IBU GURU LARASHATI

HIDUP ADALAH PERUBAHAN POLA PIKIR YANG POSITIF UNTUK MEMBAWA KEPADA KEHIDUPAN YANG LEBIH BAIK DAN LEBIH DEWASA, BUKAN HANYA SEKEDAR MENJADI TUA.

JANGAN TAKUT JATUH DAN JANGAN TAKUT SALAH, KARENA SETIAP KESALAHAN YANG DI LAKUKAN ADALAH BAGIAN DARI PROSES PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN.

HIDUP INI SANGATLAH SINGKAT, OLEH KARENA ITU JANGANLAH  DIGUNAKAN HANYA UNTUK SEKEDAR BERDEBAT, TETAPI LEBIH BAIK MENJAGA MARTABAT AGAR HIDUP BISA MENJADI BERKAT BUAT BANYAK ORANG.

SETIAP ORANG MEMPUNYAI SISI BAIK DAN  SISI YANG BURUK. BICARAKANLAH PERIHAL KEBAIKANNYA JIKA DI DEPAN UMUM, TAPI APABILA MENASEHATI DIA TENTANG KEBURUKANNYA HARUSLAH DI RUANG PRIBADI.

 

Ibu Guru Larashati adalah termasuk seorang guru yang mengenal sekali teknologi informasi, hal tersebut ditandai dengan Hand Phone yang tidak pernah terlepas dari genggaman tangannya. Kebiasaan bermain dengan HP tersebut seringkali menjadi bahan pembicaraan diantara teman-teman guru di tempat Pinastiti mengajar.

Pembicaraan tersebut baru berhenti kalau Ibu Guru Larashati sudah masuk ruangan guru. Rata-rata sifat manusia pada umumnya memang demikian, dapat dikatakan sebagai hanya berani menghadapi pantat tetapi tidak berani untuk menghadapi muka/wajah.

Pinastiti sebagai seorang guru yang masih baru di sekolah itu, hanya bisa mendengarkan saja apa yang sedang dibicarakan oleh para teman guru tanpa dapat sedikitpun masuk dalam acara pembicaraan tersebut untuk memberikan sedikit masukan.

Di facebook maupun di whatsaap Ibu Larashati pun sering sekali menulis status dan ada saja yang menjadi bahan tulisannya tidak hanya sekedar copy paste saja, termasuk mengupload photo kegiatan pelatihan, photo ketika sedang mengajar, maupun photo-photo dokumentasi kegiatan lainnya.

Pinastiti sendiri berteman dengan Ibu Larashati di media social kurang lebih sudah dua tahun ini, ketika itu bertepatan Pinastiti mulai pindah mengajar di SMP. Dan menurut pendapatnya Ibu Larashati, orangnya familier dan selalu bersikap baik kepada siapapun, oleh karena itu dia pantas untuk diacungi jempol.

Prestasinya sangat menonjol sehingga banyak sekali penghargaan yang diperolehnya, mulai dari juara guru idola, guru berprestasi tingkat Kota/Kabupaten hingga tingkat nasional.

Akan tetapi tidak semua teman guru senang dengan prestasi yang telah berhasil diperoleh Ibu Larashati. Seperti hal nya pada siang hari itu, ada saja pembicaraan mengenai Ibu Larashati yang dimulai dari prestasi sampai dengan urusan pribadi yang bisa menyebabkan panasnya telinga orang yang mendengar.

Apalagi sejak siang itu berlaku sebuah peraturan baru untuk para guru yaitu mereka wajib absen dengan menggunakan fingerprint atau absen dengan menggunakan jari telunjuk yang harus ditempelkan pada alat elektronik sebagai bukti kehadiran yang dimulai dari pk. 06.30 hingga 14.00. WIB.

Sebelum pukul dua siang guru belum boleh pulang. Oleh karena itu sambil menunggu jam pulang, para teman guru mengisi waktu ada yang dengan menyelesaikan pekerjaan yang belum selesai, mengotak-atik perangkat mengajar, mengoreksi naskah para siswa dan juga ada yang tidur mendengkur di ruang UKS.

“Tidak masuk lagi ya Ibu Lasahati ? Pergi kemana gerangan Ibu Larashati, guru yang cantik, manis dan juga keren itu kok tidak kelihatan batang hidungnya ?” suara Ibu Fitriyani guru IPA yang bertanya memecah kesunyian.

“Biasa, guru yang berprestasi kan memang harus demikian, sibuk kesana-kemari. Jam terbangnya kan sudah tinggi, jadi jelas pasti berbeda dengan guru yang biasa seperti kita-kita ini, yang setiap harinya hanya berdiam di ruang kelas,” jawaban Ibu Nur Aminah.

Kedua orang guru itu memang seringkali memancing pembicaraaan yang isinya hanya menyebar rasa iri hati. Segala sesuatu yang kurang penting di buat menjadi bahan pergunjingan. Barangkali sepertinya saja kalau sehari tidak membicarakan tentang keburukan orang lain akan merasa sakit-sakit badannya.

“Kemarin sore aku berpapasan dengan Ibu Larashati, yang sedang dibonceng oleh Bapak Wicaksono guru olahraga SMK. Mangka sudah jelas kalau suaminya itu sedang sakit stroke, kok ya sampai hati benar dia pergi berboncengan dengan lelaki lain,” kembali kata Ibu Fitriyani sambil mencibirkan bibirnya.

“Ya begitulah sebagai akibatnya. Pertama-tama bermain HP, curhat-curhatan lewat whatsaap, media social, yang akhirnya ketemu darat dan kemudian bermesraan,” jawab Ibu Nur Aminah yang mempertajam rasa kebencian.

“Apakah Pak Wicaksono yang istrinya baru saja meninggal dunia seratus hari yang lalu ?  Yang rumah tinggalnya dibatas kota ?” pertanyaan Ibu Puspasari yang ikut menambah pembicaraan.

“Lha, kok ibu Puspa malahan sudah tahu. Benar sekali Bu Puspa, Pak Wicaksono itu orangnya yang berperawakan tinggi besar dan tampan itu lho, Bu Puspa. Lha ibu Puspasari tahu dari siapa ?” tanya Bu Fitriyani seperti menyelidik.

“Ya jelas kenal sekali Bu Fitri, karena memang Pak Wicaksono itu adalah teman kuliah saya ketika di IKIP dahulu.”

“Kalau saja Pak Priambada mengetahui tentang hal itu tentunya akan menjadi semakin bertambah berat sakitnya, karena merasakan sakit hati sebab perilaku istrinya yang menyimpang. Sudah tidak merawat suami yang sedang menderita sakit, tetapi malahan ……..” ucap Ibu Fitriyani yang sengaja tidak dilanjutkan.

“Sudah, sudah kita sudahi saja membicarakan masalah teman atau orang lain. Siapa tahu ketika Ibu Larashati yang bepergian dan diantar oleh Pak Wicaksono itu sedang mengurus kepentingan lain yang harus segera diselesaikan. Jadi sebaiknya jangan hanya sekedar memperkirakan saja tanpa mempunyai bukti yang nyata,” celetuk Ibu Maheswari guru IPS memberhentikan mereka yang sedang menggosip atau bergunjing. Barangkali saja Ibu Maheswari merasa terganggu dengan pembicaraan tersebut.

“Betul sekali Ibu Maheswari, kita sama sekali tidak boleh berprasangka yang seperti itu. Sebab, hubungan Bapak Priambada suami Ibu Larashati dengan Bapak Wicaksono itu adalah masih saudara sepupu. Saya mengerti hal itu karena dahulu saya satu kampus tetapi berbeda jurusan,” penjelasan Ibu Puspasari.

“Jaman sekarang banyak lho yang terjadi, perselingkuhan dengan saudara,” kata bu Nur Aminah yang sepertinya kurang puas karena apa yang dikatakannya dibantah oleh orang lain..

Pinastiti sendiri hanya mendengarkan para teman-teman guru berbicara sambil mengoreksi pekerjaan murid-murid tentang pelajaran Budi Pekerti. Pinastiti merasa sangat kecewa karena banyak sekali murid-murid yang memberikan jawaban dengan menulis asal saja. “Apakah aku yang kurang pandai mengajar sehingga para murid-muridku tidak memahaminya ?” tanya Pinastiti dalam hati. Yang akhirnya kegiatan dalam mengoreksi hasil pekerjaan mereka dihentikan dan diberesi. “Lebih baik kuteruskan besok lagi saja mengoreksi hasil pekerjaan anak-anak sambil menanyakan mengapa mereka tidak bisa menyelesaikan pekerjaan dengan baik,” kembali katanya dalam hati.

“Sudahlah ibu-ibu, besok pagi Ibu Larashati pasti masuk. Barangkali saja akan memberikan keterangan mengapa hari ini dia tidak bisa mengajar,” yang tiba-tiba saja Pinastiti memberanikan diri dan langsung saja masuk ke dalam pembicaraan itu untuk mengeluarkan isi hatinya sebab tidak kuat lagi untuk menahan lebih banyak mendengar pembicaraan Ibu Fitriyani dan Ibu Nur Aminah. Karena memang hanya dia sendiri diantara guru-guru yang ada yang mengerti benar mengapa pada hari ini Ibu Larashati tidak mengajar.

Ibu Fitriyani dan Ibu Nur Aminah hanya melirik dan tersenyum sisnis ketika mendengar apa yang disampaikan oleh Pinastiti, namun tidak berkata apapun juga,

Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 14.00 WIB, semua guru sudah mengantri absen finger print. Ketika Pinastiti sampai di halaman tempat parkir di sekolah HP nya berbunyi sebagai tanda kalau ada pesan whatsapp yang masuk. Dan ketika dibuka ternyata pesan tersebut datangnya dari Ibu Larashati yang menanyakan keadaan di sekolah hari ini.

Pinastiti bingung harus bagaimana memberikan jawabannya agar bisa jelas dengan waktu yang singkat. Kemudian diputuskan HP tersebut di tutup lagi dan dimasukkannya kedalam tas, maksudnya nanti saja kalau sudah sampai dirumah akan memberikan jawaban yang lengkap, agar bisa lebih leluasa waktunya.

Tetapi baru saja sampai di rumah dan sedang menstandarkan motor HP nya sudah berbunyi dan menggeletar lagi, ada panggilan telepon dari Bu Larashati, untuk menanyakan kembali mengenai jawaban pertanyaan yang belum sempat di balas oleh Pinastiti.

Kemudian di atur nya dengan hati-hati agar tidak salah, dalam setiap kalimat yang akan disampaikan kepada Ibu Larashati. Pinastiti sendiri sebenarnya merasa tidak sampai hati dan kasihan untuk menyampaikan penjelasan itu karena hal tersebut pasti akan menambah pederitaan hati Ibu Larashati.

“Ah ya biar sajalah dik, kalau memang demikian anggapan teman-teman terhadap diriku,” jawaban dari Ibu Larashati dengan sabar, suaranya tetap enak didengar dengan tidak menunjukkan adanya rasa jengkel atau sakit hati. Semuanya disimpan dengan rapi.

Kemudian pada keesokan pagi harinya, hujan gerimis menemani kewajiban Pinastiti sebagai seorang guru untuk berangkat mengajar.  Kedatangannya di tempat parkiran sekolah berbarengan dengan datangnya Ibu Larashati. Jika diperhatikan memang anggun, cantik, manis, sabar serta lembut keibuan wajah Ibu Guru Bahasa Mandarin yang satu ini. Walaupun sehabis kehujanan dan tertutup mantel atau jas hujan tetap tidak mengurangi kecantikan wajahnya. Wajah yang kelihatan segar dan bisa membuat senang siapa saja yang memandang…….

“Mohon maaf Bapak dan Ibu guru semuanya, mohon waktunya sebentar, ada yang hendak saya sampaikan !” kata Ibu Larashati sambil berdiri, menghentikan suara yang terdengar riuh di ruang guru ketika jam istirahat.

“Mohon maaf bahwa kemarin saya tidak bisa mengajar karena ada keperluan keluarga,” kata Ibu Larashati lagi dan terlihat Ibu Nur Aminah dan Ibu Fitriyani mencibirkan bibirnya.

“Dan pada kesempatan ini saya memberi tahukan bahwa hari ini saya akan berpamitan, karena SK mutasi saya untuk bertugas mengajar di Kota lain sudah keterima. Dan sudah beberapa waktu saya mempersiapkan hal ini, seperti permintaan Pak Priambada yang sedang menderita sakit, agar bisa dekat dengan orang tuanya serta untuk keperluan berobat.

Oleh karena itu mohon dukungan doa Bapak dan Ibu semuanya. Sebenarnya hanya Ibu Pinastiti saja yang mengerti benar tentang keadaan saya saat ini. Dan perihal Pak Wicaksono, dia masih saudara sepupu dengan Pak Priambada suami saya. Malahan kemarin saya diantarkan untuk mencari kendaraan untuk disewa guna mengangkut barang-barang untuk dibawa pindah ke Kota lain, di tempat kerja yang baru,” demikian kata Bu Larashati yang dalam hatinya merasa agak jengkel.

Semua orang yang berada di ruang guru menjadi terkejut dan terdiam seketika, sejenak suasana menjadi sangat hening karena tidak ada yang bersuara sedikitpun. Sepertinya kalau ada sebatang jarum jatuh ke lantai pasti terdengar suaranya.

Setelah Bu Larashati pergi meninggalkan ruang guru tersebut, kemudian Pinastiti didekati oleh teman-teman guru dan dipersalahkan karena menyembunyikan permasalahan Ibu Larashati sehingga menimbulkan prasangka yang bermacam-macam.

Semuanya diterima Pinastiti dengan ikhlas, mungkin karena Pinastiti hanya ingin setia untuk menepati janji kepada teman, dan tidak akan mengingkari janji tersebut dengan mengatakan apa yang sedang terjadi.

-o0o-

Saudaraku pembaca semuanya yang saya hormati terutama di kalangan sendiri, reka cerita diatas hanya sekedar merupakan sebuah gambaran dari contoh kejadian yang mungkin bisa dijumpai dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat.

Melalui reka ceritera itu yang intinya adalah bahwa dengan mudah menilai jelek atau mudah memfonis orang lain menurut anggapan diri sendiri yang mungkin hanya didasari karena perasaan yang kurang senang, karena melihat keadaan atau kegiatan luarnya saja adalah perbuatan yang salah. Sebab pandangan mata fisik atau pandangan mata jasmani seringkali mudah tertipu.

Sebagai contoh kami tampilkan pula beberapa buah cerita antara lain yang berjudul : Sebuah Lilin, Orang ini Sombong Sekali dan Terlalu cepat Menilai sebagai sebuah gambaran bahwa penilian yang kurang baik berdasarkan pandangan mata jasmani seringkali salah, yang bisa diambil hikmahnya sebagai pesan moral dan bahan perenungan dalam menjalani kehidupan kita masing-masing didalam bermasyarakat.

 

SEBATANG LILIN

Diceritakan ada seorang Perempuan Muda yang menyewa rumah dan bersebelahan dengan kontrakan rumah seorang ibu miskin dengan 2 orang anaknya.

Pada suatu malam tiba-tiba aliran listrik mati dan tidak ada sebuah lampu pun yang menyala. Maka dengan bantuan cahaya handphone Perempuan Muda itu kemudian melangkah ke dapur dengan maksud akan mengambil beberapa batang lilin. Tiba-tiba saja terdengar ada suara yang mengetuk di pintu depan rumah yang disewanya….

Ternyata yang mengetuk pintu tersebut adalah seorang gadis kecil miskin yang ikut ibunya yang mengontrak disebelah rumahnya !! Kemudian dengan wajah yang kelihatan risau dan cemas gadis kecil itu bertanya : “Kakak, apakah Kakak punya lilin atau tidak ?”

Perempuan muda itu berfikir dan berkata dalam hatinya : “Dengan keadaan yang gelap begini dia pasti akan meminjam atau meminta lilin. MAKA JANGAN  DIBERIKAN ! Karena nanti bisa menjadi suatu kebiasaan untuk selalu terus-terusan meminta.”

Maka perempuan muda itu dengan singkat menjawab : “TIDAK ADA !!”

Tetapi berbeda dengan keadaan si gadis kecil miskin tersebut yang berkata dengan riang : “Saya sudah menduga kalau kakak tidak ada lilin, ini saya punya 2 batang  lilin, yang sebatang saya bawakan untuk kakak. Kami khawatir karena kakak yang tinggal di rumah sendirian dan tidak ada lilin untuk penerangan.”

Dalam hati Perempuan Muda itu merasa sangat bersalah, lalu dengan linangan airmata, dia langsung memeluk gadis kecil miskin itu erat-erat…..

 

Moral cerita : Jangan menilai keburukan orang lain hanya karena mereka kelihatan MISKIN / TIDAK MAMPU. Yang harus di ingat ! Kekayaan tidak bergantung seberapa banyak yang kita PUNYA, tetapi seberapa kita MAMPU untuk BERBAGI kepada mereka yang TIDAK MAMPU.

“Miskin bukan berarti tidak PUNYA APA-APA dan KAYA bukan berarti PUNYA SEGALANYA.”

-o-

 

ORANG INI SOMBONG SEKALI

Dalam sebuah Kereta Api Ekonomi non-AC yang lumayan panas dan sesak, ada Seorang Eksekutif Muda, dengan jas elegan yang berdiri di sana, dan  berdesak-desakan dengan penumpang yang lain.

Sesaat kemudian, dia membuka Tablet Androidnya, yang terlihat Lebih Besar apabila dibanding dengan smartphone pada umumnya.

Semua penumpang yang berada di dekatnya menoleh padanya atau setidaknya melirik ke arahnya, karena perilakunya itu mengundang komentar para orang-orang yang berada disekitarnya, walaupun hanya dalam hati dan tidak disuarakan.

Kira-kira apa yang dikatakan atau dikomentarkan dalam hati mereka ?

Seorang nenek-nenek membatin : “Orang Muda jaman sekarang, kaya sedikit saja sudah langsung pamer. Naik Kereta Api kelas Ekonomi saja, sudah pamer-pameran.”

Seorang emak-emak membatin : “Mudah-mudahan suami saya nggak senorak dia. Norak di Kereta Api kelas Ekonomi bukanlah hal yang terpuji.”

Seorang gadis ABG membatin : “Keren sih keren, tapi nggak banget deh sama gayanya. Kenapa nggak naik Kereta Api Eksekutif ber-AC saja, kalau mau pamer yang begituan ?”

Seorang Pengusaha membatin : “Sepertinya dia baru saja kenal dengan keadaan ‘kaya’. Atau baru saja mendapat warisan, andaikata saja dia merasakan pahit getirnya sebuah kehidupan, sudah barang tentu dia tidak akan pamer barang seperti itu di Kereta Api kelas Ekonomi. Kenapa nggak naik Kereta Api Eksekutif yang ber-AC saja ?”:

Seorang pemuka agama melirik sambil membatin : “Andaikata saja dia belajar ilmu agama dengan baik, tentu dia tidak akan berlaku sesombong itu, dan suka pamer  !”

Seorang pelajar SMA membatin : “Gue tau lo kaya. Tapi plis deh, lo ga perlu pamer gitu kalle, ke gua. Gua tuh ga butuh style elo. Kalo lo emang pengen diakuin, lo bisa out dari sini, terus naik Kereta Eksekutif yang ber AC, ill feel gue.”

Seorang tunwisma membatin : “Orang ini terlalu sombong, ingin pamer di depan rakyat kecil.”

Dan yang sebenarnya terjadi adalah bahwa dia memang sedang ada chat penting dengan para donatur. Chat mengenai dana untuk membantu warga masyarakat yang menjadi korban banjir.

Kemudian si Eksekutif Muda tersebut menyimpan kembali tabletnya di dalam tasnya. Dalam hatinya dia membatin : “Puji syukur ya Tuhan, akhirnya akhirnya para donatur bersedia untuk memberikan bantuan, dan ini merupakan kabaryang  baik sekali.”

Lalu, dia menyempatkan diri melihat ke dalam kantong bajunya. Dan disitu ada secarik tiket Kereta Ekonomi.

Kemudian dia kembali membatin : “Untunglah tadi Karcis Keretaku sempat saya tukar dengan Karcis Kereta milik seorang nenek tua yang hendak naik Kereta Ekonomi yang sesak ini. Tidak sampai hati saya melihatnya dan biarlah nenek tua itu saja yang naik Kereta Kelas Eksekutif  ber AC itu…

-o0o-

TERLALU CEPAT MENILAI

Ada sebuah kapal pesiar yang mengalami kecelakaan di laut dan akan segera tenggelam.

Di dalamnya terdapat penumpang sepasang suami istri yang berlari menuju ke sekoci untuk menyelamatkan diri. Ketika sampai di sana, mereka menyadari bahwa hanya ada tempat untuk satu orang yang tersisa.

Segera sang suami melompat mendahului istrinya untuk mendapatkan tempat itu. Sang istri hanya bisa menatap kepadanya sambil meneriakkan sebuah kalimat sebelum sekoci menjauh dan kapal itu benar-benar tenggelam.

Kemudian Guru yang menceritakan kisah ini bertanya pada murid-muridnya : “Menurut kalian, apa yang istri itu teriakkan sebelum ia tenggelam ?”

Sebagian besar murid-murid itu menjawab :

“Aku benci kamu !!!”

“Kamu adalah orang  buta  perasaan !!!

“Kamu egois  !!!”

“Nggak tanggung jawab !”

“Nggak tau malu !”

 

Tapi ada seorang murid yang sejak tadi hanya diam saja. Lalu Guru itu meminta murid yang hanya diam saja itu menjawab.

Kata si murid : “Guru, saya yakin si istri pasti berteriak,  ‘Tolong jaga anak kita baik-baik…’.”

 

Guru itu terkejut dan bertanya : “Apa kamu sudah pernah dengar cerita ini sebelumnya ?”

 

Murid itu menjawab sambil menggelengkan kepalanya : “Belum pak. Tapi itu yang dikatakan oleh ibu saya sebelum dia meninggal karena penyakit kronis yang dideritanya.”

 

Guru itu menatap seluruh kelas dan berkata : “Jawaban itu,  BENAR !!!”

 

Kapal pesiar itu kemudian benar-benar tenggelam dan sang suami pulang untuk membesarkan dan memdidik anak mereka sendirian.

 

Bertahun-tahun kemudian setelah sang suami meninggal, anak itu menemukan buku harian ayahnya. Di sana dia menemukan kenyataan bahwa, saat orangtuanya naik kapal pesiar itu, mereka sudah mengetahui bahwa sang ibu menderita penyakit kanker ganas dan akan segera meninggal.

 

Karena itulah, di saat darurat seperti itu, ayahnya memutuskan mengambil satu-satunya kesempatan untuk bertahan hidup. Dia menulis kisahnya di buku harian itu : “Betapa aku berharap untuk mati di bawah laut bersama denganmu. Tapi demi anak kita, aku terpaksa dengan hati menangis membiarkan kamu tenggelam sendirian untuk selamanya di bawah sana…”

 

Cerita itu selesai. Dan seluruh kelaspun terdiam.

 

Guru itu kemudian menjelaskan kepada murid-muridnya hikmah dari cerita tersebut.

 

Bahwa, kebaikan dan kejahatan di dunia ini tidak sesederhana yang kita sering pikirkan. Ada berbagai macam komplikasi dan alasan di bailknya yang terkadang SULIT untuk dimengerti.

 

Karena itulah kita seharusnya jangan pernah melihat hanya luarnya saja dan kemudian langsung menghakimi, apalagi tanpa tahu apa-apa.

 

Mungkin…

 

Mereka yang sering membayar untuk orang lain, bukan berarti mereka kaya, tapi karena mereka menghargai hubungan daripada uang.

 

Mereka yang bekerja tanpa ada yang menyuruh, bukan karena mereka bodoh, tapi karena mereka menghargai konsep tanggung jawab.

 

Mereka yang minta maaf duluan setelah bertengkar, bukan karena mereka bersalah, tapi karena mereka menghargai orang lain.

 

Mereka yang mengulurkan tangan untuk menolongmu, bukan karena mereka merasa berhutang, tapi karena menganggap kamu adalah Sahabat.

 

Mereka yang sering mengontakmu, bukan karena mereka tidak punya kesibukan, tapi karena kamu ada di dalam hatinya….

-o-

 

Memperhatikan kejadian seperti beberapa cerita kecil diatas, kalau direnungkan sangat sering terjadi di kehidupan sehari-hari. Secara jujur saja terkadang kita sendiri sebagai manusia biasa juga terjebak untuk menilai seseorang dari penampilan luarnya saja. Dan mungkin masih banyak orang yang akhli dan biasa menghakimi serta menilai kesalahan orang lain dari penampilan luarnya saja, atau dari penampilan yang terlihat oleh mata saja, tanpa berusaha menilai yang tidak tampak oleh mata.

Hanya karena penampilan luar yang memberi kesan negative lalu tanpa di sadari mempunyai kebiasaan buruk yaitu menilai dan menghakimi orang lain tanpa mau mengetahui lebih dalam tentang seseorang yang di berikan penilaian negative.

Misalnya mulai dari warna baju yang kurang serasi, dandanan yang berlebihan, kondisi badan yang kurang sempurna atau gaya berbicara yang logat atau aksen daerahnya sangat kental sehingga terdengar lucu yang sering dijadikan sebagai bahan penilaian.

Kebiasaan seperti itu yang tanpa disadari seringkali di lakukan yaitu menilai orang lain hanya dengan sekilas pandang. Ada hal yang dilupakan, yaitu bahwa setiap manusia mempunyai sisi berbeda, karena memang diciptakan berbeda.

Meskipun manusia diberikan sepasang mata yang sehat dan berfungsi sempurna, tetapi mata tetaplah mata yang memiliki keterbatasannya sendiri yang seringkali salah dalam menilai karena hanya mampu melihat sisi permukaan saja yang tidak bisa menelusuri sisi terdalam dari orang lain.

Sebab mungkin saja mereka yang dari luar terlihat dingin bisa jadi memiliki ketulusan dan sebaliknya, orang yang dari luar terasa menyenangkan mungkin saja di dalamnya punya sifat yang sebetulnya menjengkelkan.

Dihakimi itu tidak menyenangkan. Bisa dibayangkan andaikata saja kalau kita sendiri yang dihakimi oleh orang lain, entah karena kita memang bersalah atau tidak bersalah. Dan peristiwa itu akan menimbulkan perasaan marah, jengkel, kesal, malu, sedih, merasa tidak berharga dan lain-lain.

Dan lagi yang harus diingat, bahwa sebagai sesama manusia  semestinya harus menyadari bahwa orang yang menilai belum tentu jauh lebih baik daripada orang yang dihakimi.

Maka akan lebih baik apabila sebelum memberi penilaian, meluangkan waktu terlebih dahulu untuk mengenali orang dari bagian lainnya, yaitu untuk menyelami sisi terdalam dari seseorang.

Dengan bercermin, melihat pada keadaan diri sendiri yang ternyata penuh dengan kekurangan, maka harus menjadi lebih bijaksana dalam melihat dan menilai orang lain.

Dari hal tersebut diatas maka dapat disimpulkan sebagai berikut :

  1. Manusia diciptakan berbeda.

Manusia memang diciptakan berbeda-beda. Dari segi fisik saja banyak perbedaan, apalagi dari segi nonfisiknya. Jika manusia punya sisi hati dan isi kepala yang sama, maka kita bukan lagi manusia namanya, melainkan sebuah robot. Oleh karena itu harus dihargai dan dinikmati adanya perbedaan tersebut.

  1. Tidak ada manusia yang sempurna.

Tidak ada manusia di dunia ini yang sempurna, termasuk kita semua. Oleh karena itu sebelum kamu menilai orang lain, lebih baik bercermin pada kekurangan diri sendiri. Sebab kekurangan yang ada pada diri sendiri mungkin lebih buruk daripada kekurangan yang dimiliki oleh orang lain, maka harus lebih bijaksana dalam menilai orang lain.

  1. Setiap orang memiliki sisi kebaikan dan sisi yang jahat.

Tidak akan pernah ditemukan manusia yang sepenuhnya jahat atau manusia yang sepenuhnya baik. Karena keduanya yaitu Sisi Baik dan Sisi yang jahat ada di dalam hati manusia.

  1. Menilai buruk orang lain tidak membuat diri menjadi lebih baik.

Menilai buruk mereka tidak membuat kamu jadi manusia yang lebih baik. Baik itu reletif. Karena unsur kebaikan itu sangat banyak dan pengertian baik itu sendiri sangat luas.

  1. Penampilan bisa mengecoh pandangan mata.

Yang terlihat oleh mata belum tentu benar, penampilan luar bisa mengecoh, karena bekum tentu mencerminkan apa yang ada di dalamnya. Manusia berpikir bahwa dia tahu apa yang terjadi, namun bisa saja dia tidak tahu apa-apa sama sekali. Sebuah Hikmah saja bersembunyi dibalik sebuah Musibah, apalagi tentang penampilan seseorang. Yang jelas pasti bisa ditutupi.

  1. Belum tentu diri sendiri lebih baik dari orang lain.

Hal paling utama yang harus selalu diingat yaitu sebelum menjatuhkan panilaian pada orang lain,  harus tahu bahwa belum tentu diri sendiri yang menilai itu lebih baik daripada orang lain yang dinilai.

  1. Hanya karena tidak disukai bukan berarti mereka salah.

Seperti Ibu Larashati yang mengerti tentang tekonologi informasi sedangkan Ibu Nur Zakiah dan Ibu Fitriayani tidak bisa atau ketinggalan, dan juga Ibu Larashati mempunyai prestasi bagus dan Ibu Nur Zakiah atau Ibu Fitriyani kurang senang dengan hal itu, bukan berarti Ibu Larashati itu salah.

  1. Setiap orang diciptakan Tuhan karena sebuah alasan.

Tidak ada ciptaan di dunia ini yang tidak berguna, misalnya Nyamuk yang kecil diciptakan bukan hanya untuk menggigit manusia tetapi juga untuk menciptakan lapangan pekerjaan. Demikian juga dengan manusia, mereka diciptakan Tuhan untuk satu alasan.

  1. Memandang rendah mereka sama dengan meremehkan Penciptanya.

Memandang rendah seseorang berarti sama dengan meremehkan Penciptanya, karena Manusia yang dinilai buruk itu adalah ciptaan Sang Pencipta.

 

MENYIMAK CERITA IBU GURU LARASHATI DIATAS MAKA YANG HARUS DIJAGA ADALAH :

  1. Dengan Berlindung juga Mohon Ampunan dan Mohon Bantuan Tuhan Yang Maha Kuasa serta Berusaha Agar :
  2. Jangan sampai menjadi orang yang,

mempunyai lidah yang dengan mudah membicarakan kelemahan atau kekurangan orang lain, namun tidak menyadari bahwa dirinya sendiri mempunyai sangat banyak keburukan dan tak sanggup untuk membenahinya.

  1. Jangan sampai menjadi orang yang,

sombong dan berbangga diri karena memiliki pengetahuan atau ilmu serta memandang rendah kepada orang lain yang berbeda dengannya.

  1. Jangan sampai menjadi orang yang,

egonya terlalu tinggi, hingga merasa diri sendiri paling baik apabila di bandingkan dengan orang lain.

  1. Jangan sampai menjadi orang yang,

keras hati dan sulit menerima nasihat, akan tetapi sangat pandai memberikan nasehat.

  1. Jangan sampai menjadi orang yang,

merasa dirinya sendiri paling benar sehingga dengan mudah merendahkan orang lain.

  1. Jangan sampai menjadi orang yang,

hanya hebat dalam berkata-kata, hebat dalam menasehati akan tetapi dirinya sendiri sangat susah untuk mentaatinya.

  1. Jangan sampai menjadi orang yang,

hanya cerdas dalam mengoreksi dan mengkritik orang lain, akan tetapi tidak mampu dalam mengintrospeksi perilaku dirinya sendiri.

  1. Jangan sampai menjadi orang yang,

membenci dosa atau kesalahan orang lain akan tetapi dirinya sendiri sering berbuat kesalahan dan tidak mau merubahnya.

 

-o-

  1. Oleh Karena Itu Harus Berusaha Membersihkan Pikiran

Andaikata bisa di ibaratkan, Apakah Mungkin dengan selembar Daun yang Kecil dapat menutupi Bumi yang Luas ini ? Sedangkan untuk menutupi telapak tangan yang jauh lebih kecil saja sudah sulit…..

Akan tetapi apabila Daun yang Kecil itu menempel di Pelupuk Mata, jangankan hanya telapak tangan yang jauh lebih kecil, maka dengan sendirinya akan tertutuplah muka bumi ini……..

Demikian juga apabila manusia ditutupi pikiran buruk sekecil apapun, maka yang akan terlihat adalah keburukan berada dimana-mana. Bahkan mungkin bumi ini pun juga akan terlihat buruk.

Oleh karena itu usahakan jangan menutup mata, walau pun hanya seujung kuku. Dan jangan pula menutupi diri dengan sebuah pikiran buruk, walaupun hanya seujung kuku….

Apabila pribadi itu tertutup, maka akan tertutuplah semuanya……

Bisa di ibaratkan seperti air yang amat banyak yang terdapat di lautan luas dan dalam, tetapi air tersebut tidak akan bisa menenggelamkan sebuah perahu kecil yang berada di atasnya, kecuali kalau perahu itu bocor dan air tersebut mulai masuk ke dalam badan perahu.

Demikian juga dengan kehidupan ini, karena Gosip dan segala macam Penilaian Negative akan selalu ada di sekeliling kehidupan manusia. Namun semuanya itu tidak akan sanggup menenggelamkan manusia, kecuali manusia tersebut membiarkan semua itu masuk ke dalam pikirannya.

Dalam menjaga pikiran agar selalu bersih bukanlah merupakan tanggung jawab orang lain, akan tetapi adalah tanggung jawab dari diri pribadinya masing-masing.

Seseorang tidak bisa menyalahkan orang lain untuk setiap masalah yang hadir dalam hidupnya, apabila seseorang itu sendiri tidak mau bertanggung jawab, karena sudah membiarkan “sampah” masuk dan mengotori hidupnya,

Jadi seseorang tersebut harus menyaring apapun yang masuk melalui pikirannya, karena pikiran itu adalah sebagai pintu gerbangnya. Apabila pikiran itu baik, maka akan terasa nyamanlah hidupnya.

-o-

  1. Dalam Kehidupan sehari-hari, kita sebagai manusia akan bertemu dengan orang yang lain dengan jenis perilaku yang berbeda, antara lain sebagai berikut :
  2. Orang yang mau membantu, ketika kita sedang mengalami susah…….
  3. Orang yang meninggalkan kita, ketika kita sedang susah….
  4. Orang yang menyebabkan diri kita menjadi susah…..

Jangan dulu menilai jelek hal tersebut terutama pada point ke 2 dan ke 3, karena ketiga jenis perilaku orang tersebut dapat dikatakan membawa berkah dalam kehidupan ini. Mengapa bisa dikatakan demikian ???

Sebab perilaku ke 3 jenis perilaku orang ini secara tidak langsung, selain melatih kesabaran (Potensi Diri) kita, juga membuat kita semakin dewasa dan bijaksana…..

Ketika ada orang bicara mengenai kita di belakang, itu adalah merupakan tanda bahwa kita sudah berada di depan mereka.

Pada saat ada orang bicara merendahkan diri kita, itu adalah merupakan tanda bahwa kita sudah berada di tempat yang lebih tinggi dari mereka.

pada saat ada orang bicara dengan nada iri mengenai kita, itu adalah merupakan sebuah tanda bahwa kita sudah jauh lebih baik dari mereka.

Pada saat ada orang bicara buruk mengenai diri kita, padahal kita tidak pernah mengusik kehidupan mereka, itu adalah tanda bahwa kehidupan kita sebenarnya jauh lebih indah dari pada kehidupan mereka.

Sebuah Payung tidak dapat menghentikan hujan, akan tetapi dengan payung tersebut membuat kita bisa berjalan menembus hujan untuk mencapai Tujuan….

Orang pandai bisa gagal, orang hebat bisa jatuh, tapi orang yang Rendah Hati dalam segala hal akan selalu mendapat jalan untuk menempatkan diri dengan seimbang karena Kokoh Pijakannya.

 

PERIHAL MENEPATI JANJI

Seperti halnya Pinastiti sendiri dalam cerita diatas yang berusaha Menepati Janji kepada teman (Larashati) untuk tidak menceritakan hal yang sebenarnya sedang terjadi atau dialami kepada orang lain, sehingga akhirnya disalahkan oleh banyak orang, dan hal tersebut diterimanya dengan ikhlas.

Janji adalah hutang, Dan Janji memang mudah atau ringan untuk diucapkan namun terkadang berat untuk ditepati atau dipenuhi.

Pengertian Janji menurut Kamus bahasa Indonesia adalah perkataan yang menyatakan kesediaan dan kesanggupan untuk melakukan sesuatu atau berbuat.

Pengertian lain menyebutkan bahwa yang disebut dengan janji adalah pengakuan yang mengikat diri sendiri terhadap suatu ketentuan yang harus ditepati atau dipenuhi.

Menepati janji merupakan salah satu sifat terpuji yang menunjukkan keluhuran budi manusia dan sekaligus menjadi hiasan yang dapat mengantarkannya mencapai kesuksesan dari upaya yang dilakukan.

Menepati janji merupakan salah satu kewajiban yang harus dilakukan oleh setiap Orang yang Beriman.

 

-o-

Sebuah anekdot :

TERLALU CEPAT MENILAI

Diceritakan persahabatan antara TARZAN ketika masih muda dengan seekor KERA muda, dan persahabatan atau pertemanan ini sudah lama sekali terjalin…. Yang jelas mereka sudah sangat akrab, tidak ada permasalahan yang terjadi yang tidak mereka bicarakan bersama, dengan perkataan yang berbeda tidak ada rahasia diantara mereka.

 

Pada suatu hari ketika mereka sedang berjalan-jalan di pinggir sungai, bertanyalah si Kera kepada Tarzan… tentang pengenaan pakaian….

Kera Muda : “Tarzan, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu, tetapi kamu jangan marah ya…….??”
Tarzan : “Kamu akan bertanya tentang apa, Kera ..…??”
Kera Muda : “Tetapi saya harap, kamu jangan tersinggung ya Tarzan.??”
Tarzan : “Ya enggaklah….. kamu mau bertanya tentang apa…. Kera….cepatlah…… !!”
Kera Muda : “Begini Tarzan…..kita kan sudah lama sekali bersahabat, jadi diantara kita saling terbuka dan tidak ada yang menyembunyikan rahasia lagi….. begitu  kan Tarzan….???”
Tarzan :  “Betul sekali Kera…..!!! Terus tentang masalah apa yang hendak kamu tanyakan padaku, kok tidak langsung pada pokok masalahnya dan sejak tadi hanya berputar-putar saja seperti kentut di dalam kain sarung……???”
Kera Muda : “Begini, saya bersama dengan teman-teman yang lain tidak ada yang mengenakan celana atau cawat……tetapi kamu mengenakan celana atau cawat sendirian saja ….., sebenarnya ada rahasia apa yang sedang kamu sembunyikan….. Tarzan….??”
Tarzan : “Tidak ada….!!!”
Kera Muda : “Halah jangan begitu, terus terang sajalah Tarzan, ada rahasia apa sebenarnya yang sedang kamu sembunyikan….??”
Tarzan : “Kalau saya bilang tidak ada….ya tidak ada… Kera….!!” (jawab Tarzan sambil membentak)
Pada akhirnya si Kera Muda itu hanya diam dan tidak berani bertanya lagi ….

 

Singkat cerita…., kemudian Kera Muda tersebut mempunyai ide dan mengumpulkan teman-temannya yang akan diajak untuk menyelidiki apa yang menjadi rahasia Tarzan sahabatnya itu…..

 

Pada suatu hari ketika Tarzan akan pergi mandi di sungai, Kera Muda bersama dengan teman-temannya berkumpul hendak melakukan pengintipan atau pengintaian…….

 

Tepat pada saat Tarsan melepaskan celana atau cawatnya dan terus mandi serta berenang di sungai……

 

Seketika itu juga Kera Muda dan para teman-temannya tertawa terpingkal-pingkal sambil berjumpalitan di bawah pohon pisang….!!!

Kera Muda : “Oooohh….. ternyataaaa…….. EKORNYA TERBALIK……. ADA DIDEPAN………..!!”

 

-o0o-

BANDUNG – INDONESIA, MEI – 2018

Cerita : Tri Muryanti

(Gubahan  Ki Ageng Bayu Sepi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *