FIRASAT

firasatFIRASAT ADALAH SUATU KEMAMPUAN DARI DALAM DIRI SESEORANG UNTUK MERASAKAN ATAU MEMBACA TANDA-TANDA TENTANG APA YANG AKAN TERJADI.

BOLEH PERCAYA BOALEH JUGA TIDAK, BAHWA SEBENARNYA SETIAP ORANG MEMILIKI KEPEKAAN TERHADAP SESUATU HAL YANG SEDANG ATAU AKAN TERJADI, NAMUN DALAM KADAR KEMAMPUAN YANG TIDAK SAMA BESAR.

PERLU JUGA DIKETAHUI, SEBUAH FIRASAT BIASANYA DAPAT DIRASAKAN OLEH DIRINYA SENDIRI, BAHKAN JUGA TERHADAP KELUARGA, TEMAN ATAU SIAPAPUN YANG MEMILIKI KEDEKATAN ATAU HUBUNGAN BATIN.

letter-bagaskara menstandarkan motornya ditempat parkir seperti biasanya lalu menuju kantor serta mengantri absen langsung melalui sidik jari sebentar kemudian segera masuk Ruang Tata Usaha, tempatnya bekerja sekarang ini. Namun agak melengak karena sudah pukul setengah tujuh seperti ini teman kerja yang sudah datang baru seorang. Tasnya diletakkan di atas meja, lalu mendekati komputer yang kemudian dihidupkannya. Di salah satu sudut ruangan yang letaknya tidak terlalu jauh dari tempat duduknya Wishnuaji teman di bagian Tata Usaha kelihatan sedang asyik duduk di depan komputernya. Entah apa yang sedang dikerjakannya.

“Mas Bagas, apakah engkau sudah dengar berita kalau Sumarsana semalam masuk rumah sakit lagi ?” tanya Wishnuaji dengan tetap masih menghadapi komputernya.

“Apa ? Aku sama sekali tidak mendengar kabar kalau Sumarsana masuk rumah sakit lagi,” sahut Bagaskara dengan agak terkejut. Karena kemarin sore sebelum pulang kerja mereka masih sempat ketemu dan mengobrol tentang banyak hal. Apalagi jika diperhatikan kondisi Sumarsana saat itu terlihat baik-baik saja.

“Sumarsana sakit apa lagi ?” tanya Bagaskara selanjutnya.

“Wah, kalau soal itu saya juga tidak mengerti.”

“Lalu kamu tahu dari siapa kalau Sumarsana masuk rumah sakit lagi  ?”

“Semalam istrinya meneleponku dan hanya memberitahu kalau Sumarsana dibawa ke rumah sakit,” jawab Wishnuaji.

“Apakah istrinya tidak cerita mengenai keadaan Sumarsana sehingga sampai dibawa ke rumah sakit ?”

“Enggak, dia tidak bercerita apa-apa, hanya mengatakan kalau Sumarsana harus dibawa ke rumah sakit.”

Bagaskara tidak lagi mengejar dan melanjutkan apa yang telah dikatakan  Wishnuaji, tetapi di batinnya ikut merasakan prihatin ketika mendengar Sumarsana teman yang tugasnya di bagian kebersihan itu sekarang harus masuk rumah sakit lagi.

Memang, sudah sementara waktu ini keadaan Sumarsana cukup memperihatinkan.  Sering sekali sakit dan keluar masuk rumah sakit. Baru saja sembuh dan sudah bisa masuk kerja lagi, sebentar kemudian tiba-tiba jatuh sakit lalu masuk rumah sakit lagi. Hal seperti itu seringkali dialaminya. Hingga teman-teman pun merasa kasihan melihat keadaan Sumarsana yang seperti itu.

Melihat keadaan Sumarsana yang cukup memprihatinkan yang selalu sakit-sakitan dan keluar masuk rumah sakit, menyebabkan Bagaskara tergugah ingin mengetahui apa yang sebenarnya penyakit yang diderita Sumarsana. Ketika hal itu kutanyakan kepada anak dan istrinya, Bagaskara hanya memperoleh jawaban kalau Sumarsana menderita komplikasi : diabetes, jantung dan penyakit lainnya.

Bukan berarti tidak percaya terhadap apa yang telah diceritakan oleh keluarganya mengenai penyakitnya, namun Bagaskara ingin menanyakan sendiri kepada Sumarsana. Sepertinya Bagaskara belum terasa lega dihatinya kalau belum mendengar kalimat itu diucapkan sendiri oleh Sumarsana tentang penyakit yang dideritanya.

“Sebenarnya apa yang kamu rasakan sakarang ini ?” tanya Bagaskara pada suatu hari ketika menyempatkan diri mengunjungi ke rumahnya.

“Yang kurasakan ya seperti inilah, Mas Bagas. Namanya juga sedang mendapat cobaan,” jawab Sumarsana yang terlihat agak lesu.

Mendengar kalimat yang baru saja diucapkan itu menyebabkan hati Bagaskara merasa sedih. Apalagi kalau melihat kondisi badan Sumarsana sekarang ini yang memang sangat memperihatinkan. Dapat dikatakan kurus sekali dan hanya tinggal tulang yang terbungkus oleh kulit.

“Yang kumaksudkan adalah, sebenarnya apa penyakit yang sedang kamu rasakan sekarang ini ?” tanya Bagaskara selanjutnya.

“Kalau menurut hasil diagnosa dokter katanya diabetes dan jantungku agak kurang beres. Ah, sudahlah Mas Bagas, jangan bertanya lagi tentang hal itu, menyebabkan aku miris. Yang kuminta doamu saja Mas, mudah-mudahan aku bisa cepat sehat dan kembali seperti sediakala.”

Bagaskara tidak melanjutkan pertanyaan lagi tentang penyakitnya. Untuk selanjutnya kemudian hanya bisa menyampaikan kalimat-kalimat yang sifatnya menghibur, siapa tahu bisa membesarkan hatinya dalam menghadapi cobaan penderitan seperti yang dirasakan sekarang ini.

-o-

Bagaskara memang sudah lama kenal dengan Sumarsana. Jadi tidaklah aneh jika Bagaskara mengerti tentang bagaimana watak dan perilaku Sumarsana setiap harinya. Semua hal tersebut diketahui sejak  mereka masih sama-sama menjadi tenaga honorer dengan penghasilan yang tidak seberapa di kantor ini, dan mereka dapat dikatakan setiap hari bergaul.

Pada waktu itu Bagaskara dengan Sumarsana sama-sama ditugaskan di bagian kebersihan, bedanya bahwa Bagaskara sebagai kordinator kebersihan sedangkan Sumarsana sebagai pelaksana yang mempunyai kewajiban bertanggung jawab mengenai kebersihan kantor.

Sejak dulu Sumarsana memang berbeda dengan teman-teman tenaga kebersihan yang lain.  Kalau teman lain pada umumnya tidak banyak menjawab atau membantah jika dikasih tahu tentang pekerjaannya, namun tidak demikian halnya dengan Sumarsana.

Dia adalah termasuk orang yang banyak bicara dan terkadang agak keterlaluan dalam hal berbicara, jika diberitahu tentang pekerjaannya. Tetapi walaupun demikian jika sudah diberikan penjelasan dengan pengertian yang bisa diterima oleh akal dan pikiran, barulah akhirnya dia mau mengerti serta mau juga melakukan pekerjaannya dengan tertib dan teratur.

“Marsana, gedungmu kok rupanya seperti aku ini, lalu bagaimana ?” Bagaskara harus bertanya seperti itu, jika setiap kali menemukan pekerjaan Sumarsana yang kurang beres.

“Tenang Bos, pasti bereslah. Bos tenang sajalah,” begitu jawaban yang  selalu diucapkan manakala ada kritikan mengenai ada yang kurang beras dalam pekerjaannya.

“Jangan hanya bilang tenang dan asal selesai saja pekerjaan itu, tetapi harus benar-benar beres dan rapih.”

Setiap Bagaskara sudah berbicara seperti itu, Sumarsana yang  sehari-harinya selalu memanggil Bagaskara dengan sebutan Bos biasanya langsung diam dan tanpa banyak bicara lagi lalu melanjutkan pekerjaannya tanpa harus diperintah.

Jalan cerita kehidupan manusia memang berbeda, yaitu pada suatu ketika Bagaskara bersama dengan teman lainnya termasuk Sumarsana, diangkat jadi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). Dan setelah pengangkatan  CPNS tersebut, tempat kerja Bagaskara sudah tidak lagi berkumpul dengan Sumarsana di Bagian Kebersihan, akan tetapi dipindahkan ke Bagian Tata Usaha, sedangkan tugas yang dilaksanakan oleh Sumarsana masih tetap sama seperti dahulu.

“Aku naik pangkat atau tidak semua itu tergantung pada Anda lho , Bos,” kata-kata itu yang selalu diucapkan pada Bagaskara setiap kali ketemu, setelah beberapa waktu Bagaskara dipindahkan ke Bagian Tata Usaha.

“Kok bisa begitu ?”:

“TU nya kan Anda, Bos.”

“Ah, ada-ada saja kamu itu,  Marsana.”

“Lalu harus bagaimana ? Pokoknya naik pangkat atau tidak semuanya tergantung Anda, Bos.”

Bagaskara hanya bisa tertawa, apalagi kalau Sumarsana sudah berbicara dan mengotot tidak mau mengalah. Harus bagaimana lagi, ya harus dimaklumi saja memang watak dan perilakunya setiap harinya seperti itu.

-o-

Pada pukul setengah enam pagi Bagaskara sudah berada di kantor untuk mempersiapkan dan mengatur berkas yang harus dibawa ke kantor pusat di Jakarta, hari itu juga. Tidak sampai memakan waktu lama, hanya seperempat jam semua berkas yang diperlukan sudah siap dan kamudian langsung berangkat dengan menggunakan kendaraan dinas dan sopirnya.

Tidak lebih dari dua jam urusan yang berkaitan dengan kantor pusat sudah selesai. Semuanya beres dan tidak ada kekurangan apapun juga. Tidak seperti biasanya, setiap kali urusan yang disampaikan sudah selesai Bagaskara selalu menyempatkan diri untuk duduk-duduk sambil mengobrol lebih dulu di kantin dengan teman-teman di kantor pusat, namun hari itu agak berbeda. Karena perasaan hatinya hari itu seperti ada yang mengajak untuk segera pulang kembali ke Bandung.

“Sani, perasaan hatiku hari ini sangat gelisah dan tidak enak, kira-kira ada apa ya ?” tanyanya kepada Lukarsani yang hari itu bertugas mengantarkan Bagaskara ke Jakarta, setelah mobil yang dikendarainya itu meluncur lepas dari gerbang tol.

“Lha, kira-kiranya ada apa, ya pak ?” jawab Lukarsani yang sepertinya malah balik bertanya.

“Ah, ya nggak tahulah, Sani. Yang kurasakan tiba-tiba saja hari ini  hatiku gelisah dan sangat tidak enak, tetapi nggak jelas apa yang menjadi permasalahannya.”

“Kan, yang mengetahui hal itu mungkin hanya Bapak sendiri.”

“Ya itu lah, yang aku sendiri juga tidak mengerti, Sani. Mengapa tiba-tiba saja perasaan hatiku menjadi tidak enak seperti ini.”

Lukarsani tidak menjawab lagi, hanya duduk diam dan berkonsentrasi untuk mengemudikan mobil yang dikendarainya.

Tidak terasa mobil sudah keluar dari kota Jakarta dan ditengah perjalanan ketika hendak mencari tempat berhenti untuk makan seperti biasanya tiba-tiba saja HP  Bagaskara  berbunyi, karena ada SMS yang masuk.

HP yang berada di dalam sakunya itu pun diambilnya kemudian dibuka dan dibaca, adapun isi beritanya adalah sebagai berikut : “Sumarsana meninggal dunia dan akan dimakamkan hari ini juga pada pukul 16.00 WIB.”

Berita melalui pesan singkat dari Wishnuaji, teman kerja di Bagian Tata Usaha itu dipandanginya dengan tidak berkedip seakan tidak percaya pada apa yang telah terjadi yaitu berita tentang Sumarsana sekarang sudah dipanggil oleh Yang Maha Kuasa dan mendahului menghadap ke hadiratNya.

“Sani, hari ini kita tidak usah singgah ke tempat makan dulu ya. Ada berita Sumarsana meninggal dunia dan akan dimakamkan hari ini juga. Oleh karena itu saya harap cara mengemudinya agak lebih cepat sedikit ya, biar ada waktu untuk melayat karena akan dimakamkan pukul 16.00,” begitu kata Bagaskara kepada Lukarsani.

“Innalillahi wa Innailaihi rojiun,” hanya itu kata-kata yang terucap oleh Lukarsani yang langsung menginjak pedal gas agar mobil laju lebih cepat.

Di perjalanan pulang ke Bandung dalam hati Bagaskara bertanya-tanya seorang diri : “Apakah hatiku yang tiba-tiba saja gelisah dan merasa tidak enak tadi itu ada kaitannya dengan meninggalnya Sumarsana ?”

Mungkin saja memang benar demikian adanya, karena hal itu pengaruh dari seringnya berkumpul dan bekerja bersama puluhan tahun lamanya, sehingga terjadi sebuah hubungan pertemanan yang terjalin sangat akrab.

Dengan menyenderkan kepala di bantalan jok mobil, pikiran Bagaskara melayang kembali pada saat dua hari yang lalu. Ketika menjelang sore dia bertemu dengan Sumarsana dan bercerita banyak sebelum pulang kerja dan pada malam harinya tiba-tiba ada berita bahwa dia masuk rumah sakit.

“Bos, aku mau naik pangkat,” katanya dengan mantap dan ditujukan kepadanya.

“Ah, kamu ini ngarang saja, Marsana.”

“Betul ini Bos, aku akan segera naik pangkat.”

Kemudian Bagaskara tertawa terbahak-bahak, karena memang dia mengerti kalau urusan kenaikan pangkat Sumarsana sebagai seorang pegawai masih cukup lumayan lama, kira-kira dua tahun lagi.

“Mengarang cerita saja kok kelihatannya kamu yakin sekali, Marsana.”

“Ah si Bos ini bagaimana sih, dikasih tahu kok tidak percaya.”

“Jadi aku harus percaya bagaimana, sedangkan yang mengurusi masalah kenaikan pangkat di kantor itu kan aku .”

“Ya sudahlah, kalau memang tidak percaya. Nanti buktikan sendiri kalau sebentar lagi aku akan naik pangkat.”

Tiba-tiba Bagaskara terkejut dan tersadar dari lamunannya, karena mobil yang dinaiki sudah sampai dan berhenti di halaman kantor. Kemudian melihat jam ditangannya yang menujukkan pukul 15.00 WIB.

Bergegas Bagaskara masuk kantor karena ingin segera mendapatkan berita selengkapnya melalui cerita dari teman-teman mengenai peristiwa meninggalnya Sumarsana.

Setelah mendapatkan cerita yang lumayan banyak, kemudian bersama teman-teman lain Bagaskara berangkat melayat ke rumah Sumarsana yang lokasinya tidak terlalu jauh dari kantor. Sambil menunggu proses pemberangkatan jenazah ke makam, Bagaskara duduk di kursi bersama teman-teman sekantornya namun dia termenung hatinya melayang  memikirkan peristiwa pertemuan dan percakapannya dengan Sumarsana dua hari yang telah lalu.

Kata-kata yang pernah diucapkan oleh Sumarsana yang akan naik pangkat seperti terdengar kembali dan terngiang di telinganya. Tidak ada yang pernah tahu bahwa kalimat yang diucapkan itu merupakan sebuah pertanda atau firasat kalau dia benar-benar akan naik pangkat dan menghadap ke Hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa.

Pada awalnya Bagaskara memang tidak pernah menyangka kalau kalimat naik pangkat yang sebelumnya hanya di anggap sebagai bahan gurauan itu ternyata merupakan sebuah kata-kata untuk berpamitan dari Sumarsana yang akan meninggalkan dia dan teman-teman semua untuk selamanya.

-o0o-

 

Saudaraku pembaca semuanya yang saya hormati terutama di kalangan sendiri, gubahan cerita diatas hanya merupakan sebuah contoh kejadian dalam kehidupan sehari-hari, dan melalui gubahan ceritera tersebut yang intinya adalah bahwa apa yang disampaikan oleh Sumarsa adalah merupakan salah satu pertanda dari sekian banyak pertanda atau firasat yang ada dan bisa saja dialami oleh setiap orang.

Dan sebagai bahan perenungan dalam menjalani kehidupan kita masing-masing didalam bermasyarakat, jika menemukan hal seperti tersebut diatas apakah kita juga bisa membaca atau mengerti tentang tanda-tanda baik dari alam maupun dari mansuia atau firasat tentang apa yang akan terjadi.

Firasat itu sendiri adalah suatu kemampuan dari dalam diri seseorang untuk merasakan  atau membaca sebuah pertanda tentang apa yang akan terjadi.

Ada juga sebagian orang yang menyebut dan menyamakan Firasat dengan istilah Feeling. Boleh percaya atau boleh juga tidak, bahwa mungkin sebenarnya setiap orang memiliki kepekaan terhadap sesuatu hal yang sedang atau akan terjadi.

Sebagai sebuah contoh misalnya seperti cerita diatas, tanpa diketahui penyebabnya secara tiba-tiba Bagaskara merasa gelisah dan tidak enak hati dan ternyata hal itu itu adalah merupakan sebuah pertanda atau firasat bahwa teman karibnya meninggal dunia.

Sebuah contoh lagi bahwa tanda-tanda itu juga bisa berada diluar dirinya. Misalnya pada jaman dahulu nenek moyang kita yang percaya akan adanya firasat dan membaca suatu pertanda yaitu apabila sudah beberapa hari mengalami kejadian ketika menanak nasi tiba-tiba saja menjadi basi dan berair yang biasanya tidak apa-apa.

Biasanya mereka akan berpemikiran : “Siapa yang sakit atau akan terjadi apa… semoga saja tidak terjadi halangan apapun juga….”

Hal tersebut apakah karena memang pada jaman dahulu kala belum ada alat komunikasi, misalnya seperti telepon atau lainnya yang bisa untuk menyampaikan berita kemana-mana. Jadi saat itu agak kesulitan kalau harus saling berkirim atau memberikan berita.

Misalnya saja dahulu kala nenek moyang kalau akan mempunyai hajat atau memberitakan ada yang sakit atau ada musibah dan lain-lain dan mereka harus menyampaikan berita tersebut dengan cara mendatangi yang dilakukan dengan berjalan beberapa jam atau bahkan sampai beberapa hari.

Oleh karena itu Tuhan malah memberikan kelebihan kepada umat-Nya yang berupa kecerdasan dan ketajaman serta pekanya rasa batin dalam menerima dan membaca beraneka macam perlambang, isyarat atau tanda-tanda alam tentang  keadaan yang bakal terjadi.

Apakah hal tersebut memang benar demikian, tidak ada yang mengerti, tetapi pada kenyataannya memang sering terbukti, karena penulis sendiri sering memperhatikan dan mengalami serta membuktikan kebenaran hal itu.

Hal tersebut jelas sangat berbeda dengan keadaan pada masa sekarang yang semakin canggih alat komunikasinya yang menjadikan masyarakat sangat mudah untuk saling memberikan pemberitaan atau berkomunikasi tentang apa saja kepada orang yang dituju/dikehendaki dimanapun tempat tinggalnya.

Sebagai gambaran saja bahwa banyak sekali macam-macam firasat sebagai tanda akan terjadinya sesuatu. Walaupun pada jaman sekarang sudah sangat berkurang jumlahnya tetapi masih banyak yang percaya terhadap adanya firasat khususnya gererasi tua apalagi jika mereka berada dan tinggal dipedesaan.

Misalnya saja sebagai contoh :

*). Ketika sedang enak-enak duduk atau sedang mengerjakan sesuatu tiba-tiba kejatuhan cicak, apalagi kalau sampai ekornya putus. Hal tersebut dianggap sebagai firasat akan menenui kesusahan atau musibah, oleh karena itu mereka sangat berhati-hati dalam melakukan tindakan.

*). Rasanya sudah sangat berhati-hati, sesuatu yang dipegang dengan erat umpamanya gelas tiba-tiba saja terjatuh, dan pecah berantakan. Hal seperti ini diperkirakan akan terjadi hal-hal yang tidak enak yang atau akan menimbulkan mala petaka.

*). Sejak pagi burung prenjak berbunyi terus-menerus dan tanpa berhenti, hal tersebut dipercaya akan kedatangan tamu dari jauh. Oleh karena itu bagi mereka yang percaya segera menyiapkan segala sesuatu untuk menjamu tamu bahkan terkadang juga dampai menyiapkan kamar barangkali saja tamu tersebut akan menginap.

*). Sudah pergi kemana-nama, tetapi tidak merasa kalau baju yang sedang dikenakan tersebut terbalik, dan hal pertanda seperti ini dipercaya bahwa sipemakai baju akan mendapatkan rejeki.

Sebenarnya masih banyak sekali hal-hal yang terjadi yang bisa dianggap sebagai sebuah firasat atau tanda alam dan yang tersebut diatas hanya sebagian kecil saja  sebagai contoh, dan pembaca boleh dipercaya boleh juga tidak.

 

Ada sebuah hal yang menarik untuk diperhatikan, karena secara tidak disadari bahwa manusia sering mengalami hal itu. Namun secara tidak sadar akan hal ini, terkadang mereka justru malah mengacuhkannya dan menganggap mungkin itu hanya sekedar perasaan saja.

Dari sisi jeleknya adalah, ketika seseorang mengalami firasat yang tidak enak, orang itu justru malah terlalu memikirkan terhadap firasat tersebut, sehingga dampak buruk dari fikirannya itu telah membuatnya merasa tersiksa karena rasa khawatir terhadap hal-hal buruk yang akan terjadi.

Akan tetapi, sampai batasan tertentu firasat tersebut sangat bermanfaat bagi ilmu pengetahuan, dan memberi keyakinan dalam memilih satu di antara berbagai hipotesis yang ada, mana yang akan prodoktif dan mana yang akan merugikan, sehingga dengan demikian ketepatan pilihan akan menghemat waktu, tenaga dan biaya yang ada.

Sekali lagi percaya atau tidak, memang hal itu terkadang seperti  sebuah kebetulan atau perasaan saja. Akan tetapi terkadang memang bisa merupakan sebagai suatu pertanda. Oleh karena itu, sebuah firasat tidak bisa diremahkan begitu saja.

Yang perlu di ingat bahwa tidak ada seorang manusia pun yang bisa mengetahui suatu kejadian yang akan terjadi pada detik, menit, jam, hari bulan, ataupun masa depan, karena semua itu merupakan Rahasia Sang Pencipta.

Tetapi andaikata manusia itu sampai mengerti tentang hal tersebut, karena memang dimampukan diberi kemampuan walaupun hanya sedikit oleh Sang Penciptanya.

Satu hal lagi yang harus selalu diperhatikan dalam hidup ini yaitu bahwa Hukum Alam bisa dibaca dari tanda-tandanya, maka seharusnya Kebijakan Allah juga seharusnya bisa dibaca dari tanda-tandanya yang kemudian manusia bisa melakukan tindakan sesuai dengan Kehendak dan Arahan Allah.

Tetapi seringkali manusia pendek ingatan sehingga gagal membaca tanda-tanda tersebut sebagai peringatan untuk dosa-dosa yang telah dilakukan. Oleh karena itu manusia perlu menyatukan frekuensinya dengan Allah dan mohon Karunia Hikmat supaya Menjadi Bijak.

 

Sebuah anekdot :

 

Semoga tidak terjadi pada kita maupun keluarga

Tadi pagi Pak Mukidin, tanpa firasat buruk sedikitpun dan aktifitasnya berjalan normal seperti biasanya, misalnya seperti bangun pagi, mandi, sholat subuh di Masjid dekat rumah, mendengarkan Tausyiah dari Ulama, pulang lalu sarapan kemudian siap untuk berangkat bekerja.

Setelah semuanya selesai kemudian dia bergegas untuk berangkat bekerja dengan mengendarai motornya, namun tiba-tiba…….

Semuanya menjadi   ‘GELAP GULITA’

Pak Mukidin pun tidak bisa melihat apapun juga dan benar-benar gelap… Yang bisa dilakukan hanya mendengar saja… Nafasnya pun terasa agak pengap, sesak dan berat, seperti kekurangan oksigen. Keringatnya mulai bercucuran, dan didalam hatinya bertanya :

“Apakah ajalku sudah dekat ?

Apakah aku sudah siap pergi dengan tiba-tiba ?”

Sempat pula dia berpikir dan berdoa sebisanya :

“Ya Tuhan cobaan apa yang menimpaku saat ini ?

Dan dosa apakah yang telah aku perbuat ?”

Pak Mukidin pun mencoba untuk mengingat kembali, barangkali tadi pagi ada kesalahan yang telah dilakukannya :

“Apakah ini karena tensi darah dan kadar kolesterol yang tiba-tiba naik ? Atau apakah kandungan sarapan tadi pagi ada yang salah ?”

Setelah agak lama marenung dan instrospeksi diri tetapi tidak juga menemukan jawaban atas kejadian ini… kemudian yang bisa dilakukan hanyalah pasrah dan berdoa …..

Namun Tuhan berkehendak lain dan Tuhan pun menyadarkannya…. Setelah selesai berdoa, kemudian dengan perlahan dia mengangkat kedua belah telapak tangannya untuk mengusap muka, dan Astagfirullah ………..… Alhamdulillah ……….…… bahagialah dia …………… ternyata :

 

…. HELM YANG DI PAKAI TERBALIK ….

 

-o0o-

 BANDUNG – INDONESIA, MARET – 2017

Cerita :  Irul S Budianto

(Gubahan Ki Ageng Bayu Sepi)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *