbohong juga kadang digunakan sebagai sarana untuk menyelamatkan muka, agar kita tidak berada di posisi yang merugikan diri kita sendiri,” ucapnya.

 

Tindakan Sadar

Namun terlepas dari apa motif yang dimiliki, berbohong merupakan tindakan manipulasi data yang dilakukan secara sadar agar lawan bicara percaya dengan apa yang kita katakan.

Menurut Laelatus, tidak ada kebohongan yang dilakukan dengan tidak sadar. Adapun, yang ada hanyalah kebohongan yang sudah menjadi kebiasaan.

“Berbohong sebenarnya adalah proses yang kompleks, karena pernyataan yang satu akan membutuhkan pernyataan yang lain,” ujarnya.

Maka dari itu, tak heran jika satu kebohongan akan diikuti oleh kebohongan yang lain.

Sebab kebohongn adalah fakta baru yang coba dikonstruksikan oleh pelaku, yang butuh dikuatkan oleh fakta lain.

 

MENGAPA BERITA BOHONG MUDAH MENYEBAR

Dalam perkembangan dan kemajuan teknologi, informasi bisa dikirim dan diterima atau diperoleh melalui media social seperti Face Book, WA, Twitter, Instagram dan lain-lainnya lagi.

Menyebarkan sebuah informasi kini bisa dilakukan hanya lewat penekanan ujung jari. Hanya sayangnya, tidak semua orang bisa mengenali mana informasi atau berita yang benar dan mana berita yang  bohong atau hoak.

Apalagi biasanya informasi yang tidak benar atau hoak akan lebih banyak beredar pada masa tahun politik seperti saat sekarang ini, dimana akan dilangsungkan Pemilihan Umum untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden serta Pemilihan Calon Anggota Legislative yang diselenggarakan dengan cara serempak atau dalam waktu yang bersamaan.

Apabila dibandingkan dengan berita yang berdasarkan fakta, maka informasi bohong dengan judul-judul yang bombastis memang dengan cepat menjadi viral.

Keterbatasan tentang perhatian manusia ditambah dengan informasi yang sangat deras di media social dianggap menjadi penyebab berita hoak itu gampang sekali menyebar.

Penelitian menyebutkan, seseorang cenderung melihat “bias informasi” dan hanya menaruh perhatian, serta menyebarkan informasi yang sesuai dengan kepercayaannya. Bahkan meski informasi tersebut palsu.

Penjelasan lain mengenai fenomena hoak ini menyatakan bahwa banyak orang yang kurang peduli pada kredibilitas sumber berita. Apakah sebuah informasi yang diperoleh itu berasal dari situs “abal-abal” atau situs yang memiliki kaidah jurnalistik.

Di lain pihak, saat mencari informasi on line seseorang itu sering mendapatkannya dari teman. Karena cenderung percaya kepada teman, maka saringan kognitif di otak akan menjadi lemah. Maka seseorang itu langsung percaya begitu saja pada apa yang teman bagikan. Apalagi kalau teman tersebut selama ini di kenalnya sebagai orang yang jujur maka dia merasa tidak perlu lagi memeriksa apakah informasi yang diterimanya itu fakta atau palsu.

Itulah sebabnya media sosial menjadi lahan yang subur untuk menyebarkan kabar bohong.

-o-

 

 NASEHAT KYAI HAJI MAIMOEN ZUBAIR

Yang didapatkan melalui kiriman WashApp

 

1. “Ora kabeh wong pinter kuwi bener”

Artinya : Tidak semua orang pintar itu benar.

   
2. “Ora kabeh wong bener kuwi pinter….”

Artinya : Tidak semua orang benar itu pintar.

   
3. “Akeh wong pinter ning ora bener….”

Artinya : Banyak orang yang pintar tapi tidak benar.

   
4. “Lan akeh wong bener senajan ora pinter….”

Artinya : Dan banyak orang benar meskipun tidak pintar.

   
5. “Nanging tinimbang dadi wong pinter ning orang bener, Luwih becik dadi wong benr senajan ora pinter….”

Artinya : Daripada jadi orang pintar tapi tidak benar, lebih baik jadi orang benar meskipun tidak pintar.

 
6. “Ono sing luwih prayoga yoiku dadi wong pinter sing tansah tumindak bener.”

Artinya : Ada yang lebih bijak, yaitu jadi orang pintar yang senantiasa berbuat benar.

 
7. “Minterno wong bener…kuwi lewih gampang tinimbang mbenerake wong pinter…”

Artinya : Memintarkan orang yang benar…itu lebih mudah daripada membenarkan orang yang pintar.

8. “Mbenerake wong pinter…kuwi mbutuhake beninge ati, lan jembare dhodho.”

Artinya : Membenarkan, membuat benar orang pintar itu membutuhkan beningnya hati, dan lapangnya dada.

 

-o-

Sebuah anekdot :

 

CERITA MUKIDIN YANG LAGI PACARAN

Pada suatu malam Mukidin kencan di rumah Hermin. Sesampainya di rumah Hermin, Mukidin duduk di kursi kemudian merogoh saku celananya untuk mengambil rokok…
Mukidin : “Dik Hermin, punya korek api ?”
    (Mukidin punya rokok tetapi korek apinya ketinggalan di rumah)
Hermin : “Ada Mas. Mas Mukidin ambil saja sendiri di laci lemari ya… “
  (Mukidin mencari korek api, tapi malah menemukan foto seorang lelaki yang berbadan gede dan berkumis tebal, Mukidin jadi penasaran dengan foto lelaki tersebut…. Lalu bertanyalah Mukidin kepada Hermin)
Mukidin : “Dik Hermin, foto ini apakah foto mantan pacarmu dulu ?”
    (Sepertinya Mukidin cemburu tingkat RT)
Hermin : “Bukan Mas…….”
Mukidin : “Kalau begitu foto itu adalah foto calon suamimu…..”
    (Mukidin cemburu tingkat kecamatan)
Hermin : “Ya bukanlah mas…. Kan hanya Mas Mukidin calon suamiku….”
 
Mukidin : “Yang pasti itu adalah foto kakakmu ya ? Soalnya kerutan wajahnya mirip sekali dengan kerutan wajahmu…..”
  (Mukidin semakin cemburu tingkat kabupaten)
Hermin : “Sejak tadi aku kan sudah bilang bukan mas….”
Mukidin : “Lalu foto itu foto siapa Dik Hermin ?”
Hermin : (mendekati Mukidin dan terus minta dipangku)
    “Nanti kalau saya kasih tahu itu fotonya siapa, tetapi Mas Mukidin harus janji tidak boleh marah ya ?”
Mukidin : “Ya deh, aku janji tidak akan marah Dik Hermin…..”
Hermin : (Dalam posisi masih di pangku, sambil mengelus-elus rambut kepala Mukidin, Hermin berkata)
  “Itu adalah foto Herman Mas, dan sebenarnya Herman itu adalah aku dahulu…ketika sebelum operasi kelamin…..”
Mukidin : “……hueeeeeekkkkk……”
    (Dan untuk selanjutnya Mukidin langsung jatuh pingsan….)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *