Monthly Archives: December 2017

MEREKA YANG HIDUP SEDERHANA

JANGAN  KARENA  MELIHAT KEMISKINAN DAN DERITA ORANG LAIN, SEBAGAI ALASAN  KITA UNTUK BERSYUKUR, SEBAB MUNGKIN SAJA BAHWA KITA ADALAH SEBAGAI SALAH SATU PENYEBABNYA.

JANGAN KARENA MELIHAT ORANG LAIN YANG LEBIH SENGSARA SEBAGAI ALASAN KITA UNTUK BERSYUKUR, MUNGKIN SAJA JUSTRU DIA YANG BERSYUKUR SEBAB TIDAK MENJADI ORANG SEPERTI KITA.

JANGAN TERLAMPAU CEPAT MENGANGGAP KESEJAHTERAAN YANG KITA RASAKAN SEBAGAI TERKABULNYA DOA DAN KESALEHAN KITA, KARENA MUNGKIN SAJA BAHWA HAL TERSEBUT MERUPAKAN SEBUAH UJIAN BAGI KITA.

uasana senja yang sangat indah, karena pancaran cahaya lembayung menghiasi seluruh jagat raya. Terdengar pembicaraan antara Bu Puspawati dan Bu Wandasari terlihat sangat asyik, yang kadang-kadang pembicaraan tersebut terdengar diselingi oleh gelak tawa yang riang dari keduanya. Walapun para perempuan itu sudah ditinggal lebih dulu oleh suaminya menghadap kepada Sang Pencipta atau dengan perkataan lain sudah berstatus janda, namun mereka terlihat senang karena memang hidupnya sudah serba berkecukupan.

sulungku, Anggarasa dan istrinya. Aku merasa senang karena sekarang posisinya di perusahaan tempatnya bekerja dia sudah menduduki sebuah jabatan penting, demikian juga dengan istrinya di kantornya,” cerita Bu Puspa dengan bangga.

“Aku pun demikian juga Bu. Walaupun semua anakku masing-masing sudah berumah tangga, namun mereka masih memperhatikan orang tuanya. Dan setiap bulan rekening tabungan ibnya selalu bertambah,” kata Bu Wanda juga anak-anaknya yang sudah sukses bekerja di kota.

“Wah….hebat putra-putri Bu Wanda semuanya sudah sukses dan mungkin sebentar lagi aku juga akan menikahkan anak perempuanku, Wulandari. Sudah akan dilamar oleh pimpinan atau direkturnya, hanya tinggal menunggu dan menentukan waktu yang baiknya.”

“Ya syukurlah kalau demikian aku ikut senangt. Kita semua ini termasuk orang yang berbahagia karena anak-anak kita bekerja di kota dan memperoleh pekerjaan yang mapan, hasilnya bisa diandalkan untuk mencukupi kebutuhan hidup, bahkan malah bisa disisihkan untuk mengurisi orang tuanya.”

“Ya. Memang demikian lah.”

“Eh….Bu Puspa, ini bukan mempergunjingkan hal yang jelek ya, coba Bu Puspa perhatikan, anak-anak Bu Laras. Tidak ada yang mau pergi merantau untuk mencari pengalaman. Sudah disekolahkan dengan susah-payah kok hanya terima hidup di sebuah desa yang kecil seperti ini, sayang sekali, kan ?”

“Benar. Sudarsana anak sulung Bu Laras itu hanya berjualan kupat tahu di depan Puskesmaas. Dan kebetulan menikah saja juga mendapatkan jodohnya dengan Sumiarsih, yang pekerjaannya jualan sayuran secara berkeliling. Jadi jelas kalau tingkat kehidupannya tidak akan pernah “berkembang”.

Sedangkan Suprasaja anak keduanya hanya cukup menjadi tukang tambal ban, tukang mengecat, tukang jual dan pasang stiker, yang penghasilannya pun tidak mempunyai standar kepastian.

Tetapi anak perempuannya yang bungsu, sekarang berada dimana ?”

“Ohh… si Kurniasih, dia masih kursus menjahit dan pulangnya seminggu sekali. Tetapi katanya dia sudah berani menerima order jahitan. Ah kalau demikian, dia itu terlampau berani.”

“Apa…..dia sudah berani menerima order jahitan ? Masih dalam kondisi kursus sudah berani menerima order jahitan ? Kalau memang begitu keadaannya, dia itu terlalu memaksakan diri.”

“Berita yang kudengar memang demikian adanya.”

Di tempat yang lain pada saat yang bersamaan, Ibu Larashati yang dijadikan bahan pembicaraan oleh kedua orang tersebut, itu sedang sibuk dengan pekerjaannya. Pekerjaan rutin yang dilakukan adalah membungkusi nasi kuning dan menyiapkan segala macam makanan atau jajanan seperti gorengan atau rempeyek, tempe goreng, tahu goreng isi, comro, katimus atau lemet dan lain-lainnya.

Dan setelah semuanya siap, kemudian dia pergi berkeliling untuk menitipkan barang dagangannya tersebut kewarung-warung dengan menggunakan sepeda motor yang sudah dimodifikasi agar barang-barang dagangan itu bisa terbawa.

Adapun jalur jalan yang dilalui ketika berkeliling juga melewati jalan di depan rumah Bu Puspawati yang kebetulan pada saat itu bersama Bu Wandasari sedang membicarakan tentang dirinya.

“Permisi Bu Puspa, Bu Wanda, saya numpang lewat,” demikian sapa Bu Laras kepada mereka.

“Ohh…ya….silakan. Wah rajin sekali Bu Laras ini, sudah sepuh kok masih juga mau bekerja. Kok nggak anak-anaknya saja yang mencukupi kebutuhan orang tuanya,” sahut Bu Puspa.

“He…he…, walaupun sudah tua tetapi saya masih tetap ingin bekerja, Bu. Untuk mengisi kekosongan waktu agar tidak diam melamun, atau malah menggunakan waktu dengan hal yang tidak penting” kata Bu Laras lagi.

“Apakah Bu Laras tidak pernah merasa lelah ataupun capai dengan setiap hari pergi berkeliling seperti itu, Bu ?” kata Bu Wanda yang ikut pula bertanya.

“Sebagai manusia biasa, mungkin juga ada rasa lelahnya, tetapi kalau semua itu dilakukan dengan ikhlas rasanya akan enak dan enteng saja Bu. Apalagi setiap saat saya berdoa semoga saya selalu diberikan kondisi badan yang sehat wal afiat untuk selamanya. Mohon maaf Bu, saya permisi akan melanjutkan perjalanan keliling untuk berdagang lebih dulu, ya Bu……”  kata Bu Laras.

Kemudian Bu Laras melanjutkan perjalanan kelilingnya untuk berdagang dan tidak lupa meninggalkan senyumnya, Bu Puspa maupun Bu Wanda juga membalas tersenyum namun kelihatannya secara terpaksa.

“Ahh….itu kan karena dia belum pernah mengalami permasalahan, coba saja kalau suatu saat kerepotan, misalnya saja sampai jatuh sakit sampai harus pergi berobat ke Rumah Sakit yang membutuhkan biaya tidak sedikit, dia pasti mengeluh dan akan berbeda sikapnya.”

Kedua orang tersebut kembali melanjutkan pembicaraannya lagi dengan topik atau pokok bahasan yang bermacam-macam, namun sebenarnya pada intinya tidak jauh dari saling menonjolkan keberhasilan anaknya masing-masing.

Waktu berjalan dengan tetap sebagaimana mestinya dan semua peristiwa yang terjadi silih berganti memenuhi hari-hari yang ada.  Ada yang merasa senang dan ada pula yang menderita. Dan memang demikianlah perputaran sang waktu itu berjalan.

Hingga pada suatu hari Bu Puspa menderita sakit. Awalnya kepalanya merasa pusing dan tanah yang dipijak seakan-akan bergoncang dan dunia rasanya perputar dan akhirnya sampai tidak sadarkan diri atau pingsan. Tetapi ketika sudah sadar dia mengetahui bahwa dirinya sedang dikerumuni oleh para tetangga dan juga oleh Bu Laras dan para anak-anaknya.

Kemudian Bu Puspa meminta tolong kepada yang hadir agar anak-anaknya yang berada di luar kota supaya diberitahu. Mendengar hal itu Sudarsana anak sulung Bu Laras dengan cekatan langsung memberitahu semua anak-anak Bu Puspa agar menjenguk ibunya yang sakit. Akan tetapi karena mereka semua sedang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing maka pada waktu dekat ini tidak ada yang punya kesempatan untuk bisa segera datang menjenguk ibunya.

Bu Puspa merasa kecewa berat dan seketika itu juga kepalanya kembali merasa pusing dan berat, sehingga tidak sadarkan diri lagi. Atas inisiatif para tetangga dan Bu Laras dibawa ke Rumah Sakit dan harus masuk ke ruang IGD atau Instalasi Gawat Darurat.

Sementara Bu Puspa berada di Rumah Sakit, yang menjaga dan melayani adalah anak-anak Bu Laras. Sudarsana dan Suprasaja bergantian menunggu Bu Puspa yang kadangkala juga bergantian dengan Sumiarsih istri Sudarsana. Tetapi pada hari Minggu, Kurniasih anak bungsu Bu Laras mendapat giliran menunggu Bu Puspa di opname di rumah sakit.

Kurang lebih selama sepuluh hari dirawat dirumah sakit, mengenai pembiayaan tidak ada permasalahan karena tabungan Bu Puspa dapat dikatakan lebih dari cukup untuk keperluan berobat. Sampai dengan sudah diperbolehkan pulang ke rumah, anak-anaknya Bu Puspa belum ada yang bisa datang menjenguk, karena memang pekerjaannya tidak bisa ditinggalkan.

Sampai di rumah Bu Puspa merasa heran, karena keadaan rumah menjadi bersih. Ternyata Bu Laras yang mengurusi kebersihan rumah selama Bu Puspa sedang dalam perawatan di rumah sakit.

Bu Puspa tidak kuat menahan rasahatinya yang ditandai dengan mengalirnya air mata dari sudut mata tuanya, dan dalam hatinya timbul penyesalan karena merasa telah melakukan kesalahan yang besar kepada Bu Laras sekeluarga yang selama ini selalu dipandang sebelah mata sebagai orang rendah dan remeh, ternyata malah membantunya dengan rasa yang tulus.

“Dari hati yang paling dalam saya mengucapkan terima kasih, Bu Laras. Saya tidak bisa membalas kebaikan keluarga ibu. Dan saya pun meminta maaf yang yang sebesar-besarnya karena banyak kesalahan yang ku lakukan terhadap ibu dengan keluarga,” kata Bu Nana kepada Bu Laras.

“Ahh…sudahlah Bu Laras, tidak usah berbicara seperti itu. Dan memang sudah seharusnya kalau bertetangga itu harus saling tolong menolong sesuai dengan kebisaannya masing-masing. Seperti apa yang telah di Sabdakan Nya agar manusia itu saling cinta dan kasih kepada sesamanya,” jawab Bu Laras sambil menggenggam erat tangan Bu Puspa.

Ada rasa tenteram yang merambah ke dalam jiwa Bu Puspa waktu itu yang sulit untuk bisa dikatakan.

Pada hari-hari selanjutnya, Bu Wanda baru saja pulang dari Luar kota segera menjenguk Bu Puspa.

“Wahhh…. Kok nggak ada berita kalau sakit ? Sekarang bagaimana kondisi Bu Puspa ?” tanya Bu Wanda.

“Sebenarnya saya sudah berusaha untuk memberitahu Bu, tetapi ketika saya telepon tidak pernah bisa nyambung, sepertinya saat itu Bu Wanda betul-betul sedang sibuk,” kata Bu Puspa.

“Ya mohon maaf Bu Puspa, saya kebetulan memang bebar-benar sangat sibuk, karena adikku ketika hajatan menikahkan, ternyata…secara besar-besaran dan mewah ! Oleh karena itu setiap kali telepon berdering tidak pernah saya angkat, mohon maaf ya Bu,” sahut Bu Wanda.

“Ya sudahlah….nggak apa-apa, Bu Wanda.”

“Saya kasih tahu ya Bu, di pesta pernikahan anak dari adikku itu, semua keluarga diberikan pakaian yang seragam. Bukan dibelikan pakaian jadi tetapi dibelikan bahan yang kemudian dijahitkan, dan hasil dari jahitannya, wah… sudahlah……sangat memuaskan dan bagus sekali,” kata Bu Wanda sambil mengacungkan ibu jari tangannya.

Tahu tidak….. katanya sih ada yang mengatakan bahwa yang menjahit itu adalah si Kurniasih anaknya Bu Laras….. tetapi aku sendiri tidak percaya ! Mana mungkin baru saja belajar…belum lama kursus, kok jahitannya sudah bagusnya seperti itu……., waaaahh mbelgedes….., omong kosong…..!!!”

Bu Puspa hanya diam saja dan masih mendengarkan cerita Bu Wanda karena belum ada kesempatan untuk berbicara. Ketika kesempatan itu tiba maka kemudian Bu Puspa menceritakan tentang keadaan sakitnya, kalau semua yang mengurisi Bu Puspa adalah para tetangga utamanya adalah oleh Bu Laras beserta keluarganya.

“Ah…yang benar ? Masak iya keluarga Bu Laras yang mengurusi saat Bu Nana sakit ? Apakah putra-putri Bu Puspa sendiri tidak ada yang pulang ?” tanya Bu Wanda.

“Dan memang demikian kenyataannya, ya karena pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan, oleh karena itu mereka tidak bisa pulang. Sedangkan mengenai cerita tentang Kurniasih yang menjahit pakaian itupun juga berita yang benar.

Dalam menjalani kursus dia lulus dengan nilai yang istimewa walaupun hanya dengan waktu singkat, hanya satu bulan, yang kemudian dijadikan tenaga pengajar di lembaga keterampilan tempatnya kursus.

Kemudian dengan sedikit-demi sedikit mulai membuka usaha jahitan dan ternyata sangat laris manis. Bahkan sekarang sudah mempunyai karyawati sebanyak delapan orang. Kalau disini malah tidak kelihatan menonjolnya, karena memang tempat usahanya berada di kota kabupaten.”

Bu Wanda hanya mendengarkan sambil melongoh, karena tidak mengira kalau dia akan mendapatkan penjelasan panjang lebar mengenai keluarga Bu Laras seperti itu dari Bu Puspa.

“Aku merasa telah membuat kesalahan kepada keluarga Bu Laras. Keluarga yang selama ini kurendahkan, ternyata malahan bisa memberikan rasa tenteram kepadaku. Ketika aku membutuhkan pertolongan, keluarga merekalah yang dengan tulus ikhlas menyisihkan waktunya untuk mengurusku.

Sudarsana dengan Sumiarsih istrinya ternyata merupakan orang cekatan dan cepat tanggap serta mampu memberikan keputusan yang tepat tanpa memikirkan untung dan rugi untuk dirinya sendiri.

Adapun Suprasojo sendiri merupakan seorang pemuda yang cerdas, pandai namun rendah hati dan tidak sombong, serta mau mengorbankan tenaganya untuk menungguiku dengan ikhlas. Terkadang dia bahkan bisa membuatku tertawa terbahak-bahak dengan cerita-cerita lucunya yang sederhana akan tetapi mengandung banyak makna…..

Aaaahhh…. waktu itu sepertinya aku sedang merasa sangat bahagia, apalagi ketika pada hari Minggunya datang Kurniasih yang bergilir menungguiku sambil memijit-mijit kakiku yang menyebabkan seluruh badanku terasa menjadi lebih enak lagi sehingga aku menjadi lebih cepat sembuh,” demikian cerita Bu Puspa.

“Lalu, semenjak Ibu Puspa dirawat yang mengurus rumah siapa Bu ?” tanya Bu Wanda.

“Bu Laras lah yang mengurus rumahku dan pada setiap hari selalu dibersihkannya,” jawab Bu Puspa.

“Wahh….ternyata Bu Laras itu orang yang baik sekali. Mendengar semua cerita itu aku juga merasa telah melakukan kesalahan, karena selama ini aku juga menganggap rendah keluarga Bu Laras, hanya karena tidak ada anak-anaknya yang bekerja di kota dan kelihatan  nyata berhasil secara materi.”

“Bu Laras itu ternyata orang yang selalu dekat dengan kebahagiaan. Walaupun nampak sederhana, anak-anaknya sudah bekerja semuanya. Kelihatannya memang sepele, sederhana, atau tidak seberapa, tetapi ketika dibutuhkan mereka bisa bersama-sama datang dan mengerti apa yang seharusnya dilakukan.

Bisa dikatakan bahwa Bu Laras memang tidak kaya dalam hal materi, tetapi kaya dalam bidang ketenteraman, karena selalu bisa dekat dengan anak-anaknya, dan hidupnya pun selalu dalam keadaan bahagia. Menurut apa yang diceritakannya bahwa selain bekerja dengan ikhlas, dia juga selalu bersandarkan kepada Sang Penguasa Alam Semesta, Tuhan Yang Maha Esa, Allah SWT.

-o0o-

Reka cerita diatas hanya sekedar merupakan sebuah gambaran saja dari contoh kejadian yang mungkin bisa dijumpai oleh saudara pembaca semuanya yang saya hormati dalam menjalani kehidupan sehari-hari di masyarakat.

Saudaraku pembaca semuanya terutama dikalangan sendiri, melalui reka ceritera tersebut yang pada intinya adalah jangan membicarakan tentang kekurangan orang lain tetapi harus mengingat tentang kekurangan diri sendiri karena tidak ada manusia yang sempurna dan pada hakekatnya pada saat merendahkan orang lain adalah sebuah kesombongan dan hal tersebut menunjukkan bahwa nilai dari diri seseorang itu rendah. Dengan perkataan lain yang bisa membuat nilai seseorang itu menjadi rendah adalah hanya dari perbuatannya sendiri.

Mudah-mudahan dari reka cerita tersebut diatas bisa di ambil hikmahnya sebagai pesan moral dan bahan perenungan bahwa dalam menjalani kehidupan didalam bermasyarakat dan tidak perlu merendahkan orang lain.

 

JANGAN MEMBICARAKAN KEKURANGAN ATAU KESALAHAN ORANG LAIN

Lidahmu jangan kau biarkan menyebut kekurangan orang lain, sebab kaupun punya kekurangan dan orang lainpun punya lidah. (Imam Syafi’i)

Yang tidak boleh dilupakan bahwa tidak ada seorang manusia pun yang sempurna dalam segala hal dan selalu saja ada kekurangannya. Boleh jadi seseorang yang indah dalam rupa, akan tetapi mempunyai kekurangan dalam hal gaya berbicara. Sangat bagus dalam penguasaan ilmu, namun tidak mampu menguasai emosi serta mudah tersinggung dan sebagainya. Dengan perkataan lain bahwa kuat di satu sisi akan tetapi lemah di sisi yang berbeda.

Dan dari situ manusia harus pandai dan cermat mengukur timbangan penilaian terhadap orang lain. Apa yang menjadi kekurangannya dan mengapa bisa demikian, dan seterusnya. Seperti apapun keadaan orang yang sedang dinilai, namun sisi keadilan tidak boleh dilupakan walau terhadap orang yang tidak disukai sekalipun. Dan harus yakin kalau dibalik kekurangan seseorang pasti mempunyai kelebihan atau kebaikan di sisi yang lain, dengan perkataan lain bahwa manusia mempunyai kekurangan dan kelebihannya masing-masing.

Dengan timbangan yang adil, maka penilaian akan bisa lebih bijaksana dan tidak dengan serta-merta menilai bahwa orang tersebut pasti salah. Mungkin saja ada sebab lain yang membuat dia seperti itu atau bahkan mungkin saja andaikata sebagai penilai berada pada posisi dan situasi yang sama, mungkin tidak akan lebih bagus dari orang yang dinilai. Karena itu, lihatlah terlebih dahulu kekurangan dalam diri kita sendiri sebelum memberikan penilaian tentang kekurangan orang lain.

Akan tetapi Ego manusia lebih cenderung untuk mengatakan kalau “sayalah yang lebih baik dari yang lain.” Dan Ego seperti inilah yang kerapkali membuat timbangan penilaian jadi tidak adil. Kesalahan dan kekurangan orang lain begitu jelas, tapi kekurangan diri sendiri tidak pernah terlihat. Seperti sebuah peribahasa yang berbunyi “Kuman diseberang lautan tampak tetapi gajah dipelupuk mata tidak tampak”.

Dalam hidup bermasyarakat, manusia tidak akan pernah terlepas berhubungan dan berkomunikasi dengan manusia lainnya dan sebagian dari mereka, ada yang bisa menahan diri untuk tidak membuka dan membicarakan kekurangan orang lain, tapi ada juga sebagian dari mereka yang sulit menahan diri untuk tidak mengabarkan kekurangan seseorang kepada orang lain, karena lidahnya seringkali usil dan selalu saja tergelitik untuk menyampaikan isu-isu baru yang menarik.

Meskipun yang sebenarnya dia mengetahui, bahwa sesuatu yang menarik bagi orang lain kemungkinan merugikan bagi mereka yang dijadikan bahan pembicaraan. Di situlah diperlukan kebijaksanaan seseorang untuk mampu memilih dan memilah mana yang perlu dibicarakan dan mana yang tidak.

Oleh karena itu sebaiknya sebelum seseorang memberi penilaian terhadap kekurangan orang lain, lihatlah dengan jujur seperti apa keadaan dirinya sendiri, apakah lebih baik atau lebih buruk ? Dan apabila ternyata lebih baik maka bersyukurlah dan hal tersebut jangan menjadikan sombong akan tetapi apabila ternyata lebih buruk, maka segeralah bertobat dan memperbaiki diri.

-o-

Namun andaikata seseorang bisa lebih melihat kekurangan dan kesalahan sendirinya sendiri, maka pasti tidak akan mungkin disibukkan dengan mencari kekurangan dan kesalahan orang lain.

Dan sebagai kebalikannya, jika seseorang jeli dan banyak sibuk dengan mencari kekurangan dan kesalahan orang lain, kita pasti akan sulit meraba dan melihat  kekurangan dan kesalahan dirinya sendiri.

-o-

Manfaat yang bisa dirasakan, apabila dalam hidup ini lebih banyak melihat, menengok, memperhatikan, meneliti kekurangan diri sendiri dibandingkan kepada orang lain, maka yang diperoleh adalah perasaan tenang, jiwa yang damai, dan mudah mendapat kecintaan dan penerimaan dari orang lain.

Akan tetapi sebaliknya, apabila seseorang yang lebih sibuk dengan  kekurangan dan kesalahan orang lain dibanding dengan melihat kepada  diri sendiri, pasti sulit untuk merasakan hati yang damai dan tenang.

-o-

Akibat dari perilaku melihat, menengok, memperhatikan, meneliti, mencari kekurangan dan kesalahan orang lain maka orang lainpun pasti cenderung tidak akan suka dengan orang yang mempunyai kebiasaan seperti itu.

Dan sebagai kebalikannya, orang yang suka mencari-cari kesalahan orang lain, akan mendorong orang lain juga untuk mencari kekurangan dan kesalahan yang telah dilakukannya, meskipun kesalahan tersebut dilakukan di tempat yang tersembunyi dan menyebarkannya.

-o-

Sebuah pendapat yang mengatakan bahwa : “Orang yang paling banyak salahnya adalah orang yang paling banyak membicarakan kesalahan orang lain.”

Oleh karena itu harus menyadari, bahwa dalam dirinya sendiri ada banyak dan lebih banyak kekurangan dan kesalahan yang dimiliki daripada apa yang bisa dilihat dari kekurangan dan kesalahan pada diri orang lain.

-o0o-

 

KESOMBONGAN

Sombong, congkak, besar kepala, tinggi hati, kibr, takabur atau istikbar adalah merupakan suatu keadaan dimana seseorang merasa bahwa dirinya lain dari yang lain atau mempunyai kebanggaan terhadap dirinya sendiri, yaitu dengan adanya anggapan atau perasaan, bahwa dirinya serba lebih apabila dibandingkan dengan orang lainnya, misalnya lebih tinggi, lebih hebat, lebih bermartabat, lebih berpendidikan dan lebih lebih lainnya.

Sehingga seseorang itu bisa berperilaku :
* Menolak kebenaran dan meremehkan orang lain,
* Ada rasa ingin menonjolkan dan membanggakan diri,
* Tidak bisa menerima nasihat terlebih dari mereka yang status maupun umurnya yang lebih muda,
* Pendapatnya enggan untuk dibantah bahkan tidak jarang pula dipertahankan dengan dalil atau aturan yang dipaksakan,
* Tersinggung ketika tidak diberi ucapan salam terlebih dahulu, atau mendapat tempat khusus dalam sebuah majelis,
* Tersinggung ketika title ataupun jabatan yang dimiliki tidak disebut,
Maka dapat dipastikan bahwa virus takabbur atau kesombongan telah meracuni diri seseorang tersebut.

 

Sikap sombong bisa disebabkan oleh beberapa hal antara lain yaitu : amal, ilmu, nasab, keturunan, kecantikan, kekuatan, kakayaan, kedudukan, pangkat dan lain-lain.

Dan kesombongan bisa saja terjadi di dalam lingkungan keluarga, sekolah,  masyarakat atau di manapun.

 

MENDETEKSI KESOMBONGAN

Sombong adalah sebuah Penyakit yang sering menghinggapi siapa saja tidak peduli apapun status maupun jabatannya, dan secara garis besarnya kesombongan dapat dikelompokkan menjadi tiga tingkat maupun faktornya :

Tingkat Ke Satu faktor Materi

Sombong disebabkan oleh Faktor Materi, dimana seseorang merasa dirinya antara lain :

Lebih kaya,

Lebih berkuasa,

Lebih tinggi jabatan,

Lebih rupawan dan

Lebih terhormat daripada orang lain.

 

Tingkat Ke Dua faktor Kecerdasan

Sombong disebabkan oleh Faktor Kecerdasan, dimana seseorang merasa dirinya antara lain :

Lebih rajin,

Lebih pintar

Lebih kompeten,

Lebih berpengalaman,

Lebih berwawasan dibandingkan dengan orang lain.

 

Tingkat Ke Tiga faktor Kebaikan

Sombong disebabkan oleh Faktor Kebaikan, dimana seseorang sering menganggap dirinya antara lain merasa :

Lebih bermoral,

Lebih pemurah,

Lebih banyak amalnya,

Lebih bersemangat berjuang dan beribadah,

Lebih banyak kontribusinya untuk umat,

Lebih besar dari orang lain berdasarkan apa yang sudah dicapai, seraya meremehkan orang lain dengan menganggapnya orang kecil,

Lebih tulus dibandingkan dengan orang lain.

 

Sombong karena Materi mudah terlihat, namun Sombong karena Pengetahuan, apalagi Sombong karena Kebaikan, agak sulit untuk dideteksi, karena seringkali hanya berbentuk benih-benih halus didalam bathin seseorang.

 

Untuk itu cobalah setiap hari, introspeksi diri sendiri, karena kadang seseorang butuh orang lain untuk mengintrospeksi diri, seseorang butuh kritikan dan masukan dari orang lain. Setiap hal yang baik dan yang bisa di lakukan segeralah lakukan serta hendaknya banyak-banyak bersyukur supaya tidak menjadi buta dengan kepongahan dan kesombongan itu sendiri.

 

Kesombongan hanya akan membawa pada Kejatuhan yang semakin dalam, dan disamping itu Kesombongan juga tidak disukai baik oleh Penghuni Bumi maupun Penghuni Langit.

Jadi tetaplah Bersabar dan  Rendah Hati, sebab terkadang orang yang dihadapi ternyata jauh lebih hebat.

 

 

NASEHAT :

  1. Hendaklah kalian menjadi pelaku firman atau sabda dan bukan hanya sebagai pendengar saja, sebab jika tidak demikian kalian hanya menipu diri sendiri.

Jika seseorang hanya mendengarkan firman saja dan tidak melakukannya, ia dapat diumpamakan sebagai seorang yang sedang mengamat-amati mukanya di depan cermin dan baru saja ia memandang dirinya, kemudian ia sudah pergi atau ia segera lupa bagaimana rupanya.

  1. Awal malapetaka dan kehancuran seseorang terjadi ketika penyakit sombong dan merasa diri paling benar bersemayam dalam hatinya. Inilah sifat yang melekat pada iblis. Sifat inilah yang berusaha ditransfer iblis kepada manusia yang bersedia menjadi sekutunya.

Sifat ini ditandai dengan ketidak siapan untuk menerima kebenaran yang datang dari pihak lain, keengganan melakukan instrospeksi, mawas diri atau muhasabah ; serta sibuk melihat aib dan kesalahan orang lain tanpa mau melihat aib dan kekurangan diri sendiri.

Oleh karena itu akan jauh lebih baik kalau mau mengarahkan telunjuk kepada diri sendiri daripada mengarahkan telunjuk kepada orang lain.

 

ANEKDOT :

 

MIMIN MINTARSIH MENOLAK MENIKAH 

GARA-GARA UNDANGAN YANG SALAH CETAK

 

Sehari sebelum pelaksanaan pernikahan, Mimin Mintarsih terus-menerus menangis, dan seluruh keluarganya menjadi kebingungan.
Ibu : “Kenapa Teh Mimin kok malah nangis terus, kan mestinya hari ini Teteh bahagia….?
Mimin : “Batal saja Buu…bataaall saja !!”
Ibu : : “Lho besok kan sudah diresmikan perkawinan mu, koq minta dibatalkan … ?”
Mimin : “Ini buuu, tolong dibaca dulu dengan teliti undangan ini.

Di sini tertulis tuuhhh……!!!

“TURUT MENUNGGANG”

1. Pak Camat dan jajarannya

2. Pak Lurah dan jajarannya

3. Pak RW dan jajarannya

4. Pak RT dan jajarannya

Saya nggak mau Buuu…… Bener-bener saya nggak mauuu….”

 

BANDUNG – INDONESIA, DESEMBER – 2017

Cerita : Arya Pratama

(Gubahan  Ki Ageng Bayu Sepi)