“AYAHKU”

ADA YANG MENGATAKAN BAHWA : JIKA ANTARA PISANG DAN UANG DILETAKKAN DI HADAPAN SEEKOR MONYET, MAKA MONYET AKAN MEMILIH PISANG.

KARENA MONYET TIDAK MENGERTI BAHWA UANG BISA DIGUNAKAN UNTUK MEMBELI BANYAK PISANG.

KENYATAAN DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI, JIKA UANG DAN KESEHATAN DILETAKKAN DIHADAPAN ORANG, ACAPKALI ORANG AKAN MEMILIH UANG, KARENA TERLALU BANYAK ORANG YANG TIDAK MENGERTI BAHWA KESEHATAN DAPAT BERGUNA UNTUK MENDAPATKAN LEBIH BANYAK UANG DAN KEBAHAGIAAN.

TIDAK ADA YANG MAHAL, KECUALI HANYA KESEHATAN YANG PALING MAHAL.

SEGALA APAPUN BISA DITUNDA, KECUALI HANYA KESEHATAN YANG TIDAK DAPAT DITUNDA.

erasaan hati Pinastiti terasa tidak tenang, dadanya berdebar, otot-ototnya seperti tidak bertenaga, badannya terasa lemas dan lunglai seakan seperti sebuah kain sarung yang dibiarkan tergeletak dan teronggok disudut ruangan.

Pinastiti duduk di lantai dan bersandar di tembok sambil menitikkan air matanya, dihadapan Kurniasih yang memang sengaja meluangkan waktu untuk menjumpai dirinya.

Kurniasih adalah teman sekolah ketika masih kecil dan letak rumahnya pun tidak terlampau berjauhan hanya berbeda dan berbatasan RW, namun ketika sudah dewasa  mereka mempunyai nasib yang berbeda.

Pinastiti sudah dapat dikatakan hidup sukses, disamping mempunyai pekerjaan di sebuah perusahaan juga mempunyai seorang suami yang bekerja di kantoran, sedangkan Kurniasih bekerja pada orang lain.

Sebenarnya Pinastiti ingin sekali menangis dengan berteriak sejadi-jadinya seperti anak kecil, untuk menghilangkan rasa yang menekan hati dan perasaannya saat itu.

Tetapi keinginan tersebut tidak bisa terpenuhi kecuali hanya titik air matanya yang menggenang dan mengalir melalui sudut-sudut matanya. Hingga beberapa waktu lamanya Pinastiti tidak bisa berbicara sedikitpun.

Rasa kaget, rasa khawatir dan sedih yang bercampur aduk menjadi satu. Hal itu karena pesan ibunya yang baru saja diterima melalui Kurniasih yang diartikan sebagai berita yang tidak baik.

Adapun bunyi dari berita tersebut adalah sebagai berikut :

“PINASTITI, KAMU HARUS SEGERA PULANG. AYAHMU SEDANG KURANG SEHAT.”

“Asih, berterus teranglah kamu padaku,” kata Pinastiti kepada Kurniasih setelah agak tenang setelah bisa mengatur perasaan hatinya.

“Berterus terang mengenai apa, Pinastiti ?” Kurniasih malah balik bertanya.

“Ayahku sebenarnya sakit apa ?”

“Nah, kalau mengenai hal itu aku sendiri juga tidak tahu, Pinastiti.”

“Jadi kamu merasa senang ya, kalau aku jadi kebingungan, kemudian membiarkan aku memikirkan dan menafsirkan hal yang tidak-tidak ?”

“Sebenarnya tidak demikian maksudku, Pinastiti,” sanggah Kurniasih dengan sabar.

“Oleh karena itu kalau memang tidak begitu maksudmu, maka segera lah kau ceritakan hal tersebut padaku !”

“Pinastiti, aku harus bercerita yang bagaimana lagi ? Karena masalah yang sebenarnya aku sendiri pun betul-betul tidak tahu  ?” jawab Kurniasih.

“Aku nggak percaya !” tukas Pinastiti dengan ketus.

“Kalau nggak percaya ya sudah, semua terserah kamu saja,” jawab Kurniasih dengan nada agak jengkel. “Pinastiti, pesan itu adalah merupakan sebuah amanah. Sedangkan pesan yang kuterima dari ibumu, yang harus kusampaikan kepadamu juga hanya begitu saja. Aku tidak menambah dan juga tidak menguranginya. Maka kamu jangan memaksaku agar supaya bercerita lebih dari itu atau mengenai hal yang aku sendiri tidak mengetahuinya. Aku tidak berani untuk melakukannya,” demikian penjelasan Kurniasih.

“Apakah waktu kamu pulang kampung kemarin itu, kamu tidak menyempatkan untuk mampir ke rumahku ?” kembali tanya Pinastiti.

“Aku sengaja pergi kerumahmu dua minggu yang lalu, untuk menyampaikan barang titipanmu.”

“Lalu keadaan ayahku bagaimana, Asih ?”

“Ketika aku datang kerumahmu, kulihat Pak Wicaksana tidak kenapa-napa, dia nampak sehat-sehat saja.”

“Lalu kaitannya dengan pesan ibuku tadi ?”

“Pada tiga hari yang lalu, pagi-pagi sekali Bu Wicaksana yaitu ibumu datang sendiri kerumahku dan kebetulan aku sudah siap hendak berangkat untuk kembali bekerja. Dan ketika menyampaikan pesan itu, Bu Wicaksana sepertinya terburu-buru sehingga aku sendiri pun tidak sempat untuk bertanya tentang hal yang lain-lain,” jawab Kurniasih lagi.

“Tetapi mengapa, kamu baru sekarang manyampaikan hal itu kepadaku ?” tanya Pinastiti dengan agak mendesak.

“Kamu kan tahu sendiri, kalau aku bekerja pada keluarga orang lain. Maka baru sekarang aku sempat keluar dari rumah setelah mendapat ijin dari majikanku. Apalagi kuperkirakan bahwa pesan Bu Wicaksana itu tidak terburu-buru harus segera sampai dengan perkataan lain bisa ditunda atau nanti lagi .

Adapun menganai kaitan antara pesan tersebut dengan keadaan kesehatan Bapak Wicaksana adalah sebagai berikut, oleh karena sebelumnya aku tahu persis dengan mata kepalaku sendiri kalau Bapak Wicaksana sedang dalam sehat awal’afiat, jadi menurut pendapatku walaupun pesan ini agak terlambat sedikit, juga tidak akan ada masalah, yang penting bahwa pesan dari Bu Wicaksana tersebut bisa saya sampaikan,” kata Kurniasih.

Sebenarnya Kurniasih merasa agak jengkel juga, karena dengan susah payah meminta ijin keluar rumah hanya untuk menyampaikan pesan Bu Wicaksana kepada anaknya Pinastiti, bukannya diterima dengan baik sambil mengucapkan rasa terima kasihnya, tetapi seakan-akan malah menjadi orang yang tertuduh atau bersalah.

Disisi yang lain sesaat setelah menerima berita dari ibunya melalui temannya Kurniasih, pikiran dan perasaan Pinastiti mengembara pada beberapa waktu yang telah lalu ketika dia sedang pulang ke kampung halamannya, dan berbincang-bincang dengan ibunya. Ketika itu Ayahnya sedang beristirahat di dalam kamar dan beberapa kali berbatuk-batuk.

-o-

“Cinta ayah kepadamu itu sungguh luar biasa, tetapi lebih banyak disimpan dalam hatinya karena kamu adalah anak perempuan,” kata ibunya.

Pinastiti mendengarkan pembicaraan ibunya dengan rasa heran.

“Ketika kamu melanjutkan kuliah di luar kota dan aku bersama ayahmu mengantarmu ke stasiun, kau dan aku saling berpelukan. Namun Ayahmu hanya berdiam diri dan memandang saja. Dia pun mengatakan bahwa sebenarnya dia juga ingin memelukmu, tapi sebagai laki-laki mungkin tak lazim memeluk anak perempuan di depan banyak orang, maka dia hanya menjabat tanganmu saja, kemudian berdiri dan melihat sampai kereta itu menghilang dari pandangan matanya,” kata ibunya.

“Ibu memang sering meneleponmu. Tahukah kamu, bahwa semua itu selalu ayahmu yang menyuruh dan mengingatkan ibu, walaupun harus pergi ke wartel. Mengapa bukan ayahmu sendiri yang menelpon ? Dia mengatakan, “Suaraku tak selembut suaramu. Anak kita harus menerima yang terbaik,” kata ibunya yang kemudian berhenti sejenak sambil menarik napas panjang, dan lanjutnya lagi.

Pada saat kamu diwisuda, kami duduk di belakang. Tetapi ketika kamu ke naik ke panggung dan kuncir di togamu dipindahkan rektor, ayahmu mengajak ibu berdiri agar dapat melihatmu dengan lebih jelas.

“Alangkah cantiknya anak kita ya bu,” itu kata ayahmu sambil menyeka air matanya.

Mendengar cerita ibu nya di ruang tamu, dada Pinastiti merasa sesak, mungkin karena rasa haru atau rasa bersalah. Jujur saja selama ini kepada ibunya lah, Pinastiti lebih dekat dan perhatiannya lebih besar. Sekarang tergambar kembali kasih sayang ayahnya kepadanya. Pinastiti teringat ketika naik kelas 2 SMP dia minta dibelikan tas dan ibunya bilang bahwa ayah belum punya uang.

Tetapi sore itu ayahnya pulang dengan membawa tas yang diinginkannya. Ibu nya pun merasa heran, dan kemudian bertanya :“Tidak jadi ke dokternya, Yah ?” 

“Ah itu kapan-kapan sajalah. Nanti malam bisa minum jahe hangat, batuk itu akan hilang dengan sendirinya,” kata ayahnya.

Rupanya uang untuk biaya berobat ke dokter itu, dipergunakan ayahnya untuk membeli tas, untuk membeli kegembiraan hati Pinastiti, dengan mengorbankan kesehatannya sendiri.

Kemudian teringat kembali bahwa ibunya juga pernah berkata : “Pinastiti, apakah kamu juga tahu ketika calon suamimu hendak memintamu untuk menjadi istrinya, ayahmu pernah berpesan kepadanya begini :

“Hai nak, sebelumnya aku tidak pernah bertemu denganmu, tapi aku tahu bagaimana efek kehadiranmu di hidup putriku karena aku melihat ada perubahan di diri putriku.

Tahukah kamu kalau dia jadi lebih lama ketika mandi ? Aku tahu setiap kali ia membawa berbagai produk kecantikannya masuk ke kamar mandi, dia pasti akan menghabiskan waktu yang lama di kamar mandi. Tahukah kamu dia menghabiskan waktunya di depan laptop untuk belajar membuat masakan kesukaanmu ?

Tahukah kamu bahwa dia sering grogi sebelum pergi bersamamu ? Dia menghabiskan waktu berjam-jam di kamarnya cuma untuk memilih baju yang terbaik dan dandan secantik mungkin.

Padahal menurutku, apapun yang dipakai putriku, ia selalu terlihat cantik. Tahukah kamu bahwa dia sering pulang, masuk ke rumah dengan senyum yang sangat lebar setiap kali pulang dari pergi bersamamu ? Senyum itu dulu cuma jadi milikku dan istriku.

Aku tidak marah, aku juga tidak iri. Aku tahu pada suatu hari, saat seperti ini pasti akan datang. Saat dimana aku akan memegang tangannya untuk yang terakhir kali dan menyerahkannya kepadamu.

Nak, Putriku mungkin bukan perempuan paling sempurna yang akan kamu temui di dunia ini, dan dia juga bukan perempuan paling cantik yang mungkin hadir di hidupmu. Tapi kamu harus yakin dan percaya sebelum menghabiskan sisa hidupmu bersama dirinya, dialah satu-satunya perempuan yang memang pas dan pantas untuk hidup bersamamu setiap hari.

Dan yakinkan dirimu bahwa dia satu-satunya perempuan yang bisa membantumu menjadi lelaki yang lebih kuat, lebih baik dan lebih dewasa setiap hari. Yang terpenting, buat putriku selalu merasa dia berada di rumah ketika bersamamu. Nak, tolong jaga Putriku dengan baik.”

Mendengar apa yang dikatakan ibunya, pikiran dan perasaan Pinastiti kembali melayang pada kejadian pada saat dia meminta ijin untuk menikah, dan ayahnya pun berkata :

“Pinastiti anakku,

Serasa masih kemarin,

Sa’at kamu menangis manja,

Atau merajuk karena boneka mu rusak,

Saat kamu menarik-narik sarungku,

Karena ingin melihat topeng monyet.

Bahkan seakan masih tercium aroma dihidung,

Saat pagi kau terbangun dengan badan basah penuh ompol,

Saat kau menagis karena terjatuh dari pohon,

Ketika kamu marah kepada kakakmu,

Karena coklat yang kaubawa direbutnya,

Sore ini engkau duduk sungkem disamping seorang lelaki,

Mintakan ijin untuk menikah,

Aku terhenyak dan dada haru sekali,

Terhenyak karena ternyata engkau sekarang telah dewasa,

Terharu karena aku akan kehilangan mu,

Tangan tua ku sudah takkan bisa lagi membelaimu,

Apalagi memberi pelukan seperti dulu,

Karena sudah ada dia lelaki yang akan menjadi suamimu,

Aku merestuimu untuk menikah dan selalu mendoakanmu, anakku,

Jujur saja, walau ayah merasa sedih kerena akan kehilangan dirimu.

Hari ini, hati dan perasaan Ayah teringat keluarga ibumu saat mereka menyerahkan Putrinya kepada Ayah sedangkan mereka semua menangis. Dahulu Ayah mengira itu tangisan bahagia atau tangisan biasa saat mengiring pengantin.

Ayah tidak tahu apa yang membuat mereka menangis kecuali hari ini baru Ayah mengerti sebagaimana Ayah sekarang menangis. Dan apa yang menyiksa hati Ayah pada saat ini adalah sama dengan apa yang menyiksa mereka saat itu. Juga apa yang mendera batin Ayah saat menyerahkan Putri Ayah kepada seorang lelaki asing maka itu pula yang pernah mendera batin mereka saat itu.

Pinastiti,

Seorang lelaki senantiasa bangga dengan istri yang mencintainya, maka hendaknya engkau bersungugh-sungguh selalu menampakkan rasa cintamu kepadanya di hadapan keluarganya dengan parasaan cinta yang khusus kepadanya.

Putriku….

Seorang lelaki senantiasa bangga di depan keluarganya bahwa ia telah memilih seorang istri yang mencintai dan menghormati mereka, maka muliakanlah keluarganya dan sambutlah mereka dengan sambutan yang baik.

Pinantiti Putriku….

Apabila engkau mendapati suamimu sedang marah, maka redakanlah kemarahannya itu dengan ketenanganmu nak.

Jika ia berbuat salah maka obati kesalahannya dengan kesabaranmu.

Dan jika ia ditimpa hari-hari yang sulit, maka jadikan dadamu tempat yang luas baginya agar ia mampu bangkit kembali.”

Tiba-tiba lamunannya tersadar ketika ibunya mengajaknya berbicara,

“Pinastiti, dahulu setelah prosesi akad nikahmu selesai, ayahmu bergegas masuk ke dalam kamar. Kamu tahu apa yang dilakukannya ?” tanya ibunya.

Pinastiti hanya bisa menggelengkan kepalanya.

“Ayahmu bersujud syukur sambil berdoa untukmu. Air matanya membasahi sajadah. Dia mohon agar Allah melimpahkan kebahagiaan dalam hidupmu. Sekiranya kau dilimpahi kenikmatan, dia mohon agar tidak membuatmu lupa zikir kepada-Nya. Sekiranya diberi cobaan, mohon cobaan itu adalah cara Tuhan meningkatkan kualitas hidupmu. Lama sekali dia bersujud sambil terisak.

Kemudian Ibu mengingatkan bahwa banyak tamu yang menunggu. Dia lalu keluar dari kamar dengan senyuman tanpa ada bekas air mata sedikitpun di pelupuk matanya.”

Mendengar semua itu, air mata Pinastiti tak tertahan lagi, tumpah membasahi pipinya. Dari dalam kamar terdengar ayahnya batuk lagi. Lalu Pinastiti bergegas menemui ayahnya sambil membersihkan tetesan air mata.

“Kamu habis menangis ?” tanya ayahnya ketika menatap dan melihat sisa air di matanya.

“Oh, tidak ayah !” Pinastiti memaksakan diri tertawa renyah.

Lalu di pijitnya betis ayahnya dan kemudian pundaknya.

“Pijitanmu enak sekali seperti pijatan ibumu,” kata ayahnya sambil tersenyum. Pinastiti tahu pasti, meskipun sakit, ayahnya tetap ingin menyenangkan hatinya dengan pujian. Itulah pertama kali Pinastiti memijit ayahnya dan melihat betapa gembira wajah ayahnya. Maka Pinastiti pun menjadi terharu.

“Ayah, besok suamiku menyusulku kemari. Dia mengambil cuti seminggu seperti aku dan nanti sore ayah kuantar ke dokter,” kata Pinastiti.

Namun Ayahnya menolak, dan katanya : “Ini hanya batuk ringan, nanti juga akan sembuh sendiri.”

“Harus ke dokter Yah, sebenarnya aku pulang memang ingin membawa Ayah pergi ke dokter. Aku mohon jangan tolak keinginanku ini, Ayah,” kata Pinastiti berbohong.

Ayahnya terdiam. Sebenarnya Pinastiti pulang hanya ingin berlibur, bukan mau membawa Ayahnya pergi ke dokter. Tetapi dia berbohong agar Ayahnya mau dibawa ke dokter. Kemudian Pinastiti membawa ayahnya kedokter spesialis. Tetapi Ayahnya protes lagi, dia minta dibawa ke dokter umum saja yang biayanya lebih murah. Tetapi Pinastiti hanya tersenyum.

Dari hasil pemeriksaan, bahwa ayahnya harus masuk rumah sakit hari itu juga. Kemudian dia membawa Ayahnya ke rumah sakit yang terbaik di kota. Ibunya pun bertanya setengah protes, “Pinastiti, dari mana biayanya ?”

Pinastiti tersenyum, “Aku yang menanggung seluruhnya bu. Sejak muda ayah sudah bekerja keras mencari uang untukku. Kini saatnya aku mencari uang untuk ayah. Aku bisa ! Aku bisa bu !”

Kepada dokter yang menanganinya Pinastiti pun berbisik : “Tolong lakukan yang terbaik untuk Ayahku dok, jangan pertimbangkan tentang biayanya.” Dan dokter itu pun tersenyum.

Ketika Ayahnya sudah berada di rumah dan Pinastiti pamit pulang, dan tidak menyalaminya, akan tetapi Pinastiti merangkulnya dengan erat untuk membayar keinginan Ayahnya waktu di stasiun tempo dulu.

“Seringlah ayah meneleponku, jangan hanya ibu saja,” kata Pinastiti. Ibu nya pun mengedipkan matanya kepada Pinastiti sambil tersenyum.

Dalam perjalanan pulang, Pinastiti berfikir, “Berapa banyak anak yang tidak paham dengan ayahnya sendiri seperti aku. Selama ini aku tidak paham betapa besar cinta ayah kepadaku.”

Oleh karena itu pada hari-hari berikutnya Pinastiti selalu berdoa : “Rasbbigfir lii wa li waalidayaa warhamhuma kama rabbayaani shagiira.”

Namun kini dengan perasaan yang berbeda. Terbayang ketika ayahnya bersujud pada hari pernikahannya sampai sajadah pun basah oleh air matanya…

-o-

Oleh karena itu setelah menerima pesan singkat ibunya lewat Kurniasih, akhirnya hari itu juga Pinastiti memutuskan untuk pulang ke kampung halamannya, walaupun sebenarnya waktu yang dimiliki sangat sulit karena meninggalkan pekerjaan yang seharusnya segera mendapat penyelesaian.

Tetapi dalam hatinya dia berkata : “Aku lebih sayang kepada orangtuaku apabila dibandingkan dengan semua pekerjaanku. Pekerjaan bisa dicari tetapi orang tua tidak bisa digantikan. Oleh karena itu aku mau pulang, walau dengan menghadapi resiko apapun.

Tetapi hatiku menjadi sangat tenang, semoga Ayah selalu dalam keadaan sehat-sehat saja dan Tuhan senantiasa melindunginya.”

-o0o-

Saudaraku pembaca semuanya yang saya hormati terutama di kalangan sendiri, cerita diatas hanya merupakan sebuah gubahan dari cerita yang terjadi sebenarnya sebagai sebuah contoh kejadian.

Mungkin kita pernah menyaksikan bahwa dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat dalam mendidik anak-anak yang diharapkan agar bisa menghormati dan menghargai orang yang sudah tua namun pada kenyataannya dengan tanpa disadari ditemukan kesalahan-kesalahan yang terjadi misalnya saja,  antara lain yaitu :

 

  1. Ada seorang Ibu yang mempunyai anak kecil yang sedang rewel atau menangis dan susah berhenti, maka ibu tersebut mengatakan : “Kalau kamu tidak berhenti menangis nanti dibawa pergi oleh nenek-nenek atau kakek-kakek.
  2. Jika ada seorang Kakek atau Nenek melakukan kesalahan dalam hal berbicara atau melakukan kegiatan sehingga terlihat lucu, maka akan dijadikan bahan tertawaan atau sebagai bahan olok-olok.
  3. Jika ada seorang Kekek atau nenek yang sudah lanjut usia kemudian dengan tidak disengaja melakukan sebuah kesalahan dengan memecahkan/merusak barang yang berharga maka Kakek atau nenek tersebut akan dimarahi dengan cara membentaknya.

Dan kejadian tersebut disaksikan oleh anak-anak mereka yang masih kecil, jadi secara tidak langsung anak-anak kecil tersebut terdidik bahwa kedudukan Kakek atau Nenek disini hanya untuk menakut-nakuti anak, menjadi bahan tertawaan atau untuk dimarahi bukan sebaliknya untuk dihormati dan dihargai.

Mungkin juga hal yang dilakukan oleh ibu tersebut adalah sebuah warisan perilaku yang didapat dari orang tua mereka.

Dan melalui reka ceritera tersebut yang intinya adalah bahwa dalam setiap kegiatan yang dilakukan pasti ada sisi positif dan sisi negatifnya yang dapat kita ambil hikmahnya sebagai pesan moral dan bahan perenungan dalam menjalani kehidupan kita masing-masing didalam bermasyarakat.

Panggilan papa, papih, dedi, ayah, bapak, ebes, abi atau abah… mungkin masih ada berbagai macam panggilan yang ditujukan untuk orang tua laki-laki, namun artinya tetap sama. Akan tetapi terkadang ayah memang sudah mengekspresikan rasa sayangnya kepada anak-anaknya, bahkan mungkin kelihatannya agak dingin atau acuh apalagi kepada anak perempuannya. Mungkin karena menganggap beda gender.

Tapi memang demikian itulah faktanya…oleh karena itu mungkin anak-anak merasa lebih dekat dengan ibu..namun ternyata di balik sikap acuh ayah itu…terdapat rasa sayang yang besar untuk anak-anaknya. Hanya terkadang …anak-anaknya tidak berusaha untuk memahaminya.

 

KASIH SAYANG ORANG TUA

Orang tua tidak pernah takut miskin memberi nafkah pada anaknya saat membesarkan mereka. Tapi banyak anak sering takut kekurangan saat menanggung orang tuanya dimasa tuanya.

Lihat diri kita saat ini…

Sehebat apapun ….

Suksespun setiggi langit, tapi tanpa doa…

Restu orang tua yang membesarkan kita…

maka tidak akan ada ketenangan, keberkahan dan kebahagiaan dalam hidup…..

Uang bisa dicari…

Ilmu bisa digali…

Jabatan bisa kita raih…

Tapi kesempatan untuk mengasihi orang tua takkan terulang kembali…

Satu ibu,

bisa merawat tujuh anaknya…

Tapi tujuh orang anak belum tentu bisa membahagiakan satu orang ibu…

Satu ayah…

Bisa menghidupi tujuh anaknya

Tapi tujuh anak belum tentu dapat menghidupi satu orang ayah…

Sesekali tengoklah orang tuamu,

Tatap wajahnya ketika ia terlelap tidur

Lihat kerutan di wajahnya

Lihat rambutnya yang ki mjulai memutih,

Lihat badannya, yang dulu tegap

Kini mulai membungkuk,

Semua telah berubah termakan waktu tapi tidak dengan kasih sayangnya…

 Sudahkah kita membuatnya bahagia hari ini ?

Sudahkan kita membuatnya bangga hari ini ?

Sudahkah kita membuatnya tersenyum hari ini ?

 Tidak akan ada jasa yang mampu kita balas.

Tidak akan ada kebaikan yang mampu kita balas.

Semua begitu banyak, begitu tulus.

Tuhan Yang Maha Baik

Hadiahkanlah Kebahagiaan untuk kedua orang tua kami atas segala mengorbanan dan kasih sayang yang telah mereka berikan kepada kami…

Aamiin.

 -o-

 

“MEMAHAMI ORANG TUA YANG SUDAH LANJUT USIA”

 

Banyak anak muda yang merasa cukup terganggu dengan ayah/ibu yang sudah usia lanjut dan cerewet.

Namun tahukah Anda bahwa sebenarnya dengan cerewet, suka ngomel ini sebenarnya bentuk verbal catharsis, yaitu orangtua mengeluarkan unek-unek atau ganjalan hatinya sehingga setelah itu hatinya akan menjadi lega dan nyaman.

Selama orangtua masih mau bicara, mengeluarkan pikiran dan terutama perasaannya dalam bentuk verbal, ini tentu sangat bagus, daripada mereka hanya diam saja. Semakin mereka diam, tidak ada komunikasi, maka akan semakin tidak baik bagi diri mereka.

Sebagai anak kita perlu bijak memahami kondisi dan situasi orangtua kita. Seorang  dokter yang sedang dalam proses sertifikasi hipnoterapis berkata :

“Walau saya bisa hipnoterapi, saya tidak akan mensugesti ibu saya agar tenang dan tidak  cerewet lagi. Memang ibu saya ini cerewetnya minta ampun. Namun, justru inilah yang membuat Beliau bisa selalu sehat dan panjang umur. Saat ini Beliau berusia 92 tahun.”

Saat kita masih kecil,  cerewetnya minta ampun. Kita bicara hal-hal yang tidak penting, suka mengulang-ulang apa yang sudah dikatakan atau ditanyakan.

Namun, karena saat itu kita masih kecil, masih baru belajar bicara, cerewetnya kita anggap lucu dan menyenangkan.

Saat seseorang menjadi tua, suka atau tidak suka dia akan kembali seperti anak kecil. Namun, karena sekarang tubuhnya sudah tua, renta dan keriput, cerewetnya tidak lagi lucu dan menggemaskan, malah terkesan menjengkelkan.

Sayangilah orangtua apa adanya, dengan segala keluguan dan kekurangan mereka, selama mereka masih bersama kita. suatu saat nanti, saat suara mereka sudah tidak lagi terdengar, kita pasti akan kangen dan merasa kehilangan.

Ingat, nanti kita juga akan menjadi tua, renta, keriput dan cerewet seperti orangtua kita.

“Love your parent and treat them with loving care. For you only know their velue when you see their empty chair.”

“Cintai orangtuamu dan memperlakukan mereka dengan penuh kasih sayang. Anda hanya akan tahu nilai mereka ketika Anda melihat kursinya telah kosong.”

 

PERJALANAN MENUJU KEBAHAGIAAN

BEDA tapi SAMA dan SERUPA tapi TIDAK SAMA

Ayah adalah sesosok laki-laki yang patut untuk dikagumi sifat, sikap dan perbuatannya. Ayah memiliki tanggungjawab besar terhadap keluarga dan kasih sayangnya juga tidak perlu diragukan lagi karena sama besar dengan kasih sayang seorang ibu namun dicurahkan dalam bentuk yang berlainan.

Orang yang Mencintai kita hingga dia Menutup Mata ialah…….IBU

Orang yang mencintai kita dengan tiada Ekspresi Mata ialah….BAPAK

 IBU memperkenalkan kita kepada Dunia

BAPAK memperkenalkan Dunia kepada kita.

IBU : Membawa kita kepada Kehidupan

BAPAK : Membawa kehidupan kepada kita.

IBU : Menjaga kita supaya tidak Lapar

BAPAK : Membuat kita tahu Makna Lapar.

IBU : Memberi kita Kasih Sayang

BAPAK : Memberi kita Tanggung jawab.

IBU : Mengajar kita supaya tidak terjatuh

BAPAK : Mengajari kita bangun bila terjatuh.

IBU : Mengajarkan kita Berjalan

BAPAK : Mengajarkan kita Jalan Hidup

IBU : Mengajar kita melalui Pengalamannya.

BAPAK : Mengajar kita untuk mendapatkan Pengalaman.

IBU : Memperkenalkan ideologi.

BAPAK : Memperkenalkan realita hidup.

KASIH IBU diketahui semenjak Dilahirkan

KASIH BAPAK diketahui bila dia sudah tiada

Kasihilah BAPAK kita,

Sayangilah IBU kita.

Selama Dia masih ada.

Rumah tidak akan berseri tanpa kehadiran Anak,

tapi rumah akan lebih sunyi bila IBU & BAPAK sudah tiada…

Ini sekedar renungan Bersama buat Kita sebagai ANAK dan sebagai IBU & BAPAK bagi anak-anak kita….

Sebagai keluarga kita harus saling mengingatkan, saling mengasihi bahkan saling mengampuni.

 Kita tidak bisa memilih/ menentukan mau dilahirkan di keluarga ini atau itu. Bahkan ada diantara kita yang mungkin setelah lahir harus tinggal dan dibesarkan dalam keluarga yang tidak mempunyai hubungan darah dengan kita.

Semua sudah dalam rancanganNya dan kita tahu bahwa rancangan Allah selalu baik.

Tinggal bagaimana pilihan kita….memilih untuk bersyukur & bahagia atau bersungut-sungut & tidak bersyukur sehingga tidak pernah bahagia.

  

BERBAKTI DAN TANGUNG JAWAB ANAK KEPADA ORANG TUA

Orang tua tak pernah menyombongkan atas apa yang sudah dilakukannya. Orang tua tak pernah menuntut pamrih dari sang anak.

Orang tua melakukan segala sesuatu mulai dari menyayangi, mendidik, mengasuh dengan ikhlas. Jasa-jasa yang telah mereka lakukan tak mengharapkan imbalan. Mereka akan tersenyum bahagia ketika melihat Anaknya bisa bahagia.

Orangtua adalah orang yang paling berjasa dalam hidup Anaknya, dan sebagai Anak harus memiliki kewajiban untuk berbakti dan bertanggung jawab dengan selalu menghormati, mayayangi dan memperhatikan mereka sebagai bentuk kasih sayang kepada mereka, antara lain :

 

1. Menghormati berarti bersikap santun dan patuh terhadap orangtua, misalnya :
a. Bersikaplah secara baik, dalam berkata-kata, berbuat, memberi sesuatu, meminta sesuatu atau melarang orang tua melakukan suatu hal tertentu.
b. Jangan mengungkapkan kekecewaan atau kekesalan, meski hanya sekedar dengan ucapan “uh”. Sebaliknya, bersikaplah rendah hati dan jangan angkuh.
c. Jangan bersuara lebih keras dari suara mereka, jangan memutus pembicaraan mereka, jangan berbohong saat beradu argumentasi dengan mereka, jangan pula mengejutkan mereka saat sedang tidur, selain itu, jangan sekali-kali meremehkan mereka.
d. Berterima Kasih dan Mintalah ijin kepada keduanya, apabila hendak bepergian,
2. Menghormati juga berarti bertanggung jawab memelihara kelangsungan hidup Orang Tua, antara lain :
a. Lakukanlah perbuatan baik terhadap mereka,
b. Rawatlah mereka bila sudah tua, bersikaplah lemah-lembut dan berupayakah membuat mereka bebahagia, menjaga mereka dari hal-hal yang buruk, serta menyuguhkan hal-hal yang mereka sukai.
c. Berikanlah nafkah kepada mereka, apabila memang dibutuhkan.
d. Mendoakan mereka,

 

Tidak ada Agama yang tidak mengajarkan untuk berbakti kepada Orang Tuanya dan OrangTua akan sangat bahagia memiliki anak yang selalu hormat dan memberikan perhatian kepada mereka.

Dalam Film tentang Kisah Nabi Musa baik melalui Televisi maupun di Film Layar Lebar dengan judul “The Ten Commandments” atau “10 Perintah Allah” yaitu Firman Allah yang ditulis dalam dua Loh Batu, dan dalam salah satu Loh nya tertulis Firman Allah yang berbunyi demikian : “Hormatilah ayahmu dan ibumu……..”

1. Kendati harus hormat dan patuh kepada orang tua namun  kepatuhan Anak tidak boleh melebihi kepatuhan kepada Tuhan sendiri.
2. Tanggung jawab kepada orangtua lebih bersifat fisik ketimbang emosional. Anak berkewajiban memelihara kelangsungan hidup orangtua di masa orangtua tidak lagi dapat memenuhi kebutuhannya.
3. Setelah Anak menikah, Anak harus mengutamakan keluarganya sendiri tanpa harus melepaskan tanggung jawabnya sebagai Anak kepada orangtua

-o-

Dan dari sebuah pengamatan menunjukkan bahwa Anak Perempuan mungkin akan lebih telaten dan peduli dalam merawat Orang Tua yang sudah berusia lanjut apabila dibandingkan dengan Anak Laki-laki, misalnya memandikan, menyuapi makan, mengenakan baju dan lain-lain.

-o-

Berikut dibawah ini penulis tampilkan sebuah artikel atau cerita yang didapatkan melalui kiriman Whatsapp sebagai sebuah gambaran bahwa bagaimana seharusnya memperlakukan Orang Tua. Benar atau tidaknya tentang artikel tersebut kami serahkan sepenuhnya kepada pembaca sendiri.

Budi Harta Winata,

Pengusaha baja/Pemilik PT Artha Mas Graha Andalan

Ketika ditanya rahasia suksesnya menjadi Pengusaha, jawabnya singkat :

“Jadikan orang tuamu Raja, maka rezekimu seperti Raja.”

Pengusaha yang kini tinggal di Cikarang ini pun bercerita bahwa orang hebat dan sukses yang ia kenal semuanya memperlakukan orang tuanya seperti Raja.

Mereka menghormati, memuliakan, melayani dan memprioritaskan orang tuanya. Lelaki asal Banyuwangi ini bertutur :

“Jangan perlakukan  Orang tua seperti Pembantu.”

Orang tua sudah melahirkan dan membesarkan kita, lha kok masih tega-teganya kita minta harta ke mereka, padahal kita sudah dewasa.

Atau orang tua diminta merawat anak kita sementara kita sibuk bekerja.

Bila ini yang terjadi maka rezeki orang itu adalah rezeki pembantu, karena ia memperlakukan orang tuanya seperti pembantu.

Walau suami/istri bekerja, rezekinya tetap kurang bahkan nombok setiap bulannya.

Menurut sebuah lembaga survey yang mengambil sampel pada 700 keluarga di Jepang, anak-anak yang sukses adalah : mereka yang memperlakukan dan melayani orang tuanya seperti seorang Kaisar.

Dan anak-anak yang sengsara hidupnya adalah mereka yang sibuk dengan urusan dirinya sendiri dan kurang perduli pada orang tuanya.

Tapi juga JANGAN mendekati orang tua hanya untuk memdapatkan hartanya.

Mari terus berusaha keras agar kita bisa memperlakukan orang tua seperti raja. Buktikan dan jangan hanya ada diangan-angan.

Beruntunglah bagi yang masih memiliki orang tua, masih BELUM TERLAMBAT untuk berbakti. Sebelum mereka kembali keharibaan Allah.

UANG bisa dicari, ilmu bisa di gali, tapi kesempatan untuk mengasihi orang tua kita takkan terulang kembali.

Share ini anak-cucu kita supayya mereka juga SUKSES di dunia dan akhirat.

Hidup begitu Indah…

 

-o0o-

  Sebuah anekdot :

AYAH YANG CERDAS

Anak Perempuan : “Ayah berani sama harimau ?
Ayah : “Beranilah sayang !”
Anak Perempuan : “Ayah berani sama gajah ?”
Ayah : “Berani juga dong sayang….!”
Anak Perempuan : “Kalau sama Mama….. Ayah berani ???”
Ayah : “Coba pertanyaan yang lain nak…. Nggak baik menyamakan Mama dengan Harimau atau Gajah…”

 

-o0o-

 

BANDUNG – INDONESIA, FEBRUARI – 2018

Cerita : Keliek S.W.

(Gubahan  Ki Ageng Bayu Sepi)

Sumber : www.terapimurni.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *