rezeki
PENYAKIT HATI MERUPAKAN SESUATU YANG TIDAK BOLEH DIMILIKI DAN HARUS DIHAPUSKAN DARI DALAM DIRI KARENA DAPAT MERUSAK DAN BERDAMPAK BURUK, NAMUN ADA JUGA IRI HATI YANG DIPERBOLEHKAN YAITU IRI HATI DALAM HAL BERBUAT KEBAJIKAN.

AKAN LEBIH BAIK APABILA TERLEBIH DAHULU MELIHAT KEADAAN DIRI SENDIRI ATAU MAWAS DIRI SEBELUM MENGATAKAN DAN MENILAI ORANG LAIN

TUHAN MEMBERIKAN REJEKI KEPADA SEMUA MAKHLUKNYA, AKAN TETAPI TIDAK DENGAN “TANGAN KOSONG”, ARTINYA SESEORANG AKAN MENDAPATKAN REJEKI ITU KALAU DIA MAU BERUSAHA DAN REJEKI ITU TIDAK AKAN PERNAH TERTUKAR DENGAN REJEKI ORANG LAIN.

sudah bertahun-tahun lamanya Bayu Wicaksana menekuni pekerjaan dengan berjualan pakaian di sebuah los atau kios di pasar, perasaannya tenang dan tenteram, karena barang dagangannya laku dengan lumayan baik. Akan tetapi semenjak kios disebelahnya mulai ditempati oleh seorang pedagang baru yang bernama Asmaranti, suasananya menjadi sangat tidak nyaman, karena apa yang dilakukan Bayu Wicaksana selalu tidak pernah ada yang benar, selalu berbeda yang kemudian menjadi bahan perselisihan.

Baru juga berdagang selama seminggu Asmaranti sudah berkata, : “Kang Bayu, Kang Bayu kan seorang lelaki maka seharusnya Kang Bayu tidak berjualan barang keperluan perempuan seperti misalnya BH. Karena barang itu kan menyangkut rahasia perempuan. Andaikata saja jika ada seorang perempuan yang akan membeli BH, lalu membicarakan ukurannya, kan kedengarannya kurang pantas ?”

“Oh, ya sudah jika memang kedengarannya kurang pantas, kalau begitu saya tidak akan bejualan BH lagi,” kata Bayu Wicaksana mengalah.

Mulai sejak itu lalu Bayu Wicaksana sudah tidak pernah lagi membeli ataupun menerima titipan dagangan berupa BH. Tetapi lain waktu Asmaranti kembali datang dan berkata : “Kang Bayu, Celana Dalam perempuan itu kan kurang pantas jika Kang Bayu yang menjualnya. Coba pikirkan jika ada seorang perempuan yang akan membeli Celana Dalam lalu membicarakan ukurannya, itu kan lebih tidak baik untuk didengarnya.”

“Iya, betul Teh Ranti,” jawab Bayu Wicaksana kalem. “Nah jika demikian aku tidak akan berdagang celana dalam untuk perempuan lagi, kalau begitu barang dagangan celana dalam yang ada di kios ini silahkan diganti harga belinya semua,”
“Ya boleh, tetapi hanya dengan setengah harga saja,” jawabnya pendek.
“Lha, kalau barang dagangan itu diganti hanya sebesar setengah harga saja aku kan rugi banyak, Teh.”
“Lalu aku harusnya bagaimana,” katanya dengan nada sinis. “Barang itu kuanggap sebagai barang yang sudah lama, karena memang sudah lama di pajang disitu kan ?”
“Ya sudah, kalau begitu terserah sesukamu saja, Teh,” kata Bayu Wicaksana mengalah.

Semenjak saat itu Bayu Wicaksana tidak lagi berdagang celana dalam perempuan. Dan setiap ada orang yang menanyakan celana dalam atau BH langsung ditunjukkan pada kios yang berada di sebelahnya, yaitu tempat Teteh Asmaranti bedagang. Keadaan tersebut berjalan hingga 2 bulan lamanya, dan ternyata dagangan Bayu Wicaksana lakunya juga masih tetap lumayan. Seperti kaos, celana kolor, sarung, baju, daster, rok, gamis, jilbab, semua laku keras.

Dan sebuah kenyataan bahwa kios milik Bayu Wicaksana memang lebih ramai dan menjadi tempat yang selalu dikunjungi ibu-ibu dan para remaja, sebab barangnya memang serba bagus dan potongannya pun selalu mengikuti mode. Apalagi dalam caranya berdagang, Bayu Wicaksana mengambil untungnya hanya sedikit.

Dan hal itu lah yang menyebabkan Teteh Asmaranti menjadi tidak senang, atau malah menjadi semakin jengkel. Hingga pada suatu sore ketika akan tutup, Asmaranti masuk ke dalam kios milik Bayu Wicaksana sambil berkata-kata, : “Kang Bayu, orang berdagang itu harus yang wajarlah, tidak usah menggunakan jampi-jampi penglaris.”

“Penglaris yang bagaimana , ya Teh ?” tanya Bayu Wicaksana ingin jelas.
“Hoalaaahhh, tidak usah berpura-pura bodoh lah Kang,” katanya sambil mencibirkan bibirnya. “Jujur saja kang Bayu menggunakan persyaratan untuk pelarisan, kan ?”
“Enggak Teh,” jawab Bayu Wicaksana membela diri. “Sejak dahulu aku berdagang biasa-biasa saja dan wajar serta tidak pernah mencari syarat atau bumbu-bumbu yang macam-macam agar daganganku laku.”
“Halaaaah, tidak usah mengelak. Sangat ketahuan dan sangat kentara sekali serta tidak bisa disembunyikan, Kang. Karena aku sendiri sudah berpengalaman dalam hal berdagang mulai sejak kecil.”

Sebetulnya Bayu Wicaksana sendiri mulai jengkel dengan apa yang dituduhkan kepadanya dan tidak jelas itu, tetapi rupanya dia tidak mau melawannya. Karena sejak dulu selalu dipesankan oleh ibunya, agar jangan sekali-kali bertengkar melawan perempuan. Jika bertemu dengan perempuan yang suka mencari gara-gara lebih baik dihindari saja atau mengalah. Itu pesan almarhumah ibunya yang sudah lama meninggal dan selalu diingat serta dijalankan selama hidupnya. Maka walau merasa jengkel sebesar apapun tetap ditahannya, malahan didekati dan diajak berbicara dengan baik-baik.
“Teh, aku betul-betul tidak pernah mencari persaratan sebagai penglaris barang dagangan. Dan kalau memang daganganku laku keras dan banyak pembelinya karena kualitasnya memang bagus juga karena memang aku sudah lama berdagang disini, jadi sudah banyak yang kenal. Sekarang begini saja, kalau Teteh mau mengambil barang dagangan dariku nanti kan juga bisa laku keras,” kata Bayu Wicaksana menjelaskan.
“Kalau begitu caranya ya enak dikamu, dan nggak enak di saya, Kang.”
“Lalu harus bagaimana ? Apakah Teteh juga mau belanja bareng-bareng dengan ku ?
“Enggak ah,” lagi-lagi jawabnya sinis.
“Lalu maunya Teh Ranti, bagaimana ?”
“Begini saja, mulai sekarang Kang Bayu khusus hanya berdagang pakaian untuk laki-laki dan aku khusus berdagang pakaian untuk perempuan. Bagaimana setuju atau enggak ?”
Kemudian Bayu Wicaksana mulai memikirkan tawaran Asmaranti tersebut, karena menurut pengalaman berdagangnya selama ini semua barang dagangan yang banyak pembelinya itu memang pakaian untuk perempuan. Tetapi kalau sekarang hanya berdagang khusus pakaian lelaki mungkin akan berkurang pembelinya atau mungkin bahkan tidak laku. Namun jika tidak diikuti apa yang menjadi kemauan Asmaranti pasti akan terjadi pertengkaran. Lalu dipikirnya tawaran tersebut sampai beberapa waktu yang akhirnya Bayu Wicaksana pasrah.
“Ah ya sudahlah, kalau nanti memang sudah rejekinya pasti akan ada jalannya,” katanya dalam hati.

“Bagaimana, Kang Bayu setuju atau tidak ?” tanya Asmaranti mendesak.
“Iya silahkan, kalau begitu ambil semua barang dagangan pakaian perempuan,” jawab Bayu Wicaksana mengalah.
Kemudian, barang-barang berupa rok, daster, jilbab, mukena, semua pakaian perempuan diangkat dan dipindahkan ke kios Asmaranti. Bahkan dalam menghitung harga barang-barang tersebut juga sekehendaknya sendiri. Pada hari berikutnya ketika langganan pemasok barang datang dan akan mengisi barang dagangan berupa beberapa jenis pakaian untuk perempuan yang sudah laku atau sudah berkurang jumlahnya, maka oleh Bayu Wicaksana disuruhnya ke kios Asmaranti.
Bayu Wicaksana sendiri hanya menerima titipan dagangan celana kolor dan kaos. Agar dagangan terlihat penuh dan beraneka macam serta bisa menarik minat pembali maka dagangan kaos yang tersedia jenis-jenisnya dilengkapi misalnya mulai dari kaos singlet, kaos oblong, kaos berkrah, kaos lengan panjang, jaket dari bahan kaos dan sebagainya. Demikian pula dengan jenis celana kolor yang ada juga di lengkapi, misalnya ada yang panjang, tanggung, pendek dan juga tersedia dengan bermacam-macam model.

Pada awal mulanya atau sehari dua hari sejak hanya berdagang jenis kaos dan celana kolor saja pembeli banyak berkurang. Akan tetapi semakin bertambah hari atau lama kelamaan sedikit demi sedikit jumlah pembeli semakin meningkat, khususnya mereka yang membutuhkan kaos. Sebab di kios tersebut segala macam model kaos lengkap tersedia.
Akhirnya kios itu pun pulih ramai kembali. Tetapi sebaliknya di kios yang di kelola Asmaranti yang semula pembelinya banyak, namun entah apa yang menjadi penyebabnya semakin lama pembelinya semakin berkurang, akhirnya sangat jarang ada orang yang belanja ke kiosnya.
Tetapi ujung-ujungnya Bayu Wicaksana lagi yang harus menjadi korban. Hingga pada suatu sore Asmaranti masuk lagi ke kios milik Bayu Wicaksana sambil menunjuk-nunjukkan jari tangannya dan berkata-kata sinis sambil mencibir-cibirkan bibirnya.

“Nah apakah Kang Bayu, mau mengelak lagi ? Sekarang kan sudah terbukti dan sudah jelas terlihat kalau Kang Bayu mencari persyaratan untuk penglaris dan persyaratan untuk menjatuhkan teman berdagang. Dan buktinya nyata dan sudah terlihat dengan jelas.
Dahulu ketika Kang Bayu berdagang pakaian perempuan sangat laku tetapi ketika aku yang berdagang jadi jatuh dan tidak ada orang yang berbelanja, jangankan berbelanja melihatpun juga tidak. Tetapi sebaliknya di kios kang Bayu yang hanya berdagang celana kolor dan kaos saja pembelinya malah berjubel.
Dari sini kan sudah terlihat dan dengan jelas telah terbukti apa yang telah dilakukan Kang Bayu, apakah masih tetap akan mengelak ?”

Bayu Wicaksana menjadi pusing sendiri dan harus bersikap bagaimana serta harus mengatakan apa ? Sampai beberapa saat dia hanya berdiam diri tetapi Asmaranti masih tetap berkata-kata seenaknya, sampai tetangga kios lain keluar dan memperhatikan yang sedang marah apalagi para pengunjung yang sedang lewat. Tetapi ketika mendengar apa yang sedang dikata-katakan Asmaranti, mereka lalu pergi dan tidak mau memperhatikan lagi.

Akhirnya Bayu Wicaksana sendiri juga sudah tidak kuat lagi untuk menahan apa yang dituduhkan kepadanya, namun kemudian dia malahan bertanya : “Teh, apakah Teteh Asmaranti sudah yakin dengan apa yang sudah Teteh katakan tentang saya ?”
“Sangat Yakin,” sahutnya ketus. “Kalau tidak yakin, aku tidak akan bicara,” lanjutnya.
“Jadi Teteh sudah yakin kalau dikiosku kupasang pelarisan dan dikiosmu kupasang untuk penghancuran, begitu ?”
“Yakin sekali,” jawabnya mantap.

Kemudian Bayu Wicaksana mengambil semua uang yang berada di laci dan dimasukkan kedalam tas. Lalu kunci kiosnya diberikan kepada Asmaranti sambil berkata : “:Teh, aku adalah orang yang tidak senang cekcok. Kalau memang Teh Asmaranti sudah yakin dengan pendapat Teteh, maka mulai sekarang kios ini kuberikan pada Teteh beserta seluruh isinya, dan teruskan berjualan disini. Aku akan pergi.”

Dengan menyelendangkan tas yang berisi uang, kemudian Bayu Wicaksana segera pergi dengan naik motor meninggalkan tempat itu.
Sudah seminggu lamanya Bayu Wicaksana belum juga berdagang, kelihatannya sedang berpikir tentang apa yang akan dijalani untuk kedepannya. Setiap malam hari tiba, setelah isya dia berjalan-jalan memutari desa dan pematang sawah.

Kalau sudah lelah baru kemudian pulang dan tidur kemudian bangun malam shalat tahajud memohon petunjuk dari Yang Maha Kuasa. Besoknya kembali berjalan-jalan mencari informasi dan akhirnya usaha tersebut tidaklah sia-sia dan mendapatkan hasilnya yaitu memperoleh sebuah ide ketika tanpa sengaja Bayu Wicaksana bertemu dengan mbak Larashati dan suaminya mas Sukmahaji yang sedang berdagang perabotan dan peralatan untuk berkebun, bertani, pertukangan dan lain-lain.

Awalnya Bayu Wicaksana bertanya tentang berbelanja dagangan seperti ini tempatnya dimana, lalu bagaimana cara menjualnya serta lengkapnya peralatan seperti itu apa saja. Berdasarkan penjelasan yang diperoleh dari temannya sekeluarga tersebut Bayu Wicaksana menjadi semakin mantap untuk berdagang peralatan berkebun atau pertanian, pertukangan diantaranya sabit, golok, sendok tembok, linggis,tang, cangkul, singkup dan lain-lain. Seminggu setelah itu Bayu Wicaksana sudah mulai bekerja lagi dengan berdagang peralatan.

Cara berdagangnya pun tidak lagi menunggu di dalam kios, tetapi hanya didasarkan atau diampar dipinggir jalan dekat pasar dan tidak menetap di suatu tempat tetapi selalu berpindah-pindah tempat. Berdagang dengan cara demikian memang tidak membosankan tetapi malahan semakin menambah banyak kenalan.

Dan berdagang perabotan itu setelah dijalani kurang lebih selama 2 bulan Bayu Wicaksana menyenangi pekerjaan barunya. Bahkan karena kebaikan hati dari mbak Larashati sekeluarga yang selalu memberikan penjelasan-pejelasan, keterangan-keterangan maupun bimbingan yang diperlukan termasuk mengajari bagaimana caranya menentukan pisau yang tajam atau dengan kuaslitas yang baik. Maka Bayu Wicaksana pun semakin bertambah mantap.

Hingga pada suatu hari mbak Larashati mendekati tempat Bayu Wicaksana berdagang sambil berbicara perlahan-lahan katanya : “Dik Bayu, kios tempatmu berdagang yang kamu tinggalkan dahulu itu sekarang sudah tutup.”
“Lha kok bisa tutup, lalu Teh Asmaranti kemana ?”
“Ya nggak tahu,” jawab mbak Laras. “Yang jelas, barang dagangannya tidak laku karena tidak ada seorangpun yang datang untuk berbelanja.”
“Wah, kasihan mbak,” kata Bayu Wicaksana perlahan.
“Ya kalau memang merasa kasihan, kamu harus menolongnya. Tunggu saja kalau nanti Asmaranti datang kemari kamu yang harus menolongnya,” sahutnya perlahan sambil kemudian pergi berlalu meninggalkan Bayu Wicaksana sendirian.

Semula Bayu Wicaksana memang tidak mengerti apa maksudnya, tetapi beberapa saat kemudian Teh Asmaranti benar-benar datang, dan dalam hatinya Bayu Wicaksana mengatakan kalau mbak Laras sudah mengerti tentang hal ini dan berusaha memberikan informasi kepadanya.

“Kang Bayu kok langsung pergi begitu saja,” kata Teh Asmaranti. “Adapun maksudku sebenarnya bukan menginginkan Kang Bayu langsung pergi seperti itu.”
“Lalu maksud sebenarnya bagaimana ?” tanya Bayu Wicaksana.
“Maksudku yang sebenarnya adalah bahwa kios kita berdua digabungkan menjadi satu, jika perlu sekalian saja dengan pemiliknya bergabung menjadi satu,” begitu Kang Bayu.
Sebenarnya Bayu Wicaksana merasa terkejut mendengar ucapan itu, akan tetapi dalam hati memang sudah berjaga-jaga. Oleh karena itu Bayu Wicaksana juga menjawabnya dengan ringan saja : “Teh persoalan kios yang dahulu itu kan sudah selesai dan tidak ada yang perlu diperbincangkan lagi. Lagi pula Aku sudah merasa mantap dengan berdagang perabotan seperti ini. Oleh karena itu Teh, saya kira tidak ada yang perlu untuk di bicarakan lagi.”

Belum juga sempat Asmaranti menjawab dan mengucapkan kata-katanya keburu datang orang-orang yang mengelilingi barang dagangan Bayu Wicaksana dan kemudian Bayu Wicaksana sendiri pun sibuk melayani mereka. Ketika diperhatikan terlihat Asmaranti secara perlahan-lahan pergi meninggalkan tempat Bayu Wicaksana berdagang dan nampaknya patah semangatnya.

Dalam hati secara jujur Bayu Wicaksana merasa kasihan kepada Asmaranti. Apalagi jika memperhatikan wajahnya yang cantik dan mendengarkan apa yang diucapkan yaitu ingin bergabung menjadi satu, hati laki-lakinya mengatakan bahwa kata-kata tersebut patut untuk mendapatkan pertimbangan, akan tetapi jika mengingat tentang adat istiadat atau perilakunya yang kasar serta bicara yang seenaknya maka Bayu Wicaksana merasa takut kalau kedepannya dirinya akan selalu terus-menerus menjadi kurban secara berkelanjutan.

-o0o-

Saudaraku pembaca semuanya yang saya hormati terutama di kalangan sendiri, gubahan cerita diatas hanya merupakan sebuah contoh kejadian dalam kehidupan yang bisa dijumpai, dan melalui reka ceritera tersebut yang intinya mengenai IRI HATI dapat kita ambil hikmahnya sebagai pesan moral dan bahan perenungan dalam menjalani kehidupan kita masing-masing sehari-hari bermasyarakat.

Iri Hati adalah salah satu bentuk gangguan atau penyakit mental yang lebih berbahaya daripada penyakit fisik.
Yang dalam Bahasa Inggris disebut : Envy, Bahasa latin : Invidia, Bahasa Arab : Hasad atau terkadang juga disebut dengan Dengki, adalah suatu sifat yang tidak senang akan rejeki dan nikmat yang didapat oleh orang lain atau emosi yang timbul ketika seseorang yang tidak memiliki suatu keunggulan baik itu berupa prestasi, kekuasaan atau lainnya dan menginginkan apa yang tidak dimilikinya itu serta mengharapkan orang lain yang memiliki hal tersebut menjadi kehilangan atau berpindah kepada dirinya.
Perlu diketahui bahwa iri hati adalah salah satu penyebab utama dari rasa ketidakbahagiaan. Orang yang iri hati tidak hanya menyebabkan ketidakbahagiaan bagi dirinya sendiri yang senantiasa merasa gelisah jika melihat orang lain mendapatkan kesenangan. Semakin sering melihat orang lain senang, semakin gelisah pula hatinya bahkan apabila rasa iri hati ini sudah tidak dapat dikendalikan lagi maka akan dapat memunculkan perbuatan yang buruk atau orang tersebut mengharapkan kemalangan bagi orang lain.

Beberapa jenis Penyakit Hati :

1. Iri Hati
Iri hati adalah suatu sifat yang tidak senang melihat Rejeki dan Nikmat yang didapat oleh orang lain dan cenderung untuk menyainginya.

2. Dengki
Dengki adalah sikap tidak senang melihat orang lain bahagia dan berusaha untuk menghilangkan nikmat tersebut.

3. Hasut/Hasad/Provokasi
Hasut adalah suatu sifat yang ingin selalu berusaha mempengaruhi orang lain agar kemamarahannya meluap dengan tujuan agar dapat memecah belah persatuan dan ikatan persaudaraan agar timbul permusuhan dan kebencian antar sesama.

4. Fitnah
Ada sebuah ungkapan yang mengatakan bahwa : Fitnah lebih kejam dari pembunuhan bukan Fitnah lebih kejam daripada tidak memfitnah, adalah kegiatan yang mejelek-jelekan, menodai, merusak, menipu, membohongi seseorang agar menimbulkan permusuhan sehingga dapat berkembang menjadi tindak kriminal pada orang lain tanpa disertai bukti yang kuat.

5. Buruk sangka
Buruk sangka adalah sifat yang selalu curiga atau menyangka orang lain berbuat buruk tanpa disertai bukti yang jelas.

6. Hianat
Hianat adalah sikap tidak bertangungjawab atau mengingkari atas amanat atau kepercayaan yang telah dilimpahkan kepadanya.

Jadi Penyakit Hati merupakan sesuatu yang tidak boleh dimiliki dan harus dihapuskan dari dalam diri karena dapat merusak dan berdampak buruk .
Oleh karena itu apabila mengagumi perejekian orang lain, agar terhindar dari iri hati yang sifatnya merugikan maka hendaknya doakanlah agar yang bersangkutan dilimpahi berkah.

Namun ada juga iri hati yang diperbolehkan yaitu :

Iri Hati dalam hal berbuat kebajikan atau berlomba dalam kebaikan, misalnya ingin menjadi pintar agar dapat menyebarkan pengetahuannya di kemudian hari atau iri untuk menggunakan sesuatu yang dimiliki di jalan kebenaran, dan

Iri Hati yang membuat orang menjadi sukses.
Dengan perkataan yang berbeda bahwa perasaan iri hati boleh saja dimiliki oleh seseorang, asal iri hati tersebut pada perbuatan yang bersifat positif.

Misalnya tidak tidak mau kalah dalam hal mendapatkan kenikmatan seperti yang dicapai oleh orang lain, dengan pemikiran bahwa apabila orang lain bisa mendapatkan kenikmatan atau kesuksesan sayapun juga pasti bisa. Dan selanjutnya ia akan berusaha dengan bekerja keras untuk mencapainya melalui jalan yang benar

Cerita diatas apabila dilihat dari sisi Asmaranti.
Apa yang dilakukan Asmaranti sebelum menuduh dan mengatakan serta menilai orang lain sebaiknya melihat kepada diri sendiri atau mawas diri serta mengkoreksi apa yang menjadi kekurangan atau kelemahannya sehingga menyebabkan barang dagangannya tidak laku atau tidak ada yang membeli.
Apakah kualitas barangnya kurang bagus, apakah model barangnya sudah ketinggalan jaman atau pelayanannya terhadap pembeli tidak menyenangkan dan lain-lainnya.
Namun perihal mawas diri tersebut kelihatannya sangat mudah untuk diucapkan akan tetapi dalam pelaksanaannya sangat sulit untuk dilakukan. Karena yang menjadi kebiasaan banyak orang pada umumnya adalah lebih suka untuk menutupi kelemahan diri sendiri dan lebih sering menceritakan kesalahan orang lain dari pada mengoreksi kesalahan yang telah dilakukannya.
Sekalipun di dalam hati seseorang merasa bahwa dirinya bersalah akan tetapi untuk menyadari dan menerima kenyataan tersebut terkadang tidaklah mudah, bahkan sering terjadi bahwa seseorang tadi akan melemparkan kesalahan itu kepada orang lain. Dan hal ini adalah merupakan suatu kebiasaan buruk yang seringkali dilakukan secara sadar ataupun tidak sadar.

Cerita diatas apabila dilihat dari sisi Bayu Wicaksana.
Allah memberikan rizki kepada semua makhluk-Nya, akan tetapi tidak dengan “tangan kosong atau datang dengan sendirinya”, artinya seseorang akan mendapatkan rejeki itu kalau ia mau berusaha dengan perkataan lain adalah siapa yang mau berusaha dan bekerja ialah yang akan mendapat rejeki dan rejeki itu tidak akan pernah tertukar dengan rejeki orang lain.

Banyak kasus yang telah terjadi seperti misalnya usaha yang dilakukan atau bisnisnya bisa saja sama atau barang yang dijual pun berkualitas sama bahkan lokasi usahanyapun di tempat yang sama dan sebagai pesaing bisa melakukan apa saja, mungkin berusaha menjatuhkan dengan cara banting harga, memberikan diskon, bonus, promo gratis atau mungkin juga dengan menggunakan cara yang kotor dalam berusaha…
Tetapi yang harus di ingat adalah :
Rejeki tidak akan pernah tertukar……namun berkah itu yang harus dikejar…mungkin hanya sedikit…tapi seringkali yang sedikit itu lah yang berkah hingga didunia sampai akhirat…

Intinya, jangan pernah merasa khawatir jika rejeki akan tertukar dengan rejeki orang lain, karena hal itu tidak mungkin akan terjadi. Rejeki sudah ada yang mengatur dan ada takarannya sendiri-sendiri dengan perkataan lain Allah Yang Maha Bijaksana pasti membagi rejeki dengan adil sesuai dengan kehendak-Nya.
Bisnis bisa saja ditiru, namun sampai kapanpun rejeki takkan bisa ditiru. Oleh karena itu, apa yang kita miliki itulah yang terbaik untuk kita.

-o-

Untuk mengingatkan kita semua…….. terutama bagi diri saya sendiri.

FALSAFAH RONGGO WARSITO
(Dalam bahasa aslinya dan terjemahannya)

Rejeki iku ora isa ditiru (Rejeki itu tidak bisa ditiru)
Senajan pada lakumu (Walau jalanmu sama)
Senajan pada dodolanmu (Walau jualanmu sama)
Senajan pada nyambut gawemu (Walau pekerjaanmu sama)
Kasil sing ditampa bakal beda-beda (Hasil yang diterima akan berbeda satu sama lain)
Isa beda neng akehe bandha (Bisa lain dalam benyaknya harta)
Isa uga ana neng Rasa lan Ayeme ati, yaiku sing jenenge bahagia (Bisa lain dalam rasa bahagia dan ketenteraman hati, itu yang namanya bahagia)
Kabeh iku saka tresnane Gusti kang Maha Kuwasa (Semua itu atas kasih dari Tuhan Yang Maha Kuasa)
Sapa temen bakal tinemu (Barang siapa bersungguh-sungguh akan menemukan)
Sapa wani rekasa bakal nggayuh mulya (Barang siapa berani bersusah payah akan menemukan kemuliaan)
Dudu akehe, nanging berkahe kang dadekake cukup lan nyukupi (Bukan banyaknya, melainkan berkahnya yang menjadikan cukup dan mencukupi)
Wis ginaris neng takdire manungsa yen apa sing urip kuwi wis disangoni saka sing kuwasa (Sudah digariskan oleh takdir bahwa semua yang hidup itu sudah diberi bekal oleh Yang Maha Kuasa)
Dalan urip lan pangane wis cumepak cedhak kaya angin sing disedhot bendinane (Jalan hidup dan rejeki sudah tersedia, dekat, seperti udara yang kita hirup setiap harinya)
Nanging kadhang manungsa sulap mata lan peteng atine, sing adoh saka awake katon padhang cemlorot ngawe-awe, nanging sing cedhak neng ngearepe lan dadi tanggung jawabe disia-sia kaya ora duwe guna (Tetapi kadang manusia silau mata dan gelap hati, yang jauh kelihatan berkilau dan menarik hati…tetapi yang dekat didepannya dan menjadi tanggung jawabnya disia-siakan seperti tak ada guna)

Rejeki iku wis cumepak saka Gusti, ora bakal kurang anane kanggo nyukupi butuhe manungsa saka lair tekaning pati (Rejeki itu sudah disediakan oleh Tuhan, tidak bakal berkurang untuk mencukupi kebutuhan manusia dari lahir sampai mati).

Nanging yen kanggo nuruti karep manungsa sing ora ana watese, rasane kabeh cupet, neng pikiran ruwet, lan atine marahi bundhet (Tetapi kalau menuruti kemauan manusia yang tidak ada batasnya, semua dirasa kurang membuat ruwet di hati dan pikiran)

Welinge wongtuwa, apa sing ana dilakoni lan apa sing durung ana aja diareparep, semelehke lan yen wis dadi duwekmu bakal tinemu, yen ora jatahmu, apa maneh kok ngrebut saka wong liya nganggo cara sing ala, ya wae, iku bakal gawe uripmu lara, rekasa lan angkara murka sak jeroning kaluwarga, kabeh iku bakal sirna balik dadi sakmestine (petuah orang tua, jalanilah apa yang ada didepan mata dan jangan terlalu berharap lebih untuk yang belum ada. Kalau memang milikmu pasti akan ketemu, kalau bukan jatahmu, apalagi sampai merebut milik orang memakai cara tidak baik, itu akan membuat hidupmu merana, sengsara dan angkara murka. Semua itu akan sirna kembali ke asalnya)

Yen umpama ayem iku mung bisa dituku karo akehe bandha dahnia rekesane dadi wong sing ora duwe (Kalau saja ketenteraman itu bisa dibeli dengan harta, alangkah sengsaranya orang yang tidak punya)

Untunge ayem isa diduweni sapa wae sing gelem ngleremake atine ing bab kadonyan, seneng tetulung marang liyan, lan pasrahke uripe marang GUSTI KANG MURBENG DUMADI (Untungnya, ketenteraman bisa dimiliki oleh siapa saja yang tidak mengagungkan keduniawian, suka menolong orang lain dan menyerahkan hidupnya kepada Tuhan Yang Maha Pencipta).
-o0o-

Sebuah anekdot :

JIKA SELALU BERPRASANGKA BURUK

Sepulang dari pom bensin dan mengambil uang di ATM, Erna Kurniasih dengan santai mengendarai motor Vario kesayangannya, tiba-tiba sekelebatan dari kaca spion terlihat ada motor lain yang mengejar………
Yaitu 2 orang laki-laki yang berboncengan, berjaket kulit warna hitam, mengenakan helm full face atau helm yang nggak kelihatan mukanya……..
Kemudian Erna Kurniasih melihat orang yang dibonceng tangannya melambai-lambai, memberi isyarat agar dia segera pergi ke pinggir……..
Dalam hati Erna berkata : “Wahhh melihat penampilannya yang demikian menyeramkan pastinya dia itu BEGAL, yang lagi ngincer motor ku…………
Ini motor satu-satunya milikku, untuk keperluan bolak-balik ke pasar, mengambil barang dagangan, pergi menjemput anak sekolah, pergi ke ATM dan untuk keperluan lainnya .……………………………..…………………………..
Kalau sampai dirampas orang rasanya akan sangat merepotkan, lalu apa yang harus aku lakukan…………Ah sebaiknya aku kabur saja……………………”
Lalu motor di gas untuk dipacu sekancang-kencangnya…. Pikirannya panik. Tangan sebelah kanannya sampai pegal karena harus terus-menerus memutar handel stang…………. pokoknya habis-habisanlah…………

“Taatttt… tttitttt…..Taaattt… tiiit…. ,” motor yang mengejar di belakang tetap mengklakson berulang-ulang………… meminta agar supaya Erna Kurniasih segera menyisi kepinggir.
Tetapi mau bagaimana lagi… motor kecil yang seharusnya segera masuk bengkel untuk diservice, walaupun gasnya dipelintir habis dan diputar sekuatnya, sampai berkaing-kaing larinya tetap tidak seberapa. Sedangkan yang mengejar, menaiki motor baru kelas 250 CC.., yang jelas pasti akan tersusul.
Ketika motor pengejar dalam keadaan sejajar dengan motornya, kemudian laki-laki yang dibonceng itu membuka kaca helm, sambil berteriak…. :
“Mbaaak….. itu lho… ibu nya.. tertinggal di pom bensin…”
-o0o-
Ha..…ha…..ha…..ha..…

BANDUNG–INDONESIA, DESEMBER – 2016
Cerita : Suryadi WS
(Gubahan Ki Ageng Bayu Sepi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *