Monthly Archives: August 2017

SEBILAH KERIS PUSAKA

APAKAH DALAM MENJALANI HIDUP DARI HARI KE HARI PENUH DENGAN RASA SYUKUR ATAU SELALU MENGERUTU ?

KETIKA MENDAPAT BEBAN DALAM KEHIDUPAN, APAKAH DAPAT MENANGGUNGNYA DENGAN RELA TANPA MENGELUH ?

KETIKA MENGHADAPI JALAN BUNTU, APAKAH MENYERAH ATAU MENGHADAPINYA DENGAN TEGAR ?

SEBUAH KESALAHAN APABILA MENGEJAR SESUATU YANG NGGAK DIMILIKI, NAMUN MENGABAIKAN DAN MELUPAKAN KEBAHAGIAAN YANG SUDAH DIPUNYAI. SEHARUSNYA MERASA PUAS DAN BESYUKUR DENGAN APA YANG SUDAH DIMILIKI, WALAUPUN ITU HANYA HAL KECIL.

 APA YANG KELIHATAN BAIK UNTUK HARI INI BELUM TENTU BAIK UNTUK HARI ESOK.

DEMIKIAN PULA, APA YANG KURANG BAIK UNTUK HARI INI BELUM TENTU KURANG BAIK JUGA UNTUK HARI ESOK.

YANG PASTI…… TUHAN PALING TAHU YANG TERBAIK UNTUK UMATNYA.

enazah Tante Suhartini sudah dimakamkan di tempat Pemakaman Umum Sirnaraga, seperti yang telah pesannya dahulu ketika Tante Suhartini masih hidup yaitu menginginkan jika suatu saat sudah dipanggil menghadap kehadiratNya beliau ingin dimakamkan di samping makam Neneknya Maheswari.  Dan tidak mau dimakamkan disamping makam Oom Wijayanto suaminya walaupun sudah 2 tahun lebih dahulu menghadap Yang Maha Kuasa.

Pada umumnya yang terjadi di lingkungan masyarakat apabila yang namanya suami-istri jika sudah harus menghadap hadiratNya biasanya dimakamkan berdampingan. Tetapi hal yang terjadi agak berbeda karena keinginan Tante Suhartini yang dinilai agak aneh.

“Tidak, mau ah. Kalau aku nanti sudah dipanggil menghadap oleh Yang Maha Kuasa aku pesan, jangan dimakamkan disamping makam Oom mu Wijayanto,” begitu pesan Tante Suhartini ketika masih hidup dan dalam keadaan sakit dan waktu itu sedang disuapi oleh Larashati.

“Mengapa demikian Tante ?” tanya Larashati, keponakan yang paling disayangi Tante Suhartini dan sering tidur menemani Tantenya yang  kesepian daripada tidur dirumahnya sendiri. Kalau siang hari ada Mbak Sulasmini, yaitu seorang tetangga yang mendapat tugas untuk melayani, karena Mas Wicaksana yang juga anak Tante Suhartini tinggal di rumahnya sendiri.

“Iya, sebab Oom kamu itu tidak mencintai Tante,” jawab Tante Suhartini. Larashati hanya tertawa perlahan yang ditahan karena dalam pikirnya tantenya sudah tua begini tapi masih mudah sekali sewot. Padahal Oom Wijayanto suaminya sudah lama meninggal, tetapi Tante Suhartini masih saja menyimpan rasa sakit hati kepada Oom Wijayanto.

“Kamu jangan mentertawakan Laras, ini beneran. Hanya karena Tante tidak bisa memberikan keturunan, maka Oom Wijayantomu itu sama sekali tidak mencintaiku,” kata Tante sambil bersungut-sungut.

Memang sebenarnya Tante Suhartini sendiri tidak memiliki anak. Oleh karena itu Tante Suhartini mengangkat anak dari keponakan, biar adil ya diambil dari kedua belah pihak keluarga. Jadi Wicaksana itu juga anak angkat, keponakan seperti halnya Larashati sendiri. Kalau Larashati adalah anak dari adiknya yang bernama Suhartati sedangkan kalau Wicakcana dari pihak Oom Wijayanto, yaitu anak adiknya yang bernama Wijanarko. Jadi merka memiliki anak sepasang yaitu seorang laki-laki dan seorang perempuan.

“Oom Yanto kan sudah lama meninggal dunia, Tante, kok masih mempermasalahkan hal yang demikian itu,” kata Larashati sambil mengelap mulut Tante Suhartini dengan menggunakan tisu basah,  karena kurang lebih sudah setengah tahun tantenya sakit-sakitan, sebab umurnya kini lebih dari 70 tahun.

Pagi itu Larashati sudah bersiap hendak berangkat mengajar. Sebab menjadi Guru dengan status Tidak Tetap dituntut disiplin yang tinggi, apalagi mengajar di sekolah suasta, kalau tidak rajin bisa-bisa posisinya nanti digantikan oleh GTT  (Guru Tidak Tetap) yang lain.

“Laras….,” suara Suhartati, ibunya dari luar rumah terdengar keras.

“Ya, ada apa Bu….,” jawab Larashati.

“Itu Tante Tini sedang memangil-manggil kamu….”

“Tapi kan sudah ditunggu oleh Mbak Sulasmini, Bu. Sekarang saya akan berangkat mengajar Bu…,” jawab Larashati sembari keluar kamar sambil menjinjng tas, dan matanya melirik kearah jam tangannya, sudah pukul setengah tujuh pagi.

“Ya ditengok dulu sebentarlah, sambil berpamitan,” kata ibunya.

Larashati cepat-cepat pergi ke rumah Tantenya yang berada didepan rumah hanya berseberangan jalan gang.

“Ya Tante Tini. Saya akan berangkat mengajar,” kata Larashati sambil menyodorkan tangan untuk salim.

“Nanti dulu, tunggu sebentar Larashati. Aku hendak menitipkan ini,” kata Tante Suhartini sambil memegang bungkusan kain putih, dan ketika bungkusan itu dibuka isinya adalah sebilah keris yang lengkap dengan serangka atau  sarungnya.

Ketika Larashati melihat kearah benda tersebut tiba-tiba saja bulu kuduknya berdiri. Larashati tahu kalau barang simpanan milik almarhum Oom Wijayanto nya itu banyak sekali, tetapi dia tidak pernah tahu bagaimana saja bentuknya. Dan sekarang ini baru tahu salah satu wujudnya.

“Ini maksudnya bagaimana, Tante ?” tanya Larashati karena memang tidak mengerti apa maksudnya.

“Larashati, aku titip pusaka ini tolong dipelihara. Karena setelah saya amati dan perhatikan hanya kamu yang bisa dan mampu untuk merawatnya. Tolong disimpan ya. Keris ini adalah Pusaka peninggalan Nenek buyut Maheswari yang dahulu diberikan kepada Tante. Dan Keris ini bukan barang peninggalan Oom kamu. Pesanku, pada setiap malam Jumat legi keris ini agar kamu beri tiga macam bunga yaitu bunga cempaka, bunga kenanga dan bunga mawar masing-masing dua kuntum dan simpan saja dalam kain putih bungkusnya.”

Ketika itu yang menjadi perhatian Larashati hanya ingin segera berangkat mengajar, karena khawatir kalau terlambat keadaannya bisa menjadi lebih runyam nantinya. Maka pada pikirnya, “Gampang, nanti setelah pulang mengajar akan saya tanyakan lagi agar lebih jelas.” Karena dia memang tidak mengerti sama sekali tentang bagaimana cara memelihara barang pusaka, dan karena memang dia juga kurang menyenangi terhadap hal-hal yang demikian itu.

Tetapi untuk menyenangkan hati Tante Suhartini ibu angkatnya, maka benda tersebut diterima begitu saja dan kemudian berpamitan untuk berangkat bekerja.

Kira-kira pukul 12 tengah hari, tiba-tiba ada telepon dari rumah yang isinya memberitahukan bahwa Tante Suhartini telah meninggal dunia.

Terkejut hati Larashati mendengar berita itu kemudian segera langsung pulang, dan apa yang menjadi pesan serta keinginan Tante Suhartini ketika masih hidup untuk dimakamkan di Sirnaraga disampaikan kepada anak angkat Tante nya yang datang bersama anak dan istrinya. Oleh karena itu, kemudian Tante Suhartini dimakamkan disamping Nenek Maheswari seperti yang menjadi keinginannya.

Tiba-tiba Larashati teringat dengan keris yang dititipkan Tante Suhartini kepadanya. Kemudian siang itu dengan hati-hati keris tersebut dibuka dan dikeluarkan dari sarungnya. Tiba-tiba hatinya berdesir ketika melihat benda tersebut, tetapi ini adalah sebuah amanat, dan Larashati harus merawat benda itu dengan baik.

Harus disimpan ditempat yang baik, walaupun dia sendiri tidak mengerti apa manfaat untuk kehidupannya. Kemudian Keris tersebut dimasukkan lagi kedalam sarungnya dan dibungkus kembali dengan kain putihnya lalu dimasukkan kedalam lemari dan diletakkan dibawah tumpukan baju.

Baru saja menutup pintu lemari, tiba-tiba pintu kamarnya diketuk dari luar.

“Dik…dik Laras…,” terdengar suara Wicaksana anak angkat Tante Suhartini.

“Oh iya, Mas,” jawab Larashati sambil membuka pintu kamar.

“Aku mau bicara…..,” kata Wicaksana duduk di kursi dekat pintu. Kemudian Larashati menemani duduk di depannya dengan hati dipenuhi tanda tanya karena merasa heran, tumben Wicaksana mencari dirinya.

“Apa ada yang harus saya kerjakan, Mas Wicak ?” tanya Larashati sambil memandang dengan tajam. Karena selama ini Wicaksana tidak begitu mengurus Tante Suhartini ibu angkatnya, malah lebih memilih membayar Mbak Sulasmini untuk merawat ibunya. Tetapi semua keluarga menyadari kalau Wicaksana dan istrinya yang sama-sama pejabat adalah orang sibuk, jadi alasan repot dan sudah lelah karena pekerjaan bisa diterima oleh semuanya. Jadi yang katempuhan adalah Larashati yang harus sibuk merawat Tantenya yang juga ibu angkatnya pada malam harinya.

“Laras, jangan menjadi nggak enak dihati ya, aku ingin tahu, apakah ibu menitipkan sesuatu kepadamu ?” tanya Wicaksana yang mengejutkan hati Larashati.

“Ah. Ini pasti laporan dari Mbak Sulasmini, orang yang menjadi kepercayaan Mas Wicaksana,” pikirnya dalam hati.

“Nggak menitipkan apa-apa, kok Mas,” jawab Larashati.

“Ah yang bener ? Kata Mbak Sulasmini, ibu menitipkan sebilah keris kepadamu ?” tanya Wicaksana sambil memandang tajam dengan mata  melotot. Larashati terkejut, karena mengingat akan amanat Tantenya.

“Masyaallah….betul, Mas. Mohon maaf saya lupa sebab tidak kepikiran tentang hal itu,” jawab Larasahati serta bangkit dari duduknya dan masuk kedalam kamarnya.

Larashati kemudian teringat akan amanat tentang benda tersebut, hatinya menjadi khawatir, karena itu adalah amanat dari Tante Suhartini hanya untuk dirinya. Lalu bagaimana caranya untuk bisa  mempertahankannya kalau benda tersebut diminta oleh Wicaksana ? Oleh karena itu terjadi perang batin didalam hatinya yang menyebabkan Larashati menjadi ragu-ragu ketika hendak keluar dari kamarnya.

“Keris, bagaimana ini ?” katanya dalam hati. “Mas Wicaksana memang mempunyai hak untuk semua barang-barang yang merupakan peninggalan Tante, sebab dia juga adalah anaknya Tante,” celoteh hatinya tentang hal yang tidak bisa dipungkiri.

“Dik…., dik Laras,” tiba-tiba terdengar suara Wicaksana yang agak keras mengejutkan lamunan Larashati.

“Ya, Mas , sebentar…….,” kemudian Larashati keluar kamar dengan membawa keris yang terbungkus kain putih dan lalu diletakkan diatas meja.

“Ini Mas kerisnya, Tante Tini berpesan kepada saya agar saya mau merawatnya, dan pada malam Jumat Legi agar diberikan bunga tiga macam yaitu bunga cempaka, bunga kenanga dan bunga mawar masing-masing dua kuntum yang disimpan dalam bungkusan kain putih. Apakah tidak sebaiknya kalau benda ini disimpan terlebih dahulu disini sambil menunggu nanti sesudah 40 hari meninggalnya Tante Tini baru dibicarakan kembali,” Larashati berupaya agar keris tersebut disimpan dirumahnya dulu.

“Tidak, dik. Sekarang juga akan saya bawa, karena ini merupakan peninggalan ibu, “ jawab Wicaksana sambil mengambil keris tersebut dan berpamitan pulang.

Sepeninggal Wicaksana, Larashati hanya bisa menangis. “Maafkan Laras Tante, Laras tidak bisa mempertahankan amanah…..,” kata Larashati dalam hatinya sambil menangis sesenggukan.

“Sudahlah Laras, Wicaksana adalah anak tertua dan anak laki-laki yang lebih mempunyai hak peninggalan orang tuanya,” kata Ibunya menghibur sambil mendekap kepala Larashati.

Sudah menjadi kebiasaan yang berlaku di masyarakat pada umumnya jika ada rumah yang mengalami dukacita atau ada yang meninggal dunia, biasanya rumah tersebut dipasang lampu supaya terlihat lebih terang kemudian ditempat itu diakan tahlilan atau pengajian, tetapi disini Wicaksana mengikuti kemauannya sendiri.

Keadaan di rumah Tante Suhartini tertutup rapat dan lampu yang dinyalakan hanya lampu yang berada diluar atau diteras saja. Dan semua keluarga tidak yang bisa merobah kemauan tersebut. Kemudian soal pengajian akan dilaksanakan dirumah Wicaksana sendiri. Ya mau dibagaimanakan lagi, karena semua itu memang haknya Wicaksana.

Oleh karena itu Ibu Suhartati mengadakan pengajian sendiri seperti pada umumnya yang dilakukan oleh tetangga kanan dan kiri kalau sedang ada yang meninggal dunia.

Pada malam harinya Larashati sangat gelisah dan tidak bisa segera tidur walaupun pada siang harinya sudah lelah. Ada rasa bersalah yang dirasakan terhadap Tante Tini sebab tidak bisa memenuhi permintaan atau amanatnya untuk merawat kerisnya.

Esoknya, pagi-pagi buta Oom Suharsono, adik ibunya tergopoh-gopoh dan terburu-buru mencari kunci motornya.

“Ada apa Oom Har ?” tanya Larashati.

“Mau ke rumah Wicaksana…..anaknya Wicaksana, keponakanmu seperti anak yang sedang kesurupan…,” jawab Oom Suharsono sambil mengeluarkan sepeda motornya.
“Siapa, Oom ?” tanya Larashati

“Faizal,” sahut Oom Suharsono sambil pergi.

Larashati hanya diam melongo, dalam hatinya berkata : “ Andirizal itu anak bungsu dari Mas Wicaksana, dan kurang lebih baru berumur antara 6 tahunan. Kenapa bisa kesurupan ? Apakah karena Keris itu ?”

Kemudian Larashati cepat-cepat mandi dan segera menyusul ke rumah Wicaksana.

Di rumah Wicaksana nampak penuh berkerumun dengan orang-orang dan Larashati langsung saja masuk ke dalam. Di halaman rumah terlihat Andirizal berguling-guling sambil menangis dan matanya terpejam dengan rapat.

“Ical….!” Larashati memanggil anak kecil tersebut yang tidak mau dipegang oleh siapapun juga.

“Ical, ayo dengan Tante Laras ya…,” suara Larashati halus dan lembut.

Tiba-tiba saja Andirizal berhenti dari menangisnya dan matanya yang tadinya terpejam rapat kini terbuka serta memandang kearah Larashati, lalu berdiri kemudian langsung berlari dan merangkul Larashati.

“Pulang……pulang..….pulang……,” teriak anak kecil itu sambil memejamkan matanya kembali.

“Mas Wicak. Saya minta keris itu untuk dipulangkan kembali, jangan disimpan di rumah sini,” kata Larashati sambil memandang Kakaknya.

“Keris ? Keris apa itu Laras ?” tanya Oom Suharsono sambil memandang  kearah Larashati dan Wicaksana bergantian. Kemudian Larashati menceritakan tentang Keris yang telah diberikan Tante Suhartini itu kepadanya untuk dirawat.

“Wicaksana, apa yang dikatakan Larashati adalah benar. Keris itu harus disimpan kembali oleh Larashati dirumahnya sesuai dengan amanat ibunya, namun sejak terjadinya peristiwa ini akan saya bawa dulu untuk disimpan di rumah asalnya sambil menunggu selesai 40 hari meninggalnya Tante Tini,” begitu penjelasan Oom Suharsono.

Kemudian Suharsono pergi membawa pulang keris tersebut kerumah kakaknya dan menyimpannya kembali didalam lemari dibawah tumpukan pakaian Tante Suhartini.

Pada suatu hari Oom Suharsono mengantarkan Larashati untuk mengambil Keris itu kembali yang selanjutnya agar dirawat. Namun ketika Larashati membuka lemari, tiba-tiba saja kakinya menggigil dan lemas, karena menurut penglihatannya di lemari tersebut terdapat seekor ular dengan dua kepala sebesar lengan lelaki dewasa yang bersisik ke-emas-an sedang melingkar serta menegakkan kepala dan menjulurkan lidahnya seperti seekor naga kecil serta matanya yang merah menyala itu  memandang tajam kearahnya.

Seketika itu juga pandangan mata Larashati menjadi gelap gulita dan untuk selanjutnya tidak ingat apa-apa lagi.

“Laras, Larashati …sadar sayang….,” suara ibunya perlahan. Larashati dengan perlahan-lahan membuka matanya dan ketika memandang berkeliling terlihat olehnya ada ibu Suhartati, Oom Suharsono, Ayah Priambada, hadir pula dari Perkumpulan Bayu Sepi yaitu Mbah Mulyadi dan Teteh Erna Pinastiti yang duduk disampingnya sambil memegang tangannya serta berkata :

“Alhamdulillah….sekarang sudah sadar. Apa yang telah terjadi, dik  Laras ?”

Menurut perasaan Larashati, Keris pemberian Tantenya itu ternyata wujud aslinya adalah seekor ular berkepala dua yang bersisik kuning ke-emas-an sebesar lengan lelaki dewasa yang kekar, pantas saja Tentenya berpesan bunga yang diberikan masing-masing harus dua kuntum. Tetapi hal ini tidak akan diceritakan kepada siapapun, karena khawatir andaikata diceritakan akan membuat orang lain menjadi takut dan tidak bisa membayangklan bagaimana nasib keris tersebut nantinya. Pastinya tidak boleh disimpan lagi dan harus diberikan atau diserahkan kepada orang lain. Dan kalau hal itu terjadi berarti dia tidak bisa menjalankan amanah yang diberikan dan melestarikan benda hasil budaya yang berwujud sebilah keris dan yang lebih parahnya jika dianggap musrik.

Sebenarnya maksudnya hanya sekedar melaksanakan amanah Tante Tini untuk merawat Keris pusaka peninggalan leluhurnya. Andaikata cerita tentang keris tersebut masih mempunyai tuah dan diketahui oleh banyak orang, Larashati merasa khawatir jangan-jangan keris tersebut malahan menjadi bahan perebutan.

“Ini keris peninggalan Mbah Buyut Maheswari, Teh Erna,” jawab Larashati perlahan.

“Nggak apa-apa, boleh saja keris itu disimpan, tetapi yang harus ingat bahwa jangan sampai hal tersebut malah menjadikan musrik. Karena semua kekuatan itu hanya berasal dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Menurut ceritanya pada jaman dahulu orang pembuat pusaka yang berbentuk keris disebut dengan nama empu. Pada saat akan membuat keris sakti dia harus melaksanakan sesuatu yang dinamakan tirakat, yaitu berpuasa dan berdoa,” demikian kata Teh Erna memberikan penjelasannya sambil tersenyum, seakan mengatakan bahwa ia tahu apa yang sebenarnya telah terjadi. Dan sepertinya semua orang yang berada disitupun ikut mendengarkan.

“Iya, teh,” jawab Larashati perlahan.

Namun dalam hati Larashati berjanji hanya akan merawat Keris tersebut untuk melestarikan hasil karya budaya yang tinggi nilainya tetapi menjaga jangan sampai terjerumus menjadi musrik, seperti yang telah dipesankan oleh Teh Erna.

Benda tersebut akan dirawat yang akan disamakan saja seperti hal nya memelihara seekor ayam kate serama yang menjadi kesayangan, atau merawat seekor kucing anggora yang menggemaskan.

Larashati kembali memejamkan matanya.

-o0o-

 

Saudaraku pembaca semuanya yang saya hormati terutama di kalangan sendiri, cerita diatas adalah sebuah reka cerita yang ditulis secara singkat atau pada garis besarnya saja. Hanya semata-mata sebagai bacaan yang mungkin saja bahwa cerita tersebut ada manfaatnya untuk bahan introspeksi diri, yang bisa diambil hal yang positifnya serta ditinggalkan hal yang kurang baiknya dalam menjalani kehidupannya sehari-hari.

Melalui reka ceritera diatas intinya adalah untuk memberikan sebuah gambaran bahwa pada diri setiap manusia, baik itu laki-laki maupun perempuan, baik sudah tua maupun masih muda pada dasarnya pernah melakukan kesalahan. Dan mungkin saja kesalahan tersebut dilakukan karena tidak dimengerti ataupun tidak disadari.

Oleh karena itu cerita tersebut mengingatkan agar para pembaca jangan sampai terjebak dengan melakukan kesalahan yang sama sekali tidak dimengerti atau tidak disadari. 

Sebagai bahan perenungan mari kita lihat perilaku Wicaksana yang serakah karena menginginkan dan mengambil barang titipan hak orang lain dalam kaitannya dengan amanat bagi Larashati untuk merawat Keris Pusaka serta jangan sampai jatuh ke dalam perbuatan yang dapat dikatagorikan sebagai musyrik.

 

PENGERTIAN MENGINGINI MILIK ORANG LAIN.

*) Seperti yang digambarkan pada cerita diatas dengan berpikiran positif bahwa apa yang disampaikan oleh Pembantu yang bernama Mbak Sulasmini sebagai orang yang dipercaya untuk memberikan laporan apa yang terjadi, pastinya sudah disampaikan semua informasi yang diketahui tersebut ke Wicaksana secara lengkap, termasuk barang yang dititipkan secara pribadi dan menjadi hak serta tanggung jawab Larashati untuk merawatnya dengan pertimbangan tertentu dari Tante Suhartini dalam keadaan yang mepet.

Namun Wicaksana tetap akan mengambil barang tersebut, karena merasa menjadi anak yang tertua maka semua peninggalan ibunya dalam penguasaannya. Disini perilaku Wicaksana dengan mengambil keris titipan tersebut dapat dikatakan sebagai menginginkan milik orang lain.

Ketika ada perilaku yang menginginkan milik orang lain, mungkin saja hal tersebut didasari oleh timbulnya rasa iri hati. Kalau rasa iri hati itu timbul, maka cercaan maupun hujatan, atau bahkan mungkin kutukan bisa saja terucapkan.

Harta, rumah, status, pekerjaan, gaji yang tinggi, maupun keluarga, banyak orang yang menganggap hal-hal tersebut sebagai ukuran kesuksesan atau jaminan masa depan. Dinegeri yang kaya atau yang miskin, tampak dengan jelas bahwa banyak orang hanya berminat untuk mengejar keuntungan dan kesuksesan materi.

Dalam keadaan seperti itu biasanya hal-hal yang menyangkut kehidupan rohani tidak akan nampak, mungkin saja dapat dikatakan sedang merosot.

Oleh karena itu dalam kehidupan sehari-hari perilaku yang menginginkan yang bukan miliknya, bisa saja misalnya dilakukan dalam bentuk korupsi, mencuri atau bahkan kalau mungkin membunuh ketika mereka tidak lagi bisa mengendalikan keinginan dirinya untuk menguasai milik orang lain.

Andaikata pernah menonton Film tentang Kisah Nabi Musa baik melalui Televisi maupun di Film Layar Lebar dengan judul “The Ten Commandments” atau “10 Perintah Allah” yaitu Firman Allah yang ditulis dalam dua Loh Batu, dan dalam salah satu Loh nya tertulis Firman Allah yang ke 10 yang berbunyi demikian : “Jangan mengingini rumah sesamamu, jangan mengingini istrinya, atau hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya atau keledainya, atau apapun yang dipunyai sesamamu.”

Maka hal tersebut sudah jelas bahwa sejak awal Allah sudah memberikan peringatan agar jangan berperilaku menginginkan milik orang lain, apapun bentuknya yang bukan menjadi haknya.

Berkaitan dengan hal tersebut diatas jika mengingini milik orang lain yang bukan menjadi haknya adalah merupakan sebuah dosa, walaupun nampaknya “samar” karena tidak begitu kelihatan. Berbeda sekali dengan sebuah dosa seperti hal nya membunuh yang nampak dengan jelas. Namun harus selalu tetap waspada, karena hal tersebut bisa menjadi awal dari sebuah kejatuhan. Sebab jika tidak bisa mengendalikan diri dengan hati-hati, maka orang akan bisa terjerumus dalam berbagai kesalahan atau dosa.

Perilaku menginginkan milik orang lain tidak berbeda jauh dengan serakah.

-o0o-

 

PENGERTIAN SERAKAH

*) Seperti yang telah diceritakan diatas, walaupun semua peninggalan berada dalam pengawasannya sebagai saudara tertua, namun soal barang yang dititipkan secara pribadi dengan pertimbangan tertentu kepada Larashati adiknya, masih juga ingin dikuasai. Dengan demikian perilaku Wicaksana yang ingin menguasai semuanya dapat dikatakan sebagai perilaku orang yang serakah, loba atau tamak.

Serakah

*) Dalam bahasa Arab, serakah disebut tamak yang artinya sikap tak pernah merasa puas dengan yang sudah dicapai. Karena ketidak puasannya itu, segala cara pun bisa ditempuh. Dan serakah itu sendiri adalah merupakan salah satu dari penyakit hati.

Orang yang dihinggapi penyakit hati seperti ini akan selalu menginginkan yang lebih banyak, dengan tidak mempedulikan apakah cara yang ditempuh itu benarkan atau salah. Mungkin juga dia tidak berpikir apakah yang dilakukan itu mengorbankan kepentingan, kehormatan, harga diri orang lain atau tidak. Singkatnya melakukan dengan segala macam cara yang terpenting adalah, apa yang menjadi keinginannya terpenuhi.

*). Hal tersebut bisa saja terjadi yang disebabkan antara lain karena :

– Kurang atau tidak mensyukuri apa yang telah dimiliki.

– Selalu merasa kurang dengan apa yang sudah diperolah. Tanpa mau menyadari bahwa dia telah banyak mendapat nikmat

– Ingin memiliki sesuatu yang dimiliki orang lain.

–  Kurang menghargai pemberian orang lain jika hal itu tidak sesuai dengan apa yang menjadi keinginannya.

– Perbuatan seperti itu bisa saja karena bertendensi pada materi, pujian ataupun penghargaan.

Yang harus diketahui adalah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini seakan-akan hanyalah merupakan sebuah panggung sandiwara, sebuah permainan, untuk bermegah-megah karena banyaknya harta, karena banyaknya penghormatan yang diterima dan sebagainya sehingga dapat membuat lalai.

Hal tersebut bisa membuat lupa bahwa kehidupan itu tidak lama dan dapat diibaratkan bagaikan orang yang singgah untuk minum karena kehausan dan pada waktunya, apa pun yang telah dimiliki itu harus ditinggalkan.

Oleh karena itu sehubungan dengan hal tersebut diatas, orang harus bisa menyadari dan mampu mengendalikan kesadaran diri agar jangan terjebak situasi seperti diatas.

Hal yang paling sederhana untuk dilakukan adalah mensyukuri apa pun yang telah diterima, walau dalam bentuk yang sekecil apapun sebagai modal untuk memuliakan-Nya.

Jangan lupa menjaga kesehatan, karena kesehatan merupakan harta yang paling berharga. Karena dengan kesehatan orang akan mampu untuk mengisi kehidupan nya dengan melakukan sesuatu yang bermanfaat, baik bagi diri sendiri, keluarga maupun untuk orang lain.

Karena Harta adalah BERKAH yang dipercayakan sedangkan Hidup adalah WAKTU yang dipinjamkan………

Dan untuk semua itu, kelak akan dimintai pertanggungjawabannya.

-o0o-o0o-

 

PENGERTIAN BENDA PUSAKA DAN PELESTARIANNYA.

*). Pusaka adalah sebuah istilah yang digunakan untuk menyebutkan suatu benda yang dianggap sakti, keramat, bertuah atau mistis. Biasanya benda-benda yang dianggap keramat disini umumnya adalah benda warisan yang dimiliki secara turun-temurun dan diwariskan oleh nenek moyangnya, baik dilingkungan masyarakat biasa apalagi dalam lingkungan keraton yang lebih banyak jenis dan ragamnya.

*). Meskipun tekonolgi sudah maju dan berkembang, namun kepercayaan akan hal-hal yang mistis atau benda bertuah masih tetap melekat di kehidupan masyarakat tertentu.  Hal tersebut dikarenakan khasiat atau efek dari benda pusaka itu sendiri yang membuatnya masih dipercaya oleh sejumlah orang tertentu. Oleh karena manfaatnya yang luar biasa maka banyak orang sangat bernafsu untuk mencari dan ingin memiliki benda-benda pusaka.

*). Sebuah benda apapun bentuknya, sebenarnya pasti memiliki sebuah “energy spiritual” tertentu. Dan benda tertentu tersebut akan memiliki keterlibatan dengan sejarah hidup seseorang.

Sebagai sebuah contoh, misalnya : Pada saat melihat sebuah cincin kawin, ingatan seseorang bisa langsung melayang pada saat pertama kali melamar istrinya.

Begitu pula pada saat melihat sebilah keris, ingatan seseorang bisa langsung melayang pada bagaimana kehebatan nenek moyang yang seorang empu berjuang mati-matian dengan cipta, rasa, karsa dan karya untuk membuat benda cagar budaya tersebut. Demikian dan seterusnya…

Energy spiritual yang melekat pada benda-benda itu bisa dideteksi dengan mempelajari latar belakang “ada”-nya benda tersebut. Itu lah sebabnya mengapa Tombak Kyai Pleret yang tersimpan di Kraton Yogyakarta dipercaya “sangat bertuah” karena memiliki sejarah yang panjang.

Atau misalnya lagi Keris Kyai Sengkelat, Keris Naga Sasra dan Sabuk Inten, Keris Empu Gandring, Keris Setan Kober, Keris Kolomunyeng , atau yang lain dan seterusnya…

*). Akan tetapi sifatnya jelas subyektif tergantung pada keyakinan dan pengalaman seseorang yang bersinggungan dengan nilai-nilai tersebut.

Sebagai tolok ukur yang eksak misalnya yaitu sudut tinjau ilmu fisika. Bahwa setiap benda memiliki kerapatan atom, energy dan massa tertentu yang berbeda-beda sehingga materi benda bisa diukur dengan alat ukur tertentu. Yang jelas, bila benda sudah diberi muatan nilai akan memiliki nilai subyektivitas tententu.

*). Namun, tidak bisa menutup mata dengan adanya ilmu batiniah atau dengan jalan mengoptimalkan peran batin untuk menerawang benda-benda bertuah ini. Ilmu batiniah adalah sebuah fakta yang ada di masyarakat dan hingga kini masih lestari. Ini adalah Budaya Spiritual Bangsa Indonesia yang tinggi nilainya.

Oleh karena itu seseorang tidak boleh menganggap bahwa budaya asing itu lebih bernilai. Menghargai budaya asing itu memang disarankan, namun akan lebih luhur lagi apabila menghargai juga hasil budaya nenek moyang sendiri.

*). Ada yang berpendapat bahwa yang dikatakan sebagai benda bertuah adalah apabila benda tersebut memiliki energi tertentu. Benda bertuah adalah benda yang sudah diberi energy atau diberi muatan nilai tertentu oleh seseorang. Nilai itu bisa berupa “kesaktian”, “kemanfaatan”, “keberkahan” dan sebagainya.

Benda yang dipercaya “bertuah” banyak wujudnya. Misalnya cincin bermata batu merah delima atau bermata batu akik yang dipakai sebagai jimat, keris dan senjata tradisonal lain yang dipakai sebagai sipat kandel atau piandel (pegangan), juga berbagai jenis bebatuan alami.

Terkait dengan soal bahan alamiah atau bebatuan alami, biasanya mengundung unsur bio elektrik tertentu yang memang bisa dimanfaatkan sebagai alat kesehatan.

Sebuah contoh dalam mendeteksi dengan cara mengoptimalkan peran batin sehingga mampu mengenali hal-hal sebagai berikut, misalnya : tentang hal-hal yang gaib atau mengenai nilai-nilai dari benda tersebut yang hanya dimengerti oleh orang-orang tertentu saja.

Antara lain sebagai berikut :

*). Mengetahui apa yang ada di dalam benda tersebut , bisa cincin, bisa keris dan lain sebagainya.….

*). Bisa merasakan apakah benda tersebut memancarkan energy yang sifatnya terasa…dingin, panas, damai, kisruh, celaka, harapan, kasih sayang…dan sebagainya….

*). Mengetahui bahwa benda tersebut memencarkan sejarah tertentu, karena ia merekam dan menyerap fakta dan riwayat sejarah yang panjang.

*). Untuk mengetahui apakah benda tersebut bisa mendatangkan efek yang bersifat negative yang tidak di sadari.

*). Bisa merasakan apakah di dalam benda tersebut terdapat “sesuatu” dan “sesuatu” yang dimaksud adalah makluk halus atau jin.

Karena makhluk seperti ini bisa mendatangkan perasaan gelisah, anak atau istri tiba-tiba nakal, penghuni keluarga menjadi sakit-sakitan.

Namun disamping itu ada pula yang mendatangkan efek lain, misalnya mudah cari uang, enteng jodoh dan sebagainya.

 

Catatan :

Yang harus di ingat adalah bahwa semua kekuatan yang ada pada benda-benda tersebut karena seijin dan berasal dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Jangan sampai salah, sehingga dalam menghargai benda-benda tersebut malahan melebihi menghargaan kepada Allah itu sendiri, dan hal ini menjadikan manusia Musyrik.

-o-

Harus diakui bahwa pelestarian pusaka rakyat Indonesia termasuk pemahaman penghargaan terhadap kekayaan pusaka seringkali diabaikan oleh banyak orang. Hanya sedikit masyarakat Indonesia yang memiliki kesadaran untuk mengenal, memahami, menghargai serta melestarikan pusaka rakyat Indonesia yang mempunyai nilai tinggi, ini.

Karena Bangsa Indonesia sering diresahkan oleh berita klaim Bangsa Asing terhadap Budaya Bangsa Indonesia yaitu Pusaka Budaya hasil cipta, rasa, karsa dan karya mencakup pusaka berwujud dan pusaka tidak berwujud. Oleh karena itu berbagai upaya pendataan dilakukan baik oleh pemerintah maupun organisasi pelestarian lainnya.

Dan masyarakat pun diharapkan bisa melibatkan diri secara aktif untuk melakukan pelestarian pusaka rakyat Indonesia yang di mulai dengan pemahaman tentang pusaka yang berada di lingkungan masyarakat.

-o-

 

PENGERTIAN SYRIK DAN MUSYRIK

Banyak orang menganggap bahwa pengertian Syrik dan Musyrik adalah sama, namun yang sebenarnya adalah berbeda.

Diperoleh penjelasan bahwa pengertian Syrik adalah suatu perbuatan yang menyekutukan Allah atau bisa juga diartikan dengan mempercayai/menyembah/meminta selain kepada Allah swt.

Sedangkan Musyrik adalah orang yang melakukan Syrik. Dalam ajaran Islam sesuai Al-Qur’an dan Hadits dikatakan bahwa Syrik adalah merupakan dosa yang paling besar.

 

MUSYRIK

Dijelaskan pula bahwa Musyrik adalah orang yang mempersekutukan Allah dengan apa pun. Jadi pengertian secara umum dalam kehidupan sehari-hari dikatakan bahwa orang musyrik, yaitu mereka yang disamping menyembah kepada Allah swt, juga menghambakan dirinya kepada yang lain-lain selain Allah baik dilakukan secara sadar maupun  dengan tidak disadari yang artinya bahwa apa yang dilakukan itu dikatakan sebagai mempersekutukan Allah.

Sedangkan yang dikatakan dengan mempersekutukan Allah itu bisa saja dilakukan dalam bentuk Kepercayaan, Ucapan maupun dalam bentuk Perbuatan.

Dalam bentuk Kepercayaan : misalnya ada yang meyakini bahwa dengan memakai cincin merah delima maka pemakainya dapat terhindar dari bahaya.

Dalam bentuk Ucapan : misalnya saja ketika membacakan suatu surat atau ayat tertentu seseorang itu bisa menyembuhkan orang sakit, maka untuk selanjutnya seseorang tadi sangat meyakini bahwa untuk menyembuhkan orang sakit dengan membacakan ayat atau surat tersebut. Jadi seseorang itu sangat mengandalkan ayatnya bukan kepada Pemilik Ayat tersebut atau Allah swt.

Dalam bentuk Perbuatan : misalnya sebagai seseorang yang beriman selalu menjalankan sariat agamanya dengan baik, tetapi dalam pelaksanaan kehidupannya sering juga meminta-minta dan mendatangi ke tempat-tempat yang dianggap keramat atau dikeramatkan.

 

SYRIK

Syrik sendiri berasal dari  kata syarikah atau persekutuan. Syrik adalah akhlak atau perilaku yang menyembah atau menyekutukan atau tunduk , taat secara sadar maupun tidak sadar dengan sukarela kepada sesuatu selain Allah dan ini merupakan dosa yang paling besar.

Contoh-contoh Syrik antara lain :

  1. Menyembah sesuatu selain Allah.

Menyembah benda-benda, patung, batu, pohon, kubur atau bahkan memuja kepada  binatang dan lain-lainnya. Mereka percaya bahwa benda atau maklhuk tersebut adalah sesuatu yang dapat mendatangkan kebaikan dan keburukan.

  1. Mempertuhankan Manusia

Mempertuhankan manusia atau mengagungkan dan meninggikan derajat manusia, baik dia sebagai pemuka agama, ulama, pendeta, para auliya, para solehin dan sebagainya serta menempatkan pada kedudukan yang bukan sepatutnya, kecuali Allah swt.

Namun pada prakteknya dalam kehidupan sehari-hari terkadang sulit untuk menentukan dengan apa yang telah dilakukan, apakah si A itu tergolong musryik, karena apa yang tampak dan kelihatan dalam pandangan mata lahir manusia belum tentu kebenarannya.

Kalau jaman dahulu untuk membedakan antara orang beriman dan orang musyrik sangat mudah dan jelas karena dapat dilihat dari perilakukanya atau apa yang dilakukannya, tetapi untuk masa sekarang sulit, karena yang dilakukan tidak nampak dengan jelas atau sangat tipis dan serba samar.

Contoh-contoh yang tidak mudah untuk dibedakan :

*) Misalnya saja ada seseorang yang sedang duduk diam dan termenung, mungkin ada orang lain yang melihat dan mengatakan bahwa dia itu sedang melamun karena memang itu yang tampak oleh mata lahir manusia. Tetapi hal itu belum tentu benar karena mungkin saja bahwa dia sedang berdoa dalam hati, instropeksi diri atau sedang berdialog atau menyampaikan sesuatu kepada penciptanya dalam hati.

*) Ada yang mengenakan cincin dengan batu alam sebagai hiasannya, sementara ada orang yang senang atau menyukai karena segi artistiknya atau keindahannya namun ada pula yang memang mengandalkan tuah dari batu tersebut. Sepintas tidak terlihat niatan seperti itu dan hanya bisa dibedakan bila melihat perilakunya.

*) Dalam melakukan ziarah, ada yang niatnya mendoakan dan mengenang perbuatan baik pada masa hidupnya serta ingin mengikuti teladan yang baik itu sementara ada juga yang ziarah untuk meminta berkah. Padahal hanya Allah Swt. yang bisa memberi berkah, bukan dari orang yang sudah mati, siapapun dia. Niatan seperti ini pun tidak terlihat karena di lakukan dalam hatinya.

*) Dalam melakukan dzikir, ada yang melakukan dengan pikiran serta hatinya hanya ingin dan mau mendekatkan diri serta mengharap pengampunan dari pencipta-Nya, sementara itu ada pula yang melakukan dzikir hanya untuk memperoleh kekuatan. Niatan seperti ini sulit dibedakan karena tidak terlihat oleh pandangan mata lahir.

Begitu pula sebaliknya, bila ada seseorang seperti dalam cerita diatas dimana Larashati yang merawat sebilahg keris, mungkin saja orang akan dengan mudah akan mengatakan musyrik atau menyembah berhala dan sebagainya, karena demikian itu yang memang nampak dalam pandangan mata lahir manusia.

Padahal bisa juga yang terjadi bahwa Larashati mempunyai niat hanya ingin melaksanakan amanat untuk merawat keris tersebut atau hanya mau melestarikan hasil budaya saja.

Jadi jelasnya andaikata bisa menyadari, maka akan sangat sulit untuk menjatuhkan tuduhan seperti yang dilakukan oleh Larashati itu sebagai menyembah berhala atau bukan, karena pandangan mata seringkali salah.

Oleh karena itu jangan mudah memuji, karena hanya Allah yang patut dipuji atau jangan mudah menuduh karena tidak tahu persis hal yang sebenarnya. Kalau apa yang dilakukan itu dipandang memang baik bisa kita tiru atau ikuti tetapi kalau tidak baik tidak usah diperhatikan dan tinggalkan.

Kalau ada orang yang dengan gampang menjatuhkan sebuah tuduhan itu karena sudah berpikiran negative atau sebelumnya sudah didasari oleh rasa yang kurang senang dan pemikiran yang kurang baik kepada yang bersangkutan sehingga hasilnya pun seringkali akan salah.

-o-

Sebuah anekdot sebagai sebuah contoh, bahwa terkadang pemikiran manusia itu sudah memutuskan terlebih dahulu atau mengkira-kira walau pun belum jelas permasalahannya dan lebih sering menjurus kearah yang bernada negatif, tetapi ternyata bahwa hal itu adalah salah :

Begitu keluar dari sebuah Apotik, Kardun langsung menemui Mukidin.

Mukidin : “Kardun kamu beli obat apaan sih ? Kok lama-lama amat.”
Kardun : “Bukan karena obatnya yang susah dicari, Mukidin.”
Mukidin : “Lalu karena apanya ?”
Kardun : “Karena pelayannya.”
Mukidin : “Hah, memang kenapa dengan pelayannya ?”
Kardun : “Pelayannya, nggak pakai BH, Din.”
Mukidin : “Wushh..Gilee, kenapa kamu nggak kasih tahu saya. Kan saya bisa ikutan masuk kedalam. Ngomong-ngomong kamu kenal dengan dia dan siapa nama pelayan yang nggak pakai BH itu, Dun  ?
Kardun : “Namanya, Asep Nugraha….., Din.”
Mukidin : “Busyeeeeet….. aku kira..!!”

 

-o-

Demikian pula perilaku seseorang yang mengagungkan tokoh idolanya tanpa terasa taat yang berlebihan tanpa menggunakan pemikiran lagi, seperti pengertian diatas orang seperti itu pun bisa dikatakan musyirik, tetapi apabila diperingatkan dia akan membantah dan melawan dengan menggunakan berbagai macam alasan.

Begitu pula hal nya dengan diri kita sendiri karena perilaku yang seperti itu terkadang sangat tidak terasa dan sulit disadari, sekan-akan semuanya sudah menggunakan pertimbangan akal dan pemikiran yang benar.

Oleh karena itu berdasarkan uraian atau keterangan diatas, yang terpenting adalah bagaimana kita bisa menjaga diri kita masing-masing agar jangan sampai terjebak dalam situasi atau perilaku yang dapat dikatagorikan sebagai musryik serta jangan pula memperhatikan atau mengurusi orang lain.

Sebuah Nasehat yang bijaksana :

“Jangan Mengawasi Orang Lain, Jangan Mengintai Geraknya, Jangan Membuka Aib nya, Jangan Menyelidikinya.

Sibuklah dengan Diri Kalian sendiri, Perbaiki Aib dan Salah mu,

Karena Kelak Kau Akan di Tanya (Allah) tentang Dirimu Sendiri, Bukan tentang Orang Lain.

(Sayyidina Ali bin Abu Tholib R.A.)

BANDUNG – INDONESIA, AGUSTUS – 2017

Cerita :  Ary Nurdiana

(Gubahan Ki Ageng Bayu Sepi)