J A N J I

MENGAKUI DIRI SEBAGAI ORANG YANG TERBATAS ADALAH SANGAT PENTING BAGI ORANG YANG INGIN BERKEMBANG. SIKAP MENYADARI DIRI SEBAGAI ORANG YANG TERBATAS AKAN MEMBUAT SESEORANG SEMAKIN BERKEMBANG.

KEINGINAN UNTUK MAU BELAJAR, BERTANYA DENGAN RENDAH HATI, KEINGINAN UNTUK MINTA TOLONG KARENA KETIDAK MAMPUAN, BERSIKAP TERBUKA TERHADAP MASUKAN DARI ORANG YANG LEBIH MEMAHAMI MEMBUAT SESEORANG KAYA AKAN BANYAK HAL.

KAYA DALAM USAHA MENYELESAIKAN MASALAH DAN KESULITAN DALAM BERKARYA : BAGAIMANA BERSIKAP DENGAN PRIBADI YANG BERBEDA-BEDA, MENYELESAIKAN MASALAH DENGAN BIJAKSANA, WALAU TETAP DALAM SITUASI BELUM MAMPU DALAM BANYAK HAL ATAU MASIH HARUS BANYAK BELAJAR.

PENGALAMAN MENGOLAH KESULITAN HIDUP MENUMBUHKAN KEMAMPUAN UNTUK MENYELESAIKAN KESULITAN YANG DI HADAPI.

KEJELIAN DAN KESABARAN DALAM MEMBACA SETIAP PERISTIWA, MENJADI SUATU YANG AMAT PENTING, BAGI ORANG YANG MAU BERKEMBANG DAN LAYAK DI HADAPAN YANG MAHA KUASA.

mungkin banyak orang yang tidak akan pernah menyangka kalau Pak Mulyadi orang yang sangat kaya di kampung itu, serta yang berperilaku sangat familier adalah bukan orang yang berasal dari suku dan ras asli daerah tersebut. Dan yang pasti juga tidak akan pernah disangka kalau yang bersangkutan adalah seorang keturunan etnis Tionghoa.

Karena memang hal tersebut ditunjang dengan penampilan dari warna kulit yang tidak begitu terlihat kuning, namun lebih condong kearah yang disebut dengan warna sawo matang. Demikian pula dengan mata yang tidak terlalu sipit dan selain itu jika berbicara dengan siapapun, lebih-lebih kepada orang yang layak dan pantas untuk dihormati, dia menggunakan bahasa daerah dengan sangat sopan. Dan kebiasaan ini lah yang mengalahkan kebanyakan dari penduduk asli daerah tersebut yang dapat dikatakan sudah hilang tatakramanya.

Dan Pak Mulyadi memang memegang teguh dan melaksanakan adat istiadat serta budaya setempat seperti sebuah pepatah yang berbunyi :

” Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.”

Sudah kurang lebih tiga tahun lamanya orang keturunan etnis Tionghoa yang nama aslinya Tio Hway Tek itu menjadi duda. Karena Elisabet atau Tjing Tjing istri tercintanya telah meninggal dunia karena penyakit kanker yang dideritanya.

Dalam menjalani kehidupan sehari-harinya yang terasa sangat sepi itu, Pak Mulyadi begitu lah para tetangga memanggil namanya, yang mempunyai sebuah usaha penjualan hasil bumi. Yang pengelolaannya dibantu oleh ketiga orang anak perempuannya yaitu Siong Lan, Mei Lan dan Giok Lan serta dua orang pembantu, seorang laki-laki bernama Supriyatno dan seorang lagi perempuan bernama Supartini.

Sudah bukan menjadi rahasia umum lagi, lebih-lebih bagi ketiga orang anak-anaknya apalagi para pembantunya, kalau Pak Mulyadi sedang melakukan pendekatan dengan salah seorang perempuan pelanggan usahanya.

Bukan hanya sekali dua kali Siong Lan atau Sinta anak sulungnya memergoki ayahnya sedang berbicara dengan setengah berbisik-bisik kepada seorang perempuan yang menjadi idaman hatinya ketika toko sedang dalam keadaan sepi.

Karena merasa sudah dewasa, maka Sinta tidak marah atau membenci melihat pemandangan seperti itu. Sinta gadis yang sudah berumur dua puluh tujuh tahun itu bisa merasakan betapa sepi hati orang tuanya. Dalam usia lima puluh tahun sudah harus hidup sendiri, dan sendiri pula dalam melonggarkan dan membuka simpul-simpul keruwetan kehidupan pada setiap harinya. Tidak mempunyai seorang pendamping yang dapat memberikan pertimbangan ataupun pendapat yang diperlukan.

Apalagi Sinta sendiri juga sudah sangat mengerti dan sudah kenal baik dengan orang yang menjadi idaman hati ayahnya tersebut, yang tidak lain dan tidak bukan adalah tetangganya sendiri. Seorang perempuan setengah baya yang bernama Desi Lestari dan lebih senang jika dipanggil dengan nama Bu Lestari.

Bu Lestari yang berstatus janda tersebut karena biduk rumah tangganya kandas terdampar ditengah samudera kehidupan dan baru pada bulan kemarin memperingati ulang tahunnya yang ke empat puluh tahun.

Perempuan yang berkulit kuning langsat dan bertutur kata dengan sopan itu sudah beberapa kali dikhianati oleh Pak Sutrisna suaminya. Yang pada terakhir kalinya Bu Lestari sendiri memergoki suaminya yang ternyata adalah seorang buaya darat atau si hidung belang itu sedang berjalan bergandengan tangan dengan seorang perempuan muda ketika memasuki sebuah kamar hotel.

Karena dirasakan keadaan keluarganya sudah tidak lagi bisa diperbaiki, maka Bu Lestari mengajukan talak atau gugatan perceraian. Pada kurang lebih setengah tahun yang lalu Bu Lestari sudah resmi menyandang status sebagai seorang janda dan bukan lagi menjadi istri Bapak Sutrisna.

Kini dia hanya tinggal hidup berdua saja dengan seorang anak laki-laki satu-satunya yang sangat disayanginya itu yang bernama Dewandaru dan kini anak laki-laki tersebut sudah berumur 10 tahun.

“Bagaimana Bu, apakah rencana kita jadi dilaksanakan ?” tanya Pak Mulyadi setengah berbisik pada Ibu Lestari ketika dia sedang berbelanja di toko nya.

“Ya jadi lah, mengapa harus dibatalkan ? Tetapi aku harus mengajak anakku,” jawab Bu Lestari dengan perlahan pula, karena merasa khawatir kalau pembicaraannya itu didengar oleh orang lain.

Dengan menggunakan etika dan tatakrama dalam kehidupan bermasyarakat, dan juga agar tidak menuai penilaian yang bernada miring serta menjadi bahan pembicaraan orang lain, maka Bu Lestari mengajak Dewandaru anak tunggalnya. Dan suatu keberuntungan ketika anak yang diajak itu juga tidak menolak akan tetapi dia juga mengajukan sebuah persyaratan agar diperbolehkan mengajak serta Lukarsani teman akrabnya untuk bisa menemani bermain disana nanti.

Acara mereka untuk bepergian berdua itu memang sudah lama direncanakan dan tempat yang dituju itu adalah salah satu obyek wisata Sumer Air Panas di wilayah Subang yaitu di Ciater.

Pada keesokan harinya, kendaraan roda empat yang dikemudikan sendiri oleh Pak Mulyadi, melaju dengan kecepatan sedang menuju luar kota. Mobil itu berisi empat orang antara lain Dewandaru dan Lukarsani yang duduk di jok belakang, sedangkan di jok bagian depan adalah Bu Lestari yang berdampingan dengan Pak Mulyadi sendiri.

Kurang lebih dua jam perjalanan mereka sudah sampai ke tempat yang dituju. Setelah memarkirkan mobil dan membeli tiket masuk, kemudian mereka menuju pada sebuah taman yang disalah satu sudutnya sudah tersedia dua buah tempat duduk yang terbuat dari bata dan semen untuk perorangan serta sebuah tempat duduk yang berhadapan dan agak panjang yang bisa diisi oleh dua orang namun dibatasi oleh sebuah meja agak lebar yang terbuat dari bata dan semen juga.

Pada saat itu pengunjung memang tidak begitu ramai karena memang hari itu bukan hari libur umum atau tanggal merah. Jadi suasana seperti itulah yang memang sebenarnya diinginkan oleh Bu Lestari dan Pak Mulyadi.

Dewandaru berdekatan Lukarsani pada tempat duduk yang sendiri-sendiri sedangkan diseberangnya Pak Mulyadi duduk berdampingan dengan Bu Lestari pada sebuah kursi yang agak panjang dan kemudian mengeluarkan perbekalan yang mereka bawa untuk diletakkan dan tata diatas meja dihadapan mereka dan bercerita kesana kemari.

Meskipun Dewandaru adalah merupakan seorang anak yang belum dewasa, namun nalurinya berjalan.  Sepertinya dia mengerti apa yang menjadi maksud dan tujuan ibunya maupun Pak Mulyadi. Kedatangan mereka ke tempat wisata ini bukan hanya untuk sekedar berekreasi saja, akan tetapi keduanya juga ingin mencurahkan perasaan hati yang selama ini dikandungnya.

Setelah selesai mengkonsumsi perbekalan yang dibawanya, kemudian Dewandaru dan Lukarsani meminta ijin ibunya untuk berjalan-jalan menuju obyek wisata yang ingin diketahinya.

“Bu, aku mohon ijin bersama Lukarsani untuk pergi jalan-jalan. Nanti andaikata Ibu hendak pulang tolong dibel saja, ya Bu,” kata Dewandaru sambil pergi berdua dengan meninggalkan ibunya dan Pak Mulyadi yang saat itu sedang terikat oleh jaring asmara.

“Hati-hati ya nDaru, jangan terlampau jauh. Ini uang barangkali nanti kamu ingin membeli sesuatu,” kata Bu Lestari sambil memberikan dua lembar uang kertas yang berwarna merah.

Setelah Dewandaru dan Lukarsani sudah tidak kelihatan lagi, posisi duduk Bu Lestari maupun Pak Mulyadi bergeser. Sekarang mereka tidak duduk berdampingan lagi akan tetapi posisinya sedikit miring sehingga berhadap-hadapan. Dan mata Bu Lestari memandang tajam kearah Pak Mulyadi yang berada dihadapannya.

Dan orang yang dihadapannya dan dipandang dengan tatapan mata yang tajam tersebut merasa ada sesuatu dan dalam hatinya berkata : “Waduhhh…, kelihatannya Bu Lestari pasti akan menanyakan tentang JANJI saya mengenai ‘permasalahan yang satu’ itu.”

Memang sudah beberapa kali perempuan yang berkulit kuning langsat akan tetapi bisa bersikap tegas tersebut menyarankan agar mengenai “permasalahan yang satu” itu agar Pak Mulyadi sesegera mungkin untuk menyelesaikannya. Namun entah mengapa, hingga sampai hari itu Pak Mulyadi masih selalu berjanji dan berjanji lagi.

“Pak Mul aku sendiri sudah siap. Siap untuk segala macamnya, termasuk siap untuk menjadi ibu dari anak-anakmu. Dan mengenai Pak Mul sendiri bagaimana ? Utamanya janji tentang ‘permasalahan yang satu’ itu ?“ tanya Bu Lestari serius.

“Aku sendiri pun sebenarnya juga sudah siap, Bu Lestari. Hanya saja, saya belum sempat untuk memenuhi janji itu,” jawab Pak Mulyadi sabar.

“Lantas kapan Pak Mul akan memenuhi janji tersebut ? Benar Pak, perihal janji Pak Mul tentang ‘permasalahan yang satu” itu, bukan hanya untuk keperluan pribadiku sendiri, tetapi untuk kita semua. Pak Mul sehat, aku sehat dan kita semua sehat,” demkian kata Bu Lestari banyak-banyak.

Dan memang benar setiap kali membicarakan tentang “permasalahan yang satu” itu, suasana yang semula nyaman-nyaman saja tiba-tiba secara mendadak temperaturnya berubah menjadi sedikit meninggi.

Bu Lestari menjadi heran, dan dalam hatinya timbul pertanyaan : “Apa yang menjadi hambatannya ? Kalau hanya karena masalah pembiayaan, jelas bukan. Biaya yang dikeluarkan untuk menyelesaikan tentang ‘permasalahan yang satu’  itu, jelas tidaklah banyak. Apalagi untuk orang kaya seperti Pak Mulyadi. Ah, entahlah, mungkin atau barangkali Pak Mulyadi alias Tio Hway Tek itu mempunyai pertimbangan yang lain.”

Namun apa boleh buat hingga berlangsungnya pernikahan antara Pak Mulyadi dengan Bu Lestari, yang menggunakan akad nikah secara Agama Islam Pak Mulyadi belum juga memenuhi janjinya meskipun semenjak Bu Lestari sudah resmi menjadi istri Pak Mulyadi.

Dan sementara itu tetangga kiri kanan mereka sudah menyebut Bu Lestari dengan panggilan Bu Mulyadi. Dan sekarang Dewandaru pun bukan lagi disebut sebagai anak tunggal, tetapi posisinya dalam keluarga yang baru tersebut dia dikatakan sebagai anak bungsu.

“nDaru, kalau lulus sekolah nanti, kamu mau minta diberi hadiah apa ?” tanya Pak Mulyadi pada suatu sore ketika Dewandaru pulang dari kegiatan lesnya.

Yang ditanya tidak segera menjawab, hanya tersenyum malu-malu sambil memandang kearah ibunya. Anak berumur 10 tahun tersebut terlihat merasa rikuh untuk menyampaikan jawabannya.

Hal itu disebabkan karena pada tiga bulan yang telah lalu ketika tepat pada hari ulang tahunnya, dia pun ditanya oleh ayahnya minta diberi hadiah apa. Kemudian dia menjawab minta dibelikan sepeda gunung, dan pada keesokan harinya Dewandaru pun diantarkan ke Toko Sepeda Serba Ada, dan disuruh untuk memilih sendiri sepeda yang diinginkan.

Melihat keadaan seperti itu ibunya pun tanggap dan mengerti, yang kemudian mendekati Pak Mulyadi serta berbisik-bisik ditelinga suaminya.

Pak Mulyadi pun kemudian hanya tersenyum sambil mengangguk-anggukan kepalanya, lalu bertanya kepada Dewandaru :

“Apakah kamu memang sudah berani, nDaru ? Kalau memang sudah berani ya harus segera direcanakan dan nanti dilaksanakan tepat pada saat liburan sekolah. Bagaimana kamu setuju ?” tanya Pak Mulyadi untuk menegaskan.

“Ya, Ayah saya setuju,” jawab Dewandaru singkat.

Sore hari berikutnya terlihat Pak Mulyadi mengendarai sepeda motor menuju rumah tempat tinggal Pak Abdul Rohman, untuk keperluan mendaftarkan anak bungsunya tersebut.

Pak Abdul Rohman adalah seorang akhli khitan untuk anak yang sudah sangat terkenal dan bisa diundang ke rumah. Bahkan pernah ada cerita bahwa ada seorang anak yang akan dikhitankan, dia mau dikhitan asalkan yang mengkhitan adalah Pak Abdul Rohman. Karena ada sebuah keyakinan, bahwa kalau yang mengkhitan itu adalah Pak Abdul Rohman maka tidak akan terasa sakit.

Dan Pak Abdul Rohman sendiri, dalam menjalani profesinya sebagai akhli sunat/khitan sudah berjalan kurang lebih selama tigapuluh tahun, jadi pasti sudah mengerti sekali tentang psikologi anak.

Dapat dikatakan sangat mahir membuang rasa takut yang bersarang di dalam diri anak yang hendak dikhitan. Biasanya anak tersebut diajak bercanda, ditanya mengenai berbagai macam hal atau bahkan diberikan bermacam-macam cerita yang lucu dan tahu-tahu….” kres…” Eksekusi sudah selesai.

Hari yang telah direncanakan sudah tiba. Walaupun acara tersebut dilaksanakan dengan cara yang sederhana, namun Pak Mulyadi tetap mengundang tetangga kiri dan kanan yang dimohon kehadirannya untuk mendoakan agar pada pelaksanaan khitanan Dewandaru nanti berjalan dengan lancar tanpa ada halangan sedikitpun.

Sesuai dengan susunan acara yang telah direncanakan, setelah selesai khitanan kemudian acara akan dilanjutkan dengan syukuran sambil memotong dan makan tumpeng bersama. Dan pada acara tersebut tidak lupa bahwa semua teman Dewandaru juga diundang untuk hadir.

Kurang lebih setengah jam sebelum waktu yang telah ditentukan tiba, terlihat satu dua orang tamu yang diundang mulai nampak berdatangan.

Begitu juga dengan Pak Abdul Rohman akhli khitan sebagai eksekutor Dewandaru pun telah datang. Ketika melihat Dewandaru sedang dikerumuni oleh teman-temannya, dia segera menghampiri yang kemudian mengajak bersendagurau dengan menceritakan kisah-kisah yang lucu. Dan berulang kali terdengar suara tertawa anak-anak teman-teman Dewandaru yang terpingkal-pingkal.

Dewandaru yang semula roman mukanya terlihat sangat pucat mungkin karena rasa ketakutan, namun secara perlahan-lahan tetapi pasti muka itu menjadi berubah memerah kembali dan terlihat ikut pula tertawa tergelak-gelak.

Ketika waktu yang ditentukan untuk pelaksanaan khitan sudah tiba, maka Dewandaru pun dituntun masuk ke dalam kamar. Bersamaan dengan itu pula Pak Mulyadi pun ditarik masuk ke dalam kamar oleh istrinya, kelihatannya ada permasalahan yang hendak dibicarakan dengan serius.

“Sekarang aku tidak mau janji lagi, Pak. Karena telah berulangkali Pak Mul selalu berjanji-dan berjanji lagi dan seterusnya. Oleh karena itu sekali ini saja penuhi janji itu Pak. Hanya menunggu sebentar setelah Dewandaru selesai dikhitan.

Memang aku sendiri kemarin yang sudah banyak berbincang dan berpesan pada Pak Abdul Rohman dan dia memberi jaminan bahwa hal tersebut tidak akan terasa sakit. Paling juga rasanya seperti digigit oleh seekor semut.

Dewandaru saja berani dan tegar, apakah Pak Mul sebagai ayah tidak merasa malu kalah dengan si bungsu ?” kata Bu Mulyadi dengan bertubi-tubi seperti petasan renteng yang meledak tanpa berhenti.

Dan untuk sekali ini Pak Mulyadi alias Babah Tio Hway Tek sudah tidak bisa membantah dan tidak bisa mengelak lagi serta menyerahkan dirinya kepada Pak Abdul Rohman Akhli Khitan yang sudah terkenal itu untuk juga segera di ….  ”eksekusi”

-o-

 

Untuk saudaraku para pembaca yang saya hormati dan lebih diutamakan untuk kalangan sendiri, gubahan dan reka cerita diatas hanya merupakan sekedar gambaran atau contoh kejadian saja yang mungkin pernah dijumpai atau didengar dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat.

Melalui reka cerita dengan judul JANJI merupakan suatu peristiwa yang didalamnya memuat sebuah hikmah sebagai pesan moral dan bahan perenungan dalam menjalani kehidupan kita masing-masing didalam bermasyarakat.

JANJI

Yang dimaksudkan dengan janji antara lain adalah :
1. Janji adalah ucapan yang menyatakan kesediaan dan kesanggupan untuk berbuat (seperti hendak memberi, menolong, datang bertemu dan lain-lain)
2. Janji merupakan persetujuan antara dua belah pihak (masing-masing menyatakan kesediaan dan kesanggupan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu)
3. Janji adalah sebuah syarat, ketentuan (yang harus dipenuhi).

 

Menjanjikan ;

Menjanjikan artinya menyatakan kesediaan dan kesanggupan untuk berbuat sesuatu kepada orang lain.

 

Perjanjian :

Perjanjian adalah sebuah persetujuan (baik tertulis atau pun dengan lisan) yang dibuat oleh dua belah pihak atau lebih, masing-masing bersepakat akan mentaati apa yang telah disebutkan dalam persetujuan tersebut.

 

PENGERTIAN TENTANG JANJI

Janji menjadi menu dalam pergaulan antara sesama manusia dalam kehidupan sehari-hari. Dan janji itu termasuk jenis pekerjaan yang ringan dan mudah sekali untuk diucapkan. Oleh karena janji itu merupakan pekerjaan yang ringan maka banyak pula orang yang menjadi ringan untuk berjanji. Namun walaupun ringan untuk diucapkan, bukan berarti setiap janji tidak memiliki konsekuensi dan tidak ditepati.

Jadi janji itu sendiri sebenarnya adalah sebuah kata-kata atau ucapan namun mempunyai makna yang dalam, karena janji itu merupakan sebuah gambaran dari kualitas diri seseorang atau merupakan salah satu tolok ukur untuk penilaian seberapa besar orang tersebut bisa dipercaya.

Ada sebuah ungkapan kata yang antara lain berbunyi “Janji adalah sebuah hutang yang harus dibayar.” Ungkapan kata tersebut bukanlah hanya sekedar sebuah kata mutiara, hiasan peribahasa atau pepatah semata, tetapi bahkan lebih daripada itu. Yaitu adanya sebuah makna sebenarnya yang terkandung dalam kata-kata tersebut adalah bahwa janji itu sama halnya seperti sedang berhutang dan ada hak seseorang didalamnya yang harus di bayar.

Janji bisa di ibaratkan sebagai sebuah pisau yang bermata dua, disatu sisi dia dapat menenangkan hati seseorang, karena sebuah janji kadang bisa memberikan harapan yang jelas tentang sebuah masalah.

Sebagai sebuah contoh misalnya, ketika seseorang sedang mempunyai permasalahan dengan pasangan atau dengan pacar, dan salah satu cara untuk bisa meredakan marah dari pasangan atau pacar tersebut adalah dengan cara berjanji atau mengucapkan janji. Umpamanya  membuat janji untuk tidak melakukan kesalahan untuk yang kedua kalinya. Mendengar janji tersebut, secara tidak langsung akan membuat perasaan sang pacar atau pasangan menjadi tenang.

Kemudian disalah satu sisi yang lain adalah bahwa janji dapat menyakiti hati seseorang dan biasanya hal tersebut dikarenakan ada sebuah janji yang telah diucapkan namun tidak bisa ditepati.

Dan hal inilah yang membuat seseorang merasa dibohongi karena adanya janji yang manis namun buahnya pahit atau palsu.  Bisa di ibaratkan rasa senang yang dihempaskan dengan harapan yang semu.

Sebagai contoh misalnya :

Pada kegiatan Pemilihan Umum atau Pemilu ada oknum yang berjanji akan melakukan ini dan itu kalau nanti sudah terpilih. Tetapi ketika benar-benar sudah terpilih, maka janji yang telah diucapkan  itu hanya tinggal janji. Oknum yang berjanji tersebut pura-pura lupa dengan janji manis yang telah diucapkannya,

Dan selalu saja ada alasan yang mereka pakai sebagai pembenaran untuk melanggar janji, misalnya sakit, kurang enak badan, urusan keluarga, yang mungkin menjadi alasan paling mudah bagi banyak orang untuk melanggar janjinya.

 

Contoh yang lain misalnya seperti ini :

Ketika ada seorang sahabat yang membuat janji untuk bertemu pada sore hari, namun ketika waktu yang dijanjikan tiba, sahabat tersebut malahan mengingkari janjinya dan tidak datang ke tempat yang telah dijanjikan karena sebuah alasan.

Jadi singkatnya adalah bahwa dia yang membuat janji dan dia juga yang mengingkari janji tersebut.

Lalu yang menjadi pertanyaannya adalah, bagaimana perasaan seseorang yang janjinya di ingkari tersebut ? Apakah mungkin dia merasa sedih atau bahkan merasa sakit hati  ?

Oleh karena itu harus berhati-hati dalam membuat sebuah janji, kalau memang terpaksa harus berjanji, usahakan agar janji tersebut bisa ditepati, karena pada saat mengucapkan sebuah janji artinya dapat dikatakan sedang bermain dengan sesuatu yang namanya kepercayaan.

Jangan sampai akibat dari tidak menepati janji, maka akan membuat orang lain tidak akan mempercayai lagi. Akan tetapi apabila sudah terlanjur berjanji dan tidak sanggup untuk menepati janji tersebut, maka sebaiknya untuk segera meminta maaf kepada orang yang bersangkutan agar supaya orang tersebut tidak menyimpan rasa sakit hati.

 

-o-

 

 

APAKAH  MENEPATI JANJI  ITU  PENTING

Sudah bukan menjadi sebuah rahasia umum lagi, kalau yang namanya janji itu memiliki arti hutang, yang hukumnya wajib untuk ditepati dan dengan sesegera mungkin agar dilaksanakan apa yang sudah diucapkan.

Jadi janji bukan hanya sekedar ucapan yang keluar dari mulut seseorang agar bisa menyenangkan hati orang lain, melainkan merupakan satu kewajiban yang harus dilaksanakan meskipun itu dalam kondisi yang kurang bagus, karena dampak dari ucapan tersebut akan sangat buruk bila tidak ditepati.

Ada sebuah pepatah yang mengatakan : “Lukalah yang menyebabkan rasa pedih, dan tidak akan ada rasa pedih apabila luka itu tidak ada,”  Pepatah yang semacam ini biasanya keluar dari orang yang merasa kecewa karena janji dari seseorang yang tidak dipenuhinya.

Bukan hanya yang dikatakan sebagai Pria Sejati tetapi sebagai Orang Yang Beriman itu harus selalu menepati janjinya dan janji itu bukan hanya sekedar sebuah kata-kata atau omong kosong yang hari ini diucapkan, lalu keesokan harinya dilupakan begitu saja.

Oleh karena itu harus berhati-hati terhadap sebuah janji yang akan diucapkan, maka seandainya belum bisa menepati janji sebaiknya tidak usah bernjanji ataupun menjanjikan sesuatu kepada orang lain, karena janji yang sudah diucapkan itu harus dipertanggungjawabkan.

“Dan penuhilah janji, sesungguhnya janji itu pasti dimintai pertanggung jawabannya.” (QS Al-Israa : 34)

 

-o-

 

APAKAH BOLEH BERJANJI

Andaikata belum bisa memenuhi apa yang sudah dijanjikan, maka akan lebih baik jika berkata dengan terus terang daripada harus bersembunyi dibalik kebohongan serta mengesampingkan janji tersebut dengan berbagai alasan yang mungkin tidak masuk akal.

Karena hal seperti itulah yang akan menjadi bumerang pada diri sendiri ketika sudah mengucapkan janji namun tidak menepatinya. Kalau hanya  mengingkari sekali atau dua kali saja dengan keadaan yang sangat terpaksa mungkin masih bisa dimaklumi.

Akan tetapi yang harus selalu diingat adalah bahwa setiap perbuatan yang dilakukan pasti akan ada buah yang dihasilkan tanpa mengenal siapa dan apa pun jabatannya. Oleh karena itu instropeksi diri itu sangat penting agar tidak mudah mengingkari janji kepada siapapun.

Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah : Apakah dengan demikian berarti orang tidak boleh berjanji ?

Janji itu diperbolehkan karena tidak ada agama yang mengharamkannya serta tidak ada hukum yang melarang orang untuk berjanji. Namun dengan catatan apa yang sudah diucapkan sebagai sebagai janji itu harus ditepati.

Perlu diketahui juga bahwa di dunia ini berlaku hukum sebab akibat. Sesuai dengan sebuah Pepatah yang berbunyi : Siapa yang menyebar angin pasti dia akan menuai badai.

Artinya jika seseorang menabur benih kebaikan maka kebaikan pula yang akan di tuai nya dan jika seseorang menyebar keburukan dan permusuhan maka hal buruk juga yang akan diperolehnya..

Orang beriman akan selalu menepati janjinya. “ Beruntunglah orang-orang beriman, yaitu…orang-orang yang memlihara amanat-amanat dan janjinya.” (QS Al-Mu’minun : 1-6).

Sebaliknya mengingkari janji adalah sifat syaitan. “Padahal syaitan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka.” (QS An-Nisa : 120).

 

-o-

 

JANGAN BERJANJI SEKIRANYA TIDAK BISA MENEPATI

Pada waktu anak-anaknya masih kecil atau masih masa sekolah dahulu orang tua selalu mengingatkan agar mereka tidak berjanji kalau tak bisa menepatinya. Jangan berjanji pada siapapun kalau akhirnya akan  mengecewakan orang lain.

Berjanji itu sangat mudah, tetapi untuk menepatinya tidak semua orang bisa melaksanakannya. Mungkin banyak yang melakukan hal seperti itu, yakni sangat mudah berjanji namun kemudian mengingkarinya dengan menggunakan berbagai macam alasan.

Bagi orang-orang beriman, perilaku ingkar janji tidak berbeda jauh dengan berbohong, Tertulis didalam Alkitab, Yesus berkata tegas : “Jika ya, hendaklah kamu katakan ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.” (Mat 5:37).

Jadi aturannya nampak dengan jelas. Jika sudah mengatakannya maka harus ditepati, sebelum si jahat menemukan sebuah lahan yang baik untuk bermain dalam diri seseorang dan kemudian membuat seseorang tersebut terus tumbuh menjadi pembohong-pembohong kelas kakap yang tidak lagi merasa bersalah ketika melakukan kebohongan.

Mengacu kepada 10 Perintah Allah ; “Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu” (Kel 20:16). Pada kenyatannya, manusia terkadang begitu mudah bersumpah demi segala sesuatu, bahkan berani bersumpah dengan mengatas namakan Tuhan atau Allah untuk sesuatu kebohongan.

 

-o-

 

BEBERAPA HAL YANG BERKAITAN DENGAN JANJI

Banyak yang mengatakan sebagaimana yang telah disebutkan seperti diatas bahwa Janji itu meiliki arti sebagai hutang, dan memang benar demikianlah adanya.  Karena janji itu adalah akad, yang artinya berupa ikatan yang selalu bersifat mengikat antara kedua belah pihak, baik yang mengucapkan janji maupun yang menerima janji.

 

Contoh janji yang ada dalam kehidupan sehari-hari  :
1. Ina, besok sebelum Olah Raga kita ketemu di tempat parkir Kantor Balai Kota Bandung pukul 06.00 WIB,  ya ?
2. nDaru,  kalau nilai rapor kamu bagus, nanti akan bapak belikan sepeda baru ;
3. Perjanjian (kesepakatan, akad) dalam Jual-Beli dan perjanjian (akad, kesepakatan) dalam pernikahan .
4. Ketentuan (akad) dalam sebuah acara : rapat, pertemuan, agenda dakwah, dan belajar bersama (misalnya ditentukan pukul 09.00 berarti bahwa para peserta harus datang sesuai dengan kesepakatan yang telah ditentukan)
5. . Ketentuan (akad) dalam sebuah Instansi Tempat Bekerja (misalnya : para pegawai harus berpakaian rapi, tidak boleh datang terlambat, tidak boleh membolos dan tidak diperbolehkan ijin kecuali dalam keadaan yang mendesak).
6. Dan lain-lain.

 

Janji boleh tidak ditepati jika dalam keadaan sebagai berikut :
1. Janji yang tidak diperbolehkan, adalah janji atau kesepakatan untuk melakukan kejahatan.

 

Untuk anak sekolah misalnya : Janji untuk membolos, janji untuk bekerja sama dalam mengerjakan soal ujian sekolah atau menyontek.

Untuk orang dewasa misalnya : janji bekerja sama dalam melakukan korupsi, transaksi barang terlarang dan lain-lain.

2. Dalam keadaan sakit, pingsan atau dalam kondisi badan yang tidak mampu untuk memenuhi atau menepati janji.
3. Secara mendadak menjadi hilang akal.
4. Disebabkan karena cuaca yang tidak mendukung, misalnya : hujan lebat, hujan badai, hujan salju, panas yang menyangat hingga membuat badan atau sakit kepala.
5. Ada keluarga (bisa orang tua, istri, suami, saudara) maupun kerabat yang sakit mendadak atau pun yang meninggal dunia.
Jika dalam keadaan atau kondisi seperti tersebut diatas, maka membatalkan kesepakatan atau janji itu diperbolehkan.
Oleh karena itu sesuai dengan penjelasan diatas, maka tidak diperbolehkan bagi seseorang untuk dengan seenaknya atau dengan mudahnya melanggar janji yang sudah diucapkan, karena perbuatan seperti itu dapat dikatakan sebagai orang yang tidak menjaga amanah dan tidak menepati janji. Sedangkan tidak bisa menjaga amanah dan tidak menepati janji merupakan tanda-tanda yang dimiliki oleh orang munafik, yakni :
“Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga keadaan yaitu : Jika berkata ia berdusta, jika ia berjanji ia mengingkari, dan apabila diberi amanah (kepercayaan) ia mengkhianatinya.” (HR, Mukhari-Muslim).

 

Macam-macam cara dalam menepati janji
Meskipun berjanji kepada sesama manusia, namun pada kakekatnya adalah bahwa janji itu pasti disaksikan oleh Allah, karena Allah tidak akan pernah luput dalam menyaksikan termasuk sehelai daun yang jatuh di rimba raya sekalipun. Oleh karena itu, janji harus ditepati dengan berbagai cara.
1. Menepati janji dengan hati.

Apabila hatinya baik maka akan baik pulalah apa yang dilakukannya, karena orang akan merasa kesulitan untuk menepati janji jika dia tidak bisa menjaga kebersihan hati dari serangan penyakit hati, misalnya saja seperti iri hati.

2. Menepati janji dengan kata-kata.

Kata-kata yang tidak pantas atau tidak layak yang telah terucapkan biasanya akan menimbulkan suasana yang tidak nyaman, tidak damai, meresahkan. Luka hati karena kata-kata itu lebih terasa menyakitkan hati dari pada luka karena kena goresan benda tajam. Luka karena goresan benda tajam lebih cepat kering dan sembuh tetapi luka dihati karena kata-kata tidak akan mudah sembuhnya. Oleh karena itu dalam menjaga kata-kata yang bisa mendamaikan termasuk dalam kategori menepati janji.

3. Menepati janji dengan sikap.

Sikap mementingkan diri sendiri seringkali menjadi pemicu ketidak damaian, ketidak nyamanan, keresahan. Oleh karena itu, sikap tersebut perlu segera diganti, dari sikap yang lebih mementingkan diri sendiri dengan sikap yang mengutamakan kepentingan bersama.

4. Menepati janji dengan perbuatan.

Melakukan kejahatan dengan kewenangan atau dengan kekuasaan, pasti akan menyebabkan hancurnya perdamaian, rusaknya ketenteraman, menimbulkan keresahan, oleh karena itu menjaga agar tidak melakukan perbuatan yang dapat merusak atau menghancurkan adalah merupakan wujud dari sebuah janji.

 

 

-o-

 

Sebuah anekdot :

 

SUNATAN
Ketika Teh (Mbak) Erna lagi nyunatin atau mengkhitankan Bagas anaknya yang baru berumur 6 Tahun, tiba-tiba berkunjung seorang tetangga yaitu seorang ibu dari Kelompok Arisan yang akan menengok anak yang habis disunat…….
Ibu : “Teh Erna, mana anaknya yang baru di sunat ?”
Teh Erna : “Itu, lagi tidur di kamar…..”
Beberapa saat kemudian…….
Ibu :  “Wah Teh Erna, bentuknya bagus dan rapi ya….., jadi gemes ih. Lagian masih kecil, anunya kok udah panjang ya Teh !”
Teh Erna : “Emang ibu lihat yang sebelah mana ?”
Ibu : “Itu yang di kasur….…”
Teh Erna : “Anak saya yang tidur di kursi….!!!”
Ibu : “Lhooo !   Yang tidur di kasur itu siapa ?”
Teh Erna : Yang itu suami saya !!!”

-o0o-

BANDUNG–INDONESIA, FEBRUARI – 2018

Cerita : FX Subroto

(Gubahan Ki Ageng Bayu Sepi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *