Monthly Archives: October 2017

A Y A H

 

BERLATIH TIDAK MEMBENCI ATAU KESAL, DALAM KONDISI YANG TIDAK MENYENANGKAN, BERARTI MENINGGALKAN SIFAT RENDAH MANUSIA DAN MENUJU KELUHURAN HIDUP.

JIKA LATIHAN KELUHURAN HIDUP, BERUSAHA TIDAK MEMBENCI ITU BERHASIL; MANFAAT UTAMANYA PADA ORANG YANG MELATIH, BERIKUTNYA MANFAAT ITU KEPADA SIAPA SAJA YANG BERINTERAKSI DENGANNYA.

MENINGGALKAN SIFAT BURUK TIDAKLAH MUDAH, BAGI ORANG YANG BELUM TERLATIH, AKAN TETAPI KARENA SIFAT RENDAH ITU SENDIRI YANG MEMBUAT MANUSIA MENJADI RENDAH.

MAKA DARI PEMAHAMAN TERSEBUT ORANG TERMOTIVASI UNTUK BERLATIH MENGEMBANGKAN SIFAT LUHUR TIDAK MEMBENCI.

nak-anakku semuanya, Memang tidak bisa dipungkiri bahwa Ayah tidak pernah mengandung kalian akan tetapi darahnya mengalir dalam darah kalian, dan darinya kalian diwarisi nama, kedermawanan dan kerendah hatian……

Demikian pula, bahwa Ayah pun tidak melahirkan kalian, namun suaranyalah yang pertama kali mengantarkan kalian kepada Allah ketika kalian baru lahir…….

Dan Ayah memang tidak menyusui kalian akan tetapi ketahuilah bahwa dari keringatnyalah setiap suapan yang menjadi air susu kalian……

Ayah pun tidak bisa menjaga kalian setiap saat, akan tetapi apakah kalian tahu bahwa dalam setiap doanya, Ayah tak pernah lupa menyebutkan namamu.…..

Tangisan Ayah mungkin tidak akan pernah kalian dengar karena dia ingin terlihat kuat, agar kalian tidak ragu pada saat berlindung dilengan dan didadanya ketika merasa tidak aman…..

Pelukan Ayah mungkin tidak sehangat dan seerat pelukan ibu karena cintanya dia takut tidak akan sanggup melepaskan kalian…..

Ayah ingin kalian kuat dan bersemangat, agar ketika kami ayah dan ibu sudah tiada, kalian sanggup mengahadapi semuanya sendiri…..

Yang ibu inginkan agar kalian tahu, bahwa cinta ayah sama besarnya dengan cinta ibu kepada kalian semua.

Anak-anakku semuanya……

Dari dirinya juga terdapat surga bagi kalian. Oleh karena itu hormati dan sayangi Ayah kalian karena Ibu adalah tulang rusuknya….

Seperti yang kalian ketahui, pada saat ini bahwa Ayah sedang menderita sakit yang tidak bisa dikatakan ringan, maka pada kesempatan ini Ibu meminta kalian semua sebagai anak-anaknya bisa berkumpul dan berbincang bersama untuk membahas tentang kesehatan Ayah, harus bagaimana yang sebaiknya,” demikian kata Ibu Sitoresmi kepada anak-anaknya.

Maka ke empat orang kakak-beradik yang sedang berkumpul, yaitu Ambarsari, Budiyanti, Citrawati dan Dimas Tejo yang kemudian bermusyawarah. Sitoresmi, Ibunyapun ikut pula hadir dalam pertemuan itu. Keberadaan seorang ibu dalam pertemuan tersebut diharapkan agar para putra-putrinya bisa dengan rukun, hidup berdampingan dan saling membantu untuk bisa mendapatkan cara untuk melepaskan ikatan permasalahan yang ada dalam keluarganya.

Adapun yang menjadi pokok bahasan dalam musyawarah tersebut adalah mencari jalan keluar bagaimana sebaiknya meringankan penderitaan Bapak Priambada, ayah dari ke empat orang kakak-beradik tersebut karena sakit ginjal yang semakin hari semakin bertambah parah. Bahkan sudah berkali-kali keluar masuk rumah sakit namun selama ini belum juga memperlihatkan tanda-tanda kesembuhannya.

“Adik-adikku semuanya, aku harapkan kalian semua mempunyai pendapat dan memperoleh cara bagaimana untuk bisa memperingan penderitaan Ayah. Dan ini yang menjadi tujuan utama diadakannya musyawarah.” demikian kata Ambarsari sebagai anak tertua yang membuka pembicaraan dalam pertemuan tersebut.

Citrawati hanya mengangguk-anggukan kepalanya tanpa ekspresi, sedangkan Budiyanti dan Dimas Tejo memperhatikan dengan sangat serius dengan wajah yang tegang. Memang ke dua orang bersaudara ini sering sekali bertengkar karena perbedaan pendapat dan masing-masing mempertahankan pendapatnya.

Seperti sebuah pepatah yang mengatakan : “Bertahan pada pendapat masing-masing, tidak saja melukai keharmonisan, terlebih lagi akan menciptakan jurang yang sulit diseberangi.”

“Memperhatikan kesehatan Ayah yang semakin hari semakin bertambah parah, mungkin akan lebih baik kalau kita mempertimbangkan saran dokter yang merawatnya agar menggunakan cara lain, dengan perkataan yang berbeda tidak lagi mengkonsumsi obat-obatan untuk memulihkan kesehatannya,” kata Dimas Tejo mengingatkan Mbakyu-Mbakyunya.

“Aku sendiri secara pribadi sangat setuju dengan saran dokter tersebut, karena Ayah memang memerlukan transplantasi atau cangkok ginjal. Menurut diagnose secara medis bahwa sakit Ayah sudah masuk dalam kategori Gagal Ginjal Tahap Akhir atau GGTA.

Dengan perkataan lain penyakit yang diderita Ayah sudah sulit untuk ditanggulangi dengan obat-obatan kecuali dengan cara cuci darah selamanya. Dan untuk itu pada setiap bulannya membutuhkan biaya kurang lebih enam puluh dua juta rupiah, sedangkan kalau untuk transplantasi atau cangkok ginjal memerlukan biaya yang lebih besar daripada itu, namun hanya sekali.

Selain dari itu yang harus menjadi bahan pertimbangan kita adalah, bahwa Ayah selalu mengeluh kesakitan ketika tiap-tiap kali berlangsungnya pelaksanaan cuci darah, hingga aku sendiri pun merasa tidak sampai hati jika mendengar dan melihat hal tersebut………,” lanjut Dimas Tejo.

“Apa….?  Transplantasi ginjal ?  Waduuuhhhh……berapa banyak pembiayaan untuk itu semua ?” tukas Budiyanti sambil memandang sinis kearah Dimas Tejo, yang belum sempat menyelesaikan perkataannya.

“Terus terang saja aku akui, dari ke empat orang anak Ayah, memang akulah yang paling sedikit dalam hal memberikan sumbangan, mungkin dapat dikatakan tidak ada artinya sama sekali, apabila dibandingkan dengan sumbangan yang diberikan oleh Mbakyu-mbakyuku semuanya.

Tetapi memang hanya sedemikian itulah yang bisa kuberikan menurut kemampuanku, namun aku sanggup mendonorkan ginjalku untuk Ayah. Kebetulan golongan darah Ayah dengan golongan darahku sama,” kembali penjelasan Dimas Tejo.

“Walaupun kamu sudah mendonorkan sebelah ginjalmu, tetapi juga masih harus memikirkan pembiayaan operasi dan keperluan lain-lainya yang menurut perkiraan memerlukan pembiayaan yang tidak sedikit. Aku juga bisa mendonorkan ginjalku untuk Ayah, tetapi aku tidak mau ikut pula menanggung pembiayaan lainnya,” tukas Budiyanti.

“Apakah sudah pasti kemauan Mbak Budiyanti demikian ? Kalau memang begitu baiklah.  Andaikata Mbak Budiyanti sudah bersedia mendonorkan sebelah ginjalnya untuk Ayah, biarlah kami tiga orang anak Ayah yang akan menanggung semua pembiayaan pengobatannya.

Dan kalau kemauan itu memang sudah bulat, maka sebaiknya mari kita berempat membuat perjanjian secara tertulis.

Tetapi perlu juga untuk dimengerti oleh Mbak Budiyanti, bahwa sebagai calon pendonor ginjal itu harus menjalani sebuah proses yang sangat panjang, yaitu kedewasaan, mental serta riwayat kesehatan diperiksa semuanya. Belum lagi diwawancarai oleh tim psikiatri untuk mengetahui tingkat emosional, intelektual dan kognitif. Apakah Mbak Budiyanti bersedia untuk menjalaninya ?” tanya Dimas Tejo.

“Untuk pembiayaan ini semua, kamu sudah mempunyai uang berapa banyak, Dimas ? Seharusnya kamu sadar diri menjadi orang, bisa mawas diri serta bisa mengukur berapa isi kantong atau berapa kemampuan keuanganmu. Jadi jangan mencoba untuk bermimpi yang bukan-bukan !” kembali tukas Budiyanti yang sangat menusuk hati dan perasaannya.

Hal tersebut dilakukan Budiyanti karena dia merasa bahwa apa yang dilakukan adik laki-lakinya itu hanya ingin memancing nafsu amarahnya serta mau menyudutkan posisinya saja. Memang apabila dibandingkan dengan yang lainnya, kehidupan Budiyanti dapat dikatakan paling berkecukupan atau paling mapan.

“Sekali lagi aku mengakui, diantara ke empat anak Ayah apabila dibandingkan hanya aku sendiri yang paling berkekurangan atau yang paling miskin. Entah sudah berapa kali, Mbak Budiyanti menuduhku tidak mau mengeluarkan pembiayaan untuk membantu pengobatan penyakit Ayah. Namun walaupun aku miskin, namun aku belum pernah sama sekali merepotkan Mbakyu-Mbakyu semua.”

“Sudah, sudah, dalam musyawarah jangan malah saling bertengkar,” kata Ambarsari untuk memberhentikan saudaranya yang sedang bertengkar sebelum Budiyanti sempat menjawab lagi.

“Baiklah kalau memang demikian, jika sudah tidak ada yang mau memperhatikan dan menerima pendapat serta keadaanku ini, mungkin lebih baik aku tidak ikut bermusyawarah,” kata Dimas Tejo sambil langsung berdiri.

“Dimaasss…..!!” teriak Ibu Sitoresmi, yang tujuannya akan menghalangi maksud Dimas Tejo anaknya, agar tidak meninggalkan tempat musyawarah tersebut. Akan tetapi Dimas Tejo tetap saja melangkah keluar tanpa menoleh lagi, walaupun mendengar teriakan ibunya. Kelihatannya Dimas Tejo sangat terluka hati dan perasannya.

Ibu Sitoresmi sangat sedih setiap kali anaknya saling bertengkar. Sebenarnya mereka masing-masing sudah berkeluarga dan diantara ke empat orang anaknya, memang kondisi kehidupan Dimas Tejo masih memerlukan bantuan. Untuk mengontrak rumah saja masih perlu dibantu. Sedangkan kehidupan tiga orang anak perempuannya  memang lebih mapan dan masing-masing sudah memiliki rumah tinggal sendiri serta kendaraan roda empat yang cukup bagus.

“Nah, itu lihat apa yang dilakukan Dimas Tejo, semua ini kan karena Dimas selalu diberikan perhatian yang lebih. Semenjak masih kecil apa yang menjadi keinginannya selalu dipenuhi. Makanya dia menjadi anak yang manja, oleh karena itu kuliahnyapun tidak selesai,” kata Budiyanti sambil menggerutu.

“Itu nggak benar, Budiyanti anakku. Ayah dan Ibu tidak pernah memanjakan dan tidak pernah membeda-bedakan atau berat sebelah dalam memberikan perhatian kepada anak-anaknya. Kalian semua dirawat dan dibesarkan dengan perlakuan dan kasih sayang yang sama. Jika kalian semua sudah menjadi orang dewasa dan dikemudian hari mengalami kehidupan yang berbeda-beda itu adalah nasib manusia, karena keberuntungan, kemalangan, perjodohan maupun umur setiap manusia membawa kepastiannya sendiri-sendiri. Tetapi mengapa Budiyanti, kamu selalu saja memusuhi Dimas Tejo ?” tanya Ibu Sitoresmi.

“Ini kan karena Dimas Tejo pernah membuat marah dan kecewa dihatiku, Bu. Waktu itu hampir saja pernikahanku dengan Mas Wijayanto batal, karena ulah yang dilakukan oleh Dimas Tejo. Dan hal inilah yang menyebabkan rasa dendamku, karena sakit hati yang kurasakan saat itu masih terasa hingga sekarang.

Aku mendengar dengan telingaku sendiri ketika Dimas Tejo mengatakan kepada Ayah dan Ibu agar mempertimbangkan pernikahanku dengan Mas Wijayanto, karena adanya sebuah informasi bahwa Mas Wijayanto sudah mempunyai istri dan beberapa orang anak,” jawab Budiyanti.

“Tidak demikian Nak, itu tidak benar. Dimas Tejo tidak pernah mempunyai perilaku jahat seperti apa yang kamu perkirakan itu. Kamu hanya terbawa oleh prasangka jelek kepadanya,” demikian penjelasan Ibu Sitaresmi.

“Aku merasakan kalau apa yang dilakukan Ibu itu telah membeda-bedakan, pilih kasih. Ibu selalu membela Dimas Tejo, dan apa yang kulakukan tidak pernah ada yang benar dimata ibu. Sedangkan apa yang dilakukan oleh Dimas Tejo selalu paling baik, memang Dimas Tejo adalah anak mama.” gerutu Budiyanti.

“Sama sekali tidak demikian,Budiyanti ! Seperti apa yang telah kita bicarakan dan dengarkan bersama dalam musyawarah tadi, menurut pendapat Ibu apa yang disampaikan oleh Dimas Tejo memang logis dan masuk akal. Dan andaikata Ibu sanggup, mengenai pembiayaan pengobatan Ayahmu akan Ibu tanggulangi sendiri seluruhnya, maka Ibu tidak akan perlu lagi merepotkan kalian semua.

Mengenai transplatasi atau cangkok ginjal memang membutuhkan pembiayaan yang sangat besar. Kalau memang hal itu merupakan satu-satunya solusi atau jalan keluar dalam rangka meringankan penderitaan Ayah, tentunya cara tersebut yang harus ditempuh. Ya harus bagaimana lagi,” demikian penjelasan Ibu.

“Pendapat yang disampaikan ibu itu kan disebabkan oleh karena Ibu sudah terlanjur percaya dengan apa yang telah dikemukakan oleh Dimas Tejo. Entah sudah berapa banyak Ibu telah menerima uang suap dari Dimas Tejo,” sahut Budiyanti dengan nada yang tidak enak.

“Budiyanti…..! Perkataanmu telah membuat rasa sakit di hati dan perasaan Ibu, Nak. Kalau saja Ayahmu mendengar pertengkaran anak-anaknya mengenai hal pengobatan ini, maka dapat dipastikan bahwa Ayah kalian tidak ingin lagi sembuh dari penyakit yang dideritanya,” sahut Ibu Sitoresmi.

“Sudah….. cukup ! Cukup sampai disini saja, kita tidak perlu lagi untuk melanjutkan pembicaraan atau musyawarah ini. Dan kamu Budiyanti, sekali-kali kamu tidak boleh berkata-kata yang bisa melukai perasaan Ibu seperti yang baru saja kamu lakukan,” tukas Ambarsari sambil memandang tajam kepada Budiyanti adiknya.

-o-

Pagi hari itu seperti hari-hari sebelumnya Dimas Tejo pergi bekerja dan berangkat dari rumah kontrakannya. Sebagaimana kebiasaan yang dilakukan, dia berangkat dan pulang dari bekerja selalu menaiki sebuah sepeda motor keluaran tahun yang sudah lama, dan itu merupakan satu-satunya kendaraan yang dimilikinya.

Memang sudah berkali-kali Bapak Priambada menyarankan agar Dimas Tejo mengendarai mobilnya. Sebenarnya Bapak Priambada membeli mobil itu, tujuannya memang untuk membelikan Dimas Tejo. Agar Dimas Tejo juga memiliki kendaraan beroda empat seperti semua saudaranya.

Akan tetapi Dimas Tejo hanya menyanggupi kalau mau menggunakan kendaraan itu, namun sampai dengan sekarang dia belum pernah mengendarai mobil pemberian Ayahnya tersebut.

Kembali pada alur cerita sebelumya. Baru saja Dimas Tejo dengan motor tuanya sampai dan berbelok memasuki pada Jalan Raya dan, tiba-tiba terdengar jeritan orang-orang yang berada disitu. Sepeda motor tua Dimas Tejo tertabrak dan terseret sejauh beberapa puluh meter oleh sebuah Mobil Tronton yang melaju dengan kecepatan tinggi mungkin sedang mengalami rem blong sehingga tidak terkendali.

Badan Dimas Tejo sendiri terpelanting jauh dan jatuh terhempas dengan kerasnya, terlihat pada kepala dan badannya berlumuran darah.

Ketika dalam keadaan kritis Dimas Tejo masih sempat berpesan dan minta tolong kepada petugas kepolisian yang menangani kecelakaan lalu-lintas untuk menyampaikan sebuah map berwarna hijau muda yang berisi surat-surat penting kepada dokter Mulyadi.

Mendengar berita bahwa Dimas Tejo meninggal dunia karena kecelakaan Ibu Sitoresmi menjerit histeris dan Bapak Priambada langsung pingsan. Ketika hari sudah agak siang datanglah seorang Petugas Rumah Sakit yang menuju ke Rumah Duka dan disambut oleh Ambarsari, Budiyanti dan Citrawati.

Kemudian Petugas Rumah Sakit menunjukkan bundel surat-surat resmi dan mereka bertiga sangat terkejut. Ternyata rancangan tentang operasi transplantasi ginjal Bapak Priambada sudah diatur oleh Dimas Tejo dengan teliti, rinci dan secara diam-diam.

Dimas Tejo sendiri sudah menjalani semua prosedure yang seharusnya ditempuh sebagai calon pendonor ginjal dan dokter juga telah memutuskan bahwa Dimas Tejo pantas dan tepat sebagai pendonor ginjal untuk Bapak Priambada.

Dokter juga menyarankan bahwa operasi atau transplantasi ginjal untuk Bapak Priambada agar segera dilaksanakan sebab Dimas Tejo sudah dalam keadaan meninggal dunia.

Sambil menyampaikan surat-surat, Petugas Rumah Sakit itu juga menjelaskan kalau almarhum juga sudah menitipkan uang yang jumlahnya cukup guna pembiayaan berjalannya operasi hingga selesai.

Adapun surat-surat yang disampaikan oleh Petugas Rumah Sakit itu diterima oleh Ambarsari dengan tangan bergemetaran, dan mengenai isi surat tersebut adalah sebagai berikut :

Ibu ku sayang, walau apapun yang akan terjadi saya harap operasi Ayah harus tetap dilaksanakan untuk trasnplantasi ginjalku. Menurut keterangan dokter, ginjalku sehat dan cocok kalau didonorkan untuk Ayah.

Aku bersyukur kepada Allah, bahwa aku telah diberikan sepasang ginjal yang sehat, apapun yang sudah menjadi kepunyaanku kemudian dibutuhkan oleh orang lain akan kuberikan, apalagi ini untuk Ayah yang sangat kuhormati. Aku sangat rela menyerahkannya agar bisa memulihkan kembali kesehatan Ayah.

Ibu, biaya untuk transplantasi atau cangkok ginjal yang telah berhasil saya tabung ini, saya peroleh dengan cara yang baik dan halal. Dan itu merupakan sebuah anugerah yang diberikan untuk keluarga kita.

Kalau Allah memang sudah berkehendak, maka tidak sesuatu hal yang mustahil bagiNya. Sehubungan dengan hal diatas dan uang yang sudah saya kumpulkan tersebut adalah agar tidak menjadikan beban bagi orang lain serta jangan sampai menumbuhkan permasalahan nanti dikemudian hari.

Salam bakti untuk Ayah dan Ibu.

Dengan air mata yang terus mengalir dan membahasahi pipinya, kemudian Ambarsari memberikan surat tersebut kepada Budiyanti, yang sejak tadi hanya berdiri mematung seperti orang yang linglung. Setelah membaca dan mengerti apa isi surat tersebut lalu Budiyanti berteriak keras : “Dimas Tejo…..,adikku. Maafkan aku Budiyanti Mbakyumu ……. yang telah salah menilaimu…..!” Lalu Budiyanti jatuh berdebum dilantai dan pingsan.

Mendengar suara ribut-ribut di ruang depan, Ibu Sitoresmi segera keluar namun tersandung badan Budiyanti yang tergeletak dilantai masih dalam keadaan pingsan, dan surat yang berada dalam genggaman tangan Budiyanti diambil, lalu dibaca. Ibu Sitoresmi pun menyusul ikut pingsan.

Bapak Priambada dengan terhuyung-huyung dan melangkah setapak demi setapak sambil berpegangan apa yang ada, menyusul keluar ke ruang tamu. Terkejut sekali Bapak Priambada ketika mendapatkan Sitoresmi istrinya dan Budiyanti anaknya tergeletak dalam keadaan tidak sadarkan diri.

Oleh Petugas Rumah Sakit, Bapak Priambada dibantu didudukkan di sebuah kursi yang ada. Dan setelah terlihat agak enak dan nyaman posisi duduknya, kemudian surat yang ditulis oleh Dimas Tejo diberikan kepada Bapak Priambada.

Selesai membaca isi surat tersebut Bapak Priambada diam dan  tertunduk lemas tanpa tenaga, dari wajahnya yang kuyu dan lesu terlihat hatinya sangat terpukul dan berduka yang sangat dalam, kemudian dengan perlahan dia berkata :

“Kasihan engkau Dimas Tejo, anakku lelaki,” gumamnya perlahan.

”Anak-anakku semua,  umur Ayah kini sudah 80 tahun…………..,

Ayah tidak lagi membutuhkan cangkok ginjal…………………….,

Ayah tidak memerlukan operasi……………,” katanya yang lalu berhenti sebentar, kemudian dengan perlahan-lahan mengatur pernapasannya yang tersengal-sengal seperti orang yang kelelahan.

Lalu lanjutnya kemudian : “Akan tetapi uang yang berhasil dikumpulkan dan ditabung Dimas Tejo akan jauh lebih baik jika uang tersebut dipergunakan sebagai biaya untuk membesarkan dan  menyekolahkan Maheswari, karena dia adalah keturunan almarhum.

Ayah sudah tua, mungkin akan lebih baik kalau Ayah juga menyusul Dimas Tejo….

Sitoresmi……,

Istriku yang kucinta, aku pamit untuk lebih dulu menghadap ke hadirat Nya. Semuanya kupercayakan kepadamu, dan terserah bagaimana caramu untuk mendampingi dan membimbing anak-anak……

Dimas Tejo……. Tunggu Ayah, Nak….!”

Setelah berseru agak keras, Bapak Priambada tertunduk dan langsung diam yang disertai hembusan nafasnya yang terakhir.

Orang tua tersebut sudah pergi dipanggil dan menghadap hadiratNya, bukan disebabkan karena penyakit gagal ginjalnya yang sudah kelewat parah, akan tetapi memang demikianlah yang sudah menjadi kepastian untuknya.

Saudaraku pembaca semuanya yang saya hormati terutama di kalangan sendiri, reka cerita diatas hanya sekedar merupakan sebuah gambaran dari contoh kejadian yang mungkin bisa dijumpai dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat.

Melalui reka ceritera itu yang intinya adalah untuk mengenal sosok dan kasih sayang seorang ayah serta menunjukkan bahwa pada setiap manusia baik itu laki-laki atau perempuan terdapat sisi baik maupun sisi buruk yang ingin menang sendiri dengan berbicara seenaknya untuk memuaskan hatinya tetapi malah melukai perasaan orang lain.

Mengenai isi dari reka cerita tersebut bisa kita ambil hikmahnya sebagai pesan moral dan bahan perenungan dalam menjalani kehidupan kita masing-masing didalam bermasyarakat.

 

MENGENAL SOSOK DAN KASIH SAYANG SEORANG AYAH

*) Kalau berbicara mengenai kasih sayang orang tua, pada umumnya orang akan lebih banyak membahas tentang kasih sayang ibu daripada kasih sayang Ayah. Kasih sayang seorang ibu memang besar, tetapi bagaimana dengan kasih sayang seorang Ayah ?

Seperti apa yang dikatakan oleh Ibu Sitoresmi pada cerita diatas, Ayah adalah sesosok laki-laki yang patut untuk dikagumi sifat, sikap dan perbuatannya. Ayah memiliki tanggungjawab besar terhadap keluarga dan kasih sayangnya juga tidak perlu diragukan lagi karena sama besar dengan kasih sayang seorang ibu namun dicurahkan dalam bentuk yang berlainan.

Mungkin dulu waktu masih sebagai anak kecil, Ibu-lah yang lebih sering mengajak bermain atau mendongeng. Akan tetapi apakah engkau tahu, bahwa setiap Ayah pulang kerja meskipun dengan wajah yang lelah, Ayah selalu menanyakan pada Ibu tentang keadaanmu dan apa saja yang telah kamu lakukan seharian itu ?

*) Ayah berharap anak-anaknya menjadi seorang manusia yang tidak rapuh, tidak nakal, menyalahi aturan, kuat, bertanggungjawab, dan menjadi manusia yang mandiri dalam menjalani proses kehidupan yang panjang serta berliku.

Proses tersebut membutuhkan banyak bekal diataranya sifat-sifat yang diajarkan Ayah sewaktu masih kecil dengan cara memarahi, memukul atau bahkan dengan memberi kasih sayang.

Untuk menjalani kehidupan yang tidak semudah seperti dalam bayangan atau dongeng, cerita, atau pula dengan bim salabim-abra kadabra semuanya langsung selesai. Karena semua jenis pekerjaan dan pilihan hidup membutuhkan keyakinan dan usaha. Dan hal tersebutlah yang selalu diajarkan Ayah pada anak-anaknya.

Sebagai sebuah contoh : Pada saat engkau masih sebagai seorang anak kecil, Ayah yang selalu mengajarimu naik sepeda. Setelah Ayah menganggapmu bisa, maka Ayah akan melepaskan roda bantu di sepedamu.

Kemudian Ibu akan berkata : “Jangan dulu Ayah, jangan dilepas dulu roda bantunya.”

Hal itu karena Ibu merasa takut kalau anak kecilnya yang manis akan jatuh dan terluka. Akan tetapi apakah engkau sadar, bahwa Ayah dengan yakin akan membiarkanmu, menatapmu, mengawasimu dan selalu menjagamu dalam mengayuh sepeda dengan seksama karena dia tahu bahwa anak kecilnya pasti bisa.

*) Ayah memilki tanggung jawab besar dalam mendidik anak. Namun, selain itu Ayah juga memiliki tanggung jawab untuk memberi nafkah pada keluarga.

Karena fitrah Ayah yang tidak dapat melahirkan seperti halnya seorang ibu, maka kasih sayang seorang ayah akan diberikan dalam bentuk yang berbeda, yang semaksimal mungkin ingin memenuhi permintaan dan kebutuhan keluarga terutama untuk anak-anaknya.

Seberapa pun rasa lelah yang dirasakan dan keringat bercucuran Ayah akan tetap bekerja. Walaupun tulang sudah mulai merapuh, kulit mengeriput, nafas sudah tidak lagi lancar dan kuat seperti dahulu namun Ayah akan tetap berjalan tegak mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Pada saat anak kecilnya menangis dan merengek meminta boneka atau mainan yang baru, Ibu menatap dengan iba. Akan tetapi Ayah akan mengatakan dengan tegas, “Ya sayang nanti kita beli, tetapi tidak sekarang.”

Apakah engkau tahu, bahwa Ayah melakukan hal itu karena Ayah tidak ingin kamu menjadi anak yang manja dengan semua tuntutan yang harus selalu dapat dipenuhi ?

Namun ketika permintaanmu bukan lagi hanya sekedar meminta boneka baru, dan Ayah merasa bahwa ia tidak bisa membelikan apa yang kamu inginkan.

Apakah engkau juga tahu, bahwa pada saat itu Ayah merasa gagal membuat anaknya tersenyum.

 

*) Sifat Ayah pada dasarnya adalah mengayomi, bertanggungjawab dan berusaha membuat anggota keluarga senang dan bahagia.

Mungkin Ayah pernah marah atau memukul anak-anaknya, tapi percayalah bahwa hal tersebut merupakan bentuk kasih sayangnya. Misalnya pada saat anak kecilnya sakit influenza, seorang Ayah yang terlalu khawatir dengan keadaan tersebut, akan menegur bahkan terkadang sampai sedikit membentak dan berkata : “Sudah dibilang ! Kamu jangan minum air dingin.”

Akan tetapi berbeda halnya dengan seorang ibu yang memperhatikan dan menasehati anaknya dengan lembut.

Namun harus diketahuil, pada saat itu seorang Ayah benar-benar menghawatirkan keadaan anaknya.

Pendidikan, pengetahuan dan pendapatan yang rendah tidak akan menghalangi munculnya sifat alami tersebut pada sosok seorang Ayah.

Kebahagiaan anggota keluarga adalah kebahagiaan dirinya. Itulah gambaran singkat sosok seorang Ayah.

-o-

JANGAN MERENDAHKAN ATAU MENJELEKKAN ORANG LAIN.

 

1.) Dalam hidup ini tidak perlu merendahkan atau menjelek-jelekkan orang lain, sebab orang yang baik tidak akan pernah merendahkan atau menjelek-jelekkan orang lain. Karena pada saat merendahkan orang lain maka hal tersebut menunjukkan bahwa nilai dari diri seseorang itu rendah. Oleh karena itu tidak perlu merendahkan orang lain.

 

2) Mungkin banyak pihak yang berusaha untuk menjatuhkan seseorang, akan tetapi kemungkinan yang paling besar membuat seseorang tersebut jatuh adalah dirinya sendiri. Dengan perkataan lain yang bisa membuat seseorang itu menjadi rendah adalah hanya dari perbuatannya sendiri.

Oleh karena itu jangan pernah membuat nilai diri menjadi rendah hanya dengan sikap dan perbuatan sendiri. Maka dalam menjalani hidup harus menjaga sikap dan menjaga perbuatan, karena hal itu lah yang memungkinkan bisa merendahkan dan menjatuhkan diri sendiri.

 

3) Sebenarnya tidak perlu merendahkan orang lain dan jangan pula pernah menjelek-jelekan orang lain, meskipun menurut penilaian maupun kenyataannya bahwa perilaku orang tersebut memang buruk, rendah  dan tidak baik sekalipun.

Sebab yang bisa menilai baik buruknya seseorang hanyalah Tuhan. Dan sebagai sesama manusia  seseorang sama sekali tidak memiliki hak untuk menilai baik atau buruknya orang lain.

Sebaiknya kalau mengetahui bahwa hal tersebut tidak baik dan bertentangan dengan aturan yang ada maka tidak usah diikuti, akan tetapi kalau hal tersebut memang baik menurut penilaian manusia maupun aturan yang belaku, maka boleh untuk mengikutinya.

 

4) Sebagai manusia biasa tidak akan pernah lepas dari yang namanya kesalahan. Maka sebelum seseorang melakukan tindakan menjelek-jelekkan atau merendahkan orang lain, seharusnya ingat dan menyadari bahwa dirinya sendiri tidak selalu baik.

Kalau diri sendiri tidak selalu baik lalu untuk apa harus menjelek-jelekkan dan merendahkan orang lain.

Seseorang itu tidak perlu mengurus apa yang dilakukan oleh orang lain. Uruslah diri sendiri jangan pernah menilai apa yang dilakukan oleh orang lain. Lebih baik kesempatan yang ada dipergunakan untuk ngaca atau introspeksi diri, agar tahu kekurangan diri sendiri dan biar nggak sombong serta merasa dirinya yang paling benar.

 

5) Seseorang tidak akan pernah terlihat menjadi hebat atau namanya terangkat menjadi mulia dengan hanya merendahkan atau menjelek-jelekan orang lain.

Sekali lagi, karena pada saat merendahkan orang lain maka hal itu menunjukkan bahwa nilai dari diri seseorang itu rendah. Oleh karena itu tidak perlu merendahkan orang lain, karena kegiatan tersebut adalah merupakan sebuah kegiatan yang tidak ada artinya atau kegiatan yang tidak menguntungkan.

 

-o0o-

 

BERHATI-HATI DALAM BERBICARA

Mengambil gambaran seperti pada cerita diatas, bagaimana Budiyanti yang berbicara seenaknya sehingga menyinggung dan menyakiti perasaan hati Dimas Tejo adiknya maupun Sitoresmi ibunya.

Dalam kehidupan sehari-hari bermasyarakat yang sangat majemuk dan kondisinya satu dengan yang lain tidak sama maka harus berhati-hati dalam berbicara agar tidak melukai hati siapapun.

Mungkin saja hal-hal yang menurut kita biasa saja misalnya dalam bentuk gurauan, lelucon ataupun candaan yang ceplas-ceplos malah melukai hati seseorang. Hal itu karena kita tidak pernah tahu bagaimana perasaan orang lain pada saat itu.

Sekali salah dalam berbicara, maka ucapan itu tidak bisa ditarik kembali, maka sebaiknya akan lebih bagus kalau berpikir terlebih dahulu sebelum mengatakannya kepada orang lain agar apa yang akan kita katakan itu tidak melukai perasaan siapapun.

Sekali bersalah mungkin orang masih bisa memaafkan namun hal tersebut tidak bisa dilupakan. Tetapi ada kalanya untuk memaafkan saja itu tidak mudah apalagi untuk melupakannya.

Oleh karena itu setiap orang harus menjaga lisan dan berhati-hati dalam berbicara agar tidak menyinggung ataupun melukai hati dan perasaan siapapun.

-o-

Berkaitan dengan hal diatas dalam Etika Jawa utamanya yang berhubungan dengan tata-krama orang berbicara, harus mengikuti 4 peraturan yang dikenal dengan “4 R” yaitu : ririh, ruruh, rereh dan respati.

Ririh : Kalau berbicara tidak keras, perlahan atau sedang saja, yang penting bahwa orang yang diajak berbicara bisa mendengarakan, itu sudah cukup. Jadi bukan berbicara dengan berteriak.

Ruruh : Dalam berbicara harus selalu menghormati siapa saja lawan kita bicara. Dalam hal berbicara itu harus menggunakan bahasa yang diatur, tidak asal berbicara.

Rereh : Artinya apa yang akan dibicarakan adalah hanya terbatas pada masalah yang perlu saja. Tidak usah muluk-muluk apalagi sampai dengan memberikan janji-janji.

Respati : Dalam hal berbicara dapat melegakan hati, menyenangkan hati atau bahkan dapat membuat gembiranya orang yang diajak bicara atau lawan bicara.

-o-

 

APA YANG AKAN DI LAKUKAN JIKA MELIHAT ADA ORANG  YANG MELAKUKAN KESALAHAN

Pada umumnya kalau tidak kenal dengan orang yang melakukan kesalahan, mungkin akan dengan mudah dan dengan lantang mengritik atau menjatuhkannya.

Namun apabila kenal dengan orang yang melakukan kesalahan tersebut , maka seringkali merasa enggan / takut / atau malah tidak berani menegur.

Adapun alasannya bisa bermacam-macam, misalnya takut menyinggung perasaan, menganggap bahwa hal tersebut bukan urusan dan tanggung jawabnya, atau karena tidak peduli.

Cukup sering terjadi, bukannya berbicara DENGAN orang yang melakukan kesalahan itu untuk mengingatkan, namun malahan bicara TENTANG orang tersebut dengan orang-orang yang lainnya.

Sebagai akibatnya, gossip terjadi dan keburukan tersebar, bahkan dengan disertai “bumbu-bumbu penyedap” sehingga menjadi semakin menghebohkan dan lain-lainnya.

Seharusnya sebagai sesama manusia kita juga turut bertanggung jawab untuk menjaga sesama kita supaya mereka bisa hidup baik sesuai dengan yang dikehendaki oleh Allah.

-o-

 

Sebuah Humor :

IBU-IBU YANG KECOPETAN

Pada suatu hari di Terminal Angkutan Perkotaan ada seorang ibu-ibu yang sedang menangis sesenggukan, kemudian ditanya oleh seorang polisi yang sedang bertugas..…

Polisi : “Kenapa menangis, Bu……………..?
Ibu-ibu : “Uang saya, dua ratus ribu kecopetan.”
Polisi : “Uangnya disimpan dimana, Bu…………..?”
Ibu-ibu : “Ibu selipin di dalem kutang……”
Polisi : “Memang Ibu nggak kerasa waktu dirogoh…..?”
Ibu-ibu : “Kerasa sih kerasa, soalnya agak lama juga ngerogohnya…”
Polisi : “Lho, Ibu kok nggak berteriak sih……?”
Ibu-ibu : “Saya kirain nggak sambil nyopet, si kesebelan teh….!!!”
Polisi : “Ibu hapal nggak dengan tampang orang yang ngerogoh tadi…?
Ibu-ibu : “Hapal sekali……”
Polisi : “Ciri-cirinya bagaimana, Bu……..?
Ibu-ibu : “Cirinya persis seperti yang lagi baca…….!”
Polisi : &&&-@@@-###-$$$

 

-o0o-

 

BANDUNG – INDONESIA, OKTOBER – 2017

Cerita : Adinda AS

(Gubahan  Ki Ageng Bayu Sepi)