HARIMAU PUTIH

DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI DI MASYARAKAT BISA DIJUMPAI ADA ORANG BODOH YANG INGIN DIANGGAP PINTAR, KEMUDIAN DIA BERKOAR-KOAR SEAKAN SUDAH TAHU SECARA KESELURUHAN TENTANG ISI SESUATU PERMASALAHAN PADAHAL DIA BARU TAHU KULITNYA SAJA.

ATAU BISA JUGA DIJUMPAI ADA SEORANG YANG LUPA PADA KEADAAN DIRINYA SENDIRI YANG SELALU MENCARI KELEMAHAN ATAU KEKURANGAN ORANG LAIN TETAPI TIDAK PERNAH MELIHAT KELEMAHAN ATAU KEKURANGAN PADA DIRINYA SENDIRI DAN KEMUDIAN MERASA DIRINYA PALING SEMPURNA.

HARUS JUGA DIKETAHUI BAHWA YANG HIDUP DI BUMI INI DISAMPING MANUSIA, HEWAN DAN LAIN-LAIN  YANG KASAT MATA TERDAPAT JUGA MAKHLUK LAIN YANG HIDUP BERDAMPINGAN DI BUMI YANG SAMA NAMUN KEBERADAANNYA TIDAK BISA DIJANGKAU OLEH PANCA INDERA MANUSIA.

ebatang Pohon Ki Hujan atau Pohon Trembesi yang tumbuh di halaman belakang rumah Pak Dharmawan termasuk sebuah pohon yang sudah berusia tua. Karena pohon tersebut sudah tumbuh ketika kakeknya Pak Dharmawan masih hidup. Dan sekarang pohon tersebut sudah sangat besar seakan raksasa yang tegak berdiri menghadang dan sedang menunggu mangsa yang lewat, berhiaskan daun yang sangat lebat seperti sedang memayungi lingkungan di sekitarnya dan terlihat sangat menyeramkan.

Diameter batang tersebut kurang lebih sudah mencapai 2 meter dan tingginya pun tidak kurang dari 10 meteran. Di bagian atas terlihat dahan-dahan yang kira-kira sebesar paha orang dewasa memanjang kesana-kemari. Pada setiap dahan yang besar baik yang terdapat di sebelah kiri atau kanannya selalu tumbuh ranting sebesar lengan. Dan dahan yang menopang dahan-dahan yang lebih kecil selalu dihiasi dengan tumbuhnya daun-daun lembut yang sangat banyak.

Menurut pemberitaan dari mulut ke mulut yang sudah lama beredar, bahwa pohon tersebut dikatakan angker, karena ada yang menghuninya yaitu sesuatu sosok yang berwujud seperti seekor Harimau Putih. Akan tetapi Sulasmini, anak perempuan Pak Dharmawan tidak mempercayai sama sekali terhadap sesuatu yang dikatakan sebagai ghaib atau dia  mengatakannya dengan sebutan takhayul.

“Hallaaah yang bilang bahwa pohon itu angker, siapa ? Masak jaman globalisasi seperti ini masih saja percaya terhadap hal-hal takhayul seperti itu,” kata Sulasmini sambil mencibirkan bibir ketika pada suatu sore dinasehati oleh bibinya.

“Wooo, kamu ini anak gemblung, dikasih tahu oleh orang tua nggak mau memperhatikan. Nanti, suatu saat kalau sudah terkena batunya, baru kamu tahu dan merasakannya sendiri,” kata bibinya sambil pergi.

Sulasmini memang anak muda masa kini yang segalanya serba mengandalkan logika dan kenyataan. Walaupun hanya sebagai seorang mahasiswa di sebuah Universitas Swasta yang tidak bonafid dan nilai IP atau Indeks Prestasi pada tiap semester yang diperoleh hanya pas-pasan saja, namun dia sudah merasa bahwa dirinya sebagai orang yang logis dan serba ilmiah.

Tetapi memang harus bagaimana, memang sebuah kenyataan bahwa pelajaran di sekolah tersebut hanya terbatas pada hal-hal yang bisa diterima oleh akal sehat saja. Sedangkan segala sesuatu yang sifatnya ghaib tidak masuk dalam kurikulum.

Yang perlu mendapat perhatian adalah bahwa isi dunia ini tidak hanya sesuatu yang bersifat nyata atau fisika yang bisa diraba dan dirasakan oleh panca indera manusia. Akan tetapi banyak sekali hal-hal yang bersifat ghaib yang memang sebenarnya ada atau yang disebut dengan meta fisika.

Pohon Trembesi milik Pak Dharmawan itu sendiri secara fisik memiliki nilai ekonomis, yaitu jika dijual tidak kurang dari tiga atau empat juta rupiah pasti laku. Untuk Pak Dharmawan sendiri, walaupun sedang dalam keadaan tidak mempunyai uang, hingga makanpun hanya dengan garam saja umpamanya, tetapi sedikitpun tidak akan pernah terpikirkan untuk menjual pohon tersebut.

“Jika pohon itu dijual, akan ada masalah apa yang timbul, sih Pak ?” tanya Sulasmini yang memaksa agar bapaknya segera menjual pohon itu, karena sebentar lagi dia harus membayar Biaya Semesteran. Kalau mengandalkan panenan padi hal itu tidaklah mungkin, karena tanaman padinya karena terkena serangan hama, sehingga hasilnya puso.

“Nanti yang menghuni pohon itu akan marah anak gemblung……,” jawab Pak Dharmawan dengan nada jengkel.

“Jadi aku harus Drop Out saja, begitu ya Pak ? Kalau begitu caranya aku yang tidak mau, kan sayang. Kuliah hanya tinggal dua semester lagi, Pak,” kata Sulasmini yang tetap mengotot untuk menyampaikan keinginannya.

“Enggak, enggak akan terjadi apa-apalah kalaupun pohon itu harus dirobohkan, percayalah sama saya. Kalau tidak percaya begini saja, andaikata terjadi apa-apa dan ada resikonya biar aku yang akan bertanggung jawab,” ucapan Sulasmini yang terdengar sombong, karena dia berkata tidak dengan menggunakan pertimbangan tentang keadaan dirinya lagi..

Berisik karena terlalu sering mendengar rengekan Sulasmini yang meminta agar pohon tersebut dijual saja, dan kebetulan posisi Pak Dharmawan sedang dalam keadaan tidak mempunyai persediaan uang untuk membayar Biaya Semesteran, maka dengan perasaan berat hati Pak Dharmawan mengabulkan permintaan Sulasmini untuk menebang dan menjual pohon trembesi tersebut yang oleh sebagian orang sudah dianggap keramat.

“Ya sudahlah kalau begitu, segera hubungi Pak Mukartono, kalau belum tahu rumahnya tanya sana sama Bu Winingsih, yang kemarin baru saja dia juga menjual sebatang pohon trembesi.

“Yes,” teriak Sulasmini gembira sambil mengepalkan tangannya. “Oalah, Bu Winingsih juga baru saja menjual pohon trembesi ? Tuh kan, enggak ada apa-apanya kan pak ?”

“Begini lho….yang harus diketahui bahwa pohon trembesi yang tumbuh dipekarangan Bu Winingsih memang tidak ada apa-apanya Lasmini, dan itu berbeda dengan pohon trembesi yang tumbuh di halaman belakang rumah kita,” kata Pak Dharmawan mencoba untuk memberi penjelasan.

“Berbeda ? Yang berbeda apanya ya Pak ? Kan sama-sama pohon trembesinya, menurut saya yang berbeda hanya karena yang satu tumbuh di halaman belakang rumah kita dan yang satunya tumbuh di pekarangan milik Bu Winingsih serta besar batang maupun bentuknya saja yang tidak sama.  Begitu saja kok dijadikan masalah.”

“Hhh…kalau begitu silahkan, terserah semaumu saja lah,” kata Pak Dharmawan sambil pergi karena sudah tidak mau lagi berbantah dengan Sulasmini yang susah untuk diberi pengertian.

Pada waktu yang telah ditentukan, Pak Mukartono datang dengan disertai oleh beberapa orang pekerjanya yang membawa peralatan lengkap dan segala sesuatu yang diperlukan untuk menebang sebuah pohon besar.

Sebenarnya Pak Mukartono bukan hanya sekedar penebang pohon yang amatiran, tetapi memang benar-benar seorang penebang pohon yang sudah professional. Karena selain menyiapkan perabotan untuk menebang atau merobohkan pohon dia juga menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk menghadapi kalau-kalau pohon yang akan ditebang tersebut ada makhluk ghaib yang menghuninya  atau penunggunya.

Setelah segala sesuatunya dirasakan sudah siap untuk melakukan penebangan, kemudian Pak Mukartono memberikan aba-aba kepada para pekerjanya.

“Oke…semuanya siaaaaaaap…..  Satuuuu……duaaaaaa…..tigaaaaaaa.”

“A’uudzubillaahiminasy syaitthoonirrajiim.”

“Bismillaahirrahmaanirrahiim.”

“Laahaula walaa quwwata illa billaah.”

“Allaaahu – akbar.”

Seperti layaknya sebuah kelompok paduan suara Pak Mukartono beserta semua pekerjanya bersama-sama membacakan doa-doa untuk “mengusir makhluk halus penunggu Pohon Trembesi tersebut.”

Setelah semua selesai, tidak lama kemudian terdengar suara : “Nggeeenggg…….….”

Suara mesin gergaji potong Pak Mukartono mengerang keras sekali memekakkan telinga. Begitu gergaji potong tersebut sudah hampir ke sisi lain pohon trembesi itu, kembali Pak Mukartono memberikan aba-aba lagi kepada para pekerjanya yang masih memegang tali besar yang diikatkan pada bagian atas pohon untuk menjaga dan mengarahkan agar pohon tersebut tidak jatuh sembarangan.

“Awaaas hati-hati…..Yaaaaaak……satuuuuu……duaaaaa…..tigaaaaa……….”

Semuanya serempak berbarengan menyahut : “Allaaahu Akbar.”

Dan……………. Bbbrrrrruuughghghghgh……….

Suara pohon trembesi yang roboh itu berdebam keras seperti menggetarkan bumi, Sulasmini berlari-lari keluar dari dapur untuk melihat pohon trembesi yang sudah tergeletak ditanah sambil berkata : “Sudah roboh Pak Mukartono ?”

“Ya. Sudah. Itu lihat saja sendiri,” sahut Pak Mukartono pendek.

Lalu Sulasmini kembali masuk dapur, dan tidak lama kemudian keluar lagi dengan membawa nampan yang penuh isinya. Ada kopi satu teko, air putih, dan beberapa gelas serta cemilan berupa goreng pisang hasil buatannya sendiri.

“Bapak Kartono silakan diminum airnya !” katanya kepada Pak Mukartono seraya mengeluarkan HP dari dalam sakunya.

“Sebentar ya Pak, aku mau selfie di pohon trembesi yang sudah tumbang ini.”

Kata Pak Mukartono sambil tertawa, “Heheheh, anak muda jaman sekarang, segala sesuatu dipakai selfie,”

Sulasmini kemudian memotret dengan menggunakan HP miliknya. Mulanya dia memotret dirinya sendiri yang berdiri di dekat Pak Mukartono. Kemudian berganti pose, dengan duduk diatas pohon trembesi yang sudah roboh.

Setelah semua kejadian siang hari itu selesai dan berlalu, namun pada malam harinya badan Sulasmini terasa panas.

“Maaaahhh….ambilkan parasetamol diatas meja…,” suaranya terdengar perlahan.

Ibunya terkejut dan berkata, “Badanmu terasa panas sekali Lasmini ? Jangan-jangan kamu telah terganggu oleh makhluk halus penunggu pohon trembesi itu.”

“Ya tidaklah Maaahhh…… Pada musim pancaroba atau perubahan musim kemarau ke musim penghujan seperti ini memang banyak sekali orang yang menderita sakit panas, Maaahhh…..”

Semakin malam panas badan Sulasmini semakin bertambah tinggi walaupun sudah diberikan minum paracetamol dan dikompres di keningnya. Lama-kelamaan Sulasmini tidak sadarkan diri. Dalam keadaan antara sadar dan tidak sadar itu sepertinya merasa Sulasmini didatangi oleh seekor harimau berwarna belang putih sebesar anak sapi. Harimau tersebut memandang tajam dan mengaum keras sekali seperti sedang marah.

“Rumahku sudah kamu robohkan, sekarang aku dan rombongan keluargaku  akan menempati tubuhmu.”

Sulasmini merasa ngeri, mau berteriak mulutnya serasa terkunci dan tidak bisa berkata-kata, akan lari juga kakinya terasa seperti lengket serta menancap di tanah dan tidak bisa diangkat. Namun dia masih berusaha untuk berontak sekuat tenaganya, tetapi apa yang dilihat atau dalam pandangan kedua orang tuanya bahwa kaki dan tangan Sulasmini berkelojotan dengan mata yang melotot dan melirik-lirik liar serta mulutnya berbusa seperti orang yang sedang kesurupan.

“Pak, segera meminta bantuan Mbah Mulyadi, sepertinya Sulasmini sedang kerasukan makhluk halus penunggu pohon trembesi !” suara Bu Maheswari istri Pak Dharmawan terbata-bata karena merasa khawatir dengan keadaan Sulasmini anaknya. Lalu Pak Dharmawan langsung pergi ke Sanggar Be Es menembus gelapnya malam untuk menemui Mbah Mulyadi.

Tidak lama kemudian yang datang bukannya Mbah Mulyadi sendiri melainkan Tante Erna Pinastiti Bayu yang kebetulan berada di Sanggar, karena Mbah Mulyadi yang sedang pergi keluar kota untuk mengobati pasiennya. Dan Tante Erna sendiri adalah saudara seperguruan dari Mbah Mulyadi.

Lalu Tante Erna dengan segera memasuki kamar Sulasmini. Ketika melihat kedatangan Tante Erna, Sulasmini kelihatan tidak senang dan marah. Matanya melotot dan memandang tajam serta jari-jarinya menunjuk kearah Tante Erna, dengan suara berat berkata : “Mengapa kamu kemari ? Mau ikut-ikut yang bukan urusanmu !”

Tante Erna terlihat tenang saja, mungkin karena sudah terbiasa menghadapi keadaan yang seperti itu, “Siapa kamu dan apa urusanmu dengan anak ini ?” Tante Erna malah ganti bertanya.

“Aku adalah Harimau Putih, dan anak perempuan ini yang meminta bapaknya untuk menebang pohon trembesi dibelakang rumah. Padahal di sana adalah tempatku tinggal bersama rombongan keluargaku.”

“Harimau Putih saya peringatkan carilah tempat yang lain, karena di bumi milik Allah ini kan sangat luas. Pohon itu memang milik ayahnya, jadi ya wajar saja kalau dia mau menebang dan menjual pohon tersebut. Dan hal itu tidak ada salahnya.

Sekali lagi lebih baik kamu beserta rombongan keluargamu segera mencari tempat yang lain. Kalau kamu hendak memaksakan diri untuk menempati badan anak ini, maka keberadaanmu tidak akan pernah tenteram, karena semua orang akan mengusirmu,” kata Tante Erna dengan tenang tapi berwibawa.

Beberapa saat kemudian keadaan menjadi hening dan tidak ada jawaban. Mungkin saja Harimau Putih itu sedang memikir-mikir serta menimbang untung dan ruginya jika dia mau memaksakan diri untuk menempati badan Sulasmini.

Kemudian terlihat Tante Erna yang duduk dengan tenang mulai mengatur pernapasannya dan Harimau Putih yang merasuki badan Sulasmini mulai menggeram-geram : “Ggggghhrr……… gggghhhhhrrrr…. gggghhhrrr…”

Kemudian Sulasmini turun dari tempat tidur ke lantai dengan masih tetap menggeram. Sedangkan kedua telapak tangannya berada diatas lantai, kepalanya merendah, matanya memandang tajam dengan mulut menyeringai persis seperti perilaku seekor Harimau yang siap menerkam.

Untuk selanjutnya disamping masih mengatur pernapasannya Tante Erna terlihat menggerakkan kedua pundaknya. Tiba-tiba saja Sulasmini loncat menerkam dengan posisi jari-jari tangannya yang membentuk cakar dan mengarah pada Tante Erna yang sedang duduk.

Tante Erna nampak diam dan tidak mengelak mungkin di dalam hatinya sedang berdoa dan berkonsentrasi, namun dengan tenang kembali menggerakkan kedua pundaknya dan tiba-tiba badan Sulasmini pun terlempar kemudian jatuh terbanting dan berguling-guling sambil merintih : “Ampuuunnn…….ampuuunnnn……. cukuuuuup…  cukuuuup…. cukuuuupp….”

Tante Erna dengan perlahan-lahan kemudian berhenti dalam mengatur pernapasannya lalu berkata  : “Baik, kalau kamu sudah merasa cukup ? Sekarang juga kuminta kamu harus keluar dari badan anak ini, ya  !”

Sulasmini mengangguk-anggukkan kepalanya dan berkata : “Iya…iya. Sekarang aku akan keluar…aduhhhh… sakit semua rasanya badanku,,,,,,,”

“Kalau begitu keluar saja lewat mulut dan muntahkan, Cepat…!” perintah Tante Erna tegas sambil menepuk-nepuk punggung Sulastri.

Tiba-tiba : “Hoeeeekkkk….…” Sulasmini muntah-muntah, dan Bu Maheswari istri Pak Dharmawan segera mewadahi muntahan tersebut dengan menggunakan ember plastik kecil, agar tidak menjadi kotor kemana-mana. Tidak lama kemudian Sulasmini sadar. Hal pertama yang dilakukan setelah sadar adalah hanya berkali-kali nengok kekanan dan nengok kekiri seperti orang kebingungan yang kemudian bertanya : “Mana Harimau Putihnya ?”

“Harimaunya sudah pergi,” sahut Pak Dharmawan singkat.

Sejak kejadian itu, kemudian Sulasmini percaya terhadap adanya makhluk yang tidak terlihat oleh mata fisik, yang ternyata di dunia ini hidup berbarengan dengan manusia.

“Oleh karena itu Lasmini, dalam hal membaca Kitab Suci itu hendaknya jangan hanya bisa membaca saja tetapi tidak mengerti mengenai apa yang telah dibaca atau hanya dengan melagukannya saja sehingga indah dan merdu kedengarannya, itupun tidak salah. Tetapi kamu juga harus membaca mengenai terjemahannya atau penafsirannya biar mengerti apa yang dimaksudkan dalam Kitab Suci tersebut,. Jadi dalam hal menentukan segala sesuatu itu tidak gegabah, tidak sombong, tidak merasa paling tahu, tidak merasa paling pintar dan sebagainya.” demikian kata-kata Tante Erna yang menasehati Sulasmini.

Dan suatu ketika Sulasmini sudah mulai lagi membuka HP untuk melihat foto-foto selfienya, dia sangat terkejut setengah mati. Karena pada foto-fotonya yang berdiri berdampingan dengan Pak Mukarsono serta pohon trembesi yang sudah roboh, disitu nampak juga sosok seekor Harimau Putih yang terlihat sangat jelas sedang marah dan berdiri serta menyeringai untuk memperlihatkan gigi dan taringnya. Sulasmini sangat ketakutan hingga secara spontan kemudian HP nya dilemparkan.

-o0o-

Saudaraku pembaca semuanya yang saya hormati terutama di kalangan sendiri, melalui cerita diatas yang hanya merupakan sebuah gubahan dan reka cerita yang terjadi sebenarnya sebagai contoh kejadian yang masih bisa dijumpai dalam lingkungan kehidupan kita.

Sebagai pesan moral dari cerita tersebut diatas dapat diambil sisi positifnya dan tinggalkan yang negatifnya untuk diambil hikmahnya serta bahan perenungan dalam menjalani kehidupan sehari-hari di dalam masyarakat.

Dan melalui reka ceritera tersebut bahwa intinya yang pertama adalah dalam kehidupan di dunia ini disamping terdapat manusia ternyata ada juga kehidupan makhluk lain yang tidak terlihat oleh mata fisik atau mata telanjang, dan hidup berbarengan dengan manusia.

Kemudian yang kedua adalah bahwa menjadi manusia harus pandai mengukur kemampuan diri dan mawas diri, janganlah merasa sombong dan merasa  diri lebih tahu, lebih pandai, lebih mengerti daripada orang lain.

Hal tersebut seperti halnya pendapat seorang Psikolog yang mengatakan bahwa ; “Orang yang ilmunya sedikit seringkali merasa lebih pandai.”

Hal itu bisa diperbandingkan apabila melihat perilaku seorang aparat yang masih muda atau masih baru menjadi seorang aparat maka tindakannya akan serba keras yang mencerminkan bahwa seorang aparat itu harus tegas, dan sikap tersebut pasti berbeda dengan mereka yang sudah mencapai kematangan atau yang sudah senior menjadi seorang aparat pasti akan terlihat lebih sopan, kalem dan bijaksana.

Demikian pula dengan keadaan Sulasmini saat itu yang tanpa sadar merasa bahwa pengetahuan yang dimiliki sudah jauh lebih tinggi apabila dibandingkan dengan orang lain, sehingga dalam berbicarapun jadi seenaknya dan tidak control dan terkesan sombong.

Ada yang berpendapat bahwa sesungguhnya untuk mengerti tentang suatu pengetahuan atau ilmu itu terdiri dari tiga langkah. Jika seseorang telah berada pada langkah yang pertama, biasanya orang akan menjadi tinggi hati (takabur). Kemudian, apabila dia telah berada pada langkah yang kedua, maka dia pun menjadi rendah hati (tawadhu). Dan bilamana dia telah mencapai pada langkah yang ketiga atau yang terakhir, maka barulah dia mengetahui bahwa ternyata dirinya tidak tahu apa-apa.”

Namun dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat bisa dijumpai banyak orang bodoh yang ingin dianggap pintar, kemudian dia berkoar-koar seakan-akan tahu secara keseluruhan tentang suatu permasalahan, padahal dia baru tahu kulitnya saja.

Karakter orang yang demikian itu bisa dijumpai dalam berbagai bidang kegiatan, umpamanya saja ada orang selalu menganggap orang lain lebih kotor dan selalu berpikir bahwa dirinya paling suci dan pendapatnya yang paling benar, namun dalam prakteknya bukan kasih sayang yang ditunjukkan melainkan kekerasan yang ditampilkan.

Bahkan banyak pula dijumpai orang yang lupa pada keadaan dirinya sendiri yang selalu mencari kelemahan atau kekurangan orang lain, tetapi tidak pernah melihat kelemahan atau kekurangan pada dirinya sendiri, kemudian merasa dirinya paling sempurna.

Atau ada karakter orang yang merasa dirinya cendikiawan dan paling hebat, hampir semua pendapat orang lain didebatnya hanya untuk mencari celah kesalahan agar bisa menghujani kritik dan bisa mencaci maki,  karena ingin mendapatkan pujian tanpa ada tindakan nyata yang dilakukan.

Sementara ada juga yang orang yang berkarakter bahwa dirinya merasa paling layak untuk memimpin masyarakat dan menjadi pemeran utama tanpa menyadari bahwa untuk memimpin dirinya sendiri saja sudah kerepotan.

Ada yang lebih parah yaitu ada karakter orang merasa dirinya paling segalanya, dan merasa bahwa dia bisa melakukan apa saja yang  diinginkan. Sehingga lupa bahwa dia bukanlah apa-apa tanpa ijin dari-Nya, dan masih banyak lagi contoh lainnya.

-o-

Demikian pula pengetahuan mengenai Makhluk Ghaib yang disebut juga Makhluk Halus atau Makhluk yang Tidak Kasat Mata, atau disebut juga sebagai Makhluk Astral dan istilah itu digunakan untuk menyebut makhluk hidup yang keberadaannya tidak dapat dijangkau oleh panca indera manusia.

Kata “Makhluk” berasal dari bahasa Arab yang berarti “yang diciptakan” dan “Ghaib” yang artinya “tidak tampak”.  Yang dimaksudkan dengan kata ghaib disini adalah apabila hal itu dilihat dari sudut pandang panca indera manusia yang tidak bisa menjangkau keberadaan makhluk-makhluk tersebut, misalnya Malaikat dan Jin.

Menurut pandangan sebuah agama bahwa sebelum manusia pertama diciptakan, makhluk dari kalangan Jin telah terlebih dahulu menghuni bumi. Kemudian Allah menciptakan manusia untuk menjadi khalifah di bumi, yang dikemudian Manusia dan Jin hidup berdampingan di bumi  namun dalam demensi yang berbeda.

 

Karakter Makhluk ghaib

Jika dilihat dari keberadaan makhluk ciptaan itu mungkin urutannya adalah sebagai berikut yang pertama kali diciptakan adalah Malaikat  dari Cahaya atau Nur kemudian Jin yang diciptakan dari Api dan yang terakhir adalah Manusia yang dibentuk dari Tanah, yang masing-masing diberikan roh, jadi artinya mereka mempunyai badan atau raga.

Mereka yang disebut sebagai Makhluk Halus karena mereka adalah Makhluk yang mempunyai Wujud Raga Halus serta hidup di Alam Halus atau Alam Ghaib. Antara alam ghaib dan alam manusia menempati dimensi yang berbeda, namun berada pada satu tempat sehingga memungkinkan antara kedua makhluk penghuni bumi ini bisa saling bersentuhan atau bertatap muka.

Malaikat, Jin dan Manusia sama-sama berakal, memiliki tingkatan dan kedudukan  yang berbeda-beda.

Malaikat tidak memiliki nafsu, tidak berjenis kelamin, sedangkan Jin dan Manusia sama-sama memiliki nafsu, berjenis kelamin, makan dan minum, berkeluarga, bekerja dan istirahat.

Malaikat diciptakan dengan tabiat yang selalu taat dan tidak pernah mengingkari Allah serta memiliki sifat-sifat yang terpuji. Sedangkan jin dan manusia diberikan pilihan kehendak untuk taat atau pun ingkar.

Jin pun sebagaimana manusia diperintahkan untuk beribadah dan mereka memiliki komunitas seperti manusia misalnya mempunyai wilayah, pimpinan serta bawahan maupun bangunan-bangunan dan lain-lainnya.

Jin seperti juga manusia merasakan sakit, takut, kuat , lemah, lahir dan mati.  Malaikat, Jin dan Manusia juga tidak mengetahui tentang Perkara Ghaib, seperti misalnya tentang Hari Kiamat dll.

 

Makhluk Ghaib dengan Manusia

Manusia tidak dapat melihat Malaikat dan Jin dalam bentuk asli mereka kecuali mereka berubah menjadi bentuk yang dapat dijangkau indera manusia.

Misalnya saja, Malaikat yang berubah wujud menjadi sosok manusia yang antara lain yang bertamu kepada Nabi Ibrahim atau yang menjumpai Siti Maryam.

Adapun Jin berubah menjadi seperti hewan, suara, cahaya api, hantu, benda terbang yang tak dikenal, bahkan meniru rupa manusia yang sudah meninggal maupun yang masih hidup, dalam alam nyata maupun alam mimpi.

Binatang Keledai dan Anjing mampu melihat bentuk asli jin di malam hari yang ditandai dengan ringkikan atau lolongan yang panjang.

Jin bisa melakukan perbuatan jahat atau menjahili manusia antara lain dengan mencuri hartanya, membalas dendam, menculik dan menyakiti manusia, sebagaimana manusia juga bisa menyakiti bangsa Jin.

Jin akan menjadi lebih lemah kondisinya ketika sedang menampakkan diri, sehingga manusia dapat melihatnya yang berarti juga dapat menyentuh ataupun memukulnya.

Jin tidak dapat dilihat oleh manusia kebanyakan kecuali Jin itu sendiri dengan sengaja menampakkan dirinya kepada mereka. Tetapi untuk itu Jin melihat dan memilih kepada orang-orang tertentu untuk bisa melihat keberadaannya.

Mungkin saja tujuannya untuk mengelabuhi manusia agar manusia itu mengira dan meyakini bahwa dirinya mampu melihat hal ghaib dan mengatakannya kepada masyarakat umum.

Yang pada akhirnya akan terjadi komunikasi antara jin dengan manusia, dan kemudian jin tersebut menipunya dengan cara mengaku sebagai arwah orang yang telah mati, atau bahkan menjerumuskannya dengan cara menawarkan diri untuk membantu manusia dalam memperoleh harta, atau membantu manusia pada kemampuan perdukunan atau malah membawa manusia kearah perbuatan syirik.

 

-o-

 

*) Kalau Malaikat menampakkan wujudnya kepada Manusia karena semata-mata hanya menjalankan perintah Tuhan Yang Maha Esa untuk menyampaikan berita kepada manusia, adapun berita yang disampaikan itu, yang dinamakan dengan Wahyu.

*) Sedangkan untuk Jin, berdasarkan cerita dari mereka yang pernah bersentuhan dengan dunia ghaib, ada beberapa penyebab tertentu sehingga makhluk halus itu menampakkan wujudnya kepada manusia, misalnya saja :

  1. Keberadaannya merasa Terganggu.

Makhluk halus atau Jin menampakkan wujudnya kepada manusia ketika merasa keberadaan dirinya atau kelompoknya terganggu seperti cerita diatas, maka makhluk halus itu akan menampakkan dirinya kepada manusia atau menyerang manusia, misalnya dengan cara : membuat orang kesurupan, menakuti orang dan menciptakan fenomena menyeramkan dengan harapan agar manusia berhenti mengganggu mereka. Mungkin tindakan mereka ini merupakan bentuk protes makhluk halus kepada manusia  atau jika di alam manusia, tindakan mereka itu disebut demo atau unjuk rasa.

  1. Sengaja Dipanggil

Ada Makhluk Halus yang datang dan menampakkan diri karena dipanggil oleh manusia. Misalnya : Seorang dukun dengan sengaja mendatangkan makhluk halus atau jin untuk dimintai bantuan, atau seorang paranormal yang ingin berkomunikasi dengan makhluk halus melalui seseorang sebagai media komunikasi, atau ada seseorang yang baru belajar perilmuan atau belajar kemampuan supranatural ingin melihat wujud makhluk halus.

  1. Sebagai Penjaga

Berdasarkan cerita bahwa ada manusia yang menggunakan tenaga atau mengerjakan makhluk halus untuk menjaga harta-bendanya, misalnya saja untuk menjaga gedung, pabrik, perkebunan, tambak dan lain sebagainya.

Makhluk halus tersebut akan menampakkan diri dalam wujud yang menyeramkan atau dengan wujud sebagai sipemilik harta tersebut kepada orang yang mencoba mencuri atau merusak harta milik majikannya.

Bahkan ada cerita seseorang yang masuk kedalam rumah orang lain untuk mencuri pada malam hari, namun sampai besoknya tidak bisa keluar dari halaman rumah tersebut dan hanya berputar-putar ditempat walaupun halaman rumah tersebut tidak luas.

  1. Tertangkap Manusia

Banyak cerita tentang adanya makhluk halus tertangkap oleh manusia karena keusilannya, misalnya saja mereka yang tertangakap dalam bentuk : Tuyul, Babi Ngepet, atau mungkin makhluk halus lainnya yang suka mencuri.

Namun ada juga manusia yang suka usil yaitu menangkap makhluk halus sebagai media percobaan atau hanya untuk sekedar mengetes kemampuan perilmuan yang baru dipelajari .

  1. Ingin ikut Manusia

Berdasarkan cerita, bahwa ada makhluk halus yang menampakkan diri dalam wujud seperti manusia normal karena ingin mengabdi kepada manusia, misalnya saja : ingin menjadi murid seorang ulama atau ingin membantu serta menolong seseorang dan sebagainya.

  1. Jatuh Cinta kepada Manusia

Berdasarkan cerita, bahwa ada makhluk halus yang jatuh hati kepada manusia. Baik mereka yang mempunyai jenis kelamin laki-laki maupun perempuan yang naksir kepada seorang manusia. Atau bahkan ada yang sampai mengganggu suami ataupun istri manusia.

  1. Karena Terjebak.

Ada Makhluk Halus yang kebetulan bisa dilihat oleh manusia karena terjebak.  Misalnya, ada manusia memasang kamera jebakan pada malam hari di tempat yang angker seperti pada tayangan di Televisi, umpamanya dalam acara Uji Nyali, Dunia Lain atau terkadang tertangkap oleh kamera potret secara tidak sengaja.

Dan mungkin masih banyak lagi cerita-cerita mengenai penampakkan Wujud Makhluk Halus pada manusia yang beredar di kalangan masyarakat.

 

-o0o-

 

*) Dan hal penting yang harus diketahui adalah, bahwa tidak semata-mata Jin dan Manusia diciptakan kecuali untuk beribadah kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Oleh karena itu yang terpenting dalam melaksanakan hidup sehari-hari bermasyarakat adalah bagaimana seharusnya melaksanakan ibadah kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan baik dan benar tanpa menyinggung atau menyakiti perasaan pihak lain.

*) Dan sebagai manusia didalam menjalani kegiatan sehari-hari jangan merasa diri lebih baik, lebih sempurna dan lebih yang lain-lain daripada orang lain karena setiap orang itu mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing.

Melatih diri untuk kepekaan terhadap adanya makhluk ghaib atau mempelajari perilmuan tidaklah salah, karena tidak setiap orang mampu atau bisa melakukan hal itu asalkan tidak bertolak belakang dengan jalan Ketuhanan.

Namun ada yang jauh lebih penting dari itu semua adalah bagaimana  kepekaan yang diperoleh atau ilmu yang dikuasai itu bermanfaat bagi manusia lainnya.

Serta kemampuan tentang kepekaan yang diperoleh itu mampu menangkap pesan terhadap apa yang diperintahkan dan dikehendaki oleh Tuhan Yang Maha Esa serta dipraktekkan dalam hidup sehari-hari di masyarakat adalah segala-galanya.

*) Seperti halnya nasehat yang diberikan oleh Tante Erna Pinastiti Bayu kepada Sulasmini bahwa dalam hal membaca Kitab Suci itu hendaknya jangan hanya bisa membaca saja tetapi tidak mengerti mengenai apa yang telah dibaca atau hanya dengan melagukannya saja sehingga indah dan merdu kedengarannya, itupun tidak salah. Tetapi kamu juga harus membaca mengenai terjemahannya atau penafsirannya biar mengerti apa yang dimaksudkan dalam Kitab Suci tersebut.

Karena Kitab Suci yang ada itu sebenarnya adalah merupakan Petunjuk yang Nyata dalam menjalani kehidupan sehar-hari. Andaikata tidak mengerti mengenai bahasa aslinya maka harus dibaca juga tentang terjemahannya atau penafsirannya.

Jadi kalau tidak mengerti, lalu bagaimana bisa menjalankan atau mempraktekkan petunjuk tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Jangan hanya dihafalkan seperti Burung Beo yang setiap ada orang lewat selalu berkicau “Asallamualaikum….. asallamualaikum…” tetapi dia sendiri tidak mengerti apa artinya sehingga tidak ada manfaat yang bisa dirasakan untuk dirinya.

Karena hal tersebut bisa saja menjadi sebuah kesalahan dalam pelaksanaannya ketika ada orang lain, baik sengaja maupun tidak sengaja memberikan penjelasan yang tidak benar.

Sebagai sebuah contoh, suatu peristiwa yang benar-benar pernah terjadi,  ketika ada seseorang ingin mendapatkan jodoh, agar wajah dan penampilannya menjadi lebih menarik bila dilihat oleh lawan jenisnya, maka bertanyalah pada seorang yang dianggap mengerti dan lalu diberi petunjuk agar berpuasa dan membaca atau menghafalkan sebagian surat Yusuf, namun sampai sekian lama hal tersebut dilaksanakan tidak kunjung ada hasilnya.

Kemudian ketika ada yang memberitahu agar mengerti mengenai maksud dari apa yang dibacanya, maka harus membaca pula terjemahannya. Pada awalnya dia selalu menolak dan bersikukuh untuk tidak melakukan hal itu, tetapi setelah sekian lama dijalani dan tidak ada hasilnya, kemudian mulailah dia membaca terjemahan dari apa yang dibacanya. Akhirnya barulah dimengerti bahwa ternyata apa yang dibaca selama ini adalah merupakan bagian dari cerita mengenai Yusuf ketika sedang dipenjara.

Akan tetapi kalau sudah tahu mengenai maksud yang dibacanya, maka sekali-kali tidak akan terjebak dalam kesalahan yang tidak dimengerti seperti kejadian tersebut diatas.

 

Sebuah anekdot :

Obrolan Ustadz dengan Jin Betawi

Ustadz : “Hey Jin, lu takut kagak ame orang rajin ibadah ?”
Jin : “Jaman sekarang….! ?  Ya… kagak lah Ustadz… Mereka gampang aje dibujuk untuk ; terima suap, dugem, nipu, muke due, nilep pajak, korupsi, jual fasum, nilep anggaran… pada nurut semue tuh….!! “
Ustadz : “Trus lu takutnye ame siape dong ….?? “
Jin : “Ya…aye sih paling takut ame tukang jahit yang keliling naik sepede tuh….!!! “
Ustadz : “Ah…lu ade-ade aje Jin. Masa ame tukang jahit lu jiper….”
Jin : “Ya iyalah…gimane kagak jiper ?…Ustadz kagak bace tuh tulisan :

“TUKANG PERMAK JIN.”

Potong kaki  Rp. 5 ribu,

Kecilin perut  Rp.15 ribu

Nah entar kalo ade orang yang mau bayar Rp. 20 ribu, aye jadi kaye apa nantinye Tadz….”

 

-o0o-

BANDUNG – INDONESIA, APRIL – 2017

Cerita :  Nuraini Mukhsin

(Gubahan Ki Ageng Bayu Sepi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *