BANGKIT DARI KESALAHAN

bangkitKESEMPATAN UNTUK MEMPERBAIKI DIRI AKAN SELALU DATANG DENGAN CARA-CARA YANG TIDAK PERNAH KITA DUGA SEBELUMNYA, KARENA BISA SAJA DENGAN MELALUI SEBUAH PRESTASI, KEMENANGAN, KEBERHASILAN, ATAU BAHKAN BISA JUGA DENGAN MELALUI SEBUAH PERMASALAHAN, KEMARAHAN, KEKALAHAN, KEGAGALAN MAUPUN KESEDIHAN.

KESADARAN DIRI MELAHIRKAN KEMAUAN UNTUK BERUBAH, DAN SANGAT MEMPENGARUHI KEMAMPUAN UNTUK BELAJAR DAN KEMANTAPAN DALAM BERGERAK MELAKUKAN PERUBAHAN.

letter-begitu keluar dari halaman sebuah Lembaga Pemasyarakatan, Wicaksana merasa bebas dan dadanya terasa sangat lapang. Seperti seekor burung yang semula terkurung dan berada di dalam sebuah sangkar, kemudian dilepaskan kembali ke alam bebas.

Bisa bebas lepas serta bersarang dan bersangkar di langit yang luas, berselimutkan mega, beralaskan daun yang segar dari pohoh-pohon yang tumbuh di bumi, dengan leluasa terbang dan hinggap dari pohon satu ke pohon yang lain sambil melirik kesana-kemari barangkali saja ada makanan yang bisa dimakan.

Andaikata saja Wicaksana ini mempunyai sayap, mungkin perilakunya akan seperti burung yang terbang bebas kesana-kemari setelah selama tiga tahun mendekam di Lembaga Pemasyarakatan.

Dahulu ketika Wicaksana pergi meninggalkan rumah gurunya yaitu Mbah Mulyadi setelah belajar ilmu kanuragan, kadigdayaan atau kadugalan sekian lama dan dibekali sebilah senjata pusaka sebagai kelengkapannya oleh karena itu dia merasa sangat yakin bahwa pekerjaan menjadi seorang pencuri atau penjambret tidak akan pernah bisa tertangkap.

Tetapi dia lupa bahwa ada sebuah peribahasa yang mengatakan : “Sepandai-pandainya tupai melompat sekali waktu pasti akan terjatuh juga.”

Seperti hal nya Wicaksana pada saat itu, sepandai-pandainya mencuri akhirnya tertangkap juga.

Setelah menjadi pencuri selama kurang lebih sampai 12 tahun lamanya, baru sekali dimalam itu Wicaksana merasa bernasib sial, naas  dan gatot alias gagal total. Sudah tidak mendapatkan apa-apa tetapi malahan tertangkap oleh warga masyarakat yang marah dan lalu menyiksanya hingga babak belur.

Sangat beruntung ketika itu secara kebetulan lewat polisi yang sedang berpatroli keliling yang kemudian menyelamatkannya. Wicaksana dengan cepat diamankan dari kemarahan dan amukan warga serta dibawa ke kantor polisi untuk menjadi tahanan.

Untuk kejadian selanjutnya setiap orang pasti sudah mengetahui, bahwa Wicaksana diadili di Kantor Pengadilan dan Keputusannya dihukum di Lembaga Pemasyarakatan. Selama tiga tahun hidupnya dijalani didalam penjara dengan hati yang merana.

Sudah dapat dipastikan bahwa mereka semua yang berada di dalam sel tahanan tersebut adalah penjahat, apakah itu seorang pencuri, entah itu pencopet, atau tukang jambret seperti yang dilakukan oleh Wicaksana atau orang-orang yang melakukan kejahatan dengan jenis lainnya.

Dari semua yang berada di dalam sel tersebut terdapat seorang yang kelihatannya sangat berbeda dengan yang lain, orangnya nampak saleh dan tidak banyak bicara. Setiap hari tidak pernah melewatkan kesempatan untuk menghitung butiran tasbih dengan bibir yang berkumat-kamit membacakan dzikir. Pada umumnya teman penghuni sel hanya melirik-lirik saja dengan pandangan meledek terhadap orang tersebut, tetapi tidak pernah ada yang ingin tahu dan menanyakan mengapa dia sampai bertingkah laku seperti itu.

Wicaksana sendiri merasa tertarik hatinya dengan tingkah laku orang tersebut, oleh karena itu pada suatu kesempatan dia mencoba untuk mendekati dan bertanya. Umurnya diperkiraan kurang lebih sekitar 50 tahunan dan sikapnya yang kalem serta sopan dan Wicaksana memanggil dengan nama Bapak Megaswara.

“Pak, mengapa Bapak Megaswara sampai masuk kemari, kesalahan apa yang pernah bapak lakukan ?” tanyanya ingin tahu.

Sambil tersenyum dan melihat ke arah Wicaksana orang tersebut menjawab : “Aku didakwa menjambret kalung berlian,” jawabnya singkat.

“Jadi bapak ini adalah seorang tukang jambret ?”

“Bukan Mas,” jawabnya. “Selamanya aku tidak pernah menjambret, dan aku sendiri tidak pernah menginginkan barang kepunyaan orang lain yang bukan milikku.”

Roman mukanya jadi berubah dan kelihatan sedih, tetapi kemudian dia meneruskan bicaranya dengan suara yang agak serak, : “Tugasku adalah mengajar agama untuk memperbaiki akhlak di masyarakat. Oleh karena itu adalah suatu hal yang tidak mungkin aku lakukan, kalau aku harus dengan sengaja melakukan tindakan penjambretan kalung.”

“Jadi Bapak adalah seorang Guru Agama ?” tanya Wicaksana agar memperoleh penjelasan tentang status orang tersebut.

“Betul,” jawabnya singkat.

“Dan sampai didakwa melakukan penjambretan kalung berlian, itu jalan ceritanya bagaimana Pak ?” pertanyaan Wicaksana mengejar karena ingin mengerti tentang cerita peristiwa tersebut.

Pak Megaswara berhenti sejenak sambil menarik napas panjang, lalu melihat kearah Wicaksana dan teman-teman satu sel yang lain seakan mendadak ingin juga mendengarkan cerita itu. Tetapi kemudian dengan wajah yang sedih Pak Megaswara melanjutkan pembicaraannya :

“Peristiwa yang menimpaku itu terjadi kira-kira kurang lebih sudah 5 bulan yang telah lalu, di sebuah toko swalayan di Jalan Batik Rengganis. Ketika itu aku sedang melihat-lihat baju muslimah, karena ingin membelikan hadiah ulang tahun anak perempuanku yang sudah berumur 14 tahun. Karena tempat itu memang los untuk berdagang busana muslimah tentu saja disitu banyak juga perempuan yang sedang berkerumun melihat-lihat untuk membeli atau berbelanja.

Tiba-tiba saja terdengar suara jerit seorang perempuan yang mengatakan bahwa kalungnya dijambret. Keadaan di toko swalayan  terutama di los itu menjadi kacau balau dan tidak keruan yang akhirnya pintu untuk keluar pun dihadang oleh petugas keamanan. Dan semua orang yang berada diruang itu apalagi yang akan keluar digeledah satu-persatu. Dan yang aneh adalah, bahkan aku sendiri juga tidak mengerti sama sekali bahwa kalung yang dijambret tersebut diketemukan dalam saku celanaku bagian belakang.

Walau bagaimanapun caraku untuk menyangkal dan menjelaskan, bahkan semua teman guru berani bertanggung jawab kalau aku telah dijebak oleh orang lain, tetapi tetap saja aku dianggap sebagai seorang pencuri atau penjambret karena barang bukti yang berupa kalung berlian tersebut diketemukan ada padaku dan akhirnya aku masuk Lembaga Pemasyarakatan ini.”

Mendengar cerita tersebut, seketika itu dada Wicaksana terasa sesak seperti tertabrak atau terbentur oleh sebuah benda keras. Dia merasa sangat bersalah, karena sudah membuat sengsara seorang guru agama yang saleh ini. Bukan hanya sengsara karena masuk penjara saja, tetapi pastinya dia juga dipecat dari pekerjaannya sebagai seorang guru agama, demikian pula anak dan istrinya pun menderita karena ayah dan suaminya sudah tidak mempunyai penghasilan lagi.

Wicaksana teringat sekali pada saat itu ketika dia menjambret kalung berlian yang dipakai oleh seorang perempuan kemudian dia bisa menyelinap tanpa ketahuan oleh yang bersangkutan, akan tetapi ketika pintu untuk keluar dihadang oleh keamanan, Wicaksana tidak bisa melarikan diri.

Untuk membuang bekas, kemudian dengan berjalan seakan hendak membantu orang yang dijembret Wicaksana menyelapkan kalung tersebut di saku celana salah seorang lelaki yang berada didekatnya dan kelihatannya juga hendak menolong. Baru setelah itu dengan sengaja Wicaksana mendekati pintu keluar, lalu digeledah, dinyatakan bersih dan diperbolehkan langsung pergi. Adapun lelaki yang dijadikan tumbalnya waktu itu ternyata adalah bapak Megaswara, seorang guru agama.

Apakah dalam hal ini, Wicaksana telah kuwalat dengan guru agama itu ? Itu yang tidak diketahui, tetapi pada kenyataannya dalam jangka waktu 40 hari setelah peristiwa itu, kemudian Wicaksana tertangkap dan dikeroyok oleh orang banyak yang pada akhirnya menyusul masuk sel di Lembaga Pemasyarakatan.

Cerita tersebut diatas adalah kejadian pada tiga tahun yang telah lalu dan sekarang Wicaksana sudah bebas dan sudah keluar dari Lembaga Pemasyarakatan.

Dari lubuk hatinya yang paling dalam Wicaksana ingin sekali bertemu dengan Bapak Guru Megaswara dan ingin berterus terang serta meminta maaf atas kejadian itu. Akan tetapi yang menjadi permasalahan adalah bahwa Wicaksana sendiri tidak tahu dimana tempat tinggalnya Bapak Guru Megaswara sekarang, karena dia sudah dibebaskan pada setahun yang telah lalu.

Dahulu ketika berada bersama di dalam sel Wicaksana pernah meminta alamatnya, tetapi Bapak Megaswara tidak memberikan. Dia hanya mengatakan bahwa kalau dia tidak akan tinggal di kota itu lagi, karena memang dia bukan asli penduduk kota itu dan setelah bebas nanti dia akan pulang kembali ke kampung halaman beserta semua keluarganya.

Dengan dada yang terasa lapang dan kaki yang terasa ringan seakan hendak terbang Wicaksana melangkah menyusuri jalan-jalan dikota itu menuju tempat kosnya dahulu. Sampai disana ternyata teman kosnya yang bernama Lukarsani masih tetap kos disitu.

Dia terkejut begitu melihat kedatangan Wicaksana, dengan gembira dia berkata : “Lho, koq sudah bebas. Bukankah seharusnya baru bebas bulan depan ?”

“Aku dapat remisi,” jawabnya pendek.

Dengan tergopoh-gopoh Lukarsani menerima kedatangan Wicaksana, lalu menyeduh secangkir kopi panas dan langsung diberikan pada Wicaksana sambil berkata : “Silahkan minum kopi dulu lalu istirahat dan tenangkan hatimu.”

Kemudian Lukarsani mengeluarkan rokok dan setelah minum kopi kemudian Wicaksana juga mencabut sebatang dari tempatnya yang lalu disulut dan dihisapnya.

Lukarsani dan Wicaksana merokok bareng-bareng tetapi untuk sementara waktu mereka masing-masing hanya berdiam diri saja, mungkin merasa bingung mulai dari mana hendak memulai pembicaraan.

Tiba-tiba saja Lukarsani bertanya : “Bagaimana Mas, apakah kamu sudah merasa mantap untuk berhenti dari pekerjaan salah yang sudah pernah kita jalani selama ini ?”

“Sudah sangat mantap, karena selama tiga tahun dipenjara sudah cukup untuk menjadi sebuah pengalaman yang pahit. Sekarang aku ingin hidup yang manis-manis saja, walaupun hanya manis permen. Lalu bagaimana dengan kamu sendiri, Dik Sani ? Apakah kamu masih ingin terus berlanjut ? Dan menunggu sampai tertangkap dan dipenjara seperti aku ini ?” jawab Wicaksana yang sekaligus juga bertanya.

“Tidak,” jawab Lukarsani pendek. “Melihat penderitaanmu saja waktu berada di dalam penjara serta ditambah lagi ketika melihat kesedihan anak dan istrimu pada saat menjenguk, hal itu sudah sangat cukup membuat sadar hatiku. Dan mulai sejak itu aku berhenti melakukan pekerjaan itu lagi, lalu mulai merintis hidup baru dengan berdagang bakso keliling sampai sekarang. Lalu rencanamu sendiri kedepan akan kerja apa Mas Wicak ?”

“Aku akan berdagang sayur keliling,” jawabnya. “Tetapi tidak disini. Aku juga mau pulang ke desaku, berkumpul dengan keluarga dan berdagang sayur mayur disana.”

”Lalu kapan rencanamu pulang kampung, Mas  ?” tanya Lukarsani.

“Sebenarnya aku sudah tidak sabar lagi Dik, sesegera mungkin aku ingin berkumpul dengan anak dan istriku. Oleh karena itu sekarang juga aku akan terus pulang kampung.”

“Oh….”

Namun Lukarsani tidak melanjutkan pembicaraannya tetapi malahan bangkit berdiri dan masuk ke dalam kamar, dan setelah itu tidak beberapa lama kemudian keluar lagi sambil memegang sepucuk amplop.

“Mas Wicak,” katanya sambil meletakkan amplop tersebut diatas meja di depan Wicaksana. “Aku bertahan tetap disini sampai sekarang ini sebenarnya hanya untuk menunggumu sampai bebas. Setelah engkau keluar dari penjara, aku sendiri juga ingin pulang kampung, meneruskan berdagang bakso disana. Dan ini, aku sengaja menyisihkan rejekiku sedikit demi sedikit setiap hari untukmu. Terimalah Mas, untuk ongkos pulang kampung dan untuk membeli sekedar oleh-oleh bagi keluargamu yang sudah tiga tahun tidak pernah diberikan nafkah..”

“Dik Sani….?”

Wicaksana tidak bisa meneruskan perkatannya, hanya ada rasa haru yang menyesakkan dadanya serta tetesan air yang mengalir dari sudut matanya, kemudian dirangkulnya Lukarsani yang merupakan saudara atau adik seperguruan ketika belajar ilmu di Mbah Mulyadi.

Dengan terisak-isak Wicaksana menyampaikan perasaan hatinya yang paling dalam : “Begitu besar rasa kesetyaanmu kepadaku Dik, dan terima kasih sekali.”

“Sama-sama Mas,” jawabnya yang juga terisak-isak ikut menangis.

Setelah kembali duduk, kemudian Lukarsani berkata : “Mas setelah ini nanti, aku akan menyerahkan rumah tempat kontrakkan ini kepada pemiliknya, dan setelah itu aku juga mau pulang ke kampung halamanku. Ini alamatku disana dan ini nomor HP ku dan aku minta juga alamat kampung halamanmu, Mas.

Tetapi aku juga masih punya satu permintaan lagi, kedepan apabila aku sudah mendapatkan jodoh dan melangsungkan pernikahan aku ingin engkau memerlukan untuk datang bersama dengan anak-anak dan juga Pinastiti istrimu, Mas.”

“Aku pasti akan datang, Dik,” jawab Wicaksana singkat dengan penuh keyakinan.

Setelah menulis dan bertukar alamat, tangannya saling menggenggam dengan erat. “Sekali lagi terima kasih Dik Sani. Aku pamit. Selamat berpisah sampai ketemu lagi. Mari dengan mantap kita meninggalkan jalan yang melenceng menuju kearah jalan yang benar. Marilah kita sama-sama berdoa agar selalu dilindungi dan dibimbing oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.”

“Aamiin..Selamat jalan Mas. Kapan-kapan jika ada waktu dan kesempatan aku juga akan menjengguk ke tempat tinggalmu Mas.”

Dengan penuh rasa haru Wicaksana melangkah perlahan meninggalkan teman karib yang juga saudara seperguruannya untuk kembali kepada keluarganya.

Saudaraku pembaca semuanya yang saya hormati terutama di kalangan sendiri, gubahan cerita diatas hanya merupakan sebuah contoh kejadian dalam kehidupan sehari-hari yang bisa dijumpai, dan melalui reka ceritera tersebut yang intinya adalah mengenai TUMBUHNYA SEBUAH KESADARAN untuk BANGKIT DARI KESALAHAN yang dapat kita ambil hikmahnya sebagai pesan moral dan bahan perenungan dalam menjalani kehidupan kita masing-masing didalam bermasyarakat.

 

Yang harus difahami bahwa tidak ada suatu apapun yang terjadi secara kebetulan di Dunia ini, karena segala sesuatu nya Telah Diatur Oleh Yang Maha Kuasa.

Misalnya saja ketika manusia ditimpa musibah, bencana atau keadaan yang sulit, banyak dari mereka yang meratapi nasib dan menyalahkan Tuhan.

Depresi, kecewa dan putus asa selalu menghantui dirinya. Namun, jika mau berpikir kembali, bijaksanalah jika akan selalu menyalahkan keadaan ? Apakah masalah akan pernah selesai jika hanya menyalahkan keadaan ?

Tidak ada suatu apapun yang terjadi secara kebetulan di dunia ini, karena segalanya telah diatur oleh Yang Maha Kuasa. Sekecil apapun peristiwa yang telah terjadi, sudah tentu merupakan kehendak-Nya. Tuhan selalu punya alasan mengapa Dia memberikan keadaan yang demikian kepada umatNya. Bila dicermati, bahwa sesungguhnya Tuhan ingin semua manusia mempelajari hikmah dari kejadian tersebut.

Tuhan tidak akan memberi cobaan yang tidak bisa dilewati oleh hamba-Nya. Karena itu percayalah, Mengapa Tuhan memilih Anda dalam kehidupan ini untuk menjalani keadaan sulit yang Anda rasakan, adalah karena Tuhan tahu bahwa Anda mampu melewatinya., jika orang lain yang mengalami apa yang Anda alami, belum tentu mereka bisa sekuat Anda saat ini.

Setiap kesukaran, kesulitan maupun hambatan yang kita alami adalah hanya semata-mata merupakan kesempatan untuk mengasah kita menjadi pribadi yang lebih kuat.

Misalnya saja disatu pihak seseorang yang berpendidikan sarjana bekerja sebagai pegawai kantoran dengan gaji 3 juta perbulan, namun di lain pihak, seseorang yang hanya berijazah SMP mampu menghidupi keluarga lewat usaha tambak ikan dengan penghasilan yang berkali lipat.

Kesulitan dalam mendapatkan pekerjaan memang seringkali membuat manusia berpikir lebih keras, bagaimana caranya untuk memperoleh uang. Tetapi jika setiap permasalahan yang dihadapi dengan berpikiran positif, tentu hasil yang akan didapatkan juga positif.

Mari kita mencoba untuk menengok orang-orang yang dalam hidupnya tampak bahagia. Disitu pasti kita akan menemukan satu sisi yang membuat orang itu merasa hidupnya tidak sempurna. Begitu pun dengan kehidupan diri kita sendiri. Andaikata pada saat ini kita merasa mempunyai permasalahan, mari kita selesaikan dengan tawakal tanpa pernah mengeluh. Itu adalah merupakan sebuah ujian yang Tuhan berikan sesuai dengan porsi kemampuan kita.

 

Berusaha Bangkit dari Kesalahan

Yang namanya salah atau kesalahan pasti semua orang sudah mengetahui dan juga sudah pernah bertemu dengannya. Hanya saja sebagian orang ada yang tidak dengan sengaja melakukan kesalahan tersebut namun sebagian lagi justru dengan sadar melakukannya atau dengan perkataan lain sengaja melakukan kesalahan itu.

Sebagai manusia seperti yang lainnya, kita juga pasti pernah jatuh dalam kesalahan yang telah kita lakukan dan terjerumus kedalam keadaan kecemasan yang parah.

Tetapi ada yang lebih parah yaitu jika ada seseorang yang masuk dalam keadaan seperti itu dan susah sekali untuk keluar. Namun sebagai makhluk yang mempunyai akal, tentu kita bisa berpikir bagaimana caranya agar kita bisa selalu bangkit dari setiap kesalahan yang kita alami.

 

Beberapa tahapan untuk Bisa Bangkit dari Kesalahan

  1. Semua Orang Pernah Melakukan Kesalahan

Tidak ada orang yang pernah luput dari yang namanya kesalahan, karena itulah kesalahan merupakan bagian dari hidup seseorang. Bahkan Nabi pun sebagai seorang manusia pernah melakukan kesalahan, namun Nabi segera memperbaiki kesalahan yang dilakukannya.

Yang perlu diingat bahwa manusia bukanlah malaikat yang selalu taat dan patuh pada peraturan dan manusia pun tidak selalu melakukan tindakan yang benar.

  1. Bukan Hanya Bersedih tetapi Harus Melakukan Perbaikan.

Jika manusia melakukan kesalahan, terkadang dia terjerumus ke lembah penyesalan yang terlalu dalam. Sehubungan dengan hal itu jangan terlalu lama bersedih dengan suatu kesalahan yang telah terjadi, tetapi segeralah melakukan perbaikan atas kesalahan yang telah terjadi tersebut.

  1. Harus Berani Mengaku Salah

Jangan takut untuk mengakui kesalahan yang telah dilakukan, justru  dengan menutupi kesalahan yang telah dilakukan, hal itulah yang akan membuat hidup menjadi semakin tidak tenang. Harus berani mengakui semua kesalahan yang telah dilakukan dengan jujur, karena dengan mengakui kesalahan, belum tentu resiko yang dihadapi lebih buruk bila dibandingkan dengan kalau harus menutupinya.

  1. Harus berani meminta maaf dan berhenti untuk mengulanginya.

Seperti yang telah disebutkan diatas bahwa tidak ada manusia yang tidak pernah melakukan kesalahan serta harus berusaha untuk memperbaiki kesalahan yang telah dilakukan maka manusia dituntut untuk berani meminta maaf atas kesalahan yang dilakukan dan tidak akan mengulanginya lagi dengan perkataan lain harus bertobat.

  1. Menjadikan Pelajaran dari Setiap Kesalahan Sendiri & Orang Lain

Dibalik setiap peristiwa yang terjadi pasti ada hikmahnya, oleh karena itu gunakanlah setiap hal yang pernah terjadi terutama kesalahan menjadi pelajaran yang selalu dapat dikenang. Bukan hanya sekedar dari kesalahan yang dialami sendiri, namun juga dari setiap kesalahan yang didengar atau kesalahan yang dilihat karena dilakukan oleh orang lain.

-o-

Berkaitan dengan hal tersebut diatas, bahwa hidup manusia yang serba terbatas ini harus selalu berjaga-jaga dan siap siaga karena tidak ada yang tahu kapan panggilan Tuhan itu akan datang.

Tetapi banyak manusia yang ingin tahu tanda dan waktunya agar bisa menunda-nunda, bersantai-santai menunggu saat terakhir dan tidak menyadari bahwa panggilan itu datangnya bagaikan berkunjungnya seorang pencuri di tengah malam.

Bahwa selama dalam berjaga-jaga dan bersiap siaga hal yang terpenting adalah bersihkan hati, pikiran dan perasan serta isi hidup ini dengan berbagai kebaikan dan kebajikan.

Karena pada kenyataannya bahwa manusia hanyalah pengendara di atas punggung usianya.

Digulung hari demi hari, bulan dan tahun tanpa terasa………..

Napasnya terus berjalan seiring dengan jalannya waktu yang setia menuntun ke pintu kematian…………….

Sebenarnya dunialah yang semakin dijauhi dan liang kuburlah yang semakin didekati.

Satu hari berlalu, berarti satu hari pula berkurang umurnya.

Umur seseorang yang tersisa di hari ini sungguh tidak ternilai harganya, sebab esok hari belum tentu menjadi bagian dari dirinya.

Oleh karena itu, jika sehari berlalu tapi tiada Kebaikan dan Kebajikan yang telah dilakukan maka akan keringlah batinnya.

Jangan sampai terpedaya dengan badan yang sehat dan umur yang masih muda, karena syarat untuk mati tidak harus menderita sakit atau berumur tua terlebih dahulu.

Teruslah berbuat baik dan berkata baik…..!!

Kemarahan bukanlah kebaikan…!!

Namun teguran dan kritisi yang positif dengan cara yang santun akan membuat perubahan kearah yang lebih baik.

Itu adalah tanda kepedulian akan hal-hal yang baik.

Walaupun tidak banyak orang yang mengenali, tapi kebaikan dan kebajikan yang telah dilakukan yang akan menuntunnya pada kebahagiaan, dan akan dikenang oleh mereka yang ditinggalkan….

-o0o-

 

Sebuah anekdot :

MENYADARI  KESALAHAN  KETIKA  ADA  RAZIA ATAU OPERASI KENDARAAN  BERMOTOR

Pada suatu hari ketika berada di jalan Bay Pass tepat di depan gedung ABC, Mukidin terjebak oleh sebuah keadaan yang macetnya luar biasa, nggak tahunya di depan sedang diadakan razia atau operasi kendaraan bermotor dan mobil. Mau memutar dan balik arah sudah tidak bisa atau sudah tidak memungkinan lagi, karena posisinya sudah terjepit baik di sisi kiri dan kanan maupun muka dan belakang.

Akhirnya Mukidin dengan terpaksa dan perlahan-lahan maju mengikuti lajunya barisan antrian kendaraan roda 2 yang berada didepannya. Sepertinya semua orang yang sedang terjebak dan berada dalam barisan antrian itu memperhatikan ke arah Mukidin. Jika dilihat dari mimik muka mereka mungkin saja diantaranya ada yang merasa kasihan, tetapi mungkin juga ada yang malah mentertawakannya.

Mukidin baru menyadari kalau dirinya saat itu tidak mengenakan helm bahkan tidak membawa dompet, yang jelas pasti dompet itu berada di celana yang lain dan belum dipindahkan isinya serta ketinggalan di rumah. Saat itu yang terkena razia sangat banyak. Hari yang sudah siang dan cuaca yang sangat panas membuat keringat membasahi seluruh tubuhnya.

Antrian Mukidin semakin mendekat dan ketika tepat dihadapan petugas kepolisian, yang sepertinya sejak dari tadi Pak Polisi tersebut selalu memperhatikan keadaan dirinya, tetapi Mukidin hanya bisa diam dan menundukkan kepalanya sambil maju perlahan-lahan dengan hati yang berdegub keras tidak keruan.

Tiba-tiba Pak Polisi itu bertanya : “Ngapain pak ikut mengantri disini ?”

Mukidin menjawab dan balik bertanya : “Bapak kenal dengan saya ?”

Tetapi Pak Polisi itu malah memerintahkan : “Maju saja pak sana, lanjut…..”

Alhamdulillah Puji Tuhan, Mukidin hatinya merasa lega karena tidak diapa-apakan oleh Pak Polisi itu dan ketika menengok kearah belakang antrian sudah semakin panjang, karena kendaraan yang lain distop atau diberhentikan untuk diperiksa kelengkapan maupun surat-suratnya.

Ya sudah kalau begitu, akhirnya Mukidin segera maju sambil mengayuh sepedanya dengan agak lebih kuat…….

Jangan terlalu serius membacanya…………..

 

 

BANDUNG–INDONESIA, JANUARI – 2017

Cerita :  Suryadi WS

(Gubahan Ki Ageng Bayu Sepi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *