PENJUAL BALON

INDAHNYA HIDUP BILA DIAWALI DENGAN BERSYUKUR DAN SENYUMAN . MAKA SETIAP HARI ADALAH HARI YANG INDAH JIKA DIMULAI DENGAN HATI YANG INDAH. KARENA HATI YANG BAIK, PIKIRAN YANG BAIK DAN NIAT YANG BAIK, HIDUP PASTI BAIK.

HIDUP JADI INDAH BILA BISA SALING MENGERTI, SALING BERBAGI DAN SALING MENGHARGAI, KARENA DIMANA ADA KASIH DISITU ADA KEBAHAGIAAN

HIDUP TIDAK AKAN BERHARGA JIKA TIDAK BERMANFAAT UNTUK ORANG LAIN, MAKA JANGAN MEMBENCI SIAPAPUN JUGA, TIDAK PEDULI SUDAH BERAPA BANYAK MEREKA BERSALAH KEPADAMU, KARENA ORANG YANG PALING BAHAGIA ADALAH ORANG YANG MELUPAKAN KEBURUKAN ORANG LAIN KEPADA DIRINYA DAN MELUPAKAN KEBAIKAN DIRINYA TERHADAP ORANG LAIN.

BERDOALAH SELALU KARENA SESULIT APAPUN TANTANGAN HIDUPMU, TUHAN TIDAK PERNAH MENINGGALKANMU, KARENA DOA SEPERTI HALNYA SEBUAH  PAYUNG YANG TIDAK BISA MENGHENTIKAN HUJAN, NAMUN DAPAT MELINDUNGI DIRI DARI DERASNYA AIR HUJAN. JANGAN SAMPAI SALAH, BANYAK ORANG YANG BISA MEMBERI HARAPAN NAMUN HANYA TUHAN YANG BISA MEMBERI KEPASTIAN.

BISA BELAJARLAH DARI JAM DINDING,  DILIHAT ATAUPUN TIDAK DILIHAT ORANG, DIA TETAP BERDENTANG. DIHARGAI ATAU TIDAK DIA TETAP BERPUTAR. WALAUPUN TIDAK SEORANGPUN MENGUCAP TERIMA KASIH DIA TETAP BEKERJA SETIAP SAAT.

TERUSLAH BERBUAT BAIK KEPADA SESAMA, MESKIPUN PERBUATAN BAIK KITA TIDAK DIHARGAI ATAU PERBUATAN BAIK HARI INI ESOK HARI DILUPAKAN. TETAPI LAKUKAN SAJA HAL YANG BAIK, TUHAN AKAN MENILAI.

PILIHLAH MENJALANI HIDUP DENGAN BAHAGIA DAN TETAPLAH MENJADI BAIK SAMPAI AKHIR, SEBAB TUHAN SELALU MEMPUNYAI RENCANA DALAM SETIAP HAL YANG KITA ALAMI. DAN DIA SELALU MEMBERIKAN YANG TERBAIK BAGI KEHIDUPAN KITA. APA YANG KITA TANAM ITU PULA YANG AKAN KITA TUAI.

alam budaya masyarakat Jawa dikenal hari apes, sial atau saat-saat nahas bagi seseorang. Jika saat itu tiba, maka tak ada kekuatan mana pun yang bisa melindungi. Bagi seorang pendekar sejati, mereka paham benar bahwa pada hari tertentu, adalah saat apes bagi dirinya. Ilmu membaca hari dan kelemahan tubuh seseorang itu tidak mudah dipelajari. Juga tidak semua guru olah kanuragan mengetahuinya.

Yulianto tidak pernah belajar olah kanuragan, tetapi percaya bahwa suatu saat seseorang akan menemui hari apes atau hari naas itu. Datangnya tak bisa diprediksi, seperti kerja malaikat pancabut nyawa. Bisa datang kapan saja atau setiap saat.

Pada hari Sabtu malam hampir dua puluh tahun yang telah lalu, Yulianto pun tidak pernah mengira bahwa hari itu merupakan saat nahas bagi seluruh anggota keluarganya. Pada Sabtu sorenya, Yulianto sekeluarga bersama-sama menikmati tayangan ketoprak dari TVRI Stasiun Yogyakarta. Usai tayangan ketoprak, dia langsung masuk kamar dan tidur sebentar. Sebab malam itu dia mendapat giliran tugas siskamling.

“Jika bisa tidur barang satu jam saja, maka malam nanti tidak mengantuk,” katanya dalam hati.

Pada pukul sepuluh malam Yulianto bangun, lalu menuju pos ronda. Di sana sudah ada dua orang teman. Menjelang pukul dua belas malam mereka berpencar untuk keliling memeriksa rumah demi rumah. Setelah berkeliling, salah seorang dari teman ronda nya minta pamit untuk pulang lebih dulu karena anaknya sakit. Menjelang pada pukul dua dini hari, teman ronda yang seorang lagi pamit karena tiba-tiba perutnya terasa kembung. Maka tinggallah Yulianto seorang diri.

Malam itu benar-benar sangat sepi. Apalgi kira-kira seratus meter di belakang pos ronda adalah kuburan dusun.

Dalam hatinya Yulianto berpikir : “Hemm. Terlalu riskan ronda sendirian. Sebab jika ada pencuri, saya pasti tidak punya nyali untuk menangkapnya. Dalam situasi zaman yang edan begini, dimana-mana banyak orang berbuat nekad dan kejam, ronda tengah malam sendirian sungguh sangat berbahaya. Daripada menuai celaka, lebih baik menyelamatkan diri saja.”

Itulah yang di lakukannya kemudian yaitu Yulianto langsung Pulang dan meneruskan tidur.

Kembali dalam hatinya berkata : “Ah,  sebentar lagi para tetangga juga sudah pada bangun.”

Sebelum masuk kamar, sekali lagi Yulianto mengecek kunci pintu dan jendela ternyata semuanya beres. Maka Yulianto pun langsung tidur.

Rasanya baru sekejap dia terlelap, tiba-tiba terdengar suara beberapa orang di luar rumah. Saat terbangun, Yulianto kaget, sebab mendapati pintu depan rumahnya sudah terbuka. Lalu dilihatnya istri dan anak-anaknya, mereka masih tidur pulas di atas kasur.

“Mas, koq sepagi ini pintunya sudah dibuka ? Apa lupa menutup tadi malam ?” tanya seorang tetangga.

Yulianto menggelengkan kepalanya sambil menjawab dengan mantap : . “Semua sudah saya kunci. Saya yakin itu.”

“Tetapi, mengapa pintunya terbuka ?” sambung tetangga yang lain.

Busyet ! Setan alas !. Yulianto segera masuk ke dalam rumah dan baru tahu bahwa pesawat televise 14 inchi sudah lenyap dari tempatnya. Saat dia melihat ke buffet, tape recorder yang kemarin sore dipakai anak-anak pun sudah tidak terlihat lagi ditempatnya.

“Ada maling !” teriaknya di muka pintu. “Televisi dan tape recorder kami hilang.”

“Maling kurang ajar !” sahut para tetangga spontan.

Suasana di luar rumah menjadi ramai, yang menyebabkan Diana istri Yulianto terbangun dan tergopoh-gopoh menanyakan apa yang telah terjadi. Pada saat Yulianto menjelaskan semuanya, istrinya pun tampak lemas. Namun seketika itu ia lebih kaget lagi setelah meraba-raba lehernya. “Kalung saya koq tidak ada ?” katanya gugup.

“Coba periksa di tempat tidur,” pinta suaminya. Kemudian dengan setengah berlari Diana menuju kamar tidurnya. “Tidak ada, tidak ada,” katanya dengan cemas.

“Memang, waktu sedang tidur saya merasakan ada tangan yang meraba-raba dan menarik-narik kalung di leher,  dan saya pikir itu adalah tangan anak-anak. Tidak tahunya kalau itu adalah tangan maling,” lanjutnya.

Keluarga Yulianto kehilangan tiga buah barang yang berharga menurut ukuran kantong mereka pada saat itu. Barang-barang tersebut dibelinya dengan susah payah, melalui cara menabung atau mengumpulkan uang sedikit demi sedikit, hasil dari honor tulisan dan ceramah dalam waktu yang relative lama.. Namun sekarang barang-barang tersebut lenyap dalam waktu yang singkat.

“Tuhan, kenapa hal ini terjadi pada kami ?” protes Yulianto dalam hatinya saat itu juga. “Tidakkah Engkau melihat bahwa barang-barang itu saya beli dengan susah payah ? Dengan cucuran keringat dan memeras isi kepala ? Mengapa Engkau dengan teganya membiarkan maling itu memasuki rumahku dan mencuri barang-barang milikku. Mengapa ya Tuhan ?”

Siapa pun, kalau mau jujur, pasti tidak akan rela kehilangan barang miliknya. Meski pun dilihat dari sudut iman mereka sering mengakui bahwa semua yang dimilikinya itu adalah adalah titipan-Nya. Dengan perkataan lain bahwa Tuhan memberi dan mengambil dengan caraNya.

Namun dalam kondisi emosional, pertimbangan yang terakhir ini sering dilupakan orang. Termasuk Yulianto. Oleh karena itu dia tetap berusaha bagaimanapun caranya untuk mendapatkan kembali barang-barang yang telah hilang tersebut.

Sikap pasrah dan doa di abaikan nya. Apapun yang terjadi, dia tidak rela kalau barang-barang milik nya itu disikat maling. Maka pada keesokan paginya Yulianto buru-buru ke Magelang. Di Kota Gethuk itu dia kenal seorang paranormal yang bisa atau mampu memperlihatkan wajah sang maling tengik yang telah membuatnya jengkel dan marah.

Yulianto sangat terkejut ketika tiba di rumah paranormal itu. Karena sepuluh bulan yang lalu saat dia berkunjung ke rumah kontrakan Mas Priyangga sang paranormal itu, rumahnya masih sangat sederhana. Separoh tembok dan separuh bilik serta berlantai tanah. Tetapi pagi itu dia benar-benar pangling dan terkesima. Rumah itu sudah menjadi rumah milik sendiri, dan tampak mentereng. Sebab dibuat dengan gaya arsitektur yang cantik, meniru bangunan di komplek perumahan mewah.

“Ada apa, Dik ?” sapa Mas Priyangga dengan ramah. “Pangling ya ?”

Yulianto hanya mengangguk-angguk. “Merampok di mana kamu Mas ? Koq bisa membangun rumah sebagus ini ?” selorohnya.

Tapi dalam hatinya bekecamuk pertanyaan : “Apakah mungkin prakteknya menjadi sangat laris ? Tetapi ia sendiri kan tidak pernah minta imbalan kepada orang yang ditolongnya.”

“Ada apa sebenarnya ?” tanya Mas Priyangga serius setelah mereka saling meledek dan bersenda gurau.

“Begini Mas, semalam rumah saya dibobol maling,” jawab Yulianto.

Mas Priyangga memang seorang paranormal “spesialis” pengungkap wajah maling. Dia bisa menunjukkan dengan persis barang-barang yang digondol maling itu berada. Tetapi soal kembali atau tidaknya barang-barang tersebut, dia tidak bisa menjamin.

“Apa saja yang berhasil digondol maling ?” tanya Mas Priyangga.

“Pesawat televise, tape recorder dan kalung emas milik Diana, istri saya,” penjelasan Yulianto.

Laki-laki itu tersenyum, lalu menyulut rokok kretek di mulutnya. Itu sebagai satu pertanda bahwa dia sudah siap melaksanakan tugasnya, untuk memperlihatkan wajah sang maling di cawan yang telah diisi air putih. Ia mengatakan berkali-kali bahwa ilmu yang dimiliki itu bukan termasuk ilmu klenik. Meski dia harus membaca mantra-mantra tertentu, namun secara ilmiah dia menyebut ilmunya itu dengan istilah tele-magnetic. Sebab untuk bisa mengungkap wajah sang maling Yulianto pun harus membawa tanah yang diperkirakan dilewati maling tersebut.

“Ayo, kita masuk ke dalam,” ajaknya kemudian. Kemudian mereka masuk ke kamar khusus. Di dinding kamar itu tergantung topeng tradisional berwajah seram, juga ada tiga buah keris dan dua buah tombak. Di atas meja di sudut kamar selalu ada pisang raja, kembang mawar, kembang kanthil, daun sirih dan sebongkah kemenyan.

Mas Priyangga lalu menuang air putih ke cawan Kristal. Ia berdiam diri sejenak untuk berkonsentrasi. Lalu meminta telapak tangan kanan Yulianto untuk diulurkan dalam posisi terbuka. Setelah itu dia menangkupkan telapak tangannya ke telapak Yulianto. Mereka tampak seperti saling menggenggam. “Sekarang tanah napas untuk beberapa saat, lalu lihatlah cawan ini,” pinta Mas Priyangga sambil menyodorkan cawan di dekat wajah Yulianto.

Sejenak Yulianto menahan nafas. Kemudian dari dalam air di cawan itu pelan-pelan muncul potret seseorang. Pada awalnya hanya samar-samar. Tetapi semakin lama menjadi tampak semakin jelas.

“Jelas, Dik ?” tanya Mas Priyangga kemudian. Yulianto menggangguk. Wajah itu sangat jelas. Seorang lelaki berkumis, wajahnya persegi, rambutnya agak gondrong, matanya agak sipit namun sorotnya sangat tajam.

“Orang itu lari ke utara, lalu ke timur. Nah, barang-barangmu disimpan di sebelah rumah yang jaraknya sekitar 1000 meter dari rumahmu. Kalau kamu bisa menemukan orang itu, kemungkinan besar barang-barangmu kembali,” kata Mas Priyangga kemudian.

Yulianto mengangguk-anggukan kepalanya. Urusan kehilangan barang tidak diperpanjang lagi. Kemudian mereka mengobrol kesana-kemari sebagaimana layaknya teman karib yang sudah lama tidak bertemu.

“Kamu tadi kaget dan pangling melihat rumah saya ?” tanya Mas Priyangga. Yulianto menganggukan kepalanya tanda meng-iya-kan. ”Sungguh Dik, ini benar-benar Tuhan memberi.”

“Dengan cara apa Dia memberikan rumah ini untuk Mas Priyangga ?” tanya Yulianto ingin tahu.

Laki-laki itu tersenyum, dan kemudian dia bercerita,  “Kira-kira empat bulan yang lalu saya ke Solo naik sepeda motor. Saat pulang lewat ring road utara Yogya, kebetulan sudah senja dan gerimis. Nah, di situ saya melihat lelaki tua penjual balon. Ia mendorong gerobak pelan-pelan. Balonnya masih ada, kurang lebih sekitar lima belas buah. Wajah Bapak itu sangat memelas. Lalu saya berhenti dan kemuian membeli semua balon-balon itu.”

“Untuk apa Mas?” sela Yulianto penasaran.

“Untuk apa? Ha ..ha…penjual balon itu juga mengajukan pertanyaan yang sama pada saya. Lalu saya katakan, bahwa balon itu untuk perayaan ulang tahun anak saya. Dia lalu menanyakan alamat rumah saya dan saya jawab sejelas-jelasnya. Kemudian dia mengucapkan terima kasih berkali-kali karena saya telah memborong habis dagangannya. Begitu dia belok ke kanan dan masuk gang kampung, lima belas balon tadi saya lepaskan. Ha…ha…ha…”

“Lho, mengapa, Mas ?” kembali tanya Yulianto ingin tahu.

“Lha untuk apa membawa lima belas balon. Membawa satu saja sudah susah. Bisa-bisa benangnya malah membelit dan menjerat leher saya.”

“Lalu Mas Priyangga punya maksud apa dengan memborong lima belas balon itu ?” kembnali Yulianto bertanya karena ingin megerti.

“Ya, karena rasa kasihan saja, Dik. Coba bayangkan, orang sudah tua, senja-senja dalam geriomis, mendorong gerobak menjual balon. Dia pasti seorang pekerja keras. Mungkin hasilnya untuk menghidupi anak dan cucunya. Hati saya langsung tersentuh dan ingin menolong. Tetapi kalau dia hanya saya beri uang begitu saja, belum tentu dia mau menerima. Bagaimana pun juga orang itu pasti punya gengsi dan harga diri.”

“Emm.” Yulianto baru mengerti maksud Mas Priyangga memborong lima belas buah balon tadi. Ternyata untuk menolong orang pun tidak sembarangan atau asal saja tetapi perlu memakai kiat tersendiri.

“Nah, dua minggu kemudian Pak Tua penjual balon tadi benar-benar datang kemari. Dia memberi saya seekor burung perkutut. Ketika akan saya beri uang, dia menolak. Demikian juga ketika akan saya antar sampai di terminal, dia pun menolak dengan keras.”

“Rumahnya di mana, Mas ?” Tanya Yulianto seperti penasaran.

“Dia mengaku asli dari Wonosari, Gunungkidul. Di Yogya tidurnya tidak menentu. Kadang di emper toko, kadang di  mushola, kadang di kantor polisi.”

“Kasihan juga.”

“Burung perkutut itu langsung saya rawat. Dan saat saya ikutkan dalam lomba, ehh, nggak tahunya bisa mendapat gelar juara pertama. Suaranya memang bagus. Oleh seorang pemilik dealer mobil, burung tadi dibeli dengan harga dua puluh lima juta !”

“Uih, gila banget !” seru Yulianto keheranan.

“Ya, Langsung saja saya berikan. Ha..ha…..itu kan rejeki, dan rejeki jangan ditolak,” kata Mas Priyangga sambil tertawa.

“Nah, saya pikir, uang tadi tidak sepenuhnya milik saya. Tetapi sebagian adalah milik orangtua penjual balon itu. Maka yang separuh lagi akan saya berikan kepada penjual balon tadi,” kata Mas Priyangga serius.

“Emm. Sudah diberikan ?” tanya Yulianto.

“Itulah, Dik masalahnya. Sampai sekarang, meski saya sudah berputar-putar, belum juga bertemu dengan penjual balon itu. Untung kamu datang. Sekarang ganti saya yang minta tolong padamu. Yakni, menemani saya berputar-putar di Yogya untuk menemukan orangtua penjual balon itu. Bagaimana pun juga kamu asli orang Yogya, pasti jauh lebih tahu sudut-sudut kotamu,” kata Mas Priyangga meminta.

Yulianto menyanggupi. Lalu tiga hari kemudian “misi” tadi mereka lakukan bersama. Yulianto sendiri telah melupakan barang-barang miliknya yang telah hilang disikat maling. Meski pun sudah tahu wajah si maling, tetapi karena Yulianto masih baru di tempat tinggal yang sekarang, jadi dia mengalami kesulitan untuk menemukan orang yang telah mencuri barang-barangnya.

Lagi pula dia juga dihibur para tetangga yang bersimpati, yaitu : “bahwa musibah kecurian itu bagi orang Jawa sering dianggap sebagai rabuk atau pupuk kehidupan. Nanti, kalau Yulianto benar-benar percaya dan pasrah kepada Tuhan, rejeki yang akan di peroleh akan jauh lebih banyak apabila dibandingkan dengan jumlah barang yang telah hilang.”

Sasaran mereka mula-mula adalah SD-SD di daerah pinggiran Yogya. Mereka sama sekali tidak menemukan seorang penjual balonpun. Lalu SD-SD di dalam kota. Hasilnya sama, nihil. Sasaran lalu mereka alihkan di sekitar alun-alun Kraton Yogyakarta. Di tempat itu mereka malah menongkronginya sampai pukul Sembilan malam. Setelah merasa gagal di alun-alun, maka sasaran selanjutnya adalah jalan-jalan protokol yang ada di Yogyakarta.

Hasilnya pun nihil. Penjual balon yang mereka cari tidak ada. Padahal Yulianto sudah bolos kerja beberapa hari. Pada hari ke 10 Yulianto menyatakan menyerah. Tidak kuat lagi keliling kota, keluar masuk kampung, bertanya tentang pak tua penjual balon pada orang-orang yang mereka jumpai di jalanan.

“Lalu bagaimana sekarang, Dik?” tanya Mas Priyangga.

“Sekarang begini saja Mas, anggap saja uang itu adalah rejeki yang diberikan Tuhan untukmu sekeluarga. Karena mas Priyangga selama ini sudah banyak menolong orang tanpa pamrih, mungkin Tuhan sudah mencatat semuanya. Lalu angka rupiahnya jika dihitung mungkin ya sebesar hasil penjulan burung perkutut itu. Jadi rejeki itu halal, karena bukan dari hasil mencuri ataupun korupsi. Namun jika Mas Priyangga mau bagi-bagi untuk mereka yang membutuhkan, sesama kita yang miskin, papa, saya kira itu adalah perilaku yang sangat terpuji.”

Laki-laki berkumis itu mengangguk-anggukan kepalanya. “Jadi siapa sebenarnya Pak Tua penjual balon itu menurutmu, Dik ?”

“Mungkin saja dia itu malaikat yang sengaja diutus Tuhan untuk menolongmu,” jawab Yulianto yakin.

“Apa mungkin ada malikat menjual balon ?” tanya Mas Priyangga heran.

“Jika Tuhan telah punya kehendak, Mas, semua bisa terjadi. Dia bisa melakukan apa saja. Termasuk cara memberi rejeki untukmu. Itu benar-benar anugerah dari Tuhan yang maha pemurah. Kamu layak mensyukurinya, Mas,” kata Yulianto meyakinkan.

Mas Priyangga mengangguk berkali-kali. Akhirnya ia bisa menerima semua yang telah terjadi itu. Sebelum pamit ia sempat meninggalkan uang lima ratus ribu rupiah. “Tolong ini dibagikan kepada mereka yang benar-benar membutuhkan. Nanti aku juga akan melakukan hal yang sama di sepanjang jalan menuju Magelang,” pesannya.

Beberapa hari kemudian Yulianto berlagak menjadi “malaikat” berkeliling membagi rejeki untuk para pengamen di perempatan jalan, untuk para pengemis yang jumpainya, juga kepada orang-orang yang dipandang layak memperoleh cipratan rejeki dari Malaikat Penjual Balon.

Dalam hatinya berkata :

“Senang rasanya bisa menjadi penyalur berkat-Nya. Bukan hanya pada saat ini saja, tetapi saya akan selalu berusaha di setiap kesempatan.

Sebab sesungguhnya, setiap kali saya bisa menghirup udara dengan leluasa, itu sudah merupakan berkat melimpah dari Sang Pencipta bagi kehidupan saya.

Bisa dibayangkan mereka yang sedang terbaring di rumah sakit dan terpaksa mulutnya memakai masker untuk menghirup oksigen, lalu kedua lobang hidungnya pun dimasuki semacam selang plastik untuk membantu pernafasannya.

Jika masih diberi kebebasan bergerak, hidup bebas di luar rumah sakit, apakah ini bukan berkat yang tidak terkira nilainya dari Dia ?”

-o-

Saudaraku pembaca semuanya yang saya hormati terutama di kalangan sendiri, gubahan cerita diatas merupakan sebuah catatan kisah nyata.

Adapun melalui gubahan ceritera tersebut diatas intinya pesan yang hendak disampaikan adalah, bahwa setiap kegiatan yang dilakukan apapun bentuknya pasti diketemukan sisi positif dan ada juga sisi negatifnya.

Oleh karena itu melalui gubahan ceritera tersebut bagaimana sebaiknya kita menentukan bahwa kegiatan yang dilakukan harus bernilai positif dalam menjalani kehidupan kita masing-masing didalam bermasyarakat.

Dan mungkin saja bahwa kejadian seperti pada cerita tersebut bisa juga diketemukan namun dalam bentuk yang lain pada kehidupan sehari-hari.

Untuk selanjutnya penyusun cerita akan sajikan sebuah kisah nyata pengalaman Romo Josep Susanto. Mudah-mudahan tulisan ini bisa di ambil hikmahnya sebagai pesan moral dan bahan perenungan bahwa dalam menjalani kehidupan didalam bermasyarakat.

 

 

TERNYATA MALIKAT ITU MASIH ADA DI DUNIA

(RD Josep Susanto)

Rohmat, begitu nama yang tertera di papan nama di atas dashboard Taxi Blue Bird.

Ku awali percakapanku dengan Rohmat dengan sebuah pertanyaan :

“Lebaran pulang kampung, Pak ?”

Dari pertanyaan itulah mengalir kisah kehidupan Pak Rohmat yang ternyata sangat sulit untuk diterima oleh nalar manusia.

Pak Rohmat bercerita bahwa sebenarnya ia ingin pulang ke kampungnya di Serang, Banten.

Maka dari itu dia memaksakan diri untuk tetap narik taxi meski H-2 Lebaran.

Tetapi apa daya, dari tadi pagi ternyata sepi penumpang. Dia pun sudah kewalahan oleh rengekan anak-anaknya yang memaksanya : “Pak, jadi nggak kita pulang kampung ?”

Dari situ saya pun bertanya tentang anak-anak Pak Rohmat. Anaknya ada 4, semuanya masih kecil-kecil. Mereka semua bersekolah di swasta kecuali yang besar di sekolah negeri.

Anak-anaknya sudah kangen ibu mereka…..

Saya pun bertanya : “Loh, ibu anak-anak di kampung ?”

Pak Rohmat pun terbata menjawab. Ibu nya anak-anak baru saja meninggal, di meja operasi karena kangker payudara stadium 4.

Mendengar kata “kangker”, seorang Romo Josep pun langsung menjadi lemas.

Sayapun mengorek lagi lebih dalam.

Ternyata istri Pak Rohmat terdeteksi kangker ketika ia hamil anak keempatnya.

Waktu itu istri Pak Rohmat bingung, malah sempat berniat menggugurkan kandungan, karena tidak mau anak ini menjadi beban suaminya.

Tetapi Pak Rohmat bersikeras menentang rencana istrinya itu.

Dia bilang : SEBERAT APAPUN AKU MERAWAT ANAK-ANAKKU NANTI, AKU AKAN BERJUANG, KARENA ANAK ITU TITIPAN TUHAN.

Tetapi, kenyataan memang tidak semudah kata-kata mulia ketika diucapkan.

Bisa dibayangkan hidup keluarga Pak Rohmat.

Supir taxi full time, anak-anak masih kecil yang masih butuh banyak biaya, plus seorang bayi yang ditinggal mati ibunya sejak lahir.

Saya Tanya : “Terus bayinya sama siapa Pak ?”

Pak Rohmat menjawab : “Dirawat oleh kakak-kakaknya yang masih SD.”

Saya tanya lagi : “Memangnya gak ada keluarga lain, Pak ?

Pak Rohmat hanya menggeleng lesu. Kematian istrinya membuat ia dicaci maki dan dipersalahkan keluarga istrinya.

Pernah ia menitipkan anak-anaknya di kampung kepada saudara-saudaranya.

Tetapi anak-anaknya malah disiksa oleh om dan tante mereka.

Parahnya, ayah dan ibu Pak Rohmat terlalu kaget menerima kanyataan bahwa menantunya meninggal.

Sehingga berturut-turut hanya dalam hitungan minggu, satu persatu, ayah, lalu ibunya juga meninggal.

Rumah mereka di kampung pun terjual untuk biaya operasi dan berobat istrinya.

Pak Rohmat sambil mata berkaca-kaca mengakhiri ceritanya :

“SEKARANG SAYA SUDAH TIDAK PUNYA SIAPA-SIAPA LAGI, HARTAPUN SUDAH TIDAK ADA LAGI.”

Sayangnya, RS Carolus, tempat tujuan saya sudah di depan mata, tandanya saya harus segera turun.

Puji Tuhan satu jam sebelumnya, saya bertemu seorang umat dari Manila, Ibu itu memberi aku amplop yang cukup tebal yang belum aku buka.

Tanpa kubuka lagi amplop itu, aku serahkan kepada Pak Rohmat,

“Pak, amplop ini berisi uang, saya sendiri tidak tahu jumlahnya berapa, Bapak bisa pakai ini untuk bawa anak-anak pulang kampung, untuk melihat pusara ibu mereka.”

Pak Rohmat pun menjadi histeris begitu membuka isi amplop. Dia menangis dan mengucapkan terima kasih tanpa henti.

Dia bilang : “Saya pikir ini Cuma ada di tivi-tivi, saya tidak pernah menyangka saya boleh merasakan kemurahan Tuhan di saat hidup saya terpuruk. Ternyata melaikat sungguh ada di dunia.”

Sambil membuka pintu taxi, saya pun berpesan kepada Pak Rohmat :

“Bapak yang kuat ya, jangan menyerah untuk anak-anak. Tuhan itu Maha Baik, pasti Tuhan akan menolong Bapak, asal Bapak percaya.”

1 jam kemudian, aku harus berhadapan dengan hasil LAB PATOLOGI ANATOMIK dari benjolan di punggungku yang dioperasi minggu lalu…

Dengan tangan bergetar, kubuka pelan-pelan amplop putih itu, ditemani Sr Sylvi CB di sampingku.

Mataku tertuju pada hasil uji lab…

Puji Tuhan, di situ tertulis :

“ TIDAK DITEMUKAN TANDA GANAS ”

Terima kasih Tuhan, aku sehat,

Terima kasih Tuhan, Amin.

 

Sebuah kesimpulan :

Jika memperhatikan gubahan jalan cerita tentang kisah nyata serta pengalaman Romo Josep Susanto tersebut di atas maka dapat diambil sebuah hikmahnya bahwa karena usaha baiknya untuk menolong orang lain yang sedang menderita maka yang terjadi sebenarnya bahwa dia telah menolong dirinya sendiri, atau dengan kata lain siapa yang menabur dia yang akan menuai,

 

Bila di ibaratkan seseorang yang melemparkan kerikil ke tengah danau. Akibat lemparan itu muncul lingkaran gelombang yang kecil. Kemudian orang tersebut memilih kerikil yang agak besar lalu dilemparkan ke air danau. Dan lingkaran gelombangnya makin besar.

Semakin melempar dengan benda yang besar gelombangnya juga akan bertambah besar dan lingkaran itu bergulung kembali menuju kepada si pelempar. Begitu juga dengan perilaku orang. Kalau orang berbuat baik maka gelombangnya akan kembali menuju kearahnya. Demikian pula  sebaliknya kalau perbuatan yang tidak baik yang dilakukan..

Sebuah peribahasa mengatakan : “Ngunduh wohing pakarti” yang artinya “Menuai apa yang di tanam.”

Ada sebuah nasehat berbunyi : “Jauhilah perbuatan yang jahat dan lakukanlah yang baik.”

Pada hakekatnya bahwa Tuhan Yang Maha Esa, Allah S.W.T. telah melimpahkah anugerahNya kepada setiap orang sesuai yang diperlukan karena perbuatan baik yang dilakukan.

 

-o0o-

Sebuah anekdot :

PANGLING

 

Seorang Ibu yang berumur 50 tahun terkena serangan jantung dan segera dilarikan ke rumah sakit. Dalam keadaan kritis di atas meja operasi si Ibu melihat malaikat mendekat, kemudian bertanya :

“Wahai malaikat, apakah hidup saya hanya sampai di sini ?”

Malaikat pun menjawab : “Manurut catatan, Anda masih punya waktu untuk hidup 24 tahun 3 bulan dan 21 hari lagi.”

Setelah kondisi nya membaik, si ibu ini memutuskan tetap berada di rumah sakit untuk menjalani operasi wajah, suntik bibir, implant buah dada dan pinggul, juga implant gigi dan rambut.

Singkatnya si Ibu mengambil paket lengkap, karena dia merasa masih punya waktu hidup yang cukup lama.

Namun beberapa waktu setelah selesai menjalani operasi, pada suatu hari saat menyeberangi jalan, si Ibu tersambar oleh mobil yang sedang melaju dengan kencang. Maka si Ibu pun seketika tewas di tempat.

Kemudian, Malaikat yang sama datang, dan si ibu itu pun bertanya : “Malaikat, bukankah malaikat sudah menjanjikan kepada saya untuk hidup 24 tahun lagi ? Tetapi mengapa malaikat tidak menyelamatkan saya pada saat saya ditabrak mobil ?”

Malaikat pun menjawab : “ Saya PANGLING melihat ibu….…..suueeerrr…..”

 

-o0o-

BANDUNG – INDONESIA, JULI – 2018

Cerita : Budi Sardjono

(Gubahan  Ki Ageng Bayu Sepi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *