IBU GURU WULANDARI

ADA YANG BERKATA : AKU LEBIH PILIH JALAN DARIPADA LARI, KARENA HIDUP INI ADALAH PERJALANAN BUKAN PELARIAN.

DAN HIDUP BUKAN SEBERAPA CEPAT SESEORANG BISA BERLARI TETAPI SEBERAPA KUAT SESEORANG TERSEBUT TETAP MELANGKAH DAN TIDAK PERNAH MUNDUR.

LIKU-LIKU KEHIDUPAN SUDAH SANGAT TIDAK ASING DI JUMPAI, MAKA JALANI SEMUANYA BAGAIKAN ALIRAN AIR YANG MENGELIR MENUJU SAMUDRA YANG SANGAT LUAS.

HIDUP JUGA TAK AKAN PERNAH BISA MENGAJARKAN SESEORANG UNTUK MERASA CUKUP, SELAIN DIRINYA SENDIRI YANG BELAJAR MENCUKUPKAN DIRI DALAM SEGALA HAL.

OLEH KARENA ITU JALANI KEHIDUPAN INI DENGAN PENUH KEGEMBIRAAN JANGAN MEMPERBANDINGKAN HIDUP INI DENGAN ORANG LAIN, SEBAB HIDUP ADALAH PERJALANAN BUKAN PERTANDINGAN. ORANG YANG PALING BERHARGA ADALAH ORANG YANG SELALU MENSYUKURI APAPUN YANG TELAH DIMILIKI.

MENABUR KEBAIKAN PASTI AKAN MENUAI KEBAIKAN PULA WALAU PUN TIDAK TAHU KAPAN AKAN MENUAINYA.

KESALAHAN “TERSALAH” IALAH : KARENA TIDAK PERNAH MAU DI SALAHKAN WALAU PUN MEMANG SALAH DAN TIDAK PERNAH MENYESALI KESALAHANNYA.priambada merasa sangat gembira hatinya, karena dengan tidak disangka-sangka bisa kembali bertemu dengan Wulandari, bekas perempuan Kompleks Kalijodo yang kini ternyata bisa berbalik 180 derajat menjadi perempuan yang solikhah. Priambada pulang dengan hati yang bahagia, sebab apakah itu bernilai besar atau  kecil, apa yang telah diakukan terhadap diri Wulandari merupakan salah satu wujud perhatiannya terhadap hubungan hidup bermasyarakat. Akan tetapi ketika sudah sampai di rumah agak kebingungan, sebab rumahnya dalam keadaan kosong, semua pintu terkunci. Kemudian dicarinya kunci yang biasanya tersimpan di tempat rahasia, seperti biasanya apabila Sitoresmi istrinya bepergian dan mengunci pintu dan kunci pintu tersebut disimpan di tempat itu.

Dalam hatinya berpikir : “Mungkin juga istriku sedang pergi dan membutuhkan waktu yang hanya sebentar, lalu kunci tersebut dibawanya pergi”. Kemudian Priambada dengan termenung duduk sendirian di teras untuk menunggu kepulangan isrinya.

Setelah ditunggu sampai lama, Wulandari belum juga tidak terlihat pulang dan Priambada sendiri terlihat mulai gelisah. Dalam keadaan yang demikian itu tiba-tiba, Ibu Kurniasih tetangga sebelah timur gang datang menghampiri dan ditangannya terlihat membawa sebuah kunci dan secarik kertas yang dimasukkan ke amplop.

“Dik Pri, tadi istrimu menitipkan ini, padaku,” katanya.

“Tadi bilangnya mau pergi kemana, Teh (Mbak) ?” tanya Priambada ingin tahu.

“Tidak bilang apa-apa tuh dik, hanya menitipkan ini saja,” jawab Bu Kurniasih. “Tetapi ada apa ya ? Tadi wajahnya kok terlihat muram sepertinya sedang marah atau jengkel,” jawabnya lagi seraya memberikan barang titipan itu.

“Nggak ada apa-apa, tuh Mbak.” jawab Priambada sambil menerima kunci dan amplop dari tangan Bu Kurniasih.

Kemudian pintu rumah dibukanya dan Priambada segera membaca surat tadi. Seketika itu Priambada menjadi terkejut. Karena isi surat tersebut sangat tidak enak.

Mas Priambada

di rumah,

“Bersama surat ini saya, Sitoresmi istrimu meminta maaf yang sebesar-besarnya bahwa dengan cara yang kurang sepantasnya saya meminta pertolongan seorang tetangga untuk menyampaikan sepucuk surat dan kunci pintu rumah kepada Mas Priambada.

Mas Priambada yang saya hormati, selama ini saya mengerti kalau Mas Priambada itu adalah seorang lelaki yang alim dan setia. Tetapi tidak sangka sama sekali bahwa ternyata itu semua hanyalah penampilan belaka, padahal di belakang Mas Priambada mempunyai perempuan simpanan, apalagi tingkah lakunya seperti remaja yang sedang berpacaran atau sedang berkasih-kasihan, bahkan saling berangkulan dengan mesra di Alun-alun Kota bandung.

Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri adegan tersebut Mas, di sebuah sudut Alun-alun sebelah Barat. Kalau memang demikian kemauan Mas Pri, ya silahkan saja, aku menerimanya dan akan pergi. Puaskan hatimu dengan orang cantik itu dan jangan mencari aku lagi. Kemungkinan memang hanya sampai disini perjalanan hidup yang kita jalani bersama.”

 

Wulandari

Istrimu

 

-o-

 

“Wadhuh celaka benar nih”, keluh Priambada di dalam hati. “Sepertinya tadi pagi istriku memata-matai kepergianku ketika bertemu dengan Dik Wulandari di Alun-alun Kota bandung. Sekarang entah kemana perginya dia ? Sudah berkali-kali kuhubungi melalui hp tidak diangkat, dan berkali-kali juga aku sms juga selalu gagal, hingga sore hari menjelang Mahgrib.”

Sampai dengan waktu Isya, Wulandari tetap belum juga kelihatan pulang dan tidak ada kabar beritanya. Priambada mulai mengatur/menata hatinya yang berkecamuk.

Sambil duduk melamun dalam hatinya berkata : “Sejak kecil hidupku sudah terbiasa menderita kesedihan, dan apa pun yang akan terjadi dalam perjalanan rumah tanggaku nanti, aku harus tetap kuat dan siap menghadapinya. Yang jelas  aku tidak berlaku selingkuh. Jangankan berselingkuh, sedangkan untuk memikirkannya sedikit pun juga tidak terlintas dalam benakku.

Mulai lima belas tahun yang telah lalu ketika bertemu di Kompleks Kalijodo, aku tidak punya niat sedikit pun untuk selingkuh dengan dik Wulandari. Apalagi sekarang, malahan menurut pemikiranku saat ini aku sedang melaksanakan salah satu perilaku yang terpuji : yaitu amar ma’ruf.”

Ketika Priambada sedang asyik lamunannya, tiba-tiba terdengar suara pintu rumah diketuk orang. “Siapa ya ?” sahutnya singkat.  “Mudah-mudahan saja dia adalah Dik Sitoresmi, istriku, yang pulang, katanya dalam hati.

Ketika dibukakan pintu rumahnya ternyata yang datang berkunjung adalah adik sepupunya yang bernama Bagaskara.

“Ada keperluan apa, dik Bagas ?” tanya Priambada ketika sudah duduk.

“Mbakyu marah, ngadat apa yang sebenarnya sudah terjadi, Mas Pri ?”

“Ohh…, jadi kamu sudah tahu …?” jawab Priambada .

“Tidak hanya sekedar tahu Mas, tetapi malah bertemu. Bahkan Mbakyu menceritakan segala yang telah terjadi, kepadaku dan katanya Mas Priambada mempunyai perempuan simpanan yang istilahnya disebut dengan WIL atau Wanita Idaman Lain.”

Priambada tertawa, tetapi tidak segera menjawab malahan ganti bertanya, ”Lalu kamu langsung percaya begitu saja kalau aku Mas Primu ini mempunyai perempuan simpanan, begitu  ?”

“Wah, kalau itu aku tidak bisa menjawab, Mas. karena aku belum pernah mengalami hidup berumah tangga.”

“Oleh karena itu Bagas, kamu harus segera menikah,” katanya setengah mengingatkan. “Umurmu sekarang sudah berapa ? Mengenai tunanganmu yang sudah mengingkari janji dahulu itu jangan kamu pikirkan lagi. Anggap saja dia sudah mati.”

Bagaskara hanya diam tertunduk. Dan tidak lama kemudian sambil memandang kearah kakaknya Priambada lalu bertanya, “Jadi sebenarnya masalahnya itu bagaimana Mas, kok Mbakyu sampai marah begitu. Katanya Mas Pri menemui perempuan yang sangat cantik di Alun-alun Kota Bandung, bahkan kemudian saling berpelukan. Apakah hal itu benar demikian kejadiannya ?”

“Dik Bagas sekarang dengarkan, begini ceritanya,” kata Priambada dan kemudian mulai bercerita.

“Ketika aku masih kuliah di Jakarta, dosenku yang psikiater mempunyai seorang pasien perempuan yang masih muda yang sedang mengalami stres karena seminggu sebelum akad nikah dihianati tunangannya. Stres berat hingga berperilaku seperti orang yang sudah malas untuk hidup, tetapi tidak sampai terganggu pikirannya. Jadi dia hanya patah semangat hidupnya. Dan ketika itu aku ditugaskan oleh dosenku untuk mengurusi anak perempuan tersebut.

Anaknya cantik sekali, hanya sayang kehancuran hatinya itu membuat dia menjadi seperti orang yang linglung. Padahal dia itu lulusan Madrasah Aliyah. Kemudian aku bombing dia dengan rasa kasih, dan kuanggap seperti adik kandungku sendiri, dengan harapan bisa mengembalikan semangat hidupnya, ya syukur-syukur kalau dia mau meneruskan pendidikan atau kuliah hingga lulus sarjana.

Kubesarkan hatinya, kuberikan gambaran, kalau dia jadi seorang guru kemudian mempunyai seorang suami yang statusnya melebihi mantan tunangannya, itu kan bisa disebut membalas rasa malu.

Sepertinya nasehat yang kuberikan itu bisa membangkitkan semangat hidupnya, dik. Akan tetapi karena waktu yang kumiliki sangat terbatas, keburu harus mengikuti ujian dan aku lulus lalu kembali kemari dan kejadian selanjutnya sepeninggalku, aku sendiri tidak mengerti.

Tahu-tahu di dalam acara temu kangen mantan siswa MTsN kemarin aku bertemu lagi dengannya dan sudah menjadi guru disitu. Aku menjadi sangat terkejut. Dan tentu saja aku ingin sekali mengerti tentang cerita perjalanan hidupnya,  Kemudian dia mengajak aku untuk bertemu di Alun-alun Kota Bandung, dan akan menceritakan semua pengalaman hidupnya.”

“Tetapi mengapa sampai berpelukan segala ?” tanya Bagaskara ingin tahu.

“Dia mengaku, sebab kembalinya samangat hidupnya itu karena ketika itu aku berkata kepadanya : ‘Dik Wulan, kamu kuanggap seperti adik kandungku sendiri.’

Dan dia ingin tetap menjadi adikku untuk selamanya, lebih-lebih disini dia jauh dengan sanak saudara dan juga dengan orang tuanya. Kemudian secara spontan tanpa disadari dia merangkul aku karena luapan rasa gembira sebab bisa bertemu kembali.”

Bagaskara hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. “Anaknya cantik, ya Mas ?” kemudian tanyanya agak malu-malu.

“Ohh….sangat cantik sekali. Kamu tahu artis Bella Saphira ?”

“Kalau dibandingkan dengan Bella Saphira cantik siapa,  Mas ? tanyanya lagi ingin tahu.

“Kalau ada Bella Saphira empat yang dijadikan satu, itu baru bisa menyamai kecantikannya.”

“Ahh…jangan berlebihan. Mas.”

“Kalau kamu mau, buktikan sendiri, nanti kuberi alamatnya di Rancaekek Kencana. Kalau kamu memang laki-laki sejati, sudah langsung kamu lamar saja, dia.”

“Apakah Mas Pri menganggap kalau dia itu cocok dengan aku, Mas ?”

“Wah.. ya pantas sekali !” jawab Priambada. “Kamu tampan dan dia cantik. Semua sama-sama sarjana dan sama-sama menjadi pengajar serta sama-sama pernah patah hati karena diingkari oleh tunangannya. Wahhhh….sudah…tepat sekalilah…”

Kemudian Bagaskara pergi sambil tersenyum-senyum, sepertinya dia benar-benar ingin menemui Wulandari. Oleh karena itu Priambada cepat-cepat menghubungi Wulandari melalui hp, untuk memberi tahu padanya tentang apa yang telah diceritakan kepada Bagaskara adik sepupunya mengenai pribadinya, dengan berpesan,

“….dik Wulan, jangan sekali-kali menyebut nama Kompleks Kalijodo, dan jangan sekali-kali menyinggung masa lalumu di Kompleks itu dan anggaplah bahwa pengalaman hidupmu itu tidak pernah ada, hanya sekedar sebuah mimpi belaka ketika kamu sedang tidur dan saat sekarang ini sudah hilang karena kamu sudah terbangun…”

Dari seberang terdengar suara kesanggupan Wulandari melalui HP yang siap melaksanakan semua pesan Priambada.

Hari berikutnya, pagi-pagi sekali Priambada terkejut dan heran ketika melihat Sitoresmi, istrinya pulang dengan membawa nasi kuning untuk sarapan. Sepertinya tadi mampir dulu ke Warung Mang Dasep pedagang nasi kuning yang letaknya di sudut desa. Setelah ditata diatas meja, kemudian dipergunakan untuk sarapan bareng-bareng.

Ketika semua sudah selesai sarapan, istri Wulandari berkata, “Mas Pri,  antarkan aku ke Kompleks Perumahan Rancaekek Kencana Jl. Bakung XXII No. 50.”

“Mau ketempat siapa ?” tanya Priambada.

“Ketempat orang cantik yang bernama Wulandari.”

“Apakah kamu akan memarahi dia,” tanya Priambada lagi.

“Hi – Ya,” jawab Sitoresmi pendek.

Walaupun dengan memberikan jawaban yang demikian, tetapi terlintas senyuman diwajahnya dan terlihat sangat tenang, juga sama sekali tidak menunjukkan adanya tanda-tanda bahwa dia itu sedang marah atau akan mengamuk. Priambada sendiri sudah sangat hapal dengan perilaku istrinya yang sudah dinikahinya selama bertahun-tahun itu. Maka tanpa berkomentar sedikitpun, Priambada segera menyiapkan motor kemudian langsung berangkat.

Ketika sampai di Kompleks Perumahan Rancaekek Kencana, Wulandari bertanya kepada suaminya, “Rumahnya yang mana, Mas  ?”

“Entah lah aku sediri belum pernah datang ke Kompleks Perumahan sini, jadi aku tidak tahu. Coba tanyakan saja, sana,” jawab Priambada.

Setelah bertanya kesana-kemari tentang alamat yang dicari karena semua jalan di kompleks perumahan hampir sama atau mirip sehingga membingungkan, namun akhirnya ketemu juga. Ketika sudah masuk rumah, terlihat Wulandari keheranan dan terbengong-bengong memandang kepada para tamunya, lalu melihat kearah Priambada sepertinya ada yang hendak ditanyakan.

“Ini istriku,” kata Priambada mendahului menjawab untuk memberi tahu.

Seketika itu Wulandari langsung memburu dan menyalami tangan Sitoresmi sambil berkata, “Oh.. Mbakyu. Perkenalkan Mbak, aku Wulandari.”

“Aku Sitoresmi,” jawab istri Priambada.

“Mari silakan duduk,” kata Wulandari selanjutnya.

Setelah semuanya duduk sejenak, barulah kemudian Wulandari meneruskan pembicaraannya, “Apakah ada yang hendak disampaikan kepadaku, dengan kedatangan Mbak Sitoresmi kemari ? Atau Mbak Sitoresmi akan memarahi aku ?”

“Enggak, aku mau tanya, apakah benar kalau kemarin adikku Bagaskara datang kemari ?”

“Benar, Mbak,” jawab Wulandari.

“Dia menceritakan semua tentang dirimu, termasuk hubunganmu dengan Mas Priambada, dan aku bisa mengerti. Oleh karena itu aku minta maaf, karena kemarin sudah salah paham, sebab aku sudah mengira kalau kamu ini adalah perempuan simpanan Mas Priambada.”

“Aku yang minta maaf, Mbak,” kata Wulandari. “Sebab aku merasa sangat senang dan bahagia, karena tidak menyangka sama sekali kalau bisa bertemu kembali dengan Mas Priambada, sehingga kemarin seperti tidak sadar aku memeluknya.”

“Aku sudah bisa mengerti Dik dan kamu tidak perlu meminta maaf. Hanya saja memang ada yang sedang aku pikirkan, bahwa tentang hubunganmu dengan Mas Priambada itu dapat dikatakan tidak wajar.”

“Tidak wajar yang bagaimana, Mbak ? ” tanya Wulandari ingin tahu.

“Iya, kamu itu adalah seorang gadis yang cantik, sedangkan Mas Priambada adalah seorang laki-laki tampan, guru, sarjana, dan sudah semestinya kalau seorang perempuan akan merasa senang jika menjadi istrinya. Tetapi katanya kamu merasa lebih senang kalau menjadi adiknya. Dan kupikir bahwa hal tersebut adalah aneh dan tidak umum.”

“Memang aneh dan tidak umum untuk orang yang keadaannya biasa saja atau normal. Tetapi ketika aku kenal dengan Mas Priambada lima belas tahun yang telah lewat, keadaanku tidak wajar seperti orang pada umumnya Mbak.

Ketika itu aku sedang hancur perasaan hatiku sebab ditinggal nikah oleh tunanganku. Dunia ini rasanya menjadi gelap tidak ada gemerlap cahaya sedikitpun, semua jalan rasanya buntu tidak ada yang terbuka sama sekali.

Dunia ini menjadi hampa dan kosong tidak ada isinya yang bisa membuat senang hatiku. Rasanya ingin mati tetapi tidak berani, akhirnya aku seperti orang linglung, hidup kelayapan keluar masuk gang-gang kotor dan menjadi sampah masyarakat.

Dalam keadaan yang demikian itu, kemudian Mas Priambada mendekati saya atas tugas dari dosennya. Dengan sabar dan telaten aku dinasehati, dibimbing dan dibesarkan hatiku, yang katanya bahwa aku ini adalah seorang gadis yang cantik dan pandai.

Kalau memang ingin membalas rasa malu sebaiknya kuliah kemudian menjadi guru, lalu mencari jodoh lelaki yang statusnya bisa melebihi status mantan tunanganku itu. Disitu aku merasa kembali menemukan semangat hidupku. Namun ada sebuah kalimat dari ucapan Mas Priambada yang seperti terpaku dan menancap erat dalam hatiku.”

“Bagaimana ucapan Mas Priambada itu, Dik ?” tanya Sitoresmi penuh selidik.

“Dengan rasa yang tulus yang didasarkan rasa kasih, Mas Priambada berkata : ‘Dik Wulan, kamu kuanggap seperti adik kandungku sendiri.’

Ucapan Mas Priambada yang hanya satu kalimat itu yang terdengar sangat merdu di telingaku, terasa indah dalam hatiku, seperti halnya sebuah tembang kehidupan.

Ya hanya ucapan sederhana itu yang hanya satu kalimat itu yang mampu mengembalikan semangat hidupku. Aku menjadi sadar kalau masih ada orang yang mau memperhatikanku, menghargaiku, menyayangiku. Kemudian aku pulang dan melanjutkan pendidikan sampai lulus sarjana lalu akhirnya menjadi guru di sini.

Sayangnya aku tidak mengerti, dimana Mas Priambada tinggal, sebab dia tidak memberikan alamat sama sekali. Walaupun demikian, ucapan Mas Priambada yang hanya satu kalimat itu tetap terngiang diruang dadaku dan aku ingin selalu mendengar lagi kalimat itu yang keluar dari lesan Mas Priambada. Oleh karena itu aku merasa lebih senang menjadi adik Mas Priambada daripada menjadi istrinya,” demikian penjelasan Wulandari.

Terlihat di sudut mata Sitoresmi becucuran air mata yang mengalir membasahi pipi, lalu dia mendekati Wulandari yang kemudian dipeluknya dan diciuminya perempuan cantik itu. Kemudian mereka menangis berbarengan. Setelah semuanya berhenti kemudian terdengar Sitoresmi kembali bertanya : “Dik Wulan, apakah benar kalau adikku Bagaskara kemarin juga mengatakan ingin hidup berumah tangga denganmu ?”

“Iya, Mbak,” jawab Wulandari. “Tetapi saat itu saya belum bisa memberikan jawaban, karena semuanya itu serba mendadak sekali. Saya perlu waktu untuk bergaul debih dekat dan untuk saling memahami.”

“Aku mengerti Dik. Dan aku hanya ingin memberi sebuah wawasan, bahwa Bagaskara itu adalah adik dari Mas Priambada. Kalau kamu memang mau menjadi istrinya, itu kan bukan hanya menjadi adik pengakuan atau adik angkat saja, tetapi akan benar-benar menjadi adik Mas Priambada betulan.”

“Iya Mbak itu juga yang termasuk menjadi bahan pertimbangan saya. Dan terima kasih sekali, Mbak sekeluarga berkenan menganggap saya sebagai saudara.”

Sampai disitu pembicaraan tersebut berlangsung, kemudian Priambada dan Sitoresmi istrinya berpamitan untuk pulang. Sesampai di rumah, hingga malam harinya ketika hendak tidur, Priambada selalu teringat tentang Wulandari.

Bukan Wulandari Ibu Guru Madrasah yang cantik, tetapi Wulandari  perempuan Kompleks Kalijodo limabelas tahun yang telah lalu. Karena sudah dianggap sebagai adik kandung, Wulandari yang sudah rusak hidupnya bisa kembali menjadi wanita yang terpuji. Semoga bisa menjadi teladan terhadap perempuan Kompleks Kalijodo yang lainnya.

Dalam batinnya Priambada berteriak dan mengajak : “Hai, semua saudara-saudaraku perempuan Kompleks Kalijodo, kembalilah kemari, melewati pintu tobat, mengikuti jalan yang terpuji, menuju kemuliaan hidup yang sejati.”

-o0o-

 

Untuk saudaraku para pembaca diutamakan untuk lingkungan sendiri, gubahan cerita diatas hanya merupakan sekedar contoh kejadian saja dari sekian banyak masalah kehidupan yang terjadi, melalui reka cerita dengan judul IBU GURU WULANDARI merupakan suatu peristiwa yang didalamnya memuat hikmah tentang Rasa Cemburu, Prasangka Buruk dan Priambada yang menutupi Aib Wulandari sebagai pesan moral dan bahan perenungan dalam menjalani kehidupan kita sehari-hari bermasyarakat.

 

CEMBURU

Rasa cemburu itu bagaikan dua sisi mata uang, karena rasa cemburu bisa menjadi penyelamat dan sekaligus juga bisa menjadi perusak dalam sebuah hubungan asmara.

Cemburu biasanya selalu tentang adanya orang ketiga, yang artinya bahwa kecemburuan itu terjadi ketika seseorang merasa keberadaannya terancam oleh adanya pihak ketiga. Entah karena pasangan kita yang tertarik dengan pihak ketiga atau sebaliknya.

Menurut Dr. Robert L Leahy, seorang psikolog dari Yale University, Amerika Serikat, mengatakan bahwa, sebenarnya kecemburuan lebih banyak berhubungan dengan karakter diri sendiri.

Dan kecemburuan pada hubungan asmara bisa dipisahkan ke dalam dua kategori, yaitu pertama kecemburuan seksual yang umumnya laki-laki lebih cenderung terkena dampak ini dan yang kedua adalah kecemburuan karena kedekatan emosional dan perempuan lebih berisiko mengalami kecemburuan jenis ini.

Tetapi kedua rasa cemburu itu bisa timbul karena rasa yang tidak aman tentang hubungan tersebut.

 

Sampai Batas Mana Rasa Cemburu Terhadap Pasangan itu Dapat Dikatakan Normal

Banyak orang yang mengatakan bahwa benar kalau rasa cemburu pada pasangan ketika dia melihat sedikit saja pasangannya “berubah.” Misalnya saja melihat pasangan sibuk curi-curi pandang kepada perempuan lain, yang mengakibatkan hati rasanya seperti panas terbakar.

Sehingga timbul pertanyaan : “Perempuan tadi siapa ?!”

Meskipun menguras hati, banyak orang berpendapat bahwa cemburu itu merupakan tanda cinta.

Tetapi, apakah memang benar demikian ? Namun sampai batas mana rasa cemburu itu masih bisa dibilang sehat dan sampai batas mana rasa cemburu dikatakan merusak dan hampir menjurus kearah kekhawatiran dan selalu curiga serta ingin tahu apa yang dilakukan oleh pasangan ?

 

Apa Yang Dimaksud Dengan Rasa Cemburu

Cemburu adalah insting atau naluri alami manusia, yang dirasakan ketika timbul ancaman (baik itu disebabkan oleh sesuatu hal atau oleh orang lain) yang dianggap membahayakan keberadaan dirinya.

Cemburu itu membuat seseorang merasa tidak nyaman, tidak dihargai, sensitif, marah, sedih, frustrasi dan bahkan bisa berujung pada gangguan kecemasan atau depresi. Meski pun demikian, cemburu itu merupakan hal yang alamiah dan normal dirasakan oleh setiap manusia.

 

Seperti Apa, Cemburu Yang Sehat

Menurut psikolog Anne Stirling Hastings, cemburu itu normal dan diperlukan ketika seseorang berada dalam sebuah hubungan asmara. Tetapi, orang tersebut dan pasangannya harus tahu dulu apa yang saling diinginkan dalam hubungan dan membangun batasan-batasan yang disepakati bersama.

Misalnya, mereka berdua menyepakati aturan untuk tidak jalan berdua saja dengan mantannya masing-masing. Rasa cemburu adalah tanda kalau mereka menghargai komitmen yang sebelumnya dibuat berdua, dan akan merasa kecewa kalau komitmen tersebut dilanggar.

Rasa cemburu yang mereka alami juga sebagai salah satu wujud pengungkapan bahwa mereka peduli dan ingin hubungan dengan pasangannya tetap langgeng. Pasalnya, cemburu menyebabkan lonjakan kadar hormone testosterone dan kortisol di tubuh mereka. Kedua hormone ini membuat mereka memiliki hasrat untuk mempertahankan pasangannya setiap kali dilanda cemburu. Hal ini diperkuat juga dengan adanya peningkatan aktivitas septum lateral, dengan otak yang berperan dalam mengendalikan emosi dan menjalin ikatan pada pasangan.

Oleh karena itu, mereka pun akan melakukan dengan segala cara untuk mempertahankan hubungannya. Misalnya dengan lebih memerhatikan kebutuhan pasangannya (baik kebutuhan fisik seperti makanan atau kebutuhan emosional seperti didengarkan curhatan-nya). Jadi, rasa cemburu bertindak sebagai alarm yang mengingatkan bahwa hubungan asmara memang harus selalu dibina, bukan dibiarkan begitu saja.

Namun demikian, Hastings menyatakan bahwa rasa cemburu bisa dibilang sehati ketika seseoang itu tetap mampu untuk berpikir logis, tidak membesar-besarkan masalah sehingga dibiarkan berlarut-larut. Jika memang merasa cemburu, sebaiknya ungkapkanlah langsung kepadanya, bukan dengan cara menghardik dan akhirnya menjadi sebuah bertengkar yang sebenarnya tidak perlu.

Misalnya saja begini, seseorang itu mencurigai adanya pihak ketiga dalam hubungan mereka berdua. Di saat seperti ini, seharusnya tidak membiarkan rasa cemburu itu membabi buta dalam hati. Cemburu yang sehat adalah ketika mereka mampu menenangkan diri dan mulai membicarakan masalah tersebut pada pasangannya. Mereka bisa berbicara dengan baik-baik tanpa dikendalikan oleh emosi.

Ketika pasangan itu sedang menjelaskan jawaban dari pertanyaan yang diajukan, seharusnya seseorang itu mau mendengarkan dengan baik dan mengesampingkan rasa curiga yang berlebihan. Jika rasa cemburu ini bisa diselesaikan dan dilewati dengan baik, maka hal tersebut justru akan bisa memperkuat rasa cinta dan komitmen antara mereka berdua.

 

Seperti Apa Cemburu Yang Tidak Sehat

Perbedaan antara cemburu yang sehat dan tidak sehat ini sebetulnya bisa dibedakan dari bagaimana cara dalam menghadapinya. Jika seseorang itu berubah menjadi cemas, khawatir dan menunjukkan perilaku curiga dan selalu ingin tahu, misalnya seperti menge-cek hape pasangan, cek sms dan chat, menjawab panggilan masuk, meng-kepo-in Facebook dan email, atau secara diam-diam mengikuti pasangan kemana pun dia pergi – maka harus berhati-hati, karena hal ini bisa menjadi pertanda cemburu yang tidak sehat.

Oleh sebab itu harus dicoba untuk berusaha mengendalikan diri, karena semakin terlibat dalam perilaku seperti itu akan semakin memperbesar kecemburuan. Bahkan ada beberapa orang yang cemburu sampai melarang pasangannya keluar rumah atau memintanya untuk tidak berteman dengan orang lain yang dicemburuinya tersebut.

Karena ancaman rasa takut dan pikiran yang terus menerus dihantui hal yang negative ini, maka tidak ayal lagi akan membuat seseorang itu menuduh pasangannya berselingkuh. Dan tidak jarang rasa cemburu yang tidak sehat ini bisa menyebabkan adanya konflik, perpisahan atau bahkan kekerasan di dalam hubungan.

 

Apa Yang harus Dilakukan Ketika Merasa Cemburu Dengan Pasangan

Salah satu hal yang bisa meredakan perasaan cemburu dan tidak nyaman adalah dengan membangun kepercayaan pada diri sendiri dan pada pasangan. Tanamkan selalu dalam hubungan tersebut bahwa komunikasi itu penting dalam hubungan asmara. Seseorang itu dengan pasangannya harus sama-sama berkomitmen untuk saling terbuka pada saat masalah melanda, terutama soal kecemburuan.

Mengungkapkan rasa cemburu dengan marah, menyindir halus atau menuduh pasangan dengan hal macam-macam tidak akan membuat suasana menjadi lebih baik.  Rasa penasaran itu pun tidak mungkin akan terjawab.

Ada baiknya kalau selalu di komunikasikan dengan baik-baik dan kepala dingin. Kemudian, jelaskan perasaan tersebut dan diskusikan berdua bagaimana cara untuk menemukan jalan keluar atau solusinya. Hal ini akan memungkinkan bahwa seseorang lebih merasa lega dan puas dalam mengungkapkan isi hati dan mencegah pasangannya menjadi bingung oleh perilaku cemburu tersebut.

 

-o-

 

PRASANGKA BURUK

Seperti halnya cerita diatas, bahwa Sitoresmi berprasangka buruk kepada Priambada suaminya yang berlaku selingkuh dan Wulandari sebagai Wanita Simpanan.

Dalam kehidupan sehari-hari mungkin banyak ditemukan adanya berbagai macam prasangka buruk seseorang terhadap orang yang lain. Buruk sangka kepada orang lain atau yang dalam Bahasa Arabnya disebut su’uzhan biasa atau bahkan sering hinggap dan berada di dalam hati.

Orang yang memiliki sifat buruk sangka, akan selalu dipenuhi rasa curiga dan was-was dan dapat membuat dirinya menjadi tidak nyaman apabila bersama dengan orang lain.

Dan pada umumnya tuduhan dari prasangka buruk itu tidak dibangun di atas bukti yang cukup dengan kalimat yang berbeda bahwa terkadang prasangkaan itu tidak berdasar dan tidak beralasan.

Su’uzhan adalah sebuah  penyakit hati, dan dampak yang ditimbulkan adalah terjadi asal tuduh saja kepada orang lain., misalnya si A begini, si B begitu, si C demikan, dan seterusnya dengan perkataan lain adanya saling memfitnah satu sama lain atau saling menyalahkan satu sama lain.

Padahal su’uzhan kepada sesama manusia tanpa ada alasan atau bukti yang benar dalam ajaran agama apapun juga merupakan hal yang sangat dilarang.

 

-o-

 

MENUTUPI AIB

Secara bahasa AIB dapat diartikan sebagai cacat, cela, kesalahan, kelemahan atau kekurangan.

Dalam cerita diatas diceritakan bahwa Priambada menutupi cacat atau kesalahan yang telah dilakukan Wulandari dan bahkan berusaha untuk mencarikan jodohnya.

Bisa dikatakan bahwa manusia adalah produsen aib dan kini aib bukan lagi dilakukan dalam ruang-ruang gelap agar tidak ketahuan atau tercium baunya. Justru aib diproduksi secara masal tanpa mengindahkan lagi rasa malu. Manusia yang dikatakan sebagai makhluk sempurna itu telah  secara sadar menyebar sendiri aib-aibnya.

Manusia pada zaman yang disebutkan sebagai modern dengan teknologi yang serba maju ini jika diperhatikan menjadi kan aib sebagai barang dagangan. Aib ia tukar dengan polularitas.

Banyak dari kaum perempuan, baik itu ibu-ibu ataupun remaja putri, senang bergunjing atau ngerumpi untuk membicarakan aib, cacat atau cela yang ada pada orang lain, dan itu bukanlah merupakan perkara yang besar. Mungkin menurut pengertian mereka hal tersebut adalah hal yang terbilang remeh, ringan sehingga begitu mudah meluncur dari lisan. Seolah-olah obrolan itu tidak akan asyik apabila tidak membicarakan kekurangan orang lain. “Si Dadap beginilah dan Si Waru begituah..”  dan sebagainya.

Ketika sedang asyik membicarakan kekurangan orang lain seakan lupa dengan kekurangannya sendiri. Seolah sendirinya sempurna tiada cacat ataupun cela. Ibarat kata pepatah, “Kuman di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tiada tampak.”

 

Perbuatan seperti itu selain tidak pantas juga tidak baik menurut perasaan dan akal sehat karena melukai serta merugikan orang lain, juga ajaran agama pun tidak memperbolehkannya bahkan menekankan untuk melakukan hal yang sebaiknya yaitu menutup dan merahasiakan aib orang lain.

Yang harus diketahui bahwa bagi mereka yang suka menceritakan kekurangan dan kesalahan orang lain, maka kesalahan yang ada pada dirinya sendiri pun sebenarnya tidak aman untuk tidak diceritakan pada orang lain lagi.

 

Tak ada manusia yang serba sempurna

Saat sekarang ini tidak ada manusia yang dikatakan sempurna dalam  segala macam hal. Selalu saja ada kekurangan. Boleh jadi ada yang bagus dalam rupa, tetapi ada kekurangan dalam gaya berbicara, bagus dalam penguasaan ilmu, tetapi tidak mampu menguasai emosi kalau ada singgungan. Dengan perkataan yang berbeda, kuat di satu sisi tapi lemah di sisi yang lain.

Dari situlah seorang harus cermat dalam mengukur penilaian terhadap orang lain. Apa yang menjadi kekurangan dan kesalahannya. Mengapa bisa terjadi seperti itu dan seterusnya.

Seperti apa pun orang yang sedang dinilai, tetapi keadilan tak boleh dilupakan. Walau terhadap orang yang tidak disukai sekali pun. Harus yakin bahwa di balik keburukan sifat seseorang, pasti ada kebaikan di sisi yang lain. Tidak boleh main ‘pukul rata’ : Ah, orang seperti itu memang tidak pernah bisa baik !”

Dari timbangan yang adil itulah, penilaian jadi proporsional. Tidak dengan serta-merta mencap bahwa orang itu pasti salah. Mungkin, ada penyebabnya yang membuat dia menjadi lalai, lengah dan kehilngan kendali. Atau bahkan boleh jadi, andaikata pada posisi dan situasi yang sama, diri-sendiri pun mungkin belum tentu lebih bagus dari orang yang di nilainya.

 

Harus melihat kekurangan pada diri sendiri sebelum menilai dan memperhatikan kekurangan pada orang lain

Ego manusia akan selalu mengatakan kalau “Sayalah yang selalu benar, dan orang lain yang salah,” dan seterusnya. Dan dominasi ego yang seperti itulah yang seringkali membuat timbangan penilaian jadi tidak adil. Kesalahan dan kekurangan orang lain begitu jelas, tapi kekurangan pada diri-sendiri tidak pernah terasa dan tidak pernah terlihat.

Jadi sebelum memberi reaksi penilaian terhadap aib orang lain, haruslah melihat secara jernih seperti apa mutu diri sendiri. Lebih baikkah, atau jangan-jangan malah jauh lebih buruk.

Harus memandang aib orang lain dengan pandangan baik sangka, misalnya :

Mungkin dia terpaksa dalam melakukan hal terseubt;.

Mungkin itu adalah pilihan buruk dari sekian yang terburuk;

Mungkin langkah nya itu jauh lebih baik dari diri-sendiri, andaikata berada pada situasi dan kondisi yang sama.

 

 

Membuka kekurangan orang lain berarti memperlihatkan kekurangan diri-sendiri

Jika ada seseorang yang nampaknya tekun dan taat dalam beribadah kemudian membuka dan memberitakan kekurangan orang lain, ada dua kesalahan yang dilakukan secara bersamaan :

Pertama, Ada citra baik orang-orang beriman dan beragama yang arif dan bijaksana menjadi terkotori.  Sehingga akan timbul ucapan : “Yah sama saja, keimanan tidak bisa jadi jaminan !” dan seterusnya.

Kedua, Orang yang senang menyebarkan kekurangan orang lain, sebenarnya tanpa sadar sedang memperlihatkan jati dirinya yang asli. Antara lain, tidak bisa memegang rahasia, lemah dalam kesetiakawanan, dan penyebar berita bohong.

Jadi semakin banyak kekurangan orang lain yang di sebarkannya, maka akan nampak semakin jelas kekurangan atau keburukan diri dari orang yang menyebarkannya itu.

-o-

 

 

 

Sebuah anekdot :

 

“ISTRI YANG BIJAKSANA”
     
Istri : Saya tidak pernah Menolak laki-laki ber-Poligami…..!!!
     
Suami : Wah….hebat Bu….!!!
     
Istri : Saya juga tidak akan pernah “Larang,” kalau seorang Suami ingin nikah lagi…..!!!
     
Suami : Benar-benar Bijaksana dan Taat ibu ini…

Yang Penting kan bisa Adil ya Bu……….….!!!?

     
Istri ; Bukan…………….!!!

Yang penting………….bukan Suami saya…..!!!!

 

-o0o-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *