GARA-GARA TJING-TJING

DIKATAKAN BAHWA SEBAIK-BAIKNYA MANUSIA JIKA MANUSIA ITU MEMPUNYAI MANFAAT BAGI MANUSIA YANG LAIN ATAU MENJADI BERKAT BAGI MANUSIA YANG LAIN. MISALNYA SAJA DENGAN MEMBANTU ORANG LAIN, NAMUN ANDAI KATA TIDAK BISA MEMBANTU SETIDAKNYA JANGAN MENYAKITINYA.

TIDAK ADA YANG SALAH JIKA KITA SEBAGAI MANUSIA MERASA PEDULI PADA MANUSIA YANG LAIN, TETAPI YANG SALAH ANDAI KATA MENGHARAPKAN ORANG LAIN JUGA MELAKUKAN HAL YANG SAMA KEPADA KITA.

KITA BISA BELAJAR DARI JAM DINDING, DILIHAT ORANG ATAU PUN TIDAK, IA TETAP BERDENTING. DIHARGAI ORANG ATAU PUN TIDAK IA TETAP BERPUTAR. WALAU TAK SEORANG PUN MENGUCAPKAN TERIMA KASIH IA TETAP BEKERJA, SETIAP JAM, SETIAP MENIT, BAHKAN SETIAP DETIK

OLEH KARENA ITU TERUSLAH BERBUAT BAIK KEPADA SESAMA, MESKIPUN PERBUATAN BAIK KITA ITU TIDAK DINILAI.

ada suatu sore : “Kapan pulang ?” tanya Mulyadi ketika tanpa sengaja bertemu Tjing-Tjing di Pasar Swalayan di kota. “Kurang lebih sudah ada semingguan ini lah, Mas,” jawabnya sambil meleparkan senyuman manisnya.

Tadinya sebelum menegur Mulyadi sempat ragu-ragu, hal itu karena :

Pertama agak tidak percaya dengan apa yang telah kulihat, kalau gadis cantik yang berada didepanku itu adalah Tjing Tjing teman sekolahnya dahulu, karena tampilan yang berbeda. Tetapi begitu mendengar suara lalu melihat senyum serta lesung dipipinya, barulah Mulyadi percaya.

Kedua, merasa khawatir kalau tegurannya itu nanti tidak dianggap. Hal ini kan bisa membuatnya menjadi malu.

“Wah, belanja terus, ya ?”

“Ah, aku enggak lah Mas. Selama pulang aku tidak pernah pergi kemana-mana dan baru sekarang aku ke Pasar Swalayan ini,” jawabnya sambil membetulkan letak kacamatanya.

Menurut perasaan Mulyadi pada waktu itu semua orang yang berada di Pasar Swalayan tersebut sepertinya pandangan matanya tertuju padanya dan Tjing Tjing yang sedang asyik ngobrol. Apalagi kalau orang yang memperhatikan tersebut adalah seorang laki-laki, yang pasti matanya akan sulit berkedip karena pandangannya selalu tertuju pada Tjing Tjing.

Mulyadi sangat terkejut katika akan meninggalkan Pasar Swalayan tersebut, tiba-tiba Tjing Tjing begitu terburu-buru mendekatinya sambil menarik lengannya serta mengajak keluar dari Pasar Swalayan tersebut.

Semula dikiranya ada apa, ternyata ban belakang motor matic Tjing Tjing kempis. Dengan sikap untuk mencari perhatian Tjing Tjing, Mulyadi berpura-pura ikut sibuk dan mencoba bertanya kepada orang-orang yang berada di situ, dimana ada tukang tambal ban yang masih buka pada malam seperti ini.

Namun yang sebenarnya terjadi di dalam hatinya, bahwa Mulyadi berharap semoga saja tidak ada tukang tambal ban yang buka, agar dia bisa mengantarkan Tjing Tjing pulang ke rumahnya.

Berdasarkan petunjuk Karyawan Pasar Swalayan, Mulyadi mendapat keterangan bahwa kalau didekat-dekat sini tidak ada tukang tambal ban, namun ada juga tetapi harus jauh memutar. Tetapi tentang masih buka atau sudah tutup karyawan itu mengatakan tidak tahu.

Maka agar mendapat perhatian lalu Mulyadi membantu permasalahan yang dihadapi oleh Tjing-Tjing yaitu dengan mendorong motornya kearah tukang tambal ban, sedangkan motor trailnya dinaiki Tjing-Tjing yang mengikuti perlahan dari belakang. Bisa dibayangkan betapa beratnya mendorong motor yang kempis ban belakangnya dengan jarak yang cukup jauh.

Sekali lagi menurut perasaannya setiap mata selalu memandang kearah Tjing-Tjing yang duduk diatas motor trail dan memang sangat menawan. Sedangkan Mulyadi sendiri yang basah kuyup mandi keringat karena mendorong motor kempis, sama sekali tidak ada yang memperhatikan.

Mulyadi tidak mengeluh dan sepertinya keinginannya akan terlaksana, sebab walaupun tukang tambal ban tersebut masih buka tetapi sudah tidak melayani penambalan ban karena akan pergi menjenguk saudaranya yang sedang menderita sakit.

Akhirnya motor Tjing-Tjing pun dititipkan di rumah tukang tambal tersebut dan akan diambil besok kalau bannya sudah selesai ditambal. Dalam hati kecilnya Mulyadi merasa sangat senang, karena bisa pulang dengan membocengkan Tjing-tjing. Lagi-lagi menurut perasaannya semua mata seakan terarah kepadanya dan Tjing-Tjing yang sedang berboncengan.

Ketika memboncengkan Tjing-Tjing sambil bercerita kesana kemari tiba-tiba saja jantung menjadi bedegup keras ketika teringat pada kejadian beberapa tahun yang telah lalu, pada saat Tjing-Tjing menolak cintanya.

Pada waktu itu dengan suara yang halus dia berkata : “Mohon maaf ya Mas Mulyadi, saat ini aku belum memikir untuk urusan percintaan, karena aku ingin melanjutkan pendidikan lebih dulu ,” ucapnya.

Walaupun cintanya tidak ditanggapi, tetapi Mulyadi tidak merasa kecewa, mungkin hal itu disebabkan karena besarnya rasa cinta Mulyadi pada Tjing-Tjing.

“Tjing-Tjing, kali ini kepulanganmu apakah hanya untuk menjengguk orang tua atau ada keperluan yang lain ?” selanjutnya tanya Mulyadi untuk menutupi debaran jantungnya.

“Ah, nggak ada keperluan lain, Mas. Yang jelas aku ingin istirahat dahulu setelah sekian tahun lamanya menyelesaikan kuliah sebelum melanjutkan dengan kegiatan yang lainnya,” jawabnya perlahan dan agak berbisik di dekat telinga Mulyadi.

Jantung Mulyadi berdegup tambah keras, karena berbarengan dengan jawaban tersebut terasa ada barang yang empuk dan hangat menempel dipunggungnya.

“Atau akan menikah, barangkali ?” tanya Mulyadi sekenanya.

“Ah, siapa yang mau dengan saya, Mas ?”

Mendengar apa yang diucapkan Tjing-Tjing, spontan saja Mulyadi merasa lega dihatinya karena hal itu berarti dia masih mempunyai kesempatan dan harapan kalau Tjing-Tjing akan mengimbangi rasa cintanya.

Akan tetapi untuk meyakinkan hal tersebut dengan menyatakan lagi cintanya seperti yang pernah dilakukan pada beberapa tahun yang lalu, masih ada rasa trauma. Dengan pemikiran : “Iya kalau diterima, jika tidak diterima atau ditolak seperti dahulu, hal itu akan membuat dirinya menjadi malu untuk yang ke dua kalinya.

Tetapi apakah mungkin, kalau Tjing-Tjing yang sudah sekian lama meninggalkan kampung halamannya atau jauh dari desa tempat tinggalnya dalam rangka melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi, belum juga mempunyai pacar ?”

Namun selama diperjalanan hingga sesampainya di rumah Tjing-Tjing hal-hal yang berkecamuk dalam pikirannya tersebut tidak pernah ditanyakannya. Tetapi karena hari sudah larut malam, maka Mulyadi tidak singgah dulu, dan setelah bertukar nomor HP kemudian berpamitan pulang.

Walaupun dalam keadaan badan yang sangat lelah dan mengantuk, selama dalam perjalanan pulang penyakit lama atau kebiasaan lamanya tidak juga hilang, yaitu suka memungut mur, baut atau apa saja yang berada dijalanan dan menarik perhatian pasti akan diambilnya.

Begitu pula dengan kejadian malam itu, Mulyadi melihat sebuah bungkusan yang rapih tergeletak begitu saja dipinggir jalan, meskipun sudah jauh terlewat lalu motornya memutar balik hendak mengambil barang tersebut.

Ketika sudah dekat dengan barang tersebut, dalam hati Mulyadi bertanya-tanya sendiri : “Apa ya isinya ?” sambil memperhatikan kearah bungkusan tersebut. “Atau mungkin saya itu sebuah hadiah yang terjatuh dan tidak disadari oleh pemiliknya.”

Namun Mulyadi agak ragu-ragu kalau langsung mengambil bungkusan tersebut, karena dalam hatinya berkata : “Awas, jangan-jangan isinya bom… !”

Tetapi kemudian Mulyadi berpikir lagi : “Ah, saya tendang saja dulu biar agak menjauh….kalau benar berisi bom…pasti akan meledak…”

Kemudian dengan masih berada diatas motor trailnya bungkusan tersebut ditendangnya sampai terlempar jauh dibawah pepohonan yang berada di sisi jalan, tetapi tidak ada suara apa-apa.

“Ah…paling juga berisi kotoran…dan disengaja dibungkus rapih agar disangka hadiah…” kata hatinya.

“Bukan…itu isinya bukan kotoran, masak kotoran dibungkus dengan begitu rapih,” jawaban lain dari hatinya.

“Itu hanya kotoran…”

“Bukan……..”

Dan begitulah seterusnya pertentangan dalam hatinya, tetapi kemudian, pikirnya lagi : “ Ah…masa bodohlah,” katanya lagi dalam hati sambil berangkat pergi dan bungkusan itu ditinggalkan saja. Namun yang sebenarnya bahwa perihal bungkusan tersebut tidak langsung segera hilang dari pikirannya.

Dan benar baru beberapa meter jalan, motornya memutar balik lagi sambil berpikir : “Ah hanya ingin tahu saja….apa isinya,” lalu bungkusan itu segera diambil dan digantungkan di motornya.

Begitu sampai dirumah Mulyadi, bungkusan tersebut diletakkan begitu saja dan tergantung di dekat tempatnya tidur, karena sangat lelah dia menggeletakkan dirinya di atas ranjang dan langsung ingin istirahat.  Tetapi sudah sekian waktu berjalan tetap saja tidak bisa tidur, pikiran yang gelisah dan matanya selalu terbayang wajah Tjing-Tjing yang cantik. Apalagi senyumnya yang manis dan kerlingan mata yang tajam sepeti menusuk jantung dan hatinya.

“Tjing-Tjing, jangan menganggu hati dan pikiranku ya anak cantik. Dan lelaki mana yang beruntung bisa menyuntingmu kelak ? “ tanpa terasa bibirnya berbicara sendiri.

Walaupun gelisah karena terlalu banyak memikirkan Tjing-Tjing, tetapi lama-kelamaan tanpa disadari akhirnya menjelang pagi tertidur juga,.

-o-

Keesokan harinya pagi-pagi sekali Mulyadi sudah bangun dan mandi serta berdandan rapih. Sebentar-sebentar selalu berdiri dan berputar-putar di depan kaca, dan setelah dianggap pantas barulah kemudian pukul sembilan Mulyadi berangkat ke rumah Tjing-Tjing. Kedatangannyapun sudah ditunggu dan disambut oleh Tjing-Tjing dengan dandanan yang dapat dikatakan menarik.

“Mengapa di rumah sepi ?” tanya Mulyadi

“Oh iya, karena Bapak dan ibu sedang pergi untuk menjenguk yang  melahirkan, Mas.”

“Siapa yang melahirkan ?” tanya Mulyadi sambil duduk dikursi panjang dan Tjing-Tjing pun duduk mendampingi di sebelahnya.

“Anak dari saudaranya ibu.”

“Jam berapa berangkatnya ?”

“Baru saja berangkat dan beriringan dengan kedatanganmu, Mas.”

“Hayolah, kita berangkat sekarang saja untuk mengambil motormu kalau dinanti-nanti keburu siang dan panas !”

“Kalau demikian mari Mas, kita berangkat saja.”

Kemudian Mulyadi berboncengan berdua menuju tempat tukang tambal ban yang jaraknya cukup jauh kurang lebih antara 5 kilometeran. Jantungnya semakin kencang bergetar, ketika Tjing-Tjing yang duduk membonceng menghadap kedepan bukannya menyamping dan tangannya agak merangkul perutnya. Dan hmmm, hati Mulyadi seperti terbang melayang seakan sampai menembus kelangit.

Ketika ongkos tambal ban sudah dibayar dan motor diambil, tiba-tiba :

“Mas, masih ada acara saat ini ?” tanya Tjing-Tjing sambil menstarter motornya.

“Kebetulan saat ini enggak ada, tetapi nanti sore.”

“Kalau begitu masih ada waktu, tapi apakah Mas Mul tidak berkeberatan andaikata menemani aku makan bakso ?”

“Ohh bisa, tapi bakso mana yang diinginkan ?”

“Nah, itu lah Mas yang aku tidak mengerti, aku belum tahu dimana tempat bakso yang enak.”

“Ya, kalau begitu ikuti saya saja,” kata Mulyadi.

Kemudian Tjing-Tjing segera mengikuti motor Mulyadi yang entah mau menuju kemana. Nikmatnya makan bakso tidak diceritakan disini.

Ketika waktu kira-kira sudah melebihi tengah hari, mereka kemudian pulang. Sesampai di rumah Tjing-Tjing pintu masih tetutup dan itu artinya bahwa kedua orang tuanya masih belum pulang.

Setelah mereka berdua mengobrol kesana-kemari sebentar, kemudian Mulyadi berpamitanlah :

“Aku permisi mau pulang dulu dan aku merasa senang bertemu serta mengobrol dengan kamu, orang yang menggemaskan hati,” kata Mulyadi sambil mencubit pipi Tjing-Tjing.

Dan Tjing-Tjing pun diam saja, bahkan malah tersenyum manis, maka hal ini lah yang membuat Mulyadi semakin bertambah yakin dan berani.

“Baiklah kalau begitu, aku pulang dulu sampai ketemu lagi, nanti,” katanya sambil mencium pipi Tjing-Tjing, sekali lagi Tjing-Tjing pun  diam saja hanya tersenyum. Dan jelas saja hati dan perasaan Mulyadi melangit.

-o-

Masih sangat terasa hangat di wajahnya dan bahu harum bedak yang di pakai Tjing-Tjing……. tetapi semakin lama bahu itu menjadi semakin aneh dan menusuk hidung. Tiba-tiba saja terdengar bunyi HP walaupun  semula hanya terdengar sayup-sayup dan jauh tetapi semakin lama terdengar menjadi semakin keras seiring kesadaran yang membuat Mulyadi terbangun serta membuka matanya dan didapatinya hari sudah siang.

Sebelum turun dan melakukan kegiatan lainnya, yang pertama dicari adalah HP nya, kemudian dilihat ada sebuah pesan yang masuk dari Tjing-Tjing yang isinya minta diantar untuk mengambil motor.

“Busyeeetttt cuma mimpi………….” ujarnya dengan perasaan kesal.

Pandangan matanya melihat berkeliling, barulah dia tahu bahwa yang hangat diwajahnya itu adalah karena sinar matahari yang masuk ke dalam rumah tepat mengenai mukanya, dan bukan hangat karena bekas mencium pipi Tjing Tjing.

Dan selanjutnya pandangan matanya kembali berkeliling untuk mencari dari mana asalnya bahu aneh yang menusuk hidung tersebut, namun tidak juga ketemu. Kemudian diam sejenak dan tiba-tiba saja matanya tertumbuk pada sebuah bungkusan yang tergantung tidak jauh dari tempatnya tidur yang diambilnya semalam dijalanan.

Sambil melangkah hatinya pun berkata : “Coba aku ingin melihat jenis hadiah apa yang dibungkus itu.”

“Bukan hadiah, itu hanya barang kotor,” bantah pendapat hatinya yang lain.

Dan demikianlah perbantahan dalam hati itu terjadi secara terus menerus sampai dengan akhirnya Mulyadi membuka bungkusan tersebut, yang ternyata isinya adalah pampers bekas anak kecil yang sudah berisi penuh dan kotor serta menimbulkan bahu.

“Tuh kan benar kata ku juga, isinya pasti kotoran !” kata Mulyadi pada dirinya sendiri.

“Ahhh…sial, semua ini gara-gara Tjing-Tjing

-o0o-

Saudaraku pembaca semuanya yang saya hormati terutama di kalangan sendiri, cerita diatas hanya sekedar merupakan sebuah gubahan dari cerita yang terjadi sebagai contoh peristiwa yang bisa dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, yang intinya adalah mudah menimpakan kesalahan pada orang lain serta kebiasaan sembarangan memungut sesuatu.

Dan melalui reka ceritera tersebut yang intinya adalah bahwa setiap kegiatan yang dilakukan pasti ada sisi positif dan sisi negatifnya yang dapat kita ambil hikmahnya sebagai pesan moral dan bahan perenungan dalam menjalani kehidupan kita masing-masing didalam bermasyarakat.

 A ) Mudah menyalahkan.

Seperti dalam cerita, apa yang telah dilakukan Mulyadi ketika mengalami sesuatu yang tidak menyenangkan atau ketika dia terjebak dalam satu kesalahan ketika mengambil atau memungut sesuatu yang ternyata isinya tidak seperti yang diharapkan, maka dengan mudah menyalahkan pihak lain, misalnya dengan kata-kata : “Semua ini gara-gara Tjing-Tjing”

Dalam perjalanan kehidupan, mungkin saja setiap orang pernah mengalami bagaimana rasanya menghadapi sebuah masalah yang sebenarnya hal tersebut dapat dikatakan bukan sebagai masalahnya sendiri. Pada saat terjadi hal yang seperti itu maka sudah wajar kalau orang akan lebih banyak menyalahkan lingkungan atau bahkan menyalahkan orang lain.

Apalagi pada saat seseorang tersebut merasa gagal karena sesuatu yang memang tidak bisa dikontrol atau dikendalikan, seperti hal nya musibah atau kecelakaan.

Namun terdapat juga suatu peristiwa yang terjadi, yaitu ketika ada seseorang yang melakukan sebuah kesalahan akan tetapi menyalahkan pihak lain.

Apabila seseorang tersebut selalu atau sering menggunakan alasan kegagalan yang di alami atau terjadi pada dirinya sendiri dengan menyalahkan orang lain, maka hal tersebut akan mengakibatkan  terjadinya hal-hal yang tidak baik atau tidak menguntungkan, antara lain adalah sebagai berikut :

  1. Menghambat Sifat Kedewasaan.

Apabila yang membuat kesalahan itu adalah seorang anak kecil, dan dia akan mencari segala alasan untuk menghindar dan menangis untuk dikasihani. Hal tersebut merupakan hal yang dapat dikatakan sangat wajar karena perkembangan otak anak kecil untuk mengenal rasa tanggungjawab belumlah seperti orang dewasa.

Namun jika kesalahan tersebut dilakukan oleh seseorang yang sudah dewasa dan selalu menyalahkan orang lain atas kegagalannya, maka hal itu sangatlah aneh dan tidak pantas terjadi. Seperti halnya sebuah peribahasa : “Sedikit demi sedikit lama kelamaan menjadi bukit,” dan akan seperti itulah jika orang sudah terbiasa dan terus menerus menghindari tanggungjawab serta selalu menyalahkan pihak lain.

  1. Dikatakan Sebagai Orang Yang Tak Bertanggung Jawab.

Orang yang selalu menyalahkan pihak lain karena kegagalannya pasti akan dikatakan sebagai orang yang tidak bisa bertanggung jawab. Dan orang tentunya tidak akan senang apabila dikatakan sebagai orang yang tidak bertanggung jawab.

Karena jika sudah mendapatkan julukan seperti ini, maka karir dalam pekerjaan ataupun di dalam kehidupan lainnya juga tidak akan ada peningkatan sama sekali dan tidak dihargai oleh orang lain.

Dengan bersedia mengakui kesalahan dan bersikap gentlemen jika telah berbuat kesalahan dan berusaha memperbaikinya adalah merupakan salah satu bentuk tanggung jawab, dan tindakan seperti itu pasti akan mendapat penghormatan dari orang lain.

  1. Kemampuan tidak meningkat

Dengan selalu menyalahkan pihak lain, maka orang akan merasa malas dan tidak mau untuk berusaha meningkatkan kemampuan dirinya, karena menganggap dirinya selalu gagal, sehingga kemampuannya tidak akan pernah berkembang atau tidak akan pernah meningkat serta selalu kalah dalam setiap persaingan.

  1. Merusak Hubungan

Tidak akan pernah dijumpai bila ada orang yang merasa senang apabila dipersalahkan. Apalagi kalau kesalahan itu benar-benar tidak kaitan atau hubungannya dengan orang tersebut.

Maka orang yang dipersalahkan pasti akan merasa tidak enak dan demikian pula lama kelamaan orang-orang lain yang tahu dan berada di sekitarnya pasti akan merasa malas kalau harus berhubungan dan akibatnya hubungan yang telah ada menjadi rusak.

  1. Akan tumbuh Menjadi Pengecut.

Seperti telah disebutkan diatas, bahwa orang yang sudah terbiasa menyalahkan pihak lain adalah orang yang tidak bertanggung jawab. Hal tersebut biasanya ditunjukkan pula dalam hal mengambil beban pekerjaan, karena dia selalu akan memilih yang paling mudah dan pekerjaan yang sulit akan dibebankan kepada pihak lain.

Hal itu menunjukkan bahwa dia seorang pengecut adalah karena tidak berani dan tidak bisa mengambil pekerjaan yang lebih besar dan selalu membebankan pekerjaan itu kepada pihak lain yang berada disekitarnya. Dan orang yang mempunyai jiwa pengecut memang tidak pernah berani mengakui kesalahan yang dilakukannya dan malah berbalik menyalahkan orang lain.

Orang semacam ini tidak bisa diharapkan dapat melindungi pihak lain, karena merupakan jenis orang yang kurang berperasaan dan justru dia sendiri ingin menuntut perlindungan.

-o-

 B ). Kebiasaan memungut sesuatu.

Pengertian memungut adalah mengambil sesuatu yang ada di tanah atau lantai. Bila ada suatu kejadian yaitu dimana seseorang melihat bahwa di lantai atau dijalanan yang sering dilalui orang dan terdapat duri atau paku kemudian dia mengambil dan membuang barang tersebut pada tempat yang seharusnya agar tidak lagi mengganggu atau mencelakai orang yang lewat maka kegiatan tersebut dapat dikatakan sebagai sebuah ibadah.

Kegiatan memungut itu dapat diartikan tidak terbatas hanya mengambil sesuatu yang berbentuk barang atau benda saja tetapi juga bisa mengambil dalam bentuk suatu pendapat melalui kata-kata, kalimat, artikel orang lain baik itu dari ucapan, kata sambutan, pidato, khotbah, WA, FB dan lain sebagainya yang baik dan menarik perhatiannya sebagai perbendaharaan pengetahuan, yang kemudian untuk di share-kan lagi kepada pihak lain.

Namun dalam hal ini seseorang harus selektif dan berhati-hati dengan apa yang telah diambilnya. Jangan sampai kalimat, ucapan maupun artikel yang didapat dan dianggap baik atau lucu, kemudian disampaikan kepada pihak lain karena situasi dan kondisi yang tidak tepat malahan membuat orang yang menerima menjadi tersinggung, sakit hati atau bahkan bisa memecah belah kerukunan.

Hal tersebut akan berbeda dan merupakan sebuah ibadah apabila yang di-share ulang kepada pihak lain misalnya tentang pengetahuan, kesehatan, maupun nasehat dan hal-hal lain yang berguna dan bermanfaat untuk kepentingan banyak orang.

-o-

C ). Perasaan Cinta

Perasaan Cinta Mulyadi kepada Tjing-Tjing tidak salah. Karena Cinta adalah sebuah perasaan yang diberikan oleh Tuhan pada sepasang manusia untuk saling (mencintai, memiliki, memenuhi, pengertian dan lain-lain).

Cinta adalah sebuah perasaan yang tidak ada seorangpun bisa mengetahui kapan datangnya, bahkan sang pemilik perasaan sekalipun. Jika seseorang sudah mengenal cinta, maka dia akan merasa menjadi orang yang paling berbahagia di dunia ini. Akan tetapi, apabila cinta itu tidak terbalas, maka orang itu akan merasa bahwa dirinya adalah orang yang  paling malang dan  akan kehilangan gairah hidup.

Cinta itu sendiri sama sekali tidak dapat dipaksakan, cinta hanya berjalan apabila ke dua belah pihak melakukan “saling” seperti tersebut diatas. Karena cinta tidak dapat berjalan apabila masing-masing mementingkan dirinya sendiri.

D ). Apa Yang Dicari Dalam Hidup Ini.

* Ketika hidup di kampung merindukan kota,

* Ketika hidup di kota, merindukan kampung,

* Ketika musim kemarau, akan  bertanya, “ kapan hujan ?”

* Ketika musim hujan, akan bertanya,  “ kapan kemarau ?”

* Ketika diam di rumah, inginnya pergi….

* Dan setelah pergi, inginnya pulang ke rumah..

* Pada waktu tenang, ingin mencari keramaian….

* Ketika ditengah keramaian, ingin mencari ketenangan…

* Waktu masih lajang, mengeluh ingin menikah

* Setelah berkeluarga, mengeluh belum punya anak

* Dan setelah punya anak, mengeluh betapa beratnya biaya hidup dan pendidikan….

* Dan seterusnya…….

 

Ternyata sesuatu yang tampak indah itu, kerena belum dimilikinya..…

* Pertanyaannya : kapankah kebahagiaan didapatkan kalau hanya selalu memikirkan apa yang belum ada, tapi mengabaikan apa yang sudah dimiliki…

Oleh karena itu jadilah pribadi yang selalu bersyukur… dengan rahmat yang sudah dimiliki….

-o-

Mungkinkah selembar daun yang kecil, dapat menutupi bumi yang sangat luas ini ?? Sedangkan untuk menutupi telapak tangan saja, tidak bisa dan sulit….

Akan tetapi apabila daun yang kecil itu menempel di mata, maka tertutuplah  “BUMI”  hanya dengan Selembar Daun,

Begitu juga bila hati yang sudah ditutupi oleh pikiran buruk, walau sekecil apa pun, maka yang akan terlihat adalah keburukan dimana-mana.

Bumi ini pun akan tampak buruk….

Oleh karena itu :

Jangan menutupi mata, walaupun hanya dengan selembar daun yang kecil saja….

Jangan menutupi hati, dengan sebuah pikiran buruk walaupun hanya seujung kuku sekalipun..….

Bersyukurlah atas apa yang sudah dimiliki, sebagai modal untuk me MULIA kan NYA…

 

Karena hidup adalah :

WAKTU yang dipinjamkan, dan

Harta adalah :

BERKAT yang dipercayakan …. dan…

semua itu kelak akan di mintai pertanggungjawaban..

Jadi bersyukurlah atas nafas yang masih dimiliki…

Bersyukurlah atas keluarga yang dimiliki….

Bersyukurlah atas apa yang telah dimiliki….

Bersyukur selalu dalam segala hal.

–o–

Beruntunglah jika ada seseorang yang mendapatkan suatu hikmah pengertian, sebab dikatakan bahwa hal tersebut lebih berharga daripada mendapatkan emas, perak atau pun permata dengan perkataan lain tidak akan ada harta maupun benda yang pernah bisa menyamainya.

-o-

Sebuah anekdot :

LEUNCA BISA DIJADIKAN ANTI BAHU

Buah Leunca bisa dijadikan alat untuk menghilangkan bau yang tidak sedap, misalnya saja akibat dari makan petai atau jengkol atau bau yang tidak sedap lainnya.

Agar supaya tidak tercium bau yang tidak diinginkan, maka kalau kita sedang makan buah petai atau jengkol, dan caranya demikian :

  1. Sediakan buah leunca mentah secukupnya, boleh menyiapkan 10 sampai 15 biji.
  2. Kemudian masukkan ke dalam sebuah cangkir.
  3. Lalu seduh dengan air tawar yang panas atau yang sudah mendidih.
  4. Setelah itu tunggu sampai airnya berubah warna menjadi agak kekuning-kuningan. Kalau air sudah berubah warna menjadi agak kekuning-kuningan, lalu buang airnya. Buah leunca sudah bisa dipakai sebagai obat anti bau petai atau bau jengkol atau pun bau lainnya.

Caranya :

Ambil atau pilih 2 buah leunca yang besarnya cukupan dan seterusnya tinggal memasukkan ke dalam lobang hidung.

Dijamin tidak akan ada bau petai, jengkol atau bau lainnya yang akan tercium. Hanya bau buah leunca yang sudah matang dan agak sesak saja bila dipakai untuk bernafas.

Yang belum percaya boleh mencobanya.

-o0o-

BANDUNG – INDONESIA, MEI – 2017

(Gubahan Ki Ageng Bayu Sepi)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *