WAJAH MENGGUNAKAN PENUTUP

PERNAHKAH TERPIKIRKAN :

PADA SAAT SESEORANG SEDANG DUDUK SANTAI KEMUDIAN TIBA-TIBA TERPIKIRKAN INGIN BERBUAT SESUATU KEBAIKAN ?

SEBENARNYA ITU ADALAH TUHAN YANG SEDANG BERBICARA DAN MENGETUK HATI ORANG TERSEBUT.

PERNAHKAH TERPIKIRKAN :

PADA SAAT SESEORANG SEDANG BERSEDIH, KECEWA TETAPI TIDAK ADA ORANG LAIN DISEKITARNYA UNTUK MENUMPAHKAN KEGUNDAHANNYA ?

SEBENARNYA SAAT ITU TUHAN INGIN AGAR ORANG TERSEBUT BERBICARA KEPADANYA.

PERNAHKAH TERPIKIRKAN :

KETIKA SESEORANG DALAM SITUASI YANG BUNTU, SEMUA TERASA BEGITU SULIT DAN TIDAK MENYENANGKAN SERTA TERASA HAMBAR, KOSONG BAHKAN MENAKUTKAN ?

SEBENARNYA ADALAH PADA SAAT ITU TUHAN MENGIJINKAN  ORANG TERSEBUT DIUJI, AGAR SUPAYA MENYADARI KEBERADAAN-NYA. KARENA TUHAN TAHU BAHWA ORANG ITU SUDAH MULAI MELUPAKANNYA.

JADI UNTUK SEMUA PERISTIWA YANG TERJADI, ITU TIDAK ADA YANG TERJADI SECARA KEBETULAN, KARENA SETIAP LANGKAH MANUSIA DIATUR OLEH TUHAN.

 

angat jauh berbeda, apabila dibandingkan dengan waktu-waktu yang sudah lewat, sebab pada malam ini Sumanding merasa dirinya sedang mengalami nasib yang nahas atau sial. Karena dengan mengendap-endap di sudut-sudut desa seperti yang sudah biasa dilakukan, saat ini tidak bisa membuahkan hasil seperti yang diharapkannya.

lewat, sebab pada malam ini Sumanding merasa dirinya sedang mengalami nasib yang nahas atau sial. Karena dengan mengendap-endap di sudut-sudut desa seperti yang sudah biasa dilakukan, saat ini tidak bisa membuahkan hasil seperti yang diharapkannya.

Entah apa yang dapat dikatakan sebagai penyebabnya, tetapi yang jelas adalah pada setiap kali mengintai rumah yang akan dijadikan kurban atau mangsa, keberadaannya selalu saja diikuti oleh hadirnya suara burung uncuing atau bence yang tidak pernah berhenti berbunyi. Suara bercuat-cuit yang keras dan terkadang terbang berputar-putar yang mengitari keberadaannya sehingga membangunkan tidur si pemilik rumah.

Merasakan tentang keadaan malam itu, pemikiran Sumanding merasa tidak tenteram. Perasaan hatinya mengatakan ada yang salah atau ada yang kurang, padahal melakukan puasa sudah dijalankan, membaca mantera-mentera juga sudah dilakukan, persyaratan juga sudah dipenuhi bahkan menghitung keberuntungan berdasarkan perimbon kejahatan yang ada juga sudah tepat.

Namun malam itu tetap saja Sumanding merasa ada yang salah atau kurang lengkap. Entah, tidak tahu itu pada bagian yang mana atau apa penyebabnya, tetapi singkatnya perasaannya mengatakan ada yang kurang !

“Kang Sarma mengapa engkau memukul kentongan rumah dengan nada gencar atau titir, apakah ada tanda-tanda yang kurang bagus dan mencurigakan ?” begitulah kira-kira pertanyaan tetangga yang satu kepada tetangga yang lain dari dalam rumahnya masing-masing setiap ada suara kentongan yang dibunyikan berasal dari tetangga dekatnya.

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu yang didengarkan dan diperhatikan Sumanding dari tempat persembunyiannya di kegelapan malam, gerumbulan pohon perdu dipekarangan atau di pojokan rumah yang agak gelap karena tidak ada lampu penerangannya.

“Iya betul, Mas Triman. Semenjak sore tadi suara burung Uncuing atau Bence tidak kunjung berhenti dan tidak juga mau pergi dari kebun belakang rumah. Mari kita selidiki bareng-bareng,” jawab tetangga sebelah rumah.

“Baiklah kalau begitu, tapi sebentar saya mau ambil senter dulu sambil bawa padang untuk berjaga-jaga.”

“Ya, akupun mau membawa pentungan pemukul.”

“Busyeet…,” begitu bisik hati Sumanding, yang segera pergi meninggalkan kebun yang baru saja dipakai sebagai tempat bersembunyi. Dia bergeser perlahan lalu pergi mengikuti jalan setapak yang gelap di kebun tersebut dan meninggalkan tempat yang tadinya akan dijadikan kurban.

Setelah pergi agak jauh dari tempat yang akan dijadikan kurban Sumanding duduk dengan memeluk kedua lututnya dan berada ditengah-tengah gerumbul pohon bambu yang tumbuh di atas tebing pinggiran sungai. Keadaan sekitar itu sangat sepi serta gelap sekali dan Sumanding pun merasa aman dirinya bersembunyi di tempat itu.

Meskipun dalam keadaan yang sangat gelap karena memang sudah terbiasa beraktivitas pada malam hari dan selalu memperhatikan keadaan serta mengamatinya maka Sumanding pun hapal dengan cara-cara atau strategi petugas di setiap pos ronda bahkan sampai kebiasaan binatang yang biasa keluar pada malam hari pun tidak lepas dari pengamatannya.

Sumanding juga menguasai semua perhitungan tentang hari keberuntungan menurut rumusan perimbon penjahat. Hapal dengan semua mantra yang digunakan untuk melakukan pencurian serta menyiapkan persyaratan yang harus dipenuhi.

Walaupun pada malam itu sebelum berangkat bekerja menjadi seorang pencuri, Sumanding memang sudah menghapal semua rumusan atau perhitungan sial atau mujur seperti yang telah tercatat dalam perimbon penjahat. Tetapi apa yang diperhitungkan dan dihafalkan oleh Sumanding belum juga memperoleh hasilnya.

Bahkan sudah dua rumah yang akan dijadikan mangsa, dan apa yang sudah dilakukan tidak berfungsi sama sekali, sebab penghuni rumah terbangun dan bersiaga serta membangunkan para tetangga sebelahnya. Sedangkan menurut perhitungan perimbon, seharusnya malam itu dia berhasil. Akan tetapi pada kenyataan yang dihadapinya sangat berbeda dengan hasil perhitungan yang ada dalam buku perimbon tersebut.

Andaikata bisa melihat seperti pada keadaan siang hari, pastinya akan dapat melihat dengan jelas bahwa saat itu Sumanding sedang duduk terpekur dan termenung sebab sudah sampai lewat tengah malam dan hampir menjelang pagi dia belum memperoleh hasil apa pun juga. Sedangkan anak dan istrinya di rumah pasti sudah mengharap sekali akan hasil yang diperoleh dari pekerjaan mencuri pada malam hari itu.

“Apakah pada malam ini aku akan pulang dengan tangan kosong ?” tanya Sumanding dalam hatinya.

Andaikata malam ini pulang dengan tangan kosong, hidupnya dan semua keluarga akan sangat kerepotan karena hari itu sudah tidak mempunyai persediaan beras sama sekali. Bahkan semua bumbu untuk memasak juga sudah tidak ada yang tersisa sama sekali. Yang tinggal hanya gula pasir dan jumlahnya pun tidak banyak hanya cukup untuk membuat dua atau tiga gelas minuman. Dan gula itu sendiri sudah tidak ada yang menemaninya lagi seperti halnya ada teh atau kopi.

Jadi pada sore tadi pun sebelum berangkat dari rumah Sumanding hanya bisa nimum air putih hangat yang diberi gula pasir. Walaupun rasanya sangat aneh dan menyebalkan yang bisa membikin perut merasa mual karena memang bukan peruntukkannya, namun tidak pernah dianggap dan dipaksakan saja karena memang perutnya sudah terlanjur merasa lapar dan tidak ada sedikitpun cadangan bahan makanan yang tersedia.

Kemudian dia teringat dengan apa yang telah dikatakan oleh istrinya : “Pak, kalau Bapak malam ini tidak berangkat bekerja, besok pagi kita sekeluarga akan kelaparan. Hidup kok serba susah seperti ini, ya pak,” demikian kata-kata istrinya malam itu sambil berlinang air mata karena menahan rasa sedihnya. Sumanding tidak  memberikan jawaban sama sekali sebab hatinya pun juga merasa pedih seperti teriris-iris serta menangis dalam hati.

Malam itu dengan kesedihannya sambil duduk termenung ditengah gerumbul pohon bambu keinginannya untuk melakukan pencurianpun  juga mengendor. Dalam hati berkata : “Saya ingin menyudahi saja dan berhenti dari pekerjaan seperti ini dan ingin hidup layak dan mempunyai pekerjaan yang bisa menghidupi seperti orang lain pada umumnya.

Tetapi kapan waktunya saya harus berhenti dari pekerjaan ini dan bagaimana awal mula cara yang harus aku lakukan. Karena selama ini aku memang tidak mempunyai keakhlian apapun juga sebagai modal untuk hidup bermasyarakat.

Apalagi dengan kejadian tadi sudah dua tempat yang akan kujadikan kurban, secara mendadak kesemua sipemilik rumah terbangun seperti sudah merasa dan curiga yang kemudian berwaspada. Mungkin Tuhan tidak mengabulkan kalau aku melakukan pekerjaan seperti ini lagi, tetapi harus bagaimana aku mulai merubahnya. Semoga Tuhan memberikan jalan dan petunjuknya kepadaku.”

Di tengah keadaan yang gelap gulita seperti itu mata Sumanding yang sudah terbiasa dan terlatih, mampu menelusuri gelapnya malam tanpa bantuan  penerangan apapun seperti layaknya mata seekor burung hantu atau mata seekor kucing yang bisa membedakan keadaan dan memperhatikan sesuatu yang dilihat.

Meskipun dalam keadaan sedang bingung, sedih dan termenung seperti itu, namun penglihatan Sumanding masih sempat menangkap dan melihat ada gerakan yang merunduk-runduk yang dilakukan oleh empat orang yang menyeberangi sungai dan mengarah lurus tepat pada tebing dibawah gerumbulan rumpun bambu tempat persembunyiannya.

Jika diperhatikan perilaku ketika menyeberangi sungai sangat berhati-hati dan tidak ada seorangpun diantara mereka yang membawa penerangan, baik itu berupa obor, senter atau yang sejenisnya, dan kesan yang bisa dibaca adalah bahwa apa yang dilakukan oleh keempat orang tersebut sangat mencurigakan.

Hati Sumanding menjadi berdebar keras sekali lebih-lebih ketika memperhatikan dari kegelapan bahwa ke empat orang tersebut mengenakan penutup muka dari batas hidung dibawah mata kebawah. Rombongan dari ke empat orang tersebut berhenti sebentar tepat dibawah rumpun bambu beberapa meter dari tempat Sumanding bersembunyi. Ketika diperhatikan ke empat orang tersebut masing-masing mengeluarkan sesuatu dari dalam saku jaketnya.

“Pistol !” kata hati Warong  yang terkejut dan juga takut. Walaupun demikian naluri dan pengalamannya mengatakan bahwa ke empat orang tersebut bukanlah orang yang baik-baik. Kalau orang tersebut adalah orang yang berniat baik mestinya pada waktu bepergian malam-malam demikian itu seharusnya membawa peralatan yang bisa dipergunakan untuk menerangi jalan, tetapi kalau niatnya memang tidak baik pastinya tidak akan membawa alat penerangan seperti yang dilakukannya saat ini.

Selain dari pada itu kalau mereka orang baik-baik pastinya tidak perlu harus menutupi mukanya, apalagi mereka masing-masing membawa menyembunyikan sepucuk pistol.

Kalau dia sendiri hanya mencuri bahan makanan untuk memenuhi kebutuhan hidup, untuk makan esok hari akan tetapi apa yang mereka lakukan mungkin juga disertai dengan kekerasan atau bahkan apabila diperlukan bisa juga terjadi hilangnya nyawa seseorang.

Walaupun selama ini dia juga melakukan hal yang salah tetapi ketika memperhatikan hal tersebut hati nuraninya masih bisa berpikir dengan bening, hati kecilnya tidak bisa membiarkan dan tidak bisa menerima kalau hal tersebut sampai betul-betul terjadi. Kemudian diputuskan untuk mengambil sebuah langkah : “Saya harus segera memberi tahukan keadaan ini kepada mereka yang berkewajiban tugas ronda agar berwaspada dan berjaga-jaga, dan mudah-mudahan saja hal ini adalah awal dari sebuah jalan bagi saya untuk bisa memulai hidup baru di jalan yang benar.”

Dengan mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya, perlahan-lahan Sumanding menggeser posisinya dan keluar dari dalam rumpun bambu, mumpung sebelum orang-orang tersebut menaiki tebing pinggiran sungai.

Ketika dirasakan sudah agak jauh jaraknya dari ke empat orang tersebut, dengan setengah berlari Sumanding menuju pos ronda yang berada di pinggir desa.

“Pak, Mass….. mohon maaf…..,” begitu kata Sumanding sambil mengatur napasnya yang terengah-engah kepada para orang-orang atau petugas ronda yang sedang berjaga di pos keamanan tersebut.

“He…., kamu siapa ! Mengapa sampai lebih dari tengah malam begini kamu datang kemari ? Kamu pasti sedang mengawasi situasi ya ? Karena sejak sore tadi burung bence berbunyi terus-menerus. Jangan-jangan kamu yang sejak sore tadi kamu berkeliling di desa sini, ya apa tidak ? Awas kalau kamu membuat ulah dengan menggunakan berbagai macam alasan, nanti malah akan dipukuli !” kata salah seeorang penjaga pos ronda tersebut.

“Nanti dulu. Sabar dulu sebentar ….saya hanya akan memberi tahu ketika saya sedang duduk menyepi ditengah rumpun bambu yang tumbuh pada tebing dipinggir sungai dalam rangka mencari petunjuk atau wangsit agar bisa hidup menjadi lebih baik, tiba-tiba di bawah tebing sebelah sana saya melihat ada empat orang yang tingkah lakunya mencurigakan menyeberang kemari. Ini saya sampaikan dengan benar-benar. Dan masing-masing orang tersebut menutupi sebagian mukanya serta membekal pistol,” kata Sumanding menceritakan apa yang tadi dilihatnya sambil bergemetaran badannya tetapi bukan karena kedinginan.

“Hush…., jangan kamu mengarang cerita untuk menakut-nakuti kami. Memperhatikan apa yang kamu sampaikan begitu jelas dan terinci seperti ini, jangan-jangan kamu sendiri adalah teman atau bagian dari orang-orang yang mencurigakan tersebut.”

“Tidak pak, saya tidak mengada-ada. Silakan bapak-bapak semuanya bersiaga dan berwaspada, karena menurut perkiraan saya orang-orang yang mencurigakan tersebut akan berbuat yang tidak baik di desa sini,” demikian yang disampaikan Sumanding untuk memberikan pejelasan.

“Ya sudah kalau begitu. Teman tolong dibantu, pukul saja kentongan ini dengan nada gencar daripada nanti terjadi peristiwa yang tidak diinginkan. Kalau orang ini dengan sengaja berbohong, lebih baik kita tangkap lalu kita serahkan kepada polisi,” kata petugas ronda yang lain.

Bunyi kentongan dengan nada titir atau gencar yang berasal dari pos ronda tersebut yang kemudian diikuti oleh bunyi kentongan dengan nada yang sama dari arah lain dan saling bersahut-sahutan dari segala penjuru tempat perondaan di desa tersebut.

Penduduk desa atau warga masyarakat di desa setempat berbondong-bondong keluar dari rumahnya masing-masing sambil membawa peralatan atau senjata yang dimilikinya.

“Ada apa yang sedang terjadi ?” begitu kira-kira pertanyaan dari beberapa warga masyarakat desa itu sambil tampak kebingungan.

“Ada yang memberikan informasi bahwa ada beberapa orang yang kelihatan mencurigakan yang berasal dari seberang sungai sebelah barat desa menuju ke desa sini.”

Hampir semua warga masyakarakat segera pergi secara berbondong-bondong menuju arah sungai yang tadi ditunjukkan oleh Sumanding.

Begitu sampai ditempat yang dituju, yaitu di pinggir sungai, mereka yang datang secara berbondong-bondong berteriak : “Kok, nggak ada apa-apa disini ?”

“Mungkin mereka sudah pergi menyelamatkan diri dan mengurungkan niatnya karena mendengar suara kentongan yang kita pukul dengan nada gencar,” demikian pendapat salah seorang diantara masyarakat tadi.

“Atau kalau tidak,  pastinya orang yang memberikan laporan di pos ronda tadi hanya membohongi kita. Kalau begitu lebih baik orang tersebut kita tangkap kalau perlu dipukuli saja biar mengaku,” teriak yang lain lagi.

Ketika warga masyarakat yang berbondong-bondong pergi ke pinggir sungai tadi sudah kembali ke tempat pos ronda dengan roman muka yang jengkel, hati Sumanding menjadi semakin kecil karena diliputi olah rasa khawatir yang berlebihan.

“Tangkap saja ! Orang ini telah membohongi kita dan hanya membuat keributan saja !” teriak beberapa orang penduduk desa itu yang merangsek maju kedepan untuk menyengkeram leher baju Sumanding pada bagian dadanya.

“Sa….saya tidak bohong….pak… Tadi saya betul-betul melihat dengan mata kepala sendiri !” kata Sumanding memberikan penjelasan dengan badan bergemetaran karena ketakutan.

“Ahhh alasan saja, seandainya kamu memang melihatnya, dapat dipastikan kalau kamu juga bukan orang baik-baik, mungkin sebangsanya pencuri atau barangkali mata-mata dari penjahat yang akan mengganggu ketenteraman desa sini. Bagaimana mungkin tidak, karena kamu bukan penduduk desa sini dan pada saat tengah malam seperti ini masih berkeliaran di desa sini. Iya apa tidak ? Hayo mengaku saja !”

“Mmmm, bukan. Saya, saya adalah orang baik-baik…….hanya ingin menyepi atau bertirakat ditempat itu,” demikian penjelasan Sumanding dengan ketakutan, walaupun di hati kecilnya mengiyakan bahwa dia juga bukan orang baik, tetapi ingin sekali merubah perilaku yang salah, namun pengakuan pada saat seperti ini atau pada saat orang-orang sedang dihinggapi oleh emosi yang tinggi bukanlah waktu yang tepat untuk itu.

“Orang baik-baik….baik apanya ? Malam-malam begini masih berkeliaran di desa orang lain ! Sudah…., tangkap saja dan laporkan ke polisi.”

“Maaf bapak-bapak semuanya…..,” kata Sumanding yang hampir menangis karena ketakutan yang amat sangat dan juga hati yang bersedih karena teringat akan nasib keluarganya.

“Kalau tidak mau menurut, pukul saja !” teriak yang lain.

Ketika malam yang sudah menjelang pagi itu Sumanding diikat pada kedua tangannya dan dibawa ke kantor polisi dengan jalan dibonceng motor. Ada empat orang semuanya yang mengantarkan Sumanding ke kantor polisi. Di sepanjang perjalanan Sumanding hanya bisa menangis. Menangis karena menyesali nasibnya yang tidak bagus. Menangis karena malam ini sampai besok harinya anak dan istrinya tidak akan bisa makan dan tidak akan segera tahu tentang dimana keberadaannya.

Ketika waktu subuh, pada saat orang-orang yang mengantar Sumanding belum kembali dari kantor kepolisian, di desa tersebut telah terjadi keributan yaitu di rumah Kepala Desa yang terkenal kaya dirampok orang. Adapun perampok tersebut berjumlah empat orang dan masing-masing membawa sepucuk pistol.

Kepala Desa yang ikut mengantarkan Sumanding ke Kantor Kepolisian pun tidak mengerti kalau dirumahnya telah terjadi perampokan. Anak dan istrinya hanya bisa menangis sebab semua tangannya diikat oleh para perampok. Semua harta dikuras habis dan benda berharga yang ada diangkut dengan menggunakan mobil pribadi milik Kepala Desa itu sendiri.

Sebagian masyarakat desa itu yang mengetahui kejadian tersebut hanya mendiamkannya saja dan tidak ada yang berani mendekat karena takut menjadi sasaran empuk proyektil peluru yang nyasar, sebab perampok tadi berkali-kali meletuskan pistolnya.

Ketika Kepala Desa kembali dari kantor kepolisian, hanya bisa diam melenggong dan terkesima karena menemukan keadaan bahwa ketenteraman desanya terganggu dan di rumahnya yang sudah dirampok habis-habisan, tanpa ada seorangpun warga setempat yang berani menghalangi terjadinya peristiwa perampokan tersebut.

Ada seberkas rasa penyesalan yang datangnya terlambat karena tidak menghiraukan informasi yang diberikan oleh seseorang, karena dalam pandangan matanya bahwa seseorang tersebut adalah orang yang salah karena penampilan dan pada posisi yang dianggap tidak benar.

Semuanya karena terburu nafsu dengan mudah menjatuhkan vonis, dan merasa bahwa permasalah yang dihadapi sudah terselesaikan serta membiarkan pengamanan perondaan maupun masyarakat desa tersebut menjadi tidak berwaspada lagi.

-o0o-

 

Saudaraku pembaca semuanya yang saya hormati terutama di kalangan sendiri, gubahan cerita diatas hanya merupakan sebuah contoh kejadian yang bisa diketemukan dalam kehidupan sehari-hari, dan melalui gubahan ceritera tersebut yang intinya adalah bahwa Tuhan memanggil hidup setiap orang berbeda satu dengan yang lainnya dan suatu niatan yang baik atau suatu Perbuatan baik yang di lakukan tidak akan selalu diterima dengan baik oleh orang lain.

Dan sebagai bahan perenungan dalam menjalani kehidupan kita masing-masing dalam hidup bermasyarakat, diperlukan suatu kemampuan untuk bisa membaca atau mengerti tentang berbagai nuansa baik itu tanda-tanda dari alam maupun dari manusia.

 

Tidak ada orang baik yang tidak punya masa lalu, dan tidak ada orang jahat yang tidak punya masa depan.

Panggilan Tuhan dalam hidup setiap orang berbeda satu dengan yang lainnya. Ada yang dipanggil ketika ditengah-tengah badai kesulitan, kesukaran dan tantangan hidup dan ada yang dipanggil lewat pengalaman sukacita ataupun kebahagiaan.

Pada dasarnya Tuhan memanggil hidup seseorang agar menjadi lebih dekat pada-Nya bisa dilakukan dengan cara :

  1. Dipanggil Secara Langsung artinya tidak peduli sedang dalam keadaan apapun tiba-tiba saja hati dan pikirannya tertuju kepada Sang Pencipta dan ingin berbuat suatu kebaikan, untuk mendekatkan diri padaNya, atau pada jaman dahulu Tuhan menugaskan malaikat sebagai utusanNya.
  2. Seseorang dipanggil untuk dekat dengan Tuhan bisa melalui cara Pendidikan/Sekolah/Pesantren, Membaca Kitab Suci, Mendengar Lagu Rohani, Mendengar Tausiah, Khotbah atau Ceramah, Membaca Artikel atau media–media lainnya, baru kemudian hatinya tergugah untuk hidup lebih dekat dengan-Nya.
  3. Seseorang dipanggil Tuhan untuk hidup lebih dekat dengan-Nya bisa karena seseorang tersebut selalu melihat dan memperhatikan kehidupan orang-orang beriman yang taat beribadah.

 

Reaksi seseorang ketika mendapat panggilan.

Panggilan juga bisa saja ditanggapi dengan sikap yang berbeda oleh tiap orang. Membaca kisah-kisah dari Kitab Suci, bahwa ada orang yang merasa panggilan sebagai hal yang mendatangkan kesenangan, keuntungan akan cepat menanggapinya. Misalnya tanpa berpikir panjang dia langsung mengikuti kehendak Tuhan dengan meninggalkan segala-galanya, misalnya pangkat, pekerjaan, kekayaan dan sebagainya.

Tetapi apabila panggilan itu akan membebani, membuat dirinya susah atau untuk melakukan pekerjaan yang berat maka umumnya orang akan berpikir-pikir dulu atau menolak. Misalnya dengan alasan merasa perlu menyelesaikan dan mengurus hidupnya terlebih dahulu. Ada juga yang menolak, kerena merasa tidak mampu memenuhi persyaratan yang diharuskan.

 

Setiap keputusan yang di ambil ketika mendekatkan kepada-Nya pasti ada resiko yang akan dihadapi oleh orang tersebut, akan tetapi kalau tetap setia dan bertahan, Tuhan pasti memberikan kekuatan jalan keluar dan damai sejahtera sehingga orang tersebut dapat menanggung semua itu.

Tuhan memanggil seseorang karena Dia mempunyai rencana yang besar, karena lewat hidup orang tersebut Tuhan ingin menjadikannya sebagai saksi, contoh, teladan hidup, sehingga  keluarga, teman, saudara maupun orang lain sekalipun bisa menjadi lebih dekat dengan Nya.

Tantangan dalam kehidupan bisa saja datang silih berganti menghampiri akan tetapi rencana Tuhan bagi umat-Nya tidak akan pernah gagal karena Tuhan senantiasa memberikan hikmah, kekuatan dan selalu menyertai umat-Nya.

Jadi intinya bagaimanapun cara Tuhan memanggil, sebaiknya hal tersebut dilihat dengan sudut pandang positif, bahwa Dia sedang melakukan yang terbaik bagi umat-Nya.

 

-o0o-

Sebagai bahan introspeksi :

WAJAH DIBALIK PENUTUP

“Seseorang yang selalu memusuhi saya, dan wajahnya sangat ingin saya ketahui.

Sebab dia secara terus menerus selalu mengikuti saya tanpa terlihat, walau kemana pun saya pergi.

Rencana saya selalu dibatalkannya, bidikkan saya pun selalu digagalkannya, dia juga menghambat jalan saya untuk maju ke depan.

Ketika saya berjuang untuk mengejar tujuan yang luhur, dia berkata dengan geram kepada saya : “Tidak !”

Pada suatu kesempatan, saya berhasil menangkapnya serta memegangnya dengan erat, kemudian saya tarik lepas penutup wajah itu……..

Akhirnya, saya dapat melihat wajahnya itu dan ……… ternyata diri sayalah yang saya lihat!”

 

 

Jangan menilai orang hanya dari penampilan luarnya :

Banyak orang dan mungkin salah satunya adalah kita sendiri yang sering  menyampaikan pepatah agar “tidak menilai orang dari luarnya atau penampilannya saja.”

Karena “menilai orang dari luar” mempunyai makna atau konotasi yang buruk, bahkan mungkin merendahkan. Sebab di dalamnya tersirat penilian yang tidak adil, penilaian yang sepihak dan terlalu cepat menarik kesimpulan.

Dalam situasi carut marut dunia saat ini begitu sulit orang mengenal jati dirinya dan orang lain yang sesungguhnya, kadang-kadang polesan asesoris menutupi kesejatian identitas diri yang sebenarnya, maka tidak heran kalau kitapun memiliki mentalitas yang ingin melihat segala sesuatu dengan dangkal karena tidak mau mengenal yang lebih dalam, orang hanya sekedar melihat yang lahiriah yang nampak saja.

Padahal sejak dulu sudah diketahui, bahwa menilai hanya dari penampilan, sebenarnya adalah merampas kesempatan untuk mengenal pribadi seseorang yang sebenarnya. Mungkin sebagai manusia kita lupa, bahwa setiap manusia punya sisi berbeda.

Meskipun Tuhan memberikan kita kedua belah mata yang sehat dan berfungsi sebagaimana mastinya, tapi mata tetaplah mata yang hanya bisa melihat sisi permukaan atau lahiriah saja. Jangan hanya dengan menggantungkan kemampuan indera penglihatan, kita bisa dengan gampangnya memberi tanggapan atau penilaian pada orang lain.

Karena indra penglihatan yang kita memiliki mempunyai keterbatasannya sendiri. Isi hati dan kepribadian seseorang adalah sisi yang tidak bisa di telusuri dengan mata lahiriah.

Harus diakui sulit memang kita melepaskan sepenuhnya kebiasaan melihat dari orang lain dan penampilan. Selalu ada masa di mana kita menumpukan pendapat dari suatu yang bisa terlihat. Akan tetapi, ada baiknya sebelum kita memberi penilaian, luangkan waktu terlebih dahulu mengenali orang dan bukan lainnya. Mulailah melatih diri untuk mau menyelami sisi terdalam dari seseorang.

Ketika kita membiasakan diri untuk tidak terpaku menilai orang lain dari sisi luarnya saja, sesungguhnya akan ada banyak keuntungan yang kita dapatkan. Keuntungan tersebut adalah kesempatan untuk mengenal orang secara lebih dalam. Mungkin akan menemukan kejutan ketika mengenal orang lain secara lebih mendalam, sebab seseorang yang pada awalnya kita nilai biasa-biasa saja, bisa jadi justru memiliki sisi yang begitu istimewa. Selalu ada sisi baik dari setiap insan meski penampilan luarnya tidaklah menyenangkan.

Mengubah cara pandang jelas bukan sesuatu yang gampang. Tapi, bukan berarti tidak bisa kita lakukan, dengan kemauan yang kuat, secara perlahan-lahan kita dapat merubah arah pemikiran. Dari yang tadinya sibuk menilai orang dari kemasan luar menjadi lebih detail dengan sisi terdalam.

Sehubungan dengan hal tersebut diatas jangan menilai dari tampilan lahiriahnya saja karena :

  1. Tidak ada seorangpun manusia yang sempurna, oleh karena itu belum tentu kita lebih baik dari mereka.

Maka sebelum menilai orang lain, bercerminlah pada diri sendiri. Karena semua orang memiliki kekurangan yang bahkan mungkin kekurangan kita lebih buruk daripada kekurangan mereka.

  1. Setiap orang diciptakan Tuhan karena sebuah alasan. Begitu pula dengan dia. Maka meremehkan mereka sama saja dengan meremehkan Sang Pencipta.

Tidak ada manusia yang diciptakan-Nya dengan sederhana dan tidak ada ciptaan di dunia ini yang tidak berguna. Sebagai contoh nyamuk yang kecil diciptakan bukan untuk menggigit manusia tapi untuk menciptakan lapangan pekerjaan. Demikian juga dengan mereka yang diciptakan Tuhan untuk satu alasan. Maka, sebelum kamu menilai orang lain buruk, perhatikan dia baik-naik, dan ingat tentang yang Menciptakannya.

  1. Kita semua diciptakan berbeda.

Manusia diciptakan berbeda-beda. Dari bentuk fisik saja sudah banyak perbedaan, apalagi dari segi nonfisik. Jika manusia punya isi hati dan isi kepala yang sama, maka kita bukan lagi disebut manusia, tetapi robot. Oleh karena itu harus saling menghargai dan menikmati perbedaan tersebut.

  1. Setiap orang memiliki sisik baik dan memiliki sisi yang buruk. Jadi dapat dikatakan bahwa tidak ada orang yang 100 % jahat dan 100 % baik.
  2. Menilai orang lain dengan penilaian yang buruk tidak membuat kita menjadi manusia yang lebih baik. Karena yang dikatakan baik itu baik itu relative dan begitu luas. Dan tolok ukur kebaikan itu sendiri sangat banyak. Jika kita sudah menilai buruk seseorang, maka kita tidak akan bisa melihat sisi kebaikannya.
  3. Jika kita tidak suka bukan berarti mereka salah.

Jangan sampai kita mempunyai sikap tidak suka pada seorang laki-laki yang menyenangi warna pink hanya karena kita senang dengan warna hijau ? Menyenangi warna hijau boleh boleh saja, tetapi jangan sampai kita merasa benar sendiri atas sikap tersebut. Karena warna hijau  belum tentu lebih bagus daripada warna pink, tetapi keduanya sama-sama dibutuhkan agar pelangi dapat tercipta. Jadi intinya tidak harus memaksa orang lain mempunyai penilaian yang sama dengan penilaian kita.

  1. Penampilan bisa saja menipu.

Penampilan luar sangat mungkin tidak mencerminkan apa yang ada di dalamnya. Kita berpikir bahwa kita tahu apa yang terjadi, namun bisa saja kita tidak tahu apa-apa sama sekali.

Kita sering tertipu oleh penampilan luar seseorang. Kita percaya dan beranggapan bahwa seseorang itu baik karena penampilannya yang memikat, atau sebaliknya seseorang tersebut benar-benar baik walaupun penampilan luarnya tidaklah menyenangkan.

Siapa bisa mengetahui isi hati orang ?

Hikmah saja bersembunyi dibalik musibah, apalagi penampilan seseorang. Jelas sekali bisa ditutupi. Penampilan bisa mengelabuhi, tapi buahnya tidak pernah bisa bohong.

 

Ada ungkapan yang berbunyi : “Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka.”

 

Untuk diingat :

Hal yang penting dan harus diketahui bahwa Tuhan tidak menilai penampilan lahiriah kita. Dia melihat ke dalam hati yang memancarkan kondisi sebenarnya. Demikian juga dengan pekerjaan Allah tidak cukup hanya dilihat dan dirasakan secara lahiriah atau yang nampak saja.

-o0o-

Sebuah Humor :

 

“MUKIDIN MENCURI MOTOR MIO MERAH MILIK MIMIN MINTARSIH”

Mukidin diajukan ke Pengadilan karena terbukti membawa lari Sepeda Motor Mio Merah Milik Mimin Mintarsih selingkuhnya.

Inilah kutipan Pembelaan Mukidin di Pengadilan :

“Saya tidak Mencuri Motor Mio Merah Milik Mimin Mintarsih Pak Hakim… Tetapi Gadis itu sendiri yang sudah memberikannya dengan ikhlas kepada saya….,” kata Mukidin dengan suara memelas.

Kemudian Mukidin melanjutkan bicaranya sambil sesekali mengusap air-matanya : “Kami berkenalan, menjadi akrab lalu berjalan-jalan pakai Sepeda Motor Mio Miliknya ke taman yang sepi….kemudian setelah kami parkir, gadis itu berbisik ditelinga saya : “Masss….ambillah milik-ku yang paling berharga sambil dia membuka semua pakaiannya….terus pergi masuk semak-semak,” tambah Mukidin bersemangat.

“Lalu saya kipir-pikir, dari pada ambil Baju, BH, CD dan Celana Jeans….mendingan Sepeda Motor Mionya….lebih berharga kan Pak Hakim..??!!”

Hakim spontan Tertawa terbahak-bahak sambil berkata : “Dasar Siah… Belegug Mukidin….. (Dasar kamu … Bodoh Mukidin….) ….!!!”  Lalu Hakim pun melempar Palunya ke Mukidin : “KAMU BEBAS…..!!!”

 

-o0o-

BANDUNG – INDONESIA, SEPTEMBER – 2017

Cerita : Sartono Kusumaningrat

(Gubahan Ki Ageng Bayu Sepi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *