CINTA SEORANG KAKEK

CINTA BISA HADIR KARENA ADANYA PERKENALAN, DAPAT BERSEMI KARENA ADANYA  PERHATIAN DAN BERTAHAN KARENA ADANYA KESETIAAN DAN PENGURBANAN.

JIKA SESUATU ITU SUDAH DITAKDIRKAN UNTUK SESEORANG, MAKA SAMPAI KAPANPUN  DIA TIDAK AKAN PERNAH MENJADI MILIK ORANG LAIN.”

DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI BANYAK ORANG YANG TIDAK MENGHARGAI ARTI PENGURBANAN DAN BARU MENYESAL SETELAH KEHILANGAN ORANG YANG DICINTAINYA.

TENTANG KEBERSAMAAN DAN KESETIAAN SESEORANG BISA BELAJAR DAN MENCONTOH DARI SEPASANG SEPATU :

BENTUKNYA TIDAK PERSIS SAMA, NAMUN SERASI……………

SAAT BERJALAN TIDAK PERNAH KOMPAK, AKAN TETAPI TUJUANNYA SAMA……………

TIDAK PERNAH BERGANTI POSISI, NAMUN MEREKA SALING MELENGKAPI…………

TIDAK PERNAH BERGANTI PASANGAN WALAU SUDAH USANG DAN DIMAKAN USIA……………

MEREKA SEDERAJAT, TIDAK ADA YANG MERASA LEBIH TINGGI ATAU MERASA LEBIH RENDAH……………

APABILA YANG SATU HILANG, MAKA YANG LAIN TIDAK MEMILIKI ARTI ………

TIDAK PERNAH SALING MENGINJAK ATAU SALING MENENDANG………………

WALAUPUN TIDAK PERNAH JALAN BERGANDENGAN DAN SELALU YANG SATU DIDEPAN DAN YANG LAIN DIBELAKANG, TETAPI JUGA TIDAK AKAN PERNAH MENINGGALKAN SATU SAMA LAIN…

SEPATU SELALU SEJALAN SAMPAI TUA.

 

P

agi itu klinik sangat sibuk. Kurang lebih sekitar pukul 9.30 seorang kakek yang berusia lebih dari 70-an tahun datang dengan maksud untuk membuka jahitan pada luka di ibu-jari tangan kanannya.

Suster Rengganis menyiapkan berkasnya dan kemudian meminta Kakek Tua itu untuk duduk menunggu, sebab saat ini semua dokter masih atau sedang sibuk dan kemungkinan kakek itu baru dapat ditangani setidaknya kurang lebih 1 jam lagi.

Sewaktu sedang menunggu, kakek tua itu nampak gelisah, karena terlihat sebentar-sebentar melirik kearah jam tangan yang dipakainya.

Suster Rengganis merasa kasihan kepada kakek tua itu. Maka ketika kesibukannya sedang agak luang, suster itu menyempatkan diri untuk memeriksa luka kakek tua itu. Hasilnya memang nampak cukup baik, lukanya sudah mengering dan tinggal membuka jahitan serta memasang perban yang baru.

Pekerjaan itu memang tidak terlalu sulit, sehingga atas persetujuan dokter, Suster itu memutuskan untuk melakukannya sendiri.

Sambil menangani lukanya, Suster Renggnis bertanya, “Pak Sani Sumirat, apakah Bapak punya janji yang lain sehingga nampaknya seperti terburu-buru ?”

Lelaki tua itu menjawab,  “Tidak, suster. Saya hanya hendak pergi ke rumah jompo untuk makan siang bersama Kurniasih, istri saya. Hal seperti ini selalu saya lakukan pada setiap harinya.

Kurniasih, istri saya saat ini sedang dirawat disana sudah sejak beberapa waktu lamanya, karena mengidap penyakit Alzheimer.”

Lalu Suster Rengganis bertanya lagi, “Apakah istri Bapak akan marah, kalau Bapak datang terlambat ?”

Kakek tua itu menjawab, “Tidak Suster, Kurniasih istri saya itu, sekarang sudah tidak dapat mengenali saya lagi, dan itu sudah berjalan sejak kurang lebih 5 tahun terakhir ini.”

Suster Rengganis sangat terkejut dan kembali bertanya, “Dan Pak Sani masih pergi ke sana setiap hari walaupun Bu Kurniasih istri Bapak sudah tidak bisa mengenali Bapak lagi ?”

Sejenak Kakek tua itu tertunduk dan diam sambil menarik napas panjang, mungkin pikirannya sedang melayang kemasa lampau dan teringat kembali bagaimana suka duka perjalanan hidupnya ketika hendak mempersunting istri yang sangat dicintainya itu ketika masih muda remaja dahulu.

Adapun cerita Perjalanan Hidup kakek tua Sani Sumirat itu adalah sebagai berikut :

Kurang lebih lima tahun lamanya Sani Sumirat berada di Jakarta, dan dia sudah merasa senang dan betah berada di sana. Karena usahanya membuka Warung Soto Ayam berjalan dengan baik dan lancar. Pelanggannya pun sudah banyak sekali. Sebagian besar mereka itu berasal dari daerah Jakarta sendiri, Jawa Tengah atau Jawa Barat, yang sama-sama pergi mengembara.

Sani Sumirat sendiri tidak pernah menyangka kalau dia bakal betah tinggal di kota besar itu. Sebab kepergiann dari kampung halamannya dahulu setengah terpaksa dan nekat, karena menderita rasa malu yang amat sangat. Sani Sumirat melarikan di ke Jakarta karena ingin menyembunyikan muka dan menjauh dari orang-orang sekampung yang mengerti tentang peristiwa yang menimpanya dahulu.

 Ceritanya, adalah dahulu ketika Sani Sumirat masih berpacaran dengan Kurniasih, anak perempuan dari Pak Sudarsana. Mereka sudah sama-sama mantap untuk melangsungkan hubungannya ke jenjang pernikahan untuk membina sebuah keluarga. Akan tetapi begitu Sani Sumirat melamar, dia ditolak mentah-mentah oleh Pak Sudarsana ayah dari Kurniasih.

Nah, dimulai dari situ lalu timbul perasaan bahwa mukanya itu menjadi mengecil seakan-akan sampai sebesar sendok makan. Karena sudah tidak kuat lagi untuk menahan rasa malu yang amat sangat dan menekan perasaan hati ini maka dia terus pergi ke Jakarta untuk mengadu nasib disana.

Lima tahun lamanya Sani Sumirat tidak pernah pulang. Dalam hatinya dia bertekad : “Kalau pulang nanti, aku harus sudah bisa menggandeng seorang calon istri yang cantik yang bisa melebihi cantiknya Kurniasih.”

Dan itu sepertinya sudah merupakan sebuah harga mati yang tidak bisa ditawar lagi.

Tetapi tba-tiba saja menjelang bulan puasa Sani Sumirat menerima pesan singkat melalui sms dari Pak Priambada ayahnya, yang bunyinya antara lain sebagai berikut : “Sani, kamu harus segera pulang, nak. Karena saat ini ibumu sedang dirawat di Rumah Sakit dan selalu menanyakan tentang dirimu.” 

Dan seketika itu juga Sani Sumiorat langsung pulang ke kampung halaman untuk menengok ibu yang sedang sakit dan dirawat. Begitu sampai di rumah dia langsung pergi ke rumah sakit.

Ketika mengetahui kedatangan anaknya Bu Sumiarsih, ibunya Sani Sumirat langsung bangun dan terus merangkul anaknya dengan erat sekali sambil menangis.

“Ohh Sani….anakku, mengapa kamu nggak pernah pulang dan tidak pernah memberi kabar berita kepada ibumu ini, nak ?” tanya Bu Sumiarsih disela-sela isak tangisnya.

“Kalau hanya ditolak oleh Sudarsana, apakah tidak ada lagi gadis yang cantik selain dari anaknya Sudarsana ? Menjadi lelaki itu jangan mudah menyerah dan sempit pola pikirmu, nak,” kata Bu Sumiarsih kembali.

Dan masih banyak-banyak lagi kata-kata yang disampaikan ibu pada anaknya, kalau direnungkan dan diresapi sebenarnya bahwa ibu itu sedang memarahi anaknya tetapi dengan cara yang sangat halus. Tetapi di sisi lain hati Sani Sumirat menjadi sangat senang, karena semenjak dia menunggui ibunya, kesehatan ibu itu semakin hari menjadi semakin membaik.

Dua hari kemudian Bu Sumiarsih langsung sehat dan diperbolehkan untuk pulang. Melihat kenyataan yang ada dan membuat Sani menjadi yakin bahwa yang menyebabkan sakit ibunya itu adalah karena terlalu memikirkan dia.

Labih-lebih lagi setelah berada di rumah Bu Sumiarsih bertanya pada anaknya : “Sani anakku, apakah kamu tidak bisa kalau mencari rejeki disini saja, dikampung sendiri. Disana atau disini kan sama-sama bumi milik Allah dan disana atau pun disini ditaburi rejeki yang sama untuk para umatNya.”

Pada dasarnya nasihat itu agak menyudutkan, namun bisa mengerti kalau ibu itu ingin anaknya tetap berada di rumah atau di kampung sendiri. Tetapi alasan utama Sani Sumirat pergi ke Jakarta itu bukan persoalan tentang mencari rejeki, tetapi alasan yang sebenarnya adalah hanya untuk menghindari rasa malu yang menampar muka karena lamarannya ditolak oleh Pak Sudarsana.

Seperti mengerti isi hati anaknya, Bu Sumiarsih meneruskan pembicaraannya : “Sani anakku, kalau kamu ditolak oleh Pak Sudarsana itu sebenarnya bukan kesalahanmu tetapi itu karena kesalahan ibumu, nak.”

“Kesalahan ibu ? Jelasnya bagaimana ceritanya bu ?” tanya Sani Sumirat dengan sangat ingin tahu.

“Dahulu pada saat Ibu masih muda, Pak Sudarsana pernah menaksir dan mau memacari ibu, tetapi ibu menolaknya. Mungkin sepertinya masih ada perasaan marah atau mendendam pada ibu hingga sekarang.”

Sani Sumirat hanya mengangguk-anggukkan kepala, kemudian ibu Sumiarsih meneruskan pembicaraannya : “Tetapi kamu jangan khawatir atau berkecil hati. Kalau kamu memang mencintai Kurniasih kamu pasti akan mendapatkannya.”

“Lalu caranya bagaimana, bu ?” kembali tanya Sani Sumirat dengan perasaan sangat ingin tahu.

“Sekarang yang penting bahwa kamu harus menurut apa kata ibu. Yang utama kamu harus pulang dan mencari rejeki di desamu ya di kampung sini, hitung-hitung meramaikan suasana desa ini,” kata Bu Sumiarsih.

“Ya Bu, saya akan menuruti semua apa yang ibu katakan. Kalau begitu secepatnya saya akan segera kembali ke Jakarta, dan mengemasi semua barang-barang yang ada serta mengambil uang tabunganku,” jawab Sani Sumirat.

Selama bulan Ramadhan Sani Sumirat berada di Jakarta . Warung Soto yang sudah banyak langganannya itu di jual dan kemudian dibeli serta digantikan oleh seorang teman yang sama-sama merantau, tetapi sebagian alat-alat masak yang masih diperlukan seperti, gelas, piring, dan mangkok dibawanya pulang, sebab di desa nanti dia akan membuka warung soto juga.

Uang hasil penjualan warung tersebut, oleh Sani dipakai untuk membeli sebuah mobil bekas, Suzuki Carry Bak. Untuk barang-barang yang besar seperti, meja, kursi, lemari, tempat tidur tidak diangkut karena akan memenuhi bak mobil, dan di kasih-kasihkan kepada tetangga kiri kanan agar menjadi kenang-kenangan.

Sedangkan barang lain seperti kulkas, TV, pakaian dan piring, mangkok, sendok, gelas serta alat masak soto semuanya masuk ke dalam mobil.

Seusai sholat Iedul Fitri dan keliling untuk bersilaturakhmi, pada sore hari menjelang malam Sani Sumirat berangkat pulang dengan mengendarai mobil yang disetiri sendiri.

Karena menurut perhitungannya kalau malam hari mungkin jalan sudah tidak begitu penuh sehingga tidak terlalu banyak yang macet. Dan tenyata perkiraannya benar, perjalanan lancar sampai ditempat. Kurang lebih pukul sepuluh malam sudah sampai dirumah. Setelah menurunkan barang-barang dan meletakannya begitu saja dilantai, Sani Sumirat pergi mandi lalu makan dan kemudian langsung tidur karena kelelahan.

Pada keesokan pagi harinya, ketika bangun tidur dan hendak mengatur serta membereskan barang-barang yang masih berantakan karena semalam diletakkan begitu saja di lantai, Sani Sumirat kebingungan karena kehilangan semua barang pecah belah dan alat memasaknya karena barang-barang yang dicarinya tersebut sudah tidak ada lagi ditempatnya semula. Yang tinggal hanya kulkas, Pesawat TV dan  DVD serta koper tempat pakaian.

“Bu peralatan masak sotoku ada dimana, Bu ? Sani Sumirat menanyakan pada ibunya, dan dijawab oleh Bu Sumiarsih sambil tertawa perlahan :

“Oh iya, tadi sesudah sholat subuh, barang-barang itu sudah dibawa ke Warung.”

“Dibawa ke Warung ? tanyanya keheranan. “Warung apa, Bu  ?” tanyanya lagi.

“Ya Warung Soto, lah, ” jawab Bu Sumiarsih.

“Warung milik siapa, Bu  ?” tanya Sani yang mengejar, karena ingin tahu.

“Ya Warung Soto milik Kurniasih, yang terletak dipojok kampung yang didirikan diatas tanah peninggalan kakekmu. Ya cepat sekarang kamu pergi kesana Kurniasih dibantu memasak soto. Sebab kalau kamu yang memasuk, pasti nanti warung itu akan bertambah laku,” kata ibu Sumiarsih lagi.

Sani Sumirat segera berangkat menuju kebon kakeknya yang berada dipojok kampung. Dia ingin menyatakan dan melihat sendiri apa yang sudah dikatakan ibunya tadi. Dan ternyata memang benar. Di sana  ada sebuah rumah kecil yang bertuliskan : “Warung Soto Ayam Hati Rindu.”

Nama Warung tersebut sama persis dengan nama Warung Soto milik Sani Sumirat yang di Jakarta. Begitu datang Sani Sumirat sudah disambut oleh Kurniasih, dan katanya  : “Wah kebetulan Kang Sani datang kesini. Kang tolong dong, masakanku ini coba dicicipi dan dirasakan, kira-kira apanya yang kurang.”

Sani Sumirat hanya menurut saja, karena yang minta tolong adalah orang yang cantik dalam pandangan matanya. Begitu dicicipi, ternyata masakan tersebut memang sudah enak rasanya. Hanya ada kurangnya sedikit.

“Selera pembeli disini kan agak manis. Coba tambahkan gula sedikit lagi. Kamu menggunakan gula apa ?” tanya Sani kepada Kurniasih.

“Gula Jawa,” jawabnya sambil menunjukkan gulanya.

“Betul, dengan menggunakan Gula jawa rasanya akan lebih sedap. Sekarang tambahkan sedikit lagi,” kata Sani Sumirat.

Setelah menambahkan sedikit gula, kemudian Kurniasih memanggil seorang anak perempuan yang bekerja untuk membantunya masak didapur, untuk diperkenalkan kepada Sani Sumirat.

“Erna, ini Kang Sani Sumirat, kakak angkatku.”

“Oh, jadi Kang Sani adalah putra kandungnya ibu  Sumiarsih ?”

“Iya betul. Dia nanti yang akan menjadi akhli masak di warung ini, Ishaa Allah akan menjadi laris, karena Kang Sani adalah akhli dalam memasak Soto,” Kurniasih menjelaskan.

Sani Sumirat hanya melongo saja mendengar apa yang dikatakan Kurniasih tadi. Karena tidak mengerti sama sekali apa yang menjadi kemauan sebenarnya. Oleh karena itu setelah Erna kembali mengahadapi kompornya melanjutkan tugasnya, Sani bertanya kepada Kurniasih :

“Kamu tadi berbicara apa, Dik ?”

“Ingin mengerti apa yang kukatakan ?” jawabnya balik bertanya.

“Iya.”

Kurniasih mulai bercerita ;

“Menjelang puasa waktu itu, setelah Kang Sani kembali ke Jakarta, aku bilang pada Bapak ingin cari pekerjaan di Jakarta. Tetapi Bapak tidak mengijinkan, namun aku tetap memaksa. Maka terjadilah percekcokan antara aku dengan Bapak. Ketika itu Bu Sumiarsih, ibumu datang kerumahku, dan bilang pada Bapak : “Anakmu itu kesepian karena menganggur dan tidak ada kegiatan. Agar tidak jadi pergi ke Jakarta, maka akan aku ajari dia bekerja, tapi dengan satu syarat bahwa dia harus boleh ku ambil sebagai anak angkat.”

Bapak bertanya : “Mengapa pakai diangkat anak angkat segala ?”

Dijawab oleh ibumu : “Supaya aku tidak ragu-ragu untuk mengajarinya. Hitung-hitung sebagai gantinya anak lelakiku yang pergi sebab telah kau tolak pinangannya.”

Malahan ibu terus menggertak : “ ‘Kalau nggak boleh ya nggak apa-apa, tapi kalau kemudian anakmu nekat pergi ke Jakarta seperti anakku  dahulu, kamu jangan merasa kehilangan.’

Mendengar kata-kata ibumu demikian itu, akhirnya bapak setuju kalau aku dijadikan anak angkat Bu Sumiarsih, ibumu.”

“Jadi sekarang kamu adalah…..”

“Ya Kang, aku ini adik angkatmu. Oleh karena itu mulai besok Kang Sani harus berada di warung ini untuk membantu aku memasak soto, sebab masakan Kang Sani lebih enak maka warung ini akan menjadi semakin laku.”

Tiba-tiba Sani Sumirat pun jadi teringat dengan kata-kata yang diucapkan oleh ibunya ketika menjelang puasa waktu itu : “Sani kamu harus menurut apa kata ibu.”

Maka dari itu Sani pun terus menurut apa yang dikatakan oleh ibunya. Hari selanjutnya, pagi-pagi sekali Sani Sumirat sudah pergi ke Warung Soto Hati Rindu untuk memasak soto. Ternyata perasaan hatinya malahan menjadi tenang dan tenteram, seakan-akan sedang memasak di Warung Soto Hati Rindu miliknya sendiri di Jakarta. Akhirnya Sani Sumirat pun merasa betah berlama-lama berada di warung soto sampai sehari penuh hingga sotonya habis terjual.

Setelah pulang dan setibanya dirumah Sani Sumirat merasa heran, ketika melihat Bapak dan Ibu  nya sudah berdandan rapih.

“Hendak pergi kemana , Bu ?” tanya Sani ingin tahu.

“Hayo kamu juga harus ikut. Kita ber Silaturahkmi Iedul Fitri kerumah Pak Sudarsana,” jawab ibunya.

Bu Sumiarsih lalu berbisik-bisik, memberitahu rencananya kepada Sani Sumirat anaknya, kemudian mereka langsung berangkat pergi. Sesampainya di rumah Pak Sudarsana mereka, disambut oleh semua keluarganya, yaitu : Bapak Sudarsana sendiri, Bu Sulasmini istrinya, Kurniasih dan juga adiknya. Setelah bersalam-salaman serta mengucapkan Selamat Hari Lebaran dan saling maaf memaafkan antara Bapak dan ibu  Priambada dengan Bapak dan ibu Sudarsana.

Kemudian disambung lagi oleh Kurniasih lalu dilanjutkan adiknya yang bersalaman kepada Bapak Priambada dan ibu Sumiarsih. Dan berikutnya tiba giliran Sani Sumirat untuk bersalaman kepada ibu Sulasmini dan  kemudian ke Bapak Sudarsana.

Tiba-tiba saja hati Sani Sumirat menjadi bergemeteran, dada terasa agak sesak, karena nafasnya yang memburu dan detak jantungnya menjadi semakin cepat.

Setelah nafasnya sudah bisa diatur dan tidak memburu lagi serta detak jantung tidak menjadi semakin cepat dan berangsur normal, dengan hormat Sani Sumiorat berkata :

“Bapak Sudarsana, kedatangan saya kemari adalah yang :

“Pertama menyampaikan salam hormat, semoga Bapak berkenan untuk menerimanya.”

“Iya, nak. Salam Hormatmu aku terima,”jawab Pak Sudarsana.

“Ke dua : Saya memohon maaf atas segala kesalahan yang pernah saya lakukan terhadap Bapak.”

“Iya, semua kesalahanmu sudah kumaafkan.”

“Ke tiga : saya mohon doa restu, karena tidak lama lagi saya akan menikah.”

“Oh iya, iya kalau itu aku merestuimu. Tetapi kamu akan menikah dengan siapa nak ?” 

“Wah, agak susah saya mengatakannya. Saya akan menikah dengan gadis yang cantik sekali, paling cantik sekecamatan.”

“Wah ya syukulah nak, kalau begitu. Betul sekali, mencari istri harus memilih yang betul-betul cantik. Aku restui dan kudoakan agar perjodohanmu bisa awet dan rukun untuk selamanya. Tetapi sebagai orang tua, aku juga ingin tahu, calon istrimu itu siapa dan anak dari mana ?”

“Pokoknya, anaknya paling cantik sekecamatan, Pak.”

“Iya, bapak percaya tentang hal itu, karena kamu orangnya juga gagah, cakep jadi kalau isrimu kelak cantik ya pasti cocok dan sesuai. Anak mana dan namanya siapa serta anaknya siapa. Tidak usah merasa rikuh atau malu-malu untuk mengatakannya, aku biar tahu,” pinta Pak Sudarsana.

Hati Sani Sumirat berdebar kencang, jantung berdetak semakin cepat, dadanya terasa menyesak dan napasnya pun agak memburu. Sepertinya Sani sudah tidak bisa berbicara lebih banyak lagi, hanya satu kalimat saja yang keluar dari mulutnya :

“Dik Kurniasih, Pak.”

“Ohhh….. Kurniasih,” kata Pak Sudarsana menirukan ucapannya. “Kalau itu…..nanti dulu, aku harus menghitungnya.”

Setelah berkata demikian Pak Sudarsana masuk ke kamar belakang, sampai beberasa saat lamanya. Suasana menjadi sepi dan tegang karena tidak ada orang yang berbicara sedikitpun.. Hal itu yang menyebabkan dada Sani menjadi semakin menyesak, dan napasnya bertambah memburu, dan jatungnya pun semakin cepat berdetak.

Setelah mereka kembali duduk ditempat semula, kemudian Pak Sudarsana pun berkata :

“Besok Besar tanggal duapuluh, hari Minggu Wage.”

“Maksud Bapak ?” tanya Sani Sumirat ingin tahu.

“Aku tadi sudah bilang : Aku merestuimu. Jadi aku tidak bisa mencabut kembali ucapanku itu. Nanti hari Minggu Wage tanggal duapuluh kamu akan kunikahkan dengan anakku Kurniasih.”

Dan Plong, seketika itu juga dada Sani Sumirat terasa longgar dan lapang, napasnya pun terasa menjadi amat ringan serta detak jantungnya pun bersangsur normal. Perasaannya saat itu dunia menjadi sangat terang, karena hati yang berbunga-bunga dan semua yang ada disana terlihat cakap dan cantik. Dan Kurniasih lah yang kelihatan paling cantik, tidak hanya sekacamatan, tetapi paling cantik sedunia. Dunianya Sani Sumirat sendiri dan bukan dunianya orang lain.

-o-

Tiba-tiba saja Pak Sani Sumirat, kakek tua itu mengangkat wajahnya dan tersenyum kearah Suster Rengganis, sambil menepuk tangan suster itu dan berkata, “Istri saya memang sudah tidak mengenali saya suster, tetapi saya masih mengenali dia, kan ?”

Suster itu hanya bisa diam karena menahan air matanya agar tidak mengalir jatuh, sampai Pak Sani Sumirat kakek tua itu pergi, dan tangannya yang tadi ditepuk oleh kakek itu masih tetap merinding.

Dalam hatinya Suster Rengganis berkata :

“Cinta kasih seperti itulah yang saya inginkan dalam hidupku. Cinta yang sesungguhnya tidak bersifat fisik atau romantis.

Cinta sejati adalah menerima apa adanya yang terjadi saat ini, yang sudah terjadi, yang akan terjadi, dan yang tidak akan pernah terjadi.

Orang yang paling berbahagia tidaklah harus memiliki segala sesuatu yang terbaik, melainkan mereka dapat berbuat yang terbaik dengan apa yang mereka miliki.”

 

–o0o–

 

Untuk saudaraku para pembaca diutamakan untuk lingkungan sendiri, gubahan cerita diatas hanya merupakan sekedar contoh kejadian saja dari sekian banyak masalah kehidupan yang terjadi, melalui reka cerita dengan judul CINTA SEORANG KAKEK merupakan suatu peristiwa yang didalamnya memuat hikmah tentang Cinta, Kesetiaan dan Pengurbanan sebagai pesan moral dan bahan perenungan dalam menjalani kehidupan kita sehari-hari bermasyarakat.

 

Cinta

Menyimak cerita diatas bahwa cinta bisa hadir karena adanya perkenalan, dapat bersemi karena adanya perhatian dan bertahan karena adanya kesetiaan dan pengurbanan.

 

Membicarakan tentang cinta memang tidak akan pernah ada habisnya, apalagi kalau hal tersebut sudah dibumbui dengan indahnya kata kesetiaan, mungkin ini akan lebih sulit untuk menjelaskannya.

 

Cinta adalah kata yang amat singkat dan sangat sederhana, namun memiliki berjuta makna.  Cinta memang penuh misteri dan susah untuk diuraikan, bisa dirasakan tetapi tidak bisa dimengerti, akan tetapi cinta itu amat agung dan perlu diagungkan.

 

Pada dasarnya cinta adalah sebuah perasaan yang diberikan oleh Tuhan pada sepasang manusia untuk saling mencintai, memiliki, memenuhi, pengertian dan lain-lain. Cinta itu sendiri sama sekali tidak dapat dipaksakan, karena cinta hanya dapat berjalan apabila ke 2 belah pihak melakukan “saling” seperti tersebut diatas dan tidak dapat berjalan apabila diantara mereka saling mementingkan diri sendiri.

 

Cinta adalah perasaaan seseorang terhadap lewan jenisnya karena ketertarikan terhadap sesuatu yang dimiliki oleh lawan jenisnya misalnya sifat, wajah dan lain sebagainya. Namun diperlukan pengertian dan saling memahami untuk dapat melanjutkan hubungan, haruslah saling menutupi kekurangan dan mau menerima pasangannya apa adanya, tanpa pemaksaan oleh salah satu pihak. Berbagi suka bersama dan berbagi kesedihan bersama.

 

Cinta itu indah namun kepedihan yang ditinggalkannya terkadang berlangsung lebih lama daripada perjalanan cinta itu sendiri. Karena cinta itu bisa membuat bahagia, duka ataupun buta akan segalanya hanya demi rasa sayang terhadap sang kekasih atau yang dicintainya.

 

Cinta adalah sebuah perasaan yang tidak ada seorangpun bisa mengetahui kapan datangnya, bahkan pemilik perasaan itu sendiri sekalipun. Jika seseorang sudah mengenal cinta, maka orang tersebut akan menjadi orang yang paling berbahagia di dunia ini. Akan tetapi, bila cinta itu tidak terbalas, maka orang tersebut akan merasa bahwa dia adalah yang orang paling malang dan akan kehilangan gairah hidup.

 

Cinta itu sendiri tidak hanya dilakukan manusia terhadap sasama manusia akan tetapi juga dilakukan manusia terhadap makhluk hidup lainnya atau bukan kepada sesama manusia, misalnya pada hewan peliharaannya.

 

Oleh karena itu bisa dikatakan bahwa semua makhluk akan mengalami yang dinamakan dengan cinta dan cinta yang positif adalah cinta yang mau memahami, mempercayai, berjanji setia, jujur kepada yang dicintainya.

 

Namun perlu diketahui rasa cinta yang besar diantara sesama manusia apabila dibandingkan masih jauh lebih besar rasa cinta Tuhan kepada para umat-Nya.

 

-o-

 

Kesetiaan.

Memperhatikan jalan cerita diatas bahwa kesetiaan itu memang tidak berada jauh dari yang namanya cinta dengan perkataan lain bahwa cinta sangat memerlukan kesetiaan.

 

Kesetiaan merupakan kunci untuk menjaga hubungan agar tetap baik dengan kekasih. Dengan perkataan yang berbeda bahwa apabila seseorang setia dengan kekasihnya, maka hubungan akan berjalan dengan baik.

 

Memiliki ataupun mempunyai seorang kekasih itu merupakan hal yang menyenangkan. Akan tetapi apakah hal tersebut bisa menyenangkan atau tidak tergantung bagaimana cara menjalankannya.

 

Setiap manusia, baik itu seorang laki-laki maupun perempuan memiliki sifat yang sama, dan didalam sifat baik yang dimiliki seseorang pasti terdapat juga sifat yang kurang baik atau kekurangannya. Sehingga terkadang terjadi seseorang yang tidak suka dengan sifat yang dimiliki oleh kekasihnya.

 

Disinilah kesetiaan dari seorang laki-laki maupun perempuan itu diuji, seberapa besar kesabaran seseorang itu dalam melengkapi kekurangan tersebut. Karena pada dasarnya memilih seseorang untuk menjadi kekasih, bukan untuk menjadi seperti papan tulis yang habis dicoret-coret lalu dihapus dan demikian seterusnya, oleh karena itu seseorang harus menerima atau siap menerima kekurangan dan kelebihan dari orang yang menjadi kekasih.

 

Mungkin akan lebih baik bagi seseorang tidak perlu memiliki seorang kekasih apabila orang tersebut tidak bisa saling memahami, saling melengkapi, dan terlalu memaksakan kehendaknya sendiri.  Karena hal tersebut akan mengakibatkan buruknya hubungan yang ada.

 

Cinta memang butuh kesetiaan, kasih sayang dan pengertian. Dan tidak ada yang salah dengan kesetiaan itu sendiri. Yang salah adalah ketika kesetiaan itu tidak mendapatkan penghargaan sebagaimana mestinya

.

Kesetiaan itu datangnya dari hati dan niat bukan dari sebuah kata-kata dengan perkataan lain adalah bahwa kesetiaan itu bukanlah hal yang bisa dijanjikan, karena kesetiaan hanya bisa dibuktikan, jadi tidak perlu berjanji akan setia.

 

Kesetiaan adalah kata yang tidak hanya cukup untuk diucapkan, namun harus juga dilakukan, karena kesetiaan adalah juga kesabaran jiwa untuk saling memaafkan.

 

Kesetiaan yang sejati adalah jika tidak saling menyakiti, rela berkorban, peduli, perhatian, kasih sayang dan lain sebagainya. Dan sebagai kesimpulan kesetiaan bukanlah suatu pilihan, akan tetapi merupakan sebuah keputusan.

 

Namun dari uraian diatas, dalam kehidupan ini tidak ada kesetiaan diantara manusia yang lebih besar daripada kesetiaan Tuhan kepada umatNya yang tidak akan pernah mengingkari apa yang telah dijanjikanNya.

 

-o-

 

Pengurbanan

Menyimak jalan cerita diatas bahwa kedua orang tersebut mengurbankan waktu hanya untuk menunggu dan mengorbankan kesempatan untuk tidak mengganti posisi orang yang dicintainya dengan orang lain.

 

Tetapi di dalam kehidupan sehari-hari banyak orang yang tidak menghargai arti pengorbanan, baru menyesal setelah kehilangan orang yang dicintainya.

 

Pengurbanan adalah sesuatu yang memang harus dilakukan untuk keperluan apa pun saja agar tercapainya suatu tujuan, cita-cita atau sesuatu yang diinginkannya.

 

Pengurbanan itu sendiri bisa berbentuk material (yang bisa dilihat, dipegang) dan berbentuk immaterial (hanya bisa dirasakan). Dan pengurbanan itu banyak macamnya, antara lain seperti pengurbanan harta benda, pengurbanan pikiran, pengurbanan perasaan, pengurbanan cinta, pengurbanan waktu, pengurbanan tenaga, pengurbanan kesempatan, pengurbanan martabat dan lain sebagainya.

 

Orang-orang yang berkurban biasanya adalah orang-orang yang melakukannya dengan tulus dan ikhlas yang didasarkan kesadaran moral semata-mata. dan orang-orang tersebut berpikir, berharap bahwa pengorbanannya yang sedikit ataupun banyak itu akan berguna dan berarti bagi orang yang menerima pengorbanan tersebut.

 

Sebagai contoh misalnya :

Seorang ibu akan mengesampingkan kepentingannya untuk membeli sesuatu bagi dirinya sendiri, demi untuk membeli susu bagi anaknya.

 

Meskipun hanya untuk sebuah keinginan yang kecil, seorang ibu mengorbankan waktu istirahatnya demi untuk menjaga anaknya.

 

Sebenarnya pengurbanan adalah perbuatan yang sangat mulia karena dari pengorbanan itu bisa membantu seseorang bisa mengubah hidupnya menjadi lebih baik.

 

Yang sangat perlu dimengerti adalah bahwa pengurbanan yang terbesar adalah pengurbanan yang dilakukan untuk keselamatan banyak jiwa dan pengurbanan ini belum pernah dilakukan oleh siapapun juga kecuali oleh Tuhan sendiri yaitu pengurbanan yang tak memandang kesalahan dan perbuatan baik dari ciptaan-Nya, dengan berkali-kali mengirimkan utusannya.

 

Sebuah anekdot :

DIBACA PERHALAN-LAHAN

(Bisa dibaca dengan mesra bersama Istri)

 

Suami : Aku sudah menunggu saat seperti ini sejak lama. Akhirnya kesampaian juga.
Istri : Apakan kau rela kalau aku pergi meninggalkanmu ?
Suami : Tentu tidak !

Jangan pernah kau berpikiran seperti itu.

Istri : Apakah kau benar-benar mencintaiku ?
Suami : Tentu saja !

Selamanya akan tetap begitu.

Istri : Apakah kau pernah selingkuh ?
Suami : Tidak !

Aku tak akan pernah melakukan hal itu.

Istri : Maukah kau memelukku ?
Suami : Ya.
Istri : Hmmmm……Sayangku…….

 

 

Catatan :

 

Jangan pernah membaca dari bawah ke atas dengan suara yang agak keras jika sedang bersama istri, pasti akan ada kepanikan, karena mungkin saja ada peralatan dapur yang melayang di kepala.

 

-o0o-

BANDUNG–INDONESIA, AGUSTUS – 2018

Cerita :  Suryadi WS

(Gubahan Ki Ageng Bayu Sepi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *