REUNI

YANG NAMANYA HIDUP ADA KALANYA SEDANG BERADA DIATAS DAN TERKADANG BERADA DIBAWAH, TETAPI HAL TERSEBUT TIDAK PERLU DIPAKAI BERKECIL HATI.

TUHAN PASTI MEMPUNYAI RENCANA YANG TERBAIK UNTUK UMATNYA, MUNGKIN SAJA TIDAK SEKARANG, AKAN TETAPI ASALKAN SELALU MAU BERUSAHA DENGAN GIGIH. TIDAK KENAL MENYERAH DAN PASTINYA LAGI JANGAN LUPA UNTUK BERDOA, MAKA SESUATU ITU AKAN INDAH PADA WAKTUNYA.

DAN HAL YANG TERPENTING ADALAH UNTUK TETAP MENJADI DIRI SENDIRI – BE YOURSELF.

Pada suatu hari menjelang bulan puasa datanglah Wicaksono  bertamu ke rumah Priambada. Karena setelah lama tidak bertemu mereka asyik berbicara tentang banyak hal atau kesana kemari dan tiba-tiba Wicaksono berkata : “Mas Pri, semua teman-teman sudah sepakat andaikata Mas Pri bersedia jika diminta menjadi Ketua Reuni sekalian halal bihalal setelah idul fitri nanti, biar kami-kami semua sebagai tenaga pelaksananya. Dan waktunya direncanakan jatuh pada hari ke empat setelah shalat Iedul Fitri. Bagaimana, Mas Pri bersedia kan ?”

Sejenak Priambada berkata dalam hatinya : “Menurut pengamatanku selama ini sepertinya dalam menterjemahkan kata Reuni itu sendiri bisa bermacam-macam pengertiannya, dan setiap orang pasti akan berbeda dalam memaknainya.

Karena ada yang mengartikan dengan kata “rindu.” Tetapi apa yang dirindukan ? Saling memberikankan tentang kabarnya saja tidak pernah dilakukan, kok bisa mengatakan rindu.

Namun ada juga mengartikan bahwa : re artinya kembali, dan uni berkumpul. Jadi artinya kembali berkumpul. Yang berkumpul itu apanya, karena orang-orang sesudah selesai melaksanakan acara reunian mereka kembali bubar dan masing-masing pergi kesana-kemari untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri-sendiri, dan setelah itu kembali tidak pernah saling memberi kabar lagi.

Dan kalau menurut pendapatku sendiri, bahwa reuni : re itu berarti lagi dan uni itu bertemu. Jadi arti keseluruhannya adalah “bertemu lagi setelah berpisah.” Setelah selesai reuni juga kembali berpisah. Dan kapan-kapan bisa bertemu lagi.”

Kemudian Priambada bertanya kepada Wicaksono : “Yang sudah bersepakat itu siapa saja, dik Wicak ?”

“Ya banyak Mas, antara lain seperti Anggraeni, Bagaskoro, Budiyanti, Citradewi, Dananjaya, Danarhadi, Lukarsani, Maheswari, Rengganis, Sitoresmi, Sudarsana, Wijayanto, Wulandari dan aku sendiri,” jawab Wicaksono.

“Wah itu benar-benar, orang yang bodoh semuanya,” kata Priambada kembali.

“Lha, bagaimana kok bisa dikatakan bodoh. Mereka semua kan Guru, masak Guru kok bodoh, apakah itu nggak keliru ?” sanggah Wicaksono.

“Kalau pada posisi Guru, mereka semuanya pintar, tetapi ketika pada saat memilih saya, itulah yang bodoh. Aku ini kan seorang duda yang memiliki dua orang anak, kok dipilih menjadi ketua. Coba kalian pikir sendiri bagaimana repotnya seorang duda yang mengurusi dua orang anak, sedangkan untuk mengurus dirinya sendiri saja sudah sangat repot,” jawab Priambada.

“Nah, itu kan yang menandakan seorang duda yang bodoh. Bagaimana tidak bodoh, kalau sudah mengerti bahwa hidup seorang diri itu repot, mengapa tidak mau menikah,” kata Wicaksono sambil tertawa dan memandang Priambada. Lalu katanya lagi : “Ya sudahlah Mas Pri, aku memakluminya. Tetapi teman-teman merasa rindu untuk mendengar suara merdumu kalau sedang melantunkan tembang Sinom seperti dahulu. Oleh karena itu, pada saatnya reuni nanti kami semua meminta agar Mas Priambada berkenan untuk mengumandangkan Tembang Sinom yang sudah lama tidak terdengar.”

“Kalau hanya itu, saya sanggup. Maksudnya kan Sinom Yen Ing Tawang yang kemudian dilanjutkan dengan langgamnya sekalian, begitu kan ?” kata Priambada.

“Iya Mas, pada saat reuni nanti Mbak Laras pasti datang kok. Oleh karena itu kalau bisa syair tembangnya dibikin yang baru. Yang lebih romantis begitu lho,” kata Wicaksono.

“Ahh, belum tentu Dik Laras bisa datang Dik Wicak,” sahut Priambada dan lanjutnya “Dari tempatnya Mengajar di luar kota sampai kesini itu kan jauh sekali.”

Mendengar apa yang dikatakan Priambada, Wicaksana menjadi heran, sambil memandang kearah Priambada lalu katanya : “Ohh…., jadi Mas Pri belum tahu kalau Mbak Laras sekarang ini sudah pindah ke daerah sini ? Kalau begitu pasti belum tahu juga kalau Mbak Laras sekarang ini sudah berstatus janda dan tidak mempunyai anak.”

Mendengar apa yang disampaikan oleh Wicaksana tiba-tiba saja perasaan hati Priambada menjadi berdegup tidak keruan, dan tanyanya : “Jadi sekarang berada di dekat daerah sini ? Sudah berstatus janda ? Tidak mempunyai anak ? Dan sekarang mengajar di mana ?”

“Mengajar di Sekolah Dasar  037 tidak jauh dari tempat ini.” jawab Wicaksana, dan lanjutnya kemudian : “Bagaimana, apakah kita mau mengunjunginya ke tempat itu sekarang ?”

“Ahh…, tidak usah lah Dik Wicak. Nanti malah membangunkan harimau yang sedang tidur,” sahut Priambada.

“Kok bisa sampai membangunkan harimau yang sedang tidur, ini maksudnya bagaimana Mas Pri,” tanya Wicaksana ingin tahu dan lanjutnya lagi : “Ini kan demi anak-anak gadismu yang sekarang sudah dewasa, kan Mas ? Karena sebentar lagi pastinya mereka akan menikah dan duduk di pelaminan, kan perlu adanya seorang ibu yang mendampingi Mas Pri ketika memangku anak-anakmu nanti untuk terakhir kalinya.”

“Ya anak-anak gadisku itu lah yang kuanggap sebagai harimau yang sedang tidur,” jawab Priambada pendek.

“Lhoo, ini logikanya bagaimana Mas Pri ?”

“Begini ceritanya Dik Wicak, “ kata Priambada mulai bercerita, “Sitoresmi istriku dahulu kan meninggal dunia ketika Sekarhati sedang berada di kelas enam dan Sekarlati berada di kelas empat. Keinginanku dahulu, setelah selesai seribu hari meninggalnya istriku, sebenarnya aku juga ingin menikah lagi. Namun anakku menentang keras bahkan malah mengancam, kalau aku akan menikah lagi, katanya mereka mau ngekos saja di dekat sekolah SMP nya dan tidak mau pulang serta biaya untuk setiap bulannya minta agar dikirimkan saja. Ketika itu anak-anakku berada di kelas tiga dan kelas satu SMP.

Kemudian ketika mereka sudah naik kelas tiga SMA, saya mencoba untuk menyampaikan kembali keinginanku yang tadi. Namun jawabannya masih tetap sama seperti yang lalu, bahkan mereka  ngekos didekat sekolah SMA nya serta meminta kiriman biaya untuk keperluan setiap bulannya masing-masing dua juta rupiah dan tidak mau pulang kerumah.

Ya sejak saat itu aku mulai putus asa, dan menentukan lebih baik hidup sendiri sebagai single parent, ya sebagai ibu juga sebagai bapak untuk membesarkan ke dua orang anak gadisku yang kuharapkan nantinya bisa meneruskan cerita keluarga.

Jujur saja Dik Wicak, sebetulnya dahulu aku pernah berkeinginan untuk beristri lagi, tetapi masih menyayangi untuk merawat anak-anakku. Jangan sampai mereka gagal sekolahnya dan andaikata hal itu terjadi aku merasa sangat berdosa kepada almarhumah istriku.”

Mendengar apa yang telah diceritakan oleh Priambada, terlihat Wicaksana mengangguk-anggukkan kepalanya seakan sudah mengerti tentang pokok pemasalahannya, dan sahutnya : “Ya, Mas saya bisa mengerti hal itu. Dan memang apabila menghadapi permasalahan apapun juga, kalau sudah menyangkut mengenai kepentingan anak, maka semuanya itu bisa dikalahkan.”

Sepeninggal Wicaksono, keadaan batin Priambada menjadi gelisah tidak keruan. Pikirannya melayang pada peristiwa kehidupannya kurang lebih 25 tahun silam yang nampak jelas dihadapan matanya. Ketika itu Priambada sudah menjadi seorang Guru dan berpacaran dengan Larashati yang sama-sama lulusan Sekolah Pendidikan Guru dikota yang sama. Hanya saja Larashati adalah adik kelasnya yang lulus tiga tahun setelah Priambada.

Akan tetapi orang tua Larashati tidak mengijinkan, karena Priambada adalah anak seorang petani yang miskin. Kemudian oleh Larashati, Priambada diperkenalkan dengan teman karibnya yang bernama Sitoresmi, dan kemudian malahan menjadi istrinya.

Sayangnya Sitoresmi sendiri, menurut ukuran kepentingan manusia terlalu cepat dipanggil menghadap oleh penciptanya ketika anak-anaknya masih relatif kecil.

Sedangkan Larashati sendiri diangkat menjadi guru dan ditempatkan di kota lain yang jauh letaknya, dan kemudian beritanya dia dipersunting oleh seorang pedagang hasil bumi yang kaya raya. Dan setelah itu Priambada sama sekali tidak pernah lagi mendengar berita tentang Larashati.

Semenjak pertemuannya dengan Wicaksana itu Priambada berusaha dengan sekuat tenaga berusaha membuang atau mengesampingkan bayang-bayang terhadap peristiwa perjalanan hidupnya tersebut. Akan tetapi semakin berusaha untuk melupakan peristiwa itu, malah semakin menempel di pikirannya.

Menurut perasaannya jendela, tembok, pagar, pohon, gpura atau barang apapun juga yang dilihatnya disitu seakan terpampang gambar Larashati, persis seperti gambar kampanye calon pilihan kepala daerah.

“Ohh…, Laras-Laras, mengapa aku dahulu sampai bertemu dan berkenalan denganmu…,” keluh kesahnya dalam hati.

Untungnya hal tersebut tidak berlangsung lama karena tersusul oleh datangnya bulan Ramadhan dan Priambada sibuk dengan persiapan puasa, mempersiapkan bahan untuk pengajian taraweh ataupun kegiatan peribadahan lainnya, yang bisa menghilangkan ingatannya terhadap Larashati, sang janda yang cantik dan menarik hatinya.

Ketika tiba saatnya reuni akbar dilaksanakan dengan mengambil tempat di auditorium Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan yang letaknya berdampingan dengan sekolah mereka dahulu.

Baru saja sampai di depan auditorium, jantung Priambada dibikin berdebar oleh perilaku Wicaksono. Dia berdiri di depan pintu bersama Pinastiti istrinya sebagai penerima tamu dan malahan berdampingan dengan seorang perempuan yang cantik berkulit kuning langsat dan aura wajah yang memancar cerah seperti wajah seorang Bidadari.

Siapakah dia ? Siapa lagi kalau bukan Larashati. Jantung  Priambada yang sudah mulai tenang didalam dadanya, kini tiba-tiba saja melonjak-lonjak seperti ikan kelaparan yang diberi pellet.

Di batinnya dia berkata : “Ohh…Laras-Laras, sudah berumur 46 tahun kelihatannya kamu semakin bertambah cantik saja…”

Ketika maju untuk masuk keruang auditorium Priambada bersalaman kepada mereka yang berdiri di depan pintu sebagai penerima tamu, dan dalam hatinya dia berdoa : “Aduh Gusti, hamba mohon diberikan kekuatan.”

Pada acara reuni yang sekaligus halal bihalal tersebut ternyata yang hadir sangatlah banyak. Gedung auditorium yang demikian besar itu penuh dan tidak ada sebuah kursi pun yang tersisa atau kosong. Banyak sekali bapak dan ibu guru yang hadir saat itu, namun pada umumnya mereka yang sudah pensiun.

Setelah selesai sambutan dan pemaparan yang disampaikan oleh Kepala Sekolah yang juga sudah pensiun, mulailah acara hiburan yang diisi oleh Paguyuban Campursari Sekar Arum yang dipimpin oleh Bapak Panglejar, seorang guru yang juga lulusan Sekolah Pendidikan Guru setempat.

Selesai menyajikan beberapa buah lagu, kemudian Ibu Maheswari sebagai pembawa acara menyampaikan pengumuman : “Bapak dan Ibu serta hadirin sekalian yang sangat saya hormati, siapa yang sudah lupa atau belum mengenal Bapak Priambada Sinom ? Siapa yang belum mengenal suaranya yang merdu mendayu-dayu ? Sebentar lagi Bapak dan Ibu serta hadirin sekalian akan berjumpa kembali dengan beliau.

Bapak Priambada akan berdiri di panggung dihadapan Bapak dan Ibu semuanya untuk mengalunkan Tembang Sinom seperti pada jaman kita masih sekolah dahulu, dengan langgam Yen Ing Tawang Ana Lintang (Kalau Di langit Ada Bintang), yang akan berduet dengan seseorang…… siapa ya …? Ohh..iya dengan Ibu Guru Larashati !”

Seketika itu terdengar suara tepuk tangan dan sorak sorai yang menggemuruh dimulai dari setiap sudut ruangan sampai ke depan. Yang pasti, mereka yang paling riuh adalah teman-teman seangkatan dari Pak Priambada dan Ibu larashati.

“Untuk itu, bersama ini dengan hormat kami persilakan Bapak Priambada dan Ibu Larashati untuk berkenan naik ke panggung.” sambung Ibu Maheswari.

Mendengar permintaan pembawa acara untuk tampil ke panggung, hati Priambada berdebar keras. Sambil berjalan perlahan melangkah ke arah panggung mulut Priambada tidak berhenti berkumat-kamit, entah itu sedang membaca doa atau membaca matera yang penting adalah agar hatinya menjadi tenang : “Wahai jantung janganlah pecah, wahai dada janganlah belah, agar tidak menyebabkan pembicaraan menjadi berantakan dan tidak mengarah. Kalau pembicaraan ini berantakan dan tidak mengarah di depan teman-teman yang sedemikian banyak, ah betapa malunya aku ini.”

Agak mereda perasaan hati Priambada yang menggemuruh ketika sudah berdiri berdampingan dengan Larashati diatas panggung sambil masing-masing memegang sebuah mikrofon.

Lebih-lebih lagi ketika memperhatikan Larashati yang ternyata terlihat sangat tenang sambil tersenyum-senyum manis memandang Priambada tanpa ragu-ragu ataupun malu. Bahkan berbicara secara berbisik : “Mas nanti harus kelihatan romantis ya, jangan terlihat biasa-biasa saja.”

“Iya, siap,” sahut Priambada yang juga berbisik, dan lanjutnya : “Asalkan menggunakan acting agar kelihatan mesra seperti betul-betul seperti penyanyi atau artis.”

“Bagaimanapun aksimu akan aku layani, Mas,” jawab Larashati seperti yang sesumbar sambil menepuk-nepuk dadanya.

Mungkin karena tidak kuat untuk menahan perasaan hatinya maka Priambada pun berbicara perlahan : “Dik Laras, kamu jangan menepuk-nepuk dada terlalu keras seperti itu, agar tidak terjadi apa-apa dengan dadamu yang montok itu.”

“Mas Pri, ingin ya ?” jawab Laras seenaknya. “Wah tidak boleh Mas. Ayolah Mas, segera dimulai saja, agar waktunya tidak menjadi berlarut-larut.”

Priambada memulai nembang/ngawih Sinom, pelog enam : “Inten-intening wanita, Sajagad tan ana kalih……” (Wanita yang berharga, Se dunia tidak ada duanya..).

Baru saja membawakan tembang dua bait, terdengar tepuk tangan dan sorak sorai yang menggemuruh. Bahkan ada yang berteriak : “Setuju….setuju….. lebih baik dijadikan saja….”

Suara teriakan seperti itu pasti sudah jelas dari kelompoknya Wicaksono, dan yang menjadikan Priambada heran adalah ketika melihat kearah Larashati nampak tenang saja, tidak menunjukkan rasa malu ataupun ragu.

Kemudian Priambada meneruskan : “Prasasat wulan purnama, Gumebyar madhangi ratri….” (Bagaikan bulan purnama, Benderang menerangi malam).

Kemudian Priambada melihat kearah Larashati dan memegang pundaknya, lagi-lagi Larashati terlihat tenang sekali bahkan tersenyum manis. Sehingga para hadirin menjadi riuh rendah dan berteriak : “Sudah jadikan saja…… jadikan saja…… Setuju…… setuju…!”

Priambada meneruskan tembangnya : “Wong ayu dhenok kuning. Pantes lungguh jajar ulun, Nimas mustikaningrat. Pepujane wong sabumi, Pantes lungguh jajar ulun. Eman-eman yang winengku seje priya.” (Orang cantik montok berkulit kuning. Pantas duduk berjajar denganku, Orang cantik mustika hati. Pujaan orang sedunia, Pantas duduk berjajar denganku. Sayang kalau diambil oleh lelaki lain).

Suasana di dalam gedung bertambah riuh, bertepuk tangan sambil berteriak : “Betullll !  Sayang kalau diambil oleh orang lain, oleh karena itu jadikan saja.” Tetapi kelihatannya Larashati tidak peduli terhadap itu semua.

Dengan tenang seperti seorang penyanyi professional, Larashati mulai melantunkan tembangnya : “Yen ing tawang ana lintang, wong bagus. Aku ngenteni tekamu. Marang Mega ing akasa, Kang mas, Sun takokke pawartamu.” (Kalau di langit ada bintang, orang ganteng. Aku menunggu kedatanganmu. Pada Mega di angkasa, Kang Mas. Kutanyakan beritamu).”

Kemudian disambung oleh Priambada : “Janji-janji aku eling wong ayu, Sumedhot rasaning ati. Lintang-lintang ngiwi-iwi, Nimas, Tresnaku sundul wiyati.” (Setiap saat saya ingat, orang cantik, Seakan mau ditinggal mati rasanya di hati. Bintang-bintang mencibir/meledek Nimas (Perempuan cantik/manis), Cintaku sangat tinggi/dalam (sampai ke  angkasa).”

Lalu berganti Larashati yang menyambung : “Dhek semana janjimu disekseni, Mega Kartika kairing rasa tresna asih.” (Ketika itu janjimu disaksikan, Mega, Bintang teriringirasa kasih dan sayang).

Kemudian disambung lagi oleh Priambada : “Yen ing tawang ana lintang, Wong Ayu. Rungokno tangising ati. Binarung sepining ratri, Nimas. Ngenteni mbulan ndhadhari.” (Kalau di langait ada bintang, Orang Cantik. Dengarkan tangisnya hati. Diringi sepinya malam, Nimas. Menanti munculnya bulan purnama).

Sepertinya tembang tersebut sanggup menggugah kenangan lama pada waktu muda ketika masih sama-sama bersekolah dahulu. Ketika itu, setiap ada acara atau kegiatan di sekolah pasti Priambada diminta untuk melantunkan tembang sinom tersebut. Sehingga dia mendapat nama panggilan atau landihan Priambada Sinom.

Seusai lantunan tembang tersebut, banyak diantara teman-teman seangkatan Priambada maupun teman-teman seangkatan Larashati sendiri menitikkan air mata karena terharu. Karena semua teman-temannya itu memang mengerti betul tentang perjalanan kisah cinta antara Priambada dan Larashati ketika itu.

Jika teringat akan keadaan waktu itu hati Priambada pun ingin sekali mengulang kembali kisah cinta yang telah lama berlalu. Akan tetapi bila mengingat tentang keadaan anaknya yang selalu menolak dengan keras keinginannya itu, hatinya menjadi loyo, karena mengingat walau bagaimanapun juga anak adalah hal yang lebih penting untuknya.

Acara reunian atau berkumpul kembali selesai, dan masing-masing kembali berpisah untuk menjalani aktifitas sehari-hari untuk memenuhi kebutuhannya sendiri-sendiri. Hanya Priambada yang pulang membawa kenangan yang indah dan manis sekali juga hati yang merasa merasakan kisah cintanya.

Apalagi ketika akan berpisah, Priambada sempat bersalaman dengan Larashati yang terlihat matanya berkaca-kaca siap meneteskan air mata, yang membuat hatinya merasa semakin terharu.

Pada keesokan harinya kira-kira pukul enam pagi, anak-anaknya sudah menyiapkan minuman hangat, nasi serta lauk pauknya untuk sarapan. Tidak seperti biasanya, selesai sarapan mereka berpamitan untuk kembali tempat kostnya dikota, akan tetapi pada pagi hari ini jadi berbeda dan mereka malah berkata : “Bapak, kami sudah mengerti perjalanan hidup antara bapak dan almarhumah ibu. Ternyata kekasih hati bapak yang sebenarnya adalah bukan almarhum Ibu Wulandari tetapi Ibu Larashati.”

“Hey, kalian ini bicara apa ? Aku, bapakmu sangat mencintai ibumu almarhum. Lalu yang menceritakan hal ini kepada kalian itu siapa ?” tanya Priambada dengan rasa heran.

“Dari Om Wicaksono, pak. Saya percaya kalau bapak sangat mencintai ibu Wulandari almarhumah, namun kami hanya merasa sangat kasihan kepada Bu Larashati yang tentunya dahulu sangat berduka hatinya yang sudah terlanjur jatuh cinta kepada bapak tetapi ternyata orang tuanya yang melarang hubungan tersebut. Dan lebih kasihan lagi Bu Larashari tidak diberikan keturunan.”

“Anak-anakku semua, sudahlah jangan membicarakan soal itu lagi. Karena tidak ada manfaatnya,” ucap Priambada sambil mengingatkan. “Sudah sana, segera berangkat nanti keburu siang.”

“Iya, pak,” jawab anak-anak Pak Priambada.

Kemudian berangkatlah mereka pergi ketempat tujuan masing-masing dan hanya tinggal Pak Priambada seorang diri yang berada dirumah. Setelah kepergian anak-anaknya terlihat Pak Priambada duduk termenung sendirian dengan perasaan hati yang merana tidak keruan mengingat perjalanan kehidupannya.

Kalau kebetulan hari kerja, mungkin perasaan gundah tersebut bisa teralihkan dengan kegiatan melakukan mempersiapkan untuk berangkat kerja, akan tetapi saat ini masih dalam keadaan libur dalam rangka Lebaran Iedul Fitri. Jadi Pak Priambada tetap duduk termenung di rumah yang kemudian teringat kepada almarhumah ibunya Sekarhati dan Sekarlati.

Dalam hatinya Pak Priambada berkata : “Aduh Ibu, belum selesai kita berkumpul untuk mengasuh dan mendidik anak-anak, keburu engkau telah dipanggil dan menghadap ke hadiratNya,” tetesan air mata mengalir dari sudut-sudut matanya. Kemudian timbul niatnya untuk pergi menziarahi kuburan almarhumah istrinya.

Namun sejenak kemudian berganti teringat kepada Larashati : “Aduh Dik Larashati, kita sudah sama-sama mantap untuk membina dan mengarungi biduk rumah tangga ternyata tidak bisa terlaksana. Sekarang engkau hidup sendirian tanpa seorang anak maupun suami, betapa sedihnya hatimu.”

Kira-kira kurang lebih pukul Sembilan pagi tiba-tiba saja Handphone nya berdering sehingga membangunkan lamunannya, dan ternyata bahwa anaknya yang menelepon.

“Ya, ada apa Nak ?” tanyanya.

“Kami berada di makam ibu, Pak. Kami memohon agar Bapak mau juga untuk berada di makam bersama kami,” jawab suara anaknya.

Pak Priambada berangkat juga ke makam, dengan perasaan hati yang agak menggerutu : “Anak-anak ternyata tidak kembali ke tempat kost nya, malahan pergi ke makam ibunya, ada apa sebenarnya ? Karena biasanya kalau hendak ziarah ke makam ibunya selalu mengajak aku.”

Ketika Pak Priambada sampai di makam menjadi sangat terkejut. Karena yang berada di makam tersebut bukan hanya dua orang anak gadisnya saja, melainkan ada tiga orang. Dan yang paling membuatnya heran adalah bahwa salah satu dari ketiga orang tersebut  adalah Larashati.

Terlihat tatapan mata Larashati memandang kearah Priambada sambil mengusap pipinya yang basah karena tetesan air mata : “Mas,” ucapnya perlahan. Dan hanya itu suara yang sanggup keluar dari bibirnya.

Yang lalu disambung oleh ucapan Sekarhati, anak gadisnya yang paling besar : “Bapak, Ibu kami Ibu Sitoresmi sudah selesai menjalankan tugas dan tanggungjawabnya di dunia ini. Dan sekarang Ibu Larashati yang akan melanjutkan tugas dan tanggungjawab tersebut. Kami berharap bahwa Bapak bersedia menerima usulan kami.”

“Anakku, apakah engkau yakin bahwa almarhumah ibumu akan rela ?” tanya Priambada kepada anaknya.

“Bapak, andaikata jasad ibu yang berada dalam kubur ini bisa berbicara, saya sanagat yakin bahwa beliau pasti rela. Karena Ibu Sitoresmi dan Ibu Larashati bisa di ibaratkan seakan sebagai saudara kembar,” jawab Sekarhati anak gadisnya.

Pak Priambada tidak sedikitpun bisa berkata-kata. Rasa sedih, haru, gembira, sayang dan syukur bercampur aduk menjadi satu yang memenuhi isi dadanya.

Pak Priambada melangkah mendekati dan kemudian ke empat orang tersebut saling erat berangkulan dan tidak ada seorangpun yang bisa berkata-kata, karena mereka masing-masing menangis tersedu-sedu. Air mata yang mengalir membasahi pipi tetes demi tetes jatuh diatas tanah makam Sitoresmi. Hal tersebut berjalan sampai beberapa waktu lamanya.

Mereka baru tersadar ketika terdengar suara yang agak keras yang memcah suasana sepi di area pemakaman.

Semuanya menengok kearah datangnya suara tersebut ternyata Wicaksono bersama Pinastiti istrinya sudah berada disitu, dan terdengar ucapan doanya yang tulus yang keluar dari dalam lubuk hatinya : “Subhanallahiwalhamdulillah, Gusti Yang Maha Suci, yang Maha terpuji telah menyatukan saudaraku semua. Ini adalah reuni yang paling indah yang kuketahui selama hidupku. Hal ini adalah merupakan pilihan yang paling baik untuk Mas Priambada, Mbak Larashati dan kedua orang keponakanku. Hal ini juga merupakan hadiah lebaran yang paling utama dan aku sekeluarga selalu mengikuti dan mendukungnya. Semoga kita semua masih diberikan umur yang panjang untuk melanjutkan tugas dan tanggung jawab dalam kehidupan.”

Dan semuanya menjawab : “Aamiin.”

-o0o-

Saudaraku pembaca semuanya yang saya hormati terutama di kalangan sendiri, gubahan cerita diatas hanya merupakan sebuah contoh kejadian yang bisa diketemukan dalam kehidupan sehari-hari, dan melalui gubahan ceritera tersebut intinya adalah bahwa setiap kegiatan yang dilakukan apapun bentuknya pasti diketemukan sisi positif dan ada juga sisi negatifnya.

Oleh karena itu melalui reka ceritera tersebut bagaimana sebaiknya kita menentukan bahwa kegiatan yang dilakukan harus bernilai positif dalam menjalani kehidupan kita masing-masing didalam bermasyarakat.

 

-o0o-

 

PENGERTIAN REUNI

Reuni : berasal dari 2 suku kata, yaitu “Re” yang artinya kembali dan “Uni” yang artinya bersatu. Jadi jika digabung maka bisa diartikan  “Kembali Bersatu”

Mungkin akan lebih tepat apabila disebut dengan “Bertemu Lagi Setelah Berpisah.” Alasannya adalah karena setelah selesai acara reuni juga kembali berpisah untuk mengejar kebutuhannya masing-masing, kemudian kapan-kapan bisa reuni untuk bertemu lagi.

 

MAKSUD DIADAKANNYA REUNI

Adapun maksud diadakannya Reuni adalah untuk “Bertemu lagi dengan teman, teman sekolah, kawan seperjuangan, rekan, saudara, keluarga bahkan apapun namanya yang mungkin sudah lama Berpisah atau Tidak Bertemu”.

 

TUJUAN DIADAKANNYA REUNI

Sedangkan tujuan diadakannya Reuni adalah untuk mendapatkan hal-hal yang mempunyai nilai positif yang dihasilkan dari pelaksanan kegiatan tersebut, misalnya saja :

 

Mereka akan merasa sangat senang apabila Bertemu lagi dengan teman lama, teman sekolah, kawan seperjuangan, rekan, saudara, keluarga bahkan apapun namanya yang mungkin sudah lama Berpisah atau Tidak Bertemu”.

Karena dalam acara tersebut mereka bisa Bernostalgia bersama, Menjalin kembali silaturahim dan merekatkan tali Persahabatan. Dan di dalam pertemuan tersebut bisa untuk Saling bertukar Informasi.

 

Dan dari informasi yang didapatkan itu bagi mereka yang bergerak didunia bisnis bisa berlanjut untuk, Mengembangkan relasi dan jaringan usaha dan Menggalang dana untuk kegiatan social serta Sebagai sebagai selingan Hiburan yang bisa membuat gembira dan bahagia.

 

APAKAH REUNI ITU BERMANFAAT

Pada dasarnya reuni adalah upaya untuk mempertemukan kembali yang dulu pernah bersama, baik dalam suatu sekolah, kampus maupun tempat bekerja, upaya mencari eksistensi diri yang mulai pupus dari memori karena dimakan usia.

Misalnya saja setelah 30 tahun lebih tidak pernah saling bertemu, maka ketika bertemu sudah lupa dengan wajah dan nama, jadi banyak dialog kurang nyambung tetapi pembicaraan menjadi lancar setelah saling mengungkapkan kisah-kisah lucu yang mereka alami ketika masih di sekolah dulu.

Sehingga bisa dibuat sebuah anekdot :

Kata-kata yang sering ditanya pada waktu reuni-on :

REUNI di usia 20-an : “Kamu Kuliah ambil jurusan apa ?”
REUNI di usia 30-an : Kerja di mana ?”
REUNI di usia 40-an : Anak sudah berapa ?”
REUNI di usia 50-an : Cucu sudah berapa ?”
REUNI di usia 60-an : “Teman kita yang sudah meninggal siapa saja yaa ?”
REUNI di Usia 70-an : “Teman kita yang masih hidup siapa saja yaa ?”
REUNI di usia 80-an : Kamu siapa,  yaaa  ?”

-o-

Seorang psikolog mengungkapkan pandangannya soal manfaat reuni, sebagai kenangan yang merupakan sarana melihat kembali pada diri kita beberapa tahun kebelakang.

Karena saat reuni pasti bertemu dengan teman-teman lama yang tentunya mengetahui benar sifat kita yang dulu. Kita juga dapat mengetahui jalan hidup teman-teman lama. Reuni adalah salah satu jalan menyambung dan memelihara tali persaudaraan, persahabatan dan silaturahkmi.

Hal tersebut diatas merupakan hal yang sifatnya positif namun hal itu bisa dikatakan negative apabila dalam reuni tersebut hanya untuk ajang pamer misalnya.

Dalam kegiatan apapun juga pasti memunculkan dua hal, yaitu  sisi yang mempunyai nilai positif dan ada pula sisi lain yang mempunyai nilai negative.

Demikian juga dalam kegiatan reuni ini tidak hanya hal yang sifatnya positif saja yang bisa didapatkan, oleh karena itu di dalam kegiatan Reuni tersebut diusahakan yang harus diutamakan adalah sisi positifnya agar sisi negatifnya tidak muncul. Maka dengan demikian bahwa Reuni itu bisa dikatakan sebagai suatu kegiatan yang sangat bermanfaat.

 

PERJALANAN WAKTU

Perjalanan waktu sehingga terjadi perpisahan selama betahun-tahun sejak lulus SMA atau lulus perguruan tinggi, atau meninggalkan perusahaan lama telah membentuk pribadi kita seperti sekarang ini. Banyak perubahan terjadi dalam hidup kita selama perpisahan itu baik seara fisik, social maupun spiritual.

 

 PERUBAHAN YANG TERJADI

Adapun perubahan yang terjadi selama perjalanan waktu itu adalah : Perubahan fisik seperti bentuk tubuh, dulu gemuk sekarang langsing, dulu langsing sekarang subur, dulu cantik sekarang lebih cantik, dulu ganteng sekarang tambah ganteng, dulu kurang sehat sekarang lebih fit dan lain sebagainya.

Perubahan status social, karena kariernya yang cemerlang, karena jabatan yang terus menjulang, karena bisnisnya yang berkembang pesat, seseorang bisa menjadi kaya dan terpandang atau seblaiknya masih prihatin karena bsinisnya kena krisi ekonomi, prihatin keha PHK dan aneka perubahan status social lainnya.

Perubahan spiritual, dulu nakal sekarang alim, dulu suka mencontek sekarang menjadi guru, dulu sopan sekarang lebih santun, dulu jarang sholat sekarang taat, dulu melihat gereja saja malas sekarang setiap hari melakukan pelayanan rohani.

 

ETIKA DALAM REUNI

Ketika hadir dalam reuni adalah sebagai teman yang sederajat, seperti waktu masih bersma-sama dulu. Peserta reuni harus memiliki jiwa besar, toleran dan mau menahan diri. Bersedia menanggalkan semua atribut dalam dirinya seperti, jabatan, status social, maupun kekayaan.

Meskipun jabatan di kantor atau isntansi adalah sebagai seorang Presiden Direktur atau Menteri, maka pada saat acara reuni, semua teman harus diperbolehkan untuk memanggil nama saja bahkan nama panggilan yang diperoleh saat sekolah. Tidak harus memanggil nama dengan tambahan sebutan “Bapak atau Ibu” seperti yang dilakukan oleh karyawannya di Perusahaan atau di Kantor Kementrian.

Diharapkan pada acara itu tidak membuat teman yang lain merasa rendah diri atau sakit hati, maka sebaiknya tidak menceritakan soal pekerjaan, keberhasilan bisnis, jabatan, status sosial, kekayaan yang dimiliki, kehebatan anak, istri, yang bisa saja menimbulkan kesan menyombongkan diri atau pamer.

Sebaliknya jangan pula bercerita mengenai kegagalan pada forum umum yang didengarkan oleh banyak orang. Jika ingin berbagi cerita tentang hal tersebut silakan saja dan lebih baik bicarakan secara langsung atau khusus kepada mereka yang bertanya.

Jangan bergunjing, misalnya tentang si A barusan operasi plastik di Korea atau si B barusan menikah siri dengan artis. Berceritalah hal yang wajar tentang kenangan masa dulu ketika masih bersama-sama. Misalnya seperti cerita-cerita yang saat itu belum atau tidak terceritakan, tentang kenakalan menggoda guru, mengganggu teman sekolah, kenakalan saat makan di warung/kantin sekolah atau kampus.

Jangan juga merasa cemburu, jika teman pria/wanita yang dulu pernah di taksir tampak lebih dekat dan lebih akrab dengan teman yang lain. Atau jangan cemburu juga andaikata terungkap kisah cinta teman pria/wanita yang menjadi incaran, justru pada teman sendiri.

Jadikan hal tersebut sebagai sebuah lelucon masa lalu saja dan jangan membuat suasana menjadi kaku gara-gara kisah asmara masa lalu. Misalnya saja dengan menjauhi mantan pacar yang kebetulan sudah menikah dengan teman sekolah/kampus sendiri.

Semua hal tersebut sudah berlalu, apalagi sekarang masing-masing sudah memiliki keluarga. Kisah asmara masa lalu itu biarlah menjadi kenangan bagi mereka masing-masing dan tidak perlu untuk dibicarakan lagi.

 

YANG HARUS DIPERHATIKAN

Reuni Bukanlah Ajang Pamer.

Pernahkah menghadiri suatu undangan reuni akan tetapi dalam  susunan acaranya menampilkan sambutan orang yang sudah sukses atau sudah berhasil, alumni dari instansi maupun dari sekolah.

Lalu bagaimana perasaan yang hadir ?

Apakah hal tersebut bisa dikatakan logis ?

Sebenarnya hal tersebut dikatakan tidaklah logis, karena dari apa yang mereka tunjukkan adalah sebuah keberhasilan atau kekayaan. Kemudian bagaimana perasaan teman seangkatan yang mungkin kurang beruntung tidak mendapatkan rejeki seperti teman yang sukses tersebut ?

Tidak semua yang hadir langsung bisa menerima hal tersebut, pasti ada diantara mereka yang menjadi rendah diri, merasa malu dengan keadaannya, walaupun mengerti kalau rejeki itu sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa.

Perlu juga untuk diketahui bahwa tidak semua orang di dunia ini senang menampilkan sebuah keberhasilan atau kekayaan, karena banyak diantara mereka yang juga kaya dan berhasil namun tidak mau menjadi terkenal atau tenar, karena mereka lebih memilih untuk menutup diri mencari kebahagiaan.

Karena mereka menyadari bahwa Hidup itu berputar seperti Roda, kadang di Atas kadang juga di Bawah.

 

Reuni Adalah Mengenang Masa Lalu.

Kembali pada tujuan diadakannya sebuah reuni adalah untuk mengenang betapa senang dan bahagianya apabila bertemu dengan teman lama ketika masih bersekolah maupun masih dalam suatu keolompok. Mengenang masa duka ketika ketahuan mencontek, bahagia ketika  suka dengan pasangan dan masih banyak lagi.

Dan inilah tujuan utama dari sebuah reuni, yaitu untuk mengenang masa lalu dan melepas rasa kangen terhadap teman maupun sahabat yang kemudian bisa berlanjut pada hal-hal positif lainnya.

Ada pendapat yang mengatakan bahwa reuni untuk mengenang masa bahagia dan melepas rasa kangen pada saat masih di sekolah dapat meringankan stress hampir 70 %

 

JIKA DISIMPULKAN MAKA HAL-HAL YANG BISA DIPEROLEH MELALUI REUNI ADALAH

 

  1. SISI POSITIF YANG BERMANFAAT.
  2. Bernostalgia

Sebagian orang menganggap ajang reuni sebagai hal yang sangat penting, karena di reunianlah mereka bertemu dengan teman-teman lama dan otomatis ingatan mereka kembali ke masa lalu dan kembali merasakan masa-masa sekolah ketika masih sama-sama remaja yang penuh kebersamaan, kebahagiaan, pengalaman dan kenangan indah yang berkesan serta semua kenangan, suka duka, canda tawa, tangis haru dengan berbagai macam peristiwa yang tidak bisa disebutkan satu-persatu dan tidak mudah untuk dilupakan.

Dan masa-masa seperti itu akan sangat manis untuk kembali diperbincangkan yang setidaknya bisa merasakan kembali suasana seperti dahulu walau pun hanya sedikit dengan mengingat hal-hal yang menarik misalnya nama panggilan masing-masing yang di dapat di masa sekolah akhirnya dipakai lagi dalam suasana penuh kehangatan pada saat reuni.

Akan tetapi, yang sangat perlu diperhatikan adalah harus tetap menjaga hati, hal itu mungkin saja diantara kenangan manis tersebut, terselip kisah manis dengan idola atau “teman dekat” di masa lalu dan saat sekarang bertemu lagi,

Karena sang idola atau teman dekat tersebut sama-sama telah membangun rumah tangga yang bahagia. Akan sangat disayangkan apabila kenangan manis tersebut sampai menganggu suasana hati apalagi sampai mengaggu keharmonisan rumah tangga masing-masing.

Perlu diketahui bahwa memperbincangkan kenangan manis yang pernah dilalui dan dirasakan adalah salah satu bentuk therapy hati yang efektif.

 

  1. Memperpanjang usia karena menghindari stress dan depresi

Manfaat reuni bisa menjadi tempat mencurahkan berbagai masalah sehingga hasil dari beberapa penelitian mengungkapkan bahwa seseorang yang banyak dikelilingi teman dan saudara atau kumpul-kumpul bersama sahabat yang akan menimbulkan rasa kegembiraan dapat membuat umur  lebih panjang.

Yang pada awalnya beban dan masalah itu ditanggung sendiri, karena dukungan emosi yang didapatkan dari teman, sahabat, orang-orang terdekat dan keluarga dapat membuat seseorang lebih terasa mudah dalam menghadapi masalah atau membantu mengurangi beban masalah sehingga kebahagiaan selalu tercipta dan dengan sendirinya hal tersebut menghindari factor pencetus stress atau depresi berat yang bisa memicu kematian.

 

  1. Menjalin kembali silaturahim dan merekatkan tali Persahabatan.

Biasanya, reuni dilakukan bersama rekan-rekan yang sudah lama tidak saling bertemu, misalnya teman sekolah atau kawan seperjuangan dulu dan lain-lain. Di ambil saja sebagai sebuah contoh, umpamanya reuni teman sekolah lulusan SD, SMP atau SMA.

Dapat dibayangkan apa yang akan terjadi pada saat mereka kembali berkumpul dengan rekan-rekan atau teman-teman yang sudah bertahun-tahun tidak saling kontak, tidak pernah bertemu atau bertatap muka.

Mereka bisa mengetahui kabar masing-masing, mengenai dimana mereka tinggal, dimana mereka bekerja, dan bagaimana keadaan mereka saat ini. Dan dalam reuni ini bisa juga jadi ajang saling memaafkan kalau dahulu pernah punya kesalahan antara satu dengan yang lain.

Tentu saja hal tersebut akan sangat menyenangkan karena  silaturakhmi kembali terjalin dan merekatkan tali persahabatan, yang mungkin sulit ditemui jika bukan dalam ajang reuni.

 

  1. Saling bertukar Informasi.

Dalam reuni yang dilakukan bersama teman-teman yang sudah lama tidak pernah bertemu, mereka bisa saling memberi dan menerima informasi dengan sebutan lain bertukar informasi, misalnya bisa tentang bisnis atau  pekerjaan yang digeluti oleh masing-masing.

 

  1. Mengembangkan relasi dan jaringan usaha

Dengan demikian sebagai kelanjutannya, setelah saling bertukar informasi mereka dapat saling menghubungi dan yang penting bagi para pelaku bisnis, reuni adalah merupakan kesempatan yang tepat untuk mereka bisa saling memperkenalkan dan mengajak teman-teman bergabung atau kerja sama dalam rangka mengembangkan relasi dan jaringan usaha.

Bagi mereka yang belum berhasil, mungkin saja ada teman baik hati yang bisa membantu untuk meniti karir yang lebih baik.

 

  1. Mengembalikan eksistensi diri.

Bertahun-tahun yang sudah berlalu mungkin telah memberi banyak pengaruh dan mengubah kehidupan serta citra seseorang.

Misalnya saja, yang dulu di masa sekolahnya menjadi seorang bintang atau menjadi idola, bisa jadi sekarang bernasib sebaliknya atau sekarang justru kurang bernasib baik. Adapula yang dulunya ketika sekolah prestasinya biasa-biasa saja, tetapi sekarang justru memiliki kehidupan yang mapan dan malah menjadi orang sukses.

Dan bagi mereka yang kini sudah meraih kesuksesan sementara dulunya mungkin biasa-biasa saja ketika sekolah atau kurang dipandang, maka pada kesempatan reuni bisa menjadi sarana untuk menunjukkan eksistensi diri dan pembuktian pada teman-teman yang lain bahwa siapapun juga bahkan mereka yang pada masa sekolahnya dahulu termasuk orang yang kurang menonjol, tetap berpeluang untuk menjadi seorang yang berhasil.

 

  1. Menggalang dana untuk kegiatan sosial

Reuni juga bisa menjadi ajang positif yang banyak dimanfaatkan oleh para anggotanya untuk penggalanan dana untuk amal atau untuk melakukan kegiatan-kegiatan sosial, misalnya membantu korban bencana alam, membantu rekan yang sedang mengalami kesulitan atau menderita sakit, membantu pembangunan sarana sosial, melaksanakan seminar-seminar dan lain-lain.

 

  1. Sebagai selingan Hiburan

Yang jelas dengan acara reuni ini pada akhirnya akan memberikan kesempatan hiburan dan menghibur diri mereka masing-masing. Sedikit senyuman atau bahkan celaan dan canda tawa yang dulu pernah hadir, pasti akan hadir kembali diacara tersebut.

Dalam sebuah acara reuni sesuai undangan, biasanya yang telah berkeluarga, mereka bisa juga mengajak anak dan pasangan hidupnya agar bisa berkenalan antara keluarga yang satu dengan keluarga yang lain, bahkan dalam acara tersebut mereka juga mengundang guru-guru mereka dahulu.

Bagi seseorang yang sudah berkeluarga artinya sudah mempunyai pasangan hidup serta sudah memiliki keturunan, ketika diajak untuk ikut menghadiri acara reuni tersebut pastinya akan menumbuhkan suasana hati yang gembira dan bahagia.

Sedangkan untuk seorang guru, undangan bergabung dalam acara reuni tentunya akan membuat guru tersebut merasa terhormat karena mereka masih diingat oleh para anak didiknya dahulu.

Jadi pastinya…mereka akan pulang dengan senyuman dan semangat baru untuk menata kembali kehidupan nya agar menjadi lebih baik.

 

  1. SISI NEGATIF YANG MERUGIKAN

Tidak hanya hal positif yang bisa didapatkan dalam ajang reuni

Disamping banyak hal yang bersifat positif yang didapatkan dalam kegiatan reuni, namun ada pula hal-hal yang bersifat negative yang diperoleh dari hasil kegiatan tersebut.

Misalnya saja :

*). Bisa terjadi bahwa dalam acara reuni tersebut secara sengaja atau tidak sengaja dipergunakan sebagai “Kesempatan untuk Pamer.” Bisa Pamer Kekayaan,  Pamer Keberhasilan atau pamer-pamer yang lain.

*). Maka sebagai kelanjutannya terkadang bisa terjadi sebagai “Kesempatan untuk Pemalakan” bagi mereka yang sudah sukses oleh teman-teman  angkatannya.

*). Ada pula sebagai “Kesempatan CLBK” (Cinta Lama Bersemi Kembali) bagi mereka yang telah berumah tangga sehingga dapat mengakibatkan rusaknya suasana hati dan keharmonisan rumah tangga masing-masing bagi mereka yang menjalani.

Hal ini berbeda dengan CLBK nya Priambada dan Larashati seperti cerita diatas yang bisa dikatakan sebagai hal positif.

*). Dan lain-lain.

-o0o-

Sebuah anekdot :

MUKIDIN  JANJIAN  MENGHADIRI  REUNIAN

 

Sebuah kebiasaan bagi yang akan menghadiri acara reunian biasanya ada janji akan berangkat bareng dengan teman-teman seangkatan, apalagi kalau ada teman perempuan yang akan ikut berangkat bareng pasti akan menunggu untuk dijemput.

Oleh karena itu jangan sampai terjadi seperti sebuah cerita yang dialami oleh Mukidin dengan teman-teman satu sekolah seperti cerita dibawah ini.

 
Acaranya adalah Reunian Sekolah SMA setelah 40 tahun kelulusan. Mukidin akan berangkat menghadiri reunian bersama teman SMA seangkatannya dan  kebetulan ada teman-teman perempuan semasa sekolah dulu mau ikut berangkat bareng, dan mereka janjian melalui telepon…
 
Mukidin : “…oke….kalau begitu kita nanti bisa bareng ya, kalian semua berempat tunggu saja di Halte depan Toko Roti Srikandi, nanti aku jemput..…”
     
Tepat pada hari H, Mukidin benar-benar akan pergi menjemput ke empat orang teman-teman perempuan dimasa sekolahnya dahulu. Sekali muter nggak menemukan mereka. Dua kali muter juga nggak melihat batang hidung orang-orang yang dicarinya.
     
Mukidin : “Mana mereka semua, sudah janji tapi nggak nongol.”  (mulai kesel dalam hatinya)
     
Lalu Mukidin muter sekali lagi untuk yang ketiga kalinya tetapi tetap saja nggak ketemukan. Mukidin semakin bertambah kesel, kemudian dia menelepon ke salah seorang teman perempuannya.
     
Mukidin : “..hei, kalian dimana ? Aku sudah muter-muter sampai 3 kali tapi nggak juga menemukan kalian.”
     
Jawab temen perempuannya : : “..aku dari tadi sudah menunggu kamu di Halte depan Toko Roti Srikandi. Kamu dimana…?”
     
Mukidin : : “ Lho……aku tadi sudah ke situ dan tidak menemukan kalian ada ditempat.  Justru yang ada disitu Hanya Empat Orang Nenek-nenek yang rambutnya sudah memutih semuanya.”
     
Jawab temen perempuannya : “Ya, itu kami, Mukidin…..  Memangnya kamu kira kita ini masih SMA…. ???

Tadi yang kami lihat juga ada seorang kakek botak yang sedang mondar-mandir di Halte, woooaaalllaah…itu kamu …Din….?!”

 

-o0o-

BANDUNG – INDONESIA, FEBRUARI – 2018

Cerita : Suryadi WS.

(Gubahan  Ki Ageng Bayu Sepi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *