TAKTIK

februari 2017DALAM MENJALANI HIDUP SEHARI-HARI BERMASYARAKAT ADA TIGA HAL YANG HARUS DI KENDALIKAN  YAITU KESELARASAN ANTARA PIKIRAN, PERKATAAN DAN PERBUATAN.

MATA TERINDAH ADALAH MATA YANG SELALU MELIHAT KEBAIKAN ORANG LAIN, MULUT TERINDAH ADALAH MULUT YANG SELALU BELAJAR BERKATA-KATA DENGAN BAIK DAN HATI TERINDAH ADALAH HATI YANG SELALU BERPRASANGKA BAIK TERHADAP ORANG LAIN.

KITA TIDAK BISA MENGUBAH HATI ORANG LAIN UNTUK BERBAIK SANGKA KEPADA KITA

NAMUN ……………………………

KITA BISA MELATIH DIRI UNTUK BERBAIK SANGKA KEPADA ORANG LAIN.

letter memang hari itu terbilang masih pagi, tetapi di Poltabes Kebon Arum terlihat seorang anggota polisi bergegas mendekati seorang Polwan dan berkata :

“Mbak Dinar, ada pasien !” emang hari itu terbilang masih pagi, tetapi di Poltabes Kebon Arum terlihat seorang anggota polisi bergegas mendekati seorang Polwan dan berkata :

Begitulah perkataan Brigadir polisi dua (Bripda) Bramantya yang disampaikan kepada Inspektur Dua Dinar Gita atau Ipda Dinar Gita yang baru saja menyelesaikan sarapan paginya di kantin, dan hanya tersenyum ketika mendengar ucapan teman polisi kepadanya kalau ada pasien, serta balik bertanya :

“Kira-kira kasusnya apa ya, dik  ?”

Karena Dinar Gita adalah seorang anggota polisi dan bukannya seorang dokter praktek maka istilah “pasien” walaupun ucapannya sama namun mengandung arti yang berbeda. Jadi perkataan tadi bukan berarti ada orang yang mau berobat tetapi kata “pasien” tersebut adalah salah satu kode atau sandi yang hanya dimengerti oleh aparat kepolisian.

Dan sebagai seorang anggota polisi tentu saja dia sangat hafal dan sangat mengerti dengan kode tersebut. Sebab dengan kata pasien disitu berarti ada tugas khusus yang harus dilaksanakan mulai dari interogasi, penggeledahan kepada orang yang diduga sebagai pelaku kejahatan, atau menerima dan memeriksa laporan sebuah korban kejahatan.

Dalam hal memeriksa pelaku kejahatan yang dilakukan oleh seorang perempuan memang dianggap perlu kalau pemeriksaan itu dilakukan juga oleh seorang polisi yang sama-sama perempuan. Sebab ada kalanya petugas yang memeriksa harus menggeladah badan dengan cara meraba-raba seluruh anggota badan, andaikata saja yang memeriksa pelaku kejahatan yang dilakukan oleh perempuan dan petugas yang memeriksa adalah seorang polisi lelaki tentu saja agak kesulitan sebab kurang enak dan risih rasanya kalau harus melakukan penggeledahan yang seperti itu.

Kalau seorang Polisi Wanita atau Polwan menanyakan tentang kejahatan yang terjadi dan yang menjadi korban adalah seorang perempuan tentunya akan lebih pas atau lebih tepat. Misalnya seperti halnya kasus pemerkosaan, pelecehan seksual dan yang sejenisnya, pastinya korban akan lebih bisa bercerita atau memberikan laporan kejadian dengan lebih jelas, tidak ragu dan terperinci karena kepada petugas yang sama-sama perempuan.

Secara kebetulan memang Dinar Gita adalah satu-satunya polisi wanita yang ditugaskan di Kesatuan Reserse Poltabes itu. Sebagai seorang anggota reserse tentu saja selain tugas untuk memeriksa pelaku kejahatan, Dinar Gita juga sering mendapatkan tugas di lapangan guna membongkar sebuah kejahatan.

Misalnya saja sebagai sebuah contoh ketika ada tugas dalam rangka membongkar jaringan perdagangan narkotika dan obat terlarang, oleh teman-temannya Dinar Gita dijadikan umpan. Yang dalam penyamarannya di salah satu diskotik Dinar Gita diberikan dandanan seperti seorang perempuan yang sedang ketagihan narkoba (sakaw). Ternyata dengan akting seperti itu, kemudian Dinar Gita berhasil didekati oleh seorang Bandar. Dan informasi yang berasal dari Dinar Gita tersebut maka kasus jaringan perdagangan narkoba kelas kakap itu berhasil dibongkar.

“Waduh, saya sendiri juga nggak tahu  Mbak. Tapi yang jelas perempuan itu tadi datang di ruang reserse dan langsung menangis menjerit-jerit. Teman-teman agak kesulitan untuk bisa menenangkannya, kemudian Pak Kasat memberi perintah saya untuk mencari Mbak Dinar.”

Mendengar apa yang disampaikan oleh Bramantya temannya itu, segera Dinar Gita bergegas pergi ke ruang reserse. Kedatangannya memang sudah ditunggu oleh Pak Kasat dan teman-teman anggota reserse Poltabes Kebon Arum lainnya.

Begitu masuk, dari sudut matanya Dinar Gita tahu bahwa di salah satu kursi di ruangan itu duduk seorang perempuan cantik yang berambut panjang dan terurai. Kedua tangannya terlihat sedang menutupi muka, dan terdengar suara tangisnya yang terisak-isak.

Kemudian Dinar Gita lantas memberi isyarat supaya teman-teman pergi meninggalkan tempat itu, supaya dia bisa lebih leluasa untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada perempuan cantik tersebut.

“Ada apa, Mbak ?” tanya Dinar Gita kepada prempuan itu.

Dengan ditanya seperti itu, perempuan cantik tersebut malah menangis semakin menjadi-jadi dan bertambah keras. Lalu Dinar Gita berupaya agar bisa menenangkan perempuan itu supaya meredakan tangisnya kemudian bisa menjelaskan kejadian kasus yang telah dialaminya.

“Mbak, masalahnya tidak akan pernah selesai kalau hanya ditangisi saja, oleh karena itu mari ceritakan saja dengan jelas dan terbuka apa yang telah terjadi dan dialami. Dan Mbak sekarang tidak usah khawatir ataupun merasa malu, karena disini sudah tidak ada siap-siapa lagi, hanya kita berdua.”

Ternyata apa yang telah diucapkan oleh Dinar Gita tersebut sangat manjur. Kemudian perempuan cantik itu secara berangsur mulai menghentikan tangisnya walaupun masih terdengar isaknya secara perlahan. Dengan sabar Dinar Gita membujuk agar perempuan yang mengaku bernama Wulandari itu mau menceritakan apa yang telah dialami, kemudian bagaimana awal kejadiannya dan mengapa sampai melapor ke kepolisian sambil menangis.

“Saya telah ditipu mentah-mentah, Mbak,” jawab perempuan itu singkat  mengawali ceritanya.

Kemudian Wulandari yang bekerja sebagai seorang sekretaris di salah satu perusahaan itu lalu mulai bercerita dalam posisinya sebagai seorang perempuan. Sebagai perempuan walaupun sudah berumur dan sekarang sudah menginjak umur 36 tahun tetapi masih gadis dan belum mempunyai pasangan atau masih jomblo.

Sehubungan dengan hal tersebut diatas dirinya merasa seperti sedang dikejar-kejar oleh waktu dan keadaan, kemudian berupaya bagaimana caranya agar bisa cepat mendapatkan jodoh. Berbagai cara sudah pernah dicoba, dimulai dengan meminta bantuan teman sebagai ‘mak comblang atau perantara’  hingga ke biro jodoh bahkan sampai meminta bantuan Mbah Mulyadi seorang paranormal kondang, namun sampai sekarang belum juga nampak ada hasilnya.

Akhirnya pada suatu saat Wulandari berkenalan dengan seorang lelaki tampan lewat jejaring social yang mengaku bernama Priambada, seorang Sarjana Teknik atau Insinyur dan juga sebagai kontraktor.

“Awalnya aku mengenal dia lewat facebook Mbak,” lanjutnya kemudian.

Dengan beranggapan bahwa Priambada adalah merupakan lelaki idaman, kemudian Wulandari mulai berani berkenalan lebih jauh. Mulai dari meminta nomor handphone hingga ‘kopi darat’ alias merencanakan pertemuan khusus di sebuah kafe.

Ketika dalam pertemuan itu Wulandari semakin merasa bahwa Priambada adalah merupakan sosok lelaki yang menjadi impiannya selama ini. Disamping memiliki wajah yang tampan juga merupakan seorang yang hidupnya sudah sangat mapan. Hal itu bisa dilihat bahwa mobil yang dinaiki adalah mobil keluaran terbaru. Apalagi ketika baru saja atau  belum lama bekenalan Priambada sudah memberikan hadiah khusus untuknya yaitu berupa sebentuk cincin emas yang sangat indah.

“Pendek kata aku sangat berbunga-bunga saat itu, Mbak. Apalagi ketika hendak kuperkenalkan kepada orang tuaku dia juga menyetujui dan mengikuti saja rencana itu. Bahkan kedua orang tuaku juga merasa senang sebab aku sudah mendapatkan jodoh, apalagi jodoh yang kuperoleh tersebut bukan orang sembarangan atau orang yang biasa saja.

Ayah dan ibuku pun berkata kalau Mas Priambada memang sudah serius agar segera memberitahukan hal tersebut kepada ayah dan ibunya. Bahkan Mas Priambada pun berjanji bahwa sebulan lagi utusan dari keluarganya akan datang untuk meminangku..…”

Setelah berbicara dan menyampaikan cerita yang agak panjang itu kemudian Wulandari terlihat berhenti sejenak dan menarik napas panjang. Kemudian Dinar Gita mempersilahkan mencicipi dan menikmati minuman dan makanan yang telah disediakan diatas meja. Tetapi kelihatannya perempuan itu tidak berselera.

“Saya teruskan ya Mbak, “ katanya kemudian dan Dinar Gita hanya menganggukkan kepalanya. “ Ya karena Mas Priambada kelihatannya sangat serius maka ketika aku diajak pergi ke villa, aku pun tidak berkeberatan dan hanya menurut saja. Sebab katanya itu adalah sebagai bukti cinta….”

Mendengar apa yang telah dicerikan itu, di dalam hatinya Dinar Gita membodoh-bodohkan Wulandari. Karena terlampau bodoh dan mudah percaya untuk menyerahkan barang yang paling berharga kepada orang yang baru saja dikenalnya.

“Tidak hanya itu, Mbak,” lanjutnya lagi.  “Ketika Mas Priambada meminjam mobil sebab katanya mobilnya sedang berada di bengkel dan meminjam uang puluhan juta rupiah yang alasannya untuk menutup kebutuhan pembelian marterial di sebuah proyek besar. Dan bodohnya aku tidak memikir panjang serta mengabulkan apa yang menjadi permintaan Mas Priambada.”

Lagi-lagi dalam hatinya Dinar Gita berkata : “Kamu memang bodoh ! ”

“Kemudian aku mulai curiga karena sudah selama dua minggu dia tidak lagi datang berkunjung kerumah. Apalagi janjinya akan datang dengan membawa ayah dan ibunya untuk melamarku tidak kunjung ditepati. Selanjutnya aku mencoba untuk pergi mendatangi ke rumahnya yang terletak di perumahan mewah di pinggiran kota.

Tetapi ternyata di rumah itu sudah kosong. Menurut informasi dari tetangganya, bahwa Mas Priambada tinggal disitu hanya sebagai penyewa untuk sementara waktu. Lalu aku sendiri tidak tahu harus bagaimana bisa melacaknya sebab tidak mempunyai alamat atau tempat tinggalnya yang asli. Jadi jelasnya aku sudah tertipu mentah-mentah. Tertipu luar-dalam habis dengan modal-modalnya Mbak…..”

Setelah selesai menyampaikan dan melaporkan segala sesuatu yang telah terjadi dan dialaminya itu kemudian Wulandari kembali menangis dengan keras sebagai tanda penyesalannya. Dinar Gita terus berusaha untuk menghibur dan memenangkan hati Wulandari serta berjanji untuk mencoba membantu membongkar kasus yang dialami oleh perempuan cantik tersebut.

Walaupun didalam benaknya Dinar Gita berpikir dan mengakui bahwa memang agak sulit untuk bisa melacak dan membongkar kejahatan yang seperti itu. Sebab nama dan alamat admin yang berada di facebook bisa dibuat seenaknya atau bermacam-macam oleh yang bersangkutan dengan perkataan lain bahwa satu orang bisa mempunyai nama dan alamat puluhan di facebook. Namun paling tidak hal itu bisa untuk dicoba.

-o-

Sore hari itu di ruang kantornya yang memang sudah dilengkapi fasilitas internet, terlihat Dinar Gita sedang asyik mengembara di dunia maya lewat laptopnya. Dia membuka facebook. Ketika memutar-mutar dan mengembara di facebook para temannya tiba-tiba di salah satu facebook Dinar menemukan seseorang yang bernama Adyasmara. Kalau dilihat dari foto dan datanya persis seperti data dan foto Priambada teman facebooknya Wulandari.

Kemudian Dinar Gita mencoba untuk mengajak berkenalan. Dengan menyebutkan data-data yang lengkap dengan fotonya. Tentu saja pada data identitasnya, Dinar Gita tidak akan menyebutkan bahwa kalau dia itu sebenarnya adalah seorang anggota reserse kepolisian.

Dinar Gita hanya mengatakan bahwa bahwa namanya adalah Nona Bthari dan dia adalah seorang perempuan karier yang sudah mandiri. Akan tetapi hingga sekarang masih belum punya pasangan alias jomblo.

Ternyata bahwa pada keesokkan harinya Dinar Gita mendapatkan balasan, bahkan dalam hal menggapinya terlihat sangat antusias sekali. Bahkan Adyasmara mengajak berkenalan dan kopi darat.

“Kalau sekiranya setuju dan tidak berkeberatan kita bisa berbincang agar bisa lebih dekat di Kafe Cinta,” ajak Adyasmara.

Dan di dalam hatinya Dinar Gita bersorak, karena hal itu paling tidak bisa merupakan salah satu cara atau jalan untuk membuka rahasia. Andaikata saja nanti bahwa Adyasmara ternyata bukanlah  Mr. X, atau  orang yang di harapkan kedatangannya, setidaknya dia mendapatkan seorang kenalan baru atau dengan perkataan lain bertambah kenalan seorang teman.

Pada waktu sore hari seperti yang telah disepakati Dinar Gita sudah menunggu di tempat yang ditentukan. Namun sebelumnya Dinar Gita juga telah mengontak Wulandari agar supaya juga ikut datang, tetapi dengan catatan Wulandari harus bersembunyi agak menjauh dengan posisi berada dibelakang orang yang akan ditunggu namun tetap berada dihadapan dengan Dinar Gita. Andaikata saja nanti kalau orang yang ditunggu itu ternyata adalah benar penjahat yang mengaku bernama Priambada, dari kejauhan Wulandari harus memberikan isyarat dengan mengacungkan ibu jarinya.

Tidak lama kemudian orang yang bernama Adyasmara itu datang, ternyata memang sangat gagah dan tampan. Potongan badan yang atletis, apalagi berdandan rapi dan harum. Pokoknya benar-benar merupakan sosok lelaki dambaan kaum perempuan. Kemudian lelaki itu tersenyum sambil berkata :

“Nona Bthari ya. Sudah lama menunggu ?” Memang di facebook Dinar Gita menggunakan nama Nona Bthari yaitu nama anak perempuannya yang masih kecil. Dinar Gita juga membalas senyuman itu dan kemudian mempersilahkan duduk.

Adyasmara pun kemudian duduk berhadapan dan dia menunjukkan sebuah kotak yang bagus bentuknya. Lalu kotak tersebut dibuka dan ternyata di dalamnya berisi sebuah kalung emas yang sanggat indah. Dinar Gita pun berdebar hatinya, apalagi Wulandari belum juga memberikan isyaratnya.

“Ini hadiah untukmu Nona, gadis yang cantik,” kata Adyasmara sambil memberikan kalung dalam kotak tersebut.

Dinar Gita hanya tersenyum manis dan matanya memandang jauh. Dan bersamaan dengan itu pula dari tempat sembunyinya yang agak jauh terlihat Wulandari mengacungkan ibu jarinya.

“Terima kasih untuk hadiah yang sangat indah itu. Tetapi tunggu dulu, ada seorang temanku yang ingin berkenalan…”

Entah dari mana jalan masuknya tiba-tiba saja dari ruang dalam Wulandari keluar dengan senyuman manis yang tersungging dibibirnya. Mengetahui hal itu Adyasmara terlihat pucat di wajahnya. Dan tiba-tiba saja sudah berdiri di sebelah kiri dan kanan meja maupun di belakangnya beberapa orang lelaki yang tadi kelihatannya seperti orang yang biasa-biasa saya dan juga sedang berkunjung di kafe itu seperti yang lain.

“Mohon maaf terpaksa kalung ini tidak bisa saya terima. Dan sekarang anda harus ikut saya ke kantor polisi untuk dimintai keterangan. Aku sebenarnya adalah seorang anggota polisi,” kata Dinar Gita sambil menunjukkan tanda anggota atau identitas sebagai seorang polisi. Kemudian Priambada atau Adyasmara sudah tidak bisa mengelak. Apalagi ketika ada salah seorang polisi yang mendekati dan langsung memborgol tangannya.

Ternyata yang menjadi korban dari kejahatan pria tampan ini banyak sekali. Hal itu diketahui setelah kasus tersebut dimuat di surat kabar  dan orang yang menjadi korban, sengaja datang untuk melaporkan kasus ini bergiliran mengantri.

Adapun yang menjadi kurban bukan hanya dari kota wilayah tugas Dinar Gita, tetapi ada juga dari kota-kota lain. Untungnya lelaki hidung belang itu bisa tertangkap karena masuk perangkap berkat taktik polwan cantik yang memang mempunyai banyak siasat .

-o0o-

Saudaraku pembaca semuanya yang saya hormati terutama di kalangan sendiri, gubahan cerita diatas hanya merupakan sebuah contoh kejadian dalam kehidupan sehari-hari yang bisa dijumpai, dan melalui reka cerita tersebut yang intinya adalah mengenai MENYERAHKAN SESUATU YANG BERHARGA KEPADA ORANG YANG BARU DIKENAL UNTUK MEMPERTAHANKAN CINTA serta SEBUAH PERBUATAN BOHONG untuk MENANGKAP  PENJAHAT yang dapat kita ambil hikmahnya sebagai pesan moral dan bahan perenungan dalam menjalani kehidupan kita masing-masing didalam bermasyarakat.

Kalau diperhatikan bahwa hidup di jaman teknologi dan informasi yang demikian bebas dan mudah didapatkan oleh siapa saja, media sosial yang seharus dipergunakan untuk memberikan infomasi yang baik kepada semua orang yang memerlukan tetapi pada kenyataannya ada yang mempergunakan sebagai sarana yang kurang baik sehingga melanggar norma kesusilaan, norma keagamaan ataupun norma-norma lainnya, yang antara lain dipergunakan untuk menipu, menghasut, menghujat, propaganda, penggiringan opini, menyebarkan berita yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya, pembodohan dan pendangkalan pola pikir atau nalar maupun untuk menyebar fitnah, menyebarkan kebencian dan lain sebagainya.

 

Dilihat dari sisi Wulandari.

Ketika mengarungi dunia internet, Wulandari tidak begitu menyadari risiko dari bahaya yang mungkin bisa ditimbulkan bagi dirinya sendiri. Kejahatan di internet atau dunia maya selalu mengintai penggunanya saat mereka lengah karena penjahat dunia maya memiliki motif  beragam yang telah dirancang untuk memikat dan menjebak para korbannya.

Kebetulan melalui sarana facebooklah Wulandari mendapatkan sesuatu yang mungkin sudah lama didambakan yaitu adanya seorang calon pendamping hidup dan kali ini sudah mendapatkan apa yang diinginkan bahkan ketika sudah mengadakan pertemuan maka menurut pendapatnya bahwa lelaki ini sangat luar biasa disamping berpenampilan tampan, gagah juga kaya yang bisa menakhlukkan hati dan menyenangkan dirinya dengan hadiah serta pandai mengucapkan janji-janji yang meyakinkan seakan semuanya itu sudah pasti.

Kelemahan Wulandari ini dimanfaatkan oleh Priambada, sehingga seperti pada banyak cerita yang telah terjadi ada yang dilakukan dengan cara pemaksaan namun disini bahwa dengan cara merayu yang bersangkutan diminta untuk melakukan hubungan suami istri sebagai bukti cinta, maka Wulandari pun tidak merasa berkeberatan ketika diajak pergi ke villa.

Padahal sudah jelas bahwa aturan agama, aturan kemasyarakatan ataupun aturan hukum melarangnya bahwa hal tersebut hanya sah dan diperbolehkan dilakukan bagi mereka yang sudah menikah secara resmi yang diatur dengan tata aturan yang lengkap. Misalnya harus jelas walinya, jelas mas kawinnya, ada ijab qobul dan lain sebagainya.

Disini Wulandari berada dalam situasi yang dilematis, mau menolak tidak bisa walaupun sudah berusaha karena memang sedang jatuh cinta dan jika ditolak mungkin Priambada akan pergi meninggalkannya sedangkan untuk mendapatkan pengantinya juga akan lebih sulit salah satunya karena faktor usia.

Perlu juga diketahui ketika seseorang sudah terjerat dengan masalah tersebut maka pola pikir atau nalar pun menjadi kacau, bahkan harta benda yang lain pun jika diminta pasti akan diberikan.

Setelah semua itu terjadi dan apa yang diharapkan tidak kunjung menjadi kenyataan barulah kemudian penyesalan itu datang.

Sebaiknya yang seharusnya dilakukan sebelum hal tersebut terjadi dan tidak menimbulkan penyesalan dikemudian hari, harus berani menolak. Misalnya saja dengan cara :

*). Berpikir, apakah saya siap menanggung rasa malu dihadapan orangtua ataupun warga masyarakat setempat kalau ternyata hubungan itu membuahkan hasil, sementara pacar lari dari tanggung jawabnya.

Jika tidak siap,

Maka harus berani mengatakan kepada pacar : “Datangi orangtuaku terlebih dahulu, kemudian lamar dan nikahi aku, setelah itu baru semuanya akan kuserahkan untukmu.”

*). Sebagai orang yang menjalankan syariat agama, harus berpikir apakah sudah siap membayar azab dan balasan dari perbuatan dosa perzinaan yang telah dilakukan.

Jika tidak siap,

Maka harus berani mengatakan kepada pacar : “Dengan alasan apa harus melakukan perbuatan yang sudah jelas dilarang oleh aturan agama sebelum menikah.”

Kalau jawabannya : “Untuk membuktikan cinta dan tanda setia.”

Maka harus berani mengatakan : “Sejak kapan tanda setia dan cinta diartikan sebagai hubungan suami istri yang harus dilakukan sebelum nikah. Sebaiknya kembali kepada iman dan aturan Allah yang kita anut.”

Jika menolak atau memberikan jawaban yang tidak tegas, akan lebih baik kalau dilepaskan saja sebelum semuanya terlambat jika mempunyai pacar atau kekasih yang berperilaku seperti itu karena dia tidak bersungguh-sungguh mau hidup berumah tangga, melainkan hanya menjalankan taktik menginginkan terjadinya hubungan badan saja, dengan berpikiran bahwa dosa di akhirat jauh lebih berat apabila dibandingkan dengan hanya putus pacaran.

Jadi singkatnya lebih baik harus diutamakan kembali ke Iman dan Taqwa kepada Tuhan jangan ke yang lain, karena Dia jauh lebih bisa memenuhi segala kebutuhan daripada bergantung kepada manusia yang lemah.

Meskipun  :

Dengan Iman tidak langsung membawa keluar dari masalah;

– Tetapi dengan Iman menolong, dalam melalui masalah;

– Dengan Iman tidak langsung mengangkat rasa sakit;

– Tetapi dengan Iman memberi kemampuan untuk menangani rasa sakit.

– Dengan Iman tidak langsung membawa keluar dari badai,

– Tetapi dengan iman, bisa menenangkan diri ditengah-tengah badai.

 

Dilihat dari sisi Dinar Gita :

Jujur adalah sebuah sikap atau sifat dari seseorang dalam kehidupan sehari-hari yang menyatakan sesuatu dengan sesungguhnya dan apa adanya, tidak ditambah ataupun dikurangi. Dan sifat jujur ini harus dimiliki oleh setiap manusia, karena sifat dan sikap ini merupakan prinsip dasar dari cerminan akhlak seseorang.

Orang yang jujur, tidak akan pernah berkata “ya” jika di dalam hatinya dia berkata “tidak.” Orang jujur, tidak akan bersifat munafik di hadapan orang lain.

Dan sifat jujur menjadi cerminan dari kepribadian seseorang bahkan peribadian bangsa. Oleh karena itu kejujuran bernilai tinggi dalam kehidupan manusia.

Apa yang telah dilakukan oleh Dinar Gita dengan memberikan identitas palsu kepada Priambada adalah sebuah perbuatan bohong. Dan di dalam ajaran agama apapun juga bahwa yang dikatakan berbohong itu tidak bisa dibenarkan.

Namun ada pendapat sebagai pengecualian apabila bohong tersebut dilakukan untuk sebuah kebaikan atau untuk melindungi dan menyelamatkan.

Misalnya :

*) Seorang dokter yang tidak mengatakan hal sebenarnya tentang parahnya penyakit yang diderita kepada pasien hanya untuk menenangkan dan membesarkan hati si pasien agar bisa lebih cepat sembuh.

*) Contoh lain jika ada seorang anak yang dikejar oleh penjahat dan akan dibunuh, kemudian penjahat tersebut kehilangan jejaknya. Sedangkan kita mengetahui dimana anak tersebut berada tetapi tidak memberitahukan hal yang sebenarnya, ini bisa dimaklumi.

Namun berbeda halnya jika yang lari tersebut adalah seorang penjahat dan sedang dikejar oleh aparat yang berwenang tetapi kemudian petugas tersebut kehilangan jejak. Kita tahu tetapi tidak memberikan informasi yang sebenarnya, dan ini dikatakan sebagai tindakan yang salah atau tidak bisa dibenarkan, bahkan melanggar tentang aturan yang berlaku dan ada hukumannya.

Adapun bohong yang dilakukan oleh Dinar Gita adalah menjalankan sebuah taktik dalam rangka penyamaran untuk menangkap penjahat, karena hanya dengan cara yang demikian itu penjahat tersebut bisa dipancing keluar dari sarangnya untuk ditangkap. Jadi berbohong dalam rangka menjalankan tugas untuk tegaknya keadilan, maka hal seperti itu bisa dimengerti.

 

Dilihat dari sisi Priambada

Apa yang telah dilakukan oleh Priambada adalah perbuatan kriminal yaitu tingkah laku yang melanggar hukum atau tindak kejahatan yang dilakukan baik secara sadar maupun tidak sadar yang merugikan orang lain atau masyarakat.

Kriminalitas merupakan sebuah tindakan yang bersifat negative, di mana setiap pelakunya akan dijerat dengan berbagai macam pasal yang telah diatur penerapannya di dalam undang-undang yang berlaku.

 

Dilihat dari Sisi Pembaca

Sebagai warga masyarakat, dalam melaksanakan kehidupan sehari-hari maka yang diperhatikan adalah bahwa segala sesuatu tindakan yang akan dilakukan harus dikendalikan yaitu harus selaras antara pikiran, perkatan dan perbuatan.

Harus juga berpikiran yang positif, berkata-kata dengan baik dan selalu berprasangka baik pula terhadap orang lain.

Dan harus disadari bahwa kita tidak bisa mengubah hati orang lain agar berbaik sangka kepada kita akan tetapi kita bisa melatih diri untuk berbaik sangka kepada orang lain.

 

Sebuah anekdot :

 

Di sebuah Pemakamam.

 

Ada seorang laki-laki bernama Mukidin dan dia adalah seorang Hidung Belang, lalu mendekati wanita cantik yang ditinggal mati suaminya…

 

Mukidin  (sambil berbisik) : Turut berduka cita ya Mbak atas kepergian suami Mbak…semoga almarhum diterima di sisi Nya.

Wanita : “Terima kasih Mas, atas doanya……!!”

 

Mukidin : “Dan Mbak juga nggak boleh lama-lama larut dalam kesedihan itu..… Kalau diperbolehkan aku mau menggantikan posisi suami Mbak…?

Wanita : “Ah yang bener…..?  Mas serius…?”

Mukidin : “Ya benerlah, aku serius…pokoknya suwerlah…!!”

Sambil berbinar matanya wanita itu bilang ke tukang gali kubur..

Wanita : “Pak…! Tolong makamnya dibongkar lagi…karena pemuda ini ingin menggantikan suami saya….”

Mukidin : “Buuusyyeettt….salah persepsi….”

 

-o0o-

 

BANDUNG – INDONESIA, FEBRUARI – 2017

Cerita :  Hamid Nuri

(Gubahan Ki Ageng Bayu Sepi)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *