SEBUAH PILIHAN

KEBAHAGIAAN ITU ADALAH PILIHAN DAN BUKAN MERUPAKAN SEBUAH PEMBERIAN, JIKA INGIN BAHAGIA TANYALAH HATI SENDIRI. TIDAK ADA SEORANGPUN YANG DAPAT MEMBUAT SESEORANG MENJADI BAHAGIA, SELAIN DIRINYA SENDIRI. OLEH KARENA ITU SALAHKAN DIRI SENDIRI JIKA TIDAK BAHAGIA, KARENA BUKAN ORANG LAIN YANG MEMBUATNYA MENDERITA.

SEBENARNYA YANG MEMBAWA PENDERITAAN BUKANLAH MASALAH ITU SENDIRI, MELAINKAN REAKSI SESEORANG KETIKA MENGHADAPI MASALAH TERSEBUT . SEBAB TIDAK ADA MASALAH YANG SULIT YANG TIDAK DAPAT DISELESAIKAN, KARENA YANG MEMBUATNYA SULIT ADALAH CARA DALAM MENGATASINYA. DAN YANG HARUS DIKETAHUI BAHWA HIDUP TIDAK PERNAH TERLEPAS DARI PERMASALAHAN,  NAMUN SEMUA ITU TERSERAH PADA SESEORANG TERSEBUT BAGAIMANA CARA UNTUK MENYELESAIKANNYA. JIKA DALAM HIDUP INI SELALU MENGKHAWATIRKAN HAL-HAL YANG KECIL ATAU SEPELE, MAKA MASALAH BESAR AKAN MEMBUNUHNYA.

OLEH KARENA ITU BERSYUKURLAH ATAS BERKAT SEKECIL APAPUN YANG TELAH DITERIMA, MAKA ALLAH AKAN MEMBERIKAN KEPADAMU YANG LEBIH BESAR. MANUSIA MEMANG YANG MERENCANAKAN NAMUN PADA AKHIRNYA TUHANLAH JUGALAH YANG MENENTUKAN.

W

alaupun ditakdirkan hidup menjadi anak seorang kebanyakan atau orang yang biasa-biasa saja yang dengan perkataan lain bukan anak orang kaya, tetapi Hapsari Ayuningtyas mendapat karunia atau anugerah wajah yang cantik, menarik dan kulit yang bersih meskipun sedikit agak tomboy serta disayangi oleh banyak orang, hal tersebut sangat sesuai dengan nama Hapsari dan Ayu yang dimilikinya. Mungkin dapat dikatakan sebagai gadis kembangnya di kampung itu, maka tidak sedikit laki-laki yang jatuh hati kepadanya, baik itu yang masih berstatus bujangan ataupun dengan status lainnya.

Ketika mulai masuk sekolah di SMA, Hapsari Ayuningtyas yang biasa dipanggil dengan nama Hapsari harus ikut dan harus merawat Kakek dan Neneknya yang sudah tua dan sakit-sakitan karena usia yang sudah lanjut. Namun sebagaimana pada umumnya gadis remaja sebayanya yang masih dalam masa puber,  yang senang bergaul, bermain atau pergi kesana-kemari dengan teman, begitu pula sebenarnya yang terjadi pada keinginan Hapsari. Tetapi hal itu terhalang karena tugas dan kewajiban yang harus dilaksanakannya.

Suatu ketika dia diminta untuk diikat dengan tali pertunangan oleh orang tua dari salah seorang pemuda yang bernama Megantara yang tidak lain adalah kakak kelasnya yang sudah lulus SMA, namun harus mau menunggu karena Megantara sendiri harus kuliah terlebih dahulu.

Di lain waktu Hapsari juga diminta untuk menjadi istri seorang pemuda yang bernama Ivan Ramli seorang Taruna AKABRI, akan tetapi harus menunggu dulu sekian tahun karena yang berasangkutan harus menyelesaikan pendidikannya.

Kakek, nenek maupun orang tua Hapsari sendiri setuju, karena Megantara disamping anaknya baik diapun anak seorang haji yang juga  pengusaha dan berkecukupan serta diperkirakan kelak dikemudian hari bisa hidup tidak berkekurangan. Begitu pula halnya kalau hidup dengan Ivan Ramli.

Namun Hapsari sendiri tidak menanggapi hal tersebut, karena kalau harus menunggu mereka menyelesaikan kuliah atau pendidikan yang sekian tahun lagi lamanya berarti dia akan tinggal lebih lama di rumah kakek dan neneknya, dan hal itu yang tidak diinginkannya.

Yang ada dalam pikirannya adalah bahwa dia ingin cepat-cepat ada yang menikahinya  dan  membawanya pergi dari rumah itu yang berarti akan segera terbebas dari tugas yang membelenggunya selama ini.

Pada saat-saat luang, sebagai hiburan Hapsari yang sedikit agak tomboy itu ikut kumpul-kumpul dan bergaul, mengobrol kesana kemari di tempat yang tidak jauh dari rumah tinggalnya dengan teman-teman baik laki-laki maupun perempuan, baik mereka yang sudah bekerja maupun yang masih menganggur, baik mereka yang berstatus bujangan, sudah beristri maupun mereka yang berstatus pernah berumah tangga.

Dari sekian banyak teman laki-laki yang suka kumpul dan ngobrol ada beberapa orang yang terlihat sangat berusaha dan berlomba untuk mendapatkan perhatian Hapsari, diantaranya ada yang bekerja sebagai Satpam di sebuah Mall, Satpam di sebuah Rumah Sakit, Satpam di Sebuah Bank milik Pemerintah Daerah serta seorang Aparat Pemerintah yang pada saat itu berstatus pernah berkeluarga.

Tetapi dari sekian orang yang berusaha mendekatinya, ada seseorang yang berkarakter baik kepada semua orang menurut pandangan Ayuning yaitu bernama Wijayanta. Dan kalau kebetulan ada, dia selalu mentraktir semua teman-temannya. Singkat cerita maka pilihan pun jatuh kepada Wijayanta dan kemudian dengan Wijayantalah, Hapsari selalu bepergian walaupun masih dengan cara sembunyi-sembunyi.

Misalnya kalau pergi menghadiri sebuah undangan pernikahan atau lainnya, berangkat dari rumah Hapsari berpakaian biasa saja kemudian berganti pakaian yang sudah dibekalnya ketika diperjalanan dan sudah dekat dengan tempat yang dituju. Demikian pula pada waktu pulangnya, Hapsari berganti pakaian yang dikenakan ketika hendak pergi dari rumah.

-o-

 

“Hidup itu adalah pilihan. Jika kamu sudah merasa mantap dengan pilihanmu, ya sudah. Ibu menghormati pilihanmu dan tidak akan menghalang-halangi kamu untuk meningkatkan hubungan itu lebih jauh dengan melangsungkan pernikahan dengan Wijayanta. Tetapi apakah itu sudah benar-benar kamu pikirkan ?” tanya Ibu Nurdjanah waktu itu ketika Hapsari Ayuningtyas menjatuhkan pilihannya kepada Wijayanta.

“Sudah bu,” jawab Hapsari mantap.

Hapsari Ayuningtyas memilih Wijayanta karena dia merasa lebih mantap jika hidup bersama dengannya dibanding dengan Megantara atau Ivan Ramli. Soal wajah adalah relative dan memang diakui oleh Hapsari bahwa Megantara lebih tampan dan Ivan Ramli lebih gagah. Tetapi ada hal yang istimewa pada diri Wijayanta,  yaitu dia adalah type seorang lelaki yang ulet, pekerja keras dan baik hati.

Dan Hapsari memang senang dengan perilakunya yang baik kepada semua orang dengan tidak membedakan. Walaupun pendidikan formalnya hanya SMA dan bekerja sebagai seorang anggota Satpam di Bank Milik Pemerintah Daerah, namun cukup mandiri.

Megantara dan Ivan Ramli adalah orang yang mendekati Hapsari Ayuningtyas sebelum yang bersangkutan bertemu dengan Wijayanta. Semula mereka memang calon menantu yang sangat diharapkan oleh orang tua Hapsari.

Ya maklumlah yang seorang adalah calon seorang pengusaha dan seorang lagi adalah calon pejabat yang pintar dan juga sopan santun, yang benar-benar mencerminkan jaminan masa depan. Oleh karena itu orangtua Hapsari mendukung seratus persen kalau anaknya mau berpacaran dengan salah satu diantara mereka.

Tetapi….ada hal-hal yang tidak disukai dari kepribadian mereka, yaitu Megantara dengan sifat yang keras dan yang seorang lagi kaku dan otoriter. Bahkan ketika putus hubungan pun mereka marah-marah dan sempat berkata-kata kasar.

Maka ketika bertemu dengan Wijayanta, Hapsari mulai membanding-bandingkan di antara ketiganya.

Menurut logika hidup bersama Megantara atau Ivan Ramli jelas lebih terjamin, tidak ada yang perlu dikhawatirkan untuk masa depan. Tetapi yang namanya orang berkeluarga itu kan bukan hanya materi saja yang dijadikan ukuran.

Kebahagiaan lahir dan kebahagiaan batin juga menjadi bahan pertimbangan. Untuk apa hidup serba berkecukupan dalam hal materi tetapi dengan perasaan hati yang tertekan ? Maka Hapsari mengikuti perasaan hatinya, sebab hatinya lebih condong untuk memilih Wijayanta yang baik hati walaupun masa depannya masih belum ketahuan.

Maksudnya adalah bahwa Wijayanta juga mempunyai masa depan karena memang dia adalah orang yang ulet dan pekerja keras, hanya saja mengenai hasil yang diperoleh pasti berbeda apabila dibandingkan dengan Megantara atau Ivan Ramli, sebab tingkat pendidikan yang berbeda dan juga keakhlian yang tidak sama.

“Mengenai harta bisa dicari, toh nanti aku juga akan bekerja. Jadi kalau bekerja atau berusaha bersama-sama pasti hasilnya akan lumayan,” demikian pemikiran Hapsari waktu itu.

Hapsari masih sangat ingat wajah dan penampilan Megantara yang amburadul, kuyu dan lesu setelah diputus hubungan pacaran melalui sms. Sore harinya dia datang ke rumah Hapsari, tanpa dipersilakan langsung saja masuk ke ruang tamu dan langsung duduk sambil mengeluarkan HP nya dari saku bajunya.

“Benar ini sms dari mu ?” tanyanya sambil menunjukkan tulisan pada layar HP-nya.

“Benar !” jawab Hapsari sambil menganggukkan kepalanya.

“Dengan alasan apa ?”

“Seperti pada tulisan tersebut, aku ingin mengakhiri hubungan kita, sebab setelah sekian lama jalan bersama, saya jadi semakin menyadari  kalau banyak perbedaan yang ada diantara kita,” jawab Hapsari tanpa memandang muka Megantara yang terlihat sangat kuyu.

“Aku mengerti, kamu hanya mencari-cari alasan saja. Apakah kamu sekarang sudah mempunyai PIL (Pria Idaman Lain) ?” tanya Megantara dengan nada yang sangat tidak enak untuk didengar.

“Pembicaraanmu sangat tidak enak untuk didengar telinga. Mempunyai PIL, itu artinya sama saja denan menuduh aku telah selingkuh. Sedangkan diantara kita belum ada ikatan apa-apa.”

“Kalau yang kau maksud adalah ikatan resmi, memang belum ada. Tetapi semua orang termasuk kedua orangtuamu, mereka mengerti kalau kamu adalah pacarku.”

“Pacar bukanlah sebuah jaminan yang pasti akan menjadi teman hidup selamanya. Sebab yang namanya pacaran itu adalah taraf penjajagan, atau sarana untuk saling mengenal dan untuk memahami karakter pasangannya masing-masing. Kalau ada kecocokan yang diteruskan hingga sampai pada ikatan pernikahan, dan kalau memang tidak cocok atau kurang pas, mengapa harus memaksakan diri untuk diteruskan ?”

“Baiklah. Aku setuju dengan pendapatmu. Tetapi alasanmu untuk memutuskan hubungan yang sudah kita jalin selama itu terlalu mengada-ada. Terlalu mencari-cari. Aku yakin kau pasti punya gebetan baru kalau tidak mau dinamakan PIL.”

“Semua itu terserah pendapatmu saja tentang apa yang akan kau katakan, tetapi aku sudah bulat untuk memutuskan hubungan.”

Megantara seketika langsung berdiri dari tempat duduknya lalu pergi tanpa berpamitan. Ketika keluar halaman rumah suara motornya digas mengerang keras sekali.

Setelah putus dengan Megantara atau Ivan Ramli, maka untuk selanjutnya berhubungan dengan Wijayantaa pun tidak harus dengan cara sembunyi-sembunyi lagi. Hapsari pun sudah mulai berani terang-terangan untuk jalan bersama, jajan bersama ataupun mau pergi ke sebuah undangan bersama.

Tidak sampai setahun berpacaran dengan Wijayantaa, kemudian memutuskan untuk menikah. Ibu Nurdjanah terkejut ketika Hapsari, anaknya menyampaikan hal tersebut.

“Apakah kamu tidak ingin bekerja lebih dahulu ?” tanya sang ibu.

“Nanti setelah menikah aku juga akan mencari pekerjaan, Bu. Dan Kang Wijayanta ingin menikah tahun ini, sebab Wijanarko adiknya juga sudah menikah lebih dulu karena sesuatu hal dan sudah mempunyai seorang anak yang berumur kurang lebih pada dua tahun. Sang ibu diam sejenak, kemudian melanjutkan pertanyaannya : “Tetapi apakah kamu sudah benar-benar mantap dengan pilihanmu ?”

Hapsari menganggukan kepalanya dengan mantap, dan Ibunya pun kemudian berkata : “Hidup itu adalah pilihan. Jika kamu sudah merasa mantap dengan pilihanmu, ya sudah. Ibu menghormati pilihanmu dan tidak akan menghalang-halangi kamu untuk meningkatkan hubungan itu lebih jauh dengan melangsungkan pernikahan dengan Wijayanta. Tetapi apakah itu sudah benar-benar kamu pikirkan ?” tanya Ibu Nurdjanah waktu itu ketika Hapsari menjatuhkan pilihannya kepada Wijayanta.

Kelihatannya mereka merupakan pasangan yang sangat sempurna. Tetapi dengan berjalannya waktu dalam pertunangan mereka, semakin lama akan menjadi semakin banyak kekurangan yang terlihat. Banyak masalah yang muncul, karena sebagai seorang calon suami Wijayanta terlalu banyak melarang dan mengekang, sedangkan waktu itu Hapsari masih duduk di bangku SMA, jadi masih banyak kegiatan yang harus dilakukan.

Terpikir dalam benak Hapsari : “Belum jadi apa-apa sudah banyak mengatur dan melarang itu dan ini, apalagi nanti kalau sudah benar-benar terikat sebagai suami istri. Aku harus mengambil suatu keputusan.”

Hingga sampai pada suatu saat kurang beberapa hari lagi pernikahan akan dilangsungkan bahkan undangan pun sudah disebarkan, Hapsari berniat untuk kabur agar pernikahan tersebut tidak jadi atau batal.

Namun masih bagus, karena dia pergi kerumah Wulandari sahabatnya untuk meminta pendapat darinya. Dan oleh sahabatnya diberikan nasehat, katanya : “Pernikahan dengan Dia asalnya adalah pilihanmu, bisa saja kamu akan pergi dan menggagalkan acara pernikahan itu begitu saja. Tetapi andaikata kamu akan melakukan hal itu, saya adalah orang pertama yang tidak setuju dan menentang kalau kamu melakukan hal tersebut, karena akan mempermalukan keluarga, kakek dan nenek serta membuat susah mereka.

Menurut pendapat saya, akan lebih baik kalau hal tersebut kamu jalani saja hidup ini dengan Penuh Harapan dan Tersenyumlah walau Hidup tidak semudah Kata-kata, dan usahakan Membina Komunikasi yang baik dengan suami semoga kedepannya dia bisa mengerti tentang kekurangannya dan bisa merubah kekurangan tersebut agar bisa menjadi lebih baik.”

Kemudian pada tahun 2005 pernikahan pun berlangsung dan tiga bulan kemudian sejak berlangsungnya pernikahan itu Hapsari sudah hamil, jadi tidak sempat lagi untuk melamar mencari pekerjaan. Akhirnya Hapsari hanya tinggal dan melakukan pekerjaan ibu rumah tangga sehari-hari dirumah, kalau sudah lelah baru kemudian tiduran atau duduk bersandar di dinding atau tempat tidur. Keinginan untuk mencari pekerjaan musnah sudah.

“Ah tidak mengapa saat ini belum bisa melamar pekerjaan, nanti kalau sudah melahirkan masih ada kesempatan,” demikian pikir Hapsari untuk menghibur dirinya.

Akhirnya Hapsari pun melahirkan bayinya dengan selamat. Hatinya pun menjadi lega. Rasa sakit dan juga penderitaan selama mengandung rasanya terbayar sudah. Selama sekian bulan Hapsari memberikan ASI kepada anaknya agar anak tersebut bisa tumbuh sehat dan cerdas.

Maksud hati yang sebenarnya bahwa setelah sekian lama menyusui, Hapsari ingin mencari pekerjaan. Akan tetapi dilarang oleh Wijayanta agar lebih bisa bersabar sebentar biar anak tersebut tumbuh lebih besar sedikit lagi. Dan Hapsari pun menurut.

Setelah Rengganis, anaknya sudah berumur satu tahun kemudian Hapsari membicarakan niatnya untuk mencari pekerjaan.

“Apakah tidak merasa kasihan kalau Rengganis kamu tinggal bekerja ? Lalu nanti bagaimana ? Siapa yang akan mengasuhnya ?” tanggapan Wijayanta terhadap niat Hapsari untuk bekerja.

“Ya nanti kan bisa kita mencari pembantu !”

“Pendidikan dini anak kita akan diserahkan kepada pembantu ? Membesarkan dan mendidik anak itu merupakan tugas dan kuwajiban serta tanggung jawab seorang ibu,” kata Wijayanta.

“Walaupun ada pembantu tapi aku tidak akan melepaskannya begitu saja. Aku tetap akan bertanggung jawab dalam hal mendidik anak kita.”

“Ya, aku percaya hal itu. Tetapi sekarang begini saja, secara realistis andaikata dihitung gaji yang kamu terima pada awal bekerja berapa, kemudian kita harus menggaji pembantu kita harus mengeluar dana berapa ? Karena pembantu sekarang tidak ada yang mau dibayar murah, karena umumnya mereka mempunyai standar harga yang tinggi.  Hal itu belum lagi terhitung biaya makan, biaya sabun dan lain-lainnya, silakan dihitung. Kalau hanya pas-pasan atau sisanya tidak seberapa dari jumlah gaji yang akan kamu terima, kan lebih baik kalau anak tersebut diasuh dan dibesarkan sendiri saja.”

Hapsari mulai berhitung dan menurut Wulandari teman dekatnya yang sudah bekerja di sebuah perusahaan suasta, penghasilan sebagai karyawan baru biasanya hanya dibawah UMR daerah dan dalam masa percobaan selama 3 bulan, kemudian kalau lancar baru ada kenaikan gaji sedikit demi sedikit.

Hapsari mengerti berapa besarnya UMR daerahnya, tidak banyak. Jadi jika dipakai membayar seorang pembantu dan ditambah lain-lain keperluan pembantu, hanya lewat saja.

“Ah, tidak apa-apa. Siapa tahu nanti dikemudian hari kariernya bagus, jadi kesejahteraan keluarga juga akan ikut menjadi baik,” demikian katanya dalam hati.

Namun ketika hal tersebut disampaikan kepada Wijayanta suaminya, tidak langsung mendapat jawaban.

“Bagaimana, Kang ?” tanyanya.

“Apakah kamu tidak merasa kasihan pada Rengganis ? Dia masih terlalu kecil untuk ditinggal bekerja. Bayangkan, dari pagi sampai sore hari hidup dengan pembantu. Iya kalau pembantu tersebut orangnya benar, dan kalau tidak benar ? Sekarang disabarkan dulu paling tidak sampai Rengganis berumur 2 tahun, kan sudah agak besar,” demikian kata Wijayanta dengan agak mengotot.

Walaupun merasa kecewa, Hapsari masih bisa menerima alasan yang diberikan oleh Wijayanta, suaminya. Namun ketika Rengganis sudah berumur 2 tahun, dan bahkan setelah kelahiran anak yang ke dua dan kelahiran anak ketiga dan Wijayantaa tetap tidak mengijinkan Hapsari bekerja.

Akhirnya Hapsari menjadi berpikir, apalagi Ibunya, Ibu Nurdjanah mengatakan bahwa dia sanggup mengasuh cucu-cucunya. Soal mencari pembantu bisa sambil berjalan, atau perlahan-lahan, sambil menunggu karier Hapsari sudah mapan.

“Aku tidak habis pikir, mengapa pola pikirmu sangat sempit, Kang. Sekarang bukan jamannya lagi seorang perempuan hanya duduk diam, menunggu rumah, beres-beres dan mengasuh anak. Untuk apa aku bersekolah kalau hanya untuk menjadi seorang ibu rumah tangga yang tanpa daya,” bantah Hapsari kepada Wijayanta, yang menurut pendapatnya bahwa suaminya selalu menghalang-halangi kalau dia mempunyai karier sendiri.

“Apakah biaya hidup yang kuberikan kepadamu masih kurang ?” malahan Wijayanta memberikan jawaban yang lain-lain atau tidak nyambung.

“Masalahnya bukan hal itu, tetapi aku juga ingin mempunyai penghasilan sendiri. Rasanya akan tetap berbeda ketika mempunyai uang pemberian suami yang selalu dihitung dan diawasi secara ketat dengan mempunyai uang dari hasil keringat sendiri.”

“Kalau hanya ingin mempunyai penghasilan sendiri, kamu kan bisa membuka usaha di rumah,” jawab Wijayanta.

Hapsari hanya diam dan menghindar. Malas kalau harus bersitegang. Sebuah contoh kecil, ketika Hapsari berusaha mencari tambahan uang belanja karena sebenarnya uang yang diterima pada setiap bulannya juga kurang sebab banyak potongan yang harus dibayar di kantor serta berusaha sedikit menyisihkannya dengan cara mengikuti arisan karena ingin membeli suatu barang untuk kebutuhan rumah tangga.

Ketika giliran dapat arisan, uang tersebut oleh suaminya agar dibelikan HP model yang terbaru, jadi kegunaan uang tersebut meleset dengan apa yang telah direncanakan.

Tetapi dengan dilarangnya untuk bekerja, kalau dipikir dan dirasa-rasakan sebenarnya intinya bahwa Wijayanta merasa keberatan kalau Hapsari harus bekerja di luar rumah. Nggak jelas apa yang menjadi alasan sebenarnya, bisa jadi karena cemburu kalau istrinya bergaul dengan orang lain atau bisa juga tidak rela tersaingi kalau istrinya mempunyai karier yang lebih bagus.

Tetapi sebenarnya Hapsari ingin bekerja di luar rumah maksudnya bekerja di kantoran, disamping ingin memiliki karier yang bagus juga ingin merasakan suasana yang berbeda, ingin bergaul dan mempunyai banyak teman, ingin berekpresi….jelasnya biar pikiran ini menjadi encer dan tidak menggumpal seperti cendol karena tidak pernah digunakan.

Tiba-tiba saja Hapsari teringat kepada Megantara maupun Ivan Ramli. Walaupun mereka orangnya kaku, keras dan otoriter tetapi dia tidak pernah mengekangnya. Dia tidak pernah memasung pola pikir maupun pendapatnya. Dia masih bisa diajak berdiskusi dan masih bisa menghargai pendapat orang lain.

Tetapi Wijayanta walaupun kelihatannya kalem, sopan namun sudah tidak lagi bijaksana, dan setelah sekian tahun hidup berumah tangga ternyata lebih otoriter dibanding dengan Megantara mapun Ivan Ramli. Kalau sudah punya kemauan atau keinginan serta pendapat sudah tidak bisa dibantah atau ditunda lagi, bahkan dapat dikatakan lebih mementingkan kebutuhan untuk dirinya sendiri apabila dibanding dengan kebutuhan anak-anak atau kebutuhan keluarga.

Jika terjadi pertengkaran atau perbedaan pendapat maka kata-kata “cerai” sering diucapkan atau kata-kata kasar lain yang tidak enak didengar yang dilontarkan. Ternyata suaminya lebih kasar. Dan perilaku sebenarnya dari suami yang selama ini tersembunyi sudah semakin nampak.

Untuk meringankan beban dan penderitaan perasaannya maka hanya menyampaikan keluhan tersebut kepada guru pengasuhnya yang juga merupakan guru pengasuh mereka berdua.

“Kalau di dalam menjalani kehidupan rumah tangga terjadi pertengkaran atau perbedaan pendapat itu sudah biasa dan setiap orang juga pernah mengalaminya. Yang terpenting dari kalian masing-masing harus bisa mengendalikan ego, kesombongan, harga diri dengan saling mengalah serta mau memperbaiki kesalahan yang telah dilakukan, sehingga hubungan rumah tangga kalian akan menjadi baik kembali,” kata gurunya.

“Ya, pak,” jawab mereka serempak.

“Bapak disini hanya bisa menyayangkan saja kalau hal yang demikian itu terjadi dan tidak bisa menahan atau memaksa kalian agar bercerai atau tidak bercerai, karena itu memang hak kalian, karena kalian yang menjalani dan kalian juga yang merasakanya.

Tetapi yang harus diingat adalah pada waktu kalian memperjuangkan keinginan kalian untuk menikah tidak sedikit hambatan dan halangan yang harus ditempuh dan diselesaikan bersama. Apakah hal-hal baik yang demikian itu akan dibiarkan berlalu begitu saja dan hanya sebagai sebuah kenangan masa lalu.

Apakah tidak ada cara lain atau kata-kata lain yang lebih baik selain kata-kata cerai atau kata-kata kasar untuk menyelesaikan pertengkaran tersebut misalnya saja dengan mencari penengah untuk berembuk atau berkomunikasi dalam rangka mencari jalan keluarnya.

Andaikata saja perceraian itu benar-benar terjadi, lalu Hapsari saya perbaiki kondisi dan penampilannya dan kemudian mendapatkan jodohnya kembali seorang pengusaha sukses atau seorang pejabat yang kebetulan adalah nasabah di Bank dimana kamu bekerja. Sedangkan kamu sendiri masih tetap sebagai seorang petugas keamanan di Bank itu.

Apakah dapat kamu bayangkan jika pada suatu ketika kamu berjumpa dengan Hapsari yang turun dari mobil mewah dan lalu berjalan mesra disamping suaminya di Bank itu dan menegurmu.

“Selamat pagi Kang Wijayanta, sedang bertugas ya ? Saya tinggal dulu ya, karena ada urusan yang harus kami selesaikan. Daaahhhhh, selamat bertugas dan sampai ketemu lagi !!!”

Coba bisa bayangkan betapa tidak enaknya kalau peristiwa semacam itu sampai terjadi,” kata guru pengasuh tersebut.

Dan mareka hanya diam tertunduk, dan informasi terakhir yang sampai bahwa kata-kata cerai itu sudah tidak pernah dikatakannya lagi akan tetapi bahasa yang kasar masih belum hilang sepenuhnya.

Pernah ada sepercik rasa kecewa dalam hati Hapsari, mengapa dahulu dia tidak memilih Megantara atau Ivan Ramli saja. Padahal  dia mengerti, cinta Megantara kepadanya sampai dengan cerita ini ditulis pada tahun 2017 masih tetap ada seperti dahulu bahkan masih menghubungi melalui Telephone Genggam dan menceritakan keadaannya bahwa pernikahannya sampai sekarang tidak kunjung dikaruniai anak.

Dan merasa menyesal dahulu telah berlaku bodoh dan berbicara kasar yang menyebabkan hubungan mereka menjadi terputus, serta mengatakan bahwa sulit menemukan perempuan yang berperilaku seperti Hapsari.  Memang dia bukan merupakan orang yang romantis. Hapsari merasa salah dalam menentukan pilihan, namun semua itu tidak harus disesali tetapi harus dijalani dan disyukuri, apalagi dia sudah merupakan seorang istri dan ibu rumah tangga.

Dan dia pun yakin bahwa Tidak Ada Penderitaan yang Abadi dan Kebahagiaan yang Abadi kecuali bagi mereka yang pandai bersyukur, yang selamanya akan mendapatkan kebahagiaan.

Oleh karena itu didalam hati selalu berdoa :

Semoga Allah selalu melindungi dan memberi keselamatan ketika suaminya bekerja untuk mencari nafkah bagi keluarganya dan Allah selalu membimbing serta mengingatkan suaminya agar bisa menyadari ketika membuat suatu kesalahan dan berusaha memperbaikinya supaya bisa hidup berbahagia bersama dengan keluarga.

 

-o0o-

 

Saudaraku pembaca semuanya yang saya hormati terutama di kalangan sendiri, alur pada reka cerita diatas adalah sebuah kejadian nyata yang ditulis secara singkat atau pada garis besarnya saja. Diangkatnya kisah ini menjadi sebuah cerita, bukan untuk mengolok-olok atau mempermalukan mereka yang mempunyai kehidupan yang mirip dengan jalan cerita ini.

Hanya semata-mata sebagai bacaan yang mungkin saja bahwa cerita tersebut akan berguna, baik bagi yang berangkutan ataupun pihak lain yang membacanya, guna diambil hal yang positifnya serta ditinggalkan hal yang kurang baiknya dalam menjalani kehidupannya sehari-hari.

Penentuan tentang mana yang baik dan mana yang kurang baik, atau dengan perkataan lain mana yang harus diambil dan diikuti serta mana yang harus ditinggalkan semua terserah pada para pembaca sesuai dengan standar penilaiannya masing-masing yang tidak pernah sama.

Melalui reka ceritera itu yang intinya adalah menunjukkan bahwa pada setiap manusia, baik itu laki-laki maupun perempuan pernah melakukan kesalahan dalam hal memilih. Namun yang harus diingat adalah bahwa semua yang sudah didapatkan adalah anugerah yang diberikan oleh Allah dan tidak ada yang harus disesali untuk itu tetapi harus dihadapi dan disyukuri. 

 

CINTAI PASANGANMU, MANUSIA YANG TIDAK SEMPURNA DENGAN CARA YANG SEMPURNA

Ketika bertemu dengan seseorang yang tepat untuk dicintai,

Ketika berada di suatu tempat pada saat yang tepat,

Itulah yang disebut dengan “kesempatan.”

 

Ketika bertemu dengan seseorang yang membuat hati menjadi tertarik, Itu bukanlah sebuah pilihan, tetapi itu adalah kesempatan.

Bertemu dalam suatu peristiwa bukan pula sebuah pilihan, tetapi itu adalah sebuah kesempatan.

 

Tetapi apabila memutuskan untuk mencintai seseorang tersebut,

Bahkan dengan segala kekurangan yang dimilikinya,

Itu bukan kesempatan, tetapi itulah yang disebut dengan  “pilihan”

 

Ketika memilih untuk mencintai seseorang walau dengan menghadapi resiko apapun  yang akan terjadi,

Itu adalah pilihan.

Karena pilihan adalah sesuatu yang harus dilakukan.

 

Bahkan ketika menyadari bahwa masih banyak orang lain, yang lebih menarik, lebih pandai, lebih kaya dibanding dengan pasangan yang dimilikinya. Tetapi dia tetap memilih untuk mencintainya.

Itulah yang disebut dengan “pilihan.”

 

Perasaan cinta, simpati, tertarik datang sebagai kesempatan.

Tetapi cinta sejati adalah karena pilihan yang telah lakukan.

 

Berbicara tentang pasangan jiwa, ada satu pepatah yang mengatakan bahwa :

“Nasib membawa mereka menjadi bersatu, tetapi semua itu tetap bergantung pada mereka sendiri, bagaimana membuat semuanya itu menjadi berhasil.”

 

Pasangan jiwa memang benar-benar ada, dan sangat mungkin bahwa ada seseorang yang diciptakan hanya untuk dirinya.

Tetapi semua itu tetap berpulang lagi kepada dirinya sendiri.

 

Untuk sebuah pilihan yang diinginkan bisa dengan melakukan sesuatu untuk mendapatkannya, bisa juga tidak.

Karena dengan secara kebetulan bertemu dengan pasangan jiwa,

yang kemudian mencintainya dan hidup bersama sebagai suatu keluarga.

 

Hidup di dunia ini bukan untuk mencari seseorang yang sempurna untuk dicintai,

Tetapi untuk belajar mencintai orang yang tidak sempurna dengan cara yang sempurna.

 

 

-o0o-

 

RUMAH TANGGA TIDAK ADA YANG SEMPURNA

“TIDAK ADA YANG SEMPURNA DI DUNIA INI,”  adalah sebuah kata-kata yang sengat sering didengar.  Entah itu mengenai manusianya, baik laki-laki maupun prempuan, baik istri ataupun suami atau bahkan tentang sebuah keluarga sekalipun.

Oleh karena itu

Tidak ada keluarga yang sempurna.

Mereka tidak mempunyai orang tua yang sempurna,

Mereka tidak menikah dengan orang yang sempurna,

atau memiliki anak yang sempurna.

Mereka saling mengeluh tentang satu dan lainnya.

Mereka saling membuat kecewa.

maka,

tidak ada pernikahan yang sehat atau keluarga yang sehat kalau dia tidak berlatih memaafkan, berlatih mengampuni atau mempraktekkan pengampunan.

Pengampunan itu sangat penting untuk kesehatan emosi dan ketahanan jiwa serta kelangsungan hidup spiritual.

Tanpa pengampunan keluarga menjadi sebuah arena konflik dan tempat bagi semua hati yang terluka.

Tanpa pengampunan keluarga akan sakit.

Padahal kalau ditelusuri, bahwa sebuah keluarga itu terbentuk secara pasti karena diawali dengan janji-janji manis dari dua orang anak manusia. Mereka saling berkomitmen untuk membentuk satu keluarga yang harmonis, bahagia, rukun serta saling menyayangi bahkan sampai maut memisahkan.

Memang terdengar sangat sempurna sekali. Tetapi dengan berjalannya waktu, semakin lama akan menjadi semakin banyak kekurangan yang terlihat dari masing-masing pasangan keluarga. Banyak masalah yang muncul, bosan dengan rutinitas, dan yang paling tidak menguntungkan adalah apabila terjadi diantara mereka melihat bahwa rumput tetangga nampak lebih hijau.

-o0o-

 

TAK ADA PASANGAN YANG SEMPURNA

Memiliki pasangan bisa diibaratkan bagaikan sebuah “jian atau pedang china” yang tajam di kedua belah sisinya. Di salah satu sisi, pasangan bisa menjadi orang yang paling dicintai. Namun tidak menutup kemungkinan bahwa pada sisi yang lain pasangan bisa menjadi orang yang sangat dibenci. Tetapi itulah yang dinamakan dengan pasangan.

Ada satu pendapat yang mengatakan bahwa : Sesayang dan secinta apapun kita dengan pasangan, kita harus menyediakan ruang kosong yang tersisa di hati. Karena kita juga masih perlu menghargai diri sendiri. Nantinya ketika dia memilih sementara  menepi, setidaknya masih ada pegangan agar tak jatuh terjerembab pada jurang penyesalan.

Sebaliknya saat sebenci apapun pada pasangan, tetap harus ada keikhlasan yang tersisa. Keikhlasan untuk menerima sifat dia yang sangat bertolak belakang dengan kita. Kekhlasan ini juga sebagai komitmen yang harus mati-matian kita pertahankan, mau tetap bertahan dan menerima kekurangan yang sudah mulai terlihat.

Namun sesungguhnya bahwa kesempurnaan itu tidak pernah ada. Meski pun mereka berdua terlihat sempurna, bukanlah berarti bahwa pasangan atau mereka adalah dua pribadi yang selalu sejalan. Dalam kenyataannya hubungan tersebut tidak jarang diisi dengan perdebatan yang melelahkan.

Sesekali bersitegang mempertahankan argumentasinya dan masing-masing merasa paling benar, dan pada ujung-ujungnya mereka saling menyalahkan. Dari peristiwa ini seharusnya membuat mereka sadar, bahwa tak ada hubungan yang akan selamanya tenang. Dengan terjadinya gejolak justru menunjukkan bahwa hubungan ini memang nyata dan seiring dengan argumentasi yang saling dipertahankan, membuat mereka harus mau saling berkomunikasi dan berkompromi.

Pertengkaran dan perdebatan  yang terjadi tak jarang memancing rasa benci diantara mereka. Pada saat adu mulut yang terjadi, dan terkadang kelewat gigih dalam mempertahankan argumentasinya yang memaksa salah satu harus menurut. Namun sayang, mereka masing-masing memiliki ego yang kelewat tinggi hingga tak pernah ada yang mau saling mengalah.

Ketika ego yang saling berbenturan dan masing-masing merasa paling benar yang bisa membuat mereka saling membenci. Hal tersebut yang seharusnya membuat mereka kembali berpikir : “Mengapa aku dulu memilih dia untuk menjalani hari-hari hidup bersamanya.”

*) Namun terkadang mereka juga menjadi terlalu gegabah dan sesumbar dengan mudah untuk segera mengakhiri saja hubungan tersebut.

*) Sehingga ada ketika mereka benar-benar merasa bahwa telah salah memilih orang. Karena perasaan itu muncul pada saat emosi sedang membelenggu pikirannya.

Namun kalau dilihat kembali, bahwa pertengkaran diantara mereka tidak pernah benar-benar membuat hati mereka memar dan hancur berkeping-keping. Dan biasanya masih ada rasa penyesalan yang masuk ke dalam hati nuraninya di akhir perdebatan atau pertengkaran yang terjadi.

Sebaiknya Pertengkaran yang terjadi harus selalu menjadi ajang instropeksi diri, agar kesalahan yang sama tidak akan pernah terulang kembali, dan bisa menumbuhkan kesadaran, bahwa memang tidak pernah ada pasangan yang benar-benar sempurna.

-o0o-

 

 MERUBAH YANG ADA MENJADI LEBIH BAIK

Mungkin banyak orang merasakan kepahitan, keributan, percekcokan yang terjadi dalam hubungan keluarga dan harus menyadari bahwa tidak akan ada dua manusia memiliki kesamaan dalam segala sesuatunya, baik dilihat dari keturunan, pendidikan, lingkungan kerja, pergaulan atau lain-lainya. Tetapi perbedaan itulah yang seharusnya yang dapat menyatukan mereka.

Satu-satunya yang mereka perlukan adalah keikhlasan untuk bisa saling menghargai dan saling menerima.

Perasaan untuk saling menghargai dan menerima segala kekurangan dan kelebihan dari pasangan, itulah yang disebut dengan cinta sejati.

Karena cinta sejati berarti mencintai seseorang melebihi cinta pada dirinya sendiri.

-o0o-

 

JANGAN MENUNTUT KESEMPURNAAN

Seharusnya mereka masing-masing saling menyadari bahwa mereka tidak akan menjadi manusia yang sempurna, menjadi manusia yang tanpa dosa, menjadi manusia tanpa cela, menjadi manusia tanpa kekurangan dan menjadi manusia yang tidak membutuhkan orang lain.

Seandainya masing-masing telah menyadari bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Lalu, apakah salah satu diantara mereka juga akan menuntut yang lain untuk menjadi sempurna ? Tentu saja tidak demikian. Dan itulah yang seharusnya yang mereka lakukan.

Jika merasa bahwa diri termasuk tipe orang yang suka menuntut, maka sebelum menuntut hal-hal yang mendekati kesempurnaan dari pihak lain (misalnya kepada pasangan, pemberi kerja ataupun lainnya), maka tuntutlah terlebih dahulu diri sendiri untuk mengusahakannya.

Jangan sampai hanya menuntut kesempurnaan dari pihak lain sementara dirinya sendiri hanya menonton dan menunggu dengan segala kekurangan yang dimilikinya.

-o0o-

 

KOMUNIKASI SUAMI ISTRI

Tidak lancarnya dalam melakukan komuniksi banyak dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, pasangan suami istri yang berselisih paham dan terjebak dalam konflik berkepanjangan, hanya karena disebabkan oleh masalah yang kecil, hal-hal remeh atau hal-hal yang sepele.

Misalnya saja apabila pasangan keluarga yang menginginkan :

Keinginan istri : Apabila seorang istri, yang sehari-hari melakukan pekerjaan rumah seorang sendiri dan tidak dibantu oleh asisten rumah tangga. Maunya semua barang harus tertata dengan rapi, dan diletakkan pada tempat yang semestinya, apabila suami mengambil sesuatu barang-barang bila perlu minta ijin terlebih dahulu terutama yang berada di wilayah dapur atau tempat tidur dan jangan lupa dikembalikan ke tempat semula. Andaikata terjadi lupa maka hal ini bisa menjadi permasalahan.

Keinginan suami : Misalnya saja dalam hal menggosok gigi, dimana maunya suami kalau hendak menggunakan pasta gigi, tube pasta harus dipijit mulai dari bawah ke atas agar pasta giginya keluar, andaikata istri mengambil mudahnya saja yaitu memijit tube pasta tersebut pada posisi di tengah atau bagian atas tube maka hal yang sepele tersebut bisa menjadi sebuah permasalahan.

-o-

Hal tersebut diatas terjadi karena mereka tidak mampu mengungkapkan keinginan dan perasaan secara lancar kepada pasangannya, hal tersebut berdampak munculnya salah paham dan memicu emosi serta kemarahan dari pasangan. Kejadian ini menunjukkan bahwa adanya komunikasi yang tidak lancar, sehingga berpotensi merusak suasana hubungan antara suami istri.

Karena setelah sekian lama usia perkawinan itu berjalan, tidak ada pasangan keluarga yang tidak pernah punya masalah, baik itu berupa permasalahan kecil maupun yang agak serius.

Dan ternyata komunikasi memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga keutuhan sebuah perkawinan dan menciptakan keharmonisan kehidupan rumah tangga. Gagalnya berkomunikasi bisa mengancam keutuhan sebuah keluarga, bahkan sampai ke tingkat perceraian.

Andaikata terjadi permasalahan yang sedikit serius, harus ada komunikasi yang baik diantara mereka dan masing-masing harus bisa menekan ego dan sebaiknya yang menjadi bahan pertimbangan yaitu harus lebih mementingkan kebahagiaan anak-anak dari pada kepentingan diri sendiri.

Karena :

  1. Sebagai orang tua merupakan matahari bagi anak-anaknya.

Bisa dipikirkan seandainya saja mereka sampai kehilangan matahari yang memberi kehangatan dan penerangan dalam hidupnya. Sesungguhnya mereka tidak minta dilahirkan kalau hanya menyusahkan atau tidak mendapatkan keadilan dari orang tuanya.

Manusia sendiri tidak mungkin bisa menolak atau memilih ketika di beri amanah oleh yang Maha Kuasa. Bagaimanapun keadaannya, kehadiran anak bisa memberikan kekuatan yang luar biasa dalam menghadapi kehidupan ini.

Demikian juga sebaliknya. Harta benda yang berlimpah tidak ada gunanya tanpa perhatian dan kehadiran kedua orang tua yang lengkap menghantar mereka hingga bisa mampu mandiri.

  1. Sebagai pasangan harus bisa menerima kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Semakin lama usia perkawinan akan semakin banyak pula kelemahan masing-masing yang ditahui. Tetapi kembali masing-masing harus menyadari bahwa kelemahan itu memang sudah dari sananya yang dibawa sejak masih bayi.

Kalau suami sering menghitung-hitung kesalahan istri, dan sebaliknya istri bisa mengungkit kelemahan suami. Begitu pula kalau istri merasa mempunyai banyak kelebihan, tentunya suami pun pasti mempunyai juga kelebihan. Dan kelebihan itu pulalah yang membuat si istri memilih suami menjadi pemenangnya untuk menjadi pendamping hidup.

  1. Mau menghindari sumber pertikaian.

Sebuah contoh ketika pelaksanaan Pemilihan Umum untuk memilih seorang Presiden yang diusung oleh Partai pilihan suami dan pilihan istri yang berbeda. Pernah hal tersebut didiskusikan, tapi ujung-ujungnya bertengkar dan saling sindir. Tentu saja hal tersebut membuat suasana di rumah menjadi nggak nyaman.

Sebagai jalan keluar, akhirnya mereka berkomitmen untuk tidak membahas lagi hal tersebut kapanpun dan dimanapun dalam rangka menghindari pertikaian.

  1. Mengingat kembali tujuan awal pernikahan.

Bila orang sudah lupa diri terkadang tidak peduli dengan nasehat orang yang diberikan oleh lain. Bahkan dia juga tidak akan peduli apabila ada yang menderita atau tersakiti.

Adapun salah satu cara dalam menjaga keharmonisan keluarga, diupayakan antara suami dan istri harus sering saling mengingatkan bahwa keluarga itu tercipta karena takdir. Apalagi setelah kelahiran anak-anak. Dan hanya Tuhan saja yang bisa mengubah takdir itu, bukan manusia.

  1. Keluarga adalah tempat yang paling nyaman.

Kebahagiaan dan kedamaian bersumber dari keluarga yang harmonis, karena cinta dan kehangatan yang dipancarkan oleh seluruh anggota keluarga. Rasa capek, penat, lelah, sedih ataupun galau bahkan kesepian pun akan sirna dalam sekejap bila sudah sampai di rumah.

Karena begitu banyak orang terkenal yang hidupnya terlihat begitu sempurna, berlimpah materi dan ketenaran tapi ternyata malah lebih memilih mengakhiri hidupnya dengan tragis. Dan ternyata kesuksesan atau pun materi sekali-kali bukanlah sumber kebahagiaan atau tidak bisa membayar kebahagiaan yang hakiki.

Karena Hati adalah Rumah Kebahagiaan itu dan Iman adalah Kunci Pintunya.

Ketika masalah datang silih berganti, hanya sikap dewasa dan bijaksana yang bisa menjadi benteng kokoh untuk melindungi dari kehancuran rumah tangga.

-o-

Banyak orang melakukan komunikasi dengan pasangannya, namun yang terjadi bahwa dia tidak mendapatkan tanggapan seperti yang diharapkan. Hal itu ternyata bahwa pesan tersebut tidak sampai kepada pasangan, atau pesan sampai kepada pasangan tetapi tidak sesuai dengan keadaannya atau dengan perkataan lain ada penyimpangan.

Sebagai dampaknya komunikasi tidak akan pernah nyambung dan masing-masing merasa tidak nyaman dalam berkomunikasi. Sehingga hal tersebut akan mengakibatkan kemalasan dalam melakukan komunikasi dan lebih memilih untuk diam.

Komunikasi antara suami isitri memegang peranan penting dalam menjaga keutuhan sebuah perkawinan

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan agar dalam melakukan komunikasi antara suami istri bisa berjalan dengan baik antara lain :

*). Harus mengetahui jenis komunikasi yang bisa dilakukan, yaitu mulai dari berbicara, menulis hingga menyampaikan pesan lewat berbagai media.

*). Harus bersikap empati yaitu bisa memposisikan dirinya pada situasi perasaan dan pikiran yang sedang dialami oleh pasangan.

*). Komunikasi disampaikan dengan cara yang luwes atau tidak kaku yaitu terkadang memerlukan suasana dan gaya serius, namun ada kalanya agar lebih bisa mencapai sasaran yang diharapkan kalau komunikasi yang dilakukan menggunakan suasana dan gaya yang santai.

*). Harus bisa memahami bahasa nonverbal yaitu yang terkadang ditampilkan dengan ekspresi wajah atau bahasa tubuh dari pasangan lawan bicara yang mengisyaratkan sesuatu pesan.

*). Harus menjadi pendengar yang baik, jangan ingin menguasai komunikasi dengan terlalu banyak bicara dan tidak mau mendengarkan.

*). Harus berkedudukan sederajat atau sejajar dengan cara menghilangkan sekat atau pembatas antara suami dan isri yang bisa menghalangi kelancaran dalam melakukan komunikasi.

*).  Berusaha untuk menghindar dari kalimat maupun gaya yang dapat menyakiti hati atau pun yang menyinggung perasaan.

*). Sebaiknya pesan disampaikan dengan lembut dan bijak, serta jangan berlaku kasar dalam melakukan komunikasi.

*). Menggunakan bahasa dan media yang tepat, atau yang sesuai dengan situasi maupun kondisi pada saat melakukan komunikasi.

*). Memilih dan menentukan waktu, suasana dan tempat yang tepat untuk mendukung kelancaran dalam melakukan komunikasi.

-o-

Kesadaran dalam pengambilan keputusan bersama mengenai pembagian peran ini sangat penting agar masing-masing mengetahui dan memahami benar tentang kenyataan yang mereka hadapi. Karena secara tidak sengaja mereka sering mengunggulkan ego nya masing-masing, padahal tanggungjawab kehidupan rumahtangga tidak bisa dipikul oleh satu pihak saja.

 

-o0o-

 

Sebuah anekdot.

 

SEBUAH PILIHAN

Orang selalu berkata :

ADA YANG DINAMAKAN DENGAN ….

“….bekas istri”

“…..bekas suami”

TETAPI TIDAK ADA YANG DISEBUT DENGAN :

“bekas anak”

“bekas orang tua”

Seorang Kepala Dinas melakukan riset kecil kepada para pegawai yang sudah berkeluarga pada saat Rapat di Aula Kantor…

Kemudian Kepala Dinas meminta Mukidin salah seorang pegawai untuk maju ke depan papan tulis atau white board.

Kepala Dinas : “Pak Mukidin, coba tuliskan 10 nama orang yang paling dekat denganmu.”

Lalu Mukidin menuliskan 10 buah nama antara lain ; ada nama tetangga, orangtua, teman kerja, istri, anak, saudara, dan seterusnya…..

Kepala Dinas : “Dan sekarang silakan pilih 7 orang saja di antara ke 10 nama tersebut yang benar-benar Pak Mukidin ingin hidup terus bersamanya.”

Lalu Mukidin mencoret 3 buah nama yang ada.

Kepala Dinas : “Sekarang silakan coret 2 buah nama lagi.”

Tinggallah 5 nama tersisa.

Kepala Dinas : “Pak Mukidin coret lagi 2 buah nama.”

Kini tersisalah 3 buah nama yaitu nama-nama dari  :

“ ibu “

“ istri “ dan

“ anak “

Suasana dalam Aula jadi hening….

Sebagian besar dari mereka yang hadir mengira bahwa semuanya sudah selesai dan tak ada lagi yang harus dipilih….

Tiba-tiba….

Kepala Dinas berkata :

“Silakan coret 1 nama lagi….!”

Mukidin diam tertegun untuk semantara waktu…..lalu dengan perlahan dia mengambil dan menentukan pilihan yang amat sangat sulit bagi dirinya….kemudian dia mencoret nama :

“ IBU “ nya….!!!

Suasana dalam Aula menjadi semakin hening…….

Kepala Dinas berkata lagi : “Silakan coret 1 nama lagi !”

Hati Mukidin semakin bingung…..

Suasana aula menjadi semakin tegang…

Mereka semua juga berpikir keras untuk mencari pilihan yang terbaik…

Kemudian Mukidin mengangkat spidolnya dan dengan amat sangat  lambat ia mencoret nama :

“ ANAK “ nya…..!!!

Bersamaan dengan itu pula Mukidin tidak kuat lagi membendung air cucuran matanya, dan…. Dia pun “Menangis”

Awan kesedihan meliputi seluruh sudut Ruang Aula Kantor Dinas tersebut..…

Setelah suasana menjadi lebih tenang… akhirnya Bapak Kepala Dinas itu pun bertanya…:

“Pak Mukidin mengapa engkau tidak memilih Ibu mu, orang yang melahirkan dan membesarkanmu…. ??

Dan tidak juga memilih  “anak “ yang merupakan darah dagingmu….??

Lalu mengapa engkau memilih “ISTRI”….?

Sedangkan mengenai istri kan bisa dicari lagi …?!?

Sejenak semua orang di dalam Aula diam terpana menunggu jawaban yang keluar dari mulut Mukidin si pegawai itu….

Lalu tidak lama kemudian, Mukidin berkata dengan lirih :

“Karena istri saya ikut hadir dalam pertemuan ini, Pak…..”

 

-o0o-

 

 

 

BANDUNG – INDONESIA, JULI – 2017

Cerita dasar: Andini Pangastuti Bn

(Gubahan Ki Ageng Bayu Sepi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *